Winnie betul-betul merasa mendapat kejutan saat melihat penghuni baru rumah Iggie, yang bersebelahan dengan rumahnya, tiba. Iggie adalah sahabat karibnya, yang sayangnya harus pindah mengikuti ayahnya yang mendapat tugas keluar negeri. “Pantas saja kau bilang kejutan, Iggie,” tulis Winnie dalam suratnya. “They are coloured people!”
Itulah kali pertama Winnie melihat dan – pada akhirnya – menjalin persahabatan dengan keluarga berkulit hitam. Tina, Herbie, dan Glenn adalah anak-anak keluarga Garber, keluarga negro pertama yang menjadi sahabat Winnie.
Namun, bukan Winnie saja yang merasa mendapat kejutan. Penghuni jalan di mana rumah Winnie dan keluarga Garber berada pun merasa demikian. Inilah kali pertama ada keluarga negro bermukim di jalan rumah mereka. Sayangnya, tidak semua merasa excited seperti Winnie. Ada penghuni yang begitu antipati dengan keberadaan keluarga negro di wilayah tempat tinggal mereka. Begitu antipatinya, sampai-sampai mereka membuat petisi untuk memaksa keluarga Garber pindah ke wilayah lain, yang banyak orang negronya.
Menjadi minoritas memang tidak menyenangkan. Entah dari warna kulit, asal suku, agama yang dianut, sampai status sosial ekonomi bisa jadi alasan diskriminasi yang dilakukan terhadap orang lain. “Saya tidak terbiasa melihat negro bermukim di wilayah ini,” alasan si pembuat petisi. Hanya karena tidak terbiasa. Padahal, jika kita tidak membiasakan diri bergaul dengan orang yang “berbeda” dengan kita, bagaimana kita bisa jadi terbiasa? Sungguh menyakitkan rasanya, dianggap tidak layak menjadi teman hanya karena kita “berbeda”.
Iggie’s House adalah buku kedua dari Judy Blume yang menceritakan konflik mengenai perbedaan yang dialami seorang anak perempuan di awal usia remaja yang telah saya baca. Bila Iggie’s House menceritakan konflik yang timbul akibat perbedaan ras, Aren’t You There, God? It’s Me, Margareth! menceritakan konflik yang timbul akibat perbedaan agama.
Buku-buku itu memang terkategori sebagai teenlit. Tapi menurut saya, orang dewasa pun perlu membacanya untuk merenungkan arti “perbedaan” itu. Adakalanya orang dewasa perlu mempelajari pola pikir anak-anak, yang jarang sekali menempatkan “perbedaan” sebagai satu masalah krusial dalam memperlakukan orang-orang yang ada di lingkungan mereka. (lits)