Jump to ratings and reviews
Rate this book

24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif

Rate this book
Tiga lelaki, tiga perempuan, dan satu motor berencana merampok toko emas. Semua karena sebuah kotak hitam.

228 pages, Paperback

First published April 28, 2017

72 people are currently reading
911 people want to read

About the author

Sabda Armandio

9 books189 followers
Sabda Armandio Alif. Menulis dan menerjemahkan cerita pendek. Novel pertamanya: Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya) diterbitkan di awal tahun 2015. Novel keduanya, '24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif' (Penerbit Mojok) terbit tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai Manager Multimedia di Tirto.id.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
231 (20%)
4 stars
525 (45%)
3 stars
327 (28%)
2 stars
43 (3%)
1 star
19 (1%)
Displaying 1 - 30 of 298 reviews
Profile Image for Wirotomo Nofamilyname.
380 reviews52 followers
April 13, 2018
Buku #31 di tahun 2017.

"Dio, apa yang kamu lakukan ke Gaspar itu JA-HAT!!!". :-)

Ini novel yang benar-benar menghibur, bisa bikin tertawa puas. walau kadang lebay sih. Ah tapi saya orangnya juga agak lebay dan garing sih, jadi klop.
Bagian interogasi itu bagian yang paling bikin ketawa ngakak. Bu Tati itu nyebelin banget, tapi jawabannya itu benar-benar maut apalagi pas jawaban "Tiada Tuhan selain Allah, Pak". Di situ saya tertawa ngakak. Hahaha.
Saya sampai kepikir bahwa suara statik selama 10 menit itu bukan karena rekamannya sudah kuno, tapi terutama karena Polisinya sengaja mematikan recordernya karena sebal mendengar jawaban yang sama lagi. dan Sabda Armandio dengan teganya menulis ulang jawaban yang sama sampai titik komanya, saat Bu Tati bercerita dan pak Polisinya malas menyela lagi karena khawatir Ibu ini akan mengulang lagi kalau disetop. di situ saya tertawa lagi. Hahaha.

tapi btw kalau peristiwa "Kejahatan 4 Maret" cuma seperti itu, ngapain juga sampai diceritakan dengan begitu seriusnya, sampai ada rekaman dan catatan begitu banyak (eh tapi yang ngerekam dan ngecatat juga pasien RSJ sih hehehe eh atau dia cuma nyimpan saja ya?).
dan saya masih penasaran "Peristiwa Mandor 28 Juni" dan "kejadian Monas ditabrak pesawat tempur latih 22 Oktober" apakah benar pernah terjadi atau cuma imajinasi Sabda Armandio atau peristiwa yang memang akan terjadi di masa datang.

Saya nggak bisa menceritakan terlalu banyak ceritanya, khawatirnya nanti jadi spoiler buat yang belum membaca. Saya cuma bisa bilang seperti di atas: ini novel yang benar-benar menyenangkan dan membuat anda tertawa terbahak-bahak dan tak lama kemudian bilang "meh! garing loe Dio". Tapi ini benar-benar peristiwa membaca yang harus dinikmati dan kemudian anda kenang sepanjang sisa hidup anda. Lebay loe Tom! :-)
oh iya tentu saja akhir ceritanya nggak bisa dibilang happy-happy banget sih. Tapi terus terang itu sangat menyentuh, membuat anda jadi menghela nafas dan mengenang bagian cerita sebelumnya dengan perasaan campur aduk. Sambil berfikir: makanya dia nggak mau disentuh dari belakang. anak yang malang. Dan sebagainya.

Saya suka sekali. Kalau ada bintang 4,5 saya akan kasih segitu, yah antara i really like it dan it was amazing. tapi karena angka itu nggak ada di per-rating-an Goodreads, dan saya nggak tega menurunkannya, maka saya kasih bintang 5 saja deh.

Gituuu....
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
April 9, 2019
Dalam 24 Jam Bersama Gaspar, seorang pemuda bernama Gaspar akan melakukan pencurian. Bersama dengan beberapa orang kenalannya (mantan pacar, pria yang kini menjadi pacar mantan pacarnya, seorang penjaga toko, wanita yang menyelamatkannya saat Gaspar ingin menyelamatkan wanita tersebut, seorang wanita lanjut usia, serta sebuah motor), Gaspar akan mencuri sebuah kotak hitam misterius. Apa yang ada di dalam kotak itu? Harta? Semua pengetahuan yang ada di dunia ini? Ataukah sebuah rahasia?

Salah satu novel paling ngasal yang saya baca tahun ini. Sepanjang membaca buku ini, saya terus membayangkan kalau Gaspar ini adalah Lupus dewasa, tapi versi salah asuhannya. Celetukan dan berbagai guyonannya mengingatkan saya pada tokoh Lupus, walau minus tebak-tebakan dan permen karet.

Gaya berceritanya memadukan unsur novel detektif (yang tidak detektif-detektif amat) dengan humor yang nyeleneh, tapi memiliki sasaran yang jelas dan yang penting: lucu. Gaya berceritanya ini menurut saya sukses dalam menarik perhatian dan membuat pembaca penasaran untuk mengetahui akhir kisah Gaspar.

Di sisi lain, gaya berceritanya ini juga kadang lebih kuat dari isi ceritanya sendiri. Style over substance. Hal ini membuat saya tidak peduli ceritanya (dan bahkan tidak begitu ingat setelah selesai. Kalau novel ini diujiankan, nilai saya rasanya tidak akan bagus), tapi bisa merasa terhibur saat membaca bagian tersebut.

Secara keseluruhan, 24 Jam Bersama Gaspar adalah novel super ngawur, tapi juga serius dan patut dicoba bagi yang mencari bacaan yang tidak biasa.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
May 31, 2017
Kenapa di setiap cerita, kebaikan selalu menang?

Hitler membunuh kaum Yahudi demi kebaikan, Soeharto memusnahkan orang-orang dengan alasan yang sama. Lantas, apakah makna dari kebaikan itu sendiri? Sosok Gaspar dalam novel ini kurasa lahir dari pemikiran-pemikiran itu.

24 Jam Bersama Gaspar mengangkat kisah detektif pada level yang berbeda, dengan konflik sederhana sebetulnya: seorang tokoh protagonis bernama Gaspar, mengajak lima orang secara manasuka untuk merampok sebuah toko emas, karena obsesinya pada sebuah kotak hitam yang tersimpan di sana. Tapi setelah mengenal karakter tiap tokoh yang terlibat, dipikir-pikir agak rumit juga.

Novel ini disampaikan penulis dengan gaya menulis yang sarkastis, satire nan meledak-ledak. Kadang terlihat serius sekali, kadang terasa asal, jenaka, dan intelek dalam waktu bersamaan. Misalnya, menyoal sindiran terhadap film Fight Club sampai diadakan forum diskusi khusus oleh para pemuja Brad Pitt, walaupun tokoh Gaspar harus mengakui kalau film itu memang cukup apik sebagai pelopor film dalam genrenya.

Kayaknya referensi penulis tentang film memang banyak disebut di sini. Bahkan konon nama Gaspar dicomot dari nama Gaspar Noe (sutradara film Love, yang bikin meneguk ludah itu), dan aku yakin nama tokoh penulis fiktif Arthur Harahap pun diambil dari Sir Arthur Conan Doyle (pengarang serial Sherlock Holmes). Selain film, tentu referensi buku dan musik juga banyak dicatut Sabda Armandio, tapi aku lalai mengingat satu per satu sekaligus lupa fungsi utama Post-it.

Intinya, membaca novel ini menjadi pengalaman baru yang menyenangkan, serasa nonton film-filmnya Quentin Tarantino. Aku suka bagaimana cara penulis menyampaikan keresahannya tentang senjang antara baik dan jahat, serta idenya untuk menabrak pakem cerita detektif kabanyakan. Apalagi potongan wawancara antara polisi berkumis dengan nenek-nenek nyinyir di tiap akhir bab, itu genius menurutku.

Semoga punya kesempatan membaca novel-novel segar seperti ini lagi. Tabik!
Profile Image for Utha.
824 reviews402 followers
May 23, 2022
Aku pernah baca esai yang dibikin Sabda Armandio. Dan suka. Aku pun berpikir kalo dia menulis novel, mungkin juga bakal suka, makanya beli novel ini. Belinya pun udah dua tahun lalu, sekitar akhir September (ada tulisan tanganku di novel ini haha).

Dan entah kenapa selalu mogok di bab 1 saat baca. Terasa nggak tergugah buat baca. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu ngecek timbunan dan ada novel ini. Dan aku nggak bisa berhenti baca sampai habis saking sarkas, seru, dan aneh! :))

Ceritanya nggak "seberat" novel-novel jebolan DKJ. Tapi karena itulah jadi asyik banget bacanya. Rasa humor dalam tulisan ini bernuansa sarkas, terus karakternya ajaib semua. Beberapa kali terkekeh saat baca.

Selesai baca, rasanya pengin lempar nih buku! Ada yang mau?
Profile Image for Aciel.
18 reviews2 followers
April 7, 2018
Berasa pengen cepet-cepet menghabiskan buku ini, saya kesal dengan cara penuturannya, saya kesal dengan katakternya, bahasa yang seperti google translate, sepertinya hanya penulis dan editor serta beberapa temannya yang paham dan mengerti buku ini. I am wasting my time.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
May 7, 2017
Kalau tuan-puan hendak menikmati novel dengan tema sosial-politis sebagaimana kebanyakan tema-tema pemenang sayembara novel DKJ, maka carilah judul lain. Namun, bila tuan-puan hendak membaca cerita yang segar, menggelitik, sekaligus kocak, maka buku ini adalah pilihan yang tepat. Saya sendiri sudah menduga saya akan candu dengan novel ini, menyaksikan keempat novel yang menjadi saudara sepersusuan dari DKJ yang (menurut) saya belum ada yang segar. ini sangat remeh temeh, karena (cuma) berkisah soal Gaspar yang kemudian di tengah memiliki nama alias bernama Rahasia hendak mencuri toko emas milik Wan Ali. Namun sejatinya ada sebuah rahasia yang diam-diam disembunyikan Gaspar, ialah soal kotak dan anak perempuan Wan Ali.

Gaspar kemudian bertemu sekaligus menggalang komplotasi dengan lima orang lainnya, Njet, Kik, Agnes, Pongo, dan Pingi. Yang kesemuannya ada kaitannya dengan Wan Ali. Misalkan Pingi yang sejatinya adalah kakak ipar Wan Ali.

Tetapi yang menarik adalah rasa humor Sabda yang seolah merangkum semua informasi dan kemudian diolah sedemikian lucu. Di bagian pengantar saja sudah kocak, Arthur Harahap ini siapa/ Pantai Margonda? Kemudian soal Hymne Pramuka itu benar-benar bikin saya ketawa keras even di KRL yang padat. Terus kocak lain misal ada adegan Goenawan Mohammad diwawancarai oleh Soleh Solihun.

Segar dan enak sebagai penutup serangkaian lima novel yang dihasilkan dari sayembara novel DKJ 2016.

Profile Image for Reymigius.
117 reviews36 followers
May 29, 2017
Ini merupakan novel detektif yang cita rasanya tidak seperti novel detektif; dengan kejenakaan ala novel komedi yang sungguh ciamik dan menyegarkan. Tepat apabila juri DKJ menyebut novel ini sebagai kritik atas konvensi cerita detektif; sebab terasa sekali usaha penulis di sini untuk menjauhkan pembaca dari kasus kejahatan yang sesungguhnya dan detail-detail penyelidikan. Semua baru dibeberkan dan akhirnya terasa seperti novel detektif saat menjelang cerita ditutup.

Saya rasa yang ditekankan Sabda Armandio dalam novel ini adalah karakterisasi dan dialog antartokohnya. Dia berhasil meniupkan ruh yang kocak nan cerdik pada Gaspar, menciptakan seorang detektif partikelir yang sarkastik luar biasa. Belum lagi dialog-dialognya yang tampak ringan namun sesungguhnya berbobot nilai; seperti ketika Gaspar mempertanyakan moralitas dan kecenderungan manusia untuk berbuat jahat. Jenius sekali.

Akan tetapi, untuk ukuran novel yang isinya melantur ke mana-mana, ada banyak ruang dalam novel ini yang semestinya bisa dieksplor lebih jauh lagi. Memaksakan semuanya masuk ke dalam 224 halaman menjadikan beberapa bagian di novel ini terasa meleset dari maksud utamanya. Yah, menambah barang lima puluh atau seratus halaman lagi rasanya tidak akan jadi masalah deh :)
Profile Image for Mikael.
Author 8 books86 followers
January 30, 2020
too much macho posturing. the way-t00-obvious conceit of a cock-automaton/self-driving man-children deus-wannabe custom bike (cockceit?) that the (anti- dong pastinya)hero rides, the liberal sprinkling of drug references taken straight out of WebMD (valium bikin parno? try special k! LOL. minum absinthe tapi mythe, the amer of anggur? diketawain lautréamont lho tar!), the maksa, laboured sok-bricolage phrases ("pertemuan anjing malang di dalam video klip Club 80's dan anak berkostum lebah di video Blind Melon di tempat penangkaran anjing liar" – not quite as beautiful as the chance encounter of a sewing machine and an umbrella on an operating table is it!). i went to a talk once at post santa and a dude who was very into detective stories said the writer's claim, yas, posturing of deconstructing detective stories was nothing compared to the A.B.C. Murders. i agree. all bluster, no substance (buat yang tau aja).

p.s. the book's lame-histrionic drug references makes me think there should be a discussion on the relative absence of (accurate, meaningful) references to drugs in indonesian fiction, and maybe it's time to normalise it?
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
November 2, 2017
Setelah mengakhiri kalimat dalam buku ini, saya melemparnya dan mengumpat berulang-ulang. Saya seperti dipertemukan dengan karya fiksi yang, yah, kalau ditanya kepengin baca novel yang kayak gimana, saya akan memasukkan novel ini ke dalamnya. Saya tidak mau ngasih tahu apa-apa aja yang ada di dalamnya, karena takut nggak asyik lagi buat yang sepenasaran saya sewaktu tahu novel ini terbit (meskipun saya sempat membaca ulasan penuh spoiler di blog seseorang yang saya lupa namanya, tapi saya tetap "ditendang" sama buku ini). Yah, seperti yang dibilang si pengulas yang saya nggak ingat nama blognya, atau webnya, atau apa pun tentang dirinya, bahwa kadang lubang-lubang kasatmata sekalipun jadi bisa tak terlihat ketika sebuah buku sudah telanjur membius pembacanya. Saya menemukan lubang-lubang itu, cukup banyak, tapi saya sudah dibius dan apalah saya di mata kritikus hebat sana yang berani mengelupas sebuah karya.
Profile Image for Lelita P..
630 reviews59 followers
February 11, 2018
Satu kata: absurd.

Tapi memang begitulah sastra, ya nggak sih? :)))

Meskipun begitu, saya menyukainya. Menyenangkan rasanya tenggelam dalam dunia Gaspar dan teman-temannya yang superabsurd; di mana hal-hal nyeleneh jadi tampak normal.

Mulai dari pembukaan saja sudah absurd (tapi menarik). Saya sempat mengira Arthur Harahap itu editor Mojok atau tokoh sastra beneran siapalah yang sungguh-sungguh meluangkan waktu karena diminta untuk membuat pengantar bagi novel ini. Ternyata dugaan tersebut salah.

Semakin ke sini, semakin absurd. Apalagi transkrip percakapan antara Bu Tati dan polisi pewawancara.

Tapi yah, begitulah sastra. Bebas berekspresi. Tiada bentuk pasti.

Yang paling paling paling saya favoritkan dari novel ini adalah bagaimana Bang Sabda Armandio meramu plot sedemikian rupa sehingga semua absurditas itu berujung mbulet... sehingga pada dasarnya tak ada potongan cerita masa lalu--yang tampak bertele-tele--yang sesungguhnya tak punya andil dalam cerita. Twist-nya tak terduga, benar-benar tak disangka dalam arti sebenarnya. Sayangnya saya tak terlalu respek dengan endingnya; bagi saya kurang memuaskan. Hanya meninggalkan rasa kernyit dahi setelah melalui perjalanan yang menyenangkan sejak awal.

Novel sastra yang sangat direkomendasikan bagi yang ingin membaca sastra nyeleneh, absurd, tapi tidak berat dan mudah dipahami.
Profile Image for Nurzaman.
6 reviews
July 10, 2017
Saya baca buku ini sepanjang perjalanan kerja saya selama dua hari naik Commuter Line, Bojong Gede-Tanah Abang. Jadi selama dua jam dalam sehari saya baca buku ini.

Dibuka dengan rencanan pencurian yang mencekam namun jenaka, membuat saya jadi penasaran akan ke mana arah cerita buku ini.

Seolah, membaca buku ini seperti ikut dalam proses pemecahan teka teki menyebalkan tersebut. Naratornya kadang cerewet, Gaspar seperti anak kecil gendut menyebalkan yang rewel namun tetap menggemaskan.

Setiap kejadian di dalam buku ini dipikirkan dengan matang dan detail. Dan tiba pada akhir buku sang penulis yang sudah memasang kail yang sudah dirajutnya dari awal awal bab dan vice verca, dalam sekali paragraf deduktif khas detektif, di akhir cerita kailnya siap menarik pembacanya pada perasaan psikologis mendalam pada titik paling rendah. Menelanjangi mereka dan ringsek dalam kehampaan.

Sialan. Gerutu saya sambil menyeka air mata yang tak henti turun saat Gaspar menjelaskan tentang si tetangga perempuan masa kecilnya itu. Dalam kereta pula, yang penuh orang.
Menutup buku ini, mengakhiri segala kisah random interview polisi dan flashback teman-teman Gaspar membuat dada saya sesak, after tastenya bikin galau, seperti kehilangan teman yang selalu ingin dimiliki namun keburu pergi entah ke mana.

Perhatian saja, membaca buku ini berarti pembaca harus siap dengan segala konsekuensi turbulensi yang ada di dalamnya.

Jika penulisnya mengklasifikasikan bukunya sebagai cerita detektif, sayangnya tidak untuk saya. Buku ini lebih mencuat sebagai surat cinta romantis dengan tambahan ironi yang satir di akhir. Tidak manis dan tidak pahit. Hanya pekat menyesakkan yang membuat lubang kosong di dada.

Tertanda,

Penggemar Budi Alazon.
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
June 10, 2017
Seperti yg sempat disinggung di novel ini, sebenarnya beragam karya yg dibikin enggak ada yg baru, semuanya hasil ubahan dari yg sudah ada. Beberapa waktu lalu sang penulis di twitnya pamer buku-buku yg dibacanya saat merampungkan novel ini: Cortazar, Villalobos, Arswendo, Borges, Solares, dan banyak lagi. Yg sudah dibacanya lebih-lebih, tentu. Dio main-main seperti Vonnegut atau Aira atau Ryu Murakami, tapi masih dalam batas waras, enggak segila mereka. Belum, tapi mengarah ke sana. Soal cerita dan gaya menulis, masih enggak beda jauh sama novel sebelumnya. Saya bahkan lebih berkesan sama 'Kamu'.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
February 23, 2020
Sabda Armandio
24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif
Mojok
228 halaman
7.2

Dalam 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif, Sabda Armandio menyajikan suatu metafiksi absurd yang terkadang bisa begitu lucu, tetapi sering kali membuat frustrasi karena memang itu yang diinginkan sang penulis.
Profile Image for Olive Hateem.
Author 1 book258 followers
May 21, 2019
Novel ini mencakup banyak sekali hal, dan yang paling kuingat adalah Soeharto dan tuhan. Aku kenal beberapa orang yang mirip dengan Gaspar--terutama dari caranya memandang dunia. Ringan dan menyenangkan.
Profile Image for Adham Fusama.
Author 9 books72 followers
May 19, 2017
Lucu, apik, walau terkadang terasa ada bagian yang "maksa". Secara keseluruhan, agaknya saya lebih menyukai ini ketimbang pemenang pertama DKJ.
Profile Image for Rian Widagdo.
Author 1 book20 followers
June 7, 2017
Judul : 4/5
Sampul : 4/5
Pembuka : 5/5
Cerita : 3/5
Bahasa : 5/5
Penutup : 2/5
Rekomendasi: 3/5

Total : 4/5
Profile Image for Kahfi.
140 reviews15 followers
March 28, 2021
Novel sarkastik terbaik yang sampai saat ini pernah saya baca. Udah itu aja cukup sepertinya.
Profile Image for Kumala Dee.
158 reviews13 followers
November 27, 2022
Menarik, seru dan mind blowing.
Serius nggak nyangka akan baca buku ini dengan cepat. Karena memang ngga berasa sekaligus didorong rasa penasaran. Ceritanya seru dan obrolan karakternya memang kadang absurd, kadang lucu tapi ternyata buku ini menyimpan sepi dan kesedihan juga.
Profile Image for Juni Rahamnita.
22 reviews53 followers
November 25, 2022
Ide cerita yang segar dengan teknik penceritaan baru namun dapat diterima (tidak bolong sana sini). Kosakata baru dan dunia rekaan penulis yang dapat dengan mudah dipercaya.

Aku membaca novel ini karena akan difilmkan. Aku juga membayangkan bagaimana visual bekerja pada naskah ini.
Profile Image for Evan Kanigara.
66 reviews20 followers
February 12, 2021
Akhir-akhir ini banyak buku yang tidak selesai saya baca. Alasannya macam-macam. Saya bisa tiba-tiba kehilangan selera membaca atau pada beberapa kasus memang hanya perlu membaca bab-bab tertentunya saja. Rasanya bikin kesal. Seperti tidak ada pencapaian, padahal ya pengangguran.

Agar rasa kesal tak mengendap, saya lalu memutuskan untuk melihat daftar-daftar buku yang ingin saya baca sewaktu kuliah. Ternyata banyak sekali yang sampai sekarang belum saya baca. Okelah, saya pilih acak saja dari sekian banyak itu dan terpilihlah buku '24 Jam Bersama Gaspar'. Buku inilah yang pertama selesai saya baca di tahun 2021. Alhamdullilah.

Selesai membaca, kesan yang saya dapatkan adalah 'seru dan jenaka'. Tokoh-tokoh di dalamnya absurd dan tidak bisa diprediksi. Keabsurdan itu memuncak ketika mereka disatukan untuk merampok sebuah toko emas bersama. Dari situ entah kenapa muncul sebuah perasaan nostalgia. Maksud saya begini, ketika remaja dulu saya pernah membaca 'Goosebumps' atau 'Wormwood'. Saya lupa, pokoknya ada satu seri 'Goosebumps' di mana para tokohnya terjebak di sebuah planet asing yang isinya alien semua. Tokoh-tokoh itu berkumpul bersama memecahkan misteri yang ada di planet tersebut. Dalam banyak adegan mereka selalu bergerombol dan menimpali percakapan satu sama lain. Rasanya ramai. Nah, hal semacam itulah yang saya rasakan dari '24 Jam bersama Gaspar'.

Selain itu, bagaimana para tokoh berinteraksi mengingatkan saya pada Holden dari 'Catcher in The Rye'. Terutama Gaspar si tokoh utamanya. "Seharusnya kau kukunci dalam satu ruangan bersama Adolf Hitler dan Soeharto supaya kau terus mendengar ocehan narsis mereka seumur hidup" (hal 204). Atau "kau adalah menara Babel setengah jadi sebelum Tuhan datang dan kau berantakan" (hal 41). Atau "aku ingin menyalakan mercon rawit dan melemparkannya ke dalam mobil, barangkali bisa mencairkan suasana" (hal 27). Mungkin tidak se-eksplisit Holden, tapi energinya saya kira sama.

Ada juga hal-hal lucu yang begitu saya ingat. Terutama yang satu ini, ketika Pongo diintergoasi pak polisi, dia bilang telah mengislamkan hewan peliharaanya. Caranya dengan melatih burung kakaktuanya mengucapkan kalimat syahadat. Hahahaha.

Buku ini adalah buku 'cerita detektif' pertama yang saya baca. Dalam cerita detektif, pembaca dibuat bingung, detektif datang seperti jurus selamat, kepingan-kepingan disatukan, semuanya menjadi masuk akal. Bedanya, saya merasa bahwa Armandio sedang mencoba pendekatan yang berbeda untuk sebuah cerita detektif. Armandio sekaligus melakukan usaha untuk menggugat formula klise yang biasanya digunakan pada sebuah cerita detektif. Hal ini tentu perlu diapresiasi. Namun sayang sekali, saya tidak memiliki banyak referensi cerita detektif untuk dapat menyimpulkan apakah usaha tersebut berhasil atau tidak.

(3.5)
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
December 21, 2022
Apa yang tidak membunuhku besok akan membunuhku lusa, Njet
Profile Image for Ikra Amesta.
149 reviews29 followers
April 15, 2024
Ini adalah sebuah kisah tentang perampokan. Atau lebih tepatnya, kisah tentang sekelompok orang yang merencanakan sebuah perampokan. Lebih tepatnya lagi, tentang sekelompok orang yang berpikir kalau mereka bakal merampok sebuah toko emas dalam tempo 24 jam ke depan. Asal kamu tahu saja, sampai buku ini selesai tidak ada perampokan yang terjadi.

Sama anehnya dengan subjudul “Sebuah Cerita Detektif” yang tertera di sampul buku ini. Tidak ada kisah detektif yang dijalankan para karakternya─bukan tipikal plot murder mystery, hard-boiled, apalagi Nordic noir. Satu-satunya yang memerankan tugas detektif adalah polisi yang menginterogasi seorang saksi uzur terkait perampokan, tapi itu pun tidak menghasilkan petunjuk berarti selain jadi bahan tertawaan. Atau barangkali, satu-satunya detektif, ya, para pembaca sekalian yang mau tidak mau harus menerka-nerka apa yang sedang terjadi, yang mungkin terjadi, dan yang bakal terjadi.

Tokoh utamanya adalah Gaspar, itu sudah jelas, seorang laki-laki 35 tahun yang karier dan visi hidupnya tidak jelas. Bahkan sebagai narator di novel ini pun ia tidak jelas. Ia yang punya ide merampok toko, lalu memilih berkomplot dengan seorang perempuan yang tiket konsernya dirampas, seorang nenek yang lupa kalau suaminya sudah meninggal, seorang karyawan toko yang diancam cerai istrinya, dan mantan pacar Gaspar yang sedang mengandung anaknya. Tidak hanya itu, Gaspar juga ditemani motor antiknya yang konon dirasuki jin citah dan punya free will dalam menentukan sendiri rute jalan yang dilewati.

Bayangkan Holden Caulfield bermain di film Lock, Stock and Two Smoking Barrels dan Wes Anderson yang jadi sutradaranya. Protagonis sarkas yang menyeret dirinya ke dalam plot kriminal yang konyol dengan latar situasi yang serbaabsurd. Sudah pasti limpahan dialog dan monolog cerdas jadi bumbu utamanya, terutama dalam menampilkan kebodohan dari para karakter yang terlibat.

Banyak referensi pop culture yang tersebar di sini. Nama seperti Gaspar, Cortazar, Pongo, Jethro terasa sangat terkoneksi dengan figur-figur pop. Bahkan nama yang seumum Agnes pun mengundang saya untuk mengaitkannya dengan sutradara Agnès Varda, karena saya yakin orang seperti Gaspar pasti menonton film-film karya beliau. Adegan-adegan di novel ini memang terasa sinematik, contoh paling utama terkandung dalam narasi-narasi flashback yang panjang, dalam beberapa adegan slapstick, serta penggunaan “properti ikonik” seperti topeng luchador dan pistol rakitan ala steampunk.

Saya memang belum banyak membaca novel detektif, tapi entah kenapa saya terdorong untuk menyatakan bahwa karya Sabda Armandio yang satu ini memberikan angin segar bagi genre ini, terlebih lagi dalam konteks sastra Indonesia. 24 Jam Bersama Gaspar adalah tentang gagasan yang mendobrak pakem-pakem klise perihal logika cerita. Tidak terjebak dalam kerangkeng kebaikan vs. kejahatan walaupun ini adalah kisah kriminal. Sekaligus juga tidak dapat ditebak ke mana kisahnya akan berjalan karena setiap karakter di sini memang tidak ada yang bisa dipercaya.

Inilah novel yang akan membuatmu mengakhiri buku seraya memikirkan ulang tentang apa yang baru saja kamu baca. Inilah novel yang akan membuatmu meragukan kebenaran dari setiap peristiwa yang telah diceritakan, karena bisa jadi semua itu hanyalah rekonstruksi imajinatif dari ingatan yang rusak. Inilah novel yang akan membuatmu percaya kalau novel Indonesia itu ternyata nggak gitu-gitu aja. Mungkin juga ini adalah novel yang akan membuatmu teringat kepada penulis-penulis absurd dari seberang samudra.

Apa pun itu, nikmati sajalah. Simpan pikiranmu di dalam kotak hitam lalu bacalah buku ini tanpa bersuara. Kalau sesekali meletuk sih, boleh.
Profile Image for Gita.
113 reviews2 followers
May 16, 2017
ini cerita yang tak biasa buat saya untuk dilabeli "sebuah cerita detektif" sesuai judulnya, tapi saya suka susunan katanya untuk menjelaskan sesuatu pun karena saya pembaca serial trio detektif :)
saya sempat bingung awalnya dengan hubungan antar tokohnya, sampai2 saya menggambarkan dengan alur panah2 untuk akhirnya mengerti kalau kirana adalah keponakan Bu Tati dan... eh nanti jadinya spoiler, mending baca sendiri
overall, saya suka pandangan dimana seseorang cenderung mencari pembenaran2 untuk kejahatan yang mereka buat :)
Profile Image for Sulin.
332 reviews56 followers
November 26, 2017
"Orang-orang hanya tampak menyenangkan saat kau mengingatnya sebagai masa lalu, atau membayangkannya sebagai masa depan, atau memikirkan seseorang yang sama sekali di luar jangkauanmu sambil tidur-tiduran.
Kalau mereka ada di depanmu, bersamamu setiap saat, pilihannya hanya ada tiga: kau bosan atau kau meninju mereka atau kau bosan dan meninju mereka."
-Gaspar, hlm 170-171-


Tadinya mau ngasih bintang 3, lho makin ke belakang kok makin edan tambahin deh satu lagi bintangnya. Minus satu bintangnya disebabkan saya yg amnesia untuk mengingat detil, jadi hobi bolak-balik halaman nyahahaha~

Ini buku ngelantur sama seperti KAMU, sekaligus buku terkritis hehehehe. Bagus bagus saya suka, komedinya juga gelap banget. Tapi masuk lah.

Saya kepingin sekali menuliskan lirik lagu Bu Tati/Pingi yang selalu dinyanyikan agar cepat tidur, begini;
Cintaku kepadamu
sejauh jarak bumi ke bulan
dari bulan ke Medan
lalu ke Honolulu

Aku mau
menggandakan diri
sebanyak lima miliar kali
agar bisa mencintaimu sebanyak itu

Kancing kecil mudah hilang
Kancing besar kadang merepotkan
Masih kecil suka menggelundung
Sudah besar tidak badung
Kalau nanti mendusin
Aku ajari main skiping

Benar-benar lirik romantis sekaligus menyebalkan, rasanya ingin segera menampol manusia terdekat agar tidak gemas.

Bagian kritisnya enggan saya ceritakan supaya kamu beliiiikkk! Akan tetapi, karena saya super baik, saya bocorkan sedikit
"Kaulah yang membunuhnya. Kau paksa dia menikahi mitra bisnismu, padahal umurnya baru dua belas. Dua belas tahun! Dia bahkan belum mendapatkan menstruasi pertamanya."

"Apanya yang membunuh? Sebagai orang tua yang baik aku wajib menikahkan anakku yang sudah siap menikah. Bukan salahku dia bertemu jodohnya di usia dini. Aku merestui pernikahan mereka demi kebaikan bersama."

"Mantap,"kataku, meletuk beberapa kali, memilih kalimat paling jahanam yg bisa kususun, tetapi mulutku enggan mengeluarkannya. Rasanya percuma. Populasi orang baik seperti Wan Ali ini membuatku mual. Orang-orang baik ini melakukan kejahatan demi kebaikan, dan mereka akan selalu membela diri dengan cara seperti itu. Satu-satunya cara untuk menghentikan perdebatan sialan tentang baik dan buruk dan mulai menikmati dunia seperti itu adalah dengan melihat segalanya dalam keadaan gosong.
-Hlm. 204-205


Gimana? Sudah paham kan maksud saya "ngelantur kritis"?
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
December 25, 2017
Nyaris saja kuberi 2*, tapi sedikit twist di akhir cerita mengagetkanku, memberi ruang kewarasan yang cukup di tengah celotehan teler nan ngawur sana-sini, dan mendaratkan buku ini pada angka 3*.

Jangan percaya dengan sub judul sebuah cerita detektif, atau sebenarnya... malah itu adalah kebenarannya??!? Gaspar memang lihai menyembunyikan wajah aslinya. Cerita yang menarik sebenarnya, hanya saja... harus sabaaaaar menghadapi kegendhengan semua karakter yang muncul di sepanjang buku.
Profile Image for endang cippy.
275 reviews26 followers
August 19, 2018
Aku kurang menikmati ceritanya. Padahal inti ceritanya hanya segitu doang. 100 halaman palingan udah selesai. Tapi ini dipanjang-panjangin.

Ada beberapa adegan yang lucu. Tapi aku lupa ada di halaman berapa aja.

Quote pun panjang kayak kereta. Dan akhirnya, aku pun tak ingat pesan quote-nya hahaha

Bukan buku tipeku.

Hahahaha

Beruntungnya di kasih pinjem sama temannya Ayu Yudha.
Terima kasih untuk yang pinjamin buku ini.
Profile Image for Tantan Rahmatullah.
14 reviews2 followers
May 14, 2017
Pulp Fiction. Reservoir Dogs. Tarantino akan bangga pada Gaspar, juga Armandio~
Displaying 1 - 30 of 298 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.