Saya nggak ingat, sebelum ini kapan terakhir saya baca buku Mira W. Jangan2 saat SMA, yaitu udah puluhan tahun silam. Sebagai remaja yang saat itu kurang bacaan, kalau dengar nama "Mira W" jadi timbul rasa penasaran dgn dunia mahasiswa (kedokteran) dan kehidupan rumah tangga dewasa muda. Kisahnya nggak selalu manis, pasti ada konflik yg bikin satu pihak tersakiti. Pokoknya garis besarnya begitu, karena saya nggak bisa ingat satu pun isi buku pengarang ini dari ujung ke ujung.
Di iJak, ada cukup banyak judul buku karangan Mira W, namun kok ya stok selalu kosongan daftar antrean pembacanya panjang. Nah, beberapa hari lalu ternyata buku ini bisa saya pinjam. Kemarin saya baca sambil menunggu pembukaan seminar revitalisasi hubungan Nalanda-Sriwijaya. Hari ini selesai, saya beri bintang 2,5.
Inti cerita gampanglah. Cinta segitiga Riri (mahasiswi kedokteran) dgn Bandi (pengidap kelainan jantung bawaan) dan Haris (abang Bandi yg bintang TV terkenal). Bandi yg jarang bisa gaul jatuh cinta pada Riri, tadinya Riri juga berpikir jatuh cinta pd Bandi, sebelum interaksi dgn Haris malah membuatnya mabuk kepayang.
Kalau melihat tahun edisi ini terbit, 1999, wajar saja bila cerita ini punya beberapa aspek kekinian, misalnya ponsel. Di sisi lain, latar ceritanya masih kental aroma tahun 80an (tidak heran karena aslinya memang terbit tahun 1981), seperti orang tua kelas atas yg otoriter tapi juga permisif thd efek pergaulan bebas, juga ungkapan ttg kemampuan berdansa sbg indikator pergaulan. Dialog2 yg terjadi juga terasa sebagai produk masyarakat kota besar Indonesia abad 20 dibandingkan dunia kontemporer.
Saya suka karena nama tokoh2 di cerita ini masih sangat biasa, nama orang Indonesia kebanyakan: Riri, Haris, Bandi, Fani, Tanti, Nurdin, Doni, dkk. Saya juga jadi diingatkan bahwa alur cerita2 Mira W terasa cepat, tidak pakai kata2 berbunga atau kisah yang diseret2. Tetap saja saya tidak bisa terima saat kesimpulan bahwa Riri hamil, sudah langsung disampaikan di halaman yg sama dgn usainya ia berhubungan badan dengan Haris utk pertama kalinya.
Baik Riri maupun Haris memang disiratkan sbg orang yg tidak "polos" saat pertama kali bertemu. Masing2 sudah biasa punya pacar dan entah apa yg mereka lakukan dgn pacar2 itu. Tapi bayangkan ini: usai berhubungan badan pertama dgn Haris, masih sambil bersimbah peluh, Riri langsung diketahui hamil tanpa pembaca diberi istirahat atau deg2an dulu. Sepertinya normal saja jika tiap melakukan "itu" dgn selingkuhan (dan calon kakak ipar sendiri), maka si perempuan pasti telak2 mengadung bayi. Karena plotnya memang dibuat supaya makin cepat Riri hamil, makin mudah menghadirkan konflik dgn Bandi, ya sudahlah, terserah pengarang.
Begitu deh. Saking udah lama juga saya nggak perhatian pd acara televisi, saat selesai baca buku ini dan membaca review pembaca2 lain di Goodreads, saya baru tahu bahwa ada sinetron yg dulu pernah diangkat dari kisah ini. Katanya yg main Desy Ratnasari, Primus Yustisio dan Atalarik Syah. Kalau dibandingkan dgn Primus yg Manusia Milenium, sosok Atalarik kayaknya memang cocok dikasih peran sebagai Bandi yg ganteng tapi "badan selembar" sebagaimana deskripsi di buku ini, hehee...
Mau baca buku Mira W yg lain ah. Misal Arini yg nunggu kereta trus ketemu mantan Gubernur Banten #eh.