Jump to ratings and reviews
Rate this book

Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?

Rate this book
Siapa yang datang ke pemakamanku saat aku mati nanti?

Satu pertanyaan sederhana itu membuat Kim Sang-hyun banyak berpikir tentang hidup dan segala persoalannya.

Buku ini adalah catatan kecil sang penulis yang berusaha untuk hidup sedikit lebih baik, sedikit lebih bahagia, sedikit lebih sejahtera. Ditulis dengan gaya bahasa yang tenang dan jujur, Kim Sang Hyun mencoba menyampaikan kehangatan, memberikan penghiburan, dan menumbuhkan kekuatan bagi pembaca untuk menjalani hidup, meraih mimpi, juga mengatasi kekecewaan dan berbagai perkara hidup sehari-hari.

168 pages, Paperback

Published October 1, 2020

194 people are currently reading
2351 people want to read

About the author

Kim Sang-hyun

6 books13 followers
Associated Names:
* 김상현 (Korean)
* Kim Sang-hyun (English)
* คิมซังฮยอน (Thai)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
361 (27%)
4 stars
566 (43%)
3 stars
315 (24%)
2 stars
48 (3%)
1 star
12 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 320 reviews
Profile Image for yun with books.
717 reviews243 followers
November 4, 2020
Memutuskan untuk memberi rating 3 bintang untuk si mungil berwarna hijau ini.
Aku termasuk orang yang mudah tergiur dengan judul buku yang WAH , dan buku ini termasuk dalam kategori tersebut. Aku mengikuti pre order untuk buku ini dan sangat antusias untuk membacanya.

Jadi, Siapa Yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? ini adalah buku motivasi yang isinya, kurang lebih begini:

Buku setebal 160 halaman ini secara penuh membahas kata-kata motivasi dari pengalaman penulisnya sendiri. Motivasi si penulis untuk menjadikan kita pembaca sebagai "teman" yang ngobrolin tentang supaya tidak insecure, selalu happy dan perasaan-perasaan positif lainnya patut diapresiasi.
Untuk kalian yang suka katakata motivasi ala Mario Teguh tapi versi Korea, buku ini cocok banget.
Untuk kalian yang gemar meng-highlight kutipan-kutipan motivasi untuk dijadikan status di Twitter, Facebook atau media sosial lainnya, buku ini cocok banget.

Tapi, buatku buku ini bertolakbelakang dengan ekspektasiku, aku pikir dari judulnya saja buku ini akan berisi cerita fiksi-filosofis yang akan membuat aku berpikir, "Gila! Buku ini mindfuck banget."
Ternyata, oh ternyata.

Aku mengapresiasi tulisan dari penulisnya yang mudah diresapi dan dimengerti.
Ya, ringan aja gitu. Aku berusaha membacanya pelan-pelan, mengikuti instruksi dan testimoni di awal halaman buku. Agar bisa meresapi pesan dan maksud dari si penulis. Tapi memang, menurutku buku ini tidak begitu "menyentuh" hati. Good but not special.

Salah satu kutipan yang paling aku suka dari buku ini:
"Salah satu tragedi dalam persaingan adalah menjadikan kemalangan orang lain sebagai sumber kebahagiaan dirinya sendiri."


Kutipan bagus dan memotivasi masih banyak dan segudang di buku ini.
Profile Image for Utha.
824 reviews402 followers
March 31, 2021
Buku yang mudah dicerna, berisi pemikiran-pemikiran penulisnya, Kim Sang-hyun. Aku cukup nggak setuju kalau buku ini dilabeli dengan "buku motivasi" sih. Terasa amat sangat aneh ketika seseorang memotivasi orang lainnya untuk berbuat "baik". Hmm... kayak gimana ya... padahal isi buku sendiri ini kan sekadar sharing pengalaman dan gagasan dari penulis. Kalau memakai kata itu, memotivasi, "hubungan antarmanusia" yang sangat digadang-gadang di buku ini bisa luntur. Memangnya kamu baik harus ada alasannya, ya? Ya manusia memang seperti itu sih, tapi kesannya baiknya "kamu" nggak organik, haha.

Terus terang aku lupa kapan membeli buku ini. Sekonyong-konyong sudah ada di rak buku, hehe. Karena tipis akhirnya aku baca deh, mumpung lagi ambil cuti juga.

Buku dengan judul nyentrik ini ternyata berisi gagasan-gagasan tentang hubungan antarmanusia yang ada di benak penulis. Membuat pembaca ikut berpikir, apakah dirimu sudah berbuat baik terhadap orang-orang baik di sekeliling. Dan mungkin dari situ benang merah akan judulnya: siapa yang datang ke pemakamanku nanti?

"Aku sudah memutuskan untuk hanya memperhatikan orang yang masih berada di sisiku meski aku melakukan kesalahan, dan mengabaikan mereka yang meninggalkanku. Aku juga tidak akan melupakan teman-temanku yang berharga, yang menerangiku saat berada pada masa-masa sulit." - hlm 118

Kutipan di atas entah kenapa secara nggak sadar bikin aku tersenyum sumir. Mungkin tergelitik pengalaman yang pernah kualami.

Oh iya, FYI buku ini terdiri atas empat bab:
1. Kesalahan
2. Hati yang Hilang
3. Sejarah
4. Semoga Itu Kebahagiaan.

Dan dari empat bab tersebut, favoritku yang terakhir. Dan yang paling aku suka adalah subbab berjudul Latihan Mengurangi Kekuatan. Membaca bagian itu bikin aku merasa terhubung sekali dengan pemikiran Kim Sang-hyun karena prinsipku dalam merajut hubungan antarmanusia juga seperti demikian. (Ah, atau mungkin aku yang sok-sokan nyambung-nyambungin nih!!!)

Buku yang bisa dibaca kala senggang.

"Aku ingin merawat kebahagiaan di sekelilingku, satu per satu, lalu menanamnya dalam hati. Kuharap, kebahagiaan yang telah aku kumpulkan itu bisa tumbuh dengan cepat, agar aku bisa bahagia setiap hari, bahkan saat kehidupan ini tidak penuh dengan kebahagiaan." - hlm. 164
Profile Image for Lunar Angel.
79 reviews12 followers
May 7, 2021
Membaca buku ini seperti sedang mendengarkan kisah seorang sahabat yg sangat mirip dengan mu. 🤗

Aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan buku ini bukan karena bukunya yang jelek atau membosankan namun setiap bagian sangat penting untuk direfleksikan sehingga kita bisa merasa lebih sadar tentang apa gunanya kita hidup dan apakah kita sudah hidup dengan baik sehingga akan ada orang yg datang di pemakaman kita kelak?

Banyak part dalam buku ini yg seperti relate dengan kehidupan ku sehari-hari. Saking relate nya, banyak sekali sticky note yg aku tempel dlm buku ini ( ada berisi curhatan maupun pengalaman pribadi😅), banyak juga bagian yg aku tandain dengan stabilo.

Sebenernya banyak sekali quote dalam buku ini yg aku tandai. Tapi aku bakal tulis beberapa di sini :

“Semua peristiwa memiliki alasan” ~hlm 153

“Satu-satunya cara agar orang sepertiku ini tidak kecewa adalah dengan berpikir bahwa, tidak ada seorang pun di dunia ini yang baik-baik saja.” ~hlm 144

Overall 4.3 🌟
Profile Image for Liliyana Halim.
310 reviews240 followers
February 25, 2022
Selesaiiiii! 🤩🤩🤩 aku kirain bakalan susah dipahami ternyata nggak sama sekali. Aku memakai cara kedua untuk membaca buku ini jadi lebih terasa seperti diingatkan lagi untuk cerita setiap babnya. Banyak bab yang aku sukai dan tandai jadi aku nggak bisa milih mana yg favorit 🤭 pokoknya kalau suka baca, bacalah ini 👍🏼.
Profile Image for Shanifiction.
221 reviews71 followers
August 11, 2022
Rating 3.5

Akhirnya kesampaian juga baca buku ini. Udah lama penasaran karena tertarik sama judulnya. Terus covernya juga bagus. Terus apakah aku suka buku ini?

Well, ternyata gak sesuai ekspektasi aku. Kalau baca dari judulnya, aku kira buku ini bakal fokus bahas kematian gitu, gimana kita sebagai manusia menghadapi kematian, gitu-gitu deh. Ternyata judulnya gak mencerminkan isi bukunya.

Terlepas dari judulnya, isi bukunya sendiri lebih ke pemikiran/pengalaman penulis tentang hidup yang diharapkan bisa memotivasi pembacanya agar hidup lebih baik, gak insecure, cemas, overthingking, gimana mencari kebahagian/hidup versi kita sendiri dan fokus pada hal-hal positif. Bahasa yang digunakan juga ringan, sehingga apa yang disampaikan mudah dipahami. Terjemahannya bagus, nggak terasa kaku. Cuma beberapa pembahasan menurut aku terasa seperti diulang-ulang, sehingga agak membosankan.

Walau gak sesuai ekspektasi, aku masih menikmati baca buku ini kok. Aku merasa apa yang disampaikan oleh penulisnya memang relatable. Kalau baca buku ini, aku sarankan bacanya perlahan gitu, biar lebih merasapi dan ngena. Terus bacanya juga gak harus berurutan, bisa dibaca acak karena gak saling berhubungan.

Aku rasa buku ini bakalan cocok kalau kalian suka tipe buku yang memotivasi dan ringan, terus lagi ngerasa cemas sama hidup, karena pas baca buku ini kalian bakalan ngerasa gak sendirian ngalamin perasaan-perasaan itu.
Profile Image for Marina.
2,041 reviews359 followers
October 29, 2020
** Books 125 - 2020 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020

4 dari 5 bintang!


Sejujurnya aku tertarik memesan buku ini dikarenakan judulnya yang kontroversial dan membuat ingatanku melayang ke tahun 2009 dimana waktu itu aku mendaftar salah satu organisasi pemuda internasional dan ketika kita disuruh mengisi Personal Goal Setting/PGS ada pertanyaan ini ketika kamu meninggal kamu ingin orang-orang yang datang ke pemakamanmu mengingatmu sebagai orang yang seperti apa? Pertanyaan ini membuatku tergelitik dan sejujurnya belum pernah memikirkan hal sedalam ini. Membaca judul buku ini pertama kali membuatku flashback ke ingatan masa laluku itu. Selain itu di masa pandemi yang membuat kehidupan di masa depan semakin tidak jelas membuatku membutuhkan banyak membaca buku-buku self help yang menguatkan hati dan pikiran untuk tetap waras.

Setelah membaca buku ini benar dong banyak hal yang aku jadi memikirkan kehidupan secara seksama. Misalnya gimana kita tidak menjadi seseorang yang merasa paling benar yang tidak memaksakan pikiran dan pendapat. Kita harus memiliki keberanian untuk tetap membiarkan telinga dan pikiran untuk terbuka setiap saat (halaman 41),

bahkan ini adalah salah satu kutipan favoritku yang membuatku teringat sama lagu Paradisenya BTS.
"Jangan berpikir terlalu keras, mari lihat sekeliling kita. Bertahan untuk tetap bersemangat dan tidak hancur itu memang penting. Tidak perlu lama, istirahatlah sebentar saja. Kamu boleh, kok, beristirahat saat kamu sudah berjalan jauh dan merasa sulit melangkah lagi" (Halaman 93)

Lirik Paradise - BTS (https://www.youtube.com/watch?v=obH7i...)
"It’s okay to pause
There’s no need to run without knowing the reason
It’s okay not to have a dream
as long as there are your moments to briefly feel happiness
It’s okay to pause
We now don’t run without knowing the purpose
It’s okay not to have a dream
Every breath you exhale is already in the paradise"

Dan lagi-lagi buku ini bener-bener relate sama pengalamanku di masa pandemi dimana kita jadi mengetahui siapa orang-orang yang berharga dan pantas kita abaikan.
"Aku sudah memutuskan untuk hanya memperhatikan orang yang masih berada di sisiku meski aku melakukan kesalahan, dan mengabaikan mereka yang meninggalkanku. Aku juga tidak akan melupakan teman-temanku yang berharga, yang menerangiku saat berada pada masa-masa paling sulit. Aku akan berusaha untuk menyinari mereka dengan cahaya yang lebih terang dan memperlakukan mereka dengan lebih baik lagi. Jika mereka berjalan melalui kegelapan yang dingin, aku akan mengulurkan tanganku agar mereka tidak tersesat. Aku akan menjadi cahaya yang paling terang dalam kegelapan dan memberikan semua kehangatan yang kumiliki agar mereka tidak kedinginan" (halaman 118)

Masih banyak hal lain tentang kehidupan, kebahagiaan diri, bagaimana kompleksnya hubungan kita dengan antar manusia yang dibahas didalam buku ini. Aku hanya berharap kalian tetap bahagia selama pandemi ini dan menemukan kunci jawaban pertanyaan dari judul buku ini ya teman-teman

Terimakasih Penerbit Haru!
Profile Image for h.
375 reviews149 followers
August 12, 2023
4.5⭐

Kalau diparafrase judulnya, buku ini berisi hal yg menjawab "kamu mau dikenang seperti apa kalau sudah tidak ada lagi?"

Bukunya tipis tapi bacanya serasa lagi dinasehatin sama penulis. Ini buku ringan yg perlu dibaca buat tau kalau berhenti sejenak bukan berarti kita memilih nyerah. Dan my personal opinion juga, aku harusnya baca bukunya dari halaman akhir dulu karena lebih relate dengan aku.

"Sama seperti aku tidak hidup sesuai keinginan orang lain, orang lain juga tidak hidup sesuai dengan keinginanku. Sesederhana itu. Kita semua bertindak dan hidup sesuai dengan minat dan keinginan masing-masing." - hal. 73
Profile Image for Nafa Aurellia.
106 reviews17 followers
May 7, 2021
2.5/5

This book has potential, but I'm not the right market for this.

This is very easy to read. Very short. You can finish this book in one sitting unless you want to reflect and contemplate on each chapter. I can see why some people give this 5/5, but I'm not one of those.

Unfortunately, I don't get anything from this book. Not even joy. Not even emotional attachment. This book is just meh. Not bad but also not impressive in any way.

The storytelling is not my cup of tea. The stories are way too short for me to build any emotional bonding. It lacks research, purely personal thoughts of the author. I also don't get anything insightful from this book. As for me, the author only provides classic messages.

"You have to be kind"
"You can't compare yourself to other people"
"You need to appreciate little things"

With cliché messages and poor storytelling, I can't get myself to love this book.

The title is also very misleading. The first time I heard about this book, I thought it was a very interesting topic to talk about. I expected a philosophical story to contemplate about my death and what I've done in this world, but no. Only one chapter of this whole book that actually talks about death. The others are mostly advice for you to be kind and live a fulfilling life so that you won't regret it at the end of your life.

Simply speaking, this could be a good book but it's not my cup of tea.
Profile Image for Vioo.
121 reviews12 followers
February 14, 2022
3.75 stars
pas baca judul bukunya, gue kira bakal ngebahas tentang kematian dan kehidupan. ternyata isinya lebih banyak bahas tentang kehidupan dan cara menikmatinya. tapi sumpah, buku ini menenangkan bgttt bikinn gue nangis terharu. tapi ada juga beberapa bagian yg kaya cuma oh okay.
Profile Image for Ridha Amalia Nur.
126 reviews25 followers
December 29, 2020
Salah satu buku nonfiksi yang aku baca di tahun ini dan kesannyaaa hmmm lumayanlah. Lumayan menghangatkan tapi gak bikin aku berkaca-kaca padahal aku expectnya bakalan nangis.

Baca ini seperti lagi baca diari temen yang super random dengan segala pemikirannya yang relatable bgttt. Pasti kita semua juga sering mikirin ini : tentang gmna caranya menjadi baik tanpa disepelekan, ttg menjalani hubungan dengan org lain tanpa 'ngotot', ttg menjadi diri sendiri tapi takut dianggap 'berbeda', harus punya true colour tp di sisi lain harus 'seragam' dengan org lain jg biar gak dikucilkan.

Walaupun gak ada sesuatu yang fresh dalam buku ini, tapi aku suka sama susunan kata2nya yang terasa seperti 'memeluk' alih2 'menggurui' 🤗🤗

Aku jugaa lumayan banyak nyatet quote2 yang aku suka!! Ini beberapa di antaranya :

1. Kadang aku merasa tidak nyaman dan tidak bahagia dengan keberadaan orang lain. Aku jadi berpikir, jangan2 meski kita saling membutuhkan, kita juga adalah beban bagi satu sama lain. (p. 20)

2. Aku ingin terus yakin bahwa pada akhirnya yang akan selalu berpihak padaku adalah diriku sendiri. (p. 51)

3. Kebaikan dan gampangan adalah hal yang berbeda. Yang menjadi masalah bukan aku yang terlihat gampangan karena baik, tetap orang yang menggampangkan kebaikan. Memisahkan dua perkara itu membuat pikiran dan hatiku lebih tenang. (p. 26)

---Dan aku bersyukur bangetttt waktu ituuu bisa ikutan diskusi buku ini yang diadakan Bookish Indonesia bareng Penerbit Haru, aku jadi bisa dapat penjelasan lebih lanjut mengenai hal2 yang masih ngambang ttg buku ini dari dr. Andreas Kurniawan, Sp. KJ---
Profile Image for Neti Triwinanti.
321 reviews82 followers
November 7, 2020
Membaca buku ini terasa seperti mengobrol tentang banyak hal dengan teman sambil minum teh di sore hari. Awalnya saya pikir buku ini membahas tentang memeprsiapkan kematian dan bagaimana nanti saat saat kita akhirnya meninggal (literal seperti judulnya). Ternyata, buku ini terdiri dari bab-bab pendek tentang bagaimana menemukan diri sendiri, hidup dengan baik, dan hidup dengan penuh syukur tanpa penyesalan. Setelah dipikir-pikir, hal-hal itu yang akhirnya membentuk kepribadian kita dan menentukan siapa saja yang akan datang ke pemakaman nantinya (then it all makes sense why the title is that provoking).
Tipe buku yang bisa dibaca pelan-pelan untuk direnungkan. Tetapi bisa juga diselesaikan dalam sekali-dua kali duduk.
Profile Image for Bila.
315 reviews21 followers
November 6, 2020
Judulnya sih dingin banget (brr), tapi ternyata ini buku motivasi yang bisa bikin hati hangat karena gaya penulisan sang penulis yang terasa seperti seorang teman (sahabat?) yang sedang bercerita, memberi motivasi (tentu dengan gaya tulisan buku bukan ngomong langsung wkwk). Motivasi bagaimana menjalani hidup menjadi "orang baik" dan segala macemnya gitu lah.

Eh tunggu, rasanya malah seperti pelukan sahabat. Awwww hangat.

Ya, itulah yang kurasakan di 2 bagian awal (terutama akhir bagian 1 dan 2 yang sempat bikin mataku panas, huhu 😭), sebelum bertemu dengan bagian 3 yang, entahlah, kehangatannya menurun menurutku. Ini ga tau akunya aja yang secara ga sengaja salah membayangkan gaya penulis (harusnya seperti teman tapi malah kebawa aura motivator) atau memang isi dan motivasinya lebih "teknis" dari 2 bagian sebelumnya. Bisa jadi juga karena saat ini aku belum membutuhkan bagian ini.

Masuk ke bagian 4, kehangatannya kembali walaupun tetap saja ada "bab" yang terlalu teknis (baca: cenderung menggurui, dimana ini adalah gaya self-improvement yang aku ga suka) sehingga ga sampai seperti bagian 1&2.

(Apa jangan-jangan saat ini aku benar2 butuh bagian 1,2, dan sebagian dari 4 sehingga bisa kerasa relate?)

Ngomong-ngomong soal motivasi di buku ini, tipenya itu motivasi yang berasal dari kisahnya sendiri atau kisah orang yang dekat dengannya. Jadi lebih menyentuh dan hangat rasanya. Bukan seperti buku motivasi sebelah yang pakai contoh orang terkenal yang ga bakal relate sama orang macam kita. Heu.


Seperti yang kusinggung, buku ini bisa jadi hangat selama kita membutuhkannya. Kalau kalian merasa datar saat membacanya, mungkin itu antara buku ini memang bukan untuk kalian, atau bukan saatnya kalian membutuhkan buku ini. Ah pokoknya itu lah. Jadi, kalau mau tau apakah kalian suka buku ini... Baca sendiri. Kalau suka, mari pelukan online.

Dunia tempat kita hidup ini keras dan dingin, tetapi kuharap kita semua penuh kepedulian dan kehangatan. Karena dengan itulah kehidupan dan dunia bisa berubah. (hal. 81)

Profile Image for Puty.
Author 9 books1,385 followers
January 24, 2021
Sedikit catatan, ini bukan genre buku yang biasa saya baca. Awalnya saya sempat ragu karena saya pikir ini akan sekadar jadi buku yang memotivasi "Ayo, semangat dan tetaplah hidup." Intinya memang itu sih, tapi ternyata gaya penulisannya hangat dan menyenangkan, tulus seperti sedang ngeteh dengan teman baik. Saya merasa apa yang diceritakan oleh si penulis sangat 'relatable' dengan kondisi banyak orang Indonesia yang bergumul dengan rasa 'insecure', dituntut untuk 'seragam' sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Saya pikir, buku bertema kesehatan mental yang ditulis oleh orang Korea akan lebih relevan dengan situasi kita karena kemiripan budaya. Buku ini mendukung hipotesis tersebut.

Cukup banyak tema yang 'klise' seperti menjadi diri sendiri dan tidak menyerah, tapi saya pikir buku ini layak dapat 3,5 bintang. Saya bulatkan ke atas jadi 4 ya 😁
Profile Image for Ardina Alth Mora.
485 reviews16 followers
November 3, 2020
P.Rate : 3.4/5💫
.
🌿Buku self improvement satu ini dari sebelum diterjemahkan aku sudah penasaran karena sering sekali berseliwiran di IG orang korea seperti bookstagram dan IG toko buku gitu dan terernyata diterjemahin dong.
.
🌿Sewaktu baca judulnya #내가죽으면장례식에누가와줄까 Siapa yang akan datang ke pemakamanku ketika aku mati nanti? Tentu saja keluarga dan orang-orang terdekat. Awalnya berpikir sesimpel itu, ternyata isinya bukan seperti itu.
.
🌿Membaca buku ini seperti mendengar curhatan seseorang yaitu curhatan penulisnya tetapi tidak hanya sekedar curhatan saja, juga mengajak kita melihat diri kita , menjadi diri kita, menjadi orang baik tetapi bukan orang yang gampangan juga. Dan penulis juga membicarakan tentang bagaimana menjalani hidup dengan pikiran yg tenang, bagaimana menikmati hidup dan melakukan apa yang kita mau tanpa rasa khawatir dan rasa kecemasan terhadap sekeliling kita.
.
🌿Meski terlihat tidak ada yang sangat spesial ketika membaca buku ini, bukan berarti tidak bagus loh. Buku ini benar-benar bagus malahan dan rasanya seperti berbicara langsung dengan penulisnya dan diri sendiri. Bahkan mungkin beberapa dari kita pernah merasakan, mengalami hal dalam buku ini. Hanya saja terjemahannya agak sedikit kakuk atau mungkin aku yang tidak biasa membaca buku korea terjemahan.
Profile Image for Dennisa Hasanah.
87 reviews22 followers
March 30, 2021
Setelah aku mengikuti kelas filsafat eksistensialisme dari schole id, aku jadi makin memahami maksud dari buku ini.

Esensi hidup kita sebagai manusia akan ada ketika kita sudah meninggal. Akan dikenang sebagai apa kita sebagai manusia?

Kematian. Semacam fitur khas dalam eksistensi manusia. Meskipun kematian itu hal yang pasti, tetapi banyak orang yang ga peduli. Kenapa? Kalo orang banyak mikir kematian ga menyenangkan. Siapa sih yang mau mati, gitu.

Setiap manusia punya kemungkinan. Tapi kematian adalah kemungkinan dari semua kemungkinan. Kematian bikin kita cemas. Maka banyak manusia menghindar dari kematian, contoh ga bicara soal kematian.
Kalo manusia tidak sadar akan kematian, hidupnya ga otentik. Kita perlu menyelaraskan hidup dengan struktur eksistensial kita.

Penulis buku ini sadar kalau manusia itu memiliki kesadaran. Memiliki kesadaran sehingga dia dapat mengubah hidupnya, saya mau jadi apa. Kalau mau berubah, kita harus sadar akan situasi kita. Kuncinya disitu.
Kita menerima diri kita, kalo gitu saya mau berubah. Pengakuan akan diri kita. Kemudian melakukan langkah-langkah lebih konkrit. Kita mampu sebenernya merubah hidup kita.

Buku ini seperti mendengar seorang teman sedang bercerita tentang fase yang ada di dalam hidupnya.
Profile Image for vitaa.
34 reviews
May 19, 2023
easy reading bukunya, isinya essay yg menurutku bisa dibaca nggak berurutan. aku nggak merasa isi bukunya mencerminkan judulnya sih, karena ya cuma beberapa kali aja dibahas soal 'kematian' ini. meski begitu buku ini tetep ngasih insight baru yg lebih spesifiknya soal hal "seperti apa aku hidup selama ini?" . aku bakal keep buku ini untuk aku baca lagi beberapa tahun kemudian deh wkwkw pasti akan beda lagi persepsiku
Profile Image for Khai.
69 reviews7 followers
October 27, 2022
Buku ini jujur sekali!! Mengharapkan kebahagiaan bagi orang lain dengan cara membuat diri sendiri bahagia terlebih dahulu. 💓 Dari judulnya, aku kira bakal gelap isinya, tapi tidak sama sekali. Buku ini kayak nunjukin kita hal-hal yang luput dari pandangan kita, atau hal-hal yang dari dulu pengin kita ungkapin tapi nggak tau gimana caranya. Keren dan easy to read!!
Profile Image for uls.
27 reviews1 follower
March 6, 2022
3.5 kesan narasinya hangat jadi enak dibaca
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,421 reviews291 followers
May 11, 2022
Buku self help ini emang mengecoh judulnya. Bukan kisah orang depresi koq, tapi lebih ke quotes² dan kalimat² yg enlightened, heartwarming dan membangkitkan semangat bagi yg sedang depresi.

Setiap bab singkat² saja sih. Terlalu damai² aja sih isinya menurut aku. Jadi susah jg menjabarkannya. Krn ini jg cuma buku nonfiksi saja. Tipis tapi lebih tepat utk yg self healing ketimbang bagi yg sedang bergumul dgn depresi.
Profile Image for Alya Putri.
77 reviews138 followers
December 31, 2020
"Kesempatan itu pilihan; kamu bisa memilih untuk menangkapnya atau tidak." - (hal.113)

Pernah ngga sih kita mikir apakah kita sudah cukup baik buat ngejalanin hidup ini? Ngga jarang kita suka ngerasa nggak puas, suka menyalahkan diri sendiri, atau bahkan ngga bisa nunjukin warna kita.

Jujur, awalnya ngerasa serem banget baca judul buku ini. Tapi, setelah baca lembar per lembarnya, buku ini menghangatkan. Ada empat bagian dalam buku ini: kesalahan, hati yang hilang, sejarah, dan juga semoga itu kebahagiaan. Nah, terus setiap bab punya cerita-cerita lagi didalamnya, misalnya cerita soal kita yang menyepelekan kebahagiaan, ngerasa cemas, kebingungan dengan apa peran kita, tentang kehilangan dan kedatangan, sampai ditutup dengan cerita tentang kebahagiaan.

Bagian yang menarik buat aku sih, hampir semuanya (ngga bisa milih banget anaknya), terutama bagian kita cukup dengan diri sendiri. Soalnya, kadang suka banget ngekhawatirin hal yang bahkan belum terjadi dan takut ngga bisa selesain masalah kita seorang diri. Padahal, besoknya pun ngga kenapa-napa.

Terus, ada juga cerita yang menurutku menarik, yaitucerita tentang memberi dan menerima. Kadang suka ngerasa pengen nuntut sesuatu setelah memberikan sesuatu. Dan ngga jarang, kita ngga selalu menerima hasil yang sesuai kita berikan, atau ngerasa apakah ada yang benar tulus sayang pada kita? Ya, ada yang mikir gini juga ngga si?
Profile Image for Mardyana Ulva.
75 reviews3 followers
February 5, 2022
Menarik ya ini. Penulisnya bertutur seperti sedang bercerita sama temannya, jadi nggak berasa menggurui. Nggak ada teori psikologis sama sekali di sini, nggak ada pula tips tips how to kayak di buku self help jaman dulu; tapi lewat cerita kejadian sehari-hari yang dialami penulis, membaca semua itu seperti dikasih cermin buat merefleksikan bayangan diri sendiri. Ringan banget dan cara bertuturnya sungguh bersahabat. Suka sekaliii
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
April 8, 2022
32 - 2022

Siapa yang baca buku ini karena tertarik sama judulnya? Saya ngaku deh.
Iya, judulnya gitu banget ya, menarik lebih tepatnya kepo dengan apa sih yang diceritakan di dalamnya.

Ternyata buku ini gak ngomongin soal kematian kok. Lebih banyak ini cerita tentang pengalaman hidup Kim Sang Hyun, si penulis yang banyak melongok ke dalam dirinya tentang banyak hal. Tentang hidup, apakah sudah cukup baik hidup kita? hidup yang kita jalani apakah sudah bahagia dan cukup diri sendiri? Apakah nanti kalo mati, ada banyak orang yang datang ke pemakaman? ikut bersedih karena kita telah tiada?

Kim Sang Hyun menulis buku ini kayak menulis catatan harian ya, tapi memang sangat bertema kehidupan. Saya pribadi suka dengan cara berpikir yang ditulis, seperti mengajak saya sebagai pembaca untuk ikut memikirkan hal yang sama tentang banyak hal di dunia. Hanya saja, sepertinya akan lebih menarik kalo buku ini ditambahkan ilustrasi atau paling tidak jangan pake warna hitam sebagai pembatas antar babnya. Apa ini ada hubungannya dengan kematian sehingga temanya hitam? Padahal udah bagus covernya pake warna hijau.

Tentu banyak kalimat yang saya tandai, garis bawahi dan juga ditulis di catatan pribadi. Sebagai pengingat bahwa hidup dan juga soal manusia itu sungguh kompleks.
Profile Image for Akaigita.
Author 6 books238 followers
April 2, 2022
bagus sebagai bahan renungan ketika mulai overthinking dan perasaan gak karu-karuan. bener kata dr. andreas di bagian kata sambutan, nggak semua bagian buku ini bakal pas banget sama kita, bahkan kita bisa jadi nggak setuju sama pandangannya, tapi ada juga yang masuk. bacanya harus pelan-pelan, dan bagiku, lebih tepat kalau bacanya sesuai situasi. kalau lagi bete banget dan ngelihat dunia serbasalah, baca ini nggak bakal membantu. bakal mental semua nasihatnya. bacanya ketika udah tenang tapi merasa perlu pencerahan.
Profile Image for Semi.
83 reviews1 follower
May 20, 2022
Buku ini menuntun kita untuk merayakan kehidupan dan menerima diri kita sebaik-baik apapun situasi yang terjadi pada kita. Ga nyangka buku ini akan semudah itu untuk di baca dengan judulnya yang rasanya berat banget. Banyak halaman-halaman yang menjawab pertanyaan-pertanyaan aku dan banyk halaman juga yang aku tandaiin. Gaya penulisanya terasa dekat, kaya mendengar seseorang dengan segudang pengalaman dan keluh kesahnya bercerita pada kita. Ditengah buku saking asiknya dengan tulisan yang semengalir itu, aku lupa kalau buku ini perihal siapa yang akan datang pada kematianku dan aku jadi menyadari kalau judul dan isi buku ini rasanya ga sinkron. Setelah merenungi, pada akhirnya aku mendapati kesimpulan bahwa dalam hidup ketulusan diperlukan bukan aja pada orang lain tapi diri kita sendiri. Buku ini ga maksa buat diri berubah kaya buku-buku self-help semacamnya, tapi buku ini bener-bener menuntun kita untuk menerima diri kita dan living our best life as we are and present the best for the whoever we met. Sebagian orang mungkin datang dan pergi, dan mungkin tidak pernah peduli atas apa yang terjadi pada kita, ya ga apa-apa, daripada di cemasin, hidup kita rayaiin aja!
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
July 31, 2022
kalo kata rangorang buku ini heartwarming, serasa dipuk-puk dengan kata-kata. tapi enggak buat gue, maaf

menurut gue ya kurang berkesan aja, intinya kita jadi diri sendiri, berusaha jadi lebih baik dan lebih bahagia
Profile Image for Bunga.
6 reviews
May 21, 2024
baguss bangett!must read bgt apalagi yg suka re-read buku!bukunya bikin perasaan kita jadi lebih tenang!ini termasuk buku self help gasii?!se-heart warming itu soalnyaa abis bacaa:))
Profile Image for Faizah.
16 reviews
August 14, 2021
Buku ini bukan tipikal buku self improvement yang membahas soal teori ahli A, B, atau bahkan C. Kamu nggak akan mendapatkan insight baru soal teori apapun, karena menurut saya penulis melalui buku ini ingin menceritakan soal pengalaman yang ia ataupun orang-orang di sekitarnya telah lalui.

Isi buku ini dibagi menjadi beberapa bab dan sub bab. Bahasanya sangat mudah dipahami, gaya bahasa yang digunakan penulis seperti seorang teman yang sedang bercerita, nggak ada kalimat yang menghakimi sedikitpun.

Saya dapat banyak insight baru, terutama soal menjalin relasi dengan teman. Saya nggak pernah menyadari bahwa terkadang saya mungkin bersikap seperti itu kepada orang lain, setelah baca ini jadi sadar bahwa sikap tersebut benar-benar menyebalkan. Selain itu, saya merasa tenang karena banyak kata-kata manis yang penulis berikan di buku ini.

Salah satu kata-kata yang saya sukai dari buku ini adalah sebagai berikut:
"Jika seseorang memberimu kantong sampah, buanglah. Tidak perlu kecewa, kesal, dan terluka sendirian oleh fakta bahwa orang itu memberimu sampah. Kamu tidak perlu membawa sampah itu ke dalam hidupmu yang sudah cukup sulit untuk kamu lalui sendirian."
Profile Image for Dhik.
97 reviews18 followers
June 3, 2021
Buku yang bagus untuk merenungkan tentang kehidupan.

Hal yang membuat buku ini menarik adalah sosok author yang menghadirkan dirinya sebagai orang - orang biasa pada umumnya. Bukan orang yang super positive . Bukan orang yang selalu berprasangka baik. Bukan orang yang bisa selalu bahagia. Bukan juga orang yang selalu memikirkan tentang orang lain.

Sosok penulis juga merupakan manusia normal yang sering merasakan perasaan negatif di dalam hidupnya. Maka dari itu buku ini menyampaikan cerita dan sedikit hikmah di balik kisah kehidupan dari penulis. Tulisannya juga dibalut dengan bahasa yang santai dan jujur.
Displaying 1 - 30 of 320 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.