Benjamina ‘Ben’ Franklin beranggapan bahwa mendapatkan cowok lebih susah daripada pekerjaannya yang hanya menulis berbagai artikel berupa tips dan cerita pribadinya di majalah gaya hidup, ‘Filly’. Walaupun mempunyai ibu yang pernah menikah tiga kali dan yang saat ini sedang berkencan dengan pria manapun yang bisa dikencani, Ben tetap tidak bisa mendapatkan pria idamannya. Terlebih lagi adiknya Audrey akan menikah, yang artinya akan mendahuluinya terlebih dahulu. Belum lagi sahabatnya Kiki, cewek molek dan cantik yang juga sama anggapannya dengan Ben. Menurut Ben, menemukan cowok yang benar-benar bisa diajak untuk ‘berkomitmen’ walaupun hanya terikat sebatas kata ‘pacar’ itu sangat susah.
Sampai pada suatu malam, ketika menghadiri suatu pesta bersama Kiky dan segenap artis dan jurnalis yang menghadiri pesta. Ben menemukan seorang cowok yang cocok untuk diajaknya berkenalan—walaupun Kiky menilai ia ‘homo’. Cowok itu ganteng, tinggi, tegap, dan kelihatan tidak tertarik dengan pestanya. Akhirnya, dengan berlagak seakan kehilangan teman, Ben sukses berkenalan dan memberikan nomor teleponnya ke cowok yang memperkenalkan dirinya sebagai ‘Max’.
Max, yang merupakan cowok pemilik suatu brand pakaian yang dibuat untuk anak muda, akhirnya menjalani suatu hubungan tanpa adanya status ‘pacar’. Max memperlakukan Ben dengan amat sangat manis, membawanya ke beberapa konser, membuatnya ikut berlibur ke suatu tempat, membuat acara-acara kencan ke suatu bar, tapi tanpa adanya suatu status ‘pacar’. Dan pada suatu hari, Ben mengetahui bahwa umur Max baru 20 tahun, yang notebene tujuh tahun lebih muda darinya.
Karena perbedaan usia yang cukup jauh dan hasutan teman-teman dekatnya yang mengatakan bahwa Ban layak diputuskan karena sudah bertingkah laku brengsek dengan menggantungkan hubungan mereka dan sepertinya tidak mau berkomitmen walaupun hanya mengatakan mereka ‘Berpacaran’, mau tidak mau Ben tergoda untuk memutuskan Ben, apalagi masih banyak sederet nama cowok yang mengejar-ngejarnya untuk diajak kencan. Tapi mengingat-ingat kembali hal-hal yang telah ia lakukan dengan Max, banyak hal, ditambah lagi Max yang terlalu ganteng dan sayang untuk ditinggalkan begitu saja, Ben urung memutuskan Max.
Suatu ketika, Ben nekat menanyakan kelanjutan hubungan mereka. Ben berpikir, semuanya akan berjalan dengan mulus dan mudah, Max akan menganggap mereka berpacaran, mereka akan tetap bersama-sama, dan berbagai hal indah lainnya yang sudah dibayangkan Ben. Ternyata, Max malah uring-uringan dan bertingkah tidak dewasa—sama seperti umurnya—di luar itu, Max juga menjauh dari Ben. Berhenti menghubungi Ben, dan sebagainya. Ben pun memulai lagi kehidupannya seperti ketika ia belum bertemu Max.
Sempet penasaran juga dengan novel ini karena terpancing duluan sama covernya yang mirip banget kayak majalah-majalah. Sempat bertanya-tanya, ‘Ini majalah? Tapi kok di belakangnya ada sinopsisnya?’ But, Thanks God, ternyata nggak cuma aku aja yang terjebak dengan covernya. Teman-teman yang lain juga sempat ngira ini tuh bukan novel. Oke, terkait dengan jebakan-jebakan tadi, saya mengira novel ini juga bakalan ada tips-tips yang ‘berguna’ buat menggaet cowok cute—oke, bukannya saya ingin menggaet cowok cute atau apa, tapi kalo tipsnya emang oke, boleh kan direkomendasikan ke teman-teman lainnya?
Dan ternyata setelah saya baca, Benjamina kan emang jurnalis, dan ia bertugas untuk mengisi kolom-kolom tips dan beberapa pengalaman pribadi, emang ada beberapa halaman yang ada tips-tips yang disusun kayak di majalah-majalah, tapi nih kalo menurut saya tipsnya bener-bener khayal, imajiner, irasional, nggak realistis, dan bener-bener nggak bisa ditiru di kehidupan nyata. Selain itu, benar-benar berisi hal-hal yang bersifat pribadi. Oke, saya tahu, harusnya saya nyadar kalo ini novel fiksi bahkan termasuk tips-tipsnya.
Sejujurnya, saudara-saudaraku sekalian, saya nggak suka banget sama ceritanya. Dimengerti sih dimengerti, hanya saja ada sesuatu dalam cerita ini yang bikin saya nggak suka sama buku ini.
Oke, pertama, sebenarnya kalo menurut pandangan saya, nggak masalah kalo kita—cewek-cewek—mempunyai pacar yang berusia jauh lebih muda daripada kita. liat di infotainment-infotainment. Jadi, kalo menurut saya, penulis terlalu membesar-besarkan masalahnya Ben yang sedang berhubungan dengan cowok yang jauh lebih muda dari dia. Jadi, selama saya membaca buku ini, mau nggak mau saya jadi menyalahkan Ben terus-terusan gara-gara dia—entahlah, kalo menurutku sih—terlalu dangkal padahal dia adalah seorang jurnalis untuk majalah lifestyle. Dan yang hampir jadi sorotanku adalah, ketika adiknya Ben—yang mau menikah mendahului kakaknya—tiba-tiba saja berselingkuh, oke, nggak benar-benar berselingkuh sih, cuma berselingkuh buat semalaman itu aja. Aku tahu, aku tahu, ia mabuk, tapi dia bisa kan bilang ‘aku akan menikah’ di sela-sela obrolannya dengan cowok selingkuhannya pas lagi mabuk? Apalagi sampai ketahuan calon suaminya saat tengah berciuman dengan selingkuhan-semalamnya. I mean, that’s so stupid. Trus ujung-ujungnya juga nggak jelas, apakah adiknya Ben nggak jadi menikah dengan tunangannya, apakah adiknya Ben akhirnya berantem sama tunangannya, karena endingnya diceritain kalo adiknya Ben pergi berlibur and that’s it!
Terus juga ceritanya Kiki, di buku diceritakan kalo Kiki bertemu dengan cowok yang menurutnya pas dengannya saat tiba-tiba cowok itu jatuh dari pohon hendak menyelamatkan kucing yang nggak bisa turun. Mereka berkenalan, lalu mereka berhubungan seks. Astagaaaaaa, terkesan murahan sekali kalau aku bilang. Kesannya adalah Kiki terlalu cepat untuk memutuskan bahwa ia adalah lelaki yang ‘pas’ untuknya.
Endingnya Ben sendiri adalah, setelah pertengkaran kecil mereka Max akhirnya menelepon Ben. Di saat Ben sudah mulai move on—walaupun belum sepenuhnya melupakan Max. Max akhirnya menelepon Ben, mengakui bahwa ia menyesal, ia ingin membicarakan hubungan mereka berdua, dan ia tidak benar-benar bisa melupakan Ben. Yaya, tertebak sekali saudara-saudara, bukan begitu? Seharusnya dari awal juga sudah ngira bahwa cerita ini bakalan berakhir klise. Dinilai dari pertemuan, kisah cinta, dan bagaimana mereka mengakhiri hubungan mereka.
Satu hal aja sih yang patut ditiru dari Ben, she plays hard to get and yet hard to forget. Jangan lupakan kehidupan lengkap-mu, maksudku kehidupan ketika kau belum menemukan seseorang yang bisa mengalihkanmu dari kehidupanmu sebelumnya.