Kastil Fantasi discussion

111 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (Februari '14)

Comments Showing 1-46 of 46 (46 new)    post a comment »
dateUp arrow    newest »

message 1: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Mar 04, 2014 07:03PM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
Dar-dar-dar-dar-dar!!! Berjumpa lagi dengan ModUs di Cerbul Februari 2014!!!

***

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai saja, tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai pemanis, layaknya perlombaan pada umumnya, pemenang CerBul juga akan mendapatkan hadiah!

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain dilarang keras.

3) Setiap peserta hanya boleh menyertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya di blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan dan link kalau ceritanya sedang dilombakan di grup Kastil Fantasi.

4) Panjang cerita maksimal dua post yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di software (MSWord, dll) dan Goodreads bisa berbeda, misalnya saja tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS, apalagi bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh/serius (misalnya dibuat novel) atau dilombakan ke tempat lain, silakan saja.

7) Komentar untuk cerita yang dilombakan tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan dihapus oleh moderator. Kedua topik dipisah demi alasan kerapian.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.

======

Soal untuk cerbul kali ini adalah ...

Buatlah sebuah cerita yang melibatkan monster dan nyanyian/lagu/musik.

Kedua hal tersebut--monster dan nyanyian/lagu/musik--harus dua-duanya ada dalam cerita, jangan salah satunya doang.

======

Seperti biasa, nuansa ceritanya bebas. Boleh membuat kisah petualangan, horor, komedi, romance, dst. Silakan berimajinasi sebebas-bebasnya.

Pertanyaan dan diskusi, langsung ke topik komentar.

Penjurian Reguler oleh Momod

Ada 5 aspek penilaian yang menentukan pemenang yang akan mendapatkan hadiah reguler di setiap edisi, yakni:
- Menjawab Soal
- Plot
- Karakter
- Setting
- Teknis

Alih-alih 3 besar atau 5 besar seperti sebelum-sebelumnya, pada tahun ini, moderator akan mengumumkan shortlist untuk mengapresiasi cerita-cerita yang mendapat penilaian tertinggi. Jumlah cerita yang masuk ke dalam shortlist dapat bervariasi di setiap edisinya (tergantung hasil penilaian). :)

Hadiah reguler Edisi Soal Momod bulan ini:

(1) Pemenang pertama edisi soal dari moderator berhak memilih 1 (satu) buku fiksi fantasi lokal atau terjemahan dari daftar buku currently reading forum.

Untuk CerBul edisi Februari, daftar currently reading yang termasuk ke dalam pilihan adalah currently reading bulan Januari, Februari, dan Maret.

Daftar buku currently reading forum diganti setiap awal bulan dan dapat dilihat di halaman muka/group home forum (di bawah/setelah bagian keterangan grup).

(2) Pemenang kedua edisi soal dari moderator akan mendapatkan hadiah hiburan. ^^


Penjurian Khusus oleh "Juri Tamu"

Untuk meningkatkan apresiasi terhadap cerita-cerita yang disertakan di dalam lomba, khususnya apresiasi dari member untuk member, maka pada tahun ini akan diadakan fitur penilaian oleh "juri tamu".
"Juri tamu" (jurtam) bisa siapa saja, selama telah menjadi member forum.

Penilaian dari jurtam sifatnya bebas, tidak terikat pada penilaian dari moderator ataupun aspek-aspeknya. Jurtam akan memilih cerita favoritnya sendiri dan pemenang terpilih akan mendapatkan hadiah dari jurtam. Pengumuman pemenang dilakukan selama periode penilaian/pengumuman pemenang sesuai jadwal.

Karena tidak ada kaitan dengan penjurian oleh moderator, maka jurtam juga tetap diperbolehkan untuk mengikuti lomba CerBul seperti biasa dan tetap berpotensi memenangkan hadiah reguler. xD

Hadiah khusus edisi ini:

Jurtam edisi ini adalah Biondy Alfian.

Jurtam akan memilih cerita terfavoritnya dan penulisnya akan mendapatkan hadiah buku Dansa di Bawah Purnama by Devina Kwan .


Timeline lomba:

Posting cerita: 18 Februari 2014 - 11 Maret 2014
Masa penjurian: 12 Maret 2014 - 26 Maret 2014
Pengumuman pemenang: 27 Maret 2014


Mari menulis fantasi, rawr!

PS.
Kami, para momod, mengundang siapa pun yang tertarik untuk mendonasikan hadiah atau promosi karya dengan ikut men-sponsori pelaksanaan atau berpartisipasi men-"juri tamu" dalam lomba CerBul.
Silakan menghubungi/mengirim PM ke moderator.
Terima kasih! :D


message 2: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Mar 12, 2014 06:04AM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
==DAFTAR CERITA==

1. Menyanyi Bersama Alam oleh Hasan Irsyad

2. MAKHLUK oleh Sandra

3. Festival Hujan Pertama oleh 8lackz

4. Saputangan Hitam oleh Yozora Hikari

5. Malam Merah oleh Xeviar

6. FANS oleh Ahmad Alkadri

7. GENDUT PEMALAS DAN ANAK KECIL oleh Erwin Adriasyah

8. Undangan Sang Raja Kuning oleh Kayzerotaku

9. Shisam dan Hoyaa oleh Fenny Wong

10. Nyanyian Jiwa oleh Yogie Prabhata

11. Song of Madness oleh Fachrul R.U.N.

12. Jessica oleh Reymond Jr.

13. LIXSHON oleh Fadila Eritha

14. The Created Song oleh Zerocy

15. "All I Am" oleh Dini Afiandri

16. Memento oleh Maximillian Surjadi

17. Nyanyian Prita oleh Siti Setianingsih

18. Purnama Terakhir oleh Dhia Citrahayi

19. TERJEBAK oleh Dian

20 Ulat Kuping oleh Redtailqueen

21. Dunia Tanpa Suara oleh Khalda

22. Flute oleh Narita

23. Cindy oleh Biondy

24. Monsterimut oleh F.J. Ismarianti

Hehe.


message 3: by Hasan (last edited Apr 02, 2020 01:35PM) (new)

Hasan Irsyad (ha_iy) | 190 comments (dihapus karena suatu alasan)


message 4: by Hasan (last edited Apr 02, 2020 01:36PM) (new)

Hasan Irsyad (ha_iy) | 190 comments (dihapus karena suatu alasan)


message 5: by Sandrita (new)

Sandrita (ssaffira) | 30 comments MAKHLUK


“Kamu bukan kamu,” gumam anak lelaki itu. “Kamu bukan dirimu. Kamu dan Makhluk yang kukenal dulu adalah dua entitas berbeda, tetapi kalian bersemayam dalam tubuh yang sama. Kamu dan dia tidak ditakdirkan untuk hidup berdampingan di dunia itu. Satu hidup, satu mati. Atau sebaliknya. Atau dua-duanya mati.”

Terdengar geraman yang sangat dalam dari dalam gua di hadapan anak lelaki itu. Mulut gua yang terbuka lebar menjadi instrumen yang memainkan nada-nada mengerikan dari angin yang berhembus di Pegunungan Barat. Apapun yang ada di dalam gua itu tak terlihat dari luar. Sinar malam tak menembus gelap pekat yang melingkupi interior gua.

“Kamu bukan kamu,” ulang anak lelaki itu.

Ia mengangkat kedua tangannya dan mulai menggerakkan jari-jarinya dengan lincah di udara. Seolah ia sedang memainkan piano yang kasat mata. Setiap jari-jarinya mengetuk udara kosong, serpihan es muncul dari kuku-kukunya dan turun ke tanah, bagai salju. Dan setiap jari-jarinya mengetuk nada-nada itu, sebuah bunyi terdengar.

Geraman dari dalam gua terdengar makin kencang. Makin lama, geraman itu terdengar seperti sebuah raungan yang sangat rendah. Rendah namun kencang. Mata hijau anak lelaki itu menyapu seisi gua yang terlihat hitam dari luar. Seolah ia bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.

Lagu lembut yang terdengar seperti lagu pengantar tidur itu membuat makhluk di dalam gua marah.

Anak lelaki itu mengulum senyum. Ia terus bermain di tengah tiupan angin kencang Pegunungan Barat. Lagunya bergema di lembah-lembah yang dibatasi gunung-gunung di tempat ini.

- - -

Hujan turun rintik-rintik di kota Arena. Orang-orang berlarian panik mencari tempat berteduh, sepatu kulit mereka menapak pasir basah yang lembut. Hujan ini bukan hujan air biasa, melainkan hujan air bercampur racun. Tetes-tetes awal memang tidak mengandung racun, namun setelah beberapa saat air itu akan turun bersama racun, melelehkan kulit mereka yang tidak berlindung.

Fenomena ini tidak pernah terjadi hingga beberapa tahun sebelumnya. Banyak yang berkata Arena itu terkutuk. Ada yang mencurigai keberadaan Makhluk di Arena. Sedikit yang merasa optimis, yang merasa bahwa ini hanya badai yang akan berlalu suatu hari.

Di antara mereka yang berlarian mencari perlindungan, seorang anak lelaki tetap berjalan tenang, dengan kepala sedikit menunduk. Jubah berwarna krem kusam yang ia pakai menyapu tanah becek yang ia tapak, sementara tetes air hujan, yang kini mulai bercampur racun, membasahi rambut pendeknya.

Orang-orang yang berlindung hanya menatapnya ngeri, ada yang berteriak memanggilnya untuk segera ikut berlindung, walau tidak ada yang berani menghampiri dan menyeretnya. Dalam diam dan takut, kini mereka memandangnya. Tubuhnya akan meleleh, mereka semua berpikir.

Dia mengangkat kedua tangannya dan mulai menggerakkan jari-jarinya seolah sedang memainkan piano. Setiap ia mengetuk satu nada, serpihan es terbentuk di ujung kukunya, lalu jatuh. Lagu yang ia mainkan seperti sebuah lagu pengantar tidur.

Lagu itu seolah membuat marah langit, sebab hujan turun makin deras. Air yang mengguyur tidak lagi berwarna jernih, tapi berwarna hijau kecoklatan. Seluruh tubuhnya basah kuyup, tetapi ia terlihat seolah tak terpengaruh oleh tingginya kadar racun dalam hujan itu.

“Makhluk..” desah seseorang yang berteduh. Semua yang berteduh dan menyaksikan kejadian ini berpikir hal yang sama.

Ini adalah Makhluk, entitas hidup yang bisa berpikir dan bertindak layaknya Manusia, dan kadang penampilannya juga seperti Manusia. Makhluk adalah entitas yang dulu tinggal di permukaan dunia ini, namun eksistensi mereka digantikan Manusia. Mereka ada untuk menghapus Manusia dari dunia, agar mereka bisa kembali hidup seperti dulu.

Anak lelaki itu berhenti bermain lalu menggerakkan lengannya dari kiri ke kanan, seolah menarik sesuatu secara paksa. Butiran-butiran es yang jatuh dari kukunya berkumpul di tangannya.

Makhluk itu menampakkan dirinya. Tubuhnya adalah gumpalan awan dan air, berukuran lima kali lebih besar dari si anak lelaki. Tak jelas anatominya. Tetapi Makhluk itu berusaha menelan si anak lelaki, membentuk sebuah pusaran angin di badannya dan merendahkan dirinya hingga mendekati tanah.

Anak lelaki itu tetap tenang. Gumpalan es di tangannya berubah bentuk menjadi tombak. Makhluk itu menyerang si anak lelaki dengan menyemburnya dengan racun, sambil mendekati mulutnya ke tubuh si anak.

Ia melompat masuk ke dalam mulut si Makhluk.

Hujan racun berhenti seketika, namun para penduduk Arena tidak ada yang berani mendekati si Makhluk untuk tahu apa yang terjadi. Mereka menahan nafas. Anak lelaki itu telah mati ditelan si Makhluk.

Dugaan mereka salah, tentu saja. Si anak terlalu kuat untuk dikalahkan semudah itu. Awan itu membeku, dan muncul sayatan berwarna putih dari dalam awan. Tak lama, Makhluk itu pecah, seolah dia terbuat dari es. Si anak lelaki melompat dari dalam tubuh si Makhluk tepat saat dia pecah, tombak esnya masih di tangannya.

Dan tidak ada yang berani mendekatinya, sebab mereka tahu bahwa anak ini bukanlah Manusia biasa.

Kecuali seorang pria.

“Aku tidak menyangka akan bisa menyaksikan pertunjukan sehebat ini,” ia berkata, sambil berjalan mendekati si anak. Rambut pirangnya yang dikuncir mengayun seiring langkah yang ia ambil. “Kamu adalah Manusia pertama yang bisa mengalahkan Makhluk yang tidak memilik bentuk tubuh yang pasti. Dan mereka adalah jenis Makhluk yang paling sulit dikalahkan.”

Si rambut pirang berhenti berjalan saat si anak mengarahkan ujung tombaknya ke lehernya.

“Kamu adalah Makhluk yang aku cari,” desis si anak.

“Kamu adalah Manusia yang menarik,” si rambut pirang menyeringai. “Namaku Adrian, dan jika kamu ingin membunuhku, kamu harus melakukannya di satu tempat.”

“Bagaimana aku tahu kalau ini bukan jebakan?” si anak balik bertanya.

“Oh, tentu saja bukan,” Adrian mengedip. Ia lebih tinggi daripada si anak lelaki, yang tingginya hanya sebatas bahu Adrian. “Aku sudah lama ingin hilang dari dunia ini. Tapi kamu tidak akan bisa membunuhku disini. Ikut denganku dan aku akan membawamu ke tempat itu.”

“Bagaimana aku tahu kalau ini bukan jebakan?” si anak lelaki mengulangi pertanyaannya.

“Kamu adalah Alastor, Manusia yang dikutuk dengan jiwa abadi dalam tubuh yang masih berusia tiga belas tahun. Kamu tidak mungkin bisa dibohongi oleh Makhluk sepertiku.”

- - -

Adrian berdiri menyandarkan dirinya pada sebuah batu besar, sementara Alastor duduk di atas batu besar itu. Mereka berdua hanya diam saja, menonton matahari terbenam di horizon. Lautan pasir terbentang luas di hadapan mereka, dan malam dingin menanti. Alastor sudah mulai menggigil di balik jubah kulitnya, sebab ia tak tahan dingin.

“Kenapa kamu ingin membunuhku?”

“Karena kamu adalah dua jiwa dalam satu tubuh.”

- - -

Alastor menghentikan permainan musiknya lalu menarik sebuah pedang es dari udara kosong. Ia berlari maju menembus terpaan angin kencang macam badai. Ia sampai di ujung sebuah jurang dan melompat tinggi, menebas pedangnya dari atas kebawah.

Udara seolah membeku, lalu pecah. Makhluk itu berhasil dikalahkan.

Ia jatuh ke jurang di bawahnya. Alastor menancapkan pedangnya di dinding tebing, dan pelan-pelan menaiki tebing itu hingga sampai di permukaannya. Sekali ia mengubah bentuk gumpalan esnya, ia tidak bisa mengubah bentuknya lagi sampai ia menghasilkan butiran es baru.

Di permukaan, ia melihat Adrian meringkuk dan gemetar, seolah ia kesakitan. Tetapi ia tidak mengeluarkan bunyi apapun, tidak juga rintihan pelan. Alastor berdiri di hadapannya sambil mencengkeram pedangnya, agar butiran-butiran es itu kembali masuk ke dalam badannya.

“Sepertinya jiwa lain yang bersemayam dalam tubuhmu itu tak sabar ingin keluar,” ujarnya.

Adrian terlalu kesakitan untuk menjawab.

Alastor hanya duduk di hadapannya, dan berbaring. Pegunungan Barat sudah terlihat di horizon.

- - -

Alastor menghentikan permainan musiknya. Terdengar dentuman keras dari dalam gua. Makhluk di dalam gua itu sedang melangkah keluar. Sepertinya dia tidak senang dengan permainan musik Alastor.

Anak lelaki itu juga tidak terlalu senang dengan musik yang ia mainkan.

- - -

“Musik itu.. darimana kamu mendapatkannya?” Adrian bertanya, sementara ia menonton Alastor berjemur di bawah sinar matahari di pinggir sebuah danau di kaki Pegunungan Barat.

“Seorang gadis memainkannya dengan serulingnya, tetapi dia dimakan oleh seekor Makhluk. Aku suka dengan gadis itu, jadi aku memutuskan untuk mengenangnya dengan memainkan lagu itu dengan piano.”

“Kamu mengenangnya dengan memainkan lagu itu untuk membunuh Makhluk?”

“Dia mati karena Makhluk. Wajar kalau para Makhluk mati karena lagunya.”

- - -

Makhluk ini berbentuk reptil dengan enam kaki, yang seluruh tubuhnya ditutupi bulu berwarna kuning keemasan. Kepalanya sebesar mulut gua dimana dia bersemayam, dan seluruh tubuhnya bisa tiga puluh kali lebih besar daripada Alastor.

Alastor menarik butiran-butiran esnya dan membentuk dua buah pedang. Ia siap melawan Makhluk yang kini menempel di dinding gunung dimana mereka berada. Makhluk itu meraung kencang, cukup kencang hingga salju di puncak gunung-gunung terdekat longsor.

Anak lelaki itu berlari ke arah si Makhluk, berusaha menebasnya dengan kedua pedangnya. Meski tubuhnya raksasa, gerakannya gesit.

Si Makhluk melompat ke dinding gunung di sebelah gunung tempat mereka berada dan membuka mulutnya. Setitik sinar kuning berkumpul di dalam mulutnya, dan tumbuh besar, hingga menyembur keluar dan menghancurkan dinding gunung di hadapannya.

Makhluk itu menggerakkan kepalanya dan mengikuti kemanapun Alastor pergi. Anak itu hanya berdiri diam dan bersiap. Saat serangan itu mengenainya, ia menahannya dengan kedua pedangnya, namun ia terseret ke belakang hingga jatuh ke sebuah jurang.

Alastor menancapkan pedangnya ke tebing dan menahan dirinya agar tidak jatuh. Makhluk itu ternyata mengikutinya, dan saat Alastor melihat ke atas, makhluk itu sedang membuka mulutnya, dengan sinar yang sama.

Ia melempar satu pedangnya ke dalam mulut Makhluk itu. Pedangnya menembus moncongnya. Makhluk itu berguling kesakitan, raungannya memekakkan telinga. Dia terus berguling hingga jatuh ke dalam jurang dimana Alastor nyaris kehilangan nyawanya.

Alastor dengan susah payah memanjat tebing itu. Di atas, di hadapan gua yang kini kosong, ia duduk di tanah dan merobek lengan kanan tuniknya. Sebagian dagingnya terbakar oleh sinar dari Makhluk tadi, membuat sedikit tulangnya terlihat.

Anak lelaki itu hanya menggeram kesakitan, dan ia menyerap kembali butiran es dari pedang esnya. Butiran-butiran es itu menyembuhkan luka di lengan kanannya, membuatnya utuh seperti semula.

Dari dasar jurang, Alastor bisa mendengar suara raungan, tetapi raungan kali ini berbeda. Ia mengenal raungan ini.

Ini adalah raungan salah satu jiwa Adrian.

Adrian adalah Makhluk berbulu kuning yang telah ia kalahkan, Makhluk kelas rendah yang gampang dikalahkan dan telah lama ingin hilang dari dunia.

Adrian juga adalah Makhluk yang dahulu menyantap gadis yang menciptakan lagu yang selalu Alastor mainkan.

Alastor berdiri dan mulai memainkan lagu itu lagi.

Ia mengundang Makhluk itu untuk naik dan menghadapinya dalam sebuah pertarungan.


message 6: by 8lackz (last edited Feb 23, 2014 06:11AM) (new)

8lackz | 58 comments Festival Hujan Pertama
Foreword: Tulisan dalam kotak spoiler adalah Flashback


(view spoiler)

Suara ketukan pintu mengganggu tidur siangku, “Anoo, apakah Blackz ada!”

Apakah aku tidak bisa mendapatkan tidur yang tenang di hari yang panas seperti ini? Suara itu, Suara yang tidak asing.

Sebagai tuan rumah tentunya aku harus membukakan pintu.

“Ada antaran?”

Di depan bengkel kerja yang sekaligus rumahku berdiri orang yang sangat berdedikasi dengan pekerjaannya.

Dengan topi putih yang menutupi rambut cepak, jenggot tipis di ujung dagunya, serta seragam terusan berwarna putih dengan

logo LCDP Delivery di kantong kirinya. Pria di hadapanku ini adalah orang yang mengurusi, penjemputan, dan pengantaran paket

dari dan ke seluruh LCDP, Rendi.

“Antaran kepada Blackz,” Rendi menyerahkan sebuah kubus kepadaku dan menyerahkan berkas antaran untuk aku tanda-tangani.
“Satu Kubus Rekaman!”

Aku menaruh kubusnya di meja sampingku dan menggoreskan tandatanganku di atas berkas.

“Antaran darimana Ren?” memang tidak seharusnya seorang tukang pos mengetahui tentang barang yang diantarkan. Tapi pria ini

berbeda. kami berdua adalah kaum pekerja LCDP, Kaum yang memiliki otoritas setingkat dewa terhadap suatu hal. jika dia surat,

maka aku adalah distribusi air.

“Aku mengambilnya dari pos surat di gerbang utara. Yang kemungkinan berarti bukan dari dalam kota …” aku mengembalikan

berkasnya, “… dan Blackz, itu bukan dari Manusia!”

Pria itu meninggalkanku dengan cepat setelah kukembalikan berkasnya. Aku kembali mengangkat kubus itu dan membawanya kembali

ke meja kerjaku, kubus kecil dengan ukuran 10 centi kubik itu merupakan alat yang biasa digunakan untuk meninggalkan pesan

suara.

“itu bukan dari Manusia”aku mengingat kalimat terakhirnya, karena kalau manusia atau humanoid mereka akan menulisnya atau

bahkan meneleponku.

Aku memencet sebuah tombol yang mencuat di tengah-tengah kubus, perlahan tetapi pasti kubus itu mulai bersinar dan

mengeluarkan suara.

“Bos, Sori mengganggu!”

Azew, Suara geraman rendah Azew terdengar, dan aku bernafas lega setidaknya ini bukanlah sebuah pesan yang berniat buruk. aku

merelaksasikan tubuhku, menyender serta menaruh kaki ke atas meja kerja.

“Bos, Aku meninggalkan pesan suara ini untuk berterima kasih sebanyak-banyaknya atas kerjasama kita selama ini!”

Dan aku terjungkal begitu mendengar susunan kalimat Azew.

“Ya Tuhan, jangan sampai aku melupakan waktu!” aku segera bangkit dan merapikan kursiku juga.

“Bekerja di bawah naunganmu sungguh merupakan kehormatan terbesar bagi kaumku, Setidaknya aku bisa melihat kepada diriku

sendiri…”

Aku segera berlari ke kabinet berkasku dan mencari-cari hal yang bisa mengkonfirmasi kecurigaan ini.

“... bahwa aku telah membantumu menyokong kehidupan satu kota besar, dan aku bangga atas pencapaian itu …”

Aku menemukan berkas yang kucari tulisan Kontrak Azew terpampang jelas di depan mapnya, saat aku membuka dan melihat selembar

kertas yang ditandatangani kami berdua. Aku membantingnya ke meja.

“SIAL sudah 100 tahun!”

“… sudah 100 tahun aku mengabdi kepada LCDP dan dirimu bos, kini izinkanlah aku yang tua ini kembali ke lautan dan

menikmati hari-hari tuaku!”


“Sial, Azew kenapa kau tidak pamit pada saat musim kemarau dimulai!” aku panik, aku harus mendapatkan solusi terbaik untuk

Festival Hujan Pertama dalam 2 minggu lagi.

Aku segera mengambil sebuah kertas dan menyalin ulang tulisan yang sama yang tertera di kontrak. Ada satu makhluk seperti

Azew yang melintas di pikiranku yang bisa menggantikannya.

Permasalahannya aku membutuhkan bantuan seorang pekerja LCDP lagi jika aku harus membawanya kembali dalam dua minggu.

Setelah selesai menyalin aku membawa selembar kertas itu dan meninggalkan bengkel kerjaku menuju ke menara timur kota benteng

LCDP.

Kembali melewati pemukiman rakyat, beberapa penduduk kota tersenyum padaku dan mengharapkan yang terbaik dariku dua minggu

mendatang, tapi mereka tidak tahu bahwa aku sudah mengacaukan hal ini begitu rupa. Aku tidak ingin kesedihan seperti dulu

terjadi lagi!

(view spoiler)

“Bagus, kau siap!” Kata-kata itu tidak hanya mengagetkanku. Sosok hantu di sebelah kanan ratu kini memberikan siluet merah,

dan tentara wanita di sebelah kirinya menatap ke arah ratu dengan wajah terkejut.

Sisa air di danau menggumpal menjadi sebuah gelembung air dan melayang di atas danau. Seluruh air yang tadinya ada di dalam

danau kini melayang di tengah-tengahnya.

“Ratu itu persediaan air terakhir untuk kota, kau tidak bisa menghabiskannya begitu saja!” aku panik begitu melihat air itu

hendak digunakan oleh ratu.

“Kalimat seperti itu yang membuatku ingin menjadikanmu pekerja!”

Bagaikan peluru yang melesat gelembung air itu terbang ke arahku. Aku berbalik menghindar, tetapi percuma, gelembung itu

telah melingkupi dan membuatku tenggelam.

Aku menahan nafasku, tapi seakan percuma semua air itu mendesak hidungku dan mulutku mencoba masuk ketubuhku bagaimanapun

caranya.

Sampai semuanya penyiksaan berakhir dan semuanya tercampur dengan eksistensiku. Aku bangun dari jatuhku, dan merasakan

sesuatu yang mengalir dalam tubuhku. Aku menyadari aku mengenal air, tidak lebih tepatnya aku mengenal cairan. Aku merasakan

semua cairan yang bisa kukendalikan di seluruh LCDP.

“Waktumu sedikit Blackz. Kau hanya punya waktu Sebulan sebelum Kota LCDP ditinggalkan oleh semua orang karena kekeringan

ini!” Ratu menatap langsung kemataku. Sebuah perintah yang kini laksana titah. Dari seseorang yang begitu hebat memberiku

kemampuan ini!

“Aku akan secepatnya kembali ratuku. Membawakan seekor serpent untuk menghuni danau ini!”
“Serpent!?”

“Serpent, ular-naga laut raksasa untuk menjadi sumber mata air terjenih lagi, dan juga memompakan air ke seluruh penjuru kota

dan Hilir aliran sungai LCDP.”

“Aku tahu apa itu serpent, maksudku apa yang terjadi dengan Azew!” Penghuni menara timur itu akhirnya memberikan perhatiannya

kepadaku, melepaskan matanya dari teleskop dan melihatku.

Ia adalah seseorang yang menjadi pekerja LCDP lebih dahulu dariku, kerjaannya adalah mencatat kejadian apapun yang ada di

seluruh dunia, teleskopnya itu bukan teleskop sembarangan. Zoel dapat melihat apapun yang terjadi menggunakan Teleskop itu.

hanya dirinya yang tahu berapa kali ia menggunakan teleskop itu untuk mengintip setiap harinya.

“Kontraknya baru habis tahun ini dan ia ingin pensiun dari sini. aku menghargainya tetapi aku harus mencari serpent baru

untuk menghuni danau kita!”

Mendengar ceritaku, Zoel memanaskan dan menuangkan teh untuk kami berdua. teh tersebut setidaknya menenangkan dirinya dari

mendengar penjelasan gilaku.

“Dan Azew tidak memberikan rekomendasi siapa yang harus menggantikannya? Dan mengapa kau baru tahu sekarang 2 minggu lagi

adalah Festival Hujan Pertama.”

“Kesalahan semuanya terletak padaku Zoel, tapi aku memerlukan bantuanmu agar festival ini bisa dijalankan tepat waktu, aku

ingin kau mengkonfirmasi keberadaan seekor Serpent!” setelah menyelesaikan kalimatku barulah kuhirup teh yang ia sediakan.

“Kau pikir ada berapa serpent di dunia ini? dan kau kira aku harus menyusuri setiap perairan di dunia hanya untuk mendapatkan

serpent untukmu?”

“Ada sebelas Ekor, dan satu area yang hanya kuminta kau untuk mengkonfirmasikan adanya Ocean Serpent di sana. Jika tidak ada,

aku harus berkelana dan mungkin kemarau akan bertahan lebih lama dari seharusnya!”

“Kau menyandera rakyat Blackz!” Zoel menggeleng setelah mendengar jawaban datarku.

“Aku hanya mencari orang-orang yang bisa membantuku, dan sepertiku menyayangi penduduk LCDP!”

Zoel berdiri dan berjalan ke teleskopnya “area mana yang ingin kaususuri?”

“Di sebelah Barat daya dari LCDP ada sebuah desa sederhana yang memiliki aliran sungai jernih, sejernih Danau Phantasm,

memang Sungai yang membelah desa itu memang anak sungai dari danau Phantasm, tapi kejernihannya seharusnya sudah memudar. Di

aliran anak sungai tersebut seharusnya anak Azew, Aquarinth ada di sana!”

Zoel kembali mengarahkan perhatiannya kepada teleskopnya, aku tetap duduk dengan santai di kursi tamunya, menyisip teh yang

telah ia sediakan sampai habis.

“Aku menemukannya. Ia berada tepat di bawah Air Terjun Giok, sepuluh hari perjalanan jika kau menyusuri anak sungainya!”

“dan itu alasan lainnya aku mendatangimu.”

“Iya-iya aku tahu, akan terlalu lama jika kau berjalan ke sana, kau ingin menggunakan teleskopku untuk sedikit menghemat

waktu!”

Dengan melingkarkan tangannya sebuah permukaan kaca tercipta di tangannya, lebih tepatnya lensa.

“Pecahkan lensa itu untuk kembali ke depan gerbang istana LCDP. Menurut perhitunganku, kau bisa akan mencapai tempat itu

dalam 7 hari menggunakan Teleskopku, dan 7 hari untuk kembali. Jadi kau jangan berlama-lama di sana. Berdirilah di sini!”

Aku bangun dari kursi dan melangkah ke tempat yang ia tunjuk. Aku juga mengantongi lensa yang ia serahkan kepadaku.

“Terima kasih Zoel, aku berhutang kepadamu 1 malam gratis di bar LCDP!”

“dan kau ingin kembali membuatku menjadi alkoholik?” dia tersenyum akan candaanku.

Zoel memutar baut yang menjaga lensa teleskopnya, begitu ia membukanya, seluruh eksistensiku tertarik ke lubang kecil itu.


message 7: by 8lackz (new)

8lackz | 58 comments Pandanganku menerang mendapati diriku di tengah hutan, di depan sebuah air terjun.

Zoel telah membawa materiku melewati ruang tapi menjaga waktuku. Saat aku menjejakkan kakiku di tempat ini 7 hari perjalanan

telah terlalui. Aquarinth ada di tempat ini. aura yang sama persis yang pernah kurasakan saat dulu memasuki sebuah gua di

Teluk Marein.

Aku akan memanggil serpent itu dengan cara yang sama aku memanggil ayahnya dahulu.

Aku mencelupkan tanganku ke aliran air yang masuk ke teluk tersebut, menggetarkan bukan hanya air tersebut melainkan seluruh

aliran yang dekat dengan air itu.

(view spoiler)

“Oh, Halo paman Blackz” tidak anak tidak ayah, walaupun suara mereka menggetarkan mereka tidak memberikan rasa takut yang

seharusnya dikeluarkan oleh Serpent.

Aku mengulang kembali kalimat yang sama persis dengan yang kuucapkan seratus tahun lalu.

(view spoiler),

menggantikan ayahmu!”

(view spoiler)

“Apa yang terjadi dengan ayah?” Aquarinth menanyakan kabar ayahnya.

“Dia pensiun dan ingin menghabiskan hidupnya di tempat lain. Aku ingin meminta kesetiaanmu untuk tinggal di tempat yang

kutentukan selama 100 tahun, enam bulan setahun!”

(view spoiler)

“Aku merasa terhormat menggantikan ayahku untuk menyokong kehidupan LCDP!” tidak ada keraguan dari suaranya untuk bekerja

dibawahku

“Aquarinth, Kau anak yang baik!” serpent ini kuanggap sebagai anak angkatku, aku menemani Azew saat-saat ia keluar dari

cangkang telurnya 25 tahun yang lalu, dan kini ia sudah menjadi serpent muda yang sehat dan dapat dibanggakan Azew.

Aku mengeluarkan kontrakku dan memintanya menusukkan ekornya ke tempat yang seharusnya seperti yang dilakukan ayahnya 100

tahun lalu.

“Aku akan segera berenang mendaki aliran untuk pergi ke danau, paman!”

“Tidak Aquarinth, aku harus memberikanmu penghormatan yang sama dengan ayahmu, setidaknya sampai kau bisa terbang sendiri!”

aku menahan niatnya.

“Tapi aku belum bisa membuat hujan paman!”

“Aku yang akan mengaturnya, kau tunggu disini selama 7 hari, saat hujan mulai turun di atas hutan ini, kau tahu kau akan bisa

terbang menggunakan airnya!”

“Siap, Paman!”

Aku mengucapkan salam perpisahanku kepada Aquarinth dan mematahkan lensa dari Zoel. Sedetik kemudian, aku mendapati diriku

berada di depan gerbang Istana.

“Kau mengkhawatirkan kami saja!”

Ratu yang terhormat baru saja hendak keluar dari istana, “Beberapa orang sudah menunggumu di danau. Aku bersyukur kau tidak

menunda festival ini satu haripun.”

Dia tahu, ratu tahu apa yang baru saja aku lakukan, benar-benar tidak ada satu kejadian di LCDP yang luput dari

pengetahuannya.

“Aku ke danau duluan ratu!”

Aku berlari menuju ke gerbang utara, Danau Phantasm terletak di sebuah lembah utara dari LCDP.

Melewati pemukiman, melewati gerbang, melewati padang rumput, dan akhirnya aku sampai ke pinggiran Danau yang sudah mulai

dipadati orang.

Mereka semua bertepuk tangan setelah melihatku,

“Maaf semuanya, Aku terlambat!”

Di pinggiran danau tersebut terdapat beberapa penabuh drum besar yang sudah membantuku setiap tahunya dalam festival ini.

Aku memberikan anggukanku. delapan buah drum besar tersebut mulai ditabuh dengan ritme kencang. Aku menunggu petunjukku, saat

pengulangan ritme ketiga dimulai aku berlari secepat mungkin di atas danau makin jauh ke tengah danau Ritme yang mengiringiku

semakin cepat lalu…

BERHENTI!

Tepat saat aku berdiri di tengah-tengah danau.

Mengubah butiran permukaan air untuk tetap padat, menjadi panggungku untuk menari adalah kemampuan yang terjadi secara

otomatis.

Tarian pertama: Tahta Ular.

Satu persatu drum berbunyi secara sendirian aku menciptakan tongkat jalaku dengan air danau.

aat ritme mulai berganti menjadi dentuman yang lebih keras aku menghentakkan kaki kanan air di tanahku mulai memutih.

Langkah demi langkah aku memutari bagian tengah danau, setiap tebasan tongkatku mencipratkan air ke udara, dan sebelum air

itu jatuh kembali ke permukaan air, mereka membeku membentuk sebuah kubah terbalik membentuk sayap yang terbuat dari es.

Aku kembali meluncurkan tubuhku ke tengah-tengah kubah. Ritme drum berubah menjadi monoton. Aku berputar sekali seiring bunyi

drum, saat tempo drum meningkat perlahan namun pasti putaran tubuhku bertambah cepat. Pada puncak temponya, tubuhku sudah

seperti gasing.

Air dibawah permukaan es naik mengikuti putaranku saat tingginya mencapai panjang 25 meter seperti panjang tubuh Aquarinth

aku membekukannya.

LAGU BERHENTI

Tepat saat sebuah luncuran spiral terbentuk di atasku!

Tarian kedua: Jalur udara

Aku melangkah keluar dari kubah tahta ular. Para mata memandangku, aku menyilangkan tongkat jalaku dan menarik sebuah kail di

ujungnya, benang pancing hitam terbentuk saat aku menariknya.

Drum mulai berbunyi lagi, kini areaku bukanlah area kecil laksana kubah Es, aku melemparkan kailku ke udara dan menari

bersama tongkat Jalaku, Setiap air yang disentuh oleh kakiku, kail pancingku dan juga benangku aku rubah satuan beratnya

membuatnya lebih ringan daripada udara, hal yang selalu membuat penontonku tercengang saat gelembung-gelembung air penuh

mulai naik memenuhi udara.

Tabuhan drumku sudah mulai mencapai klimaks aku kembali meluncurkan diriku ke tempat aku berdiri pertama. Lagu telah berhenti

tapi pertunjukkan belum berhenti. Para penabuh drum menunggu petunjukku.

Saat aku melempar tongkat jalaku ke udara, tongkat jalaku juga menarik benang pancing di seluruh permukaan danau. Saat

tertarik keatas, semua air ikut terbang melayang, dan tarikan benang pancing tersebut menggambarkan simbol kerajaan LCDP di

udara.

Semua mata memandang ke langit, memandangi simbol itu dengan penuh hayat, aku menangkap tongkat jalaku yang jatuh, tetapi

yang jatuh bukan hanya tongkat jalaku, melainkan rintik hujan yang terbentuk selama tarianku.

Tarian terakhir: Pemanggilan Ular

Alih-alih tarian mistis, tahap terakhir ini hanyalah murni aksi.

Aku berjalan ke pinggiran danau, melihat kepada penontonku, “semuanya, Dia akan datang dari arah barat Daya!”

Aku terus meluncur di pinggiran danau tersebut sampai aku berada di pinggiran sebelah barat Daya.

Aku dan semua mata LCDP melihat ke arah barat daya, di langit, yang berawan gelap dan penuh hujan serta tarian petir, sebuah

garis hijau terbentuk membelah awan dari kejauhan.

“Serpent-nya datang!”

Aku tidak akan bisa mengalahkan kecepatan larinya, aku berlari kembali ke tengah danau sembari mengukur jarakku dengan

Aquarinth, saat dia hampir tepat di atas kepalaku, aku menendang air, memnggunakannya untuk menjadi undakan sangat tinggi

untuk melompat setinggi satu kilometer diatas permukaan tanah.

Aquarinth menyambutku, aku memegang surainya dan mencoba berdiri di leher makhluk tersebut. “mendaratlah di tahtamu!”

Aquarinth menukik turun ke arah tengah danau, aku tetap memegang surainya dan memandunya mendarat pada ujung luncuranku.

Begitu ia mendarat tepat tubuhnya akan alami berspiral dengan luncuran tersebut dan mendarat pada dataran es dibawahnya,

Ornamen sayap yang kubuat dengan es akan memberikan efek bahwa sayap itu adalah sayap Aquarinth.

Es segera mencair mendadak, Aquarinth segera mencelupkan kepalanya dan seluruh tubuhnya kedalam danau menyisakan diriku yang

berdiri di tengah tengah danau.

Aku mendapatkan tepuk tangan dari para royal, pekerja dan penduduk LCDP. Aku melakukan ini untuk LCDP.

Menggunakan getaran air aku berbicara dan memperbesar suaraku agar terdengar oleh semua orang.

“Semuanya, Musim penghujan telah datang!”


message 8: by Yozora (last edited Mar 02, 2014 03:33AM) (new)

Yozora Hikari | 109 comments Saputangan Hitam


Malam hari, waktunya tidur...
Janganlah Bermain di pohon, pergilah tidur wahai kawan…
Disaat kau tak terlelap, marilah berdoa…
Jangan lupa membawa, saputangan hitam…
Malam Hari, sang bulan tiba…
Janganlah menatap pohon, si saputangan hitam melihat…

Kudengarkan anak tetangga mendendangkan lagu Saputangan Hitam, kutatap mereka, sekelompok anak-anak yang bermain petak umpet dengan memakai lagu dongeng tersebut, sangat mengherankan untuk memikirkan bahwa lagu dengan syair yang sangat menyeramkan seperti itu dapat menjadi lagu dongeng anak-anak di desaku ini.

Sebelumnya, kuperkenalkan diriku, namaku Kiku, anak perempuan kepala desa kecil di pedalaman, desa yang bernama Ankoku Yoru. Ibuku meninggal di saat aku masih kecil, aku mempunyai seorang kakak lelaki bernama Hasu, keluarga kami turun temurun menjadi pelindung sebuah kuil di dalam hutan yang merupakan tugas utama keluarga kami.

“Kiku! Jangan mengkhayal saat memasang kekkai!”
Aku tersadar dari lamunanku dan berhadapan dengan wajah ayahku yang tampak marah.

“Maaf Ayah, hanya, banyak yang kupikirkan untuk persiapan festival bulan merah nanti.” Kataku sambil bersujud minta maaf, Kekkai adalah ritual pelindung untuk menghadapi festival bulan merah yang akan di adakan di desa kami malam ini.

Terdengar langkah kaki dari balik tirai bambu tempat kami melakukan ritual, tirai bambu tersingkap, dan tampaklah wajah kakakku, Hasu. “Ayah, reporter yang akan meliput festival telah tiba.”

Tak berapa lama, kami kemudian diperkenalkan dengan seorang pemuda yang kira-kira seumur dengan kakakku.

“Hajime mashite Tonosama, nama saya Daria, terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya.” Kata reporter itu dengan wajah penuh semangat.

“Jadi kamu yang akan meliput festival bulan merah desa kami? Kamu tampaknya masih sangat muda. Seperti yang telah kujelaskan, festival ini sangat tertutup untuk umum, namun tahun ini kami membuat pengecualian.” Ayahku yang penuh wibawa menjelaskan kepada Daria.

“Saya merasa terhormat!” Daria bersorak sambil menundukkan kepala penuh penghargaan kepada ayahku.

“Baiklah, kedua anakku, Hasu dan Kiku akan mengantarmu berkeliling, dan juga…” Ayahku menatap lekat-lekat wajah Daria “Jangan pergi ke hutan terlarang saat festival dimulai… Saya mohon dengan sangat.”

Kami mengantarkan Daria berkeliling di pusat pedesaan, tempat Festival Bulan Merah akan diadakan, hampir seluruh warga berada di san. Para ayah yang memasang taiko besar dipenuhi hiasan berwarna merah menyala, para ibu yang menyediakan cemilan dan minuman sambil menjaga anak-anak yang sedang bermain. Hasu, kakakku, menjelaskan seluruh kegiatan pada Daria, Daria mencatat semuanya sambil sesekali memotret.

Malam hari, waktunya tidur...
Janganlah Bermain di pohon, pergilah tidur wahai kawan…
Disaat kau tak terlelap, marilah berdoa…
Jangan lupa membawa, saputangan hitam…
Malam Hari, sang bulan tiba…
Janganlah menatap pohon, si saputangan hitam melihat…

Daria mendengarkan anak-anak yang bernyanyi sambil bermain, dia menatap mereka dengan perasaan heran, dia bertanya.“Lagu apa itu? Syairnya sangat… Aneh."

“Itu lagu dongeng anak-anak di desa kami, judulnya Saputangan Hitam.”

“Tampaknya bukan lagu yang pantas untuk menjadi lagu anak-anak.” Kata Daria kepada kami. Aku hanya mengangkat bahu, Hasu kemudian menjawab. “Lagu itu sudah turun temurun dinyanyikan di desa ini, jadi sudah bukan hal yang aneh untuk kami.”

“Cuman mengekspresikan rasa heran saja kok, tidak ada maksud lain.” Daria tersenyum dengan tenang, andai saja dia dan kakakku sama-sama dibesarkan di kota, mungkin mereka dapat menjadi sahabat.
Hasu satu-satunya pemuda berumur 21 tahun di desa ini, 10 tahun lalu, saat umurku masih 8 dan Hasu berumur 11 tahun, seorang pemuda di desa kami menghilang, tepat saat malam perayaan bulan merah. Sampai sekarang, Kowaku, nama pemuda itu, belum juga ketahuan rimbanya.

Perayaan Bulan Merah akhirnya dimulai, seluruh wanita memakai kimono hitam berhiaskan obi berwarna merah dan pria memakai kimono hitam dengan ikat kepala berwarna merah. Keluarga kami sebagai pelindung desa, memakai kimono putih dengan topeng menutup wajah kami, khusus untuk ayah, sang kepala desa, dia memakai topeng oni di wajahnya.

Setelah prosesi upacara, ayahku pergi bersama beberapa sesepuh menuju Kuil di tengah hutan terlarang dan tidak akan kembali sampai fajar tiba. Walau aku dan Hasu adalah anak kepala desa, kami tidak pernah diizinkan untuk pergi ke kuil di tengah hutan terlarang tersebut, yang dapat pergi kesana hanya kepala desa dan sesepuh yang terpilih.

Prosesi upacara yang melelahkan membuatku ingin cepat-cepat melepaskan kimono putihku dan berganti ke baju santai, tapi Hasu mengajakku untuk jalan-jalan di pawai yang diadakan di pusat pedesaan.
Kami jalan beriringan sambil bergandengan tangan, Hasu dan aku tidak terpisahkan dari kecil, mungkin karena sosok ibu yang sudah lama pergi atau juga karena ayah yang terkenal keras, kami jadi lebih mengandalkan satu sama lain.
Kulihat sosok Daria sedang memotret kumpulan orang di pawai, dia memakai kimono hitam dan ikat kepala merah pinjaman dari kakakku, dia melihat kami dan melambaikan tangan.

“Halo, aku kira kalian tidak akan datang ke pawai, wow, kalian terlihat menakjubkan dengan kimono putih.”

“Kau pandai memuji, mungkin karena kami berdua lebih terlihat mencolok di antara kumpulan orang yang memakai kimono hitam.” Aku menampik pujiannya.

“Tampaknya pujianku tidak berhasil yah.” Daria tersenyum kepadaku, harus kuakui senyumnya itu menyenangkan untuk di lihat.

“Jadi bagaimana? Apa kamu berhasil mendapat cukup bahan untuk artikelmu?” Hasu bertanya sambil menunjuk kamera Daria.

“Cukuplah untuk menjadi artikel yang bagus, tapi aku ingin menciptakan artikel yang menakjubkan, mungkin kalian bisa membantuku.”

“Membantu? Apa yang bisa kami berdua lakukan?” Hasu bertanya dengan heran.

“Aku tidak sengaja mendengarkan ayahmu berbicara dengan para sesepuh tentang persiapan upacara di kuil di tengah hutan terlarang, bisa kalian membawaku kesana?”

“Kau bercandakan?! Kami saja tidak pernah berkunjung kesana!” Kataku dengan marah.

“Kalian tidak pernah kesana? Itu bahkan lebih bagus lagi, masa kalian tidak pernah merasa heran dengan kuil misterius itu.”

“Tidak! Ayah kami melarang dengan keras untuk menginjakkan kaki disana, dan juga…”

“Baiklah, ayo kita pergi.” Hasu menyela kata-kataku, aku takjub dengan persetujuannya. “Hasu, kenapa?”

“Oh, ayolah Kiku, anggap saja ini bisa menjadi petualangan, kita tidak pernah melakukan hal ini dari kecil.”

“Tapi… Ayah…” Lidahku makin lama menjadi kelu, yang kurasakan hanya kakakku yang menarik tanganku dan Daria yang berjalan dengan antusias di samping kami. Sosok kami meninggalkan pawai yang meriah dan menuju ke arah gerbang bambu, perbatasan antara hutan terlarang dan pedesaan.

Gerbang bambu yang menjadi pemisah hutan terlarang dan pedesaan biasanya terkunci, namun anehnya hari ini gerbang tersebut tidak terkunci dan tidak terlihat penjaga di sekitarnya. Jimat kertas yang ditempelken di berbagai tempat sebagai segel pintu juga menghilang, Hasu membuka gerbang dan kami melangkah masuk ke dalam rimbunnya hutan terlarang.


message 9: by Yozora (last edited Mar 02, 2014 03:51AM) (new)

Yozora Hikari | 109 comments Hutan terlarang terlihat sangat menyeramkan jikalau ditatap secara langsung, biasanya kami hanya dapat melihatnya dari balik pagar bambu pembatas. Kabut tebal saat ini menyelimuti hutan terlarang, kami bahkan tidak dapat melihat satu sama lain.

“Hutan ini diberi segel, Kiku, berikan spell yang ayah ajarkan padamu.” Hasu menyarankan.

Aku menyatukan kedua jari telunjuk dan jari tengahku, kemudian sambil menutup mata untuk berkonsentrasi, kubisikkan spell pembuka segel. ”Kai…”
Seketika itu juga terasa angin yang bertiup kencang, dan dalam sekejap kabut yang menyelimuti hutan terlarang menghilang.

“Wow, keren!” Kata Daria terkagum-kagum.

Kini hutan terlarang dapat kami lihat, berbagai jenis pohon lebat menjulang tinggi, tanaman dan jenis bunga yang jarang kami lihat tersebar dimana-mana. Terutama dari balik cahaya bulan merah yang kini sedang menyinari hutan terlarang, semuanya terlihat seperti diselimuti dengan warna merah seperti darah. Daun-daun terlihat berwarna merah segar, bunga-bunga terlihat hitam kelam, pohon-pohon besar yang menjulang terlihat seperti mahkluk besar dan menyeramkan. Namun yang paling aneh, tidak ada suara apapun yang terdengar di hutan ini, bahkan suara burung malam ataupun suara angin. Kami seperti sedang berada di dalam potret horor 4 dimensi di dalam hutan terlarang ini.

“Ada jalan setapak disana,ayo kita telusuri.” Hasu menunjuk sebuah jalan setapak, yang aku yakin tadinya tak ada di dalam penglihatanku, namun sebelum ku keluarkan pendapatku, dia dan Daria sudah melangkah menuju jalan setapak tersebut.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak di dalam kesunyian, perasaanku tentang tempat ini makin lama makin tidak tertahankan.

“Kakak, kita keluar saja yuk?” Aku berusaha mengajak Hasu untuk kembali pulang, namun yang mengherankan, Hasu sepertinya tidak mendengarkan dan hanya terus berjalan. Wajahnya terlihat tegang dan pucat pasi, Daria di lain pihak semakin bersemangat untuk menemukan kuil tersebut.

Setelah beberapa lama berjalan, terdengarlah suara mantra yang di ucapkan dalam bahasa kuno. Dengan segera aku mengenali suara ayahku, kami sampai di ujung setapak tersebut dan akhirnya terlihat di hadapan kami kuil kayu besar dengan dihiasi segel kertas putih dengan tulisan bertinta merah.
Di kiri dan kanan kuil tersebut ditancapkan pohon bambu hitam yang aku tahu merupakan pohon bambu yang tadi kami gunakan di prosesi upacara di rumah. Di samping kedua pohon bambu tersebut, terlihat para sesepuh dengan kimono hitam dan dengan kerudung hitam menutupi wajah mereka, Ayahku berada di tengah, masih memakai kimono putihnya.

Dia sedang membelakangi kami, aku dapat mendengarkan mantra yang di ucapkan berulang kali. Sambil memejamkan mata aku berkonsentrasi mendengarkan mantra tersebut untuk mengetahui arti kata-kata yang di ucapkan, tersirat kata hidup, pengorbanan dan darah hitam, mantra yang sangat menyeramkan untuk di dengarkan.
Kemudian, suasana hening melanda, tak terdengar lagi suara mantra, hanya suara napasku yang terdengar,perasaan tidak nyaman melandaku. Kubuka kedua mataku, dan terlihatlah para sesepuh sedang menoleh ke arah kami, Walaupun dengan keadaan memakai kerudung hitam di kepala mereka, dapat kurasakan mata mereka menatap kami. Sepuluh orang sesepuh berkimono hitam dengan kerudung hitam menutupi kepala mereka, kesemuanya menatap kami dalam keheningan.

“Kau membawanya, Hasu?” Ayahku, bertanya kepada Hasu tanpa menoleh.

“Iya Ayah, kubawa dia seperti yang kau perintahkan.”

“Kakak, apa maksud semua ini?” Dengan perasaan cemas aku menoleh kepada Hasu.

“Kiku, maafkan kakak, ini harus kulakukan agar dapat selalu menjaga desa ini dan dapat selalu bersama Kiku.” Hasu menatapku dengan senyum yang penuh rasa bersalah. Senyum yang takkan pernah kulupakan.

"Hei, apa-apaan ini?!" terdengar suara protes Daria.

Karena sibuk memperhatikan kakakku, tanpa kusadari bahwa kami sudah dikepung oleh para sesepuh, mereka mengelilingi kami dengan membawa tali tambang. kami bertiga terperangkap tanpa jalan keluar, Hasu memeluk sambil menenangkanku, Daria hanya dapat menatap sekelilingnya dengan perasaan takut.
Kemudian, dengan kekuatan yang luar biasa, para sesepuh mengikat tangan, kaki dan mulut kami. Aku dan Hasu digiring ke samping kuil, kemudian terlihatlah hal yang sangat mengerikan.
Di depan ayahku, di dalam sebuah lubang bawah tanah, terbaringlah sesosok tubuh yang ditutupi dengan kain hitam tebal. Kulihat Daria di bawa menuju ke depan lubang tersebut sambil dipegang 2 sesepuh, dia meronta untuk melawan, namun para sesepuh terlalu kuat, apalagi Daria dalam keadaan terikat.

Ayahku melanjutkan mantra sendirian, di sekeliling kami para sesepuh meyiramkan cairan berwarna merah kedalam lubang, dari bau yang tercium, aku yakin itu darah.
Mantra terus berlanjut, kutatap kakakku yang hanya menatap tanah dengan wajah yang sendu dan penuh airmata, kuperhatikan Daria yang terlihat gemetar dengan hebatnya, kini aku tahu apa yang membuatnya sangat takut.

Dari balik lubang tersebut muncul kedua tangan, tangan yang berwarna merah seperti darah segar dan dengan kuku-kuku hitam yang sangat panjang dan kotor. kain hitam itu tersingkap, dan terlihatlah kepala yang tidak seperti manusia, kepalanya besar, dua kali lebih besar dari kepala manusia, rambutnya panjang dan lebat, dengan ikat kepala yang bertuliskan jimat di sekelilingnya. Matanya melotot dan diselimuti urat darah, mata yang seperti akan keluar dari lubangnya, ketiga matanya.
Mahkluk ini tidak mempunyai hidung, mulutnya lebar dan memanjang dari kiri dan kanan, lidahnya yang besar dan berwarna hitam menjulur keluar sambil meneteskan cairan berwarna hitam lengket, Dia menyeringai saat melihat Daria yang kini hanya dapat gemetar dengan pasrah.

Mahkluk itu kini sudah berdiri tegap, dibalik tubuhnya yang tampaknya berwarna merah seperti tangannya, terlihatlah kimono hitam dengan saputangan hitam yang tersampir dibalik sabuknya.
Para sesepuh menundukkan kepala dan Ayahku meneriakkan kata-kata kuno kepada mahkluk tersebut, mahkluk itu kemudian memegang tubuh Daria dan mulutnya yang besar semakin terbuka dan lebar, sangat lebar sehingga kami dapat melihat kehampaan yang ada di dalam rongga mulutnya, dan kemudian mahkluk itu menelan Daria dari kepala hingga pinggang, darah menyembur dari badan Daria mengenai seluruh orang yang mengelilingi mahkluk tersebut dan Daria, Aku yang tak bisa berteriak hanya dapat terbelalak dan akhirnya jatuh pingsan.

Aku terbangun dalam cahaya matahari yang hangat di sekitar wajahku, kutatap kanan kiriku, aku sedang berada di kamar. Aku teringat kembali kejadian tadi malam dan sontak terbangun.

“Kiku, kau sudah sadar? Syukurlah.” Hasu yang tengah duduk di kursi samping tempat tidurku berkata dengan lega.

“Daria... kakak, Daria, Dia dimakan oleh mahkluk itu!” Aku menatap kakakku dengan penuh airmata. Hasu memelukku dan kemudian berkata. “Kiku, tolong lupakan semua yang kau lihat, itu semua hanya mimpi buruk.”

“Mimpi buruk?! Apa kakak setega itu? Daria tidak bersalah!”

“Maaf Kiku, untuk menjaga Desa kita, hal itu harus diakukan, malam itu, kalo bukan Daria yang dikorbankan maka aku yang akan menjadi korban, Ayah yang mengetahui hal itu mengusahakan berbagai cara agar dapat menemukan pengganti, Kiku, Ayah tidak ingin kamu merasakan lagi kehilangan yang dulu kau rasakan saat Ibu meninggal.” Kata Hasu sambil mengusap rambutku.

“Sekarang istirahatlah, akan kubawakan makan siang sebentar lagi.” Hasu pergi meninggalkanku sendirian di kamar sambil menutup pintu.

Aku kemudian menatap anak-anak yang sedang bermain dari baik jendela kamarku, mereka bermain petak umpet sambil bernyanyi.

Malam hari, waktunya tidur...
Janganlah Bermain di pohon, pergilah tidur wahai kawan…
Disaat kau tak terlelap, marilah berdoa…
Jangan lupa membawa, saputangan hitam…
Malam Hari, sang bulan tiba…
Janganlah menatap pohon, si saputangan hitam melihat…

Kini aku tahu, makna dari lagu itu.

Yozora_Hikari


message 10: by Xeviar (new)

Xeviar (APXeviar) | 13 comments Malam Merah

Apa yang akan kau lakukan ketika dunia yang kau tinggali, yang selama ini kau anggap nyata, ternyata hanya sebuah kebohongan belaka?

Hal itulah yang baru-baru ini terjadi padaku. Dalam sebuah tur singkat bersama pihak sekolah di sebuah pedalaman di daerah Irian Jaya, aku menemukan fakta bahwa selama ini, dunia yang kita tinggali hanyalah bohong belaka.

Kala itu, aku bersama rombonganku bersama seorang pembimbing dari pihak sekolah—Pak Samael, dan seorang lagi dari penduduk lokal—seorang putra keluarga ndash dari suku Dani di lembah Baliem, pergi menuju hutan di lembah, di daerah timur pemukiman, dekat dengan perbatasan dengan Papua Nugini. Kami ber-enam diajak melihat-lihat perkebunan mereka, yang rata-rata adalah pisang, tebu, dan tembakau (di daerah pesisir pantai di barat). Melihat peternakan babi yang dipelihara di kandang yang bernama wamai, atau disebut juga rumah babi.

Setelah melihat upacara pemotongan jari oleh seorang suku Dani yang kehilangan anaknya, kurasa melihat hasil bumi dari orang-orang di sini jauh lebih baik. Selain melihat, kami juga dipersilahkan untuk mencoba membantu para pekerja di sana. Cukup melelahkan, tapi mungkin ini adalah salah satu pengalaman yang tak ada kiranya bagiku.

Karena kelelahan dan sudah saatnya para pekerja pulang ke rumah Hanoi mereka, kami diizinkan untuk berkeliling dengan syarat harus kembali sebelum gelap. Tetapi karena kebanyakan dari temanku sudah tidak sanggup melakukan apapun lagi, mereka hanya bersantai sambil memakan hasil kebun yang baru saja dipetik.
Sedangkan aku lebih memilih menjelajah karena kupikir, mungkin kesempatan ini tidak akan datang lagi padaku.

Sambil menoleh kanan-kiri aku berjalan melalui jalur yang sudah ada. Karena sudah sore dan matahari pun mulai tenggelam, suara-suara dari dalam hutan terdengar lebih keras. Dan semakin lama aku berjalan, semakin dalam bagian hutan yang telah kumasuki, suara-suara itu tidak menjadi sebuah sinkronisasi lagi.
Mereka pecah menjadi banyak suara yang samar.

Satu suara menarik perhatianku. Suara itu berupa gema musik yang semakin jauh aku masuk ke dalam hutan, menjadi semakin jelas. Sayangnya, langit semakin berwarna jingga kelabu. Aku dilema antara memuaskan rasa penasaranku atau kembali ke perkebunan. Namun akhirnya, dengan berat hati, kuputuskan untuk kembali.

Dan menuntaskan keingintahuanku besok.

*

Tepat tengah malam aku terbangun. Dengan peluh membanjir, membasahi kaus yang aku pakai saat itu. Dari lubang langit-langit, seberkas cahaya bulan menembus masuk. Dengan napas masih terengah, aku berjalan sepelan mungkin ke luar.

Angin dingin perlahan menerpa wajahku dengan lembut, mengakibatkan sensasi dingin yang aneh pada kulit tubuhku yang basah oleh keringat. Malam ini bulan penuh. Aku bahkan bisa melihat pemandangan di sekitarku tanpa memerlukan penerangan tambahan.

Dahan-dahan pohon di sekitar perumahan berderak-derak tertiup angin yang agak kencang. Bayangannya bergoyang-goyang di tanah di dekat kakiku. Beberapa bentuk berkelebat di rerumputan di bawah pohon. Dan suara-suara itu. Entah ini karena angin yang berhembus tepat di telingaku, atau memang suara-suara itu menjadi semakin keras.

Karena penasaran yang sudah tidak bisa dibendung lagi, dengan nekad aku berjalan menuju hutan. Pepohonan yang semakin rimbun tidak menghalangi cahaya untuk masuk.

Malah semuanya tampak semakin jelas. Sekilas tadi aku melihat beberapa kelinci yang melompat-lompat melewatiku, sesuatu yang nampak seperti rusa, dan beberapa burung yang berseliweran di atas kepalaku.

Sambil melambatkan langkah, aku berpikir. Beberapa hewan yang kulihat barusan bukanlah makhluk-makhluk nocturnal yang lebih banyak menghabiskan waktu pada malam hari.

Berusaha mengabaikan keanehan itu, aku melanjutkan langkahku masuk semakin jauh ke dalam hutan. Hutan yang tadinya lebat dengan pepohonan kini menjadi terbuka dengan jarak antar pohon satu dengan yang lain semakin lama semakin bertambah jauh.

Dan bukan lagi daun-daun berwarna hijau yang menutupi ranting-ranting rapuhnya, melainkan sulur-sulur kering penuh duri yang menjalar menciptakan bayangan mengerikan di samping kakiku. Dari atas, bulan tak lagi nampak kuning keemasan atau putih pucat sebagaimana seharusnya, melainkan merah. Sewarna darah.

Kapan berubahnya warna bulan itu, aku tak tahu. Tapi kini aku disergap ketakutan yang mengerikan. Suara gema musik yang menarikku kemari tak lagi indah seperti yang kudengar sore tadi. Tak semerdu ketika aku berada di rumah hanoi tadi.

Suara itu bagaikan teriakan seorang gadis. Mencekam. Mengerikan. Seakan duniamu akan hancur hanya dengan mendengar suaranya. Belum pernah kudengar suara seperti itu.

Dan seolah membenarkan dugaanku tadi, di ujung jalur yang kuikuti ada seorang gadis. Dia mengenakan gaun sifon putih yang menunjukkan siluet tubuhnya dengan amat jelas. Kepalanya menengadah ke atas, seolah sedang menangisi warna bulan yang kini sewarna darah—yang baru kusadari bahwa banyak darah yang menggenang di banyak tempat di sekitar dia berdiri. Bahkan di dekatku. Di semua tempat yang bisa kupandang di tempat ini.

Matanya yang sipit, bibirnya yang tipis, tulang rahangnya yang menonjol jelas, dan hidungnya yang kecil nan mancung itu entah bagaimana mengingatkanku pada rubah. Ah. Siluman rubah pada mithologi Korea, Kumiho . Atau pada mithologi Jepang, Kitsune .

Matanya yang tadi terpejam, kini membuka secara perlahan. Kini dia memandangku. Dengan raut wajah terkejut.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan gelisah.

Aku menunjuk diriku dengan bingung. Seketika itu juga dia mengangguk. Kuangkat bahuku tak acuh. “Aku mendengar suara,” jawabku jujur.

“Kau bisa mendengarnya?” sambil memandangnya, ragu-ragu aku mengangguk. Apa yang salah dengan mendengar suara?

“Astaga, ini tidak seharusnya terjadi”

“Kenapa?”
Dan dengan satu pertanyaan itu, mengalirlah cerita yang bagaikan dongeng.

“Aku Haruhi, seekor kitsune. Di luar sana, banyak kitsune sepertiku. Kami di perintahkan oleh majikan kami untuk menciptakan ilusi menggunakan sihir kami untuk melindungi kalian”

Sambil mencoba tidak diam sambil bengong, aku bertanya, “melindungi? Dari apa?”

“Dunia ini di ambang kehancuran, manusia. Kaum kami sedang berada dalam perang besar. Ketahuilah, selama ini, selama kalian hidup, kita saling berbagi tempat tinggal. Kalian hanya tak bisa melihat kami karena kami berada di dimensi yang lebih tinggi dari kalian. Kami, para kitsune ditugaskan untuk mencegah agar akibat perang kami tidak mengenai kalian, para manusia. Walaupun terkadang, orang-orang sepertimu muncul. Orang-orang yang mampu mendengar suara,” jelasnya panjang lebar.

“Kenapa?” tanyaku, masih tidak mengerti.

“Lihatlah sekelilingmu,” perintahnya padaku. Aku menurutinya. “Itu darah kaum kami yang gugur. Apakah kau juga tidak bertanya-tanya mengapa bulan berwarna merah? Karena bulan memantulkan warna paling banyak yang mampu dia tangkap dari bumi. Dan merah, adalah warna itu. Kami tidak bisa begitu saja membiarkan kalian bertempur bersama kami, yang bahkan tidak bisa kalian lihat tanpa terseret arus dalam situasi sulit kami saat ini.”

“Itu aneh. Aku tidak bisa mempercayaimu. Lagipula, apa hubungan suara yang kudengar tadi dengan semua ini?”
Dengan sabar dia menjelaskan, “kami melakukan sihir kami dengan menggetarkan pita suara kami. Suara yang kami hasilkan berupa musik yang menimbulkan ilusi pada kalian, karena dimensi kalian lebih rendah daripada kami.”

“Jadi suara yang kau sebut musik itu hanya akan terdengar seperti musik biasa di antara kaummu?”

“Ya,” dia mengangguk. “Bahkan kami disebut musisi di antara kaum kami yang lain. Tak ada yang mampu membuat musik seindah kami”

“Apa kalian semua seperti ini? Terlihat sama saja seperti manusia biasa?”

“Tidak. Lihatlah lebih teliti”

Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang dia katakan. Tapi aku melakukannya. Melihat dengan lebih teliti. Dan aku baru menyadari sesuatu. Gadis bergaun sifon yang tadi kulihat ternyata hanya sebuah ilusi. Yang kulihat kini hanyalah rubah betina yang berdiri dengan kedua kakinya, dengan dua buah ekor melambai-lambai dari balik badannya.

“Dua ekor. Menunjukkan angka dua ratus, umurku,” jelasnya tanpa kuminta.

“Astaga. Kupikir aku sudah gila. Mungkin jika aku kembali ke rumah dan tidur, esok semua akan kembali normal. Mungkin ini hanya mimpi. Ya. Mungkin begitu,” ucapku pada diriku sendiri.

“Ya, manusia. Mungkin ini hanya sebuah mimpi. Kembalilah. Kembalilah sebelum mimpi mengerikan ini menjadi kenyataan, manusia.”

Dan seperti tersihir, aku berbalik dan meninggalkan dia sendiri di sana. Menatapku dengan matanya yang berkilat terkena pantulan cahaya merah darah dari bulan di atas kami.

Ketika akhirnya aku sampai di depan rumah, aku menyadari satu hal.

Bahwa tidak ada satupun yang terjadi tadi adalah sebuah mimpi. Semuanya nyata. Kitsune, ilusi, perang, dimensi di atas kita, bumi di ambang kehancuran, tak satupun yang tak nyata.

Apa yang akan kau lakukan ketika dunia yang kau tinggali, yang selama ini kau anggap nyata, ternyata hanya sebuah kebohongan belaka?

Sebuah suara bergaung di kepalaku, menanyakan hal itu berkali-kali setelahnya.

Apa yang akan kau lakukan ketika dunia yang kau tinggali, yang selama ini kau anggap nyata, ternyata hanya sebuah kebohongan belaka?

Jika itu terjadi padamu, jawablah.

Apa yang akan kau lakukan ketika dunia yang kau tinggali, yang selama ini kau anggap nyata, ternyata hanya sebuah kebohongan belaka?

Karena ketika suara itu bergaung untuk yang ke-seratus kalinya, inilah jawabanku:

Apa yang akan kau lakukan ketika dunia yang kau tinggali, yang selama ini kau anggap nyata, ternyata hanya sebuah kebohongan belaka?

Tidak ada .
Yang kulakukan hanyalah berpura-pura bahwa tak ada yang terjadi

Dan suara itu berhenti setelah akhirnya aku berakhir di sini, di mana orang-orang dengan kemampuan mendengar sepertiku dikumpulkan bersama: RUMAH SAKIT JIWA.


message 11: by Ahmad (last edited Mar 02, 2014 12:15AM) (new)

Ahmad Alkadri (alkadrii) | 157 comments FANS

Begitu lulus dari kuliah, aku mendapati hidupku terombang-ambing tidak jelas. Aku berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Pekerjaan terbagusku, hingga setahun lalu, adalah menjadi penjaga warnet. Aku terlalu malu untuk minta uang ke orangtua untuk membuka usaha, apalagi minta pinjaman ke Bank.

Tapi, nasibku berubah setahun lalu.

.

Mungkin masih banyak yang ingat sesuatu yang terjadi pada tahun tersebut: Korean boom. Atau, lebih tepatnya, booming lagu-lagu, video-video, dari artis-artis Korea. Begitu banyak nama-nama boyband dan girlband yang mendadak ngetop dan digandrungi. Saat itu, aku selalu bertanya-tanya kenapa begitu banyak orang yang menyukai mereka.

Jawabannya kuperoleh beberapa bulan kemudian. Aku melamar kerja di sebuah majalah di Jakarta yang, pada saat itu, membutuhkan seorang asisten jurnalis untuk menulis konten mengenai artis-artis Korea yang sedang naik daun. Mereka membutuhkan seseorang dengan kemampuan berbahasa Inggris dan Korea. Kebetulan, aku menguasai keduanya (aku sempat belajar saat kuliah, mengambil supporting course dari fakultas sastra asing), dan saat melamar posisi tersebut, aku langsung diterima.

Tugas pertamaku adalah mengikuti dua jurnalis senior untuk meliput sebuah girlband yang saat itu akan manggung di Malaysia. Kami diberikan uang untuk membeli tiket, penginapan, peralatan, dan semua perlengkapan lainnya.

Tidak banyak yang kulakukan. Sebagian besar adalah memotret, mencatat, dan menyalin apa yang kedua jurnalis senior tersebut tulis. Aku hadir saat girlband tersebut turun dari pesawat dan ratusan orang berkerumun untuk memotret mereka. Aku nyaris terinjak-injak oleh petugas keamanan, para fans, dan reporter lainnya, tapi aku berhasil mendapatkan beberapa foto bagus. Kedua seniorku menuliskan kontennya, dan aku merapikannya lagi, kemudian mengirimnya. Kantor di Jakarta cukup senang, tapi belum puas.

“Ikuti terus mereka!” begitu perintah kantor pusat.

Kami melakukannya. Kedua seniorku diperintahkan untuk masuk ke konser dengan badge jurnalis mereka, sedangkan tugasku, di lain pihak, agak ganjil. Alih-alih ikut masuk ke dalam konser, aku ditugaskan untuk mengikuti para anggota girlband tersebut secara sembunyi-sembunyi sejak H-2 konser. Saat kutanya kepada kedua seniorku apa alasannya, jawabannya sederhana:

“Kami tak boleh ketahuan melakukan tindak paparazzi.”

Aku mengerti. Kedua seniorku adalah reporter yang cukup terkenal. Mereka memiliki nama baik. Dalam pertemuan-pertemuan dengan para reporter dari berbagai media lainnya, mereka selalu berbincang dengan lancar tanpa halangan.

Di lain pihak, aku hanyalah asisten. Tugasku adalah memotret dan membantu-bantu. Sama seperti para tukang foto lainnya yang nyaris menginjak satu sama lain di bandara, aku sangat expendable - bisa dibuang. Tak ada ruginya bila aku ketahuan, diusir, atau ditangkap oleh pihak keamanan.

Maka, aku melakukannya. Tapi, sialnya, aku mendapati aku tidak sendirian. Banyak paparazzi lainnya yang mengikuti. Orang-orang yang dibayar oleh media-media terkenal untuk mengambil foto-foto tak resmi menyertai ke mana pun girlband tersebut pergi. Kami berusaha tak ketahuan, setidaknya tidak oleh petugas keamanan ataupun staf panitia. Kami menyadari kehadiran satu sama lain, dan itu cukup mengesalkan.

Kenapa? Yah, logikanya begini: kalau kamu mendapatkan foto yang sama, di tempat yang sama, di waktu yang sama dengan para paparazzi atau orang-orang media lainnya, berarti tak ada yang istimewa dari beritamu. Simpel, ‘kan?

Malamnya, karena agak putus asa, aku mencoba menyusup masuk ke hotel girlband tersebut menginap dengan bersenjatakan hanya sebuah kamera ponsel. Pengamanannya yang luar biasa ketat membuatku harus menyogok seorang supir truk untuk bisa ikut masuk sebagai kenek. Kami digeledah habis-habisan sebelum membuka bagian belakang truk dan membawa barang-barang masuk, tapi aku berhasil lolos.

“Trims,” kataku selagi kami membawa kotak-kotak besar ke basement hotel.

“Tak apa. Dari Indonesia ‘kan?” tanyanya dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar.

“Ya, benar. Anda…?”

“Malaysia,” jawabnya pendek.

“Oh.”

“Mereka menyewa perusahaan tempatku kerja untuk mengangkut barang-barang,” katanya. “Mereka. Manajemen girlband itu.”

“Oh,” kataku lagi, melihat ke dalam kontainer truk. “Isi ini semua…?”

“Barang-barang mereka. Ya.”

“Oh. Kalau untuk konser, kenapa tidak dibawa ke stadium?” Konsernya saat itu akan dilakukan di stadium.

“Entah. Katanya sih, ini barang-barang pribadi girlband itu.”

Kotak-kotak yang kami turunkan masing-masing berbentuk balok, dari logam, dan sangat berat. Kami menurunkannya dengan forklift satu per satu. Kami ditugaskan untuk membawanya dan menumpuknya di depan lift barang di ujung basement. Dari sana, pihak manajemen akan mengangkutnya ke mana pun yang mereka butuhkan.

Lalu, bagaimana caraku untuk naik dan menyelinap, mengambil foto girlband tersebut diam-diam?

“Kamu bantu mereka menaikkan barang-barang ini,” kata supir tersebut. “Aku biasanya juga ikut membantu kalau kaya’ begini. Kamu akan bisa mencuri kesempatan selagi mereka memasukkan barang-barang ini ke entah mana pun itu.”

“Ada kemungkinan ini akan dibawa ke kamar mereka?” tanyaku.

“Kecil kemungkinan. Kecuali kalau isi kotak ini adalah sesuatu yang memang penting, yang mana tak mungkin mereka akan membiarkannya dibawa dengan truk tanpa dikawal.”

Aku setuju, itu masuk akal. Setidaknya, dengan demikian aku bisa mendapatkan jalan naik. Masalah keluar bisa diatur belakangan.

Dengan forklift, kami membawa kotak-kotak tersebut ke dekat lift barang. Si supir memberitahuku bahwa dia mau ke kamar kecil yang ada di dekat pintu masuk basement, dan dia meninggalkanku dengan barang-barang itu. Katanya, kalau ada petugas yang ingin menaikkan kotak-kotak itu, langsung saja ikut mereka, tawarkan bantuan. Tak usah menunggunya.

Aku duduk di atas salah satu kotak, mengecek ponselku. Ada beberapa SMS dari kedua seniorku, dan aku membalas mereka. Ada email tawaran rumah, aku langsung hapus. Ada notifikasi FB Chat dari seorang… mantanku. Aku abaikan ia. Seperti biasa.

Saat aku sedang santai-santai begitu, mendadak aku mendengar suara duk pelan.

Aku kaget. Aku melihat ke seisi basement, tapi tak ada siapa-siapa. Kemudian, suara duk itu terdengar lagi. Aku turun dari kotak, melihat ke sekeliling.

Kemudian, ada suara duk lagi. Kali ini, aku menoleh, melihat ke si sumber suara: kotak yang barusan kududuki. Aku mengamatinya, menunggu, tapi suara tersebut tak terdengar lagi. Tapi, aku juga menyadari kait tutupnya terbuka - mungkin tersenggol saat kududuki lagi.

Penasaran, bingung, dan agak khawatir, aku membuka kotak tersebut.
Yang kulihat sangat aneh, dan agak sulit kuungkapkan dengan kata-kata.

Berada di dalamnya adalah sebuah kotak kaca, transparan, penuh dengan air. Terbaring di dalam air tersebut, tenggelam sepenuhnya, adalah seorang wanita tanpa busana, berkulit pucat, dan tak berkaki.

Alih-alih kaki, ia memiliki sirip.

Kuulangi: separuh badan atas ia adalah manusia, sedangkan separuh badan bawah adalah ikan.

Dalam kondisi menghadapi sesuatu yang mustahil, tak terjelaskan, dan tak diduga-duga, segalanya terasa seperti melambat. Otak kita mengalihkan segala daya upayanya untuk memecahkan kemustahilan tersebut, mengatasi ketidakterjelasan kondisi yang kita hadapi. Itu yang kualami saat itu. Aku hanya terpaku, menatapnya, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal akan apa yang sedang kusaksikan.

Sebuah kotak berisi akuarium yang berisikan seorang… duyung?

Aku tak menyadari lift barang terbuka dan seseorang memukulku dari belakang dengan sangat keras.


———o0o———


Beberapa lama kemudian aku sadarkan diri. Aku berada di ruangan gelap, terikat di kursi, dengan sebuah meja di depanku. Satu-satunya sumber penerangan hanyalah sebuah lampu kecil yang ada di atas meja, menerangi mataku dengan cahaya putih yang menusuk.

Aku memejamkan mataku lagi, tak sanggup menghadapi cahaya tersebut.

“Nah, nah,” kata sebuah suara dari kegelapan. “Apa yang harus kami lakukan terhadapmu, nak?”

Aku membuka mataku lagi. Rasanya sangat menyilaukan, menusuk, tapi aku mencoba bertahan. Aku menyipitkan mataku, menatap ke kegelapan di seberang meja.

“Siapa?”

“Kau sudah melihat sesuatu,” kata suara tersebut - dalam, menggetarkan, dan bergema. Aku menggigil mendengarnya. “Kau sadar apa yang telah kau lihat?”

Kepalaku sakit, aku merasakan darah kering di tengkukku, tapi aku tidak bodoh. Dalam kondisi terperangkap, tubuh kita selalu memacu adrenalin lebih banyak, sehingga aku sepenuhnya sadar dan ingat.

“Ya.”

“Hoo,” kata suara tersebut. “Dan apa yang kamu ingat?”

“Gadis itu,” kataku. “Duyung itu. Dia anggota girlband itu, ‘kan?”

Hening sejenak. Aku tak bisa mendengar apa-apa dan melihat apa-apa selain cahaya putih tersebut dan suara statis yang menusuk. Aku menelan ludah.

“Siren,” kata suara tersebut.

“Ya?”

“Bukan duyung, nak. Siren,” ulangnya, dan aku nyaris bisa mendengar senyum di dalam suaranya.

“Siren,” ulangku lambat-lambat. “Apa itu?”

“Kamu akan segera tahu,” kata orang itu, dan lagi, aku bisa mendengar senyum dari suaranya. Dia mendorong sebuah kotak di atas meja mendekat ke arahku - sebuah CD player - dan menyalakannya.

Sebuah lagu mulai diputar. Itu adalah salah satu single hits dari girlband tersebut, tapi rasanya ada yang berbeda. Suara mereka lebih cantik, lebih halus, merdu, dan jauh lebih bagus secara keseluruhan dibandingkan yang pernah kudengar. Aku menatap CD tersebut, bingung, kemudian menatap ke kegelapan.

.

Entah berapa lama kemudian, aku dilepaskan. Di kamera ponselku telah ada foto-foto anggota girlband tersebut dalam berbagai kondisi yang menarik. Satu foto memperlihatkan mereka sedang berbaring di kasur dengan lingerie. Satu foto memperlihatkan mereka sedang bermain perang bantal. Pokoknya benar-benar foto a la paparazzi profesional.

Aku kembali ke hotel, menunjukkan foto-foto tersebut ke kedua seniorku. Mereka kegirangan, dan buru-buru mengirimnya ke kantor pusat. Aku naik jabatan setelah konser tersebut selesai, dan karirku meroket cepat setelahnya.

Lama kemudian, aku menyadari bahwa Siren adalah monster duyung yang dikisahkan menggunakan nyanyian mereka untuk memikat para pelaut Yunani kuno untuk menghampiri mereka dan menjangkarkan kapal di karang-karang tempat Siren bernyanyi. Biasanya, begitu para pelaut melompat dari kapal dan mendarat di karang, mereka akan dibunuh - dimakan oleh para Siren ataupun monster laut lain yang berada di sana.

Aku melakukan beberapa aksi penyusupan lagi setelahnya. Aku menyadari bahwa sebagian besar artis Korea yang terkenal adalah Siren. Suara-suara mereka mengandung magis secara harfiah, memikat para pendengarnya. Jika terlalu lama mendengarnya, orang bisa menjadi tergila-gila, menjadi fans berat, dan memuja-muja mereka.

Entah apa tujuan asli mereka. Mungkin mencari uang, sama seperti kita. Mungkin menyerap sari kehidupan manusia modern: waktu, harta, dan kasih sayang. Mungkin sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Aku tak pernah tahu. Aku tak pernah tertangkap lagi sesudah yang pertama itu. Aku tak pernah menceritakan kenyataan ini pada siapa pun hingga sekarang. Bukan karena takut tak dipercaya - aku memiliki cukup banyak dokumentasi untuk membuat orang banyak percaya. Bukan karena takut pada manajemen mereka, siapapun itu - aku selalu siap jika harus berjuang untuk apa yang kupercayai.

Alasan aku tak pernah membocorkannya ke media mana pun sebenarnya sederhana: kalau jati diri mereka sampai ketahuan, mereka akan diburu. Akan banyak orang-orang yang bisa marah. Mereka mungkin harus bersembunyi sejauh-jauhnya dan takkan pernah muncul lagi ke hadapan publik.

Dan, dengan demikian, mungkin aku takkan bisa lagi mendengar nyanyian mereka yang begitu indah dan memikat.

.

Tapi, kalian takkan percaya padaku, ‘kan?


message 12: by Erwin (new)

Erwin Adriansyah | 634 comments GENDUT PEMALAS DAN ANAK KECIL

Nada-nada piano mengalun cepat lagi deras. Alhasil bibir Gendut Pemalas merekah lantaran dia seketika mengenali loncatan-loncatan oktaf, serta rangkaian glissando dan tremolo yang kini mempermainkan telinganya.

“Sombong, mentang-mentang bisa Petrushka,” katanya tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop di pangkuannya sementara Anak Kecil malah terkikih-kikih lantas tergial-gial berlebihan melanjutkan aksinya ‘menyiksa’ tuts alat musiknya.

Kedua sosok yang jauh terpaut umur itu kemudian kembali asyik dengan kegiatan masing-masing. Untuk sekarang tiada kata yang perlu terucap. Biarlah pria gemuk sibuk mengerjakan terjemahannya, toh tenggat penyerahannya sudah dekat. Izinkanlah juga gadis cilik temannya unjuk gigi, toh niatnya baik, hanya sekadar ingin menyemangati dan menghibur.

Tentu kedamaian ketak ketik bercampur harmoni melodi ini takkan bertahan lama, cerita harus berjalan soalnya.

Benar saja, kurang 15 menit kemudian, musisi muda mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, lalu menghantamkan jemarinya asal-asalan ke bilah-bilah piano.

“Napa, Cil?”

Pianis belia menoleh ke kawannya di sofa, “Bosen.” Seringai nakalnya terbentuk. “Pengen gangguin Gepe.”

Gembrot mendesah pasrah, “Ya, udah, gangguin kalo gitu.”

“Asyik!” AK pun melesat, jungkir balik di udara, terus mendarat telungkup bertopang dagu persis di sebelah GP. Diliriknya monitor, “Belum selesai?”

“Belum.”

“Berapa lama lagi?”

“Lima puluh halaman.”

Remaja perempuan bangkit, mengambil laptop, meletakkannya di meja di hadapan mereka, lalu membaringkan kepalanya di pangkuan konconya, “Terima kasih,” ujarnya manis manja.

“Cil, aku harus kerja.”

“Lah, terus ngapain ke sini?”

Gempal mengambil telepon seluler dari saku kemejanya, “‘Ndut, temenin, dong. Nyokap pergi, bengong, bete ….’”

Belum selesai pesan elektronik tadi dibacakan, Anak Kecil merebut perangkat komunikasi tersebut, sigap melemparnya ke meja seraya tertawa kagok. Mau tak mau hati Gendut Pemalas luruh. Bagaimana tidak? Sobat barunya ini begitu gembira telah menemukan makhluk sejenisnya sekaligus antusias belajar soal jati diri sejati serta kaumnya sebenarnya.

“Cerita, dong,” nona angkat bicara.

Tambun membelai-belai rambut kecokelatan dara di pangkuannya, “Kamu mau tau soal apa? Tradisi berburu kuno? Para alfa?”

Di luar dugaan, tanggapan bocah adalah, “Ritual kawin.”

Bongsor mafhum bahwa cepat atau lambat mereka akan membahasnya, apalagi juniornya sudah hendak memasuki usia dewasa, namun tetap saja, “Bukannya kamu masih terlalu muda untuk hal-hal gituan?”

“Ya, nggak,” noni memutar bola matanya, “sebenernya penasaran aja gitu apa mungkin nyokap tau kalo dia pernah dikawinin pejantan spesies laen.”

“Kemungkinan besar nggak, beliau juga nggak tau, kan, buah hatinya suka makan orang sembarangan,” disentilnya hidung upik.

Keduanya tertawa, terkenang pertemuan pertama mereka pada suatu malam dingin entah berapa bulan lalu. Ketika itu si comel tak mampu lagi mengendalikan rasa lapar ganjil yang menghantuinya. Alhasil dia nekat menerjang seorang pengemudi motor di jalan nan sepi di sudut kota.

GP memergokinya tengah asyik bersantap, AK menyerang, keduanya bertarung. Gembul unggul, tapi menyadari lawannya adalah anak baru yang bahkan tidak tahu apa dan siapa dirinya sendiri. Akhirnya jadilah mereka semacam pasangan guru murid, atau malah ayah anak aneh.

Tentu kilas balik itu takkan mengendurkan keingintahuan pemula, “Jadi? Ritual kawin?”

“Ahem,” kehabisan pilihan, senior memulainya dengan hati-hati, “sebenernya, sih, sederhana banget. Kalo kamu pernah …” ditatapnya binar hijau mata cantrik yang makin hari makin disayanginya, “anu … apa kamu pernah ….”

Cilik bengong, mukanya mendadak memerah total, “Casse-toi! Je suis une vierge!” sontak dia merepet dalam bahasa ibunya.

Pengakuan spontan barusan memaksa pengajar mengambil pendekatan lain, “Ah, oke, seperti aku bilang tadi, ritual kawin kita, tuh, sebenernya sederhana. Pejantan punya penis, betina punya vagina,” pendekatan super ilmiah. “Bila mereka saling menyukai, maka pejantan akan memasukkan penisnya ke dalam vagina betina, lalu terjadilah pembuahan dan dalam ….”

Pelajar mengerdip bingung, lantas menepak muka lawan bicaranya, “Bukan itu maksudku!”

“Lalu apa?” kata si korban tepakan, mengabaikan telapak yang masih berlabuh di wajahnya.

“Yah, sebenernya itu juga, sih, spesifiknya, aku ingin tau apa yang membuat pejantan tertarik pada betina … atau mungkin lebih tepatnya, apa yang membuat ayahku," hening, "ayah kandungku, tertarik pada ibuku.”

Sanubari Gendut Pemalas bak tersayat mendengar pengakuannya. Terus terang, dalam kondisi normal, mustahil Anak Kecil dapat terlahir ke dunia. Paragraf di bawah ini memuat penjelasan panjang lebarnya.

Pertama, kaum mereka punya tendensi kuat melahap manusia yang dikawininya lantaran feromon manusia ternyata punya efek samping kurang menyenangkan yaitu sangat meningkatkan rasa lapar. Kedua, peluang wanita manusia mengandung peranakan amat luar biasa kecil. Ketiga, janin peranakan terlalu rentan keguguran. Keempat, pejantan umumnya memiliki hubungan batin dengan keturunannya, bahkan saat dalam kandungan, ini berarti si ayah kurang lebih tahu keberadaan peranakannya. Kelima, para ayah cenderung membunuh peranakan, baik dalam kandungan atau setelah dilahirkan, demi menghindari konflik dengan keturunan sahnya.

Hal ini membuat pejantan menarik satu kesimpulan utama, “Ayahmu sangat mencintai ibumu,” dikecupnya punggung tangan peranakan yang tadi mendarat di mukanya, “dan beliau pasti menginginkan yang terbaik bagimu.”

Oke, itu bagian gampangnya. Sekarang mulailah bagian tersulitnya.

Anak Kecil menatapnya lekat-lekat, “Apa kamu … ayahku?”

Deduksi paling wajar. Anggota spesies mereka yang lain pun pasti akan mengira demikian.

Akan tetapi, “Sayangnya bukan.”

“Kenapa?”

“Aku selibat.”

Untuk kesekian kalinya, mata bening AK mengerjap lugu, “Selibat?”

“Tidak kawin.”

“Maksud?”

“Aku tidak memasukkan penisku ke dalam vagina, baik milik manusia atau sesama kita.” Melihat ekspresi datar absolut si kecil, sesopan mungkin GP menambahkan, “Aku juga tidak memasukkan penisku ke dalam anus, baik milik manusia atau sesama kita, dan tidak pula memasukkan penis, baik milik manusia atau sesama kita, ke dalam anusku.”

Bibir betina muda mencebik, kemudian kepalanya menoleh tepat ke selangkangan pemangkunya. Tak ketinggalan pula telunjuk kanannya menyodok-nyodok tak berperasaan ke bagian tersebut.

“Terima kasih atas kesediaanmu memastikannya, Cil, tapi percayalah, aku punya penis dan benda sialan itu masih berfungsi baik,” sambung lelaki penuh kekalahan.

Penyelidik melirik, “Terus kenapa?”

Tersangka menghela napas, “Bosen aja gitu, makan, makan, makan, kawin, kawin, kawin.”

“Eh, omong-omong, spesies kita mandang hubungan kita kayak apa? Pejantan lagi mupuk calon pasangannya?” tanya Anak Kecil lagi.

“Kurang lebih.”

“Pedo.”

“Keberatan?”

“Nggak.”

Dialog mereka tersela oleh suara keriuk dari perut gadis yang memang sedang dalam masa pertumbuhan itu.

Sewenang-wenang penjaganya bangkit dan berkata, “Mau dimasakin apa?” tatkala mojang tadi jatuh begitu saja dari pangkuannya ke lantai.

“Aku nggak mau makan sampah,” menggerutu, sang penderita berdiri.

Pemakan sampah berdecak, namun tetap menawarkan, “Mau ditemenin?”

Predator betina menyeringai lebar, “Nah, gitu dong!”

Keduanya lantas melangkah menuju balkon griya tawang, lalu melompat menembus kegelapan senja. Mereka mau ke mana, berbuat apa, entahlah, yang pasti kisah cabul cerbul bulan ini sudah selesai.


message 13: by Kayzerotaku (last edited Mar 08, 2014 03:26AM) (new)

Kayzerotaku | 320 comments Undangan Sang Raja Kuning

-#-
Di bawah naungan pohon, seorang gadis muda duduk dan melantunkan sebuah lagu:

Di tepi pantai, gulungan awan menghempas,
Matahari kembar tenggelam di balik danau
Bayangan jatuh
Di Carcosa

Sangat aneh malam dimana bintang hitam muncul
Dan bulan asing beredar di langit
Tetapi lebih aneh lagi
Carcosa yang hilang

Nyanyian yang Hyades nyanyikan
Dimana jubah sang Raja berkibar,
Harus mati tanpa terdengar
Di Carcosa yang pudar

Nyanyian jiwaku,suaraku padam
Mati, tanpa pujian, selagi airmata
kering dan padam di
Carcosa yang hilang

Mendadak, suara tepukan tangan terdengar. Gadis itu berpaling pada seorang anak laki-laki yang berpakaian serba kuning. Bahkan rambutnya pirang. Ia menyeletuk.

“Rupanya aku punya seorang penggemar.”

“Suara Kakak indah sekali.” Puji anak laki-laki tersebut. “Lagu apa itu?”

“Aku membacanya di sebuah buku.” Kata gadis itu menjelaskan. “Namanya ‘Nyanyian Cassilda’. Hobiku adalah menyanyikan syair atau lagu yang kubaca di buku.”

Seraya mengangguk, anak laki-laki itu berkata. “Maukah Kakak datang ke pestaku? Aku ingin Kakak menyanyi di pesta ulang tahunku?”

Gadis itu terkejut mendengar permintaan itu. Tanpa ingin menyinggung perasaan anak tersebut, gadis itu bertanya.

“Aduh, kamu baik sekali dik! Tetapi apakah tidak merepotkan? Orang tuamu tidak keberatan untuk mengundang orang yang tidak dikenal? Kau baru kenal Kakak…” Anak tersebut bangkit dan berkata.

“Jangan kuatir! Orang tuaku takkan keberatan!” Ia langsung menggamit lengan gadis itu dengan wajah manja. “Ayolah kak!”

Gadis itu akhirnya menjawab. “Baiklah, aku akan datang ke pestamu untuk menyanyi! Siapa namamu, Dik?”

Dengan senyum manisnya, anak laki-laki itu menjawab. “Rahasia…nama Kakak siapa?”

“Idih, kok malah balik bertanya?” canda gadis itu. “Namaku Yulianti.”


“Baik, Kak Yulianti!” Anak itu segera merogoh sesuatu dari sakunya. “Tunggu aku pada tengah malam. Jangan lupa bawa kartu ini!” Setelah memberikan kartu tersebut pada Yulianti, ia langsung meninggalkan gadis tersebut.

Yulianti memperhatikan sebuah simbol aneh yang mirip aksara Cina atau Timur Tengah pada kartu tersebut. Simbol tersebut terdiri dari tiga kaki, namun dua kaki lainnya seperti tanda
tanya. Tidak hanya itu, kartu tersebut berwarna kuning emas. Seraya menggelengkan kepalanya, gadis itu pulang ke rumahnya.


-#-

Setelah membereskan pekerjaan rumah tangga, Yulianti merasa lelah dan tertidur. Tanpa sadar, kartu kuning tersebut tergeletak di sampingnya. Ia tidur pulas hingga sebuah ketukan di jendela membangunkannya. Ia juga mendengar suara memanggil.

“Kakak! Kak Yulianti!” Setengah mengantuk, ia bangun dan melihat anak laki-laki yang ditemuinya tadi siang, berdiri di luar.

“Kakak tidak lupa janji kita?” tanyanya.

“Aduh, Kakak masih mengantuk.” Kata Yulianti beralasan.

“Tidak apa-apa! Pesta ulang tahunku dimulai sekarang!” kata anak tersebut .Walau agak jengkel, gadis muda itu tidak ingin mengecewakan anak laki-laki tersebut. Ia berkata.

“Kalau begitu, tunggu sebentar. Kakak ganti pakaian dulu.”

Anak itu menukas. “Tidak usah, begitu saja sudah cukup?”

“Tapi…ini pesta ulang tahunmu. Aku harus berpakaian pantas…”

“Tidak perlu!” kata anak itu setengah membentak. “Maaf…maksudku Kakak cukup berpakaian itu saja.”

Akhirnya Yulianti memutuskan untuk mengalah. “Baik ,terserah kau saja, Dik!”

“Oh, satu lagi!” Anak laki-laki itu mengeluarkan sebuah selendang kuning. “Kakak harus menutup mata Kakak dengan ini dan jangan pernah membukanya sebelum aku berkata iya. Dalam keadaan apapun jangan pernah buka!”

Yulianti heran mendengarnya. “Harus menutup mata?” Ia ingin bertanya lagi, tetapi diurungkannya ketika melihat anak tersebut mulai merengut. Gadis itu segera mengambil selendang dan menutup matanya dengan selendang tersebut. Ia mengulurkan tangannya pada anak tersebut yang segera memegangnya.

“Pegang erat-erat, Kak!” Begitu ia memegang tangannya, ia merasakan tubuhnya seperti melayang dan meluncur dengan kecepatan tinggi. Yulianti sempat menjerit-jerit, namun ia mendengar tawa dari anak kecil tersebut. Tak lama kemudian, ia mendengar anak itu berkata

“Kita sudah tiba, Kak! Sekarang Kakak boleh membuka selendang tersebut.”

Ia segera menarik selendang tersebut dan melihat…ia tiba di sebuah istana dengan menara-menara hitam yang lancip. Langit di sekitarnya berwarna ungu gelap dengan bintang-bintang hitam. Ia juga melihat bahwa istana tersebut tak jauh dari sebuah danau. Kabut tebal mengambang di atas permukaan danau, sehingga membuat suasana angker.

“Ayo, Kak! Orang tuaku sudah menunggu kita!”

-#-

Setiba di dalam, Yulianti melihat sebuah aula besar dimana semua orang tengah berpesta. Semua orang di dalam berbusana kuning, kecuali dia. Begitu ia berpaling, anak laki-laki tadi sudah menghilang. Ia menengok kesana dan kemari, tetapi tidak menemukan yang dicarinya. Sebuah suara berat memanggilnya.

“Apakah Anda bernama Yulianti?” Gadis itu berputar dan melihat seseorang di depannya. Ia berperawakan tinggi dan berjubah kuning yang compang-camping. Sebuah mahkota menghiasi kepalanya. Tak hanya itu, ia juga mengenakan sebuah topeng putih yang menutupi wajahnya.Yang menarik perhatian Yulianti adalah kedua tangan yang terlihat pucat, lebih mirip seperti tulang-tulang. Kegugupan mulai menjalari gadis muda itu, ketika sang tuan rumah bertanya kembali.

“Apakah Kai yang mengundangmu kemari? Ia berkata suaramu indah sekali.”

“Senang…bertemu dengan Anda…, Tuan” ucap Yulianti gugup. Sosok itu melanjutkan

“Aku ingin mendengar nyanyianmu…” Sosok berjubah kuning tersebut memberi aba-aba, seketika semua orang berhenti. Di saat yang sama, sebuah kursi tinggi muncul tiba-tiba dan sosok berjubah tersebut duduk. Sejenak, keheningan memenuhi aula besar itu.Yulianti sadar bahwa mereka menunggunya untuk bernyanyi. Ia berkata.

“Terima kasih banyak atas undangan yang diberikan pada saya. Suara saya tidaklah begitu bagus, tetapi saya akan berusaha sebaik-baiknya.” Setelah itu ia mulai menarik nafas dan mengangkat suaranya. Gadis itu menyanyikan beberapa lagu yang ia kenal, dan menutupnya dengan nyanyian yang dinyanyikannya tadi pagi.

Seketika seluruh hadirin terdiam hingga sosok berjubah kuning itu menepukkan tangannya sehingga tepukan tangan itu membahana di seluruh aula. Semua orang segera memberikan aplaus. Hal itu membuat Yulianti menarik nafas lega. Lalu sosok berjubah kuning berkata.

“Sungguh indah lagu yang kau nyanyikan, terutama yang terakhir.” Ia memberikan sesuatu pada gadis tersebut. “Datanglah kembali, kami semua suka mendengar nyanyianmu.” Setelah berkata demikian, sosok tersebut meninggalkan Yulianti dan menghilang di balik kerumunan para hadirin. Tiba-tiba sebuah suara yang dikenalnya memanggil.

“Nah, apa kubilang! Ayahku menyukai suara Kakak!” goda Kai pada gadis itu.

“Tadinya aku takut…” aku Yulianti. “Tetapi syukurlah, semuanya berjalan lancar. Eh, bolehkah aku pulang sekarang? Sudah larut malam, nanti majikanku mencariku.”

“Kakak tidak mau ikut berpesta?”

“Kakak datang hanya untuk menyanyi, bukan untuk berpesta. Ayolah, Kai!”

“Baiklah!” balas anak laki-laki tersebut. “Ini karena Kakak yang minta! Nanti Kakak harus datang, jika kami undang lagi. Janji?”

“Janji!” Setelah saling mengaitkan kelingking, Kai langsung menutup mata Yulianti dengan selendang dan memegang tangannya. Gadis itu kembali merasakan tubuhnya seperti terjatuh ke lubang yang tak berdasar dan ia sempat menjerit histeris…

-#-

Keesokan harinya, Yulianti terbangun. Ia melihat bahwa ia telah berada kembali di kamar. Kicau burung terdengar di luar. Tidak ada yang berubah, semuanya tetap sama.

“Hanya mimpi rupanya.” Gumamnya dalam hati. Mendadak, ia merasakan sesuatu di balik selimut. Ketika selimut diangkat, ia melihat sebuah gelang emas yang serupa dengan simbol di kartu dari Kai.Ia menimang gelang tersebut dengan pandangan gembira. Ia tahu mulai sekarang hidupnya akan berubah.

-#-

Duapuluh tahun kemudian,

Begitu sang primadona keluar dari gedung kesenian, kerumunan orang segera merubungnya bagaikan lebah. Para fans dan wartawan mendekati sang penyanyi, tetapi para bodyguard mencegah mereka. Dengan pelan tapi pasti, Yulia, sang penyanyi menuju limousine ditengah-tengah lautan manusia. Begitu ia memasuki mobil, seorang bodyguard segera menutup pintu dan mobil segera melaju.

Yulia menarik nafas lega, ketika sebuah suara menyapanya.

“Pertunjukan yang indah bukan?” Sang penyanyi hampir terlonjak ketika melihat seorang pria berambut pirang dan berpakaian necis duduk di depannya. Ia mengenakan dasi yang berwarna kuning.

“Bagaimana kau bisa masuk?” tanyanya ketus. “Supir, hentikan mobil ini!”

Buru-buru pria tersebut berkata. “Tunggu dulu! Aku tidak bermaksud buruk pada Anda, Nona Yulia. Dengarkan saya dulu.”

Yulia berkata. “Baik, kau punya 10 menit untuk menjelaskan!”

“Terima kasih banyak.” Kata pria tersebut. “Reputasi Anda sebagai penyanyi telah tersebar dimana-mana! Tuanku tertarik untuk mendengarkan suara merdu Anda dan ia mengundang Anda untuk menyanyi di pesta yang diadakan di rumahnya.

Acuh tak acuh, wanita itu menyahut. “Menarik, tetapi honorku tidak murah.”

“Uang tidak jadi masalah! Yang penting, maukah Anda memenuhi undangan Tuanku?” kata pria itu. “Aku menunggu jawaban Anda.”

Setelah berpikir sejenak, Yulia menjawab. “Aku terima undangan tersebut! Kapan dan dimana?” Pria misterius itu merogoh saku jasnya dan memberikan sebuah kartu berwarna kuning emas padanya. Penyanyi wanita itu melihat sebuah simbol aneh. Yulia merasa tidak asing dengan kartu dan simbol tersebut

“Kapanpun Anda siap, Nona Yulia.” ujar pria tersebut. “Yang Anda harus lakukan adalah membawa kartu ini pada jam 01.00 pagi. Tuanku akan menjemput Anda bila Anda siap. Selain itu utusan Tuanku akan meminta Anda untuk melakukan sesuatu. Itu saja.”

“Terima kasih, tolong berikan nomor kontak Anda sehingga saya…”Ketika Yulia berpaling, pria tersebut telah menghilang dari pandangannya. Di saat yang sama, supir limousine memanggil.

“Ada apa, Nona Yulia? Ada yang saya bisa bantu?”

“Tidak apa-apa.” Ujar sang primadona itu. Ia mengecek pintu mobil, semuanya terkunci. Ia tidak habis pikir bagaimana pria itu bisa masuk dan keluar dari limousine yang terkunci rapat.

-#-


message 14: by Kayzerotaku (last edited Mar 08, 2014 03:28AM) (new)

Kayzerotaku | 320 comments Dua hari kemudian
Yulia berdiri sendirian di sebuah jalan pada tengah malam. Tubuhnya menggigil karena dinginnya malam. Diam-diam ia merutuk dalam hati. Mengapa ia harus melakukan ini? Memenuhi undangan yang tidak jelas junjungannya. Ia kembali merogoh kartu emas tersebut dan memperhatikannya sekali lagi.

“Apa ini?” serunya heran. Ia melihat sesuatu di kartu yang dipegangnya. Di atas simbol aneh tersebut, muncul tulisan ‘Carcosa’. Penyanyi itu tertegun karena ia yakin bahwa tidak ada tulisan tersebut sebelumnya.

“Permisi, apakah Anda Nona Yulia?” tanya seseorang. Yulia berpaling dan melihat seorang pelayan dengan jas hitam berdiri di hadapannya.

“Ya, mengapa lama sekali?” tanya wanita itu dengan tajam. “Tidak sopan membiarkan seorang wanita menunggu!”

Sang pelayan hanya mengangguk, “Maaf atas keterlambatan saya! Kita akan berangkat setelah Anda menutup mata dengan selendang ini.” Ia segera menyodorkan sebuah selendang kuning pada Yulia. Lagi-lagi, ia merasa sesuatu yang tak asing.

“Haruskah aku menutup mataku dengan ini?” tanyanya.

“Itu persyaratan yang Tuanku ajukan!” ujar pelayan itu dengan tegas. “Tutuplah mata Anda dengan selendang itu, lalu peganglah tanganku.” Walau enggan, Yulia segera menutup matanya dengan selendang tersebut dan ia memegang tangan pelayan tersebut.

-#-

“Kita sudah tiba, Nona Yulia.” Pelayan itu berkata. “Untuk sementara, biarkanlah selendang itu tetap menutup mata Anda. Apapun yang terjadi, jangan buka selendang itu!” Yulia hanya kembali mengangguk. Ia mengikuti pelayan misterius itu memasuki ruangan besar yang nampak bercahaya redup. Suara riuh gembira dapat didengarnya. Kemudian wanita itu mendengar suara yang sangat dikenalnya.

“Nona Yulia, sudah lama kami menanti kedatangan Anda.” Kata suara tersebut. “Sejujurnya, kami merindukan suara indahmu.”

“Terima kasih!” jawab yang disambut. “Bisakah kita potong basa-basi ini? Saya siap untuk menyanyi apapun yang Anda minta dengan bayaran yang pantas.”

“Tentu!” Seketika itu juga suasana menjadi hening. Yulia mulai mengangkat suaranya dan menyanyi lagu-lagu gubahannya yang populer.

-#-
Seraya menyanyi, Yulia diam-diam mengangkat selendang yang menutup matanya. Ia melihat dan melihat seorang anak laki-laki berambut pirang di depannya.
Kai? Gumamnya dalam hati.

Anak laki-laki itu berkata dengan nada kecewa. “Aku menunggu Kakak untuk menyanyi bagiku, tetapi Kakak tidak pernah kembali. Kali ini suara Kakak tidak seindah dulu…” Yulia terbelalak mendengarnya. Saat bersamaan, tubuh Kai mulai bertambah besar dan diselubungi jubah kuning. Ia mengenalinya sebagai tuan rumah istana ini. Wanita itu mengingat semuanya. Saat dia bernama Yulianti…

“Kak Yulianti bukanlah Kakak yang kukenal dulu…” ucapnya seiring dengan suaranya yang bertambah berat. “Kakak seharusnya tidak melihat wujud asliku…sekarang sudah terlambat!”Tiba-tiba tentakel-tentakel berlendir muncul dari balik jubah kuning tersebut, dan jumlahnya makin banyak. Sosok tubuh di depannya mulai bertambah tinggi hingga mencapai langit-langit. Suara robekan terdengar ketika sepasang sayap yang mirip kelelawar muncul dari punggung sosok tersebut.

Tanpa sadar, Yulia berhenti bernyanyi. Sosok yang tadinya Kai, mulai berteriak dengan suara yang tak pernah didengar manusia biasa sebelumnya.

“Mengapa berhenti bernyanyi? Teruskan!” Suara benda pecah terdengar. Yulia melihat bahwa benda tersebut adalah topeng yang dikenakan sosok itu. Begitu ia mengangkat kepalanya untuk melihat sosok itu, ia menjadi pucat dan gemetar. Di balik jubah kuning tersebut, tidak ada wajah. Yang ada hanya sulur-sulur berlendir yang menggeliat dan kedua mata kuning yang berapi-api.

Di sekelilingnya, ia melihat ekspresi para hadirin berubah. Mata mereka dipenuhi pandangan liar dan mulut mereka berbuih dan berteriak “Terus menyanyi! Menyanyilah demi Sang Raja Kuning (King in Yellow)!” Tak tahan lagi, Yulia menjerit sekeras-kerasnya dan terjerembab di lantai yang dingin. Wanita itu menatap dengan ketakutan ketika sosok berjubah kuning dengan sulur-sulur di wajahnya menatapnya. Tubuhnya menggigil dengan keras.

“Tidak pernah ada manusia yang keluar hidup-hidup dari Carcosa!” kata monster berjubah itu mengancam. “Mengingat pertemuan kita, aku akan mengembalikanmu dengan selamat. Tetapi aku harus mengambil sesuatu darimu!” Yulia menjerit kesekian kalinya, ketika monster itu mengulurkan tangannya yang berupa sulur kepadanya…dan segalanya menjadi gelap gulita.


-#-
Sebulan kemudian.
Yulia, yang dulunya bernama Yulianti duduk di sudut ruangan dengan pandangan nanar dan wajah yang tidak terawat. Sebagai pengganti gaun, ia kini mengenakan baju rumah sakit kusam. Sementara di luar, seorang dokter dan beberapa ko-ass mengamatinya di balik teralis. Lalu sang dokter menjelaskan.

“Pasien wanita berusia 32 tahun ditemukan di jalanan dalam keadaan katatonik. Beberapa saksi mengatakan bahwa ia adalah penyanyi terkenal Yulia Ningsih. Ia diberitakan telah menghilang selama 1 bulan. Ia menunjukkan perlawanan ketika dibawa ke bangsal ini. Ia terus meracau: “Carcosa! Ia disana! Raja Kuning! Kai! Ia disana!” Jadi apa diagnosis kalian tentang kasus ini?”

Seorang ko-ass mengangkat tangannya. Ia menjawab.“Menurut saya, ini kasus Gangguan Psikosis Singkat, tetapi kemungkinan Skizofrenia tidak dapat dikecualikan!” Sang konsulen mengangguk dengan puas.

“Bagus! Kamu akan membahas kasus ini minggu depan!”


Ketika mereka berlalu, sebuah nyanyian sendu terdengar dari kamar Yulia.

Di tepi pantai, gulungan awan menghempas,
Matahari kembar tenggelam di balik danau
Bayangan jatuh
Di Carcosa

Sangat aneh malam dimana bintang hitam muncul
Dan bulan asing beredar di langit
Tetapi lebih aneh lagi
Carcosa yang hilang

Nyanyian yang Hyades nyanyikan
Dimana jubah sang Raja berkibar,
Harus mati tanpa terdengar
Di Carcosa yang pudar

Nyanyian jiwaku,suaraku padam
Mati, tanpa pujian, selagi airmata
kering dan padam di
Carcosa yang hilang


-#-


message 15: by Fenny (last edited Mar 04, 2014 08:30AM) (new)

Fenny Wong (fennywong) | 389 comments Shisam dan Hoyaa


Diperkirakan terjadi sekitar tahun 50 S.L
Ibukota Kadaar, Kerajaan Mirgaan




Tidak satu pun dari kedua belas kakak Shisam Ultaar yang ingat apa yang terjadi pada mereka di Kota Tua. Mereka pulang dengan tangan kosong, juga memori yang terhapus bersih. Shisam sendiri yakin kalau semua kakaknya hanya pura-pura, agar Shisam sama-sama gagal. Pasalnya, jika Shisam berhasil, takhta Kerajaan Mirgaan berikutnya akan menjadi milik pangeran bungsu itu.

Sebenarnya ujian yang diberikan Cenayang Kerajaan sendiri terdengar mudah. Para pangeran hanya perlu keluar dari pusat kota, menyebrang tidak jauh, dan masuk ke Kota Tua. Semuanya masih di dalam wilayah Kadaar. Mereka perlu mencari sebuah cawan di antara puing-puing istana lama. Cawan Hitam yang tersembunyi di sana berkhasiat menyembuhkan segala penyakit, tapi hanya dapat dipakai tiga kali saja. Konon, dulu mendiang ayahandanya menemukan cara agar khasiat cawan itu dapat dipakai berulang kali.

Masalahnya, tidak ada orang yang bisa mendekati puing-puing istana Kota Tua. Mereka bilang ada Hoyaa — djinn penjaga — yang dikabarkan tinggal di sana. Kedua belas kakak Shisam juga membenarkan hal itu. Mereka berkata pastilah Hoyaa yang menghapus ingatan mereka dan mencegah mereka mengambil Cawan Hitam.

Kedua belas kakaknya yang kesal karena gagal kini sedang ribut mempertanyakan keahlian Cenayang. Mereka menuduh Cenayang tidak seharusnya menyimpang dari tradisi. Perihal penerus takhta seharusnya diselesaikan dengan adu bela diri seperti yang biasa dilakukan.

Cenayang Kerajaan tidak goyah dari pendapatnya kalau yang mendapatkan takhta haruslah orang yang menemukan Cawan Hitam itu. Ia berkata itu adalah perintah dari roh mendiang ayahanda Shisam. Cenayang Kerajaan menyanyikan Lagu Ultaar yang rahasia, menggunakan kekuatan mistik lagu tersebut untuk memanggil ayahandanya. Kemudian mereka berbincang-bincang perihal penerus takhta.

Shisam sendiri ingin turut ikut ke dalam perbincangan roh itu. Bukan untuk membuktikan kalau Cenayang berbohong, tapi karena ia masih penasaran seperti apa rupa ayahandanya dulu.

Ketika istana lama mereka terlalap api dan ayahandanya meninggal, Shisam baru berumur satu tahun lewat satu bulan. Selama perjalanan Shisam memikirkan tentang ayahandanya yang terkenal sebagai raja yang tertutup. Shisam juga ingin menjadi raja, hanya karena ia ingin menjadi seperti ayahandanya. Ia cukup yakin kalau ayahandanya sebenarnya adalah raja yang bijaksana.

Cenayang Kerajaan menolak permintaan kedua belas pangeran untuk mengubah tantangan yang diberikan. Cenayang Kerajaan bahkan berkata, kalau Shisam pulang dengan tangan kosong, maka sayembara lain akan dilakukan, terbuka untuk semua pemuda keturunan Mirgaan. Pemenangnya adalah yang bisa mendapatkan Cawan Hitam itu.

Shisam akhirnya berangkat di tengah perseteruan itu. Dia tidak terlalu takut dengan Hoyaa. Ia padahal tahu Hoyaa selalu mencari tumbal agar mereka dapat naik ke Khayangan. Mereka juga dapat naik ke Khayangan jika tujuan hidup terdalam mereka terpenuhi. Kebanyakan Hoyaa mencari tumbal daripada berusaha memenuhi tujuan, karena itu adalah jalan yang lebih mudah untuk ditempuh.

Akhirnya Shisam pun berangkat. Ia membawa kantung minuman, belati, beserta mental yang siap menghadapi apa saja. Ia bertekad untuk berhasil. Cenayang Kerajaan tampak khawatir ketika melihat Shisam pergi. Ia berkata Shisam baru berumur 13 tahun, terlalu, terlalu belia. Padahal Shisam sendiri merasa keberaniannya tidak kalah dengan milik kakak-kakaknya.

“Sebenarnya ini baru boleh hamba berikan ketika Pangeran cukup umur,” ia berkata. “Tapi Pangeran membutuhkannya. Lagu ini memiliki kekuatan mistik, seperti yang sudah sering hamba katakan.” Ia lalu mengajarkan Shisam bagaimana menyanyikan Lagu Ultaar. Setelah Shisam hapal, ia pun segera berangkat.

Di batas luar Kota Tua, Shisam mendengar alunan. Rendah, seperti gumaman, tapi bermelodi. Kota Kadaar dikelilingi pasir gurun, jadi Shisam berpikir mungkin itu hanya suara pasir. Desirnya memang sering menimbulkan alunan nada.

Tapi semakin ia dekat ke puing-puing istana, alunan itu terdengar semakin jelas. Tidak mungkin pasir menghasilkan suara semacam itu. Semakin Shisam mendengarkannya, ia semakin yakin ia pernah mendengar alunan itu sebelumnya.

Alunan kini terdengar hampir seperti suara kecapi. Langkah Shisam semakin lama semakin berat. Hanya beberapa meter di hadapannya, ada pilar yang menjulang miring. Bangunan istana yang kini hitam legam dan hanya berdiri sebagian terlihat dari balik kelopak mata Shisam yang berat. Semakin ia berkonsentrasi pada alunan itu, ia semakin mengantuk.

Tubuhnya mati rasa, tapi ia memaksakan untuk masuk ke dalam puing-puing bangunan utama. Semakin Shisam berjalan ke dalam, ia semakin terkesima. Segalanya masih begitu indah, dengan warna-warna yang terang dan ukiran yang sama sekali tidak bercacat. Pembaringan yang ada di ujung ruangan dilapisi sutra, begitu mengundang Shisam untuk terlelap di atasnya. Shisam tidak bisa menghentikan hasratnya yang memintanya untuk naik ke atas pembaringan itu.

Ada perasaan aneh yang berkata, jika ia tertidur begitu saja, ia mungkin akan kembali pada Cenayang Kerajaan tanpa ingatan apa-apa.... Atau bahkan jangan-jangan ia tidak akan bangun lagi.... Ia tiba-tiba merasa ketakutan... Lalu di ambang akhir kesadarannya, ia menyanyikan Lagu Ultaar.

Perlahan-lahan kesadarannya kembali. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, tapi, tidak hilang. Pembaringan yang Shisam tiduri hanyalah sebuah batu besar dengan ujung-ujung yang meruncing. Di sekelilingnya ada tengkorak-tengkorak, yang nasibnya tidak seberuntung Shisam yang tahu Lagu Ultaar.

Shisam terperanjat, bukan hanya karena pemandangan penuh tengkorak. Di hadapannya ada bayangan, yang lama-lama menjadi padat pada bagian atas, tapi kakinya tetap terlihat seperti embun. Shisam siap menarik belati dengan tangannya yang bergetar hebat, berusaha untuk tidak berteriak ketakutan.

Namun ia urung melakukannya. Yang menatap ke arahnya adalah Hoyaa... jelmaan ayahandanya.

Shisam bangkit, terpana. Hoyaa itu lalu berkata menyambut, “Anakku yang ketiga belas, Shisam. Setelah kedua belas kakakmu, aku sudah berpikir kau akan datang. Jika kau tidak menyanyikan Lagu Ultaar seperti barusan, maka aku kira kau juga salah satu dari perompak-perompak yang berusaha mencuri harta kerajaan kita.” Ia menunjuk ke arah tumpukan tengkorak.

Shisam berjalan mendekat, tidak peduli kalau ia sedang menghadapi Hoyaa. Ia bingung sekali ketika ia bertanya, “Ayahanda... kenapa.... A-aku tahu. Ketika Kota Tua terbakar, Ayahanda meminta Hoyaa lain untuk menyelamatkan kami bertiga belas, dan sebagai gantinya Ayahanda dijadikan tumbal?”

Ayahandanya tampak berpikir sejenak. Ia lalu berkata, “Kamu orang yang pertama berpikir seperti itu, Shisam. Tidak, tapi bukan itu yang terjadi. Tapi bukankah kau ingin takhta yang tidak berhasil didapatkan kakak-kakakmu? Apa kau tidak ingin tahu caranya mendapatkan Cawan Hitam? Karena cawan itu ada padaku.”

“Tapi... Ayahanda, kenapa Ayahanda bisa menjadi Hoyaa? Bukankah menjadi Hoyaa adalah karena Ayahanda menjadi tumbal untuk Hoyaa sebelumnya? Apa yang terjadi?” Shisam tidak ingin pergi begitu saja dengan Cawan Hitam. Ia ingin tahu yang sebenarnya. Ia juga kemudian bertanya, “Apa yang dilakukan kedua belas kakakku, hingga mereka tidak pantas mendapatkan Cawan Hitam dari Ayahanda?”

“Mereka membuktikan kalau mereka tidak memiliki hati yang cukup murni untuk menjadi Raja Mirgaan,” kata ayahandanya. “Namun aku telah lelah menguji. Kau adalah anak bungsuku, anak yang paling kusayang. Aku akan memberikan Cawan Hitam ini padamu.”

“Mengapa aku tidak perlu diuji?” tanya Shisam. “Aku tidak ingin keluar dari sini begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi pada Ayahanda. Bukankah Ayahanda tidak bisa tenang dan naik ke Khayangan selama Ayahanda menjadi Hoyaa?”

“Aku tidak bisa membayangkan Mirgaan diperintah oleh orang yang bukan darah dagingku, padahal aku punya tiga belas anak laki-laki. Aku akan memberikanmu Cawan Hitam jika kau memintanya.”

“Bagaimana aku bisa menjadi raja dengan tenang jika Ayahanda terperangkap menjadi Hoyaa selamanya? Aku ingin menyelamatkan Ayahanda.”

“Tiga kali kau menolakku, Shisam,” kali ini ayahandanya tertegun sedikit lebih lama. “Baiklah, aku akan menceritakan apa yang sebenanrya terjadi. Setelah itu, kau bisa memilih. Apakah kau ingin menyelamatkan aku dari kutukan Hoyaa, atau apakah kau ingin mengambil Cawan Hitam ini.

"Kau mungkin pernah mendengar, pada masa pemerintahanku, ketika aku masih muda dan baru menikah, Mirgaan pernah terkena wabah penyakit Guaam. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut, dan Cenayang Kerajaan berkata aku dapat memanjatkan doa pada Khayangan dan menyanyikan Lagu Ultaar.

"Aku melakukan keduanya tapi tidak ada yang terjadi. Hingga aku bertemu cenayang lain di tengah gurun, dan ia memberitahuku kekuatan lain yang dimiliki Lagu Ultaar. Aku bisa memanggil Hoyaa dari Panas Bumi. Jika yang di Atas tidak membantumu, satu-satunya cara adalah untuk mencari ke Bawah. Aku melakukan semuanya dalam diam, bahkan ibumu pun tidak tahu tentang hal ini.

"Hoyaa yang kupanggil memiliki kekuatan yang luar biasa. Perjanjian tiga garis darah pun dibuat di antara kami. Ia akan membantuku mengenyahkan penyakit Guaam, dan aku... harus memberikannya tumbal. Hoyaa itu meminta anak lelaki bungsuku. Tidak lama kemudian ibumu hamil, dan aku segera tahu yang ada di dalam perut ibumu adalah anak lelaki.

"Hoyaa memberikan aku sebongkah permata carnelian hitam yang kemudian dipahat menjadi cawan sesuai perintahnya. Namun Cawan Hitam hanya dapat digunakan hingga tiga kali.

"Aku murka mendengarnya. Aku kira cawan itu dapat dipakai berkali-kali untuk seluruh kerajaan. Hal semacam itu begitu licik untuk dilakukan oleh Hoyaa. Ia berkelit dengan berkata kalau perjanjian di antara mereka hanyalah untuk saling ‘membantu’. Aku pun mencari cara untuk keluar dari perjanjian. Setelah ibumu melahirkan kakakmu yang pertama, aku mengulur waktu. Tidak lama kemudian, ibumu hamil lagi.

"‘Kau bilang kau menginginkan anak lelaki bungsuku,” kataku pada Hoyaa itu. ‘Istriku sedang hamil anak lelaki berikutnya. Kau dapat mengambilnya ketika ia telah lahir. Jangan ambil anak sulungku, karena aku memerlukan penerus untuk kerajaan.’

"Hoyaa itu mengiyakan dan memberikan janjinya untuk tidak mengambil kakak sulungmu.

"Lalu kakakmu yang kedua lahir. Aku lega ternyata dia benar-benar laki-laki. Tapi aku juga sedih karena ia begitu tampan, membuatku tidak tega untuk memberikannya sebagai tumbal pada Hoyaa. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana bayi yang lucu itu akan hidup selebihnya sebagai Hoyaa yang gentayangan mencari tumbal. Aku mengulur waktu lagi, dan tidak lama kemudian ibumu hamil kembali.

"Maka aku pun berkata pada Hoyaa itu, ‘Istriku sedang hamil anak lelaki berikutnya. Ambil saja anak ketigaku, aku memerlukan anak keduaku untuk meneruskan takhta jika terjadi sesuatu pada anak sulungku. Dalam hidupku, aku harus memastikan takhta Mirgaan dipegang oleh orang yang berhak dan pantas.”

"Begitu seterusnya hingga kau dikandung. Hoyaa itu sudah kehilangan kesabaran. Aku pun sudah ketakutan, karena semakin hari aku semakin mencintai kalian. Aku mulai menyesali keputusanku memanggil Hoyaa itu. Namun kemudian keajaiban datang, dan aku berhasil menemukan cara agar Cawan Hitam itu tidak hanya bisa dipakai tiga kali.


message 16: by Fenny (new)

Fenny Wong (fennywong) | 389 comments "Keberhasilanku menyembuhkan Mirgaan membuat Hoyaa itu bertambah marah. Ia merasa kalau ia belum terbayar, padahal aku sudah mendapatkan semua keuntungannya. Ibumu meninggal ketika melahirkanmu, menjadikan kau anak yang terakhir.... Aku menunda hingga bulan ketiga belas, tapi lalu Hoyaa itu tidak mau menunggu lagi. Ia membakar kotaku, istanaku....

"Karena janji-janjinya untuk tidak membunuh kedua belas kakakmu, mereka aman dari lalapan api Hoyaa. Tapi kau tidak begitu. Aku pada akhirnya berkata, lebih baik Hoyaa itu mengambilku sebagai tumbal, agar ia berjanji juga untuk tidak melukaimu.

"Kini aku menjadi Hoyaa di sini menggantikan dirinya. Seperti yang kau tahu, Hoyaa baru dapat naik ke Khayangan setelah tujuannya terpenuhi, atau setelah ia mendapatkan tumbal.”

Shisam sedari tadi mendengarkan dalam diam. Ia percaya sepenuhnya dengan semua kata-kata ayahandanya itu. Ia menitikkan air mata, sesuatu yang seharusnya tabu untuk pangeran. Tapi ia tetap terharu dengan apa yang ayahnya telah lakukan untuknya, walaupun memanggil Hoyaa lain dari Panas Bumi sebenarnya adalah kesalahannya sendiri di awal.

Pada awal cerita, ayahandanya berkata Shisam akan boleh memilih antara Cawan Hitam dan menyelamatkan ayahandanya. Tapi ia tidak menunggu Shisam memilih. Ia mengeluarkan Cawan Hitam dari udara, terselimutkan oleh kabut, yang lama-lama menghilang.
Mengambang di tangan ayahandanya, sebuah cawan yang terpahat indah muncul. Warnanya hitam legam, dan ada kilat yang belum pernah Shisam lihat dari permukaan benda lain. Perasaannya ketika melihat cawan itu begitu campur aduk.

Shisam menerima Cawan Hitam dan termenung memandangnya. Ia menatap ayahandanya lagi, yang menatap balik padanya, seakan menunggu ia mengatakan sesuatu.

“Kalau aku tidak mengambilnya, kurasa Cenayang Kerajaan memiliki cara lain untuk menentukan penerus takhta berikutnya yang layak,” kata Shisam. Ia meletakkan Cawan Hitam itu ke atas batu di sampingnya. “Tapi jika aku tidak menyelamatkan Ayahanda, mungkin tidak akan ada orang lain lagi yang bisa.”

“Kau adalah alasan kenapa aku berada di sini,” kata ayahandanya. “Aku tidak bisa membiarkanmu menggantikanku....”

“Tiga belas tahun adalah waktu yang sudah cukup untuk mengecap dunia ini,” kata Shisam. “Aku berterima kasih atas kehidupan yang Ayahanda berikan.”

Mereka lalu berpandangan lama. Ayahandanya tampaknya merasakan keteguhan hati Shisam. Shisam bertanya-tanya apakah menjadi tumbal akan merasa sakit, tapi yang kemudian ayahandanya lakukan hanyalah menyanyi. Lagu Ultaar.
Lalu perlahan-lahan sekeliling Shisam dipenuhi kabut yang lama-lama menjadi tebal. Sosok ayahandanya di depan matanya perlahan-lahan menghilang. Ada senyum yang menyapu wajah ayahandanya itu. Senyum begitu tulus dan gembira, sebelum sosoknya menghilang menjadi serpihan debu cahaya. Jika senyum itu adalah hadiah yang Shisam terima... mungkin menjadi Hoyaa yang gentayangan pun sepadan....



Shisam terbangun di tempat yang berwarna kemerahan. Ada ukiran-ukiran berwarna hijau, biru tua, dan ungu, semua bercampur dengan indah. Ia kemudian sadar ia sedang menatap langit-langit kamar tidurnya.

Shisam terduduk di atas pembaringan. Tangannya meraba-raba kakinya. Keduanya masih padat di sana, belum membuatnya melayang-layang seperti Hoyaa. Ia tiba-tiba panik. Apakah ayahandanya mengurungkan niat, dan malah mengembalikan Shisam ke istana?

Cenayang Kerajaan masuk ke kamar Shisam setelah mengetuk dan dipersilakan. Shisam bangkit, lalu mengenakan jubah kerajaan baru yang digantung di samping tempat tidurnya. Sepanjang waktunya, matanya tertumbuk pada Cawan Hitam yang digenggam Cenayang.
Cenayang tersenyum senang melihat Shisam yang sudah sadar.

“Pangeran berhasil mendapatkan Cawan Hitam!”

Shisam meraba cawan itu. Ia sama sekali tidak ingat bagaimana ia pulang, atau apa yang terjadi, setelah ia dikelilingi kabut. Ia lalu mendongak dan bertanya pada Cenayang, “Cenayang Kerajaan, bukankah kau bisa bercakap-cakap dengan roh Ayahanda? Apakah ia masih menjadi Hoyaa di sana, dan mengembalikan aku ke sini dengan Cawan Hitam? Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”

Melihat kekhawatiran Shisam, Cenayang terlihat bertambah gembira. “Tidak. Mendiang Baginda sudah naik ke Khayangan. Sebagai Hoyaa, dia sudah mencapai tujuannya yang terdalam. Sedari hidup, tujuannya tetap sama: memastikan takhta Mirgaan dipegang oleh orang yang berhak dan pantas.

Ia telah menemukannya dalam diri anaknya yang ketiga belas, yang menolak tawaran cobaannya hingga tiga kali. Yang mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Yang berjiwa besar dan jauh dari egois. Hamba hanya membantunya untuk menemukan penerus takhta tersebut.”

Shisam tidak percaya kalau Cenayang sedang berkata tentang dirinya. Ia lalu menerima Cawan Hitam yang diberikan oleh Cenayang. Menggenggamnya, Shisam berjalan ke arah pintu balkon.

“Selamat, Baginda,” kata Cenayang, lalu membukakan pintu tersebut.
Di dalam jubah kerajaannya yang baru, Raja Shisam melangkah keluar. Di tangannya ada Cawan Hitam pusaka kerajaan, di bawahnya ada kumpulan rakyat Mirgaan yang dicintainya, mengelu-elukan namanya. Shisam mengangkat cawan itu dan mendongak ke atas.

Pada salah satu sudut Khayangan, ia harap ayahandanya juga sedang memperhatikannya.


message 17: by Yogie (new)

Yogie Prabhata (yogieprabhata) | 28 comments Nyanyian Jiwa

Bangkitlah… bangkitlah..

Dengan segenap jiwaku..

“Bisakah kamu diam, suaramu sangat mengganggu, Bodoh!” Ejek Edna, Ia menendang batu yang hendak kujadikan Golem. “Suaramu seburuk lagumu.” Ejeknya lagi sambil berlalu pergi.

Aku mengambil batu lain dan mulai menyanyi lagi, namun dengan jauh lebih lirih sekarang, agar tidak ada yang mendengar dan mengejekku lagi. Selesai bernyanyi aku menunggu sesuatu terjadi, sesuatu seperti batu itu bersinar dan berubah hidup, namun tidak ada yang terjadi. Aku mencoba sekali lagi dan tetap tidak ada yang berubah. Batu itu masih tetap diam.

“Apa yang kamu lakukan disini, Rena?” Reno, saudara kembarku, datang menghampiri dan duduk disampingku.

“Aku tidak bisa.. bahkan membuat sebuah golem kecil saja tidak bisa, bagaimana mungkin kita bisa melalui ujian besok kalau aku masih seperti ini?” Air mata mulai membasahi pipiku, sebenarnya aku tidak ingin menangis tapi entah kenapa tiap kali aku merasa sedih air mataku akan keluar dengan sendirinya. Berkat hal ini juga aku selalu dipandang rendah oleh orang lain.

“Tenang saja, kita pasti bisa. Kita akan lulus dan menjadi anggota pasukan kerajaan, bukankah itu impian kita?” Reno menyeka air mataku dengan tangannya.

Aku mencoba tersenyum. “Terima kasih, kamu lebih muda dariku tapi aku heran kamu selalu lebih dewasa dariku.”

“Hei, usia kita hanya selisih sepuluh menit.” Reno menyikut lenganku lalu bangkit berdiri, Ia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. “Ayo pulang, kita harus istirahat untuk besok.”

“Ya, adik.” Ucapku, menggoda Reno.

***

“Rena, ayo cepat, kita bisa terlambat!” Ucap Reno tidak sabar.

“Tunggu sebentar, aku tidak mau pergi tanpa kotak pemberian ibu.” Aku membuka laci lemari dan melempar isinya satu per satu. “Aku tidak bisa menemukannya.” Ucapku dengan panik.

“Kamu selalu membawa-bawa kotak itu kemanapun kamu pergi, bagaimana bisa kotak itu hilang?” Nada suara Reno terdengar makin tidak sabar. Setelah beberapa lemparan laci dan puluhan pakaian beterbangan menambah bencana di kamarku, akhirnya Reno ikut membantuku mencari kotak. Ia sangat benci dengan sesuatu yang tidak rapi, dan kamarku selalu yang terburuk untuknya. “Aku akan mencari di bagian sini, kamu dibagian sana.” Ucap Reno dengan kesal.

Kami mencari dengan kecepatan tinggi. Butuh beberapa saat dan beberapa keluhan dari Reno sampai akhirmya Ia menemukan kotak yang dicari. Kotak itu tertimbun tumpukan pakaian kotorku, aku baru ingat kalau aku memasukkan kotak itu kedalam kantong jaketku kemarin dan lupa mengeluarkannya. Itu membuat Reno sangat kesal padaku dan mengomel tentang betapa pentingnya tepat waktu dan betapa berharganya waktu selama perjalanan kami ke sekolah.

Lapangan sekolah sudah dipenuhi oleh semua murid angkatanku, semua berkumpul dengan tujuan mengikuti ujian akhir sekolah dan terpilih menjadi kandidat pasukan kerajaan. Saat kami sampai disana pidato Kepala Sekolah sudah selesai, aku bersyukur kami masih diperbolehkan masuk dan lebih bersyukur lagi tidak perlu mendengarkan pidato membosankan Kepala Sekolah.

“Syukurlah kita masih sempat.” Ucap Reno dengan penuh kelegaan.

Setelah peraturan ujian dibacakan, gerbang menuju Hutan Labirin, tempat berlangsungnya ujian, segera dibuka. Satu demi satu tim maju dan keluar melewati gerbang. Tiap satu tim melewati gerbang, mereka langsung lenyap seolah dikirim ke dunia lain dan gerbang adalah portalnya.

“Enam puluh lima.” Petugas menyebut nomor tim kami, Aku dan Reno.

Kami segera mengambil tongkat dengan nomor tim kami terukir digagangnya, tongkat yang harus kami jaga sebagai syarat kelulusan kami, dan langsung berjalan melewati gerbang. Rasanya seperti melewati dinding dari cairan kental dan pandangan serta pendengaran kami seperti tersumbat, lalu, kami sudah berdiri di dalam Hutan Labirin. Hutan yang akan menyesatkan dan membuat orang yang memasukinya menjadi gila.

Aku merinding. “Hutan ini menakutkan.” Seolah menyahut perkataanku, terdengar sebuah jeritan dari kejauhan dan disusul lolongan-lolongan yang membuatku bergidik. “Itu mengerikan.”

“Sepertinya ada tim yang sial, mereka langsung bertemu dengan penghuni hutan ini.” Ucap Reno dengan santainya. “Sebaiknya kita bergegas, kita hanya punya waktu dua puluh empat jam untuk mencapai gerbang sekolah. Lebih dari itu, kita gagal dalam ujian ini.”

“Ya, ayo kita segera pergi dari sini, aku sudah merasa tidak betah di hutan ini.” Ucapku sambil melangkah pergi. Aku merasa banyak yang memperhatikan kami, menunggu saat yang tepat untuk menyerang dan memangsa kami.

Hutan Labirin ini sangat aneh karena jarak antar pohon yang sangat rapat dengan ukuran pohon-pohonnya yang sangat besar, sehingga terlihat bagaikan tembok yang mengapit jalan setapak. Reno selalu memimpin di depan, Ia yang memutuskan jalan mana yang harus kita ambil saat menemui persimpangan, dan aku tidak keberatan dengan hal itu. Tapi, entah mengapa aku merasa kami hanya berputar-putar tanpa arah. Lalu kami sampai pada sebuah persimpangan dengan lima jalan yang sama persis terpampang hadapan kami.

“Mana yang akan kamu pilih?” Tanya Reno padaku.

“Kenapa bertanya padaku, bukankah biasanya kamu yang selalu memutuskan segala sesuatu?” Jawabku.

“Oh, ayolah, aku hanya minta pendapat. Kamu lebih tua dariku bukan?”

“Hmm, kalau begitu aku memilih jalan yang ini.” Aku menunjuk jalan di sebelah kananku. Tidak ada alasan khusus, tapi aku merasa itulah jalan yang benar.

“Bagaimana kalau jalan lurus itu?” Reno menunjuk jalan di depan kami.

“Aku merasa jalan ini yang benar.” Ucapku dengan yakin.

“Tidak, kurasa jalan lurus itu yang menuju gerbang sekolah.” Balas Reno.

“Tadi kamu minta pendapatku, tapi sekarang kamu memutuskan memilih jalan yang lain, untuk apa kamu bertanya padaku!?” Bentakku dengan kesal.

“Aku hanya minta pendapat, bukan berarti kita akan lewat jalan yang kamu pilih!” Reno balas membentak. Aku terkejut karena tidak biasanya Reno membentak seperti itu.

“Kita hanya berputar-putar saja dari tadi, dan yang memilih jalan adalah kamu!”

“Kalau begitu kenapa kamu diam saja sedari tadi!?”

“Itu karena aku percaya padamu.”

“Itulah, kenapa kamu tidak akan pernah berhasil menjadi Penyihir seperti ibu, kamu terlalu manja!” Kini bukan bentakan lagi, tapi nada suaranya terdengar kasar, seakan Reno sedang mengutarakan pikirannya yang selalu disimpannya selama ini dan kini Ia tidak tahan untuk memuntahkannya.

Aku hendak membalas, namun tidak ada kata-kata yang dapat kukeluarkan. Aku hanya menangis, kata-kata Reno benar, aku tidak akan bisa menjadi Penyihir yang hebat seperti ibu. Sedangkan Reno, Ia selalu dipandang jenius oleh para guru dan diharapkan akan menjadi Perapal Mantra sehebat ayah.

Reno terdiam. Wajahnya menampakkan perasaan kaget, bingung, sedih dan perasaan bersalah yang amat jelas. “A.. aku.. aku tidak bermaksud untuk berkata seperti itu.. kaka.. kamu tidak seperti itu… maaf.. kata-kataku keterlaluan. Maaf.”

Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan diri. “Tidak, kamu benar. Tidak perlu minta maaf, yang kamu katakan tentangku semuanya benar.” Aku menyeka air mataku dan melangkah maju, menuju jalan yang dipilih Reno. “Ayo jalan, sepertinya hutan ini benar-benar akan membuat kita gila kalau kita berlama-lama disini.”

Reno menarik tanganku. “Tunggu, kita pakai jalan yang kamu pilih.” Reno terdengar yakin, jadi aku mengangguk dan mengikutinya memasuki jalan yang kupilih.

Persimpangan-persimpangan selanjutnya, aku dan Reno bergantian memilih jalan yang akan kami lewati, sesuai dengan perjanjian yang kami buat agar tidak terjadi perselisihan lagi. Perpecahan disini akan sangat berbahaya, dan aku tidak ingin sendirian di dalam hutan terkutuk ini.

Langit mulai berubah menjadi gelap dan udara menurun drastis. Reno merapal mantra dari bukunya untuk membuat bola penerangan yang mengikuti kemanapun kami pergi. Itu cukup membantu, karena cahaya yang dikeluarkannya terasa hangat dan menenangkan. Namun, perasaan tidak enak seakan sedang diperhatikan tidak pernah hilang semenjak kami masuk ke dalam hutan.

Lalu, aku mendengar suara dengkuran. Tidak seperti dengkuran manusia, suara ini terkesan labih dalam dan lebih besar. Aku tidak bisa membayangkan makhluk apa yang sedang tidur dan mendengkur seperti itu.
“Kamu dengar suara itu?” Tanyaku pada Reno, berharap suara itu hanya khayalanku saja.

“Ya,” Jawabnya sedikit berbisik. Wajah Reno berubah serius dan waspada. Selama seharian ini kami belum bertemu dengan monster satupun, dan aku berharap seperti itu sampai kami menemukan gerbang. Tapi ternyata harapanku tidak terkabul. “Lebih baik kita melangkah dengan hati-hati, makhluk apapun itu sepertinya Ia sedang tidur.” Ucapnya dengan berbisik.

Aku mengangguk, tidak berani mengeluarkan suara. Aku takut ketika aku membuka mulut yang keluar adalah jeritan, dan itu akan sangat amat buruk.


message 18: by Yogie (last edited Mar 04, 2014 09:55PM) (new)

Yogie Prabhata (yogieprabhata) | 28 comments Kejadian selanjutnya sangat memalukan. Beberapa meter kemudian kami berada di sebuah bukaan berbentuk melingkar, dan disana kami dapat melihat golem berukuran raksasa yang sedang tertidur, sumber suara dengkuran yang kami dengar. Aku menahan napas, begitu pula dengan Reno, dan melangkah dengan perlahan-lahan mengitari golem itu. Lalu, hal memalukan itu terjadi. Saat kami dapat melihat jalan yang akan menyelamatkan kami. Aku kentut. Bukan kentut tanpa suara, tapi kentut yang benar-benar akan membangunkan seisi rumah, kentut dengan suara sangat memalukan dan akan selalu diingat orang seumur hidup. Untungnya tidak ada orang lain selain Reno, tapi sialnya ada makhluk berukuran raksasa yang terbuat dari batu yang dapat meremukkanku seperti kerupuk.

Reno memelototiku. Dia tidak perlu berkata apa-apa, aku kira-kira tahu apa yang akan diucapkannya.

Dan Golem itu bangun. Saat Ia tidur tubuhnya sudah besar, tapi kini saat Ia terbangun sepenuhnya tubuhnya ternyata jauh lebih besar lagi. Ia setinggi rumah dua tingkat dengan bola api hijau sebagai pengganti bola mata, dan jari sebesar cerobong asap. Ia tidak memiliki bibir, melainkan rahang penuh batu yang diasah hingga tajam. Dengan ukuran dan bentuk tubuhnyanya yang teramat bagus, aku yakin itu Golem buatan Penyihir di masa Perang Cahaya. Bukan pertanda bagus.

“Gooaaaaaaa..!!!” Raung Golem itu. Aku dapat merasakan hutan bergetar, lalu lolongan, auman, geraman dan koakan terdengar dari segala arah, seakan takut dengan Golem itu.

“Lari!!” Jerit Reno. Ia menarik tanganku dan kamipun lari secepat mungkin menuju jalan setapak sepuluh meter di depan.

Rencana dadakan kami gagal.

Tangan Golem itu menghantam kami dari samping dan menerbangkan kami hingga menghantam pohon. Pandanganku berkunang-kunang, kepalaku pening. Aku berteriak memanggil Reno. Dua pohon di kiriku, Ia sedang berkutat dengan bukunya, wajahnya benar-benar panik. Lalu, Ia mulai menggumamkan sesuatu, mantra di dalam bukunya.

Golem bergerak mendekat dengan lambat, mungkin tubuhnya kaku karena tidur dalam waktu sangat lama. Ia melangkah mendekati Reno. Aku berusaha bangkit, tapi rasanya sangat menyakitkan, seluruh tubuhku seolah menjerit. “Dia menuju ke tempatmu.” Aku mencoba memperingatkan Reno.

Reno berlari pincang menghampiriku. Ia berdiri dengan menyandarkan punggungnya pada pohon tempatku bersandar. Rapalan mantranya sudah selesai dan buku mantranya mulai bersinar dengan sinar biru, huruf-huruf sihir yang terbuat dari cahaya melayang keluar dari bukunya dan mulai berputar-putar mengelilingi kami.

Aku begitu terpesona dengan huruf-huruf yang saling menjalin itu, hingga tidak menyadari kalau Golem telah mencapai tempat kami. Ia melayangkan tinju raksasanya. Aku menjerit dan berusaha menghindar dengan berguling kesamping. Namun tinju itu tidak pernah mencapaiku. Hanya terdengar suara debuman keras yang menggetarkan. Rangkaian huruf sihir itu telah terjalin menjadi lapisan dinding pelindung yang mengelilingi kami.

“Hebat.” Seruku, “pelindung buatanmu menyelamatkan kita, Reno.”

“Ya, tapi itu tidak akan bertahan lama.” Saat Reno berbicara, debuman pukulan demi pukulan dari Golem membuat hutan kembali bergetar. “Dia menyerang seperti kesetanan.”

“Tak bisakah mantra dari bukumu mengeluarkan naga atau beruang untuk mengalahkannya?”

“Tidak, buku ini hanya berisi mantra penyembuh dan pelindung, sekalipun ada mantra serangan, tidak akan bisa menandingi Golem sebesar itu.”

Golem masih terus memukuli pelindung kami. Dan setelah beberapa pukulan lagi, aku melihat retakan dan serpihan pelindung, yang terlihat seperti serpihan kaca, mulai berjatuhan. “Pelindung ini tidak bisa bertahan lebih lama lagi!” Jeritku.

Sementara aku panik, Reno sedang merapal mantra lagi dari bukunya. Huruf-huruf sihir saling menjalin disekitar tubuhku dan Reno, menyembuhkan luka-luka yang kami alami. Lalu Ia menoleh padaku.

Aku tidak pernah melihat cahaya mata yang seperti itu pada dirinya. Mata biru yang biasanya selalu menenangkan dan kuat, kini hanya terlihat kepasrahan dan putus asa. Lalu aku mengerti apa yang dipikirkannya.

“Jangan!” Aku berusaha menggapai tangannya, tapi Ia sudah berlari keluar dari pelindung sambil merapal mantra. Huruf sihir berbentuk burung melesat dari bukunya dan menghantam tubuh Golem. Burung sihir itu hancur menjadi serpihan. Aku berteriak memanggil Reno lagi, tapi tidak menghasilkan apapun. Ia tengah berlari kesana-kemari menghindari serangan Golem yang kini mengejarnya sambil merapal mantra serangan yang tidak berefek apapun pada Golem tersebut. Hanya masalah waktu sampai Reno kelelahan dan tertangkap Golem itu.

Aku mulai menangis. Apa yang harus kulakukan? Apa yang dapat kulakukan? Aku tidak ingin Reno mati. Aku tidak ingin Reno mati! Aku menjerit frustasi.
Bagaimana mungkin aku selemah ini? Ibu, ayah,.. aku ingin menolong Reno. Aku tidak ingin kehilangan Reno!

Sebersit ingatan menghantamku. Ingatan akan ibuku. Wajah cantiknya yang tersenyum tulus, matanya yang memancarkan kelembutan. Ia mengelus rambutku, dan berkata, “ingatlah kotak ini saat kau ingin menyelamatkan yang terpenting bagimu.” Lalu ingatan itu mengabur dan aku kembali pada kenyataan.

Kotak? Ya, kotak pemberian ibu! Aku menarik tas dan menyentakkan isinya hingga berhamburan dipangkuanku. Kusingkirkan benda-benda lain dan kuraih kotak pemberian ibu. Kotak itu berwarna merah dengan ukiran emas yang indah menghiasi tiap sudutnya. Aku membuka kotak itu. Selama ini aku beum pernah membukanya karena takut kotak itu dipasangi sihir dan akan menghilang begitu kubuka. Tapi, sekaranglah saatnya.

Dalam kotak itu hanya terdapat telur emas sebesar telur kenari. Kilasan ingatan kembali menghantamku. Ibu dan ayah yang menyanyikan lagu favorit mereka setiap malam untuk menidurkanku. Bukan lagu pengantar tidur biasa, tapi lagu itu sangat menenangkan. Aku tahu lagu itu, aku selalu menggunakan lagu itu untuk membuat golem. Tanpa sadar aku mulai bernyanyi.

Bangkitlah.. bangkitlah…

Dengan segenap jiwaku..

Genggamlah.. raih tali cintaku..

Kaulah pelindungku..

Bangkitlah.. bangkitlah..

Datanglah padaku..

Saat menyanyikan lagu itu aku merasakan kehangatan menyelimutiku. Cahaya keemasan menyelubungiku. Kemudian telur emas di dalam kotak itu mulai retak, perlahan semakin membesar, hingga akhirnya telur itu pecah dan menimbulkan ledakan cahaya. Aku dapat melihat sesuatu melesat keluar.

“Kiiiiiii..” Seru sebuah suara diatasku. “Kiiiii..”

Seekor burung seukuran burung kenari dewasa melayang turun dengan anggun keatas tanganku. “Kiiii..” Seru burung itu. Aku terpana dengan keindahan burung itu. Sayapnya berwarna putih biru seperti langit, paruhnya sewarna dengan bulunya dan Ia memiliki surai putih seperti elang. Yang terindah adalah ekor buntutnya yang panjang dan bergelombang saat ditiup angin, seolah terbuat dari sutra sewarna senja.

“Kiiiii..” Seru burung itu lagi, tapi di dalam kepalaku aku dapat mendengar Ia berbicara. "Apa yang dapat kubantu, Cantik?"

“Ka,.. kamu bisa berbicara?” Aku tidak yakin dengan yang kudengar tadi. aku bukan seorang Pawang, jadi tidak mungkin aku bisa mengerti ucapan binatang, sekalipun itu binatang sihir.

"Tentu saja! Aku, Sky, akan melayanimu. Katakan apa yang bisa kubantu, Cantik?"

“Kalahkan Golem itu.” Aku menunjuk Golem yang sedang bertarung dengan Reno. Aku dapat melihat gerakan Reno kini mulai melambat. Ia sudah kelelahan. “Selamatkan, Reno, kalahkan Golem itu!” Seruku.

"Siap, Cantik, nanti beri aku ciuman, ya?" Burung itu pun melesat pergi.

Burung itu mengitari Golem dengan kecepatan mengagumkan, membuat Golem itu bingung. Sementara perhatiannya teralih, Reno berlari ketempatku. “Apa itu?” Tanyanya sambil terenggah-enggah kehabisan napas.

“Mmm,.. aku lupa namanya, tapi Ia lahir dari telur di dalam kotak yang diberikan ibu.” Aku menunjukkan cangkang telur yang telah pecah di dalam kotak itu. “Hebat, jadi kamu berhasil melakukannya, Rana, kau telah menjadi seorang Penyihir!”

Aku lupa mengenai itu. Pikiranku hanya dipenuhi mencari cara menyelamatkan Reno. Aku benar-benar lupa akan rasa takutku setiap akan melakukan sihir, rasa takutku setiap akan bernyanyi. “Ya, ibu dan ayah membantuku.” Ucapku, teringat pada kilasan-kilasan masa lalu yang kulihat tadi.

“Aku percaya itu.” Reno tersenyum padaku. “Tapi,.. uh, apa burung kecil itu dapat mengalahkan Golem sebesar itu?”

“Serahkan saja padanya.” Ucapku berpura-pura yakin. Kalau burung itu tidak bisa mengalahkan Golem itu, kami tidak akan punya peluang untuk selamat.

Lalu, sebuah keajaiban terjadi. Burung itu mengeluarkan cahaya pelangi dengan sejuta warna. Burung itu terbang semakin cepat mengitari Golem, membuat seolah-olah cahaya pelangi berpusar menyelubungi Golem itu. Pusaran itu semakin besar dan semakin cepat, menenggelamkan Golem itu, sampai-sampai aku bisa merasakan perasaan bahagia, hangat, tengan dan nyaman dan perasaan menyenangkan lain dari cahaya itu.

“Menakjubkan.” Ucap Reno. “Sangat indah.”

Air mata membasahi pipiku. Tapi, ini bukan air mata kesedihan, ini adalah air mata bahagia. Seolah aku bisa merasakan kehadiran ibu dan ayah lagi, kehangatan dan senyumannya. “Ya, ini adalah kekuatan ibu dan ayah.” Ucapku penuh kerinduan.

Pusaran pelangi itu mulai menghilang, namun perasaan yang kurasakan tidak semerta-merta hilang bersamanya, dan Golem itu hanya tinggal tumpukan bebatuan. Burung itu pun terbang kembali kepadaku, Ia mendarat di pangkuanku. "Bagaimana? Aku hebat, kan? Golem itu telah berpulang dengan bahagia kepada penciptanya." Ucap burung itu dengan nada sombong. Aku akan mendapat ciuman, kan? Beri aku ciuman! Tuntutnya dengan semangat.

“Ya, aku akan menciummu.” Burung itu berpindah ke telapak tanganku, lalu aku mengecup kepalanya yang mungil.
"Yeaaay!" Burung itu terbang berputar-putar di udara.

“Siapa namamu tadi?” Tanyaku begitu burung itu kembali dan bertengger di pundakku.

"Aku, Sky, yang gagah siap melayanimu, Cantik."

“Terima kasih, Sky, dan ini, Reno, saudara kembarku.”

“Ha-halo, terima kasih sudah menyelamatkanku.” Ucap Reno ragu-ragu. Mungkin Ia merasa bodoh berbicara dengan seekor burung.

Setelah beristirahat sebentar dan memakan beberapa bekal, kami melanjutkan perjalanan kami. Kini aku tidak merasa takut dan lemah lagi, ada Sky yang akan selalu melindungiku. Bersamanya, aku merasa ibu dan ayah selalu memperhatikan dan menjagaku.

Kami berhasil mencapai gerbang kota pada waktunya, dan berhasil lulus ujian, itu semua berkat pertolongan Sky yang membantu kami memilih jalan yang benar dengan melihatnya dari udara. Edna, Penyihir yang selalu mengejekku, gagal dengan menyedihkan karena tongkatnya direbut oleh tim yang dikerjainya dan dibuang jauh kedalam hutan.

Hari sudah pagi saat kami sampai di sekolah. Langit putih kebiruan pagi hari menyatu dengan bulu Sky yang kini terbang dengan riang di langit. Aku memandang langit cukup lama.

“Ada apa, Rena?” Tanya Reno.

“Ada satu hal yang belum pernah kukatakan pada ibu dan ayah.”

“Ya, aku juga.” Reno menggenggam tanganku. “Kita ucapkan bersama-sama.”

“Ya..” Aku mengeratkan genggaman tanganku pada Reno.

“Terima kasih, Ibu… terima kasih, Ayah.”

***


message 19: by Fachrul (last edited Mar 05, 2014 06:42AM) (new)

Fachrul R.U.N. (georgedfarmer) | 233 comments Song of Madness

Gadis berkacamata bundar itu sudah terbiasa dengan kemacetan pagi hari di depan gerbang tol Cawang. Sementara kendaraan-kendaraan di jalan tol dalam kota harus tersendat-sendat hingga Semanggi, kendaraan-kendaraan di luar harus mengantri panjang dan lama untuk dapat melewati gerbang tol. Sekedar ingin berputar dari Pancoran pun bisa memakan waktu satu jam lebih.

Tapi ini berbeda.

Satu busway terguling, menimpa sekaligus beberapa motor yang tak sempat menghindar. Sejumlah besar mobil penyok akibat tabrakan beruntun. Alih-alih berkelahi atau memanggil pertolongan, korban-korban kecelakaan yang masih hidup mulai keluar dari mobil. Ada yang tertawa terbahak-bahak walau tidak ada yang lucu, ada yang mulai menangis, ada yang menari, ada yang dengan entengnya melompat ke sungai. Jendela-jendela Carefour dipecahkan dari dalam oleh karyawannya yang tiba-tiba kehilangan akal.

Penyebab kehancuran itu adalah sebuah lagu. Suara penyanyinya begitu keras hingga walau ia berada berkilo-kilo jauhnya dari sini, dan suaranya tak lebih dari sayup-sayup, para pengemudi, pejalan kaki, hingga penghuni rumah masih dapat mendengarnya dengan jelas. Saat itu terjadi, kewarasan mereka pun lenyap.

Panzer-panzer TNI dan polisi ditempatkan di luar radius maksimum lagu untuk menghentikan total upaya orang-orang yang mencoba untuk pergi ke lokasi bencana. Helikopter negara berterbangan sambil menyerukan pengumuman terhadap situasi bahaya, dan menghimbau warga yang berada di luar radius bencana untuk berdiam di rumah masing-masing sambil memasang penutup telinga.

Gadis berkacamata bundar itu nekat melintasi barikade. Lalu, hanya dikelilingi oleh orang-orang kehilangan akal, ia leluasa menggunakan kekuatan supernya. Kakinya membawanya melesat cepat, meliuk-liuk dan sesekali melompat untuk menghindari mobil dan manusia. Ia rasakan kalau pusat nyanyian ini terletak di dekat, atau malah tepat di, area gedung DPR/MPR. Ia merasakan kewajiban untuk segera mencapai tempat itu dan menangani sumber masalah ini sebelum semakin banyak orang menjadi korban.

Tapi perlukah kau melakukannya? sebuah suara bergaung di dalam kepala gadis itu. Bukannya kamu juga memikirkan untuk menghabisi semua orang ini?

Suara feminin itu datang dari Margitta, monster mengerikan yang memungkinkan gadis berkacamata itu memperoleh kekuatannya. Hubungan mereka bisa dibilang cukup... rumit. Margitta memangsa seorang gadis bernama Anggi Antaresia. Kemudian makhluk itu menciptakan kopian sempurna dari tubuh si gadis, lengkap dengan ingatan, kepribadian, dan jiwanya. Margitta hidup di dalam tubuh gadis itu, mengawasi, mengamati, melihat, mendengar dan dapat “memveto” keputusannya bila dia ingin bunuh diri, namun dia masih memberikan gadis berkacamata bundar itu kebebasan dan kehendak.

Apakah dia adalah Margitta yang berpura-pura menjadi Anggi Antaresia, atau Anggi yang sepenuhnya telah terikat menjadi budak Margitta, gadis berkacamata itu tidak tahu pasti. Karenanya ia tak pernah lagi menggunakan nama Anggi untuk memperkenalkan dirinya. Ia pun tak suka harus melebur dengan monster. Namun, karena ia tidak dapat melepaskan diri dari Margitta, gadis itu mencoba sebisa mungkin memanfaatkan kekuatan sang monster untuk membasmi kejahatan di negerinya.

Di hadapan kekuatan barunya, tak ada kriminal yang tak dapat ditanganinya. Mau pembunuh berantai, geng motor, preman pasar, pemimpin kelompok ekstremis, hingga koruptor yang dapat menyewa tentara pribadi, bila ia memutuskan untuk menghabisi mereka maka mereka akan habis. Bila ia cukup berbaik hati, masih ada jasad yang tersisa dari korbannya untuk dikubur oleh keluarganya. Bila ia sedang murka, yang ia sisakan bisa hanya bekas lelehan yang tak dapat diidentifikasi.

Gadis itu berharap kalau setiap kematian targetnya tak hanya akan menyingkirkan “noda” kejahatan dari muka bumi, tapi juga membuat takut para calon-calon penjahat lain hingga mereka tak akan mau meniru jejak orang-orang bodoh itu.

Nyatanya, bahkan kekuatan sebesar yang dimiliki oleh gadis itu pun tak bisa berguna untuk mewujudkan hasratnya itu. Kematian seorang ketua geng hanya memungkinkan geng lain meraih wilayah yang kosong. Kematian seorang pemimpin kelompok ekstremis hanya membuat anggota sektenya kian berang dan menyakiti orang tak berdosa. Kematian koruptor dan penjahat besar akan diganjar dengan tayangan memorial dari berbagai stasiun televisi, dan upaya gabungan dari seluruh pejabat yang menikmati potongan kekayaan dari si penjahat untuk menangkap pembunuhnya. Saat menyaksikan betapa sia-sianya perjuangannya, gadis berkacamata bundar itu hanya dapat merasa marah.

Margitta merasakan kemarahan itu. Ia tak bosan-bosan mengingatkan gadis itu cara terbaik untuk memastikan dunia sepenuhnya menjadi sesuai kehendaknya: berhentilah berpura-pura menjadi manusia dan gunakan seluruh kekuatan yang kau miliki. Selama ini, gadis itu memang tak akan menggunakan kekuatan penuhnya, apapun yang terjadi, demi keselamatan Indonesia dan seluruh umat manusia.

Kehancuran di sekelilingnya tak sebanding dengan apa yang terjadi kalau ia membiarkan seluruh kekuatan Margitta lepas. Saat itu terjadi, keberadaannya saja akan membuat seluruh hukum alam berubah dalam sekejap, memastikan seluruh dunia akan berubah ke bentuk yang lebih mengerikan atau malah hancur total. Tak peduli sekuat apa godaan di dalam dirinya, gadis itu berjuang setiap hari agar itu tidak terjadi.

Ia tak menyangka kalau di Jakarta ada orang dengan kekuatan seperti dia. Tak hanya itu, ia juga tak menyangka kalau orang itu bisa begitu sembrono, menggunakan kekuatannya untuk menyakiti sedemikian banyak orang tanpa pandang bulu. Sementara ia mulai melewati tumpukan kendaraan hancur di Kuningan, ia hanya dapat menerka-nerka dengan ngeri berapa tepatnya jumlah korban dari kejadian ini, dan berapa banyak yang tak akan bisa terselamatkan saat akhirnya ia bisa mengatasinya.

Di langit, terlihat satu helikopter terbang menembus parameter patroli TNI. Di tubuhnya, tertera logo dari sebuah stasiun berita kelas dua. Gadis berkacamata bundar itu membuka mulutnya, hendak berteriak dan memaksa pilot kendaraan nekat itu untuk segera berputar arah. Ia terlambat. Kegilaan telah terlebih dahulu menelan kewarasan para penumpangnya. Reporter yang seenaknya mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk memperoleh liputan terkini akan krisis ini melompat sambil tertawa dari helikopter, sementara kendaraannya sendiri berputar liar dan mendarat di dalam jalan tol, merusakkan dan meledakkan beberapa mobil sial. Potongan baling-balingnya terbang, menebas putus seorang pria yang tengah menari bugil di atas kap mobilnya.


Sebelum-sebelumnya, kekuatan nyaris tak terhingga yang dimiliki gadis itu, juga identitasnya yang kabur, membuat emosinya cenderung tertahan. Kali ini, ia merasakan kemanusiaannya seperti kembali. Emosinya mendidih sementara langkah-langkahnya kian cepat. Siapa pun yang menciptakan masalah ini harus dihentikan.

Tingkat kerusakan di area Semanggi lebih parah lagi dibanding sebelum-sebelumnya. Gadis itu harus melewati lautan mayat dari korban-korban yang otaknya tak mampu menahan kekuatan dari gelombang kegilaan ini. Mulai terbayang di kepala Anggi jumlah total korban jiwa dari kejadian ini. Lima juta? Sepuluh juta? Bila persebaran melodi maut ini merata, ia tak akan heran jika kerusakan bisa menyentuh daerah satelit Jakarta seperti Depok dan Tangerang juga.

Gadis berkacamata bundar itu baru menemukan orang yang tidak terbunuh atau menjerit-jerit kehilangan akal tepat di depan gedung DPR-MPR. Sosok itu adalah seorang wanita berambut panjang. Tubuhnya dibalut oleh gaun musim panas berwarna biru muda. Dia berdiri tenang, meski di sekelilingnya bergeletakan mayat dari ribuan anggota ormas yang pagi ini berkumpul untuk menyerukan penolakan hasil pemilu.

Dia juga makhluk yang menyanyikan lagu kehancuran ini.

Merasakan kehadiran si gadis berkacamata bundar, wanita itu menghentikan lagunya, membiarkan sejenak orang-orang di kejauhan yang masih belum kehilangan nyawa untuk menjerit kesakitan akibat cidera-cidera yang mereka derita selama kegilaan membuai semuanya. Lalu ia menoleh, memberikan senyum secercah matahari, dan menyapa. “Selamat pagi.”

“Kenapa?” tanya si gadis berkacamata singkat. Pertanyaan lebih lengkapnya hanya ia suarakan di dalam hati. Kenapa kamu melakukan ini?

“Kenapa?” si wanita memutuskan untuk berbalik dan menghadap si gadis. “Karena terkadang manusia perlu diingatkan kalau Tuhan ada.”

Si gadis berkacamata tak menyukai omong kosong itu saat ia masih menjadi Anggi Antaresia. Ia tetap tak menyukainya sekarang. “Dan kamu... kira... kamu adalah... Tuhan?”

“Bukan.” Si wanita mendongak, menatap angkasa. “Bukan begitu. Aku hanyalah instrumen Tuhan yang Beliau tunjuk untuk menjatuhkan hukuman kepada para pendosa. Tidak lebih.” Dia menatap si gadis lagi. “Bukankah kita serupa?”

“Serupa?”

“Tidak sembarang orang bisa datang sedekat ini saat aku bernyanyi. Kamu adalah Si Monster bukan, yang setahun belakangan membunuhi kriminal-kriminal di seluruh Indonesia?” Tepat sekali, tapi si gadis tak mau mengiyakan. Meski begitu, tetap saja si wanita berbicara. “Sepertiku, kamu diberikan kekuatan oleh Tuhan. Sepertiku juga, kamu memutuskan untuk menghukum mereka.”

Si gadis berkacamata menggeram. Tidak, ia tidak sama dengan wanita gila ini. Kalau ia sama dengan lawannya, ia sudah menghancurkan seluruh dunia saat ini. Tapi memang itu yang harusnya kamu lakukan, terdengar Margitta terkekeh. Si gadis mengabaikannya.

“Tapi apa yang kamu capai dari aksimu? Tidak ada,” si wanita melanjutkan kata-katanya. “Tak peduli sesering apa kamu membasmi hama yang menggerogoti negeri ini, gantinya selalu muncul dengan lebih cepat. Karena itulah Tuhan sadar, Beliau harus menjatuhkan azab yang lebih besar.” Mata wanita itu membelalak, membuat senyum yang tak pernah lekang dari wajahnya terasa menakutkan. “Karena itu Tuhan memilihku.”

Cukup sudah omong kosong ini. Di mata si gadis, wanita di hadapannya tak lebih dari teroris berkekuatan super. Ia membuka mulut dan mengucapkan lima kata dari bahasa kuno, yang sudah tercipta jauh sebelum bumi terbentuk. Ia mencoba melumpuhkan dan menghabisi wanita itu secepat dan seefektif mungkin. Selama ini, hanya dengan lima kata itu saja ia bisa mengubah satu batalion tentara menjadi genangan tinta hitam.

Tak dinyana, si wanita kembali bernyanyi. Tak ada tanda-tanda kalau serangan si gadis mempengaruhinya. Tak ada cairan hitam mengalir dari hidung, mata, maupun telinganya. Malah si gadis yang mulai merasakan tekanan di tubuhnya. Retakan-retakan muncul di kulit dan dagingnya, lalu menyebar pula ke organ-organ ganjil yang kini mengisi tubuhnya.


message 20: by Fachrul (new)

Fachrul R.U.N. (georgedfarmer) | 233 comments Eh?

Sudah lama sekali sejak gadis itu merasakan sakit. Seharusnya, sejak ia melebur dengan Margitta tak ada lagi instrumen di dunia ini yang dapat menorehkan sakit ke tubuhnya. Namun kali ini berbeda. Seiring dengan meningkatnya nada nyanyian si wanita, tubuhnya semakin digerogoti dari dalam.

Margitta? batin si gadis, sementara seluruh tubuhnya berangsur-angsur menjadi arang.

Ya?

Apa ini... apa dia juga memperoleh kekuatanmu?

Ah, tidak, tidak. Kau adalah manusia pertama dan terakhir yang kuanugerahi kekuatanku.


Kaki si gadis berubah keropos dan tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Ia jatuh tak berdaya ke aspal. Saat kepalanya menyentuh tanah, sisi kanan wajahnya hancur. Ada tentakel-tentakel kecil yang memberontak mencoba keluar, tapi mereka juga mengering dan menjadi abu.

Tapi ada banyak makhluk sepertiku di luar sana, jadi mungkin saja dia dianugerahi kekuatan oleh mereka. Mungkin dia juga benar-benar diberkahi oleh makhluk yang dia dan kaummu sebut sebagai “Tuhan.”

Hanya, yah, tidak masalah bukan? Karena... sebenarnya di hadapanmu kekuatan seperti ini tidak ada apa-apanya.


Si gadis merasakan cengkeraman kuat di dalam dadanya yang sakit. Ia mencakar aspal, mencoba menahan sakit, namun itu hanya membuat jemarinya rontok.

Itulah masalahnya. Kamu sudah diberikan begitu banyak kekuatan namun kamu terlalu takut untuk memanfaatkannya.

Tidak perlu, bantah si gadis. Ia sudah menahan kekuatan Margitta selama ini, ia tak perlu menggunakannya sekarang. Ia masih bisa menyelesaikan masalah ini tanpa menimbulkan bencana yang lebih parah.

Masalahnya, personifikasiku, aku tidak suka melihatmu mati dengan menyedihkan begini. Kalau kamu memang mau mati, yah, tunggulah sampai kamu memang bertemu lawan yang lebih baik.

Tentakel-tentakel raksasa menyeruak keluar dari punggung si gadis. Muncul pekikan melengking yang meredam sepenuhnya nyanyian si wanita. Langit berubah merah, dengan pusaran besar terbentuk tepat di atas posisi si gadis terbaring. Terjadi gempa yang dengan kuat meretakkan jalanan, kendaraan, dan segala sesuatu yang berada di sekelilingnya. Margitta hendak menggunakan kekuatan penuhnya untuk meladeni tantangan si wanita.

Hentikan, desis si gadis. Dengan kekuatan tekadnya, ia pastikan Margitta tak akan mengeluarkan wujud penuhnya. Ia diberikan hak untuk mengendalikan benak dan fisiknya, akan ia gunakan keduanya untuk memastikan kalau dunia tidak akan hancur karena salahnya. Dan ia berhasil.

Berkat intervensi si gadis, wujud yang tercipta kemudian bukanlah bentuk sempurna Margitta. Bentuknya menyerupai janin raksasa, yang ditumbuhi oleh puluhan tentakel besar berdenyut-denyut. Ia hanya dapat melihat lewat satu mata raksasa yang tumbuh di seluruh wajahnya. Lengan dan kakinya terlalu kecil untuk dapat digerakkan. Tubuhnya terlalu lunak hingga senjata konvensional seperti nuklir pun bisa menghancurkannya. Lendir berwarna bening menetes perlahan dari punggung dan lengannya, membasahi jalanan di bawahnya.

Tapi, untuk menghadapi wanita di hadapannya, itu saja sudah cukup. Nyanyian si wanita terhenti. Rambutnya seketika memutih karena dihadapkan oleh kengerian yang tak terbayangkan.

“Jadi begitu. Inilah kekuatanmu,” si wanita berkata. Cairan hitam mengalir turun dari mata, telinga, hidung, dan selangkangannya. “Kenapa... kau tidak pernah menunjukkannya?”

Karena bahkan wujud fetusnya saja sudah mengakibatkan kehancuran parah. Besi dan batu pembatas jalan tol rontok menjadi pasir, demikian pula dengan mobil, motor, hingga bagian depan gedung parlemen. Mayat-mayat dan tumbuhan langsung mengering seakan mereka telah dimakan waktu.

Hanya si wanita yang dapat bertahan, namun kulit dan dagingnya pun sudah mulai rontok.

Dia masih mencoba melawan dengan menyanyi lagi. Menanggapi serangan sia-sia itu, sebuah mulut terbuka di dada fetus Margitta, menyuarakan nyanyian yang sepenuhnya terkonsentrasi untuk menghantam si wanita.

Lagu singkat yang terdiri dari lima puluh kata bahasa lampau menghantam si wanita. Retakan tambahan tercipta di seluruh tubuhnya, sementara seluruh organ dalamnya mulai mengering. Dia tertawa. “Rupanya aku tidak diperlukan. Dunia... dunia sudah memilikimu. Tunjukkan kekuatan Tuhan... kepada semua orang. Buat para pendosa itu... menye...”

Angin berhembus, meniup tubuh si wanita. Tak ada lagi yang tersisa dari dirinya. Tubuhnya sepenuhnya berubah menjadi abu, yang kemudian sirna, menyisakan wujud fetus Margitta sebagai satu-satunya makhluk hidup yang berada di area itu.

***

Setelah gempa bumi dan langit merah, yang sempat membuat penduduk Jakarta mengira kalau bumi akan kiamat, krisis telah berakhir. Langit biru kembali menaungi kota. TNI, kepolisian, paramedis, dan pemadam kebakaran dapat mulai masuk untuk menangani masalah.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi. Yang jelas, jumlah korban jiwa menembus lima juta orang, dengan jutaan lagi korban luka-luka dan gila. Seluruh Jakarta Selatan, Pusat, dan Barat terkena dampaknya, sementara Utara dan Timur cukup beruntung hanya terkena sebagian. Laporan mengenai kehancuran itu juga menyentuh Tangerang dan Depok.

Di tengah hiruk-pikuk darurat, tak ada yang memperhatikan sesosok gadis berkacamata bundar yang melangkah di trotoar, menjauhi arus keributan. Kepalanya tertunduk dan wajahnya murung.

Ia kira ia bisa menggunakan kekuatannya untuk menciptakan perdamaian, seperti superhero di komik-komik. Bukan hanya perjuangannya selama ini sia-sia, keberadaannya juga seperti memunculkan penjahat-penjahat berbahaya seperti yang dihadapinya tadi. Kalau begini terus, apa yang sebetulnya harus ia lakukan?

Menguasai dunia tentu saja, Margitta terkekeh. Seperti yang dikatakan oleh manusia tadi, manusia perlu diingatkan kalau Tuhan itu ada. Karena si T itu tak kunjung menampakkan diri, tak ada salahnya kalau kamu menampakkan wujudmu dan mengklaim gelarnya. Biar bagaimanapun, kau mungkin lebih kuat dari dia.

Kalau Margitta mau, ia sudah melakukan itu sejak dulu. Tapi dia malah terus mendekam di dalam tubuh si gadis, mencoba membangkitkan ilusi kalau si gadis sebenarnya masih memegang kendali terhadap takdirnya.

Meski begitu, di dalam dirinya, tanpa pengaruh dari Margitta ia mulai merasa masuk akal untuk menjadi sesosok dewa yang menjadi pemimpin tertinggi negeri ini. Dengan begitu ia tak hanya bisa memimpin manusia dan menggerakkan mereka dalam ketakutan, ia juga bisa memastikan tak ada makhluk-makhluk seperti si wanita tadi yang akan seenaknya menjatuhkan korban jiwa sebanyak ini. Ia bersumpah ini akan menjadi insiden besar terakhir yang akan terjadi selama ia masih bisa mengendalikan Margitta.

Tapi, untuk sekarang, ia memutuskan untuk menghilang dulu... hingga tiba saatnya kekuatannya dibutuhkan kembali.


message 21: by Reymond (last edited Mar 06, 2014 08:29AM) (new)

Reymond Jr. | 87 comments Jessica


"Penampilan Jessica dengan saxophonenya menjadi penampilan terakhir di acara Pentas Musik Klasik ke-10 ini".

Sorak sorai penonton yang hadir pada acara tersebut terdengar sangat bergemuruh setelah melihat penampilan yang menawan dari Jessica.

"Mereka hanyalah penonton bodoh yang tidak akan pernah bisa mengerti apa itu makna musik. Mereka hanya bisa mengatakan musik itu jelek atau enak didengar. Bodoh...".

Jessica menggerutu didepan kaca di ruang gantinya. Tiba-tiba terdengar suara yang cukup aneh.

"Hahaha... Kamu selalu bisa membuat mereka berteriak histeris ketika kamu sedang berada diatas panggung",

"Tutup mulutmu Bogai",

"Kenapa kamu tidak pernah menyukai setiap penampilan sempurnamu ketika diatas panggung ? Bukannya manusia akan merasa puas apabila ada orang banyak yang menghargai karya yang dibuat olehnya ?",

"Ini bukan soal karya ! Tinggalkan aku sendiri".

Bogai-pun menghilang dari ruang ganti Jessica. Beberapa saat kemudian Jessica menangis karena hal yang tidak diketahui alasannya.

"Aku benci musik. Tapi aku tidak akan bisa meninggalkan musik karena hanya saxophone yang menemani kesepianku pada saat aku masih ada di panti asuhan".

Bogai kembali datang untuk memberikan sebuah pernyataan kepada Jessica.

"Apa kamu lupa siapa aku sebenarnya ?",

"Kenapa kamu kembali lagi Bogai !?"

"Aku kembali karena ada suatu hal yang belum aku jelaskan kepadamu",

"Dasar iblis bodoh ! Kamu sudah mengikutiku selama 10 tahun, kenapa masih ada yang belum dijelaskan ?",

"Waktu aku datang karena suara saxophone yang kau mainkan, kau adalah seorang gadis kecil yang kesepian dan penuh benci. Jadi, pada saat itu kau tidak akan mengerti hal yang ingin aku jelaskan kepadamu saat ini",

"Tahu apa kau tentang kehidupanku !?",

"Dasar manusia, aku ini adalah iblis. Untuk mengetahui tentang kehidupan seseorang bukanlah hal yang sulit bagiku. Bahkan aku bisa mengetahui kapan orang itu akan mati. Hahaha...",

"Jadi hal apa yang ingin kau jelaskan kepadaku ?!",

"Kau bisa memerintahku seperti kau memerintahkan seekor anjing",

"Apa yang kau maksud Bogai ?",

"Itu adalah kutukan dari Lucifer yang harus aku hadapi karena telah terperangkap di dunia manusia. Kau bisa memberikan perintah apapun sekalipun itu adalah perintah untuk mengakhiri hidup seseorang",

"Kalau begitu, banyak orang yang ingin sekali aku bunuh. Tolong bunuh orang yang tadi menjadi pembawa acara pentas musik tadi",

"Hahaha... Manusia memang memiliki nafsu dan emosi yang sangat unik",

"Apa yang kau bicarakan Bogai ?! Cepat bunuh orang itu agar bisa menjadi bukti dari omonganmu barusan !",

"Apa kau tidak ingin mengetahui peraturan akan permainan ini ? Karena memerintah iblis tidak gratis",

"Paling hanya sebatas peraturan bodoh dari iblis bodoh",

"Hey Jessica kenapa kau selalu memanggilku dengan panggilan bodoh ?",

"Sudah jelas kau itu bodoh Bogai, kenapa bisa datang ke dunia manusia hanya karena mendengar suara saxsophone ? Lalu kenapa kau rela menerima kutukan bodoh dari Lucifer untuk suara saxophone yang dimainkan oleh anak kecil yang kesepian di panti asuhan ? Pasti kau mempunyai niat lain",

"Sepertinya anak kecil itu sekarang sudah pintar. Aku datang karena aku tertarik dengan emosi yang selalu kau tumpahkan pada saat kau bermain saxophone. Pada saat itu kau secara tidak sengaja membaca sebuah mantra untuk minta tolong kepada Lucifer dan Lucifer langsung memberikan perintah kepadaku untuk menuruti semua perintahmu. Tapi dengan beberapa peraturan tentunya",

"Peraturan ? Pasti mengambil jiwaku, menikah denganku, atau akan selalu bernasib sial sampai aku mati ?",

"Seperti itukah pandangan manusia terhadap iblis ? Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperi itu. Baiklah, ini peraturannya. Pertama, kau tidak akan pernah bisa membatalkan perjanjian ini setelah perjanjian ini dilaksanakan. Kedua, setiap perintah untuk membunuh orang, nyawamu akan berkurang 1 hari. Ketiga, kau tidak bisa memintaku untuk menghidupkan orang mati dan tidak bisa memintaku untuk membunuhmu. Setelah sampai disaat kau akan mati, kau akan menjadi salah satu dari kami, yaitu menjadi budak Lucifer untuk selamanya dan akan lupa semua kejadian selama kau hidup",

"Baiklah, mari kita lakukan perjanjian itu",
"Akan lebih baik jika kau memikirkan semua itu sampai matang. Hahahahahaha...".

Bogai kembali menghilang setelah dia menjelaskan perjanjian itu. Jessica tersenyum dan tertawa dengan keras setelah mendengar semua pernyataan Bogai. Kemudian dia mengangkat dan memainkan saxophone miliknya dengan nada-nada yang menggambarkan kematian sekaligus membuat malam itu terasa semakin mencekam.

Sebulan berlalu dan musim telah berubah menjadi musim gugur setelah penjelasan perjanjian iblis yang diterangkan oleh Bogai namun Bogai belum juga menampakkan dirinya didepan Jessica.

***
"Cih, bodohnya diriku yang mempercayai iblis bodoh itu. Lihat sebulan berlalu tapi dia belum juga muncul. Aku ingat perkataan terakhirnya sebelum dia menghilang. Tapi untuk apa aku memikirkan konsekuensi atas perjanjian bodoh itu ? Jelas aku siap untuk membunuh mereka semua karena telah memperlakukan aku seperti hama benalu. Cih, dendam itu akan selalu ada bersemayam di hati yang membusuk ini",

Jessica yang sedang duduk dibawah pohon yang daunnya sudah menguning itu-pun mulai memainkan saxophonenya dengan nada yang sangat menarik perhatian orang yang berlalu-lalang disana. Tanpa disadari, Jessica telah menjadi bahan perhatian mereka yang melihat aksinya saat memainkan alat musik tiup tersebut.

"Ayah, kakak itu hebat aku ingin menjadi seperti dia suatu saat nanti",

"Iya, ayah akan belikan alat musik itu nanti setelah usiamu sudah 10 tahun",

"Wah ayah memang baik. Mah, ayah akan membelikanku alat musik seperti kakak itu".

Mulai terdengar suara orang yang berkomentar atas permainan saxophone Jessica. Setelah Jessica selesai dan mulai membereskan kembali saxophone miliknya itu, tiba-tiba Bogai datang dan berkata.

"Hey apa kau sudah memikirkan tawaran itu ?",

"Kemana saja kau iblis ?! Aku sudah menunggu kau untuk segera melakukan ritual itu",

"Hehehe... Dasar bodoh, apa kau ingin terlihat gila di muka umum ? Hanya kau yang bisa melihat keberadaanku disini, kenapa kau berteriak seperti itu ?",

Jessica langsung terdiam dan melihat sekelilingnya dan ternyata benar semua orang yang lewat menjadikan Jessica sebagai bahan perhatian mereka.

"Dasar manusia bodoh, baiklah malam ini tepat tengah malam akan aku tunggu kehadiranmu didepan gereja St. Castanell. Hahaha...".

Tanpa menjawab Bogai, Jessica langsung pergi dari tempat itu karena semua orang sudah mulai membicarakan dirinya dari kejauhan. Bogai juga pergi bersamaan dengan hembusan angin yang bertiup cukup
kencang.

Dalam perjalanan, Jessica terlihat ragu dengan ajakan Bogai. Jessica berjalan tanpa ada ekspresi dari wajahnya.

"Tengah malam ? Di St. Castanell ? Kenapa tiba-tiba aku menjadi ragu ? Tapi disanalah tempat aku ditemukan oleh para pengurus panti asuhan itu. Tapi darimana iblis itu tahu sejarah kehidupanku ? Lagipula untuk apa aku ragu dengan semua dendam yang ada ini ? Aku harus bergegas pulang untuk merencanakan semua pembunuhan ini tanpa ada sedikit kejanggalan atas kematian mereka".

Jessica mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke apartemen mewah yang dia tempati. Jessica mendapatkan semua kemewahan itu berkat kemampuannya dalam bermain saxophone. Dengan kata lain sekarang dia sudah menjadi orang kaya.

***

"Baiklah, aku akan mengatur rencana agar semua ini cepat berakhir. Aku akan membunuh mereka semua dengan cara yang cukup cantik. Aku akan mengadakan sebuah konser tertutup yang akan dihadiri oleh mereka yang akan aku bunuh. Bogai akan ku perintahkan untuk masuk kedalam saxophone agar semua orang yang mendengar suara saxophone itu akan mati. Mereka akan mati saat nada terakhir ku mainkan. Tapi ini adalah sebuah taruhan karena aku sama sekali tidak mengetahui berapa sisa umurku. Apabila ada 1000 orang yang mati pada saat itu, umurku akan dikurangi 1000 hari. Berarti ini adalah misi bunuh diri. Tapi aku tidak peduli, aku akan memebawa mereka semua ke neraka meskipun aku akan secepat itu menjadi budak Lucifer. Menurutku itu adalah harga yang cukup pas untuk membalas kelakuan mereka semua terhadapku".

Jessica terdiam sesaat setelah memikirkan kembali rencananya itu. Dia semakin terlihat ragu dengan semua konsekuensi yang akan diterimanya. Dia memejamkan mata sejenak karena merasa semua ini cukup berat untuk dipertimbangkan. Pada saat dia memejamkan matanya, dia melihat sesuatu yang aneh didalam otaknya. Dia melihat sebuah gambaran yang cukup menyeramkan tentang apa yang akan terjadi nanti. Tapi ada yang aneh disana, dia melihat ada satu orang yang masih hidup disana tapi dia tidak mengenal siapa orang itu.

“Astaga, apa tadi aku bermimpi ?”,

“Kau tidak bermimpi Jessica. Itu tadi adalah gambaran dari apa yang akan terjadi yang dikirimkan oleh Lucifer yang agung”,

“Kenapa ada satu orang yang tidak mati ?”,

“Itu rahasia. Hahaha...”.

Bogai menghilang meninggalkan sejuta pertanyaan di kepala Jessica.

“Pertanda apa itu barusan ? Secara logika, apabila ada satu orang yang tidak mati disana itu berarti usiaku tidak sesuai dengan jumlah orang yang akan aku bunuh. Lagipula kenapa Lucifer memberikan gambaran kejadian itu ?”.

Lagi-lagi Jessica terlihat bingung. Tapi Jessica terlihat menepis semua keraguannya itu dengan mengambil telepon genggam miliknya dengan maksud menghubungi manajernya.

“Halo Prita, tolong atur pertemuanku dengan pengurus panti asuhan St. William besok”,

“Tapi besok anda ada pertemuan dengan stasiun televisi swasta”,

“Batalkan semua kontrak yang ada. Aku ingin menggelar konser amal disana dan tolong diutamakan tamu istimewa adalah teman-temanku sewaktu di panti asuhan dulu”,

“Tapi bagaimana dengan kontraknya ?”

“Aku akan membayar konsekuensi akibat pemutusan kontrak tersebut. Aku memaksa Prita”,

“Baiklah kalau begitu akan aku batalkan kontrak itu dan akan mengatur pertemuan dengan pengurus panti asuhan St. William”,

“Satu hal lagi, mungkin ini adalah tugas terakhir yang aku berikan untukmu Prita. Kamu dipersilahkan untuk mencari artis lain untuk diatur. Terimakasih banyak untuk semua loyalitas yang kau berikan. Dan tolong jangan tanya alasanku mengambil keputusan ini. Itu adalah konser terakhir yang akan aku gelar karena aku akan melakukan liburan keliling dunia. Nah, selamat tinggal”.

Telepon itu dimatikan.

***

Malam semakin larut dan hujan-pun turun cukup lebat disertai sambaran petir yang memecah keheningan malam. Angin-pun bertiup bagaikan ingin menerbangkan apapun yang dilewatinya.

”Nah sudah waktunya berangkat. Apa yang akan terjadi selanjutnya ? Aku tidak akan mengetahuinya sebelum sampai disana”.

Jessica mengambil payung dan saxophonenya kemudian turun menuju lobby. Setelah sampai di lobby apartement, Jessica segera memesan sebuah taksi menggunakan jasa resepsionis.

Tidak perlu waktu lama, taksi yang dipesannya itu sudah datang dan siap mengantarnya menuju gereja St. Castanell. Selang waktu 1 jam perjalanan, taksi itu telah sampai di gereja St. Castanell dan Jessica segera menyelesaikan pembayaran perjalanannya menuju gereja itu.

Setelah taksi itu pergi, tiba-tiba hujan badai itu berhenti mendadak dan bulan purnama yang sangat terang muncul untuk menerangi tempat itu. Setelah cahaya bulan sudah sampai dititik paling terangnya, Bogai-pun muncul dengan senyuman yang cukup mengerikan.

***
“Jessica, apa kau sudah siap dengan ritual itu ?”,

“Sejak awal aku tidak pernah ragu untuk melakukan perjanjian ini”,

“Ulurkanlah tanganmu Jessica, mungkin ini akan sedikit terasa sakit”,

“Apapun yang kau minta Bogai”.

Jessica mengulurkan tangannya kepada Bogai dan Bogai langsung meraih tangan Jessica. Angin kembali bertiup kencang pada saat tangan mereka bersentuhan. Sesaat kemudian, Jessica berteriak kecil menahan sakit.


message 22: by Reymond (last edited Mar 06, 2014 08:28AM) (new)

Reymond Jr. | 87 comments “Ouch !”,

“Kenapa ? Sudah ku bilang itu akan terasa sedikit sakit. Aku tadi hanya mengambil sedikit darahmu untuk dipersembahkan kepada Lucifer dan Lucifer sudah menerima persembahanmu dengan senang hati. Ritual ini selesai Jessica. Mulai sekarang aku akan menuruti semua perintahmu. Jadi apa perintahmu Jessica ?”,

“Aku ingin kau masuk kedalam saxophone milikku”,

“Hanya itu ?”,

“Tidak. aku ingin kau membunuh orang yang mendengar permainanku hingga nada terakhir. Dan orang yang akan mendengar semua itu adalah orang yang telah membuatku sakit hati”,

“Kau akan mati apabila ada orang yang tidak membuatmu sakit hati. Tapi aku akan apapun perintahmu Jessica”,

“Aku tidak akan salah sasaran”.

Jessica mengeluarkan saxophonenya dan kemudian Bogai masuk kedalamnya. Seketika saxophone itu berubah menjadi aneh dan menyeramkan.

“Hey Jessica, aku merasakan dendam yang sangat kuat di saxophone ini. Apa rencanamu dengan saxophone ini ?”,

“Tutup mulutmu Bogai. Akan aneh apabila ada orang yang mendengar saxophone bisa bicara”.

***

Setelah Jessica memasukan kembali saxophone itu kedalam tasnya, telepon genggam milik Jessica berbunyi. Ternyata itu dari Prita.

“Ada apa Prita ?”,

“Besok pertemuanmu dengan pengurus panti asuhan St. William bisa dilakukan pada pukul 12.00”,

“Terimakasih Prita. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu. Tolong jangan hadir ke acara itu dan jangan tanya alasannya kenapa”.

Telepon itu dimatikan kemudian Jessica tersenyum dan berkata dalam hati.

“Rencanaku berhasil. Ucapkan halo kepada neraka yang telah menunggu kalian !”.

***

Keesokkan harinya Jessica melakukan pertemuan di St. William. Tanggapan tentang konser amal tersebut disambut baik oleh mereka. Dan konser itu akan dilaksanakan 2 hari mendatang dengan tamu sekitar 3.432 orang.

Hari sudah berrganti dan besok adalah hari yang ditunggu Jessica. Saat di apartement, Jessica mengeluarkan saxophone itu dan akan dimainkan olehnya. Pada saat yang bersamaan, Bogai membuka mulut untuk berkata.

“Untuk apa kau latihan ? Aku bisa memainkan saxophone ini lebih bagus darimu”,

“Ini adalah sebuah akting untuk mengelabui semua orang”,

“Begitu ya ? Mengenai konser itu, apa kau ingin membunuh mereka semua ?”

“Ya”,

“Sepertinya umurmu akan berkurang banyak besok”,

“Aku tidak peduli. Tugasmu adalah menuruti perintahku !”.

***

Hari itu-pun tiba. Semua tamu undangan sudah datang dan bersiap mendengarkan permainan saxophone Jessica yang indah itu. Jessica yang masih di ruang ganti memulai percakapan dengan Bogai.

“Apa kau sudah siap, Bogai ?”,

“Aku akan selalu siap. Sepertinya mereka akan mati dengan menggunakan pakaian yang bagus”,

“Berhentilah bergurau Bogai”.

Pembawa acara di panggung sudah membuka konser amal tersebut dan sudah memanggil nama Jessica untuk naik keatas panggung. Setelah sampai diatas panggung, Jessica memberikan sapaan kepada para tamu dan langsung memainkan lagu pertama. 30 menit acara berlangsung dan sudah akan sampai di penghujung acara. Sebelum Jessica memainkan lagu terakhirnya, dia mengatakan sesuatu kepada para tamu.

“Ini adalah lagu terakhir yang akan kalian dengar, karena dengan lagu ini aku mengakhiri karirku sebagai pemain saxophone. Untuk itu, inilah persembahan terakhirku sekaligus menutup acara ini untuk selamanya”.

Para penonton terlihat bingung dengan perkataan Jessica barusan. Seketika mereka ketakutan dan ingin keluar dari gedung itu. Tapi semuanya terlambat, musik sudah dimainkan dan mereka semua tidak dapat bergerak. Nada demi nada dimainkan oleh Jessica dan para penonton menangis tapi tersenyum. Tiba saatnya nada terakhir dimainkan oleh Jessica dan mereka semua yang mendengar nada itu langsung mati dengan cara yang cukup mngenaskan mengeluarkan darah dari telinga, hidung dan mulut mereka. Mata mereka-pun berasap pertanda mata tersebut terbakar.

Jessica tersenyum melihat mereka semua mati tapi dirinya sendiri tidak ikut mati.

“Kerja bagus Bogai”,

“Hehehe... Dasar manuisa bodoh ! Sekarang giliranmu untuk menghadap Lucifer yang agung !”,

“Apa maksudmu ?!”,

“Lihat sebelah kananmu Jessica, dia tidak mati dan kau salah sasaran”,

“Prita ?! Bodoh ! Kenapa kau datang kesini ?! Bogai cepat bunuh dia !”,

“Terlambat. Ayo ikut aku menghadap Lucifer ! Hahahaha...”,

Tidaaak ! Aku pasti akan membalasmu Prita !”.

Jessica berteriak dengan suara yang sangat keras dan Prita terlihat ketakutan setelah melihat kejadian yang terjadi dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Bogai keluar dari saxophone itu dan menyeret tubuh Jessica ke dunia iblis dan hanya meninggalkan saxophone Jessica yang kembali ke bentuk semula.

***


message 23: by deela (new)

deela ne (deelanefire) | 32 comments LIXSHON

“Jadi ada berapa macam monster di Lixshon?” sesosok wanita tinggi semampai berjalan mondar-mandir dari depan ruangan ke belakang ruangan. Wanita yang sepertinya seorang guru itu membaca buku mungil, dia berjalan anggunan dengan sedikit menghentakkan kakinya yang mengenakan sepatu high heels sehingga menimbulkan suara khas 'ctok - ctok...'

“Banyak...” jawab murid-muridnya lemah tak bersemangat.

"Semangat dong! Coba tebak ada berapa?!" Pancing Ibu guru itu dengan mata tetap berkutat pada buku mungilnya. "Atau mungkin bisa dilihat jumlahnya dari buku yang saya berikan pada kalian tadi. Yah walau itu tidak semuanya sih."

Para murid saling pandang. Mereka tak ingin tahu seberapa banyak monster di dunia mereka, Lixshon. Mereka sudah cukup shock mendapati buku petunjuk khusus monster yang diberikan pada mereka. Buku itu tebalnya minta ampun. Dan ketika ada yang iseng menilik angka berapa di akhir buku untuk mengetahui informasi berapa mosnter di dalam buku itu, dia langsung lemas! Apalagi mengingat Ibu guru sok seksi di depan mereka suka memberi tugas hafalan!
Diawali angka 9 dengan 6 digit kombinasi angka lain di belakangnya! Dan itu merupakan jumlah yang katanya tidak mencakup semua monster di Lixshon! Bayangkan! Semua itu ‘dihafalkan’?! Oh sungguh kiamat telah tiba.

"Jadi, ada berapa?" Tanya Ibu guru itu lagi dengan nada meninggi.

"Se- 9.123" ujar seseorang dengan mengorupsi jumlah yang mereka tahu, mereka berharap setidaknya tidak lebih dari itu.

"Hah? Dikit sekali. Ayo coba yang lain?"
Akibat pertanyaan Ibu guru dan keinginan murid-muridnya menghibur diri dengan mengandai-andai jumlah sesungguhnya seperti yang mereka ucapkan, sahut-menyahut terjadi dalam proses belajar-mengajar itu.

Ibu guru menyungging senyuman puas mendengarkan sahutan murid-muridnya. Kemudian dia menurunkan bukunya ketika sudah berada di meja khusus guru sambil bertanya, “jika kalian bertemu dengan salah satu monster, apa yang akan kalian lak—LACIEL!! JANGAN TIDUR!!!” pertanyaan Ibu guru tertelan begitu mendapati seorang murid di barisan paling depan pojok kanan dekat pintu ke luar sedang dibuai mimpi.

Seruan membara Ibu guru rupanya tak membangunkan pemuda berambut coklat berantakan yang bernama Laciel itu. Laciel telah menyumbat telinganya menggunakan kertas gulung untuk mengantipasi semburan murka si ibu guru jika dia kepergok tidur. Dan itu membuat tensi Ibu guru jadi meninggi. Segera saja dengan langkah bak orang mau gulat, dia menghampiri Laciel. Dia putar lengan atas kanannya membentuk lingkaran, siap-siap melayangkan bogem mentah.

Tetoot... Tettitottot... Tetoot
Bunyi bel pulang sekolah mengudara sebelum bogem dilancarkan.

SRAAAK!!!

"Waktunya pulang...!!!” Laciel tiba-tiba berjingkat dari posisi duduknya sambil mengambil tas buntutnya di laci meja dan menggendong tas buntut itu di salah satu lengannya. Matanya yang hijau menyala cerah, seolah dia tidak baru saja bangun tidur. Wajahnya berseri-seri seakan 'libur telah tiba, hatiku gembira'.
Agar tak membuang waktu, dia putar tubuhnya untuk ke luar ruangan, dan saat itulah dia baru menyadari Ibu gurunya tengah mematung saking shocknya melihat dia yang bisa bangun hanya karena bel pulang berbunyi dan tak bisa bangun walau teriakan Ibu guru telah menggoyangkan kelas di depan mejanya. “Lhah, bu Nino. Kenapa berdiri di situ? Saya mau lewat nih. Minggir dikit bu.” Katanya cuek tanpa berpikir kenapa Nino, Ibu gurunya, tak segera berpindah tempat dan masih memandanginya dengan keterperangahan.

Laciel mengerutkan alis heran. Kemudian dia melihat ke sekelilingnya yang juga sedang terperangah melihatnya. “Sudah dong. Jangan dilihatin terus. Aku jadi malu,” ujar Laciel sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Tawa kekehnya menggema dikesunyian sampai tiba-tiba...

BBUUUAAAAK!!

Sebuah bogem mentah dari arah bawah yang tenaganya telah digandakan menjadi lima kali lipat menggunakan ‘xexeryn’—semacam tenaga dalam atau gelombang energi yang dapat digunakan untuk mengendalikan sesuatu dan menaikkan kekuatan—mendarat dengan mulus di dagu Laciel. Laciel terpelanting dan terkapar di lantai dengan posisi nungging.

“Sakit...” rintihnya tanpa ada yang memperdulikan.
._.
Dalam perjalanan pulang, senandung kecil Laciel dendangkan. Dia menikmati hembusan angin sambil mengamati hijaunya alam. Sesekali senyum riang Laciel tarik sebagai tanda dia sedang bahagia.

"Nenek, Laciel pu—" Seru Laciel membuka pintu rumahnya yang kecil, namun seruannya terhenti begitu melihat seorang gadis berambut biru laut dengan berbalutkan seragam akademi Scenrei sedang duduk di atas jalinan sulur kayu yang membentuk kursi.

BLAM!
Spontan Laciel membanting pintu depan setelah sukses menghentikan seruannya.

"Laciel! Kenapa langsung BLAM begitu sih?!" Gadis yang menyadari kedatangan Laciel segera mengambil langkah seribu, membuka pintu yang telah ditutup Laciel dan berteriak tepat di depan Laciel yang rupanya tak beranjak dari depan pintu.

"Huh! Kenapa sih kamu selalu, selalu, selalu dan selalu seperti ini sejak kau tahu aku masuk akademi Scenrei?" Gadis itu berkacak pinggang, alisnya berkerut, bibirnya yang merah jambu berkomat-kamit, pipinya mengembung. "Ada apa sih dengan akademi itu? Semenjak kau kembali, kau menolakku memasukinya. Padahal itu akademi bagus, tahu! Jika kau masuk akademi Scenrei, kau akan jadi penghuni kerajaan Selvior! Kau akan dimasukkan salah satu divisi yang pas setelah lulus dan akan di bawahi seorang Selphr langsung! Kau tahu kan Selphr itu apa? Mereka dewan tertinggi yang menjaga kestabilan Lixshon! Bayangkan! Keren kan? Hidupmu juga terjamin. Kau akan tinggal di rumah besar Selphrmu, lal—" Laciel menempelkan jari telunjuknya di depan bibir temannya. Dia tahu dengan melakukan ini, temannya akan me-rem kecerewetannya dan ketenangan akan kembali.

"Aku tak tertarik, Vena." Kata Laciel setelah melihat gadis yang dia panggil Vena itu tenang. Laciel mendorong halus tubuh Vena, membuat celah untuk dirinya memasuki rumah. Dia letakkan tasnya di sudut ruangan, di jalinan tali yang menggantung, tempat tidurnya.

"Huh~ Kau pergi saat usia 3 tahun. Kembali 9 bulan yang lalu dan menyebalkanmu tetap seperti usia 3 tahun! Dulu kau juga bilang 'aku tak tertarik, Vena.'" Vena memajukan bibirnya, menggerak-gerakkannya mirip bebek karena kesal melihat tingkah Laciel. Dia heran kenapa Laciel yang sekarang masih sama seperti Laciel 17 tahun yang lalu. Padahal dia tahu temannya itu pernah menghilang dari kehidupannya dan dia kira perkembangan kejiwaannya sudah lebih stabil. Tapi ternyata...

DRUAAAKK!!!
Suara sesuatu yang hancur menggetarkan lantai rumah. Laciel tercekat, matanya membelalak tak jelas.

ROOOOAAAR!!!!!

Vena terkejut mendengar aung mengerikan. Dia segera membuka pintu menilik apa yang tengah terjadi.
Sesosok kadal raksasa 5 meter bertanduk banteng menghentak-hentakkan kakinya tak suka. Dia berada di hutan. Tanduknya penuh darah. Bahkan ada satu tubuh manusia masih dengan indahnya menancap di sana.

"I-Itu... Dulu sebelum bisa masuk akademi, Nino pernah memberikan padaku sebuah buku, di dalamnya ada makhluk itu. Na... Nama makhluk itu adalah..." Vena bergumam melihat sosok itu. Dia tampak berpikir. Sepertinya sesuatu menghilang sejenak dari otaknya.

"Elroh." Potong Laciel, "kenapa dia ada di sini?!" Laciel berdiri di belakang Vena, dia menatap monster itu aneh, seakan tak seharusnya monster itu ada di sini.

"Elroh?" Vena menatap Laciel. Dia merasa bukan itu namanya.

"Eletexeo Rohgenhishen. Elroh." Jawab Laciel tanpa membalas tatapan Vena. "Kalau dia tak dihentikan, akan lebih banyak korban!" Decak Laciel kesal. Dia segera mendorong tubuh Vena dari pintu dan menghambur ke luar.

"Tunggu Laciel. Kau bisa apa?!" Vena berusaha menghentikan pemuda itu, mengingatkannya bahwa dia belum pernah berhadapan dengan monster karena dia bukan murid akademi, orang biasa harusnya lari jika ada monster. Namun peringatan Vena tak didengarkan. Dengan acuhnya, Laciel masuk hutan, menyongsong sosok monster.

Vena ragu. Dia juga belum bisa bertarung sebenarnya. Usianya di akademi baru seumur jagung. Boro-boro bertarung, senjata pun dia tak punya. Apa yang harus dia lakukan?

Tanpa terasa pandangan Vena mengabur. Bukan karena dia mau pingsan. Bukan! Semua karena air mata Vena menyeruak. Dia merasa sesumbar beberapa menit yang lalu, dia banggakan keberhasilannya menembus dinding akademi pada Laciel. Namun saat monster datang, dia takut! Dia tak tahu harus bagaimana! Padahal Laciel... Pemuda yang tak pernah mengenyam sedikit pun akademi... Tanpa ragu segera menyongsong monster itu. Sementara dia... Dia...

"Laciel... Maaf..." Ucap Vena diikuti langkahnya menjauh dari monster. Dia berlari. Terus berlari. Berlari dengan keyakinan lebih jauh lebih baik.
._.
Rooooar!!!
Wusssh!!!
Hup.
Laciel bersalto ke kanan ketika Elroh menumbangkan pohon, melemparkannya ke sembarang arah dan itu bertepatan ke arahnya. Tanpa membuang waktu Laciel kembali belari. Dia mengamati Elroh dalam pelariannya. Mata Elroh merah dan bengkak, seperti dia baru saja menangis tanpa henti.

Saat jarak Laciel semakin dekat dengan Elroh, Laciel melompat ke dahan pohon terdekat. Dia bersembunyi. Sebisa mungkin dia menghilangkan hawa keberadaannya.

Di balik rimbunnya dedaunan, Laciel melompat antar pohon satu ke pohon lainnya. Gerakkannya sangat lihai, tanpa suara dan gesit; seakan ini bukan kali pertamanya bergerak demikian.
Dia terus bergerak hingga dia dapati kerumunan orang lima puluh meter di sekitar Elroh.

Ngapain mereka di sini? Laciel menajamkan mata mengamati kerumunan itu dari atas pohon.

"Nino. Bagaimana? Maxin dimana?" Pertanyaan yang berkumandang dengan lantang sukses menarik perhatian Laciel. Setelah dicermati baik-baik, guru di sekolah terbuka Laciel sedang berkerumun di sana.

"Bukannya dia bersamamu, Har?" Tanya Nino melihat Hardzoul, teman sesama gurunya yang keluar dari balik pepohonan dengan memanggul senapan dan berlari menghampirinya yang tengah bersiaga dibalik basoka.
Kemudian percakapan singkat terjadi di antara mereka. Dan dengan jelas Laciel menangkap isi pembicaraan mereka. Maxin, salah satu guru Laciel, menghilang. Mereka menduga Maxin hilang karena Elroh.

DRUUAAAK!!!
Elroh membuas. Baru saja dia menyarangkan tinjunya ke tanah di antara Nino dan Hardzoul, memporak-porandakan tempat mereka berpijak.

Dzing! Dzing! Dor! Dor!
BLAR!
Empat tembakan dilepaskan Hardzoul dari senapan kembar yang ada di tangannya, sementara Nino meluncurkan basokanya beberapa menit kemudian.

Laciel terkejut. Dia segera melompat dari tempatnya ke depan Nino dan Hardzoul. "Bodoh! Menembaknya hanya akan membuat dia berserk!" Sergah Laciel sambil menatap kedua gurunya kesal.

Segera setelah berkata demikian, Laciel menepukkan tangannya dan langsung selaput tipis mengembang membuat setengah bola sepanjang dua meter di sekitarnya. Baru saja lapisan pelindungnya selesai, Elroh memuntahkan lumpur ke arah mereka. Dari lumpur itu asap mengepul. Sepertinya itu bukan lumpur biasa.

"Laciel!" Nino berseru melihat anak asuhnya—yang paling malas—ada di depannya dan baru saja membuat barrier besar untuk melindunginya. "Sedang apa kau di sini? Lari!" Perintah Nino sambil mendekati Laciel.

"Kau yang seharusnya lari!" Laciel memutar badannya, memandang Nino tak suka. "Bukan begitu cara menangani Elroh! Kau hanya membuatnya semakin lepas kendali!" Bentak Laciel.

Elroh? Hardzeoul mengulang ucapan Laciel dalam hati. Dia sedikit heran kenapa Laciel memanggil monster itu Elroh.
Dia amati Laciel dari atas ke bawah. Dia rasa Laciel bukan orang sembarangan. Hanya penghuni kerajaan Selvior divisi 5 yang memanggil monster itu dengan sebutan Elroh. Selphr divisi 5, malas menyebut nama yang sulit, sehingga terbentuklah panggilan Elroh untuk monster ini. Jika Laciel tahu Elroh, kesimpulannya, Laciel adalah...


message 24: by deela (last edited Mar 07, 2014 06:40PM) (new)

deela ne (deelanefire) | 32 comments BRAAK!!!
Elroh membenturkan tangannya ke barrier Laciel. Dia berusaha menghancurkan dinding tak terlihat yang melindungi orang yang melukainya. Dia ingin menghabisi orang-orang itu!

RAAAAUUR!!!
Elroh meraung pilu, dia menangis.

!!!
Laciel terkejut mendengar raungan Elroh. Dia segera menulusuri lekuk tubuh Elroh, dan baru kali itu dia menyadari luka lebar di tubuh Elroh.

"Dia terluka. Harus diobati." Kata Laciel lirih pada dirinya sendiri.
Gumaman Laciel terdengar oleh Nino. Nino langsung memucat. Dia menarik pundak Laciel, memutarnya hingga mata mereka bertemu.

"Apa maksudmu mengobatinya? Kau hanya akan terbunuh!" Nino berteriak kencang ke arah Laciel.

"Tidak! Tahu apa kau tentangku!" Balas Laciel tegas dengan nada tinggi, ".... Pergilah!" Pinta Laciel, selayang senyum sesak terkembang di bibirnya.

Selepas meminta, Laciel memejamkan mata. Dia berkonsentrasi. Perlahan tubuhnya terbungkus sinar hijau toska. Sinar itu berpendar cantik. Namun beberapa detik kemudian sinarnya melebur dengan udara menyisakan kepulan ganjil mirip asap. Bersamaan dengan hal itu, ketika Laciel membuka matanya, pupilnya yang semula hijau menjadi hitam pekat, rambutnya yang awalnya coklat berangsur-angsur berubah jadi hitam legam. Dan di tangan Laciel, yang semula tak ada apa-apa, kini pedang panjang bermata hitam dia genggam.

!!!
Nino dan Hardzoul terkejut bukan main melihat perubahan Laciel. Mereka menganga tak percaya.

"Pergilah. Cari Maxin. Akan kubereskan tempat ini." Ucap Laciel sekali lagi dengan suara yang lebih berat dari suaranya yang biasa.

Nino dan Hardzoul saling pandang, kemudian mereka menekuk lutut dan menjawab dengan serempak sambil menghormat, "baik. Yang Mulia Ciel."
._.
Vena berlari. Dia tak kunjung berhenti. Padahal dilihat dari ekspresi dan geraknya, jelas dia kelelahan. Tapi dia mengabaikan semua itu. Dia terus berlari, menyusuri jalanan berliku hingga dia melihat seorang wanita dengan balutan jubah panjang berkibar mendekat.
Wanita itu memakai baju besi ringan di balik jubahnya. Di permukaan baju besi itu tersematkan angka 5 romawi dan burung elang. Vena langsung tahu wanita itu salah satu anggota divisi 5 dalam jajaran kerjaan Selvior.

"Ada apa?" Tanya wanita itu pada Vena yang menghentikannya.

Vena membungkukkan badan, tangannya terangkat, meminta waktu pada si wanita agar dia diperbolehkan bernapas terlebih dahulu.
Wanita itu mengangkat alisnya, dia mengangguk mengerti. Dia tunggu Vena mengatur napasnya dengan sabar.

"Maaf mengganggu perjalanan Anda. Err..." Vena melirik wanita itu, dia mau berkata dengan gaya formal seperti pada umumnya namun dia tak tahu siapa nama wanita di hadapannya. Vena jadi bingung sendiri. Dia berpura-pura mengingat-ingat siapa gerangan wanita itu. Tapi percuma. Dia tak mengenalinya.

"Alenna Selhir. Z-Selphr 05" kata wanita berambut pirang pendek yang mengaku bernama Alenna sambil menggeleng lemah.

"Ah. Maaf mengganggu perjalanan Anda, Alenna Selhir. Z-Selphr 05. Say—" Vena menghentikan ucapannya, dia memandang wanita di depannya sekali lagi. Lirih dia bertanya takut-takut, "a... Anda Z-Selphr? Second in command Selphr?"

Alenna memutar matanya kesal. "Iya. Kenapa? Jangan berpikir karena aku tak begitu tinggi terus berarti aku nggak bisa apa-apa ya!" Decak Alenna sambil berkacak pinggang.

"Ti... Tidak! Saya tidak berpikir demikian! Saya hanya merasa..." Vena memenggal kalimatnya. Dia meneliti Alenna dari atas ke bawah.

"Merasa apa!" Bentak Alenna tak suka.

"Merasa Anda begitu imut..." Ucap Vena malu-malu dan menyembunyikan semburan merah jambu di pipinya dengan menunduk.

"Hah?" Alenna terbengong-bengong heran mendapati ekspresi dari orang tak dikenal di hadapannya. “Kau kelainan ya, nona?” tanya Alenna ragu sambil melangkah mundur, menjaga jarak.

Vena segera menggeleng dan menjelaskan panjang lebar bahwa dia tidak kelainan. Dia hanya terlalu menyukai sesuatu yang imut dan menurutnya Alenna itu imut.

Agar Vena tak makin berkicau, Alenna bertanya apa tujuan Vena sebenarnya dengan ketus. Vena kembali berseru. Dia menepuk jidatnya sambil berkomat-kamit nggak jelas. Kemudian dia menceritakan rentetan kejadian pada Alenna. Dan itu membuat Alenna tersentak.

"Ciel ada di sana lho, Alenna." Sebuah suara muncul dari balik punggung Alenna mengagetkan Alenna dan Vena.

Mulanya tak ada sosok siapa pun, tapi seiring berjalannya waktu, pasir-pasir berkumpul dan mewujudlah seorang om-om bertampang play-boy. Dia mengedipkan sebelah matanya genit saat muncul.

Siapa? Tanya hati Vena yang merasa ngeri melihat om-om mengedipkan mata dengan ganjennya.

"Yang Mulia Freal. Apa maksud Anda?" Alenna bertanya ketus pada si om-om bernama Freal, dia menatap pemuda itu dingin seakan tersiratkan sebuah permusuhan.

Apa katanya? YANG MULIA???
Sementara Alenna tatap-tatapan penuh kebencian dengan Freal, Vena sendiri terkejut setengah mati-setengah hidup. Dia sungguh tak menyangka sosok om-om ganjen di depannya merupakan salah satu 'Yang Mulia' dari 17 'Yang Mulia' yang ada. Jadi artinya...
Om-om itu seorang Selphr! Hanya Selphr yang dipanggil Yang Mulia di dunia ini!

"Benar. Mungkin sebentar lagi dia akan menidurkan—" Freal memenggal ucapannya, "—Elroh??" Dia tak yakin atas nama yang diucapkannya. Tapi dia tak terlalu memikirkannya.
Freal mendongak menatap langit, mengamati awan yang mulai bergerak tak teratur.

"Tapi, pedang Yang Mulia Ci—" Alenna tersentak. Pedang bermata hitam yang seharusnya ada di pinggangnya tak ada! Alenna panik. Dia segera meraba-raba seluruh tubuhnya, mencari-cari senjata Selphr-nya. Karena jika senjata itu tak ada di tubuhnya, itu artinya...

"Tidak mungkin..." Alenna ikut mendongak, menatap langit. "Kukira Yang Mulia Ciel tak akan menggunakan kekuatannya lagi..." Bisik Alenna pelan nyaris membaur dengan hembusan angin.

Yang Mulia Ciel?
Meski tak mengerti apa yang terjadi, Vena ikut mendongak. Dia melihat gerombolan burung terbang tak teratur. Sepertinya burung-burung itu panik. Vena mendesah lirih. Dia mengumpat dirinya yang tak memiliki pengetahuan akan para Selphr. Dia berjanji akan langsung mencari informasi sepulangnya ke akademi.
._.
ROAAARRR!!!
Elroh meraung lagi, raungannya diikuti semburan lumpur. Kali ini semburan lumpurnya secara radial dan memiliki asam penghancur, sehingga permukaan yang terkena lumpur itu segera meleleh.

"Diam bodoh! Kalau kau tak diam, aku tak bisa menyembuhkanmu!" Laciel berseru sambil menghindari lumpur Elroh. Sudah hampir 30 menit lamanya Laciel bergelut dengan lumpur tanpa bisa mendekati Elroh.

Awalnya dia berpikir akan mendekati monster itu perlahan, membuat dia tidur dengan pukulan kecil atau apa yang tak menggunakan xexeryn berlebih, menyembuhkan lukanya, kemudian meneleportkannya ke hutan asalnya. Namun rencana awal Laciel gagal total dengan makin mengamuknya Elroh.

Laciel tak bisa mendekatinya!

Gretakan kesal berderit antar gigi Laciel. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tak ingin melakukan hal ini. Memang rahasianya selama 9 bulan sudah diketahui Nino dan Hardzoul, tapi setidaknya para anggota kerajaan, atau bahkan anggota divisinya, belum mengetahui siapa dia sebenarnya. Namun jika dia mengeluarkan kemampuannya, sihirnya, kekuatannya yang tak ada duanya... Maka dia akan...

"Biarlah." Laciel melompat mundur hingga kakinya menginjak mulut danau. Dia segera berbalik. Hal yang menakutkan memang membelakangi Elroh yang lagi berserk, tapi kalau tidak begini Elroh tak bisa ditenangkan.

Napas dalam Laciel tarik, dia mulai berkonsentrasi. Dia alirkan xexeryn-nya ke mata pedang, dia perluas jangkauan xexeryn-nya di sana. Kemudian dia rubah sudut pegangan tangannya, dia arahkan mata pedangnya ke bawah, atau tepatnya ke permukaan air.

Dalam hitungan ketiga, sambil mengucapkan kalimat tak jelas dalam bahasa asing, Laciel lepaskan pedangnya. Untuk beberapa saat pedang itu berdiri tegak di atas permukaan air walau kini tangan Laciel bergerak ke samping tubuhnya. Pedang Laciel bersinar terang, kemudian pedang itu turun perlahan memasuki air membenamkan wujudnya.

Beberapa detik setelah pedang itu hilang, lingkaran sihir besar mulai terlukis di permukaan air. Langit menghitam, petir bersahutan, angin berderu-deram membentuk simfoni nada indah mencekam dan menyayat hati saat mengiringi gerakan lukisan itu. Nada itu terlantun begitu syahdu, mengingatkan akan nyanyian kurcaci yang telah punah. Setelah lukisan terbentuk, nada yang terdengar meninggi, melengking, memekakkan telinga. Usai nada yang menyakitkan itu berakhir, air membumbung tinggi. Air itu melikak-likuk di udara, membentuk sesuatu.
Dan untuk berikutnya, seorang putri duyung raksasa lengkap dengan trisulanya mewujud, mengambang di udara.

Putri duyung itu menatap Laciel, Laciel balas menatapnya.
Terjadi komunikasi tak terdengar di antara mereka.

WOAAAR!!!
Elroh datang. Dia semburkan lagi lumpurnya ke arah Laciel. Putri duyung itu segera menyemburkan air untuk melawan lumpur Elroh. Mereka berdua adu kekuatan.

Lumpur vs air.

Laciel berjingkat mundur. Dia mengatur berat badannya dan menapak di permukaan air.
"Leir! Sembuhkan dia!." Kata Laciel pelan.

Sebagai jawaban, di kepala Laciel berdesing suara 'Anda yakin, Yang Mulia Ciel? Elroh ini sudah berlumuran darah. Dia banyak membunuh.'

Tak perlu ditanya suara siapa itu, Laciel tahu itu suara Leir. Roh air terkuat yang dia panggil dan dia beri bentuk sebagai putri duyung. Laciel mendengus mendengar pertanyaan Leir. "Kau lupa? Aku lebih parah darinya."

Leir menatap Laciel sejenak di saat pertempurannya. Kemudian dia ikut-ikutan mendengus. 'Oke deh~'

WRRUSSH!!!
Leir menyemburkan air lebih banyak ke arah Elroh. Dia sedikit memanipulasi unsur airnya sampai bisa membuat Elroh terdorong mundur. Saat Elroh lengah, Leir pecah airnya dan dia buat air itu menjadi tombak besar. Dia hunuskan tombak-tombak itu ke tubuh Elroh.

ROOOOAAAARR!!!
Elroh menjerit kesakitan, lalu dia roboh. Leir segera menghampirinya. Dia menatap Elroh dengan bengis dan penuh kebencian. Elroh membalas tatapannya dengan nanar. Di pikirannya, inilah ajal terakhirnya.
Namun rupanya tidak.

Tanpa dinyana, Leir menangkupkan ke dua tangannya di depan dada. Dia bernyanyi merdu.

Luka-luka Elroh menutup pelan, tenaga Elroh pulih perlahan.

Saat proses penyembuhan Elroh, Laciel mendekat. Dia menatap Elroh kasihan.
"Ini pasti ulah mereka! Sampai kapan sih mereka mendiskriminasikan monster?" Decak Laciel kesal. Dia elus tubuh Elroh penuh kasih.
Kali ini Elroh tak menyerang, dia justru bahagia dengan keberadaan Laciel.

Leir menatap punggung Laciel dari tempatnya. Dia hentikan nyanyiannya saat dia rasa Elroh sudah sembuh total. Dia mengamati Laciel dalam diam.

Sementara Laciel sendiri, dia rapalkan sebaris spell. Akibatnya, sosok Elroh bercahaya, kemudian menghilang. Untuk terakhir kali, Elroh menjulurkan lidahnya, menjilat Laciel.

Setelah Elroh tak lagi ada di sana, Leir berbisik pelan, 'bukankah karena itu Anda menjadi Yang Mulia, Laciel Ferheldas?'

Laciel tersentak mendengarnya. Beberapa kelebatan memori tak mengenakkan menari di kepalanya, "aku tak ingin memasuki dunia ‘busuk’ itu lagi."

'Dan meninggalkan bawahan Anda dalam dunia yang Anda benci?' Balas Leir mengingatkan Laciel yang mengacuhkan anggota divisinya 9 bulan lebih.

Laciel terdiam. Dia memejamkan matanya dan merenung sejenak. 'Setidaknya kembalilah pada mereka yang membutuhkan Anda, Yang Mulia'.

Sehabisnya berbicara demikian, sosok Leir menghilang. Dia meninggalkan Laciel dalam diam. Laciel mematung menatap hampa ke segala penjuru. Ucapan Leir ada benarnya. Dia tak boleh begini. Tapi...

Drap drap drap!
Suara hentakan kaki mendekat, Laciel menoleh. Dia dapati dua orang berlari ke arahnya.
Salah satu dari mereka yang mendekat adalah Alenna, orang kepercayaannya.

"Yang Mulia Ciel!!!" Alenna melambai.

Laciel terdiam.
Namun akhirnya dia tersenyum menjawab panggilan itu.


message 25: by Zerocy (new)

Zerocy | 15 comments The Created Song


“Bisakah kau menyanyikannya untukku?” seorang gadis mengulurkan tangannya.

***

“Uuh...” erangku.

Pandanganku kabur dan menggelap. Tangan kiriku berlumuran darah, buku coklat tebal yang dipegangnya erat terbuka. Tampak sebuah simbol aneh yang cahayanya mulai pudar di sana.

Di depanku empat..lima orang berdiri. Mereka memandangku waspada dengan senjata di tangan.

WUUSSH.

Satu dari mereka melempar bola rantai, mengikat tubuhku, mengunciku, kemudian berusaha menarikku mendekat padanya. Aku menolak tentunya. Kukerahkan tenagaku di kaki, membuatku tertanam kuat pada tanah.

BUUAK!

Tanpa kusadari, sebuah benda berat nan besar memukul kepalaku dari belakang. Shock yang keras membuatku jatuh.

Curang..melawan satu gadis saja butuh enam orang..

Pikirku dalam kesadaran yang menghilang.



“Velsey, kira-kira ke mana Aith itu?” tanya pria berambut biru muda yang menyandang 2 tas. Ia mengelus monster kecil berkaki empat dan bertanduk seperti rusa yang duduk di pinggir jalan. Di antara banyak orang yang berlalu-lalang keluar-masuk pasar, ia tidak juga menemukan yang ia cari. Ia sudah ingin menyerah saja.

“Hm?” pria itu menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya, beberapa poster bertuliskan ‘wanted’ yang menempel di dinding. Salah satunya bertuliskan ‘Aith’ di bawahnya. Ia mendekat, menjauhi Velsey liar yang memandangnya heran, kata ‘Aith’ menarik perhatiannya.

Poster itu tidak bergambar. Setelah tulisan ‘aith’, tertulis deskripsinya: wanita, kulit pucat, mata hitam, jika disorot cahaya jadi merah, rambut biru tua

Ah, seperti Aith.

Tapi keterangannya tidak berhenti di sana. Telinga runcing, taring bisa memanjang dan memendek, ketika purnama jadi serigala, punya simbol cahaya pada leher dan punggung kiri di balik dadanya.

.. Sepertinya bukan Aith

Waa waa

Entah kenapa, suasana pasar menjadi lebih ramai. Pria dengan 2 tas itu menoleh ke belakang. Empat orang pria menggotong sebuah kotak seperti sangkar. Di dalam sangkar itu seorang gadis pucat berambut biru tua terbaring tidak sadarkan diri.

“Aith!” teriaknya kaget. Ia berlari mendekat. “Apa yang kalian lakukan?” tanyanya khawatir.

“Minggir. Dia tangkapan kami,” ucap pria dengan mata ular yang berjalan di depan gotongan.

“Tangkapan?”

“Benar. Kami akan menukarnya dengan uang,” jawab pemegang ujung kanan depan dengan tangannya yang seperti cakar.

Uang? Jangan bilang...

“Poster itu tidak sesuai dengannya! Dia tidak pernah berubah jadi serigala waktu purnama! Selain itu, taringnya tidak seperti itu!”

“Dia pasti mengelabuimu. Aith ini bisa berbagai macam sihir tulis,” jawab pria bermata ular.

“Tidak mungkin! Kalau ia memang pakai sihir, alatku pasti bereaksi!”

“Alat? Hoo... Jadi kamu Zeogi? Orang yang katanya mau menunjukkan bahwa teknologi tidak mematikan?”

Pria yang membawa 2 tas, Zeogi, tertegun mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka namanya disebut dan dikenal orang.

“Mana partnermu yang katanya selalu bersamamu 24 jam sehari?” tanya pria bermata ular itu lagi dengan wajah mencemooh. Kata-katanya diikuti tawa kecil keempat temannya.

Zeogi tidak suka melihatnya. Ia pun menjawab singkat dan padat. “Ia sudah meninggal. Aith partnerku sekarang,”

“Hahaha! Aith membunuh partnermu! Dan kau malah menjadikannya partner? Gila! Kamu pasti gila!” pria berkepala botak yang memegang ujung kiri menertawakan zeogi.

Tidak! Aith tidak melakukan itu!

Muka Zeogi merah padam mendengarnya. Ia pun berkata lagi, “Yang pasti Aith itu partnerku, lepaskan dia,”

“Tidak akan. Kalahkan kami kalau kau mau dia lepas!” ucap pria bermata sapi yang memegang ujung kanan belakang.

Kami? Mereka mau mengeroyok?

“Kuterima,” ucap Zeogi walaupun tahu kemungkinan menangnya sangat kecil.

BUAKK!

“Guh!”

Zeogi mendadak dipukul dari belakang. Pemukul besar dan berat yang jatuh tepat di atas kepalanya membuatnya remuk dan sakit mendadak.

Ia jatuh mencium tanah. Ia rasakan cairan kental mengalir melalui dahinya. Pandangannya dihiasi kunang-kunang. Tubuhnya berdenyut tidak karuan. Kemudian tubuhnya tidak lagi sakit dan pandangannya tidak lagi berwarna.

***


Dalam pandangan yang kabur karena genangan air mata, tampak pemuda berbaring tak bernafas dan tak bernyawa di atas tempat tidur rawat yang keras. Matanya membelalak. Air matanya berlinang. Dadanya terbuka. Noda merah gelap mewarnai putih selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Kemudian jantung, hati dan bagian-bagian dalam tubuhnya yang lain berserakan di meja di sampingnya.

Pelan, wajah pemuda itu berubah menjadi wajah wanita dengan mata hitam dan rambut biru tua.

Aith..

Sebuah suara bergetar di udara, membuatnya merinding seketika.



Aith bangun. Matanya membuka cepat dan tak wajar. Ia menoleh, mendapati Zeogi yang tidur dengan wajah menderita dan kepala diperban di sebelahnya.

Lagi?

Pikirnya. Aith duduk. Ia menemukan lengan kirinya dibalut perban, tapi pada saat yang sama, ia tidak menemukan buku, tas, maupun payung hijaunya.

Mana barangku?

Aith menoleh ke sekelilingnya.

Ke arah Zeogi di sebelahnya.

Tidak ada.

Ke arah jeruji besi di hadapannya.

Tidak ada.

Ke tempat kosong di sebelahnya.

Tidak ada. ...Kalau begitu di mana?

Aith berdiri. Sesaat ketika ia menutup matanya, tampak dirinya digiring dengan tangan diikat rantai besi. Aith segera membuka mata. Ia kembali memandang Zeogi yang masih tidur dengan wajah kesakitan.

Sampai kapan ia bermimpi aku akan mati?

Pikirnya sambil berjalan mendekat.

“Zeo, Zeo,” panggilnya sambil mengguncang-guncang pundak Zeogi.

Tapi Zeogi tidak bereaksi. Seakan terikat dengan mimpinya, ia tidak juga bangun.

Aku tidak ingin melihat mimpinya. Hisap darahnya sedikit saja tidak apa, ‘kan?

Pikirnya sambil mulai menoleh ke samping kiri, kanan, depan, belakang, dan tidak lupa juga ke atas. Setelah ia merasakan tidak adanya kehidupan selain ia, Zeogi, hewan-hewan kecil dan monster-monster yang dikurung, ia kembali memandang Zeogi. Ia pegang pundak Zeogi.

Sesaat ketika ia mendekatkan kepalanya pada muka Zeogi yang belum juga sadar, ia jilat bibirnya.

Pelan, jaraknya dengan muka Zeogi semakin dekat. Ia buka mulutnya, menampilkan kedua taringnya yang memanjang pasti. Wajahnya melewati wajah Zeogi, melewati telinganya, dan berhenti di lehernya.

Guk guk guk! Waauuu...

Aith sadar monster-monster yang juga dikurung di sana berteriak-teriak sambil memandang bui tempatnya dikurung, tapi ia tidak peduli. Seakan menikmati darah segar yang mengalir melalui taringnya, Aith menutup matanya tenang.

Plak.

Tangan Zeogi menampar kepala Aith, membuatnya kaget 2 kali karena rasa sakit dari kepalanya yang belum sembuh. Ia pun menarik kepalanya sekaligus taringnya menjauh. Bersamaan dengan itu, monster-monster di sekeliling mereka diam seketika. Zeogi sudah membuka matanya, ia tampak terkejut.

Apa ia tahu?

Aith khawatir. Ia memang kelewatan karena sampai meminum lebih dari yang ia butuhkan. Ia pun diam memandang Zeogi

“Aith...” bisik Zeogi pelan.

Aith semakin gugup. Tanpa sadar kedua tangannya menempel dan membuka tutup berirama.

“Syukurlah kamu masih hidup!” ucap Zeogi lagi sambil menggenggam tangan Aith.

Eh?

“Aku sudah khawatir saja kalau-kalau kamu dibunuh..” lanjut Zeogi. Air matanya yang hampir berlinang sempat terlihat sebelum diusap dengan lengan bajunya. Saat itu, Aith menyadari bekas darah dan taringnya di leher Zeogi.

Lukanya tidak tertutup sempurna.

Sambil memikirkan cara untuk menutup luka yang ia lihat, Aith tidak berhenti memandangi Zeogi.

“Ada apa?” tanya Zeogi heran.

“Bukan apa-apa,” Aith segera mengalihkan pandangannya.

Zeogi semakin bingung. Ia merasa ada yang disembunyikan.

Grr.. grr..

Monster-monster di sekitar mereka mulai menggeram.

Ada yang datang.

Serentak Aith berdiri. Hidungnya mulai mengendus-endus udara.

Tap tap tap

Suara langkah kaki menggema dalam ruangan besar yang dibatasi jeruji dan tembok.

Mendengar itu, Zeogi turut berdiri. Ia ingin bertanya di mana mereka sebenarnya.

Tap.

Seorang pria dengan rambut disisir ke belakang dan seekor kucing berhenti tepat di depan bui mereka. Ia diam. Ia pandangi Zeogi dari kaki ke kepala, membuat Aith dan Zeogi merasa tegang. Setelah mengangguk-angguk dengan senyum dan mata yang menyipit membentuk huruf n, ia pun menoleh pada Aith, di mana senyumnya makin lebar.

“Tampaknya kalian partner yang amatir,” ucapnya tiba-tiba.

Zeogi heran. Tidak apa-apakah orang di depannya? Kata-kata itu tidak normal diucapkan pada pertemuan pertama.

“Baik sekali kau memberikan darahmu pada Aith,” lanjutnya dengan pandangan lurus pada Zeogi.

Darah?

Zeogi semakin heran. “Aku tidak pernah mendonorkan darahku padanya,” ucapnya bingung.

“Kalau begitu kamu tidak tahu, kalau ia melukai lehermu?” tanya pria itu seakan tahu jawabannya.

Zeogi meraih lehernya. Ia menemukan luka berbentuk lingkaran kecil dan berdekatan yang sedang menutup di sana.

Apa ini?

Pikirnya sambil kembali meraba sesuatu yang sepertinya baru ia dapat..

“Itu bekas gigitan Aith. Benar, ‘kan?” tanya pria itu pada Aith yang memandangnya galak.

Zeogi menoleh pada Aith, memandangnya tak percaya.

“Aku tidak suka kamu,” ucap Aith tiba-tiba.

“Banyak yang bilang begitu,” respon pria itu.

“Meeong..” kucing di sampingnya melompat ke pundaknya.

Tersenyum, pria itu pun mengelusnya. “Kecuali partnerku tentunya,”

“Meeoong..”

Pria itu melirik Aith dan Zeogi. “Kalau kalian bagaimana? Sejauh mana kepercayaan kalian? Tunjukkan padaku,” ucapnya sambil merogoh kantong. Ia pun mengeluarkan sebuah remote dari dalam sakunya. “Kalian tahu untuk apa ini?” tanyanya tanpa mendapat respon. “Ini untuk membuka atap. Apa kalian sadar kalau ini bulan purnama?”

“Kau akan menyesal,” kata Aith yang berkeringat dingin.

“Benarkah? Aku melakukan ini untuk memastikan apa benar kau Aith yang dicari. ‘kan tidak lucu kalau kami memberikan Aith yang salah,”

– “Padahal begitu saja tidak apa-apa,”

Dua sosok datang dari kegelapan tanpa menimbulkan suara. Yang seorang adalah wanita sedang yang lain adalah pria.

“Ayah! Ibu!” teriak Aith melihat mereka.

Kedatangan mereka membuat semua kaget. Pria dengan kucing sampai menekan tombol karena kagetnya.

Atap bui terbuka, menampilkan kaca yang tembus pandang. Zeogi dapat melihat bulan yang bulat di atas mereka. “Teknologi itu..” bisiknya.

“Kau sadar? Ini adalah teknologi sebelum ‘understanding time’. Tapi yang lebih menarik lagi ada di sebelahmu,” pria yang tersenyum itu menampilkan sederet gigi putih. Kulitnya menjadi biru dan bersisik.

Di sebelahnya, ayah Aith menjelma menjadi serigala berdiri. Cahaya bulan purnama membuatnya begitu.

Zeogi menoleh. Aith tampak menderita. Ia meremas kedua lengannya erat. Leher dan punggung kirinya menyala putih membentuk simbol.

Monster-monster di sana menunduk ketakutan, seakan-akan muncul sesuatu yang jauh lebih kuat dari mereka.

“Aith, kau kenapa?” tanya Zeogi khawatir.

Mata Aith membelalak dan berubah-ubah warna, suaranya bergetar, "Jangan..jangan mendekat.." ucapnya.

"Hmm. Sejauh ini segel masih bekerja," ucap ayah Aith tenang.

"Kau!" Zeogi menoleh marah. Tapi tidak jadi begitu ia melihat kucing di sebelah pria bersisik mengeluarkan antena dan sayap tipis seperti daun.

"Kaget? Aneh. Apa kau murni manusia?" tanya pria bersisik.

"Akan kuberitahu kalau kau tutup atap itu!" teriak Zeogi marah.

"Aku tidak yakin ada makhluk yang masih murni," ucap ibu Aith.

"Ya. Tapi ternyata segel kita tidak bertahan lama," kata ayah Aith tanpa menoleh.

Zeogi segera menoleh pada aith. Matanya terbelalak seketika.


message 26: by Zerocy (new)

Zerocy | 15 comments Kepala aith membentuk kepala anjing yang dipenuhi bulu sebiru rambutnya. Matanya menyala merah darah. Moncongnya yang terbuka lebar memanjang. Gigi dan taringnya meruncing dan membesar. Air liurnya banyak menetes. Telinganya menegak, menampakkan daun telinganya yang seperti telinga rubah. Tangannya memanjang dan berbulu. Kukunya berubah menjadi cakar. Kakinya memanjang aneh di balik celananya, menimbulkan benjolan besar menyerupai lutut. Jari kakinya yang berbulu dan bercakar membesar, membuat sandalnya ketat mengikatnya.

"A-Aith.." bisik zeogi masih dengan mata lebar terbelalak.

Aith monster menoleh. Ia mendengus keras.

"Biasanya, ia akan menyerang tanpa pandang bulu. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya padamu,"

Zeogi menoleh marah. "Apa kamu tidak khawatir padanya? Dia anakmu!" tanyanya setengah berteriak.

"Tidak. Aith kuat,"

Jleg jleg

Aith monster mendekat sambil mengendus udara. Langkah kakinya mengguncangkan tanah.

"Oh, sudah mulai, ya," ucap salah satu dari keenam orang yang menangkap Aith. Ia dan keempat kawannya datang karena orangtua Aith ingin tahu kemampuan mereka.

Zeogi tidak ingin lari, tapi keringat dingin yang jatuh tetap tak terelakkan.

“Grr..” Aith monster berhenti tepat di depan Zeogi, kemudian mengendus-endus kepalanya.

"Ia pasti akan dimakan. Aku juga suka mengendus agar tahu bagian mana yang enak dimakan lebih dulu," ucap ayah Aith.

Zeogi semakin takut mendengarnya, wajahnya sudah pucat sepucat kulit aith sebelum dipenuhi bulu.

Dari kepala, Aith mengendus leher Zeogi. Ketika ia mencium bau darah dari luka yang dibuat oleh taringnya, tiba-tiba ia mendekatkan mulutnya ke sana.

"Ooh.." pria bersisik itu memandang takjub. Matanya lengket pada tontonan di hadapannya, membuat kucingnya tampak iri.

Lima orang yang menangkap Aith menahan nafas sementara dua orang sisanya memandang kejadian itu tenang.

Laat.

Suatu benda dingin dan lembut melewati luka zeogi, membuat zeogi kaget setengah hidup, dan meninggalkan cairan kental yang juga dingin.

9 orang yang melihat terpaku. Mereka sama sekali tidak menyangka: Aith menjilat Zeogi.

"Kenapa?! Seharusnya tidak begitu!" teriak pria bersisik, membuat Aith monster menoleh padanya, seketika membuatnya takut.

"Rr-rar!" raung aith, merangsang monster-monster di sekitarnya untuk turut berteriak.

"Kenapa yang lain tiba-tiba jadi liar?" tanya salah satu penangkap.

"Sayang," panggil ibu Aith pada suaminya. Wajah suaminya berkerut, seakan ia tahu apa yang akan terjadi.

Jleg jleg

Aith melangkah maju. Luka di lengan kiri dan kepalanya terbuka. Bajunya yang biru muda tertoreh darah. Mukanya tampak benar-benar marah.

Ayah Aith mengangguk. Ia pun menoleh pada pria bersisik. "Sebaiknya kau pergi dari sini. Ini tidak akan baik,"

"Tidak mau! Monster itu bertindak di luar dugaanku! Seharusnya tidak begitu!" teriak pria bersisik marah. Tanpa sengaja ia menyentuh jeruji. “Auch!” teriaknya sambil menarik kembali tangannya yang hampir saja melepuh. Ia akhirnya hanya bisa memandang ke dalam jeruji dengan antusias.

"Rar!" Aith mencakar jeruji dengan tangan kirinya, tapi jeruji itu tidak tergores dan cakarnya hanya mengeluarkan asap.

"Boodooh! Itu spesial! Tidak bisa dihancurkan! Boodooh! Wee!" caci pria bersisik sampai menjulurkan lidahnya seperti anak kecil.

BKRAK!

Jeruji-jeruji itu terpotong menjadi dua karena kekuatan dari cakar kanan Aith yang lengannya tidak terluka. Kejadian yang tidak terduga itu membuat orang yang menyombongkan kekuatan jeruji terkejut.

"Kenapa bisa?!" teriaknya histeris.

Aith mendengus. Ia keluar dari bui yang jerujinya mengeluarkan asap. Telinganya bergoyang kecil ketika menyentuh asap yang panas.

"Kalau begini, langkah pertama.. Lari!" teriak pria bermata ular diikuti empat orang lainnya serta disusul oleh 3 orang dan kucing bersayap.

Aith berlari mengejar dengan keempat kakinya. Kecepatannya jauh lebih cepat daripada ketika ia berdiri dengan dua kaki. Hal itu terjadi karena bentuk kakinya yang berubah.

"Aith, tunggu!" teriak Zeogi bingung. Tapi ia tahu ia perlu mengejar.



"Kukira kamu akan langsung menyerangnya!" teriak pria bersisik.

"Tidak mungkin! Tempat ini terlalu sempit! Lihat, dia sudah di belakang kita!" balas pria bermata sapi.

"Kalau begitu," pria bertangan monster memutarkan pedang besarnya ke atap, membuat lubang besar bersamaan dengan dorongan dari pemukul temannya.

Tanpa menunggu lagi, yang lain segera melompat melalui lubang itu.

"Kenapa kalian melubangi atap?!" tanya pria bersisik marah. Ia menolak untuk melompat.

"Karena kami tidak ingin kalah," jawab satu yang lain sambil mendorong pria itu dan kucingnya. Detik berikutnya ia pun menyusul.

"R-rar!" teriak Aith sambil berdiri di bawah lubang. Setelah tampak puas meraung, ia turut melompat ke lubang.

DUAAK!

Kepala Aith dipukul dengan pentungan besar. Ia kembali jatuh di antara bui.

"Grr.." geramnya sambil memandang ke atas. "R-rar!" bentaknya seraya berdiri dari duduknya dan bersiap melompat.

BROOOL!

Lubang di atap semakin besar. Tapi kali ini tidak ada pentungan yang menunggunya di sana. Aith menoleh ke kanan dan ke kiri.

Seorang penangkap yang bermata ular berdiri di balik tanah yang bersinar. Ia berdiri, siap dengan rantainya.

"R-rar!" raung Aith marah. Ia pun berlari menyerang.

Ketika sudah satu dua langkah melewati tanah yang bersinar, Aith monster tiba-tiba berhenti seakan terikat. Ia tidak bisa bergerak kalaupun ingin, dan ia tampak menderita. Moncongnya ia arahkan ke langit.

"Berhasil! Kita menang!" sorak pria bersisik dari kejauhan.

"Belum," ucap penangkap bermata ular. Seakan merespon keringat yang jatuh dari dagunya, delapan lingkaran lain terbentuk di sekeliling lingkaran pertama. Diikuti dengan simbol-simbol lain yang selalu berjumlah genap.

Aith monster semakin menderita. Ia berteriak kesakitan.

"Bagus! Lihat, bentuknya mulai naik turun," ucap salah satu penangkap.

Mereka berlima menikmati keadaan Aith monster yang menderita di bawah sinar rembulan dan di atas sinar biru muda yang memancar dari tanah.



Zeogi melihat mereka dari kejauhan. Nafasnya tersengal.

"Mereka.. penghuni laut.." ucapnya dengan wajah seakan baru menerima tantangan berjudi.



"Ooh, the hunters benar-benar hebat! Kali ini Aith tidak akan melawan lagi, 'kan?!" sorak pria bersisik gembira.

Kelima penangkap yang dipanggil the hunters itu tersenyum. Mereka gagal menyembunyikan kebahagiaan mereka. Ayah dan ibu Aith tetap waspada. Mereka memandang Aith lekat-lekat.

Whuuush.

Return to the abyss, return to your world

Angin yang menerbangkan debu-debu membawa serta sebuah lagu. Lagu itu mengumandang, menggetarkan udara dan dada kelima the hunters serta penjaga bui. Cahaya dari tanah yang memancar ke udara seperti tiang kokoh tak terjatuhkan itu mulai menari-nari lembut. Raut muka Aith monster pun mulai menyegar.



Dari dalam debu yang beterbangan, suatu sosok mendekati aith monster, membuatnya menggeram. Itulah sumber nyanyian yang berkumandang.



Remember the embrace of the sea, remember your loving mother

Sosok itu bermaksud menyentuh moncong Aith, tapi Aith mengelak.

"Rrar!" tiba-tiba Aith meraung, berusaha menghentikan nyanyian yang mengganggunya, tapi nyanyian itu tidak juga berhenti.

Jreb!

Zeogi ditusuk tepat di perutnya, membuat kakinya tidak lagi menempel dengan tanah. Tapi ia tetap bernyanyi. Seiring dengan tiap nafas yang ia buang bersama lagunya, darah dari mulutnya mengalir pelan. Tangannya yang bergetar kembali berusaha menyentuh muka Aith.

Kaget, tak percaya, dan juga tidak merasa lawannya bisa ia kalahkan hanya dengan kekuatan, Aith melemparnya jauh, membuatnya bergesekan dengan tanah ketika mendarat. Tapi lagunya tidak berhenti. Malah berubah nada. Nadanya semakin tinggi melengking sampai tidak terdengar.

Aith tiba-tiba berhenti bergerak. Seakan menikmati lagu yang dinyanyikan dengan frekuensi di luar batas pendengaran manusia itu, Aith menjadi tenang. Ia berjalan pada Zeogi yang masih terbaring membuka tutup mulutnya.

"Grr.." geramnya sambil memandang Zeogi dari dekat.

Zeogi sudah berhenti membuka tutup mulutnya. Luka di lehernya sudah tertutup dan tak berbekas. Matanya tertutup di balik rambutnya yang lurus. Wajahnya pucat tapi tenang dan tentram padahal perutnya berlubang dan mengeluarkan banyak darah.

Aith membungkuk. Ia letakkan kaki depannya di pinggang Zeogi dan mulai menjilat luka di perutnya.

***


Zeogi bangun. Langit biru membentang tinggi di atasnya.

Aku..pingsan?

Zeogi menyentuh perutnya. Bajunya berlubang di sana.

– "Jadi kalian melihat semua itu?"

Terdengar suara Aith yang panik, sangat tidak seperti biasanya.

Zeogi duduk. Ia melihat dan memperhatikan Aith sedang berbicara dengan ayah dan ibunya. Suara mereka sulit didengar dari tempatnya duduk.

Ibu Aith menoleh. Setelah berbicara sedikit pada suaminya, keduanya berjalan ke arah Zeogi dengan diikuti oleh Aith yang sudah membawa tas dan payung kesayangannya. "Terimakasih sudah menjaga anak kami, ya," ucap ibu Aith, membuat Zeogi kaget.

"Uh, ya," ucapnya gelagapan.

"Tapi lagu itu.. Seharusnya tidak ada lagu untuk kami, werewolf. Keturunan apa kamu?" tanya ayah Aith.

"Ah, aku punya darah mermaid dan fairy,"

"Hmm.. Pantas nyanyianmu begitu indah,"

Muka Zeogi merah. Ia tidak biasa dipuji.

"Kami melihatmu baik-baik kemarin. Aku dan istriku akan merasa aman jika kau bersama Aith. Karena itu, kutitipkan Aith padamu. Kalau kau berpisah dengannya, beritahu kami, kami akan memasang wanted lagi untuknya," terang ayah Aith.

"...Baik," jawab Zeogi seakan terpaksa.

“Kalau begitu kami pergi. Jaga diri baik-baik, ya,” pesan ibu Aith seraya meninggalkan mereka.

Aith dan Zeogi melepas kedua orangtua Aith dengan senyum dan lambaian tangan.

Setelah mereka berdua tidak tampak lagi, Aith pun bertanya, "Zeo. Lagu yang kemarin itu.. Darimana kau mendengarnya?"

"Oh, itu. Aku menemukannya di tempat,"

"Kamu menemukan? Maksudmu membuatnya?" tanya Aith tak percaya. Ia dijawab dengan pandangan yang seakan mengatakan setuju. "Ah. Tapi kau keturunan mermaid, 'kan? Kudengar mermaid bisa membuat dan menyanyikan lagu yang menyentuh hati,"

"Sebenarnya tidak begitu. Nyanyian tidak bisa dibuat semudah itu. Mereka pun punya keterbatasan. Karena itu masih belum ada nyanyian yang bisa menyentuh semua makhluk,"

"..Kenapa?”

“Karena setiap nyanyian diciptakan dengan harapan. Tapi itu saja tidak cukup,”

“Apa syaratnya?”

“Banyak. Itu pun tidak pasti. Aku belum menemukan kesamaan pada saat-saat nyanyian ditemukan,”

“Hmm...” Aith kembali memandang lepas ke depan.

“Kalau bisa, selain membuktikan bahwa teknologi tidak membawa kematian, aku juga ingin menemukan – nyanyian yang bisa menyentuh siapa pun yang mendengarnya – tanpa pandang bulu,” ucap Zeogi dengan mata berbinar-binar.

"Kalau begitu," Aith menoleh pada Zeogi. "Jika lagu itu sudah kau temukan, bisakah kau menyanyikannya untukku?" tanyanya sambil mengulurkan tangan dan senyum manis yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.


message 27: by Dini (last edited Mar 10, 2014 09:20PM) (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments “All I Am”


Orang-orang di sekitarnya mengenal dia sebagai seorang pria yang tak punya nama belakang. Dia bekerja di sebuah hotel di Nevada, Amerika. Hotel itu punya sebuah bar, Aventurine Bar & Cafe. Di bar itulah ia menghidupi diri. Malam itu, sama seperti malam-malam sebelumnya, ia duduk di belakang piano. Rambut panjangnya diikat sepunggung, berwarna coklat gelap kayu mahogani, dengan helai-helai rambut keemasan terselip bagaikan highlight alami. Cambangnya dibiarkan tumbuh rapi menghiasi pinggiran pipi meski dagunya bersih tak berjanggut. Ia mengenakan tuksedo hitam, di jari manis kanannya ada cincin dengan batu emerald kehijauan. Jemarinya memainkan Smoke Gets in Your Eyes, mengiringi seorang penyanyi wanita berkulit hitam.

Menjelang akhir lagu, seorang pelayan mengantarkan segelas minuman ke sampingnya.

“Ini, Cacao. Seperti biasa, segelas Devil’s Chocolate hangat.”

“Terima kasih, Lucas.”

Pelayan berambut hitam klimis itu meletakkan gelas di meja kecil di samping bangku piano, kemudian berlalu ke balik counter bar. Dulu, sang pianis memperkenalkan diri dengan nama Hazel, tanpa nama belakang. Tapi kini semua penghuni bar memanggilnya dengan nama Cacao karena kegemarannya akan coklat.

Ia meneguk minumannya sebagian, lalu kembali memainkan piano. Kali ini, terdengar lantunan lagu tema St. Elmo’s Fire, For Just a Moment. Ia memainkan lagu itu secara instrumental tanpa lirik. Di antara denting yang mengalun, pikirannya mengembara ke masa-masa awal ia berada di sana.

Saat itu akhir pekan. Bar cukup ramai dengan pengunjung, dan sebagian besar merupakan kawan dekat Irina, pemilik bar tersebut yang hari ini menangani sendiri semua pesanan. Irina tampak anggun malam itu, dengan rok rimpel jingga dan lipstik merah dadu.

“Hei, owner! Nyanyikan satu lagu untuk kami!” Seorang pria menyahut.

“Boleh, asal kau pesan segelas minuman lagi,” tantang Irina.

“Beres! Kutraktir semua orang di meja ini!” sambut pria itu.

Irina meletakkan nampan beserta beberapa gelas bir kosong ke balik meja bar, kemudian naik ke atas panggung. Sambil menyambar mikrofon, ia menyerukan judul lagu dan meminta not yang menghentak dari Cacao. Cacao alias Hazel menurut dan menarikan jemarinya di atas tuts membentuk melodi yang cepat dan bersemangat. Irina mulai bernyanyi.

For once in my life I have someone who needs me
Someone I've needed so long
For once, unafraid, I can go where life leads me
And somehow I know I'll be strong


Rok jingga Irina melambai di sisi tubuhnya. Bahu, pinggang, dan tubuh bagian atas perempuan itu bergerak mengikuti irama lagu. Suaranya mantap meski agak serak. Ia tak ragu untuk menyambar nada-nada tinggi, semangatnya terasa pada setiap penekanan di bait-bait yang tepat. Para pengunjung bar bersorak. Mereka berdiri dan berdansa mengelilingi panggung.

For once, I can say, this is mine, you can't take it!
As long as I know, I have love, I can make it
For once in my life.... I have someone who needs me!



Di akhir lagu, Irina mengangkat mikrofon tinggi-tinggi di atas kepalanya dan meninju udara. Semua orang bertepuk tangan dan bersiul nyaring. Hazel menatap Irina dari balik piano hitam. Di bawah sorotan lampu, Irina tampak begitu hidup, juga cantik. Suaranya yang riang mampu mengenyahkan segala kegundahan. Malam itu, Hazel menatapnya, dan mendadak keberadaannya di sana memiliki arti.


* * *


Sore itu, sebelum bar dibuka untuk pengunjung, para karyawan bar berkumpul untuk briefing singkat. Irina berpidato sebentar di depan mereka semua. Dia mengingatkan pada mereka tentang perhelatan malam tahun baru yang akan diadakan beberapa hari lagi.

“Sebagaimana yang kalian tahu, ini acara yang cukup penting. Maka diputuskan akan ada yang sedikit berbeda tahun ini. Promosi untuk pesan tempat sudah disebarluaskan, dan kejutannya adalah.... Aku mempromosikan bahwa pianis terkenal kita, Cacao, akan tampil solo di akhir acara dan bernyanyi untuk pertama kalinya! Bagaimana, ide yang bagus, kan?”

Di barisan karyawan, Hazel berdiri terpaku. Ia bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik.

“Cacao, kau setuju, kan? Aku akan memberimu bayaran ekstra.”

Perlu jeda yang agak lama sebelum akhirnya Hazel bisa bersuara.

“Maaf, Irina. Aku tak bisa.”

Bosnya, yang tak menyangka akan ditolak, cuma bisa tertawa kaget. “Kenapa? Aku yakin kau bisa menyanyi. Temanku yang tinggal di motel yang sama denganmu bercerita padaku kalau kau suka bernyanyi malam-malam. Dan katanya, suaramu mengagumkan.”

“Aku tetap keberatan.”

“Bisakah kau jelaskan alasanmu?”

Hazel tertunduk, lalu menggeleng. “Tidak bisa. Maaf.”

Irina melipat tangan di depan dada dan menatap Hazel dengan pandangan tak suka. Tampaknya ia tidak bisa menerima jawaban barusan dan tetap menunggu karyawannya menjelaskan.

Hazel menghela napas, panjang dan berat. “Baiklah. Tolong ikut bersamaku setelah jam kerja di bar selesai. Aku akan mengatakan alasannya padamu.”


* * * *


Akhirnya, selewat dini hari, Irina mengikuti Hazel ke tempat dia tinggal. Hazel tinggal di sebuah motel sederhana. Kamarnya adalah kamar paling ujung di lantai dua. Begitu Irina masuk, kesan pertama yang didapatnya adalah aroma ruangan itu, yang berbau seperti anjing basah bercampur kopi moka. Penerangannya remang-remang. Sebuah sofa coklat usang terletak di tengah-tengah. Di depannya ada sebuah meja kopi kecil. Di ujung kiri dekat jendela ada sekat, Irina yakin di situ tempat Hazel tidur. Entah kenapa, pikiran itu membuat pipinya bersemu merah.

“Duduklah. Kau mau minum apa?” Hazel membuka jas dan menggantungkannya di belakang pintu.

“Tak usah. Bisakah kau segera jelaskan alasanmu mengundangku kemari? Apa ini sesuatu yang begitu pribadi sampai karyawan yang lain tak boleh tahu?”

Hazel berdeham. “Bisa dibilang seperti itu.”

“Jadi?”

Hazel menatap Irina yang kini duduk di sofa. Mata abu-abu itu menyiratkan sesuatu yang asing.

“Aku punya rahasia, Irina. Rahasia mengapa aku tak bisa menyanyi di depan publik. Aku memutuskan hanya kau yang akan kuberitahu tentang hal ini.”

“Oh, aku merasa tersanjung.” Irina menukas sinis. “Apa itu?”

“Maukah kau berjanji dulu takkan menceritakannya pada orang lain?”

“Jangan bertele-tele. Katakan saja!”

“Sebenarnya, aku......”


* * * * *


“Kau bercanda, kan? Itu konyol!” Irina berdiri dari kursi.

“Sungguh, percayalah!”

“Kalau kau tak punya alasan yang lebih bagus dari ini, kau tetap harus menyanyi di acara itu. Aku yang mempekerjakanmu, dan ini cara agar semuanya mendapat bonus tambahan akhir tahun. Cari alasan yang lebih masuk akal, Caca—maksudku, Hazel.”

Hati Hazel terasa perih mendengar Irina tak lagi menyebut panggilan akrabnya. Irina bangkit dan berjalan cepat ke pintu. Sebelah tangan Hazel menahannya.

“Alasan yang lebih bagus? Oke. Aku mencintaimu.”

Irina tertegun. Hazel mempererat genggamannya di pergelangan tangan Irina.

“Aku sudah mencintaimu sejak melihatmu menyanyi untuk pertama kali. Kau begitu penuh dengan semangat hidup. Semangat itu pulalah yang memberiku keberanian untuk terus hidup. Irina, aku—”

“Bukan waktunya bicara omong kosong.” Irina menepis tangan Hazel dengan kasar. Ada butir-butir penyesalan di matanya.

“Kau akan tampil solo dan menyanyi di acara itu. Titik!”

Irina keluar dan membanting pintu. Meninggalkan Hazel sendirian dalam ruangan yang gelap.


* * * * * *


message 28: by Dini (last edited Mar 10, 2014 09:27PM) (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments Dua hari berlalu dengan cepat, dan malam tahun baru pun tiba. Bar Aventurine didekorasi dengan kertas perak, merah dan hijau. Terompet dan petasan crackers dibagikan gratis kepada para pengunjung untuk dibunyikan tepat pada tengah malam. Malam itu, Hazel mengenakan setelan terbaiknya dan berdandan lebih rapi dari biasanya. Menjelang puncak acara, ia sempat bicara empat mata dengan Irina.

“Aku hanya ingin memastikan. Kemarin aku sudah mengatakan perasaanku. Kenapa kau tak menjawabnya?”

Wajah Hazel hanya berjarak sekian senti dari Irina. Irina membuang muka dan mengalihkan tatapan.

“Aku tidak bisa, Hazel. Aku... Hmm, aku sudah menjalin hubungan dengan orang lain.”

Hazel terdiam sesaat. “Apa aku kenal orang itu?”

“Dia... Dia Lucas. Kami merahasiakan ini dari karyawan lain. Aku tak mau ini jadi skandal.”

Hazel menarik tubuhnya menjauh. Mata abu-abunya berubah dingin. Irina menggerakkan bahu dengan kikuk. “Maaf, Hazel. Aku—”

“Bos, sudah hampir waktunya acara utama.” Tiba-tiba Lucas muncul. Irina buru-buru menjauh dari Hazel. “Tunda acaranya,” jawab Irina. “Katakan bahwa kita akan menampilkan acara lain, dan—”

“Aku akan menyanyi.”

Irina menoleh pada Hazel dengan heran. Lucas menatap mereka berdua penuh tanda tanya.

“Aku akan menyanyi untuk mereka. Itu kan yang kau mau?” Hazel melangkah menuju panggung. Tapi ini hanya karena kau yang minta, batinnya tanpa kata-kata.

Ladies and gentlemen, inilah acara utama malam ini. Beri sambutan yang meriah untuk pianis ternama, Cacao!”

Hazel membungkuk memberi salut kepada para penonton. Beberapa pengunjung memberikan tepuk tangan sopan sebagai sambutan. Ia duduk di belakang piano. Menyapukan jarinya di sepanjang tuts putih tanpa suara. Setelah merilekskan bahu, ia menekan not pertama. Intro mulai dimainkan. Irama yang lembut dan sedih. Hazel menarik napas panjang, lalu mulai menyanyi:


Who do you think you see
When you look at me
Is it somebody strong
Somebody you could admire

And who do you think I am
When I take your hand
Are you counting on me
To fill your dreams and your desires


Ternyata suara Hazel memang sangat indah. Berat, namun menyentuh. Penghayatannya akan lagu itu luar biasa. Dahinya berkerut. Kepalanya penuh dengan perasaan terhadap Irina dan kilas balik percakapan mereka.


Well all I am
Is lonely just like you
All I wanna do
Is have one dream come true
All I am is handing you my heart
And hoping to be part of you.



Begitu memasuki bait chorus, wujudnya sedikit demi sedikit mulai berubah. Cambang di sisi kiri dan kanan pipinya memanjang. Tumbuh bulu di punggung tangannya, kukunya berubah menjadi cakar kekuningan. Hidung dan mulutnya melebar, membentuk moncong dengan seringai menyeramkan. Dua taring yang panjang muncul dari pinggir bibirnya. Hazel terus menyanyi. Hanya saja kini liriknya berubah.


Who do you think I am
Standing in the dark
I am waiting for you
Why can't I eat you from here


And how do I get to you
Won't you let me through
Don't you think maybe you
Have blood and flesh to be shed



Punggung jas Hazel sobek, rambut cokelat mengilap menyeruak dari balik kain. Ikat rambutnya putus, dan kini rambutnya tergerai di sisi wajahnya yang berbulu, sepenuhnya keemasan. Hazel masih terus memainkan piano, tapi kini nada yang dimainkan semakin cepat hingga menyerupai sonata Beethoven. Cakarnya memukul-mukul tuts dengan keras. Beberapa penonton menjerit. Sebagian berlarian, berebut untuk keluar dari bar. Hanya seorang anak muda mabuk dengan dandanan punk yang berteriak: “Spesial efeknya keren!”

“Siluman anjing?”

“Ya. Aku berubah jadi bentuk asliku kalau dipicu emosi, terutama ketika menyanyi.”

“Jangan bercanda! Werewolf saja aku tak percaya. Ini malah weredog?”

“Ini sungguhan. Aku tidak bohong!”

“Kau bercanda, kan? Itu konyol!”

“Sungguh! Percayalah!”


Perubahan wujudnya kini sempurna. Ia seutuhnya menjadi monster. Namun ia tak bergerak dari tempatnya, menyanyikan chorus terakhir dengan suara yang lebih menyerupai geraman. Setelah lagu itu selesai, monster itu melayangkan pandangan. Irina sedang terduduk kaku di sudut karena syok, matanya menatap tak percaya pada makhluk di hadapannya. Lalu ia bergegas bangkit berdiri dan lari menyusul yang lain ke pintu keluar.

Hazel mendongak dan melolong pedih. Ia memilih untuk merangkul siapa dirinya. Ya, inilah dirinya yang sesungguhnya. All I am.


message 29: by Maximilian (new)

Maximilian Surjadi (maxorient) | 92 comments Memento

Emperor's Privy, sesuai namanya kedai minum tersebut tidak lebih baik daripada jamban, penuh dengan tubuh-tubuh kumal yang dipenuhi kotoran bangsawan. Satu meja dipenuhi orang-orang berbau selokan dengan wajah picik penyelundup. Meja lainnya terisi oleh sekelompok orang-orang berperawakan kasar, kriminal-kriminal kecil dan tukang pukul. Di sisi lain kedai terkumpul wajah-wajah murung, mereka yang tidak memiliki cukup uang untuk pergi ke kedai yang lebih baik.

Arslan tidak menyukai tempat ini, tapi sama seperti kebanyak pengunjung di sini, ia tidak memiliki pilihan. Empat koin perak setiap harinya tidak cukup baik untuk seorang tentara bayaran.

“Tolong tinggalkan aku sendiri, tuan!”

“Ayolah, temani kami sebentar saja. Aku mungkin punya satu atau dua koin perak untuk gadis cantik sepertimu.”

Arslan melirik jijik. Tidak jauh dari tempat duduknya terlihat satu meja penuh kriminal yang sedang memaksakan karisma mereka pada seorang gadis. Pria yang memimpin merupakan orang dengan tubuh besar buruh dermaga. Dia mencengkeram tangan si gadis, tidak memberikan kesempatan bagi makhluk malang itu untuk melarikan diri.

“Tutup mulut busuk kalian, manusia! Kalian mengganggu minumku,” desis Arslan mengancam tiba-tiba.

Para bajingan di meja tersebut langsung menoleh. “Urus, urusanmu sendiri, kadal busuk!” bentak si pria besar. “Atau kau ingin mencari keributan?” tambahnya sambil menyibakkan jaket dan memperlihatkan sebuah pisau sebesar mata tombak.

“Kau memanggilku apa?” balas Arslan berang sambil bangkit dari tempat duduknya.

Untuk sesaat para bajingan di meja itu seakan menciut. Arslan bukan orang yang mudah untuk diancam. Ia adalah seekor kirzka, ras makhluk reptil dari dataran timur. Tubuhnya satu setengah kali lipat lebih tinggi dari si pria besar dan bahunya lebih bidang daripada tiang kapal perang.

Si pria besar melepaskan cengkeramannya pada si gadis. Untuk sesaat Arslan mengira mereka akan pergi, tetapi tidak. Pria itu memandang gerombolang teman-teman bajingannya dan dalam sekejap ia mendapatkan keberaniannya lagi.

“Heh, kurasa kita harus memberikan pelajaran pada pendatang ini.”

Perlahan-lahan para bajingan mulai tersenyum jahat. Satu demi satu mereka mulai mengeluarkan senjata-senjata yang selama ini mereka sembunyikan; belati, kapak lempar, pentungan dengan bandul besi.

Secara reflek jemari Arslan langsung menyentuh kapak yang terselip di ikat pinggangnya, tetapi sebelum ia mencabut senjata itu pikiran rasionalnya menolak. Kau tidak ingin membunuh mereka. Kau tidak ingin menjadi buron di sini.

Dalam keragu-raguannya para kriminal tersebut sudah menerjang. Arslan melompat mundur, ia meraih sebuah kursi panjang yang kelihatannya cukup solid.

“Percuma! Aku sudah memaku seluruh perabotan ke lantai! Tidak ada yang boleh merusak kedaiku!” seru si pemilik kedai dari ujung ruangan.

Arslan menarik kursi itu sekuat tenaga dan meraung keras. Detik selanjutnya sebuah bayangan besar menjulang di hadapan para kriminal ketika Arslan mengangkat kursi panjang beserta lantai bar sekaligus. Pecahan lantai dan bajingan-bajingan beterbangan. Debu kayu memenuhi seluruh kedai seakan-akan ada kabut di dalam.

“Siapa yang membuat birku tumpah!” teriak sekelompok dwarf.

“Kau membuat noda di jubahku, tikus selokan!” pekik seorang penyihir jalanan.

“Menjauh dariku, sebelum aku mengulitimu!” ancam seorang pemburu.

Dalam waktu cepat keributan yang dimulai Arslan menyebar seperti wabah. Sebelum si pemilik kedai dapat melakukan apapun, para pengunjung sudah saling berkelahi seperti istri penjual ikan.

Ia tidak akan menemui ketenangan di sini. Sambil menghela napas panjang Arslan melompat masuk ke dalam padatnya perkelahian. Hanya dengan otot dan sisik ia bertarung untuk mencapai pintu keluar.

Kirzka itu begitu sibuk menyingkirkan orang-orang di hadapannya. Ia sama sekali tidak sadar akan sosok bertudung yang memperhatikan dirinya dengan penuh ketertarikan.


Angin malam menampar dirinya seperti sebuah martil dingin. Tidak punya uang, tidak punya tempat bermalam, ini bukanlah gambaran kehidupan kota yang ia inginkan.

Tanpa ia sadari, kepalan tangannya melayang ke salah satu tiang bangunan yang ada di dekatnya. Kayu lapuk tersebut langsung patah dan membuat bangunan di atasnya mengeluarkan suara aneh. Arslan menyumpah dalam bahasanya sendiri dan segera masuk ke belokan terdekat. Masuk ke penjara adalah hal terakhir yang ia butuhkan untuk melukai harga dirinya.

“Hei, tuan pejuang,”

Langkah kakinya terhenti. Suara lembut tersebut membuat jantungnya berhenti.

Seorang perempuan berdiri di belakang dirinya. Jubah panjang dan tudung yang dikenakannya membuat Arslan kesulitan melihat ciri perempuan tersebut.

“Apa yang kau inginkan?” desisnya awas. Tangannya sudah siap untuk mencabut kapak yang ada di ikat pinggang.

“Aku melihatmu di kedai, seorang yang mulia,” pujinya dengan nada manis yang jahat. “Aku ingin membeli jasamu.”

Sebelum Arslan sempat membalas, perempuan itu melempar sesuatu ke arahnya. Sebuah kantong kulit mendarat tidak jauh dari kaki Arslan. Beberapa koin emas menggelinding keluar darinya.

“Ambilah. Anggap saja sebagai pembayaran di muka.”

Arslan berlutut dan memungut kantong kulit tersebut. Ia terlalu terkejut untuk dapat berkata-kata.

Tanpa ia sadari perempuan itu sudah ada di sisinya. Ia dapat merasakan tubuhnya yang hangat ketika wanita misterius itu menumpukan diri dan memeluk lengannya. Dengan lembut dan menggoda wanita itu berbisik tepat di lubang telinga Arslan. “Tolonglah diriku, pria besar. Masih ada lebih banyak emas untuk engkau. Aku bahkan tidak keberatan bila kau ingin mengoyak rahimku nanti.”

Tiba-tiba Arslan menyadari sesuatu yang ganjil. Suara wanita itu terdengar berat seakan-akan ia harus berusaha keras hanya untuk berbicara. Tetapi hal yang paling mencurigakan adalah bau yang ia cium. Darah.

“Kau terluka,” desis Arslan curiga sambil mencoba memandang wanita itu. “Kenapa mencari seorang tentara bayaran ketika tabib lebih dibutuhkan?”

Terdengar suara tawa kecil dari balik tudung. “Kau memang orang yang mulia! Aku tidak menginginkan tabib,” untuk sejenak wanita itu hening dan ketika ia kembali berbicara, kata-katanya seakan penuh dengan emosi dan kebencian. “Seseorang hendak merampas dari diriku. Aku ingin kau menghabisi mereka. Ayo, kita harus cepat. Sebelum mereka menghilang.”

Arslan tidak tahu apa yang menggerakan dirinya, uang emas yang sekarang ada di kantongnya atau fakta bahwa ia tidak dapat membiarkan seorang wanita yang terluka sendirian. Apapun alasannya, tanpa ia sadari sepenuhnya, ia sudah menggendong wanita itu di bahunya dan mengikuti jalan yang ditunjukkan padanya.

Setelah dua puluh menit menelusuri jalan-jalan kotor dan berliku, mereka sampai pada dermaga di pinggir kota. Aroma amis ikan dan air laut menusuk lubang hidungnya.

“Di sini tempatnya. Turunkan diriku,” kata wanita itu.

Arslan berlutut dan mengamati bangunan yang ada di hadapannya. Untuk sekilas terlihat seperti gudang kosong, tapi inspeksi lebih jauh mengatakan bangunan itu tidak sepenuhnya kosong. Engsel gerbangnya baru saja diminyaki dan ada jejak kaki yang keluar gudang.

“Siapa sebenarnya orang-orang yang merampas dirimu, nona?” tanya Arslan pada akhirnya.

“Geng Volk,” balas wanita itu dengan napas terengah-engah sambil bersandar di dinding. “Hanya kelompok penyelundup kecil, bukanlah tantangan untuk dirimu. Kau dapat menggunakan senjatamu dan membunuh mereka semua. Tidak ada patroli kota di daerah ini.”

Arslan berani bersumpah perempuan tersebut terdengar gembira ketika mengusulkan pembunuhan.

“Aku akan menyusul nanti,” tambah perempuan itu sambil memegangi rusuknya sendiri. Hal itu membuat Arslan mempertimbangkan pilihan untuk memanggil tabib. Wanita misterius itu terlihat dapat meninggal setiap waktu.

Tidak, tidak. Ia sudah berjanji, pikirnya sambil menggeleng.


Di antara tumpukan kotak-kotak kayu dan cahaya remang-remang lentera, Arslan dapat melihay gerombolan geng Volk. Jauh dari perkataan majikan yang membayarnya, mereka bukanlah kriminal kecil. Ia dapat menghitung setidaknya dua puluh orang, belum termasuk tiga orang yang sudah ia buat pingsan diam-diam. Arslan memutar otaknya, mencari cara untuk menghabisi mereka semua sedikit demi sedikit. Belum selesai ia berpikir, sebuah suara menegur dirinya.

“Kenapa kau begitu lama, kadal besar?”

Si wanita misterius terlihat berjalan dengan susah payah ke arahnya. Tanpa peringatan wanita itu mengangkat tangan kirinya. Bila Arslan memiliki bulu kuduk, pasti semuanya sudah berdiri tegak, tetapi satu-satunya yang ia rasakan hanyalah aroma sihir yang menusuk lubang hidungnya.

Sebuah bola api meluncur dari tangan kiri perempuan itu dan meledak di tengah-tengah kerumunan para penyelundup.

Tidak ada waktu untuk kehalusan kalau begitu, desah Arslan.

Sambil meraung tidak jelas, Arslan melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Dua buah kepala melayang sebelum ada yang sadar.

Para kriminal di gudang langsung berkerumun untuk menyerang Arslan. Sebuah tongkat berkail meluncur ke bahunya. Ia menangkap gagang kail tersebut dan menendang penyerangnya. Tangannya yang bebas meninju penyerang lainnya tepat di wajah. Ia cukup berhati-hati untuk tidak menghancurkan tengkorak orang tersebut.

Sebuah sapuan lebar menggunakan ekornya merobohkan empat orang sekaligus, tetapi lebih banyak kriminal dengan pentungan, belati, dan kail menerjang dirinya. Para menyelundup mengerumuni dirinya seperti kurcaci yang mencoba menundukkan raksasa. Sementara itu Arslan memberontak layaknya seekor banteng liar.

Seorang pria dengan celemek kulit berteriak keras sambil mengayunkan rantai derek gudang ke arah Arslan. Orang-orang memekik panik dan berhamburan begitu melihat kail sebesar melon meluncur turun. Arslan sendiri terlambat menyadari hal tersebut. Udara di paru-parunya terpukul keluar. Kail raksasa itu terus mengayun, membawa Arslan, meratakan setengah lusin orang, dan berakhir dalam sebuah ledakan kayu beserta minuman keras ketika menghantam kotak-kotak kayu.

Seorang pria dengan pakaian yang terlalu mahal untuk gudang kumuh ini menerjang si raksasa. Sebuah pisau bergagang emas terangkat di tangannya selagi ia berteriak. “Mati kau tukang ikut campur!”

Tangan bersisik Arslan tiba-tiba menangkap pergelangan pria itu. Pria malang itu memekik layaknya anjing yang baru saja ditendang. Suara pekikannya langsung terhenti ketika Arslan menghantam wajah pria itu menggunakan kepalanya sendiri.

Sambil mengerang keras Arslan bangkit, rantai derek di kedua tangannya. Ia dapat merasakan urat-urat lehernyanya menonjol seperti tali layar kapal ketika ia menarik rantai derek tersebut. Untuk sesaat derek tersebut tidak bergeming, tetapi detik berikutnya seluruh gudang seakan menggigil.

Ketika Arslan sadar kesalahannya, semua sudah terlambat. Ia gagal menyadari bahwa derek tersebut tersambung langsung dengan atap gudang. Ia juga tidak dapat berbuat apa-apa ketika setengah dari atap gudang runtuh.


message 30: by Maximilian (new)

Maximilian Surjadi (maxorient) | 92 comments Vera menatap kerusakan yang sudah terjadi. Puing-puing dan tubuh manusia berserakan di mana-mana. Kirzka itu sungguh seekor monster, sayang makhluk itu sudah tidak ada. Ia mungkin tahu pekerjaan yang cocok untuknya.

Sambil bersusah payah ia berjalan melalui bongkahan batu dan tiang yang berserakan. Hanya melangkahkan satu kaki demi satu kaki merupakan tugas yang berat baginya. Tidak butuh waktu lama sebelum pandangannya menjadi buram.

Ia mengerang. Matanya terpaku pada sosok berbaju mahal yang tergeletak di antara serpihan kotak kayu.

Tujuannya begitu dekat. Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai merangkak dan menyeret tubuhnya hanya dengan tangan kirinya yang masih sehat.

Lihat siapa yang terbaring tidak bernyawa sekarang, Volk. Kau pikir kau dapat menghancurkan keluargaku tanpa mendapat balasannya?

Matanya terasa begitu berat untuk dibuka. Ia meraba-raba jaket beludru Volk. Tidak butuh waktu lama sebelum ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah kotak musik berbentuk oval dengan ukiran rumit perak di sekelilingnya. Dengan jemari yang gemetar ia membuka kotak itu.

Senyum lega menghiasi wajah Vera begitu ia dapat mendengar sebuah nada jernih melantun dan membuai telinganya. Ia tidak keberatan meninggalkan dunia ini. Asalkan ia dapat mendengar lagu ini untuk terakhir kalinya. Sebuah lagu yang begitu dekat. Sebuah lagu yang mengingatkan dirinya akan masa kecilnya. Masa kecil yang bersih dan bahagia, bebas dari Volk dan kekejamannya.


Lagu itu masih melantun ketika ia membuka matanya. Ia menemukan dirinya menatap langit-langit sebuah kamar. Vera menoleh dan melihat si kirzka. Raksasa itu duduk di sisinya dan sedang mengamati kotak musiknya.

Vera terkesiap. “Kembalikan kotak musikku!”

Ia hendak merengut benda itu dari jemari si kirzka, tetapi rasa sakit yang menusuk sekujur tubuhnya langsung menghentikan usahanya.

Kirzka itu hanya menoleh dan memandang dirinya dengan penuh penilaian. Pada akhirnya si kirzka menaruh kotak musik tersebut di pangkuan Vera. “Kau mempertaruhkan nyawamu untuk benda ini. Aku yakin benda ini amat berharga bagi dirimu,” desis si kirzka dengan lembut.

Vera mendekap kotak musik itu dadanya dan mengeluarkan napas lega.

“Apakah manusia-Volk ini yang melukai dirimu?”

Pertanyaan tersebut langsung membuat Vera melayangkan pandangan curiga. “Kenapa kau menanyakan hal itu?”

Raksasa itu bangkit berdiri dan tertawa kecil. “Kau adalah wanita muda yang tangguh,” desisnya sambil membuka jendela kamar. Sinar matahari yang masuk membuat Vera mengerjap.

“Tangan kanan yang terkoyak, luka sayat di perut dan rusuk, bekas cambukan di punggung. Dan hal pertama yang kau cari adalah orang yang cukup besar untuk membunuh Volk ini. Kau pasti begitu membencinya.”

Vera hanya bisa terdiam sambil meremas kotak musiknya.

Kirzka itu menggeleng dan menghela napas. “Bukan urusanku. Terima kasih untuk emasmu. Kurasa pekerjaanku sudah selesai.”


Sebelum Arslan sempat melangkah. Ia dapat mendengar suara gedebuk. Ia menemukan wanita muda itu sudah terjatuh di lantai sambil memegangi kakinya.

“Kumohon, jangan pergi! Biarkan aku ikut denganmu!”

Arslan memandang sosok yang menggelantung di kakinya dengan campuran heran dan kagum.

“Aku tidak punya tempat untuk tinggal, biarkan aku ikut dengan dirimu. Bukankah, aku sudah membayarmu. Setidaknya tinggalah untuk sebentar.”

Mendengar permohonan putus asa tersebut Arslan hanya dapat tertawa. Tawa paling tulus yang tidak pernah ia keluarkan selama bertahun-tahun. Dengan lembut ia mengangkat wanita muda itu dan mendudukannya kembali di sisi ranjang.

“Kau manusia yang aneh. Bagaimanapun, emasmu lebih baik dari bayaranku selama dua bulan penuh. Kurasa aku dapat menemanimu untuk beberapa saat.”

Tanpa terduga wanita itu mengeluarkan sebuah senyum usil. “Kau terlalu terhormat untuk meninggalkan diriku. Aku yakin kau tidak akan sekedar ‘menemaniku untuk sesaat’.”


message 31: by Siti (last edited Mar 10, 2014 10:42PM) (new)

Siti Setianingsih | 6 comments Nyanyian Prita

“Hei, sampai kapan kau mau duduk terus di situ?” tanyaku untuk yang ke sekian kalinya tapi Prita tetap tak bergeming. Matanya menatap lurus ke dalam air danau seakan sesuatu di dalam sana begitu menarik untuk dilihat. Sesekali ia meraih kerikil kecildi sekitar tempatnya duduk kemudian melemparnya ke dalam air, memecah bayang wajahnya sendiri ke dalam lingkaran-lingkaran gelombang kecil.

Aku menghela napas lelah, kusandarkan tubuhku pada batang pohon mahoni, hanya beberapa meter di belakang gadis itu. Sejenak kupejamkan mataku, mencoba untuk sedikit merelakskan pikiran. Begitu kubuka kembali kedua kelopak mataku, sekilas ku lihat ia sedikit meirikku namun itu hanya sepersekian detik sebelum pandangannya kembali terpaku pada air danau yang tenang.

Ku amati sosoknya ekat-lekat, berharap bisa mengerti apa yang sedang di pikirkannya. Gadis itu bertubuh mungil, berbalut gaun merah muda selutut yang warnanya mulai kusam. Betapa tidak? Ia memakai gaun itu setiap hari. Aku curiga ia hanya punya satu pakaian sehingga ia tak pernah menggantinya. Namun tak ada yang pernah berani bertanya padanya, tatapan tajam dan sikap bisunya benar-benar menjadi sebuah penegasan bahwa tak ada yang perlu dipertanyakan. Gadis aneh, namun entah mengapa aku justru lebih kepada merasa kasihan daripada kesal akan sikapnya. Siapa yang tahu, mungkin saja ia telah melalui kehidupan yang begitu berat.

Matahari mulai tergelincir dan perlahan menyembunyikan sosoknya di ujung barat. Ku tatap punggung gadis itu sekali lagi. Rambut sebahunya yang tipis dan tergerai bergoyang pelan ditiup angin, menampakkan batang leher jenjang yang tampak sedikit dekil. Astaga, gadis ini benar-benar cuek bahkan pada dirinya sendiri.

“Jadi, ku harap aku bisa mendapatkan jawabanmu besok. Kau hanya perlu memilih, bernyanyi atau bermain musik. Jika kau ingin bermain musik namun tak mahir, kau tak perlu khawatir. Aku akan mengajarimu, sungguh. Dan..” perkataanku terhenti sejenak, gadis itu tak tampak terpengaruh sedikitpun seolah kata-kataku barusan hanyalah suara angin yang mendesau.

“Semakin cepat kita mulai akan semakin baik.” Aku menatap rerumputan di bawahku seraya meremas jari-jariku. Tentu saja aku menyadari bahwa yang tadi ku ucapkan adalah sebuah perkataan bodoh. Gadis itu, yang entah bagaimana caranya telah berhasil membuat dunia serasa milik sendiri tentu tak akan mendengarkan.

Aku bersiap berbalik namun sebuah suara lembut yang tiba-tiba memenuhi udara di sekitarku membuatku terkesiap. Rasanya tubuhku seperti terpacak ke dalam tanah hingga tak mampu bergerak. Hanya mataku yang cekatan segera menangkap sosok Prita, ia masih di tempat yang sama, sama sekali tak beranjak.

“Kenapa kau peduli padaku?” suara itu lembut namun penuh tekanan. Tiba-tiba bulu kudukku serasa merinding. Mendengar suaranya untuk pertama kali setelah selama ini terbiasa dengan kebisuannya membuatku merasa sedikit horor. Apalagi angin malam yang berhembus menerbangkan dedaunan kering di sekitarku menciptakan suasana mencekam yang tiba-tiba. Ku buang jauh-jauh pikiranku itu dan memberanikan diri menjawab.

“Tentu saja karena aku adalah ketua kelasmu. Dan tugasku adalah memastikan bahwa semua siswa di kelas berpartisipasi dalam pesta tahunan sekolah.” Ku rasa aku berhasil membuat suaraku terdengar lantang.

“Jadi begitu.” Gumam gadis itu kemudian melempar sebuah kerikil lagi ke danau. Seketika suasana mencekam tadi tak lagi terasa. Angin kembali bertiup seperti biasa. Aku menarik napas lega kemudian setelah memastikan bahwa gadis itu tak ingin melanjutkan percakapan, segera melangkah menjauhi danau. Baru selangkah, aku tersenyum mengingat sesuatu. Tanpa berbalik menatapnya, ku ungkapkan apa yang baru saja ku pikirkan.

“Suaramu bagus. Kenapa tak ikut menyanyi saja?”

-----------

Bel pulang sekolah berbunyi, akhirnya. Cepat-cepat ku bereskan peralatan tulisku. Mataku tak lepas mengamati Prita yang juga tengah berberes dengan santai. Ya, setelah akhirnya ia mau berbicara kepadaku, aku begitu yakin ia akan memberikan jawabannya hari ini.

Baiklah selesai. Kusampirkan tasku ke punggung kemudian dengan cepat berlari menuju pintu. Sejenak pandangan kami bertemu. Prita menatapku tajam namun tetap melangkah pelan, mendekat ke arahku. Alisnya yang tebal bertaut seolah ingin semakin menegaskan bahwa ia tak senang aku terus mengganggunya.
Dia adalah anak terakhir yang keluar dari kelas, membuatku menyeringai lebar.

“Jadi, apa kau sudah memutuskan?” gadis itu tak menjawab, hanya terus menatapku dengan tajam, mungkin berharap bisa membunuhku dengan tatapan lasernya itu. Sekian menit ia hanya mematung tanpa ada tanda-tanda aka berbicara. Tapi aku tak kehilangan akal, aku sudah bertekad membuat gadis ini menampilkan kemampuannya di pesta sekolah. Apalagi setelah mendengar suaranya yang begitu merdu.

“Kau tak mau menjawab?” tanyaku sekali lagi namun gadis itu hanya menatapku bahkan tak berkedip. Aku mengangkat bahu.

“Apa boleh buat. Kalau begitu kau harus ikut denganku.” Ekspresinya menunjukkan protes keras begitu aku mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya agar mengikutiku. Ia pasti sangat terkejut dengan perlakuanku yang sangat lancang namun aku tak peduli lagi, aku sudah cukup lelah menghadapinya.

Ia terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkeramanku namun apa daya aku lelaki yang akan selalu lebih kuat darinya. Mungkin ia akhirnya menyadarinya karena beberapa saat kemudian ia berhenti memberontak dan membiarkan aku menentukan jalannya. Aku menggiringnya ke arah timur, menuju aula besar sekolah, tempat di mana anak-anak dari masing-masing kelas tengah sibuk berlatih baik bernyanyi maupun memainkan alat musik.

Kami berhenti tepat di depan pintu aula yang terbuka lebar. Aku berbalik menatap gadis itu. Ia menunduk, sementara gegap gempita suara alat musik dari dalam aula terdengar semakin membahana. Aku membawanya masuk. Kami melewati sekelompok pemain biola yang sedang bersahut-sahutan memainkan harmoni musik dengan sangat merdu. Aku tersenyum, beberapa kali menyapa teman yang sedang berlatih. Aku tahu benak mereka dipenuhi tanda tanya karena melihatku bersama Prita. Tapi toh mereka tak mengatakan apa-apa.

“Indah, bukan?” tanyaku saat kami berhenti sejenak untuk mendengarkan alunan musik biola. Ia hanya menatapku , kali ini tanpa ekspresi. Ya, mungkin ia tidak tertarik dengan biola, meskipun itu salah satu instrumen kesukaanku.

Kami melanjutkan perjalanan mengelilingi aula yang sangat luas, melewati para pemain saxophone, gitar, drum, piano, dan masih banyak lagi, tapi tampaknya tak ada satupun yang mampu menarik perhatian gadis itu. Aku hampir menyerah ketika akhirnya kami sampai pada kelompok terakhir. Itu kelompok vokal. Ada vokal grup yang terdiri atas sekelompok siswi yang tengah menyanyikan mars sekolah dengan semangat. Tak jauh dari sana, ada beberapa anak yang berlatih secara terpisah masing-masing menyanyikan lagu yang berbeda. Dan ke arah sanalah mata gadis itu terpaku. Aku melihat kilat ketertarikan di matanya namun itu tak berlangsung lama karena ia kembali menatap hampa ketika menyadari bahwa aku tengah mengamatinya.

Ah, jadi begitu? Rupanya gadis itu tertarik untuk bernyanyi solo? Sesuai dugaanku. Aku tersenyum penuh arti membuatnya menatapku dengan tajam –lagi-. Ku bawa ia keluar. Aku sudah menemukan jawabannya.
-------


message 32: by Siti (new)

Siti Setianingsih | 6 comments Hari ini ku biarkan saja ia melenggang pergi begitu jam pelajaran usai. Toh, aku akan kembali dapat menemukannya. Aku tersenyum, bahkan semua anak di kelas akan dapat menemukannya jika disuruh mencarinya setelah jam pulang sekolah. Jadi ku bereskan buku-bukuku dengan santai, memastikan bahwa semua anak telah keluar kemudian meraih tas biolaku yang tadinya ku sembunyikan di dalam lemari kelas. Yah, keuntungan akses yang hanya bisa didapat oleh ketua kelas.

Seperti yang ku duga, gadis itu memang ada di sana. Duduk diam seperti biasa sembari memandangi air danau. Tapi kali ini aku tak akan duduk di belakangnya seperti biasa. Ku hela napas panjang kemudian memberanikan diri mendekatinya, berdiri tepat di sampingnya. Aku menunduk, mengamati air danau gelap yang kini menampilkan pantulan wajah kami. Sesosok pemuda tinggi, tegap, dan manis hm menenteng sebuah tas biola. Dan sesosok gadis mungil begaun merah muda yang... rapuh. Baiklah, aku baru menyadari hal itu begitu menatap bayangannya yang balas menatap hampa ke arahku dari dalam air. Aku mengalihkan fokusku.

“Jadi kau suka menyanyi?” tanyaku seraya tersenyum pada bayangannya. Seperti biasa ia diam meski dari dekat sini aku bisa merasakan bahwa ia ingin sekali mengakuinya.

“Apa kau ingin aku bernyanyi?” aku sedikit terkejut karena ia kembali mau bicara denganku. Dan entah mengapa, aura horor yang sama kembali merayapiku.

“Ya, tentu saja.” Jawabku dengan semangat. “Aku sudah membawa biola untuk mengiringi nyanyianmu. Ah,aku yakin kau pasti jadi yang terbaik di pesta sekolah.”

Ia tertawa kecil tanpa ekspresi dan aku merasa bulu kudukku meremang.

“Kalau aku bernyanyi apa kau akan berhenti menggangguku?” tanyanya tanpa menatapku.

“Ya, ku pikir.....”

“Baiklah, kau tahu aku sebenarnya sangat suka bernyanyi. Tapi aku tak bisa bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi padamu saat aku selesai bernyanyi.” Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkannya. Tapi seperti mengandung kekuatan mistis yang membuatku merasa was-was. Ku tepis semua pikiran aneh itu. Yang terpenting sekarang ia akan bernyanyi. Akhirnya, usahaku selama seminggu belakangan untuk membujuknya kini membuahkan hasil.

Gadis itu berdiri kemudian menatapku. Aku menyiapkan biolaku kemudian mengangkat alis. Seolah mengerti kodeku gadis itu bergumam cepat.

“You are not alone. Michael Jackson.”

Baiklah aku tahu lagu itu. Tanpa menunggu aba-aba, aku segera memainkannya. Udara di dekat danau belakang sekolah ini pun seketika dipenuhi dengan nada-nada indah yang tercipta dari gesekan biolaku. Intronya berhasil ku mainkan, sekarang saatnya Prita bernyanyi. Aku tersenyum.

Another day has gone
I’m stil all alone
How could this be
You’re not here with me

Suaranya sangat merdu, menyatu dengan alunan biolaku membentuk symphoni yang begitu indah. Sejenak aku berpikir, mungkin untuk suara seindah inilah biola diciptakan.

You never said goodbye
Someone tell me why
Did you have to go
And leave my world so cold

Tapi tunggu sebentar. Ah mungkin itu hanya ilusiku saja tapi aku melihat tangan kurus gadis itu tiba-tiba saja dipenuhi bulu kecoklatan yang kasar dan tebal. Aku mengejap-ngejapkan mata namun aku tetap melihat hal yang sama, bahkan lebih parah. Bulu tebal itu mulai tumbuh di lengannya, membuat ia tak lagi tampak seperti gadis mungil. Namun ia terus menyanyi, bait demi bait dengan penuh semangat. Bibirnya melengkung di wajahnya yang tanpa ekspresi. Dalam sekejap, Prita berubah menjadi makhluk yang menakutkan.

Aku terus menggesek biolaku namun langkahku perlahan-lahan mundur. Jantungku berdentam-dentam tak karuan. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Makhluk apakah sebenarnya gadis mungil itu? Kini bulu mulai merambati wajahnya, setelah seluruh tubuh tertutupi. Gaun merah muda yang sehari-hari dipakainya kini sobek tak beraturan akibat tubuhnya yang semakin membesar. Tingginya kini hampir mencapai pohon mahoni. Aku hanya berkedi sesaat namun setelahnya wajah gadis itu benar-benar tak lagi bisa ku kenali. Bulu kecoklatan memnuhi wajahnya yang mengeras berwarna hitam, matanya membesar menampakan dua bola mata yang selalu berputar-putar. Sebuah hidung besar. Serta mulut yang tiba-tiba saja berhenti bernyanyi dan kini terbuka lebar menampakkan susunan gigi lengkap dengan dua pasang taring yang tajam dan panjang seolah mengundangku untuk menjadi santap malamnya.

Refleks aku melempar biolaku sembarangan dan berlari sekuat tenaga, berharap dapat mencapai gedung aula secepat mungkin sebelum monster itu meraihku. Aku tahu itu harapan bodoh. Dengan kaki hampir setinggi tubuhku, mudah saja baginya untuk menangkapku. Namun hingga aku mencapai gedung kelas terdekat, belum ada tanda-tanda ia menyusul. Ku beranikan diriku menoleh ke belakang. Ternyata makhluk itu tak mengejarku. Ia malah berbalik menjauh. Setiap langkahnya menggetarkan tanah di bawahku. Dan getaran itulah yang membuatku merasakan bahwa monster itu masih memiliki jiwa manusia. Jiwa gadis mungil yang ku paksa bernyanyi.


message 33: by Dhia (new)

Dhia Citrahayi (dhiacitrahayi) | 517 comments Purnama Terakhir

Kabut muncul di sekitar danau. Suasana malam yang dingin makin bertambah menggigit ketika kabut itu menebal. Bulan yang bersinar cemerlang di atas sana tampak remang-remang di tengah kabut seperti ini. Kemudian, muncul bayang-bayang di dalam sana. Suara langkahnya menuju tepi danau tak terdengar, begitu tenang seperti suasana hutan saat ini.

Gadis itu menunggunya dengan sabar. Seiring dengan mendekatnya orang itu, kabut pun perlahan-lahan menipis. Ketika orang itu berdiri persis di hadapan si gadis, kabut benar-benar lenyap dari danau. Suasana di tempat ini kembali seperti semula. Lelaki berkulit pucat itu menyunggingkan senyum hangat kepada gadis di hadapannya.

“Kenapa baru sekarang kau memanggilku lagi?” tanyanya lembut sambil menyelipkan rambut gadisnya yang terurai dari kepangan.

Bibir gadis berambut hitam itu bergetar. Kemudian, dia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan lelaki itu. Hawa dingin yang menguar dari tubuh lelaki ini sama sekali tak membuat Rhaya takut. Sebaliknya, dia justru merasa nyaman berada dalam rengkuhannya.

“Mereka akan memasangkanku,” bisiknya lirih. “Aku akan segera menikah.”
***
Haris merupakan lelaki yang baik, Rhaya tahu itu. Selain periang dan hangat, dia juga seorang pekerja keras. Kebun-kebunnya membentang subur dan seluas sepuluh rumah penduduk desa. Lelaki itu jarang bermasalah dengan penduduk lainnya. Wajahnya pun bisa dikatakan elok. Namun sayang, kesempurnaan Haris sama sekali tak menarik perhatiannya.

Sementara dia sendiri? Walau orang tuanya tidak sekaya Haris, tetapi mereka memiliki kebun yang menjanjikan. Dirinya dan adik-adiknya hampir selalu dimanjakan kedua orangtua mereka, apalagi setelah panen kebun. Secara materi dia berkecukupan. Wajahnya pun lumayan manis, meski tak bisa mengalahkan bunga desa yang tinggal tiga rumah dari rumahnya. Ada banyak lamaran yang datang kepadanya, tetapi hampir selalu ditolak karena dirinya atau Orang tuanya tidak cocok dengan si pelamar.

Namun, dengan berlalunya waktu, usia Rhaya semakin bertambah dan orang tuanya pun mulai resah karena gadis itu belum juga menikah. Hampir semua gadis-gadis seusia Rhaya telah menikah dan mempunyai anak, tetapi putri sulung mereka belum juga memutuskan calon suaminya. Karenanya, saat Haris melamar Rhaya, mereka sangat bahagia dan berupaya agar Rhaya pun menerima Haris sebagai suaminya.

“Jangan menolak untuk yang satu ini,” ujar Priam, ketika melihat putrinya tak antusias dengan lamaran Haris. Pria itu menatapnya tajam. “Ingat usiamu, Rhaya. Teman-temanmu yang lain sudah menikah, bahkan punya anak. Kau sendiri malah belum memiliki calon suami. Haris lelaki yang sangat baik, kau akan rugi kalau tidak mau menerimanya.”

Rhaya merengut. “Tapi aku tidak ingin menikah dengannya, Yah.”

“Lantas kau ingin menikah dengan siapa?” pertanyaan Priam tak pelak membuat Rhaya bungkam. “Kalau tidak ada calon yang bisa kau sebutkan, Ayah akan menikahkanmu dengan Haris,” Priam beranjak dari kamar putrinya.

“Ayah!” Rhaya memprotesnya.

Priam berhenti di ambang pintu, lalu menoleh ke arah anaknya. “Dewa akan mengutuk kita kalau kau sampai menolak lamaran Haris,” ucapannya membuat Rhaya membeku.
***
Berbagai macam hadiah datang begitu Priam menerima lamaran Haris. Pertunangan pun segera dilaksanakan sebelum pernikahan. Usai pertunangan, pernak-pernik pernikahan pun dipersiapkan. Selama masa itu, keduanya dipersilakan saling mengenal. Rhaya tidak terlalu nyaman ketika Haris tinggal di rumahnya. Dia berusaha bersikap biasa, tetapi tetap saja kecanggungannya terlihat saat berinteraksi dengan calon suaminya.

“Kau tidak suka bersamaku?” tanya Haris pada suatu hari, ketika mereka berangkat ke kebun.

Rhaya sedikit gelagapan mendengar pertanyaannya. Dia membenahi letak selendang yang menutupi kepalanya supaya tidak melihat Haris. “Pertanyaanmu aneh,” ucapnya kikuk.

Haris tertawa lirih. “Kenapa kau selalu canggung bersamaku?” nada suaranya lebih lembut. Mereka berjalan bersisian di jalan hutan.

“Aku...,” Rhaya sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Kalau dia mengatakan dengan jujur perasaannya pada Haris, lelaki ini bisa terhina dan keluarganya akan menanggung malu karena sikapnya. “Aku tak pernah berinteraksi dengan lelaki sebelumnya,” dustanya gugup. “Ketika kau bergabung dengan keluarga kami, aku bingung harus bersikap seperti apa padamu.”

Haris mengentikan langkah kakinya, sehingga Rhaya ikut berhenti. “Karena itu kau selalu menolak laki-laki lain?” Dia cukup terkejut karena calon istrinya teryata pemalu terhadap laki-laki. “Padahal, kalau kuperhatikan, kau selalu luwes bergaul dengan kaumku.”

Pipi Rhaya memerah. Dia bahkan pernah adu tangkap ikan dengan salah satu kawan Haris. “Mereka hanya teman, berbeda denganmu,” jawaban malu-malunya memancing cengiran di wajah lelaki itu.

“Senangnya...,” katanya setengah bernyanyi. “Itu artinya aku istimewa,” Haris mendekati Rhaya. Tangannya yang kuat dan besar mengangkat wajah gadisnya dengan lembut. “Terima kasih, kau mau menerimaku.” Ia menunduk untuk mencium kening Rhaya.

Setelah itu, sepanjang perjalanan menuju kebun, Haris menggandeng tangan Rhaya. Hatinya terasa ringan di tengah cuaca terik hari ini. Dia sama sekali tak melihat perubahan air muka Rhaya di belakangnya.
***
Lelaki berambut perak itu diam termangu mendengar cerita Rhaya. Mereka duduk bersisian di pinggir danau, di bawah salah satu pohon yang tumbuh di sekitar sana. Jadi itu alasannya, selama beberapa minggu ini Rhaya tak pernah lagi datang ke danau. Itu karena dia terhalang oleh calon suaminya.

“Dua minggu lagi aku akan menikah,” ujar Rhaya sambil memeluk kedua kakinya.

Kafah memandang muram air danau. “Kenapa baru menemuiku sekarang?”

“Aku tak bisa keluar sejak Haris tinggal di rumah,” jelasnya. “Dia selalu tidur larut malam dan pendengarannya juga tajam. Aku tak berani keluar kamar kalau dia ada di rumah. Sekarang dia kembali ke rumahnya untuk mempersiapkan pernikahan kami, karena itu aku bisa menemuimu.” Tatapannya terlihat hampa, tak bersemangat.

Kafah menarik Rhaya ke tubuhnya. “Apa dia... Apa dia sudah menyentuhmu?”

Gadis itu mendadak merasa merasa malu mengingat kejadian itu. “Hampir,” jawabnya lirih. “Tapi aku berhasil menolaknya dan dia mau mengerti.”

“Syukurlah,” Kafah mendesah lega mendengar jawabannya.

“Apa kau tidak bisa menyelamatkanku?”

Kafah diam sesaat. Tatapannya beradu dengan tatapan Rhaya. Menyelamatkannya? Itu bukan hal yang mustahil. Hanya saja..., sulit untuk mewujud tanpa panggilan Rhaya serta sinar rembulan. Kediamannya membuat Rhaya makin putus asa.

“Saat malam terakhir purnama datanglah kemari memakai pakaian pengantinmu. Aku akan membawamu ke tempatku,” putus Kafah setelah berpikir agak lama.

Mata Rhaya berbinar mendengarnya. “Kita akan bersama?” tanyanya tak percaya.

Kafah mengangguk sebelum mencium bibir gadis itu. Pelukan Rhaya padanya makin kuat. Keduanya sama sekali tidak sadar bila Haris melihat dan mendengar semuanya dari balik salah satu pohon. Wajah lelaki itu memucat, tetapi dia hanya diam tak bergerak di tempatnya. Amarah menggelora di hatinya melihat calon istrinya bercumbu dengan lelaki lain. Namun, akal sehatnya masih berjalan. Sosok bernama Kafah itu..., dia merasa ada yang aneh dengannya. Selain itu, lirik yang dinyanyikan Rhaya pun rasanya pernah didengarnya.

Tangannya terkepal. Tadi, setelah memastikan rumahnya siap untuk ditinggali calon istrinya, dia buru-buru pulang ke rumah Rhaya untuk tidur di sana. Namun, saat memasuki halaman, dia mendengar suara berisik dari samping rumah. Dia kira ada hewan liar masuk ke pekarangan. Tak disangka, ternyata diam-diam Rhaya keluar rumah dan masuk ke dalam hutan untuk bertemu lelaki lain.
***
“Dipercepat?” semua orang yang ada di dalam rumah terkejut mendengar keputusan Haris, tak terkecuali Rhaya yang sedang menjahit gaun pernikahannya.

Lelaki itu terkekeh kikuk. “Semuanya sudah siap,” katanya. “Dari pada menunggu dua minggu, lebih baik upacara pernikahannya diadakan besok.”

“Ayah bingung kenapa kau memutuskannya buru-buru seperti ini,” Priam mengernyit heran. “Apa Iksook sudah kau beri tahu?” tanyanya. Iksook merupakan pemuka agama di desa.

“Gaunku belum jadi,” imbuh Rhaya, memperotes keputusannya. Besok merupakan malam terakhir purnama.

“Kau bisa memakai gaun ibuku,” Haris tersenyum ke arahnya. “Hanya tinggal mengepaskannya, supaya kau lebih nyaman memakainya. Untuk Iksook, aku akan memberitahunya sekarang.”

“Semoga dia tidak sibuk besok,” Priam menyeringai. “Ayah tidak tahu, kau ingin cepat bersama Rhaya.”

Lelaki itu nyengir, “Saya akan pergi ke tempat Iksook sekarang,” Dia segera keluar sebelum keluarga calon istrinya menggodanya. Suasana hatinya masih buruk mengingat kejadian semalam. Hatinya sudah bulat untuk melangsungkan pernikahan lebih awal. Dia tak akan membiarkan calon istrinya direbut!

Haris mempercepat langkahnya, hingga sampai di ujung desa. Dia membuka pagar kayu, lalu masuk ke areal rumah Iksook Inarha. Rumah Iksook ini tidak seperti rumah-rumah yang lain. Walau sama-sama terbuat dari kayu, tetapi setiap papannya dihiasi tulisan-tulisan dengan berbagai warna seperti merah dan biru.

Kamayan emari Iksook Inarha,” lelaki itu mengucap salam setelah mengetuk pintu.

Kamari anati,” balas seseorang dari dalam, mempersilahkan Haris masuk.

Lelaki itu membuka pintu dan menemukan sesosok pria tua kecil tengah menumbuk sesuatu. Ruang tamu Iksook Inarha tak ubahnya seperti toko obat. Berbagai macam tumbuhan tergantung di dinding. Ada yang kering, ada pula yang masih basah dan diletakkan di dalam wadah-wadah di atas meja kayu. Di tengah-tengah ruangan, terhampar tikar lusuh tempat Iksook Inarha menumbuk dedaunan kering.

“Haris putraku, ada apa kau datang kemari?” lelaki tua itu tersenyum lebar ke arahnya, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang tak lagi utuh.

Haris membungkuk dalam-dalam ke arahnya. Dia lalu duduk di dekat Iksook Inarha. “Saya ingin mempercepat pernikahan saya dengan Rhaya, Iksook.”

Inarha berhenti menumbuk dedaunan. Dia menatap Haris tanpa berkedip. “Apa yang menyebabkanmu ingin mempercepat pernikahan?”

“Saya...,” Haris tak berani menatap matanya. Keresahannya makin terlihat jelas. “Saya hanya ingin bersama istri saya.”

Senyum kembali di wajah Inarha. Lelaki tua itu menggeleng pelan sambil menuang hasil tumbukannya ke dalam mangkuk kosong. “Dulu, aku pun tak sabar untuk bersama mendiang istriku. Namun, aku tidak memajukan hari pernikahan secepat dirimu. Apa yang kau resahkan, Nak?” Inarha bisa menangkap kegelisahan Haris.

Haris diam sesaat, tetapi pada akhirnya dia tak bisa untuk diam terus. Dia pun menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir dengan lancar pada Inarha. Lelaki tua itu mendengarnya dengan sabar sampai Haris selesai.

“Bagaimana menurut Iksook?” tanyanya usai bercerita.

Inarha diam. Lirik yang tadi disampaikan Haris pernah didengarnya, tetapi tidak dalam upacara atau perayaan mereka. Lagu itu terlalu pribadi, diperuntukkan dari seseorang kepada seseorang. Itu hanya akan dinyanyikan dalam ritual seorang diri. Selain itu, lelaki yang ditemui Rhaya..., alis Inarha menyatu. Dia tidak yakin dengan dugaannya, tetapi merasa ngeri bila ini benar.

“Iksook?” Haris melihat perubahan ekspresi Inarha.

“Lebih baik kau melangsungkan pernikahan usai purnama.”

“Lelaki itu akan membawa istri saya pergi di malam terakhir purnama,” protes Haris.
Inarha tersenyum. “Kita akan menyelamatkannya dari lelaki itu,” jawabnya.
“Iksook?” Haris makin tidak mengerti dengan pria ini.

“Haris putraku, jika aku tidak salah, lelaki yang ditemui Rhaya adalah iblis pemikat. Dia bisa berubah menjadi laki-laki maupun perempuan, tergantung siapa pemanggilnya,” penjelasan Inarha membuat Haris membeku. “Aku tidak tahu dari mana Rhaya mengetahui mantera pemanggil iblis itu. Namun, bila iblis itu sudah berniat membawa calon istrimu pergi, itu artinya Rhaya sudah siap dipetik.”


message 34: by Dhia (last edited Mar 11, 2014 12:21AM) (new)

Dhia Citrahayi (dhiacitrahayi) | 517 comments Rhaya mematut dirinya di depan cermin. Rambut hitamnya kini tergerai dan dihiasi sepasang pita berwarna merah menyala. Setelah malam tiba, dia masuk ke kamar dan mempersiapkan diri untuk pergi ke hutan. Gaun pernikahan ibu Haris pun telah dikenakannya. Warnanya merah marun dan tepiannya dihiasi bordiran emas yang membentuk burung ankhsok, burung keramat dalam kepercayaan mereka. Gelang kaki perak, yang harusnya dipakai di pergelangan kaki kanan, dia simpan dalam sebuah kain lalu diselipkan ke sabuk yang mengikat pinggangnya. Tak mungkin dia pergi dengan gemerincing di kakinya, bisa-bisa keluarganya tahu kepergiannya. Dalam pernikahan resmi, harusnya ada penghalang yang menutupi wajahnya, tetapi karena ini hanya dihadiri olehnya dan lelaki yang dicintainya, kain itu tidak diperlukan.

Usai mempersiapkan diri, Rhaya pun keluar melalui jendela kamar. Bergerak menggunakan gaun pengantin ternyata susah. Selain berat, panjang gaun serta lengannya merepotkannya. Gadis itu menjaga agar lonceng yang terselip di sabuknya tidak berbunyi. Setelah itu, ditutupnya jendela dengan hati-hati. Dia lalu mengambil lentera yang disembunyikan di balik semak-semak. Begitu masuk ke dalam hutan, dia baru menyalakannya lalu menyusuri jalanan setapak menuju danau.

Iksook Inarha tidak merestui pernikahan mereka dipercepat. Beliau menyarankan agar pernikahan dilangsungkan paling tidak tiga hari lagi. Itu merupakan waktu yang paling cepat dan Haris tak bisa membantahnya. Rupanya dewa memihak padanya, sehingga Iksook Inarha tak menyetujui keinginan calon suaminya.

Imaka Eri Nua, renesha Thuri Nua,” Rhaya memuji dewa Nua, dewa takdir. Dia sama sekali tidak sadar, ada dua pria yang membuntutinya di belakang. Sesampainya di danau, Rhaya memasang gelang perak di kakinya dan membiarkan bunyinya memecah kesunyian hutan. Di balik pepohonan, Haris dan Inarha mengamatinya.

Malam datang,
waktu untuk para kekasih dimulai
Di antara kesenyapan petang,
mari memulai pertemuan berkasih-sayang

Jawab bila kau mendengarku,
beri aku petunjuk keberadaanmu
Aku ingin bertemu denganmu,
melepas kasih, berbagi cinta...


Kedatangan Kafah ditandai dengan munculnya kabut. Bulan tampak lebih besar dari biasanya dan kabut itu pun lebih tebal dari sebelumnya. Malam ini merupakan waktu di mana Kafah bisa membawa apa yang diinginkannya masuk ke dalam dunianya. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini dia mengenakan setelan hitam dengan keliman keemasan. Langkahnya di atas air setenang biasanya. Aura berwibawa sekaligus berkuasa membuatnya terlihat agung.

Rhaya tak mampu mengalihkan perhatiannya dari lelaki itu. Pesonanya benar-benar membuat dirinya terpikat. Saat Kafah akan menggapainya, gerak tangannya terhenti.

“Kenapa?” Rhaya mengernyit heran karena Kafah tak jadi memeluknya.

“Aku tak bisa menyentuhmu,” ia memiringkan kepalanya sedikit. “Kau mengenakan sesuatu yang membatasi kita. Lepaskan perak yang ada di tubuhmu,” pinta Kafah.

Barulah gadis itu memahami ketidakbisaan Kafah menyentuhnya. “Kau tidak suka perak?” ia melepas gelang kakinya. “Padahal, dalam pernikahan, kedua pengantin diharuskan memakai perak sampai mereka saling menyentuh.”

Lelaki itu tersenyum miring. “Perak membuatku panas, karena itu aku tidak menyukainya.” Matanya memperhatikan Rhaya membuang gelang peraknya.

“Sekarang, apa kau bisa memelukku?” Rhaya tersenyum kepadanya.

“Tentu saja,” dia merengkuh gadisnya dalam pelukannya yang dingin.

Haris makin gerah melihat keduanya berciuman. Tangannya sudah gatal untuk mencekik iblis itu. Namun, Inarha memberinya tatapan untuk sabar. Dia mengambil segenggam dedaunan yang dibenci iblis dari tasnya dan memasukkannya ke dalam lentera. Perlahan-lahan wewangian yang menusuk menyebar makin luas.

“Ayo kita pergi,” Kafah mengajaknya untuk berjalan di atas danau. Namun, matanya membelalak saat mencium bau ini. Dia segera merenggut Rhaya ke sisinya sambil menutup hidung dengan lengan baju.

“Ada apa?” tanyanya heran saat lelaki itu tampak waspada memandang suatu arah.

“Kita harus cepat pergi,” tukas Kafah, buru-buru memanggil kabut kembali. Namun, sebelum kabut datang, doa seseorang menghalangi kekuatannya keluar.

O mina Eri Tadakhua, O nayan Thuri Muan,,” Inarha keluar dari tempat persembunyiannya sambil membawa lentera yang dipenuhi asap.

Kafah makin menjauh dari tepi danau. Matanya memicing ke arah kedua lelaki yang berdiri di tepi danau. Rhaya sendiri tercekat melihat kedua orang yang dikenalnya. Wajahnya tampak pias karena takut.

“Iksook Inarha, Haris,” gumamnya pelan.

Iksook? Kafah menatap lelaki tua di sisi si lelaki muda. Pantas dia mengetahui doa lama untuk membatasi kekuatannya. Taring-taring Kafah memanjang. “Apa mau kalian?!” raungnya mengancam. Gara-gara doa tadi, aliran kekuatan di sekitarnya jadi tertekan dan kabutnya tak bisa lekas datang.

Gerinaya Humakin!” seru Inarha lantang. “Kembalikan gadis itu pada calon suaminya!”

Rhaya terpana mendengar seruan Inarha. Iblis? Kafah sama sekali bukan iblis.

“Dia bahkan tak mencintai lelaki itu!” Kafah tertawa mengejek Haris. “Sebelum berikatan dengannya, dia sudah lebih dulu berhubungan denganku!”

Muka Haris memerah membayangkan hal yang tidak-tidak antara Rhaya dengan Humakin ini. Sementara itu, Inarha tetap tenang menghadapinya. “Iblis itu ingin kau tidak mempercayai Rhaya,” bisik pria tua itu. “Humakin tak bisa menyentuhnya lebih jauh sebelum gadis itu matang untuk dipetik.”

Haris tak terlalu mengerti dengan kata-katanya. Sebenarnya, matang apa yang dimaksud Iksooknya?

“Jika Rhaya tak lagi suci, burung Ankhsok pasti akan meninggalkannya,” balas Inarha. “Aku melihat Ankhsok mengitarinya, tanda bahwa kesuciannya masih terjaga. Kau hanya menghasut! Lepaskan dia atau nyanyian para dewa akan membakarmu!”

Kafah kembali tertawa. Ia merasakan kabut bergerak ke arahnya. Sebentar lagi...

“Apa yang bisa diperbuat seorang Iksook padaku?!” air danau menerjang Inarha dan Haris.

Amoyan Eri Tadakhua,” satu kalimat lirih keluar dari mulut Inarha. Seketika, air yang menyerangnya membelah dan membanjiri sekitarnya.

Kafah membelalak melihatnya bisa melakukan itu. Perasaan lelaki itu mulai gentar saat Inarha berdiri di atas air sama sepertinya. Dewa-dewa memberkatinya! Kafah tahu seperti apa kekuatan orang-orang pilihan para dewa ini. Mereka tidak sembarangan bisa dikalahkan, serta nyanyiannya langsung sampai pada dewa-dewi.

O mina Eri Tadakhua, O nayan Thuri Muan. Kayam rimanis anaku o bian,” Inarha mengulang doanya tadi. Semakin majunya dia, semakin mundur pula Kafah. Rhaya sendiri makin tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. “Lepas atau aku akan membakarmu?” ancam Inarha.

“Bila kau membakarku, gadis ini akan terbakar juga,” Kafah memeluk Rhaya makin erat.

“Dusta!” mata Inarha menyipit ke arahnya. “Doa tak akan bisa melukai orang.” Lelaki itu kembali menyanyikan doanya. “O mina Eri Tadakhua, balakhu amanim enariya. O hisam Tadakhua, rima una aleyarim. Anaku o biane Rhaya, lirase tarakh biane Rhaya.

Mendadak udara di sekitar mereka berubah menjadi panas menyengat. Haris sendiri sampai mengeluarkan keringat karena udara sepanas ini. Meski tubuhnya mengeluarkan asap, Kafah masih tak mau melepas Rhaya. Kabut muncul di bawah kakinya. Pintu penghubung antara dunianya dengan dunia ini mulai terbuka, tapi tentu saja Inarha tak membiarkan pintu itu terbuka.

Ina aruyan Eri Tadakhua. Kukhulam usi amalin,” doanya terdengar makin lirih.

Langit bergemuruh menjawab Inarha. Awan-awan mendung bermunculan di atas danau dan menghalangi sinar bulan yang memberi kekuatan pada Kafah.

O sakai ima Rhaya. O sakai rua Rhaya,” suara Inarha makin pelan, tetapi jawaban langit justru makin keras. Kemudian petir menyambar tubuh Kafah, membuat lelaki itu terbakar.

Rhaya menjerit saat Kafah melepaskannya, hingga ia tercebur ke dalam danau.

“Haris!” Inarha berseru ke arahnya meski pandangannya masih tertuju pada Kafah yang melolong kesakitan.

Haris terjun ke dalam air dan berenang ke arah Rhaya yang mulai tenggelam. Gaun yang dikenakan Rhaya menyulitkannya untuk berenang. Sementara itu, di permukaan danau, Kafah berupaya menarik air untuk memadamkan api yang membakarnya. Namun, tanpa sinar rembulan dia sama sekali tak berdaya.

Bita aruna muad!” makinya.

Khayan Eri Tadakhua,” jawabnya tenang, bersiap untuk melantunkan doa lagi untuk menyakiti si Humakin.

Iblis itu mundur kemudian berlari masuk ke dalam hutan. Berpuluh tahun dia menghadapi berbagai macam Iksook, bagaimana mungkin masih ada seorang Iksook seperti itu? Dia berusaha mencari sinar rembulan. Suatu saat dia akan membalas Iksook itu!

***

Haris menarik Rhaya ke tepi danau. Mereka berdua terbatuk-batuk, kemudian tangis Rhaya pecah. Gadis itu menjerit histeris sambil berusaha menceburkan dirinya ke dalam danau.

“Rhaya!” Haris menjauhkannya dari danau.

“Kenapa kalian mengusirnya?!” serunya marah. “Kafah! Kafah!” jeritnya, memanggil-manggil nama kekasihnya.

Haris terlihat miris dengan keadaan calon istrinya. Dia menoleh ke arah Inarha yang mendekati mereka.

“Ini yang kumaksud dengan memetik,” ujar Inarha prihatin. “Jiwa Rhaya sudah terperangkap dalam jerat pesona Humakin. Karenanya, saat si iblis dijauhkan darinya, mentalnya jadi terganggu,” tangannya yang keriput menyentuh dahi Rhaya. “Jiwa merupakan makanan paling nikmat bagi iblis.”

“Apa tidak ada cara untuk menolongnya, Iksook?”

“Ada,” lelaki itu tersenyum. “Karena itu aku memintamu melangsungkan pernikahan tiga hari lagi.” Inarha lalu berbisik ke telinga Rhaya, seketika gadis itu pingsan dalam pelukan Haris.

***

Tiga hari kemudian...

Seruan selamat terdengar di luar pelataran rumah Haris. Si pengantin wanita, yang wajahnya tertutup kain merah masuk ke dalam rumahnya dibimbing oleh ibunya sendiri. Hari masih siang, tetapi kini waktunya dia berada di kamar bersama istrinya. Di luar kamarnya, suara gelak tawa dari keluarga serta tamu-tamunya terdengar semarak. Kamar Haris tampak berbeda dengan berbagai macam hiasan berwarna mencolok. Lelaki itu duduk berhadapan dengan istrinya di tepi ranjang. Di pergelangan tangan mereka terikat gelang perak yang dihadiahkan Iksook Inarha.

Haris menarik napas dalam-dalam. Sejak peristiwa malam itu, dirinya dilarang bertemu Rhaya. Calon istrinya secara khusus dipingit di rumah Inarha. Keluarga Rhaya, yang diberitahu mengenai apa yang dialami putrinya, tak pelak merasa malu sekaligus sedih dengan keadaan putrinya. Setelah sepakat untuk merahasiakan masalah yang terjadi, Ibu Rhaya pun menemani Rhaya di rumah Iksook Inarha.

Haris menyingkap penutup wajah Rhaya. Napasnya tertahan sejenak mendapati calon istrinya tak banyak berubah dari saat terakhir mereka bertemu. Satu-satunya yang berubah hanyalah kekosongan dalam sinar matanya. Melihat hal itu membangkitkan rasa sedih Haris. Inarha mengatakan, untuk mengembalikan jiwa yang hampir dipetik membutuhkan waktu lama dan dia harus sabar sampai istrinya pulih.

Haris mengangkat dagu istrinya dengan lembut. Dia mendekat ke arahnya, lalu mencium dahinya, pipinya, dan bibirnya. Sebelum melepas hiasan rambut istrinya, Haris menggumamkan doa keselamatan.

Jiwa kita telah bertaut,
dalam kesucian yang direstui para dewa
Kau yang kucinta,
kuharap selalu aman sentosa

Dalam lindungan dewa tertinggi, Tadakhua
aku mengharapkan jiwamu kembali padaku
Supaya kita bisa menjalin kasih bersama,
hingga ajal menyatukan dalam surga di langit


Doanya membuat perhatian Rhaya berpaling padanya. Senyum Haris terulas saat berhasil mendapat perhatian istrinya. “Aku mencintaimu,” ucapnya tulus. “Baik dulu, sekarang, ataupun kelak. Hatiku adalah milikmu.” Sekali lagi dia mencium bibir istrinya.

O Eri Tadakhua,
ughar iskan amaeni
Uma Haris ena Rhaya,
O sakai ima Noa, O sakai rua Noa



message 35: by Dian Achdiani (new)

Dian Achdiani | 85 comments TERJEBAK



Udara malam menebarkan aroma laut samar-samar. Angin malas-malasan bergerak.



Mesin kapal laut keluaran terbaru ini tak bersuara sedikitpun. Hanya suara kecipak air menyentuh dinding kapal yang terdengar. Di luar, di geladak kapal.



Sebenarnya di beberapa lantai kapal di dalam, justru riuh rendah tak berkesudahan. Di satu lantai malah ada ruangan untuk pertunjukan. Dan saat itu sedang diselenggarakan konser. 



Sebagian besar penumpang kapal sebenarnya juga berhubungan dengan musik. Siswa-siswa sebuah akademi musik yang akan tampil di seberang pulau. Maka tak heran jika mereka antusias dengan pertunjukan musik. Antusias menyaksikan, atau bahkan antusias mengkritik setengah sok tahu teknik yang dipakai oleh para musisi, dan sebagainya.



Atau, justru seperti dua remaja ini: alih-alih mendengarkan konser, mereka berjalan malas menuju ke geladak. Di atas tidak terlalu terdengar suara-suara dari panggung pertunjukan.



Dan mereka tertegun.



Jernih menelusup langsung ke dalam pelosok hati, meresap ke pori-pori, suara flute terdengar.



Rangga menoleh pada Rudi, begitu pula sebaliknya. Siapa yang sedang bermain flute di geladak? Apakah anak akademi?



Tanpa suara mereka berjalan perlahan mendekati sumber suara. Tanpa suara juga mereka berhenti, tepat di sisi orang yang sedang meniup flute itu. Di sisi kapal, menghadap samudra luas.



Sampai lagunya selesai.



Dan orang itu menoleh.



"Ah, semoga permainanku ini tak mengganggu--"



"Tidak, tidak, sama sekali tidak," sahut Rangga, "justru kami terpukau oleh permainan anda, tuan--"



"Anggara. Ah, permainanku tak ada istimewanya. Hanya ingin menyendiri saja, di bawah sana terlalu hingar-bingar," sahutnya merendah. "Dan tak usah panggil tuan--"



Rangga mengulurkan tangan, mengajak berjabatan, "Saya Rangga, ini rekan saya--" ia menunjuk sebelahnya.



"Rudi. Kami siswa akademi, karenanya selalu haus menimba ilmu, pak Anggara, maafkan kami--"



Anggara terkekeh. "Sepertinya kita sama, berniat menyingkir dari keriuhan," dia menunjuk pada keduanya. Keduanya membawa alat musik masing-masing, sebuah biola dan sebuah flute juga.



Ketiganya tertawa.



Entah siapa yang memulai, ketiganya terhanyut memainkan lagu bersama-sama. Terus. Dan terus.



Tak menyadari bahwa mesin kapal terhenti tiba-tiba!



***



"Apa yang terjadi?" Kapten bergegas mendekati Juru Mesin.



"Tak bisa dijelaskan, Sir, semua

mesin mendadak berhenti. Tak ada kelainan, tak ada--" Juru Mesin tak bisa menyelesaikan laporannya karena tiba-tiba cahaya yang sungguh sangat menyilaukan seperti menyelimuti keseluruhan kapal.



Keseluruhan. Menyilaukan. Hingga tak terlihat dari luar. Hingga lenyap.



***



Jeritan, seruan, bahkan sentakan marah terdengar tak keruan saat semua penumpang berikut awak kapal merasa kapal itu seperti tercerabut dari lautan, dan dipindahkan, disimpan begitu saja di atas tanah. Di daratan. Entah di mana, karena sejauh peta perjalanan, mereka sedang di tengah samudra, jauh dari pulau kecil sekalipun, apalagi benua.



Sinar menyilaukan itu perlahan memudar. Mereka bisa melihat sekeliling lagi.



Dan mereka memang berada di atas tanah. Di atas daratan. Entah di mana.



Mulanya Kapten Kapal keluar, turun dari kapalnya, diikuti awaknya. Lalu beberapa penumpang. Beberapa penumpang lagi. Dan lagi.



Di sekeliling mereka, nampak beberapa orang mengamati. Seolah mengawasi. Dengan raut wajah tak terbaca.



Seperti bukan penduduk setempat.



Benar saja. Karena kemudian, berjalan mendekati para penumpang yang baru turun dari kapal ini, beberapa ora--ekor? Atau, bagaimana sih memanggilnya? Beberapa makhluk menyeramkan, tinggi besar, berbulu tebal, ada yang berbulu lurus, ada yang berbulu gimbal, berwarna merah, kuning, coklat, hitam, bahkan ada hijau dan biru.



Monster?



Langkah kaki mereka berdebum karena besar badan mereka, tapi mereka bahkan sama sekali tidak bersuara!



Berdiri tepat di hadapan Kapten Kapal, dan tiba-tiba saja semua penumpang dan awak kapal mendadak mengerti apa yang disampaikan oleh para monster itu.



Mereka ada di Tanah Makhluk Besar. Dan tujuan makhluk-makhluk besar itu 'menculik' mereka adalah--



--bahwa mereka harus bermain musik untuk Kaum Besar itu, kapan pun diminta.



Para manusia itu bebas ke mana saja di pulau ini, makan apa saja yang mereka mau, tetapi saat ada seorang saja makhluk ingin dimainkan musik, keinginannya harus terlaksana. Dan tak ada pilihan, karena perintah akan langsung dikirimkan pada otak pemain musik yang dipilih.



Debum-debum terdengar lagi saat makhluk-makhluk besar itu meninggalkan mereka. 



"--telepati?" Rangga bertanya setengah berbisik pada Rudi.



"Sepertinya ya. Telepati tingkat tinggi kalau sampai kita harus memainkan musik kapanpun diminta--" Rudi tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena tepat saat itu di depan mereka, pak Anggara sedang berhadapan dengan se--seorang (?) monster seperti tadi, tapi dengan ukuran kecil. Mungkin anak-anak.



Monster kecil itu hanya berdiri diam tepat di hadapan pak Anggara, tapi pak Anggara seperti terprogram, mengeluarkan flute-nya, dan memainkan lagu anak-anak, riang gembira. Monster cilik itu nampak bertepuk-tepuk tangan.



Selesai. Monster itu berlalu. Pak Anggara menyimpan flute-nya hati-hati. Menoleh, melihat Rangga dan Rudi, ia mengangkat bahu.



"Benar-benar tak bisa dilawan," keluhnya.



Rangga menatap Rudi. Rudi menatap Rangga.



"Sampai kapan kita harus menuruti perintah mereka? Dan kita ini ada di mana?" kening Rangga berkerut.



"Entah sampai kapan," sahut seseorang yang tadi hanya menatap mereka saat turun dari kapal. 



Rangga menatapnya penuh selidik. Pakaian orang itu--seperti pakaian dari abad pertengahan...



"Kalian berasal dari mana? Dan tahun kalian di-diculik, tahun berapa?" orang itu malah bertanya.



"Kami dari pulau Jawa. Akan ke Sulawesi. Dan saat ini, tahun 2014--"



Orang itu meringis. Mengulurkan tangan mengajak bersalaman, yang ragu diterima Rangga. "William, dari Britania Raya, tahun 1735."



"Dari tahun 1735? Dan selama ini, kalian terus memainkan musik untuk--untuk makhluk-makhluk itu?"



William mengangguk.



"Tak ada jalan keluar?" Rangga penasaran.



William menggeleng.



Rudi mengeluarkan ponselnya. "Rangga--" bisiknya sambil menyorongkan ponsel itu.



Mati total. Tak bisa berhubungan dengan siapapun, di manapun.



***



"Tapi bagaimana bisa kapal sebesar itu mendadak hilang? Tak ada laporan cuaca buruk di wilayah itu! Tak ada permintaan tolong dari radio kapal! Kalau kecelakaan, tak ada tanda-tanda kapalnya, puing-puingnya, bahkan penumpangnya, hidup maupun mati. Radar tak menemukan mereka, helikopter-helikopter tak melihat apapun di kordinat seharusnya mereka berada--"



Beberapa orang yang berada di sekelilingnya tak menjawab. Beberapa berpakaian seragam, seragam pelabuhan, seragam kepolisian, bahkan seragam SAR, siap sedia untuk diturunkan menangani kecelakaan.



Entah di mana. Entah kapan.



FIN


message 36: by Redtailqueen (new)

Redtailqueen | 90 comments Ulat Kuping

Sejak kecil aku bisa melihat apa yang biasanya tak bisa dilihat oleh kebanyakan orang. Bukan hantu atau semacamnya. Mereka berbentuk seperti kupu-kupu, beraneka ukuran beragam warna, berterbangan keluar dari kepala manusia. Sangat indah. Aku sendiri juga tak mengerti mereka itu apa. Ibu bilang mereka adalah Cinta. Ayah berkata mereka adalah Kebahagiaan. Tentu saja ayah dan ibuku juga tak bisa melihat mereka, orang tuaku malah merasa bangga karena putrinya memiliki kemampuan khusus. Awalnya aku juga tak menganggap diriku aneh karena kemampuan ini.. Namun belakangan aku mulai melihat makhluk selain para kupu-kupu..

“Itu lagu apa?” tanya Nina setelah aku selesai memetik gitarku.

“Entahlah, aku juga tak tau apa judulnya. Kalau tak salah dulu aku mendengar seorang pengamen buta menyanyikanya di pinggir jalan,” jawabku sambil berusaha menyetel satu dawai yang terdengar sumbang.

“Bukankah sebaiknya kau membawakan lagu yang terkenal saja saat audisi besok? Misalnya lagu dari boyband Lostway?”

“Aku kan sudah bilang aku tak suka lagu-lagu mereka,” sahutku cemberut.

“Kenapa? Lirik lagu mereka kan sangat menyentuh dan romantis.. Lagipula wajah personilnya cakep semua. Suaranya si Vista itu.. benar-benar bikin meleleh.. Bahkan seluruh semesta tak akan sanggup membendung rasa cintaku padamu~” Lagi-lagi Nina menggodaku dengan menyanyikan lagu terkutuk itu. Sungguh menyebalkan!

“Baiklah! Lagu-lagu mereka memang terkenal.. Mereka memang terkenal.. Tapi tetap saja.. mereka itu.. monster..”

“Hah? Apa? Tadi kau bilang apa?” Tampaknya pikiran Nina masih dipenuhi alunan lagu kesukaanya itu.

“Ah, tidak.. Bukan apa-apa..”

Tiga bulan berikutnya berlalu dengan sangat cepat. Tak disangka aku lulus audisi ajang pencarian bakat menyanyi di suatu acara stasiun televisi swasta. Dalam tiga bulan itu aku sibuk melatih suaraku, menyanyi di hadapan ratusan penonton, dinilai oleh para juri, mempromosikan diriku, mencari dukungan, membangun klub penggemar, dan berbagai kegiatan merepotkan lainya demi membangun karirku sebagai penyanyi terkenal. Tapi minggu lalu aku berada di posisi tak aman dan terancam mungkin dikeluarkan karena SMS pendukungku tak cukup banyak. Padahal para juri menyayangiku dan berharap banyak dariku. Aku tahu apa sebabnya, itu karena aku menolak menyanyikan lagu-lagu yang sedang populer saat ini, termasuk lagu-lagu ciptaan boyband Lostway.

Sejak pertama kali mendengar lagu Lostway dikumandangkan di media elektronik, aku sudah merasa ada yang aneh. Alunan musik mereka menyebarkan sesuatu di udara, bukan kupu-kupu, lebih mirip seperti telur-telur kecil serupa serbuk kaca berkilauan. Telur-telur itu masuk ke dalam kepala semua orang, lalu menetas menjadi ulat-ulat kecil berwarna hitam. Aku bisa merasakan ulat-ulat itu memakan isi kepalaku sambil terus menggumamkan lagu mereka berulang-ulang! Setelah beberapa hari puas melahap otakku, akhirnya ulat-ulat itu merayap keluar dari telingaku dan telinga semua orang, telah berukuran sebesar anak sapi, merangkak di jalan bagaikan lintah menuju para penciptanya. Karena itulah, aku akan menutup telingaku rapat-rapat setiap kali mendengar nada pembuka lagu Lostway.

“Sudah diputuskan, dalam babak semifinal akhir minggu ini kau akan berduet dengan Vista, salah satu personil boyband Lostway,” kata Mbak Rui, guru pembimbing vokal, tanpa ekspresi.

“Eh!? Tapi.. Tapi.. Apa tak bisa ditukar saja, Mbak? Bagaimana kalau aku berduet dengan Mona Sally saja?” seruku memohon.

“Tidak bisa, jenis suaramu terlalu mirip dengan Mona Sally, tidak akan jadi duet yang bagus. Ayolah, kau tidak bisa terus-terusan membenci boyband Lostway. Mungkin suatu saat nanti kalian bisa bekerja sama membuat sebuah album. Kau harus melakukan ini agar bisa menjadi terkenal!” Mbak Rui menyindir keegoisanku.

“Tapi.. Aku menyanyi bukan karena ingin terkenal.. Aku hanya.. ingin menyebarkan.. kupu-kupu.. Maksudku, aku menyanyi untuk menyebarkan rasa cinta dan kebahagiaan pada semua orang..” Aku masih berusaha membujuknya, tapi wanita itu seolah tak mendengarku.

“Oh, itu dia! Selamat datang, Vista. Terima kasih sudah mau berpartisipasi dalam acara kami!”

Tidak. Tidak! Orang itu.. Monster itu muncul!!

“Justru saya yang merasa sangat terhormat telah diundang ke acara ini.” Makhluk mengerikan itu menjabat tangan Mbak Rui, lalu pandanganya beralih padaku. “Halo, mohon kerjasamanya. Aku sudah melihat beberapa pertunjukanmu, suaramu sangat menarik.”

Aku mencoba sebisa mungkin tak menunjukan ekspresi jijik saat menerima pujianya. Aku tahu Vista sebenarnya adalah pemuda berwajah cantik, namun dalam pandanganku penampilanya sangat menjijikan. Ulat-ulat hitam besar itu, yang telah memakan isi kepala orang-orang, menggeliat mendekatinya dari segala penjuru. Tubuh pria itu berupa gumpalan biru gelap raksasa yang memiliki banyak mulut dan taring, melahap setiap ulat yang datang. Hanya dengan menatapnya aku seolah bisa membayangkan mencium aroma busuk dan raungan mengerikan darinya.

Maka aku menyumbat kedua kupingku di hari pertama latihan vokal bersamanya. Aku hanya mencoba menghitung tempo saat Mbak Rui mulai memainkan pianonya, menebak-nebak kapan giliranku menyanyikan bait kedua liriknya. Telur-telur kecil itu berterbangan lagi, kali ini keluar dari mulutku sendiri, merasuki pikiran semua orang yang berada di ruangan itu kecuali diriku dan Vista. Hasilnya beberapa kali aku dimarahi Mbak Rui karena tampaknya intonasi suaraku tak sesuai dengan musiknya, atau karena aku sering terlambat mengikuti iramanya. Vista hanya tertawa, sepertinya dia berusaha bercanda dan menghiburku, tapi aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakanya.

Di hari ketiga akhirnya Mbak Rui menangkapku sedang memakai penyumbat telinga. Dia sangat marah. Wanita itu berkali-kali minta maaf pada Vista dan berusaha menjelaskan bahwa aku tidak bermaksud bersikap tak sopan padanya. Di luar dugaan monster itu tampaknya tak tersinggung. Personil boyband itu malah semakin tertarik padaku, dia bilang baru pertama kali bertemu orang yang tak suka pada lagu-lagunya. Uh, kurasa aku harus mempersiapkan otakku dijelajahi makhluk-makhluk mengerikan itu sampai akhir minggu ini.

“Aku tau kau bisa melihatnya..” kata monster itu saat istirahat makan siang.

“Melihat apa?”

Monster itu mendekatkan tubuhnya, lalu membisikan sebuah kalimat yang sangat mengejutkanku. “Kupu-kupu.. dan makhluk yang sedang menguasai tubuhku..”

“Aku juga bisa melihatnya,” lanjutnya. “Kau yang paling banyak menyebarkan kupu-kupu saat bernyanyi, karena itulah aku tertarik padamu. Ternyata kau memang bisa melihatnya. Aku jadi paham mengapa kau tak suka pada lagu-lagu kami.“

“Apakah.. Apakah personil Lostway yang lainya juga bisa melihatnya?”

“Tidak, hanya aku. Mereka juga memiliki makhluk seperti ini,” Vista menunjuk tubuhnya sendiri, “..Tapi punyaku yang paling besar. Apa kau tau ini makhluk apa?”

Aku menggeleng.

“Makhluk ini disebut Hamana, sedangkan kupu-kupu yang sering kita lihat disebut Hanama. Sebenarnya peran mereka hampir sama. Hanama adalah inspirasi, melalui karya seni kita menyebarkanya pada orang lain. Kupu-kupu itu akan menanam telurnya di kepala setiap orang, bertumbuh, kemudian menyebar kembali pada orang lain. Sementara Hamana bertugas melahap pikiran negatif, makhluk ini hanya bisa menyebarkan telurnya, lalu semua ulat yang sudah memakan pikiran negatif akan kembali padanya. Yah, bisa dibilang aku dan teman-temanku mengorbankan diri kami sendiri untuk menyerap pemikiran buruk itu dari semua orang.”

“Jadi monster itu.. maksudku Hamana.. tidak memakan inspirasi dari kepalaku?” tanyaku ragu.

“Tentu saja tidak. Tak usah khawatir, Hamana tidak berbahaya.” Vista tertawa. Aku jadi merasa sedikit lega.

Akhirnya sisa minggu itu kuhabiskan dengan berlatih bersama Vista. Sensasi saat ulat-ulat hitam itu menggerogoti kepalaku memang tak menyenangkan, tapi aku mencoba mengabaikanya karena sudah tahu makhluk itu tak akan menyakitiku. Pandanganku pada Vista juga mulai berubah, sepertinya dia memang tak seburuk penampilanya. Hubungan kami menjadi semakin akrab dan kompak. Hingga saat pertunjukan pun tiba..

Jantungku berdegup sangat kencang. Ulat-ulat itu masih mengulangi hasil latihan kami dalam kepalaku. Tak sengaja aku mendengar salah seorang pengurus acara mengatakan perolehan SMS pendukungku sangat sedikit. Itu artinya aku harus berusaha keras, menyebarkan telur-telur agar menyerap pikiran buruk dari para penontonku, lalu mungkin mereka akan berubah pikiran kemudian mengirimkan SMS padaku. Kalau tidak.. aku akan dikeluarkan dari acara ini.. karirku sebagai penyanyi akan berakhir.

“Tidak perlu cemas, kau hanya perlu bernyanyi sesukamu.” Tiba-tiba saja Mona Sally memberiku saran ketika kami sedang menunggu penata rias di ruang ganti. Rupanya biduan wanita senior itu lebih ramah daripada perkiraanku.

“Terima.. kasih..”

“Apa kau.. sudah dipengaruhi bocah itu?” Mona Sally tampak terkejut.

“Apa..?” Aku tak mengerti apa maksudnya.

Wanita itu menunjuk sesuatu di kepalaku. Saat melihat ke cermin akhirnya aku sadar.. Ada Hamana kecil di atas kepalaku!

“Anda juga bisa melihatnya!? Anda bisa melihat makhluk ini?” seruku ikut terkejut.

Mona Sally mengangguk. “Makhluk itu.. dia parasit.”

“Saya tau, Hamana bertugas mengambil pikiran negatif dari orang lain.”

Kali ini Mona Sally menggeleng. “Tidak, dia memakan semuanya. Pikiran negatif, pikiran positif, semuanya. Dia bahkan memakan semua kemampuan manusia yang dihinggapinya. Sudah kuduga seharusnya aku tidak membiarkan bocah itu..”

“Tapi.. saya pikir Hamana tidak berbahaya..” Kini aku benar-benar khawatir.

“Dulu.. aku pernah mengidolakan seorang penyanyi terkenal yang juga dikuasai oleh makhluk itu..” Wanita itu mulai bercerita. “..Dia sangat berbakat, pandai, dan baik hati.. Pria itu yang membimbingku meniti awal karirku.. Tak lama setelah aku merilis album perdanaku, pria itu tiba-tiba berhenti berkarya. Dalam waktu singkat monster itu menyelimuti seluruh tubuhnya, tentu saja hanya aku yang bisa melihatnya, jadi aku tak bisa mengungkapkan kekhawatiranku pada orang lain. Kemudian dia semakin sering terlibat dalam berbagai kasus dan skandal, pria itu jadi populer lagi, namun bukan dalam hal positif. Hingga dia tak tahan lagi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri..”

“Maksud Anda.. Stevan Dion..? Penyanyi kontroversional itu?” Anggukan Mona Sally menjawab pertanyaanku.

“Namun tak bisa diungkiri, karya-karyanya memang luar biasa. Dalam beberapa periode lagunya terus dikumandangkan oleh media elektronik, sayangnya lagu-lagu itu juga telah terjangkit, melodinya ikut menyebarkan keturunan monster itu. Sejak saat itu aku terus bernyanyi, untuk memberantas makhluk kegelapan itu. Aku harus melakukanya, kalau tidak monster itu akan terus berkembang biak, melahap pikiran dan bakat semua orang, lalu menguasai seluruh umat manusia. Aku tak ingin ada orang lain yang bernasib sama dengan Stevan..”

“Ketika pertama kali melihatmu aku sudah yakin kau bisa melihat para kupu-kupu inspirasi.. dan mungkin kau bisa membantuku menyebarkanya pada semua orang.. Tapi..” Wanita tua itu menatapku iba.

“Tolong.. Tolonglah saya.. Bagaimana.. Bagaimana caranya agar saya bisa terbebas dari pengaruh Hamana..?” Kepalaku terasa pusing, seluruh tubuhku bergetar ketakutan.

“Aku juga tak yakin.. Tapi mungkin cara ini bisa berhasil..”

Mona Sally mendekat dan membisikan idenya di telingaku. Suaranya lembut namun punya kemampuan tak terduga yang mampu menembus ratusan gaung lagu penyebar telur monster dalam otakku..


message 37: by Redtailqueen (new)

Redtailqueen | 90 comments Ketika berdiri di atas panggung bersama pemuda monster itu, aku sudah tak lagi merasa gentar. Kuhirup napas perlahan, kini sekujur tubuhku terasa sejuk dan begitu ringan. Jantungku berdetak teratur, mungkin dengan sedikit irama kegembiraan. Kupandangi wajah semua penonton yang tak sabar menyaksikan penampilanku, juga wajah para juri yang siap mengkritik kesalahanku. Kukembangkan senyum penuh semangat ketika nada pembuka laguku mulai dilantunkan.

Vista mengawali bait pertama lagunya dengan baik. Tentu saja, mungkin sudah ratusan kali dia menyanyikan lagu ini sejak awal debutnya sampai sekarang. Sedikit ketukan nada piano lalu giliranku akan tiba.. Kupejamkan mataku.. Saatnya beraksi!

Alunan suaraku melompat riang, jernih bagaikan dentingan gelas kaca berisi air, lembut serupa hembusan udara di antara helaian daun bambu, bergemerincing seperti lonceng angin, seolah membawaku dan semua pendengar memasuki dunia impian ajaib. Kubuka lagi mataku ketika bagianku berakhir. Bisa kulihat ekspresi kebahagiaan terpancar di wajah para penonton, para juri tercengang, Mbak Rui tampak kesal karena aku tak bernyanyi seperti saat latihan, sementara Mona Sally tersenyum bangga.

Aku tak bisa membaca ekspresi Vista, karena dalam pandanganku dia masih berwujud seperti monster mengerikan. Sepertinya dia juga agak terkejut, akibatnya pemuda itu terlambat satu nada sebelum buru-buru menyanyikan bagian duetnya. Suaranya terdengar agak sumbang karena dipaksa mengimbangi nada tinggi di akhir bagianku. Kemudian bersama-sama kami mengulangi lirik bait terakhirnya sampai mencapai tarikan nada penutup. Bisa dibilang secara keseluruhan suara dan penampilanku mendominasi duet ini.

Komentar dan pujian dari para juri tak begitu kuperhatikan. Aku hanya berusaha tersenyum dan mengucapkan terima kasih untuk menanggapinya. Yang paling menarik perhatianku adalah mereka; ratusan, ribuan, jutaan, milyaran kupu-kupu inspirasi.. menari bergelombang penuh warna.. membanjiri ruang pertunjukan ini.. Sebagian besar telah tenggelam memasuki kepala orang-orang yang bahagia.. Sebagian kecil berusaha menembus tubuh monster yang menghinggapi beberapa orang.. Termasuk Vista..

Setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat lagi wajah cantik personil boyband Lostway itu. Kini hanya tinggal beberapa bagian tubuhnya yang masih diselimuti gumpalan lemak dan taring monster itu. Tampaknya para Hanama telah berhasil mengalahkan separuh Hamana-nya. Tapi dia tak tersenyum.. Dia menatapku tajam.. Ekspresi wajahnya dipenuhi dendam dan amarah..

“Selamat karena kau tidak jadi dikeluarkan minggu ini!” Mona Sally langsung menyambutku setelah acara berakhir.

“Seharusnya Anda memberiku selamat karena sudah memasuki babak final..” Kuterima pelukanya dengan senyum riang.

“Benar, tinggal satu langkah lagi dan kau akan jadi penyanyi terkenal!”

Aku menggeleng. “Tidak, aku bukan bernyanyi untuk menjadi terkenal. Aku ingin menjadi seperti Anda, menyebarkan lebih banyak lagi inspirasi pada semua orang. Lagipula aku belum bisa sepenuhnya membebaskan Vista dari monsternya.”

Mona Sally tersenyum lembut. “Tak usah terburu-buru. Sebentar lagi kita pasti akan bisa menguasai dunia..”


message 38: by Khalda (new)

Khalda | 9 comments Dunia Tanpa Suara

Alicia membuka headset yang selalu setia menemaninya. Gadis itu berusaha menajamkan pendengarannya, mencoba untuk mencari sebuah suara yang mencurigakan.

Yang terdengar olehnya hanyalah langkah kaki seorang remaja laki-laki yang berjarak sekitar dua puluh meter darinya danbisik-bisik sepasang suami istri yang hendak tidur di sebuah rumah.

Mendesah kecewa, Alicia kembali memasang headsetnya, memblokir suara-suara itu dengan musik favoritnya.

“Bukan, bukan di sini,” dia berkata kepada Vincent, yang duduk di kursi pengemudi. Vincent kembali menghidupkan mesin mobilnya dan dalam hitungan detik mobil itu sudah kembali meluncur melewati jalan yang sepi.

“Maaf karena sudah membuatmu terlibat,” wanita muda yang duduk di kursi penumpang berkata. Wanita itu sedang sibuk berkutat dengan laptopnya, mengetikkan rangkaian kode-kode yang tidak Alicia mengerti.

“Tak apa-apa,” balas Alicia sambil menahan kuapnya. “Besok hari Minggu, jadi aku bisa tidur sepanjang hari kalau aku mau.”

Wanita itu tidak mengeluarkan komentar apapun hingga Vincent mencolek bahunya, membuatnya terlonjak kaget. Dia menoleh ke arah Vincent dan mengangkat alisnya, “Kenapa?”

“Alicia tadi mengatakan sesuatu,” Vincent menjawab tanpa mengalihkan padangannya dari jalan.

“Ah, maaf,” wanita itu menoleh ke belakang dan tersenyum minta maaf kepada Alicia. “Apa yang tadi kau katakan?”

“Tak apa-apa, aku libur besok,” Alicia mengulang perkataannya. Dia mencodongkan tubuhnya untuk mengintip layar laptop milik wanita itu. “Kak Salve sedang mengerjakan apa sih?”

“Mencoba menebak di mana si maniak itu akan muncul malam ini,” Salve menjawab. “Vin, mungkin kita harus ke gedung bioskop di sebelah barat kota. Itu lho, yang pernah terbakar beberapa tahun lalu.”

“Got it,” balas Vincent sebelum dia mengubah arah perjalanan mereka.

Alicia kembali menguap dan memejamkan matanya. Setahunya gedung bioskop yang dimaksud oleh Salve berjarak cukup jauh dari tempat mereka berada sekarang. Mungkin dia bisa tidur selama beberapa menit.

“Alicia, bangun! Kita sudah sampai!”

Alicia tersentak bangun ketika Vincent mengguncang bahunya untuk membangunkannya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur, tetapi sekarang Salve dan Vincent sudah berada di luar mobil. Salve sedang mengamati gedung bioskop terbengkalai yang sekarang berada di depan mereka.

“Ini tempat terakhir yang bisa kupikirkan,” wanita itu berkata. “Kalau kita tidak menemukannya di sini, aku tidak tahu harus mencari di mana lagi.”

Alicia keluar dari mobil, menutup pintunya begitu dia sudah berada di luar. Vincent sedang sibuk berbicara dengan seseorang, kemungkinan ayahnya, melalui ponselnya. Alicia berusaha untuk tidak menguping, tidak semua orang suka pembicaraannya dikuping.

Mencopot headset-nya, Alicia kembali menajamkan pendengarannya. Tapi, sekali lagi dia tidak mendengar apapun, selain suara percakapan Vincent dengan ayahnya juga suara nafas Salve dan Alicia sendiri.

“Aku tidak mendengar apapun yang aneh,” Alicia melaporkan.

Salve mendesah, “Sekarang aku benar-benar tidak tahu harus mencari kemana lagi,”.

Vincent mematikan ponselnya. “Unit-unit yang lain juga belum menemukan si maniak itu. Kita sudah menyusuri seluruh daerah ini, mungkin sebaiknya kita kembali ke markas.”

“Dan membiarkan seseorang yang tak berdosa menjadi korban lagi? Tidak, terima kasih!” tukas Salve tajam. Dia duduk bersila di atas aspal, kembali berkutat dengan laptopnya yang tetap dibawanya ketika dia keluar dari mobil.

“Mungkin ada sesuatu yang aku lewatkan. Pasti ada sesuatu yang aku lewatkan!” gumam Salve. Vincent mengalah dan memilih untuk mengikuti kemauan partner, atau mungkin, menurut Sarah ketika dia memperkenalkan Salve kepada Alicia, lebih tepat disebut calon istri.

Alicia duduk di seberang Salve, memperhatikan wanita itu bekerja. Dia baru mengenal Salve hari ini, ketika Vincent membawanya ke rumah kosan Alicia untuk meminta bantuan gadis itu. Sarah sedang berada bersamanya pada saat itu, dan langsung mengenalkan mereka berdua.

“Dia aneh…”

“Halo, Cal!” gumam Alicia. “Lama tidak mendengar darimu. Kemana saja kau beberapa hari kebelakang?”

“Aku serius! Dia aneh!”Cal bersikeras.

“Apanya yang aneh?” tanya Alicia dalam hati.

“Kau tidak menyadarinya?” seru Cal. “Seharusnya kau menyadarinya ketika kau melihatnya untuk yang pertama kali!”

“Aku memang bodoh, Cal. Tapi aku tahu apa yang kau maksud!” jawab Alicia. “Mungkin dia ahli dalam mengendalikan pikirannya.”

“Tapi, pernahkah kau bertemu dengan orang yang tidak bisa kau dengar pikirannya? Maksudku, sama sekali?”

Alicia memilih untuk tetap diam. Dia langsung tahu bahwa ada yang aneh dengan Salve ketika dia pertama kali melihatnya. Biasanya, tidak peduli seberapa ahli orang tersebut dalam mengendalikan pikirannya, Alicia tetap bisa mendengarnya walaupun samar-samar. Tapi Salve berbeda, Alicia sama sekali tidak bisa mendengar apapun walaupun dia sudah berusaha sekeras mungkin. Rasanya seakan-akan pikiran Salve dikelilingi oleh dinding kedap suara.Dia harus menanyakan hal itu kepada Vincent nanti.

Musik dari headset-nya berhenti. Alicia mengeluarkan mp3 player pemberian Alex, ibu jarinya hendak menekan tombol play ketika tiba-tiba dia mendengar suara gemerisik dedaunan, diikuti dengan pikiran-pikiran yang dia kenali.

“Bagaimana bisa mereka bisa berada di sini?” gumam Alicia bingung. Dia bangkit berdiri dan berlari menuju sebuah semak-semak yang berjarak sekitar lima belas meter dari tempat Vincent memarkir mobilnya. Vincent yang melihat Alicia tiba-tiba berlari berteriak memanggilnya sebelum mengikutinya.

Tiga remaja yang bersembunyi di belakang semak-semak itu melonjak terkejut ketika Alicia menemukan mereka.

“Kenapa kalian ada di sini?” tanya Alicia dengan nada terkejut.

“Aku mendengar dari Sarah kalau kau pergi bersama Vincent,” Revi menjawab sambil menyeringai tanpa dosa. “Itu membuat kami khawatir.”

“Oke, bagaimana kalian bisa menemukan aku di sini?” tanya Alicia lagi. Kemudian pandangannya tertumbuk ke sosok seorang remaja laki-laki berkacamata yang ada di sebelah Revi.

“Oh…”

“Jangan salahkan aku,” Alex membela diri. “Si idiot ini memaksaku untuk melacakmu!”

“Kenapa kalian bertiga ada di sini?” seru Vincent ketika dia melihat ketiga remaja itu. “Sarah! Bukannya aku tadi menyuruhmu untuk pulang ke rumah?”

“Kau memang menyuruhku untuk pulang, tapi kau tidak memberitahuku untuk tidak keluar dari rumah,” balas Sarah santai. Remaja perempuan itu melangkah keluar dari semak-semak, berhati-hati agar rambut panjangnya tidak tersangkut di dedaunan. “Lagipula, terakhir kali kau meminta bantudan dari salah satu dari kami, aku nyaris membakar satu kompleks, kau ingat? Jadi kami di sini untuk memastikan kalau semuanya baik-baik saja,” tambahnya.

Vincent mengerang, “Justru kalau kalian bertiga ada di di sini, semuanya tidak akan baik-baik saja! Kalian tahu siapa yang sedang kita kejar, kan?”

“Seorang vampir psikopat yang sudah membunuh lebih dari dua belas orang dengan musik indahnya, yap! Tapi, aku akan baik-baik saja selama aku memiliki ini!” ujar Sarah sambil menunujuk kalung berbandul perak yang melingkari lehernya. “Lagipula, kita punya Alex!”

“Kalung itu tidak akan melindungimu apabila psikopat itu memutuskan untuk menggunakan senjata!” Vincent memperingatkan.

“Kau kira aku apa?” tanya Alex kesal. “Senjata?” Alicia hanya bisa menghela nafas ketika dia melihat sikap ketiga kakak kelasnya

“Argh! Sudahlah! Sebaiknya kalian bertiga pulang sekarang! Di sini terlalu berbahaya!” ujar Vincent kesal. Dia menarik tangan Sarah dan setengah menyeretnya menuju mobil, mengabaikan protes adik angkatnya itu. Revi dan Alex bertukar pandang sebelum mereka mengangkat bahu mereka dan mengikuti Vincent.

Alicia hendak mengikuti mereka ketika nada-nada itu terdengar oleh telinganya.

Gadis itu berdiri mematung. Musik yang dimainkan oleh sebuah piano itu adalah musik terindah yang pernah Alicia dengar. Dia mendapati dirinya sangat menikmati setiap nadanya. Tiba-tiba dia merasakan keinginan yang kuat untuk mencari pianis dari musik yang didengarnya sekarang.

Samar-samar, dia bisa melihat keempat orang yang berdiri di depannya juga menghentikan langkah mereka ketika mereka mendengar musik tersebut. Tiba-tiba, Sarah mulai mengamuk. Dia meronta-ronta, berusaha membebaskan diri dari cengkraman Vincent. Vincent berteriak, berusaha untuk menyadarkan gadis itu.

“Kenapa?” pikir Alicia mengantuk. “Bukankah wajar saja kalau kita ingin menemui orang yang memainkan musik seindah ini?”

Perlu beberapa saat bagi Alicia untuk mencerna semuanya. Dia tersentak ngeri ketika dia menyadari apa yang dilakukan musik tersebut kepadanya. Jemari-jemarinya meraba layar music player-nya dengan panik, berusaha untuk menyalakannya untuk memblokir musik yang menghipnotis itu.

Tangannya menolak untuk mematuhinya, dan Alicia menyadari kalau dia mulai melangkah perlahan mendekati pintu gedung bioskop. Panik, Alicia berusaha mengerem langkahnya. Tidak berhasil. Dia hanya ingin bertemu sang pianis… ingin bertemu…

“Alicia!”

Hal berikutnya yang Alicia sadari adalah lengan Alex yang melingkari tubuhnya, mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Kemudian dia mendapati kalau dia sudah kehilangan kendali atas tubuhnya, tetapi sekarang karena Cal telah mengambil alih.

,“Satu detik saja aku terlambat, kau akan jadi kudapan vampir,” ujar Cal.

“Trims,” gumam Alicia.

Alicia, bukan, Cal menolehkan kepalanya ke belakang. Sarah sudah tenang kembali, sepertinya alter ego-nya juga sudah mengambil alih. Dia berada di dalam rangkulan Revi sekarang. Sementara itu, Vincent sedang sibuk berbicara melalui ponselnya, menginformasikan posisi mereka sekarang.

Alex melepaskan pelukannya dan memasang kembali headset Alicia. “Seharusnya kau tidak melepasnya,” tegur remaja berkacamata itu.

“Maaf,” balas Cal.

“Tunggu, dimana Kak Salve?”

Pertanyaan Revi membuat Cal dan Alex segera melihat ke tempat dimana Salve duduk tidak sampai dua menit yang lalu. Alicia menyadari dengan ngeri kalau wanita itu tidak lagi berada di sana. Yang ada di sana sekarang hanyalah laptopnya, layarnya yang berpendar
menunjukkan kode-kode yang tidak Alicia mengerti.
Salve tidak mempunyai alter ego. Salve tidak memakai headset.

“Jangan bilang… dia…”

“Hey, kalian berempat! Tunggu di sini!” perintah Vincent, pistol berpeluru perak siap di tangannya.

“Apapun yang terjadi, jangan pergi dari sini! Dan, jangan menggunakan kekuatan kalian, terutama kalian berdua!” lanjutnya sambil menunjuk Revi dan Sarah.

“Bagaimana dengan Salve?” Alicia bertanya, panik. Cal meneruskan pertanyaan Alicia.

Vincent melambaikan tangannya dengan tidak sabar. “Dia akan baik-baik saja! Sekarang, biarkan aku menangkap psikopat itu!”

“Tapi aku tidak bisa mendengar pikirannya sama sekali!” seru Cal. “Bukankah seharusnya kau khawatir?”

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Percayalah, dia baik-baik saja!” Tanpa buang-buang waktu lagi, Vincent segera berlari ke samping gedung bioskop. Alicia menduga dia akan masuk melalui pintu belakang.

Alex memandang Alicia dengan bingung. “Kau tidak bisa mendengar pikiran Kak Salve? Maksudmu?”

“Sama sekali, seakan-akan pikirannya diselubungi dengan busa yang sangat tebal,” jawab Cal. Dia mengerutkan keningnya. “Omong-omong…”

“Ada apa?” tanya Revi ketika dia dan Sarah berjalan mendekati mereka berdua.

“Aku baru sadar kalau aku juga tidak bisa mendengar pikiran si pianis,” Cal berkata. “Aneh, aku yakingedung bioskop ini kosong melompong sebelum aku mendengar musik itu."

Mereka semua terdiam, berusaha untuk memikirkan jawaban atas keanehan tersebut. Sementara itu, musik misterius dengan nada menghipnotis itu masih belum berhenti.

Tidak ada seorang pun diantara mereka yang menyadari kalau musiknya telah berganti.
***


message 39: by Khalda (new)

Khalda | 9 comments Alicia benar. Vincent memilih untuk masuk melalui pintu belakang bioskop yang dulu digunakan sebagai pintu darurat.

Pintu itu terkunci rapat, tetapi itu bukan masalah baginya.Vincent hanya perlu untuk berkonsentrasi sedikit. Tidak butuh waktu lama sebelum pintu kayu itu mengeluarkan bunyi klik, tanda bahwa kuncinya telah terbuka. Lelaki itu mencoba untuk mendorong pintu tersebut, tetapi pintu itu masih menolak untuk dibuka. Vincent mengutuk pelan. Dia menggertakkan giginya, dan menerjang pintu itu dengan seluruh kekuatannya.Pintu itu akhirnya terbuka dengan suara keras. Vincent menodongkan pistolnya ke arah ruangan yang kini berada di depannya, siap untuk menembak siapapun yang berada di ruangan itu.

Ruangan itu kosong.

Vincent menurunkan pistolnya dan mulai mengamati ruangan tersebut. Dari tiga proyektor yang berada di ruangan itu, Vincent menduga kalau dia berada di ruang proyektor, tepat di belakang ruang pertunjukan. Terdapat sebuah pintu lain di seberang ruangan, yang kemungkinan besar mengarah ke ruangan pertunjukan.

Ruangan proyektor itu gelap, tapi terdapat cahaya remang-remang yang berasal dari lubang-lubang kecil yang mengarah ke ruang pertunjukan. Vincent mendekati jendela itu, berhati-hati agar tidak membuat suara sedikitpun. Lelaki itu menjijitkan kakinya, berusaha untuk mengintip melalui salah satu dari tiga lubang yang berada di sana.

Butuh beberapa saat sebelum mata Vincent menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang di ruang pertunjukan. Perlahan-lahan, dia mulai bisa melihat kursi-kursi penonton yang kosong. Beberapa saat kemudian, dia bisa melihat bagian depan ruang pertunjukan, dimana layar tempat film-film ditayangkan berada.

Di depan layar itu, sebuah piano hitam yang elegan ditempatkan memunggungi kursi penonton. Dan duduk di atas kursi piano itu, seorang pria berpakaian hitam seperti seorang pianis profesional sedang hanyut dalam permainannya sendiri. Jari-jari sepucat tengkorak miliknya menari dengan lincah di atas tuts-tuts piano.

Vincent segera tahu kalau dialah makhluk yang dicarinya.

Tanpa suara, Vincent meletakkan laras pistolnya di mulut lubang. Mudah sekali untuk menembaknya dari belakang. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menarik pelatuknya.

Pada saat itulah musik yang dimainkannya berganti.
Vincent menjatuhkan pistolnya dan segera menutup kedua telinganya dengan tangannya. Musik yang baru ini jauh lebih indah daripada musik yang sebelumnya, dan tentu saja jauh lebih menggoda. Bahkan ketika telinganya tertutup, dia tetap bisa merasakan efek dari musik tersebut.

Vincent mengumpat pelan dan berjongkok untuk memungut pistolnya kembali. Dia berharap pianis itu tidak mendengar suara yang ditimbulkannya. Dia kembali berdiri dan mengintip dari lubang, berkonsentrasi agar tidak dirinya tidak terpangaruh oleh musik.

Pianis itu masih asyik memainkan lagunya, tetapi sekarang kepalanya menoleh ke belakang. Vincent tidak bisa melihat wajah vampire itu dengan jelas, tapi dia yakin kalau makhluk itu sedang menyeringai puas.

“Sial!” umpat Vincent. Dia kembali merunduk lalu berlari menuju pintu lain yang berada di ruangan itu. Tidak ada gunanya mengendap-endap lagi, lebih baik dia menghadapinya secara langsung.

Tidak butuh waktu lama bagi Vincent untuk berlari ke hadapan vampir itu. Dia segera menodongkan pistolnya ke bagian belakang kepala si pianis, siap untuk menembaknya hingga mati.Pianis itu menghentikan permainannya. Dia menggerakkan kepalanya ke samping, seakan-akan menyambut pistol Vincent.

Untuk yang pertama kalinya, Vincent bisa melihat wajah pianis itu dengan jelas. Kulitnya yang putih pucat tertarik kencang di wajahnya, membuatnya terlihat seperti tengkorak yang terekspos sinar matahari. Mata merahnya melesak ke dalam tengkoraknya. Pipinya menarik bibir tipisnya ke samping, menampakkan gigi taringnya yang kuning dan tajam.

Keturunan murni.

Sebelum Vincent sempat bereaksi lebih jauh, vampir itu memekik nyaring dan menepukkan kedua tangannya, mengagetkan pemuda itu. Kemudian dia mulai tertawa terbahak-bahak. Tampaknya dia sama sekali tidak takut dengan pistol perak yang hanya berjarak beberapa centimeter dari kepalanya, siap untuk ditembakkan kapan saja.

“Diam!” perintah Vincent sambil menyodokkan pistolnya ke ubun-ubun vampir itu. Vampir itu tidak berekasi, malah dia tertawa semakin keras. Kesabaran Vincent mulai habis. Dia bersiap-siap untuk menekan pelatuk pistolnya ketika dia melihat pintu masuk penonton terayun terbuka.

Mata Vincent membelalak ngeri ketika dia melihat siapa yang menunggu di balik pintu itu. Tidak mungkin! Seharusnya mereka berempat tidak berada di sini! Seharusnya mereka menunggu di depan dengan aman!

Alicia dan Sarah melangkah dengan patuh ke dalam ruangan, sementara Alex memegang Revi dari belakang. Sebilah pisau yang selalu dibawanya kini menempel di leher Revi. Satu gerakan yang salah dari Revi ataupun Alex, putuslah kepala Revi. Mata mereka semua kosong, kecuali Alex. Matanya berkilat dengan panik di balik lensa kacamatanya.

Vincent sadar. Alex setengah vampir, itu berarti dia bisa dikendalikan oleh para vampir keturunan murni melawan kehendaknya.

Tawa vampir itu masih belum berhenti. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Vincent, dia kembali memainkan pianonya, menyeringai ketika dia melihat wajah ngeri Vincent.

Pistol Vincent jatuh dengan suara berkelontang ketika musik itu mulai mempengaruhinya. Vincent mengumpat dan mulai bergerak untuk mengambil kembali pistolnya, tetapi tubuhnya menolak untuk bergerak. Musik itu telah berhasil mengendalikannya.

Satu-satunya yang bisa Vincent gerakkan adalah matanya. Dia kembali menatap ke depan ketika dia mendengar suara langkah-langkah kaki yang pelan dan teratur. Matanya kembali membelalak tidak percaya ketika dia melihat Sarah dan Alicia berjalan perlahan menuju si vampir layaknya robot yang dikendalikan.

“Jangan! Menjauh!” Vincent berusaha untuk berteriak memperingatkan, tetapi mulutnya menolak untuk bergerak.

Kedua gadis itu sampai di samping vampir itu lalu jatuh ke atas lutut mereka. Untuk yang pertama kalinya, si vampir mengalihkan pandangannya dari Vincent. Dia mengangkat tangan kanannya dari piano sementara tangan kirinya masih memainkan melodi mematikan itu.

Tangannya yang kurus mulai bergerak untuk menyentuh Sarah, tetapi terhenti beberapa inci dari pundaknya seakan-akan tangannya menabrak dinding yang tidak kasat mata. Vampir itu mengeram, tampaknya dia marah. Tangannya mencakar-cakar dinding tak kasat mata itu tanpa hasil.

Vampir itu menyerah dan mengalihkan perhatiannya kepada Alicia. Tangannya menarik, nyaris merobek, jaket Alicia ke samping, mengekspos pundak dan lehernya. Vampir itu menjilat bibir tipisnya, tampak tak sabar untuk menancapkan taringnya di sana.

Vincent kembali berusaha untuk menggerakkan tubuhnya dengan sekuat tenaga. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kalau dia tidak berhasil menguasai kembali tubuhnya pada waktunya. Vampir itu akan menghisap habis darah dan kehidupan Alicia seperti korban-korban yang sebelumnya. Vincent tidak bisa membiarkan itu terjadi. Dialah yang meminta bantuan Alicia, dia harus melindunginya!

Tapi pengaruh musik itu sangat kuat. Vincent hanya bisa menyaksikan dengan tidak berdaya ketika si vampir mendekatkan taringnya secara perlahan ke leher Alicia.

Suara tembakan terdengar. Musik piano berhenti. Pianisnya terjatuh ke lantai, mencipratkan darah ketika dia mendarat.

Vincent mendapati dirinya bisa bergerak kembali. Sarah dan Alicia menggeleng-gelengkan kepala mereka, mencoba untuk mengumpulkan kembali kesadaran mereka. Pisau Alex jatuh dengan nyaring sementara pemiliknya memeluk Revi, meminta maaf berulang-ulang sementara yang dipeluk kebingungan.

“Seharusnya kau tidak masuk sendirian,”

Seorang wanita berbalut pakaian hitam melangkah di depan Vincent. Tangan kirinya mencengkram sebuah pistol. Dia mengarahkan tatapan tidak suka ke arah Vincent.

Vincent menghela nafas lega, “Terima kasih, Salve!”

***

Alicia menguap, lega karena semuanya telah berakhir.

Vincent segera mengirim Alicia dan yang lainnya pulang bersama Salve. Revi sedang berusaha menenangkan adiknya yang lumayan trauma dengan kejadian itu, sementara Alex sepertinya tidak ingin diganggu. Alicia sendiri sebenarnya ingin segera tidur, tetapi rasanya tidak enak kalau dia sendiri yang tidur. Jadi dia menemani Salve di ruang tamu.

Salve kembali sibuk mengetik di laptop kesayangannya, sepertinya sedang mengerjakan laporan untuk kasus yang baru saja mereka selesaikan. Alicia kembali menguap, dia benar-benar mengantuk. Mungkin tidak apa-apa kalau dia tidur di sini.

“Kenapa dia tidak terpangaruh oleh musik tadi?” tiba-tiba Cal, yang sedari tadi diam karena merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Alicia, bertanya.

“Cal, tidak bisakah kau menunggu besok pagi? Aku mengantuk,” gumam Alicia.

“Tidak.” Alicia mendesah. Dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Cal.

“Kak Salve,” panggil Alicia, tetapi wanita itu tidak merespon panggilannya. Alicia kembali memanggil namanya, namun masih tidak ada respon. Salve terus asyik mengetik di laptopnya.

“Kak Salve!” kali ini Alicia memanggil sambil mencondongkan tubuhnya ke depan dan melambaikan tangannya di depan wajah Salve. Tindakan ini sukses untuk mengalihkan perhatian Salve kepadanya.

“Ah, maaf!” Salve segera meminta maaf. “Aku tidak melihatmu tadi.”

Melihat?

Alicia memilih untuk mengabaikan keanehan itu.

“Memangnya menulis laporan sebegitu asyiknya, ya?”

Salve menggeleng. “Tidak, sama sekali tidak. Ini membosankan!” jawabnya. Dia meletakkan laptopnya di atas meja dan menutupnya.

“Jadi, ada apa?”

“Kenapa Kak Salve tidak terpengaruh oleh musik yang dimainkan vampir itu?” tanya Alicia.

“Huh?” Salve mengedipkan matanya dengan bingung.
“Vincent belum memberitahumu?”

“Belum…”

“Si Bodoh itu selalu saja melupakan hal-hal yang penting,” gumam Salve.

“Jadi?”

Salve menghela nafas, “Aku seorang tunarungu.”

“Eh?” Alicia terperanjat.

“Aku tidak bisa mendengar musik itu, jadi aku tidak terpengaruh olehnya. Aku tidak pernah mendengar satu suara pun sejak aku lahir, itu sebabnya kau tidak bisa membaca pikiranku,” Salve tertawa ketika dia melihat wajah terkejut Alicia. “Tidak apa-apa. Aku sudah sering mendengar tentang kemampuanmu dari Vincent dan ayahnya."

Alicia kembali menutup mulutnya ketika Salve menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bahkan belum sempat dia utarakan. Pada saat itu, barulah Alicia menyadari kenapa Salve sering tidak menjawab ketika namanya dipanggil. Dia tidak bisa mendengarnya.

“Kau tahu? Vampir yang kubunuh tadi, dia juga tuli.”

Perkataan Salve mengejutkan Alicia. Dia memang tidak bisa mendengar pikiran vampir itu, tetapi bagaimana bisa seorang tunarungu memainkan musik seindah itu?

“Aku menduga dia tidak tuli sejak lahir. Mungkin dia hanya merindukan suara, walaupun dia tahu dia tidak akan bisa mendengarnya lagi.” Kemudian Salve terdiam, mata coklatnya menerawang ke kejauhan.

Alicia tertegun.

“Kak, apakah rasanya tidak… sepi?” Alicia bertanya dengan nada hati-hati.

“Sepi? Kenapa aku harus merasa kesepian?” Salve balas bertanya. “Duniaku sudah seperti ini sejak aku lahir. Aku sudah terbiasa dengannya. Lagipula, aku masih bisa berkomunikasi dengan orang lain. Jadi, kenapa aku harus merasa kesepian?”

Salve kembali tertawa ketika dia melihat wajah tertegun Alicia. “Sudahlah!” katanya sambil mengibaskan tangannya. “Intinya, aku baik-baik saja dengan keadaanku, malah aku merasa bersyukur. Sekarang, lebih baik kau tidur. Kau sudah menguap terus dari tadi! Jangan khwatirkan aku!”

Alicia tidak membantah. Kedua kelopak matanya sudah terasa sangat berat, dan Alicia sudah tidak sanggup lagi menahan mereka agar terbuka.

“Malam, kalau begitu,” gumam Alicia tidak jelas sebelum jatuh tertidur, meninggalkan Salve dengan dunia tanpa suara miliknya.


message 40: by Narita (new)

Narita | 289 comments Flute

“Lihat, lihat, itu anak haram penyihir!” Seorang bocah lelaki menunjuk bocah lelaki lainnya yang memiliki rambut putih keperakan dengan bola mata putih.

“Oh! Benar! Anak haram! Itu anak haram penyihir!” Seorang bocah perempuan ikut mengolok-olok. Ia berteriak memanggil teman-teman yang lain untuk ikut memeriahkan pesta kecil sederhana menyakitkan itu.

Si bocah berkulit sepucat lilin berlari menjauhi desa. Saat ini tubuhnya dipenuhi luka lebam dan gores kerikil. Bajunya pun tak luput dari noda sayuran serta telur busuk. Anak-anak penduduk desa berkumpul semakin banyak, membawa apa saja yang bisa mereka lemparkan pada monster mengerikan yang berusaha menyelamatkan diri. Orang-orang dewasa di sisi jalan tanah berbatu, melihat dengan tatapan jijik pada bocah berdarah campuran. Mulut mereka tak henti-hentinya mencerca dengan kata-kata kotor. Dia mulai menangis tanpa menghentikan langkah kakinya yang semakin cepat menuju pepohonan hutan. Jubah kelabunya tersangkut semak-semak, ia tidak menghiraukannya dan meneruskan langkahnya hingga ke dalam hutan.

Si bocah berkulit pucat berjalan lesu hampir menyeret kakinya yang kini terasa berat. Ia menangis tersedu dalam kesendiriannya. Ia berhenti di sebuah pohon besar lalu menyentuh kulit kasar kayunya yang keras. Tabir tersingkap, pohon besar berusia ratusan tahun itu menghilang diganti sebuah rumah dengan pekarangan sederhana. Ia melangkah masuk, lalu menyamarkan kembali tempat tinggalnya agar tidak diketahui siapa pun.

Pintu berderit, bocah itu masuk sambil terisak. “Apa yang terjadi?” Seorang manusia dibantu kayu penyangga, berjalan pincang mendekatinya. “Kau terluka. Mau diobati dulu, Feihl?”

“Tidak, ayah. Nanti juga sembuh sendiri.” Feihl menangis semakin keras.

“Ada apa? Apa sangat sakit?” Ia mengusap-usap kepala anaknya agar tenang.

“Bukan… huhuhu… tadi aku tidak berhati-hati. Kakiku tersandung dan aku terjatuh, akhirnya tudung jubahku terbuka.” Feihl menelan ludah. “Seluruh belanjaannya jatuh dan terinjak ketika aku mencoba melarikan diri, maafkan aku ayah.”

“Tidak apa-apa.” Ayahnya mengusap ingus Feihl dengan kerah pakaian yang dikenakan anaknya. “Jamur dan daging burung yang kemarin kau kumpulkan masih bisa dimakan sampai nanti malam, jadi jangan khawatir soal itu. Besok, ayah akan berangkat pagi-pagi sekali untuk membeli bahan makanan dari uang yang tersisa dari hasil penjualan kayu bakar.”

“Tidak boleh! Ayah tidak boleh keluar rumah ini! Lihat apa yang dilakukan orang-orang itu terhadapmu.” Feihl melanjutkan, “kau berbeda denganku dan ibu. Tubuhmu akan rusak jika kau terluka. Besok, biar aku saja yang ke pasar. Aku pasti akan lebih berhati-hati.”

“Maaf ya, Feihl, ayah hanya menyusahkanmu saja.”

“Tidak perlu khawatir. Aku sudah berjanji pada ibu untuk menjaga ayah. Sekarang kita makan ya, yah? Perutku sudah kelaparan.”

“Baiklah, hari ini ayah membuat teh herbal spesial dengan tambahan kulit apel. Tunggulah di meja makan, akan ayah ambilkan tekonya. ”

Tawa pecah selama santap siang di dalam rumah kecil tersamarkan ilusi itu. Hanya saja, para pemiliknya tidak sadar jika ada seseorang yang selalu membuntuti si bocah sejak di pasar tadi pagi. Si penguntit kecil tersenyum puas. Buruannya telah ditemukan, saat ini ia cukup melapor pada warga desa dan menceritakan kejadian di luar nalar yang ia lihat.

***

Masa-masa tenang dan damai dalam persembunyian, berakhir. Malam sunyi yang biasanya diringi musik pepohonan dan binatang liar, kini berganti jeritan marah yang menyesakkan dada. Langit yang biasanya diterangi bintang, berganti obor penuh amarah. Angin malam yang biasanya menyapu pucuk-pucuk daun pepohonan hutan, kini berganti ujung tombak tajam. Iring-iringan penuh kebencian itu berjalan melalui jalan setapak yang membentuk liukan ular bercahaya yang berpendar menembus kesuraman hutan.

“Di sini!” Si bocah lelaki menunjuk penuh semangat ke sebuah pohon. “Tadi pagi aku melihatnya melakukan sihir!”

“Kau tidak melamun kali ini ‘kan, Dreist?” Si kepala desa memastikan.

“Tidak! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!” Dreist menjawab yakin.

“Cepat lemparkan obor kalian! Bakar pohon besar ini!” Perintah si kepala desa.

Jawaban serentak penuh semangat seluruh penduduk desa menciutkan nyali dua penghuni di dalam bangunan tersembunyi.

“Feihl, kenakan mantelmu dan bawalah ini.” Ayahnya memberikan seruling logam sepanjang 20 cm dan bubuk tembakau yang dibungkus kantong kulit. “Pergilah, biar ayah yang menghadapi mereka. Selamatkan dirimu.” Si pria pincang memaksa anaknya keluar melalui pintu belakang.

“Kita pergi bersama, ayah!”

“Cepatlah keluar sebelum mereka masuk!”

“Aku tidak akan pergi jika ayah tidak mau ikut!”

Suara tamparan menggema ke seluruh ruangan, mengalahkan keriuhan di luar rumah mereka. “Aku hanya akan memperlambat pelarianmu.” Feihl tertegun menatap ayahnya berjalan perlahan menuju lemari tua yang berisi perkakas petani; parang, garu, dan cangkul. Ia mengambil garu dan bersiap menghadapi penduduk yang berang. “Keluar, kataku!”

Feihl terkesiap mendengar bentakan ayahnya. Ia segera membuka pintu belakang dan berlari menerobos semak. Feihl berlari kalut melewati batang pepohonan, sesekali kakinya tersangkut akar karena belum terbiasa melihat dalam gelap. Pipinya terasa berdenyut akibat nyeri. Ini pertama kali dalam hidupnya ditampar oleh orang yang ia sayangi. Feihl menggosok kasar matanya, memfokuskan kembali penglihatannya yang kabur akibat tergenang air mata. Ia berusaha mempercepat langkahnya dan sebisa mungkin bergerak dengan tangkas menghindari akar pohon yang akan membuatnya tersandung.

Entah sudah berapa lama Feihl berlari, ia semakin merasa lelah dan langkahnya kian bertambah berat. Sayangnya, bukan waktunya bagi Feihl untuk beristirahat hanya sekedar mengatur napas. Para manusia kini bergerak secara bergerombol berpencar ke seluruh hutan. Sesekali, Feihl harus bersembunyi di balik pohon atau semak agar tidak tertangkap.

Peluh membanjiri tubuh kurus Feihl dan melembabkan pakaiannya. Udara dingin membuat otot kakinya sulit digerakkan. Feihl mencapai batas maksimal tubuhnya, ia berjalan sempoyongan sebelum akhirnya jatuh terantuk kakinya sendiri.

“Sebelah sana! Aku mendengar suara dari sana!”

Takut dan panik seketika menyediakan tenaga baru bagi Feihl ia memacu langkahnya melewati batang pohon kering. Tiba-tiba bocah berumur 11 tahun itu merasakan kejanggalan. Larinya melambat seakan berat dan lengket. Ia seolah berjalan menembus dinding agar-agar kental. Tangannya meronta-ronta mencari batang atau cabang pohon untuk menarik dirinya dari gumpalan udara pekat yang menyumbat pernapasannya. Setelah perlawanan sengit selama tiga menit itu, akhirnya Feihl berhasil keluar. Ia nyaris pingsan akibat kekurangan oksigen. Bocah dengan tubuh penuh luka itu tersungkur di tanah yang tertutupi dedaunan busuk dengan napas tersengal.

“Itu dia!” Salah seorang penduduk berteriak girang. Ia berlari sambil mengacungkan obor.

Feihl terlalu lelah untuk bangkit. Tenaganya terkuras habis hanya untuk menyeberangi pohon kering tua yang terkesan seperti batas wilayah. Ia memutuskan untuk menyerah dan pasrah jika para penduduk menangkapnya saat ini juga.

Kepala desa menarik lengan si pria yang antusias, langkahnya terhenti. “Apa kau gila?! Perhatikan batas itu!” Kepala desa menunjuk pohon kering. “Mulai dari sana adalah wilayah Hutan Black Spell, tanpa kita kejar pun ia akan mati dimakan iblis.” Si kepala desa memberikan aba-aba untuk kembali.

Cahaya remang obor semakin menjauh, Feihl ditinggalkan dalam gelap dan riuhnya suara serangga hutan. Butuh beberapa saat untuk membiasakan matanya melihat tanpa secuil cahaya. Feihl mendudukkan tubuhnya, ia menengadah. Dedaunan pohon yang menaunginya terlalu lebat, tidak ada celah bagi cahaya bulan. Ia menatap sekelilingnya, tidak ada tanda-tanda dari penduduk desa. Ia ingin kembali dan melihat keadaan rumahnya. Namun dinding agar-agar tak kasat mata itu masih ada dan Feihl tidak yakin dapat melaluinya kali ini–mengingat kondisi tubuhnya. Si bocah mendesah sedih, teringat ayahnya yang bernasib malang. Entah apa yang akan dilakukan para penduduk desa itu pada anggota keluarganya. Ia mulai menangis tersedu-sedu.

“Oh… lihat, keturunan penyihir putih.”

Tangis Feihl terhenti. Suara berat, dalam, dan bergetar dalam bayangan malam itu membuatnya bergidik. “Siapa?!”

“Ah… sudah lama aku tidak memakan daging penyihir.” Suara lain yang tak kalah mengerikan, menimpali.

Feihl merogoh saku mantelnya, ia menggenggam sesuatu di dalamnya. Ia mengawasi sekitarnya, jantungnya berdegup keras karena takut.

“Dia milikku!” Makhluk hitam dengan mata merah menyala melesat dari balik batang pohon. Ia menyeringai menunjukkan gigi geligi setajam pisau yang siap mengoyak tulang bocah lelaki itu. Dengan sigap Feihl melemparkan bubuk tembakau. Makhluk mengerikan itu mengerang kesakitan sebelum akhirnya mendarat menghunjam tanah. Ia berguling sambil mengaduh. Dari wajahnya mengepul asap bau telur busuk. Ini kesempatan bagi Feihl untuk menyelamatkan diri, ia berlari jauh ke dalam hutan. Feihl tidak sadar, semakin masuk ke dalam, semakin banyak makhluk kelaparan yang menanti kedatangannya.

***


message 41: by Narita (new)

Narita | 289 comments “Jadi, mau sampai kapan kau akan duduk sambil memeluk lututmu yang kurus itu?”

Feihl menengadah lesu. Wajahnya semakin tirus dan pucat, bibirnya kering karena kurang air, sorot matanya tak lagi fokus. Ia kembali menundukkan kepalanya. Feihl terlalu lelah untuk diganggu iblis yang terkurung dalam Hutan Black Spell.

“Terlalu lemah untuk merespon, eh?” Si iblis turun dari batang pohon terdekat dengan si bocah. “Aku sudah bersusah payah memakan iblis lainnya untukmu. Tidakkah kau berpikir untuk membalas kebaikanku dengan melangkah keluar dari lingkaran pentakel itu dan menyerahkan dirimu padaku? Aku lebih memilih menyantap makanan dalam keadaan segar. Meski saat ini kau jauh terlihat lebih kering dari sebelumnya.”

“Dan lihatlah.” Si iblis berjalan mendekati kantong kulit kosong yang dibiarkan tertumpuk dedaunan lembab. “Kau juga sudah kehabisan bubuk tembakau. Kali ini kau tidak bisa mencari makanan atau mengusirku.” Ejek si iblis angkuh.

“Kau sendiri, Ra’el. Mengapa kau tidak keluar saja dari hutan ini jika memang lapar.”

“Kau sedang menyindirku ya, Bocah?” Ra’el melompat, merubah wujudnya menjadi seekor kucing besar dengan bulu sehitam malam. “Setiap sudut hutan ini dipasang Pasak Mantra, itu sebabnya kami tidak bisa keluar sesuka hati. Memangnya gara-gara siapa kami terjebak di sini?”

Feihl menatap tajam. “Jangan-jangan…”

“Tepat, seorang wanita dari golongan penyihir putih yang melakukannya. Hmm, kalau tidak salah namanya Carria Heiren White. Jika aku berhasil keluar dari sini, aku akan membalas dendamku dulu baru kunikmati tiap ons daging manusia yang dapat kutemukan.” Ra’el terkekeh.

“Carria?” Feihl terdiam beberapa saat. “Jika ibuku melakukan itu semua, maksudku dia menolong penduduk desa itu. Lalu mengapa mereka membalasnya dengan memperlakukan kami dengan kejam?” Ia menegakkan punggungnya. “Ayah bahkan selalu mengingatkanku agar tidak sembarangan merapal mantra untuk mencelakai manusia. Aku selalu dibimbing untuk menggunakan sihir dalam pengobatan. Mengapa para manusia itu tega mencelakai kami?”

“Nah, Nak.” Ra’el melanjutkan. “Akan kupinjamkan kekuatan padamu untuk membalas dendam, tapi sebagai gantinya bawa aku keluar dari sini.”

Hutan yang tadinya dipenuhi suara serangga, kini berganti cemoohan mulut makhluk beringas. Mereka meneriaki Ra’el pengkhianat. “Aku sudah bosan terkurung dan memakan jiwa kotor. Tidak masalah jika aku harus menundukkan kepalaku sebentar untuk menikmati kebebasan. Bukan begitu, Tuan Feihl?” Ra’el berubah menjadi gumpalan asap yang mengurubungi lingkaran Feihl. “Bagaimana, penawaran yang menarik bukan? Kau tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi jika terkurung dalam perlindunganmu tanpa makanan dan air. Tanpa bantuanku, kau juga tidak akan sanggup bertahan selama sedetik ketika melangkah keluar. Kau tahu mantra Perjanjiannya kan? Ucapkanlah sebelum aku berubah pikiran.”

Feihl merogoh saku kanannya, ia meremas seruling pemberian ayahnya. Wajah Feihl berubah keras, matanya kembali terfokus. Sekelebat cahaya menerangi Hutan Black Spell. Kontrak perjanjian diikat dalam darah. Si iblis kini berdiam dalam seruling dingin, menanti majikannya melantunkan nada-nada kematian.

Feihl meniup serulingnya. Ra’el muncul di luar pentakel majikannya. “Di dalam sana begitu kotor dan sempit. Kau harus membersihkannya sesekali. Yah… bukan berarti aku benci sih, hanya tidak nyaman.”

“Jaga mulutmu budak. Bawakan makanan dan air, lalu lindungi aku keluar dari sini dengan selamat.”

“Hih, bocah tak tahu untung.” Ra’el mendengus kesal. “Tapi mau bagaimana lagi. Sesuai keinginan anda, Tuan.”

Dalam lima menit Ra’el membawakan bermacam buah dan air dalam cawan daun. Begitu Feihl melahap habis makanan dan minuman yang disediakan untuknya, meski tak banyak, tenaganya kembali. Sesuai perintah Feihl, Ra’el membawanya hingga ke perbatasan perisai.

“Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Kekuatanku tidak cukup untuk dapat melewatinya. Aku bisa hancur.”

“Kau bisa kembali masuk. Biar dari sini, aku yang menangani.”
Ra’el bersiul pendek. “Sombongnya. Kalau begitu kuserahkan padamu.” Ia kembali masuk ke dalam seruling.

Feihl melompat. Tidak seperti sebelumnya, kali ini ia dapat mengatasinya dengan mudah. Tidak butuh waktu lama bagi Feihl untuk keluar dari dinding perisai yang dibuat ibunya. Feihl tertawa puas. Perasaannya bercampur aduk. Ia meniup serulingnya, memanggil Ra’el.

“Kupikir kau akan butuh sedikit dorongan untuk menembusnya. Sesaat tadi aku hampir tertidur.”

“Simpan ocehanmu, sudah waktunya kita memberi salam pada penduduk desa.”

“Inilah yang kutunggu sejak tadi.”

Si iblis membawa tuannya melesat menuju perkampungan yang terlelap. Feihl menatap kosong. Di dalam kepalanya muncul kelebatan-kelebatan kenangan buruk yang ia alami. Kebencian memenuhi perasaannya. Ia menempelkan seruling dingin itu di bibirnya dan memulai melodi kematian yang tidak menyisakan seorang pun hidup.


message 42: by Biondy (last edited Mar 11, 2014 09:39AM) (new)

Biondy | 773 comments Cindy

Belum punya nama. Setidaknya untuk saat ini.

Suara itu memanggilku. Sebuah suara yang tinggi, lembut, dan terdengar jernih. Melodi dan irama menyatu dengan indah dalam suara itu. Tubuhku melayang di dalam kegelapan, tertarik ke arah suara itu.

Itu suara manusia. Aku yakin sekali. Suara manusia. Aku tidak sabar melihat manusia seperti apa yang dapat menarikku dengan suaranya.

Kukerjapkan mataku beberapa kali dan aku berputar melihat keadaan di sekelilingku. Aku berada di dalam sebuah ruangan yang besar. Aku melihat ada sebuah meja dengan sebuah benda hitam, yang kukenali sebagai TV, di atasnya. Di seberang TV itu, terdapat sebuah ranjang. Di atasnya, terdapat seorang anak perempuan berbaju hijau yang sedang melotot melihatku dengan mulut sedikit terbuka.

“Salam,” kataku. “Apakah kamu yang memanggilku, Nona Kecil?”

“A... a... aku...”

Anak itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia hanya diam menatapku sambil membuka-tutup bibirnya.

“Apakah kamu yang bernyanyi tadi?” tanyaku.

Dia mengangguk. “I... iya.”

“Kalau begitu, sudah betul. Kamulah yang memanggilku,” kataku sambil membungkuk padanya. “Salam.”

“K... kamu,” anak itu menelan ludahya, “apakah kamu Dewa Kematian?”

“Apa? Oh, bukan, bukan,” kataku menggeleng. “Sama sekali bukan. Aku adalah, hmm... biasanya kalian, para manusia, menyebutku monster.”

“M... monster,” kata anak itu gemetaran, “tapi kamu sama sekali tidak terlihat seperti monster.”

Memang betul apa yang anak itu katakan. Wujudku memang tampak seperti manusia. Kalau ada orang lain yang melihatku, mereka pasti tidak akan menyangka bahwa aku bukanlah makhluk yang sama seperti mereka.

Aku membuka topi besar yang sedari tadi bertengger di kepalaku. Anak itu terpekik dan dia menutup kepalanya dengan selimut.

“Apakah aku sudah lebih mirip monster sekarang?” tanyaku.

Anak itu mengintip dari balik selimutnya. “Ka... kamu, kamu tidak punya telinga.”

“Dan sebenarnya aku juga memiliki ekor dan berkaki empat,” tambahku. “Apakah kamu ingin melihatnya juga?”

Anak itu cepat-cepat menggeleng. Aku memakai topiku kembali dan tersenyum padanya. Anak itu menurunkan selimutnya, tapi dia tetap memandangku dengan takut-takut.

“Jadi, kamu betul-betul bukan Dewa Kematian?” tanya anak itu.

“Betul. Aku memang bukan,”

Kepalanya tertunduk. Anak itu terlihat sedih untuk sesaat, tetapi kemudian dia kembali menoleh padaku dan berkata, “Tapi kamu monster kan? Kalau begitu, bisakah... bisakah kamu,” anak itu terdiam sesaat, “bisakah kamu me... mengambil nyawaku?”

Aku mengangkat alisku. Sudah banyak orang yang memanggilku selama ribuan tahun ini. Berbagai jenis manusia dengan berbagai macam latar belakang. Walau begitu, selalu ada satu kesamaan dari orang-orang itu. Mereka tidak pernah memintaku untuk mengambil nyawa mereka.

“Sayangnya aku tidak bisa,” kataku. “Hidup dan mati adalah sesuatu yang diatur oleh kekuatan yang lebih tinggi dariku. Aku tidak bisa mencampurinya.”

Anak itu kembali menatap ke bawah. Tangannya memilin-milin selimutnya.

“Kalau aku boleh tahu,” kataku, “kenapa kamu ingin agar aku mengambil nyawamu?”

Anak itu tidak menjawab.

“Kamu tidak mau menjawab? Baiklah,” kataku. “Kalau begitu, maukah kamu memberitahu darimana kamu memperoleh lagu untuk memanggilku?”

“Dari internet,” jawabnya.

Anak itu mengambil sebuah kotak kecil dari meja di sampingnya. Dia melakukan sesuatu pada kotak itu, lalu dia menunjukkan sisi lain kotak itu, yang tadi dia lihat, padaku.

Aku mendekat dan kubaca tulisan yang berada di kotak bersinar itu. Aku melihat sebuah tulisan warna biru. Bunyinya, “[Akhirnya Hot Thread Gan] Ini Gan, Cara Memanggil Dewa Kematian”.

Apa itu ‘Gan’? batinku. Anak itu mengeluskan jarinya pada kotak itu, lalu tulisan tadi bergerak ke atas. Sekarang terpampang tulisan lain dengan warna hitam dan ukuran lebih kecil dari tadi.

Aku membaca tulisan itu selama 10 menit. Bahasa yang digunakan cukup sulit untuk kumengerti, tapi aku bisa menangkap garis besar tulisan itu. Di sana tertera sebuah notasi balok yang dikatakan dapat memanggil Dewa Kematian. Notasinya segera kukenali sebagai lagu yang memang dapat digunakan untuk memanggilku.

Aku mengangguk-angguk dan menunjuk pada kotak itu. “Benda apa ini?”

“Ini?” kata anak itu. “Namanya Tablet PC. Kamu belum pernah melihatnya?”

“Belum. Waktu terakhir aku datang ke dunia manusia, benda ini belum ada.”

“Kapan terakhir kamu datang ke sini?” tanya anak itu.

“Sebentar, coba kuingat,” kataku sambil berusaha berpikir. “Sekitar tahun 1965. Waktu itu seorang wanita dengan rambut berombak yang memanggilku. Dia memintaku menjadikannya seorang pemusik terkenal.”

“Lalu, siapa orang yang menulis ini?” tanyaku. “Apakah dia seorang ahli jampi-jampi yang hebat?”

Anak itu menggeleng. “Aku tidak tahu. Ini internet. Kebanyakan orang tidak saling mengenal di sini.”

Anak itu kemudian menjelaskan tentang apa itu internet padaku selama 15 menit berikutnya.
Aku cukup terkejut dengan benda itu. Dulu orang-orang yang tahu laguku mendapatkannya dari orang-orang dengan kemampuan roh yang besar. Biasanya dari para dukun atau ahli mantra, tapi sekarang semua orang dapat dengan mudah mengetahuinya? Luar biasa.

Tapi di satu sisi, aku juga kecewa. Padahal, menurut anak ini, ada ribuan orang yang melihat tulisan itu dan ada beberapa orang yang bilang bahwa mereka mencoba memainkan lagu itu, tapi sama sekali tidak ada yang berhasil memanggilku.

Bahkan ada yang merekam permainan pianonya dan memasukkannya ke dalam internet, lalu bilang bahwa lagu itu hanya ‘hoax’, karena tidak ada apa-apa yang terjadi. Yah, tentu saja. Bagaimana dia bisa memanggilku dengan permainan level rendah seperti itu?

Ketukannya dua kali melenceng saat dia pindah kunci. Yang paling parah, dia lupa mengulang satu bagian pendek di akhir lagu. Padahal jelas-jelas ada tanda D.C., da capo, yang merupakan perintah untuk memainkan ulang suatu bagian.

Dan jelas bahwa sama sekali tidak ada jiwa dalam permainannya. Bahkan kalau dia memainkannya dengan sempurna pun, dia tidak akan dapat memanggilku.

“Anu,” kata anak itu, “tadi kamu bilang bahwa wanita yang memanggilmu dulu mengajukan permintaan padamu? Apakah... apakah kamu bisa mengabulkan permintaannya?”

“Tentu. Itu permintaan yang mudah.”

Cindy

“Kalau begitu apakah kamu bisa mengabulkan permintaanku juga?” tanyaku.

Ragu-ragu aku menatap mata pria yang berdiri di hadapanku. Warna matanya berubah-ubah setiap saat. Pertama kali aku melihatnya, matanya berwarna merah, kemudian berganti hijau, dan sekarang kuning keemasan.

“Apa permintaanmu?” tanya pria itu.

“Bisakah kamu menyembuhkanku?”

Pria itu menggeleng. “Sayangnya tidak.”

Aku sudah memperkirakan inilah jawabannya.

“Kalau begitu, tolong bawa aku ke taman bermain,” jawabku.

Matanya membesar. Kedua alisnya terangkat. Mulut pria itu sedikit membuka, tapi kemudian dia mengatupkannya lalu tersenyum.

“Itu permintaan mudah, tapi sebelumnya ada satu hal yang harus kuingatkan padamu,” kata pria itu. “Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi sebagai gantinya, ada harga yang harus kamu bayar.”

Aku menelan ludah. “Berapa? Aku masih punya sedikit tabungan.”

“Oh, bukan. Bukan. Aku tidak meminta uang sebagai bayaran,” kata pria itu. “Yang akan kuambil adalah kebahagiaanmu. Tidak semuanya tentu saja. Hanya sedikiiiiit saja.”

Pendingin udara di kamar itu bersuara lembut, meniupkan angin dingin ke dalam kamar. Pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Refleks aku berbalik ke pintu dan kulihat seorang perawat berjalan masuk. Dengan panik aku menoleh pada pria itu, tapi dia tampak berdiri diam di tempatnya.

“Cindy, Sayang, waktunya pengecekan sebentar ya,” kata perawat itu.

Perawat itu mengambil catatan yang menempel di bagian depan ranjangku dan mulai membacanya. Aku melirik pada pria itu, tapi dia tetap diam sambil mengamati si perawat.

“Cindy, bagaimana perasaanmu hari ini? Apa ada yang sakit?” tanya si perawat.

“Aku baik-baik saja,” jawabku. “Tidak ada yang terasa sakit kok hari ini.”

Si perawat mengelus-elus kepalaku dan berkata, “Kalau ada yang kamu perlukan, jangan ragu untuk menekan bel.

Aku mengangguk dan si perawat kembali melakukan tugasnya. Sektar 10 menit kemudian, dia meninggalkan ruangan.

Aku menoleh pada pria itu dan dia tersenyum.

“Bagaimana?” tanya pria itu.

Kebahagiaanku? Masihkah aku memilikinya?

“Aku setuju,” kataku.

“Baik. Taman bermain yang mana?”

“Taman bermain di Lapangan Empat. Bawa aku ke sana dan buat aku dapat mencoba permainan yang kuinginkan.”

Pria itu tertawa kecil. “Baiklah. Itu mudah.”

Pria itu menggenggam tanganku. Dia tersenyum dan berkata, “Sudah siap.”

“Sudah,” jawabku. “Oh, iya. Namaku Cindy. Siapa namamu?”

“Aku tidak punya nama,” katanya. “Nama tidak memiliki arti apa-apa bagiku.”

“Kalau begitu, apakah aku boleh memanggilmu Martin?”

“Terserah. Kita berangkat sekarang. Tutup matamu.”

Aku mengikuti perintahnya. Tubuhku rasanya tersedot dan kepalaku terasa berputar-putar dalam kegelapan. Beberapa detik kemudian, aku merasa ada cahaya yang menyusup masuk lewat mataku yang terpejam. Perlahan aku membuka mataku dan taman bermain itu terbentang di hadapanku.

Martin. Namaku untuk kali ini.

Anak itu—ah, ya, Cindy—terlihat begitu bersemangat. Dia mula-mula naik ke komidi putar. Dia terlihat begitu girang hingga dia mencobanya dua kali lagi. Setelah itu dia memintaku membawanya masuk ke dalam rumah cermin. Kami menghabiskan sekitar 15 menit di sana hingga akhirnya dia berhasil menemukan jalan keluar.

“Aku ingin mencoba yang itu. ‘Putar Petir’ yang di sana,” katanya dengan wajah sumringah.

Aku menuruti kemauannya. Kami menaiki benda itu dan dia menjerit sepanjang permainan berlangsung. Saat turun, dia justru tertawa-tawa dan meminta agar kami mencobanya lagi.

Kami mencoba beberapa permainan lagi, hingga akhirnya Cindy memintaku untuk naik ke bianglala.

Hari semakin sore dan perlahan langit menggelap. Saat gondola bianglala kami mencapai titik tertinggi, semburat jingga di langit telah lenyap. Kini malam telah sepenuhnya tiba.

Cindy menempelkan wajahnya di jendela transparan. Matanya membulat, penuh dengan kebahagiaan saat dia melihat lampu-lampu jalanan yang menyala di bawah.

“Cantiknya,” gumamnya.

“Kenapa kamu memilih datang ke sini?” tanyaku. “Aku bisa saja membawamu ke taman bermain yang lebih besar dari ini. Disneyland misalnya? Aku sempat ke sana saat terakhir kali aku berkunjung ke dunia kalian ini. Tempat itu jauh lebih luas dari ini. Oh, tunggu. Tempat itu masih ada kan?”

“Masih. Sebenarnya aku berjanji untuk datang bersama seorang teman ke tempat ini, tapi...”

Gadis itu kemudian berbalik dan kembali memperhatikan pemandangan di luar. Saat pintu gondola terbuka, aku bertanya apakah dia ingin naik lagi, tapi dia menggeleng. Dia bilang sudah cukup dan minta agar kami pulang.

Aku menggandeng tangannya dan mengerahkan energiku untuk membawa kami berdua kembali ke kamar tadi.

Gadis itu merangkak naik ke tempat tidurnya dan tersenyum padaku. “Terima kasih. Yang tadi sangat menyenangkan.”

Aku tersenyum dan berkata, “Permisi sebentar.”

Aku menyentuh dahinya dan dapat kurasakan sesuatu yang hangat mengaliri tubuhku.

“Aku baru saja mengambil bayaranku,” kataku.

Dia mengangguk. “Apakah kita bisa bertemu lagi?”

“Tentu,” jawabku. “Kamu cukup menyanyikan lagi lagu yang sama.”

“Baiklah. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Sampai jumpa. Terima kasih banyak.”

Aku tersenyum. Perlahan kedua mata anak itu tertutup dan beberapa detik kemudian, dapat kurasakan dadanya bergerak naik-turun dengan irama yang stabil.

“Yah, pada kenyataannya, tidak ada orang yang pernah bisa memanggilku untuk kedua kalinya.”

Aku menggumamkan sebaris melodi dan perlahan kupindahkan tubuhku ke alam yang berbeda.


message 43: by Biondy (last edited Mar 11, 2014 09:27AM) (new)

Biondy | 773 comments Cindy

Sakit. Tubuhku rasanya sakit luar biasa. Tulang-tulangku terasa ngilu, kepalaku seperti tertusuk-tusuk, dan sekujur badanku basah oleh keringat.

Aku tidak tahan lagi. Inikah bayaran yang pria itu katakan?

Aku betul-betul tidak sanggup lagi. Rasa sakitnya tidak tertahankan.

Aku menjerit sekeras-kerasnya.

Martin. Sekali lagi.

Suara itu kembali terdengar. Suara yang lembut dan jernih. Nada-nadanya tidak sekuat saat pertama kali aku mendengarnya, tapi aku yakin ini dinyanyikan oleh orang yang sama.

Perlahan tubuhku tertarik menuju sumber suara itu. Ternyata benar. Gadis itu. Cindy.

“Oh, kau datang,” gumamnya pelan.

Tubuhnya terlihat kurus. Jauh lebih kurus dari pertama kali aku melihatnya. Tulang-tulangnya tercetak jelas pada tangan anak itu. Kulihat banyak selang menusuk masuk ke dalam tubuhnya.

“Kau menyanyikan lagu itu lagi?” tanyaku.

“Ya.”

Ini yang pertama. Gadis ini adalah orang pertama yang mampu memanggilku untuk kedua kalinya. Sebelumnya, orang-orang yang memanggilku berubah setelah pertemuan pertama denganku. Mereka kehilangan jiwa dalam musik mereka dan tidak ada lagi yang dapat memainkan melodi yang sama dengan yang mereka bawakan sebelumnya.

“Apakah kau ingin mengajukan permohonan lagi?” tanyaku

Dia mengangguk.

“Apakah kamu sudah siap dengan bayarannya?”

Dia mengangguk lagi.

“Baik. Apa permintaanmu?”

“Tolong pertemukan aku dengan Mama.”

Aku menggenggam tangannya, lalu berkata, “Tutup matamu. Kita berangkat.”

Cindy

Saat aku membuka mata, yang pertama kulihat adalah ombak yang bergulung-gulung. Dari kejauhan kudengar pekikan burung camar dan suara anak-anak tertawa.

“Mainnya jangan dekat-dekat laut. Kamu mengerti?”

Aku segera mengenali suara itu. Seorang perempuan setengah baya dengan rambut sebahu tampak melambai pada anaknya. Seorang bocah laki-laki yang sedang duduk dan bermain pasir di dekat batas ombak.

Mama tampak lebih cantik dari yang kuingat. Wajahnya terlihat lebih cerah dan dia terus tersenyum. Sesekali dia menyesap minuman berwarna merah dari gelas di tangannya.

Sudah hampir 4 tahun sejak aku terakhir bertemu dengan Mama. Sejak Mama dan Papa bercerai, tidak sekali pun Mama pernah datang menemuiku. Aku pernah mendengar Papa, saat dia minum terlalu banyak anggur, berkata kalau Mama adalah wanita jalang yang hanya mementingkan kesenangannya sendiri.

Aku berlari ke tempat Mama berbaring. Tubuhku terasa ringan. Aku seolah terbang ke arahnya.

“Ma, aku kangen Mama,” kataku memeluknya.

Tapi tanganku tidak melingkar padanya. Kedua tangan dan tubuhku justru menembusi badannya.

“Yang ada di sini bukanlah tubuh fisikmu,” kata Martin.

Aku berbalik padanya dan berkata, “Apa maksudmu?”

“Yang ada di sini hanyalah kesadaranmu. Tubuhmu sudah terlalu lemah untuk melakukan perjalanan,” katanya. “Apa menurutmu kamu bisa berlari seperti tadi kalau kamu datang dengan fisikmu yang sekarang?”

Aku menoleh pada Mama. Kini Mama berdiri dan berjalan menuju anak laki-laki tadi. Dia memeluk anak itu dan menggendongnya. Anak itu meronta-ronta dalam pelukannya, tapi Mama hanya tersenyum dan terus mendekap anak itu.

Dadaku sesak dan aku mulai menangis.

“Aku ingin berlari-lari sebentar,” kataku setelah air mataku berhasil kukuasai. “Kita bisa pulang setelah itu. Tidak apa-apa kan?”

“Silahkan,” kata Martin.

(Masih) Martin

Cindy tertawa-tawa sepanjang dia berlari di sepanjang pantai. Air matanya sudah tidak terlihat lagi, tapi aku masih dapat mendengar kekecewaan dalam setiap teriakan riangnya.

Saat matahari mulai terbenam di cakrawala, Cindy menyentuh lenganku dan berkata, “Ayo. Kita pulang.”

Aku tersenyum dan mengangguk padanya. “Tutup matamu.”

Dia menurutinya dan kukembalikan kesadaran anak itu pada raganya.

Cindy

Hari ini ulang tahunku yang ke-13.

Mataku sesekali berpindah dari komik, hadiah ara perawat, di hadapanku pada jam di dinding. Sudah pukul 3 sore. Aku kembali membaca dan menunggu dengan sabar.

Papa memang jarang datang menengokku di rumah sakit. Pekerjaannya banyak dan dia sering harus pergi ke luar negeri karenanya, tapi Papa tidak pernah melewatkan hari ulang tahunku. Sesibuk apapun dia, dia pasti datang.

Aku terus menunggu dan menunggu. Saking bosannya, aku malah tertidur. Saat aku terbangun, jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam dan Papa belum datang juga.

Saat jam menunjukkan lewat pukul 12, aku hanya bisa menghela napas dan menarik selimutku hingga ke dagu, lalu menutup kedua mataku. Aku berusaha keras untuk tidak menangis, tapi akhirnya air mataku mengalir juga.

Martin. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Sekali lagi aku muncul di dalam kamar itu. Suara nyanyian itu lagi. Kali ini terasa begitu lemah, tapi jiwa di dalamnya masih cukup kuat untuk memanggilku.

Kulihat gadis itu terbaring dengan mata tertutup. Jumlah selang yang menusuk tubuhnya jauh lebih banyak dari pertemuan terakhir kami. Dapat kurasakan detak kehidupan gadis itu berdenyut begitu lemah. Aku kagum dengan kekuatan niat gadis itu. Dengan tubuh selemah ini, dia masih mampu memanggilku.

Perlahan dia membuka matanya, lalu berbisik, “Kamu datang.”

Aku tersenyum padanya. “Karena kamu menyanyikan laguku.”

Dia berusaha tersenyum. Dengan suara yang begitu pelan, dia berkata, “Aku ingin mengajukan permohonan.”

“Tentu, tapi aku akan mengambil kebahagiaanmu setelahnya. Kurasa kamu juga sudah tahu aturannya.”

Gadis itu terbatuk-batuk. “Setidaknya kamu masih menganggapku memiliki kebahagiaan.”

“Aku masih bisa merasakannya dalam dirimu.”

Dia tersenyum. “Kamu benar. Aku bahagia bisa melihatmu.”

Kata-katanya terdengar begitu merdu. Seluruh tubuhku bergetar karenanya. Apa yang dia ucapkan begitu jujur dan mampu menyentuh sesuatu dalam diriku yang belum pernah kurasakan.

Gadis itu menggerakkan tangannya dan dia menarik sesuatu dari dalam selimutnya. Aku mengambil benda itu, sebuah foto, darinya.

Dalam foto itu terdapat seorang anak laki-laki. Usianya mungkin 11 atau 12 tahun. Dia mengenakan sebuah topi kerucut warna hijau dan memegang piring berisi kue. Anak itu tersenyum lebar sambil mengacungkan sendoknya yang berisi potongan kue.

“Itu Martin,” kata anak itu. “Sahabatku. Aku memberimu nama Martin, karena aku selalu teringat padanya.”

Aku hanya bisa terdiam sambil terus memandangi foto itu.

“Sejak kecil aku selalu sakit-sakitan. Aku menghabiskan lebih banyak waktu di rumah sakit ini daripada di tempat lain,” kata gadis itu. “Aku kesulitan mendapat teman seusiaku di sini. Sampai aku bertemu dengan Martin. Dia...” gadis itu menarik napasnya. Suaranya seperti tercekik. “Dia begitu baik. Aku bisa dengan cepat berteman dengannya. Apalagi penyakit kami sama. Kami bisa dengan cepat saling mengerti satu sama lain.”

“Lalu, apa yang kamu inginkan?” tanyaku.

“Aku minta, munculkan aku di foto itu,” katanya. “Kami berjanji untuk mengambil foto saat tahun baru, tapi aku mendadak harus dioperasi hari itu. Kondisiku baru pulih sekitar seminggu sesudahnya.

“Saat aku pulih, Martin, dia... Kondisinya parah. Dia koma dan akhirnya...” gadis itu mulai terisak. “Dia meninggal tanpa sempat membuka matanya lagi. Aku...”

“Aku mengerti,” jawabku.

Kututup mataku, lalu kusalurkan tenagaku pada foto itu. Kubuka mataku dan kulihat hasilnya. Aku membuat gadis itu mengenakan topi yang sama dan berdiri di samping anak bernama Martin itu. Kubuat gadis itu tersenyu dengan senyuman yang kulihat di taman bermain waktu itu. Perlahan, kugenggamkan foto itu padanya.

Gadis itu tersenyum. Air matanya terus bergulir jatuh.

“Terima kasih,” katanya. “Setidaknya aku merasa bahwa kami foto bersama waktu itu.”

Gadis itu mendongak padaku, lalu berkata, “Sebelum kamu mengambil bayarannya, aku ingin menanyakan sesuatu yang sejak dulu ingin kutanyakan. Bagaimana kamu bisa mendengar kalau kamu tidak memiliki telinga?”

Aku tersenyum padanya. “Aku tidak butuh telinga untuk mendengar. Aku mendengar dengan seluruh tubuh dan jiwaku.”

Gadis itu menutup matanya. Senyumnya terkembang dan dia berkata, “Itu sangat menarik.”

Sebelum aku dapat menyentuhnya, ada sebuah sinar terang muncul di sisi lain gadis itu. Aku tahu bahwa inilah waktunya.

Cahaya itu melingkupi gadis itu dan dapat kurasakan jiwanya mulai terlepas. Detak jantung dan pernapasan gadis itu mulai melemah. Satu menit kemudian, aku tahu bahwa gadis itu, Cindy, telah pergi untuk selamanya.

“Ah, aku kerja bakti kali ini,” gumamku.

Aku tidak menyangka bahwa tiba saatnya aku dipermainkan begini. Aku yang biasanya mengambil kebahagiaan seseorang, jstru memberikannya bagi seorang gadis di saat-saat terakhir. Tapi aku tidak menyesal. Sama sekali tidak.

“Selamat jalan, Cindy.”

Dan aku berharap, aku dapat bertemu dengan Cindy-Cindy lainnya. Entah kapan. Entah di mana, tapi yang pasti, aku tidak sabar menunggu datangnya hari itu.

Tamat


message 44: by F.J. (new)

F.J. Ismarianto (rean) | 198 comments Monsterimut

Bila Anda memperhatikan peristiwa yang terjadi belakangan ini, pasti Anda sudah tidak asing lagi dengan lagu “Damai, di mana kamu?” yang dinyanyikan oleh seseorang, atau mungkin sesuatu, yang mengaku dirinya bukan manusia. Melainkan sesosok monster. Dari pengakuan itu, kemudian timbul berbagai macam spekulasi. Apakah benar dia monster sungguhan? Atau seperti yang diduga oleh kebanyakan manusia, dia hanya seorang manusia dibalik kostum monster yang hanya ingin membuat sensasi saja? Lebih baik kita menanyakan langsung kepada pelantun lagu tersebut. Hadirin, inilah… Monsterimut!
- H-halo semuanya. Selamat malam. Selamat malam, Mas Danny.

Selamat malam, Monsterimut.
- Wah, ramai sekali ya malam ini. Ukuran studionya jauh lebih besar dari yang kelihatan di teli. Jangan heran begitu, Mas Dan. Oranye adalah salah satu acara favorit Monsterimut.

Favorit? Mungkinkah itu salah satu alasan mengapa Anda menerima tawaran kami untuk tampil di teli? Oh ya, mungkin Anda mau duduk?
- Ya, terima kasih. Dan tolong, panggil Monsterimut, Monsterimut saja. Monsterimut sedikit merasa aneh dipanggil dengan Anda. Kesannya Monsterimut sudah tua sekali. Ah, bahkan kursinya pun diperhitungkan secara baik. Terlihat solid dan mampu menahan berat badan Monsterimut. Tapi kursi logam ini tidak terbuat dari logam mulia, kan? Syukurlah bukan. Monsterimut tidak mau menahan gatal-gatal atau panas di penampilan perdananya di teli.

Tentu saja kursi itu tidak dibuat dari logam mulia. Selain mahal, manusia pada umumnya lebih suka menempanya menjadi benda berharga. Tapi kenapa memangnya kalau dari logam mulia? Apa Monsterimut alergi terhadap logam mulia? Itu agak... Kurang biasa.
- Mas Danny tidak tahu?

Tahu apa?
- Soal bangsa monster yang tidak tahan dengan logam mulia. Benar-benar tidak tahu? Ini sungguh mengejutkan Monsterimut. Biasanya Mas Danny tahu segalanya.

Saya hanya manusia biasa, Monsterimut. Tidak segala hal saya tahu.
- Ya, Monsterimut rasa itu... Tapi sulit sekali membayangkan Mas Danny tidak tahu mengenai hal ini. Jadi, logam mulia adalah kelemahan bangsa monster. Satu-satunya logam yang dengan mudah sanggup melukai kami. Makanya di zaman dulu, mereka yang hendak membunuh monster, menggunakan pedang yang terbuat dari logam mulia. Seperti emas, tapi lebih sering perak. Saat zaman berkembang lebih modern lagi, diciptakan pistol berpeluru perak yang kemudian terkenal sebagai senjata yang digunakan untuk membinasakan makhluk-makhluk penghisap darah. Mungkin Mas Danny akan berpikir Monsterimut membeberkan kelemahan bangsa monster. Tapi Monsterimut hanya mengatakan pengetahuan lama—

Yang telah lama dilupakan oleh banyak orang. Tapi apa Monsterimut tidak khawatir pengetahuan itu disalah gunakan oleh pihak-pihak, sebut saja mereka-mereka yang tidak suka atau benci pada monster. Khususnya benci pada Monsterimut—yang merupakan sisi lain dari popularitas.
- Monsterimut tidak khawatir sama sekali. Dan jangan lupa pada monster yang paranoid pada manusia. Mereka mungkin sedang mengumpat-umpat dan menyebut Monsterimut pengkhianat.

Kalau tahu akan berakibat begitu, kenapa Monsterimut membeberkan "pengetahuan" tersebut di teli nasional?
- Bagi Monsterimut, mengatakan atau tidak pengetahuan itu tidak akan ada bedanya. Toh, manusia yang secara fisik dua puluh kali lebih lemah dari monster merupakan makhluk yang mendominasi dunia ini. Monster malah hidup di persembunyian.

Jadi, ini pertanyaan yang jawabannya mungkin ditunggu oleh semua orang, termasuk saya, Monsterimut ini benar-benar monster?
- Monster pertama yang secara terang-terangan tampil di muka komunitas manusia. Nih. Nih. Nih. Nih. Ini bukan topeng Mas Danny. Bukan kostum. Ini semua kulit asli. Kalau ini semua kostum, apa untungnya bagi Monsterimut? Melihat manusia dalam kostum badut saja membuat Monsterimut ikut kegerahan.

Mencoba memperoleh popularitas, mungkin?
- Sebenarnya memang hal itu-lah yang Monsterimut cari. Seperti yang Mas Danny, dan semua orang tahu, seorang—monster pun harus mengikuti bahasa manusia—tidak bisa memilih dilahirkan sebagai apa atau siapa. Monsterimut terlahir sebagai monster. Kalau memang tampilan alami Monsterimut bisa bikin Monsterimut terkenal, atau seperti sekarang menimbulkan kontroversi, maka itu adalah berkah yang patut disyukuri. Salah satu teman Monsterimut, yang sering berhadapan dengan manusia—oh iya, ada beberapa manusia yang berinteraksi dengan kami, tapi seringnya mereka tidak menceritakan hal itu pada manusia lain. Lagipula siapa yang akan percaya ada monster yang bisa diajak kerjasama? Nah, teman Monsterimut itu sempat menjabarkan kemungkinan Monsterimut akan dianggap sebagai manusia yang mencari sensasi. Tapi memang itu yang Monsterimut cari. Sensasi. Yang kemudian akan berimbas pada Monsterimut memperoleh popularitas. Tapi kalau Mas Dan masih belum percaya juga, Mas Danny boleh kok memegang Monsterimut. Mencubit juga boleh, kalau mau

Maaf ya... Erg, erg, erg, wah ternyata memang kulit sungguhan. Penonton di studio ada yang mau coba juga?
- Tidak usah takut, sobat semua. Monsterimut tidak suka gigit kok.

Oke, cukup. Silakan kembali ke tempat duduk masing-masing. Maaf bila pertanyaan ini sedikit lancang, tapi kenapa Monsterimut ingin terkenal?
- Popularitas itu kendaraan untuk mempermudah tujuan utama Monsterimut. Jangan berpikiran macam-macam, ya, Mas Danny. Tujuan utama Monsterimut bukan untuk menguasai dunia. Atau menjadikan manusia makanan—jujur saja daging manusia itu tidak enak sama sekali. Mons—

Tidak enak? Apakah—
- Ya. Monsterimut pernah mencoba daging manusia. Sekali. Dan langsung kapok.

Monsterimut memakan manusia?!
- Hahah, Mas Dan berlebihan deh. Tidak usah mundur-mundur gitu, Monsterimut tidak doyan daging manusia kok. Pas makan pertama kali itu lebih karena dorongan rasa penasaran saja. Percaya atau tidak, kebanyakan monster lebih suka makan daging hewan. Gizinya lebih banyak dan tidak mempunyai banyak tulang atau tulangnya lunak. Monsterimut sendiri paling doyan makan ikan. Soal monster yang makan manusia, itu ada dua kemungkinannya. Pertama, karena monster itu panik.

Panik tapi kok malah melahap seseorang?!
- Seperti Monsterimut bilang sebelumnya, kebanyakan monster hidup dalam persembunyian. Selama mereka tidak bertemu manusia yang sama paniknya, maka hidupnya akan aman. Tapi bila dia bertemu manusia yang ketakutan setengah mati, yang bila dibiarkan lolos akan mengadu pada manusia lainnya, mereka bisa berbuat nekad. Salah satunya—

Saya bisa membayangkannya. Tapi yang bikin saya penasaran, kenapa mesti memakannya, kenapa tidak cukup... Membunuhnya? Maksud saya, bukannya saya setuju dengan pembunuhan. Tapi memakan manusia itu... jauh lebih mengerikan.
- Hmm, bisa jadi itu untuk menghilangkan barang bukti. Tapi itu semua murni pilihan bagi si monster. Dalam beberapa kasus, dan mengingat rasanya yang tidak enak, kebanyakan monster tidak memakan manusia yang tak sengaja menemukan tempat persembunyiannya.

Baiklah, anggap saja saya percaya. Lalu kemungkinan yang kedua?
- Jelas karena mereka doyan. Lagipula, bukankah tidak sedikit manusia yang juga doyan memakan sesamanya?

Ya. An, err, Kamu... Benar. Mungkin kita bisa bahas topik selain makanan.
- Hahaha... Oke. Mungkin kita bahas kembali tujuan utama Monsterimut.

Tentu saja. Jadi, apa tujuan itu?
- Menciptakan perubahan.

Perubahan? Perubahan seperti apa?
- Perubahan di mana manusia dan monster bisa hidup berdampingan. Tidak ada saling curiga. Tak ada lagi monster yang hidup dalam bayang-bayang. Tak ada lagi manusia yang salah-paham dan menggunakan bangsa kami sebagai umpatan atau istilah-istilah bermakna negatif. Mas Danny tahu maksud Monsterimut soal istilah negatif ini, kan?

Ya, aku tahu. Beberapa manusia... kadang menggunakan kata "monster" untuk menyebut manusia-manusia jahat. Tujuan yang, err, mulia. Tapi...
- Mas Danny meragukan Monsterimut?

Tidak. Tidak. Tentu saja, tidak. Saya lihat kamu punya kemauan yang keras. Sekarang saya paham sepenuhnya alasanmu dibalik pengunggahan video itu. Boleh tahu siapa yang menciptakan lagu itu?
- Monsterimut yang menulis liriknya. Teman-teman Monsterimut yang menciptakan musiknya.

Boleh tahu siapa teman-teman Monsterimut ini?
- Sayangnya mereka lebih suka tidak disebutkan namanya.

Maafkan pertanyaan saya, apakah teman-temanmu monster juga?
- Ya.

Boleh tahu alasan mereka tidak ingin disebutkan namanya? Apakah mereka tidak ingin terlibat dalam perjuanganmu mencoba menciptakan perubahan?
- Mereka mendukung Monsterimut kok. Hanya saja tak ingin terlihat terlibat langsung.

Ohh, begitu. Lalu, kenapa musik? Kenapa bukan politik, yang notabene merupakan pintu tercepat menciptakan perubahan?
- Emm, sebenarnya Monsterimut sempat mempelajarinya. Tapi Mas Danny jangan tanya di mana dan bagaimana Monsterimut mempelajarinya, karena hal itu akan memakan waktu yang lama untuk menceritakannya. Dan semakin mempelajarinya, semakin pusing Monsterimut. Terlalu banyak hal yang mesti dipelajari. Belum lagi fakta di lapangan menunjukkan politik merupakan bidang yang paling tidak mudah dipercaya oleh masyarakat. Bahkan para pelakunya pun tidak percaya satu sama lain. Ditambah lagi, pelajaran ilmu sosial di sekolah manusia, yang mana cabangnya mempelajari ilmu tata negara (yang bercabang lagi ke politik), yang mana tak kalah pentingnya karena menyangkut hajat seluruh orang di seluruh belahan dunia, di mata masyarakat sebagai tempat anak-anak terbuang dan kurang pintar. Citranya dan isunya yang buruk membuat Monsterimut gentar. Mungkinkah ini akan berhasil? Belum lagi fakta bahwa Monsterimut, yah, monster. Yang dibenci bahkan sebelum dikenali. Yang ditembak atau diserang karena disalahpahami. Dan coba Mas Danny ingat-ingat, berapa jumlah monster yang duduk di kursi pemerintahan?


message 45: by F.J. (last edited Mar 11, 2014 09:51AM) (new)

F.J. Ismarianto (rean) | 198 comments Tidak... ada.
- Jadi, meski mungkin politik jalan tercapat tidak mungkin bagi Monsterimut untuk menciptakan perubahan dari situ. Hal ini sempat membuat Monsterimut frustasi selama beberapa hari. Monsterimut mengurung diri di kamar, bertemankan pemutar musik model lama bekas pakai manusia.

Lalu dari situlah ide beraksi lewat musik berasal?
- Ya. Tapi butuh waktu empat hari bagi Monsterimut menyadarinya. Di hari keempat itu Monsterimut, dibantu teman-teman, langsung melakukan riset. Dari riset itu kami menemukan... Sejak zaman dahulu kala, musik telah menjadi bagian dari masyarakat. Tidak hanya di komunitas manusia, tapi juga di komunitas monster. Dan musik selalu ada di semua aspek. Dari musik untuk hiburan hingga musik untuk ritual keagamaan. Dari musik yang digunakan mengiringi pasangan menuju bahtera rumah tangga, hingga musik yang digunakan mengantar seseorang menuju kematian. Dari musik yang menenangkan emosi yang menggelegak, hingga musik yang mengajak massa melakukan sesuatu.

Dan dari lagu "Damai, di mana kamu?" Monsterimut yakin bakal bisa mengajak massa untuk... mewujudkan perubahan?
- Harus yakin. Ragu sedikit saja, maka perubahan yang Monsterimut damba-dambakan, kedamaian yang Monsterimut idam-idamkan, saat di mana semua orang bisa menerima orang lain—entah seseorang itu "berbeda" dengan lain—apa adanya, tak akan pernah tercipta.

Satu pertanyaan terakhir, apakah Monsterimut ini nama asli Monsterimut?
- Hahaha, tentu saja bukan. Itu nama yang saya pilih agar mudah diingat saja. Nama asli Monsterimut sangat susah diucapkan dalam bahasa yang menggunakan alphabet.

Kalau begitu, semoga sukses dengan apa yang Monsterimut kerjakan.
- Terima kasih, Mas Danny.

Saya teringat kembali dengan teman-teman Monsterimut. Yang membantu Monsterimut dengan usahanya "mencoba membuat perubahan" di tengah-tengah manusia dan monster, tapi tidak ingin terlihat terlibat di dalamnya. Mungkin mereka tampak pengecut, karena bersembunyi di belakang layar. Tapi itu tidaklah penting. Yang penting, terutama bagi yang berada di depan "medan laga," mereka mau membantu mewujud perubahan itu. Percaya atau tidak, mereka-mereka ini adalah orang atau sosok pertama yang terkena dampak perubahan itu. Perubahan tak akan terjadi bila tidak ada yang memulainya. Saya Mas Danny, dan inilah... Oranye.


message 46: by Magdalena Amanda, Momod Usil (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
==Setelah Posting Ini, Semua Cerita yang Dipost Tidak Diikutsertakan Dalam Penilaian==

Rawr.


back to top