What do you think?


Matilda Bone
Newbery medalist Karen Cushman assembles a cast of unforgettable characters in a fascinating and pungent setting: the medical quarter of a medieval English Village. To Blood and Bone Alley, home of leech, barber-surgeon, and apothecary, comes Matilda, raised by a priest to be pious and learned, and now destined to assist Red Peg the Bonesetter. To Matilda's dismay, her work will not involve Latin or writing, but lighting the fire, going to market, mixing plasters and poultices, and helping Peg treat patients. Appalled by her new surroundings, Matilda yearns for the days at the manor when all she did was study and pray. Lonely and misunderstood, she seems destined for a fate as tragic as that of any of the sharp-toungued saints she turns to for advice.
Filled with a witty dialogue, Matilda Bone is a compelling comic novel about a girl who learns to see herself and others clearly, to laugh, and to live contentedly in this world.
Filled with a witty dialogue, Matilda Bone is a compelling comic novel about a girl who learns to see herself and others clearly, to laugh, and to live contentedly in this world.
176 pages, Paperback
First published January 1, 2000
About the author
Karen Cushman
34 books713 followersKaren Cushman was born in Chicago, Illinois.
She entered Stanford University on a scholarship in 1959 and graduated with degrees in Greek and English. She later earned master’s degrees in human behavior and museum studies.
For eleven years she was an adjunct professor in the Museum Studies Department at John F. Kennedy University before resigning in 1996 to write full-time.
She lives on Vashon Island, Washington with her husband, Philip.
(source: http://karencushman.com/about/bio.html & http://www.arnenixoncenter.org/findin...)
She entered Stanford University on a scholarship in 1959 and graduated with degrees in Greek and English. She later earned master’s degrees in human behavior and museum studies.
For eleven years she was an adjunct professor in the Museum Studies Department at John F. Kennedy University before resigning in 1996 to write full-time.
She lives on Vashon Island, Washington with her husband, Philip.
(source: http://karencushman.com/about/bio.html & http://www.arnenixoncenter.org/findin...)
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
August 27, 2009
Apa jadinya kalau sejak kecil kita dibesarkan di sebuah rumah mewah, mendapatkan pengetahuan kita hanya dari seorang guru sekaligus penasehat spiritual, tanpa mengetahui dunia luar sana? Bagai katak dalam tempurung, bukan?
Itulah yang terjadi pada Matilda. Sejak ibunya meninggal, Matilda tinggal bersama ayahnya yang bekerja pada seorang kaya raya sebagai juru tulis di sebuah rumah yang besar. Matilda diajarkan membaca, menulis Latin yang suatu hari nanti akan bermanfaat baginya. At least demikian yang ditanamkan ke dalam pikirannya. Matilda pun menjadi sang katak dalam tempurung yang memiliki cita-cita dan hayalan tinggi menjadi orang besar dan penting.
Setelah ayahnya meninggal, Matilda diperbolehkan tinggal di rumah tersebut dan terus mendapatkan pengajaran dari seorang pendeta yang memberinya semua pengetahuan mengenai surga dan neraka (terutama tentang neraka) bahwa kalau Matilda nakal akan masuk neraka, Matilda mikir jelek akan dilempar ke neraka, dst, dsb.
Suatu hari pendeta tersebut mengantarkan Matilda ke sebuah desa terpencil. Matilda akan bekerja sebagai pembantu di rumah seorang bonesetter (mungkin sebutannya dukun patah tulang, ye?) Matilda yang bisa baca tulis Latin menganggap itu sebuah kesalahan, karena keahliannya dalam baca tulis Latin akan membawanya kepada cita-cita tinggi, bukannya sebagai pembantu di rumah dukun patah tulang. Matilda yakin, suatu hari nanti pendeta tersebut akan menjemputnya kembali dan mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahan. Tapi pendeta itu tak pernah datang lagi, dan Matilda harus beradaptasi dengan lingkungan yang sekarang ditinggalinya.
Sekian lama tinggal di tempat tersebut, jika menemukan sesuatu yang berbenturan dengan ajaran sang pendeta, Matilda selalu bingung dan berkonsultasi dengan para saints yang dia ketahui (hanya dalam pikirannya, tentu saja). Namun berkat kesabaran Peg, si dukun patah tulang, dan orang-orang di sekelilingnya, lambat laun Matilda pun berhasil beradaptasi. Jika di awal kepindahannya Matilda tidak pernah mengungkapkan pendapat pribadinya (selalu 'kata pendeta begini', 'kata pendeta begitu') pada akhirnya Matilda bisa mengungkapkan pendapatnya sendiri, dan bisa memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya.
Karen Cushman memang terkenal sebagai penulis cerita-cerita berlatar belakang kehidupan di abad pertengahan. Karyanya banyak mendapat penghargaan, diantara lain: Catherine, called birdy dan The midwife's apprentice dan Matilda Bone ini pun mendapatkan penghargaan dari: Newbery Medal, Notable/Best books (A.L.A.), Booklist starred, Child Study Children's Book Committee, Wilson's Children, dan masih banyak lagi. Terlihat sekali bahwa Cushman banyak melakukan penelitian untuk novel-novelnya sehingga terasa sekali kehidupan abad pertengahan tersebut dalam karyanya.
Itulah yang terjadi pada Matilda. Sejak ibunya meninggal, Matilda tinggal bersama ayahnya yang bekerja pada seorang kaya raya sebagai juru tulis di sebuah rumah yang besar. Matilda diajarkan membaca, menulis Latin yang suatu hari nanti akan bermanfaat baginya. At least demikian yang ditanamkan ke dalam pikirannya. Matilda pun menjadi sang katak dalam tempurung yang memiliki cita-cita dan hayalan tinggi menjadi orang besar dan penting.
Setelah ayahnya meninggal, Matilda diperbolehkan tinggal di rumah tersebut dan terus mendapatkan pengajaran dari seorang pendeta yang memberinya semua pengetahuan mengenai surga dan neraka (terutama tentang neraka) bahwa kalau Matilda nakal akan masuk neraka, Matilda mikir jelek akan dilempar ke neraka, dst, dsb.
Suatu hari pendeta tersebut mengantarkan Matilda ke sebuah desa terpencil. Matilda akan bekerja sebagai pembantu di rumah seorang bonesetter (mungkin sebutannya dukun patah tulang, ye?) Matilda yang bisa baca tulis Latin menganggap itu sebuah kesalahan, karena keahliannya dalam baca tulis Latin akan membawanya kepada cita-cita tinggi, bukannya sebagai pembantu di rumah dukun patah tulang. Matilda yakin, suatu hari nanti pendeta tersebut akan menjemputnya kembali dan mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahan. Tapi pendeta itu tak pernah datang lagi, dan Matilda harus beradaptasi dengan lingkungan yang sekarang ditinggalinya.
Sekian lama tinggal di tempat tersebut, jika menemukan sesuatu yang berbenturan dengan ajaran sang pendeta, Matilda selalu bingung dan berkonsultasi dengan para saints yang dia ketahui (hanya dalam pikirannya, tentu saja). Namun berkat kesabaran Peg, si dukun patah tulang, dan orang-orang di sekelilingnya, lambat laun Matilda pun berhasil beradaptasi. Jika di awal kepindahannya Matilda tidak pernah mengungkapkan pendapat pribadinya (selalu 'kata pendeta begini', 'kata pendeta begitu') pada akhirnya Matilda bisa mengungkapkan pendapatnya sendiri, dan bisa memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya.
Karen Cushman memang terkenal sebagai penulis cerita-cerita berlatar belakang kehidupan di abad pertengahan. Karyanya banyak mendapat penghargaan, diantara lain: Catherine, called birdy dan The midwife's apprentice dan Matilda Bone ini pun mendapatkan penghargaan dari: Newbery Medal, Notable/Best books (A.L.A.), Booklist starred, Child Study Children's Book Committee, Wilson's Children, dan masih banyak lagi. Terlihat sekali bahwa Cushman banyak melakukan penelitian untuk novel-novelnya sehingga terasa sekali kehidupan abad pertengahan tersebut dalam karyanya.
December 18, 2009
efeck dari tekanan batin itu macem - macem mulai dari sedeng sampe jadi paranormal
Displaying 1 - 2 of 2 reviews



