What do you think?
Rate this book


320 pages, Paperback
First published January 1, 2003
”Untuk apa membeli sesuatu yang pasti akan mati” – The Painted Veil
Sebagai penggemar bunga, saya tak pernah bisa memberi jawaban pasti bila ada teman yang menanyakan kegemaran saya ini. Terutama bagi teman-teman yang tahu kalau saya berlangganan bunga. Setiap lima hari sekali, satu buket besar bunga pasti akan datang ke rumah, yang kemudian saya taruh dalam vas-vas besar di beberapa sudut. Sebuah pemborosan di mata beberapa teman yang tak suka dengan bunga.
Tapi kemudian, buku Warna Tanah ini memberi ide bagaimana saya menjawabnya:
Bunga dan wanita tak ada bedanya. Wanita juga merekah. Kau bisa melihat tanda-tandanya. Melihat bagaimana tubuhnya berayun seperti ranting-ranting lentur pohon dedalu di bulan Juni.
Bunga bisa menjadi simbol bagi pribadi seorang perempuan. Ehwa, tokoh utama dari cerita ini, digambarkan sebagai sekuntum bunga hollyhock:
Ehwa sekarang berumur 13 tahun. Ia menjelma jadi sekuntum bunga, menggetarkan udara. Mulai sekarang, setiap kali basah kuyup oleh hujan, tubuhmu akan merekah bagaikan kelopak merah jambu bungahollyhock.
Sementara bagi ibu Ehwa, janda pemilik kedai minum yang selalu digoda oleh pelanggannya, bunga labu adalah bunga yang tepat untuk merepresentasikan dirinya:
Di dalam sekuntum bunga labu/ Kerinduan lebih luas daripada nirwana/ Di dalam sekuntum bunga labu/ Penantian lebih lama daripada malam/ Di puncak gerbang/ Di puncak genting/ Sebuah lentera dinyalakan/ Seorang wanita siap dengan dandanannya dan menantikan sang kekasih dengan penuh hasrat.
Bunga juga bisa mewakili kekerasan hati perempuan yang jatuh cinta namun bertepuk sebelah tangan:
Kamelia benar-benar bunga yang tahan cuaca. Mereka nyaris kelihatan seolah-olah begitu tak sabar menantikan seseorang. Namun mereka sangat lelah dengan penantian itu hingga berubah jadi merah. Itu sebabnya Kamelia juga bunga yang konyol – kamelia satu-satunya bunga yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tak peduli betapa indah bunga kamelia menghias dirinya, tak satu pun kupu-kupu akan mendarat di kelopaknya, bahkan sampai kuntum bunga terakhir telah merekah. Ketika kupu-kupu keluar, bunga-bunga ini sudah terlelap. Sebab hanya ketika kupu-kupu tertidur bunga-bunga ini menjadi hidup.
Puisi demi puisi mengalir dan menjalin satu cerita dalam buku ini. Tidak hanya tentang bunga, tapi juga tentang hujan:
Bukan hanya hujan yang berderai di luar. Melainkan sungguh suara langkah kaki seseorang. Pasti begitu. Jika tidak, bagaimana aku dapat menjelaskan kegelisahan yang kurasakan di dalam hatiku dari suara hujan musim semi ini?.
Semua simbol yang hadir dalam cerita ini menjelaskan diri dan perasaan perempuan secara apik. Bahkan tentang hasrat dan bagian tubuh paling pribadi mereka. Sehingga saya tak segan untuk merekomendasikan buku ini sebagai bahan pendidikan seks untuk anak-anak. Karena, simbol-simbol yang digambarkan dalam buku ini bisa menjelaskan hubungan antara laki-laki dan perempuan secara tersirat, namun jelas maknanya.
Selain bunga dan hujan, ada satu hal lagi yang membuat saya jatuh hati pada buku ini: resep lulur dari kacang merah tampaknya boleh juga buat dicoba…hehehe…(lits)





