Jump to ratings and reviews
Rate this book

Orange

Rate this book
‘Dikuncinya pintu di belakangnya lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.

Ah, dirinya kesal setengah mati.’

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.

Pertanyaannya: apa... dan siapa?

286 pages, Paperback

First published June 1, 2008

44 people are currently reading
832 people want to read

About the author

Windry Ramadhina

12 books824 followers
young woman with lots of interests, ambitions and dreams, which shattered into pieces, each surfaced as different face and waiting for itself to become whole once more time. her world came to architecture, illustration, photography, literature, business, and japan. used to known as miss worm in cyber world. shattering her pieces at kemudian.com and deviantart.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
242 (19%)
4 stars
429 (34%)
3 stars
425 (34%)
2 stars
107 (8%)
1 star
26 (2%)
Displaying 1 - 30 of 228 reviews
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
July 27, 2008
Nunggu review Au :D

--------------------- || ||--------------------

Peringatkan mama kamu untuk tidak minum alkohol jika sedang bertamu di rumah orang kalau dirimu tak mau jadi korban perjodohan. Demikian salah satu pesan moral yang ingin disampaikan novel setebal 285 halaman ini. Dibuka dengan adegan pra-ending cerita, pembaca diajak flashback mengenal tokoh-tokoh Orange lewat 4 chapter intro-nya. Ada Faye, fotografer handal lulusan Amerika, cantik, putri semata wayang salah satu pengusaha kaya di Jakarta yang lebih suka hidup mandiri. Juga Diyan, pengusaha, tampan, popular, eligible bachelor paling diinginkan di Jakarta. Ketiga, Zaki, adik Diyan, lulusan Belanda, art director sebuah biro iklan. Dan terakhir, Rera, model blasteran Perancis, brand ambassador produk kecantikan internasional, mantan pacar Diyan.

Cerita bermula dari sebuah hari yang biasa, dua orangtua saling berkunjung. Suasana akrab. Perbincangan hangat (mereka saling memanggil nama). Hubungan yang tampak dekat (Ibu Faye menanyakan ayah Diyan apa masih merokok). Lalu merembet ke curhat ibu-ibu tentang anaknya masing2 dan muncullah ide perjodohan setelah minum cocktail buah beralkohol :D Saya bercanda, tidak disebutkan di situ tentang alkoholnya. Barangkali ada percakapan-percakapan lanjutan setelah itu yang membuat kita dianggap bisa menerima bahwa kemudian terjadi perjodohan. Dan keesokan harinya ketika Faye diberitahu tentang perjodohan, ia hanya diam memeluk ibunya karena tidak ingin merusak suasana.

Dua tokoh utama, Faye dan Diyan, tidak menolak perjodohan itu dengan alasannya sendiri-sendiri. Setiap keduanya bertemu terlihat fun, flirty, tidak tampak beban batin. Masalah baru muncul ketika Rera balik ke Jakarta. Konflik batin masing-masing tokoh menguat. Seperti judulnya, ending cerita ini Orange. Sweet and sour.

Secara keseluruhan, Orange adalah cerita yang manis. Sudut pandang, plot, adalah beberapa hal yang tampaknya cukup diperhatikan oleh penulis. Terutama sudut pandang cerita. Penulis cukup lincah berpindah-pindah, menuturkan tokoh-tokohnya lewat perspektif mereka. Meskipun demikian, karakter masing-masing belum cukup digali. Saya -sebagai pembaca- seperti kurang "mengenal" mereka. Terutama Faye dan Diyan sebagai tokoh utama. Saya tidak bisa terlalu membedakan mana Faye, Rera, Diyan, Zaki. Saya mearasa tak ada yang berbeda dari mereka. Seperti satu karakter dengan nama yang berbeda-beda. Mengenai Zaki, saya pikir perannya agak mubazir. Apa tujuan dia ada di situ? Ingin membuat cerita lebih mengharukan karena cinta yang tak sampai? Membuat situasi jadi complicated? Atau apa? Kalau memang tujuan keberadaan Zaki adalah salah satu yang saya sebutkan di atas, rasanya kok tidak ada yang sampai.

Entah karena proses editing dan lay out yang belum purna, beberapa lubang tertinggal menyisakan pertanyaan. Mulai dari teknis ( typhos, kalimat tidak efektif, kata ganti yang kurang pantas, paragraph tertutup gambar), juga hal-hal non teknis yang sempat saya ingat misalnya:

- Faye anak muda dan lulusan luar negeri, New York pula. Dengar-dengar itu kota yang "tough". Rasanya rada kurang masuk akal kalau dia menerima begitu saja perjodohan yang dilakukan kedua orangtuanya. Tanpa protes, tanpa pertanyaan sama sekali. Hanya diam dan memeluk ibunya? Hmm…

- Faye digambarkan badannya kecil tapi tenaganya cukup kuat membuat Zaki tersungkur ke lantai ketika bertabrakan. Ter-sung-kur.

- Yeah, it’s Faye. Yeah Faye ini bank BNI, asuransi, loper koran, tukang susu…kami gak bisa basa Inggris je. Saya bingung kenapa Faye harus pake bahasa Inggris bahkan bukan untuk urusan pekerjaan. Karakter apa yg sebenernya ingin dimunculkan dengan bahasa Inggrisnya itu? Kalau ingin menguatkan kesan lulusan luar negeri, sepertinya seseorang ketika kembali ke negara asalnya (dalam hal ini Indonesia) tidak serta merta harus berbahasa Inggris dalam percakapan kesehariannya. Di sini digambarkan bahkan mengangkat telfon saja Faye mesti berbahasa Inggris.

- Hah? adalah kata yang paling sering muncul.

- Nomer dua, Ah!

- Pembaca harus diingatkan beberapa kali kalau Diyan itu orang kaya; menginapnya pasti di tempat yang terbaik.

- Faye bercinta dengan Diyan tanpa ada hal kuat yang melatarbelakanginya. Tidak disebutkan tanda-tanda keintiman, ketertarikan seksual, gairah dsb di bab sebelumnya. Adegan sebelumnya adalah ia kedinginan dan Diyan memberikan jasnya. Adegan penuh kasih yang malah aneh kalau berlanjut ke ranjang. Faye bukan orang yang gampangan, kan? Atau...

- Ini juga termasuk yg kurang bisa saya nalar. Mereka tahu ini hanya sandiwara. Tapi Faye terima-terima saja dicium pipi di pertemuan pertama dan bibir di pertemuan ketiga(?)nya.

- Faye punya pandangan super. Di tengah kemacetan jalan Kebayoran, ia bisa melihat isi ruangan sebuah restoran dengan jelas. Melihat Diyan dengan seorang gadis, dua gelas minuman dan sebotol wine. Juga tatapan Diyan yang lembut -penuh emosi- kepada sang gadis.
Profile Image for Utha.
824 reviews400 followers
May 6, 2022
Jadi, aku dapet novel ini hasil bookswap, saat itu kepingin punya edisi revisinya. Tapi ya nasib memang berkata lain, jadi punya versi lamanya deh.

Ini novel debut Windry, tapi bukan pertama kalinya aku baca novel beliau. Gaya bahasa Windry memang khas banget; baku dengan aku-kau. Kadang suka aneh dengan aku-kau-nggak, jadinya kayak orang di daerah Indonesia mana yang ngomong, padahal mah bukan. Inget banget pas novel Interlude, aku-kau dipake buat obrolan anak FH UI--jadinya kan aneh banget ngebayanginnya. Yaaa... mungkin emang gaya khasnya Windry. Tapi kalau aku boleh kasih saran sih nggak usahlah pake aku-kau itu, meski lama-lama kebiasa juga baca novel Windry pake aku-kau.

Terus, entah kenapa novel ini ngingetin aku sama novel Seluas Langit Biru (Sitta Karina). Yah, tapi nggak apa-apa. Toh eksekusinya beda, ending-nya beda.

Soal karakter, terus terang aku malah simpatik sama Rera. Atau mungkin aku muak sama karakter macem Feya. Nggak apa-apa deh kalau Rera dibuatin novel khusus.

Yha mungkin gitu aja resensi singkatnya.

Kenapa tiga bintang? Ya karena I liked it...~
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews970 followers
February 28, 2018
---3,5 star...

Perjuangkan cinta yang kaupercayai

Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain...

Tepat sekali. Sebagaimana yang dirasakan oleh tokoh-tokoh dalam novel bernuansa jeruk karya Windry Ramadhina ini. Adalah seorang gadis mungil enerjik, Fayrani Muid, putri konglomerat yang justru memilih fotografi sebagai jalan hidupnya, dipertemukan dengan putra sulung konglomerat lainnya, Diyan Adnan, seorang eksekutif muda workaholic dalam sebuah jalinan perjodohan oleh keluarganya. Dua insan yang tak pernah bersua, apalagi mengenal satu sama lainnya ini pun mencoba membangun sebuah jalinan tanpa landasan cinta demi membahagiakan orangtua mereka.Namun, pada akhirnya segala yang pura-pura tak akan bertahan lama. Ikatan resmi pertunangan Faye-Diyan terguncang dengan kehadiran Zaki dan Rera yang mencoba memasuki bilik hati masing-masing. Lalu, bagaimanakah akhir dari kisah ini, apakah Faye akan tetap bertekad menjadi istri Diyan meskipun disasadarinya bahwa laki-laki itu masih menyimpan rasa pada Rera ataukah ia lebih memilih berhubungan dengan Zaki yang tak lain tak bukan adalah adik kandung Diyan? Temukan jawaban atas jalinan cinta yang saling bertautan ini dalam novel debutan Windry Ramadhina.

Sejak mulai membacanya dari halaman pertama, saya tidak bisa berhenti. Oke, tentu saya harus berhenti untuk urusan ibadah, urusan perut, urusan kasur, dan urusan kantor, namun pada dasarnya, membaca novel ini bikin nagih. Paling tidak, saya membaca novel ini tanpa tersela keinginan untuk melirik buku lain (yang biasanya sering saya lakukan). Good for me!

Faye, Diyan, Zaki, dan Rera, adalah tokoh-tokoh yang likeable. Mudah bagi saya menyukai kesemua karakternya, yang digambarkan dengan sangat baik. Tentu saja, sikap labil Diyan dan Rera yang sering on-off itu terkadang bikin gemas juga, namun selebihnya kesemuanya berakting dengan cukup memikat. Great job, Windry. Sedangkan untuk tokoh sampingan, masih ada beberapa yang kurang kuat, termasuk tokoh orangtua Faye-Diyan. Tapi, tak apalah, kalau terlalu kuat nanti justru menenggelamkan tokoh utamanya.

Soal ceritanya sih, kisah cinta biasa. Romansa yang hampir sama dengan Antologi Rasa-nya Ika Natassa. Cinta bersegi empat. Faye dan Diyan dijodohkan, Zaki mendadak jatuh cinta pada Faye, dan Diyan masih tak mampu melupakan Rera. Maka, lingkaran keempatnya adalah konflik utama dari keseluruhan rangkaian kisah cinta di novel ini. Tapi, tenang saja, bumbu penyedap konfliknya cukup menggoda, kok. Cukup untuk membuat novel ini renyah ketika dinikmati. Dan, terima kasih, karena Windry pun tak menyia-nyiakan background masing-masing tokoh sehingga saya merasa dekat dengan mereka, karena mereka memang nyata. Mereka bekerja, berkeluarga, dan bersosialisasi. Background mereka melekat pada karakternya, tidak sekadar tempelan belaka. Tagline novel ini yang saya tulis di muka menjadi deskripsi paling jelas dari keseluruhan ceritanya. Meski hanya sekilas, saya pun ikut trenyuh ketika beberapa tokoh rekaan Windry harus menyaksikan orang yang mereka cintai ternyata malah menjatuhkan pilihan pada orang lain. #berkaca.kaca.

Oiya, kenapa novel ini mengambil judul “Orange” alias “Jeruk”? Saya tak tahu, hehehe. Tapi, kalau menurut saya sih, jeruk adalah highlight dari tokoh Faye yang memang menyukai buah jeruk dan menganggap bahwa hidup ini serupa jeruk yang rasanya asam-manis, “bittersweet”, dan apabila ditarik ulur benang-merah kisah dalam novel ini meman mencoba menggambarkan rasa dari hidup para tokohnya.

Saya juga suka dengan gaya menulis Windry yang membuat tiap adegan mengalir hampir secara kronologis, dari waktu ke waktu, berganti dari satu tokoh ke tokoh lain yang terlibat dalam adegan tersebut. Meskipun demikian, saya agak terganggu dengan penempatan kata ganti orang ketiga dalam kalimat-kalimat yang disusun oleh Windry. Misalnya saja, contoh berikut (hlm. 183-184):

Zaki membuka kunci pintu depan, lalu ia mempersilakan Faye masuk..dst..... Laptop miliknya masih menyala dan asbak penuh puntung rokok di sebelah laptop itu belum ia bersihkan.
“Maaf, Faye. Berantakan.”
Faye tertawa kecil. “Kurasa kau perlu mempertimbangkan...dst...,” kata Faye penuh canda. Dengan nyaman gadis itu mengambil posisi duduk di atas tikar, lalu Faye mulai melihat-lihat kumpulan kertas berisi sketsa miliknya yang berantakan.

Coba perhatikan kata “miliknya” di akhir paragraf. Dalam posisi membaca cepat, mungkin mekanisme otomatis otak saya akan mencerna bahwa kata ganti “-nya” yang disematkan pada kata "milik" itu adalah merujuk pada Faye, padahal sebenarnya itu merujuk pada Zaki yang memang gemar membuat sketsa. Sayangnya, cukup banyak gaya penulisan semacam itu dalam novel ini. Bagi saya pribadi, gaya penulisan tersebut cukup mengganggu. Typo pun masih bertebaran di sana-sini. Beberapa yang cukup mudah ditemukan adalah di bab-bab akhir menjelang ending, padahal di awal typo-nya tidak banyak.

Terkait dengan penamaan tokoh-tokohnya, Windry terkesan menyukai nama modern yang dibuat berornamen. Alih-alih menulis Dian, Windry lebih suka tokohnya disebut Diyan. Demikian pula dengan Niela dan Meilianie. Sudah menjadi penyakit dari jaman dulu kala, penulisan nama yang seperti itu memiliki peluang yang cukup besar untuk terpeleset (salah ketik). Dan, terjadi juga di novel ini, meskipun hanya sekali-dua kali kalau tidak salah. But, overall, saya suka novel ini.

Selamat membaca, kawan!
Profile Image for Winna.
Author 18 books1,967 followers
July 31, 2008
Di sela waktu editing, saya gak tahan untuk membaca ulang karya perdana Windry yang ini...

Yang saya suka mengenai buku ini:

- Konflik yang ditata Windry apik, complicated sekaligus menarik. Sama sekali tidak ada bagian yang bertele-tele, dan karakternya (sampai side characters) semua sangat menarik. Pace-nya cepat dan tidak ada pengulangan cerita, sehingga semua bagiannya terkesan penting. Hal ini bikin pembaca asyik membaca terus.

- Dialog yang diciptakan Windry sangat hidup. Semuanya membangun dan memperkaya inti cerita.

- Saya selalu suka tulisan Windry, Orange ini memiliki rasa yang berbeda dari tulisan pengarang yang biasanya, I still enjoyed it very much. Saya belajar banyak dari novel ini, thanks ya Wind :)

Beberapa komentar lain...

- Saya setuju dengan Ayu mengenai cover. Tadinya saya berharap cover buatan Windry yang akan dipasang, karena sangat eyecatching. Kalau menurut saya, cover yang ini kurang gres :D (masih berharap cover ala luar negeri Wind, tapi aku mengerti kok penerbit pasti punya pertimbangan sendiri untuk strategi marketing, generalisasi cover dan sebagainya).

- Saya menemukan banyak kesalahan ejaan, terutama grammar dalam conversation berbahasa Inggris, sehingga agak mengurangi kenikmatan membaca hehehehe.. Windry juga banyak menggunakan kata yang seragam bahkan sama di hampir semua chapter, misalnya 'mengulas senyum masam' ini bisa ditemukan di hampir seluruh bagian Diyan (kadang Zaki dan Rei juga sering kutemukan).. Walaupun mungkin verbal ini sesuai untuk scene-nya, pengulangannya membuat ini seakan-akan menjadi kebiasaan atau ciri khas sang karakter. Menurutku, variasi yang digunakan dapat mengurangi efek ini.

- Yang saya perhatikan, buku ini terdiri seluruhnya dari scene-scene pendek, hampir tidak ada narasi (yang bukan scene dan dialog). Walaupun ini punya kelebihan sendiri (dalam membantu pace yang cepat, scene yang semuanya penting), ketika membaca aku sedikit terengah-engah mengejar pace tersebut. Mungkin aku masih terpengaruh buku editing yang baru kubaca, yang mengatakan bahwa dalam novel ada baiknya mengkombinasikan narasi dan scene, bergantian untuk variasi pace. Kadang aku berharap bisa membaca lebih dalam mengenai karakter-karakter utama, tidak hanya melalui dialog dan scene (tapi dialog dan scene-nya menarik lho, Wind, sungguh).
Profile Image for Ayu Prameswary.
Author 19 books65 followers
July 26, 2008
rating-nya nunggu diriku baca versi gagas, yak, hehehe ;D

--------update------

3.5

Saya membaca novel ini sambil menghabiskan persediaan jeruk dalam kulkas. Maksudnya, sih, biar lebih menghayati ceritanya *yee*. Entah saya bisa bersikap objektif atau tidak dalam menilai buku ini, apalagi saya membacanya sambil berusaha tidak terpengaruh opini seseorang *lirik-lirik* wahahaha :D

Saya tidak tahu ini salah penulis atau editornya saat saya menemukan (lebih dari) beberapa kesalahan mendasar dalam grammar dan penulisan. Saya angkat tangan, ah, untuk dialog-dialog berbahasa Inggris, karena sebenarnya hal tersebut juga merupakan kelemahan saya, ehehehe. *catat, Yu, kamu harus belajar grammar lagi!*

Coba temukan di mana letak kesalahan dalam beberapa kalimat berikut:

- Faye menggelar foto-foto yang dibawanya digelar di atas meja.
- Sebenarnya, jarak apartemen itu ke kediaman orang tuanya di bilangan Pondok Indah tidak terlalu jauh. Tetapi, sebagai anak tunggal, Faye harus siap berkunjung setiap saat jika orang tuanya menghendaki.
- Faye memasuki ruang kerjanya dengan dua lembar tiket pesawat ditangan.
- “Apa yang sedang kaulakukan?”

Dan seperti yang pernah saya katakan saat kisah ini di-publish di K.com, Zaki termasuk tokoh utama, tapi karakternya masih kurang digali. Sayang, padahal saya suka Zaki. Diyan terlalu sempurna, walau saya juga mau kalau dikasih :p *yee, melenceng keluar jalur*

Oke, sekarang saya main fisik *halah*. Saya tidak suka kovernya. Tidak eye catching. Serius, kover ini tidak mudah tertangkap mata saat dipajang di antara buku-buku lain dalam beberapa toko buku yang saya datangi. Saya lebih memilih kover yang diajukan si penulis -_-. Dan kenapa saya menemukan dua jenis kertas dalam halaman-halamannya? Oh, dan tampaknya ada ilustrasi berformat jpeg hingga menutupi sebagian teks dalam satu halaman (makanya, dijadikan gif atau png, dong :p). Kesalahan si tukang cetak, atau saya sedang sial saja?

Sudah, sudah, sekarang saya mau memuji^^. Well, saya penggemar chick-lit, dan penggemar tulisan-tulisan Windry, jadi, secara keseluruhan, saya menyukai novel ini dan benar-benar tersentuh dalam beberapa adegan. Chemistry antara Diyan dan Faye pun lebih terasa dibanding saat masih belum diedit/ berada di K.com. Satu yang saya dapat setelah selesai membaca buku ini: ternyata saya memang lebih menyukai jeruk daripada blueberry :p *yee, kesimpulan nggak penting*.

Baiklah, tampaknya tadi saya masih melihat beberapa jeruk dalam kulkas. Habiskan, ah. Oke, sampai jumpa dalam novel berikutnya, Wind :D
Profile Image for Emilya Kusnaidi.
Author 3 books40 followers
December 20, 2015
Sejujurnya saya nggak suka dengan Faye. Selalu kurang suka dengan tipe cewek yang ditaksir banyak tokoh cowok. Kurang suka juga dengan Diyan karena plin plan. Ataupun kurang suka dengan Zaki yang karakternya nanggung dan terasa flat.

Tapi saya suka Rera, manusiawi dengan keegoisannya. Dan kisah Rera lebih nyess. Untung Rera akhirnya balik ke Paris, daripada ends up sama cowok menye-menye :))
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
September 23, 2015
Buku ini adalah salah satu buku yang menjadi awal saya menyukai tulisan Windry Ramadhina, pertemuan pertama bisa kalian baca di review Memori, penuh kenangan dan ketidaksengajaan. Mengetahui kalau akan dicetak ulang dan dilakukan beberapa perombakan, saya tidak sabar ingin memilikinya, walau Orange versi lama masih dalam kondisi bagus, tetap saja saya ingin mengetahui apa yang diubah dan ditambahkan. Setelah selesai membaca versi terbaru, bisa dibilang buku ini jauh lebih bagus dari versi lama, kalian yang selama ini kesusahan mencari Orange, akan puas ketika membeli versi terbaru.

Fayrani Muid, putri pasangan konglomerat Ahmad dan Meilanie Muid. Keluarga besar Muid memiliki banyak bisnis warabala asing dan perhotelan, namun anak tunggal pasangan suami istri tersebut lebih memilih terjun ke dunia fotografi dan tidak tertarik sama sekali menjadi penerus bisnis keluarganya. Penampilannya sangat kasual dan tidak peduli kalau dia berasal dari keluarga kaya raya. Faye, begitu pangilannya, bekerja di studio milik Erod Martin, salah satu fotografer profesional yang susah memiliki nama di kancah internasional. Faye adalah Faye, sangat menyukai memotret dan jeruk.

'Aku suka fotografi, Erod. That Simple. Selama aku bisa berkarya, di mana pun tempatnya, buatku tidak jadi soal.'


Diyan Adnan, putra pertama pasangan Tyo dan Indra Adnan, konglomerat yang hartanya tidak akan habis dalam beberapa generasi, mereka menguasai bisnis di bidang industri properti dan jasa distribusi di Indonesia selama puluhan tahun. Usaha mereka semakin sukses semenjak Diyan turun tangan langsung. Dia merupakan eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Dia seorang workaholic, sering lebur di kantor dan jarang sekali santai. Dia mempunyai orang kepercayaan yang mengurusi segalanya, Reina Adnan, sudah seperti agenda berjalan bagi dirinya. Diyan sangat menyukai kerja dan tidak bisa melupakan masa lalunya, cintanya kepada Rera.

Suatu hari keluarga Muid berkunjung ke kediaman keluarga Adnan, dari sanalah ide menjodohkan Diyan dan Faye tercetus. Meilanie tidak berpikir panjang ketika menerima tawaran dari Indra, dia membutuhkan seseorang untuk meneruskan bisnis keluarganya, dan tidak bisa berharap kepada Faye. Diyan adalah pilihan yang sangat tepat, terlebih pernikahan mereka bisa menyatukan bisnis dua keluarga yang sama-sama kaya. Dulu Faye berjanji kuliah di dunia fotografi adalah permintaan terakhirnya, dan selanjutnya dia akan menyetujui apa pun keinginan orangtuanya, dan saat inilah Meilanie ingin menagih janji Faye. Berbeda dengan Faye yang awalnya tidak setuju dengan perjodohannya, Diyan langsung menyetujui, dari dulu dia tidak pernah mempunyai pilihan lain, tidak seperti adiknya, Zaki yang pembangkang, yang lebih memilih hidup dengan penghasilannya sendiri dan tidak ingin menyentuh harta keluarga Adnan.

Pertemuan pertama mereka sangat kaku, terlebih semua diatur oleh Rei. Diyan tinggal menjalankan jadwal, kapan harus bertemu, tidak ada inisiatif dari Diyan sendiri, seperti memberikan hadiah atau menelpon menanyakan kabar, semua Rei yang mempersiapkan, semakin membuat Faye penasaran dan ingin tahu lebih dalam lagi tentang calon suaminya tersebut. Ditambah Faye mengetahui tentang gosip akan Diyan dan Rera, tentang masa lalu mereka yang membuat Faye merasa tersisih dan tidak memiliki tempat di hati Diyan. Namun, Faye tidak akan menyerah, dia mulai serius dengan perjodohan mereka, dia sudah jatuh cinta kepada Diyan yang kaku dan dingin.

"Sometimes, ending won't be the end if you don't wish so."
"Sometimes, it doesn't have to be the end by any means."


Dari segi cerita tidak banyak yang berubah, masih sama hanya saja ada 'penghalusan' di beberapa bagian, dan hal tersebut malah membuat lebih baik. Penulis mengakui kalau karya pertamanya ini masih banyak kekurangan, dan dia memperbaiki di edisi terbaru. Saya lupa bagian mana saja yang mendapatkan perubahan dan penambahan, karena saya tidak membandingkan dengan edisi lama, saya hanya ingin menikmati membaca. Ada satu bagian yang saya ingat yaitu acara pertunangan Faye dan Diyan, kalau tidak salah dulu berlangsung di hotel, sekarang diganti di rumah keluarga Adnan dan ada beberapa adegan yang berubah di bagian ini. Yang jelas membaca versi terbaru ini lebih nyaman.

Dari buku ini juga kita bisa melihat perkembangan penulis, salah satu ciri khas Windry adalah tulisannya kaya detail dan penggambaran emosi kedua tokoh utamanya. Di buku ini tidak banyak detail yang Windry suguhkan, singkat tapi jelas, tidak bertele-tele, seperti penggambaran keluarga Adnan dan Muid yang kaya raya, tidak berlebihan, hanya sebatas informasi saja kalau mereka kaya, dan itu pun terlihat ketika pasangan suami istri Adnan dan Muid bertemu, selebihnya penulis lebih menekankan cerita kepada perasaan dua tokoh utamanya, Faye yang mulai mencintai Diyan dan ingin calon suaminya memiliki perasaan yang sama sedangkan Diyan mencoba melepaskan cinta lamanya dan mencoba menerima Faye. Yah walau tidak banyak detail, saya sangat menyukai bagaimana penulis membangun chemistry antara Diyan dan Faye. Penulis juga tidak menghilangkan sejumlah informasi yang juga merupakan keahliannya, yaitu dunia fotografi.

Yang menambah nilai plus dari buku ini adalah kemasannya! Sangat-sangat suka, mulai dari kaver sampai ilustrasi yang dibuat penulis sendiri. Saya kasih contoh satu ilustrasinya, masih banyak dan lebih baik kalian lihat sendiri :p. Selain itu akan ada tambahan cerita, bagi kalian yang suka mantengin blog penulis pasti tahu ada cerpen kelanjutan cerita Orange, yap, di bagian terakhir ada side light berjudul The Girl Behind the Lens, tapi hanya ada satu saja, padahal berharap The Girl Behind the Lens: II juga dimuat di Orange terbaru. Tapi nggak pa-pa sih, bagi yang ingin baca silahkan meluncur, klik aja judul cerpen tersebut, kalian bisa langsung membacanya, namun yang The Girl Behind the Lens postingannya sudah dihapus penulis.

Untuk tokoh di buku ini, favorit saya tentu saja Faye, karena menurut saya dia adalah perempuan yang tidak mudah menyerah. Dia tahu Diyan masih mencintai Rera tapi dia tetap berusaha mengambil hati Diyan. Dia mengubah kabar Diyan agar melupakan Paris dan beralih ke Hongkong, dan bahkan membela Diyan ketika dipojokkan ibunya perihal dia menemui Rera lagi. Awalnya saya sebal dengan Diyan karena gampang banget 'menyingkirkan' Faye dan lebih memilih Rera, tapi dia mengalami perkembangan karakter juga, sedikit demi sedikit dia tidak ingin kehilangan Faye. Bagian favorit adalah ketika Diyan semalaman menunggu Faye di mobil, ketika dia dihubungi oleh Meilanie bahwa walau sedang sakit Faye tetap ke kantor untuk mengambil barang berharga karena takut terkena banjir. Pas mau jemput Diyan malah melihat Faye dan Zaki bersama. Bagian ini menunjukkan kalau Diyan udah mulai mempunyai perasaan kepada Faye, dan suka dia bisa cemburu juga, hehehe.

Tidak ada yang benar-benar menjadi pemeran antagonis dalam tokoh rekaan Windry, mereka semua lebih realistis. Seperti Rera, walau egois dia tidak memaksa, dia tahu tidak akan bisa bersama dengan Diyan karena mereka sama-sama mempunyai ambisi yang besar dalam hidup mereka, hanya saja ketika mendengar mantan tunangannya akan bertunangan lagi, dia mempertanyakan kembali perasaanya akan Diyan, apakah masih ada cinta? Sedangkan Zaki tidak percaya Faye akan menikah dengan kakaknya, Faye bukan tipe perempuan kakaknya, Faye lebih mirip dengannya, seseorang yang ingin hidup bebas dan tidak ingin diatur. Zaki ini mirip Simon, jadi agak susah kalau disuruh milih Zaki atau Diyan, karena mereka mempunyai sifat dan kelebihan masing-masing.

Selain membeli buku versi terbaru, saya juga membeli tote bag bergambar para tokoh di Orange, saya memilih Faye dan Diyan, pengen semuanya apa daya kantong udah bolong, hehehehe. Suka banget sama tasnya, kainnya bagus dan yang paling bagus adalah ilustrasinya. Dapat bonus semacam postcard keempat tokoh di Orang juga, pokoknya puas banget PO kali ini :D.

Bagi kalian yang ingin membaca karya pertama Windry Ramadhina, buku ini tidak boleh dilewatkan. Bagi yang menyukai kisah perjodohan, buku ini juga recommended. Buku ini bercerita tentang bahwa cinta itu bisa diciptakan secara perlahan, sabar dan tanpa menyerah.


review lengkap http://www.kubikelromance.com/2015/07...
Profile Image for Palinda.
180 reviews3 followers
December 12, 2018
Pernah punya buku fisiknya tapi malah dijual padahal belom dibaca sampe buyernya bilang masih bagus amat bersegel. Terus nyesel terus beli yg cover baru. Terus suka. Terus kata sepupu yang cover baru ada sedikit tambahan cerita. Terus bingung aku kudu piye dapetin cover lamanya kan nggak mungkin minta jual balik sama buyernya. Terus akhirnya ada ebooknya. Terus donlot. Terus baca. Dan iya emang ada sedikit tambahan di cover baru tapi nggak merubah alurnya kok. Aku sih lebih suka sama yang cover baru. Mungkin karena MSGnya ditambahin 1/8 sdt (sendok teh) jadi makin sedap interaksi antara Diyan sm Faye. Mereka termasuk couple favoritku selain Mahoni sama Simon.
Profile Image for Wardah.
951 reviews172 followers
December 10, 2019
Akhirnya baca juga karya debut penulis dan ... bukan karya kesukaanku. Entahlah, meski beberapa bagian bikin mesem-mesem, keberadaan Rera dan kelabilan Diyan bikin sebal sepanjang cerita. Tapi untuk sebuah karya debut, Orange merupakan buku yang solid. Gaya bahasanya asik (walau kaku, tapi tetep aja suka gaya nulisnya) dan berhasil mengalir gitu.
Profile Image for Dian Maya.
194 reviews12 followers
February 5, 2013
Huuuaaaaaa. . .
finally, diantara kesibukan kuliah sekaligus skripsi project yang menggila, saya punya sedikit waktu yg bisa saya luangkan utk nulis review Orange-nya mbak Windry Ramadhina ini.
Salah satu novel yang khas Metropop, dan memang saya tdk bisa pungkiri, saya suka novel-novel Metropop. Terlebih karena cerita Orange ini beda dari semua metropop yg saya baca sebelumnya.

Mungkin sy tergolong sangat terlambat yah menbaca novel ini, setelah 4 tahun terbit, saya baru "ngeh" ternyata ada novel yg berjudul Orange. Hahaha.. Itupun setelah browsing2 resensi novel di Google :D

Orange menyuguhkan tokoh-tokoh yang menarik, ada Faye yang karakternya cuek, tomboy, manis, tapi tough, Diyan yang kaku, Zaki yang friendly (saya suka jenis laki-laki seperti ini. Enak dijadiin teman), Rera yang ambisius, Reina (asisten Diyan) yang pengertian sekaligus sangat teramat profesional. Plus orang tua masing-masing dari pihak Faye maupun Diyan.

Pas baca novelnya saya agak kaget dengan ilustrasi2nya karena ini baru kali pertama saya baca novelnya Gagas Media yang pake ilustrasi gambar (mgkn novel yg lain ada, tapi sy belum pernah baca).

Ceritanya sih klasik yah, Faye yg ditunangkan sama Diyan, awalnya gak ada rasa sam skali, tapi lama kelamaan jatuh cinta juga. Tapi yg bikin novel ini menarik & beda dari novel2 metropop yang lain adalah gaya penulisan, penokohan & of course, endingnya. Saya sukaaaaa skali endingnya!

Faye betul-betul sabar menghadapi Diyan yang teramat kaku dan plin-plan (menyebalkan, menurut saya), saya aja mikir, kalo dihadapkan laki-laki sejenis Diyan, kira-kira saya mampu handle gak yah?? *hehehe

Tapi yg saya sayangkan, adegan romantis antara Faye-Diyan tuh rasanya kuraaang. I need more than that :p biar mereka bisa digambarkan saling cinta satu sama lain.

But overall, saya sukaaa skali sama Orange!


Favorite Dialogues:

•Diyan
“memangnya kau kira, kau sedang berurusan sama siapa? Aku ini Diyan Adnan. Tak ada tender yang tak bisa kumenangkan.”
(page 285)

•Faye
“Kau memang pria seperti itu ya? Memberi ciuman pada pertemuan pertama. Pantas saja tidak ada gadis yang bisa menolakmu.”
(page 62)

•Rera
“jika kita sudah lebih dewasa, Diyan, saat ambisi dan harga diri tidak ada lagi di antara kita, apakah kita bisa kembali bersama?”
(page 238)

•Zaki
“Kau bilang, sejak awal memang tidak ada cinta. Kau sendiri juga tidak bisa melupakan Rera, lalu untuk apa dilanjutkan?”
(page 244)

Biggest thank I dedicate to mbak Windry yang baek hati :*
(saya rasa saya tdk perlu menyebutkannya disini)
and I think, I should begin hunting for her another novels :)
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
August 30, 2015
“Kalau begitu, kita jodohkan saja Diyan dan Faye.” –Orange, hlm. 36


Situasi menjadi serba-pelik ketika ide itu terbersit dari benak Indra Adnan. Dan Meilanie Muid kini mulai mempertanyakan dirinya. Mengapa ia setuju atas ide kawan bisnisnya? Faye mungkin sempat menjadi pemberontak keluarga Muid, tapi mereka perlu seseorang untuk menjadi penerus bisnis Ahmad Muid.

Faye terpaksa ditunangkan. Setelah janji tololnya mengenai sekolah fotografi di New York dan bekerja di studio Erod Matin. Ia harus mendengarkan kata-kata orangtuanya; bertemu dengan Diyan Adnan, eligible bachelor nomor satu di ibukota. Bukan perawakannya saja yang tampan, kekayaannya berlimpah, tak ada tender yang tak bisa dimenangkan olehnya. Tapi sayang, setahun lalu hatinya hancur, mengejar cinta Rera yang meninggalkannya lepas landas ke Paris.

Diyan masih terbelit perasaan di masa lalu, kendati Faye mencoba untuk mendekati dirinya. Tidak ada kata cinta di antara keduanya, alih-alih, dijodohkan. Sementara Zaki Adnan mengincar perempuan mungil itu dari jauh. Siapa yang akan Diyan pilih? Rera atau Faye?



Membaca “Orange” dan melihat takhta kerajaan bisnis Adnan yang dielu-elukan, sempat mengingatkan saya akan kerajaan keluarga Hanafie yang dibangun oleh Sitta Karina. Hanya bedanya, Sitta Karina lebih ceriwis dengan gaya semi-chicklitnya, Windry Ramadhina dengan “Orange” cetakan terbarunya lebih kuat dari segi permainan alur dan kerapiannya dalam bercerita. Jika dibandingkan dua novel Windry Ramadhina yang pernah saya baca sebelumnya, “London: Angel” dan “Montase”. Entah kenapa, saya lebih menyukai “Orange”. Mungkin dari bahasanya yang terasa lebih luwes. Sedangkan “Montase” dulu yang pernah saya baca, yang mengambil sudut pandang bercerita seorang laki-laki terkesan kaku, sendu, dan sedikit suram.

“Orange” memang terasa seperti novel debut Windry Ramadhina, kendati dibalut dengan sampul baru yang lebih menarik dan ilustrasi yang keren. Tapi, dari idenya dan pemilihan latar, sesungguhnya sangat sederhana. Intinya tentang perjodohan. Faye yang tidak pernah berpikir untuk menikah dan lebih mengejar karier fotografinya, malah diperhadapkan pada keharusannya untuk menikahi Diyan Adnan. Dan alur cerita selanjutnya memang bisa ditebak. Walau ada dua orang lain yang menjadi biang pengganggu hubungan keduanya, tapi sedari awal menilik sinopsis, pastinya bakal tahu, seperti apa “Orange” akan berakhir.



Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...
334 reviews37 followers
February 1, 2012
It was light and fun reading!

Salah satu kelebihan novel ini adalah kemampuan penulis dalam menggambarkan kehidupan pebisnis nomor satu yang super kaya tanpa terlihat berlebihan, tidak glamourous, dan tidak pamer. Ada beberapa novel yang demi menonjolkan kehidupan jetset para tokohnya, sampai overdosis dalam nyebutin merek baju-baju terkenal, atau nama-nama restoran mewah, atau hotel-hotel mahal. Meskipun sesekali para tokoh makan di restoran mewah dan tinggal di kawasan elit, tapi saya sendiri menganggap itu hanya bagian dari setting aja.

Saya menikmati cerita ini, meskipun sudah setebal 286 halaman tapi saya masih merasa kurang panjang. Kenapa? Karena kurang membangkitkan emosi saya. Masih agak susah membayangkan Faye dan Diyan yang bersedia menikah walaupun hanya dijodohkan, padahal mereka belom pernah ketemu. Mungkin dari sisi Diyan yang merupakan pebisnis sejati, hal itu ngga ada masalah.

Tapi saya agak heran dengan Faye, satu-satunya alasan dia ngga menolak perjodohan itu adalah karena dia ngga enak sama Mamanya.Sebagai seorang fotografer yang berjiwa bebas, saya rasa kok logikanya rada ngga masuk ya? Mestinya dia menolak perjodohan itu.

Saya suka dengan penggambaran Diyan-Rera, meskipun ngga dijelaskan dengan rinci masa lalu mereka seperti apa, tapi dari adegan-adegan yang dibangun penulis, pembaca bisa merasakan besarnya cinta Diyan-Rera yang ngga hilang meskipun sudah lewat satu tahun.

Sayangnya yang terkena imbas adalah hubungan Zaki-Faye. Dengan interaksi yang sedikit, saya agak ragu si Zaki bisa jatuh cinta dengan Faye secepat itu. Lagipula, konflik perebutan Zaki-Diyan kurang dalem. Harusnya kan ada berkelahi-berkelahinya juga. *timpuk*

Novel yang cukup bagus buat mereka yang suka dengan kisah drama yang ringan namun berbekas. Saya paling suka dengan tagline nya:

Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.
Profile Image for Autmn Reader.
881 reviews92 followers
July 11, 2023
Tadinya pengen kukasih lebih dari 3 🌟 tapi aku kecewa sama endingnya yang begitu aja. Aku buth Diyan lebih berjuang aja, sih. Ayolaah, dia ini cowok gumon gang jadiin cewek lain pelampiasan. Walaupun disebutin dia nggak jadiin Faye pelampiasan. Tapi aku enggak bisa liat itu.

Itu bibirnya mana ramah banget lagi. Cium Faye iya, Rera juga diembat. Dua cewek ini deserve better sih ketimbang Diyan.

Ah satu lagi, keterlibatan jeruk ini nggak berkontribusi banyak. Kukira aku bakalan nemuin tokoh yang maniak sama jeruk, disebutin sih memang. Tpi nggak ditunjukin jdi nggak terpercaya aja jadinya maniaknya Faye sama Jeruk. Cuman dikit aja maksudnya.

Awalnya suka-suka aja sama Diyan, tapi pas dia leor, iyuuuh bete banget. Mana dia tuh kek nggak menderita lagi. Menderita sih mungkib tpi krena skip forward ke setahun kemudia jadi ya gtu. Mungkin bakalan lebih suka kalau endingnya ditambahin dikit lagi dan jangan seinstan ini.

But overall, aku tetep menikmati bacanya karena aku suka Faye. Kek sayang banget sama dia sampe-sampe aku ngerasa dia mendingan pilih mimpinya aja ketimbang pilih Diyan yang leor itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Kartika Nurfadhilah.
159 reviews21 followers
July 8, 2016
Orange

Ini bercerita tentang Fayrani Muid, Faye, putri tunggal konglomerat keluarga Muid yang lebih mencintai fotografi dibandingkan bisnis keluarganya. Lalu, ada Diyan Adnan, putra pertama konglomerat keluarga Adnan yang mencintai bisnis dan pekerjaan. Keduanya tidak saling mengenal dan berbeda.
Keduanya dijodohkan atas dasar 'kekeluargaan' atau lebih tepatnya bisnis. Karena diharapkan perjodohan keduanya dapat memberikan keuntungan bagi kedua keluarga.
Sesederhana itu. Keduanya dijodohkan dengan segala alur khas drama dan rekayasa media. Faye yang cenderung santai terhadap penampilan, berbeda dengan Diyan.

Lalu, ada Zaki Adnan, putra kedua keluarga Adnan yang pemberontak, lebih menyukai desain dibandingkan bisnis yang secara kebetulan bertemu Faye. Zaki menyukai Faye. Gadis itu berbeda dan terlihat unik di matanya meskipun tahu gadis itu sudah ditunangkan dengan kakaknya. Kemudian, ada gadis cantik blasteran Indonesia-Perancis, Rere namanya. Rere memiliki titel mantan-tunangan-yang-melarikan-diri. Rere meninggalkan Diyan demi mengejar mimpinya menjadi supermodel. Ketika berita pertunangan Diyan dan Faye tersiar hingga Paris, Rere mengelak. Ia menerima sekaligus menolak, dan ia meninggalkan sekaligus menyesali.

Sementara, pertunangan berjalan, Faye tahu, ia mulai menyukai Diyan. Namun, apakah Faye sanggup jika Diyan meninggalkannya ketika Rere kembali untuk memperoleh kembali pria itu ke sisinya?
**

" Aku suka fotografi, Erod. That simple . Selama aku bisa berkarya, di mana pun tempatnya, buatku tidak jadi soal," -halaman 6

" Sometimes, ending won't be the end if you don't wish so. Sometimes, it doesn't to be the end by any means, " Halaman 29

" Lucu. Berusaha keras untuk apa? Untuk jatuh cinta? Kalaupun jatuh cinta memang semudah itu, dia harus melupakan sosok Rera terlebih dahulu, sesuatu yang selama satu tahun ini tidak sanggup dilakukannya. -halaman 135

" Jeruk itu hidup, Yan. Bittersweet ." -halaman 147-148.

" Lucu, terkadang manusia tidak menyadari apa yang sesungguhnya mereka inginkan sebelum benar-benar kehilangan, " halaman 292.

" Saat berangkat dari Jakarta, dia takut. Dia tidak yakin bisa mendapatkan Faye kembali. Bahkan, hingga saat ini, walau Faye berada dalam pelukannya, ketakutan itu belum hilang, " halaman 295

" Sudah kubilang. Bisnis denganmu lain, Faye. " halaman 296


**
Uuh, sebel! Ini kali kedua saya menulis tentang Orange setelah pertama ketika mau submit terjadi ganggung koneksi yang menyebabkan tulisannya sebelumnya tidak tersimpan. Setelah berpikir dan menyegarkan perasaan dari kesal, akhirnya saya menulis kembali dan tetap saja panjang. Hahaha.

Orange karya Kak Windry merupakan novel kelima Kak Windry yang sudah saya baca. Dan diakui, bahwa judul favorit saya tetap Metropolis dan Montase. Judul setelah itu tidak ada yang mampu mengalahkan ekspetasi saya terhadap kedua novel tersebut. Dan Orange ini saya beli versi revisinya karena versi pertama tidak diperoleh, sehingga saya tidak bisa membandingkan Orange versi sebelum dan setelah revisi.

Orange ini mengambil premis yang cukup membumi. Dua orang yang tidak kenal namun karena memiliki keluarga yang kaya atau saling terkoneksi membuat keduanya dijodohkan, lalu tidak kenal menjadi mengenal, ada pihak ketiga, affair , perpisahan, dan rekonsiliasi. Alur yang cukup sering ditemui di drama-drama. Dan saya menyukainya (hahaha) karena memang menyukai alur yang cukup pasaran namun bila dikemas dengan apik akan menjadi berbeda. Dan itu terjadi di Orange.

Konfliknya sebenarnya mudah tapi penekanan alur membuatnya terasa pelik. Diyan yang masih menyukai Rere, dan Faye yang berusaha menyusaikan kehidupan Diyan dengan dirinya. Konflik tersebut terasa hidup karena didukung oleh percakapan yang terkesan alami dan bertutur, sehingga terkadang percakapan antartokoh tidak terasa seperti percakapan tokoh fiksi tapi layaknya tutur kata sehari-hari. Meskipun, agak janggal sih di bagian pertemuan awal mereka yang canggung dan serba terstruktur sampai ke hubungan mereka yang sudah saling nyaman--Nah, pace antara ke canggung ke zona agak nyaman itu agak aneh menurut saya, sih.

Tentang karakter menonjol. Tentu saja, Fayrani Muid atau Faye.
Saya selalu suka dengan karakter tokoh wanita yang tegar, kuat, cerdas, mandiri, dan selebor terhadap penampilan. Karakter Faye ini digambarkan agak berbeda dengan gadis keturunan sendok emas, ia tidak terlalu menyukai penampilan anggun tapi ia nyaman dengan dirinya. Ia tidak ingin berbisnis karena itu bukan keinginannya. Setidaknya, ia mampu memperjuangkan mimpinya.
Dan saya suka itu.
Sedangkan, karakter Diyan ini, antara sebel dan manis. Saya sebel ketika Diyan digambarkan plin-plan terhadap perasaan dan lemah terhadap Rere. Duh, cewek yang sudah ninggalin masih aja dikejar--memang CINTA dan BODOH beda tipis. Tapi di sisi lain, saya suka sama sikap Diyan yang menghargai wanita, meskipun saya ngga suka dengan tagline-nya dia yang menyatakan tidak ada wanita yang mampu menolaknya. Hufht, terkesan sombong :'(

Tapi secara keseluruhan, saya menyukainya jadi 3.5 bintang? Iya.
O iya, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
Profile Image for Mirna.
49 reviews6 followers
August 10, 2008
Jujur saya sengaja mencari buku ini karena penulisnya adalah teman saya. Tebal cetaknya 286 halaman dan saya juga kenal editornya.

Hal yang paling melegakan buat saya adalah tidak dipasangnya endorsement di sampul belakang buku. Yang ada adalah potongan dari cerita di dalam novel ini, berbunyi sebagai berikut:

”Ia mengunci pintu di belakangnya, lalu bersandar lemas di sana. Sesaat, ia seolah dipaksa menyadari sebuah kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera—siapapun dia. Ah, dirinya kesal setengah mati.”

Lalu di bawah paragraph itu adalah ringkasan pendek plot cerita novelnya:

“Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta, murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.
“Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artificial saja. Tapi cinta, ego dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.
“Pertanyaannya: apa… dan siapa?”

Jujur lagi, ini yang membuat saya jadi rela membeli buku novel perdana Windry ini setelah berhasil menemukannya di antara novel popular lainnya di rak-rak buku Gramedia. Seandainya yang dipasang endorsement semata, atau sinopsis yang dicetak di sampul belakang itu basi, sungguh saya hanya akan menunggu sampai bisa pinjam saja untuk membacanya.

Mari kita mulai.

Novel ini bernuansa romantis dengan latar belakang budaya metropolis Jakarta. Plotnya standar saja sebetulnya, perjodohan anak-anak dua keluarga kaya di Jakarta, dan hubungan cinta segi empat antara Faye, Diyan, Rera si model, dan Zaki the prodigal child yang juga adik lelaki Diyan.

Setelah satu bab Prolog yang tidak menangkap perhatian atau meninggalkan kesan yang kuat, dan lima bab perkenalan yang terasa terlalu lah panjangnya, barulah cerita mulai mengalir dengan ritme yang lebih baik di bagian “1st Rendezvous”. Meskipun sudah ada bab perkenalan karakter, justru di bab inilah, melalui interaksi pertama mereka, karakter dua tokoh utama buku ini mulai terasa tiga dimensi dan menjadi utuh.

Dalam dialog antar karakter cerita yang berlatar belakang keluarga berada, berpendidikan tinggi, atau malah bukan orang Indonesia, Windry membebaskan diri menggunakan Bahasa Inggris. Percobaannya bisa dibilang berhasil seandainya saja bahasa yang digunakan tidak terlalu kaku. Contohnya: Seluruh percakapan yang terjadi antara Rera sang model blasteran, dengan Jean sang manajer berkebangsaan Prancis yang terjadi sepanjang bab “Intro: Rera”.

Saya tidak menemukan unsur yang berlebihan pada drama-dramaan cinta dalam konflik asmara yang terjadi antara Diyan dan Faye. Meski latar belakang hubungan antara karakter Faye dengan orangtuanya masih terasa samar untuk saya, tapi karakter Faye tetap utuh. Perihal latar belakang, menurut saya karakter Diyan justru lebih muncul ke depan dikarenakan masa lalunya yang hadir kembali dalam plot cerita, hal yang digunakan Windry untuk menambah bahan bakar drama cinta tadi.

Mengenai masa lalu yang hadir kembali, saya paling suka dengan adegan kilas balik yang diselipkan Windry dalam narasinya di halaman 148. Tanpa adegan ini karakter Rera hanya akan menjadi template dua dimensi pengisi ruang plot cerita saja.

Menurut saya, Windry belum sepenuhnya menggunakan kekuatan deskripsinya, tetapi setting yang ia gunakan untuk latar belakang adegan-adegan penting (misalnya: pertemuan pertama Rera dan Diyan, banjir di studio Faye di Kemang, pertemuan kembali Faye dan Diyan) ditulis dengan cukup baik sehingga membuat adegan tersebut terasa lebih realistis dan hidup. Klimaks cerita dan penutup kisahnya juga berhasil. Plotnya terolah dengan cukup baik sehingga saya bertahan membaca hingga tuntas tanpa dibuat mual dengan klise yang berlebih.

Tentang desain tampilan sampul depan novel Orange ini, berhubung saya pernah melihat ide desain yang awalnya diinginkan Windry, saya heran kenapa ide Windry tersebut tidak diwujudkan penerbitnya dengan lebih baik.

Akhirnya, Orange adalah novel romansa yang cukup manis. Dengan suntingan yang lebih baik novel ini bisa lebih maksimal dalam pengembangan karakternya.

Berapa bintang? Tiga dari Lima. Belum sampai tahap fenomenal tapi karya novel pertama ini membuat saya ingin mengikuti perkembangan Windry di novel berikutnya.

Rekomendasi: Kalau suka dengan romansa, Orange akan membuat senyum-senyum sendiri.

Warning: Sayang sekali kualitas cetakannya agak mengecewakan, jadi periksa dulu tiap halaman buku dan jangan langsung buang tanda bukti pembelian agar bisa langsung ditukar kalau ada halaman kosong seperti punya saya. Hiks.
Profile Image for Cindy Claudia.
99 reviews15 followers
January 30, 2016
Sebenarnya saya ingin memberi bintang 2.5 namun saya bulatkan menjadi 3 sesuai rating Goodreads.

Kalau boleh jujur, Orange bukanlah karya favorit saya dari penulis. Saya sudah membaca seluruh karya Windry, kecuali Metropolis karena saya memang kurang tertarik. Lucunya, saya membaca karya Windry mundur mulai dari karya terbarunya sampai karya pertamanya, yaitu Orange ini.

Saya tidak akan membahas dari segi tema, karena menurut saya tema Orange sudah sangatlah mainstream, dan sering diangkat menjadi tema baik oleh film layar lebar sampai kumpulan fanfiction online. Tentang sepasang manusia yang dijodohkan tanpa dasar cinta, hanya sebatas bisnis. Sang lelaki mencintai wanita lain, dan sang wanita dicintai oleh lelaki lain, sampai akhirnya mereka 'mulai' mencintai satu sama lain dan perjodohan itu diakhiri dengan cinta.

Sebenarnya, saya cukup menyukai tokoh-tokoh dalam Orange, terutama Diyan Adnan sang pria tampan dan sukses dan Faye Muid yang lugu dan polos. Saya suka chemistry mereka berdua dari awal hingga pertengahan cerita. Namun, yang membuat saya malas menghabiskan buku ini adalah ending yang sangat mudah ditebak bahkan dari membaca sinopsis di belakang buku. Entah mengapa, Orange mengingatkan saya pada drama Korea berjudul Full House padahal jalan ceritanya cukup berbeda. Sudahlah..

Hal yang cukup menganggu saya adalah banyaknya typo dan sentences with missing words, padahal katanya Orange bukan hanya terbit ulang tetapi telah 'direvisi'.
Contohnya:
Hal. 13: kata bantu 'dia' di paragraf pertama rancu siapa pemiliknya. Baru di akhir paragraf dituliskan siapa yang dimaksud.
Hal 107: "Kau briefing apa saja mereka?"
Hal 115: "Lelaki itu bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan Faye". Kalimat ini terdengar tidak pas untuk saya, karena konteksnya adalah Diyan sedang mampir ke studio Faye, tunangannya, dan Faye buru-buru menghampiri Diyan begitu tahu lelaki itu datang.
Hal 152: "Dia mudah 'tinggi' saat minum wine". Memang dalam bahasa Inggris ada istilah 'high' untuk orang yang mabuk alkohol. Tapi rasanya kurang pas diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, rasanya seperti novel terjemahan yang tidak diolah.
Hal 190: "Dia rasa, halaman itu dahulu dibuat pemiliknya sekadar untuk berbasa basi saja". Saya mengerti maksud kalimatnya, tapi sekali lagi menurut saya agak janggal. Lebih pas jika dituliskan "Dia rasa, halaman itu dahulu dibuat pemiliknya sekadar untuk menjadi hiasan saja" atau semacamnya.
Hal 275: "Puluhan media lokal dan Asia menyambutnya di sana, lalu konferensi pers dimulai"

Selain itu, filosofi tentang buah jeruk, Orange yang dijadikan sebagai judul dari novel ini kurang mengenai saya. Hanya sekali Faye mengatakan filosofi buah jeruk bak kehidupan yang bittersweet, itu pun hanya dalam 1 kalimat. Selebihnya hanya dikatakan bahwa Faye menyukai buah jeruk, dan beberapa kali Faye mengenakan pakaian berwarna jingga.

Terakhir, pekerjaan Faye sebagai fotografer tidak dijelaskan lebih lanjut. Yang saya tangkap hanyalah Faye yang bertugas 'mengedit' foto studio mereka, Faye yang mencuci film di kamar gelap, Faye yang suka memotret Hong Kong, Faye yang membawa kamera ke restoran. Tidak ada penjelasan seperti alasan Faye suka fotografi, kamera jenis apa yang disukainya, apa fotografi baginya, bagaimana perasaannya saat menekan tombol shutter saat memotret Diyan, sehingga rasanya pekerjaan Faye hanya sebagai tempelan saya. Bahkan pekerjaan Diyan sebagai businessman terasa lebih menarik disini. Memang, mainstream seperti cerita kebanyakan mengenai fotografi jika dikatakan bahwa Faye menyukai fotografi karena pictures could capture moments that'll fade away in matter of seconds, tapi menurut saya ada banyak hal yang bisa dijadikan alasan Faye menyukai fotografi.

Saya juga kurang merasakan chemistry antara Diyan dan Rera, seperti tempelan saja. Begitu juga dengan Zaki dan Faye. Saya tidak menyukai adegan cliche dimana Zaki dan Diyan 'memperebutkan' Faye, yang membuat Diyan menyadari bahwa ia mencintai Faye. Ugh really? Juga perihal Zaki yang pergi dari rumah karena tidak ingin menjalankan bisnis keluarga, tidak diekspos lebih jauh padahal hal ini sebenarnya cukup menarik.

Tapi karya Windry Ramadhina setelah Orange terus mengalami kemajuan, baik dalam penulisan, riset, maupun temanya. So she's still one of my faves!
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
January 11, 2012
Diyan Adnan. Seorang pengusaha sukses, anak dari pasangan konglomerat Tyo Adnan dan Indra Adnan. Pria tampan dengan penampilan fisik menarik, kaya, prestasi bisnis segudang, dan tentu saja masih single. You shop in mall, Diyan Adnan shops a mall. While eating lasagna. Sebagai anak pengusaha, Diyan yang memiliki jiwa bisnis merasa wajib untuk tetap menjalankan bisnis keluarganya. Diyan mencintai seorang model, yang pergi meninggalkannya di saat Diyan meminta gadis itu menikahinya. Diyan tidak mampu melupakan gadis itu, bahkan ketika dia ditunangkan oleh orangtuanya dengan seorang gadis anak dari rekan bisnis ayahnya.
Fayrani Muid. Lulusan perguruan tinggi jurusan fotografi. Objek apapun yang diabadikan olehnya dengan kamera pro Nikon kesayangannya selalu terlihat menarik. Kemampuannya dalam menangkap momen, membuatnya menjadi tangan kanan seoang pemilik studio foto ternama se-Asia, Erod Martin. Walaupun kedua orangtuanya sukses dalam dunia bisnis, Faye tidak tertarik sama sekali dengan bisnis. Ketika dia memilih menekuni dunia fotografi, kedua orantuanya tidak mampu menahannya. Untuk meneruskan bisnis keluarga, Faye ditunangkan dengan seorang pemuda sukses bernama Diyan Adnan.
Zaki Adnan. Anak hilang yang tidak mau terlibat dalam dunia bisnis, dan memilih bidang advertising sebagai lahan hidupnya. Lulusan sekolah desain ternama di Belanda ini memulai usaha advertising dengan teman-temannya tanpa mau terlibat urusan bisnis. Ketika dia bertemu dengan seorang gadis yang begitu menarik perhatiannya, Zaki mulai terobsesi. Sayangnya gadis itu adalah tunangan kakaknya, Diyan Adnan.
Rera. Model cantik yang memiliki ambisi untuk memiliki agensi model internasional. Dia meninggalkan Jakarta dan tunangannya ke Paris, demi mimpinya. Sayangnya, Rera tidak menyadari bahwa cinta yang dia tinggalkan di Jakarta masih mengikatnya begitu kuat, sampai ketika dia harus kembali ke Jakarta dalam suatu perjalanan bisnis. Di tengah kegalauannya, Rera tahu bahwa cintanya dengan Diyan adalah hal terakhir yang bisa dipegangnya, walaupun dia tahu cinta itu tidak akan membawa akhir apapun kecuali perpisahan.
Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.

Kalimat diatas masing-masing dirasakan oleh empat tokoh dalam buku ini, Diyan, Fayrani, Zaki dan Rera. Kisah cinta segiempat yang terjadi di antara mereka membuat jalan hidup mereka berasa bittersweet seperti buah jeruk. Membaca buku ini membuat saya juga merasakan bittersweet itu. Dalam kehidupan, antara ambisi pribadi dan manisnya cinta terkadang tidak bisa sejalan. Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan salah satunya, terlebih lagi keduanya.
Terlepas dari manis pahitnya cinta dalam metropop ini, penggunaan banyak kalimat berbahasa inggris dalam percakapan antara tokoh-tokoh dalam buku ini mudah untuk dicerna dan dapat dipahami. Bisa dimaklumi ketika penulis mencoba memasukkan banyak unsur kebarat-baratan di dalam buku ini, termasuk di dalamnya sex before married. Saya menangkap kesan bahwa penulis ingin meniru kisah-kisah roman seperti Harlequin untuk membangun sisi romantisme dalam buku ini.
Selain itu, saya menemukan sedikit kejanggalan yang menggangu dalam membaca buku ini. Misalnya pada halaman 91, ketika dikisahkan Faye yang menghindari wartawan menolak melepaskan topi dan kacamata hitamnya ketika ditegur oleh Zaki. Tapi di halaman berikutnya (92), tertulis bahwa Zaki melihat mata Faye yang bersinar antusias. Padahal tidak tertulis bahwa Faye melepaskan kacamatanya.
Ohya, saya menyukai salah satu tokoh lain dalam buku ini. Reina Adnan. Sekretaris sekaligus sepupu Diyan, yang merupakan tangan kanan Diyan. Dia “bertugas” untuk membereskan segala sesuatu yang berkaitan dengan Diyan, mulai dari bisnis sampai hubungan pribadi Diyan. Konsistensi Rei memanggil Faye dengan nama aslinya, Fayrani, menyiratkan bahwa Rei menganggap Faye hanyalah salah satu dari sekian hal yang harus diurusnya dalam kehidupan Diyan.
After all, empat bintang untuk Orange. Btw, terima kasih buat Sulis yang mau meminjamkan buku ini :)
Profile Image for afin.
267 reviews20 followers
December 19, 2015
rated 3 / 5 stars

Sinopsis:
‘Dikuncinya pintu di belakangnya lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.

Ah, dirinya kesal setengah mati.’

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.

Pertanyaannya: apa... dan siapa?

Review:
Berkisah tentang perjodohan antara Fayrani Muid dengan Diyan Adnan. Dua orang yang terlahir dari dua keluarga yang sangat kaya raya dan namanya dikenal di kalangan media dan orang awam. Fayrani Muid, dipanggil Faye adalah anak satu-satunya keluarga Muid yang memiliki kekayaannya dari bidang properti. Tetapi, Faye sendiri tidak berniat untuk menjadi penerus bisnis keluarganya, dia malah menjadi seorang fotografer yang cukup mahir sampai bisa bekerja di studio Erod Martin yang merupakan studio foto ternama di Jakarta.

Diyan Adnan sendiri adalah anak pertama dari keluarga Adnan yang juga jumlah kekayaan sama atau bahkan lebih dari keluarga Muid. Diyan adalah CEO dari perusahaan keluarga Adnan, konon dia mengakuisisi Senayan City saat makan siang sembari memesan lasagna. Selain itu, Diyan itu "the most wanted bachelor" di Jakarta, tidak ada cewek yang bisa menolak Diyan Adnan. Oh ya, Diyan memiliki adik bernama Zaki Adnan yang sama seperti Faye ingin berjauh-jauh dari bisnis keluarganya, dia bekerja di sebuah advertising agency yang ia bangun bersama dengan beberapa temannya.

Kedua orang tua Diyan dan Faye berteman dengan baik, suatu saat mereka memutuskan untuk menjodohkan Diyan dengan Faye. Mereka berdua setuju-setuju saja dengan perjodohan ini karena Faye tidak ingin mengecewakan mamanya sedangkan Diyan mengerti bahwa perjodohan ini adalah sepenuhnya transaksi bisnis yang nantinya juga pasti akan menguntungkan bisnis keluarga Adnan.

Karena tidak saling kenal pertemuan awal-awal mereka sangat kaku, penuh dengan basa-basi, terkesan hanya untuk formalitas saja supaya tidak terlihat "asing" saat mereka bertunangan nanti. Setelah mereka bertunangan Faye dan Diyan "tidur" bersama dan dari situlah Faye mulai menyimpan perasaan untuk Diyan. Tetapi, Diyan sendiri sebenarnya masih belum melupakan mantannya, Rera—seorang model yang cukup sukses di Paris dan sedang melaksanakan tur di Jakarta. Ditambah lagi kehadiran Zaki yang setelah melihat foto-foto karya Faye dan mengenal Faye lebih jauh juga mulai memiliki perasaan untuk Faye.

“Lucu, terkadang manusia tidak menyadari apa yang sesungguhnya mereka inginkan sebelum benar-benar kehilangan.”

read my full review here http://booksoverall.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
August 17, 2015
"Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain”

“Sometimes, ending won’t really the end if you doesn’t wish so”

Sebenarnya novel ini sudah pernah saya baca tahun lalu, tapi belum saya review. Hari ini pun tidak ada rencana untuk re-read novel Orange ini. Hanya saja setelah membaca novel Mbk Windry yang berjudul Montase tadi pagi, bikin saya pengen baca novel ini lagi. Novel ini menceritakan tentang Faye, pecinta fotografi. Dia dijodohkan dengan Diyan, seorang pengusaha muda ambisius yang juga putra dari rekan bisnis orang tua Faye. Dari rencana pertunangan itu pula mulai muncul konflik yang mewarnai hubungan Faye-Diyan. Kemunculan Zaki, adik Diyan, yang menyukai Faye, kembalinya Rera, mantan kekasih Diyan, dan obsesi besar yang dimiliki Faye dan Diyan menjadi bumbu2 menarik dalam novel ini.

Saya tau novel ini dari tweet nya mbk Ika Natassa, saya lupa isinya apa yang jelas tweet itu bikin saya tertarik untuk berjuang mencari novel ini. And akhirnya I got it!! Walau harganya mahal banget karena sudah sangat langka. Novel ini tampaknya novel debut nya Mbk Windry, and saya suka. Salah satu hal yang saya suka adalah cara Mbk Windry menggambarkan tokoh dan konflik di novel ini yang tidak terlalu mendetail sehingga bisa membuat saya berimajenasi sendiri mengenai sosok maupun perasaan yang tengah dirasakan tokoh2 di novel ini. Dan rasanya saya pengen getok kepalanya si Diyan, seganteng apapun dia, rasa nya saya nggak bisa respect dengan cowok satu ini. Dan please deh Yan, masa dia nggak nyadar kalau Faye cinta mati sama dia, sampai rela menutup mata ketika melihat Diyan jalan sama Rera. Mbk Windry, benar2 jago bikin saya gemes sama si Diyan ini. Tapi sebaliknya, saya malah sangat suka dengan Faye, cewek satu ini cool sekali. Walaupun cinta membuatnya tidak masuk akal, dia tetap bisa membuat dirinya tampak cool. I like it ;). Sedikit hal yang menggangu saya adalah konfrensi pers yang diadakan Diyan mengenai pertunangannya. Sampai seperti itukah terkenal nya Diyan? I don’t think so ;p. Well, tapi tiap penulis pasti memiliki takdir sendiri2 sih mengenai tokohnya, dan mungkin ini takdir nya si Diyan…;)
Well, setelah membaca novel yang ditulis mbk Windry secara berturutan, saya sangat merasakan peningkatan yang dialami mbk Windry di novel2 selanjutnya. Great job ;D

*update 2015*

Aku baca cetakan edisi barunya. Dan dari segi cerita memang nggk banyak berubah. Cuma aku lebih suka edisi baru ini, karena dilengkapi dengan ilustrasi mb Windry yang bagus banget. Ada tambahan cerita juga di akhir buku. Well, aku jadi penasaran, apa cerpen di belakang itu bakal punya benang merah dengan karakter di novel mb Windry yang lain. Siapa Jo ini...?
Profile Image for Fhily.
Author 1 book44 followers
April 19, 2013
“Sudah kubilang kan? Bisnis denganmu lain, Faye.”


Fayrani Muid adalah seorang fotografer dibawah asuhan Erod Matin yang adalah fotografer handal. Dia mencintai fotografi. Makanya, walaupun orang tuanya mempunyai kekayaan yang tak akan habis turun temurun. Dia tetap menekuni dunia fotografi. Dengan kameranya Faye sangat bisa mengekspresikan perasaannya.
Diyan Adnan adalah seorang eligible bachelor yang merupakan most wanted bagi para wanita. Diusianya yang muda dia memenangkan banyak tender untuk perusahaannya. Diyan adalah sosok pekerja keras. Tapi tergantung pada asisten pribadinya yang bernama Rei. Rei sudah seperti alarm buat Diyan. Rei juga adalah sepupu Diyan. Yang masih menyandang nama Adnan dibelakang namanya tentu saja.

Mereka adalah anak dari pengusaha papan atas di Indonesia. Asset keluarga masing-masing sangat besar. Orang tua mereka bersahabat. Tyo Adnan dan Indra Adnan serta Ahmad Muid dan Meilanie Muid. Setelah perbincangan antara Indra dan Meilanie tentang anak-anak mereka masing-masing akhirnya tercetuslah ide untuk menjodohkan Diyan dan Faye. Yang terpikirkan adalah Faye seorang fotografer sehingga tidak mungkin meneruskan perusahaan keluarganya. Dengan menjodohkan Diyan dan Faye. Kedua perusahaan mereka bisa bersatu dan Diyan bisa melanjutkan perusahaan keluarga Muid. Ya hanya semata-mata karena urusan bisnis.

Semuanya pun diatur sesuai skenario. Sejak pertemuan pertama mereka. Sampai konferensi pers yang dilaksanakan untuk mengumumkan pertunangan mereka. Semua sesuai skenario yang dibuat oleh keluarga mereka masing-masing. Awalnya tentu berjalan lancar-lancar saja. Keduanya tak ingin melihat orang tua mereka sedih. Juga Diyan yang mengutamakan kepentingan bisnis di atas segalanya.

Tapi... bagaimana jika masa lalu yang masih dicintai Diyan datang? Rera seorang model cantik blasteran Perancis yang sangat dibenci oleh ibunya Diyan. Dia datang ke Indonesia kembali karena pekerjaannya. Sesungguhnya dia juga masih mencintai Diyan. Tetapi, dia lebih memilih meniti ambisi karier-nya daripada Diyan. Dia menghubungi Diyan kembali tepat saat hari pertunangannya.

Adapula Zaki yang menjadi rekan bisnis Faye. Zaki Adnan adalah adik dari Diyan Adnan. Yang tidak mau menuruti kemauan orang tuanya. Sehingga dia lebih memilih menggeluti bisnisnya bersama teman-temannya dari nol. Bagaimana jika dia malah tertarik pada Faye? Dia bahkan cemburu pada kakaknya itu. Bahkan tanpa cinta pun Ia masih tetap memiliki Faye!

Apakah perjodohan ini akan terus mengatas namakan kepentingan bisnis?

***

Selengkapnya: http://fhilybooksmontage.blogspot.com...
Profile Image for Viktoria.
135 reviews1 follower
March 8, 2012

http://viktoria-sharefiles.blogspot.c...


Wow. Quick and light reading. Mengalir begitu saja, saya nyaman dengan penulisannya.

Saya suka novel ini. Memang konflik yang dihadirkan sudah umum, tapi si pengarang mampu mengemas konflik umum tersebut dengan bumbu yang ciamik dan deskripsi yang pas :)

Kesan Diyan sebagai salah satu pebisnis muda yang terkenal menonjol tapi tidak berlebihan. Di sini kita dibawa kepada bagaimana kehidupan seorang pebisnis sukses—yang bahkan untuk menghubungi tunangannya pun harus melalui sang asisten—tanpa menyebutkan merk bergengsi seperti di novel kebanyakan.

Oh ya, saya suka hubungan Diyan dan Rera. Walaupun suka bikin gemas dan sebal, tapi deskripsi yang diberikan malah membuat saya menyukai pasangan ini (ha ha). Apalagi bagian mereka yang menyinggung masa lalu. Uh, saya ikut terenyuh. Apakah ambisi mereka segitu kuatnya sampai memusnahkan cinta diantara mereka? Wow.

Karakter tambahan pun tak luput dari perhatian. Ada orangtua Diyan + sekretaris mereka, orangtua Faye, asisten Diyan, manajer Rera, bos Faye, Zaki dan teman-temannya, asisten Faye. Mereka semua begitu nyata, tak kalah nyatanya dengan karakter utama, tapi tetap stay di porsi mereka sebagaimana harusnya sehingga tak menganggu karakter utama. Bukti bahwa para tokoh benar-benar hidup, dan tak hanya berputar pada cinta segiempat yang biasanya monoton.

Alur mengalir begitu saja, saya nyaman dengan penulisannya. Paling yang agak monoton itu bagaimana beberapa tokoh mengekspresikan sesuatu yang tidak baik dengan “senyum masam”. Sering sekali kata itu muncul ketika suatu kejadian tak mengenakkan terjadi. Entah si Faye yang tersenyum masam, atau si Diyan, Rera, Zaki, orangtuanya, dan lain-lain.

Menurut saya, ikatan antara Faye dan Diyan kurang sedikit. Maksudnya, mereka dekat begitu saja tanpa deskripsi yang mendetail. Entahlah, apa karena pembawaan Diyan yang memang gampang mengambil hati orang lain dan juga karakter Faye yang ceria? Di bagian mendekati akhir juga, chemistry keduanya ada, tapi agak tertutup kisah Diyan-Rera. Ah, mungkin tidak juga (labil -_-)... Tapi anyway, saya suka bagian ketika kantornya Faye kebanjiran. Quite sweet ;)

Kemudian... Typonya nggak begitu banyak. Ada lah beberapa tapi nggak mengganggu banget. Saya menemukan beberapa kesalahan penulisan kata dalam Bahasa Inggris, misalnya:
+ “though” = “thought” (hlm.55)
+ “you’re” = “your” (hlm.189)


Dan yang terakhir, quotes favorit saya:
“Sometimes, ending won’t really the end if you doesn’t wish so.” (hlm.24)
Profile Image for Yola NY.
253 reviews
December 17, 2011
4 tokoh dalam 1 cerita cinta dengan dilema mereka masing-masing...

Faye. cewek penyuka fotografi, yg ternyata putri tunggal keluarga cukup terpandang di ibukota. gayanya yg kasual abis dan cenderung nyantai, tiba-tiba aja dijodohkan oleh orgtua-nya dengan seorang businessman yg sama skali belum dikenalnya.
tokoh Faye di novel ini rada-rada masih ngambang. oke, dia tipe yg "bebas" milih apa aja untuk masa depannya, termasuk profesi yg dipilihnya, tapi kok ya masih mau aja dijodohkan kayak jaman siti nurbaya gitu. kecuali klo faye memang tipe cewe yg nrimo, oke. belum lagi, yang entah kenapa cepet banget dia "tertarik" dengan calon tunangannya di hari p1 mereka bertemu.

Diyan. pengusaha yg jadwalnya padat banget, sampai-sampai "dating" dengan Faye kudu diingetin + dijadwalin dulu ama asistennya. dingin, cuek, dan kelam. masih terpaku dengan masa lalunya dgn seorang cewek, tapi anehnya gak menolak perjodohan dadakan mereka. masih cinta banget sama cewek di masa lalunya, bahkan menjalin "affair" ketika pertunangannya dengan faye udah diresmiin. sumpah deh! aku nggak suka tipe cowok macam begini. kalau emang nggak suka, bilang aja dari awal. kan kalo gitu, nyakitin faye. poor her!

Zaki. adik Diyan, yang lebih memilih "hengkang" dari rumah dan pekerjaan turun temurun keluarganya, demi mengejar mimpi di dunia advertising. dalam suatu proyeknya, bekerjasama dengan Faye. dan seperti yg udah kutebak, bakalan punya "perasaan" ke faye. tipe kayak gini slalu menjadi sahabat sang tokoh utama cewek, walaupun rada kasihan juga kenapa dia malah jatuh cintanya pada tunangan kakaknya.

Rera. ugh, gak suka sama sekali dengan tokoh ini, jadi gak banyak yg bisa aku komenin. seorang model, mantan Diyan, ninggalin cowok itu demi karirnya di prancis, dan ketika ada job d indonesia, dia malah berani-beraninya ngontak tuh cowok padahan diyan udah tunangan! egois banget deh ya..


yang bikin aku senang dengan novel ini, alur ceritanya yg bikin ngaduk-ngaduk perasaan. awalnya aku agak curiga ini si faye endingnya sama diyan apa zaki. soalnya tipe macam zaki yang easy going gitu lebih jadi favorit dbndig diyan yg gak oke banget perlakuin faye (coba! masa' buat nelpon faye aja kudu asistennya yg ngelakuin? -__-)

konfliknya masih masalah kesalahpahaman. berbuah dari ego, harga diri, dan ekspektasi yang menyimpang. dan "dewasa" menurut aku. itu looh, kok bisa-bisanya dibolehin orangtua mereka, padahal kan mereka baru tunangan -_____-
Profile Image for Fairynee.
82 reviews
August 24, 2012
Hari yang terasa lebih berat dari hari biasa meski liburan baru saja selesai, dan aku mencoba pesan teman sekantorku, untuk tidak membiarkan kepalaku disuntuki hal-hal lain. Jadi aku mencoba sarannya, baca saja buku yang tidak memaksamu berpikir keras, dan memberi kesempatan buatmu untuk berkhayal.

Well, tidak ada yang salah dengan buku ini. Ini novel pop, dan tentu saja seperti novel-novel pop lainnya, menawarkan cerita cinta segitiga dengan akhir yang sangat manis. Karakter-karakter yang ada mudah ditebak, prince charming yang paling diinginkan se Jakarta Raya, kisah cinta sang pangeran yang belum selesai dengan beautiful princess yang ambisius, dan perempuan biasa yang terlihat menarik meski tidak cantik.

Ada banyak kekurangan di sana-sini. Thypo, posisi ilustras, dan lain sebagainya. Mungkin masalah di Editornya. Tapi tidak begitu berpengaruh buat saya. Mungkin aku memang perlu sedikit membiasakan diri lagi (tapi tidak di moment seperti hari ini #curcol). Sedikit aneh dengan detail-detail mengenai kemewahan di sana-sini. Tempat-tempat bagus dan kafe-kafe kelas atas. Dan tentu saja tokoh-tokoh yang terlalu sempurna.

Ada moment sepertinya akan bagus kalau didramakan. Ketika Faye setengah mati berusaha mencari klise foto Diyan di Gudang bawah tanah, dan ketika Diyan melihat studio Faye yang penuh gambarnya. Aku kehilangan moment yang semestinya bisa membuatku sedikit merasa sesak (Terkadang mesti diakui, ada sisi dramatisasi dalam diriku, apalagi untuk sehari ini). Tapi mungkin beberapa pembaca lainnya merasa kekecewaan yang sama denganku. Selain detail-detail mengenai kekayaan, aku tidak menemukan hal-hal penting yangmembuatku mengenal setiap tokohnya, terutama si tokoh utama, Faye, yang mestinya mendapat simpati karena dia tidak cantik dan berusaha keras untuk pertunangannya. Aku tidak begitu mengenal Faye dan aku tidak bersimpati padanya sehingga di ending, aku tidak bisa berkata, I'm happy for you. Semua datar. Mungkin penulis ingin menghilangkan unsur sinetron dalam novel ini, tapi malah terkesan tanggung.

Well, sekali lagi tidak ada yang salah dengan novel ini. Ini novel metropop. Sebenarnya mau kasih bintang dua, tapi kovernya tidak eye catching. jadi mengurangi poin setengah. Dan karena tidak ada bintang satu setengah, aku bulatin ke bawah dengan kekurangan di sana-sini.

Psst, kalau aku jadi Faye, mungkin aku akan memilih Zaki, tapi dengan kemewahan yang ditawarkan Diyan. Hahaha....
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
October 10, 2015
Sayang sekali di luar ekspektasi.

Saya kurang suka karakternya. Faye yang semula saya pikir tough ternyata nggak begitu juga. Kecewa aja apalagi pas di adegan Faye luluh begitu aja dan terjadilah seperti yang dituliskan di blurb belakang. Dan maaf sekali kalau di mata saya Faye-nya jadi terkesan murahan. Diyan? Barangkali mungkin semacam casanova tapi di saya gagal. Mau macam playboy juga kayaknya kurang pas. Dan yang paling ngga suka itu Rei, oke dia sekretaris pribadi atau bahkan bisa dibilang tangan kanan tapi, kesannya dia seperti nanny.

Lalu tentang jalan cerita. Mengusung tentang hubungan percintaan kalangan papan atas yang... okelah katakan itu di luar dunia saya, jauuh banget dan nggak terjangkau. Dan yang paling real dalam bayangan saya ya barangkali ini semacam kisah percintaan Ardie Bakrie dan Nia Ramadhani, jadi gambaran ketenaran si Diyan ya nggak jauh dari itu (nggak kenal dengan sosialita yang lain). Tapi saya gagal menangkap sosok pria muda CEO yang mengakuisisi mall terkemuka di Jakarta. Dan lebih disayangkan, penulis barangkali mengupayakan membuat itu real dengan memasukkan nama-nama orang papan atas di Indonesia tapi kesannya kok seperti, hmmm, apa ya? Sempalan aja? Sebenarnya kalau karakternya dibangun dengan kuat, tanpa menyertakan nama-nama itu juga sudah terbangun dengan sendirinya saat membaca. Sebagai contoh misalnya karakter Ferre di Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Ah itu barangkali hanya perbedaan selera saya saja.

Plotnya, juga berputar di itu-itu saja. Romantis? Kurang. Atau saya aja yang selera romantisnya aneh sendiri =))

Saya sering baca tulisan di rp yang pakai bahasa teramat baku baik di deskripsi atau dialog, tapi nggak ada kesan kaku di dalamnya. Saya baca di sini terkadang dialognya jadi kaku. Dan agak kurang suka dengan novel berdialog-dialog berbahasa Inggris.
Profile Image for V!C .
39 reviews68 followers
August 20, 2016
The characters feel weak for me. The main guy, Diyan, is torn between 2 females and he can't make up his mind. It's portrayed that he has feeling for both of them and I think that's just not fair for either one of them. His final decision feels weak for me and makes me think that he only chooses the female main character, Faye, just because his ex, Rera, leaves him in order to pursue her dream.

The relationship between the Diyan & Faye starts from a family engagement. It's implied in the beginning that both of them don't have any romantic feeling toward one another. However, as time goes, Faye realizes how (physically) attractive Diyan is, so she starts to fall for him. Cause, honestly, his personality SUCKS!

Diyan, on the other hand, treats Faye like a property. Their interaction basically is limited to their dates, which are arranged by his secretary btw, not by his own initiative. He barely contacts her, even it's his secretary who has the initiative to buy AND send gifts to Faye, when Diyan's overseas for a business trip.
Diyan's feeling toward his ex, Rera, is portrayed much much stronger throughout 85% part of the book. I especially hate how Diyan only becomes intimate & makes love to Faye everytime he has been rejected by Rera. And Faye always welcome him, even though she's aware that he was with Rera earlier *shakes my head*. I don't feel like this couple has enough chemistry to be together. The more i read about them, I feel less and less connected with the main characters. In the end, I don't care about them anymore and I just skim towards the ending.

This is Windry's first novel though, probably that's why the characters' development is still messy and the ending, where Diyan is reunited with Faye, feels too rushed to me.
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
April 8, 2015
Kalo mau mengkritik sih sebenarnya banyaaak.. *ngibrit* Tapi buat apa juga kalau saya udah baca karya2 Windry selanjutnya yang tentu lebih baik kualitasnya dari novel debutnya ini. Gak usah dikritik juga udah tambah bagus kok. Hehe. Semoga cetak ulangnya dengan revisi juga ya. Dan plis, nggak usah ragu untuk ditambah halamannya, karena.. yah, mau gak mau jadi terucap juga deh satu kritiknya.. timeline novel ini tuh ngebingungin. Sepertinya terlalu cepat untuk perkembangan emosi sebegitunya.

Kesan setelah baca. Nah, mungkin karena novel ini memiliki kemiripan dengan satu novel yang sangat saya suka dan punya kesan mendalam, Seluas Langit Biru-nya Sitta Karina, mau gak mau sepanjang baca Orange saya selalu mikir kalo Faye itu Bianca, Diyan itu Sultan.. Dan pastinya Zaki itu Sora. hehehe... Cuma endingnya aja beda yak.

Trus jadi mikirin, kapan edisi revisi Seluas Langit Biru keluar. *PLAK!*

Tapi saya suka sih gaya bercerita Windry di novel ini, malah lebih dekat ke selera saya dibanding novel-novel Windry lainnya yang bahasanya formal. Di sini gaya bercerita Windry dan gaya bicara tokoh-tokohnya lebih luwes dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari walau bertaburan bahasa Inggris. Lebih suka lho ya... bukannya di yang ini saya suka, di buku yang lain saya nggak suka.

Udahlah, jadi pengen makan jeruk.



Profile Image for Dian Putu.
232 reviews9 followers
July 12, 2014
Sebuah ikatan dipaksakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Sayangnya, ikatan yang terjalin, ternyata masih dicampuri masa lalu yang belum tertuntaskan di salah satu pihak. Keadaan ini membuat seorang cowok harus memilih di antara dua cewek yang datang dari masa sekarang, atau masa lalunya.
Diyan Adnan nama cowok itu. Dia seorang pembisnis sukses dan masuk dalam jajaran eligible bachelor paling diidamkan banyak wanita.
Sebuah perjodohan mempertemukannya dengan Fayrani Muid, cewek mungil yang menggemari fotografi dan buah jeruk. Putri semata wayang keluarga Muid yang aset perusahaannya setara dengan aset perusahaan Adnan.
Faye, biasa cewek ini disapa, sama sekali tak berminat dengan dunia bisnis. Maka, dari itu, Mama Faye menyetujui usulan Mama Diyan untuk mewujudkan perjodohan ini. Kenapa? Agar Diyan bisa meneruskan mengurus perusahan keluarga Muid. Alasan yang sangat sederhana menurutku, namun efeknya ternyata sangat besar untuk kedua belah pihak.
“Justru bagus, bukan? Diyan bisa meneruskan bisnis kita, Mei.” –Hlm. 31

Baca selengkapnya >> http://dianputu26.blogspot.com/2014/0...
Profile Image for Titi Sanaria.
202 reviews37 followers
August 19, 2015
Orange!!! akhinya kesampaian juga baca yang ini setelah nunggu... hehehe.. tidak terlalu lama sih.
Well, what can I say? it's very typical Windry. Kisah cinta manis berbau jeruk manis. Membaca kisah ini, bikin emosi naik turun. I love and hate Faye and Diyan at the same time. Suka karakter Faye yang easy going tapi sebal dengan plan-plannya dia. Suka Diyan yang tampan, mapan (siapa yg tidak, coba?) tapi jengkel karena dia ternyata pria yg biaa melakukan apa saja demi ambisi bisnisnya dan tidak bisa tegas saat berada di antara dua pilihan.
Aku mungkin bisa menyukai Orange ini sama seperti jatuh cinta pada Montase jika saja Windry membuat Faye ini seperti gadis yang kuinginkan di awal cerita. You know, gadis yang teguh menjaga diri dan bukannya free to ML even to the man she love aka fiancee. ML before marriage mungkin bukan hal aneh di dunia nyata. Tapi untuk heroine kita di dalam buku, kita selalu menginginkan yang ideal.
But, I still love this book yang karakternya memang manusiawi, yang kerap berubah pikiran dan perasaannya. Tapi masih penasaran dengan Gilang dan Ning sih. Windry, bring them on, puh-lease.... :)
Profile Image for Gita L. T..
52 reviews1 follower
September 8, 2015
Ceritanya simple, dijodohin tapi ujungnya jatuh cinta juga.

But i always love Windry's stories dikemasnya jadi menarik.

Saya hampir kasih 5 bintang, 1 bintangnya saya simpan karena saya ga nemu 'orange'-nya. Kurang banget digambarin kalo Faye tuh pencinta jeruk. I mean, masa cuma karena suka makan dan beli jeruk. Tok. Jadilah orange sebagai judul novel. I cannot find what oh so special between Faye and Orange.

Malah saya lihatnya yang ngena itu ya Faye, kamera, dan kamar gelap. Udah.

Dan yeah, ga nemu kalo Orange tuh yah kayak hidup: bittersweet.

Waktu beli dan baca kata kata itu saya mikir: sejak kapan jeruk bittersweet? Yang ada manis-manis-asem-sepet.

Terus saya mikir: mungkin baca dulu biar nemu kalau jeruk itu kayak hidup, bittersweet.

Ternyata sampai akhir ga nemu juga esensinya dibalik jeruk dan hidup dan bittersweet.

Dan anyway....... Proses dari batalnya pertunangan sampai mereka bertemu lagi di Hongkong juga seperti dipercepat kayak dvd di fast forward.

But overall, it is still good tho :)
Displaying 1 - 30 of 228 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.