Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Jungle School

Rate this book
"Butet shines her light in the depths of the jungles.... This is a book of inspiration!" Anies Baswedan, Rector of Paramadina University.

****
Firt Edition published in Indonesia as SOKOLA RIMBA by INSISTPress, 2007.

221 pages, Paperback

First published June 1, 2007

125 people are currently reading
1900 people want to read

About the author

Butet Manurung

3 books35 followers
Butet Manurung was born in Jakarta, Indonesia in 1972. She developed a love of the outdoors while earning her degrees in anthropology and Indonesian literature from Padjajaran University, Bandung, Indonesia. In 1999, Butet joined the conservation NGO, WARSI, to lead their educational program for the Orang Rimba, (People of the Forest) indigenous to the rainforests of Jambi. Her work in the jungle evolved into co-founding SOKOLA, a non-profit organization providing educational opportunities for marginalized people in remote areas of Indonesia.

As an educator and activist, Butet has received international recognition – UNESCO’s “Man and Biosphere Award” in 2001, TIME Magazine’s “Hero of Asia” in 2004, “Ashoka Fellow” in 2006, “Asia Young Leader” in 2007, “Young Global Leader” in 2009 and most recently, Ernst and Young Indonesian Social
Entrepreneur of the Year 2012.

In 2011 she completed a Masters Degree in Applied Anthropology and Participatory Development from the Australian National University and in 2012 a course in Leadership and Public Policy at the Harvard Kennedy School, Boston.

The Jungle School is Butet’s first book. Originally published in Indonesian as Sokola Rimba, the book was launched in Washington DC on April 10, 2012,

The book is currently being adapted into a feature film by award winning Indonesian film makers Mira Lesmana (Producer) and Riri Riza (Director). Now in pre-production, shooting in the Jungle is planned for June 2013 and its Indonesian cinema release is scheduled for December 2013. It is hoped that Film festivals and International distribution will follow.

As Director of SOKOLA, Butet lives mainly in Jakarta Indonesia. Married in 2010, she spends part of each year in Canberra Australia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
528 (50%)
4 stars
298 (28%)
3 stars
150 (14%)
2 stars
36 (3%)
1 star
24 (2%)
Displaying 1 - 30 of 135 reviews
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
May 21, 2010
---belajar itu penting

Membaca judulnya saja, aku langsung terinspirasi. Meskipun bernuansa lokal (bahasa, dialek) namun karena kesamaan bunyi dengan kata sekolah dalam Bahasa Indonesia, kupikir semua yang melihat buku ini pasti sudah dapat menebak garis besar isi buku ini dengan hanya membaca judulnya, Sokola Rimba. Daya pikat kata sekolah itu kemudian berkolaborasi menakjubkan dengan kata rimba, yang sekali lagi, siapapun bakal dengan mudah menampilkan imajinasi akan keasrian pepohonan hijau yang membentang maha luas dan tak terjamah. Nuansa itu menancap dalam di pikiranku hanya dari membaca judulnya saja. Mengagumkan.

Inginnya aku memberi 5 bintang dengan alasan bahwa buku ini:

1. Berani. Bukan bermaksud seksis, tapi kenyataan bahwa Butet adalah seorang perempuan dan kerelaannya (pada akhirnya) untuk ‘blusukan’ ke pedalaman sungguh dahsyat, terkhusus bagiku. Bila ada pengandaian, Butet adalah aku, entahlah, apakah aku sanggup atau tidak survive begitu. Keberanian lain adalah suara lantang Butet untuk mengkritisi apa saja yang seharusnya dan tidak seharusnya ada dalam upaya pemerataan pendidikan bagi OR (Orang Rimba). Aku terpukau dengan tulisannya yang berani protes soal lembaga WARSI yang notabene adalah mantan tempatnya bekerja. Entah karena dia sudah keluar dari lembaga itu sehingga bisa leluasa menyuarakan isi hatinya ataukah memang pada dasarnya dia pemberani. Umm, tapi untuk yang ini kurasa dia bersikap rasional, karena di beberapa bagian awal dia juga bersyukur bisa diterima di WARSI sehingga bisa masuk ke kawasan OR yang akhirnya dicintainya.

2. Jujur. Yap, mungkin karena buku ini merupakan transformasi dari catatan hariannya maka setiap penggal kisahnya bercerita apa adanya. Komentar-komentar jayus atau pikiran-pikiran nakal Butet berlompatan secara natural. Begitu lugas dan terpercaya.

3. Inspiratif. Tidak diragukan lagi, isinya memang sangat menginspirasi. Segala daya tarik perjuangan (dan petualangan) Butet dapat dengan mudah mengobarkan semangat berbagi yang terpendam di dasar sanubari. Minimal berempati dan menghidupkan spirit untuk menolong sesama di sekitar kita.

4. Kritis. Pada beberapa bagian, Butet menyampaikan beragam pemikiran yang dianggapnya mampu membawa perubahan yang berarti bagi kehidupan OR (bukan dengan mengubah OR-nya) ---dan perubahan yang lebih luas lagi--- meskipun dengan kejujurannya pula ia mengakui kelemahan yang dimilikinya untuk mewujudkan pemikiran-pemikiran kritisnya tersebut.

5. Netral. Sangat berimbang dan tidak berpihak. Sifat inilah yang kurasa menjadi sifat dasar yang mampu membawa Butet masuk dan diterima pada masyarakat OR. Tujuannya hanya satu, memeratakan pendidikan bagi semua kalangan. Bahkan, yang sangat menyengat nuraniku adalah tujuan utama Butet menyalakan semangat belajar kepada OR yaitu agar dapat memahami dan menjaga hak OR sebagai sesama WNI.

6. Informatif. Tentu saja, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari buku tulisan Butet ini. Pelajaran humanisme, alam, sosial, keamanan, hingga kemampuan hidup di alam bebas dapat memercikkan hikmah bagi pembacanya. Bahkan beberapa informasi berguna bagi pemerintah, misalnya soal isu ilegal logging yang merajalela dan seyogyanya segera dicarikan cara menanggulanginya.

Namun, terpaksa aku harus mencomot satu bintangnya karena beberapa typo yang cukup “arrrghhh” menurutku. Bukan apa-apa, tapi dengan gelar sarjana dari jurusan sastra dan bahasa Indonesia yang disandang Butet, aku sangat berharap buku ini tak sekadar menjadi buku inspiratif tapi juga panutan dalam hal tulis menulis. Oh, maafkan aku, siapalah aku sampai berani mencela sebegininya. Aku sendiri masih belepotan dalam berbahasa. Tapi, aku tidak bisa menahannya, entah apa sebab. Hanya saja, dalam bayanganku, seharusnya ini tidak terjadi. Tidak banyak kok, hanya kurang nyaman saja (terkait gelar itu). Beberapa typo dan inkonsistensi (miring, tak miring) atau kurang satu huruf sih tidak masalah. Yang kusesalkan hanya pada pemenggalan kata yang… kurasa kurang tepat. CMIIW.

Ranting dipenggal menjadi rant-ing, bukankah yang benar ran-ting? (hlm: 24)

Orang dipenggal menjadi or-ang, bukankah yang benar o-rang? (hlm: 7, 41, 57, 71, 141, 193)

Resiko bukankah bentuk bakunya risiko? (ada di beberapa halaman)

Dan satu informasi yang seharusnya penting tapi jadi membingungkan adalah soal nama majalah yang disebutkan di halaman 208-209, yang benar Gerbang atau Gebang. Hmm, bagi yang sempat gooling mungkin bisa mendapatkan jawabannya, bagaimana dengan yang tidak sempat/bisa. Tidak signifikan, tapi cukup penting mengingat itu nama sebuah penerbitan resmi (sepertinya).

By the way, buuanyak sekali bagian-bagian yang menjadi favoritku di buku ini tapi yang paling favorit adalah halaman 56, soal kentut dan nilai kesopanan, secara bagiku itu sangat berhubungan, ternyata di sini (kawasan OR) tidak. Hmmm…memberikan sedikit pencerahan lah untuk bisa bertoleransi pada orang yang kentut sembarangan. Nggak bakalan protes, palingan cuman pencet idung aja!

PS:
1. Mengapa membaca buku ini aku jadi teringat serial Ancient Darkness-nya Torak ya, rombong mengingatkanku pada klan-klan, dan nuansa mistisnya juga.

2. Pada beberapa bagian awal pembangunan sekolah, aku kok merasa plotnya artifisial ya, atau kah aku sudah menjadi korban cerita fiksi jadi menganggap yang non-fiksi serupa fiksi. Itu lho pada bagian Butet sudah mulai mengajar, kemudian ada acara hasut-menghasut. Hahaha, cuman sekadar my thought belaka.

3. Pengen banget tau yang mana sih Gentar. He’s my favorite dalam buku ini. Serupa Lintang di Laskar Pelangi, Gentar (dan Linca) seolah hidup dan bersinar di buku ini. Coba ada dokumentasi gambar mereka.

4. Semoga ada yang mem-film-kan karena aku merasa ini lebih dahsyat dibanding Laskar Pelangi atau Denias (no offense, cuman pengen kisah ini divisualisasikan).

5. Adakah data yayasan Sokola yang menyalurkan donasi, mungkin saja banyak yang ingin ikut berpartisipasi untuk keberlangsungannya.

6. Terima kasih Butet atas dokumentasi tulisanmu ini.

Maka, belajar itu memang penting, tak peduli dimana kita berada dan bagaimana kondisi kita. Belajar adalah kebutuhan untuk menghidupi kehidupan.
Profile Image for e.c.h.a.
509 reviews257 followers
May 18, 2010
Do what you love and love what you do.

Saya melihat semangat itu dari seorang Butet, melakukan sesuatu yang sangat Ia cintai dan mencintai apa yang sedang Ia kerjakan.

Pembelajaran itu sebuah proses, dari tidak tahu mejadi mahir. Setiap orang, siapapun dia, akan selalu mendapat pelajaran dari orang lain disadari atau tidak.

Karena hidup itu sendiri adalah belajar.
Profile Image for miaaa.
482 reviews421 followers
May 13, 2010
Let's learn, and then we can teach;
Let's change, and then we can change the world;
Let's acknowledge the needs, and then we can help.

***

Untuk mengajar kita perlu belajar,
Untuk mengubah dunia kita perlu berubah lebih dulu,
Untuk menolong, mari pahami dulu apa kebutuhan mereka.
Profile Image for Roos.
391 reviews
October 4, 2007
MUST READ BOOK!!!
What I learned from this book : VERY.....VERY MUCH AND MUCH MORE.

Buku ini benar-benar menunjukkan apa yang dinamakan CINTA yang SUNGGUH-SUNGGUH MENCINTAI ( Bukan Cinta Mati Lho...)
Disini ditunjukkan bagaimana seorang Butet mencintai dunia kecilnya di Rimba, dari pengenalan, penjajagan, hingga pendalaman kharakter masing-masing bahkan sampai bingung mana yang orang Rimba yang asli....
Proses 'Take and Give'nya benar-benar terasa.....Bagaimana perasaan Butet dari kesusahannya, perjuangan dan kegigihannya, kekesalannya, kesukaannya bahkan ketulusan dan kebanggaannya akan orang-orang Rimba yang dididiknya, disajikan dengan lembut dan kerendahan hati tanpa kesombongan sama sekali.
Kita semua perlu berterima kasih kepada Orang-orang seperti Butet Manurung, karena perjuangannya telah membuka mata kita bahwa INDONESIA BELUM SEPENUHNYA MERDEKA DAN PERJUANGAN KITA MASIH JAUH DARI SELESAI!

Cerita lebihnya mending beli bukunya..........
Demi menyumbang Dunia Pendidikan bagi Orang-orang Rimba diseluruh Indonesia.

Profile Image for nat.
127 reviews
May 13, 2010
Saat mendengarkan kata ‘sekolah’ terucap, apakah yang terbayangkan di benakmu ? Apakah itu sebuah gedung dengan ruangan-ruangan kelas ? Ataukah buku, kapur, pensil, dan peralatan tulis lainnya ? Apakah terbayang di benakmu guru-guru yang memakai seragam rapi ? Atau jam-jam pelajaran yang padat dengan sedikitnya waktu istirahat untuk bercengkarama dengan para sahabat ?

Sokola Rimba adalah sebuah sekolah yang jauh sekali dari semua bayangan itu. Butet Manurung, salah seorang pelopor Sokola Rimba di Bukit Taman Nasional Dua Belas dan sekitarnya di Jambi, membuktikan bahwa sekolah dapat dinikmati bahkan oleh anak-anak yang tinggal jauh di pedalaman dengan fasilitas minim, yang mungkin tidak pernah dibayangkan orang pada umumnya. Butet memutarbalikkan pandangan saya tentang sekolah dalam sebuah kelas dengan seorang guru yang mengajar. Saya adalah produk sekolah konvensional, dan boleh dikata, contoh murid yang patuh. Saya benar-benar memenuhi ketentuan belajar di kelas, bahkan saat istirahat pun bukannya jajan atau bermain, tapi lebih banyak membenamkan diri di buku-buku perpustakaan. Saya juga bukan tergolong murid yang hiperaktif atau bahkan yang pernah coba-coba bolos… hmmm… yang seperti itu saya tidak tahu bagaimana rasanya ? Pokoknya dulunya saya benar-benar murid yang lurus seperti penggaris. Walaupun begitu tidak sampai ketagihan belajar. Saya masih punya waktu untuk membaca buku, koran, dan mengerjakan pekerjaan di rumah. Pun waktu teman-teman sebaya mengambil waktu seusai sekolah untuk les di bimbingan belajar, saya tidak mengikutinya. Saya memilih untuk pulang ke rumah, jadi punya waktu untuk tidur sore dan belajar mandiri di rumah. Syukurlah, Tuhan terus mengiring dan menyertai saya, sehingga tidak masuk dalam produk gagal dalam hal ini.

Namun hal itu tidaklah mengundang decak kagum. Seolah memang wajar kalau seorang yang menyisihkan waktunya untuk belajar, menuai hasilnya. Apa yang dilakukan oleh Bontet (Butet) dkk dalam Sokola Rimba inilah yang mengundang decak kagum bagi saya. Yang dituturkan dalam buku ini bukanlah sekedar sebuah petualangan (adventure), namun lebih pada sebuah perjalanan Bontet untuk menemukan panggilan hidupnya, yang ternyata bukan sebagai pekerja kantoran, sastrawan, ataupun profesi ‘nyaman’ lainnya, namun mengajar anak-anak di rimba, suatu tempat yang penuh dengan tantangan. Anak-anak yang ikut Sokola tidak perlu mengenakan baju seragam, topi, sepatu, membawa tas, buku, pensil, atau segala macam pernak-pernik perlengkapan sekolah pada umumnya. Mereka hanya perlu datang dan berkumpul pada Bontet dkk (suddenly Guru) dengan membawa tekad dan semangat mereka untuk belajar. Nah, bukankah inilah yang merupakan jiwa dari sebuah pendidikan atau sekolah ? Bukanlah kelengkapan segala macam tetek bengek, namun sebuah tekad dan semangat untuk belajar, di situlah inti pendidikan atau sekolah. Tanpa itu, semua hanyalah atribut, yang tiada akan menghasilkan sebuah perubahan.

Bontet datang ke rimba bukan untuk menjadi orang yang memfasilitasi atau mempersiapkan orang-orang rimba menghadapi perubahan jaman. Ia datang sebagai teman, sahabat, saudara, yang memulai karyanya dengan hidup bersama keluarga-keluarga orang rimba yang mempunyai tradisi melangun. Walaupun Bontet adalah seorang pecinta alam, yang saat kuliahnya sudah akrab dengan kegiatan daki-mendaki gunung maupun konservasi alam, perjuangannya untuk masuk ke rimba bukan hanya menyelaraskan diri dengan alam, namun juga dengan orang-orang rimba yang hidup di dalamnya. Bontet meninggalkan segala kenyamanan yang bisa dirasakannya di kota, membawa hidup dan segala miliknya, ‘dipertaruhkan’ bukan untuk prestasi agar dihargai atau harta agar berkecukupan secara finansial, namun demi sebuah panggilan jiwa. Saya berulang kali tersenyum geli membaca bagaimana Bontet mengakrabkan dirinya dengan lingkungan orang rimba, dengan makanan, kebiasaan, cara hidup, perkataan, dan pergaulan. Bontet memang menghadapi banyak hambatan, baik pandangan negatif dari orang rimba yang tidak menyukainya mengajar anak-anak dengan berbagai alasan, maupun hambatan finansial. Bontet awalnya memang menjadi volunteer bagi sebuah yayasan konservasi alam, namun akhirnya memutuskan untuk berdiri sendiri, mendirikan Sokola bersama sahabat-sahabatnya karena kerinduannya untuk menjadi bagian hidup anak-anak rimba lebih dari sekedar volunteer.

Saya mendengar nama Bontet (Butet) Manurung ini kurang lebih tahun 2003. Sosoknya adalah salah satu sumber inspirasi bagi saya waktu itu. Saya masih kuliah di tingkat akhir sebuah sekolah tinggi. Dalam kegiatan non kuliah, saya bersama beberapa teman yang terorganisir dalam sebuah persekutuan, melakukan tugas untuk membagi kehidupan kami dengan orang-orang yang membutuhkan. Ketika itu, kami mulai mengenal dunia anak jalanan, dunia narapidana di penjara, dunia anak panti asuhan, dan dunia pemulung. Awalnya kami mengikuti sebuah kegiatan di kolong flyover Grogol setiap minggu untuk mengajar anak-anak jalanan maupun anak-anak tak mampu lainnya tentang baca tulis hitung (calistung). Setelah beberapa waktu menjadi volunteer untuk sebuah yayasan yang kegiatannya agak jauh dari kampus dan tempat kami bermukim, kami pun mencoba mencari tahu, apakah kami dapat melakukan hal serupa di daerah kami bermukim. Daerah kampus merupakan perbatasan antara pemukiman elit dengan pemukiman menengah ke bawah. Kami menjumpai banyak pemukiman pemulung di sekitar kampus, yang setelah itu kami selalu mendapati bahwa di balik pemukiman elit umumnya terdapat pemukiman pemulung. Mengapa ? Karena pemulung itu hidup dari sisa-sisa yang dinikmati oleh penghuni pemukiman elit. Ada 3 pemukiman pemulung dalam sebuah lokasi, dan kami pun mulai melakukan pendekatan pada penghuninya, memohon ijin untuk mengajak anak-anak pemulung itu belajar bersama. Harapan kami tidak muluk-muluk, paling tidak supaya anak-anak itu tidak buta huruf, mengingat kami dari sisi mahasiswa tidak mampu secara finansial untuk men yekolahkan mereka. Kegiatan itu pun berlangsung, bahkan hingga kini, diteruskan oleh adik-adik kelas yang kuliah di sana. Saya teringat kala sabtu siang dulu kami berangkat bersama ke pemukiman itu, membawa segala sesuatu yang mungkin bisa menarik hasrat anak-anak untuk belajar. Tidak semua anak pemulung tidak bersekolah, beberapa bahkan nilainya cukup baik di sekolahnya, tentu saja sekolah negeri yang tidak menuntut bayaran mahal. Kami tidak selalu mengajarkan calistung, kadangkala kami membawa bola atau permainan lainnya untuk mengakrabkan diri dengan anak-anak. Kami melakukan percobaan ilmiah dengan alat-alat sederhana yang kami pelajari saat menjadi volunteer sebelumnya, dan itu sangat menarik bagi anak-anak. Teringat pula saat kami membawa jumbo minuman berisi susu kental manis yang kami siapkan untuk anak-anak, bukan hanya sebagai penarik minat belajar mereka namun juga penambah gizi mereka. Mereka sungguh antusias, dan sungguh sorot mata mereka dan keramahan mereka setiap menyambut atau melepas kami itulah yang membuat hati ini bahagia. Walaupun lingkungan belajar kami sungguh tidak memenuhi syarat kesehatan karena bau bertumpuk sampah pulungan, namun selalu ada celetukan atau ungkapan anak-anak yang menyegarkan kami. Sepulang dari mengajar kami sangat kelelahan, membawa-bawa buku dan segala macam piranti, namun kami selalu mendapatkan kesan yang berbeda dari anak-anak. Kebingunan yang dihadapi Butet saat mengenalkan huruf atau cara penjumlahan pada anak-anak rimba adalah kebingungan yang sama yang kami hadapi saat itu pada anak-anak pemulung. Hambatan yang kami alami saat mengajar anak-anak pemulung ? Banyak, namun hanya Tuhankah yang memberikan kekuatan dan jalan keluarnya. Pada saat yang sama itulah saya mulai mendengar sosok Butet, dan mengidolakannya. Seolah mengerti kerinduan saya, Tuhan pun menempatkan saya pada instansi yang kantornya tersebar di pelosok Indonesia setelah saya lulus kuliah. Itu berarti untuk kurun waktu beberapa tahun sekali, saya dapat dimutasi ke daerah terpencil. Walaupun ada rasa gentar bilamana itu nanti kan terjadi, saya selalu mengingat satu hal, bahwa di tempat-tempat terpencil itulah mungkin saya bisa menyalurkan kerinduan saya untuk mengajar anak-anak tak mampu itu, sebagaimana Butet menemukan panggilannya. Itulah yang membesarkan hati saya, dan menjadi semacam self-motivation yang saya ucapkan pada diri sendiri: “Kalau Butet bisa, mengapa aku tidak ?”

Membaca Sokola Rimba mengingatkan saya kembali bahwa sekolah tidak hanya bisa dilakukan di gedung yang layak, dengan segala macam fasilitas yang memadai. Banyak kisah nyata yang menampakkan bahwa dengan kekurangan yang ada, ada suatu semangat yang lebih, muncul untuk mengatasi segala keterbatasan. Dan terbukti bahwa semangat itulah yang menghidupkan sekolah, semangat untuk belajar itulah rohnya pendidikan. Coba ingat kembali dengan kisah Totto Chan, Laskar Pelangi, dan kisah-kisah pendidikan lainnya yang berangkat dari keterbatasan menjadi sesuatu yang luarbiasa (extraordinary). Oleh karena itu tiada pernah ada kata terlambat atau terlalu tua untuk belajar. Semua orang berhak untuk belajar. Bahwa sesungguhnya kehidupan yang kita jalani inipun suatu ajang sekolah atau pembelajaran.

Membaca Sokola Rimba menyadarkan saya bahwa saya belum selesai menjalani ‘sokola’ yang sesungguhnya. Bahwa dalam fase sokola saya ini pun, saya perlu berbagi dengan mereka yang membutuhkannya. Keterpanggilan itu kembali terngiang-ngiang di telinga saya. Saya mungkin tidak dapat mehyamai Butet Manurung dengan ketangguhannya dan kegigihannya mendirikan Sokola Rimba yang kini tidak hanya di Jambi, namun juga di Aceh, Makassar, dan beberapa tempat lain dengan sebutan berbeda; meskipun saya sangat mengaguminya. Saya mungkin tidak memiliki ‘kebebasan’ atau ‘keberanian’ sebanyak yang Butet miliki, namun pasti ada yang dapat saya lakukan. Butet, terlebih saya, mungkin hanyalah bagian-bagian kecil yang mencoba untuk menjadi pemicu cahaya yang sudah ada dalam diri setiap pembelajar, setiap jiwa yang ingin belajar. Membaca Sokola Rimba membuat saya hanyut dalam kehidupan di dalamnya, dengan segala ketakutan, keengganan, sekaligus kerinduan yang berkecamuk. Entah kapan itu terwujud, namun sungguh, saya ingin menjadi pemicu cahaya itu kembali.

Sokola Rimba, sebuah buku yang bukan hanya membuka mata, menyentuh hati, menggelitik saraf tawa, membuat senyum simpul meredakan ketegangan di urat wajah; namun juga sebuah catatan akan perjalanan hidup dan perjuangan hati anak manusia yang mencoba menjadi bagian hidup sesamanya.
Profile Image for Silvana.
1,306 reviews1,241 followers
March 23, 2017
I adore this book. Heard of Butet years ago but never really paid attention on the details of her work. Education is one of the hardest jobs in the world and she had to educate one of the most remote communities (probably one of the hardest to teach as well?) in the country, Orang Rimba (The Forest People).

This book is basically a journal. She is really insightful and open-minded while also able to be self-critical. I enjoyed reading both the funny stories - the children are hilarious - and the not-so-funny stories. Sometimes they are thought-provoking especially when it comes to us, Orang Terang (People of the Light), with our own materialistic lives as well as inability to really connect with the nature and to emphatise, to clear our mind from all preconceptions and just go with the flow.

A recommended read for those interested in reading more about Indonesia and social transformation.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
May 31, 2010
#2010-41#

"Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan."

Sebenarnya, aku lupa dengan isi pasal-pasal UUD 45 yang terakhir kubaca sewaktu SMA. Dan seiring dengan perkembangan politik di negeri ini yang semakin cepat pergerakannya, membuat aku memilih untuk melewatkan apa yang terjadi dalam tata kenegaraan. Ketika meng-goggling kata-kata di atas, ternyata banyak pasal-pasal UUD 45 yang sudah banyak berubah redaksionalnya karena di-amandemen beberapa tahun yang lalu.

Ternyata hal-hal di atas yang tertanam dalam kepalaku sejak belajar PMP SD sampai SMA lupa begitu saja begitu saya masuk bangku kuliah dan mulai hanya memperhatikan nilai-nilai yang ada di masyarakat, tanpa menengok dan membahas lagi tata redaksional kata-kata yang harus ditulis sama persis ketika ujian itu.

Pendidikan memang hak warga negara. Bangsa yang mencapai kemajuan dilihat dari kemajuan tingkat pendidikannya. Bahkan sampai tingkat pelosok pun seharusnya memang diupayakan untuk adanya tenaga pendidik yang mumpuni.

Warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan betapa sulitnya untuk menerjemahkan kata-kata itu menjadi satu tindakan yang seharusnya merupakan perpanjangan tindakan dari UUD yang menjadi pegangan kita.
Amat disayangkan Dinas Pendidikan Nasional yang hanya berkutat pada sekolah formal, tingkat kelulusan, ujian, yang menjadi momok tahunan bagi dunia pendidikan, tetapi perhatian pada apa pendidikan itu sebenarnya, yang lebih dibutuhkan oleh seluruh ‘warga negara’ seperti yang termaktub, malah kurang.
Dan ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah pendidikan bisa distandarisasi? Apakah kemampuan dan daya tangkap seseorang harus disamakan dalam parameter bernama ujian? Tak bisakah kita diujikan pada hal2 yang kita minati saja? Boleh tidak sih apabila dalam hal-hal yang kita tidak minati hanya berlaku 'sudah mengetahui' tanpa harus memahami?

Pendidikan, adalah bagian dari kemajuan. Tanpa pendidikan, kita akan jalan di tempat, tidak akan berkembang menjadi manusia yang inovatif. Namun pendidikan, tidak hanya didapat dari sekolah. Bahkan Butet pun masih belajar untuk memahami pendidikan ketika ia menjadi pendidik. Targetnya bukanlah masyarakat itu terdidik, tapi membuat masyarakat itu sadar bahwa pendidikan adalah suatu kebutuhan mereka. Sehingga mereka akan sukarela mengikuti apa yang ia ajarkan. Dengan itu ia berusaha menjadi salah satu dari mereka, sehingga membuka hati untuk belajar.

Seperti halnnya mereka memilih apa yang mau mereka pelajari. Pola pendekatan yang seperti Butet ini yang diperlukan untuk kawasan2 yang di pelosok, yang jauh dari pola ajar guru datang, murid belajar, seperti di kota, tapi menjadi guru datang, guru mendengar, guru belajar, dan guru mencari cara yang tepat untuk menjadi bagian dari murid-muridnya.

Sangat inspiratif, dan sangat menimbulkan iri buatku yang sering melihat hal serupa, namun tak bisa berbuat apa-apa. Dan menimbulkan tanya, ‘kemana aja sih Diknas?’. Padahal sebenarnya banyak yang bisa kita perbuat, tidak hanya tanya yang tidak menghasilkan apa-apa. Mudah-mudahan, ini saatnya untuk berubah.
Profile Image for Pera.
231 reviews46 followers
January 15, 2008
Membaca buku ini benar-benar berkesan.
Menurutku Butet mengisahkannya dengan penuh cinta.
Butet menyuguhkan kehidupan Rimba bukanlah sebuah dunia yang tidak nyaman tapi INDAH.
Indah karena kesederhanaanya, keluguannya, struktur masyarakatnya, keteguhannya dengan adat dan rimbanya.
Yang sangat menarik soal budaya orang rimba adalah sistem matrilinear yang dianutnya.
Laki-laki sebelum menikah di magangkan dulu di rumah calon mertuanya, bekerja, berburu dll. Setelah 3 bulan, jika calon mertua tidak senang, si Laki-laki bisa dipulangkan ke kampungnya.
Laki-laki rimba juga sangat terjaga syahwatnya dan dan sangat bangga dengan posisinya sebagai pelindung dan pencari nafkah keluarganya.
Laki-laki gak akan marah-marah kepada istrinya, secerewet apapun istrinya, justru jika istri yang tidak cerewet dianggap bukan istri yang baik...(lo kok? cucok banget ma tipe ku nih...hihihi)

Yang membuatku terharu, Butet mengajak untuk memandang orang rimba bukan dengan menganggapnya orang yang aneh selayaknya orang-orangan di sirkus, tapi kelompok manusia yang berhak memilih hidup di hutan atau di dunia terang.
Membaca buku ini jadi ingin merasakan dunia Rimba itu.

Membayangkan konsep yang tergambar dari keresahan Butet terhadap pendidikan orang rimba, aku jadi terbayang film flinstone, kehidupan jaman batu tapi ya...modern. Boleh aja tinggal di Rimba (malah asyik), tapi pemikiran tetap global...ya..gitu deh. benar gak Butet?
Profile Image for Sharulnizam Yusof.
Author 1 book95 followers
March 29, 2017
Pengalaman Butet sangat mahal, malah sangat berharga untuk memori hidup. Kisah kembara hidup selama 13 tahun di Bukit Dua Belas banyak mencetus daya fikir.

Butet bukan hanya sekadar berkongsi rutin kehidupan seorang pendidik di hutan, bukan hanya berkisah hal anak-anak rimba yang lucu, atau tentangan orang rimba terhadap pendidikan. Lebih dari itu, Butet mengajak kita berfikir dan membuang stereotype yang sudah lama bersarang dalam fikiran manusia kota terhadap orang rimba.

Bercawat itu ketinggalan zaman, tetapi manusia moden sudah hilang adab berpakaian.

Orang Rimba sangat melindungi kaum perempuan, tetapi banyak sahaja manusia moden melakukan onar kepada perempuan tanpa segan silu.

Kita menganggap kehidupan kita terbaik, tetapi orang rimba juga tahu kehidupan mereka terbaik.

Buku ini saya sarankan sebagai bacaan kaum pendidik. Butet bukan hanya mengajar, tetapi sentiasa belajar. Dan sudah tentu, lakukan pekerjaan dengan rasa cinta yang utuh!
Profile Image for Sweetdhee.
514 reviews115 followers
June 5, 2010
Membaca Sokola Rimba, membuat saya mengingat kejadian bbrp tahun lalu.

Waktu saya masih bekerja di kantor pertama saya setelah lulus kuliah. Di sebuah perusahaan elektronik di Cibitung. Waktu itu saya dan teman saya, Rima, harus berjalan ke arah gudang chemical sehingga mendapatkan data aktual stok. Untuk menuju gudang tersebut, dari kantor depan, kami memilih melewati bbrp production line dibandingkan melewati jalan antar gedung yang jelas akan merasakan panas matahari yang menyengat.

Entah bagaimana pembicaraannya, tiba-tiba saya berucap, "Beruntung ya kita, bisa sekolah, bisa nerusin kuliah. Walaupun kerja capek musti bolak-balik ke gudang, musti ngomel2 sama supplier, musti siap2 lembur dan memaksimalkan kerja otak setelah MRP Run. Coba liat operator di line sana. Kerjaannya cuma nempelin label. Udah jelas musti ditaruh dimana karena udah ada cetakan tempatnya. Begitu terus selama 8 jam sehari, 5 hari kadang 6 hari seminggu. Apa ga bosen yaa?".

Serentetan omongan saya disambut dengan kepala Rima yang mengangguk-angguk pusing memikirkan nasib stock material kimia dia yang nyaris kadaluarsa. Hehehehe..

Sesampai dirumah, belum sempat mengganti baju, saya merebahkan diri sambil menonton tv. Ibu saya lalu bercerita tentang Hani, anak tetangga yang sering dititipkan di rumah kami kala ayah dan ibu nya mendapatkan shift kerja yang berbarengan di RS. Bbrp hari itu memang si Hani sedang tegang menghadapi hari pertama sekolahnya di TK dekat rumah. Walaupun dia semangat sekali ketika kami ajari cara membaca dan mengatakan bahwa nanti di sekolah akan banyak bahan bacaan lain dan buku-buku bergambar, tapi mengetahui harus bangun pagi setiap hari dan kehilangan sedikit waktu bermainnya menjadikan sekolah bukan bayangan yang menyenangkan baginya.

Tapi ternyata di hari pertama itu, Hani belajar lagu baru dan dengan bangga menyanyikannya di depan Ibu dan Kakak perempuan saya. Lalu dia bercerita tentang teman-teman sekolahnya dengan berbagai tingkah lakunya. Jenis fasilitas permainannya, bagaimana untuk duduk dengan manis dan makan bekal bersama saja mereka lakukan sambil bernyanyi. Ditengah semangatnya bercerita, Ibunya yang memang mendapatkan shift pagi sehingga tidak bisa mengantarnya, baru saja pulang. Hani langsung berlari dan memeluk ibunya. Dengan penuh sayang, ia cium kedua pipi ibunya, gemas, seraya berkata, "Ibu, makasih yaa udah nyekolahin aku."

Saya berhenti mendengarkan cerita ibuku itu. Pura-pura berjalan ke kamar untuk mengganti baju, saya mengutuk dalam hati sambil menyembunyikan mata ku yang tiba-tiba berkaca mendengar kata-kata Hani ke ibunya . Sial! mengapa anak kecil bebas sekali berekspresi!!

Membaca Sokola Rimba, membuat saya berpikir, masihkah Hani yang sekarang mengingat kejadian nyaris lima tahun lalu dan berhasil mempertahankan semangatnya bersekolah? Sayangnya, saya rasa tidak.. Sedih sekali melihat dia sudah tak bergairah melihat susunan huruf di buku anak-anak yang kami beli. Setiap kami mengajari berhitung, dia akan punya banyak alasan untuk melangkah pulang ke rumahnya..

Phfuih!! Susah sekali ya, menggenggam semangat belajar dan membawanya sampai mati. *pentung-pentung kepala sendiri yang lagi turun semangat melanjutkan les nya*

Seperti juga Butet yang semangatnya pasang surut untuk mengajari Orang Rimba agar mampu memperbaiki hidup mereka tanpa melanggar peraturan adat. Seru juga kayaknya belajar di tengah hutan.

Ah, kapan saya punya kesempatan bermain sambil belajar tentang hidup dari manusia-manusia yang dunianya tertutup tapi selalu merasa cukup itu?

Profile Image for Norma.
43 reviews11 followers
August 21, 2008
kagum sekaligus iri dengan rasa sosial dan pengabdian Butet manurung terhadap anak bangsa. Mempertanyakan pada diri kita sendiri "sudah bermanfaatkah saya bagi orang lain?", "seberapa besar manfaat saya bagi orang lain?"
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
January 18, 2018
Dalam buku ini Butet mengajarkan bahwa keberhasilan perjuangan berawal dari cinta. Sangat inspiratif dan mengharukan (meskipun sangat terlihat Butet tidak mau terlihat melankolis dalam tulisannya).

Berawal dari kecintaannya pada rimba sejak kuliah, ia kemudian bekerja sebagai fasilitator pengajar WARSI, sebuah LSM konservasi rimba di Jambi. Petualangannya dalam mengajar orang rimba baca tulis mendapat banyak hambatan dan tantangan, namun tekadnya untuk mewujudkan kehidupan orang rimba yang lebih baik mampu mengalahkan rasa pesimisnya. Setelah sekian lama mengajar, tekanan batin akan pertanyaan "mau dibawa kemana pendidikan ini selanjutnya?" membuat ia dan rekan-rekannya mencetuskan Sokola Rimba, sekolah bagi komunitas adat dan kelompok marjinal lainnya.

Saya tercengang dengan epilog buku ini. Jika kita menganggap kehidupan kota yang canggih, berpendidikan, dan beretika adalah kehidupan yang sempurna dan menganggap kehidupan orang rimba yang primitif, bodoh, dan tak senonoh, pertanyaannya, cara pandang siapa yang kita pakai? Disitulah Butet banyak berargumen.

Dari puluhan halaman epilog tersebut, saya pun mengamininya. Bukannya setiap manusia diciptakan untuk memilih, dan pilihan yang terbaik adalah yang membuat hidup mereka sejahtera? Lantas, siapalah kita yang turut campur menentukan pilihan manusia lainnya?
Profile Image for Aliftya Amarilisyariningtyas.
113 reviews7 followers
November 28, 2014
“Benarkah konvervasi hutan adalah satu-satunya jawaban? Bahwa kalau ada hutan, pasti Orang Rimba hidup bahagia? Hutan thok… tanpa perlu meningkatkan kapasitas mereka?”–halaman 179.


Ya, buku ini memang bercerita mengenai kehidupan Orang Rimba. Hmmm… lebih tepatnya adalah catatan seorang Butet saat mencoba mendekati Orang Rimba untuk mengenal pendidikan. Jika dibilang menginspirasi menurut saya bisa ya, bisa juga tidak. Namun, yang jelas adalah bahwa buku ini menggambarkan realitas tentang masyarakat suku dalam yang selama ini tidak dipahami oleh kita, “orang luar”.

Entahlah, tapi dengan membaca buku ini lagi-lagi saya dihadapkan –dengan lebih jelas, betapa diskriminasi masih sangat kental terjadi di belahan bumi ini, termasuk diskriminasi suku. Suku dalam atau orang pedalaman selalu dianggap terbelakang. Padahal menurut saya tak begitu. Namun, bisa jadi begitu jika dihadapkan pada konteks teknologi yang ada saat ini. Intinya adalah bahwa sebetulnya bukanlah hak kita untuk mengatakan suatu kaum terbelakang atau sebaliknya.

Kok saya jadi tidak fokus begini ya menulisnya. Uh! Jujur, lagi-lagi melihat diskriminasi seperti ini batin saya jadi terusik. Saya memang bukan “pecinta alam” seperti Butet, bukan pula aktivis yang selalu melakukan aksi setiap menemui “ketidakadilan”. Namun, saya selalu miris ketika melihat atau mendengar atau apapunlah itu yang berkaitan dengan diskriminasi terutama mengenai pendidikan dan perempuan.

Kembali ke pembahasan utama. Pada saat Butet ingin memberikan pendidikan kepada Orang Rimba ini tentunya tak serta merta mudah begitu saja. Di sini Butet pun juga telah banyak bercerita mengenai hambatan-hambatan dalam memberikan pendidikan tersebut. Ah, jangankan untuk memberikan pendidikan. Bahkan untuk sekedar mendekati saja pun bukan berati itu merupakan hal yang mudah. Salah-salah dalam melakukan pendekatan, maka akibatnya adalah “jangan usik-usik desa kami” atau lebih gamblangnya adalah pengusiran. Dan Butet tentu pernah mengalaminya.

Secara mendasar hambatan untuk memberikan pendidikan terhadap Orang Rimba tersebut terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal tentunya berasal dari para orang tua-orang tua anak Orang Rimba yang menganggap bahwa pendidikan akan “merubah” mereka. Pendidikan tak ada gunanya bagi mereka. Atau yang lebih parah lagi adalah, mereka beranggapan bahwa itu bisa mendatangkan marabahaya berupa penyakit, kematian, atau yang lainnya.

Kemudian, untuk faktor eksternalnya sebagian besar berasal dari para tauke-tauke kayu yang merasa terancam. Kasarnya dapat dikatakan bahwa dengan Orang Rimba bisa baca-tulis-hitung itu berarti mereka akan menemui “kesulitan” jika ingin melakukan tindak kecurangan, seperti membohongi upah yang diberikan saat Orang Rimba menjual getah karetnya ataupun yang lainnya.

Yang menarik dalam buku ini salah satunya adalah cerita mengenai beberapa anak yang nekad menentang para orang tua mereka untuk bersekolah. Bahkan beberapa diantaranya terang-terangan memilih untuk bersekolah meski resikonya “ditendang” dari kawanannya. Ah, betapa pada setiap pengorbanan selalu ada harga yang harus dibayar. Nah, ini poin yang cukup penting –setidaknya bagi saya, bahwa kalian juga harus tahu bahwa tak sedikit diantara Orang Rimba yang sebetulnya memiliki daya tangkap serta daya ingat yang cepat dan cukup baik.

Mereka jelas memiliki kesempatan yang sama, memiliki juga kemampuan (dalam artian yang luas) –yang bahkan bisa jadi melebihi kemampuan kita, dan yang lebih penting adalah mereka memiliki hak yang sama. Nggak adil rasanya jika kita memandang mereka sebelah mata. Meski ya mungkin dalam prakteknya –setidaknya, pada awal perjumpaan “pandangan sebelah mata” tersebut bukan tidak mungkin ada dalam pikiran kita, malah mungkin agak sulit untuk disingkirkan. Namun, maksud saya adalah lebih ke pandangan-pandangan “kolot” kita tentang betapa bla bla bla-nya mereka.

Oh ya, dan satu lagi, melalui buku ini saya juga lebih memahami bahwa konteks pendidikan di sini tak hanya berkisar pada baca-tulis-hitung saja, namun juga menyangkut pada aspek kehidupan mereka, agar mereka mampu menghadapi tekanan jaman. Dan yang lebih penting lagi, suku dalam sebetulnya tak hanya membutuhkan pendidikan saja, tapi mereka juga butuh sentuhan dinas kesehatan. Ah! Mestinya orang-orang Terhormat di negeri ini harus lebih memperhatikan mereka lagi.

Nah, ada cerita unik sekaligus menyebalkan lagi dalam buku ini –berkait dengan kesehatan, bahwa di dalamnya dituliskan bahwa biaya berobat bagi Orang Dalam tadinya lebih dimahalkan dari pada orang luar. Ah! Apa-apaan perlakuan seperti ini, dasar kapitalis! Jadi, mungkin mereka mengira bahwa Orang Rimba itu kaya bergelimang harta, padahal sejatinya mereka bahkan sering ditipu saat melakukan transaksi jual beli. Ah, dasar bedebah!

Duh, maaf sekali saya tahu bahwa tulisan kali ini tak pantaslah sejatinya jika disebut resensi, sebab ini lebih tepat disebut sebagai tulisan opini tentang sebuah diskriminasi suatu suku. Ah, tapi apapunlah tulisan ini disebut bagi saya itu tak penting. Bagi saya, kalian –yang membaca tulisan buruk ini, nantinya akan mau untuk membaca buku ini dan kemudian akan bisa lebih membuka mata lagi mengenai berbagai realitas yang ada di sekitar kita saat ini. itu sudah jauh lebih cukup. Dan sebagai penutup, sebelum saya ucapkan selamat membaca, ijinkan saya menuliskan suatu kalimat yang membuat saya merasa miris dan berpikir agak lama ketika membacanya.

“Kamu enak ibu guru, kalau hutan habis, kamu hanya tinggal pulang ke kampungmu, tinggal aman dengan ibumu. Kalau kami, mau lari kemana? Gak ada yang bisa kami makan lagi di sini.”

Dan akhirnya, selamat membaca!
Profile Image for Its.Saebooks.
23 reviews
November 13, 2021
Buku Sokola Rimba memberikan sudut pandang baru mengenai kehidupan Orang Rimba serta orientasi pendidikan dan pembangunan. Selain berhasil mengisahkan pengalamannya memberikan pendidikan yang dibutuhkan Orang Rimba, Butet berhasil menuangkan gagasannya mengenai pendidikan dan hak hidup Orang Rimba dengan jelas dan ringkas. Gagasan-gagasan tersebut mudah dipahami, praktis, juga humanis. Selain itu, cara Butet menulis buku ini terasa dekat dan hangat, terutama karena humor-humornya. Buku ini wajib dibaca generasi muda, terutama mereka yang berfokus pada pembangunan dan modernisme.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
March 10, 2014
SOKOLA RIMBA, SEBUAH PANGGILAN JIWA BUTET MANURUNG

(resensi ini dimuat di majalan Link Go edisi 2 tahun 2014)

Tak seperti filmnya, di buku ini kita tidak disuguhi sinematografi-sinematografi yang menawan khas pedalaman rimba Bukit Duabelas. Kita juga tidak disuguhi sebuah adegan memukau sebagaimana Prisia Nasution (pemeran Butet Manurung, red.) mempertahankan semangat belajar Nyungsong Bungo, salah seorang anak didiknya. Tapi lebih dari itu, di buku ini Anda akan menemukan catatan harian seorang anak manusia, catatan harian yang jujur dari seorang perempuan Indonesia yang kecintaan dan usahanya untuk memajukan pendidikan di Indonesia, melebihi kecintaannya terhadap diri sendiri.

Butet rela disengat lebah... Butet rela tersarang malaria... berkejaran dengan ular ataupun beruang hanya untuk menancapkan misinya, yakni memberi pendidikan yang layak bagi orang-orang rimba di Bukit Duabelas, Jambi.

Saya jadi teringat salah satu ayat yang tertuang di dalam UUD 1945:

Pendidikan adalah hak bagi tiap-tiap warga negara.
–Pasal 31 ayat 1 UUD 1945.

Tak peduli di desa, di kota, di gunung, di pulau-pulau terpencil bahkan di hutan, semua Warga Negara Indonesia berhak mendapat pengajaran yang layak. Dan tentunya, hal ini menjadi “semacam panggilan” bagi beberapa orang di antara kita; untuk peduli pada penyelenggaraan pendidikan “yang layak” bagi sesamanya. Dan Butet Manurung adalah salah satu di antaranya.

Panggilan atau Keterpaksaan?

Katakanlah Butet benar-benar “terpanggil”, namun pertanyaan awal yang bergelanyut di benak saya, saat pertama kali membuka lembar-lembar awal dari catatan harian ini adalah: Atas dasar apa Butet Manurung rela mengorbankan kehidupannya yang layak dan blusukan ke hutan-hutan untuk mengajar anak-anak rimba yang ada di sana? Tuluskah ia?

Saya masih ingat, pertama kali saya mengenal sosok perempuan tangguh ini dari salah satu iklan layanan masyarakat yang terbit di harian Kompas pada medio 2002. Dan kata-katanya (baca: Butet) yang paling saya ingat adalah, “Ini bagian dari impian masa kecil saya: jadi Indiana Jones.” Batin saya saat itu berkata, “Keren banget nih orang!” Maka ketika di tahun 2013 ini saya menemukan buku ini dicetak kembali oleh Kompas (:yang terbitan Insistpress tahun 1997 saya malah ga tau), menjelang pemutaran perdana filmnya, saya langsung membawa buku ini pulang –tentu saja setelah membayarnya ke kasir. Hehehe.... 
Kembali ke pertanyaan apa sebenarnya tujuan Butet?

Mungkin Butet sendiri juga tidak sadar. Tak satupun kalimat di bagian awal buku yang menerangkan hal itu. Ia hanya bosan dengan pekerjaan lamanya –sebagai pemandu wisata di Taman Nasional Ujung Kulon, dan berusaha mencari tantangan baru. Sampai akhirnya, menurut pembacaan saya, kesadaran itu berasal dari celoteh salah satu anak didiknya. Ia berkata:

“Kamu enak Ibu Guru, kalau hutan habis, kamu hanya tinggal pulang ke kampungmu, tinggal aman dengan ibumu. Kalau kami, mau lari ke mana? Ga ada yang bisa kami makan lagi di sini.” -Hal 265.

Buku ini menjadi semacam wahana kontemplasi bagi Butet. Butet merasakan betul ketidakberdayaan Orang Rimba yang tak bisa baca tulis saat mereka seringkali dimanfaatkan Orang Terang, sebutan orang Rimba terahadap orang di luar mereka. Tanah mereka kerap dirampas lewat selembar surat perjanjian dan perampas itu sering mengatakan pada mereka bahwa selembar kertas itu adalah sebuah penghargaan dari kecamatan. Mereka diberi uang yang jumlahnya sedikit, dan dimintai untuk membubuhkan cap jempol.

Fungsi Pendidikan

Tapi apakah benar hanya seperti itu fungsi pendidikan? Cuma mengajarkan baca tulis agar Orang Rimba tidak tertipu oleh Orang Terang yang mengubah lahan-lahan hutan mereka menjadi lahan produksi sawit?

Buku ini menerangkan kepada kita akan makna pendidikan, yakni dengan menjadi manusia seutuhnya. Sebuah proses menjadi manusia yang dilalui Butet adalah dengan jalan berbagi, kesederhanaan hidup, kepedulian dan pengabdian terhadap sesama.Buku ini, juga merupakan tambahan bagi catatan antropologis ke-Indonesia-an yang menggugah sisi-sisi hummanis kita sebagai manusia. Di sini kita akan semakin banyak belajar untuk menghargai perbedaan. Menghargaai ke-Bhineka-an kita.

Ngentut bagi orang rimba adalah hal yang wajar. Demikian pula dengan menyampaikan sesemahan (baca: upeti) kepada yang berduka, atau ngomong kasar kepada orang tua. Tentu hal ini berbeda dengan kebiasaan kita, “sang manusia modern”.

Bahkan sampai-sampai Maria Hartiningsih, jurnalis khusus isu-isu HAM, dalam endorsmennya menyatakan:

“Siapa yang berhak membuat definisi dan mengklaim diri sebagai yang paling ‘beradab’? Catatan Butet memperlihatkan kelumpuhan teori di hadapan pengalaman manusia dan fakta-fakta tentang keseharian mereka. Sebaliknya, si Pemilik pengalaman itulah yang paling berhak atas definisi dan teori tentang diri dan kehidupannya. Buku ini mengoreksi banyak hal yang secara umum diasumsikan, diyakini, dan disebarkan oleh kaum cerdik pandai, politisi, pengusaha, pemimpin agama, dan siapa pun pemegang kekuasaan dominan. Seluruh isinya membawa saya pada perenungan panjang tentang makna peradaban, dan tentang ‘keindonesiaan’. Kerja yang masih jauh dari selesai...” -Hal. vi

SOKOLA dan pembaca

Meski buku ini mengangkat sisi pendidikan dan antropologi Orang Rimba, namun saya rasa semua orang wajib membaca SOKOLA. Kenapa? Sebab dengan Sokola (baca: sekolah) kita akan belajar menjadi manusia yang seutuhnya. (tby)
Profile Image for Panji Irfan.
13 reviews4 followers
February 10, 2015
Pengalaman Saur Marlina Manurung yang masyhur disapa "Butet" dalam buku ini benar-benar dahsyat. Beliau adalah seorang yang berani menempuh banyak kesulitan ketika hendak mengajarkan ilmu baca tulis dan hitung pada Anak-Anak Rimba di Jambi dengan upah dari lembaga sebesar Rp. 500.000 per bulan.
Kesulitan itu bukan hanya dipaparkan oleh alam, namun juga oleh cemoohan orang di pasar, ancaman pencuri kayu, hingga kemarahan Masyarakat Rimba karena Sokola dianggap membawa sial dengan membawa kematian. Namun layaknya membaca kisah epik pahlawan, Bu Guru Butet menunjukkan bahwa yang ia berikan kepada anak-anak bukan hanya ilmu calistung, namun juga cinta. Semisal madu hutan yang harus dipanjat oleh laki-laki dewasa dan harus diiringi dengan senandung mantra, begitu sakral dan murni.

Rasa cinta itu kemudian berbuah lebat sehingga Warsi (Komunitas Konservasi Indonesia), lembaga tempatnya bekerja sudah tak mampu mewadahi rasa cinta Bu Guru Butet. Sehingga bu Guru Butet mendirikan organisasi baru bernama Sokola, lembaga pendidikan yang perpihak pada masyarakat pribumi dan berfungsi untuk kehidupan. Saking lebatnya, kini ada dua belas tempat yang didampingi oleh Sokola dengan metode calistungnya yang mangkus.
Rasa cinta itu kemudian dinikmati oleh banyak pihak sehingga institusi seperti LIPI, UNESCO, Majalah Time, Ashoka Fellowship, World Economic Forum, Ernst & Young, dll. memberikan banyak penghargaan kepada Bu Guru Butet.

Bu Guru Butet menjadi guru dalam definisi favorit saya (gu; kegelapan, ru; penghilang). Beliau menghilangkan kegelapan masa depan Masyarakat Rimba dengan memberikan pengetahuan. Pengetahuan untuk kemerdekaan dan kebahagiaan hidup mereka sendiri. Secara misterius catatan harian Bu Guru Butet pun membiuskan rasa malu pada saya sebagai guru.
Profile Image for Khanifudin Efendi.
3 reviews3 followers
July 22, 2009
Sebuah buku yang sangat inspiring! Perjuangan Butet membuat sekolah untuk anak-anak Orang Rimba (OR) yang berasal dari catatan hariannya. Cerita sangat mengalir seolah-olah kita ikut "berkelana" di alam belantara OR.
Dengan bermodal nekad, akhirnya Butet mampu mendirikan Sokola Rimba bersama rekan2nya dengan segala perjuannya menghadapi protes baik dari OR maupun dari birokrasi setempat...

Kebetulan temanku ada yang pernah ikut mengajar di OR selama beberapa bulan, dan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Katanya kendala terbesar adalah masalah "shock-culture"..... jijik mungkin, tapi dari buku ini kita bisa lihat perjuangan Butet menaklukkan itu semua, dan dia mampu memposisikan dirinya di antara OR.

Great job Butet! So Inspiring! Sepertinya bakal keren juga kalo bisa diangkat ke layar lebar....
Profile Image for Arwin Purnama.
19 reviews1 follower
June 3, 2008
goodread beneran!
Dibaca beberapa kali bikin merinding...penasaran pengin ikutan terjun langsung di rimba, heee...
butuh keberanian dan keteguhan untuk bisa melakukan apa yang Butet lakukan untuk kehidupan suku-suku masyarakat adat.
Membaca buku ini membuat kita mereview kembali satu dari beragam masalah kebudayaan di Indonesia, termasuk masalah yang dialami Orang Rimba beserta keinginan mereka sebagaimana mereka adanya, tanpa dicampuri "tangan-tangan luar" yang merecoki dengan beragam iming-iming hasil modernisasi yang terkadang membuat "tidak bahagia"...
Profile Image for Ipung.
31 reviews4 followers
February 19, 2010
Dejavu..seperti pernah membaca buku ini sebelumnya tapi saya lupa. Lagi-lagi menginspirasi, dan memberikan perenungan bahwa 25 tahun saya terlewat tanpa sesuatu yang benar-benar berguna bagi lingkungan.
Profile Image for lovely-dee.
23 reviews7 followers
July 31, 2007
Do you think you care? Well, here you will find a journal of a woman who cares and do something about it.
Profile Image for dyah.
6 reviews5 followers
September 3, 2008
Gila!!!!
hanya bener2 manusia yang mau berjuang sampae di hutan
salut deh...
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
Want to read
December 13, 2008
Butet ini pernah nongkrong di kantin kan yah? Tempat member Human biasa berkongkow Ria. Wajahnya makin lekat setelah muncul di iklan layanan Kompas. betulkah?
Profile Image for Humairah.
14 reviews8 followers
April 7, 2011
saya malu... karena saat ini belum bisa memberikan kontribusi bagi anak2 rimba itu.. salut dg butet
Profile Image for Kelly.
410 reviews32 followers
March 23, 2024
I initially did not finish the book at 52% because though I was entranced by the author’s exciting jungle stories, I became bored and frustrated as she droned on about the difficulties of being a teacher, without addressing issues such as conservation or what helping native people really means or why she was even so intent to teach them. But by the end of the book, she had addressed all of my burning questions and I enjoyed the reading. Below is a continuation of the review after having read 52%, 75% and 100%.

***

DNF @ 52% (I may continue reading though)

It’s hard to rate nonfiction books because one must necessarily comment on real people and real events based on one’s opinions…but…

I have mixed feelings.

On the one hand, I love her jungle adventures.

On the other hand, I feel annoyed at her incessant attempts to educate the Orang Rimba. She never does it in a condescending way and she is full of love but to be honest I felt like she was just having fun hanging out in the jungle with them and wanted to convince herself that she had a legitimate reason to be there. What the Orang Rimba need, it seems, from even her own story, is not education but aid in protecting their jungle from loggers and plantations.

What if there was a “reverse” jungle school where city people learn to live in the jungle and we put money and resources into protecting and expanding their territory by reintroducing native species?

I find it sad that her attempts to educate them relate to them being cheated in working with city people. They shouldn’t even have to resort to working with city people. They should have their jungle in peace.

So while I found it fun to “hang out” in the jungle with her through her exciting diary, I couldn’t relate to her mission of educating them.

***
Continued to read. At 75% she addresses the concerns I had, which makes for a more sympathetic read.

Will review in full when finished with book.
***
Finished.

All of the concerns which arose in my mind during the first half of the book were thoroughly addressed in the last quarter of the book.

She talks about:
• directing resources toward conservation versus education
• ways in which education could be harmful, given the context of the situation
• purpose of education, ways in which it could be useful to the Orang Rimba
• students’ perspectives and desires
• subject of helping native tribes (or at least the Orang Rimba) — what constitutes as help and how the Orang Rimba feel about being helped, in what ways they want to or do not want to be helped
• current condition of the jungle
• foreseeable future scenarios for the Orang Rimba as well as the jungle

I was glad to see her address these more interesting topics, rather than merely detailing the stress of learning to teach small children (which I understand from personal experience but find rather trivial in relation to the scope of issues touched upon in her work).

Ever since I visited another Indonesian tribe, I’ve been pondering these topics on my own, with no one to talk to about them, because people feel weary at these heavier topics and prefer to hear wild jungle adventures instead, the kind heavily featured in the first third of the book. To most people who haven’t visited the jungle and who haven’t fallen in love with the people of the jungle, words like “deforestation”, “conservation” and “habitat loss” are either preachy or theoretical or both. And while there are some who are willing and even excited to discuss these topics on the level of environmentalism, none of them from my life has had any personal experience living in the jungle, so the conversation remains sterile as they are unable to feel from firsthand experience any emotional connection to the jungle nor to the people who live in it.

Reading this book, I felt like I was finally able to talk to someone about what’s been on my mind. The author provided rich insights but did not command any solutions or calls to action and I am content to process and reflect further on my own.
Profile Image for Jessy Ismoyo.
55 reviews
December 25, 2018
“Menjaga hutan memang sulit sekali, orang pemerintah saja tak bisa. Apalagi saya yang baru bisa baca tulis dan hitung.” -Peniti Benang

Catatan Peniti Benang yang Butet Manurungberikan pada Iwan Fals untuk dijadikan lagu. Tentunya seizin Peniti Benang.

Semua orang itu guru. Semua orang itu murid. Sama. Bedanya di kerelaan kita mengasah kemampuan untuk mendengar. Buku ini membuat saya menangis. Bukan sedih, tapi terharu. Buku ini apa adanya. Catatan harian, ceritera pergumulan tiap hari.

Setelah membaca buku ini, saya mau melakukan lebih. Utamanya, lebih setia dan panjang sabar menghadapi situasi kelas sehari-hari. Diingatkan lagi, perubahan justru terjadi pada kelas-kelas kecil yang saya lalui tiap hari. Oh ya, buku ini juga membuat saya dimengerti sebagai pengajar. Bahwasanya, wajar jika pengajar kehilangan kesabaran dalam mengajar. Boleh mengeluh, boleh ditertawakan murid, boleh mengumpat, boleh menangis, boleh lelah. Tapi, yang tidak boleh adalah menyerah.

“Gurunya saja belum merdeka, bagaimana nasib pendidikan?” Begitu dikutip dalam halaman buku ini. Butet, terima kasih ya. Saya jatuh cinta dengan pendidikan, kelompok masyarakat adat, dan antropologi karena buku ini. Ketika baca bagian akhir di mana Butet menceritakan soal murid-muridnya, banjir air mata saya. Sepertinya harus makin banyak lagi guru-guru menuliskan kisahan mereka tentang murid-muridnya yang bukan sekadar “pamer” semata karya-karya hebat mereka. Tapi, menceritakan kembali bagaimana proses karya itu hadir di tengah-tengah hubungan keduanya.

Saya menutup ulasan emosional ini dengan perkataan Linca dalam Epilog buku ini: “Ibu, kalau hanya mengajarkan orang lain baca-tulis, aku tidak mau. Aku mau belajar terus, aku ingin tahu semua ilmu, semua kejadian di dunia ini. Itu adalah ujaran Linca pada Butet. Semoga kita mau terus belajar dan dipanjangkan sabarnya untuk mengajar. Semoga keluh bisa ditahan dan kita bisa tetap jujur dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tidak curang dan mencurangi sistem hanya karena mencari mudah. Semoga.
Profile Image for Chels.
189 reviews3 followers
July 13, 2025
⭐ 4,5

Buku Sokola Rimba berisi catatan harian Butet sebagai fasilitator pendidikan WARSI untuk mengajarkan baca-tulis kepada Orang Rimba, pergulatan hati akan tujuan pendidikan, serta pendirian Sokola Rimba. Format layaknya diari memberikan suasana santai. Tak hanya menuliskan progres aktivitas pendidikan yang serius, Butet kadang menyampaikan hal-hal kecil berkehidupan dalam petualangannya di rimba. Hampir seluruh halaman menceritakan perjalanannya selama menjadi fasilitator pendidikan di WARSI. Namun, konflik mulai terasa ketika Butet mempertanyakan tujuan pendidikan yang dibutuhkan Orang Rimba dengan tujuan pendidikan yang diusung WARSI. Jujur, aku turut kesal ketika membaca respons WARSI karena rasanya mereka tidak memihak Orang Rimba. Mereka seperti hanya melihat Orang Rimba sebagai objek yang harus melakukan apa saja kehendak lembaga.

Perjalanan Butet yang akhirnya mengundurkan diri dari WARSI dan berusaha membangun Sokola menjadi turning point yang mendebarkan. Perjuangan yang tidak gampang sampai bikin miskin itu akhirnya mendapat jawaban. Pendirian dan pembelajaran di Sokola terasa dramatis sekaligus romantis. Yang membuat hatiku betul-betul tergerak adalah kisah Mijak dan Pengendum. Mereka membuat peasaanku penuh akan rasa bangga, bahkan terharu.

Kisah Butet dan Orang Rimba sangat menginspirasi. Kita harus memandang sesuatu dari berbagai perspektif, terutama dari pihak yang akan kita pengaruhi. Kita tidak bisa serta-merta memberikan pengetahuan tanpa mengenal mereka. Kita tidak boleh memaksa segala sesuatunya sesuai kehendak kita. Hal utama yang perlu menjadi dasar sikap dan pilihan kita adalah kebutuhan dan keinginan mereka. Kita hanya perlu memfasilitasi mereka untuk mencapai kebutuhan dan keinginan tersebut, bukan memaksa mereka menerapkan hal yang jelas tidak mereka butuhkan atau justru hal yang dapat menghambat mereka.
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
November 7, 2017
Terpukau dan waw keren. Tapi saya lumayan lama baca buku ini gara-gara sakit-sakitan dan mungkin juga bosan. Hehe. Habis, betul-betul kayak catatan. Setelah membaca saya bertanya-tanya, apakah yang disebut ‘pedalaman’ itu, sekarang, masih ada? Dan buku ini terasa nyambung sama omongan-omongan yang sering saya dengar soal lingkungan. Dalam buku ini, Mbak Butet nggak sepakat dengan para konservasionis yang mengesampingkan pendidikan buat komunitas adat. Soalnya, komunitas adat itulah yang tinggal di dalam hutan dan bergantung kepadanya. Karena itu, sebenarnya konservasi hutan bisa dibantu sama komunitas adat. Tapi pendidikan yang Mbak Butet kasih tidak bermaksud mengarahkan komunitas adat untuk bersikap kemana sih. Kupikir pendidikan itu satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh kalau mau bertahan hidup di bumi yang hutannya tinggal dikit ini. Pendidikan membantu mereka untuk memahami pilihan-pilihan yang tersedia dengan kondisi bumi yang seperti sekarang, dengan modernisasi dan bla-bla-bla-nya. Belakangan, saya jadi mikir, jangan-jangan kiamat itu terjadinya pelan-pelan ya. Jadi satu hari ketika malaikat meniupkan sangkakala itu semacam klimaks dari konfliks yang sudah bertumpuk-tumpuk: pembukaan lahan hutan, pembakaran hutan, ilegal logging, penurunan biodiversity, naiknya suhu, mencairnya salju di kutub, naiknya permukaan laut, banyaknya sampah, menipisnya ozon. Wih kalo gitu saya pikir keren juga ya cara kerjanya bumi ini. Logis. Eh, bahkan mungkin nggak ada tiupan-tiupan malaikat. Cuma aja hancur lebur, jadi taik. Terus udah deh. Tapi bukan berarti jadi cuek-cuek ya. Toh udah dikasih kesempatan hidup, absurd memang, tapi ya udahlah, jalanin (bertahan—ber-ju-ang) aja. Sebab, mati belum tentu lebih baik.
Displaying 1 - 30 of 135 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.