"Jika hati kau diberi-Nya nikmat pula dengan cinta sebagaimana hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya, kita jaga dan kita pupuk, kita pelihara supaya jangan dicabut Tuhan kembali. Cinta adalah iradat Tuhan, dikirimnya ke dunia supaya tumbuh. Kalau dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyiksa orang lain. Kalau dia datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang rendah, dia akan membawa kerusakan. Tetapi jika dia hinggap kepada hati yang suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan dan taat kepada Ilahi."
Cinta adalah sesuatu hal yang suci. Ia adalah fitrah yang dianugerahkan Tuhan untuk segenap umat manusia. Ia adalah rasa yang akan membuat hati kita berbunga-bunga dalam sekejap atau serasa dilanda badai dalam sekejap pula. Cinta seharusnya membawa kenikmatan, tetapi di saat yang sama dapat juga menyakitkan. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Hamka dalam bukunya "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck".
Ini adalah kisah dua insan, Zainuddin dan Hayati, yang harus menempuh jalan panjang demi mencapai cinta mereka. Cinta yang suci, cinta yang tulus, cinta yang tidak berdasarkan nafsu ataupun harta, tetapi cinta yang murni yang didasarkan kepada sang Maha Pencipta dan pemilik segala cinta.
Sekarang, izinkan saya bercerita tentang kisah mereka...
Cerita dimulai dari kisah ayah Zainuddin, Pandekar Sutan, yang dibuang ke Mengkasar setelah tidak sengaja membunuh pamannya, ketika ia berusaha mempertahankan haknya atas harta warisan ibunya. Di Mengkasar, sang ayah menikah dengan wanita Bugis terhormat bernama Habibah. Meskipun Habibah berasal dari keluarga bangsawan, tetapi pernikahan mereka tidak disukai oleh banyak orang, sehingga mereka memutuskan untuk memutus tali persaudaraan dengan keluarga Habibah.
Kemudian, lahirlah Zainuddin. Hati Pandekar Sutan yang dulu sempat terluka, kini mulai mengecap bahagia. Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena Habibah meninggal dunia ketika sang putra masih sangat membutuhkan dirinya. Kehilangan istri tercinta membuat Pandekar Sutan tak dapat hidup bahagia. Ia pun menyusul sang istri ketika Zainuddin beranjak besar. Tinggallah Zainuddin, yang kini menjadi yatim piatu, dirawat oleh ibu angkatnya, Mak Base.
Meskipun menjadi orang buangan, kerinduan akan kampung halaman tetap mengisi hati ayah Zainuddin. Ia kerap bercerita kepada putra semata wayangnya tentang kampung halamannya yang indah, tanahnya yang subur, dan gunungnya yang menjulang tinggi. Kerinduan sang ayah diwarisi kepada Zainuddin, yang membuatnya turut merasakan kerinduan yang sama.
Itulah sebabnya, ketika beranjak dewasa, Zainuddin memutuskan untuk pergi ke tanah Minang, ke kampung halaman sang ayah, untuk menuntut ilmu dan mengenal secara langsung tanah nenek moyangnya. Zainuddin pergi, diiringi tangis dan rasa berat hati Mak Base, yang tidak tahan harus berpisah dengan anak kesayangannya, karena merasa bahwa mereka tak akan bisa bertemu lagi karena ia sudah cukup tua. Namun, hati Zainuddin telah mantap, dan tak ada yang bisa dilakukan Mak Base lagi selain merestui putra angkatnya itu.
Kehidupan baru Zainuddin di dusun Batipuh, kampung halaman ayahnya, sama sekali tidak mudah. Meskipun memiliki darah Minang, tetapi ia sama sekali tidak dianggap sebagai orang Minang. Masa lalu ayahnya sebagai orang terbuang, sekaligus kenyataan bahwa ayahnya menikah dengan orang Bugis, membuat orang-orang menganggap ia adalah orang Bugis. Padahal, ketik berada di Bugis ia tidak dianggap sebagai orang Bugis, tetapi sebagai orang Minang. Cara manusia mengkotak-kotakkan seseorang berdasarkan tempat lahirnya memang sering kali tidak manusiawi dan itulah yang dialami oleh Zainuddin.
Untungnya ia bertemu Hayati, di sebuah siang ketika hujan lebat mengguyur bumi Batipuh. Hayati adalah seorang gadis cantik, kembang desa yang memiliki perangai lemah lembut. Zainuddin yang ketika itu membawa payung kemudian meminjamkan payungnya kepada gadis itu. Hubungan mereka pun dimulai, berawal dari surat yang dikirimkan Zainuddin kepada Hayati. Tak butuh lama bagi keduanya untuk jatuh cinta dan perasaan mereka makin menguat setiap harinya. Sayangnya, keluarga Hayati mendengar hal itu, sehingga paman Hayati meminta Zainuddin untuk meninggalkan Batipuh. Atas nama adat yang terhormat, sang paman mengatakan bahwa itu demi kebaikan mereka berdua dan karena mereka berdua sebenarnya tidak berjodoh. Aih, memangnya siapa dia? Seenaknya memutuskan bahwa orang tidak berjodoh?
Zainuddin pun pindah ke Padang Panjang dengan hati hancur. Untungnya Hayati sempat menemuinya dan mengungkapkan perasaannya, yaitu perasaan cinta yang tulus dan murni, yang membuat Zainuddin mampu menjalani harinya di perantauan. Korespondensi mereka masih terus berlanjut dan perasaan mereka tampaknya terus menguat setiap harinya. Hingga pada suatu hari, akhirnya Hayati mendapatkan izin untuk pergi ke Padang Panjang, menginap di rumah sahabatnya, Khadijah.
Khadijah bisa jadi adalah tokoh yang paling saya benci di novel ini. Bukan hanya menertawakan cinta suci Hayati kepada Zainuddin, ia juga memengaruhi Hayati agar berpikir dan bertindak seperti dirinya, seorang gadis kota dengan gaya hidup hedon dan tidak peduli lagi dengan tata krama. Bujukan Khadijah agar Hayati, yang tidak paham mode, mengganti pakaiannnya berhasil, lalu bertemulah Hayati dan Zainuddin di acara pacuan kuda dan pasar malam, sebuah festival yang ramai dan meriah di daerah itu. Namun, Zainuddin tidak merasa senang bisa bertemu Hayati. Ia justru terkejut dan kecewa karena pakaian gadis itu kini terlalu banyak menampilkan bentuk tubuh, ketat, dan sama sekali tidak sesuai dengan adat Minang maupun ajaran agama mereka. Ditambah lagi, Khadijah dan teman-temannya menertawakan Zainuddin, yang membuat Hayati semakin meragukan rasa cintanya kepada pemuda itu.
Keraguan Hayati semakin besar ketika Khadijah semakin menghasutnya, mengatakan kalau Zainuddin bukan jodohnya (lagi-lagi ada yang bersikap merasa lebih tahu dari Tuhan), bahwa Zainuddin tidak pantas untuk Hayati (seolah ia tahu perasaan Hayati dan tahu siapa lelaki yang paling pantas untuknya), dan bahwa Zainuddin lelaki yang membosankan yang hanya tahu ilmu agama (Padahal, apalah lagi bekal yang paling penting untuk menikah selain itu?). Bagian ini benar-benar menguras emosi saya, karena Hamka begitu pandai menampilkan sosok Khadijah sebagai seorang perempuan yang menyebalkan, materialistis, hedonis, tidak agamis, dan juga narsis. Apalagi si Khadijah ini punya misi untuk mencomblangkan kakaknya, Aziz, dengan Hayati.
Aziz berbeda 180 derajat dengan Zainuddin. Sifatnya tidak berbeda jauh dengan adiknya, ditambah lagi Aziz senang main perempuan, dan bukan tipe lelaki yang setia. Tidak terhitung berapa banyak wanita yang didekatinya, tapi tanpa ada niat serius untuk meminang mereka. Awalnya ia tidak berniat untuk menikah, tetapi melihat Hayati yang cantik jelita, dia tergoda juga.
Singkatnya, Aziz meminta izin kepada keluarga Hayati untuk menikahinya. Dia membawa berbagai barang untuk menunjukkan posisinya sebagai orang berada. Di lain pihak, Zainuddin sedang merasa bersedih hati karena baru saja mendapat surat bahwa ibu angkatnya di Mengkasar meninggal dunia. Sang ibu angkat meninggalkan warisan yang jumlahnya tidak sedikit. Warisan itu sebenarnya dulu adalah uang warisan dari ayah Zainuddin, yang dengan cerdas digunakan Mak Base untuk berbisnis, sehingga jumlahnya menjadi berlipat-lipat.
Zainuddin yang merasa bahwa perasaan cintanya kepada Hayati semakin besar, akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri mengirimkan surat pinangan kepada keluarga Hayati. Namun, Zainuddin tidak menyebutkan kalau ia sudah menjadi orang kaya sekarang.
Keluarga Hayati tentu saja memilih Aziz, yang asal usulnya jelas, hartanya juga jelas, meskipun iman dan perilakunya tidak jelas. Yang bikin sakit hati, Hayati sendirilah yang memutuskan untuk memilih Aziz, meskipun dia diberi tahu kalau Zainuddin juga meminangnya. Jadilah Hayati menikah dengan Aziz, meninggalkan Zainuddin yang menderita patah hati begitu dalam, hingga sakit berbulan-bulan dan hampir mati karenanya.
"Minangkabau negeri beradat, seakan-akan hanya di sana saja adat yang ada di dunia ini, di negeri lain tidak. Padahal kalau memang negeri Minangkabau beradat, belum patut orang seperti dia hendak ditolak dengan jalan yang begitu saja. Permintaan bisa terkabul dan bisa tidak, tetapi tidak ada hak bagi yang menolak buat menyindir pula kepada orang yang ditolaknya. Apalagi pintu yang dilaluinya bukan pintu 'belakang' tetapi pintu muka, tiba tampak muka, berjalan tampak punggung." (Hal. 115)
Untungnya ada Bang Muluk, anak dari induk semang tempat Zainuddin tinggal, yang begitu baik hati dan mampu membawa Zainuddin kembali kepada alam kesadaran. Kesadaran bahwa ia tidak pantas merasa menderita sendirian seperti ini, karena Hayati tentunya sedang berbahagia dengan suaminya yang kaya dan sama sekali tidak mengingatnya. Kesadaran bahwa ia tidak pantas untuk merasa dunia sudah kiamat hanya karena seorang wanita. Apalagi jika cintanya memang tulus, maka ini adalah takdir yang telah dipilihkan Tuhan untuknya. Serasa ditampar oleh kata-kata Bang Muluk itu, Zainuddin pun memutuskan untuk pindah ke Pulau Jawa. Terlalu sulit baginya berada di tempat itu, sementara bayangan Hayati ada di mana-mana. Bersama Bang Muluk, sahabat sejatinya yang juga menjadi kakak baginya, mereka pun pindah ke Pulau Jawa dan mengadu nasib disana.
"Bukan begitu jalan yang ditempuh budiman. Jika hatinya dikecewakan, dia selalu mencari usaha menunjukkan di hadapan perempuan itu, bahwa dia tidak mati lantaran dibunuhnya. Dia masih hidup, dan masih sanggup tegak. Dia akan tunjukkan di hadapannya dan di hadapan suaminya bahwa jika maksudnya terhalang di sini, pada pasal lain dia tidak terhalang." (Hal. 151)
Di sinilah keadaan sedikit demi sedikit mulai berbalik. Sebenarnya saya mau cerita lebih banyak lagi, kalau bisa sampai akhir ceritanya malahan. Tapi kalau begitu, nanti jadinya tidak seru lagi. Jadi, saya kasih bocoran sedikit aja ya....
Zainuddin jadi sukses di Jakarta. Ia sukses sebagai penulis yang dikagumi dan dipuja banyak orang. Ia kemudian pindah ke Surabaya karena ingin membangun bisnisnya sendiri di bidang penerbitan. Sementara itu, Aziz dipindahkan ke Pulau Jawa, tepatnya di Surabaya. Dan... untuk sekali lagi takdir kembali mempertemukan mereka, tapi kini dalam bentuk yang berbeda... Kali ini, Hayati mulai sadar seperti apa suaminya.
Apa yang akan dilakukan Zainuddin? Maukah ia menolong Aziz dan Hayati yang dulu telah menyakitinya? Akankah Hayati kembali kepadanya dan mungkinkah mereka diberi kesempatan untuk menyambungkan kembali tali cinta yang dulu terputus? Lalu, apa hubungan ini semua dengan Kapal Van Der Wijck yang menjadi judul cerita?
Karya klasik Indonesia karangan Hamka ini cukup membuat saya sesak napas. Kisahnya yang bertemakan kemalangan hidup dan cinta yang tak sampai berbalut kepasrahan kepada takdir Sang Pencipta membuat saya menahan napas berkali-kali. Emosi saya naik turun dibuatnya, terutama di bagian pertengahan ketika Zainuddin diusir dari Batipuh, ketika Khadijah mengata-ngatai Zainuddin di depan Hayati, ketika Zainuddin menerima surat penolakan dari mamak Hayati karena mereka bangsa beradat dan tidak mau menerima pinangan Zainuddin, juga di akhir ketika keadaan Hayati dan Aziz semakin buruk, dan Hayati harus menuai apa yang dulu pernah dilakukannya kepada Zainuddin.
Akhir cerita ini mengenaskan dan mungkin banyak yang merasa tidak puas dan sebal dengan perilaku Zainuddin di akhir. Namun, entah kenapa saya bisa menerimanya, karena apa yang dilakukan Zainuddin itu memang sudah seharusnya begitu. Saya memang menyesalkan tindakannya yang terlalu emosional yang membawa mereka kepada tragedi. Namun, saya merasa bahwa Zainuddin memang harus melakukannya, karena itu adalah yang terbaik bagi mereka berdua.
Ketika cinta suci kedua orang manusia dipisahkan oleh hal-hal yang bersifat fana, maka kebahagiaan tak akan bisa diraih. Zainuddin dan Hayati adalah contohnya. Ketika atas nama adat orang lain dihinakan, atas nama kepandaian orang lain dianggap bodoh, atas nama harta orang lain diinjak-injak, dan memisahkan dua insan yang ingin meraih ridho-Nya dengan cara yang suci yaitu pernikahan, maka bukanlah kebahagiaan yang akan didapat, tetapi penderitaan dan kesengsaraan. Sepertinya itu adalah sunatullah yang ingin disampaikan oleh Hamka melalui buku ini, bahwa kita harus bersikap adil kepada setiap manusia, tanpa melihat latar belakang yang sesungguhnya tidak berpengaruh pada kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang.
*review ini disadur dari review yang saya tulis di blog, karena rupanya saya lupa untuk mengcopasnya ke akun Goodreads saya ini.