Tadinya aku sudah berencana mau memoligami buku ini dengan buku Alicia Lidwina (Unspoken Words) dan Haruki Murakami (What I Talk About When I Talk About Running). Tapi rencana itu buyar berantakan begitu aku masuk ke dalam buku ini. Rasanya eman aja ngasih jeda buku ini buat baca buku lain hauhauahaua. Too tempting. Kebanyakan reviewer memuji teknik penulis yang rapi dan menarik dalam mengikat pembaca. Kalau itu aku pun sepakat.
Bagian awal sampai pertengahannya memang mengasyikkan. Anehnya pas hubungan Rey dan Liona membaik baru aku mulai merasa perjalanan menuju akhir buku ini terlalu lama. Akhirnya di halaman 180an, aku selingkuh juga dengan Absolute Justice-nya Akiyoshi Rikako. Ahaha.
Ini adalah buku berlabel young adult dengan rasa teenlit. Mungkin karena temanya pernikahan setingan dan para tokohnya sudah berusia mahasiswa. Tapi aku pernah loh baca teenlit yang para tokohnya mahasiswa. Hmm...
***
Mayoritas yang baca BLURB mungkin penasaran dengan yang dimaksud "Liona masuk ke dalam perangkap Rey". Aku juga sudah membayangkan perangkap Rey mungkin sesuatu yang bakal menekan dan menyiksa Liona begitu lama. Ternyata yha... nggelethek. Maksudku, Liona jelas tersiksa dengan ulah Rey. Kalau aku jadi Liona, cowok ini pasti udah kutampar bolak-balik pakai bakiak haha. Tapi yah... aku membayangkan sesuatu yang lebih kompleks sebenarnya ahaha. Sesuatu yang mungkin berhubungan dengan reputasi Liona sebagai mahasiswa calon cum laude di kampus.
Yang jelas gara-gara ulah Rey (yang dikompori teman-teman setannya!), Liona dan Rey jadi dipaksa menikah oleh keluarganya. Konservatif sekali dua keluarga ini. Kayak-kayak Liona dari keluarga timur tengah aja (tapi kalau di Timur Tengah, Liona bakal mati, bukannya dipaksa nikah wahahaha). Sejujurnya aku khawatir dengan diriku yang menganggap alasan keluarga Rey dan Liona menikahkan kedua orang ini sebagai sesuatu yang sepele. Itu berarti aku meremehkan apa yang dilakukan Rey. Aaaargh. Pengaruh pergeseran nilai moral zaman now, nih. Bahaya.
***
Jadi apa yang terjadi kalau dua orang yang sudah musuhan sejak kecil malah dipersatukan oleh ikatan rumah tangga? Kacau. Konflik yang disajikan mulai naik sedikit demi sedikit. Rey yang supermalas dan menolak membantu mengerjakan pekerjaan rumah (sampai Liona harus tawar-menawar dengannya). Rey yang egois dan tidak pernah menawari Liona untuk bareng naik mobil ke kampus. Hal-hal semacam itu. Rey tak diceritakan punya love interest lain yang biasanya akan disisipkan cerita (dorama Korea wkwkw) serupa untuk memperkeruh suasana. Buku ini seratus persen berpusat pada mereka berdua.
Tapi menurutku akan lebih seru kalau konflik mereka ditambahi untuk menaikkan tingkat keegoisan Rey di mata pembaca. Rey yang lebih milih gaul ama teman ketimbang menemani Liona ke acara keluarga misalnya. Atau Rey yang meremehkan kegiatan kepenulisan skripsinya dan Liona harus membereskan kekacauan itu. Rey yang tidak menganggap serius keharusan untuk bermasyarakat. Mungkin bisa ditambahi konflik mereka yang berkali-kali nyaris ketahuan dosen dan teman-temannya kalau udah menikah. Gosip tetangga kepo, dsb.
***
Justru karena sederhana, cerita ini sebenarnya bisa diisi dengan keseruan apa saja untuk menaikturunkan mood pembaca. Dalam hal ini aku merekomendasikan buku Fake Love: Aku, Suamiku, dan Gunpla-nya karya Shireishou (yang diterbitkan Elex) bagi penulis untuk mencermati teknik mengemas drama keluarga dan perkawinan sederhana yang bikin gereget. Di buku itu aku bolak-balik harus merevisi pendapatku apakah aku bakal menyukai tokoh suami atau tidak. Di buku ini Rey sedemikian cepat berubah menjadi lebih baik. Kalau menempatkan diri di posisi Liona, aku pasti akan senang dengan perkembangan aman seperti ini. Tapi sebagai pembaca aku pingin ada drama yang dinamikanya naik-turun agar lebih berkesan. Hehe.
Yang berhasil bikin aku gemes di awal cerita ya sikap keluarga Liona dan Rey yang dengan mudah menghakimi dan menyalahkan mereka berdua. Kayak ga percaya banget sama anak sendiri. Meskipun, ternyata ada penjelasan yang memadai di balik sikap ayah Liona yang langsung percaya saja kalau Liona "memang bejat". Sementara bagi keluarga Rey insiden itu seolah dianggap sebagai anugerah karena akhirnya bocah manja itu punya sosok yang bisa diandalkan seperti Liona untuk mengurusinya. What the? Sebenarnya ini kalau diolah pun bisa jadi konflik yang makan hati Liona. Like Liona bisa dibuat berpikir, "Kenapa gue yang harus ngurusi anak manja hasil didikan elu-elu pada?!" Tapi buku ini memilih alur yang aman.
Aku juga geregetan dengan alasan kedua keluarga untuk menikahkan Rey dan Liona cuma gara-gara "kayaknya mereka udah ga bisa nahan nafsu". Adddduuuhhh, nikah kan gak cuma urusan melampiaskan nafsu dengan cara halal. Tapi kayaknya memang banyak yang berpikir sesimpel itu. Bagian ini pun bisa juga diutak-atik untuk "mendidik" pembaca betapa fatalnya cara pandang kedua keluarga itu.
Konflik Rey dengan Tommy dan Adrian yang jadi sumber malapetaka di buku ini juga berakhir dengan sangat damai. Huah. Memang sih jadi pemaaf itu baik. Dan entah apa para cowok memang bisa dengan mudah memaafkan teman baiknya sesetan apa pun mereka. Tapi bakal lebih asik kalau Rey juga dapat pelajaran keras soal mana teman yang bisa dipercaya ketika dia sedang dilanda masalah berat.
***
Bagian terbaik dari cerita ini adalah interaksi pertengkaran Rey dan Liona. Bikin gemes dan malah bikin ngakak. Aku mulai senyam-senyum dan ngerasa enganged banget pas Rey kelimpungan harus beliin pembalut buat Liona yang lagi sakit kena dilep. Favoritku adalah waktu Rey memaksa Liona mencium tangan demi beberapa potong Pizza. Dan Lionanya ya mau gitu lho. Bwahahaha. Wasem! XD Bakal lebih epic kalau Rey dibuat ga nyangka Liona mau melakukannya demi pizza (ternyata harga diri loe rendah, ya? XD), dan ternyata Liona lalu menggigit tangan Rey wkwkwk. Komik banget imajinasiku.
Catatan buat para pengantin baru, nih ye: Kalau lagi berantem apa pasangan, ajak aja si doi bikin kue bareng, biar akhirnya bisa ketawa-ketiwi sambil perang oles krim kue. Huahuahua. (Lalu mendadak baper sendiri XD).
Tentang sikap Liona ini juga mau kusoroti. Di awal aku udah dibuat terpukau dengan kemampuan Liona membela diri dengan tenang dan wajah datar tiap diganggu Rey. Tapi sejak menikah Liona mendadak berubah pasif dan lebih pasrah. Jika perilaku keluarga Liona bisa sampai mengguncang psikis Liona sampai mendadak menanggalkan karakter tegasnya, kuharap penulis bisa menggambarkan hal itu dengan lebih menggigit.
Ada juga konflik antara Liona dengan ayahnya yang terkesan bisa selesai begitu saja. Rey memang melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi drmi mengatasi masalah Liona. Tapi buku ini kan pakai sudut pandang ketiga! Ga ada salahnya kan kalau pembaca dikasih tahu si Rey ngapain aja. Wkwkwk.
Beberapa kali buku ini menyodori potensi konflik. Misalnya soal pengaturan uang anggaran rumah tangga. Tapi yaaa... Lagi-lagi selesai gitu aja. Haduuuh. Emaaaan. Tapi no worry, lah. Saya yakin penulis insyaallah bisa menyajikan cerita ringan tanpa mengurangi bobot dan kompleksitas konflik pada karya-karya mendatang. It's just about time.
Menjelang akhir cerita, penulis sudah berusaha menaikkan tensi dengan rencana perceraian Rey dan Liona justru di saat mereka sudah merasa cocok satu sama lain. Tapi... semua selesai dengan air mata Liona. Aaaaa... We want more dramas and conflicts, Missy. Wkwkw... Alasan Rey dan Liona bermusuhan sejak kecil juga tak dieksplor dengan maksimal. Aku berharap ada satu ulah Rey atau Liona yang menyebabkan trauma atau salah paham parah di masa lalu yang kemudian berlanjut hingga sekarang.
***
Sebenarnya tak ada yang salah dengan cerita ringan. Selalu saja ada tempat untuk cerita ringan demi meredakan stres akibat tekanan hidup zaman sekarang. Malah kalau melihat model ceritanya, kurasa buku ini pas kalau diadaptasi jadi FTV. Penyelesaian konflik di FTV juga biasanya gak terlalu rumit, kan. Plus dengan mengadaptasinya ke media lain, penulis bisa pelan-pelan merekonstruksi lagi bangunan ceritanya. Kalau seandainya buku ini jadi FTV judulnya bakal diadaptasi jadi bagaimana? Masa Cinta Remang-Remang, sih? XD *becanda
Lagipula aku salut dengan penulis yang bisa menulis empat belas bab lanjutan dalam masa kurang dari sebulan setelah pengumuman peserta Expert Writing Class GWP3. Sebagai sesama peserta yang juga ikut event itu dan mengalami hal yang sama (harus segera submit sisa draft novel dalam waktu terbatas), kemampuan penulis untuk menyelesaikan ceritanya dengan rapi (dan dapat Juara 3!) jelas sesuatu yang perlu diapresiasi. Mungkin ini bisa jadi himbauan untuk penyelenggara event dan para editornya, agar lebih sabar dalam memberikan waktu revisi bagi para penulis yang sudah mereka scout. Jadi buah yang bisa dipetik berupa buku karya mereka pun bisa matang maksimal tanpa diburu-buru. Toh yang menang udah terpilih, kan. Sekalian poles ceritanya sampai bener-bener gereget.
Yang terakhir, aku ingin menyoroti soal ending. Perjalanan Liona dan Rey dimulai dengan sesuatu yang jelas salah (ulah Rey). Seharusnya konsekuensi akan tindakan salah itu diperberat bobotnya. Meskipun judulnya memang A Sweet Mistake, sih. Tapi kuharap kesimpulan yang didapat pembaca secara umum kuharap bukan "untung Rey bikin kesalahan semacam itu, yak". Sejak membaca The Art of Visual Love-nya Ary Nilandari aku jadi banyak berpikir ulang tentang konsekuensi adegan interaksi fisik antara para tokoh dalam cerita. Apa gejolak yang seharusnya dirasakan para tokohnya yang terutama menggenggam adat ketimuran.
Sukses terus Rara. Katanya buku wattpadnya mau terbit? Semangat! Jangan segan untuk promo pada para penggemar setiamu di sana!