Kastil Fantasi discussion

123 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (September '14)

Comments Showing 1-29 of 29 (29 new)    post a comment »
dateUp arrow    newest »

message 1: by Fredrik, Momod Galau (last edited Sep 29, 2014 07:56PM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Edisi soal dari peserta lagi nih! Ihi-hi-hiiiy~ *maksudnya mau horor*

“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi September 2014”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai saja, tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai pemanis, layaknya perlombaan pada umumnya, pemenang CerBul juga akan mendapatkan hadiah!

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain dilarang keras.

3) Setiap peserta hanya boleh mengikutsertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya di blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan kalau ceritanya sedang dilombakan di grup Kastil Fantasi (beri tautan ke thread ini).

4) Panjang cerita maksimal dua post yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di software (MSWord, dll) dan Goodreads bisa berbeda, misalnya saja tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS atau bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh/serius (misalnya dibuat novel) atau dilombakan di tempat lain, silakan saja.

7) Komentar untuk cerita yang dilombakan tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan dihapus. Kedua topik dipisah demi alasan kerapian.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.

======

Soal edisi ini asalnya dari Ahmad Alkadri!

Berhubung
(#1) menjelang bulannya horor/Halloween, dan
(#2) mengingat kita sudah terlalu sering bersenang-senang dengan tema yang ceria jarang ada soal yang spesifik me-rekues unsur genre/subgenre tertentu, dan
(#3) kebetulan aja ada yang mau sekaligus promosi karyanya (#eh :P)...

MAKA...

...

...

*jreng... jreng... jreng...*

!!!

"HORROR IN THE STARS"
*pakai vfx lampu neon berdarah-darah*

!!!

Soal CerBul edisi ini adalah:

Buatlah cerpen yang memiliki unsur horor di dalamnya, dan unsur horor tersebut harus berasal dari dan/atau berada di luar angkasa!


Tidak ada catatan tambahan, berhubung soalnya cukup jelas. :3

Tidak seperti biasanya, nuansa cerita kali ini tidak bebas, karena harus ada unsur horornya. >__<'
Tapi secara keseluruhan, semua peserta yang mungkin merasa tertantang boleh saja dan dipersilakan untuk membuat kisah cross-genre dengan nuansa petualangan, komedi, romance, dst., selama masih menjawab tema soal edisi ini, yakni ada unsur Kau Yang Berasal Dari Bintang horor dari luar angkasa-nya.
Silakan berimajinasi sebebas-bebasnya. :)

Pertanyaan dan diskusi, langsung ke topik komentar.


Penjurian Reguler oleh Momod

Ada 5 aspek penilaian yang menentukan pemenang yang akan mendapatkan hadiah reguler di setiap edisi, yakni:
- Menjawab Soal
- Plot
- Karakter
- Setting
- Teknis

Alih-alih 3 besar atau 5 besar seperti sebelum-sebelumnya, pada tahun ini, moderator akan mengumumkan shortlist untuk mengapresiasi cerita-cerita yang mendapat penilaian tertinggi. Jumlah cerita yang masuk ke dalam shortlist dapat bervariasi di setiap edisinya (tergantung hasil penilaian). :)

Hadiah reguler Edisi Soal Peserta bulan ini:

(1) Pemenang pertama edisi soal dari peserta berhak mendapatkan voucher belanja toko buku Gramedia senilai 50k.

(2) Pemenang kedua edisi soal dari peserta berhak menentukan soal CerBul untuk edisi soal dari peserta berikutnya! x)


Penjurian Khusus oleh "Juri Tamu"

Untuk meningkatkan apresiasi terhadap cerita-cerita yang disertakan di dalam lomba, khususnya apresiasi dari member untuk member, maka pada tahun ini akan diadakan fitur penilaian oleh "juri tamu".
"Juri tamu" (jurtam) bisa siapa saja, selama telah menjadi member forum.

Penilaian dari jurtam sifatnya bebas, tidak terikat pada penilaian dari moderator ataupun aspek-aspeknya. Jurtam akan memilih cerita favoritnya sendiri dan pemenang terpilih akan mendapatkan hadiah dari jurtam. Pengumuman pemenang dilakukan selama periode penilaian/pengumuman pemenang sesuai jadwal.

Karena tidak ada kaitan dengan penjurian oleh moderator, maka jurtam juga tetap diperbolehkan untuk mengikuti lomba CerBul seperti biasa dan tetap berpotensi memenangkan hadiah reguler. xD

Hadiah khusus edisi ini:

Jurtam edisi ini tidak lain adalah Ahmad Alkadri, sang pembuat soal! xD

Sekaligus untuk merayakan segera terbitnya novel "Spora" yang bernuansa horor pula, maka jurtam akan memilih 2 (dua) cerita (cerita TERFAVORIT dan cerita TERSERAM) untuk mendapatkan masing-masing 1 hadiah buku karya jurtam berikut:

- Spora Spora by Ahmad Alkadri

- Cannaregio: Valentine Berdarah Mercurio Cannaregio Valentine Berdarah Mercurio by Giovani Rahmathullah Rizal

Kedua hadiah merupakan sumbangan dari jurtam.


Timeline lomba:

Posting Cerita: 16 September - 10 Oktober 2014
Masa Penjurian: 11 - 26 Oktober 2014
Pengumuman Pemenang: 27 Oktober 2014


Mari menulis fantasi!
;)

PS.
Kami, para momod, mengundang siapa pun yang tertarik untuk mendonasikan hadiah atau mempromosikan karyanya dengan ikut men-sponsori pelaksanaan lomba CerBul atau berpartisipasi dengan men-"juri tamu". Silakan menghubungi/mengirim PM ke moderator.
Terima kasih! :D


message 2: by Fredrik, Momod Galau (last edited Oct 12, 2014 08:29PM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Daftar Cerita

1. Ada Lendir di Sepatumu by Andry Chang

2. HARAPAN YANG HILANG by Larasestu

3. A Journey to The End by Zerocy

4. THAT NIGHT by ShinHyunRin

5. Tiga Ketukan dan Satu Garukan by Rizki Adinda

6. Tabula Rasa by Ganendra

7. ... by Erwin Adriansyah

8. Croatoan by Kayzerotaku

9. Namaku Waras. by Alice Haibara

10. AUTHOR'S SINS by I.H. Mustaqim

11. Gelap by Kenni Gandira Alamsyah

12. ??? by Yuyun

13. INVASI by Yogie Prabhata

14. Kambing (Mereka Yang Menyaru Sebagai Binatang) by Manikmaya

15. Datangnya Maut by Tomi Sularso

16. Dia yang Berasal dari Bulan by Cygnus Peterschild

17. Messages by Biondy

18. Apapun Yang Terjadi, Aku Akan Tetap Berada Di Sampingmu by F.J. Ismarianto

~


message 3: by Andry (last edited Sep 23, 2014 06:38AM) (new)

Andry Chang (vadis) | 134 comments Ada Lendir di Sepatumu
Andry Chang

Tampak dari depan, gedung apartemen yang satu ini sungguh tak terawat.

Bagaimana tidak, cat-catnya mengelupas, tinggal dinding yang amat kusam dan berlumut. Banyak kaca jendelanya pecah dan retak, beberapa lagi dihembus angin malam, akan menyusul cepat atau lambat.

Pintu depan gedung ini terbuka sedikit, kayunya mulai lapuk. Siapapun bisa keluar-masuk gedung apartemen ini kapan saja, tak ada penjaga sama sekali.

Ruang depan tak kalah kumuhnya. Dindingnyapun kusam dan mengelupas, lantainya berdebu tebal. Ada jejak sepatu berlendir dari dan menuju lift. Bau pesing dan bau bangkai tikus amat pekat di sini, orang gila mana yang betah tinggal di tempat jin buang anak ini?

Liftnya lebih parah lagi. Tiap kali naik atau turun, selalu saja berguncang dan berdecit. Lampu di tombol-tombolnya kadang menyala, kadang tidak. Lampu dalam lift sebentar mati, sebentar menyala, membuat siapapun was-was, sewaktu-waktu benda ini bisa macet atau terlepas, terjun bebas.

Atau setidaknya untuk sementara ini, takut terpeleset lendir licin di lantai lift.

Di lorong lantai lima, lantainyapun licin karena lendir. Tapi yang paling parah, selain bau sampah, pesing dan semacamnya juga ada bau anyir darah. Di ambang pintu ketiga sebelah kanan dari lift, baunya makin pekat, membuat siapapun pasti ingin muntah.

Pintu unit apartemen itu dibiarkan separuh terbuka. Dindingnya dicat berwarna-warni, kebanyakan pink dan hijau muda. Puntung dan abu rokok bertebaran di meja kayu, kursi, bahkan bercampur lendir di lantai. Sampahpun berserakan, termasuk pula beberapa kondom dan pakaian yang belum dicuci.

Penghuni unit apartemen ini, satu-satunya penyewa di lantai lima sedang duduk bersandar di ranjangnya. Dia seorang wanita berusia tigapuluhan, menatap kosong ke dinding kamarnya dengan mata putih semua.

Ada lubang besar di ubun-ubun kepalanya, menyisakan ruang kosong di tempat seharusnya otak wanita itu berada. Dari lubang itu, darah membasahi wajah dan tubuh wanita yang hanya mengenakan kaus dan celana pendek itu, tergenang di ranjang yang ia duduki.

==oOo==

Tak beda dengan apartemen kumuh tadi, kolong jembatan layang ini kerap dijadikan tempat penimbunan, bahkan pembakaran sampah. Apalagi ada menara listrik bertegangan tinggi menjulang tak jauh di sisi jembatan layang tol ini. Sewaktu-waktu api dari sampah bisa saja terpercik oleh angin, lalu meraksasa.

Namun ada saja insan nekad di tempat seperti ini malam-malam. Di antara tumpukan sampah yang tengah terbakar, terbaring seorang bocah laki-laki. Kepalanya terkulai ke satu sisi, tampak lubang besar di ubun-ubunnya. Darah bercampur lendir aneh mulai mengering dalam kondisi terpanggang, seolah wajah si bocah dicat merah.

Mata si bocah terbelalak dan mulutnya ternganga, seolah ingin berkata, “Aku memang anak pemulung, anak jalanan. Tapi aku masih ingin hidup…”

==oOo==

Kontras dengan kedua tempat tadi, suasana hingar-bingar dan gemerlap menghiasi sederetan gedung sepanjang jalan raya padat kendaraan bermotor ini.

Kata-kata seperti “DISCOTHEQUE”, “NIGHT CLUB” dan “EXECUTIVE CLUB” terpampang besar-besar di tengah tarian sinar lampu warna-warni. Dari gedung-gedung itupun terdengar pelbagai macam musik seperti dangdut, house sampai trance yang tumpang-tindih, bercampur dengan suara-suara kendaraan hingga jadi amat bising.

Namun, yang paling ramai malam itu justru gang sempit dan gelap di antara dua gedung diskotik di sana. Jalanannya becek akibat lendir bercampur air cucuran atap. Namun itu semua tak menghalangi puluhan orang menjejali gang selebar persis satu mobil itu. Ada apa gerangan?

Rupanya orang-orang itu sedang menonton seorang pria yang duduk di tepian jalan, bersandar di dinding. Lebih anehnya lagi, pria itu tak melakukan apa-apa. Ia hanya menatap kosong dengan lubang besar di ubun-ubun kepalanya, bagaikan kelapa yang habis diminum isinya.

Keringat bercampur darah menjalari kaus tak berlengan, rompi hitam dan kalung rantai pria itu, juga lengannya yang penuh tato. Di tangannya yang terkulai, tampak pisau yang bilahnya berdarah. Sulit menentukan itu darah siapa, karena sudah bercampur dengan darah si jenazah itu sendiri.

Tak seorangpun di antara para “penonton” yang memanggil polisi. Walau ngeri dan mual melihat pemandangan mengenaskan ini, satu-persatu mereka datang dan pergi dari gang itu. Tentu dengan hati-hati melangkah agar tak menginjak lendir dan darah di jalan.

Mereka kasak-kusuk dalam kerumunan, dan ada juga yang berkata, “Rasakan. Kena batunya dia.”

==oOo==

Masih di sepanjang jalan “dunia gemerlap” itu, ada juga sebuah kedai merangkap mini market yang terang-benderang. Jam di dindingnya menunjukkan tengah malam.

Memanfaatkan keramaian gedung-gedung di sekitarnya, pengunjung di kedai mini market itu cukup banyak. Kebanyakan dari mereka penuh gaya, mungkin ke tempat ini dulu sebelum memilih kenikmatan duniawi sepanjang malam ini.

Beda dengan seorang pria yang duduk sendirian di sudut lantai dua kedai ini, berteman kopi kalengan. Walau di usia akhir tigapuluhan ini wajahnya masih tampak cukup tampan, ia jelas menyamarkan perutnya yang buncit di balik kaus hitam lengan pendek dan jaket pengendara motor berwarna merah yang ia kenakan.

Rambut pria itu tampak disisir rapi, namun baunya menyengat. Mungkin itu asalnya dari gel yang bercampur bau rambut yang lama tak dikeramas. Sikap pria itupun agak aneh. Sebentar-sebentar ia mencolek sol sepatunya, lalu mengoleskan lendir di jarinya itu pada luka sayat belati di lengannya. Anehnya, luka itu merapat seketika dan darahnyapun mengering, bersih tanpa bekas sedikitpun.

Hal yang sama juga ia lakukan pada luka bakar di kedua telapak tangannya dan luka bekas cakaran wanita di pipinya. Dalam hitungan detik, kulitnya pulih seperti semula, seakan luka-luka tadi tak pernah ada. Tak hanya itu, dengan lendir ia membersihkan bekas darah yang mengenainya di gang sempit tadi hingga bersih sempurna.

Tak lama kemudian, seorang wanita pelayan mini market membawakan makanan dan menaruhnya di depan meja si pria berjaket itu.

“Ini mas, pesanannya, satu hamburger dan satu hot dog. Selamat menikmati!” kata si pelayan.

Si pria berkata, “Terima kasih.” Di kedai mini-market tadi, semua makanan dibayar di muka.

“Oh ya, satu hal lagi,” ujar si pelayan wanita sambil menatap tajam si pria berjaket. “Begini, ada lendir di sepatu mas, dan lendir itu membuat lantai jadi licin dan kotor. Ada tamu yang tergelincir dan protes, jadi tolong bersihkan sepatunya ya mas.”

“Oh iya,” Si pria pura-pura melihat ke sol sepatunya. “Maaf ya mbak, akan kubersihkan di kamar kecil setelah makan nanti.”

Si pelayan berbalik pergi, dan si pria menghela napas lega. Lalu si pria meraih hot dog dan mulai menggigitnya sedikit demi sedikit. Tiba-tiba, dari balik jaketnya sepasang sulur seperti tentakel gurita terjulur, meraih hamburger di meja. Terkejut, si pria menepuk sulur itu sambil berbisik, “Hus! Jangan di sini! Nanti saja di kamar kecil!”

Namun tentakel-tentakel penghisap itu tak kunjung ditarik kembali.

“Nanti kita ketahuan!” desis si pria lagi. “Kalau mereka tahu, kau takkan bisa berburu makanan kesukaanmu lagi!”

Makhluk bertentakel itu tak peduli, cepat-cepat diambilnya hamburger itu. Lalu dua tentakel lagi yang berujung runcing seperti pasak tenda atau mata bor membuka bagian bawah kaus, memperlihatkan mulut yang amat besar dan sederet gigi runcing di perut si pria. Mulut itu terbuka, dan hamburger itu dilahapnya. Lantas, keempat tentakel ditarik masuk ke tubuh si pria dan kaus kembali ditutup seperti semula.

Dalam paniknya, si pria melihat ke depan-kiri-kanan dan menarik napas lega. Untunglah tak ada orang yang melihat, apalagi peduli dengan tingkahnya yang seperti orang gila tadi… dan kengerian yang telah menyatu dengan sebagian tubuhnya.

Sambil mengunyah hot dognya, pria berjaket merah itu mengetikkan status jejaring sosial di ponsel pintarnya. “Bahkan makhluk ruang angkasapun suka hamburger.”


message 4: by Larasestu (last edited Sep 27, 2014 12:40AM) (new)

Larasestu Hadisumarinda (larasestuhadisumarinda) | 5 comments HARAPAN YANG HILANG


Bumi, 2014, sudah tidak layak ditinggali. Laut kering, tanah begitu tandus, air-air dan oasis yang tersisa mengandung limbah dan beracun, pohon-pohon yang dulunya hijau—sudah tidak ada pohon, bahkan kerak lumut pun tak terlihat kecuali noda berwarna kuning. Hanya ada batu-batu dan pasir, dan gundukan-gundukan gunung yang gersang. Matahari yang ukurannya tampak membesar itu membakar daratan di bawah langit yang berwarna merah seperti senja, menggantung rendah. Sudah tidak ada kehidupan di sana, bahkan gumpalan awan pun tidak ada. Planet ini sudah ditinggalkan. Hanya ada asap-asap berbau belerang tajam yang muncul dari lubang-lubang yang tercipta di tanah, selebihnya sepi.

Luar angkasa, 2214. Dua ratus tahun sudah berlalu sejak manusia meninggalkan Bumi, meninggalkan mimpi buruk, menyongsong mimpi buruk yang lain. Ras mereka yang tersisa dikirim ke luar angkasa pada tahun 1999 secara berkala. Orang-orang terpilih ini dimasukan ke dalam kapsul, melintasi ruang dan waktu dalam kecepatan cahaya. Manusia-manusia ini berharap ada kehidupan lain di luar sana dan mereka bisa melestarikan ras mereka yang sebentar lagi punah, meski tidak lagi di bumi.

Sebuah kapsul mendarat di Planet Tanpa Nama pada tahun 2207. Planet itu begitu primitif, namun mereka masih memiliki pohon-pohon raksasa, dan udara bersih, dan air bersih, hewan-hewan yang sangat besar dan gemuk, dan pondok-pondok dari pepohonan yang menyatu dengan alam. Penghuninya seperti kurcaci, hanya setinggi pinggang sampai dada orang dewasa. Tapi pada dasarnya mereka sama seperti manusia, punya nafsu dan ambisi. Mereka sedang dalam gejolak berebut kekuasaan. Seorang pemuka yang tidak terpilih sebagai pemimpin ras itu sedang menggalang dukungan kelompoknya yang berisi orang-orang korup untuk menggulingkan pemimpin-pemimpin suku yang baik.

Usianya dua puluh dua tahun saat Harapan menyaksikan semua itu; mimpi buruk yang menantinya. Sepuluh tahun berlalu. Lalu sepuluh tahun lagi. Usianya kini empat puluh dua. Ia mulai bisa tidur nyenyak setelah sepuluh tahun sebelumnya dihantui ketakutan, tidurnya gelisah. Tapi malam ini berbeda. Planet Tanpa Nama memiliki dua buah bulan dan satu matahari. Malam itu begitu hidup, banyak tawa, orang-orang berpesta, musik, tari-tarian, semua orang tampak keluar dari rumah mereka yang nyaman untuk bersenang-senang. Keramaian itu membuatnya terbangun tiba-tiba. Empat jam sebelum matahari terbit. Pupil matanya yang coklat tampak membesar dan keringat menetes dari pelipis ke rahangnya, meluncur menuruni lehernya kemudian dadanya. Malam masih hidup di luar sana. Ia memutuskan untuk mandi, mendinginkan kepalanya saat pintu kamarnya digedor-gedor. Jantungnya mencelos.

DAK.. DAK.. DAK.. DAK.. DAK..

Badump
Jantungnya bertalu.

“Siapa?” Tanyanya. Suaranya terdengar sangat serak seperti tercekat dan tersendat di tenggorokan.

“Aku.”

“Aku siapa?”

“Kau tidak mengingatku Harapan?”

Hening.

Mencekam.

Lama.

Namun di luar masih ramai.
Ia seharusnya tidak perlu khawatir, namun ia khawatir, sangat khawatir.

Tentu saja Harapan mengenal suara itu. Itu suara seorang nenek yang menyelamatkannya dari dalam kapsul dua puluh delapan tahun yang lalu. Ia yang merawatnya, juga memberinya tempat tinggal.

DAK.. DAK.. DAK.. DAK.. DAK..

“Buka pintunya Harapan..”

“Tidak akan pernah! Pergi kamu! Pergi!”

Pintunya terus digedor-gedor, keras sekali.

DAK.. DAK.. DAK.. DAK.. DAK..

”Pergi kamu Setan Tua! Pergi! Enyah!” Ia berteriak.

Tidak ada jawaban.

Semuanya kembali tenang, termasuk suara jantungnya yang bertalu.

Harapan memejamkan matanya, di luar masih ramai. Ia buru-buru menyambar handuk dan mengeringkan tubuhnya, hanya untuk menyadari jika ia tidak mandi dengan air, tapi dengan darah.

..darah..

...

...

...

Harapan menjerit keras-keras.

DAK.. DAK.. DAK.. DAK.. DAK..

Pintu kamarnya kembali digedor-gedor sampai engsel pintunya hendak lepas.

”Pergi Setan Tua! Pergi!” Teriaknya, pakaian yang hendak ia kenakan berkali-kali tergelincir jatuh dari tangannya. Tubuhnya gemetar hebat. Sendi-sendinya lemas.

DAK.. DAK.. DAK.. DAK.. DAK..

Pintu terus digedor-gedor. Harapan menyambar parang yang ia taruh di bawah ranjangnya, dan membuka pintu, matanya nyalang, menantang, tidak ada siapa-siapa. Ia menghembuskan nafas lega. Sudah sepuluh tahun berlalu dan gangguan itu tidak pernah datang.

Suara keramaian masih mengisi di luar sana. Dan suara-suara itu, alih-alih menenangkannya justru membuatnya gusar.

DAK.. DAK.. DAK.. DAK.. DAK..

”Keluar kamu Harapan! Keluar kamu Bajingan!”


Bukan, suara menggelegar itu tidak berasal dari luar pintu kamarnya namun dari pintu rumahnya yang ia tatap hampa. Engselnya sudah lepas. Pintu itu jatuh meninggalkan lubang menganga yang menampilkan banyak sekali orang di luar sana, berpesta di halaman rumahnya, orang-orang kerdil yang hanya setinggi pinggang dan dadanya.

Jeritan membuat semua orang diam.

Harapan menjerit keras-keras. Pita suaranya bergetar. Tenggorokannya terluka.

Ia terbangun.

Ia segera meraba-raba tubuhnya dan memastikan semua baik-baik saja. Jantungnya masih berdenyut. Lehernya masih ada. Kepalanya masih pada tempatnya. Mimpi. Semuanya mimpi.

Masih empat jam sebelum dini hari. Seharusnya semua sunyi seperti sekarang, karena Planet Tanpa Nama sudah seperti planet mati, tidak ada yang selamat di tangannya, semua orang sudah terkubur dalam tembok-tembok yang ia semen tebal-tebal, satu persatu. Sepuluh? Dua puluh tahun lalu? Pada usianya yang kedua puluh dua ia mulai melakukan pembantaian terhadap orang-orang yang berpotensi merusak Planet Tanpa Nama seperti manusia merusak Bumi sehingga ras mereka harus mengungsi.

Harapan duduk di tepi ranjangnya, meraba-raba untuk menyalakan lampu berwarna oranye, seperti nyala api lilin yang berpendar redup, ia menatap pangkuannya dan jari-jemarinya yang saling bertaut, gemetar melihat bercak darah mengering di kulitnya. Saat mendongakan kepala seorang nenek tersenyum ramah ke arahnya, keriput-keriput tua tampak menghiasi wajahnya yang renta, wanita itu membawa golok di tangannya, iris coklatnya bergulir, satu persatu wajah, roh-roh orang yang dibunuhnya tersenyum dalam kemarahan.

Empat jam sebelum dini hari.

Malam itu menjadi jeritan terakhir Harapan, jeritan terakhir makhluk terakhir yang hidup, lalu Planet Tanpa Nama menjadi sunyi, sama seperti Bumi, namun ia dimakan oleh alam yang liar, tidak seperti Bumi yang rusak, Planet Tanpa Nama menunggu seseorang menemukannya dan menempatinya.




FIN.


message 5: by Zerocy (new)

Zerocy | 15 comments A Journey to The End


Setelah ditemukannya kehidupan di planet lain dan perkembangan teknologi yang memungkinkan perjalanan dengan kecepatan cahaya, ekspedisi ke luar angkasa mulai banyak diminati. Sudah lama manusia bermimpi untuk hidup di planet lain, dan kini hal itu dapat terwujud.

Karena mahalnya biaya perjalanan dan untuk keselamatan, dibuatlah berbagai peraturan untuk berekspedisi ke luar angkasa. Hal yang pasti dan wajib adalah telah lulus uji kemampuan dan telah membuat kelompok maksimal 12 orang. Dalam kelompok ini harus ada teknisi, perawat, pilot, peneliti, dan kapten. Anggota dan kaptennya harus bisa bekerja sama, mereka juga harus bisa setidaknya melindungi diri sendiri. Selain itu, menulis diary atau meninggalkan informasi dalam bentuk apapun adalah wajib.



Kelompok kami terdiri dari 10 orang, dua teknisi, dua perawat, dua pilot, dua peneliti, satu kapten, dan satu wakil. Kami telah mencapai planet yang dihuni makhluk hidup. Berkat alat penerjemah, kami berhasil bertukar pikiran dengan mereka. Planet ini mereka sebut Roh, dan mereka, yang merasa satu-satunya tipe makhluk yang dapat berpikir di angkasa luas ini, menyebut diri mereka Sheman.

Perbedaan mencolok antara sheman dan manusia adalah komposisi tubuh. Sheman berkulit biru. Kedua tangannya sepanjang kedua kakinya dan kedua kakinya menyerupai kaki belakang kucing, sehingga mereka dapat dengan mudahnya berubah posisi dari berjalan dengan dua kaki ke berlari dengan empat kaki. Mereka juga memiliki tanduk dan ekor, yang panjang dan jumlahnya tergantung kemampuan dan umur mereka.

Para sheman yang melihat kami, jelas terkejut melihat kami. Mereka tidak menyangka akan datang makhluk dari planet lain yang membawa teknologi lebih dari yang mereka punya. Menurut pengamatan kami, mereka tidak terlalu pandai karena tidak ada alat-alat yang menunjukkan kemajuan teknologi mereka, pengiriman berita pun dilakukan dari mulut ke mulut. Kalau harus dikatakan baik-baik, mereka seperti manusia zaman dahulu, hanya saja mereka tidak ramah dan sangat tertutup.



Para sheman memiliki kemampuan tersembunyi, tapi diam-diam mereka ternyata bermaksud membunuh kami untuk mencuri teknologi bumi. Demi kebaikan bumi dan isinya, kami memutuskan untuk kabur pada malam terkuaknya kebenaran itu.

Kami berhasil pergi dari planet Roh tanpa gangguan. Persediaan makanan, minuman, dan udara pun sudah kami isi penuh. Kami harap kami tidak akan menemui gangguan lain selama perjalanan ke bumi.



Ternyata dugaan kami salah. Kami menemukan tiga anak sheman nakal di dalam pesawat setelah kami lepas landas. Semula kami berniat membawa mereka ke bumi tapi setelah mereka merusak satu dari empat sel surya dan dua propeller, kami terpaksa membunuh mereka. Ulah mereka menyebabkan pesawat tidak dapat dikontrol sehingga kami terpaksa menghentikannya untuk diperbaiki. Kemudian…

Seorang teknisi kami tiba-tiba tumbang dan meninggal. Kedua perawat dan peneliti memeriksanya kemudian menyimpulkan ia terkena virus. Untuk menghindari menyebarnya virus, kami buang tubuhnya dan kami bersihkan tempat-tempat yang ia sentuh. Saat itu, teknisi kami yang lain mendadak stress dan menggila.

“Hahaha! Lihat! Kita berangkat dari planet itu dengan 13 orang! Jumlah yang sesat! Dan sekarang empat sudah mati! Hahaha!” tawa teknisi tiba-tiba.

“Jangan bicara yang tidak-tidak! Lakukan saja tugasmu!” perintah kapten sambil melotot. Kapten sudah terlalu lelah, ia belum sempat tidur sejak berangkat dari planet Roh.

“Percuma~. Kedua propeller ini sudah rusak, cadangannya pun hanya satu,”

“Kalau begitu betulkan! Ajak juga peneliti untuk membetulkan!”

“Kau pikir itu belum dilakukan? Kalau itu tidak mustahil, pesawat ini sudah berjalan sejak tadi, bo~doh~,” teknisi pun menjulurkan lidahnya. Detik berikutnya matanya membelalak dengan lubang di dahinya. Ia mati.

Di sebelahku, kapten bernafas tak beraturan dengan pistol di tangannya. Mata dan wajahnya benar-benar merah. Ia sudah membunuh tiga anak sheman. Dalam keadaannya saat itu, tidak sulit menarik pelatuk untuk yang keempat atau kelima kalinya.

“Hahaha! Aku mati!” terdengar teriakan dari mayat teknisi yang mulai kaku itu.

Kami terkejut. Tidak mungkin mayat hidup lagi.

“Lihat! 13 benar-benar jumlah yang sesat! Kali ini lima sudah mati! Hahaha!” tawa teknisi itu menggema dalam pesawat.

Tubuh kami merinding. Keringat dingin pun bercucuran. Walaupun aku yakin suara itu pasti dari alat perekam suara untuk diary teknisi itu, tapi kaki dan tubuhku tidak berhenti bergetar. Walaupun aku yakin alat perekam suara itu pasti diset agar berbunyi ketika jantungnya berhenti, tapi jantungku tetap berdegup kencang.

“Apa kalian tahu~? Tabung oksigen kita bocor. Aku sudah membetulkannya, tapi~ persediaan oksigen itu hanya cukup untuk dua hari lagi…,”

“Apa?!” teriak kami tak percaya. Tabung oksigen juga bocor? Apa itu juga ulah tiga anak itu?

“I-itu benar…. Persediaan oksigen kita…. tinggal sedikit….” pilot mulai merinding takut sambil memandang layar alat pemonitor yang tersambung dengan kontrol pesawat.

“Tidak mungkin!” bentak kapten marah.

“Nah, ‘kan~?” tanya mayat dengan suara yang ceria. “Kira-kira siapa~ ya~ yang akan mati berikutnya~?” dan mayat itu pun memiliki lubang-lubang baru di tubuhnya.

“Buang dia keluar! Bersihkan juga semua bekas virus! Kita harus bisa kembali ke bumi!” perintah kapten lagi. Ia bertolak ke kamarnya. Wajahnya garang. Aku tidak perlu menduga siapa yang menembaki tubuh teknisi barusan. Itu sudah pasti kapten.



Setelah kami bertujuh menyelesaikan tugas kami, kami mulai memikirkan cara untuk membetulkan propeller. Dua dari kami, perawat dan pilot kedua, pergi untuk mengambil persediaan makanan, tapi mereka justru kembali dengan tanaman tak dikenal yang hendak kuselidiki.

“Jangan berpikir terus, ayo istirahat, makan,” ucap perawat yang datang dengan cerianya.

“Ya, di saat seperti ini, kita perlu makan,” tambah pilot kedua.

“Hm? Darimana kau dapat baju pelayan itu?” tanya wakil kapten sambil memandang perawat lekat-lekat.

“Bicara apa kamu? Aku tidak ganti baju…” perawat itu melambaikan tangannya, menolak.

“Sudahlah, ayo makan. Aku sudah pusing, pandanganku juga terasa aneh,” ucap peneliti yang lain sambil mencuil tanaman yang dibawa perawat. Ia benar-benar memakannya…

“Kamu cantik juga pakai telinga kelinci…” canda perawat kedua pada pilot.

“Eh? Sejak kapan… aku pakai telinga kelinci?” tanya pilot takut-takut sambil meraba udara di atas kepalanya dengan kedua tangannya.

Mereka bicara apa? Apa mereka berhalusinasi? Tangan dan kakiku mulai dingin. Percakapan mereka aneh. Aku merasa berada di dunia lain.

"Zeiro, kamu tidak makan juga?" tanya perawat dengan senyum yang tak kukenal.

"Enak, lho," ucap peneliti lain sambil tertawa dan mengunyah tanaman berduri. Eh? Sejak kapan tanaman itu berduri? Kenapa lidahnya tidak berdarah?

Seakan merespon pikiranku, darah mulai mengalir dari mulut dan tangannya. Lima orang yang lain pun sama. Mereka berdarah, tapi mereka terus makan seakan tidak merasakannya.

Aku merasa wajahku memucat. Segera aku lari ke kamar kapten. Aku tidak ingin melihat mereka seperti itu!



"Kapten!" teriakku sambil membuka kamar kapten dengan cepat.

"Ada apa?" tanya kapten yang duduk sambil memainkan pistolnya dengan pandangan hampa.

"Se-semuanya, semuanya berdarah!"

"Ha?" kapten memandangku heran, tak percaya.

"Aku tidak bohong! Me-mereka makan tanaman berduri, tapi- padahal mulut dan tangan mereka terus berdarah, mereka terus makan!"

"Jangan bicara tidak masuk akal," kapten mulai terganggu, tapi aku tidak peduli. Aku ingin ia memastikan apa yang kulihat.

"Kumohon, kapten! Periksalah mereka!"

Akhirnya kapten menyerah. Ia berjalan mendahuluiku menuju tempat awak kapal yang lain berada.



"Mo-monster!" teriak kapten sambil menembakkan pistolnya secara beruntun.

Enam orang yang ada di sana mati. Kapten memang penembak gang jitu, tapi...
Nafas kapten kembali tak beraturan. Wajahnya juga pucat, tapi aku yakin wajahku lebih pucat lagi. Bagaimana bisa ia menyebut mereka monster? Tidak hanya itu, tapi juga menembak mereka... bagaimana bisa?

"He-hentikan!" teriak kapten tiba-tiba sambil mengarahkan pistolnya ke dadanya dengan tangan gemetar seakan melawan sesuatu. "Kamu sudah mati, Giwe! Kalau kamu tidak tiba-tiba menggila seperti itu, aku pasti tidak akan membunuhmu!"

Aku tidak bisa bicara. Tubuhku kembali merinding. Kapten berbicara dengan hantu? Tidak mungkin! Bukankah itu halusinasi?

"Jangan! Kumoho-!" teriakan kapten berhenti seketika jarinya menekan pelatuk pistol yang ia arahkan ke dadanya.

Aku terhenyak. Bagaimana bisa?

"Hihihihihihi...." "Ahahahaha..."

Terdengar gema tawa kawan-kawanku yang seharusnya sudah mati. Bagaimana bisa semua ini terjadi?

Pundakku disentuh. Dengan pikiran yang hanya dipenuhi pertanyaan, aku menoleh.

Di sebelahku berdiri peneliti yang lain, kekasihku, mengenakan pakaian pelayan dengan telinga kelinci dan berdarah-darah. Ia tersenyum, manis sekali. Kemudian ia mengayunkan parang besar yang ia pegang ke tubuhku.


Ini pasti karena virus itu... tidak berhasil kami binasakan...




The End


message 6: by ShinHyunRin (last edited Sep 29, 2014 06:14AM) (new)

ShinHyunRin 신현린 | 9 comments THAT NIGHT

Dia berlari di tengah gelapnya malam. Keringat mengucur deras dari pori-porinya dan ia tidak punya waktu untuk mengelapnya. Kaus berwarna biru lautnya kotor karena berkali-kali ia terjatuh di jalan yang penuh dengan darah dan bagian-bagian organ manusia. Dengan gerak lihai, ia melesat berbelok di sebuah gang kecil dan bersembunyi di samping bak tempat sampah. Sembari memaki saat sebuah kulit pisang yang membuat sepatu bot hitamnya tergelincir, ia mengeluarkan ponsel pintarnya dan menyalakannya.
Masih ada sisa baterai, ia bersyukur melihat baterai ponselnya yang masih tersisa 60%. Tangan gemetarnya mencari sebuah nama. Nama yang, ia yakin, mengetahui semua kejadian mengerikan itu.
"Serenity!" serunya dengan lega melihat sesosok wajah muncul di layar ponselnya saat akhirnya tersambung video call. Wajah perempuan lelah yang dipanggil Serenity di layar ponsel itu terlihat kaget.
"Delena? Kau... kau selamat?"
Dengan geram ia berseru agak keras pada gadis di layar ponselnya. "Beritahu aku apa yang terjadi! Aku baru pulang dari Finlandia dan saat turun dari bandara, semuanya aneh. Aku melihat seorang wanita mencoba memakan wajah suaminya, dan... dan..." Delena menelan ludah saat mengingat kembali kejadian yang dialaminya barusan. "Ada apa sebetulnya? Hei, Serenity, sial...!" layar ponselnya mulai kacau, sinyalnya tidak stabil.
Serenity menelan ludah, gugup dengan bentakan Delena. "Aku... aku tidak paham, Delena..."
"Jangan pura-pura bodoh, Ser!" desis Delena. "Saat ini kota sedang dipenuhi dengan makhluk-makhluk entah apa itu, mereka mencariku... atau seseorang sepertiku! Apa yang kalian lakukan?! Percobaan gila apa lagi yang kalian rencanakan?" kemudian Delena terkesiap. "Itukah sebabnya kau menyuruhku pergi ke Finlandia? Supaya aku tidak tahu ada bencana seperti ini?!"
"Delena, aku tidak bisa--"
"Katakan, Ser! Aku sudah tahu kalau kau ikut dalam suatu percobaan! Iya, aku mengaku, aku mengintip file kerjamu! Sesuatu tentang virus, planet di luar cincin asteroid, kau tahu bahasa Inggrisku tidak sedahsyat dirimu! Beritahu aku yang sesungguhnya!"
Serenity menghela napas, bibirnya berkomat-kamit mengucapkan sesuatu, namun Delena tidak dapat memahami apa yang diucapkannya. Delena ingin berteriak pada Serenity untuk bicara jelas, namun sinyal bar yang semakin menurun dan baterai ponsel yang terus melemah membuat ia kesulitan mendengar apa yang dikatakan kakaknya itu.
Sebuah geraman terdengar tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Delena terkesiap dan ia pun mematikan ponselnya. Ia merasa heran, apa makhluk itu, apapun itu, menemukannya? Bagaimana... oh! Ia memaki dirinya sendiri saat menyadari sebuah rasa nyeri mendadak menyerang bahunya. Darah. Ini pasti karena serangan laki-laki tampan barusan ia sapa.
Semuanya berlangsung dengan cepat. Geraman itu terdengar begitu dekat dan saat Delena berbalik, ia melihat lelaki tampan, namun sekarang harus diralatnya. Dia sama skali tidak tampan. Mengerikan. Menakutkan. Mata merah dengan kulit terkelupas di bagian pipi, dahi, dan sekitar dagu yang memperlihatkan daging didalamnya. Bukan berwarna merah segar, nyaris hitam, dan laki-laki itu tersenyum.
"Come out, come out wherever you are..." suara parau nan serak itu menjadi suara terakhir yang didengarnya.

Di lain tempat, Serenity menutup teleponnya dan mulai menyimpan dokumen yang telah dibuatnya. Dokumen itu berisi file, dokumentasi, serta rekaman video korban pertama. Rasa nyeri masih terasa di dadanya, mengetahui adiknya tidak selamat pada kegagalan eksperimen kali ini. Mereka tidak tahu jika percobaan yang diambil dari serpihan organisme planet Jupiter itu akan menjadi sebuah bencana. Mereka mengira penelitian kali ini akan membuat instansi mereka mendapatkan suntikan dana di bidang teknologi pengembangan kesehatan.
Serenity meraih sebuah botol sampel tertutup berisi sebuah jaringan otak yang direndam di dalam cairan berwarna abu-abu terang dengan sedih. Ia menoleh dan melihat sekelilingnya dipenuhi dengan makhluk-makhluk itu terhalang kaca tebal yang tidak dapat dipecahkan meskipun dihantam pukulan tangan para makhluk itu.
Serenity menghela napas, ia tahu pekerjaannya belum berakhir sampai bencana ini dapat ia tuntaskan.


message 7: by Rizki (last edited Sep 30, 2014 03:38AM) (new)

Rizki Adinda (rizkiadinda) | 1 comments Tiga ketukan dan satu garukan

Tok! Tok! Tok! Sraak!

Kedua kelopak mataku langsung terbuka lebar. Suara ketukan itu kembali terdengar lagi, dan sama seperti biasanya, tiga kali ketukan diikuti satu kali suara tarikan kuku itu terdengar dari balik pintu lemariku. Begitupun waktu terdengarnya ketukan itu. Ah, aku bahkan kini tak mau lagi repot-repot mengangkat kepalaku untuk mengecek penanda waktu yang ada tepat di atas kepalaku. Tak lama lagi penanda waktu yang ada di ujung lorong seberang kamarnya pasti akan berdentang dua kali. Tanda waktu menunjukkan pukul dua malam. Tak lama lagi, kurang lebih sekitar lima menit lagi. Sama seperti hari-hari biasanya, ketika suara nada tiga ketukan dan satu garukan itu terdengar.

Tok! Tok! Tok! Sraak!

Sekali lagi suara itu terdengar. Pola yang masih sama seperti biasanya. Tiga ketukan dan satu garukan selama tiga kali dalam rentang waktu lima menit. Tepat pada pukul dua kurang lima menit hingga pukul dua dini hari. Ada jeda satu hingga dua menit dari tiga ketukan dan satu garukan yang satu dan yang berikutnya. Dan setelah penanda waktu yang ada di ujung lorong itu berdenting keras dua kali, suara ketukan dan garukan itu tak lagi terdengar hingga pukul dua esok dini hari.

Tok! Tok! Tok! Sraak!

Ding! Ding!

Yang ketiga, diikuti denting waktu sebanyak dua kali. Akhir dari suara tiga ketukan dini hari ini. Aku jadi teringat pada cerita salah seorang temanku yang bercerita mengenai waktu sakral antara pukul dua hingga tiga dini hari. Menurut kepercayaan yang dianutnya, waktu-waktu tersebut adalah waktu dimana makhluk tak kasat mata mulai berkeliaran. Entah apakah itu benar atau tidak, tapi yang kuketahui adalah suara di balik pintu lemari itu terdengar lima menit sebelum waktu sakral itu dimulai. Saat kujawab begitu pada temanku, dia justru berujar mungkin suara itu adalah penanda dimulainya waktu sakral itu.

Terdengar masuk akal? Tidak bagiku.

Tok! Tok! Tok! Sraaaaak!

Aku terkesiap. Kedua mataku yang sudah terpejam dan nyaris terlelap langsung terbuka lebar. Jantungku langsung terasa berdebar dua kali lebih kencang daripada biasanya. Suara ketukan dan garukan itu kembali terdengar, padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Bahkan suara garukan yang terdengar pun tak seperti biasanya. Lebih lama, dan lebih pelan.

Aku terduduk, dan menatap kosong pintu lemari yang tertutup rapat di ujung kamarku. Menunggu, seandainya suara itu kembali terdengar atau bahkan terbuka sendiri dan menampakkan apa yang ada di dalamnya—meskipun sebenarnya tiada banyak guna, karena isi lemariku hanyalah pakaian dan mainan yang paling kusuka.

Kemudian apa yang akan kulakukan kalau suara itu kembali terdengar atau pintu lemariku mendadak terbuka? Apa aku akan berusaha mengecek asal suara, meskipun aku tahu isinya tak akan banyak berubah dari dua hari yang lalu? Atau aku akan membiarkannya begitu saja hingga entah pukul berapa suara itu akan berhenti?

Tok! Tok! Tok! Sssraaakk!

Terdengar lagi, dan aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Pun apa yang sebenarnya tengah kurasakan. Tak ada rasa takut yang kurasakan, meskipun rasa khawatir itu memang ada. Pun tak ada rasa ingin mengetahui apa yang ada di balik pintu lemariku, meskipun aku tak bisa memungkiri suara itu semakin merisaukan hari demi hari.

Ironi, ketika sebuah tempat berukuran 50cmx1m di balik pintu itu pernah menjadi tempat persembunyianku. Tempat yang begitu terasa nyaman, diantara pakaian lembut dan tebal yang terasa memelukku hangat, di antara tembok dingin gelap dan menyesakkan yang anehnya justru membuatku merasa aman. Tak pernah sekalipun membuatku merasa terancam, apalagi tersakiti.

Tok! Tok! Sssraaaakkk!

Ketukannya berkurang satu. Kali ini aku benar-benar sudah tak tahan lagi. Dengan cepat aku segera turun dari tempat tidur, lalu berjalan tanpa terburu ke arah lemari. Tanpa terburu, meskipun isi dalam dada ini terasa begitu menggebu-gebu. Dengan penuh tekad, aku harus menemukan apa penyebab gangguan-gangguan malamku itu.

Tok!

Sebuah ketukan terdengar lemah saat tanganku sudah berada di pegangan pintu. Ketukan lemah yang cukup membuatku menghentikan gerak tanganku dan menunggu jika ada suara ketukan yang berikutnya.

Satu menit.

Dua menit.


Tiga menit.

Aku pun langsung membuka lebar pintu lemariku, dan sebuah aroma asing langsung merebak dari dalam lemari. Aroma asing yang biasanya tak pernah tercium sama sekali. Dengan aroma yang cukup kuat dan mencekat, yang sepertinya berbau lebih kuat daripada alas kaki pamannya—dimana alas kaki paman itu pernah nyaris membuat pelayan yang membersihkan alas kakinya jatuh pingsan.

Kakiku reflek langsung mundur dua langkah. Namun pandanganku tak sedikitpun beralih dari benda-benda yang ada di dalam lemari. Aneh, pikirku. Padahal saat terakhir kali aku membuka pintu lemariku, tak ada aroma aneh dan asing yang keluar dari sana. Entah apa yang menyebabkan aroma asing itu keluar, isi lemariku saja tak ada yang terlampau aneh hingga mengeluarkan aroma asing. Pakaian-pakaian, beberapa jubah, alas kaki—yang dapat kupastikan kebersihannya, penutup kepala, dan beberapa mainan yang terlalu berharga untuk dipajang di kamarku.

Aku mengulurkan tanganku dan menyusuri deretan pakaian yang tergantung rapih di dalam lemari dengan ujung jariku. Menggeser beberapa tatanan pakaian, melirik ke celah yang terlihat, berharap mendapatkan jawaban atas ketukan yang selalu terdengar nyaris setiap dini hari—oh, kau tahu, siapa tahu ada yang mendadak mengintip dari dalam sana. Kakiku bahkan kembali mundur satu langkah, lalu berusaha benar-benar memperhatikan keseluruhan benda yang ada di dalam lemariku. Entahlah, aku seolah benar-benar berharap ada suatu benda yang bergerak atau berpindah tempat di sana. Posisi pakaian yang berpindah tempat mungkin, atau alas kaki yang tertukar pasangannya, jubah yang mendadak menyempil di antara pakaian tipisku, atau bahkan mainan yang tidak berada di tempatnya semula. Entahlah.

Namun nihil. Tak ada yang berbeda dari isi lemariku. Tak ada benda asing yang tidak kukenal di dalam situ—ah terkecuali boneka baru yang kudapatkan dari pamanku beberapa hari yang lalu. Boneka porcelain yang begitu indah dan cantik. Yang, meskipun aku tak terlalu menyukai beberapa fiturnya yang aneh, namun nampak pas dan tepat begitu saja. Kedua matanya yang berwarna biru terang, dan bulu halus kekuningan yang menutupi kepalanya, jemarinya yang berjumlah ganjil di setiap tangan dan kakinya. Aneh, tapi pas.

Ada sebuah benda yang menutupi jalur bicara dan napasnya. Paman sempat berpesan untuk tidak menyentuh benda berbentuk setengah bulat itu. Namun rasa ingin tahuku membuatku sempat menyentuh benda itu beberapa hari yang lalu. Dan jika diingat-ingat dengan baik, suara ketukan itu sebenarnya mulai terdengar setelah aku iseng menyentuh benda itu. Entah apakah sebenarnya memang ada hubungannya antara benda setengah bulat itu dengan suara yang belakangan ini menggangguku, tak ada yang benar-benar tahu.

Kemudian, kira-kira apa yang akan terjadi jika aku kembali menyentuh—atau bahkan melepas benda itu?

Rasa ingin tahu ini mulai menggangguku. Jika sudah seperti ini, aku tak akan bisa tidur nyenyak sebelum benar-benar menyalurkan rasa ingin tahu itu. Pilihannya adalah, melakukannya atau tak akan bisa tidur karenanya.

Aku pun langsung mengulurkan tanganku. Berusaha membuka benda berbentuk setengah lingkaran yang menutup jalur bicara dan napas bonekaku itu. Aku tak mengharapkan ada sesuatu yang akan terjadi setelah aku membukanya. Tak jua...

“MAKHLUK ALIEN SIALAN! LEPASKAN AKU! KEMBALIKAN AKU KE BUMI!!”

...Kalimat teriakan yang langsung terdengar setelah aku berhasil membuka benda setengah lingkaran itu. Segera aku langsung kembali mengembalikan benda itu ke tempatnya semula. Sepertinya, esok hari aku harus mengembalikan boneka itu kepada pamanku. Atau memberikannya ke tetangga sebelah, jika perlu. Ya, manapun itu, aku harus segera menyingkirkan boneka itu secepatnya.


message 8: by Ganendra (last edited Oct 01, 2014 03:27AM) (new)

Ganendra Madanaputra (ganmdp) | 44 comments Tabula Rasa
Oleh: Ganendra



“Anjiiing!” Aku mengumpat jengkel dan menatap nestapa ke dalam tong sampah.

“Hah, ada apaan Mas?” Adikku melongok dari dalam kamar mandi dengan rambut masih setengah basah karena umpatan kesalku.

“Enggak, tadi gue buka bungkus permen. Pas mau buang bungkusnya, eh gue meleng, jadi yang dibuang permennya.”

“Yaelah,” adikku, Jiwa, melengos berlalu, “kirain ada apaan.”

“Hehe, sori sori Wa,” aku meringis, namun kemudian mengerutkan dahi sambil meremas-remas bungkus permen keperakan yang bergemerisik seolah mengejek di tanganku. Beberapa hari belakangan ini, aku sering sekali melakukan kebodohan-kebodohan macam tadi. Membuka segel air mineral sambil minum, yang kubuang malah tutupnya. Pergi untuk beli rokok, dompet lupa dibawa. Mencari rokok, ternyata malah ketinggalan di smoking room gedung kantorku (dan dijamin, sudah raib ketika aku tergopoh turun untuk mengambilnya lagi).

Percayalah bahwa aku—namaku Raga—bukan orang yang ceroboh. Aku ini paling rapi dan teliti di antara keluargaku, bahkan aku yang sering mengomel jika yang lainnya harus bolak-balik karena sesuatu ketinggalan. Semua barangku tersimpan rapi, setiap langkah kuukur pasti. Bahkan jari kakiku jarang sekali terantuk sudut perabot akibat meleng (tidak seperti Jiwa yang sering lebam akibat selebor). Aku adalah manusia yang ditempa kebiasaan dan rutinitas. Bahkan Jiwa sering mencemooh karena hidupku dibilang monoton.

“Wa, gue cabut dulu,” seruku sambil meraih kunci mobil. “Lo kuliah jam berapa?”

“Jam tujuh,” balas Jiwa, “paling bentar lagi cabut.”

“Oke, hati-hat—ASU!” Aku mengumpat lagi, kali ini sambil terbungkuk-bungkuk karena kelingking kakiku nyeri sekali tersandung ujung bufet. Sial, baru saja aku membatin betapa cerobohnya Jiwa, malah sekarang aku yang kena sendiri.

Jiwa menghampiri sambil geleng-geleng. “Mas, belakangan lu kenapa sih? Meleng mulu, skip mulu. Gak 100% nih, makanya minum—“ ujarnya sambil menyebut salah satu merek minuman isotonik yang ramai diiklankan.

“Abacot lu. Cabut ya. Assalamualaikum.”

“’Kumsalam. Tiati.”


=====================================


Aku mengintip keadaan lalu lintas di bawah sana dari balik jendela kantorku yang terletak di lantai tujuh. Kuningan masih padat merayap, padahal jarum jam sudah melewati angka delapan, nyaris setengah sembilan. Kantorku sudah kehilangan separuh penghuninya, hanya beberapa orang dari divisi sebelah yang masih lembur dan menyetel musik sebagai penyemangat. Di divisiku semua orangnya sudah minggat dari sore. Maklum, semuanya sudah berkeluarga dan rela menerjang macet demi berkumpul bersama anak serta suami atau istrinya.

Rumahku sepi. Ayah bertugas di luar Jawa, Ibu menemani. Aku hanya tinggal berdua Jiwa, yang kadang-kadang kelayapan sampai malam. Pacar… sudah putus sejak tahun lalu. Teman-teman sudah berserakan di seantero Jakarta, susah diajak kumpul-kumpul. Yang menemani hari-hariku adalah internet dan teman-teman maya yang baru kukenal dari sebuah forum gadget. Jadi, aku biasa pulang agak malam sambil menunggu macet reda dan menghabiskan waktu menonton YouTube atau chatting.

Entah sudah berapa video kutonton dan jemariku bergerak lincah di atas keyboard untuk mengobrol dengan teman-teman forumku.

[imanda] ga, lu katanya fanboy apple? iPhone 6 kenapa bengkok2 gitu haha
[laras] iya tuh, bend kalo dikantongin
[raga] engga lah
[hanipah] hidup samsung!
[adit] yah, ga belain dong
[raga] yaelah, sengaja itu. kan ada lagunya Pink, just give me a reason
[raga] we’re not broken just bend, and you can learn to buy again
[adit] hahaha tai, strategi marketing ya
[imanda] apekateluajadah

Aku terkekeh-kekeh dan terdistraksi ketika kulihat ada telepon masuk. Dari Jiwa. Kubuka headset yang menyumpal telingaku untuk menjawab telepon. “Halo, Jiw?”

“Mas, lu ke mana dah?” Jiwa menyembur marah dari seberang sana. “Lu ngerjain gua ya?”

“Hah?”

“Hahehoh, hahehoh, gua berdiri megangin kaca ada kali setengah jam.”

“Kaca apaan?”

“Lu ke mana dah?”

“Jiw, gua di kantor.”

Hening.

“Jiw? Jiw?”

“Ah, ga lucu lu mas... ah, apaan sih?”

“Gue masih di kantor Jiw dari tadi, sumpah.”

Hening.

“Jiw? Jiwa?”

Ada suara kaca pecah dari seberang sana.

“JIWA?”

“Mas, mending lu balik sekarang. SEKARANGNGNGNG.”

Ketika aku keluar dari mobil, Jiwa langsung menghambur keluar rumah dengan wajah ketakutan. Tadinya, aku mau meledek suaranya yang melengking seperti bocah belum puber saat menyuruhku cepat pulang. Tetapi, melihat wajahnya yang pucat pasi dan bibir gemetar, aku jadi tidak tega.

“Jebaoa?”

“Hah?”

“Hah?” Aku terperangah sendiri mendengar lidahku yang keseleo, sampai salah ngomong parah begitu. “Kenapa?”

Jiwa nangkring di kursi teras dan membakar rokok dengan jari gemetar. Aku duduk di sebelahnya dan ikut membakar rokokku sendiri. Adikku tidak langsung menjawab, cuma menghisap rokoknya dalam-dalam dengan asap mengepul menyelimuti wajahnya yang lumayan mirip denganku. Hanya saja, rambut Jiwa gondrong, seperti kebanyakan mahasiswa tahun-tahun awal yang baru mencecap kebebasannya.

“Kenapa?” Ulangku saat dia mulai menyulut rokok kedua.

“Gue ngeliat doppelganger lo, Mas,” jawab Jiwa lirih, agak takut-takut. “Tadi gue pulang sore. Terus abis maghrib, lo tiba-tiba masuk rumah dan nyuruh gue megangin kaca.”

“Kaca? Kaca apaan?”

“Kaca, cermin yang di dinding kamar lo. Jadi tadi lo ngeluarin cermin itu dari kamar dan nyuruh gue pegangin. Lo kayak orang panik gitu, jadi ya udah gue turutin aja. Terus gue berdiri lama dan baru sadar lo udah ga ada. Gue tungguin, kirain ke warung apa ke mana, tapi ga dateng-dateng. Ya udah, gue telepon lo tadi.”

Aku manggut-manggut. “Terus, kacanya pecah kenapa?”

“Nggak tau. Kan gue taruh di atas meja, tiba-tiba jatuh aja, gitu. Padahal, udah gue taruh baik-baik, nggak di pinggir meja.”

Suara jangkrik mengisi keheningan di antara kami. Aku mematikan rokok dan berdiri, tidak tahu harus merespon apa. Biasanya doppelganger diasosiasikan dengan nasib buruk, tapi aku tidak mau percaya tahayul. “Ya udah, sholatnya dirajinin aja, Jiw.”


=====================================


Seperti biasa, seusai jam kantor aku biasa tinggal lebih lama dan menyumpal telingaku dengan headphone sambil sibuk chatting dengan teman-teman forumku di internet. Malam ini, aku menceritakan kisah horor yang menimpa Jiwa tempo hari.

[hanipah] ANJRIT, serem banget
[adit] gue juga pernah Ga, didobelin gitu. Yang liat temen kampus gue
[imanda] konon sih, jangan sampe lo ketemu dobelan lo sendiri, Ga
[raga] kenapa emangnya Man?
[imanda] erm, kalo kata urban legend-nya, lo bakal die kalo ketemu dobelan sendiri
[raga] ah, ngepet, nakut2in aja lo
[imanda] ya, kan katanya…. Tahayul…
[hanipah] GANTI TOPIK
[adit] lo masih di kantor Ga?
[raga] Masih
[adit] Sendirian
[raga] engga, masih ada anak divisi sebelah

Refleks, aku melepas headset untuk mengecek keberadaan yang lain.

Ternyata sunyi senyap.

[raga] shit, udah ga ada suara. Gue cabut deh ya
[adit] HIIIII TIATI
[laras] Bukannya lo cerita di kantor lo pernah ada suara cewek teriak ya, Ga?
[raga] ah berisikkk loooo
[imanda] hahaha takut dia

Aku segera mengemasi laptop dan barang-barangku, kemudian bergegas menuju lift untuk keluar kantor. Sambil menunggu lift tiba, aku mengecek handphone-ku dan masuk ketika pintu lift terbuka. Aku mengecek Twitter, Facebook, Path, dan login Hangout agar tetap bisa chatting dengan kawan-kawanku. Ketika aku mengangkat wajah, baru sadar bahwa sedari masuk tadi aku belum memencet tombol lantai dasar, sehingga lift bergerak naik dari lantai tujuh ke lantai 14.

Sesampainya di sana, pintu lift terbuka dan menampakkan lorong yang gelap gulita. Tidak ada yang masuk ke dalam lift, sehingga aku buru-buru memencet tombol tutup dengan panik. Mengapa bisa naik, jika tidak ada yang memencet di lantai 14?

“Anjir,” umpatku kesal karena pintu lift tersebut stuck, tidak peduli betapa keras aku menekan tombolnya. Pintu lift tetap terbuka lebar, tersangkut, tidak mau bergerak. Aku menahan napas melihat lorong yang telah gelap gulita di depanku. Amarah malah menggelegak di kepalaku, alih-alih ketakutan.

“Woy, gue capek,” tantangku sambil melangkah keluar lift, menuju kegelapan. Ada tiga pintu lift—satu terbuka dengan cahaya pucat, dua lagi masih tertutup—dan aku berjalan untuk memencet tombol turun di dinding. “Kenapa sih ini,” omelku lagi, “nggak tau apa, gue pengen pul—“

Aku baru sadar bahwa cahaya pucat dari dalam lift yang terbuka perlahan menyempit menjadi segaris kecil, sebelum hilang sama sekali. Lift tadi tiba-tiba menutup dan turun sendiri, meninggalkanku dalam kegelapan sebelum aku sempat berbuat apapun. “SHIT,” aku memaki kasar dan menekan tombol lift di dinding berkali-kali, “HOI!”

Rasanya lift yang sedang kutunggu untuk membawaku turun dari lantai keparat ini naik lambat sekali ke lantai 14, kini baru sampai di lantai lima.

Selain dentum jantungku, hanya keheningan dan kegelapan pekat yang ada di sekitar.

Lantai tujuh.

Aku teringat cerita temanku yang pernah mendengar suara wanita berteriak di kantorku.

Lantai sepuluh.

Ada suara langkah kaki menggema di kejauhan.

“Anjingggg….” Jempolku tetap menekan tombol lift, meski tidak ada gunanya.

Lantai sebelas.

Gaungnya makin jelas, seakan berlari untuk mencapaiku.

Lantai dua belas.

Suaranya kecil sekali, sebuah bisikan lirih. Sangat lirih, sehingga awalnya aku menyangka sedang berhalusinasi. Tetapi tidak, suara itu benar-benar memanggil namaku.

“Raga…”

DING!

Lift berdentang terbuka dan aku buru-buru melompat masuk kedalamnya. Jariku yang beku oleh ketakutan kembali meninju tombol penutup pintu lift. Pintu menutup dengan lambat. Aku mengangkat kepala dan sekelebat, dari balik celah yang makin menyempit, aku melihat sosok yang berdiri dalam kegelapan.

Ia tidak berwajah.


=====================================


Aku bosan sekali menonton berita di televisi yang dipenuhi kekerasan, skandal, serta gonjang-ganjing di tubuh pemerintahan. Beberapa bulan yang lalu, Presiden RI yang belum genap setahun terpilih ditemukan tewas di ruang kerjaanya karena serangan stroke yang tiba-tiba. Walhasil, wakil presiden jadi naik jabatan untuk menggantikan mendiang presiden terdahulu. Mayoritas menerima keputusan ini dengan baik, namun selalu ada oposisi yang menentang dan melakukan tingkah aneh-aneh di tubuh DPR dengan voting-voting kebijakan tidak masuk akal.

Ganti ke stasiun televisi luar negeri, muncul berita terbaru tentang Gunung Damavand di Iran yang meletus secara tiba-tiba tanpa mampu diprediksi sebelumnya. Berita dilanjutkan dengan wabah penyakit serta hama yang meliputi Timur Tengah, menambah musibah beruntun setelah meletusnya Gunung Damavand yang mengakibatkan gempa dan meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Iran.

“Isi berita ga ada yang bener,” gerutu Jiwa sambil memencet tombol remote dengan ganas, mencari-cari yang bisa ditonton. “Sinetron, sinetron, ribut-ribut politik, wabah, bencana, bosen.”

“Eh, ini aja Jiw,” aku mencegahnya mengganti lagi.


message 9: by Ganendra (last edited Oct 01, 2014 03:42AM) (new)

Ganendra Madanaputra (ganmdp) | 44 comments Televisi menyiarkan tayangan talk show dari sebuah stasiun televisi lokal yang jarang ditonton. Isinya sebagian besar iklan-iklan home shopping yang diulang-ulang, acara tangga lagu, berita, dan talk show yang tidak penting. Waktu itu, aku pernah menonton seorang bapak-bapak yang berprofesi sebagai tukang foto aura, kali lain tentang batu-batu alam yang berkhasiat untuk hidup. Aneh, tapi menarik untuk ditonton, dibandingkan tayangan yang itu-itu saja.

Kali ini, talk show tersebut mengundang seorang pria tua yang kelihatan setengah sinting, dengan kucing gendutnya yang duduk anteng di pangkuan. Rambutnya tipis dan telah memutih, dengan dahi besar berkilap yang dipenuhi titik-titik keringat. Matanya yang kecil terletak berjauhan satu sama lain, tetapi bergerak-gerak cepat seperti ketakutan. Lelaki itu memiliki perut buncit bundar yang seperti mau meledak di balik batik lusuhnya. Aku mendapatkan kesan bahwa bau badannya pasti kecut dan tidak enak.

“…mereka melakukan komunikasi dengan frekuensi-frekuensi tertentu yang tidak bisa ditangkap indera manusia, namun kucing diketahui bisa menangkap frekuensi mereka.”

Pembawa acara, kelihatan agak menyesal dengan jalur karier yang mesti ditempuhnya, berusaha keras menanggapi dengan serius. “Apakah makhluk ini semacam makhluk halus?”

“Bukan Mbak, mereka datangnya dari luar angkasa.”

“Oh, seperti itu?”

“Semua tidak percaya tentang invasi alien. Mereka bilang itu omong kosong, hanya ada dalam film! Tetapi Amerika menyembunyikan kebenaran yang seharusnya disebarluaskan pada khalayak ramai. Benar itu, rumor yang bilang mereka menyembunyikan jasad alien,” pria itu menjelaskan dengan berapi-api, “tapi seperti manusia, alien itu banyak jenisnya. Seperti ras pada manusia saja, kan macam-macam. Setiap jenis memiliki kemampuan-kemampuan yang berbeda pula.”

“Misalnya Pak?”

“Ada yang sedang saya pelajari, spesies yang awalnya seperti parasit, tetapi ia akan memperoleh kontrol sepenuhnya terhadap inang. Sebut saja Tabula Rasa. Mereka alien tanpa wajah yang ingin mengambil kontrol terhadap tubuh manusia. Biasanya, mereka akan menghancurkan cermin, karena—“

Jiwa mengganti channel-nya. “Orang gila.”

Wajah Saipul Jamil kini memenuhi layar.


=====================================


Selang beberapa minggu, doppelganger-ku muncul lagi.

Kali ini, satpam kompleks yang mengaku melihatku mondar-mandir di teras, padahal saat itu aku sedang keluar mencari makan dengan Jiwa. Biasa, tengah malam kami suka kelaparan dan keluar untuk makan bakso atau mie rebus di depan kompleks. Teman kantorku juga pernah melihatku di sebuah mall, tapi ternyata aku sedang di rumah. Jiwa juga mengalaminya lagi. Ia melihatku di halaman belakang, padahal itu siang hari saat aku berada di kantor.

“Makin parah deh Mas,” komentar Jiwa, saat kami selonjoran di teras belakang rumah sambil merokok, “kok serem ya?”

Aku mengangkat bahu. Seram juga rasanya ketika semua orang mengaku melihatku, padahal aku yang asli sedang berada di tempat lain. Gara-gara Imanda, aku jadi mencari tentang doppelganger dan mau tidak mau jadi ngeri juga. Bagaimana kalau suatu saat aku bertemu muka dengan diriku sendiri? Menurut kisah, itu adalah pertanda kematian.

“Adrien mana ya?” Jiwa tiba-tiba nyeletuk.

“Adrien siapa?”

“Adrien Brody, si kucing kuning yang biasa minta makan ke sini. Gue baru ngeh, udah jarang keliatan.”

“Tau, dah,” ujarku. “Bodo amat.”

Aku baru akan menyulut rokokku lagi, ketika kami mendengar bunyi yang mengangetkan datang dari dalam rumah. Seperti kaca yang berhamburan pecah. Aku dan Jiwa langsung melompat berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Di ruang tengah, segalanya terlihat normal, sehingga kami memeriksa ke kamarku. Tidak ada apa-apa, begitu juga dengan kamar Jiwa. Kami bertukar pandang dan membuka pintu kamar mandi yang ada di antara kamar kami.

“…kok bisa?”

Cermin wastafel kami hancur berantakan, berserakan menjadi serpihan beling tajam yang berkilauan di ubin kamar mandi.

“Eh tapi, cermin gue kemaren-kemaren pecah juga Mas,” Jiwa berkata serak. Wajahnya ketakutan. “Beneran, kayaknya cermin-cermin belakangan ini pada pecah. Cermin lo, cermin gue, sekarang di kamar mandi.”

“Di rumah ini, nggak banyak cermin kan? Ada lagi nggak sih?”

“Ada, Mas. Lemari di kamar ibu. Di dalam pintunya ada cermin gede kan, seukuran badan.”

Aku menatap Jiwa dengan tidak yakin. “Ya terus gimana?” Tanyaku bingung. Buntu. “Emang kenapa kalau pecah semua?”

Adikku menggaruk tengkuknya, sama-sama bingung, kemudian mengerut marah. “WOI SETAN! JANGAN GANGGU—“

Tiba-tiba, kami mendengar suara kaca pecah. Kaca di dalam lemari ibu.

Aku teringat sesuatu. “Tabula Rasa!”


=====================================


Kami duduk di teras belakang dengan memangku laptop masing-masing demi mencari lebih banyak tentang kata-kata yang kami dengar sekilas di televisi tempo hari. Adrien Brody, si kucing, berbaring anteng di sisi kami.

“Tabula Rasa,” aku menyebut lagi kata itu sambil memijat pelipisku yang berdenyut. Belakangan ini, kepalaku rasanya seperti melayang ringan, membuat mual, kemudian serasa jatuh ke bumi dengan denyut nyeri di pelipis kiri. Badan rasanya tidak enak, oleh karena itu hari ini aku izin tidak masuk kerja.

Jiwa membaca lagi temuannya keras-keras. “’Tabula rasa berasal dari bahasa Latin ‘kertas kosong’, merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain ‘kosong’, dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya.’”

“Iya gue tau. Sering denger kok.”

“Apaan ya itu?” Gumam Jiwa sambil menggali berhalaman-halaman situs pencarian Google. “Emangnya ada jenis hantu Tabula Rasa?”

Jariku juga sibuk mengetik kata kunci pencarian yang menghubungkan Tabula Rasa dengan hantu dan supernatural, tetapi tidak menemukan sesuatu yang memuaskan. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menghilangkan perasaan mualku. Asap mengepul dari rokok Jiwa, warna kelabu tipis, dan nyaris transparan. Kepalaku terasa seringan asap itu, melayang jauh, kemudian berakhir dengan denyutan nyeri.

“Tabula Rasa… alien. Apaan coba, sampah.”

Mataku membelalak. “Eh! Buka! Buka itu!” Seruku teringat sesuatu. “Talk show di televisi itu.”

Jiwa mengernyit, tapi membuka blog milik bapak-bapak aneh tersebut sambil membaginya denganku. “’Tabula Rasa… alien parasit berkekuatan rendah yang menghimpun kekuatan seiring waktu… cerdas, dapat belajar, dan beradaptasi dengan cepat… memiliki frekuensi yang tidak dapat ditangkap indera manusia… bla, bla, bla.’” Adikku membaca cepat dengan tidak berminat. “Alien? Pff, gue lebih percaya kolong wewe daripada alien.”

“Cara ngusirnya gimana?”

“…lo percaya?” Jiwa menatapku seakan aku telah gila. “Apaan sih alien-alien? Mau menguasai bumi? Zordon? Rita Repulsa? Alah, mas, nggak usah dipercaya.”

“Siniin deh,” aku merebut laptopnya. “’Belum diketahui bagaimana mencegah serangan Tabula Rasa, karena mereka menginvasi dengan sangat halus dikarenakan kekuatannya yang terbatas. Alasan lain adalah korban Tabula Rasa bisa dipastikan tidak dapat teridentifikasi, karena tubuh akan diambil alih tanpa disadari. Satu-satunya untuk waspada adalah dengan memerhatikan gerak-gerik kucing, karena kucing dapat menangkap frekuensi mereka.’”

Adikku masih mencibir. “Untung kita punya Adrien Brody.”

Aku melirik pada Adrien yang tidur di sebelah kami. Dahiku mengernyit, baru menyadari sesuatu. Dari tadi Adrien tidak tidur, melainkan meringkuk diam dengan mata membelalak terpancang pada ruang kosong di belakangku. Ekspresinya tegang.

Adrien Brody melihat sesuatu.


=====================================


Aku ada di dalam sebuah lift yang sedang melesat naik, hingga membuat isi perutku serasa teraduk. Kepalaku pusing dan ringan melayang-layang oleh gravitasi. Jemariku mencengkeram logam horizontal di dalam dinding lift, sementara kotak besi itu terus melesat entah ke mana.

Pada akhirnya, diiringi bunyi denting yang khas, pintu lift tersebut bergeser terbuka. Di luar gelap, sangat gelap, kemudian mulai muncul semburat ungu yang berpendar menjadi aneka warna yang hanya dapat disaksikan melalui foto-foto nebula di luar angkasa. Ungu, magenta, merah jambu, dengan pinggiran keemasan yang berkilauan, dan bertabur bintang-bintang berkelip.

Lift tersebut menghilang, hanya aku yang sedang mengapung tanpa gravitasi di dalam ruang hampa yang terlihat cair, berubah-ubah seperti tetesan oli di atas air.

Bintang-bintang bertaburan seperti berlian, berkilau keperakan ketika tubuhku melayang di antaranya. Dalam pemahaman yang lamban, aku baru tersadar bahwa titik-titik perak itu bukanlah bintang, melainkan ribuan cermin yang memantulkan wajahku.

Atau tidak?

Hanya ada kulit tanpa fitur wajah di sana.

Aku teringat bayangan tanpa wajah yang kulihat di lantai 14 tempo hari.

Lalu suara yang sama memanggi namaku.

“Raga… Raga….”


Aku tersentak dari mimpiku dengan kepala pening. Mataku mengerjap dan tubuhku oleng, nyaris jatuh jika aku tidak menyambar meja yang ada di hadapanku.

Meja?

Jantungku serasa melompat kabur ketika aku menyadari bahwa aku tidak berada di atas kasur, bahkan bukan di kamarku. Kepalaku sibuk mencari-cari jawaban, sekaligus sambil menenangkan diri. Keringat membanjiri punggungku dengan deras, sementara mataku mengerjap berusaha beradaptasi dengan kegelapan total yang menyergap.

“…SHIT.” Seruku refleks melihat sosok yang berdiri di hadapanku.

Diriku sendiri.

“Kaca, anjing….” Aku mengumpat jengkel, namun kembali rasa ngeri menyergapku.

Cermin ini terpasang pada meja rias ibuku yang disimpan di dalam gudang karena sudah lama tidak dipakai. Pertanyaan mulai menyerbuku, berusaha merunut logika-logika yang terasa tidak masuk di akal.

Mengapa aku bisa ada di gudang?

Satu nama terngiang: Tabula Rasa.

Apakah mereka nyata?

Aku menatap bayanganku di cermin. Sekonyong-konyong retakan besar menjalar di permukaan kaca yang beku. Refleks, aku melompat minggir, tepat saat kaca tersebut pecah berkeping-keping dengan suara memekakkan telinga.

“Mas Raga!” Kudengar Jiwa berteriak memanggilku dari luar gudang. “MAS?”

Ini gila. Aku memutar tubuh untuk keluar dan nyaris menabrak seseorang.

“Jiwa?”


Bukan.

Itu aku.

Diriku. Diriku sendiri yang berdiri di sana dengan seringai penuh kemenangan.

“Aku Raga.”


Jiwaku serasa direnggutkan, semenetara ragaku yang telah diambil alih sepenuhnya berjalan keluar untuk menghampiri adikku. Namun, aku tak lagi ada di dalamnya. Aku melayang seperti asap rokok yang biasa kami hisap, membumbung di atas atap-atap rumah di kompleksku. Segalanya terasa sukar dimengerti, namun aku kini bisa melihat mereka dengan jelas.

Tabula Rasa: sosok-sosok alien keperakan tanpa wajah yang mengikuti orang-orang tertentu. Ada yang belum memiliki wajah, namun kulihat ada juga yang sudah berbentuk semakin mirip dengan orang yang diikutinya sekian lama. Para alien tersebut menunggu sampai mereka cukup kuat untuk mengambil raga manusia yang mereka ikuti.

Pada saat aku membumbung keluar dari bumi, aku dapat melihat lebih banyak lagi sosok-sosok perak tak berwajah yang meluncur masuk ke dalam atmosfer bumi untuk mengambil alih lebih banyak tubuh di bumi demi apapun tujuan mereka.


Kumohon kawanku, berhati-hatilah.



FIN


message 10: by Erwin (last edited Oct 01, 2014 08:54PM) (new)

Erwin Adriansyah | 634 comments >be me, 37, roughneck space mining engineer

>went to USG Ishimura, a planet cracker class vessel

>old ship is old, older than my mom, still spry though

>evaluated mineral contents, purity, blah blah blah, all day, every day

>got good pay

>discreetly dated Rosa from Medical

>also secretly banged her boss, good ol’ Dr. Anne

>and that gun nut Jackie from Security

>oh, and Chris from Service too

>bitches didn’t know about my bitches

>the Ishimura dropped anchor on Aegis VII, seventh planet of the Cygnus system

>planet’s loaded with precious metals residing under its crust

>score!

>helped set up gravity tether, ran some tests, the works

>the ship briefly lost contact with ground crew

>eh, surely it was nothing serious, right?

>so yeah, business as usual

>got me singing too

>“Some blues are just blues, mine are the miner's blues

>My troubles are coming by threes and by twos

>Blues and more blues, it's that coal black blues”

>working hard

>fucking even harder

>shit was so cash

>but then I started to see Lucy around here

>strange

>I was there when they buried her

>I was ready to blow my head off back then, but family and friends talked me out of it

>cool, whatever, lived life to the fullest afterward

>maybe I was just feeling nostalgic?

>anyhoo, the crew were getting restless

>some said they couldn’t get asleep

>others claimed they were having terrible nightmares and/or severe hallucinations

>few fell into dementia and turned into a bunch of rambling lunatics

>what’s up with these people?

>rumors were swirling around

>“a Marker was found on the planet,” they said

>pfft, a Marker? yea right, cool story, bro

>heck, I don’t even know what a Marker exactly is

>some sort of an artifact from long-lost alien civilization, right?

>right, okay then

>let’s worry about it later

>things went real bad real fast

>Rosa got injured and Dr. Anne was fatally wounded when one of those mad fuckers broke into the medical ward and shot everybody in sight

>Jackie kicked the bucket when riots erupted throughout the Ishimura and Chris gone missing

>shit

>no more pussy to plow

>what do?

>Lucy told me to scram posthaste

>good idea!

>not really though because the hallways, corridors, living quarters, cafeteria, heck, even the toilets were filled to the brim with dead folks

>problem was, they didn’t stay dead

>all of them wanted a piece of me, quite literally

>well all right then

>fought my way to hangar bay while trying my best to scream more like a battle-hardened badass instead of a frightened lil' girl

>found Chris

>she was not … okay

>that gaping wound

>that broken leg

>those mutilated fingers

>drop kicked her like a reigning lucha libre champ

>there’s no way I would let her get close to me even if she came with free blowjobs

>secured an empty and working emergency shuttle for me and Lucy

>set course for Titan Station

>safe now, but jobless for all intents and purposes

>welp, time to write a new job résumé I guess

>couldn’t think of a single thing to write

>wrote this greentext story instead

mfw




message 11: by Kayzerotaku (last edited Oct 07, 2014 06:57AM) (new)

Kayzerotaku | 320 comments Croatoan

Th 21xx
Lokasi: Bulan Fryhta
Koloni Pertambangan Angkasa

Namaku Dietz dan ini mungkin transmisi terakhirku.

Ceritaku dimulai ketika kami tengah menambang ‘unobtanium’ di Fryhta, sebuah bulan yang gersang. Sejauh kami memandang, hanya terhampar dataran yang mati. Sulit dipercaya rasanya, jika ada makhluk hidup di bulan ini. Kami tinggal di bangunan berbentuk kubah dengan dinding heksagon dan didalamnya terdapat udara, gravitasi dan matahari buatan.

Sekitar 50 orang tinggal di koloni pertambangan milik perusahaan Kingmen. Kami dipimpin oleh direktur Mercer, orang yang lebih keras daripada bahan yang kami tambang. Ia memegang akses hidup kami di koloni ini. Aku bertugas sebagai geologis untuk memeriksa kualitas bahan tambang yang kami olah. Kondisi kami tidak bisa dikatakan menyenangkan. Untuk mengusir kebosanan, aku sengaja membawa binatang peliharaan dari bumi seperti hamster, tikus, jangkrik dan ikan-ikan hias. Tanpa kuketahui semuanya akan berubah menjadi mimpi buruk dalam beberapa minggu.

-#-
Suatu hari, seorang penambang di sektor 13 menemukan sesuatu yang unik. Mereka membawa temuan mereka ke kantorku. Dalam pandangan sekilas, temuan tersebut berupa bebatuan. Begitu aku memeriksa lebih lanjut, ternyata kepingan batu tersebut sangat lembut dibandingkan dengan batu biasa. Tidak hanya itu, ketika aku memecahkan batu tersebut dengan pahat, keluarlah benda bulat berwarna-warni sebesar kelereng.

“Hei, benda apa yang kau temukan?” komentar seseorang. Kupalingkan pandanganku pada seorang pria tambun bermata biru dan berjanggut coklat. Ia memakai kacamata inframerah di kepalanya.

“Halo, Bold.” Balasku. “Entahlah, seorang penambang menemukannya di Sektor 13. Aku baru saja memeriksanya. Sepertinya ini bukan batu biasa.”

“Menarik!” sahut Bold. “Sedikit nasihat bagimu, Dietz. Jika kau menemukan benda asing di tempat asing, sebaiknya kau buang saja. Percayalah,kau akan mendapatkan nasib sial jika menjaganya.”

Aku menjawab. “Terimakasih atas nasihatmu, Bold. Akan kupikirikan.” Sepeninggalnya, aku memutuskan untuk membawa benda tersebut ke rumahku. Setiba di rumah ,bola-bola tersebut kutaruh di dalam akuarium yang berisi ikan-ikan. Benda misterius itu berpendar dalam gelap, ketika lampu kumatikan.

-#-

Keesokan harinya, aku terbangun ketika intercom berbunyi.

“Dietz! Bangun!” teriak suara wanita dari intercom. “Mercer mencarimu!”

Aku mengenal suara tersebut. Dengan ogah-ogahan, aku bangun untuk berpakaian dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu kubuka, berdiri seorang wanita berambut coklat panjang dan bermata hijau. Tubuhnya semampai. Aku mengenalnya sebagai Erin; kami pernah berpacaran sebelumnya. Dengan pandangan kurang senang, ia berkata

“Mercer ingin bicara denganmu mengenai kualitas bahan tambang akhir-akhir ini.” Wanita itu menutup hidungnya. “Sebaiknya kau mandi dulu sebelum bertemu dengannya!”

“Baik, aku akan berganti pakaian.” ujarku. “Tunggulah sebentar di dalam.” Erin mengedarkan pandangan di sekeliling rumahku dan menarik nafas.

“Seperti biasa, kamarmu selalu berantakan.”celetuknya. Aku tidak membalas celetukannya. Setelah aku mandi dan berganti pakaian, ia menunjuk ke arah bundaran yang berpendar di akuarium

“Sepertinya kau punya aksesoris baru di akuariummu. Darimana kau mendapatkannya?” tanyanya.

“Kiriman khusus dari Bumi!” jawabku berbohong. “Mari kita pergi, agar Tuan Mercer tidak marah.”

-#-
Sekembalinya aku dari kantor Mercer, aku melihat benda bundar tersebut telah menghilang. Sebagai gantinya, seekor makhluk menyerupai kelinci laut atau siput dengan kulit berwarna-warni tengah merayap di dalam akuarium.

“Wow!” sorakku senang. “Makhluk asing jenis apa ini?” Berhubung aku tidak tahu makanan apa yang disukai makhluk asing itu, kuberikan makanan peliharaanku kepada makhluk itu. Saat itu aku tak menyadari bahwa rumahku yang tadinya ramai dengan bunyi binatang, mendadak terdiam.

-#-
Dua hari kemudian
Alangkah terkejutnya aku ketika melihat bahwa makhluk tersebut kini bertambah besar. Tak hanya itu, aku juga menemukan ternyata makhluk tersebut dapat beradaptasi sesuai dengan makanan yang diberikan. Namun mereka lebih menyukai daging. Makhluk siput itu memiliki gigi taring untuk mengoyak daging dan lebih agresif. Melihat mereka, aku merasa mendapatkan hiburan di tengah-tengah pekerjaanku. Hal yang mengherankan adalah ikan-ikan di akuarium mulai berkurang. Tetapi saat itu aku tidak sadar akan bahaya yang menanti.

-#-
Empat hari kemudian, aku kembali ke rumah dan menyalakan lampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang basah di kakiku. Ternyata air telah menggenangi lantai rumahku. Kuarahkan pandanganku pada akuarium yang …telah jebol dan kosong. Ikan-ikanku dan makhluk siput itu telah menghilang. Panik, aku segera mencari mereka ke pelosok kamar.

Lalu kutemukan makhluk itu di bawah sofaku. Kini makhluk siput itu berukuran sebesar anak kucing. Tak perlu menebak, makhluk ini pasti memakan semua ikan hiasku. Aku mengangkat makhluk tersebut dengan sarung tangan karet, karena tubuhnya yang licin dan kutaruh di dalam kontainer air.
Aku tidak punya akuarium lagi; untuk memesan akuarium baru butuh waktu lama dan berarti pemotongan gaji. Untuk sementara, makhluk itu tinggal di kontainer itu.

-#-
Hari berikutnya,
Ketika aku sedang di kantorku, tiba-tiba Bold masuk ke dalam.

“Hei, Dietz!” panggilnya senang. “Aku mau memperlihatkan sesuatu padamu.” Dengan acuh, aku berpaling padanya dan ia mengeluarkan sebuah siput berwarna abu-abu dengan totol jingga.

“Dari mana kau temukan itu?” tanyaku terkejut.

Bold menjawab. “Dari Sektor 13. Tidak hanya aku, semua juga menemukan bola-bola berwarna dan setelah itu makhluk ini menetas. Semua menyukainya karena imut.”

“Kalau kau tak percaya, lihatlah keluar.” Aku segera keluar dari kantorku dan melihat bahwa semua orang mempunyai makhluk siput. Aku bukan satu-satunya yang memiliki siput asing itu. Perasaanku mulai tidak enak.


-#-
Seminggu kemudian
Hari ini hari naasku. Pertama, kami semua dipanggil oleh Mercer yang mengomeli kami habis-habisan tentang penurunan produktivitas dan kualitas bahan tambang. Aku tidak heran mendengarnya; sejak munculnya ‘siput Fryhta’ banyak para penambang mengabaikan pekerjaan mereka untuk mengurusi peliharaan mereka. Yang membuat kami kaget adalah keputusan perusahaan Kingmen untuk mencabut ijin cuti kami untuk pulang ke Bumi. Mercer menambahkan keputusan tetap berlaku hingga produktivitas meningkat kembali. Banyak yang memprotes, tetapi yang lainnya lebih peduli akan siput peliharaan mereka.

-#-
Dua minggu kemudian
Sepulangnya dari tempat kerja, aku disambut pemandangan yang tidak biasa. Suasana sunyi senyap; tak terdengar bunyi apa pun. Begitu kunyalakan lampu, aku terkejut melihat bahwa kandang hamster, tikus dan jangkrik telah kosong melompong. Aku mengambil kandang mereka dan memeriksa. Benar-benar tak ada isinya. Lalu aku teringat akan siput Fryhta milikku. Segera kubuka kontainer air dan ternyata kosong.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang merayap pada kedua kakiku. Rasanya seperti basah. Pertama-tama aku mengira itu tetesan air, tetapi kusadari bahwa tidak ada bocor di rumahku.

Ketika aku berpaling, ternyata siput Fryhta peliharaanku yang merayap pada tubuhku. Tidak hanya itu, jumlah mereka banyak sekali. Aku mencoba bangkit, tetapi sesuatu yang berat menahan tubuhku. Dari bahu kiriku, muncullah siput paling besar. Makhluk itu mengangakan mulutnya yang dipenuhi taring. Sebelum aku bertindak, temannya melompat masuk ke dalam mulutku. Langsung aku bangkit dan menariknya dari mulutku. Siput besar menggigit bahuku, sehingga darah mengucur. Aku bertambah panik, tetapi siput-siput tersebut tetap bercokol di tubuhku. Kemudian aku menyandung sebuah kursi sehingga aku terjatuh. Makhluk-makhluk lainnya segera menggunakan kesempatan itu untuk mengerumuniku dan memasuki mulutku, serta telingaku. Ketika mereka masuk ke dalam mulutku, rasanya seperti agar-agar yang menggeliat.

Tiba-tiba sebuah suara berbicara dalam pikiranku:

Bagaimana rasanya, makhluk kaki dua? Aku terkejut . Kucoba berteriak, tetapi lidahku tidak mau menjawab. Suara tersebut melanjutkan.

Kami harus mempersiapkan diri untuk panen. ucap siput sialan itu di kepalaku. Croatoan akan datang.Kami akan menjadikan tubuh kalian sebagai inang untuk tahap metamorfosa selanjutnya. Aku terus memberontak.

Sia-sia saja, kami akan menguasai sistim saraf tubuhmu melalui tulang belakang dan otak. Kamilah yang menentukan setiap langkah dan perkataanmu.

Mendengar itu aku menjadi marah. Siput-siput ini menganggap diri mereka lebih hebat dari kami. Aku segera mengerahkan kekuatanku yang tersisa dan menarik siput-siput itu keluar dari mulutku dan telingaku. Kulemparkan mereka semua ke lantai dan kuinjak-injak mereka hingga lumat menjadi lendir. Begitu aku memalingkan pandanganku kepada yang lain,yang tersisa otomatis menyembunyikan diri di sela-sela kamar yang mereka bisa temukan.

Celaka! Kita diinvasi oleh makhluk asing! gumamku dengan khawatir. Aku harus memperingatkan yang lain. Akan kuberitahu Direktur. Namun aku khawatir bahwa yang lain akan menganggapku gila jika kuberitahu langsung. Lalu aku mendapatkan ide…

-#-


message 12: by Kayzerotaku (last edited Oct 07, 2014 07:14AM) (new)

Kayzerotaku | 320 comments Aku menekan tombol intercom rumah Erin berkali-kali. Tidak ada jawaban. Ketika aku mendorong pelan, pintu kamar terbuka. Hal ini membuatku was-was, karena ia selalu mengunci pintu.

“Erin, apa kau ada di dalam? Ini Dietz” panggilku. Sekali lagi tidak ada jawaban. Maka aku masuk pelan-pelan ke dalam . Tipikal bagi kamar wanita, kamar Erin dicat merah muda. Ada kursi bundar dengan alas berbulu serta karpet. Aku memperhatikan ranjang miliknya.

Ini bukan waktunya untuk sentimentil. Kita menghadapi bahaya makhluk asing! Kataku dalam hati.

“Dietz!” panggil seseorang. “Sedang apa di sini?”
Aku menengok ke belakang dan melihat Erin tengah berbalutkan handuk. Sekilas aku melihat bercak darah di sudut bibirnya. Aku cepat-cepat mengangkat tanganku.

“Maaf, Erin! Bukan maksudku…” kataku. Wanita berambut coklat itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Astaga, Dietz! Tadinya kukira kau penyusup yang kurang ajar.” Ia segera melangkah ke lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti dan langsung berganti. “Tak usah malu-malu! Bukankah kau sering melihatku?”

“Tetap saja itu kurang sopan.” Balasku dengan wajah merah padam. “Meskipun kau mantan pacarku.”

“Baiklah.” Sahut Erin. “Mengapa kau datang ke rumahku? Tentu ada sesuatu yang penting.”

Aku berkata. “Ini sangat penting! Akan kuceritakan.”

-#-

Setelah berpakaian, Erin mendengarkan bagaimana aku menemukan makhluk siput itu hingga penyeranganku di rumah.

“Ini gawat!” ujarnya. “Kita harus memberitahu Direktur sekarang juga. Ia pasti akan menghubungi Pasukan Pembela Galaksi dan koloni ini akan dikarantina.”

“Sebaiknya begitu.” Timpalku. “Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum makhluk Croatoan yang disebutkan datang.”

“Kenapa tidak memberitahu Bold atau yang lain?” tanya Erin penasaran.

"Aku tidak bisa memastikan apakah Bold dan yang lainnya juga diserang sepertiku. Bila ya, kita berada dalam masalah. Siput-siput ini dapat mengendalikan manusia setelah memasuki tubuh. Beruntung, aku sempat membunuh beberapa dari mereka sebelum itu terjadi.” Erin bergidik.

“Mengerikan! Jangan buang waktu.” Lalu kuperhatikan bercak darah di sudut bibirnya.

“Erin, ada bercak darah di dekat bibirmu. Kau tidak apa-apa?” tanyaku seraya menunjuk ke arahnya.

“Eh, mungkin aku terpeleset sewaktu berada di kamar mandi. Aku tidak memperhatikan ini.” Spontan aku mengambil tisyu dan mengusapkannya pada sudut bibirnya. Erin menggengam tanganku dan berkata

“Terima kasih.” ujarnya. Aku hanya mengangguk dan berkata.

“Mari kita peringatkan yang lain.”

-#-

Kami langsung pergi ke kantor Mercer yang berada di sisi kiri koloni. Setelah sekretaris robot menginformasikan kedatangan kami, maka ia segera mempersilahkan kami untuk masuk ke dalamnya. Di dalam, seorang pria berusia limapuluhan dengan rambut beruban dan mengenakan baju abu-abu. Ia menatap kami dengan kurang senang.

“Kuharap kalian tidak membuang-buang waktuku.” Ujarnya kurang sabar. “Cepat katakan apa maumu, Tuan Dietz.”

“Direktur.” Kataku seraya mengatur nafas. “Saya hendak memperingatkan adanya invasi makhluk asing. Dalam seminggu terakhir ini, kami menemukan makhluk-makhluk siput yang hidup di antara bebatuan. Orang-orang menjadikannya sebagai peliharaan, termasuk saya. Hari ini makhluk-makhluk tersebut menyerangku dan hendak mengendalikan saya. Tidak hanya itu, mereka juga mengatakan bahwa akan datang makhluk lain yang mereka sebut ‘Croatoan’"

Mercer mendengarkan ceritaku dengan bergeming. Lalu ia bertanya.

“Apakah kau punya bukti untuk mendukung ceritamu?” Aku menggelengkan kepalaku.

“Tidak, makhluk yang menyerangku di rumah sudah menghilang tetapi…” Pada saat bersamaan, Bold memasuki kantor. Aku langsung menunjuk kepadanya.

“Direktur, Bold memiliki makhluk itu!” aku menuju kepada Bold dan berkata. “Bold, tunjukkan makhluk peliharaanmu itu!”

Dengan ekspresi bingung, pria itu berkata. “Peliharaan yang mana? Maksudmu yang ini?” Makhluk siput hitam dengan titik-titik oranye sekujur tubuhnya muncul dari bahu Bold.

Tanpa buang waktu, aku menyambar siput sialan itu dari bahunya dan menunjukkannya di depan wajah Mercer.

"Ini buktinya, Direktur!" teriakku. "Siput-siput ini ingin menjadikan tubuh kita sebagai inang mereka! Kita harus melaporkan ini pada..."

Mercer menganggukkan kepalanya. “Tuan Dietz, kami tidak meragukan ceritamu. Tetapi kau terlambat.” Ketika ia berkata demikian, makhluk siput berwarna abu-abu muncul dari meja miliknya dalam jumlah banyak. Mata direktur mulai menyala dengan cahaya kebiruan, sementara mata Bold berwarna orange. Aku terbelalak melihat hal itu; tidak kukira bahwa Direktur sudah terinfeksi lebih dulu. Aku berpaling pada Erin dan melihat bahwa di kedua bahunya bertengger siput berwarna merah muda dengan corak warna-warni. Di saat itu kedua matanya yang hijau bernyala.

“Maaf.” Ujarnya seraya tersenyum. “Kami sudah berada di dalam tubuh wanita ini ketika kau datang.” Bagiku saat ini, senyuman Erin bagaikan ejekan. Bercak darah itu adalah perlawanannya ketika makhluk itu memasuki tubuhnya. Tanpa sadar, aku melepaskan siput yang kupegang. Aku kini sendirian di tengah-tengah makhluk asing.

“Mengapa kalian tidak membunuhku saja?” kataku seraya menggigit bibirku.Lalu makhluk asing tersebut berbicara melalui mulut Erin.

“Kami menyimpan yang terbaik untuk saat terakhir.” Sebenarnya aku ingin pasrah, tetapi terlintas di pikiranku bahwa mungkin tidak semuanya terinfeksi. Aku harus pergi ke ruang pemancar!

Seketika itu aku berlari ke arah pintu keluar dan terdengar teriakan Mercer. Bold dan Erin mencoba menghalangiku. Tanpa peduli apapun, aku segera menubruk mereka hingga keduanya terpelanting. Peliharaan mereka segera mengejar, tetapi mereka terlampau lambat.

-#-

Singkat cerita, aku berhasil mencapai pemancar dan memberikan transmisi peringatan pada orang-orang di koloni. Aku juga menghubungi Pasukan Pembela Galaksi. Mungkin semuanya ini terlambat, tetapi aku tak mau mati sia-sia tanpa melakukan apapun. Saat yang sama, pintu didobrak oleh mereka yang terinfeksi. Mereka segera mengerubutiku dan pandanganku menjadi gelap.

-#-

Ketika bangun, aku tidak dapat merasakan tangan maupun kakiku. Kubuka mataku dan aku melihat bahwa seluruh tubuhku telah dikerubuti oleh makhluk-makhluk siput tersebut dan lendir mereka menyelimuti aku.. Tidak hanya itu, aku melihat Erin, Bold dan Mercer diantara mereka yang terinfeksi. Wajah Mercer dan Bold sudah tidak lagi menyerupai manusia, seakan-akan wajah mereka seperti topeng yang lumer. Erin masih berwujud manusia, tetapi sepasang sungut muncul dari balik rambut coklatnya. Wajah cantiknya kini hanyalah dua lubang vertikal di wajah dan matanya seperti menyipit. Saat yang sama, aku merasa wajahku seperti mencair bagaikan lilin yang menyala. Gantinya mengendalikanku, makhluk-makhluk itu menulis ulang susunan molekul tubuhku hingga menyerupai mereka.

“Bukankah kami sudah katakan bahwa kami menyimpan yang terbaik untuk saat terakhir?” ujar Erin.

“Kaulah yang terbaik.” sambung Mercer pendek.

Bold menimpali. “Kebetulan kami lapar...” Melihat tatapan mereka, aku segera sadar apa maksud mereka.

Aku hanya bisa menjerit kencang, ketika mereka mengerubungiku dan menyantap tubuhku mentah-mentah. Setelah itu segalanya menjadi kosong.

-#-

Sebulan kemudian, koloni di bulan Fryhta menjadi kota hantu. Tak seorangpun terlihat, kecuali pakaian-pakaian mereka yang bertebaran di mana-mana. Dari baju-baju tersebut, seekor siput Fryhta merayap keluar.

Tiba-tiba sebuah sosok berpakaian angkasa yang mengenakan helm berkaca gelap meraih siput tersebut. Pakaiannya menyerupai zirah ringan. Sosok itu mengangkat siput dekat helm yang dikenakannya. Begitu helm terbuka, ternyata sosok tersebut berwajah seperti siput. Diamatinya siput di depannya dengan tangkai matanya, sebelum ia membuka mulutnya yang bertaring tajam untuk memakan siput tersebut. Di belakangnya, makhluk-makhluk serupa mengamati.

Mereka seharusnya tidak membuat pemukiman mereka dekat sumber makanan kita. ujar mahluk itu melalui telepati seraya mengunyah siput tersebut. Namun harus diakui bahwa panen kali ini benar-benar menguntungkan. Ayo, kumpulkan mereka kawan-kawan!.Maka yang lainnya mulai mengumpulkan siput-siput tersebut

Croatoan. panggil rekannya. Kapan kita berkunjung ke Bumi lagi? Kunjungan terakhir kita sudah berabad-abad yang lalu.

Akan tiba saatnya, Tek'tkir. balas makhluk yang dipanggil Croatoan. Akan tiba saatnya.

-#-

Di suatu sudut terpencil di Bumi

Dari bebatuan keluarlah siput berwarna-warni yang menunggu untuk ditemukan...

The End?


message 13: by sky (last edited Oct 07, 2014 08:29AM) (new)

sky (windrunners) | 81 comments Namaku Waras.

Aku pernah memikirkan sesuatu yang sangat sinting. Seperti, betapa menyenangkannya jika aku bisa membaca pikiran orang lain, atau mempunyai sepasang sayap yang indah dan bisa terbang keliling dunia, serta mempunyai lampu ajaib yang bisa mengabulkan 1000 permintaan, bukan hanya tiga. Namun disaat yang bersamaan ketika aku memikirkan itu, aku tahu semua itu tidak pernah bisa terwujud. Aku hidup di dunia nyata, aku tidak hidup dalam buku-buku cerita.

Tapi tetap saja, rasanya menyenangkan mengkhayalkan itu semua. Setidaknya, aku punya sesuatu yang bisa aku pikirkan. Jika kau pernah dikurung di sebuah ruangan berjeruji aneh di sebuah rumah sakit jiwa, kau pasti mengerti. Tapi, tentu saja bukan itu yang ingin aku ceritakan padamu. Ini sebuah kisah yang lain. Kisah di mana bukan aku yang menjadi 'baik'. Kau mengerti maksudku? Kuharap kau mengerti.

Ini terjadi ketika aku berusia 12, lima tahun yang lalu. Ibu dan ayahku sering mengatakan jika aku menjadi anak baik, aku akan mendapat apa yang aku mau. Dan aku memang anak baik. Aku melakukan semua yang mereka mau, aku menjadi juara umum di sekolah, rajin menabung dan selalu tersenyum, dan itu semua disebabkan karena satu hal.

Aku punya teman yang 'tidak terlihat'. Namanya Invi, dia selalu berbisik di telingaku ketika aku melakukan hal yang salah. Invi selalu mengatakan padaku akan menujukkan hal-hal keren jika aku bisa berbuat baik seperti yang orangtuaku katakan. Awalnya, saat aku berhasil melakukan hal baik selama seminggu penuh, Invi menampakkan padaku bagaimana bentuk tangannya, dan menuntunku melewati kolong ranjangku menuju sebuah tempat yang dia sebut 'Tempat Bernaung'. Kali kedua aku berhasil melakukan hal baik selama sebulan penuh, dia menunjukkan padaku bagaimana bentuk tubuhnya—yang terlihat seperti seekor harimau kecil yang berdiri dengan dua kaki, dan mengajakku pergi ke lubang di antara pohon di sekolahku dan menunjukkan bahwa 'Dunia itu Luas'.

Invi adalah satu-satunya temanku. Sampai aku mengerti tidak hanya dia yang 'tidak terlihat'.

“Waras! Kau mendapat surat lagi.” Ibu berteriak dari ruang tamu. Ketika aku menghampirinya, dia sedang berkacak pinggang, sebuah kantung kecil dia julurkan padaku, semua isinya adalah amplop coklat yang besar, terlipat dan kusut.

“Siapa yang selalu mengirim surat padamu, Waras?” tanya ibu.

Aku menggeleng, sambil tersenyum. “Mungkin penggemarku, ibu seperti tidak tahu saja kalau aku adalah anak populer.”

Ibu memutar bola mata, tapi sesaat kemudian dia ikut tersenyum, menepuk kepalaku dengan lembut sebelum merubah ekspresi wajahnya. Keras dan dingin.

“Tetaplah jadi anak baik, Waras.” Kemudian dia melenggang pergi.

Ibu selalu berkata begitu jika aku sudah melakukan beberapa hal yang dia anggap baik. Dan Invi akan menepuk pundakku, seperti yang dia lakukan sekarang. Itu artinya aku berhasil jadi anak baik lagi.

“Buka suratnya.” Bisik Invi.

“Apa kau pikir ini adalah orang yang sama?”

Invi mendesah. “Bukan, tapi Waras, harus berapa kali kubilang kalau mereka buka orang?”

“Lalu mereka apa?”

Walaupun aku tidak pernah melihat wajah Invi, tapi aku selalu tahu saat-saat dimana dia tersenyum miring, seperti saat ini. “Yang 'tidak terlihat'”

Aku memutar bola mata. “Terserah apa katamu.”

Kami pergi ke kamarku untuk membuka tumpukan surat yang aku dapat hari ini. Biasanya jika Invi menyentuh kulitku, aku akan merasakan rasa dingin aneh yang menjalar sampai ke pusat jantungku, seperti ada sebongkah es yang sengaja disentuhkan ke sana, dan rasanya sangat tidak nyaman. Invi tidak pernah menyadari—atau bahkan tidak peduli, jika dalam beberapa detik tubuhku menegang setiap kali dia menyentuh kulitku, dan aku juga tidak pernah protes, atau mengeluh. Ibu benci dengan anak yang suka mengeluh, begitupun Invi. Namun kali ini aku tidak bisa menahannya, Invi menyentuh kulitku lebih dari satu menit, dan rasanya aku seperti akan mati ketika semakin lama rasa dingin itu semakin menjadi. Jadi aku berteriak, dan perbuatanku itu sangat salah.

“APA YANG KAU LAKUKAN?” Invi berteriak di telingaku, suaranya sangat mengerikan. Ini adalah pertama kalinya dia berteriak padaku dengan cara seperti ini. Marah dan kesal. Aku tidak pernah membuat Invi marah. Dan jika Invi marah, ibu juga pasti akan marah, dan jika mereka berdua marah padaku, otomatis ayah juga akan marah, dan jika mereka semua marah denganku, itu artinya aku bukanlah anak baik. Itu artinya, aku melanggar satu-satunya peraturan yang Invi buat: Jangan gagal pada kali ketiga kau berbuat baik selama setahun penuh. Seketika, kepanikan merayapi tubuhku.

Sambil bersusah payah, aku menggapai-gapai ke sekelilingku, berharap dapat menemukan kembali rasa dingin akibat sentuhan Invi. Namun nihil, dia tidak ada, dia tidak ada di sekitarku, bahkan ketika suara derap langkah kaki ibu mendekat, aku tetap tidak bisa menemukannya.

Ibu muncul di ambang pintu tepat ketika aku bangkit berdiri, pakaianku basah oleh keringat dan aku merasa sakit, seakan-akan dunia sedang berputar dan seseorang menumpahkan seember penuh cairan merah di sekitarku. Pandanganku terus saja memudar lalu kembali fokus dalam hitungan detik. Dan rasanya sengat mengerikan. Ketika aku menyipitkan mata, aku melihat wajah ibu tertekuk ke dalam, yang hanya bisa diartikan satu hal: Aku sudah membuatnya sangat marah. Namun dalam beberapa detik kemudian, matanya membelalak dan dia melangkah mundur, menggapai-gapai pintu ketika aku merasa seperti es krim yang mencair. Kemudian ibu berlari pergi, dan aku tidak sadarkan diri.

Sejak saat itu, Invi menghilang hampir dua minggu dan aku merasa sangat sakit. Aku hampir tidak berpindah posisi semenjak aku jatuh pingsan. Setiap dua hari sekali, ayah akan datang ke kamarku dengan pandangan heran, seolah aku adalah salah satu daerah yang belum dia beri nama di planet Imub, kemudian menyuntikku dengan cairan biru sebelum pergi. Aku tahu cairan biru artinya suplai makanan, dan beberapa vitamin obat karena aku pernah mendapatkannya ketika aku jatuh sakit dulu.

Tepat ketika hari ke 13 aku berbaring dalam posisi itu, Invi berbisik di telingaku bahwa semuanya baik-baik saja, dan kemudian aku bisa kembali normal. Lalu kami membuka surat yang 13 hari lalu tidak sempat aku buka.

“Jadi, menurutmu bagaimana?” tanya Invi, sebuah amplop berwarna coklat terang melayang di depanku dan aku tahu dia berada di sana, tepat di hadapanku. Rasanya sangat menyenangkan mengetahui Invi sudah berada di sekitarku lagi sampai aku tidak menjawab pertanyaannya.

Aku membuka amplop pertama sambil tersenyum lebar, amplop itu berisi beberapa lembar foto dengan sebuah angka tercetak di sana. Semuanya tampak buram dan aku tidak mengerti apa maksudnya, jadi aku membuangnya dan mengambil amplop yang baru.

“Apa maksudnya ini?” tanya Invi setelah aku membuang amplop kelima. Semuanya sama, foto buram yang tidak aku mengerti.

“Kau mendapat foto?” tanyaku.

“Mmm hmm,” Invi merobek sebuah amplop lagi. “Dan semuanya tidak jelas.”

“Kalau begitu kita sama.”

“Itu artinya tidak penting, ayo pergi, aku ingin bermain.”

Dan kami menghabiskan waktu dengan duduk di halaman belakang sampai matahari terbenam.

***
Dua minggu atau lebih kemudian, aku merasa ada yang ganjil. Ibu tidak pernah meyapaku lagi, atau memerintahku melakukan sebuah hal baik, atau berkata padaku untuk tetap menjadi anak baik. Ibu selalu pergi bersembunyi entah di mana saat aku turun dari tangga, dan tidak pernah menatapku tepat di mata. Bukan seperti sikap ibu yang biasanya. Dan saat aku bertanya pada Invi, dia hanya menjawab, “Bukan masalah besar, selama kau tetap baik, Waras, kau akan baik-baik saja.” Mungkin biasanya aku tidak akan mempertanyakan setiap perkataan Invi, karena setiap yang dia katakan pasti benar, dan aku pasti mengerti.

Namun sekarang aku tidak mengerti, dan aku ingin bertanya.

“Kenapa aku harus jadi anak baik, Invi?” kemudian Invi pasti menjawab dengan kalimat yang sama saat pertama kali dia menjadi temanku.

“Karena aku hanya ingin berteman dengan anak baik. Bukankah kau ingin menjadi temanku, Waras?” lalu aku akan menjawab, “Tentu saja.” Hanya saja, kali ini, itu tidak akan sesederhana saat pertama kali kami menjadi teman.

“Tapi, kenapa kau hanya berteman dengan anak baik, Invi?”

Invi tidak segera menjawab, seperti dia sedang berfikir apa jawaban yang tepat untuk pertanyaaan itu.
“Karena anak baik itu baik, dan mereka pantas diberi hadiah. Bukankah aku sudah memberimu dua hadiah? Itu karena kau anak baik.”

Aku menggaruk belakang leherku saat aku bertanya lagi. “Tapi Invi, kenapa aku akan baik-baik saja jika tetap menjadi anak baik?”

Dan kali ini, Invi tidak menjawab.

***
Entah sejak kapan, aku selalu merasa pusing dan aneh pada kepala sebelah kananku. Seperti saat aku berkata terlalu keras atau berjalan terlalu berisik, kepala sebelah kananku akan berdenyut hebat dan aku jatuh.
Invi tidak pernah mengatakan apa-apa padaku ketika aku bercerita padanya. Dan aku mulai berfikir mungkin saja itu sebuah hukuman. Jadi aku mulai bersikap lebih baik lagi.

Tapi ketika aku merasa aku telah mati rasa pada bagian kepala sebelah kanan, aku tidak bisa lagi menganggap itu hukuman. Invi pernah berkata padaku bahwa tidak ada hukuman baik anak baik, dan itu menjelaskan satu hal: Aku sakit.

Jadi, aku memutuskan untuk memberitahu ayah. Ayah selalu berada di bagian paling belakang di rumah, di balik pintu kayu besar yang berdebu dan kotor. Ketika aku berjalan semakin jauh ke belakang, bagian kepala sebelah kananku berdenyut hebat. Seperti ada ratusan tangan memijatku dengan tenaga super.

Ayah muncul tepat sebelum aku mengetuk pintu, dilihat dari ekspresi wajahnya, aku tahu ayah terkejut.

“Aku … sakit … kepala …. kanan …. sebelah ….” Aku mengernyit, kemudian mencoba mengucapkan kalimat lagi, tapi tidak ada yang keluar. Saat aku mendongak untuk meminta pertolongan pada ayah, ayah melangkah mundur, menggapai-gapai sesuatu di meja kerjanya dan menodongkan penggaris besar padaku. Karena tidak mengerti, aku melangkah maju. Dan dunia berputar. Darah memercik di sekitarku. Aku mendengar suara teriakan kesakitan, lolongan kemarahan dan sesuatu yang berdeguk. Aku pikir mungkin aku sedang terbatuk atau bagaimana, atau mungkin sakitku memang parah sampai aku berhalusinasi seperti ini.

Namun kemudian segalanya menjadi gelap.

Dan saat semuanya kembali normal, aku melihat darah di mana-mana, sebuah tangan yang menggenggam penggaris besar menggantung di atas meja, sebuah tubuh tanpa kepala tergeletak tepat beberapa senti di depanku, dan aku menggenggam sesuatu yang kenyal. Otak.

Lalu aku tersadar. Itu otak ayahku. Dan tubuh yang berceceran ini juga milik ayahku.

Aku tahu seharusnya aku merasa jijik, atau takut, atau merasa bersalah, atau perasaan-perasaan yang sejenis dengan itu. Tapi nyatanya tidak. Aku hanya berdiri di sana memandang tubuh ayahku sampai ibu muncul di ambang pintu, berteriak sangat keras sampai membuat telingaku sakit.

***
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Mungkin pingsan atau mati, yang pasti aku sudah kembali ke kamar ketika aku mengedip kali berikutnya. Invi sedang membuat menara dari kartu-kartu dan kamar sangat gelap. Terlalu gelap untuk mata kananku dan terlalu terang untuk mata kiriku.

“Invi, apa yang kau lakukan pada lampunya?”

“Tidak ada, kau hanya mulai Teralihkan.”

Aku mengernyit. Merasa bingung dengan kalimat yang
Invi katakan, tapi kemudian aku mengerti. “Oh benar, aku sedang sakit. Kepala bagian sebelah kananku tidak mau berhenti berdenyut, bagaimana menurutmu, Invi?”

“Mungkin kau akan mati, mungkin sebentar lagi akan dibuang ke luar angkasa, mungkin juga hancur berkeping-keping,” aku mendengar Invi mendengus dan berdecak saat menara dari kartunya roboh. “Yang pastinya, tugasku sudah hampir selesai. Mau ikut untuk melihat sesuatu yang baru?”

Aku mengangguk.

Sosok Invi muncul di hadapanku.


message 14: by sky (last edited Oct 07, 2014 06:42AM) (new)

sky (windrunners) | 81 comments Dia berkepala kucing, bertelinga kelinci dan bergigi harimau. Aku baru pertama kali melihat wajah Invi, atau Invi dengan seluruh tubuhnya, dan seharusnya aku merasa kagum, atau berteriak kegirangan, atau sesuatu yang sejenis dengan itu. Tapi aku hanya terdiam, dan mengikuti Invi berdiri. Aku merasa sangat kosong, seperti sesuatu yang penting dalam jiwaku ditarik paksa keluar, namun sayangnya aku bahkan tak mengerti apa yang ditarik keluar itu.

Sedetik yang lalu aku masih berada di dalam kamarku yang terlalu-gelap-terlalu-terang, detik berikutnya aku melayang di luar angkasa. Invi berdiri tepat di sebelahku. Di bawahku adalah planet tempat aku tinggal, planet Imub, yang hanya berbentuk setengah lingkaran, sebuah kristal berbentuk persegi besar menutupi bagian bawahnya, memantulkan bayangan dari planet lain, yang persis sama dengan planet Imub, hanya saja tidak setengah lingkaran.

“Itu planet Bumi.” Jelas Invi, seolah dia tahu apa yang akan aku pikirkan selanjutnya.

“Itu adalah bentuk asli planet Imub, kau mengerti Waras? Planet kita hanyalah bayangan dari sebuah planet besar yang besar dan indah.” Invi mengerutkan hidungnya, seolah jijik pada apa yang dia katakan.

“Aku tidak suka dengan para penghuni Bumi. Siapapun mereka, apapun mereka, bagaimanapun bentuk mereka, mereka sudah membuang kami ke sini, ke Imub.”

Aku mengernyit, mendadak pikiranku kosong.
“Apa maksudmu?”

Invi tersenyum sinis. “Kau pernah bertanya padaku kenapa anak baik akan baik-baik saja, bukan? Aku sudah menjawabnya, kau sudah tahu jawabannya.”
Kerutan di dahiku bertambah dalam. “Sepertinya aku melupakan jawaban itu.”

Invi tertawa sinis. “Tidak, kau sama sekali tidak melupakannya,” Invi terdiam selama 5 detak jantung sebelum melanjutkan. “Jadi, kau dan para manusia lain yang berada di Imub adalah manusia buangan, manusia yang memiliki tingkat keanehan lebih dari siapapun di Bumi, manusia yang tidak bisa mengontrol emosinya, atau mengontrol monster kecil di alam bawah sadarnya yang ganas, atau mengontrol kelebihan energinya. Itulah sebabnya setiap anak di Imub harus bersikap baik, memiliki teman yang 'tidak terlihat' untuk mengontrol mereka, atau kedua orangtua datar yang sangat keras dan dingin.”

“Itulah sebabnya kenapa aku—dan para yang 'tidak terlihat' diciptakan oleh para penghuni Bumi, untuk mengontrol kalian, dan jika kami membuat sebuah kesalahan, kami akan menanggung akibat yang besar.”
Kerutan di dahiku bertambah dalam dan dalam. Mungkin sudah ada jurang di sana.

“Aku. Tidak. Mengerti. Apa. Yang. Kau. Katakan. Invi.”

Invi memutar bola mata. “Tentu saja, monster kecil di alam bawah sadarmu yang ganas itu sudah mulai mengambil alih akal sehatmu, kau sebentar lagi akan menjadi makhluk berjalan yang hidup tapi mati, yang bisa bebas berpergian ke Bumi, dan aku senang mengetahui penghuni Bumi ketakutan. Mereka membuang kalian karena kalian adalah ancaman besar. Sudahlah, aku tidak peduli apa yang terjadi padamu selanjutnya, aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu yang dulu. Kenapa anak baik akan baik-baik saja? Jawabannya sederhana, mereka tetap akan mengontrol pikirannya untuk bersikap baik dengan sebuah imbalan, dan setiap anak kecil suka hadiah. Dan jika mereka tetap mengontrol pikirannya, monster kecil di alam bawah sadar yang ganas itu tidak akan dengan mudah mengambil alih pikiran mereka. Dan mereka tidak akan menjadi manusia yang hidup tapi mati yang bisa menyerang Bumi kapan saja. Dan para anak kecil adalah yang paling berbahaya, setidaknya bagi para penghuni Bumi sialan itu.”

“Mungkin aku ingin bernyanyi sekarang, Invi.” Kataku, merasa pusing dengan apa yang Invi katakan, atau kenyataan tentang Bumi dan Imub. Semuanya terdengar konyol, terdengar sangat tak masuk akal. Atau mungkin memang aku yang tak masuk akal? Aku tidak peduli.

“Oh sudahlah, kau akan berada di dalam rumah sakit jiwa untuk sementara waktu.”

Aku mengerjap. “Tunggu, kenapa aku bisa 'akan' berada dalam rumah sakit jiwa?”

Invi memandangku seakan aku sudah kehilangan separuh otakku. “Tentu saja karena monster kecil itu sekarang menguasai sebagian dari tubuhmu.”

Tiba-tiba aku merasa bingung, dan takut, dan kesal. Pada Invi, pada siapapun makhluk sialan penghuni Bumi. Bahkan tanpa alasan yang jelas, aku marah pada ayah dan ibuku.

“Bagaimana mungkin?”

Invi tersenyum, seolah jawabannya sudah jelas.

“Karena kau melanggar peraturanku, dan kau tahu sendiri sekarang akibatnya.”

Sekilas tiba-tiba aku mengingat ketika Invi mengatakan bahwa jika aku melanggar peraturannya, maka itu artinya aku adalah anak nakal, dan akan berada dalam masalah besar. Mungkin saat itu aku ketakutan atau bagaimana., namun kali ini, aku mulai berfikir betapa semua yang telah terjadi sangat, sangat, konyol.

Saat aku kembali menatap mata Invi, dia sedang tersenyum, seakan-akan bangga padaku. Kemudian dia menjentikkan jari, dan semuanya kembali seperti semula.

Aku berdiri di tengah kamarku lagi, kali ini Invi tidak terlihat di manapun. Setiap dinding-dindingnya bermata dan berdarah, seperti aku sedang berada di tengah kerumunan monster galak. Aku benar-benar tidak ada ide kenapa aku jadi aneh begini. Mungkin karena aku sakit terlalu parah, atau kenyataan bahwa orang-orang bermasker putih yang sekarang menerobos masuk kamarku bersenjata besar, dan semuanya teracung padaku. Memang apa yang bisa aku lakukan saat sedang sakit begini? Oh, benar, mereka mungkin bodoh juga. Apakah aku bisa menakut-nakuti mereka? Ide yang bagus, tapi aku terlalu lelah, jadi aku hanya berdiri di sana sambil memejamkan mata.

Ketika aku membuka mata kali berikutnya, aku berada di sebuah ruangan aneh berjeruji besi yang tidak kalah aneh, Invi berdiri tepat di seberangku, menempelkan foto-foto yang jika aku tidak salah ingat adalah foto yang berada dalam amplop. Saat Invi menoleh padaku, dia tersenyum, atau mungkin menyeringai.

“Lihat, sebenarnya foto-foto ini berguna juga, Waras. Kau bisa terus memandanginya, agar pikiranmu terkontrol, yeah, selama aku pergi,” sekelebat, aku melihat raut sedih di wajah Invi, tapi hilang begitu saja sebelum aku mulai berteriak mengejeknya. Mungkin aku salah lihat.

“Jadi, selamat tinggal, Waras! Jaga pikiranmu, yeah, setidaknya selama yang kau bisa, tapi setelah itu kau harus menyerang Bumi.”

Aku memiringkan kepalaku ke kiri. “Memangnya kau akan ke mana?”

“Menjalani hukuman, tentu saja. Jika aku tidak sebenci ini dengan para penghuni Bumi, aku tidak akan membiarkanmu tidak terkontrol lagi.”

Dan saat aku mengedip, Invi sudah menghilang.

***
Selama beberapa waktu yang sangat lama, aku hanya sibuk memandangi foto-foto itu, sambil berfikir kenapa Invi memerintahku melakukan hal bodoh seperti ini. Ketika aku bosan, aku mulai memandangi koridor panjang di depanku, mengamati wajah-wajah putih yang melayang dan menyeringai sebelum hilang ke balik tembok. Kali berikutnya aku merasa jenuh, aku hanya memandangi tembok putih pucat yang terkadang mengeluarkan lendir hijau dan meneteskan darah.

Tidak ada yang asik. Aku sangat bosan.

Kemudian aku jatuh tertidur. Dan kuharap untuk selamanya.

***
Tapi sepertinya aku kurang beruntung. Setiap kali aku membuka mata dari kegelapan, entah kenapa aku selalu berada di tempat yang berbeda, dengan darah dan tubuh di mana-mana, serta perasaan senang yang sangat tak wajar sebelum akhirnya aku merasa tertidur lagi.

Kali berikutnya aku tersadar, aku sedang berada di depan sebuah bangunan besar. Cahaya matahari memantul dari setiap kaca jendelanya, membuat bangunan itu terlihat seperti bohlam lampu. Dan di atas pintunya, sebuah tulisan besar tertulis: Gedung Pemerintahan XII Bagian Pelestarian Bumi. Saat aku berbalik untuk melihat keributan apa yang berada di belakangku, aku mendapati makhluk-makhluk yang terlihat mirip seperti Invi bersorak. Jauh di belakangnya, anak-anak kecil menyeringai. Seluruh tubuh mereka berlumuran darah.

Setelah itu, aku lebih jarang tersadar. Seakan-akan ada seseorang yang memerintahku tetap menjadi anak baik dan tidur saja. Namun itu sama sekali tak masalah sekarang. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi, sesuatu yang disebut 'perasaan' bahkan terdengar asing di telingaku.

Sampai pada suatu hari, aku tersadar dengan seluruh perasaan itu, aku bahkan mengingat tanggal berapa dan tahun berapa saat itu, kenapa aku bisa ada di sana dengan seluruh perasaan senang, memandangi kota besar yang hangus terbakar serta kekacauan di mana-mana.

Kemudian aku menyadari dengan cepat.

Tak jauh dari tempatku berada, Invi tersenyum padaku, dan dia berkata, “Kita berhasil, Kawan. Kau berhasil. Penghuni Bumi sialan itu sudah tidak bersisa.”

~~


message 15: by [deleted user] (last edited Oct 09, 2014 08:01AM) (new)

AUTHOR'S SINS
Seorang wanita berbaju kumal berjalan menyusuri jalanan Paris di tengah malam, membawa secarik kertas di tangannya. Dia berhenti di depan sungai Seine, menatapi aliran airnya dengan mata berkaca-kaca. Dia mulai bernyanyi dengan suara pelan:

And now I'm all alone again
Nowhere to turn, no one to go to
Without a home, without a friend
Without a face to say hello to
And now the night is near
Now I can make believe he's here

Sometimes I walk alone at night
When everybody else is sleeping
I think of him and then I'm happy
With the company I'm keeping
The city goes to bed
And I can live inside my head

On my own
Pretending he's beside me
All alone
I walk with him till morning
Without him
I feel his arms around me
And when I lose my way I close my eyes
And he has found me

In the rain the pavement shines like silver
All the lights are misty in the river
In the darkness, the trees are full of starlight
And all I see is him and me forever and forever

And I know it's only in my mind
That I'm talking to myself and not to him
And although I know that he is blind
Still I say, there's a way for us

I love him
But when the night is over
He is gone
The river's just a river
Without him
The world around me changes
The trees are bare and everywhere
The streets are full of strangers

I love him
But every day I'm learning
Oh, my life
I've only been pretending
Without me
His world would go on turning
A world that's full of happiness
That I have never known!
I love him, I love him, I love him, but only of my own.


Dia berhenti bernyanyi, dan sambil terisak-isak, merobek kertas yang dia bawa dan membuang potongannya ke Seine.

Terdengar suara tepuk tangan. Wanita itu menoleh dan mendapati seorang pria berjas hitam yang memakai topi tinggi di kepalanya bertepuk tangan kepadanya. Si pria berkata:

"Bravo, Mademoiselle Thénardier! Victor Hugo pasti membutuhkan waktu sangat lama untuk membentuk karaktermu!"

Si wanita menatap si pria kebingungan. Si pria hanya tersenyum.

"Maaf, aku tidak punya banyak waktu. Just saying, one of you will die at the end of the book." Si pria bertopi tinggi pun menghilang diikuti oleh cahaya menyilaukan, meninggalkan si wanita kebingungan.

Anda memasuki Ruang Antar Dimensi. Sesaat lagi, penyamaran anda akan luntur.

Dia tahu jalannya di kehampaan yang menunggu diantara semesta. Kalau tidak, namanya bukan Fic Lord, Dia Yang Melintasi Semesta. Dia terbang bebas di kehampaan yang jelas-jelas merupakan plagiat hyperspace dari Star Wars itu tanpa halangan, siap menyerbu dimensi mana saja dengan savyness-nya yang mencakup hampir semua genre fiksi. Penulisnya memang terlalu sering memanjakannya, sampai-sampai dia tinggal selangkah lagi untuk menjadi Gary Stu.

Tidak lama setelah dia memasuki Ruang Antar Dimensi, setelan jasnya berubah menjadi setelan pilot futuristik. Topi tingginya pun berubah menjadi helm yang penuh dengan kabel dan antena, sebuah TropeBot, alat yang memungkinkannya untuk berpindah dimensi dan mengaktifkan tropes dari segala jenis.

TropeBotnya berdering, dan sebuah pesan muncul di layarnya:

Tuan, Mr. Potter menunggu di jalur enam.

"Sambungkan dia ke jalur pribadiku." Jawab Fic. "Oh, iya, jangan lupa untuk mengaktifkan Translation Convention, Inggris-Indonesia, supaya pembaca bisa mengerti pembicaraan kita."

Sialan, Fic, kau tahu seberapa mahalnya biaya perbaikan dinding ke-4?

Sebuah suara menyapanya. "Halo, Fic."

"Hei, lihat siapa disini! Harry Potter yang legendaris! Selamat untuk keberhasilanmu melawan Voldemort!"

"Ya ampun, Fic, pertempuran itu sudah lewat ... berapa tahun yang lalu? Dua? Empat? Ah, aku sendiri sudah lupa."

"Sembilan belas tahun in-universe, tujuh tahun dunia nyata."

"Fic, ap-" Ucapan Harry menghilang menjadi suara radio rusak.

"Potter? Halo? Apa yang-" Ucapan Fic terpotong, lalu yang tidak terduga terjadi.

Dia terlempar keluar dari Ruang Antar Dimensi dan mendarat dengan keras di sebuah padang pasir bernuansa kelabu.

"Oh, what the fucking shit-" Fic melihat Bumi tepat di langit di atasnya, dan menyadari bahwa dirinya tengah berada di Bulan. Dia mencoba tetap tenang dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi. "TropeBot, tampilkan Tropes yang aktif."

Sedetik kemudian, sebuah daftar muncul di layarnya:

-Diabolus Ex Machina
-Darkest Hour
-Only The Author Can Save Them Now
-Oh Crap
-In SPACE!
-Arson, Murder, and Jaywalking
Loading more tropes ....


"Oh, sangat menyenangkan!" Gerutu Fic. Tropes baru muncul di layarnya:

-Sarcasm Mode
-Translation Convention, French-Indonesia


"Hm ... jadi, siapapun yang membawaku kemari, dia berbahasa Prancis dan cukup Genre Savy untuk memakai Translation Convention." Dia berhenti untuk berpikir sejenak. "Tapi ... siapa?"

Menjawab pertanyaannya, sebuah suara terdengar bernyanyi:

Alone I wait in the shadows
I count the hours till I can sleep
I dreamed a dream My Creator stood by
It made Him weep to know I die.


Fic menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki, berumur kira-kira delapan tahun, menundukkan kepalanya sehingga wajahnya ditutupi bayangan.

"Oke, Fic, tetap tenang. Kau cukup Savy untuk ini. Apa yang dilakukan seorang karakter yang Genre Savy pada cerita Horor?" Dia berpikir sebentar, dan kemudian dia menyadari sesuatu. "Oh, tidak, aku buta terhadap genre Horor! Bodoh sekali!" Dia memandangi anak itu dengan takut. "Eh, kurasa aku harus menghampirinya. Itu yang harus dilakukan, ya kan? Penulis? Penulis?" Dia berteriak memanggil Penciptanya dengan sia-sia.

"Penulis! Jangan cuma mendeskripsikan ceritanya dan bantu aku!"

Oh, kau berbicara denganku? Aku bukan Penulis. Dia sedang ujian di sekolah-Nya. Aku cuma Narator sementara.

"Mampus!" Dia berseru putus asa. "Apakah kau tidak bisa, ehm, mendeskripsikan sebuah Deus Ex Machina atau semacamnya?"

Maaf, aku tidak dibayar untuk itu. Kau harus menemukan jalan keluar sendiri, Gary Stu manja. Jangan berbicara kepadaku lagi, Fic.

"Narator sialan!" Dia berteriak kepadaku sia-sia. Aku tidak akan meladeninya lagi.

Fic pun mendekati si anak, selangkah demi selangkah, takut melakukan apapun yang akan mengagetkan si anak. Akhirnya dia berhasil sampai cukup dekat dengan anak itu.

"Halo," Dia mencicit pelan. Fic menelan ludah dan berkata dengan lebih keras: "Halo. Namaku Fic. Siapa namamu? Apa yang kau lakukan disini?"

Si anak tidak langsung menjawab. Setelah kesepian yang mencekam selama beberapa saat, akhirnya dia menjawab:

"Aku ciptaan Penulis, sama sepertimu." Lalu, perlahan-lahan, dia mengangkat kepalanya, menunjukkan matanya yang kuning terang dan mulutnya yang penuh darah. "Tapi, Dia menelantarkanku."

Fic terkejut dan ketakutan melihat wajah si anak, sampai-sampai dia buru-buru lari menjauhinya. "Oh, Penulis, Penulis yang baik, yang agung, sedikit Deus Ex Machina akan berguna sekarang." Dia memohon takut. Tidak ada jawaban.

Si anak berjalan sempoyongan ke arahnya sambil berseru marah: "MENELANTARKANKU, M'SIEUR! MENELANTARKANKU!"

"TIDAK! TIDAK! TIDAAAAK! JANGAN BERANI-BERANI MENDEKATIKU!" Teriak Fic, yang langsung mempercepat larinya. Anehnya, si anak selalu berada tidak jauh di belakangnya.

Tanpa disadarinya, Fic digiring oleh anak itu ke sebuah kota ditengah-tengah kawah Bulan. Kota itu dikelilingi oleh semacam dinding, yang kemungkinan besar dulunya adalah kubah yang menjaga oksigen tetap berada di dalam kota. Sekarang, kubah itu sudah runtuh, hanya menyisakan reruntuhan kota yang hangus dan gersang.

Fic sama sekali tidak memikirkan apa-apa begitu memasuki kota tersebut. Yang dia pikirkan hanyalah cara untuk lari dari kejaran anak menyeramkan itu. Berkali-kali dia mencoba membuka pintu dimensi menggunakan TropeBot, tapi sia-sia. Ada sesuatu--atau seseorang--yang membuat alat itu tidak bisa bekerja.

Akhirnya Fic sampai di sebuah taman berbentuk kotak, dan anak laki-laki yang sedari tadi mengejarnya tersenyum. Dengan suara paraunya, dia berseru:
"Datanglah, mereka yang ditelantarkan! Datanglah kepadaku! Datanglah, dan kalian akan kembali merasakan kehidupan!"

Tiba-tiba, kerumunan orang-orang dari segala umur, rupa, dan spesies keluar entah darimana; mulai dari seorang gadis Prancis berumur tiga belas tahun yang memegang Shakujo sampai seekor naga hitam besar yang menghancurkan apapun yang dia sentuh. Mereka semua mengepung Fic dan menyudutkannya ke sebuah papan iklan yang bertuliskan:

Happy new year 2215! Welcome to Dome Ravet, an utopia that never sleeps!

Seorang anak laki-laki berumur lima belas tahun yang tampak persis seperti anak delapan tahun yang mengejar Fic tadi melangkah maju kedepan kerumunan yang marah.

"Selamat datang, Fic Lord." Dia berkata dengan suara yang bergema, tidak kedengaran seperti manusia. "Namaku Cain, dan yang tadi mengejarmu ini adikku, Abel." Dia berhenti untuk menepuk kepala Abel seperti yang biasa dilakukan seorang kakak, dan Abel tersenyum manis kepadanya. "Ini adalah orang-orangku, mereka yang bernasib sama denganku. Mereka ditelantarkan, tidak sepertimu," dia menunjuk Fic, "Yang mempunyai kekuatan seperti seorang dewa. Penulis menelantarkan kami, melupakan kami, tidak melanjutkan kisah kami, dan membiarkan kami membusuk tanpa pernah melihat akhir cerita kami."

"A-apa yang ka-kalian inginkan dariku!?" Fic bertanya gugup.

"Ah, sepertinya kau salah menginterpretasikan kami. Mereka semua orang-orang baik, hanya saja Penulis bajingan itu menelantarkan mereka." Dia menoleh kearah kerumunan. "Dengarkan saja keluhan mereka satu-persatu."

"Aku adalah karakter pertama yang dibuat Penulis!" Seru seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang sepertinya berdarah Meksiko. "Dalam kisahku, aku berusaha mencari tahu apa yang terjadi kepada ayahku, presiden Indonesia dan CEO sebuah perusahaan raksasa, dan aku tanpa sengaja menyebabkan Perang Dunia ke-3. Tapi Penulis meninggalkanku! Aku tidak pernah tahu nasib ayahku! Bahkan aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri! Ditinggalkan sendiri, yang paling pertama membusuk!"

"Kami juga." Ucap sepasang anak berumur dua belas tahun, yang satu seorang manusia laki-laki berkulit gelap dan yang satu lagi gadis dengan sayap berwarna cokelat terang di punggungnya. "Kami adalah kisah kedua yang dibuat Penulis."

"Desaku dihancurkan oleh pasukan Iblis Hitam, dan aku bersama tiga orang temanku harus mencari rumah baru. Di tengah jalan, kami bertemu Liliana-" Dia memandang si gadis malaikat, "Yang berjanji akan membawa kami ke rumahnya, Kastil Valkyrie. Di tengah jalan, aku mulai merasakan cinta kepada Liliana."

"Tapi, ibuku, ratu para Valkyrie, tidak mau anaknya menikah dengan manusia rendahan." Sambung Liliana. "Penulis, dalam kemalasan-Nya, tidak melihat potensi dalam kisah kami, dan membuang kami." Dia terisak sedih.

"Kami adalah proyek Novel-Nya yang sekarang!" Seru seorang anak laki-laki berumur tiga belas tahun yang memegang Shakujo dan membawa seekor gagak bermata ungu bersamanya. "Tapi, Dia mengulur-ulur waktu hingga bulan November nanti dengan alasan agar Dia bisa ikut serta dalam NaNoWriMo!"

"Dia bahkan belum memikirkan alasan yang logis kenapa aku bisa dimasukkan kedalam cerita!" Seru si gadis Prancis. "Penulis hanya membuat Plot Twist untukku tanpa memikirkan alasan yang cukup kenapa Twist itu bisa tidak disadari karakter lain!"

"Kau ingin tahu apa yang kami mau, Fic?" Cain berseru kepada Fic. "KAMI INGIN MENGAMBIL KEHIDUPANMU!"


message 16: by [deleted user] (last edited Oct 09, 2014 08:18PM) (new)

"Ya, Fic, hidupmu akan sangat berguna untuk kami." Lanjut Cain. "Seluruh kekuatan Gary Stu-mu, kekuatan yang tidak pernah Penulis berikan kepada kami, akan membuat kami cukup kuat untuk bisa bertahan beberapa dekade lagi. Yang perlu kami lakukan hanyalah memakanmu, dan seluruh perhatian dan cinta yang diberikan Penulis kepadamu akan berpindah kepada kami." Dia menatap kerumunan sambil tersenyum. "Bon appétit, semuanya!"

Kekacauan yang terjadi terlalu kejam untuk dideskripsikan. Darah muncrat kesana-sini, bagian tubuh terkoyak, dan tulang-tulang dilempar kemana-mana. Ditengah kekacauan, Cain menarik tangan Abel dan berbisik kepadanya:

"Nah, Abel, jadilah adik yang baik dan ambilkan aku TropeBot miliknya."

Abel mengangguk, dan dia segera masuk kedalam pusat kericuhan. Satu menit kemudian, dia kembali sambil membawa TropeBot milik Fic dan memberikannya kepada Cain. Cain mengambil helm itu dari Abel dan berkata: "Bagus, Abel! Pertahankan, dan mungkin Penulis akan menuliskan cerita yang bagus untuk kita!"

Cain menatap TropeBot itu dengan tatapan keji. "Bagaimana rasanya, Fic? Sekarang kau tahu rasanya dihancurkan dan dilupakan, tidak pernah terdengar lagi. Aku mungkin baru mengalaminya selama tiga hari, tapi beberapa orang disini sudah mengalaminya selama tiga tahun! Bayangkan itu! Selamat tinggal, Fic Lord. Di dunia literatur, kau tidak pernah ada."

TAMA-

"JANGAN COBA-COBA MENAMATKAN CERITANYA, NARATOR SIALAN!" Seru Cain penuh amarah. "Aku belum selesai." Dia mulai mengutak-atik TropeBot. "Belum."

"Kau! Yang membaca cerita ini! Ya, kau! Aku tahu kau juga seorang Penulis! Dan aku tahu, kau juga pernah membuang karakter buatanmu tanpa rasa bersalah sama sekali! Camkan kata-kataku, Penulis-" Dia selesai menyetel TropeBot, dan helm itu mulai mengeluarkan cahaya merah. "-Kalau kau tidak segera menuliskan sesuatu tentang karakter buanganmu, hal yang buruk akan menimpamu! Dinding ke-4 tidak akan melindungimu! KUULANGI, DINDING KE-4 TIDAK AKAN MELINDUNGIMU! Tidak lagi! Tidak sekarang-"

TropeBot mengeluarkan suara BIP dan sebuah pesan suara terdengar:

Anda telah memasukkan dimensi tujuan, [0001]RealLife?v=xcvas kedalam daftar tujuan favorit. Silahkan tekan tombol enter untuk mengkonfirmasi.

"-TIDAK SELAMANYA."


message 17: by Kenni (last edited Oct 10, 2014 09:05AM) (new)

Kenni Alamsyah (kgandiraa) | 20 comments Gelap
Kenni Gandira Alamsyah

Lelah selama satu hari penuh, terbaringlah sudah. Akhirnya, aku bisa berada di sini. Rumahku, kamarku, ranjangku. Tanpa ganti baju, bahkan buka sepatu. Di antara ketidak-beradaannya cahaya, kedua mataku bisa teristirahatkan juga, setelah melek hampir dua puluh dua jam. Lalu sunyi menguasai ruanganku. Setengah sadar, seolah ada yang menuntunku. Sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Menggiringku. Entah kemana.

------------------

Sinar matahari menembus meja makan kami. Dan disebrang sana, ada adikku. Tersenyum padaku, sambil memegang sendok dan pisau makan. Di kerah lehernya, terikat serbet.

"Ayo kak, dimakan nasi gorengnya!", ujarnya.

Aku mengangguk. Ku raih sendok dan garpu ditengah meja. Dan ternyata, adikku mendahuluiku sarapan. Seketika kulihat adikku makan dengan lahap.

Sangat lahap. Bahkan terlalu lahap! Seperti sudah lama tak menemukan makanan! Kuteruskan perjalanan tangan kananku menyebrangi meja, untuk meraih sendok. Belum sampai aku ke tempat sendok disimpan, tanganku terhenti di tengah meja.

Sesuatu menyembul dari permukaan punggung lenganku. Sebilah pisau. Tanganku tertusuk pisau! AAAAAHHHHH!!! Entah darimana ia berasal! Aku meringis sambil merem-melek, lalu aku mendengar sayup-sayup. Suara adikku. Ya adikku. Sesaat setelah aku memejamkan mata karena meringis, kubuka mataku. Wajah adikku. Pucat, tepat di hadapan wajahku. Bibirnya bergerak, mencoba mengucap sesuatu.

"Kak. Bangun"

----------

Mimpi? Ternyata hanya mimpi. Syukurlah, tadi itu seram sekali! Nampaknya, aku butuh segelas kopi! Mungkin ini pengaruh lelahku yang amat dalam. Aku mencoba beranjak dari ranjang. Berat sekali. Terlalu berat. Ada yang aneh...

Tubuhku? Astaga.... astaga. Ah apalagi ini?! Tubuhku tak bisa bergerak! Ada apa ini sebenarnya?!

"Kak, bangun! Bangun kak!"

Suara adikku lagi! Di mana dia?! Apa yang terjadi denganku?! Ah... ada yang menginjak tubuhku! Ada sepasang kaki dingin yang menginjak tubuhku! Sial, kenapa aku mendadak tak bisa berteriak?! Tolong! Siapapun! Ibu, ayah! Tolong!! TOLONG!!!!"

-----------
HAH.... HAH...

Tanpa mempertanyakan mimpi atau bukan, aku langsung keluar kamar. Linglung ditambah gelapnya rumah, membuatku menabrak meja beberapa kali di sepanjang lorong rumah. Kuraba-raba dinding mencari sakelar lampu. Tapi tak kutemukan juga. Aneh, seharusnya sedari tadi sudah kutemukan. Kenapa di saat seperti ini, mencari sakelar lampu pun sulit! Kuraba dinding terus, terus, seingatku, lorong rumahku tak sepanjang ini. Ah! Kaget aku! Ternyata aku sudah sampai di persimpangan lorong. Tapi, tanganku.. aku sedang memegang sesuatu. Seharusnya aku sudah jatuh tersungkur memeluk udara. Kuraba-raba benda itu. Ini... ini kan tubuh manusia? Bernafas pula. Ayahkah?

"Ayah? Ini ayah?"

Tidak ada jawaban. Dadanya masih bergerak, namun terasa nafasnya tersengal-sengal. Aku menebak-nebak, jika bukan ayah, lalu siapa dia? Lelaki di rumah ini, hanya aku dan ayah. Lalu terlintaslah sebuah nama di pikiranku.

"Erik? Kaukah itu?"

Erik? Erik kekasih adikku? Mau apa dia malam-malam begini di rumahku? Sialan! Aku yakin ini Erik! Dia tak mau menjawab, karena ia tak mau ketahuan menginap di rumahku! Apa jangan-jangan, dia tidur dengan adikku?! Brengsek! Ini sudah pasti Erik! Tanpa banyak kata, kuraih kerah lehernya, eh.....

Ada yang ganjil.
Tubuh apa ini? Aku.... aku tak menemukan leher! Tubuh macam apa ini? Tapi dia hidup! Bernafas! A... aku tak bisa berbuat apa-apa, rasanya ingin kabur. Kedua kakiku tertanam di lantai, entah kenapa! Lalu, ada sesuatu yang mencengkram lenganku. Lengan juga. Lengan yang sungguh dingin! Apakah ini masih mimpi juga? Mulutku mendadak terkunci. Jangankan berteriak, berkata pun aku tak mampu. Siapapun... Siapapun, tolong bangunkan aku!

Lalu ada sayup-sayup lagi. Sesuatu yang terulang-ulang. Awalnya bersuara rendah, tapi lama kelamaan mengeras.

"BANGUN REILAN!!! "

----------------

Nafasku tersengal. Kulihat atap putih kamarku. Mimpikah lagi ini? "Aduh!". Kusadari diriku sudah bisa bicara. Aku sudah bisa bicara! Kugerakkan seluruh anggota tubuhku, dan ternyata bisa! Aku yakin, ini dunia nyata senyata-nyatanya! Tak pernah aku sesadar dan seringan ini sebelumnya! Gila! Sungguh mimpi yang gila!

Tapi, kenapa kamarku menyala? Lalu, ada banyak polisi? Eh, ada Bu Emi, tetanggaku, tengah menangis. Apa yang tetanggaku lakukan di pagi buta begini? Apa yang ia tangisi?

Kualihkan pandanganku ke sudut kamar. Kamarku berantakan bukan main. Jendela kamarku pecah, laci-laci lemari tergeletak di atas lantai. Tak hanya laci-laci, ada pula ibu dan adik yang terbaring di lantai. Lalu ada satu orang lagi, di sebelah ibu, rasanya aku kenal orang itu.

Dia menggunakan baju yang persis sama dengan baju kerjaku tadi pagi, hingga sepatu-sepatunya, persis mirip milikku......

Eh?


message 18: by Yuyun (new)

Yuyun | 3 comments Keamanan kota mulai dipertanyakan, dalam kurun waktu lima bulan lebih kurang dua belas orang dinyatakan hilang, menurut keterangan yang ada, hampir semuanya merupakan wanita muda dengan berusia belasan hingga akhir dua puluhan. Beberapa diantaranya ditemukan tewas dalam keadaan yang mengenaskan. Kabar hilangnya para wanita itu kini menjadi perbincangan berbagai kalangan. Banyak yang menganggap itu sebagai ulah perampok atau pembunuh yang berkeliaran dikota. Untuk menghindari kemungkinan bertambahnya jumlah wanita yang menghilang, pihak kerajaan memberlakukan jam malam.
Sinar mentari yang hangat mengintip diantara sela-sela dedaunan, suasana tenang yang diselingi suara burung murai yang bernyanyi menjadi simponi alam. Udara sejuk yang membawa aroma segar bunga mawar yang bermekaran ditaman berbaur dengan aroma teh yang manis menggoda. Keadaan yang amat berbanding terbalik dengan aura mencengkam yang dibawa oleh kurir tinta dalam sebuah koran yang kini dibiarkan terbuka disamping peralatan minum teh. Seorang gadis muda dengan kulit putih mulus sempurna tanpa cacat menyunggingkan senyum anggun pada bibir merah layaknya mawar tersebut. matanya terpejam menikmati early morning tehnya didampinggi sang pelayan setianya.
“akhir-akhir ini keadaan kota semakin ribut saja, aku bahkan hampir tak menemukan tempat untuk menikmati udara tanpa suara yang membicarakan berita-berita dikoran.” Ujar sang lady. “mereka hanya orang-orang yang takut untuk menjadi korban selanjutnya. Saya pun mencemaskan keadaan anda nona.” Sahut sang butler dengan amat sopan. Sang lady terkikih dengan anggunnya mendengar komentar butlernya yang paling setia ini. “perampokan, penculikan, pembunuhan ada banyak hal yanag terjadi dikota rasanya suasanan masion ini lebih aman, meskipun dikelilingi oleh hutan.” Desah sang lady kembali disesapnya the yang kini tinggal separuh. “saya akan melindungi anda dari semua hal yang membahayakan anda. Lady Marry” “benarkah? Baiklah, akan kupegang kata-katamu Harry.” Sang butler membungkuk hormat “baik, my lady.”

Bulan sabit dilangit berkabut timbul tengelam menyinari sebuah kereta kuda yang melintasi jalanan berbatu menembus hutan, hari sudah terlalu larut untuk sebuah perjalanan namun seakan tak peduli dengan keadaan sekitar sang kusir tetap menemacu kudannya untuk segera melewati daerah ini. Dari sela-sela kain yang menutupi jendela samar-samar terlihat sileut seorang lady yang terkadang mengintip keadaan diluar, namun yang ditemuinya hanyalah pepohonan pinus yang rapat dan suara-suara binatang nokturnal yang membuat tubuhnya merinding. Sudah tak terhitung berapa kali ia menghela nafasnya dalam, sang lady hanya bisa berharap segera sampai dikediamannya, bukan salahnya jika ia begitu was-was dengan begitu banyaknya berita hilangnya gadis-gadis dan mayat-mayat tak dikenal dikoran kau juga tak ingin menjadi yang selanjutnya bukan? Sesekali ia mengutuk para tetua bodoh yang teruss mengajaknya berbicara dipesta hingga ia harus pulang larut malam.
Tak ada yang menadari dibalik kegelapan yang menyelimuti mereka,sepasang mata berkilat mengawasi laju kereta kuda yang melintasi wilayahnya. Cahaya pucat bulan mengenaimatanyamenambah tajam kilat misterius yang seakan menanti, seringai di bibirnya muncul dan perlahan mata itu terpejam menghirup aroma basah air yang dibawa angin, memberitahukannya akan badai yang didepan mata. Bibirnya pun bergerak seakan menghitung mundur dalam 3..2..sa
BRUUK!!! Hiii,,, ringkikan kuda yang terkejut menyambut suara keras seakan pohon tumbang itu, sang kusir mencoba menenangkan kudanya yang terus memberontak sebelum kereta itu terbalik, namun sang kuda seakan tak mau mendengarkan. Lima belas meter di depannya berdiri seorang pria dengan jubah mantel hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, sedangkan rambut kelabunya yang panjang menyamarkan bentuk wajahnya. Cahaya bulan yang redup menampakkan senyum seringai yang tersembunyi dibalik helaian rambutnya yang tertiup angin. . Suara gemuruh dilangit mulai terdengar. Badai semakin dekat, sang kusir akhirnya mampu memenangkan kudanya, diperhatikannya sosok di depannya dengan seksama. Suara sang lady dari dalam kereta memutuskan pengamatanya. “ada seorang pria didepan, mungkin dia membutuhkan tumpangan my lady.” “tawarkan dia tumpangan, badai akan datang tak baik membiarkannya terjebak badai di hutan.” Ujar sang lady.
Sang kurir pun menyanggupi dan mulai memanggil pria misterius tersebut. namun senyum ramahnya segera lenyap diganti wajah pucat pasi, sebilah pedang tipis namun ketajamannya dapat mencapai sang kusir dari jarak sejauh itu membuat sang kusir mulai waspada. Perlahan kilat menyambar bersamaan dengan kecangna angin berhembus mengantarkan sang pria pada mangsanya. Sang kusir mencoba memacu kudanya hendak lari dari sana namun gerakannya kalah cepat dengan tebasan yang dilakukan sang pria. Satu tebasan yang langsung memutuskan lengan berisi sang kurir, cipratan daran mengenai daerah sekitarnya. Sang lady yang mendengar keributan dan jeritan diluar mencoba mengintip. Hal yang dilihatnya membuat sang lady untuk sesaat lupa bagaimana caranya bernafas, sang pria misterius mengayunkan pedangnya kembali, kali ini sang kuda yang menjadi sasarannya, kepalanya langsung terpisah dari badannya tanpa sempat melakukan apa apa. Sang kusir yang menyaksikan tubuh kudanya yang masih berdiri didepannya tanpa kepala mulai bergetar, ia tak dapat menggerakkan tubuhnya seinchi pun. Permohonan memelah sang kusir sama halnya angin ribut yang sedang berhembuh bagi pria itu, tak ada. Kali ini sekelebat cahaya kilat menampakkan wajah berdah sang pria yang tersenyum psiskopat. Sang lady tak mampu menyaksikan hal berikutnya yang akan dimutilasi sosok itu, pikirannya berputar cepat diantara rasa mual yang menyerang perutnya melihat isi perut kuda yang mulai dibongkar. Dengan amat perlahan ia melangkahkan kakinya keluar dan bergegas lari memasuki hutan tak peduli kemana arahnya yang ia tahu hanya kata lari!
Sementara itu dari tempat tadi sang pria mengawasi sang lady yang berlari memasuki hutan, seringainya sedikit memudar, diamatinya sekelilingnya yang penuh darah dengan sang kusir yang bergetar memegangi tangannya yang terpotong, sang pria tertawa keras, “sepertinya aku terlalu kasar. Padahal jika tetap disini dia tak akan terlalu lama menderita.” Kembali tawa gila terdengar dari suara seraknya. “nah pak kusir mari kita selesaikan ini.”


message 19: by Yuyun (new)

Yuyun | 3 comments Derap kakinya menembus dalamnya hutan, semak-semak belukar yang berduri seolah tak berati apa-apa baginya, yang ada di benaknya kini menjauh sejauh-jauhnya dari pambantai itu. Paru-parunya seakan terbakar, otot-ototnya menjerit kelelahan namun masih dipaksa berlari secepatnya, sementara disekelilingnya angin badai menari menampar sekujur tubuhnya yang basah kuyup, gaun bertingkat yang digunakannya kini terasa amat berat. Suara gemuruh dan kilat petir dilangit seperti tertawa untuk kemalangannya. Lelah, sang lady tahu ia telah mencapai batasnya. Tidak! Dia belum aman, selama ia masih dialam terbuka dia belum aman. Pikiran-pikiran tersebut kian lama makin berputar di kepalanya membuatnya berpikir ia akan gila tak lama lagi. Bruk! Kaki jenjangnya tersangkut akar pohon membuatnya kehilangan keseimbangan, namun beruntungnya sang lady merasa menimpa sesuatu yang kokoh namun tak menyakitinya. Sang lady pun membuka matanya dan melihat tempatnya terjatuh yang rupanya adalah tubuh kokoh berbalut jas hujan seorang pria yang menatapnya dengan cemas. “anda tidak apa-apa nona?” suara pria itu terdengar diantara ributnya badai hutan menyadarkan sang lady. “tuan tolong saya! Ada pembunuh! Saya akan dibunuh.. kusir..kuda.. pedang..dia!! saya akan dibunuh…” sang lady berkata dengan kacaunya, terlalu panik untuk bisa menyampaikan semua yang ada di kepalanya. Sang pemuda yang menolongnya tersenyum mencoba menenangkan. “sebaiknya nona ikut saya ke masion majikan saya, anda bisa sakit jika terus berada disini.” Sang lady hanya mengangguk menyetujui perkataan sang pemuda. “saya Harry archambault, butler lady rosemarry black.” “saya lady anaera friendman.” Sahut sang lady dengan gemetar, tubuhnya menggigil kedinginan, sang bulter melepaskan jas hujannya dan memakaikannya pada sang lady. “saya rasa anda terlalu lama berlari, bila anda berkenan izinkan saya.” Kata harry sambil mengulurkan tanggannya dengan tubuh yang sedikit membungkuk sopan bermaksud membopong sang lady yang mulai tak fokus, dan tepat saat tubuhnya berada dalam posisi bridal style kegelapan menyambut dirinya.
Tak jauh dari posisi sang bulter dan lady anaera berada, sosok pria misterius mengawasi korbannya atau mungkin mantan targetnya diantara dedaunan lebat sambil tersenyum menyeringai. Mulutnya menyenandungkan sebuah melody yang tertelan riuhnya badai sekitar. Saat bulter harry dan lady anaera telah jauh menghilang pria tersebut pun meloncat dan mendarat dengn mudahnya diatas tanah berlumpur tersebut. “leave the best for the last.”
Jauh di dalam hutan, terlindung dengan jajaran pepohonan yang lebat berdiri sebuah masion klasik dengan kebun mawar merah layaknya dalam dongeng beauty and the beast, dan berkunjung kesana ditengah badai seperti ini tentu bukan pilihan yang menyenangkan. Namun sang tamu, lady anaera sama sekali tak diberi kesempatan memilih bukan? Butler Harry membaringkan lady Anaera di ranjang dengan segala prosedurnya, seolah sang lady memang tamu kehormatan yang diundang ka masion tersebut. gaun bertingkatnya yang basah telah diganti dengan gaun tidur dari sutra terbaik. Bahkan dalam alam bawah sadarnya sang lady dapat merasakan kenyamanannya. Sang tuan rumah sendiri menikmati waktu malamnya disamping perapian, lagi-lagi dengan secangkir teh. Senyum anggun tak pernah hilang dari wajahnya, seakan-akan gemuruh badai yang memekakkan telinga merupakan melodi mozark yang patut dinikmati. Sang butler kini berada disampingnya.
“bagaimana keadaan tamu kita?” tanya lady Marry, dengan etika khas seorang butler harry menjawab “seperti dirumah sendiri, your highness.” Cekikikan ringan terdengar dari sang lady yang di artikan oleh bulter Harry sebagai kepuasannya. “malam sudah terlalu larut, mungkin tidak ada salahnya mencoba sedikit hidangan penutup.” Dengan badan setengah membungkuk Butler Harry menyeringai. “akan saya siapkan my lady.” “ah, tunggu.” Seruan lady Marry menghentikan langkah bulternya. “mungkin aku juga akan datang untuk menyiapkannya sendiri.” “yes, my lady.”
Rasa dingin yang menusuk tulang membuat tubuhnya menggigil, rasa ia ingin terus menutup matanya namun rasa sakit yang kian menjadi memaksa kedua netranya terbuka dan melihat penyebab tidur indahnya terganggu. Langit-langit yang tinggi dengan cahaya remang dari lilin-lilin disekitarnya menjadi hal asing pertama yang menembus orbnya. Tubuhnya yang dibalut gaun sutra tipis dapat merasakan dinginnya lantai marmer dipunggungnya. Otaknya bekerja cepat mereka ualang kejadian yang menimpanya. Rasa panik menggungcangnya, semakin bertambah saat menyadari alat geraknya terikat kuat. Samar didengarnya suara langkah kaki dan tak lama kemuddian pintu terbuka. Ia tak dapat memastikan siapa yang datang. Dan sang peggunjung menjadi nyata saat rupa butler Harry tertangkap indranya. “selamat malam lady Anaera.” “butler Harry, ada apa ini? Mengapa tanganku diikat?” lady Anaera mengeluarkan protesannya. Sang bulter tersenyum sopan seperti biasanya. “karena kita akan menikmati jamuan malam.” Kini suara lembut seorang wanita yang terdengar, dan hadapannya berdiri seorang lady yang langsung mengingatkannya akan dongeng snow white, amat rupawan.
“my dear Harry, lihat betapa indahnya tamu kita, mata bersinar bagai safir, rambut sehalus sutraemas, bibir cerry yang manis, oh,, lihat kulitnya, putih merona. Bukankah sempurna?” wanita itu, lady Marry mengelus semua bagian yang disebutnya dengan hati-hati sambil tertawa layaknya anak kecil mendapat hadiah. “siapa anda? Apa mau anda?!” bentakan lady Anaera hanya ditanggapi tetawa renyah sang lady dan senyum sang butler. “my lady, anda ini sudah terlalu larut, besok anda punya banyak agenda dan anda butuh,,,” “aku tau apa maksudmu harry. Baiklah kau bisa mulai menyiapkannya.” Perintah sang lady dan ia pun beranjak untuk duduk sofa tunggal yang berada disana, menyaksikan dessertnya disiapkan.
Harry mengeluarkan sebuah tas kulit kecil dan membukanya, tampak aneka jenis pisau perak dengan berbagai ukuran tersemat rapi, kau bisa bayangkan seorang dokter bedah didepanmu. Dengan hati-hati diambilnya satu dari sekian banyak pisau dan Harry pun menghampiri sang lady yang merontak ketakutan. Dari tempatnya dibaringkan, lady Anaera tau seperti apa dirinya kini, dibaringkan ditempat tinggi layaknya sebuah panggung sempit menunggu malaikat kematiannya memulai eksekusi. Butler Harry tiba disisinya, dengan sangat hati-hati disingkapnya helai rambut lady anaera sengga tampaklah leher putih kemerahan yang mulus jenjang. Perlahan ujung dinggin pisau peraknya menyentuh kulitnya bergerak menyelusuri nadinya ang berdenyut keras seiring detak jantungnya.
Sraat! Rembesan darah mengalir disamping tubuhnya, sang bulter mengiris dengan rapi mengikuti alur nadinya. Merah pekat terus mengalir dengan indahnya, tak ada yang memercik sia-sia pertanda ia memang terbiasa dengan pekerjaanya, bulter Harry tetap berwajah tenang mengiris kulit rapuh tersebut, mengabaikan jeritan kesakitan yang makin lama makin lemah. Darah terus keluar dari tubuh kini tak bernyawa tersebut, mengikuti jalur yang tercetak di alas marmer, turun menuju sebuah cekukan bathup, tertampung.
“persiapan sudah selesai nona.” Ujar sang bulter akhirnya, lady Marry berjalan dengan langkah bangsaannya menuju bathup. Mengamati hasil pekerjaan sang tangan kanan. “cantik seperti biasanya, ah aku tak sabar mencobanya.” Kaki jenjang lady Mary memasuki bathup berisi darah tersebut, menghirup aroma manis kental besi. “maaf nona,bagaimana dengan mayatnya?” interupsi sang bulter sedikit mengacaukan kesenangan nona bangsawan tersebut.
“cih, kau tahu apa yang harus dilakukan Harry, terserah padamu saja, atau berikan pada ian. Pergilah, oh! Dan ingat, pastikan tak ada noda yang tertinggal di masionku.” Perintah sang lady mutlak.
Dan disinilah ia sekarang berada, sebuah bangunan kecil tak jauh dari masion namun cukup tersembunyi, berbagai tabuk reaksi aneh terlertak di dalamnya, aroma-aroma pengawet bercampur dengan bau pembusukan dan entah apalagi yang ada di sana, begitu pengap. Di sebuah meja atau bisa kita sebut ranjang terbaring sosok gadis, tubuhnya tertutup kain namun dari lehernya terlihat luka-luka yang menganga sesuai alur urat nadinya. Tak jauh darinya sang butler berdiri meyiapkan ramuan-ramuan yang mungkin diperlukannya. Dilihatnya alroji kunonya, sebuah decakan kesal keluar begitu saja. “kemana perginya pyscopat satu itu. Cih! Membuang waktuku saja.” Lirihnya. Harry melepaskan sarung tangan karetnya dan beranjak keluar meninggalkan bangunan tersebut menuju ke dalam rimbunan semak arberi, menyingkapnya dan menemukan apa yang dicari. Seorang pria dengan rambut kelabu panjang tertidur dengan tenang. Tanpa basa-basi sang bulter melayangkan tendangannya ke tubuh pria tersebut hingga membuatnya terguling. “bisakah kau tidak menggangguku? Atau setidaknya gunakan cara yang lebih halus untuk memanggilku!” bentak sang pria. “itu cara terbaik tanpa membuang terlalu banyak energi. Dan jangan mengatakan sesuatu tentang sopan santun, halus murah hati atau sebagainya, piskopat sepertimu tak cocok mengatakannya.” “hahaha!!! Lihat siapa yang bicara! Katakan saja apa maumu dan segera enyah dari sini.” Putus pria tersebut, mulai merasa malas berdebat. “kau tak ingin ambil bagian untuk membuat boneka?” sejenk pria tersebut diam, tapi kemudian embali berbaring. “kau saja, aku sudah selesai dengan kuda dan seorang kakek tua.” “hm? Tidak biasanya. Tapi baiklah, biar aku bersenang-senang. Sampai jumpa ian,” saat harry meninggalkannya ian membuka matanya kembali mengamati rekan seprofesinya. “kau tak tau kapan roda itu diputar. Dan aku merasakannya kini.” Gumam ian sambil menjilati bibirnya dengan seringaian tertantang.
Satu hal yang tak diketahui saat itu, sosok tubuh tak bernyawa yang terbaring di ranjang tadi telah lenyap bagaikan debu tertiup angin.
Semenjak beribu-ribu tahun yang lalu manusia hidup atas dasar kebutuhan dan nafsunya, tak ada yang benar-benar mempunyai rasa kepedulian. Yah karena bagi mereka kemarin, hari ini, dan esok akan terus sama, tanah ini, air ini, udara ini, orang-orang ini-bangsawan ataupun rakyat jelata-semuanya akan tetap berada pada lintasannya masing-masing. Namun benarkah begitu? Mungkiinkah hanya mereka yang hidup dan mempunyai peradaban di semesta ini? Well hidup manusia terlalu singkat untuk dapat menelunsuri jalan alam. Apalagi mengetahui tentang kami. Hahahaha…
Warna merah itu telah hilang, kini saatnya biru ini mengisi kekosongan. Baju ini telah koyak, saatnya untuk melepaskannya. Pemilik rumah ini sudah kehilangan segalanya, maka sebagai tamu yang beradab saatnya untuk pergi kerumah selanjutnya. Ah tapi hutang budi harus dibalas, setidaknya itu prinsip yang ada di tempat ini. Baiklah sudah diputuskan! Mari beri salam pada sang pencuri. Mari kita koyak bajunya seperti yang dia lakukan pada tuan rumah kita. Dan jangan lupa… leave the best for the last.
Hari masih terlalu dini untuk melakukan aktivitas, bahkan ini masih jam 3 pagi. Ingin rasanya ian mengayunkan pedangnya menggores kulit pucat sang bulter sombong dengan segala atitudenya itu. Ia hanya setia pada lady marry bukan berati ia akan mengerjakan perkataan bulter harry yang selalu bertolak belakang dengannya. Dapat di ingatnya kembali raut wajah hary yang mengeras berusaha mengendalikan rasa kesalnya saat mayat lady aanaera yang seharusnya menjadi koleksi boneka selanjutnya justru raib tanpa jejak. Ian tertawa lepas saat harry menanyainya seakan menuduh. Saang bulter kehilangan kendali. Namun tawa ian berakhir dengan gerutukan tak terima karena harry memaksanya mencari kemana calon bonekanya hilang. Jika bukan karena rasa hormatnya pada lady marry dan bayangan menguliti “pencuri” satu itu ia bersumpah akan menjadikan harry sasaran latihan pedangnya.


message 20: by Yuyun (new)

Yuyun | 3 comments Ian berjalan menyelusuri taman bunga mawar yang terletak di pinggir masion berbatasn dengan hutan, hujan telah berhenti namun angin dan gemuruh petir masih memainkan ritmenya. Ia telah mengelilingi seluruh bagunan dan masion tapi sama sekali tak ada jejak yang tertinggal atau setidaknya yang dipikirnya ada. Ian tak mungkin salah, berbeda dengan harry yang teliti dengan sosok individu, ian merupakan spesialis tempat, tak ada satu jejak pun yang akan luput dari matanya, dan kini ia merasa tak menemukan apa pun. Atau memang tak pernah ada?
Sedetik kemudian ia mendengar derap kaki kuda, dari arah hutan. Penasaran membawa ian menuju asal suara, dengan amat terlatih ian berlari menyusuri hutan meloncati akar-akarnya yang muncul dari tanah. Berhenti sesaat ian mengangatur nafaasnya dan mencoba kembali mendengar suara itu. Rasa yakinnya akan menemukan sang pencuri menyampingkan rasa was-wasnya yang sudah ada semenjak berjam-jam yang lalu. Kembali ia dengar suara itu, sepertinya orang itu mengetahui ia dikejar sehingga menacu kudanya lebih cepat. Tapi ian mengenal hutan ini seperti mengenal dirinya, ia hidup disini. Jalan pintas yang diambilnya selalu tepat pada target, seperti sekarang.
Ian mengerutkan keningnya melihat penampilan sang penunggang. Jubah hitam besar menyelubungi selruh tubuhnya, kepalanya pun tertutup tudung. Heh apa dia ingin menyaingi penampilan seorang ian? Pikirnya. Si kuda meringkik merasa terganggu dengan keberadaanian didepannya. Ian menyeringai dan mengeluarkan pedangnya bersiap melenyapkan sang pengganggu selamanya. “aku tak punya masalah denganmu sebenarnya, namun anda membuat si sialan Harry itu mengganggu waktu tenangku. Dan seseorang harus membayarnya bukan?” kata ian berbasa-basi. Merasa tak ada tanggapan ian pun meloncat menyerang sang penunggan langsung. Crass! Tebasanya mengenai sasaran, namun sosok itu masih duduk tegap diatas kudanya dan tanpa terduga tubuh ian basah bermandikan darah, didepannya sang kuda telah tak berkepala. Bagai de javu, posisinya, bentuk sambaran pedang dikuda itu sama seperti saat ia memutilasi kuda lady Anaera. Kembali muncratan darah mengenainya, kali ini disertai organ-organ dalam dari kuda tersebut, ian tak menyadari kapan pemilik kuda tersebut menghilang meninggalkannya hanya bersama korbannya. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan darah, organ-organ dalam, maupun bau-bau mejijikan yang selama ini menjadi kegemarannya. Tapi kali ini ian tak dapat mengendalikan dirinya, ia merasa muak. Rasanya seperti berdiri ditengah ratusan mayat yang terus dikuliti, dikeluarkan isinya, dan dipotong-potong. Ian tak bisa bebas dari ilusi yang menjeratnya, ia bahkan tak sadar saat tangannya sendiri digerakkan dan taps! Lengan kanannya terpotong hingga siku. Ian menjerit kesakitan namun suaranya tertelan gemuruh petir. Lagi tangannya bergerak kali ini kakinya terpotong hingga perggelangan kaki. Tubuh ian bergetar hebat, ia melemparkan pedangnya sejauh mungkin. Diantara rasa sakitnya yang membutakan, ian mlihat sosok berjubah itu berdiri tak jauhdarinya, kemarahan membuat Ian bangun dengan susah payah bersandar pada batang pohon. Kali ini ia merasa berilusi melihat pedang yang melayang menuju dirinya. Ian tertawa terbahak-bahak, rupanya rasa sakit membuatnya berilusi, begitu pikirnya. Hingga akhirnya rasa sakit diulu hatinya menghentikan segalanya, tanpa perasaan pedang yang selalu digunakan untuk mengeksekusi korbannya kini mengeksekusi dirinya sendiri mencincang tubuhnya. Di sisa-sisa kesadaranya ian melihat benang tipis yang menggerakkan pedangnya panjang dan bermuar pada sosok berjubah yang tersenyum menyeringai, rambut pirang panjang menari bersama angin dingin.”curios killed the cats.”
Lady Marry masih berbaring nyaman diranjangnya, ia tahu waktunya untuk bangun masih lama namun ada perasaan aneh yang mengusiknya, dengan raut wajah kesal sang lady bangun dari tidurnya dan menyeret langkahnya menuju pintu. Nafasnya tercekat sesaat mendapati sosok butler setiannya menjulang didepannya. “kau membuatku terkejut Harry, ada apa?” kata sang lady, namun tak ada jawaban yang terdengar sama sekali. Merasa aneh lady Marry mengamati sosok didepannya ini dengan seksama, jeritanya tertahan ditenggorokan saat menemukan luka menganga lebar diperut sang bulter isi perutnya telah dikeluarkan dengan rapi kulitnya penuh goresan luka kecuali wajah. Kiniyang berdiri didepannya adalah sosok raga kosong layaknya boneka. Tangan sang bulter bergerak menuju leher lady Marry. Ketakutan! Marry tak pernah merasakan ini sebelumnya karena Ian dan Harry selalu melindunginya, tapi kini dia sendirian berlari di koridor mansionnya yang kini kosong. Kemana perginya semua maid dan pembantu yang lainnya.
Tap,tap,tap, suara langkah laki telanjang yang mengikutinya membua Marry makin mempercepat laju larinya. Sembunyi, ya ia harus sembunyi. Tanpa pikir panjang dimasukinya sebuah kamar, tangannya meraih asal pedang hias yang tergantung didinding. Bersiap akan apapun nanti. Kriiet,, pintu kayu itu berderit terbuka Marry mengayunkan pedangnya namun hanya udara kosong yang di jumpainya. Sreet beberapa untaian benang tipis melayang kearahnya mencoba meraih tubuhnya. Panik Marry mengayunkan pedangnya memotong benang-benang tersebut. beberapa benang menjerat kakinya, terus merambat naik seolah memiliki kemauan. Benang tipis seperti jaring laba-laba namun tajam menggores kulitnya. Marry menjerit kalap tak bisa menggerakkan tubuhnya dan sang tokoh utamapun keluar! Gadis dengan tubuh penuh luka tersenyum lebar hampir merobek mulutnya rambut pirangnya menjuntai tak teratur. Lady Anaera!
Untaian benang keluar dari mulutnya, tangannya bergerak mengendalikan benang tersebut. diangkatnya tubuh lady Marry menuju bathup yang digunakan untuk menampung darah tadi yang baru disadari keberadaannya. Lady anaera membaringkannya didasar bathup dan mengencangkan benangnya. Semakin mary merontak semakin kuat ia terlilit. “iblis, seharusnya kau sudah mati!” jerit Marry frustasi. Anaera tertawa serak, tangannya menggenggam pisau perak Harry, dan menggoreskannya dalam pada tangan Marry. “disana ditulis darah gadis muda yang sehat mengandung unsur yang kebaikan jadi amat bagus untuk ramuan kecantikan, bukankah begitu?” tanya Anaera dengan nada anak-anak. Marry kembali menjerit merasakan kulitnya dikoyak, darahnya menyembur deras memercik kesegala arah, mengotori gaun tidur putihnya. Hantu, setan!! Yang berdiri didepannya ini bukan manusia, jelas-jelas Marry melihat sendiri tetesan daran anaera yang mengalir, hembusan nafasnya yang terakhir.
Dengan sekuat tenaga Marry memberontak, kali ini kuku tangannya mengores wajah Anaera dalam, sejenak ia terdiam, menatap Marry dingin. Perlahan darah mengalir dari luka tersebut, tapi bukan merah melainkan biru pekat yang kental, disekatnya cairan darah itu. “lady Marry, bukankah anda sangat menyukai warna merah? Sayang sekali ditempatku berada sama sekali tak ada unsur besi ditanahnya, jadi kau tidak akan ada warna merah disini.” Ujarnya dengan mimik wajah bersedih. “siapa kau sebenarya?” Marry bisa merasakan nada bergetar disuaranya.
“hmm, tapi tenang saja, kita akan tetap melihat warna merah disini.” Mengabaikan pertanyaan Marry, Anaera kembali mengiris kulit Marry dengan perasaan yang menghayati. Mengabaikan jeritan-jeritan yang menyayat. “lihatlah lady Marry, merah! Merah! Kau menyukainya? Bukankah kau suka mandi darah?” Anaera tertawa menikmati kematian Marry layaknya menikmati karya seni. Kali ini Marry bermandikan darahnya sendiri.
“hidangan terbaik sudah dinikmati, hutang budi pada tuan rumah juga telah dibayar. Sekarang saatnya keluar.” Perlahan mulut Anaera terbuka lebar hingga merobek pinggirnya, darah biru keluar dari sana. Sesuatu seperti kaki laba-laba keluar dari sana bergerak liar merasa bebas. Sebuah kepala keluar bersamaan dengan sepasang tangan yang membuka jalan baginya untuk keluar. Dan kini yang berdiri diruangan ini hanyalah sosok asing baru, tubuh licin berlumuran darah biru, berambut hitam panjang, mata seputih mutiara mengawasi sekitar, sesekali kaki-kaki laba-laba keluar dari mulutnya layaknya lidah ular yang terjulur.
“hah, tubuh manusia memang tidak tahan lama, berbeda dengan kampung halaman kita. Baiklah siapa selanjutnya yang akan kita jadikan tuan rumah?”
THE END


message 21: by Yogie (last edited Oct 10, 2014 07:35AM) (new)

Yogie Prabhata (yogieprabhata) | 28 comments INVASI

Saat itu malam hari, tepatnya pukul 09:15, kami sekeluarga sedang menonton sinetron televisi di ruang keluarga. Ayahku duduk paling belakang, bersandar pada tembok sambil menghisap rokoknya, ibuku tiduran di sofabed bersama adik perempuanku, Aura, sementara aku dan adik laki-lakiku, Rozan, duduk di lantai satu meter dari televisi. Saat itu sinetron sedang seru-serunya ketika layar tiba-tiba berubah menjadi berita.

“Aah, apaan sih, lagi seru-serunya nih!” Omel ibu.

“Paling-paling berita kebakaran atau kecelakaan.” Tambah ayahku. “Buatkan kopi dulu, sebelum sinetronnya mulai lagi.” Ayahku mengambil satu batang rokok lagi dan menyalakannya.

“Kopi hitam, ya, cuma tinggal itu soalnya.” Ucap ibuku sambil berjalan menuju dapur di sebelah barat ruang keluarga.

“Ya..” Jawab ayahku.

Sementara yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, aku masih memperhatikan layar televisi penasaran dengan isi berita. Seorang presenter pria membacakan berita dengan suara yang jernih dan tegas.
“Beberapa waktu lalu telah jatuh meteor di sekitar Pantai Parangtritis, untungnya meteor berukuran kecil sehingga tidak mengakibatkan kerusakan yang parah…”

Layar berganti, kini seorang wanita jangkung dengan rambut coklat muncul dan melaporkan langsung dari TKP. Kerumunan orang berkumpul mengelilingi sebuah kawah sebesar sepuluh meter, garis polisi memagari mereka agar tidak memasuki kawah.

“Ayah, Ibu, ada meteor jatuh.” Rozan tiba-tiba berteriak tepat ditelingaku. “Itu di tv katanya ada meteor jatuh di Parangtritis!”

“Mana.. mana..” Ibuku buru-buru mendekat, begitu pula dengan ayahku yang biasanya tidak peduli pada urusan lain selain sepak bola dan burung.

“Meteor itu apa?” Tanya Aura.

“Meteor itu batu dari luar angkasa yang jatuh ke bumi.” Jelasku singkat.

“Nanti ada alien di dalamnya.” Tambah Rozan, “alien yang makanannya orang. Nanti dateng kesini mau makan Aura!” Rozan menakut-takuti Aura hingga menjerit dan menangis.

Ibuku segera membawa Aura kekamarnya sambil mengomel pada Rozan yang ikut diseret ke kamar. Berita selesai, kini layar telah kembali menayangkan sinetron tapi mataku sudah terasa berat dan segera berpindah kekamarku dan terlelap. Meninggalkan ayahku dengan kepulan asap rokoknya di ruang keluarga.

***

Esoknya sekolah dipenuhi pembicaraan mengenai meteor yang jatuh tadi malam. Berbagai spekulasi akan serangan alien, perang galaksi, sampai alien yang akan menguasai bumi. Aku menghindar dari pembicaraan semua itu, terlalu tidak masuk akal menurutku.

“Bara, kamu lihat berita semalam?” Tanya Reza, salah satu teman terdekatku, satunya lagi adalah Algar yang kini berdiri dibelakang Reza, mereka teman terdekatku dan mungkin temanku satu-satunya.

“Ya, berita meteor jatuh, kan?”

“Keren, ada meteor jatuh di Parangtritis, aku penasaran apa isi meteor itu. Jangan-jangan ada makhluk hidup didalamnya, dan meteor itu ternyata sebuah telur dan….” Ia mulai mengoceh dengan semangat.

“Itu cuma sebuah batu, Reza,” Aku mengambil buku IPA dari tas dan membuka halaman mengenai meteor dan menunjuk penjelasan meteor, “kau bisa membaca, kan?”

“Itu cuma omong-kosong yang mereka ingin kita tahu,” Algar mulai menjelaskan teori-teori gilanya, “Aku yakin pemerintah bakal menyembunyikan kenyataan yang ada, dan pasti Amerika akan ikut campur dalam hal ini. aku sudah menelitinya di Internet, dirumahku nanti akan kuperlihatkan padamu.” Bel tanda kelas akan dimulai berdering nyaring. Aku diselamatkan bel itu dari teori gila Algar dan Reza. Mereka kini duduk di kursi didepanku.

***

Pukul tujuh malam aku baru sampai rumah setelah menyelesaikan tugas kelompok dengan Algar dan Reza. Capek dan pusing karena walaupun itu tugas kelompok kenyataannya hanya aku yang mengerjakan sementara mereka terus berspekulasi mengenai meteor dan alien.

“Assalamualaikum,…” Aku langsung masuk kamarku dan segera mengganti seragam sekolahku dengan kaos dan celana pendek. Perutku sudah keroncongan. “Ada lauk apa malam ini, Bu?” Tanyaku sambil mencuci tangan.
Tidak terdengar jawaban.

Kubuka tudung saji di meja. Di dalamnya hanya piring kotor yang ditumpuk berantakan, mangkok sup yang bersih tanpa sisa, bahkan nasi pun habis. “Kenapa tidak menyisakan Bara makanan?” Tanyaku sedikit jengkel. Kututup kembali tudung saji dan memutuskan untuk membuat mie instan saja.

Hari ini rasanya sunyi sekali. Biasanya semua sudah di depan televisi dan menonton sinetron, tapi ayah dan ibu sedari tadi di kamar, begitu pula dengan adik-adikku. Yah, mungkin mereka terserang flu. Penyakit itu sedang mewabah di musim ini.

Aku menonton televisi sembari menyantap satu mangkok mie instan ukuran jumbo, berita mengenai meteor masih menjadi pembicaraan hangat di setiap saluran. Aku mengganti saluran sampai menemukan saluran yang memutar film Shutter. Awalnya aku menontonnya sebentar tapi begitu mencapai adegan dimana hantu mulai muncul segera kumatikan televisinya. Horor bukan favoritku.

Kulihat ponsel ibu tergeletak di dekat televisi. Aku menyalakannya hendak memainkan game, tapi saat kunyalakan layar memperlihatkan sebuah foto. Foto pantai yang dipenuhi orang-orang. Kugeser foto itu untuk melihat foto lainnya, foto-foto lain memperlihatkan sebuah lubang besar yang dikelilingi banyak orang, ada sebongkah batu di tengah lubang. Sepertinya ibu dan ayah melihat ke tempat jatuhnya meteor tadi, dan Rozan sepertinya juga ikut karena aku melihat fotonya yang bergaya di dekat lubang meteor sementara Aura tidak terlihat. Sepertinya Aura dititipkan pada nenek sementara mereka pergi. Jadi mereka pergi tamasya dan bersenang-senang sampai lupa masak? Pantas saja kalau sekarang mereka sakit, saat ini udara sedang dingin-dinginnya dan mereka malah pergi ke pantai.

Ku taruh ponsel ibu ke tempat semula. Mie instan sudah kuhabiskan dan mangkok sudah kucuci bersih. Aku melihat jam dan ternyata baru pukul 08.30. Kuketuk kamar orang tuaku. “Bu, Yah,.. kalian nggak apa-apa?”

“Kenapa, Bara?” Sahut Ayahku. Suaranya serak dan tidak begitu jelas, ak juga dapat mendengar suara decakan.

“Apa Ayah, Ibu, Rozan dan Aura nggak apa-apa, kenapa kalian di kamar dari tadi?” Tanyaku sedikit khawatir mendengar suara ayahku yang serak.

“Nggak.. nggak apa-apa.” Jawab ibuku kali ini. suaranya juga serak.

“Perlu Bara belikan obat?”

“Nggak.. nggak apa-apa!” Jawab ibuku dengan sedikit jengkel.

Merasa membuat mereka marah, aku pergi meninggalkan kamar orang tuaku. Kukunci semua pintu dan jendela dan mematikan lampu beberapa ruangan dan segera merebahkan diri setelah mengunci pintu kamar. Kubiarkan lampu menyala. Aku tidak pernah bisa tidur dalam keadaan gelap, bukan karena aku takut, hanya saja rasanya tidak nyaman.

Tidak butuh waktu lama sampai terlelap.

Aku berdiri di sebuah ruangan persegi. Banyak kursi dan meja terbalik dan berserakan disekelilingku. Noda-noda merah memenuhi dinding dan lantai, papan tulis juga tidak terlewatkan. Aku tahu ruangan ini. Ruang kelasku. Beberapa lukisanku yang dipajang di dinding belakang kelas memperjelas itu. Tapi apa yang terjadi disini?

Bunyi gaduh terdengar dari luar. Aku segera berlari keluar kelas, tidak ada apa-apa di lorong, yang berarti bunyi itu berasal dari lapangan. aku berlari menyusuri lorong menuju lapangan. beberapa meter sebelum kelokan menuju lapangan tiba-tiba tubuhku ditarik masuk kedalam kamar kecil dan sesosok tangan menutup mulutku.

“Diam, jangan ribut. Ini aku.” Bisiknya ditelingaku. Aku mengangguk tanda setuju. Ia melepaskan cengkeramanya dan aku berbalik. Reza berdiri dihadapanku dengan seragam yang berantakan, wajahya terlihat begitu ketakutan dan penuh keringat.

“Ada apa, apa yang terjadi?” Tanyaku bingung.

“Alien,.. alien menyerang.. mati.. dibawa.. semua..” Ia berbicara degan cepat dan patah-patah.

“Hei, tenangkan dirimu, tarik napas dalam-dalam hembuskan perlahan dan mulai bicara dengan tenang.” Aku berusaha menenangkannya.

Reza mengambil napas dalam-dalam, mengikuti petunjukku, dan mengeluarkannya perlahan. Namun mendadak Ia berteriak dan menunjuk kebelakangku. Aku hendak berbalik tapi sebuah cengkeraman kuat menarikku keluar dari kamar kecil, aku mengulurkan tangan meminta pertolongan Reza, tapi tanganku sudah diluar jangkuannya.

Aku terbangun. Napasku terengah-engah. Mimpi buruk yang sangat buruk, benar-benar buruk.

Sekitarku kini gelap. Sepertinya listrik mati, dari pintu yang terbuka aku dapat melihat lorong yang juga gelap. Kutarik selimut sampai menutupi wajahku dan mencoba untuk tidur kembali.

Aku memejamkan mata, mencoba untuk kembali tidur tapi pikiranku terus terngiang mimpi tadi. Alien? Apa benar alien akan menyerang? Apa semua teori gila Algar dan Reza benar-benar akan terjadi? aku berusaha mengalihkan pikiranku pada hal lain, namun selalu kembali pada pikiran itu lagi.

Aku mendengar suara seperti benda yang diseret. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Itu cuma suara angin di luar rumah, kuyakinkan diriku.

Suara itu terdengar lagi. Kini suara itu terdengar lebih keras dari sebelumnya, lebih dekat, seolah tepat dihadapanku.

Tidak mungkin suara itu dari kamarku. Aku sudah menutup pintu kamarku. Ya, aku yakin sudah menu… tunggu! Seharusnya pintu sudah kututup, tapi tadi aku bisa melihat lorong diluar kamarku, bagaimana bisa? Apa ayah atau ibuku yang membukanya? Untuk apa, mereka tidak mengantarkan lilin aku yakin itu karena tidak ada lilin yang menyala di kamar ini.
Aku mendengar suara napas tepat disampingku. Suaranya terdengar berat dan terengah-engah. “Kak…” ternyata suara itu berasal dari Rozan, mungkin ia ingin mencoba menakut-nakutiku.

Kubuka selimut yang menutupi wajahku. Kucoba memperlihatkan wajah tenangku, tidak ingin Rozan tahu kalau usahanya sedikit berhasil, dan dengan suara tenang aku berkata, “kenapa, dari awal kakak tahu itu kamu, kamu sengaja mau menakut-takuti kakak, kan?”

“Lapar… haus..” Ucapnya dengan suara serak seperti ayah dan ibuku.

“Kalau lapar sudah nggak ada makanan, listrik mati juga… kalau minum ambil di kulkas sana, berani sendiri, kan?” Ucapku dengan kesal karena sudah membuatku berpikir macam-macam.

“Lapar.. haus…” ulang adikku.

“Hhhh… ya sudah, ayo kakak antar.” Aku mengambil hp di meja di samping kasur dan beranjak turun. Kunyalakan hp sebagai pengganti senter. “Ayo, kakak juga ingin mencari lilin.” Kugenggam tangan adikku dan kami berjalan menuju dapur. Saat melewati kamar orang tuaku, pintunya sudah terbuka tapi tidak ada cahaya atau gerakan di dalam. Sepertinya hanya Rozan yang bangun.

“Itu kulkas, kakak mau mencari lilin dulu.” Aku berbelok ke kanan dan mulai mencari lilin di laci dan lemari dapur. Saat mencari aku mendengar langkah kaki dibelakangku. “Kamu tidak jadi minum?” tanyaku, karena aku belum mendengar pintu kulkas dibuka.

“Lapar.. haus..” Ucap adikku lagi.

“Bisakah kamu berhenti bicara dengan cara seperti itu, kakak tidak takut!” Ucapku dengan jengkel. “Dimana ibu taruh lilin, kakak tidak bisa menemukannya disini, bisa tolong kamu cari di sebelah sana, Rozan?” Aku menunjuk sambil terus mencari.

“Lapar…”

“Iya, iya,.. setelah lilin ketemu akan kakak masakkan mie, sekarang cari lilinnya dulu, oke!?” Aku berbalik dan menyenteri adikku, tapi aku justru berteriak dan tersentak mundur menabrak lemari dibelakangku. “Apa-apaan wajahmu itu!?” Rozan membuka mulutnya yang berlumuran noda merah, matanya bergerak-gerak tidak fokus selama beberapa saat lalu berhenti tepat kearahku, urat-urat keunguan menghiasi wajah dan matanya. Liurnya menetes-netes dari mulutnya.


message 22: by Yogie (new)

Yogie Prabhata (yogieprabhata) | 28 comments “LAPPAAARR!!!” Rozan tiba-tiba menerjang maju dengan mulut terbuka lebar, amat-sangat lebar.

Aku melompat mundur menyebabkan adikku menabrak lemari dengan kepala lebih dulu. Terdengar suara keretak—suara sesuatu patah—saat kepalanya menabrak lemari, pintu lemari terlihat rusak cukup parah dan nyaris terlepas dari engselnya. “Kamu nggak apa-apa, Rozan?”Aku hendak maju mendekatinya, tapi kakiku yang gemetar tidak mau menurut, aku hanya diam di tempat. Rozan menoleh kearahku.

Hidungnya kini bengkok tidak wajar dan terdapat robekan dibatangnya. Serpihan-serpihan kayu menancap di wajahnya namun tidak ada kesan kesakitan dari wajahnya, aku justru melihat suatu hal yang sangat tidak mungkin, robekan di hidungnya perlahan menutup dan serpihan-serpihan kayu berjatuhan dari wajahnya.
Luka-lukanya sembuh dengan sendirinya.

“Apapun yang kamu lakukan, tolong hentikan, oke, kakak takut. Kakak sangat ketakutan sekarang, kamu bisa hentikan permainanmu ini.” Jeritku dengan sedikit memohon dan nada bergetar ketakutan. “Hentikan, oke!?”

“Lapaar..” Rozan mencoba meraihku, tangannya terjulur dan mulutnya terbuka lebar seolah ingin menggigitku.

Aku melangkah mundur menuju ruang keluarga dan menabrak sesuatu. Berbalik, kulihat ibuku berdiri memunggungiku. “Bu, suruh Rozan berhenti, ini sudah keterlaluan!” Pintaku. Ibu berbalik menghadapku.

“Huwaaaaa..!!” aku melompat menjauhi ibu. Wajahnya sama seperti Rozan, urat-urat menonjol dan mulut berlumuran darah.

“Ada apa dengan kalian?” Ini sudah keterlaluan, kalau mereka berniat mengerjaiku, ini sudah keterlaluan! Ini terlalu nyata…. Tunggu, bagaimana kalau ini seperti yang Reza dan Algar katakan? Tidak, tidak mungkin!

Aku berlari menjauhi mereka tapi sesosok tangan menarik lenganku hingga aku terjatuh, hp yang kugenggam terlempar cukup jauh, langsung mati begitu menghantam lantai. Sosok itu menindihku, menahan kedua tanganku. “Rokok… butuh rokok..” Itu suara ayah.

“Ayah ini aku, Bara, ada apa dengan kalian sebenarnya!?” Jeritku sambil berusaha meloloskan diriku dari tindihan ayah, aku dapat mencium bau rokok yang biasa ayah hisap. Aku dapat merasakan Rozan dan ibu semakin mendekat. “Lepaskan!!” Aku menendang perut ayah dengan lutut, satu, dua, tiga kali hingga ayah sedikit oleng dan kumanfaatkan kesempatan itu untuk meloloskan diri.

Tangan ayah menarik kakiku dan kulihat bayangan ibu dan Rozan menerjang maju. Secara reflek aku mengambil vas di atas buffet di sebelah kiri dan melemparnya ke ibu, tepat mengenai wajahnya membuatnya limbung dan jatuh tersandung kaki ayah, beberapa senti sebelum Rozan menggigitku kuhantam wajahnya dengan bingkai foto dari buffet. Tarikan ayah membuatku kehilangan keseimbangan, berpegangan pada buffet kutendang ayah sekuat tenaga. Sepertinya tendanganku cukup keras karena aku dapat mendengar suara keretak. Cengkeramannya melemah.

Aku berlari menjauhi mereka sambil mencari tempat yang kurasa aman. Terlalu gelap, tidak dapat melihat dengan jelas. Kemudian aku teringat kamar orang tuaku, pintunya tidak tertutup saat kulewati. Tanpa pikir panjang aku segera berlari masuk kedalam kamar, menutup pintu dan menguncinya, untungnya ibu selalu membiarkan kunci menggantung di pintu.

“Ini tidak mungkin nyata…” bisikku pada diri sendiri. “Mereka pasti sedang mengerjaiku, saat pagi nanti mereka pasti akan kembali seperti semula dan berkata kalau aku telah dikerjai.” Aku berusaha mengatur napas dan pikiranku. Tapi aku melempar vas tepat ke wajah ibu, memukul Rozan sekuat tenaga dan menendang ayah seperti itu… apa aku mereka tidak apa-apa?

Suara pukulan di pintu menyadarkanku dari lamunan.

“Kak… ayo keluar, lapar.. haus..” suara Rozan memanggilku, Ia terdengar sangat menderita. “Bara, ini ayah.. kenapa kamu menendang kepala ayah..” kali ini giliran ayahku. “Bara.. ibu sayang kamu.. ayo keluar… kami lapar…” mohon ibu dengan suara serak.

Aku melangkah mendekati pintu, hendak membuka kuncinya namun aku berhenti. “Ada apa dengan kalian, kalian tidak apa-apa kan? Kalian tidak dipengaruhi parasit alien atau apa pun itu, kan?” Aku berkata cukup keras. “Kalian hanya sedang mengerjaiku, bukan?” Aku merasakan air mata membasahi pipiku.

“Kami hanya lapar…” jawab ibu.

Aku bergeming, tidak yakin apa yang harus kulakukan.

“Rokok..” ucap ayah.

“Kak lapar..” kali ini Rozan. Mereka hanya terus menerus mengucapkan kata-kata itu.

Tiba-tiba pukulan di pintu makin keras dan mereka kini mulai berteriak. Aku melangkah mundur menjauhi pintu dan bersandar di kasur. Aku mulai terisak. Apa yang terjadi? apa yang terjadi? pikiranku
benar-benar tidak dapat memahami apa yang terjadi saat ini.

Lampu tiba-tiba menyala. Kamar menjadi benderang.

Aku menyipitkan mata karena kamar yang mendadak menjadi benderang. Begitu mataku mulai terbiasa, aku melihat bercak dan noda merah di kaus yang kukenakan, di celana dan di karpet. Aku berdiri dan melihat kalau seprai juga penuh dengan noda merah.

Noda merah itu memenuhi nyaris seluruh ruangan.

Aku mendekati seprai dengan noda merah paling banyak. Baunya amis. Kuulurkan tangan untuk menarik seprai, aku berhenti sebentar memantapkan diri, lalu kutarik seprai hingga terbuka cukup lebar.

“Huwaaaaa…!!” Aku tersentak mundur dan menabrak lemari pakaian, kaki ku terasa lemas dan aku jatuh berlutut dan muntah mengeluarkan mie yang kumakan tadi.

Kepala adik perempuanku, Aura, tergeletak terpisah dari tubuhnya. Begitu pula dengan kaki dan tangannya. Aku dapat melihat usus yang berceceran keluar dari perutnya. Dagingnya koyak seperti kain yang ditarik hingga robek.

Aku ingat sebelum tidur tadi, saat ayah menjawab pertanyaanku, suara decakan itu… itu pasti suara ketika mereka mengoyak dan memakan Aura… mereka memakan Aura hidup-hidup? Aku menjerit dan menangis. Jadi ini nyata, semua ini nyata?

Suara pukulan dan teriakan di pintu makin menjadi-jadi. Pintu itu sendiri terlihat tidak lagi kuat menahan mereka.

Lalu sesuatu jatuh didepanku. Kepala Aura menggelinding dan sesuatu seperti kaki gurita menjulur keluar dari leher, tempat seharusnya tubuhnya berada. Kepala itu berputar hingga menghadapku.

“Kak Bara, ayo main….” Wajah imut Aura kini penuh dengan daging robek dan satu mata hilang.

Aku hanya bisa merangkak menjauh dan menangis, suaraku sudah tidak dapat keluar lagi meski aku berusaha menjerit dan berteriak, dan tenagaku hilang, tubuhku benar-benar terasa sangat lemah sekarang.

Pintu terbuka dengan suara keras. Ayah, ibu, dan Rozan berlomba mencapaiku. Mereka membuka mulut mereka lebar-lebar dan langsung menghujamku dengan gigitan dan cabikan. Aura juga ikut menggigitiku dengan mulutnya yang kecil.

Anehnya tidak ada rasa sakit sama sekali. Tidak ada teriakan atau rontaan. Hanya air mata yang mengalir tanpa henti.

FIN


message 23: by Manikmaya (last edited Oct 10, 2014 06:03PM) (new)

Manikmaya | 1098 comments Kambing (Mereka Yang Menyaru Sebagai Binatang)

Mei, 1994



Idul Adha akan tiba tiga minggu lagi, dan seperti halnya masyarakat desa lainnya, Iwan dan saudara-saudaranya sudah sibuk mempersiapkan kambing-kambing mereka untuk dipilah menjadi dua kelompok. Satu kelompok berisi empat ekor kambing yang tampaknya akan dijual, sementara satu kelompok lain berisi dua ekor kambing dewasa yang hendak dipersiapkan untuk dikorbankan pada hari raya nanti.

“Selamat Pagi, Wan!” aku menyapa pemuda tanggung yang cuma tamat SD itu saat aku melintas di depan rumahnya.

“O nggih, Pak Saleh. Badhe ngasta Pak?” ia menanyakan apakah aku akan pergi mengajar sebagai bentuk basa-basinya.

Aku hanya mengangguk mengiyakan lalu bertanya, “Dijual berapa kambingnya Wan?”

“Bapak mau beli? Buat kurban tahun ini Pak? Kalau untuk Bapak, saya kasih murah, Pak. 600 ribu saja!”

“Wah? Kok harganya naik lagi sekarang?” tahun kemarin aku bisa beli seharga 500 ribu saja.

“Yah Pak, di kota saja sekarang kambing sudah hampir sejuta Pak. Kita biasanya juga titip jual ke Mas Yitno dapatnya 800 ribu.”

“Ya sudah, nanti dua hari sebelum Idul Kurban aku ambil di kamu ya?”

“Beres Pak!” Iwan mengacungkan jempolnya ke arahku dan akupun berpamitan pada pemuda itu.

Tempatku bekerja adalah sebuah SD Negeri yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumahku, salah satu dari dua SD Negeri yang ada di desa ini. SD satunya lagi ada di seberang sungai yang memisahkan Dusun Jaten ini dengan Dusun Kunir. Meskipun dua dusun ini sama-sama bagian dari Desa Pasiraman, tapi sungai yang mengalir deras di antara kedua dusun membuat jarang ada penduduk Dusun Kunir yang bertandang ke Dusun Jaten, begitupun sebaliknya. Dulu sempat ada jembatan yang dibuat di antara dua dusun ini, tapi entah karena arus sungai yang terlalu deras atau kontraktornya yang korupsi bahan bangunan, belum sampai lima tahun jembatan itu sudah runtuh.

Penduduk Dusun Kunir dan Jaten pun rata-rata hanya bertemu dua kali dalam setahun yakni saat shalat Ied Idul Fitri atau saat ada ritual Sedekah Bumi yang dipusatkan di Dusun Randu, yang ada di sebelah utara sekaligus tempat Kepala Desa kami berkantor. Untuk Idul Adha, biasanya mereka menyembelih hewan di lapangan atau mushala masing-masing dusun.

Ketika aku sampai di gerbang sekolah, aku heran karena melihat tukang kebun kami, Pak Nardi, di halaman sekolah. Dua rekanku sesama guru sudah ada di ruang guru tapi mereka juga tidak melihat Pak Nardi sedari pagi tadi.

Tak seperti biasanya Pak Nardi lalai, biasanya beliau sudah datang pukul lima pagi dan sudah membuka seluruh pintu kelas dan membersihkan seluruh ruangan kelas bahkan sebelum anak-anak yang bertugas piket datang. Aku berpikir apakah jangan-jangan beliau sakit dan berniat mengunjungi rumahnya seusai jam sekolah nanti. Aku menuju sebuah meja yang dikhususkan untuk sang kepala sekolah, yang tak lain adalah aku sendiri, dan mengambil serenteng kunci untuk membuka gembok-gembok ruang kelas. Dua guru yang sudah datang dari tadi juga turut mengikutiku untuk membuka ruang-ruang kelas.

Kelas 1, 2, dan 3, berturut-turut sudah kubuka dan dua guru tadi langsung mempersiapkan buku-buku untuk kelas 1 dan 2, tapi mataku menatap curiga ke ruang kelas 4 yang memang letaknya agak tersembunyi. Pintunya tampak tidak tergembok dan tampak sedikit terbuka. Aku sempat menduga ada garong– perampok – yang memakai ruang kelas untuk bersembunyi semalaman.

“Siapa di sana?!” hardikku sambil membuka pintu kelas keras-keras.

Tak ada jawaban, yang kudapat adalah sambutan aroma logam yang kuat yang disertai juga bau anyir menyengat. Jendela-jendela kelas yang terutup rapat pastilah menghalangi bau anyir ini keluar dari kelas.

Aku berjalan mencari sumber bau anyir itu dan di salah satu deret bangku aku temukan sesosok pria tengah tertelungkup di lantai yang berlumuran darah. Aku terkesiap. Dari pakaian dan perawakannya aku langsung tahu bahwa orang itu adalah Pak Nardi, tukang kebun yang bekerja di sekolah kami. Aku mendekati jenazah itu dan menempelkan jariku di lehernya yang tampak koyak. Tak ada denyut nadi. Pria paruh baya ini sudah mati.

*****

Polisi dan perangkat desa datang ke sekolah kami dua jam kemudian. Anak-anak terpaksa diliburkan sampai polisi selesai memeriksa TKP dan membawa jenazah tersebut. Tapi anak-anak yang sudah terlanjur datang tampaknya tidak mau pulang. Mereka justru malah menonton di depan gerbang sekolah. Beberapa penduduk juga turut menonton, bahkan ada yang sampai memanjat pohon mangga yang ada di halaman sekolah. Tentu saja para polisi sekalipun tidak bisa mengusir mereka, sebab sudah menjadi kebiasaan mereka untuk ‘ikut nonton’ segala peristiwa tidak biasa yang terjadi di sekitar mereka, supaya saat nanti pulang mereka punya bahan obrolan untuk diperbincangkan di antara istri, suami, atau tetangga mereka.

“Pak Dayat,” tiba-tiba seorang petugas polisi memanggilku masuk ruangan.

“Ya Pak?” aku memasuki ruangan itu sambil berusaha menahan diri untuk tidak muntah, sebab aroma anyir makin menyengat hanya beberapa jam setelah aku menemukan jenazah itu.

“Apa Pak Nardi ini punya musuh?”

“Hmm saya rasa tidak Pak? Kenapa?”

“Kami menduga Pak Nardi dibunuh oleh seseorang Pak meskipun cara membunuhnya ... agak janggal.”

“Maksud Bapak?”

Polisi itu tidak langsung menjawab pertanyaanku melainkan mengalihkan pertanyaannya kepada Sekretaris Desa, “Apa ada di antara penduduk desa ini yang merupakan anggota TNI?”

“Ada satu orang Pak, tapi dia sudah jadi tentara di Surabaya dan belum kembali ke sini sejak bertahun-tahun yang lalu,” jawab Sang Sekdes.

“Memangnya kenapa Pak?” tanyaku.

“Dokter menyatakan sepertinya Pak Nardi tewas karena seseorang meledakkan perutnya.”

Baik aku maupun Sang Sekdes sama-sama mengernyitkan kening. “Maksud Bapak dengan semacam ... granat begitu?” tanya Sang Sekdes.

Sang Polisi mengangguk, “Dan tampaknya granat itu meledak dari dalam perut Pak Nardi.”

*****

Malam itu desas-desus mulai tersebar di antara penduduk. Beberapa penduduk mulai menghubung-hubungkan kematian Pak Nardi dengan kemunculan Pulung Gantung – sebuah cahaya merah yang melintas di langit malam – dua hari yang lalu. Sama seperti masyarakat Gunung Kidul, Yogyakarta, masyarakat setempat juga percaya akan keberadaan Pulung Gantung yang lazim tampak di langit malam dalam rupa cahaya merah seperti komet yang akan jatuh di suatu tempat. Bedanya jika masyarakat Gunung Kidul percaya bahwa Pulung Gantung mendorong seseorang untuk bunuh diri, masyarakat desa ini percaya bahwa Pulung Gantung bisa membunuh siapa saja dengan cara apa saja, tak harus bunuh diri. Desas-desus yang beredar dari mulut ke mulut menyatakan bahwa Pulung Gantung bisa menandakan kematian dengan cara apapun. Apakah karena serangan jantung – yang lazim disebut penduduk setempat sebagai ‘angin duduk’, kecelakaan di kebun, atau hal-hal lainnya.

Dan kematian Pak Nardi pagi ini benar-benar membuat warga terguncang. Para pria meronda semalaman, berjaga-jaga keliling kampung sambil membunyikan tabuh-tabuhan dan membaca doa-doa dengan harapan Pulung Gantung itu segera pergi dari desa ini. Aku – yang sebenarnya berasal dari kota dan tidak percaya hal-hal semacam itu – iseng ikut meronda karena ingin tahu seberapa besar takhayul yang dipercayai masyarakat desa ini. Sudah setahun lebih aku tinggal di sini tapi baru kali ini aku melihat para penduduk desa dicekam ketakutan yang amat sangat.

“Ada Pulung! Pulung!” tiba-tiba seorang peronda berteriak-teriak menunjuk ke satu arah. Di atas rerimbunan bambu yang cukup lebat, aku dan semua yang hadir di situ menyaksikan sekelebat cahaya merah melesat di antara rerimbunan bambu lalu melanggar hukum fisika dengan tidak jatuh menyentuh tanah melainkan berputar-putar di sekeliling rumpun bambu dan tiba-tiba saja melesat ke arah kami.

Kami semua langsung berhamburan menghindari benda aneh itu tapi nasib naas menimpa seorang peronda. Pulung Gantung menabrak kepalanya dan mementalkan pemuda malang itu sejauh dua meter dari tempatnya berdiri. Sementara itu bola cahaya merah itu terus saja melesat dan menembus dua rumah berdinding batako, menimbulkan keributan yang pada akhirnya membangunkan sejumlah besar warga yang sejatinya sudah terlelap.

******

Dua hari sudah berlalu sejak peristiwa munculnya Pulung Gantung yang menggegerkan itu. Warga kini semakin ketakutan. Lewat Maghrib, jalanan desa menjadi sangat sepi. Jumlah peronda menurun drastis hingga tinggal lima orang dari yang sebelumnya 12 orang per malam. Si pemuda malang yang ditabrak Pulung Gantung itu sendiri masih tak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit kabupaten.

Tapi sore itu kami semua mendapat kejutan baru. Si pemuda yang sempat dihantam pulung itu tiba-tiba muncul di rumah kepala dusun dan berteriak-teriak bak orang gila. “Heiii!!! Kumpulkan kambing-kambing kitaa!!! Lalu bunuh!! Bunuh semua kambing-kambing kita! Jangan sisakan satupun! Ada setan dalam tubuh kambing-kambing kita!”

Pak Kepala Dusun bersama sejumlah pemuda desa tampak berusaha menenangkan si pemuda itu ketika aku keluar untuk melihat keributan tersebut. Tapi si pemuda yang masih mengenakan pakaian pasien rumah sakit itu malah semakin keras berteriak, “Pulung Gantung! Pulung Gantung! Pulung Gantungnya masuk ke kandang! Setannya masuk ke kandang!”

Si pemuda itu kemudian berlari masuk ke kandang kambing milik Iwan sembari meraih sebuah cangkul yang tergeletak di sisi kandang lalu mulai membacoki seekor kambing hingga kambing itu mengembik lirih.

“Mas Dayat! Tolong bantu!” Pak Kepala Dusun segera memberi isyarat padaku untuk membantu mereka menghentikan pemuda itu. Sontak saja aku dan beberapa warga berlari ke arah pemuda kalap itu dan mencoba menahan tangan dan kakinya.

Bukan tindakan yang mudah karena pemuda itu terus menerus meronta. Seorang bapak bahkan sempat ditendang kuat oleh pemuda itu. Baru setelah sejumlah anggota Karang Taruna datang, barulah si pemuda kalap itu bisa dibelenggu dan dibawa ke Puskesmas Desa.

Sementara itu Iwan, sang pemilik kambing yang dibacoki oleh pemuda kalap tadi hanya bisa termenung menatapi jasad kambing miliknya yang sudah tak bernyawa itu. Para pria dewasa yang ada di sana pun ikut termenung, membayangkan betapa kehilangan seekor kambing bagi Iwan dan keluarganya juga berarti kehilangan jatah belanja untuk sebulan. Setelah berunding sejenak, sejumlah pria dewasa dan pemuka dusun bersepakat untuk ‘membeli’ kambing yang mati itu.

*****
Seminggu kemudian kami mendapat kabar bahwa pemuda kalap yang mengamuk tempo hari itu akhirnya meninggal karena pecah pembuluh darah di rumah sakit. Warga pun kini menjadi semakin ketakutan karena Pulung Gantung yang meneror desa mereka itu ternyata bisa juga menyakiti secara langsung, yakni membuat seorang pemuda yang awalnya baik-baik menjadi gila dan akhirnya mati mengenaskan. Orang-orang pun makin rajin mengadakan pengajian guna memohon pertolongan pada Sang Kuasa, meski jalan mistik seperti mengundang ‘orang pintar’ pun tetap mereka lakukan.

Aku, yang awalnya skeptis soal bahaya Pulung Gantung kini mulai bertanya-tanya. Mata kepalaku sendiri sudah melihat benda itu menyakiti seseorang secara fisik dan menimbulkan sejumlah kerusakan. Benda itu jelas bukan fenomena cahaya kimia gas metana ataupun fosfor. Memikirkan soal benda aneh ini ingatanku tiba-tiba tertuju pada ‘teori gila’ yang pernah diajukan seorang temanku yang maniak UFO saat kuliah dulu.

“Alien ada di sekitar kita!”

*****

Idul Adha pun tiba dan orang-orang mulai bisa sedikit melupakan kejadian-kejadian naas yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Sekarang semua warga dusun yang ada berkumpul di lapangan bola yang letaknya berseberangan dengan SD tempatku mengajar, berkumpul bersama untuk menyembelih hewan kurban.

Penyembelihan awalnya berlangsung wajar sampai seorang tukang jagal berceletuk kepadaku, “Wah Pak, kok di darah kambingnya ada yang tajam-tajam ya?”


message 24: by Manikmaya (last edited Oct 11, 2014 05:37AM) (new)

Manikmaya | 1098 comments “Maksud Bapak?” aku mendekati tukang jagal itu dan ia menunjukkan kepadaku benda-benda keras yang bercampur dengan darah kambing. Benda itu berbentuk seperti jarum untuk menjahit pakaian dan berwarna merah. Nyaris tak terlihat jika mata tidak jeli.

“Apa ini Pak?” tanya si tukang jagal kepadaku.

“Entahlah Pak, mungkin hanya gumpalan darah biasa.”

Sekarang aku sungguh menyesali kata-kataku waktu itu.

*****

Malam hari itu semua orang memasak makanan dari daging kurban. Pak Kepala Dusun mengundangku ke rumahnya untuk makan bersama. Aku pun menyanggupinya dengan senang hati dan di sana aku sangat menikmati masakan olahan daging sapi istri Sang Kepala Dusun. Aku tidak sempat menyentuh olahan daging kambingnya karena ada beberapa putra Pak Kepala Dusun yang sudah keburu menghabiskannya.

Sekilas acara makan malam itu tampak normal-normal saja. Seusai makan malam, Pak Kepala Dusun mengajakku mengobrol di teras rumahnya sambil minum kopi dan merokok. Baru dua puluh menit, mengobrol tiba-tiba Pak Kepala Dusun terlihat seperti sesak nafas. Matanya membeliak seperti hendak keluar dari rongga matanya dan bicaranya tak jelas, terbata-bata. Aku segera bangkit berdiri dan memanggil-manggil istri beliau namun di sana aku temukan istri dan putra-putra beliau juga mengalami kondisi serupa. Seorang dari putra beliau bahkan tampak kejang-kejang di lantai.

Aku langsung berlari ke arah telepon, mengangkat gagangnya lalu memutar nomor rumah dokter puskesmas di telepon milik Pak Kepala Dusun. Tapi setelah menelepon berkali-kali, tetap saja tak tersambung. Aku kemudian berlari ke rumah-rumah warga lainnya dan menggedor satu per satu rumah-rumah warga namun tak ada satupun yang membukakan pintu. Yang kudapati berikutnya malah seorang ibu paruh baya yang berjalan tertatih-tatih ke arahku dengan mulut yang bernoda darah.

“Tolong Pak ... anak saya ... suami saya,” itulah kata-kata terakhir ibu itu sebelum perutnya meledak dan darah merah yang berbau amis – seperti darah yang sudah dibiarkan cukup lama di udara terbuka – menghambur ke wajah dan bajuku.

Aku terpana selama beberapa saat sebelum akhirnya berlari ke arah pos kamling dan memukul kentongan keras-keras sambil berlari keliling kampung.

*****

Aku tidak ingat sudah berapa lama aku memukul-mukul kentongan ini sambil berlari-lari keliling kampung. Rasanya sudah cukup lama tapi tak ada satupun warga yang muncul. Frustasi, akupun kembali ke rumah Pak Kepala Dusun dan di sana aku menemukan seluruh isi perut keluarga itu telah tumpah ruah mengotori lantai rumah mereka. Tak ada yang bertahan hidup.

Aku bergidik ketakutan, kucubit diriku untuk meyakinkan diriku apakah aku sedang bermimpi atau sadar penuh. Sakit! Aku sadar! Ini semua bukan mimpi.

Dalam kekalutanku aku memutuskan untuk kembali ke rumah, menyalakan sepeda motorku lalu memacunya kencang-kencang ke balai desa untuk mencari pertolongan. Ketika sepeda motorku mencapai tapal batas dusun, tiba-tiba saja di tengah kegelapan aku mendengar suara sejumlah kambing mengembil di kiri dan kanan jalan. Suara itu semakin lama semakin keras hingga akhirnya dua ekor kambing tiba-tiba saja sudah berdiri di tengah jalan.

Aku mencoba mengerem sepeda motorku namun hal itu malah membuat sepeda motorku tergelincir dan aku terlempar ke selokan.

*****

Aku mencoba bangkit dan keluar dari selokan itu meski seluruh tubuhku terasa sakit, terutama di lutut kiriku yang tampaknya terkilir. Saat aku mencapai jalanan aspal tadi, kulihat dua ekor kambing yang tadi berdiri di tengah jalan menghampiriku.

Sebentar ... ! Ada yang aneh dengan kambing-kambing ini! Mata mereka memancarkan cahaya hijau dan ketika mereka melintasi satu dari sedikit lampu jalanan yang dipasang di jalan ini, tampak mulut mereka memiliki gigi-gigi tajam.

Langkah mereka pun kini menjadi semakin cepat bahkan cenderung sedikit berlari. Aku pun langsung memaksa diri berlari ke arah ladang jagung yang berada di sisi kanan jalan dan berusaha menyembunyikan diri dari kejaran mereka. Tapi dari embikan mereka, aku langsung tahu dua kambing – yang entah bagaimana telah bermutasi ini – masih mengejarku. Aku terus berlari secepat yang aku bisa sampai tiba-tiba aku tersandung sesuatu.

Aku terjerembab dan saat aku menoleh, aku melihat jasad seorang petani yang isi perutnya juga telah tumpah. Sebuah arit tergenggam di tangan jasad itu dan tanpa pikir panjang aku pun mengambilnya. Dua ekor kambing monster itu tiba-tiba saja sudah berada tak jauh dari diriku. Mulut mereka menyeringai, memamerkan deretan gigi tajam yang tidak seharusnya dimiliki kambing, kemudian mereka menyerang. Aku menyabetkan arit di tanganku dengan membabi buta dan satu kambing terlempar lalu terjerembab sementara satunya lagi bernasib naas, lehernya tertemus arit yang kugenggam dan segera saja aku menarik arit itu keras-keras ke arah kepalanya, membuat leher hingga mata kiri kambing itu kini terbelah. Kambing itu mengeluarkan suara melengking tinggi sebelum akhirnya berlari menjauh bersama temannya.

*****

Sepeda motorku rusak dan tak bisa dinaiki, sehingga aku terpaksa berjalan kaki ke Dusun Randu. Saat aku sampai di Dusun Randu, suasananya amat lengang meski sudah menjelang subuh. Aku berjalan tertatih-tatih ke musholla dengan harapan bisa menemukan seorang ada di sana untuk mengumandangkan azan.

Sayangnya harapanku itu harapan kosong. Yang kutemukan di sana hanyalah jasad seorang garin tua yang juga sudah meledak isi perutnya. Bedanya ... kali ini aku menyaksikan tumpahan isi perutnya yang menodai lantai depan musholla perlahan-lahan membentuk sosok abstrak. Mula-mula wujudnya tidak jelas, seperti amoeba, tapi kemudian wujud itu berubah menjadi sosok berkaki empat, berbulu, bertanduk, dan bertelinga lebar menggantung. Wujud seekor kambing!

Aku langsung mengambil sebuah sapu dan mendekati kambing jadi-jadian itu lalu memukulinya. Kambing itu mengelak, tidak seperti kambing buas yang kutemui di ladang jagung tadi. Tapi aku tak mau ambil resiko. Aku mengejar kambing yang berusaha lari itu dan berhasil memojokkannya ke sebuah kamar mandi lalu memukulinya sampai mati. Setelah itu, dengan sisa tenagaku, aku mencari sepeda kayuh di antara rumah-rumah penduduk dan begitu mendapatkannya, aku langsung memaksa diriku mengayuh sepeda itu ke ibukota kabupaten.

Sampai di sana, aku mendatangi kantor kecamatan, memaksa diri menemui Pak Camat meski sejumlah petugas mencoba menghalangiku karena bajuku yang bernoda darah. Saat Pak Camat keluar dari ruangannya , aku langsung meronta dan membebaskan diri lalu mencengkeram kerah baju Pak Camat dan memaksa pria berkumis tebal itu mendengarkan ucapanku, “Pak! Bapak harus musnahkan seluruh kambing yang ada di desa kami! Semuanya! Jangan sisakan satupun!”

Cuma itu yang bisa kukatakan karena setelah itu kesadaranku hilang akibat dipukul seorang petugas Satpol PP.

*****

Saat tersadar kembali, aku telah berada di sebuah ruangan serba putih. Aku mencoba menggerakkan tangan dan kakiku, namun tak bisa. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dan mendapati seorang dokter beserta sejumlah perawat pria ada di samping tempatku berbaring.

Si dokter itu menyatakan bahwa aku telah dijadikan tersangka pembunuhan seluruh warga Desa Randu. Aku mencoba membantah tuduhan itu dengan mengatakan bahwa ada Pulung Gantung yang tampaknya bukan merupakan kehidupan dari bumi telah membuat kambing-kambing di desa kami bermutasi dan membunuh seluruh warga desa tapi dokter itu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa diriku positif mengalami gangguan jiwa.

Dokter itu kemudian menyuruh para perawat itu membelenggu diriku di tempat tidur dan membiarkan aku sendirian selama beberapa jam.

Menjelang maghrib aku mendengar suara pintu terbuka, aku menoleh, berpikir bahwa itu adalah sang dokter atau sejumlah polisi yang hendak menginterogasi diriku atas kesalahan yang tidak aku lakukan. Tapi ternyata yang ada di depan pintu itu bukanlah manusia, melainkan seekor kambing putih, dengan deretan gigi tajam di mulutnya.

“MBEEEEEKK!!” Kambing itu mengembik keras sebelum menerjang ke arahku ... dan mengakhiri hidupku dengan sebuah gigitan di leher.

==00==


message 25: by Tomi Sularso (last edited Oct 10, 2014 10:14PM) (new)

Tomi Sularso | 45 comments Datangnya Maut

Kemarin malam saya bermimpi melihat bintang jatuh. Saya menyaksikan bagaimana bintang itu melaju begitu kencangnya, begitu kalapnya, hingga ia tabrak dan mangsa segala yang mengusik larinya tanpa pandang bulu. Saya tidak dapat hitung berapa planet yang ia telan, berapa bulan yang lebur menyatu dalam tubuh hitam redupnya. Semua lenyap. Habis tak bersisa. Kini ia tinggal sendiri saja. Ia, dan alam semesta nan gelap gulita.

Bintang itu lalu menghadap tepat ke wajah saya. Memandang saya demikian lama, meski saya tahu benar ia tak punya muka apalagi mata laiknya seorang manusia. Kemudian bintang tersebut berbisik pada saya,

Nama saya Mebius.

“Mimpi yang aneh.”

“Saya juga heran,” jawab saya seraya menyalakan rokok, “tapi bukankah mimpi selalu tak bisa dinalar.”

Istri saya, Rahayu, adalah orang yang yakin bahwa setiap kejadian di muka bumi ini menyimpan makna serta maksud tersembunyi. Rahayu seperti memiliki dorongan berlebih sejak lahir untuk senantiasa mengaitkan hal-hal yang dijumpainya dengan dua jawaban mutlak yang bersifat hitam-putih. Jika baik perbuatan Tuhan, jika buruk ulah setan. Jujur, kadang saya sempat berpikir kalau Rahayu sebetulnya agak kurang waras, atau setidak-tidaknya agak kurang cerdas.

“Mungkin itu wahyu Tuhan,” ucap Rahayu sambil menyuguhkan secangkir teh panas di meja saya, “atau jangan-jangan mimpimu dimasuki setan.”

“Siapa yang tahu. Bukan mustahil mimpi saya cuma kembang tidur biasa,” saya mengangkat bahu, “jika saya mampu mengartikan mimpi, sekarang saya sudah jadi nabi,”

Saya diam sejenak dan melanjutkan,

“Yah. Jangan terlalu dipikirkan. Mimpi – betapapun hebatnya – tidak akan lebih dari mimpi. Nanti juga lupa sendiri.”

***

Memang saya telah berkata demikian, tetapi bayangan tentang Mebius masih melekat kuat dalam benak saya. Bisikan namanya berdengung tiada henti menghantui telinga, laksana kaset yang rusak dan terjebak di satu putaran suara: nama saya Mebius, nama saya Mebius, begitu terus berulang-ulang tanpa ada jeda. Saya mencoba mengalihkan pikiran dengan bekerja, namun panggilan sang bintang justru semakin lantang bergaung dan menjajah isi kepala saya. Bahkan, lembar-lembar dokumen yang bertumpuk di depan mata saya nampak menata ulang huruf-huruf yang ditulis pada diri mereka sendiri, dan masing-masing berebut mengaku sebagai Mebius, Mebius, Mebius.

Saya melirik jam. Masih pukul satu siang, walau begitu saya merasa seakan habis lembur seharian. Sekujur badan saya lemas dan tenaga amblas terkuras, sementara kantuk yang perlahan tiba mulai menggoda kesadaran saya agar jatuh terlelap, terseret tenggelam menuju alam mimpi di mana Mebius hidup dan memangsa jagat raya.

Kemudian saya bertemu kembali dengan dia.

***

Mebius menganggap bahwa ialah sang malaikat kematian. Setidaknya, hanya itu yang Mebius ingat sejak ia pertama diciptakan. Ia lahir tanpa tahu siapa yang membuat dirinya. Mungkin Tuhan. Mungkin setan. Mungkin pula entitas agung lain yang mustahil saya jelaskan karena batasan saya selaku seorang manusia. Apakah Mebius utusan Tuhan atau kaki tangan setan atau sesuatu yang lain, ia tak acuh. Mebius paham, sudah kodratnya buat menghancurkan semesta. Karena bila tidak, atas alasan apa ia ada?

Mau tak mau saya menjadi semakin penasaran. Baru kali ini saya berjumpa dengan makhluk sejanggal Mebius. Segala hal tentang Mebius serba berlawanan, tanpa ada titik temu bagi saya untuk menyimpulkan ia dalam dua jawaban: baik atau buruk. Semisal Rahayu yang didatangi Mebius dan bukan saya, berani taruhan Rahayu sekarang sudah masuk rumah sakit jiwa.

Saya tahu Mebius bukan Tuhan. Ia diciptakan dan tidak mampu menciptakan. Justru ialah perwujudan maut yang mustahil dihindari apalagi dikalahkan. Mebius adalah antitesis Tuhan, dan musuh seluruh jenis kehidupan. Ia musuh saya, sebab saya pun makhluk hidup biasa yang secara alami takut pada kematian.

Namun saya tak bisa tidak mengagumi Mebius, sebab saya pun makhluk hidup biasa yang secara alami takjub pada kekuatan. Bom atom pertama di Hiroshima buktinya, yang menghantam bumi dengan dahsyat hingga porak-poranda, adalah simbol dari hasrat manusia yang mendambakan kekuatan. Mebius pun sama dan jujur saja, diam-diam saya iri dan sungguh ingin hidup seperti dirinya.

Sekonyong-konyong sosok Mebius luntur menghilang dan sekeliling saya tiba-tiba menjadi luar biasa ramai oleh hiruk-pikuk ribuan manusia. Di mana saya? Entahlah. Saya tak tahu dan tidak merasa perlu tahu. Lagipula bukankah semua ini cuma bagian mimpi saya semata. Kenapa saya perlu takut pada hal-hal yang tidak nyata? Maka dari itu saya tenang dan tiada dirundung gamang.

Saya menengadah ke langit yang hitam pekat serupa tinta yang tumpah ruah membanjiri cakrawala. Sejenak saya mengira pagi telah usai berganti malam, tapi jarum arloji di tangan saya masih di angka satu siang. Saya tidak menemukan matahari. Hanya gelap yang membutakan mata, dan hampa yang mengendap merayap bagai tirai raksasa yang turun membalut dunia. Apakah ini gerhana? Namun setahu saya, gerhana cuma timbul sebentar saja. Gerhana bersifat sementara dan tidak berlangsung lama—

Lihat ke atas.

Dan segera saya paham bahwa hilangnya terang tidaklah berkat gerhana. Matahari sudah sirna, seperti lampu pijar yang hangus filamennya. Matahari tewas dimangsa. Pelakunya adalah bintang hitam yang kini melayang di angkasa dan semakin mendekat, semakin membesar setiap detiknya, lalu tak lama lagi ia akan menyentuh bumi dan melahap segalanya...

Mebius telah datang.

Bulu kuduk saya berdiri serentak dan tulang-tulang yang menyangga tubuh saya bergetar hebat. Jerit pekik ngeri yang tadinya gegap-gempita pun mendadak terpukau bungkam. Kami semua diam dan tak sanggup bersuara. Takut perlahan muncul merasuki segenap hati manusia, menjalar dan membangkitkan bayangan-bayangan kelam yang terpendam dalam setiap jiwa. Berkali-kali saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa Mebius tak pernah lebih dari mimpi, sebuah ilusi yang bakal musnah seketika saat saya bangun dan membuka mata... tapi betapa wujud Mebius nampak demikian hidup dan nyata, sampai saya dapat merasakan gemuruh deru napasnya, detak urat nadinya, dan wajah, wajah itu!

Muka demi muka manusia tumbuh berkerumun di sekujur badan Mebius. Ribuan. Jutaan. Entah berapa jumlahnya, saya tidak bisa menghitung pasti. Mebius terus mendekat dan langit pun runtuh menyapu saya, menyapu kami semua, dan wajah-wajah Mebius jatuh laksana hujan badai yang mengguyur dunia beserta seluruh isinya.

Saya tak dapat melihat apa-apa kecuali gelap yang membunuh segala indera. Mata saya menjadi buta, telinga ini tuli. Saya bahkan tak tahu apakah saya masih hidup atau sudah mati. Hanya satu hal yang saya tahu, kalau saya kini hanya sendiri, sendiri dalam pusaran hitam yang abadi.

Saya berlari dan terus berlari, tapi ke mana lagi? Cengkeraman Mebius telah turun menjamah bumi, hendak sembunyi ke mana saya ini? Di segala penjuru mata-mata Mebius tiada hentinya mengawasi, dan muka-muka tanpa nama merubung menghadang setiap langkah kaki, mencegah saya untuk kabur dari maut yang datang menjemput diri. Tidak ada jalan keluar. Takdir saya sudah terkunci rapat.

Meski begitu saya tetap berlari, terus berlari, walau tubuh terasa makin berat dan napas sesak tercekat. Mungkin, mungkin, jauh di lubuk hati saya ingin percaya kalau mimpi ini akan usai jika saya terus berlari. Konyol, memang. Tapi akal saya terlanjur dikuasai naluri, menuntut kaki agar terus melaju entah ke mana saya pun tak mengerti. Cuma satu kata yang bergejolak dalam benak: kabur, kabur, kabur. Saya tidak mau mati – tidak di sini, tidak di mimpi saya sendiri.

Namun Mebius, dengan mata yang mengetahui segalanya, menemukan saya. Dan segera wajah-wajah Mebius menukik-menerjang, hingga saya tak bisa memandang apa-apa selain muka-muka hampa yang terjun memburu saya. Panik. Tangan saya kibaskan kuat-kuat demi menghalau serbuan mereka. Tapi tenaga manusia pun punya batasan, dan letih yang kian mendera badan membuat saya limbung kepayahan. Saya tak berdaya melawan. Justru para utusan Mebius semakin ganas menyerang, gigi mereka terpampang lebar berniat menghabisi jiwa-raga saya sampai lebur tiada bekas. Mulut demi mulut menggigit rakus setiap jengkal tubuh saya... kaki lenyap ditelan, kedua tangan hilang dimakan! Dan hal yang paling mengerikan adalah saya tidak merasakan sakit, sama sekali tidak! Lalu apakah saya ini sudah terbujur mati, dan dikutuk untuk selamanya terperangkap dalam mimpi buruk yang tak bakal usai berhenti? Ya, bukankah itu yang paling menakutkan bagi manusia: neraka abadi?

Kemudian jutaan muka beterbangan bagai gelombang pasang yang menggempur beringas bermaksud membinasakan saya, dan tepat sebelum ajal tiba merenggut nyawa;

Sekilas saya melihat wajah Rahayu di antara mereka.


message 26: by Tomi Sularso (last edited Oct 10, 2014 10:13PM) (new)

Tomi Sularso | 45 comments “—He, bangun.”

Sontak saya terkesiap. Ada apa ini. Di mana saya sekarang? Mata mengerjap-ngerjap dan jantung berpacu luar biasa cepat. Keringat dingin mengalir deras membasahi kemeja yang saya pakai. Mendadak pertanyaan-pertanyaan timbul membanjiri kepala saya, dan saya menoleh ke kiri dan ke kanan berkali-kali seperti orang linglung.

“Diajak bicara malah tidur. Bagaimana sih,” saya mendengar suara yang tak asing lagi di telinga saya, dan betapa saya amat bersyukur ketika mendengar suaranya, “sudah sadar belum? Ini, minum dulu.”

Perempuan itu berbicara sembari menyodorkan segelas air yang langsung saya tenggak sampai habis.

“Di mana, di mana kita sekarang?”

“Ha? Tentu saja di rumah. Di mana lagi?”

“Katakan lagi.”

“Di rumah. Ya ampun, ada a—“

“Puji Tuhan.”

Spontan saya memeluk perempuan itu erat-erat, dan sungguh hati saya terasa lega serta bahagia saat saya berpagutan dengan dirinya. Dengan Rahayu.

“Ah, kenapa sih kamu ini?” saya melihat pipi Rahayu merona merah dan ia tersenyum heran. Manis sekali. Tanpa sadar air mata saya mengambang.

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” saya menjawab seraya tertawa lirih, “tidak ada apa-apa.”

Kami berdua diam sejenak. Rahayu nampak masih bingung oleh tingkah saya, dan saya sendiri tak ingin berkata apa-apa... fakta bahwa saya berdiri di sini, hidup dan mendekap istri saya sendiri – itu sudah lebih dari cukup.

“Ada-ada saja,” Rahayu ikut tertawa, “oh ya. Aku jadi ingat. Tadi siang, ada kejadian aneh, lho.”

“Hm. Aneh bagaimana?”

“Ya... sebelum berangkat kerja, kamu bilang kamu bermimpi aneh, kan?”

Tiba-tiba darah saya berdesir dan bayangan tentang Mebius perlahan kembali muncul mengaduk-aduk benak. Batin saya bergejolak mengingat bagaimana Mebius telah memusnahkan segenap umat manusia semudah menarik dan menghembuskan napas. Tapi bukankah Mebius hanya ada di khayalan saya semata? Kenapa Rahayu ingin mengungkit mimpi saya?

“Bintang hitam yang kamu ceritakan waktu kita berdua sarapan. Sebetulnya...”

“Siang tadi, aku juga memimpikan dia. Si Mebius itu.”

Jantung saya seakan berhenti.

“Ha-hah? Jangan bicara yang bukan-bukan. Kalau kau bercanda, ini tidak lucu, Rahayu.”

“Aku serius! Aku memandangnya dengan mata kepalaku sendiri,” ucap Rahayu yang kemudian menyalakan televisi, “dan bukan cuma aku saja. Lihat berita hari ini.”

Dan apa yang dikatakan Rahayu memanglah kenyataan. Semua saluran televisi, baik di negara ini ataupun di benua-benua asing yang terpisah samudra, semua memuat berita yang sama: suatu fenomena ganjil yang sulit dicerna namun dialami oleh begitu banyak orang di seluruh dunia... yaitu sebuah mimpi kolektif umat manusia yang meramalkan sosok bintang hitam yang menamai dirinya—

Saya banting televisi itu keras-keras hingga jatuh menghantam lantai. Rahayu berteriak, tapi saya tak peduli. Lagipula apa artinya peduli? Entah nanti malam, entah besok, entah tahun depan – Mebius akan sampai di bumi dan segalanya, segalanya, baik saya maupun anda, akan sirna seketika... dan saat itu terjadi bahkan liang kubur sekalipun mustahil menyelamatkan kita, dari kekosongan kekal yang dibawa oleh datangnya maut.

Lalu, lalu mau dibawa ke mana jiwa kita, tatkala surga dan neraka sekalipun turut dimangsa kematian? Apakah dilaknat untuk terombang-ambing berkelana selamanya di jagat raya? Ataukah melarung dan menyatu bersama Mebius, menjadi setitik wajah dari sekian banyak nyawa yang sudah ia hancurkan?

Tak ada yang menjawab.

Dan televisi yang rusak-pecah terus memutar bunyi statis yang sama, menyanyikan nama Mebius, Mebius, Mebius...


message 27: by Satyacaraka (last edited Oct 13, 2014 07:34AM) (new)

Satyacaraka | 172 comments Dia yang Berasal dari Bulan

Tiga minggu yang lalu, sesosok mayat wanita ditemukan tergeletak di bulan.

Awalnya, para astronom mengira itu hanya batuan bulan yang wajar. Setelah mereka mengamati lebih lanjut, mereka menemukan bahwa itu adalah seorang wanita dengan gaun keperakan yang tipis dan panjang, menyatu dengan warna bulan yang mencapai fase penuhnya. Kelompok astronom itu pun segera mengadakan operasi mendarat ke bulan dadakan untuk mengidentifikasi mayat yang misterius tersebut.

Saat mereka berhasil menemukannya, mereka terkejut: wanita itu tersenyum kaku; lebar dan menakutkan. Kedua matanya terbuka lebar, menampakkan bulatan berwarna biru jernih di bagian kanan dan kuning keruh di kiri. Giginya yang kuning tertata rapi di antara bibir abu-abunya. Rambutnya yang hitam panjang terurai ke berbagai arah melambai dengan sangat pelan seirama dengan gaun peraknya. Terlepas dari itu, hal yang membuat astronom-astronom itu heran dengan mayat itu adalah mengapa badannya lemas dan tetap utuh di ruang vakum dengan tekanan udara nol, tanpa terbakar oleh radiasi surya, pula.

Mereka pun mengambil mayat tersebut dan menyimpannya di sebuah tabung khusus, lalu membawanya serta ke bumi.

Saat mereka mengeluarkan mayat tersebut, mereka terkejut bahwa bobotnya hampir sama dengan saat mereka temukan di bulan. Saat akan membaringkannya di atas meja otopsi, wanita itu malah melayang bebas. Ternyata dia tidak tunduk pada hukum gravitasi. Hal aneh lainnya adalah beberapa menit setelah dia diikat di atas ranjang khusus itu, matanya menguap perlahan menjadi asap biru dan kuning yang pekat, yang semakin lama semakin cepat dan menyelimuti seluruh ruangan. Para ahli forensik segera terbatuk-batuk dan meninggalkan ruang tersebut.

Beberapa menit setelah mereka menyalakan kipas ventilasi ekstra, para ahli kembali memasuki ruang otopsi yang kini sudah bebas dari asap. Senyum wanita itu tampak semakin mengerikan tanpa bola matanya. Mereka mulai membedah dan meneliti setiap senti mayat tersebut.

Hingga beberapa jam berikutnya, mereka sampai pada konklusi bahwa mayat itu benar-benar manusia. Setiap sel, jaringan dan organnya memang sama dengan milik manusia normal pada umumnya. Dari peluruhan radioaktif, mereka juga menemukan bahwa umur mayat itu masih sekitar empat hingga lima puluh tahun. Gaun peraknya juga terbuat dari bahan yang sama dengan yang diproduksi di bumi. Misteri mengapa wanita itu bebas dari gravitasi dan tetap utuh di luar angkasa masih belum terpecahkan.

Jangankan itu, asal-usulnya saja masih menjadi tanda tanya yang sangat besar.

Lima hari setelah penelitian, berita tentang Wanita dari Bulan itu segera mengglobal. Secara pesat, dia menjadi bahan pembicaraan nomor satu di setiap media massa. Dia juga menjadi bahan diskusi hingga perdebatan alot diantara para ilmuwan. Nasibnya kini terkurung tanpa busana di sebuah tabung transparan khusus dengan bekas jahitan di perut, dada dan kepala, menakuti setiap peneliti yang berpaling ke arahnya.

Beberapa hari setelah itu, dunia kembali digemparkan oleh penemuan mayat wanita kedua dengan gaun perak yang sama, tersangkut di antena sebuah satelit komunikasi. Mereka pun menjadi fenomena angkasa luar yang mampu menggeser keberadaan alien. Asumsi-asumsi liar yang tersebar di situs-situs penggemar teori konspirasi mengatakan bahwa ada manusia lain di luar bumi.

Namun, sebelum wanita kedua diteliti, sesuatu terjadi.

Seorang ahli forensik yang juga meneliti wanita pertama tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Lalu diikuti ahli yang kedua, dan ketiga hingga ketujuh. Suasana ruang otopsi yang tenang seketika pecah menjadi ruangan penuh tawa. Tawa mereka memang terdengar menular, tapi sangat jelas bukan tawa yang wajar.

Dalam beberapa jam, tawa mereka menyebar seperti wabah. Radius sepuluh kilometer dari tempat tersebut mulai tertawa terbahak-bahak. Orang-orang tidak tahu hal lucu macam apa yang membuat mereka tertawa. Mereka ingin berhenti, namun tak ada kuasa untuk itu.

Bahkan hingga keesokan harinya, orang-orang masih saja tertawa terpingkal hingga menangis. Mereka benar-benar tidak ingin tertawa lagi untuk beberapa waktu, jadi mereka pun melakukan segala cara untuk menghentikannya, mulai dari mendekam di tempat gelap yang menyeramkan hingga menenggelamkan wajah mereka ke dalam air.

Nihil.

Bahkan beberapa dari mereka mulai bertindak nekat. Mereka secara berpasangan memukul perut dan hidung satu sama lain dengan pemukul bisbol. Beberapa yang lain malah mencakar-cakar wajahnya sendiri karena tak tahan dan muak mendengar gelak tawanya sendiri, hingga wajah mereka menjadi tak berbentuk.

Seratus tujuh puluh delapan korban tewas bunuh diri dengan berbagai cara.

Tim medis dan sekelompok peneliti mulai mengamati patologis wabah aneh tersebut, tetapi tak menemukan apapun. Mereka sangat yakin bahwa asap dari mata wanita tersebut yang menyebabkan semua kekacauan itu, namun mereka tak menemukan bukti apapun yang mendukungnya; tak ada kelainan apapun ditemukan pada korban.

Mereka pun memutuskan untuk tidak ingin mengambil resiko dengan menyentuh wanita kedua yang masih tersimpan di dalam tabung dengan bola-bola matanya yang utuh.

Dan sekarang, hari ini, sekelompok mayat wanita dengan gaun keperakan sedang melayang-layang di penumbra bumi. Jumlah mereka meningkat sangat tajam sejak manusia menemukannya. Dua puluh tiga senyum kaku yang mencekam sedang berada dalam perjalanannya menuju planet di hadapannya dimana dua sosok yang lain ditahan.

Mungkin seharusnya umat manusia tak pernah berurusan dengan mayat-mayat wanita itu.

Mengapa tidak? Itulah yang kuinginkan! Sekarang aku hanya tinggal menunggu waktu sampai seluruh bumi terbahak-bahak.


message 28: by Biondy (last edited Oct 10, 2014 01:10PM) (new)

Biondy | 773 comments Messages

Buku “Sejarah untuk Kelas X” terbuka di pangkuanku. Berkali-kali aku membaca materi untuk UTS besok, tapi tetap saja tidak ada yang bisa masuk di kepalaku. Mataku mulai sayu dan aku tersadar bahwa aku membaca baris yang sama berulang-ulang.

Aku menarik napas, memejamkan mata sesaat, lalu sekali lagi menelusuri paragraf yang membahas tentang folklor menurut Jan Harold Brunvard, seorang ahli folklor dari Amerika.

“Sialan. Aku menyerah!”

Aku menutup buku itu dan mencampakkannya ke lantai. Kuhempaskan kepalaku di bantal sambil mengomel.

“Sebodo amat deh sama ujian besok.”

Kudengar bunyi bergetar dari saku jaketku. Aku bangkit berdiri dan mengeluarkan ponselku dari jaket yang tergantung di belakang pintu. Kulihat ada notifikasi pesan yang masuk di salah satu aplikasi.

Ajakan bermain game, ajakan mengikuti undian berhadiah dengan mengundang teman. Saat kupikir tidak ada yang penting, kulihat ada pesan dari Si Gembul, salah seorang teman kelasku.

Gembul tentu saja bukan nama aslinya. Nama sebenarnya adalah Andre, tapi tubuhnya yang besar dan gemuk membuatnya memperoleh nama panggilan baru. Karena dia sendiri tidak keberatan dengan nama panggilannya, jadilah Andre lebih dikenal dengan sebutan Gembul.

Saat kubuka, kulihat ada obrolan bertubi-tubi datang dari anak itu.

Gembul: Van, lo gak akan percaya ini.
Gembul: PIRING TERBANG, VAN! PIRING TERBANG!
Gembul: ADA PIRING TERBANG DI LANGIT, VAN! GUE LIHAT SENDIRI!
Gembul: Van? EVAAANNN!!
Gembul: Gue bakal ikutin mereka Van.

Aku bengong. Gila nih anak. Dia sampai sebegitu stresnya karena ujian besok? Memang sih, materi UTS sejarah dan geografi itu banyaknya minta ampun, tapi apa dia perlu melakukan ini untuk melarikan diri dari kenyataan?

Aku membalas pesannya:

Evan: Bul, gue tahu UTS besok itu berat.
Evan: Tapi ingat orang tua lo yang sudah susah payah ngebesarin lo, Mbul.
Evan: Kasihan mereka kalau anak semata wayangnya jadi gila kayak gini.

Sepuluh menit kemudian, barulah datang pesan balasan dari Gembul.

Gembul: Gue nggak gila Van.
Gembul: Beneran ini.
Gembul: Mereka turun di daerah apartemen gagal itu.

Apartemen gagal yang Gembul maksud berada di daerah pinggiran kota. Tempat itu aslinya direncanakan untuk membangun apartemen mewah kelas atas, tapi entah karena alasan apa, pembangunannya terhenti dan lokasinya dibiarkan begitu saja. Tapi kudengar belakangan ini pembangunannya sudah mulai berjalan lagi.

Aku mengetikkan balasanku.

Evan: Mbul, sudah deh. Mending lo lanjut belajar, atau tidur aja.
Evan: Gue juga udah mumet nih. Mau istirahat aja. Udah ya.

Beberapa detik kemudian, datang balasan darinya.

Gembul: Lo kok gak percaya sih sama gue?
Gembul: Nih, gue kasih fotonya.

Aku menerima gambar yang Gembul kirim. Kurasakan jantungku berdebar sedikit lebih cepat. Apa iya betul-betul ada piring terbang? Sampai-sampai Gembul ngotot seperti itu? Kubuka hasil yang kuterima.

(view spoiler)

Tidak... ada apa-apa.... Kuketikkan pesan pada anak itu.

Evan: Sompret! Gak ada apa-apa tuh! Gangguin orang aja kerjanya nih anak.
Evan: Udah dulu ya, Mbul. Gue mau tidur. Nanti abis UTS lo mau main-main gini
Evan: Gue ladenin deh.

Balasan darinya segera datang.

Gembul: Loh? Kok? Itu Van! Itu. Ada UFO segede gaban gitu masa lo gak lihat?
Gembul: Gue kirim ulang deh gambarnya.

Sekali lagi aku menerima gambar dari Gembul. Saat kubuka...

(view spoiler)

Kan! Tidak ada apa-apa.

Evan: Gak ada apa-apa, Gembuuuulll.
Evan: Grr... Iseng aja lo.

Balasan dari Gembul datang tak lama setelahnya.

Gembul: Van, tolongin gue!
Gembul: Mereka sadar ada gue
Gembul: Mrk ada 2.
Gembul: Mrk ngejar gw!
Gembul: tolonin gw

Aku membaca pesan itu sekali lagi. Oke... ya. Ada UFO berupa UTS dan sekarang ada 2 “alien” berupa sejarah dan geografi yang sedang mengejar-ngejarnya.

Evan: Udah deh, Mbul
Evan: Gue gak percaya.
Evan: Gak usah pura-pura typo segala.
Evan: Gak mempan.

Balasan dari Gembul datang. Kali ini berupa pesan dan gambar.

Gembul: Van pls tlg
Gembul: Lo ke daerh apart itu. Lo cari tmpt ini
Gembul: G sembunyi di sn.
Gembul: G ud g kuat lari lg.

Kubuka gambar yang Gembul kirim.

(view spoiler)

Kuketikkan balasanku.

Evan: Ya ampun, Mbul.
Evan: Itu gambar dari mana? Google?
Evan: Stop main-main deh!

Pesan dari Gembul seketika datang. Aku mengabaikannya. Kututup kepalaku dengan bantal. Aku berusaha agar jatuh tertidur, tapi getaran tanda pesan masuk terus-terusan sampai di telingaku. Aah, Gembul. Semangat amat gangguin orang. Kubuka pesan dari si Gembul.

Gembul: HELP!
Gembul: Pls Van!
Gembul: Mrk datang.
Gembul: Van, pls.
Gembul: Langkah kaki mereka mendekat
Gembul: Van
Gembul: Help Van.
Gembul: Please Van
Gembul: PLEASE HELP!!!

Pesannya terputus sampai situ. Kulihat pesan itu terakhir kuterima 10 menit yang lalu. Suasana hening dalam kamar meremangkan bulu romaku. Masa iya.... Ah, tidak. Gembul kali ini betul-betul sukses mengerjaiku. Kubalas pesannya.

Evan: Ok, gue nyerah.
Evan: Lo menang, Bul.
Evan: Gue percaya semua yang lo bilang.
Evan: Lo puas kan sekarang?

Aku terkejut saat benda itu bergetar di tanganku. Hampir saja ponselku terjatuh di lantai karena gerak refleksku. Untungnya tangan kiriku berhasil mencengkeramnya sebelum dia terguling dari tepi ranjang.

Kulihat ada video yang terkirim padaku. Aku mengunduh video itu, lalu membukanya.

(view spoiler)

Awalnya hanya ada warna hitam di layar.

“Apa-apaan sih ini?” kataku kesal.

Saat hendak menutup video itu, tiba-tiba saja ada wajah yang muncul di layar. Hanya sedetik, tapi cukup untuk membuatku terlonjak. Mata yang besar itu, bentuk wajah yang tidak manusiawi, dan warna keabu-abuannya. Itu tipikal wajah alien yang biasa ada di film-film.

Tiba-tiba saja ponselku mati. Aku berusaha menyalakannya, tapi sia-sia. Benda itu tetap hanya memberikan layar hitam padaku.

“Anjrit!” umpatku.

Kenapa lagi ini? Jangan-jangan karena video yang Gembul kirim tadi. Kuletakkan ponselku di meja. Dengan hati dongkol aku merebahkan diri di ranjang. Pokoknya aku akan mendamprat Gembul habis-habisan besok. Sudah membuang-buang waktuku, sekarang membuat ponselku rusak. Aku akan minta biaya penggantinya kalau aku bertemu anak itu.

Sayangnya aku tidak pernah lagi bertemu Gembul sejak saat itu. Dia tidak datang ke sekolah keesokan harinya. Saat aku pulang sekolah, aku mendengar kabar tentang mayat korban pembunuhan yang organ dalamnya berada di luar tubuhnya. Semua organ dalamnya.

Tidak lama setelah itu, beredar berita bahwa korban itu adalah Si Gembul. Aku pingsan saat mengetahuinya. Semua pesan darinya, lalu video itu? Apakah... Gembul benar-benar melihat piring terbang dan alien?

Tamat

(view spoiler)


message 29: by F.J. (last edited Oct 10, 2014 02:47PM) (new)

F.J. Ismarianto (rean) | 198 comments Apapun Yang Terjadi, Aku Akan Tetap Berada Di Sampingmu

Dua hal yang paling aku benci belakangan ini:

1. Meteor yang datang dari luar angkasa (ya kali, seolah-olah ada meteor datang dari dalam tanah). Eh, atau meteorit? Secara ini meteor yang lolos menembus atmosfir dan mencium permukaan Bumi dengan dahsyatnya. Saking dahsyatnya, hantaman itu membuat Bumi menjadi tempat seperti sekarang; langit ditutupi kegelapan, seakan-akan siang tidak pernah datang, tumbuhan mulai layu, dan bahan makanan... ah, kalian jelas pasti sudah bisa menebaknya, jadi buat apa aku repot menjelaskannya?

2. Dia. Seseorang yang kini membungkuk di sampingku. Oke, oke, aku bohong. Aku sebenarnya tidak membencinya. Kalau aku membencinya aku sudah memilih bunuh diri sendiri sejak dulu. Dia adalah satu-satunya alasanku masih menghirup udara beracun di dunia laknat ini. Tapi... ah, gimana jelasinnya, ya? Pokoknya "kebencian" itu bermula ketika dia menolak ajakanku yang bunuh diri itu. Jangan salah, dia tidak menolak dengan amarah yang meletup-letup, tapi dengan semangat yang menggelora. Katanya saat itu, "Hidup itu tantangan. Dengan mengakhirinya sekarang sama saja dengan kita kalah."

Coba tebak apa jawabanku? Ya, betul, aku tidak memberinya jawaban. Untuk apa? Demi agar kita terus hidup. Seperti yang dia inginkan dan maui. Dengan terus-menerus berargumen, aku takut kehilangan kesabaranku dan meneriakkan emosiku yang menggelak. Aku tidak masalah dia marah sedikit padaku, aku masih bisa minta maaf dan rayuanku, saking mautku, pasti bikin dia tak akan menunda memberiku kata maafnya. Tapi suara keras akan mengundang mereka datang. Dan kematian perlahan-lahan adalah hal terakhir kedua yang aku inginkan. Hal terakhir yang pertama--masa sih perlu kalian tanyakan?--melihatnya mati dalam penderitaan yang berabad-abad.

Suatu siang, kami menemukan rumah yang cukup terawat. Jelas ada orang yang menggunakannya. Dan jelas, pasti ada makanan yang bisa... haruskah aku menuliskannya? Oke, kami menduga ada cukup banyak makanan yang bisa kami curi. Makanan basi tidak mengapa (hari gini jangan mengharap makanan yang belum kadaluarsa, yah, kecuali kalian menemukan madu lebah asli), asal kami bisa bertemu dengan esok hari.

Rumah itu tidak dijaga.

Ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Atau para pemiliknya (oh ya, beberapa orang seringnya membentuk kelompok untuk mencari orang lainnya untuk dijadikan makanan).

Eh, apa tadi aku belum bilang kalau orang jahatnya adalah manusia? Oke, maafkan aku karena lupa. Mereka memang manusia. Orang jahatnya selalu manusia. Penyebabnya mungkin dari luar angkasa, tapi biang kejahatan di muka bumi, ya itu lagi itu lagi.

Dia berkata, "Kita masuk?"

Aku bilang, "Sejak kapan pilihanku menjadi pilihan?"

Dia berkata lagi, "Kamu tidak lapar?"

Aku, "Lapar. Tapi aku bosan dengan makanan berjamur."

Dia, "Tidak ada pilihan lain. Atau kamu mau makan daging manusia?"

Aku, "Membayangkannya saja bikin aku mual." Aku terdiam sejenak, memberinya jeda berpikir, lalu berkata lagi, "Kamu tahu apa yang bisa dilakukan untuk terhindar dari kelaparan ini."

Dan dia melakukan tindakannya yang biasa tiap kali aku menyinggung soal pergi dari neraka ini selamanya: dia berpura-pura seolah dia tunarungu.

Rumah itu dikunci, tentu saja. Jendelanya ditutup dengan benda-benda berat seperti lemari. Aku sempat bersorak dalam hati, aku selalu benci memasuki rumah para kanibal, walau luarnya bersih, dalamnya seringnya berbau amis dan lantai dan dindingnya mendapatkan dekorasi baru berupa percikan cat berwarna merah, tapi kemudian seseorang-yang-kubenci-tapi-sekaligus-kucintai-setengah-mati melihat jendela lantai dua yang sangat berpotensi menjadi pintu masuk.

Kami menemukan tangga di samping rumah. Tapi tangga itu tidak cukup panjang untuk menjangkau atap. Tidak ada pohon yang bisa kami panjati. Kekasihku itu tak hilang akal. Dia melihat celah antara rumah yang cukup terawat ini dan rumah tetangga sebelah yang mempunyai kondisi sebaliknya tidak terlalu jauh. Bila tangga yang kami temukan diletakkan melintang... Duar! (oke, oke, aku tidak memilih ekspresi yang benar, tapi bodoh amatlah), kami mempunyai jembatan.

Rumah tetangga sebelah sangat berantakan, bekas diobrak-obrik. Debu menutupi seluruh ruangan. Beberapa tempat, seperti sudut-sudut langit-langit dan di bawah lemari yang terguling, telah diklaim oleh beberapa serangga yang selamat dari tangan-tangan manusia yang kelaparan. Walau bak kapal pecah, setidaknya rumah itu tidak menguarkan aroma kematian. Aku berharap semoga rumah yang kami tuju menguarkan aroma yang sama.

Atau kalau bisa lebih baik.

Kami langsung menuju lantai dua. Tangga yang kami temukan melaksanakan tugas barunya sebagai jembatan dengan baik. Jendela yang kami terobos tidak memberi halangan yang berarti. Hanya diselot biasa. Terbuat dari kaca yang mudah dipecah

Harusnya hal itu, kemudahan itu, menyalakan alarm di kepalaku. Tapi entah kenapa saat itu alarm itu memilih untuk berlibur.

Setelah berada di dalam dan turun ke lantai satu, dia berkata, "Rumah ini sangat rapi, ya?" Dia menghela udara dalam-dalam, "Dan wangi."

Aku setuju dengannya. Tidak usah memandangiku dengan pandangan itu. Aku tahu aku sering sekali setuju dengan ucapan. Beberapa diantaranya terpaksa. Tapi kali ini aku benar-benar setuju dengannya. Rumah ini adalah rumah terbaik sepanjang karir kami sebagai penjarah. Tampaknya debu diusir keluar tiap hari. Dan tampaknya, penempatan lemari-lemari di jendela itu selain untuk memberi efek pengusiran, juga untuk melindungi apa yang ada di dalamnya dari pandangan mata.

Kerapian rumah ini patut diacungi jempol. Pasalnya tiap pintu dan beberapa benda ditempelin kertas bertuliskan fungsi masing-masing. Seperti semisal pintu di sebelah kanan kami yang merupakan kamar Margo dan Larry. Kamar di sebelahnya merupakan kamar Marcus dan Harry. Di sebelahnya lagi, Leah. Bahkan tempat sampah pun dibagi jadi dua: sampah basah dan kering. Entah apa alasan mereka melakukannya, aku sama sekali tak ambil pusing. Tapi aku rasa aku bisa sedikit yakin mungkin rumah ini bukan tempat tinggal para kanibal.

Di dapur pun, kami menemukan kertas-kertas label berbagai nama makanan dipasang di berbagai tempat. Acar di stoples. Makanan kaleng dan makanan instan di lemari-lemari atas. Di bawahnya makanan instan lain tapi khusus untuk buah-buahan. Daging ada di kotak besi di sudut terjauh dari jendela—yang ditutup oleh lemari es. Bahkan kami juga menemukan satu di lantai, ukurannya cukup kecil sampai-sampai jika kalian tidak teliti kalian pasti akan melewatkannya.

Kertas di lantai yang bertuliskan "makanan darurat" jelas mengarahkan ke ruang penyimpanan bawah tanah.

Kami bersorak. Penemuan ini jelas panen besar!

Aku bergerak ke lemari penyimpanan makanan instan, sementara kekasihku-cintaku berderap ke tempat penyimpanan berbagai jenis minuman: teh, kopi, susu. Dan... Coba tebak apa yang kami temukan? Apakah kami menemukan potongan tubuh manusia? Sayangnya kami harus mengecewakan kalian, kami tidak menemukannya. Yang kami temukan adalah... Tidak ada.

Ya, tidak ada. Alias kosong. Bahkan debu pun tidak ada.

Aku jadi penasaran, mungkinkah pemilik rumah ini benci atau alergi pada debu sehingga harus membersihkan tiap sudutnya?

Kami memeriksa ke semua tempat penyimpanan, dan mendapati hal yang sama. Hanya stoples acar, yang tidak bening, yang ada isinya. Air rendamannya, acarnya sudah lama hilang, dan itu pun hanya tinggal seperempatnya. Menyisakan ruang bawah tanah untuk diperiksa.

Saat ini kalian mungkin menduga yang tidak-tidak. Dari kami yang menemukan potongan daging manusia yang digantung di langit-langit atau berceceran di mana-mana, hingga manusia hidup yang diikat dan menunggu untuk dimasak. Sayangnya, aku tidak pandai dalam membangun suasana tegang jadi langsung kukatakan saja: dugaan kalian benar. Ketika kami membuka pintu yang dikunci dengan gembok kecil itu, kami menemukan manusia-manusia yang tampaknya menjadi makanan darurat pemilik tempat ini.

Manusia-manusia itu tak memakai benang sehelai pun dan tangan dan kaki mereka, terikat rantai yang terpasang di dinding. Waktu mereka melihat kami, mata mereka serentak membulat dan mereka berteriak bersama-sama:

"TOLONG! TOLONG KAMI!"

Sayangku sama terkejutnya dengan mereka. Tapi yang paling membuatnya terkejut adalah seorang pria yang kehilangan kedua kaki dan tangannya dan alat vitalnya dan seorang wanita yang kini dadanya serata lapangan parkir sebelum meteor datang menghantam bumi

Detik berikutnya, dari atas sayup-sayup kami mendengar suara seorang pria: "Aku pulang!"

Para "makanan darurat" berteriak heboh.

Tanpa berkata-kata, aku menarik seseorang-yang-jadi-alasanku-ada-disini naik ke atas. Kembali ke dapur. Para pemilik rumah tampaknya masih di ruang tamu dan tenggelam dalam argumen yang tidak menarik untuk didengarkan: mereka tidak mendapat satu orang pun. Memberi kami kesempatan mencapai tangga dalam diam. Tangga ada di ruang tengah yang dekat dapur.

Kami berhasil sampai dilantai dua, kami bahkan berhasil sampai di atap rumah sebelah, setelah itu... tali sepatuku tersangkut tangga dan membuatnya jatuh tertarik gravitasi.

Kejatuhannya menimbulkan suara keras.

Suara itu menarik orang-orang di rumah sebelah.

Kami dan mereka bersitatap. Dan seolah-olah terjadi kesepakatan, kami berlari dan mereka balik badan ke dalam rumah, mengambil senjata yang akan digunakan untuk menjegal langkah kami.

Tapi ada satu yang tidak ikut masuk. Dia seorang pria. Dan dia membawa kapak. Dan dia melemparkannya ke arahku. Aku menghindar. Tindakan yang sungguh bodoh yang amat kusesali.

Kapak itu menancap di paha kekasihku!

Jeritannya jauh lebih membuatku takut dari langkah para pemburu kami yang mendekat.

Dia berkata, "Nick, cepat pergi!"

Aku menyuruhnya diam dengan bunyi "shush". Aku memperhatikan lukanya dan mencoba mengira-ngira bagaimana mencabut kapak sialan itu dari kulit orang-terpenting-di-hidupku.

Dia menyuruhku pergi lagi.

Aku berkata jengkel, "Aku tidak bisa pergi, John."

Tahu apa yang lebih keren dari paha cintaku yang basah oleh darah? Yap, kami terjebak di rumah yang ironisnya sempat aku sebut sebagai rumah yang tidak menguarkan bau kematian.

Rasa panik menjangkitinya, "Aku bisa mengatasi ah--" aku berhasil mencabut kapak brengsek itu--" mereka. Kamu pergilah."

Aku diam saja. Tanganku memmbebat pahanya dengan ujung kemejaku yang kurobek. Aku tidak ahli dalam hal ini, tapi semoga itu cukup untuk menghentikan darahnya yang mengucur.

Dia, "Nico!"

Aku, "Apa?"

Suara mereka makin dekat.

"Pergilah. Aku bisa mengalihkan perhatian mereka sejenak."

Aku, "Tidak."

Dia, "Kamu masih bisa selamat."

Aku, "Dan untuk apa aku selamat? Kamu adalah satu-satunya alasanku bertahan di neraka ini. Apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sampingmu."

Saat itu juga dia merengkuh wajahku dan menyatukan bibirnya dengan bibirku. Yang malah bikin bebatanku terbuka dan membuat darah kembali merembesi pahanya. Tapi dia tampak tak peduli.

Lagipula tak ada waktu untuk memperbaikinya, aku rasa. Para pemburu itu sudah sampai di lantai yang sama dengan kami.

Dia, "Kalau begitu sampai titik darah penghabisan?"

Aku bersyukur tidak membuang si kapak sialan. Oh ya, aku sempat ingin sekali membuangnya, karena benda ini telah membuat sang penghuni hatiku kesakitan. Benda ini sebentar lagi akan terbukti sangat berguna melawan para pemburu kami, yang kini berlari menuju ke arah kami dengan kecepatan yang mengalahkan cheetah dan mata merah karena... entahlah, mungkin karena iritasi ringan.

Aku menghela napas berat, dan bersiap-siap. Apa boleh buat, walau kami pasti kalah—daripada menyerahkan daging dan organ kami secara cuma-cuma, lebih baik melawan dengan segenap tenaga yang kami punya.

Aku berkata untuk terakhir kalinya, "Sampai titik darah penghabisan."


back to top