Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu

Rate this book
Jadi warna apa yang sebaiknya kupilih? Warna apa yang akan membuatnya menemukanku? Ungu? Merah muda? Hijau? Mmm. Akhirnya kupilih warna biru dan abu-abu, warna penantian bagi Nenek, yang juga sesuai dengan musim dingin, untuk dengan sederhana mengatakan; aku akan terus menunggu sekalipun kamu tak tahu, dan aku akan terus menunggu dalam keadaan Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu.

188 pages, Paperback

First published April 1, 2014

34 people are currently reading
459 people want to read

About the author

Norman Erikson Pasaribu

15 books96 followers
Norman Erikson Pasaribu was born in Jakarta in 1990. His first short story collection Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (Only You Know How Much Longer I Should Wait) was shortlisted for the 2014 Khatulistiwa Literary Award for Prose. His debut poetry collection Sergius Mencari Bacchus (Sergius Seeks Bacchus) won the 2015 Jakarta Arts Council Poetry Competition, was shortlisted for the 2016 Khatulistiwa Literary Award for Poetry and named by Tempo as one of the best poetry collections of that year.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
94 (22%)
4 stars
178 (43%)
3 stars
97 (23%)
2 stars
34 (8%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 114 reviews
Profile Image for Satria Anggaprana.
1 review
May 6, 2014
Saya sangat jarang membaca buku sampai selesai paling hanya sepuluh atau lima buku setahun itu pun didominasi dengan buku-buku non fiksi dan mungkin hanya satu dua buku fiksi, sisanya lebih banyak tidak rampung. Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu menempati posisi awal di buku yang saya selesaikan tahun ini. Meskipun berisi dua puluh cerpen saya masih merasa tebal buku ini dapat saya selesaikan dalam sekali perjalanan kereta selama tiga jam. Buku dengan judul terpanjang sepenerbit Gramedia Pustaka Utama ini memiliki sebuah garis penghubung antar ceritanya yaitu penantian. Banyak penulis yang sudah mengangkat tema yang bisa menjadi “tacky” ini kalau tidak meraciknya secara baik tetapi Norman membawakannya seperti seorang koki yang sudah belajar dan menghabiskan hidupnya untuk mempelajari berbagai bahan makanan dan resep.

Di dalam buku ini kita diajak untuk memasuki dunia dari mereka yang obsesif dalam hal penantian, kerapian dan keinginan agar cerita dapat dibaca dengan enak. Tanpa disadari sebenarnya penulis memiliki banyak pengetahuan atau hasil riset yang dimasukkan ke dalam cerita tanpa harus memaksakannya menjadi inti cerita itu sendiri. Banyak hal berat yang dipadukan dengan kisah cinta dan kesedihan personal, Norman di dalam buku ini membuat sejarah dan fenomena eksternal menjadi sesuatu yang personal bahkan ia menyajikannya sedemikian rupa sehingga kita sebagai pembaca bahkan tanpa disadari masuk ke dalam dunia yang dia bentuk.

Beberapa hal yang sebenarnya berat tetapi dijadikan bagian dari cerita-cerita cinta ini antara lain: Pembantaian Etnis Tionghoa 98, Bild Lilly (lambang dari kapitalisme barbie yang sebenarnya cukup mengerikan), denominasi dalam Kristianitas (Advent dan Protestan), imigran, kegandrungan orang saat ini dengan test psikologi, cara pikir orang Batak, Diskriminasi agama, hingga mengenai HH Dalai Lama XIV yang mungkin begitu tersembunyi di dalam cerpen Mendaki Bersama Xingjian. Dan satu lagi topik besar yang mendasari buku ini adalah mengenai isu Straight, Lesbian dan Gay.

Selain topik atau sejarah yang diangkat di dalam cerita, penulis buku ini juga sepertinya sangat menyukai angka dan simbol-simbol serta hal-hal alkitabiah (bukan dalam hal ajaran tetapi sebagai simbol, mitologi atau sejarah yang menarik) seperti di cerpen Hal-hal penting yang terjadi selama kau tak ada dimana si laki-laki merasa haus dan meminta minum ini dapat kita kaitkan ke saat Yesus disalib dimana ia merasa sangat kehausan serta banyak juga penyebutan angka tiga misalnya.

Banyak juga sebenarnya cerpen yang saling terkait setidaknya ada 2 bagian (masing-masing tiga cerpen)-lagi-lagi simbol angka tiga. Yang jika kita baca dengan serius penulis menyajikan berbagai versi dari cerita yang ada misal untuk Novelis Terkutuk, ada juga yang berupa kejadian pada masa yang lain seperti pada Garpu. Sampai sini saja kita dapat melihat bahwa penulis memang sangat perfeksionis dalam menyusun bukunya.

Buku ini memiliki ciri dari karya postmodern salah satunya adalah tidak bermaknanya lagi konsep mengenai seseorang atau dapat disederhanakan menjadi nama. Penamaan seperti tidak bermakna lagi ketika kita dapat menggambarkan si tokoh dengan apa yang dia hadapi dan bagaimana dia berpikir. Ini mewakili kondisi masyarakat kita saat ini yang semakin diverse dan bermobilitas tinggi sehingga kadang nama menjadi tidak bermakna dan kita lebih mengenal seseorang dari apa yang ia lakukan dan cara pandangnya meskipun masih terdapat makna penting dari nama yaitu menggambarkan asal seseorang yang bisa jadi semakin kabur di masa yang akan datang. Karya postmodern juga merombak ulang tatanan yang mapan dari masa modern sehingga mulai membentuk bentuk-bentuk baru yang tidak boleh dibakukan. Di dalam buku ini hal itu tidak tampak dalam bentuk form dari cerpen tetapi terbentuk dari penggunaan catatan kaki yang cukup optimal untuk membentuk lapisan cerita maupun judul yang sangat panjang, penggunaan istilah masa kini yang belum dibakukan dan cerita yang kadang begitu mendetail meskipun bukan hal yang sangat baru.

Kelemahannya yang baru dapat saya tangkap hanya masih adanya kesalahan penulisan seperti ketiadaan titik diakhir kalimat, huruf “a” yang diketik “h” dan beberapa lagi yang lainnya. Kelemahan lainnya adalah buku ini seharusnya diterbitkan lebih awal karena banyak hal-hal yang sangat relevan jika dimunculkan pada tahun 2011 seperi halnya sms ibu yang meminta pulsa.

Pembaca Indonesia yang terlalu dimanjakan oleh penulis seperti Murakami, Hemingway dan Marquez akan diajak melihat dunia lain yang sebenarnya eksis dan tidak tidak bagus mungkin ini juga sisi postmodern dari buku ini karena membuka mata kita bahwa masih banyak buku bagus di luar sana yang belum sempat kita jelajahi seperti sastra Eropa khususnya yang berbahasa Jerman dan sastra kontemporer Amerika Serikat. Pengaruh penulis berbahasa Jerman, Herta Müller dan Jelinek dapat dirasakan di buku ini dalam bentuk penolakannya pada kemapanan bahasa (meskipun penulis sangat perfeksionis dalam menyusun struktur dan kalimat), dan metafor yang dibuat tidak kaku dan terasa terpisah tetapi menyatu dengan cerita. Pengaruh sastra kontemporer AS seperti dari Miranda July juga terasa di dalam cerita-cerita di buku ini.

Dan mengenai karya seperti makanan, mau serumit dan sedetail apapun bahan dan cara mengolah yang dipakai atau sesimpel dan seringkas apapun hal yang penting dari karya dan makanan adalah apakah ia dapat dimakan dan dinikmati bukan hanya hal baku apa yang perlu dibuat dan ditaati.
Profile Image for Linda♥.
349 reviews
November 21, 2014
"Aku sudah mencarimu. Ke setiap tempat yang mungkin dan tak mungkin kamu singgahi, termasuk perkemahan sirkus dan pasar kembang api. Aku mendatangi penjual kembang api naga favoritmu dan berkata kepadanya, aku kehilangan Cintaku, apakah kamu melihat Cintaku?

Dia justru mengernyit dan bertanya apakah aku sedang membawakan sebuah sajak." (hal. 64)

(Atau apakah aku gila.)


Menunggu.

Satu kata sendu itu bisa berarti menunggu banyak hal seperti:
- menunggu namamu dipanggil untuk check-up dokter di hari Rabu
- menunggu BRT di halte dekat rumahmu
- menunggu kembalian uang lima ribu
- menunggu gajimu cair bulan itu
- menunggu cintamu mengucap rindu
- atau menunggu maut menjemputmu

Menunggu membutuhkan kepastian. Kau dan aku tidak akan pernah tahu kapan menunggu akan menorehkan tanda titik di akhir. Hanya dia yang kau dan aku tunggu yang tahu kapan kau dan aku harus berhenti.

Menunggu juga tak memerlukan keharusan. Aku bisa berhenti, begitu pula dirimu. Tapi kata berhenti itu sebenarnya semu. Kau dan aku telah mengumumkan ke seluruh dunia kalau kau dan aku berhenti menunggu, tapi sedetik kemudian kau dan aku meragu, kembali menunggu. Hanya dia yang benar-benar tahu kapan kau dan aku harus berhenti.

Kau dan aku bisa menunggu seumur hidup. Kau dan aku bisa saja menunggu dia yang tak pernah datang dan memutuskan untuk hidup dalam hati terkekang bersama dia yang tidak kau dan aku tunggu. Kau dan aku bisa saja mati sia-sia karena terus menunggu.

"Dunia ini terkadang seperti penantian yang tak usai-usai. Perjalanan yang sunyi. Kadang menyenangkan, lebih sering menyakitkan. Ditinggalkan. Terpaksa meninggalkan. Patah hati. Dilupakan. Terpaksa melupakan. Kalah. Terpaksa menyerah..." (hal. 83)

Kau menunggu.
Aku menunggu.
Dia menunggu.
Atau tidak sama sekali.
Lalu kapan siklus itu berhenti?

"Kini kita bertiga tidak juga berbicara. Udara merupa pasir gurun Mesir yang memenuhi alveoli, bronkus, paru-paru, kerongkongan, rongga mulut: kita mati dalam diam. Diam yang pepat." (hal. 113)
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
April 22, 2014
Saya bersyukur sekali bisa mendapatkan bingkisan dari GPU buku bagus ini. Saya rasa buku ini adalah kumcer dengan judul terpanjang selama sejarah penebritan GPU, Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (red: HKYTBLLAHM). Mendengar judul dan nama pengarangnya langsung kumasukkan daftar wishlist 2014.

Mengapa saat membaca cerpen-cerpen di buku ini, saya mengingat Pak Yudhis di Saras 008. Masih ingat? Dia profesor yang pandai tetapi "rempong" dengan urusan tetek bengeknya sendiri. Dan di cerpen ini pencerita baik itu penulis atau tokoh dalam cerpen terlalu riuh ngomongin macam-macam. Sedang bicara tentang seorang laki-laki di taman tiba-tiba di tengah muncul tentag kopi, buku, dan macam-macam. Membicarakan bantal tiba-tiba ke apa. Jelek? Kuakui tidak. Ya meski setiap pembacaan tidak bisa langsung melanjut ke cerpen selanjutnya, tetap berjeda mikir maksudnya apa.

Penulis sepertinya tidak hendak mengisahkan detail siapa sebenarnya tokoh. Kebanyakan cerpen selalu ingin menjelaskan bentuk fisik tokoh. Rambutnya bagaimana? Pipi? Hidung? Jenis pakaian, dan macam2? Tetapi di buku ini hampir semua cerita tidak membutuhkan bagaimana deskripsi fisik tokoh (bahkan nama, umur, jenis kelamin tidak dibutuhkan). Penulis mengembalikan cerpen ke bentuk cerita. Story ya story.... Saya butuh waktu jeda agak alama dan sampai bingung mengerti ini tokohnya siapa atau apa?

Misal di cerpen pertama Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal, saya menafsirkan tokoh "aku" adalah bantal yang biasa berwarna ungu menjadi merah. Meski kehadiran bantal juga bisa menjadi makna terselubung. Mengapa harus bantal? Sedekat apapun bantal, sesayang apapun kita kepada bantal, tetap dia hanya kita timpa dengan kepala dan ikhlas rida menerima keringat, liur, ketombe, dan aroma shampo kita. Apa begini sedihnya kasih tak sampai?

Penulis ini cerdas banget! Makan apa sih? Bahasanya seperti bahasa terjemahan dan meski rumit tapi asyik. Tetapi ada beberapa kalimat yang aku mengernyitkan dahi. Sebagai contoh: ...telur mata sapi, hampir dalam artian harfiah -karena digoreng dengan minyak goreng bekas yang sudah menghitam. (h.28 dari cerpen "Paskah"). Arti harfiah telur mata sapi? Telur mata sapi menjadi frasa yang berubah arti dari arti sebenarnya. Lalu apa maksud arti harfiah? Telur dari mata sapi? "telur'-nya mata sapi? Air mata? Air mata sebagai hasil ekskresi mata karena telur dadar dengan bentuk sunny-side up yang dijadikan bekal digoreng dengan minyak goreng curah. Initafsiranku.

Lalu metafora di cerpen Garpu adalah keren. Empat mata garpu menjadi simbol tiga manusia (dua perempuan dan satu laki-laki). Seharusnya empat dua permepuan dan dua laki-laki dalam kehidupan normal. Tapi? Entahlah karena penulis tidak terlalu suka menyebut siapa dengan jelas, maka kita tidak tahu (sebelum tuntas) maka tidak diketahu siapa dengan siapa yang menikah, hingga meninggalkan "aku" untuk sendiri. Apakah kombinasinya perempuan-laki-laki atau laki-laki perempuan. Dan ternyata adalah.... lihat ending! Aku googling siapa Vera Wang dan Roberto Cavalli.

Sebenarnya sungguh aku hanya ingin keluarga darurat ini tetap serupa garpu makan, tiga cabang; bukan garpu kue yang dua cabang dan satu tusukan sate Great!

Lalu apa semuanya benar-benar absurd dan butuh kening berkerut? Dalam cerpen Membersihkan Rumah di Hari Libur (dulu baca di Horison), ini jelas sekali. Meski memang masih tidak dijelaskan apa aku perempuan dan yang dirindukan laki-laki (normal)? aku laki-laki dan yang dirindukan laki-laki? tetapi jelas ini masalah adat Batak tentang marga. Semua kesamaan, di dunia ini, cocok untuk percintaan, kecuali jenis kelamin dan nama belakang (h.59). How menurut anda?

lebih tidak absurd adalah di cerpen Mendaki Bersama Xingjian. Meski ceritanya agak surealis yang bertemu dengan Gao Xingjian (meski tidak diceritakan secara eksplisit). Tapi bahasanya tidak "mblulet". Tapi saya masih menanyakan dari mana angka-angka rasa asli naskah akan turun menajdi 25% di penerjemahan pertama? Lalu kurang 57,8125%? Ya memang ini fiksi, tapi dari kebiasaan penulis menyajikan catatan kaki, mungkin saya harus nyari data ini. (Kelihatan si pembaca ini tidak baca banyak buku, makane kalau penulis hebat sering nggak nyampe. Otak akika buntu)

Perihal catatan kaki, sepertinya catatan kaki juga bagian dari cerita. Kadang kalau kita sedang ngobrol sesuatu dengan sahabat, kita kadang menyela dan menghentikan untuk menambahkan keterangan yang panajngnya terserah. Yaa penulis pun demikian. Bahkan dicatatan kaki bukan sekadar penjelas data, kata, atau sebuah idiom, tetapi juga bercerita kepada pembaca. Bahkan di cerpen KUK (Horison, April 2014) catatan kakinya sederet seperti tambang. Jadi catatan kaki bukan hanya penjelas tapi juga cerita.

Saya ingin tertawa keras saat membaca Pesta Bonnie. Jadi ingat saat orang yang kukasihi dinikahi lelaki lain. Kublok nomornya, unflollow twitter, WA, unfriend FB. Tapi diam-diam masih saja nyari-nyari kabar dia di sos-med. Haahaa seru.

Lalu ada kisah seorang KONDEKTUR bus dengan perasaan tidak dibutuhkan lingkungan, penumpang, sopir. Tapi ada satu kebiasaan yang luput ditulis penulis, bahwa kondektur juga sering menggantikan sopir sebagai serep. Jadi sebenarnya ada peran penting juga... Karena dia iri dengan orang-orang yang diperhatiakan bahkan oleh pengamen tak penting: "Terimakasih pada bapak sopir dan penumpang..." Di manakah keberadaanku dan untuk apa? Setiap hari aku hanya sanggup menonton mereka melakukan itu (h.99). Kondektur yang melankoli dan perasa sekali..... Heehee

Dan yang membuat saya selalu ingat sang penulis adalah cerpen Sepasang Sosok Yang Menunggu. Tokoh boneka barbie dan babi milik Mary gadis cilik anak Jane dan Jack. Membaca ini teringat film Toys Story. Bedanya di film itu boneka dan mainan bisa mengerti maksud dan menerka perasaan manusia. Sedang di cerpen ini, meski diceritakan ada cakap-cakap manusia tapi si sepsang sosok itu tidak mengerti bahasa manusia. Ini logis....

Selanjutnya ada kisah-kisah penulis Ruhut Manuhuruk yang dibenci para tetangga hingga dikasih kamper di kamarnya, lalu ada tetangga seorang gay yang menerima nobel sastra, ada penulis yang diminta presiden bikin buku puisi. Dan saya suka Buku Puisi di Kamar Mandi. Meski kisah ini mengingatkan saya pada cerpen Oka Rusmini Esensi Nobelia. Kehidupan penyair dan tuntutan kehidupan. Tetapi ending di cerpen ini saya menyukainya. Tidak mendakwa buruk penyair juga tidak memuluk-mulukkan hidup penyair. Tetapi realistis kehidupan. Kalau nggak kompeten nggak usah nimbrung. Juga ada adegan lucu...

Overall, aku suka. Kukasih empat bintang. Lalu apa yang unik dari buku ini, hingga di cover belakang tertulis Tak berlebihan juga Penerbit menyebut Norman sebagai salah seorang penulis yang akan memberi warna cerah pada masa depan sastra Indonesia. Ini menurut saya, cara bertutur Norman yang tidak memedulikan tokoh, setting tempat dan sibuk dengan diskripsi yang panjang, tetapi fokus pada cerita. Cerita ya cerita... Sedang setting dan diskripsi tokoh adalah keterangan. Asal Subjek (S), Predikat(P), dan Objek(O) ada. Maka keterangan (K) tidak mutlak harus ada. Lalu saya menyimpulkan, kalau basa bisa belibet maka tidak perlu dibuat terang. Karena belibet ini memungkinkan penafsiran lain, hingga pembaca bisa mikir tidak hanya membaca. selesai masuk rak begitu saja.

Satu pertanyaan lagi: Adakah judul kumpulan cerpen yang melebihi panjang judul buku ini?

So im proud of him and his book!! Marvelous!! Buku cerpen yang tidak hanya bagus untuk teman menghabiskan waktu luang, tapi juga belajar!
Profile Image for raafi.
934 reviews453 followers
June 28, 2022
"Mungkin beginilah hidup kita sejak mula, tak memiliki rusuk yang lengkap, tanpa Bos Besar yang berkeliaran di antara kita untuk menolong dan menimang-nimang. Dia tak ada. Di mana-mana." (hlm. 14)


Kesepian dan penantian dikuliti oleh Norman lewat ragam bentuk cerita. Mereka seperti lapisan-lapisan yang punya level pedas berbeda sehingga satu kesepian mungkin saja berbeda dari kesepian lainnya. Namun, tentu saja tetap menyakitkan.

Beberapa ceritanya memiliki penokohan yang sama sehingga bila dijejerkan bagai seri cerita pendek yang lumayan menyesakkan. Salah satu seri itu memiliki tiga tokoh cewek-cewek-cowok yang tinggal bareng dan—biar aku kutip —"bertingkah sebagai keluarga". Tapi akhirnya cewek-cowok menikah dan menyisakan cewek pertama yang harus berteman sepi.

"Szymborska bahkan pernah menulis bahwa tubuh kita ini adalah tempat penampungan duka. Hahahaha... Menyedihkan." (hlm. 70)


Lalu, sudahkah seseorang menyebut perihal kata ganti orang kedua sebagai tokoh utama pada hampir setiap cerita dalam buku ini? Norman secara genius ingin mempermainkan "kamu"—kita, sebagai pembaca—untuk masuk ke dalam cerita dan menikmati kesepian dan kesedihan yang diciptakannya. "Kamu"—kita, sebagai pembaca—diajak untuk menyelami hal-hal kelam di dalamnya. "Kamu"—kita, sebagai pembaca—diminta untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Setidaknya begitu yang saya—sebagai pembaca—rasakan selama membaca.

Dan tentu saja cerita-cerita Norman terasa begitu personal sebagaimana mereka ingin memberi tahu bahwa "inilah Norman". Tentang dirinya yang "liyan" pada cerpen Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal. Tentang kesukaannya pada Gao Xingjian dalam cerpen Mendaki Bersama Xingjian. Tentang gemuruh amarahnya pada penguasa dalam cerpen "Aku Rasa Aku Akan Pergi ke Suatu Tempat untuk Waktu yang Teramat Lama".

"Aku takjub dengan perkataannya. Rupanya dia juga ingin memerintah seumur hidup. Aku yakin ini adalah dampak buruk pemakaian istilah istana. Orang-orang ini mulai menganggap diri mereka raja, ratu, dan keluarga kencana." (hlm. 166)
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
September 27, 2017
Hanya kumcer ini yang tahu, betapa dalam makna Kesepian dan Penantian yang dibawa di dalamnya. Juga berapa banyak kadar Kesedihan dan Pengabdian yang terlarut bersamanya.

Aku sdh tertawan pada rasa menyesak yg mencuat di dua cerpen pertamanya, Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal dan Pria Murakami, tapi favoritku jatuh pada cerpen berjalin Garpu, Membersihkan Rumah di Hari Libur dan Doa. Kisah-kisah lainnya juga sama saja membuat gundahnya, dan seringkali menohok dan membalikkan asumsi-asumsi tentang gender dan seksualitas di paragraf akhirnya. Mengejutkan, sekaligus membuat perih di hati.
Profile Image for Muhamad Tegar Pratama Putra.
51 reviews1 follower
October 18, 2025
Kumcer yang mengajak kita mengawang-awang dalam layang pikiran dan perasaan para karakternya yang berandai-andai hingga merenungi hidupnya yang sepi, patah hati dan penuh penantian. Norman Erikson Pasaribu jelas penulis berbakat yang piawai membawa pembacanya merasuk ke dalam benak terdalam sosok rekaannya dan menarik untuk menyimak karya-karya lainnya akan dibawa kemana.
Profile Image for Syahadat Muhammad Fakhry.
43 reviews2 followers
July 6, 2014
Wah ternyata penulisnya satu almamater sama saya! *penting* :))

Buku ini terdiri dari 20 cerita pendek. Dan ya, cerita-ceritanya ternyata tidak se-galau judul bukunya.

Kumpulan cerita didominasi oleh topik LGBT. Sayang sekali. Bukan favorit saya. Selain itu, mungkin buku ini agak sulit dipahami oleh pembaca-pembaca awam seperti saya. Saya merasakan banyak 'missed' di tengah-tengah cerita karena tidak paham maksudnya.

Dua cerita favorit saya, dan 'Sepasang Sosok yang Menunggu' dan 'Kondektur'.
Profile Image for Stef.
590 reviews190 followers
January 14, 2022
Pertama kali berkenalan dengan karya nya Kak Norman. And really love this collection. <3
Setiap cerita punya keunikan sendiri. Favorite ku, cerita mendaki bersama Xingjian, cerita tentang mengganti sarung bantal, Garpu, Pria Murakami, membersihkan rumah di hari libur.

Ga sabar buat baca kumpulan cerpen yang satunya.

"Dunia ini kadang terasa seperti penantian yang tak usai-usai. Perjalanan yang sunyi. Kadang menyenangkan, lebih sering menyakitkan. Ditinggalkan. Terpaksa meninggalkan. Patah hati. Dilupakan. Terpaksa melupaka. Kalah. Terpaksa menyerah..."
1 review30 followers
October 24, 2018
Aku akan terus menunggumu sekalipun kamu tak tahu. Dan aku akan terus menunggu dalam keadaan hanya kamu yang tahu berapa lama lagi aku harus menunggu. (hlm. 11)

Pada 10 Maret 2014, melalui akun Facebook-nya, Norman mengabarkan bahwa buku kumpulan ceritanya yang pertama akan segera terbit. Judulnya amat panjang; “Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu”. Aku senang mendengarnya karena Norman adalah satu di antara beberapa pengarang cemerlang Indonesia yang karya-karyanya patut ditunggu. Dan, begitu tahu bukunya sudah ada di toko buku, aku langsung beli dua eksemplar.

Sesungguhnya, aku telah berjanji kepada Norman akan menulis review buku kumpulan ceritanya sejak akhir Mei lalu. Namun apa hendak dikata, aku baru bisa menuliskannya sekarang -- karena berbagai sebab, tentu saja, yang aku tak akan jelaskan di sini. Maafkan penggemarmu yang berengsek ini ya, Norm.

Buku ini memuat dua puluh cerpen dan aku suka hampir semuanya. Berikut adalah enam cerpen favoritku.

Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal
Tentang cinta tak berbalas. Dalam cerpen ini, aku suka sekali dengan gaya bahasa atau cara Norman melukiskan benda yang barangkali kita anggap remeh bermakna.

Kamu tahu, kurasa tak ada yang mampu mencintaimu seperti bantal biru itu mencintaimu―Bantal biru itu ibarat laut biru ke mana semua rasa sedih dan jenuhmu selama ini bermuara ... (hlm. 3)

Saputangan ini adalah salib yang mesti kutanggung seumur hidupku. (hlm. 5)

Pria Murakami
Oke, aku mengerti. Pria Murakami = gambaran kekasih yang tak kunjung datang.

Membersihkan Rumah di Hari Libur
Cerpen ini berkisah tentang seorang perempuan yang mencintai pria gay. Norman sekali lagi berhasil menjadikan aktivitas sepele bermakna. Omong-omong, aku benar-benar tersindir oleh kalimat yang berbunyi begini:

Enggak, Teh, saya tiga puluh lima tahun, belum punya pasangan, hidup sendirian..... (hlm. 50)

Mendaki Bersama Xingjian
Suatu hari, tokoh Aku diminta menerjemahkan Gunung Jiwa karangan Gao Xingjian oleh teman korespondensi elektroniknya. Hal itu yang kemudian menyebabkan Aku mengalami mimpi-mimpi ganjil.

Berkat cerpen ini, aku jadi keranjingan menerjemahkan.

Pesta Bonnie
Ini cerpen yang membikin aku tergelak. Tentang cinta masa lalu dan stalking and stuff. Menggelikan sekaligus menyedihkan.

Tetangga
Nasib dua orang yang secara parsial sangat berbeda. Jane hidup dengan suaminya yang bodoh dan menjemukan. Tuan Das memenangkan Nobel, sementara sepanjang hidup kesepian, sendirian, terpisah beribu-ribu mil dari satu orang yang dia butuhkan.

Menurutku, Norman sukses mengangkat LGBT sebagai tema sebagian ceritanya. Dia penulis yang cermat, dan seperti da Vinci, dia perfeksionis dalam menulis. Selesai menamatkan buku ini, perasaanku porak-poranda. Betapa tidak? Lewat cerita-cerita yang dia tuturkan dengan indah, subtil, dan kohesif, Norman sukses menginsafkanku bahwa kesenduan tidak melulu harus diratapi. I salute you, Norm!

Kutipan favorit
“Berbahagialah. Berbahagialah. Di luar sana. Seseorang mencintaimu, seseorang tengah mencintaimu...”
“Mungkin kita semua akan lebih dulu mati sebelum bertemu orang yang dapat membuat kita merasa tidak kesepian.”
“Menunggu adalah soal kamu tiba tepat waktu dan pasanganmu terlambat, atau kamu datang terlambat dan dia lebih terlambat, atau kamu terlalu cepat dan dia tepat waktu, atau kamu terlalu cepat dan dia terlambat.”
“Kalau kamu yakin tidak bisa mencintai laki-laki, aku akan pergi. Aku pasti menjauh kalau kamu menyuruh.”
“Semua kesamaan, di dunia ini, cocok untuk percintaan, kecuali jenis kelamin dan nama belakang.”
“Kamu harus berada di sini, Cintaku, agar aku bisa bertahan hidup.”
“Terima kasih telah mencintaiku―terima kasih banyak atas cintamu yang tak usai-usai.”
“... resep rahasia dari hidup bahagia: tinggallah dengan mereka yang akan pergi ke Irak, kehilangan tangan kanannya, pergi ke Kalimantan untuk menyelamatkan orangutan, hanya untuk menjauhkanmu dari pikiran mereka, karena mereka tahu melupakan adalah mustahil. Mereka tahu dengan pasti bahwa cinta sejati adalah abadi. Seperti di film-film lama.”
“Coba bayangkan gunung terdekat dari rumahmu―Tanya ibumu apakah ketika dia remaja gunung itu belum ada, tanya nenekmu pertanyaan yang sama―Langkah terakhir, coba bayangkan gunung itu pecinta sedang menunggu orang yang dicintainya. Dan dia menunggu semenjak dia ada di dunia. Kurasa sebesar itulah bakatku dalam menunggu.”
Author 4 books21 followers
January 8, 2015
Ini kumpulan cerpen dengan judul terpanjang yang aku punya dan ya, salah satu kumpulan cerpen terbaik yang kubaca di 2014 kemarin.

Aku nggak bisa membahas satu per satu cerpen yang ada karena ada beberapa cerpen membuat keningku berkerut. Misal nih, di beberapa cerita, aku agak kurang paham yang dipakai itu POV 1 atau 2 karena di dalam cerita itu ada si tokoh aku dan kau. Makanya aku harus pelan-pelan membacanya biar nggak tersesat. Hehe...

Tema utama dalam kumpulan cerpen ini sama dengan judulnya yaitu tentang menunggu cinta yang tak sampai. Menurutku Norman mengeksekusi ceritanya dengan baik dan nggak membuat tema itu menjadi cerita yang membosankan. Gaya ceritanya memang bergaya cerpen koran (dan beberapa cerpen memang sudah dimuat di koran) tapi aku suka. Terutama dengan catatan kaki (panjang) yang menjadi bagian dalam cerita. Itu sangat menarik.

Beberapa cerita favoritku dalam kumpulan cerpen ini:

Pria Murakami:
tentang dia yang setia menunggu seseorang padahal kenal namanya juga nggak.

Hal-hal Penting yang Terjadi Selama Kau Tak Ada:
tentang dia yang menghilang entah ke mana, lalu kembali. Dan dia mencari tahu apa yang terjadi setelah dia pergi. Pastinya banyak perubahan yang jadi penyesalan.

Garpu:
tentang tiga orang sahabat yang sudah seperti keluarga. Dua perempuan, satu laki-laki. Yang satu tidak berniat menikah, yang satu gay, yang satu ingin jadi biarawati. Hidup mereka berjalan damai beriringan, hingga akhirnya sepasang dari mereka memutuskan untuk menikah. "Sebenarnya sungguh aku hanya ingin keluarga darurat ini tetap serupa garpu makan, tiga cabang; bukan garpu kue yang dua cabang dan satu tusukan sate."

Membersihkan Rumah di Hari Libur:
Kayaknya cerita ini masih ada hubungan dengan salah satu tokoh di cerita Garpu. Bercerita tentang dia yang mencintai seseorang bermarga sama (dan karena itu mereka tidak bisa bersama).


Dan yang menjadi cerita favoritku adalah Fatamorgana di Meja Makan. Naheed membawa Garda untuk menemui Em, perempuan menyebalkan yang akan bertunangan dengannya. Acara makan malam itu justru memberikan kejutan untuk ketiganya.

Well, aku berharap cerita yang ini bisa diubah menjadi novel atau novella. Tema LGBT yang diangkat disajikan dengan halus, jadi sangat enak untuk dibaca. Good job buat Norman.
Profile Image for Lucia Priandarini.
Author 12 books58 followers
March 26, 2016
Cerita tentang cinta -yang dianggap sekedar atas nama pasar- kadang dipandang sebelah mata. Tapi di tangan Norman, persoalan "murah" ini jadi berkelas dan (semakin) pelik. Setiap habis 1 cerita, saya terdiam atau tertawa :)
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
December 12, 2018
Berisi 20 cerpen, sudah lama ingin baca buku ini. Tapi belum dapat2 bukunya. Meski tidak semua cerita aku paham maksudnya, tapi yang dapat aku tangkap dari semua cerita adalah tentang kesepian, penantian dan kesedihan.
Profile Image for Naila.
101 reviews46 followers
June 9, 2022
Aku tertarik membaca buku ini karena aku melihat buku ini muncul di situs Amazon UK.
Awalnya kupikir ini adalah buku tentang kisah-kisah cinta yang manis, namun aku salah. Kisah-kisah yang diangkat di buku ini justru sebaliknya, tentang penantian, kesedihan,
Berisi 20 cerpen yang menurutku tidak bisa dibilang ringan dibaca dan agak sulit dipahami. Terlebih lagi, ternyata cerita-cerita di buku ini didominasi oleh cerita LGBT, yang membuatku semakin tidak bisa memahami cerita-ceritanya. I'm so sorry, but this book is just not my cup of tea.

Profile Image for Ari.
1,042 reviews116 followers
August 18, 2014
kenapa gak ada yg bilang kalo ini kumpulan cerita bertema lgbt?!!!!
---------------------

awalnya tertarik dengan judulnya yang panjannnngggg dan puitis (eh...coba aja ngomong "hanya kamu yang tahu berapa lama lagi aku harus menunggu" ama gebetan kamu, terus abis ngomong gitu balik badan n berjalan menjauh tanpa nengok lagi ke belakang, mungkin si gebetan akan terdiam sebentar kemudian teriak "tunggu...kamu tidak perlu menunggu lagi...." mungkin loh yahhhh... :D ))

eniweiii... setelah brosing ternyata ini adalah buku kumcer lgbt tambah tertarik dong saya ^..^

setelah baca ampe selesai di minggu siang yang panas, ceritanya hit n miss buat saya. this is entirely a different book from any kind of book i've read, nyastra banget booo.... (tau sendiri kan bacaanya saya sehari-hari *uhuk-uhuk*)

karenanya saya akan membagi cerpen2 di kumcer ini dengan bahasa saya...

1. cerita-cerita yang sy gak ngerti banget
-Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal
-Pria Murakami
-Guru Ramuan
-Kondektur

sy terbiasa dengan narasi yang lugas dan jelas, mengahadapi rentetan kalimat bersayap penuh makna hanya membuat saya mengerutkan kening, garuk-garuk kepala kemudian mengibarkan bendera putih

2. cerita-cerita yang masih berkaitan
-Garpu
-Membersihkan Rumah di Hari Libur
-Doa

Kisah tentang tiga sahabat (2 perempuan 1 lelaki) yang sebelumnya tinggal bersama hingga salah dua dari mereka memutuskan untuk saling menikahi, tinggal lah satu perempuan, nursing her broken heart and her loneliness. "Doa" adalah closure dari kisah si perempuan.

2. Cerita dengan unsur supranatural
-Mendaki dengan Xingjian

Saya suka dengan unsur supranatural nya di sini.

3. Cerita-cerita yang tragis banget
-Novelis terkutuk
-Tulang Rusuk Yang Hilang

dua cerita ini berkisah tentang Ruhut Manihuruk yang sebenernya mulai saya suka tapi kemudian diakhiri dengan tragis oleh pengarang, kejam! padahal saya mengharap ending yang bahagia buat dia...

4. Cerita-cerita yang sedih banget
-Buku Puisi di Kamar Mandi
-Pengantar Tidurmu yang Panjang
-Sepasang sosok yang menunggu
-Pesta Bonnie
-Tiga Kata Untuk Emilie Mielke Jr.

Cerita-cerita ini membuat saya bengong dan tanpa sadar menitikan air mata...

5. cerita yang nyindir banget
-Aku Rasa Aku Akan Pergi Ke Suatu Tempat Untuk Waktu yang Teramat Lama

(penulisnya emang hobby yah bikin judul-judul yang panjang) sebenernya cerita ini serem sekaligus kocak, menyindir tentang pemimpin sebuah negara yang bukannya ngurus negara malah sibuk bikin album dan puisi, tau kan siapa..hihihi...

6. Cerita FAVORIT! (^..^)v
-Fatamorgana di Meja Makan

selain ngasih hint sweet romance, di sini juga ada humor
sungguh saya berharap ada extended version nya *finger crossed* (tapi yang happy ending hehehe...)

kalo ada cerita-cerita yang belum saya masukan, it's either tidak berkesan atau saya kelewat hehehe

terakhir, tadinya mau ngasih 3 bintang tapi kemudian saya sadar bahwa buku ini berkesan banget, jujur saya jarang baca buku lokal (so many reasons why...) dan buku ini memberi saya harapan sekaligus keinginan untuk membaca lebih banyak buku lokal karya penulis muda seperti Norman Erikson Pasaribu ini.

sekian
Profile Image for Rari Rahmat.
38 reviews7 followers
March 10, 2020
secara menyeluruh cerita-cerita pendek dalam buku ini mendominasi cerita LGBTQ. normie sudah lama melela bahwa dirinya queer. akhir-akhir ini, melalui akun twitter-nya, normie lantang menyuarakan isu LGBTQ, mengadvokasi dirinya (dan kelompoknya), melawan dan berdebat dengan mereka yang homophobic. aku tahu betul rasanya, ia sebenarnya lelah, tapi kalau tidak ada perlawanan dari 'warga' itu sendiri, kepada siapa lagi? apa yang selama ini ditindas akan makin tertindas, bukan? dengan kumcer ini, normie memberikan dirinya panggung pribadi dengan karyanya mengenai isu LGBTQ agar bisa disorot, didengar publik. bukan cuma kumcer pertama ini, buku puisi "sergius mencari bacchus" yang memenangkan juara pertama dalam sayembara manuskrip buku puisi dewan kesenian jakarta 2015 juga mencakup narasi perjalanan hidupnya menjadi seorang homoseksual—yang termajinalkan, terbuang, mengalami represi, depresi, berdampak pada psikologisnya, bukan hanya dari lingkungan tapi bahkan oleh ayahnya sendiri. dua karya ini pun, seperti yang ia bilang 'terabaikan dan dikucilkan'. persoalannya, apa para pembaca mau 'mendengar', memberikan 'ruang' bagi para seniman LGBTQ? untukmu pembaca heteroseksual, coba kalian membaca karya yang berada 'di luar ruang nyamanmu', salah satunya adalah buku-buku fiksi terkait LGBTQ.⁣

sebagai seorang homoseksual, membaca karya normie tentang fiksi gay membuatku bahagia (sedih juga), terasa dekat dan representatif untukku personal. ditambah banyak dari cara normie bernarasi yang liris, 'cocok' untukku pribadi. buku-buku normie sangat membuatku berkontemplatif (...dan menangis tentunya).⁣

sebagai umat kristiani (?) normie lekat sekali menyelipkan angka 3 yang sakral dalam alkitab: trinitas tuhan, kebangkitan yesus pada hari ke-3, 3 (emas, kemenyan, mur) persembahan orang majus, dll (tentu, aku tak terlalu paham. kalau salah silakan dikoreksi). cara ia menyelipkannya seperti 3 tahun pencarian seseorang kepada seorang lain yang dicintainya, 3 tahun kepergian suami (biseksual) yang meninggalkan istrinya, cerpen "3 kata untuk emilie mielke jr.", analogi 3 tusuk garpu tentang 3 orang yang bersahabat, dll.⁣

di luar topik LGBTQ sendiri, aku kagum dengan gaya penulisan normie di kumcer ini, caranya baru dan berbeda, ia tahu ia harus bercerita seperti apa. ia banyak menggunakan sudut pandang hanya ada "aku, kamu, dia" yang cukup membuat rumit kalau tak teliti tapi seperti ingin memberi tahu bahwa substansi dari cerita adalah cerita, tak harus selalu diperlukan nama tokoh. semoga masih ada pembaca yang menganggapnya 'hebat' dari bagaimana kemampuannya menulis-sebagai penulis, bukan cuma isu LGBTQ.
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
June 5, 2016
Maafkan ya Norman, baru beres baca tahun ini (padahal belinya di Ubud tahun lalu -dan bukunya terbit bertahun-tahun sebelumnya he he he). Cerpen-cerpenmu bikin aku tambah galau, Norman :( isinya sedih semua. Ini favoritku:
1. Hal-Hal Penting yang Terjadi Selama Kau Tak Ada
2. Fatamorgana di Meja Makan
3. Sepasang Sosok yang Menunggu
4. Buku Puisi di Kamar Mandi
5. Aku Rasa Aku Akan Pergi Ke Suatu Tempat Untuk Waktu yang Teramat Lama

Poin-poin yang saya catat dari buku ini:

1. Ada beberapa cerpen yang judulnya teramat panjang. Sedangkan judul buku ini ku kira adalah judul salah satu cerpen di dalam buku, ternyata tidak ada. Jadi judul buku ini hanya kalimat yang paling sering (atau paling sedih) yang ada di dalam buku, bukan judul salah satu cerpen.

2. Penulis lebih sering memposisikan diri benar-benar sebagai tukang cerita. Jadi 'aku' dan 'kamu' adalah komunikasi dua arah antara penulis dan pembaca. Hanya kadang penulis juga terlalu 'cerdas' dalam menggunakan teknik sehingga saya sebagai pembaca suka bingung dan berujar, "Sebentar, ini lagi ngomongin siapa? Dia itu siapa? Aku siapa? Kamu siapa?"
Ya, penulis menuntut pembaca buku ini untuk berkonsentrasi penuh pada cerita, sebab bisa 'keblinger' sendiri dan perlu baca ulang (setidaknya saya merasakannya).

3. Di halaman 128 masih pakai kata DIRUBAH. Bukankah seharusnya diubah?

4. Saya menemukan nomor footnote yang tidak berurutan pada cerpen "Aku Rasa Aku Akan Pergi Ke Suatu Tempat Untuk Waktu yang Teramat Lama". Nomor footnote di cerpen juga ada 9, tapi footnote yang tersedia hanya sampai 6. Tiga footnote lagi ke mana?

Selain 4 poin itu, secara keseluruhan saya beri buku ini 4 bintang :)
Profile Image for febriani.
109 reviews6 followers
July 1, 2021
separuh pertama buku ini terasa sendu. di beberapa titik seperti gengges. separuh kedua, perlahan semakin menarik sampai ke cerita terakhir. ada beberapa cerita yang saya benar-benar suka, seperti cerita-cerita tentang Ruhut Manuhuruk dan sepasang boneka yang menyaksikan riwayat hidup berkeluarga pemiliknya. kisahnyatapalingmenyedihkan-ception di akhir buku juga cukup wow. so edgy. much layers. wow. berhubung sudah akrab dengan scene humu-humu di banyak fanart berbagai cerita dan fenomena fujoshi di berbagai fandom, saya nggak terlalu terkejut apalagi terganggu dengan unsur LGBT yang sering muncul dalam buku ini.

buku ini dihujani catatan kaki yang semacam curcol di beberapa cerita. catatan-catatan kaki ini sepertinya lebih enak dibawa ke arena lain deh. ada juga beberapa detil yang mengganggu, seperti penggunaan kata serapan "sekretif" dan penggunaan kata "akut" untuk sesuatu yang lebih bisa dibilang "kronis". perihal dua-tiga kali "ice cafe late" bisa lah sedikit diabaikan, toh selanjutnya penyebutannya sudah jadi "latte". mungkin dia lelah.

secara keseluruhan saya rasa buku ini nggak terlalu buruk. lumayan. bagaimanapun juga, karena derajat keterhiburan saya yang dari rendah hingga tinggi dan semakin tinggi seiring semakin dekatnya saya ke ujung buku, saya jadi berniat untuk memantau perkembangan cerita-cerita karya Norman selanjutnya.
Profile Image for Ria.
113 reviews
October 24, 2014
*spoiler* saya menghabiskan beberapa kali subuh untuk menikmati buku ini dengan tenang, sepi, dan kepala dingin. Dan, ya bolehlah. Buku ini jadi teman yang baik selama beberapa hari ini. Sayang sekali kami harua berpisah karena sudah waktunya saya membaca buku yang lain. (sumpah, ini catatan ga penting).

Satu hal, sempat berharap penulisnya memberikan ide yang lebih daripada yang saya baca. Entahlah, ekspektasi saya ingin menemukan sesuatu yang "waw" banget. Di lain sisi, saya menemukan kenyamanan tersendiri membaca buku ini. Saya sangat menyukai cara pandang penulisnya menyampaikan "sesuatu" dalam setiap cerpennya. ~ eum... masih kehilangan kata2 yg tepat untuk menggambarkannya.

Kesedihan, kesendirian, kesepian, rasa yabg bermuram durja memang punya seribu satu cara untuk dibahasakan, dikhayati, dipahami, dan barangkali bisa menarik simpati bagi orang sekitarnya. Mungkin, membahasakannya, adalah cara tersendiri mengenali dirimu sendiri dan rasa yang berkebalikan dari itu semua. Yup, sebuah perjalanan.


Akhir kata, pokoknya saya masih menunggu karya baru dr penulisnya.

Udah, gitu aja dulu, spoiler, mereview lengkap nanti kalau sudah bertemu sarana.


ps: semoga anak dalam kandunganku ketularan cerdas seperti penulisnya.
Profile Image for Nasya.
158 reviews
February 19, 2025
Nemu buku ini diperpus sekolah pas sma semester terakhir, tertarik karena sampulnya yang bikin mata silau dan sinopsis yang ada sampul depan. Kata-kata didalamnya bikin betah baca, seperti dirangkai secara hati-hati dengan teliti, walau seperti buku puisi lainnya kadang ada yang tidak dimengerti karena menggunakan kata-kata ganti lain yang mungkin hanya dimengerti oleh penulisnya. Bintang lima untuk buku ini juga untuk si penulis karena telah menulis dengan sangat indah, setiap chapter memang berbeda-beda namun itu juga yang saya butuhkan saat itu, saat jenuh belajar persiapan sbmptn yang walaupun masih sekitar tiga bulan lagi. Kata teman sebangku saya, tertarik dengan buku semacam ini karena per-chapter beda cerita tapi dia lebih ace di bidang menghitung jadi ketika membaca buku ini dia bilang otaknya seperti bergerak-gerak dan membuat gatal. Chapter favorite saya yaitu Laki-Laki Murakami. Semoga akan ada kesempatan untuk membaca yang versi bahasa inggrisnya kalo ada!!
Profile Image for Damar hening Sunyiaji.
127 reviews8 followers
January 12, 2015
Saya pernah berdebat dengan Norman di status Sungging raga, kalau tidak saya itu sekitar tahun 2010. Waktu itu saya belum tahu siapa dia, sampai saya menemukan cerpennya yang berjudul sepasang sosok yang menunggu dan saya menyadari betapa perbedaan saya dengan dia berjarak lebih dari sepuluh ribu cahaya. Dia sudah menembus banyak media, gaya berceritanya sudah sangat pekat. Tema-tema sederhana dikemasnya menjadi cerita yang menyentuh dan syarat makna. Saya senang sekali membaca buku ini, hanya saja sama seperti aksara amanunna, sebagian ceritanya membahas seksualitas. Saya memberi lima bintang karena pola berceritanya saya jadikan referensi untuk berlajar. :)
Profile Image for Reza N Sanusi.
73 reviews19 followers
November 11, 2014
When i am reading this book... I learned that the worst part of life is waiting but it also make you have a hope.. because there is no more happiness than best part of life for having someone worth waiting for...
Profile Image for Yoga Palwaguna.
8 reviews
April 17, 2018
Suka banget sama buku ini. Cerita-ceritanya disampaikan dengan kalem, tapi tahu-tahu bikin dada sesek aja. Gaya bertuturnya khas dan konsisten dari cerita pertama sampai terakhir. Buku ini masuk ke dalam daftar buku-buku yang berpengaruh pada hidupku.
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
December 28, 2016
Karena menjadi sendiri itu pribadi, menjadi gila itu pilihannya, dan menjadi binal itu tak harus nakal. Bahasa apik, outta the box, dengan latar belakang beragam budaya.
Profile Image for Ludya Simanjuntak.
39 reviews
October 25, 2019
Kalau kalian pernah menonton film berjudul “The Only Living Boy in New York” (2017), kalian pasti setuju saja kalau tema sentral film itu berpusat pada keluarga. Alkisah, Thomas adalah anak sebuah keluarga modern di negara maju yang berkecimpung di dunia seni. Secara umum pernikahan yang seringkali gagal biasanya terpaksa bertahan demi anak-anak. Namun tidak demikian dengan keluarga Thomas. Ayah dan ibunya yang sama sekali tidak saling mencintai sebenarnya bertahan dalam pernikahan semata-mata hanya untuk mempertahankan konsep keluarga Avant-Garde khas kota besar nan kultural, New York. Ibunya menderita penyakit mental dan terus-menerus bergantung pada obat-obatan, dan parahnya lagi ayahnya berselingkuh. Kalian mungkin bertanya-tanya apa hubungan keluarga Thomas dengan buku ini. Jawabanku, ya tidak ada. Hanya saja ayah kandung Thomas yang ternyata adalah seorang penulis pernah berkata kalau menulis bukan sesuatu yang mudah, "good writing is a hard thing to do. It is like you’ve been kissed by God" and there it is. I feel like this writer has been kissed by 'god'. Buat aku sebagai pembaca, tulisan seperti ini jarang ditemukan dan surprisingly I have found it in here. Pertama, aku tertarik karena penasaran kok judulnya panjang seperti ini? Ini sebelum penulis macam Dea Anugerah dan Sabda Armandio muncul ke permukaan. “Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu”
Ini adalah kumcer yang bagus, dan menurutku sulit untuk memilih yang mana paling aku sukai tapi bila harus memilih, there it goes….
- Paskah
I just personally feel this story is very sentimental, considering the fact that the writer has the same tribe with me and the rigidness of our culture towards certain food and religion somehow shapes our mindset. But, in this short story, I feel like the writer challenge those certain perception and intertwine those rigidness with intense emotion, I can’t help but loving it to the core. Even until now, the story still lingers at the back of my mind.

- Tiga Kata untuk Emilie Mielke Jr.
I actually shed some tears while reading this short story. How do you explain something so inevitable yet so abstract like ‘death’ to the mind of your own child? The writer did a really good job playing with our emotion in this one.

- Pesta Bonnie
I love this one. Thi is Funny, while it also tackles some of the essential thing in relationship like obsession, jealousy, complicated feelings. Just everything you ever need in a good story about romance, but in just perfect measurement.

- Fatamorgana di Meja Makan
I am lost for words, I am in love with the story and the way the writer use the nationality of each person at the table as metaphor. <3


Profile Image for elrisa .
5 reviews1 follower
January 23, 2023
"Semua orang adalah sama di mata Penantian." (p.12)

"Mungkin bukan bahagia. Saya --saya hanya tidak perlu terus menerus sedih." (p.69)

"Kau tahu, orang-orang terus saja meminta segalanya darimu bahkan ketika mereka telah tahu mencintai adalah seutuhnya memberi." (p.73)
.

#indonesianliterature

Tahu buku ini sebenarnya udah cukup lama dan awalnya ku kira buku ini akan ngebosenin dan ceritanya mungkin ngga akan cocok denganku yang (waktu itu) ngga terlalu suka sama cerita-cerita "penantian cinta". Impresi awal yang ku dapat hanyalah judulnya yang yaa panjang dan covernya yang polos, warna biru.

Tapi kemudian, suatu hari, cover buku ini nongol lagi di beranda iPusnas-ku, dengan jumlah pembaca yang udah ribuan. Banyak!
Aku pun mulai kepikiran dengan judulnya.
"Apa mungkin buku ini adalah kumpulan cerita yang religius ya(?) sebenarnya siapa sih tokoh kamu yang dimaksud di judul, kok 'hanya kamu', kamu ini siapa(?) Ini sebenarnya kisah cinta yang gimana?!"🤔 Tanpa kusadari, buku ini malah buatku penasaran.

Setelah membaca akhirnya tahu. Buku ini bukannya ngebosenin, tapi menarik! Buku ini memang sedikit banyak membuatku harus bersabar membaca karena lebih banyak menggunakan POV orang pertama, dengan tokoh-tokoh yang hanya dinamai "aku", " kamu", dan "dia". Tapi jauh dari itu, kumpulan cerita di buku ini memang betul2 menarik. Menarik karena (untuk ukuranku) cukup banyak memberikan perspektif baru tentang cinta, kehilangan, kepergian, dan laku dari menunggu itu sendiri. Aku sempat ikut baper dengan beberapa ceritanya. Dan menurutku.. penulis buku ini juga keren dalam hal menggambarkan penyelaman atas kejiwaan dari tiap tokoh yang ditulis; perempuan ataupun laki-laki dengan berbagai jenis orientasi seksual. Menarik!

Dari 20 cerita dalam buku, ada 4 cerpen yang aku favoritkan. Keempatnya menurutku punya ending yang menarik, yang bikin penasaran, dan yang ngga terduga dengan konsep cerita yang unik, yaitu :
1. Hal-hal Penting yang Terjadi Selama Kau Tak Ada
2. Membersihkan Rumah di Hari Minggu
3. Pesta Bonnie
4. Tulang Rusuk yang Hilang

Secara keseluruhan, buku ini merupakan #kumcer, yang bisa dibaca secara terpisah atau berurutan karena di beberapa cerita ada yang nunjukkin keterkaitan satu sama lain. Jadi sayang kalau ngga dicoba baca. Next, mau nyoba baca karya-karyanya kak Norman yang lain :)


4/5⭐
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books51 followers
March 16, 2022
Cerita-cerita di buku ini masih mengangkat isu LGBT. Norman, seperti biasa, bercerita lebih banyak dari yang dituliskannya. Selalu ada yang disembunyikan bahkan ketika berusaha ia tampakkan. Kesetiaan dan rindu dendam lewat Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal; cerita pemuja rahasia lewat Pria Murakami; cerita penyesalan lewat Hal-Hal Penting yang Terjadi Selama Kau Tak Adacerita persahabatan yang jadi 'keluarga' dan kesedihan di tiga cerita Garpu, Membersihkan Rumah di Hari Libur, dan Doa. Aku juga suka cerita-cerita yang sad ending seperti Novelis Terkutuk dan Tulang Rusuk yang Hilang atau yang mengambang namun memuaskan seperti Fatamorgana di Meja Makan.
20 cerita di buku ini sebagian besar bernuansa kesedihan (bimbang, sesal, kesal), dan sebagian lagi 'main-main' juga agak magis surealis seperti Mendaki Bersama Xingjian. Semua dituturkan dengan kemampuan bercerita yang oke--meski tak semua juga bisa kumengerti konteksnya. Well done, Norman!
Profile Image for Truly.
2,770 reviews13 followers
February 7, 2023
Kamu harus berada di sini, Cintaku, agar aku bisa bertahan hidup
- Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu, halaman 65-

Huahhh, bacanya serasa makjleb banget kalimat itu.

Dua puluh cerita pendek menjadi isi dari buku ini. Tidak hanya dari judul kisah yang unik seperti judul buku, namun juga dari tokoh, serta seting kisah. Kisah yang ada antara lain Tentang Mengganti Seprai dan sarung Bantal; Hal-hal Penting yang Terjadi Selama Kau Tak ada; Garpu; Guru Ramuan; Fatamorgana di Meja Makan; Tulang Rusuk yang Hilang; Buku Puisi di Kamar Mandi; Aku Rasa Aku Akan Pergi ke Suatu Tempat untuk Waktu yang Teramat Lama; serta Pengantar Tidurmu yang Panjang.

Bagi mereka yang sedang membutuhkan bacaan saat me time, buku ini bisa dijadikan pilihan. Tapi, berdasarkan pengalaman, tidak cocok untuk dibaca dalam suasana hati yang kurang baik. Bisa ikutan melow dan sedih berkepanjangan. Tapi itu saya, mungkin berbeda dengan Anda.


http://trulyrudiono.blogspot.com/2023...
Displaying 1 - 30 of 114 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.