Food touches everything important to it marks social difference and strengthens social bonds. Common to all people, it can signify very different things from table to table. Food and Culture takes a global look at the social, symbolic, and political-economic role of food. The stellar contributors to this reader examine some of the meanings of food and eating across cultures, with particular attention to how men and women define themselves differently through their foodways. Crossing many subjects, this innovative, first-of-its-kind in the field includes the perspectives of anthropology, history, psychology, philosophy, politics, and sociology. This is the classic text in the field, updated for the first time in a decade, and hailed as the "bible" in the field. A must use for any course on the anthropology or sociology of food. This book comes with a companion website, which you can visit at www.routledge.com/textbooks/978041597...
Buku ini ditulis oleh banyak pakar yang ahli pada makanan dan budaya dan dari berbagai sudut pandang keahliannya, sehingga buku ini pantas disebut dengan sudut pandang yang holistik untuk makanan dan budaya, terlebih sepatah katanya disampaikan secara sederhana oleh Penulis Kuliner yang namanya tidak asing lagi, menulis tentang makanan, aktivitas makan dan minum, karena ada rasa lapar dan menjadi kenangan yang sempurna antara apa yang dinikmati, dengan siapa menikmatinya, dan banyak peristiwa lainnya yang ditulis sebagai kata pengantar oleh MFK Fisher.
Ringkasan dari Tulisan Margaret Mead - Why Do We Overeat ?
Diawali dengan judul mengapa kita makan berlebihan, yang ditulis oleh Antropolog Budaya dari Amerika yaitu Margaret Mead diawali dari keceriaan liburan dengan aktivitas makanan dan minuman yang lezat dan menggoda dan ternyata jika berlebihan itu berbahaya. Mead menyebutkan bahwa liburan natal akan banyak tekanan untuk menikmati berbagai rasa pada setiap orang bahkan pikirannya pun hanya memikirkan tentang makanan, Mead menegaskan setiap orang memang menikmati makanan berlebih dengan tekanannya sehingga lupa diri, namun menjanjikan untuk diet pada waktu mendatang. Dalam perayaan atau festival ketersediaan pangan selalu berlimpah, namun kelangkaan makanan juga menuntut orang-orang untuk berbagi persediaan makanan yang terbatas. Makanan yang berlimpah ini adalah ciri utama masyarakat yang makmur, ternyata orang Amerika beberapa diantaranya ada yang mengalami ketidakcukupan pangan, dan sebagian orang Amerika lainnya pun menganggap punya cukup akses pada persediaan pangan dan makanan memang ada dimana-mana seperti di Supermarket, kedai hot dog, bar, mesin minuman ringan ditambah dengan iklannya yang memikat. Mead juga menjelaskan bahwa hari libur pun kegiatan mendapatkan makanan dari membeli, menyiapkan itu adalah kegiatan yang memerlukan waktu dan tenaga dan bahan pangan memerlukan pengolahan dengan cara memasak, menikmati makanan sebagai seni. Masalah kebanyakan orang Amerika bukanlah bagaimana mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi baik. Namun sebaliknya, bagaimana menangkis tekanan terus-menerus untuk makan. Mead sudah memperkirakan 1 dari 5 orang Amerika kelebihan berat badan 10% dan lebih dalam berbagai kasus dikarenakan menyerah pada tekanan godaan dan makan berlebih. Bahkan 10-2- orang Amerika pernah berdiet karena gemuk, merasa gemuk karena gaya hidup masa kini. Adanya proliferasi pada makanan secara besar-besaran dan ada kecenderungan tidak menggemukkan dan tidak bergizi dalam dekade teakhir, menurut Mead. Hal ini adalah cara makan tanpa membahayakan, bahkan adanya buku-buku diet, buku olahraga yang dapat memangkas kegemukan. Ini adalah apresiasi bisnis atas kecemasan dan dilema akibat gaya makan saat ini. Mead menjelaskan bahwa orang Amerika sangat tidak toleran terhadap orang bahkan untuk menghadapinya hanya bisa berkata «biarkan pergi sendiri» yang berlaku untuk memperbaiki sesuatu. Orang tua juga bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi anak, orang dewasa harus memiliki kendali atas tubuh mereka sendiri dan semua orang harus mencobanya, dan menyerah itu salah. Sikap moral sebagai beban berat pada suatu kelompok yang beragam atau masyarakat sering terlontar kata «gendut».
«Apakah tidak ada cara lain?»
Mead menjelaskan bahwa ada Asosiasi Nasional untuk Membantu Lemak Orang Amerika dengan pendirinya yang menggambarkan orang gemuk sebagai minoritas teraniaya, dan mereka menunjukkan ketidakadilan yang diderita oleh kelebihan berat badan, dan ini memiliki kemungkinan terbaik untuk memperkuat tekad mereka untuk diet dan menghindari menjadi gemuk. Menurut Mead, sikap aneh seseorang terhadap makanan di negara ini menjadi semakin jelas ketika ada kelompok lain seperti anak muda pemberontak seperti orang dewasa yang sudah menolak banyak hal, dunia orang dewasa seperti penolakan pada makanan seperti yang diajarkan sebelumnya. Terlepas itu penekanan alami atau bukan, mereka hanya sedikit memiliki pengetahuan yang nyata tentang gizi yang baik, banyaj yang merupakan pecinta makanan berlemak yang ekstrim. Bahkan seringkali mereka sangat kurus dan banyak kasus kekurangan gizi yang parah, itu bukan kutukan, kebanyakan orang ingin menjadi kurus, tetapi situasi mereka serius karena kesehatan mereka terganggu secara permanen bahkan bermasalah serius terhadap gangguan pada anak-anak mereka juga pada akhirnya.
Namun pertanyaannya «Haruskah Generasi Berikutnya menghadapi dilema yang sama ?»
Kesulitan mendasar menurut Mead adalah kita semua terbawa ke masa kini yang sudah ketinggalan zaman seperti bagaimana metode mengajarkan sesuatu pada anak-anak tentang apa yang harus dimakan, tentang adakah pengajaran dan sikap moral yang pantas terhadap makanan. Dulu, menurut Mead, ketika jumlah variasi makanan jauh lebih terbatas, makanan selalu monoton. Kemudian para ibu mendesak dan memohon serta memaksa anak-anak memakanan makanan yang disajikan dihadapan mereka 3x sehari. Tidak ada alternatif. Anak yang baik dengan patuh memakan makanan yang membosankan dan dikatakan bahwa «makanan itu baik untukmu», jika habis, hadiahnya adalah makanan penutup, makan malam di hari minggu, ongkos liburan, suguhan langka, dan semua makanan enak dan lezat itu baik.
Anak dan orang dewasa menurut Mead pada kegiatan makan tanpa mengeluh makanan sehari-hari yang sederhana dan bergizi secara moral memang bisa dibenarkan untuk menikmati apa yang terjadi setelahnya, hal ini menandakan semuanya baik-baik saja dan orang dewasa masih merencanakan makan 3x sehari dengan cara yang sama, memperlakukan seolah-olah itu semua merupakan makanan yang tersedia bagi anak-anak, dan orang dewasa masih mengajari anak-anak untuk menjadi baik melalui makanan dan mengekspresikan pemberontakan dengan tidak makan makanan yang tepat, namun orang dewasa masih memperlakukan beberapa makanan yang menurutnya baik untukmu kepada anak-anak sebagai hadiah dan tanda cinta. Mead melihat ada satu perubahan besar, tetapi ini hanya berfungsi untuk memperkuat apa yang orang dewasa ajarkan dan yakini bahwa orang dewasa, setelah makan terlalu banyak, melakukan diet yang mereka anggap sulit, tidak menyenangkan dan intrinsik, dan tidak menguntungkan. Anak-anak harus baik terlebih dahulu dalam hal ini, dan jangan menganggap sulit dan tidak menyenangkan, orang dewasa melakukan diet setelah makan berlebih untuk penebusan dosa sesudahnya, karena hukuman menjadi gemuk. Hal inilah yang menurut Mead menyebutnya korban gaya kuno ini, dan menyadari bahwa orang dewasa harus membantu gaya baru makan.
Food has been underrated as political, economic, social, & cultural force shaping human events & history. The culinary divide between northern & southern India partially reflects the historical impact of the coming of the Mughals from the Khyber Pass and butting heads against the indigenous populations in the south. The economics of pig rearing manifests itself in the religious divide that logically conforms to the geographical terrains that either permits or punishes such. Today, the poor are more likely fat whereas the fit are more likely rich, an inversion of the millenniums past & a reflection of class inequality. #FoodForThought
I found this book to be very informative. It expanded on various ideas and viewpoints that I had not thought of before. Read this for my Culture, Cuisine, and Power course and thought it was a nice compliment.
Tons of information on cultural ideals and religious beliefs and the food that accompanies them. There is so much that goes into what is eaten, when and why that it can really shape lives. Even in what is not eaten, which would be an even bigger category in some cultures! This book even formulates ideas on how to change negative lifestyles in the world by switching their diets! It's not a comfy window-seat type of book, but you will gain some very pertinent information on how to live more healthily and a new understanding into less analogous ways of life.
This is a truly delightful, robust, and challenging compilation of food studies articles; a treat to read as a student and surely to teach as an instructor.