Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita,
Ke sana, Saudara, ke sana. Selalu ada kapal yang mendadak bergoyang bahkan ketika tidak ada sama sekali angin di samudra bahkan ketika tidak ada pun yang terasa bergerak kecuali dua ekor camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat apa pun yang bisa dihinggapinya kecuali sebuah bahtera yang bergoyang keras ke sana kemari terlempar ke atas menghunjam kembali ke permukaan menciptakan percik-percik air dan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan air sehingga tidak mungkin dihinggapi tiang layarnya walau hanya sejenak.
Walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar tetap bisa memelihara kasih sayang. Walau hanya sejenak.
Riwayat hidup Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Karya-karya Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
Kumpulan Puisi/Prosa
* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969) * "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway) * "Mata Pisau" (1974) * "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis) * "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan) * "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan) * "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya) * "Perahu Kertas" (1983) * "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia) * "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn) * "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn) * "Afrika yang Resah (1988; terjemahan) * "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks) * "Hujan Bulan Juni" (1994) * "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling) * "Arloji" (1998) * "Ayat-ayat Api" (2000) * "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen) * "Mata Jendela" (2002) * "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002) * "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen) * "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun) * "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.
* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu. * Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari. * Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu * Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu * satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.
Buku
* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
Selalu ada saat ketika tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita, Ke sana, Saudara, ke sana.
Selalu ada kapal yang mendadak bergoyang bahkan ketika tidak ada sama sekali angin di samudra bahkan ketika tidak ada pun yang terasa bergerak kecuali dua ekor camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi kita tidak melihat apapun yang bisa dihinggapinya kecuali sebuah bahtera yang bergoyang keras ke sana kemari terlempar ke atas menghunjam kembali ke permukaan menciptakan percik-percik air dan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan air sehingga tidak mungkin dihinggapi tiang layarnya walau hanya sejenak. Walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus menerus terbang agar tetap bisa memelihara kasih sayang. Walau hanya sejenak. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Pingkan melipat jarak merupakan buku kedua dari Trilogi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Masih bercerita tentang sepasang insan manusia bernama Sarwono dan Pingkan yang setelah di buku pertamanya terpisah oleh jarak, sekarang diuji dengan sakitnya Sarwono dan kehadiran Katsuo, pemuda Jepang yang menaruh perasaan pada Pingkan.
Pingkan melipat jarak lebih memfokuskan kepada Pingkan dan perasaannya serta Katsuo dan pengabdian kepada ibunya. Pingkan yang seolah-olah mantap tetap mencintai Sarwono dan Katsuo yang mencintai Pingkan namun tak dapat ditunjukan karena ada gadis di kampungnya yang menunggu untuk dinikahi dan orang tua yang jelas-jelas menolak jika Katsuo membicarakan Pingkan.
Katsuo, Bu Pelenkahu, Cicak dan Sarwono. Pingkan lebih memilih cicak dan tentu saja Sarwono, karena Sarwono pasti mendengar cicak. Bu Pelenkahu memberi isyarat bahwa Pingkan agak terganggu jiwanya, dan Toar, kakak Pingkan memutuskan untuk masuk ke dalam kubangan yang diciptakan oleh cinta atau kasih sayang atau apalah namanya antara kedua orang muda itu.
Kisah masa lalu saat Pingkan bersama Sarwono pun banyak ditunjukan dan antara Pingkan serta Katsuo yang ternyata tidak seperti apa yang ditampakan, ada beberapa pernyataan dalam batin Pingkan bahwa ia tahu bahwa Katsuo mencintainya dan ia tahu bahwa Sarwono mencurigainya selama ini. Dan ia pernah berpikir, seandainya ia tidak pernah bertemu Sarwono, mungkin... Kalimat yang tidak pernah bisa diselesaikannya, tidak pernah ada keinginan untuk melengkapinya. Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya. (Hal. 13)
Dalam buku kedua, Sapardi Djoko Damono seperti mengajak kita dalam berbagai labirin imajinasi, monolog batin yang lebih kental dan berujung pada berbagai penafsiran. Alih-alih menjawab pertanyaan, buku kedua malah semakin memperbanyak pertanyaan. Adat, kepercayaan, musik, mitos, berbagai kutipan film menjadi referensi dalam Pingkan “melipat” jaraknya.
Dan akhirnya semua tidak sekedar “hanya” terutama kalau akhirnya berkembang menjadi rangkaian peristiwa yang bisa diterima sebagai petunjuk bahwa nasib sebenarnya ada di tangan manusia, dan pengandaian merupakan bagian yang bisa saja menjadi semacam pembenaran atas apa yang terjadi. Yang harus terjadi. Yang sudah terjadi. Bahkan yang akan terjadi. Seandainya Pingkan dipisahkan saja dari Sarwono, apa yang bisa terjadi, apa yang akan terjadi, atau apa yang terjadi? Sesuatu tentu akan terjadi. Atas siapa? Pingkan? Sarwono? Dimana Katsuo harus ditempatkan dalam pengandaian serupa itu? (Hal. 111)
Jika ingin membaca sebuah novel sastra yang ringan dan menghibur, trilogi ini sangat direkomendasikan. Sapardi mengajarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar perasaan, tetapi cinta mempunyai bentuk dan dimensinya sendiri.
Emmmm, semula saya pikir karena tipis akan bisa saya habiskan dalam perjalanan kereta bolak-balik kos kantor. Ternyata saya keliru. Novel ini tidaklah sederhana. Tak sesederhana persoalan tiga tokoh dalam novel ini. Konflik persoalan cinta segitiga Sarwono-Pingkan-Katsuo. Kemudian diselipi pertanyaan perihal jati diri, eksistensi manusia, dan liyan.....
Saya temukan, gaya bercerita memang senaneh novel pendahulunya. Tapi kali ini kurang masuk di cerita saya....
Aku menyelesaikan semua tentang Pingkan dengan tepat. Solo.
Semua kisah Pingkan telah tuntas aku dengarkan. Keluh kesah dan penderitaannya jua. Kurasakan itu semua dalam barisan yang sama. Sesuai dengan tempatnya.
Apa yang dialami oleh Sarwono, mengaburkan segala. Menjebak semua. Kini bukan lagi hanya sekadar Pingkan dan Sarwono saja. Entah kenapa ada Galuh dan Ino, Matindas dan Pingkan. Bahkan Katsuo bimbang entah jadi apa.
Cerita Pingkan pun semakin terasa istimewa, ketika aku membacanya di kota yang sama. Hingga aku mau tak mau merasakan kebudayaannya. Ada kepercayaan yang tak sepenuhnya bisa kupercaya. Tapi mereka ada. Barisan manusia yang menjadikannya warisan kebudayaan, bahkan intelektual berusaha menemukan jawaban.
Semakin luar biasa, ketika kujejakkan kaki dan meresapi. Bagaimana Katsuo dan candi dalam foto ini menjadi saksi inti. Usahanya yang hampir mengorbankan diri dalam kepercayaan yang diyakini. Aku semakin meresapi setiap cerita Pingkan di tanah ini.
Yang paling meyakinkan, adalah ketika kubacai ini di keheningan malam dalam rumah khas Jawa. Ketika bagaimana cerita sampai pada bagian akhir. Saat seorang ibu berjuang dengan harapan anaknya kembali. Aura itu nyata.
Pingkan menuntaskan ceritanya. Tepat semalam sebelum aku pergi. Sebuah cerita penuh misteri, hingga kutemukan sebuah arti. Bahwa setiap manusia punya kepercayaannya sendiri. Bahkan di mana pun ia berdiri. Mereka ada, meski dengan lain nama
Setelah baca Hujan Bulan Juni agak males sebenernya untuk lanjut ke buku kedua ini. Saya gak merasa cerita Pingkan dan Sarwono itu seru soalnya. Cuma karena merasa ini novelnya tipis kok ya dan sayang aja kalo cerita berseri begini tuh ntar jauh hari baru dibaca kelanjutannya, takutnya malah kelupaan ceritanya kayak apa. Jadi ya sudahlah, baca aja dengan tak ada ekspektasi berlebih.
Benar saja, pas baca di awal, bosen banget, lebih banyak gak ngertinya. Ini mau nyeritain apa tho? gitu mikirnya dalam hati. Cerita cinta Pingkan dan Sarwono sekarang ditambah Katsuo. Selama Sarwono sakit di Solo, Pingkan pulang ke Solo juga diikuti si Katsuo. Ceritanya berlanjut ke hal gaib, kepercayaan orang Jawa trus lagi hal gaib dari Jepang. Mbuh, saya merasa segera ingin mengakhiri membaca.
Tapi di bagian akhir buku ini barulah terasa lebih mudah dimengerti, oh begini, oh begitunya. Kalo di buku pertama terasa Jawa dan Menado, kali ini lebih rumit lagi, Jawa - Jepang + cerita gaibnya.
Kisah kedua dari trilogi Hujan Bulan Juni, tetap dengan bahasa 'Sapardi' yang membutuhkan ketekunan dalam pemaknaan saat membacanya. Saya yang amatir soal urusan memaknai karya, melihat ini adalah kisah tentang pertanyaan yang sering muncul di benak manusia,
sepertinya ada cinta segitiga secara tidak langsung antara Sarwono, Pingkan, dan Katsuo, dimana mereka hidup di antara dunia nyata dan dunia lain *entah sebutan tepatnya apa*
masih dimasukkin juga beberapa hal yg berhubungan dengan teknologi di era millenial, seperti WA, FaceTime :))
Buku ini seperti ditulis untuk menambah pertanyaan untuk dijawab di buku terakhir dari trilogi. Tentang Sarwono dan Pingkan, Katsuo dan Pingkan, Pingkan dan ibunya, Pingkan dan kakaknya, kakaknya dan ibunya, Hadi dan Pelenkahu. Gaya penceritaannya semacam magical realism, yang membawa kita pada berbagai realitas dan dimensi, menyelami labirin jiwa para karakternya. Dan masih dengan banyak referensi dongeng, legenda, buku, dan film.
Bangsuuuuuuul, anjay, gak kuat, YA ALLAH, MASYA ALLAH :""") Insane, dafuq, I'M CRYING!! Novel kedua dari trilogi Hujan Bulan Juni ini bener-bener... apa ya kata yang tepat untuk menggambarkan buku ini??? Oke gini, di dalamnya tuh lika-liku antara Sarwono-Pingkan-Katsuo jadi lebih rumit se rumit-rumitnya perkara percintaan paling rumit di dunia ini. HHHHH. Bang Mamet kang tanjid0oo00r H3LP M3 PL3AS3 !! Alur ceritanya menurut interpretasiku kayak perjalanan out-of-the-body experience yang dialami Sarwono dan lamunan-lamunan Pingkan yang mulai "bengkok" pikirannya karena apa yang terjadi pada Sarwono. Dilengkapi juga dengan kepercayaan magis lokal antara jawa ft. Jepang (okinawa). Alur ceritanya lebih ke tragis-yang-menggantung. HHH BODOAMAT. Wtf, ini tuh like another version of my own experience yang pernah aku alami gitu loh, cuman versi live action-nya gitu atau apalah anjir bodoamatttttt. Orang yang lu sangat cintai terperangkap dalam raga yang sakit tak mampu apapun. Dan lu hampir gila karena orang yang lu cintai-bahkan calon suami lu-antara hidup dan mati. Antara setengah waras dan memang sudah ngga waras. Cinta itu apa sih, semesta?????
Seandainya saya membaca novel ini sudah dalam keadaan tersampul kertas kopi dengan lapisan plastik. Lalu halaman judul terikut dalam sampul. Saya membacanya tanpa beban: ini SDD lhoh!
Mau tak mau, subyektivitas akan mengalir begitu saja tanpa bisa dikendalikan. Legenda hidup sastra Indonesia, barangkali hanya Pram yang bisa menyandingi kapasitasnya.
"Pinkan" seperti ritmik dari renik cara berkisah karya berlogi-logi. Strategi sedikit tercium dengan pergeseran energi yang ingin mengambil pola gunung terbalik. Saya yakin, kerumitan renik psikis manusia manusia dalam novel ini akan booom di edisi pamungkas nanti.
SDD berbeda zaman dengan Dee Lestari yang memilih anti-klimaks dalam karya logi-logi. Seperti kebanyakan penulis veteran memang lebih mengambil pola gunung terbalik, sehingga tak akan kita menemui karya berlogi-logi yang amblas, hancur lebur dan anti klimaks di karya pamungkasnya-- seperti penulis muda masa kini.
Pingkan masih menyimpan banyak mesiu. Sepertinya begitu.
Novel pertamanya membuat saya pusing dan bingung. Saya masih belum beradaptasi dengan gaya menulis Sapardi ketika membaca novel pertama.
Saat tahu kalau novel ini adalah trilogi dan novel keduanya sudah terbit, saya memutuskan untuk tidak mengikuti trilogi ini. Tapi lucunya, saat saya mampir ke toko buku dan membaca novel ini karena segelnya sudah dibuka, saya membacanya dan jatuh hati. Setelah itu memutuskan untuk membelinya lain kali.
Entah kenapa, mungkin karena sudah beradaptasi dengan gaya menulisnya, saya lebih paham novel kedua ini daripada yang pertama. Di novel kedua ini banyak menyinggung soal kebudayaan Jawa dan Jepang yang mistis. Paling hebat adalah bagaimana Sapardi menggabungkan keduanya menjadi cerita yang unik.
Di buku ini lebih banyak menceritakan soal Pingkan dan Katsuo. Dan sepanjang perjalanan saya membaca ini, saya kangen dengan emosi dan pikiran Sarwono. Semoga di novel ketiga, Sarwono sudah sembuh ya.
Akhirnya tamat baca buku ini setelah hampir 2 bulan nyicil. Kalau di buku pertama kita diajak ketawa-ketawa senang dengan kernyitan di dahi, di buku kedua ini bener-bener ngga dikasih ketawa. Kerut di dahi sampai halaman terakhir. Apalagi di epilog yang semakin membuat buku ini menarik karena mau nggak mau penasaran dengan kelanjutannya di buku ketiga.
Ada banyak hal yang mungkin di luar pengetahuan saya yang jadinya agak bingung memaknainya, lebih dari itu untuk sekarang ini saya ambil makna besarnya saja. Semoga buku terakhirnya cepat terbit.
Di bagian awal memang agak sulit mencerna arah cerita ini akan kemana, tapi di akhir tepat di penghabisan halaman buku ini ceritanya semakin jelas dan saat saya akhirnya bisa mengerti cara menikmati buku ini, ceritanya habis. Bagian awal dan akhir tersebut yang membawa saya memencet Lima bintang di sini.
Di buku sebelumnya, saya tidak menyukai dalam gaya penulisannya. Di buku ini, ada perubahan, tapi sayang, cukup sering melebar dan dipanjang-panjangkan.
GARIS BESAR BUKU Jarak fisik telah mereka lewati, namun takdir seolah menguji cinta Pingkan dan Sarwono dengan cobaan yang lebih berat. Koma yang mendera Sarwono dan ketidakpastian penyebabnya membuat Pingkan berada di ambang keputusasaan. Di tengah kesedihannya, kehadiran Katsuo bagaikan oase di padang pasir, namun cinta yang ditawarkan Katsuo justru membuatnya semakin dilema.
POIN MENARIK Cinta Segitiga Sarwono-Pingkan-Katsuo Terikat dalam tugas mengurus mahasiswa Jepang di Indonesia, Katsuo menjalin hubungan yang dekat dengan Pingkan. Meskipun hatinya telah diikat oleh perjodohan di negaranya, rasa cinta pada Pingkan tetap membara. Uniknya, alih-alih merasa cemburu, Katsuo justru berharap Sarwono segera sembuh agar Pingkan dapat menemukan kebahagiaan sejati bersama kekasihnya.
Konsep Spiritual Pancer (jawa) dan Mabui (Jepang) Keluarga Sarwono meyakini bahwa penyakitnya disebabkan oleh hilangnya pancer, roh pusat kehidupan dalam kepercayaan Jawa. Keyakinan ini diperkuat oleh Katsuo yang ibunya, seorang yuta (pendeta perempuan), menyatakan bahwa Sarwono kehilangan mabui-nya (roh). Sang yuta berusaha memanggil kembali mabui Sarwono melalui ritual khusus untuk menyembuhkan penyakitnya.
Dilema Kewarasan Pingkan Novel ini menyorot perjalanan emosional Pingkan yang semakin rumit. Ia merasa terpecah menjadi dua identitas yang berbeda, seakan-akan hidup dalam dua dunia yang terpisah. Di satu sisi, ia masih terikat pada cinta lamanya kepada Sarwono. Di sisi lain, ia menemukan kenyamanan dan ketertarikan baru pada Katsuo.
—————————
Kesanku setelah membaca buku kedua trilogi #HujanBulanJuni ini: ringkas namun rumit. Sederhana namun mengundang banyak tanya.
#lintangbookreview
Melanjutkan series ini berharap bisa mendapat kejelasan cerita yang menggantung di buku pertamanya. Tapi malah makin gantung. Roh-nya Sarwono menggantung, perasaan Pingkan menggantung. Cinta segitiga antara Sarwono-Pingkan-Katsuo menggantung. Pembaca juga ikut-ikutan tergantung. Cuma cicak di dinding kamar Sarwono yang ga menggantung.. karena dia menempel. (ytta).
Perihal roh atau arwah, dalam kepercayaan tradisional Jawa ada yang namanya “sedulur papat lima pancer”, sedangkan di Jepang ada “mabui”, yang keduanya memiliki konsep yang mirip: jika seseorang kehilangan ‘roh’nya, harus dilaksanakan ritual agar roh itu kembali. Di novel ini, plot yang disajikan cukup slow-paced menceritakan bagaimana orang-orang di sekitar Sarwono berusaha menyembuhkan sakit misteriusnya dengan pendekatan spiritualisme Jawa dan Jepang.
Di lain sisi, ada sosok Pingkan, yang membuatku bertanya-tanya, “Ping, lu kagak waras, ya?”. Komanya Sarwono membuat Pingkan kehilangan jati diri. Dirinya lebih sering jatuh ke dalam realisme magis pikirannya sendiri, menjadikan dirinya sebagai orang lain.
Penyajian gaya bahasa dibandingkan novel sebelumnya juga agak berbeda. Di HJB, pembaca diajak romantis sambil ketawa-ketawa, di buku ini bener-bener ga diberi ketawa sama sekali. Diksinya penuh magis, pelik, dan implisit mengajak pembaca untuk menafsirkan sendiri maknanya.
Novel ini unik.. dengan plot, gaya bahasa dan karakterisasi yang dibumbui oleh magical-realism dan supranatural, penulis juga menciptakan harmonisasi budaya: perpaduan unik antara budaya Jawa yang kental dengan sentuhan budaya Jepang. Aku masih terasa berat untuk mencerna tiap diksinya, terlebih endingnya masih mengambang. Ini pertanda bahwa harus cepat-cepat lanjut ke buku ketiga, nih.
Cinta adalah konsep yang multidimensi, ia melampaui batas-batas perasaan dan memiliki manifestasi yang beragam. Tapi, sebelum lebih jauh, coba jawab ini: Cinta itu, apa, sih?
Without the hurt, the heart is hollow. - Try to Remember, Harvey Schmidt & Tom Jones
Terjawab sudah rasa penasaranku dari alur selanjutnya kisah Sarwono dan Pingkan ini. Sejak rampung membaca novel pertama, daku tak bereskpektasi akan ada happy ending - hal yang biasa kulakukan dan sangat kuharapkan dalam semua cerita baik novel maupun film. Justru di novel ini atau novel sebelumnya, fokusku lebih kepada gaya bahasanya. Tantangan tersendiri rasanya memecahkan teka-teki bahasa yang disampaikan - entah apakah ini tepat disebut teka-teki, hehe.
Penggambaran satu kondisi yang tidak tunggal melainkan dengan ditampilkan banyak majas dan diksi-diksi indah, penuh emosi, namun tetap manis. Menjadikan apa yang ditampakkan menjadi lebih utuh dan emosional ketika diterima pembaca.
Permainan imajinasi pada bagian novel kedua ini sangatlah dominan, dan ini sangatlah wajar karena porsi fantasinya begitu pekat dan menjadi poin utama yang ditonjolkan, I guess. Masa di mana Pingkan down begitu terpuruk dengan kabar mengejutkan dari Sarwono, dan keterpisahan antara mereka karena kepercayaan kejawen yang dianut ibunya, menjadi alasan utama jarak merentang antara keduanya. Menurut ibunya, Sar kehilangan pancernya (kembaran sejak lahir, mitologi / kepercayaan jawa),
Karena keterpisahan inilah, Pingkan tenggelam dalam imagi-imagi yang hadir di hadapannya, menjadi tipis perbedaan yang nyata dan tidak nyata. Ia berada di tengah benang yang menghubungkan keduanya. Dan menurut Katsuo, berdasarkan pengamatan dan pengaruh kepercayaannya, Pingkan telah ditinggalkan oleh mabui-nya. Begitupun Sarwono menurutnya. Dan karenanya keduanya membutuhkan bantuannya. Sangat kentara sosok Katsuo dalam cerita ini. Pribadi yang setia pada janji pernikahan oleh ibunya, namun di saat yang sama juga mengharapkan keterikatan pada gadis setengah Menado dan Jawa ini. Baginya, menyelamatkan Sar berarti menyelamatkan Pingkan, yang juga menyelamatkan cintanya.
Karena kentalnya sosok Jepun ini, maka menjadi wajar jika sepanjang novel pembaca akan menemui istilah-istilah dalam kebudayaan jepang, hal yang menurutku menjadi nilai tambah yang memperkaya novel setebal 121 halaman ini.
Bagaimana nasib kisah cinta Pingkan dan Sar? Bagaimana kegigihan Katsuo menjalankan rencananya agar dapat bersama Pingkan selamanya, sesuai keinginannya? Apa respon keluarga Pelengkahu dan Sar mengetahui siasat Katsuo? Selamat menyelami samudra kisah selengkapnya di novel ini 😙
Buku kedua Trilogi Hujan Bulan Juni ini merupakan salah satu di antara tujuh buku yang diluncurkan pada ulang tahun ke-77 Sapardi Djoko Damono (SDD) pada Maret 2017 lalu. Pada buku pertama, dikisahkan cinta Pingkan dan Sarwono yang "tarik-ulur" karena masalah identitas dan agama.
Pada buku kedua ini SDD masih mengangkat masalah krisis identitas. Kali ini yang menjadi fokus adalah diri Katsuo, teman Pingkan dari Universitas Kyoto. Katsuo akhirnya mengungkapkan bahwa sejatinya dia juga dianggap "liyan" di kalangan orang Jepang karena dia berasal dari Okinawa yang dianggap "bukan Jepang". Sesungguhnya budaya di Jepang juga tidak tunggal.
SDD juga mengangkat masalah dunia metafisika, yakni Jawa dan Jepang (tepatnya Okinawa, tempat asal Katsuo). Mengenai metafisika Jawa, hal yang diangkat misalnya inthuk-inthuk (sesaji penangkal gangguan untuk bayi), sedulur papat pancer, dan maneges (mencari petunjuk). Metafisika Jepang mengangkat masalah mabui-gami (memanggil jiwa seseorang kembali pulang).
Pusat cerita tetaplah kisah cinta Pingkan dan Sarwono ditambah Katsuo sebagai orang ketiga. Sarwono masih tak sadarkan diri dan jiwanya "bepergian" ke mana-mana, terjebak antara kisah cintanya dengan Pingkan dan kisah cinta Inu Kertapati-Galuh. Pingkan tidak sakit secara fisik, tetapi jiwanya juga "tak berada dalam tubuhnya".
Katsuo sebenarnya mencintai Pingkan, tetapi dia sudah dijodohkan dengan seorang gadis di kampung halamannya. Dia hanya bisa melakukan apa pun demi kesembuhan Sarwono dan Pingkan agar bisa tetap dekat dengan Pingkan. Dia pun meminta tolong kepada ibunya yang seorang noro atau nuru (pendeta perempuan) untuk memanggil pulang jiwa dua orang itu.
Agaknya saya perlu meminjam ketabahan bulan Juni untuk menunggu buku ketiganya untuk tahu nasib kisah cinta Pingkan dan Sarwono. Buku ini tipis, tapi jujur agak gagal paham. 😄 Seperti biasa, meskipun tidak paham, saya tetap menikmati kalimat-kalimat panjang yang disusun dengan bunyi yang indah dan puitis ala Eyang Sapardi.
Cerita sekuel "Hujan Bulan Juni" ini berangkat dari situasi berikut. Pingkan baru kembali ke tanah air sejak keputusannya menempuh studi di Jepang. Ada Katsuo, kolega yang menyimpan perasaan cinta kepada Pingkan, yang turut menemani aktivitasnya. Adapun Sarwono, peneliti FISIP-UI, tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ia tak sadarkan diri selama berhari-hari.
Pingkan, secara mendadak, mengalami kehilangan “diri”. Ia seperti hidup dalam lamunan dan penyangkalan akan fakta Sarwono yang kini sekarat di rumah sakit. Dari sudut pandang Pingkan, pembaca mesti lebih jeli menempatkan tokoh ini: apakah ia tengah berada di alam nyata atau sedang bertualang di alam bawah sadar? Sebab jiwanya sering bolak-balik dan keluar-masuk raga. Sejak mengetahui Sarwono terbaring tak sadarkan diri berhari-hari, Pingkan seperti menyalahkan diri sendiri.
Dalam novel ini, porsi cerita Sarwono nyaris dilahap kisah tentang Katsuo, yang diam-diam mencintai Pingkan. Dan rupanya, Katsuo mengalami perasaan yang terasing. Lelaki kelahiran Okinawa ini menganggap tata cara hidupnya berbeda dengan yang berlaku di Hokkaido. Kebudayaan Jepang, kata dia, pada hakikatnya tidak tunggal. Di kalangan orang Jepang, mereka yang berasal dari Okinawa dianggap “bukan Jepang".
Perasaan terasing itu seirama dengan Pingkan yang seringkali mengeluhkan jati dirinya antara menjadi orang Menado, daerah asal ayahnya, atau orang Jawa, tempat kelahiran sekaligus juga daerah asal ibunya. Kegelisahan yang semakin mengkristal, semakin menegaskan kediriannya yang “liyan”, kala ia berkumpul dengan keluarga besar Pelenkahu.
"Pingkan Melipat Jarak" tidak semata mengisahkan gejolak cinta Katsuo dan Sarwono kepada Pingkan. Novel ini juga bercerita tentang persoalan metafisika, budaya, dan konsep “liyan” atau “yang lain”, mereka yang merasa berada di pinggiran, berada di luar inti, semacam perasaan terasing. Dalam kondisi itu, Pingkan harus melipat jarak. Apakah mendekat ke pusat atau pinggiran? Apakah merapat ke Sarwono atau mendekati Katsuo. (asw)
Judul : Pingkan Melipat Jarak Penulis : @damonosapardi Penerbit : @bukugpu Cetakan : 2, April 2017 . . . . "...laki-laki bisa mempesona dan menyatukan diri ke jiwa perempuan dengan kecerdasan, bukan tampang. (hal.32)
Pesona pak Sapardi di usia senja sangat terlihat dari karya-karyanya. Kecerdasannya terlihat dalam menyatukan lokalitas Jawa dan Jepang dalam novel ini. . . . Melanjutkan cerita Hujan Bulan Juni, Sarwono terbaring sakit. Bu Hadi, ibu Sar yakin keempat saudara masih menjaga baik-baik. Dalam kebudayaan Jawa, dikenal sedulur papar lima pancer. Empat saudara itu adalah kakaknya,ketuban dan adik-adiknya yaitu ari-ari, darah, dan pusar. Istilah lainnya adalah kiblat empat dan manusia berada di tengah pancer. Si pancer yang telah menumbangkannya itu harus dikembalikan. Kalau dalam Jepang,kehilangan mabui dan harus diadakan mabui-gumi, upacara mengembalikan mabui.
Sakitnya Sarwono membuat Pingkan melipat jarak. Ia hidup diantara dunia nyata dan dongeng. Ia sebagai Galuh harus menemukan Raden Panji. Rasa cinta Katsuo pada Pingkan, membuat ia harus membantu. Membantu Pingkan berada di samping Sarwono sebab ialah yang membuat Pingkan bahagia. Kerumitan itu dirangkai oleh Sapardi dengan kata-kata yang seperti sihir, puitis di sana-sini.
Baru di lembar-lembar pertama saya sudah terpesona oleh kata-kata ini "Kalau hujan turun aku merasa kita hanya berdua saja di dunia. Tapi sekarang tidak turun hujan, padahal ia ingin hanya berdua saja. Kita bertiga dengan hujan:kau, aku, dan hujan. Tetapi sekarang tidak hujan. Tapi mungkin hujan turun di ruang-ruang sempit dalam kepalanya, mungkin hujan turun di kenangannya yang merongga, jatuh di atas daun-daun yang menitikkan kembali setetes demi setetes menjelajah rangkaian nada yang mengingatkan pada "September in the Rain. " (Hal. 4)
Lalu kata-kata Pingkan ini juga makjleb "Kenangan itu fosil, bukan abu, Toar. Tidak bisa diubah menjadi abu."(hal.115)
pingkan melipak jarak adalah novel seri kedua dari trilogi "hujan bulan juni" karya sapardi djoko damono. dimana sebelumnya, pada novel pertama "hujan bulan juni" dikisahkan kepelikan perbedaan agama dan suku antara jawa dan manado dari kedua belah keluarga pingkan dan sarwono, kali ini dalam pingkan melipat jarak, cerita dimulai oleh sarwono yang tengah dirawat di rumah sakit dan menyebabkan pingkan turut sakit, linglung, bengong, seolah ikut terganggu jiwanya. seperti yang diungkapkan oleh katsuo, dalam spiritualisme jepang, sarwono telah kehilangan mabui-nya (inti, ruh dan manna manusia). untuk membantu sarwono agar sembuh, ia perlu melakukan mabui-gumi (ritual mengembalikan mabui seseorang). hatinya membatin, "untuk menjaga cintaku pada pingkan sarwono harus sembuh dan harus bersama pingkan selamanya." bila kalian juga membaca novel pertama, kita dapat ingat kalau sarwono punya masalah kesehatan pada paru-parunya, sakitnya semakin menjadi ketika pingkan mendapatkan beasiswa berkuliah di jepang—muncul ketakutan dan kecemburuannya terhadap katsuo, yang telah dicurigainya bahwa katsuo sudah sejak lama mencintai pingkan. sementara dari sosok katsuo, pembaca akan memahani sebuah pengorbanan cinta terhadap seseorang yang dicintainya, meski pun seseorang yang dicintainya mencintai orang lain. di sini, karakter katsuo digambarkan dengan kepribadian yang lembut, penuh kasih, hormat pada ibunya—bahkan ketika ia terpaksa manut dijodohkan dengan gadis jepang, noriko. sebuah perasaan yang membelenggunya. terlepas dari inti cerita, sapardi memberikan kita referensi terhadap negara jepang; kebudayaan, adat, hal spiritual, tempat-tempat, bahasa dan lagu-lagu yang barangkali menarik atensi pembaca untuk tahu lebih lanjut.
"Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya." - Hal. 13
Sebenarnya aku tak begitu mengerti akan menulis apa pada ulasan ini. Novel ini sederhana, tapi juga kompleks.
Dari segi setting, dalam dimensi waktu yang nyata, novel ini sangat singkat. Durasinya hanya beberapa hari saja. Tapi Eyang Sapardi membawa kita pada dimensi yang lain. Pada dunia yang berbeda. Dunia bawah sadar? Dunia imajinasi? Dunia arwah? Entahlah disebut apa.
Aku bahkan tak tau, apa novel ini berjenis magical realism atau sudah masuk ranah surealis. Mitos, budaya, keyakinan, legenda, masih terasa kental pada tiap lembarnya. Tapi tak jarang ada paragraf yang terlalu abstrak untuk ditafsirkan olehku.
Setelah didongengi legenda tentang Pingkan-Matindas pada buku pertama, kini cerita rakyat Panji-Galuh menyaru pada novel kedua. Aku bahkan harus berhenti sejenak untuk mencari referensi tentang kisah Galuh Candra Kirana agar 'nyambung' dengan cerita novel ini.
Tidak ada lagi keraguan dalam novel ini. Sarwono telah yakin. Pingkan juga mulai memantapkan hati. Bahkan Katsuo sedari awal memang sudah memutuskan tindakan. Sayangnya, situasi dan kondisi membuat mereka melayang-layang tak tentu arah.
“Aku mencintai Pingkan, itu sebabnya ia tak boleh dipisahkan dari Sarwono.” - Katsuo (Hal. 41)
Nyatanya proses mencintai-dicintai memang sekompleks itu. Tak sedangkal pengucapan atau hanya sedalam perasaan. Tapi juga menyentuh hingga faktor kejiwaan.
Buku ini tidak menjawab pertanyaan. Buku ini pengantar banyak pertanyaan untuk buku ketiganya yang, semoga saja, berisi jawaban-jawaban.
"Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya." - Hal. 106
Aku tertarik membaca buku ini ketika menemukannya di perpustakaan kampus. Karena tebalnya hanya sekitar 100 halaman aku percaya diri bisa menyelesaikannya sebelum siang. Tapi orang aneh mana yang membaca trilogi dari buku kedua-nya hahaha.
Bab pertama buku ini membuatku bertanya-tanya dan mencoba membacanya untuk kedua dan ketiga kali, tapi tak kunjung paham. Ternyata bagian pertama itu menceritakan Pingkan yang baru mendengar kabar mengejutkan bahwa kekasihnya, Sar, sakit sampai tak sadarkan diri, dan Pingkan menempuh perjalanan dari Tokyo sampai ke Solo untuk mengetahui kondisinya. Dengan keadaan mental dan fisik seperti itu tentu saja apa yang ada di kepalanya tidak mudah dipahami, haha.
Menurutku bagian yang menarik dari buku ini adalah adanya cerita dari dunia conscious dan sub-conscious (itu pun kalau aku tak salah mengartikan). Dengan cinta yang cukup besar kurasa beberapa orang memang bisa berkomunikasi dari hati mereka. Kalau di buku pertamanya kita sudah diperkenalkan dengan budaya Jawa dan Manado, di buku kali ini bertambah ada budaya Jepang melalui tokoh Katsuo, teman Pingkan. Ternyata ada bagian-bagian dari budaya Jawa dan Jepang yang memiliki kemiripan, atau setidaknya di-mirip-mirip-kan yang menurutku menarik dan belum pernah kutemui.
Daripada buku pertama (Hujan Bulan Juni), aku lebih suka buku ini, mungkin karena ceritanya lebih banyak berfokus pada Pingkan, dan sebagai sesama wanita aku lebih bisa relate dengannya.
Aku terus membaca buku ini karena penasaran dengan akhir ceritanya, apakah Sar bisa bangun atau tidak, tetapi sepertinya aku harus lanjut membaca buku ketiga untuk mengetahuinya haha.
Sekuel kedua dari trilogi Novel Bulan Juni ini bisa saya tuntaskan dalam beberapa hari saja. Berbeda dengan novel yang pertama, Pingkan Melipat Jarak terasa jauh lebih mudah dimengerti dan dipahami bagi saya ketimbang Hujan Bulan Juni, entah apa karena saya sudah mulai terbiasa dengan gaya kepenulisan eyang Sapardi atau memang gaya kepenulisan pada novel ini memang sengaja dibuat jauh lebih sederhana.
Novel ini menceritakan mengenai hubungan cinta segitiga antara Pingkan, Katsuo dan Sarwono. Juga, lebih banyak menceritakan mengenai Sarwono yang kehilangan 'Pancernya' sehingga menyebabkannya berakhir di rumah sakit, usaha Bu Hadi yang secara adat Jawa dan Katsuo secara adat Jepang berusaha mengembalikan 'Pancer' Sarwono agar kembali sehat dan masih meninggalkan banyak teka-teki untuk dipecahkan di sekuel berikutnya. Jika di Hujan Bulan Juni, eyang Sapardi mengaitkan tokoh utamanya dengan legenda Tonsea yaitu Pingkan dan Matindas, maka di sekuel kali ini lebih banyak mengaitkan dengan cerita Panji yaitu Galuh dan Ino.
Beberapa kutipan yang menjadi penggalan favorit saya di novel Pingkan Melipat Jarak ini yaitu:
"Kalimat itu tidak pernah bisa diselesaikannya. Tidak pernah ada keinginan untuk melengkapinya. Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya. " — hal. 13
"Pada suatu saat yang ditetapkan, orang harus memiliki nyali untuk membungkuk kepada dirinya sendiri. " — hal. 105
"Kalau aku menatap matamu, yang kusaksikan adalah bintang bersinar nun di sana, bertahun-tahun cahaya jaraknya dari sini, yang mungkin sekarang tak ada lagi sebab sudah masuk ke Lubang Hitam di semesta. " — hal. 04
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebuah rangkaian struktur yang mengagumkan. Sudut pandang yang digunakan melebur dari tokoh yang satu ke tokoh lain tanpa ada pembeda. Sedikit rumit, namun masih bisa dipahami.
Sudut pandang pencerita yang berubah-ubah dari Pingkan, Sarwono, Katsuo, dan beberapa tokoh lainnya. Seakan setiap tokoh adalah seorang lakon utama yang memiliki kehendak masing-masing.
Kemudian adalah latar dan alur. Dua hal ini begitu komplementer. Seperti sebuah absurditas yang terangkai nan apik. Dua hal tersebut begitu abstrak. Sulit membedakan mana yang kini mana yang lampau. Latar waktu yang buram sewarna monokrom tak mampu dipahami begitu saja. Kemudian latar tempat yang menjelma apa pun seperti hutan, sungai, pesisir laut, stupa. Sering juga muncul ruang tanpa waktu. . Begitu pula alur yang hampir tak mampu dibedakan mana yang lampau mana yang saat ini, mana kesadaran dan mana yang bukan kesadaran. . Novel kedua trilogi Hujan Bulan Juni ini kaya akan keunikan strukturalnya. Terlebih lagi ketika bermain dalam rasa menggugah makna tentang cinta. Sudut pandang, alur, dan latar juga memainkan peran dalam merangkai kombinasi yang menawarkan makna lain. Seakan ingin menjelaskan tentang makna waktu, yang setidaknya telah ditentukan arah pemikirannya untuk menyambut trilogi yang ketiga, yaitu Yang Fana Adalah Waktu. . Sebuah trilogi kaya akan konkretisasi. Membutuhkan cakrawala pengetahuan yang luas untuk mampu menjadikan yang multitanda ini menjadi multimakna.
I first discovered Sapardi Djoko Damono through a poem assignment from school, “Sajak Tafsir”, that was the one.
I feel like it somehow represents how I feel, somehow, somehow I don’t know.
But then, one day, I decided to go to Gramedia with my brother, found this piece and pick it up home with me. Went home, and I didn’t read it right away because I still have some books I have to finish first.
And when the time for me to read this book came, I was in such a crazy condition, I think I was really out of place that time, and somehow, somehow this book was just the perfect read for my then messed-up-self.
I love, love, LOVE, Eyang Sapardi’s writing style, and with every writing, you can always tell right away that it is made by him.
I read this book for the second time because I wanted to submit an assignment regarding this book and I can finally understand everything the words has been trying to say on my first-time-reading-it-when-i-was-just-reading-it.
It is truly such a good read, great, even. I’ve wrote some sheets about my “muse” in his writing style, and it’s just what i’ve always been searching for, the exaggeration in how he formed his sentence and everything, *chef kiss* it is so me, sssooo mee.
Saya menangkap kesan ini seperti Norwegian Wood (Haruki Murakami) versi orang Indonesia. Versi norma dan nilai yg dianut oleh orang Indonesia.
- Spoiler Alert - Kisahnya tentang perih hati Pingkan karena sakitnya Sarwono, yg tak kunjung sadar, yg tak jelas sakitnya apa.
Lalu dibawalah pembaca pada dunia, entah dunia apa, -dunia ruh? Dunia antara hidup dan mati? Dimana Pingkan, Sarwono, dan Katsuo bisa bertemu, saling bercakap yg tak jelas bercakap apa.
Ditutup oleh usaha Pingkan agar mabui-nya tak ikut-ikutan pergi seperti mabui Sarwono yg sampai saat ini masih lupa jalan pulang. Pingkan akhirnya mencoba kuat dan kembali pada realita dan tugas-tugasnya di dunia nyata. Pingkan tak jadi bunuh diri seperti Naoko dalam Norwegian Wood, karena Pingkan menganut norma dan nilai yg berbeda dengan Jepang. Pingkan itu Indonesia.
Bagaimana kabar Sarwono selanjutnya? Hanya bisa kita tahu setelah membaca buku terakhir dari trilogi ini. Atau mungkin, kita tak akan pernah tahu, karena bisa saja SDD memutuskan untuk semakin membuat ruwet alur kisah Pingkan dan Sarwono. Entahlah, terserah. Tidak terlalu menarik.
Pingkan melipat jarak merupakan buku yang sangat bagus dan menceritakan apa itu arti setia dan cinta. Dengan karakter yang mempunyai sejarah budaya yang sangat bervariasi. Ada yang dari budaya jawa, ada yang budaya jepang, ada yang berasal dari budaya makasar. Unsur budaya ini juga melambangkan pengetahuan budaya yang dimiliki sapardi, hal ini juga menunjukkan rasa cintanya Sapardi terhadap budaya dan kepercayaan Sapardi terhadap kearifan lokal. buku ini disampaikannya secara indah dan mudah dimengerti. dengan kombinasi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang menghasilkan sebuah karya yang indah. perpaduan kata kata indah yang menbuat semua adegan seakan-akan dramatis. puisi-puisi yang ditulis sapardi menghasilkan sebuah paduan kata yang sangat indah dan bermakna.
menurut saya, buku ini salah satu buku yang sangat mempunyai arti mendalam di setiap adegan, kata, dan puisi. karena beberapa adegan mencermikan nilai nilai yang amat berarti dan kebetulan merupakan skill yang bisa di aplikasikan di kehidupan asli. seperti arti kesetiaan. pingkan dan sarwono sangat menginspirasi ku untuk mengaplikasian arti kesetiaan itu
Pada saat awal-awal membaca buku ini, pada 20 halaman pertama, saya meragukan dan meremehkan cerita ini. Saya pun sempat tidak ingin membacanya untuk sehari. Tetapi, karena masih ada rasa penasaran saya pun baca sampai saya mengerti alur cerita. Setelah membaca buku ini, saya sangat menyukai cerita ini. Karena, saya percaya dengan hal-hal mistis dan takhayul. Saya sangat gemar membahas mengenai hal-hal yang berbau dunia lain dan lain-lain. Dan juga, ini adalah novel yang mempunyai cinta segitiga yang bagus. Ada satu bagian novel yang menjelaskan bahwa Pingkan ingin mencoba untuk bunuhh iri. Dan dari novel ini mengajarkan pembaca bahwa ada cara lain selain bunuh diri. Saya belajar bahwa bunuh diri bukanlah solusinya. Bunuh diri tidak mengakhiri rasa perih dan sakit, tetapi hanya mengoper atau memindahkan rasa perih dan sakitnya kepada orang-orang terdekat kita. Saya juga belajar bahwa, gangguan dengan mental juga bisa berpengaruh pada fisik. Secara keseluruhan, saya sangat gemar dan menyukai novel "Pingkan Melipat Jarak"
“Kenangan itu fosil, bukan abu, Toar. Tidak bisa diubah menjadi abu.” (hlm. 115). Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita,
Ke sana, Saudara, ke sana. Selalu ada kapal yang mendadak bergoyang bahkan ketika tidak ada sama sekali angin di samudra bahkan ketika tidak ada pun yang terasa bergerak kecuali dua ekor camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat apa pun yang bisa dihinggapinya kecuali sebuah bahtera yang bergoyang keras ke sana kemari terlempar ke atas menghunjam kembali ke permukaan menciptakan percik-percik air dan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan air sehingga tidak mungkin dihinggapi tiang layarnya walau hanya sejenak.
Walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar tetap bisa memelihara kasih sayang. Walau hanya sejenak. 🕊🦅
Sebagai orang Solo yang belajar Antropologi, novel ini terasa "akrab" karena terdapat setting di Solo dan beberapa kali menyentil mengenai Antropologi dan budaya Jawa-Manado-Jepang.
Tapi, alur, plot, dan semua-muanya sepertinya harus aku PDKT dulu alias belum "akrab", belum klop, karena masih belum menemukan "jawaban" dari pertanyaan di Hujan Bulan Juni.
Buku setipis ini rupanya tidak setipis jalan ceritanya yang mulai berliku. Dari hanya Pingkan-Sarwono-Katsuo, eh malah merambat kemana-mana.
Mungkin karena ini buku kedua, ibarat drama korea, novel pertama Hujan Bulan Juni "membuka" dan mengenalkan, novel kedua berisi intinya, dan terakhir mungkin novel ketiga Yang Fana Adalah Waktu akan memberikan jawabannya.
Aku suka bagaimana Pak Sapardi menyelipkan cerita Jawa dan menyamakan tokoh dalam dongeng Jawa dengan karakter novel. Aku jadi menebak-nebak apakah Matilda itu representasi dari si A? Apakah ending dongengnya akan seperti akhir novel? Yaaahh walaupun masih menunggu jawabannya.
Mungkin awalnya saya cukup meremehkan novel ini karena novel ini sangat tipis. Namun ketika saya mulai membaca novel ini, ternyata konten dalam novel ini cukup susah untuk dipahami. Novel ini menimbulkan banyak pertanayaan untuk saya. Walaupun novel ini rumit untuk dipahami, tetapi banyak sekali aspek budaya yang terdapat dalam novel ini. Mengajarkan saya tentang budaya-budaya yang sebelumnya saya tidak tahu. Cerita tentang Katsuo, Pingkan, dan Sarwono merupakan kisah cinta segitiga yang penuh pengorbanan. Lalu selain itu, novel ini harus dibaca dengan fokus karena ada beberapa cerita yang lebih terlihat sebagai imajinasi atau kenangan. Hal-hal seperti itu cukup membingungkan saya sebagai pembaca.
Konflik batin antara tokoh lumayan sulit dipahami namun pada akhirnya mulai terlihat jelas hubungan antar tokoh. Gaya cerita dari Sapardi Djoko Darmono juga lumayan sulit dipahami dan berbeda dari gaya cerita yang biasa saya baca.