International bestselling and award-winning author Umberto Eco's Foucault's Pendulum is "an intellectual adventure story, as sensational, thrilling, and packed with arcana as Raiders of the Lost Ark or The Count of Monte Cristo" (The Washington Post Book World).
Bored with their work, three Milanese editors cook up "the Plan," a hoax that connects the medieval Knights Templar with other occult groups from ancient to modern times. This produces a map indicating the geographical point from which all the powers of the earth can be controlled — a point located in Paris, France, at Foucault’s Pendulum. But in a fateful turn the joke becomes all too real, and when occult groups, including Satanists, get wind of the Plan, they go so far as to kill one of the editors in their quest to gain control of the earth.
Orchestrating these and other diverse characters into his multilayered semiotic adventure, Eco has created a superb cerebral entertainment.
Umberto Eco was an Italian medievalist, philosopher, semiotician, novelist, cultural critic, and political and social commentator. In English, he is best known for his popular 1980 novel The Name of the Rose, a historical mystery combining semiotics in fiction with biblical analysis, medieval studies and literary theory, as well as Foucault's Pendulum, his 1988 novel which touches on similar themes.
Eco wrote prolifically throughout his life, with his output including children's books, translations from French and English, in addition to a twice-monthly newspaper column "La Bustina di Minerva" (Minerva's Matchbook) in the magazine L'Espresso beginning in 1985, with his last column (a critical appraisal of the Romantic paintings of Francesco Hayez) appearing 27 January 2016. At the time of his death, he was an Emeritus professor at the University of Bologna, where he taught for much of his life. In the 21st century, he has continued to gain recognition for his 1995 essay "Ur-Fascism", where Eco lists fourteen general properties he believes comprise fascist ideologies.
Jadi, jika ada yang bertanya Foucault's Pendulum tentang apa, maka saia akan mendeskripsikannya sebagai berikut: kisah detektif, dunia komputer, mekanika fisika (judul buku ini diambil dari nama alat peraga seorang ilmuwan Perancis utk membuktikan bahwa bumi benar-benar berotasi dari barat ke timur dengan cara teramat sederhana sekaligus tak terbantahkan), filsafat, metafisika, sejarah, puzzle, teka-teki matematika, perbenturan budaya, mitologi, sejarah agama, Taurat, okultisme, misteri hermetik, dan kaum-kaum "legenda bawah tanah" yang menggelitik akal dan sejarah: Kaum Jesuit, Gnostik, Freemason, Illuminati, Biara Zion, Assassin, Kabalis, Bogomil, Kathar, dan oh, tentu saja, si raja misteri dan kontroversi, Kesatria Templar
Jika salah satu dari tema itu saja cukup membuat para pengarang lain iri, Eco, malah memborongnya sekaligus.
Tiga editor sinis dan sarkastik, bekerja di sebuah perusahaan penerbitan yang sering menerbitkan buku-buku dengan tema yang tidak lazim. Namun, tentu saja dengan latar "over-educated"-nya, mereka cepat bosan. Untuk membunuh kejenuhan dan memuaskan kelaparan intelektual mereka, tiga orang ini memulai sesuatu yang mereka anggap iseng pada mulanya, meneliti sebuah manuskrip mistis yang melibatkan kaum-kaum misterius dalam sejarah dunia. Apa yang telah mereka mulai pada awalnya sebagai bahan lelucon semata, malah mereka dapati sebagai sebuah plot sejarah manusia yang rumit, melibatkan peperangan, jatuh bangunnya dinasti kerajaan, muncul tenggelamnnya kaum-kaum esoteris yang eksotis, dan pembunuhan-pembunuhan misterius. Segera saja mereka terjerembab dalam sebuah jaring rumit, perburuan referensi kuno yang tak ternilai, pemuasan dahaga intelektual yang menggelisahkan, dan penyelamatan nyawa yang meresahkan.
Yah, anda benar. membaca buku ini mau tak mau akan membandingkannya dengan cerita konspirasi lainnya, "Da Vinci Code". Meski terdapat pararelisme dalam masalah tema, tapi jika anda menganggap FP sama dengan DVC, anda salah besar!
Secara singkatnya, DVC ibarat sepotong kerupuk. ngepop, renyah dan berisik. Tak demikian dengan FP. FP lebih seperti roti lapis aneka isi. setiap gigitannya akan mengenalkan anda pada aneka citarasa baru yang menggiurkan, lezat, dan memberikan sebuah pengalaman baru dalam membaca buku. Dengan latar pendidikan sejarah abad pertengahan, tak perlu diragukan lagi, Eco akan mengajak kita pada sebuah wisata sejarah yang meliuk-liuk, terjal, dan penuh kejutan.
Bak The Name of the Rose, Eco juga akan memanjakan para pembacanya dengan gaya bercerita yang puitis dan memabukkan. Dengan gaya bahasa Baudollino, Eco akan menghibur para pembaca dengan humor-humor segar satiris yang menggelitik tanpa perlu kehilangan ketajaman bahasa. Yah, novel ini memiliki segalanya.
Bagaimanapun, FP bukanlah produk buku "untuk dibaca semua orang". Kekayaan tema intelektualitasnya yang meledak-meledak serta penggunaan bahasa yang meliuk-liuk bagi banyak orang terasa "terlalu mengenyangkan". Tema konspirasi besar yang diusungnya yang Eco sertai dengan referensi sejarah yang memambukkan, bagi para pembaca yang tak waspada akan dianggap sebagai sebuah cerita panjang lebar bertele-tele dan membuat jari tangan pegal karena perlu meng-klik referensi silang di internet. Perlu ketekunan yang agak ekstra untuk mencerna makanan lezat yang amat banyak dalam buku ini. Tidak serenyah DVC, namun jauh lebih bergizi drpd DVC.
Perbedaan yang mencolok lain antara DVC dan FP adalah FP tidak semena-mena menjual konspirasi yang meledak-ledak dan berbau kontroversi. FP menyentuh bagian lain dr sejarah yang lebih transendental. Jika DVC terasa banget kesan emosionalnya, FP terkesan agung dan intelektual, serta beraroma spiritual. Jika konspirasi yang ditawarkan Dan Brown lebih ke arah "tantangan logika dan emosional", Eco malah menjadikan FP sebagai bahan perenungan yang penuh alusi terhadap sejarah abad pertengahan, pencerahan pada filsafat, kritik ritual keagamaan, dan makna dari berbagai fenomena esoteris dan okultis. Sebuah atraksi pamer intelektualitas yang sulit dicari bandingannya.
mengasyikan. mencengangkan. mencerahkan. padat dan kaya dalam detail. menggelitik nalar dan logika, apa lagi yang anda harapkan dari sebuah novel? buku ini seperti versi Da Vinci Code yang ditulis James Joyce
Mencengangkan dalam kekompleksitasannya, mengagumkan dalam kejenialannya, serta memabukkan dalam kefasihan bertutur katanya, quite simply, Mr. Eco is a master. Bravo!
Luar biasa... Maksudnya luar biasa lama waktu yang saya butuhkan untuk menamatkan buku ini :D Mulai dibaca ketika malam tahun baru di Bandung, selesai pada hari Valentine. *Hari valentine disini maksudnya versi umum tanggal 14 Feb, bukan versi sesepuh jaduler bernama Tomo yaitu tanggal 13 Feb dengan alasan muhamadiyah biasanya 1 hari lebih cepat*
Tidak seperti Qui yang tanpa ragu memberi 5 bintang, saya bingung ketika akan me-rating buku ini. Sebagian kisahnya terasa bertele-tele sehingga membuat bosan, tapi sebagian lagi menarik, membuat penasaran. Sebagian bahkan membuat saya harus membaca sambil googling karena kalimat demi kalimatnya penuh dengan istilah2 yang tidak saya mengerti atau nama2 yang belum pernah saya dengar. Tapi dengan begitu artinya buku ini menambah pengetahuan saya :)
Awalnya saya nyaris putus asa karena merasa IQ saya tidak cukup untuk memahami kalimat2 yang ditulis Tuan Umberto Eco. Jika saya belum mengantuk, saya baca buku ini dan tidak lama kemudian saya merasa ngantuk sekali :D Meskipun begitu, anehnya mood saya tidak hilang (ada buku2 yang tidak saya selesaikan karena mood saya hilang ketika baru membaca sedikit) untuk menamatkan buku ini.
Sebagai gambaran mengenai isi buku Foucault's Pendulum, saya sarankan untuk membaca review Qui :D
Saya setuju dengan pernyataan Qui berikut ini: - Kekayaan tema intelektualitasnya yang meledak-meledak serta penggunaan bahasa yang meliuk-liuk bagi banyak orang terasa "terlalu mengenyangkan" --> saya termasuk golongan 'banyak orang'. - Perlu ketekunan yang agak ekstra untuk mencerna makanan lezat yang amat banyak dalam buku ini. - Sebuah atraksi pamer intelektualitas yang sulit dicari bandingannya.
(berhenti di halaman 213) Cukup membingungkan saat memulai bagian pertama (Bag. Keter), walau perlahan. Beberapa paragraf musti dibaca ulang. Apakah narasi yang membingungkan di awal bagian dari penokohan? Kesulitan mengikuti cerita disebabkan luasnya diksi digunakan oleh Eco sehingga sering browsing/ buka kbbi. Cukup kagum terhadap Eco meracik berbagai unsur sejarah. Sedikit familiar dengan Templar namun saya langsung blank dengan pertalian Rosicrucian, barangkali itu tanda agar menyudahi buku ini lebih awal dan mengunjunginya lain waktu.
Jika kau tidak bisa mengalahkan mereka, bekerjasamalah dengan mereka. ~hal 106~
Membuka halaman pertama, saya menemukan ada catatan kecil. Ternyata ini merupakan salah satu buku dari kegiatan acara tukar buku BBI beberapa tahun lampau. Saya yang teledor menimbunnya he he he. Buku ini jelas merupakan hasil riset yang lumayan panjang, mungkin saja ada beberapa hal yang hanya sekedar karangan semata. Namun secara keseluruhan isinya luar biasa.
Dibandingkan dengan buku sejenis milik Dan Brown, ritme kisah ini cenderung lebih lambat. Butuh beberapa lama untuk menyelesaikan sebuah hal yang semula hanya keseingan mereka semata.
Pertamakali membaca buku Umberto Eco, adalah waktu semester 3 kuliah S1, In the Name of The Rose tentang Adso, serial murders dan misteri perpustakaan labirin di sebuah biara. Sekitar 2-3 tahun aku membutuhkan waktu untuk selesai membacanya. Membaca karya Eco seperti mengunyah makanan dalam sebuah perjamuan makan intelektual yang panjang; ada makanan pembuka, utama, dan penutup ... yang masing-masing menawarkan tautan-tautan jalinan kisah rumit penuh istilah seni, filosofi, pengetahuan dalam sebuah plot yang tak kalah kompleksnya.
Knights of Templar, mungkin itu inti tema dari novel Foucault's pendulum. Tapi mengapa malah judulnya tentang Foucault? Karena Casaubon dan dua rekannya, Jacopo Belbo dan Diotallevi, yang sama-sama bekerja sebagai editor sebuah penerbitan buku, menemukan sebuah konspirasi besar yang disimpan rapat oleh para kesatria Templar selama ratusan tahun. Rahasia ini mereka telusuri satu demi satu, mulai dari sejarah kastil Tomar di Portugal hingga kisah para Asassin Hassan di Alamut - dan berujung pada sebuah pusaran dimana mereka tak mampu lagi melepaskan diri darinya.
Sekitaran 4 bulan saya membaca buku ini, sedikit demi sedikit, dan tak membayangkan seorang Eco bisa sejenius dan serumit itu pikirannya dalam menautkan berbagai fakta sejarah, teks, literasi dan pengetahuan seluruh dunia dalam menghasilkan Foucault's Pendulum. Tapi buku ini nyata, senyata saya ingin bertepuk tangan sambil geleng-geleng kepala ... edanlah. Lebih rumit dari novel-novelnya Dan Brown. Saking terlalu rumitnya saya maklum kalau novel Eco jarang yang (bisa) diterjemahkan ke bahasa Indonesia (karena siapa yang mau membaca novel serumit dan setebal itu?).
Cuaaaappekkk banget bacanya, hahaha. Beneran deh, aku juga nggak ngerti kenapa bisa lanjut terus baca buku ini. Mungkin karena telanjur penasaran kali ya.
Awalnya, aku pengen baca buku ini karena ada unsur2 Templar-nya. Aku termasuk yg tertarik aja sama tema itu. Tapi, buku ini bukan sepenuhnya membahas Templar.
Bisa dibilang, ini tuh cerita tentang orang-orang yg terobsesi dengan rahasia dan misteri. Mereka berusaha mengungkapkan rahasia tersebut, tetapi karena memang tidak ada rahasia, mereka pun menciptakan sendiri rahasia tersebut.
Dari dua buku Umberto Eco yg sudah aku baca (The Prague Cemetery & Foucault's Pendulum), aku menarik kesimpulan kalau inti dari dua novel ini adalah: mengadakan sesuatu yg tidak ada seolah-olah sudah seperti itu adanya.
Latarnya yang rumit dan selalu berpindah pindah membuat saya agak tidak suka karena sulit dipahami, dan yang lebih mengecewakan lagi adalah akhirnya yang berisi kenihilan a.k.a tokoh utamanya gagal dalam mencari jejak temanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
buku ini menyenangkan karena terasa paling mahal buat kantong kere saya...tapi sudahlah serasa bernostalgi lagi sama kampus, dosen dengan otak pintar yg hanya berpikir tertuju pada dirinya sendiri dan ilmu penetahuan tetek bengek itu, juga kangen sama temen2 yg setiap dapat tesis2 filsuf macam De Cartes, pasti ngantuk n keluar buat ngopi di warung Bagas....
Novel Eco itu memperlihatkan bahwa Eco adalah orang yang suka n cinta pada latar belakang agama n budayanya, dengan berusaha melestarikannya n membeberkan hal2 yg masih tabu dibicarakan diluar sana sampai hari ini, sementara semua simbol yg terdapat dalam peradaban dunia ini dipengaruhi oleh pola kepercayaan, kemudian agama, ditelusupi oleh ilmu pengetahuan yg dulu dikira sebagai alkimiah, nujum, sihir, atau bidaah... waktu itu agama masih dekat dengan takhayul n misteri, sekarang, agama sudah dicerahkan n dirasionalisasikan... tapi buku ini hanya sekadar sejarah, bukan ajuan untuk mencari Harta King Salomon, anak dari Syeba, istri Uriah itu....
Novel yang mengungkap konspirasi organisasi rahasia di dunia. banyak banget yang diurai, tidak hanya yang familiar seperti freemason atau illuminati saja. dengan alur detektif yang tanpa sengaja dari para tokoh utamanya, tadinya cuman mau bersenang-senang dan sebagai pengisi waktu luang dalam memecahkan misteri yang berawal dari kelakar. taunya, menjadi sebuah perjalanan yang penuh dengan menegangkan.
Dibanding The name of the rose, novel ini cenderung lebih sangat serius. meski tetap dibumbui oleh "seni semiotika", yang memang merupakan keahlian dari penulisnya.
Ceritanya agak berbelit. Tapi, secara keseluruhan detail dari wawasan dan riset pak Eco terhadap aliran kerahasiaan yang banyak (dan baru saya tau) cukup menggugah rasa kepenasaranan saya akan teori konspirasi.
Banyak hal yang bisa di jumpai dinovel ini. alurnya agak lambat, tapi cukup untuk menyenangkan ketika dibaca di kereta, di rumah atau dimana saja ketika ingin. saya banyak menggunakan beberapa penggalan informasi di novel ini sebagai kerangka beberapa tulisan saya.
hosh hosh, akhirnya selesai juga, sempat sedih diawal-awal -well, sampai halaman 300an lah- ini cerita apaaaaa??. tapi di halaman-halaman berikut akhirnya dia muncul juga. jadi intinya, sabar! Moral dari kisah ini: siapa bilang setiap kisah harus punya moral? #hal.528. haha.
buat saya, Eco masih pelawak terbaik sepanjang masa. 'the greatest joker'
Sejauh ini menarik meskipun terasa berat. Istilah-istilah asing, benda-benda aneh, panorama-panorama yang susah dibayangkan dan masih banyak lagi. Sepertinya perlu kamus istilah khusus untuk membaca buku ini. Sayang, jika begitu harus beli lagi...
Terlalu banyak nama-nama yang tidak familiar. Terlalu banyak cerita atau kisah yang dipaparkan. Saya jadi bingung. Alhasil, saya tidak suka. Maaf, Opa Umberto Eco.