Peraturan jadi remaja: 1. Nggak boleh memakai celana pendek (apalagi di depan cowok). 2. Punya baju dan aksesori oke (apalagi yang bisa membedakanmu dari anak-anak SMP yang seragamnya sama membosankannya). 3. Harus memakai deodoran (meski rasanya geli). 4. Memakai pakaian dalam yang seharusnya, sesuai pertumbuhanmu (tahu kan maksudku?). 5. Harus punya geng yang keren (meski mereka sangat menjengkelkan, tahan saja, daripada dianggap kuper). Harus punya pacar (ini syarat supaya kamu diakui sebagai remaja keren).
Ternyata susah bangeeet jadi anak remaja, sampai-sampai kadang-kadang, aku (Jo Wilisgiri, 12 tahun) berharap nggak perlu tumbuh. Aku kangen banget pada masa SD-ku. Apalagi aku mulai kehilangan sahabat baikku dan dikhianati cowok yang kukagumi. Satu kata untuk masa SMP-ku: MENGERIKAN!
Butuh bacaan ringan? Coba baca Jurnal Jo! Bercerita tentang kehidupan seorang remaja namanya Jo yang baru aja memulai kehidupan SMP-nya.
Meskipun ga menjalani masa SMP di tahun yang sama seperti Jo (dari ceritanya sih sepertinya ketika si Jo SMP, aku masih SD wkwk), banyak hal yang tetap relatable buatku. Masa-masa pengen terlihat keren, ikut-ikutan temen hanya agar diterima di lingkungannya, ngeliat geng anak keren (aku ga termasuk sih lol), masalah sama sahabat, dan masih banyak lagi. Masa SMP beneran masa pencarian jati diri, masa-masanya merasa udah gede tapi ya sebenernya ga gede-gede amat sih karena masih suka kayak anak kecil wkwkw jadi sebenernya udah gede apa masih kecil sih?!
Intinya buku ini seru! Menghibur bangeet deh pokoknya. Berhasil bikin aku nyengir dan senyum sendiri kalo nemu bagian yang kocak. Fix akan baca Jurnal Jo seri berikutnya!
Ken Terate adalah satu dari sedikit penulis teenlit lokal yang jadi favorite author saia. Tulisannya khas dan gayanya sangat gampang dikenali. Seumpama menyimpan buku lama yang udah kuning-kuning, sampulnya robek sehingga nggak diketahui lagi tulisan pengarang bukunya, dengan membaca beberapa lembar halaman saja, saia akan dengan mudah mengetahui bahwa itu Ken yang nulis.
Jurnal Jo menjadi novel terakhir yang saia baca dari seluruh novel tulisan Ken yang setahu saia telah terbit (jadi kayaknya udah nggak ada novel Ken yang belum saia baca). Dan, saia suka, meski My Friends My Dreams masih menjadi novel karya Ken terfavorit. Jurnal Jo cocok sekali dibaca temen-temen yang masih dalam rentang usia SMP, karena setting waktunya memang di jenjang sekolah itu. Penasaran pada perubahan fisik wanita (kanak-kanak menjadi remaja), gelenyar rasa pada lawan jenis, pencarian jati diri, dan segepok masalah khas remaja ditampilkan Ken di novelnya ini.
Gaya bahasa hiperbola yang menjadi ciri khas Ken masih mewarnai hampir keseluruhan halamannya, dan saia suka. Kecuali terbongkarnya karakter asli Andre (love interest Jo, si tokoh utama) yang agak-agak klise dan sudah sering dipakai di banyak novel, saia suka dengan karakter-karakter yang dihidupkan oleh Ken.
Abis baca saya jadi pengen nyari buku tandingan tapi dengan tokohnya cowok. Apa iya, yang punya kehidupan "rusuh" di jaman SMP cuman cewek doank......???? *ngubek goodreads dulu*
======== reread #BacaPakeKuping via Storytel dan baca ebooknya via iPusnas bahan siaran Maret 2025 kali ini mau nambah bintangnya jadi 5 bintang penuh karena makin cekikikan pas bacanya.
Ga tau kenapa kayanya emang buku-buku semacam ini yang cocok parah sama aku. Bahasanya juga gampang banget dipahami. Kaya anak remaja yang suka nulis diary gitu lah. Ya, kayanya emang ini buku diary-nya si Jo walaupun yang nulis bukan dia. (Paham ngga?)
Baca buku ini ngingetin aku sama bukunya Nellaneva yang judulnya Resilience: Remi's Rebellion. Emang modelnya agak mirip sih, tapi kalo di Remi emang Reminya yang nulis sendiri diary-nya.
Overall, buku ini bagus banget buat yang lagi cari bacaan-bacaan hangat di sela-sela buku-buku berat. Bisa bikin mood yang awalnya anjlok balik lagi, happy lagi, seneng lagi.
Dan.. saatnya baca buku selanjutnya!
Jurnal Jo: Online by Ken Terate
Jujur aja, awalnya aku ga nyangka bakal ada lanjutannya sampe 3 buku. Seneng banget waktu baca halaman terakhir.
Reread lagi setelah 10 tahun >< baca terakhir series Jo ini waktu SMP dan masih terasa seru nya baca kisah Jo dalam lika-liku menjadi remaja tanggung. Banyak hal yang mengingatkan dengan masa-masa smp dan masih relatable kisah Jo ini di era millenial gini.
Buku ini di ikutkan #MembacaIndonesia RC Buku Indonesia series
Banyak teenlit yang kubaca, namun belum ada teenlit yang nyentuh banget kehidupan remaja seperti jurnal jo. I love novel ken terate karena isinya tidak melulu tentang pacaran pacaran seperti segambreng teenlit lain. Saya rekomen banget novel ini untuk kado para remaja, plus orang tua agar mereka lebih memahami anak muda.
Membaca ini di kala kepala mumet adalah pilihan yang tepat. Buku ini membawa aku kembali ke masa-masa SMP yang masih cupu, culun, dan nggak tahu-menahu soal jadi remaja yang keren. Aku suka banget dengan cara Mbak Ken Terate menggambarkan pola pikir dan kelakuan aneh bin cringe anak-anak SMP, selalu on point dan relatable. Aku juga melihat beberapa 'pesan moral' yang ada di dalam buku ini, berkaitan dengan perilaku ajaib remaja, menjadi remaja keren tanpa punya pacar, dan lain sebagainya. Ceritanya mengalir begitu saja, tapi nggak membosankan sama sekali! Ada aja kelakuan Jo dan teman-teman sekolahnya yang bikin heran tapi lucu. Walau ceritanya soal keseharian anak SMP, character development yang ada di buku ini juga oke banget loh. Pokoknya membaca buku ini adalah perjalanan nostalgic yang membuat hati hangat juga geleng-geleng kepala karena mengingat kelakuan unik di masa SMP!
Kayaknya buku ini bakal seru kalo aku baca sepuluh tahun yang lalu, sayangnya di umur yang hampir seperempat abad ini bukannya terhibur tapi bawaannya emosi liat sally dan kawan-kawannya yang si paling geng elit itu, kalo kata orang sunda mah rariweuh anyinggg
Aku pertama kali baca Jurnal Jo ketika aku di bangku SMP, dan aku inget suka banget dengan buku ini. Agak was-was pas mau baca ulang, soalnya takutnya ada yang poorly aged 🙁 (Sering begitu kan ya kejadiannya, kalau kita mengunjungi ulang buku/film yang kita sukai saat masih kecil atau remaja dulu.)
Ternyata... Masih tetep bagus sodara-sodara!
Jurnal Jo ini semacam time capsule yang dengan sangat apik menangkap nuansa dan pengalaman menjadi anak SMP di tahun 2010an. Aku suka karakter Jo karena sangat mengingatkanku dengan diri sendiri saat SMP dulu yang naif, just want to belong, dan diam-diam merindukan masa kanak-kanak. (Tentunya Jo jauh lebih keren dan cerdas dan less cringy daripada aku dulu HAHA.) Mungkin salah satu alasan kenapa aku bisa mengapresiasi Jurnal Jo saat membacanya ulang adalah karena aku sudah berdamai dengan kenorakanku di masa SMP dulu 😂 If I reread this book three years ago, maybe I'd just despise it because it reminded me too much of my past self lol
Aku memberi buku ini 5 bintang. Awalnya kupikir hanya karena faktor nostalgia, tapi setelah dipikir-pikir, nggak hanya itu. Menurutku buku ini paket lengkap, membahas kehidupan transisi dari anak-anak ke masa remaja secara menyeluruh. Gak hanya fokus bahas aspek cinta-cintaan, tapi juga aspek pertemanan (the desperation to belong to one clique, preferably the popular and cool one), aspek pembelajaran di sekolah (SMP terasa sangat beda kalau dibandingkan dengan SD), aspek pubertas (betapa anehnya sensasi menghuni tubuh "baru" yang banyak sekali perubahannya!), hingga hal-hal kecil yang tidak lagi sama begitu kamu menginjak remaja (contoh: saat lomba 17an, gak bisa lagi ikutan lomba buat bocah).
Trus aspek teknologinya juga sangat akurat dan relatable buatku, karena saat SMP-lah aku mulai serius dan rajin menulis di blog. Seingetku, teman-teman sebayaku dulu juga banyak yang bikin blog, jadi ini kayaknya pengalaman cukup umum untuk generasiku haha.
Kayaknya novel Teenlit yang tokohnya anak SMP jarang banget ya? Tidak hanya yang tokohnya anak SMP ya, tapi yang topiknya juga fokus ke isu coming-of-age secara umum dan gak melulu cinta-cintaan. Padahal novel middle grade adalah salah satu genre favoritku, sayangnya novel middle grade Indonesia gak terlalu banyak... (Plis kasih aku rekomendasi kalau kalian tahu ada yang bagus!)
Oiya sedikit OOT: when reading the book, I couldn't help to draw a parallel between Jurnal Jo and the movieEight Grade! Keduanya sama-sama bagus dan sama-sama mengeksplorasi tantangan hidup sebagai remaja SMP, meskipun latar waktu dan tempatnya sangat berbeda. (Eight Grade bahasannya agak lebih surem dan serius sih... berbeda dengan Jurnal Jo yang sangat light-hearted.)
------ Jurnal Jo adalah novel fiksi yang sangat 2010an dan sangat Indonesia, if it makes any sense haha. Feel-nya kayak lagi baca serial Lupus yang menangkap pengalaman jadi anak SMA di Jakarta pada tahun 90an. (Yang menarik, Jo mengulas tentang Lupus juga di buku ini!) Can't wait for this book to become a classic someday in the future.
Ini buku teenlit favoritku yang udah kubaca 2 juta kali pas masa SMP. Dulu pas baca buku ini kayak dapet temen gitu yang sama-sama kaget dengan dunia anak SMP dan suka banget dengan sosok Jo yang masih polos kayak bocah. Pas kemarin baca ulang rasanya kayak nostalgia gitu wkwkwk Dan selama baca seringkali aku bergumam, "oiya, aku juga kayak gini juga dulu" 🤣🤣 Tapi, karena udah sekian tahun berselang, rasanya lucu juga pas "ngeliat" Jo yang dulu seumuran denganku sekarang jadi jauh lebih muda umurnya karena itu aku bisa lebih ngeh dengan sosok Jo. Jo yang lugas, Jo yang polos tapi mulai mempertanyakan banyak hal, Jo yang mulai merasakan "krisis identitas" pertamanya menyambut usia remaja, Jo yang sayang banget sama sahabatnya Sally meski dia nyebelin, dan Jo yang bucin (untungnya akhirnya dia sadar kalau Andre itu cowok dangkal). Aku tau sekarang kenapa buku ini jadi buku favoritku dulu. Alasannya sudah pasti karena aku pingin jadi kayak Jo yang cukup berani untuk kembali ke "jalan yang benar" meski sebelumnya dia ikut-ikutan geng "cewek-cewek dangkal" dan rasanya asik gitu ikutan klub sastra kayak Jo dan ngotak ngatik blog sambil sesekali nulis review buku. Akhirnya pas SMA aku ikut eskul jurnalistik, sih (di SMPku gk ada klub sastra, jadi aku ikut eskul yang nyerepet-nyerepet ke dunia literasi aja walau baru kesampaian gabung pas SMA) dan bikin blog juga pas SMA (pas SMP aku masih sibuk ikut-ikutan temen dan sibuk memikirkan "krisis"ku sendiri jadi gak punya waktu untuk melakukan hal-hal menyenangkan itu 🥲🥲)
Ini reviewku pas pertama kali baca:
Buku ini adalah buku karya Ken Terate yang pertama kali aku baca. Dan setelah itu Ken Terate menjadi penulis yang selalu ku nantikan bukunya.
Ceritanya ringan tentang Josephine Wilisgiri (yang lebih suka dipanggil Jo) yang akan masuk SMP. Jo sama seperti aku dulu, ketakutan, parno, dan seringkali bertanya-tanya seberapa jauh perbedaan dunia SMP dan dunia anak SD, bagaimana kalau aku gak punya teman, bagaimana kalau nilaiku jelek, dan seabrek pertanyaan sepele lainnya dan setelah dijalani masa SMP ternyata gak buruk-buruk amat, kok.
Gaya bahasanya yang mengalir begitu saja seperti celotehan anak SMP membuatku tak ingin berhenti untuk mengikuti kisah keseharian Jo.
Yang kupikirkan saat baca ini adalah: hmm buku ini pasti lebih kocak dan menarik kalau aku bacanya pas masih gak punya otak.
Iya, betul. Kira-kira itu saat umurku sepantaran Jo di sini, lah, 12 tahun atau semacamnya. Aku pasti akan lebih mengapresiasi candaan-candaan khas ~anak kecil~ yang baru puber. Sayangnya, aku baca saat aku udah mulai nyebelin seperti sekarang sehingga beberapa bagian membuatku gak nyaman dan justru jadi ngebatin "eh kok kayak gini sih". Padahal kalau kupikir-pikir, anak 12 tahun emang suka aneh-aneh.
Tapi, ceritanya lucu. Kocak. (Udah kubilangkan isinya khas anak baru puber?) Masalahnya juga di seputar kehidupan remaja yang baru tau apa itu jadi remaja. Asyik kok buat bahan pelepas stres (aku cekikikan jam 2 pagi)
Aaaaa suka sekali! Membaca Jurnal Jo mengingatkan saya pada Diary of The Wimpy Kid yang begitu saya sukai! Teenlit ini terbit pertama kali di jaman saya masih SMA, tapi kenapa saya bisa ketinggalan ga mbaca buku segemesssss ini?!?! Tapi ya begitulah hidup ya, kadang dipertemukan dengan buku di usia yang sudah tidak cocok, namun saya selalu menoleransi buku cerita anak dan remaja hahahaha.
Di Jurnal Jo ini, karena baru baca di tahun 2025, saya jadi mengenang masa-masa itu, di mana internet dan ponsel adalah barang mewah, sehingga memiliki blog dan Friendster adalah privilej. Di sini ada potongan-potongan postingan blog yang ditayangkan oleh Jo di Multiply, yang mana pada waktu saya bikin blog pertama kali di tahun 2009, saya pakai Blogger karena banyak pengguna Multiply yang migrasi ke situs blog yang lain entah kenapa. Saya juga senang waktu Jo tergabung ke Klub Sastra, yang bikin saya berpikir keknya saya juga bakal masuk klub sastra ya kalau sekolah punya itu hahaha. Soalnya seru kannn abis baca buku lalu di-review, dan review-nya diposting ke blog yang orang banyak bisa baca. Kayak bookstagram ya di jaman sekarang. Ada mention Goodreads juga.
Dan mention Harry Potter juga! Waaaaa tahun-tahun itu hype banget Harpot. Uuuu jadi nostalgia banget.
Gaya bahasa Jo (atau Bu Ken sendiri) kasual sekali, begitu sehari-hari dan mengalir, enak dibacanya. Menurut saya, kalau penyajiannya menggunakan jenis huruf tulisan tangan dan ada garis-garis ala buku harian, keknya cocok juga ga sih hehehe.
Ketika saya sedang mencari bacaan ringan, saya bahagia menemukan buku teenlit ini. Ceritanya persis dialami anak-anak SMP kelas 1. Meski kalo dipikir-pikir, ketika masih SMP saya ngga terlalu heboh seperti Jo. Mungkin karena saya jauh lebih 'biasa' dibanding Jo yang luar biasa.
Setelah tamat SD, Josephine Wilisgiri harus mempersiapkan dirinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ternyata yang persiapkan tidak hanya sekolah baru dengan teman-teman baru, tapi juga gerbang kedewasaan yang sepertinya belum siap ia alami. Contohnya saja Sally, sahabat yang sekaligus tetangganya selama belasan tahun. Pergaulan SMP dengan geng gaul sudah mengubah Sally menjadi Ally, kemudian menjadi Ginny. Yup, masa SMP sering kali menjadi ajang eksplorasi diri yang bisa dikatakan aneh-aneh bagi kacamata orang dewasa. Geng keren Sally ini tidak hanya mengubah Sally menjadi sosok centil tapi juga menyebalkan bagi Jo. Namun bagi Jo, meski menyebalkan, diri Jo yang culun diam-diam juga mengangankan menjadi bagian geng anak gaul.
Membaca Jurnal Jo mengingatkan kembali akan masa-masa sekolah dulu. Masa pengalihan dari kanak-kanak menuju remaja awal. Haha. Jo memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama. Mulai mempertanyakan hal-hal yang baru menurutnya. Tentang miniset, tentang hubungan pertemanan, tentang nama keren, genk sekolah, dsb.
Sosok Jo yang polos dan selalu mempertanyakan hal remeh temeh menghidupkan kembali sosok remaja tanggung dalam diri saya. Jo yang sebal karena satu sekolah dengan ayahnya yang merupakan guru bahasa Jawa di sekolahnya. Jo yang punya adik-adik menyebalkan. Jo yang punya sahabat sejak kecil, tapi songong. Jo yang bertemu dengan geng keren sekolah. Jo yang ini. Jo yang itu.
Jo ini memang mirip dengan Jo dalam novel Little Women deh. Hahha. Secara dia bilang namanya juga diambil dari tokoh Josephine dalam novel karya Louisa May Alcott tersebut.
Siapa bilang menjadi remaja itu menyenangkan? Yah, bagian menjadi remajanya mungkin menyenangkan, tetapi proses peralihan dari anak ke remaja itu yang kadang mengerikan. Sebagaimana proses peralihan dari remaja ke dewasa, atau dewasa ke tua; peralihan dari anak ke remaja bisa menjadi salah satu tahapan hidup yang rentan bikin stres bagi beberapa orang. Setidaknya inilah yang coba dikisahkan Josephine Wilisgiri lewat novel Jurnal Jo ini. Menjadi murid SMP tidak hanya berarti dia tidak SD lagi, tetapi juga bahwa dia harus mulai memakai miniset, menggunakan deodoran, lebih memperhatikan penampilan, dan mencoba jatuh cinta pada cowok. Bagi Jo, semua itu nggak banget--terutama bagian cowoknya.
Mengerikan. Itu yang dirasakan Josephine Wilisgiri ketika dia akan memasuki kehidupan SMP. Dia harus memakai rok biru yang tidak bisa mengembang ketika memutar tubuh, dia harus naik bus, harus mulai mengenal deodoran bahkan miniset! Yang lebih mengerikan lagi dan sangat menyebalkan, sahabatnya sejak kecil, Sally, memberitahu rahasia masa puber, mengubah nama agar gaul dan memiliki geng yang keren, kunci menjadi idola di sekolah. Tidak hanya itu, dia satu sekolah dengan ayahnya yang seorang guru Bahasa Jawa, akan menjadi muridnya juga. Beranjak dewasa benar-benar tidak disukai Jo.
Perkara 'sekarang bukan anak-anak lagi' tidak berhenti sampai di situ, ketika Rajiv, tetangganya yang seorang keturunan India datang untuk berkeliling mengumpulkan dana dan barang untuk acara tujuh belasan dan sumpah pemuda, karena mereka satu tim sosial di Karang Taruna, Jo tidak boleh memakai celana pendek. Kian dewasa banyak hal yang kian dilarang, demi sopan santun, demi kepantasan. Namun, ada serunya juga menjadi tim sosial, kata Rajiv, tugas ini unik karena kita bisa menilai orang dari cara mereka menyumbang.
Di sekolah, Jo mengikuti klub sastra, kegiatan ekstrakurikuler yang dia pilih karena nggak bikin capek, pertemuannya pun di perpustakaan ber-AC. Berisi orang-orang aneh, seperti Jo. Jo pikir kegiatannya bakalan gampang, ternyata mereka diwajibkan membaca minimal satu buku seminggu dan membuat ulasannya, yang nantinya dimuat di blog, saling bertukar buku. Dari sini, nantinya Jo memiliki blog sendiri yang diberi nama Jurnal Jo, berisi unek-uneknya tentang susahnya jadi remaja. Yang salah lagi, Jo kira semua anggotanya kutu buku dan berkacamata, tenyata ada kakak kelas yang sangat cakep, sanggup membuat jantung Jo berdetak keras! Sebenarnya sejak kapan kita berubah dari anak menjadi remaja atau dewasa? Pertanyaan ini selalu mengusikku. Apakah setelah umur dua belas? Setelah lulus SD? Kalau begitu, kenapa aku nggak bisa merasakannya? "Jo, orang yang senang memberi juga akan senang menerima. Bagi mereka, menerima berarti memberi kesempatan orang lain untuk beramal juga." Ingatlah kita sedih supaya kita bisa GEMBIRA kalau kesedihan itu sudah berlalu. Jurnal Jo sangat relate dengan kehidupan saya di masa puber dulu, dan mungkin para remaja kebanyakan. Mulai dari harus naik bus karena jarak sekolah dengan rumah sangat jauh, memakai aksesoris, mempunyai geng, dicomblangin dengan cowok yang kita tidak suka, sampai melupakan permaianan yang disukai waktu kecil, seperti 'mencari jejak'. Perihal orangtua yang kelewat pelit alias miskin, harus belajar berhemat agar bisa membeli barang yang kita suka, sampai satu sekolah dengan ayah sendiri dan diajar olehnya, jadi tahu banget perasaan Jo, hahaha.
Selain transisi menjadi remaja atau dewasa, Jurnal Jo juga menyentil tentang betapa sulitnya menjadi diri sendiri. Misalkan ketika teman memiliki HP, tentu ada rasa ingin memiliki juga, pun ketika memiliki geng maupun gebetan, siapa yang tidak ingin menjadi keren? Memang bagus, tapi sangat sulit, harus memiliki keteguhan yang kuat untuk menerima diri apa adanya. Lewat diri Sally, sahabat Jo yang sangat berubah ketika beranjak dewasa, di mana dia mengikuti standar teman-temannya yang terlalu tinggi, dia harus banyak berbohong.
Beranjak dewasa kita juga akan menemui banyak rupa. Misalkan lewat sosok Andre yang tampan dan begitu mempesona, mengajarkan bahwa banyak yang palsu di dunia ini. Rajiv salah satu contoh menjadi dewasa tidak semuanya buruk, memiliki pandangan luas dan sangat bijaksana. Lewat kegiatan tim sosial, Jo belajar banyak tentang mengenali pribadi seseorang, lihatlah orang dari hatinya, jangan statusnya.
Klub sastra salah satu bahasan yang saya suka, pengen banget gabung. Sayang banget dulu nggak ada, blog belum dikenal luas atau bahkan belum tercipta, hahaha. Bagian ini kita akan melihat cara mengulas buku secara sederhana dan menuliskannya di blog. Bagian saling tukar buku agar nggak boros juga ide yang menyenangkan, lalu mengemukakan pendapat tentang buku yang kita baca di pertemuan klub rasanya pengen mencoba secara langsung :)
Rajiv cocok banget dinobatkan sebagai tokoh favorit, tapi bagi saya pilihannya tetap Jo. Karena dia 'aku banget', banyak hal di diri Jo yang tak ubahnya dengan saya dulu. Yang tidak siap menerima perubahan, tidak ingin menjadi dewasa (bahkan sampai sekarang menolak tua :p), sikap sinisnya dengan keadaan sekitar baik lingkar pertemanan dan keluarga. Kepolosannya tidak jarang membuat tertawa, misalkan ada istilah gaul yang dia tidak mengerti, keenganan untuk menggunakan miniset. Ngedumel kalau disuruh orangtua mengerjakan sesuatu, misal menghitung sendok :p
Jurnal Jo sangat bagus sekali untuk genre coming of age dalam negeri atau teenlit, sangat remaja sekali. Ken Terate sangat tahu permasalahan -yang bahkan sampai sekarang pun tidak jauh berbeda, yang kerap dialami para remaja. Buku ini juga perlu dibaca oleh orang dewasa, agar mereka memahami bahwa menjadi remaja itu tidaklah sederhana, walau mereka pernah melewati fase tersebut, selalu ada pembeda, yang membuat kita tidak pernah berhenti belajar untuk memahami, alih-alih menghakimi.
Menurutku sih karena sebenarnya masalah remaja itu sama saja dari waktu ke waktu. Nggak jauh-jauh deh dari masalah sekolah, orangtua, teman, cinta.
"Kurasa kita memang punya cara untuk menjadi keren sendiri-sendiri."
Dengerin ini via audiobook di Storytel. Dan engga nyesel baca ini via audiobook alih2 ebook yg sebelumnya sempat gue baca sedikit. Suara dan ekspresi (suara)nya nyatu banget dengan ceritanya yg light dan vibenya yg fresh (kenapa jadi review audiobooknya? lol)
Reading this book gave me a big nostalgic-feeling package! Lucu banget di awal2, tapi makin ke belakang entah kenapa gue engga ketawa sama sekali. Tapi keseluruhan ceritanya tipikal drama dan adaptasi anak remaja peralihan SD-SMP memang, cocok banget dibaca buat anak2 remaja yg baru2 puber =D
Bagus, cocok untuk remaja (kan emang teenlit). Aku baca ini di umurku yg uda 25 tahun. Dan kaya nostalgic balik ke jaman pertama masuk SMP. Pertama kali dpt surat cinta, pertama kali puber, main geng gengan, bikin nama panggilan. Pokoknya I’ve been through all from this book!
Menarik. Sangat cocok untuk anak yang usianya awal belasan (11-14). Transisi dari masa SD dan SMP memang tidak mudah. Berkali-kali aku teringat akan masa sekolahku sendiri ketika membaca buku ini.
This novel tells the story of a teenager girl named Josephine was 12 years old Wilisgiri. She is the daughter of a Javanese language teacher and English teacher. She has a friend named Sally, they were friends since elementary school. But friendship is melted away when Sally entered junior and acquainted with cool kids in his class. Since then, Sally did not consider Jo as a friend anymore. In fact they are one class. Jo often ridiculed with Sally’s genk named stamped elite genk that squirt teens because they do not have genk. Jo is not really like with young boys. Because the SD first time she was often teased by a boy. When Jo sixth grade, boys like to hold a girl's chest and then fled. But it collapse since she joined the literature club and know with andre. Andre is the chairman of the literary club and he was appointed Jo as sectary. One day Andre fallin in love with Jo to be his girlfriend and Jo accept it. But Jo only was manipulated by Andre. All tasks such as archiving of literary clubs short stories, poetry, all incoming manuscripts, reviews and so forth. While Andre precisely choir extra care because it will contested. In fact he was not a choir team leader. Jo eventually decided Andre as his girlfriend. The advantages of this novel is to contain the messages that we can take, like we have to live independently and to remind us that don’t choose friends. So it can motivate us to be a good teenager.
Buku Ken pertama yang saya baca...dan dari halaman pertama langsung sukaaa. Ternyata teenlit Indonesia nggak kalah kerennya kok. Terima kasih buat Ijul atas pinjaman tanpa bunganya...kayaknya bakal banyak koleksi teenlit dan metropop Ijul yg akan saya pinjam sesudah ini hehehehe
Eh, tapi saya ada satu pertanyaan nih. Sebenarnya motif si Andre masuk klub sastra dan mendekati Jo itu apa ya? Kan dia sudah didaulat sebagai cowok paling keren di sekolah, jadi buat apa dia bersusah payah lagi, sampai ngibul-ngibul bisa baca 8 buku per minggu?
Oiya satu lagi, senangnya liat Goodreads muncul di buku ini. Mungkin banyak remaja atau ABG yang gabung ke Goodreads ya setelah baca Jurnal Jo ^_^
Jurnal Jo. Cerita tentang seorang anak perempuan bernama Josephine, atau biasa dipanggil Jo, yang baru saja beranjak puber, or some people call it.. ABG!
Ceritanya emang ABG banget! :D Mengambil tema dari kehidupan sehari-hari anak yang baru masuk SMP. Bagaimana caranya dapat teman yang keren, cowok ganteng yang ternyata rese, dan kenyataan bahwa bau badan kita mulai ngga enak ketika memasuki usia puber!
Dengan bahasanya yang ringan, membuat pembaca pengen terus dan terus buka halaman selanjutnya dari buku ini :D
Yang ngerasa ABG dan pernah jadi ABG, ini bener-bener bacaan yang wajib kalian baca! ;)
ps : aku baca buku ini berkali-kali dan bener-bener ga ngebosenin!
amazing book! Ceritanya sangat mirip dengan kehidupan anak yang menginjak remaja :D Bercerita tentang seorang anak yang menginjak remaja bernama Jo. Dengan kepolosannya dia menghadapi dunia remaja yang tak pernah ia bayangkan. Dan dia tetap percaya diri dengan apa yang ia lakukan. Pelajaran yang dapat diambil dari buku ini: Be your self! Percaya dengan apa adanya diri kamu. Dan terus berlaku jujur.
Story about a young fresh teenager, josephine Wilisgiri who gonna start her new life as a junior high school student. Experiencing her new world with worry, helpless when she find out that her best friend turn changed over and dealing with love sick. Ouh... How much she miss her cildhood !?
ceritanya simpel, jujur, polos. betul-betul awal masa transisi yang luar biasa! Mulai berpikir dewasa, Cinta pertama, Ekstrakulikuler yang ribet tapi rame, mantap....
Novel teenlit Jurnal Jo yang nomor 1 ini menceritakan tentang seorang anak perempuan kelas 7 (baru masuk SMP) yang bernama Josephine Wilisgiri, panggilannya Jo. Jo mempunyai ibu seorang guru bahasa Inggris di sebuah SMA, ayah seorang guru bahasa Jawa di sekolah yang sama dengan Jo, adik perempuan yang bernama Sophie, dan adik laki-laki yang bernama Kevin. Jo mempunyai teman perempuan sejak kecil (karena bertetangga) bernama Sally, dan juga teman laki-laki orang India (tetangga) bernama Rajiv yang dikenalnya dari Karang Taruna. Novel ini lebih menceritakan atau memfokuskan pada kehidupan remaja SMP, di mana mulai pubertas. Bagi anak kelas 7 SMP (baru masuk SMP) mulai menandakan beberapa hal penting yang menurut mereka keren dan harus dilakukan saat jadi remaja, seperti berikut: 1. Memakai celana panjang. 2. Punya nama panggilan yang keren. 3. Punya baju dan aksesori yang keren (gelang sih biasanya) 4. Mulai memakai pakaian dalam sesuai pertumbuhan tubuh 5. Punya geng 6. Punya pacar.
Masalah yang dihadapi oleh Jo ini ketika Sally meninggalkannya (punya geng, dan ikut bergaul dengan teman-teman kaya), Jo juga suka pada ketua klub Sastra di sekolahnya yang bernama Andre, mereka pacaran namun ternyata Jo dikhianati Andre karena Andre juga berpacaran dengan salah satu teman geng Sally yang bernama Mei, dan Jo yang ditunjuk menjadi panitia untuk acara Pekan Bahasa yang diadakan oleh klub Sastra sekolahnya yang dia ikuti. Di klub Sastra, Jo juga mendapatkan tugas untuk rajin mengedit blog milik klub Sastra, dan dia juga jadi punya blog sendiri yang bernama Jurnal Jo.
Novel ini mengingatkanku kepada kenangan-kenangan yang aku alami dulu ketika kelas 7 SMP, di mana aku juga punya pacar namun bernasib sama seperti Jo. *eh curcol. Lalu ingat juga aku punya panggilan "Donna" seperti nama artis tapi ini asli dari nama tengahku, dan aku mengikuti ekstrakurikuler KIR dan Jurnalistik , yang aku tidak menikmati membuat karya tulis ilmiah namun aku menikmati membuat review film yang kutonton serta review buku yang kubaca.
Novel teenlit Jurnal Jo ini memang cocok untuk dibaca remaja. Tapi aku yang sudah kuliah juga menikmatinya, sih. Gaya penulisan dalam novel ini benar-benar bagus, bahasanya sesuai dengan remaja, gaul namun tidak terlalu gaul dan enak untuk dibaca, tidak terlalu baku. Jadi, buat kalian yang menggemari genre teenlit, slice of life, atau school life, aku rekomendasikan novel teenlit Jurnal Jo ini.
seru banget 🫶 nggak nyangka aku bakal menyukai teen lit. aku tuh udah jarang banget baca teenlit karena emang mungkin aku nya udah dewasa (ah masa) atau memang belum nemu yang aku suka aja walau teenlit tuh dulu favorit aku banget.
sangat menyenangkan mengikuti keseharian jo yang baru masuk SMP. pastinya terasa berbeda karena jo mulai pakai rok biru. jo mulai pakai deodoran. jo yang tadinya ikut lomba sekarang jadi panitianya. beginikah rasanya jadi remaja?
ingatanku nggak terlalu jelas tentang masa SMP. yang aku ingat aku menstruasi saat kelas 5 SD (yang mana menurutku aneh karena kynya belum ada yang mulai menstruasi saat kelas 5 SD). teman2 membicarakanku. mereka bahkan bertanya pembalut merek apa yang aku pakai.
aku merasa, yah nggak gimana gimana sih. setelah dipikir pikir haid itu kan hal normal bagi perempuan. aku ngomongin haid begini padahal bukan itu yang menjadi fokus utama jurnal jo hahaha. yah, aku kepengen aja.
apa sih anak keren itu? saat kita punya geng yang mentereng? saat kita lewat di lorong kelas bagai lewat red carpet? saat shopping bersama di mall? jo tadinya bukan termasuk kelompok anak keren itu.
teman jo sejak kecil, sally, mulai menjadi bagian dari geng nadine. nadine itu anak blasteran. sally pun mulai mengacuhkan jo. sally merasa jo nggak keren. sally mencari jo saat butuh aja.
tapi apalah artinya menjadi keren ketika kamu mengecewakan orangtuamu? diam diam pergi ke konser. merengek minta dibelikan HP. merengek minta dirayakan ulang tahunnya. padahal, nggak apa apa kalau kamu nggak melakukan semua hal itu. dunia nggak akan kiamat.
sepertinya aku akan lanjut ke buku berikutnya. tapi harus diseling dulu hehe