Belajar Menulis Indonesia discussion
Penulisan Novel
>
Setting Cerita
date
newest »
newest »
Kalau untuk setting, aku ingin ngasih koment sedikit,
Kebetulan, saya penulis cerita fantasi. Kemarin baru saja buku saya terbit dan mendapat tanggapan bermacam-macam dari kawan saya.
Terkadang, mungkin tanpa sadar penulis fantasi mendeskripsikan latarnya terlalu detail kepada pembaca. *sebagai contoh saya juga, padahal saya gak ngerasa detail amat*
Kata kawan saya, itu malah membuat imajinasi pembaca dibatasi. Saran, untuk setting cerita terutama kisah fantasi, deskripsikan latarnya secukupnya, yang mungkin berkaitan dengan kisah cerita :D
*berulang-kali saya pernah debat masalah setting dengan teman saya, akhirnya ngalah dah, karena yang dia sampein ada benernya :D *
Kebetulan, saya penulis cerita fantasi. Kemarin baru saja buku saya terbit dan mendapat tanggapan bermacam-macam dari kawan saya.
Terkadang, mungkin tanpa sadar penulis fantasi mendeskripsikan latarnya terlalu detail kepada pembaca. *sebagai contoh saya juga, padahal saya gak ngerasa detail amat*
Kata kawan saya, itu malah membuat imajinasi pembaca dibatasi. Saran, untuk setting cerita terutama kisah fantasi, deskripsikan latarnya secukupnya, yang mungkin berkaitan dengan kisah cerita :D
*berulang-kali saya pernah debat masalah setting dengan teman saya, akhirnya ngalah dah, karena yang dia sampein ada benernya :D *
Wah, saya belum membaca buku kamu, Dhia. Nanti kalau ada waktu luang akan coba saya cari dan baca, kalau perlu review sekalian :) hehehe..
Setting untuk fiksi fantasi dengan fiksi non fantasi bisa saja berbeda. Dalam cerita fiksi (non fantasi) kita jangan sampai mengabaikan akal sehat.. kita tidak bisa seenaknya menggambarkan sebuah desa di daerah tropis tiba-tiba saja hujan salju, misalnya. Kecuali kalau ada unsur misteri/mistik di dalamnya, mungkin saja. Tapi, jika kita menulis cerita fantasi yang setting tempatnya tidak ada di dunia nyata, maka kemampuan mengeksplorasi imajinasi adalah hal yang paling penting. Mungkin perlu sedikit 'mengerem' liarnya imajinasi sebagai penulis agar pembacanya bisa membayangkan sendiri setting tersebut dengan patokan gambaran dari si penulis, seperti kasusnya Mbak Dhia di atas.
(hmmm sebenarnya agak sebel juga ya kalau diprotes "settingnya terlalu detil", tapi gak apa-apa jika itu bisa meningkatkan kualitas tulisan kita di masa mendatang)
Setting untuk fiksi fantasi dengan fiksi non fantasi bisa saja berbeda. Dalam cerita fiksi (non fantasi) kita jangan sampai mengabaikan akal sehat.. kita tidak bisa seenaknya menggambarkan sebuah desa di daerah tropis tiba-tiba saja hujan salju, misalnya. Kecuali kalau ada unsur misteri/mistik di dalamnya, mungkin saja. Tapi, jika kita menulis cerita fantasi yang setting tempatnya tidak ada di dunia nyata, maka kemampuan mengeksplorasi imajinasi adalah hal yang paling penting. Mungkin perlu sedikit 'mengerem' liarnya imajinasi sebagai penulis agar pembacanya bisa membayangkan sendiri setting tersebut dengan patokan gambaran dari si penulis, seperti kasusnya Mbak Dhia di atas.
(hmmm sebenarnya agak sebel juga ya kalau diprotes "settingnya terlalu detil", tapi gak apa-apa jika itu bisa meningkatkan kualitas tulisan kita di masa mendatang)
Well, dari komentar-komentar teman saat membacanya, aku jadi terpikir ulang, apa mungkin aku terlalu bernafsu untuk 'menumpahkan' semua imajinasi di dalam pikiran ya, sehingga jadinya langsung tumplek dan bikin pembaca kadang mengerutkan dahi :D
Memang butuh 'pengereman' saat berimajinasi. Sebagus apapun dunia dalam alam pikiran, kalau kita nyampeinnya kedodoran, jatuhnya juga dunia itu gak bagus =))
*mendadak pengin alat doraemon yang bisa bikin tulisan lewat pikiran*
Buat calon-calon / penulis fantasi, sedikit mengeremlah imajinasi kalian dan pelan-pelan baru mengeluarkannya supaya tercipta setting atau tempat yang mungkin gak akan diprotes pembaca :D
Memang butuh 'pengereman' saat berimajinasi. Sebagus apapun dunia dalam alam pikiran, kalau kita nyampeinnya kedodoran, jatuhnya juga dunia itu gak bagus =))
*mendadak pengin alat doraemon yang bisa bikin tulisan lewat pikiran*
Buat calon-calon / penulis fantasi, sedikit mengeremlah imajinasi kalian dan pelan-pelan baru mengeluarkannya supaya tercipta setting atau tempat yang mungkin gak akan diprotes pembaca :D
Tapi kadang kalo deskripsi settingnya sedikit, ada juga pembaca yg berpikir deskripsinya kurang jelas. Bisa jadi karena selera pembaca yg beda-beda.
Tapi nggak bisa komen Novel Dhia beneran terlalu detil atau sebenarnya cukup. Karena blm baca. :|
Tapi nggak bisa komen Novel Dhia beneran terlalu detil atau sebenarnya cukup. Karena blm baca. :|
@Levif, aku pun sekarang jadi serba bingung kalau mau nulis deskripsi, lho. Secara, aku kalau bikin cerita pasti di dunia antah-berantah :))
Sekarang, aku lagi ngeraba-raba, kira-kira cara deskripsi seperti apa yang bisa aku buat dengan komposisi yang pas :')
ngomong-ngomong, aku blum cerita ya, aku suka ngedeskrepsiin pakaian para tokoh dengan sangat detail? :malu: #eh
#pangakuan-terselubung
Sekarang, aku lagi ngeraba-raba, kira-kira cara deskripsi seperti apa yang bisa aku buat dengan komposisi yang pas :')
ngomong-ngomong, aku blum cerita ya, aku suka ngedeskrepsiin pakaian para tokoh dengan sangat detail? :malu: #eh
#pangakuan-terselubung
menurut saya sih, setting harus diceritakan secara detail, tapi mungkin bisa diselipkan disana-sini supaya tidak monoton.jadi, dibuat seiring dengan jalannya cerita.
misalnya, baju yang panjangnya semata kaki, dilukiskan saat berlari, bajunya terinjak atau gimana gitu.
saya sih belum pernah nulis fantasy ya, baca fantasy aja butuh user guide, apalagi nulis, bisa nangis2 yang baca :((
Setting dalam cerita fantasi itu penting sekali menurut saya. Kalau bisa sedetail-detailnya, biar makin masuk ke dalam dunia ceritanya. Tapi biasanya sih cuma diceritakan dalam satu paragraf.
Kalau bukan fantasi, mungkin cukup menjelaskan secara singkat dalam beberapa kalimat atau diselipkan dalam adegan2 tertentu seperti kata2 Zelie di atas.
Kalau bukan fantasi, mungkin cukup menjelaskan secara singkat dalam beberapa kalimat atau diselipkan dalam adegan2 tertentu seperti kata2 Zelie di atas.
aku mau kasih saran, aku penulis pemula jadi maaf kalo salah, tapi aku mau komen sebagai pembacaaku pernah baca novel yang mendeskripsikan setiap tempat yang dia tuju dengan detail. baru baca 2 bab aku sudah bosan karena itu jadi seperti buku travelling daripada Novel :D
aku lebih suka kalo tempat cukup sekilas aja seperti "di dapur" "di stasiun kerete itu, terlihat..." biar pembaca membayangkan sendiri tempat itu sesuai imajinasi/ingatannya masing-masing.
maaf pake "aku" masih kebawa cerita yang lagi ditulis :D
Kalau boleh aku simpulin nih, ada penulis yang lihai dalam menulis deskripsi, terbuai dengan kelihaiannya sehingga dominasi ceritanya tentang deskripsi. Namun ada juga yang lemah dalam mendeskripsikan sesuatu, sehingga pembaca juga cepat merasa bosan dengan dialog yang panjangnya mungkin sampe dua lembar. haha. Well, intinya sebagai penulis, pemula atau udah expert, lebih baik kita bisa menyeimbangkan antara deskripsi dan dialog. Kalau bisa dianalogikan, deskripsi dan dialog tuh bagai nasi dan lauk. Oke, selamat menulis buat kalian semua dan good luck!







Misalnya, kita memilih setting berupa stasiun kereta api di Jakarta atau Bandung, atau kota lainnya. Deskripsikan suasana di stasiun kereta api tersebut dengan tuntas (suasana dalam stasiun, lorong-lorongnya, loket, bentuk bangunan, jam kereta datang dan berangkat, jam orang berangkat dan pulang kerja dengan menggunakan kereta, dan sebagainya).
Gambarannya harus dikendalikan agar pembaca benar-benar bisa merasa 'masuk' dan berada di tempat tersebut, ikut terlibat dalam cerita.
Nah, ada yang punya pengetahuan atau masukan dan pertanyaan mengenai setting cerita dalam novel? Silakan bergabung di sini :) Kita akan sama-sama membahasnya.