Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pengakuan Pariyem

Rate this book
Pariyem, nama saya // Lahir di Wonosari Gunung Kidul Pulau Jawa // Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta // Umur saya 25 tahun sekarang // - tapi nuwun sewu // tanggal lahir saya lupa // Tapi saya ingat betul weton // Wukunya Kuningan // di bawah lindungan bethara Indra // Jumat Wage waktunya // ketika hari bangun fajar.

Pengakuan Pariyem adalah prosa liris pertama yang lahir dari tangan Linus Suryadi Ag. dan menjadi inspirasi bagaimana kebudayaan Jawa masuk ke dalam khazanah sastra Indonesia modern.

244 pages, Paperback

First published January 1, 1981

94 people are currently reading
1234 people want to read

About the author

Linus Suryadi

14 books16 followers
Linus Suryadi Agustinus a.k.a Linus Suryadi AG was one of Indonesian contemporary poets. He learned his writing in the Malioboro Street School, a guerilla art school founded by Umbu Landu Paranggi in Yogyakarta. His famous work was "Pengakuan Pariyem" in 1981 which written as lyric prosa. His best contribution to Indonesian literary were collecting and compiling contemporary Indonesian poetries into "Tonggak"


Bibliography:
Langit Kelabu (1976)
Pengakuan Pariyem (1981)
Perkutut Manggung (1986)
Tugu (1986)
Kembang Tunjung (1989)
Rumah Panggung (1989)
Di Balik Sejumlah Nama (1989)

You can also find his works in
Biru Langit Biru (1977: Ajip Rosidi [ed.])
Walking Westward in the Morning: Seven Contemporary Indonesia Poets (1990; John H. MacGlynn [ed.])
This Same Sky: A Collection of Poems from Around the World (1992; Naomi Shihab Nye [ed.])


Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
288 (34%)
4 stars
272 (32%)
3 stars
207 (24%)
2 stars
50 (5%)
1 star
26 (3%)
Displaying 1 - 30 of 84 reviews
Profile Image for Roos.
391 reviews
April 21, 2008
Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
"Iyem" panggilam sehari-hari
dari Wonosari Gunung Kidul
sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta
Rasa dosa tidak saya kenal
tapi rasa malu saya tebal


Semuanya kembali pada manusianya, bagaimana dia menjalani hidup dan menghadapinya hingga dia bisa mencapai kebahagiaan yang diingini. Bahkan bisa mencapai tingkat kebijaksanaan...ehm benar-benar mengagumkan.

Dibuku ini Linus menggambarkan Pariyem, nDoro Kanjeng dan nDoro Ayu yang mencapai 4 dunia dari 5 dunia yang disebutkan yaitu dunia gairah, dunia nestapa, dunia kesabaran dan dunia kewicaksanaan, sedangkan dunia ke 5 adalah dunia kewaskithaan dan tidak setiap manusia bisa mencapainya.

Linus juga mengajarkan banyak pelajaran hidup melalui buku ini, terutama yang berhubungan dengan 3, seperti:

3B: Bibit,Bobot dan Bebet, nama membawa tuah bahwa asal-usul dijadikan patokan pada masa itu hingga sekarang, seperti dah tertempel di kening, bukan semangat yang menempel dibadan...aih..aih.( hal 5 )

3M: Madeg, Mantep dan Madhep bahwa rejeki datang bukan dari perbuatan yang curang tapi karena sudah diatur oleh Hyang Maha Agung....Benerkan? ( hal 22-23 )

3A: Asih, Asah dan Asuh bahwa bukan ketakutan atau keberanian yang mengantarkan kita berjalan tapi kemauan dan kebulatan hati yang membuat kita bangun dan bangkit,dan bukan kemenangan dan gagah-gagahan yangmengundang untuk bertandang tapi maaf dan rasa kasih sayang yang melestarikan hubungan...Hebat. ( hal 23 )

3K: Karsa, Kerja dan Karya bahwa kerja sebagai ibadah harian hidup, dari Karsa yang muncul dari sanubari dan karya hanya cita-cita, tanpa karsa kerja hanya sia-sia, karena karsa yang mengaliri panca indera mengusik rasa dan pikiran menggerakkan kaki dan tangan hingga menghasilkan karya yang diingini...ehmmm *tambah geleng-geleng kepala nih aku* ( hal 25-26 )

3L: Lirih, Laras dan Lurus bila bicara tidak berteriak lirih tapi terang dan jelas, tidak juga gadhok laras tapi penuh irama, juga tidak asal mulut menchong tapi lurus...keren. ( hal 27 )

3T: Titis, Tatas dan Tetes sebagai orang muda harus titis dalam mengkap makna pembicaraan, tatas dalam perkerjaan yang dilakukan dan teteslah buah budi yang diwujudkan mengandung semua kebijaksanaan hidup( hal 34 )

Sebagai 'Seorang Babu' tapi sudah katam semua 3-3an diatas...geleng-geleng saya, seharusnya Pariyem ini menyandang S2 dalam Ilmu Filsafat ya...hehehehe.

Buku lama nan usang ini sarat pelajaran hidup, tembang ataupun kudangan yang dinyanyikan-pun menjadi nostalgi tersendiri. Buku yang bagus buat pelajaran Kaum Wanita, Kartini-kartini jaman sekarang nih...terutama yang Kebablasan kelindes sama arus Perubahan.





Profile Image for Irwan.
Author 9 books122 followers
November 11, 2023
https://www.youtube.com/watch?v=FO0zE...

Ya, ya, Irwan saya
Kisah Pariyem saya baca
Saya baca kisah Pariyem

Ada nyata, ada wicaksana
Dalam rangkai kata sederhana
Sentuhan lembut atas realita
Tanpa gempita histeria retorika
Tanpa tedeng gusar norma

Ya, ya, Irwan saya
Daya ungkap Pariyem ingatkan saya
Akan mengalirnya laku hidup
Tanpa sendatan waswas nir makna

Ritme hidup Pariyem ingatkan saya
Akan detak harmoni sederhana
Yang tak lagi banyak tersisa
Di dunia serba gesa
Serba gesa dunia ini

Ya, ya, Pariyem berujar
Betapa sederhana sebuah kebahagiaan
Betapa kebahagiaan bisa sederhana


P.S. Thanks to Roos for the kind gift of such a good reading (Hey, it's goodreads! hehe)
Profile Image for Palsay  .
259 reviews38 followers
May 26, 2008
Bicara tentang orang jawa dan falsafah feodalnya...kenapa ya saya tidak bisa lepas dari ironi. Dibalik keterbatasan selalu ada keluasan, dibalik keagungan selalu ada kebusukan. Dibalik kerendahan hati priyayi, ternyata tetap ada kesombongan.
Salah satu contohnya adalah tidak berubahnya status Pariyem yang tetap menjadi babu, meskipun telah memberikan cucu bagi keluarga ndoro Kanjeng.

Pak Linus bercerita sangat gamblang dan seolah-olah "menelanjangi" orang Jawa sendiri. Tapi jika seluruh manusia bertingkah laku seperti orang Jawa yang digambarkan di buku ini, yang arif, legowo dan pasrah ga macam-macam, mungkin dunia ini akan damai-damai saja.

Apa itu ya pesannya buku ini???

meski ditulis dalam prosa lirik, buku ini tetap mengasikkan untuk dibaca.
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
January 2, 2009
Dah beberapa hari belakangan sebenernya ini sering dibawa-bawa. Sampe ke P. Onroost segala. Udah sampe ke tengah halaman (halaman 150<).

Mengambil sudut pandang seorang Pariyem, dunia jawa menjadi semakin "unik." Terbayang "pluralisme moralitas" seperti yang pernah diungkapkan dalam buku "Mithology Jawa" Ben Anderson. Sehingga dalam kacamata Pariyem ia tidak melihatnya dalam sebuah ketunggalan derajat manusia, tetapi dalam sudut pandang "pantes." Begitu barangkali ketika Pariyem menolak menggunakan nama lengkapnya "Maria Magdalena Pariyem" di luar urusan resmi kenegaraan, seperti membuat KTP.

Atau ini adalah sebuah sindiran yang sangat halus dari seorang Linus melalui tutur Pariyem ketika dengan segala ke-Pariyem-annya ia didongengi dengan kemajuan dalam jagad rumah majikannya. Simaklah kekaguman Pariyem dengan Den Mas Bagus yang ber-Filsafat sambil tetap ngeloni, dan dongeng Kartini dari den ayu yang lebih terdengar sebagai sebuah ironi di tengah kepariyeman dirinya.

Atau Pariyem adalah bayangan dalam cermin retak dari diri Kartini?

Yang jelas buku ini akan kembali ke Roos setelah selesai saya baca. Ndak seperti yang satu itu, mungkin karena lebih seru membaca wedhok daripada lanang.
Profile Image for Sancaka.
95 reviews13 followers
August 7, 2009
ya ya, sancaka nama saya
sancaka pagi lengkapnya
dari ndalem stasiyun ngayogjakarta hadiningrat
yang maos ulang pengakuan pariyem
yang bikin marem sampe merem
waktu sekolah dibacakan ceritanya
di depan kelas oleh bapak guru bahasa indonesia
bapak guru maos dengan menghayati, rencang2 kelas malah angop
pas bagian yang saru2 itu lho, langsung padha ngoooookk..
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
March 7, 2024
Keseimbangan jagat gedhe dan jagat cilik, dalam beberapa literatur, menjadi koentji bagaimana manusia Jawa menghadapi hidup. Jagat gedhe. Ada yang mengatur, ada yang diatur. Di masa-masa penuh keentahan seperti sekarang, rasanya membaca Pengakuan Pariyem memberi kesan lebih berarti dibandingkan dulu semasa SMA baca yang terkikik-kikik ketika masuk adegan "ngasah gaman" Den Baguse, atau ketika kuliah yang mencoba sok kritis atas apa yang disembunyikan sang pengrawit kondang kaloko ini.

Pariyem tahu betul posisinya, babu asal wonosari, dari keluarga abangan, katolik, dan ngenger di rumah priyayi keraton.

Membaca buku ini merasakan keikhlasan dan kerelaan yang puncak. Ketika dunia sedang sangat runyam, sangat menyebalkan, kadang harus seperti Pariyem, ikhlas dan ya sudahlah ya, tidak semua persoalan memang harus diselesaikan, apalagi kalau seperti Pariyem, sadar siapa dirinya, seberapa besar kekuatannya.

Bacaan katarsis ketika banyak di sekitar sedang tidak menyenangkan.

“Lha iya, orang Jawa itu; kalau ditaling dan ditarung; kalau dipepet dan dilelet,; kalau dibului dan dicakra; kalau diwignyan dan dipengkal; dia akan berbunyi dia akan hidup; Tapi kalau dipangku dia akan mati kutu, lho!”


Menyenangkan membaca catatan Ashadi Siregar di catatan penutup, ternyata Linus seajaib itu memang. Meninggalkan bangku kuliah demi mencari pelajaran hidup di Malioboro, dan ketika ditanya kenapa nggak ke gereja jawabannya; “Yesus kan nggak ke gereja.”

Bacaan menyenangkan di awal tahun.
Profile Image for Sylvia.
Author 10 books71 followers
May 26, 2008
"Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
Iyem, panggilan sehari-harinya
Dari Wonosari Gunung Kidul"

Pengakuan sederhana dari seorang wanita Jawa, yang bekerja dengan penuh pengabdian. Tanpa tuntutan, tanpa berharap balasan. Bahkan ketika dia hamil karena perbuatan anak majikannya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, tak ada tuntutan untuk diakui sebagai menantu atau selir, atau apapun. Yang ada hanya pengabdian, pengabdian, dan pengabdian. Besides, itu memang dilakukan atas dasar suka-sama-suka ;)

Sudah jarang ada manusia seperti Pariyem. Kategori langka bahkan. Mana ada wanita yang dihamili keluarga bangsawan yang menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat pengakuan, entah itu status, atau anaknya. Tapi memang untung bagi Pariyem, keluarga majikannya tidak lantas mengusir dan mengucilkan dia, bahkan anaknya diaku sebagai keturunan mereka. Meskipun setelah melahirkan, sang anak dititip di kampung dan Iyem kembali kerja sebagai babu di rumah itu. 'Babu plus-plus' :D

Anyway, buku puisi bernarasi ini lebih mudah untuk saya baca, dibanding buku puisi yang isinya murni kumpulan puisi saja. Saya kurang bisa memahami isi sebuah puisi, apalagi yang tingkat tinggi. Tapi kalau bentuknya seperti bercerita model Pariyem gini, saya suka bacanya. Makasih buat teman-teman yang sudah merekomendasi buku ini buat saya baca.

You guys bring the colours in my reading world :)
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
October 19, 2016
Kisah yg dituturkan dengan sederhana, penuh keluguan namun penuh filosofi, terutama filosofi kejawen tentang agama (orang Jawa tidak mengenal dosa, tapi rasa malunya tebal).
Buat yg orang Jawa juga sedikit berfungsi sebagai nostalgia (terutama tembang-tembangnya, kangen jaman-jaman sekolah dulu pas masih aktif ikut karawitan).
Buat yg bukan orang Jawa tenang saja, masih bisa menikmatinya, soalnya tutur bahasanya menarik dalam bentuk prosa berbahasa Indonesia (meski ada jowo-jowone sedikit, tapi ada kamusnya kok di belakang).
Dan Pariyem ini, saking lugunya, nggak segan membuka dapur "permainan cinta"-nya dengan Den Baguse Ario (berkat kepiawaian sang pengarang, bagian yg ini jauh sekali dari kata vulgar).
Bisa dibilang buku ini, meski kisahnya sederhana namun isinya padat (nrimo ing pandum-nya Pariyem dan sang pengarang berbuah manis dengan dialihbahasakannya karya ini ke beberapa bahasa).

Terima kasih iJak atas peminjaman bukunya
Profile Image for Drupadi Mandalika.
1 review
January 11, 2018
Pengakuan Periyem berkisah seputar PRT (pembantu rumah tangga) asal Wonosari Gunungkidul yang terlahir dari pasangan seorang seniman pemain kethoprak dan sinden wayang kulit, sejak kecil telah akrab dengan kesenian Jawa membuat jati diri Pariyem menjadi seorang perempuan yang nJawani lahir maupun batin. Pariyem mengaku lupa tanggal lahirnya namun ia ingat betul akan wetonnya, yaitu Wukunya Kuningan, dibawah perlindungan Bathara Indra, Jumat Wage waktunya ketika hari bangun Fajar.
Menginjak umur 25 tahun Pariyem mulai mengabdikan pada keluarga ningrat nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomatraman di Ngayogyakarta, mulai disinilah dunia spiritual dan batin seorang perempuan Jawa di beberkan layaknya seorang Dalang yang mahir dalam membabar falsafah kehidupan, baik buruk, hitam putih kehidupan ia beberkan dari mulai masalah hati (cinta) dan sexs Pariyem sangat blaka tanpa tedeng aling-aling, namun tidak saru bin jorok ataupun merasa Dosa, karena sebagai perempuan Jawa, Pariyem sudah tidak mengenal rasa dosa, namun ia memiliki rasa malu yang tebal.
Aku rasa Pariyem adalah sosok wanita yang sudah selesai dengan dunianya, dan sudah tau akan makna Sangkan Paraning Dumadi, maka setiap kisah pilunya, yang mungkin kita sebagai orang awam akan gregetan dan menyalahkan Tuhan, namun tidak untuk Pariyem sosok yang nrimo ing pandum ia bisa ikhlas, lila, legawa. Agaknya Pariyem juga sudah paham betul akan pepatah Jawa “sopo nandur bakal ngunduh” dan unduh-unduhane bakalan ia terima dengan lapang dada dengan lila legawanya juga.
Mungkin sebagian orang, perempuan khususnya, yang merasa telah melakakuan hubungan sexs pra nikah, hingga pada akhirnya kebablasan hingga membuahi janin, hal pertama sedih, or bisa juga denail (menyangkal), mungkin malah akan menyalahkan pasangannya, namun hal ini tidak akan terjadi pada Pariyem yang dalam kehidupannya sebagai pembantu rumah tangga nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomatraman Ngayogyakarta, yang diam-diam ada affair dengan Den Baguse Ario hingga akhirnya Pariyem mengandung janin yang sudah 3 bulan di dalam gua garbanya itu, syukurnya terjadi persidangan keluarga yang berending bahagia.
Pariyem tidak berharap akan dinikahi oleh Den Bagus atau tidak, karena baginya pernikahan bukan dambaanya, yang menjadi dambaanya adalah anak yang sedang ia kandung. Karena bagingya setiap anak yang lahir dari gua garba niscahya ada bapak dan ada ibunya, sedangkan pengakuan dan pengingkaran tergantung rasa kejujuran dari dalam diri individu, Pariyem melakukan hubungan sexsual dengan Den Bagus bukan karena ia diperkosa atau terpaksa, namun berlandaskan tulus ikhlas lambarannya.
Yang sempat saya tuliskan ini hanya sekelumit dari part-part prosa Pengakuan Pariyem, anda berhak untuk meneruskan dan mencari kedalaman makna dan falsafah Jawa yang di babarkan oleh Pariyem, dengan membeli bukunya, meminjam dan membaca sendiri.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
December 12, 2011
#2011-42

Perempuan jawa itu, nduk..
Lihat sampul depannya. Seorang perempuan Jawa masa lalu dengan tubuh molek dan sintal, memakai kemben dan kain jarik, bersimpuh seperti layaknya abdi emban. Tolok ukur kecantikan beberapa dekade silam.
Pariyem, babu pada keluarga bangsawan Jawa, yang ikhlas sebagai abdi dalem, menyuarakan ceritanya seperti dongeng pengantar tidur. Cerita dari dirinya sendiri, sampai cerita tentang kehidupan di luar sana.

”Berapa lama beban saya tanggung
yang membelit pundak dan punggung
Ibarat benang bundhet
walau sukar bisa diurai
Ibarat senar ruwet
walau susah bisa diudhari
Tapi bathin dan perasaan manusia
tak ada dukun kampiun
sanggup menyidikara”
(h.90)

Pariyem bahagia dengan hidupnya sebagai babu. Ia pasrah akan dunianya. Tak ada teriakan, tak ada tuntutan. Dunia dihadapannya adalah takdir yang harus dilalui. Yang dijalaninya dengan perasaan legowo kalau ada rintangan, syukur kalau ada anugerah.

”Nonton wayang itu jangan dipikir
tapi mesti dirasa dan diresapkan
Kita bagaikan air sungai – mengalir-
hanyut ke dalam lakon dan karawitan
yang dipergelarkan oleh ki dalang
Ramai bukan karena gamelan
Sunyi bukan karena kuburan
Tapi yang ramai seramai gamelan
yang sunyi sesunyi kuburan
Itulah rahasia di dalam batin
sebagai pusat getaran.”
(h.115)

Pariyem mungkin tidak tahu, bahwa hidup tidak sesederhana itu. Atau ia tahu, namun tidak ambil pusing karenanya. Seperti seorang perempuan Jawa yang harus selalu manut apa kata lelaki. Tak boleh mengeluh, tak boleh berkesah. Mungkin hanya bisa berbagi, namun selebihnya harus disimpan dalam hati.

”Sungguhpun hanya begini saja
Batin saya sudah merasa bahagia
Lha apa ta tujuan orang hidup itu
kalau bukan mencapai kebahagiaan?
Lha saya sudah mendapatkannya, kok
tak perlu saya berpaling pandang
Dalam menggelinding dan terbanting
di pusat roda yang digelandang
Oleh Sang Waktu – Bethara Kala
tiap saat dan tiap harinya
Tiap pekan dan tiap bulannya
tiap musim dan tiap tahunnya
Dan tahun demi tahun terus berjalan
tak kenal ampun, tak kenal sayang
para pembangkang pun akan termakan
Dan tahun demi tahun terus berjalan
Menggelindingkan dan menggelandang
--- setiap insan
tanpa terkecuali saya --- “
h.238

***
kado ultah yang ke 31 tahun lalu.
Profile Image for Danu Primanto.
15 reviews1 follower
October 16, 2009
Butuh waktu tiga tahun bagi Linus untuk memulis semuanya dengan lengkap dan terperinci. Tak lupa Linus berbicara tentang detail, seperti lokasi biskop, riuhnya Mauludan Sekaten, situasi ruman Ndalem Suryomentaraman, gerak-gerik tuannya ketika berbicara sampai persetubuhan percintaan Pariyem yang dilukiskan dengan indahnya. Sebuah karya yang melukiskan suasana jawa yang rukun, tapi dalam prakteknya penuh konflik. Jawa yang hidup dengan batin, tetapi dalam praksisnya berhadapan dengan dunia yang pragmatis. Saya rasa Pariyem adalah perempuan jawa gelisah, babu yang tak kuasa membuat perubahan, hanya pasrah sembari bertanya-tanya.

“Ya, ya, sebagai orang barat
Dan, ah, ya, sebagai orang timur
Mestilah lebur dalam perkawinan
Dibulatkan oleh perikemanusiaan
Dengan bahu membahu bergerak-tegak-
Mengarak panji-panji kehidupan”

review lebih lanjut...
http://bintangtenggara.multiply.com/r...
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
March 24, 2024
32 - 2024

Hmm…Si Iyem emang tau segala hehehe
Banyak ketawa baca ini, tapi juga mungkin agak gak ngerti banyak kata-kata bahasa Jawa. Walaupun ada artinya di bagian akhir buku, tapi memang agak mengurangi keseruannya kalo harus bolak balik cari tau artinya ya.
Tetap menyenangkan lah ceritanya Si Pariyem.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
April 20, 2020
Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
"Iyem" panggilam sehari-hari
dari Wonosari Gunung Kidul
sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta
Rasa dosa tidak saya kenal
tapi rasa malu saya tebal



Pengakuan Pariyem dengan luar biasa realis menggambarkan kondisi psikologis dan dunia batin wanita Jawa (dan juga orang Jawa) terkait bagaimana dia memandang dirinya sebagai bagian dari tata kosmos Jawa yang sudah tertata sebagaimana adanya sejak ratusan tahun. Sebagaimana khasnya orang Jawa yg lebih mementingkan kepatutan dan keselarasan ketimbang pemenuhan hak dan kebutuhan, Pariyem menunjukkan kepada kita bahwa nrimo ing pandum sebagai filosofi orang Jawa malah menjadikan hidupnya tenang dan tentram.


Dalam pengakuannya, Pariyem menyebut dirinya dosa tidak kenal tapi rasa malunya tebal. Sebuah keganjilan untuk kita yang dididik dengan dogma rasa malu adalah salah satu isyarat dosa. Bahwa jika ada perbuatan yang kita malu melakukannya ketika diketahui orang lain, itulah dosa. Bagi Pariyem, rasa malu lebih berat ketimbang dosa. Ini mencerminkan konsep Islam abangan (walaupun di cerita ini Pariyem adalah seorang katolik tapi dia faseh bilang Masya Allah) yang tidak terlalu memusingkan syariat tetapi lebih menjunjung nilai kebaikan dan kemanusiaan universal. Agak syok juga ketika dia dengan lugunya dan santainya bermain seks di luar nikah dengan pria tapi sangat takut ketika dia hilang di pasar malam. Baginya, mengkhianati kepercayaan junjungan lebih berat dosanya ketimbang melanggarkan hukum agama.

Namun di sisi lain, Pariyem menunjukkan kemanusiaan orang Jawa yang lugu namun sangat digdaya. Sebagai Batur, dia setia pada majikan. Ia ikut nurut apa pun kata Tuan dan Nyonyanya. Karena hubungan Batur dan majikan dalam novel liris ini adalah jenis hubungan yang sudah lama menghilang. Dalam kosnep Priyayi, Batur atau emban termasuk tanggungan. Jadi majikan pun tetap bertanggung jawab atas sakit atau kurangnya si emban. Ini akan dibalas dengan kesetiaan tanpa pamrih dari sang emban. Sesuatu yang kini sudah jarang ditemukan, ketika hubungan majikan dan pembantu hanya sebatas dinilai dengan materi, mungkin ini penyebab banyaknya pembantu yg tidak balik lagi setelah mudik lebaran. Hubungan Pariyem dengan majikannya ibarat hubungan tambah paseduluran, ketika emban pun dianggap sodara jauh dan sudah semestinya dimanusiakan dan diperlakukan manusiawi.

Dengan segala kepolosannya, Pariyem adalah wujud praktis nilai hidup orang Jawa yang dituliskan dengan sedemikian indah.
Profile Image for Nugie.
59 reviews2 followers
July 7, 2013
Pariyem pada prosa ini adalah gambaran orang jawa pada jamannya, seorang penganut mistik kejawen meskipun dalam KTP nya tercantum agama resmi yang diakui negara. Maka mengalirlah pengakuan Pariyem yang memberi gambaran bagi kita tentang bagaimana cara pandang orang jawa dalam berbagai segi kehidupan. Dari soal agama sampai soal dosa.. Dari soal wayang sampai soal sikap kebangsawanannya. Dari soal falsafah hidup sampai soal seks. Semuanya diungkapkan tanpa lugas. Beberapa adegan sex dalam karya ini digambarkan tanpa terjebak dalam kevulgaran. Sepintas mengingatkan gaya Ayu Utami dalam menuliskan adegan sex dalam karya karyanya.

Membaca Prosa ini membuat kita lebih memahami konsep-konsep budaya Jawa dengan lebih mudah dibandingkan jika kita membaca teks resmi budaya Jawa. Hal hal seperti nrimo, keseimbangan dua jagad, Manunggaling Kawula Lan Gusti mengalir lancar dari penuturan pariyem dan sangat mudah dipahami oleh kita yang orang awam.

Prosa lirik ini merupakan karya puncak Linus Suryadi AG, seorang penyair yang kuat dalam lirik. Tokoh utama pada prosa ini adalah Pariyem, asal Wonosari Gunung Kidul yangg menjadi pembantu Ndoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryamentaraman Yogyakarta. Linus sendiri menyelesaikan prosa ini pada kurun tahun 1978 – 1980.

“PARIYEM, nama saya.
Lahir di Wonosasi Gunung Kidul Pulau Jawa.
Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta.
Umur saya 25 tahun sekarang
tapi nuwun sewu
tanggal lahir saya lupa,
Tapi saya ingat weton saya:
Wukunnya kuningan
di bawah lindungan bethara Indra,
Jumat Wage waktunya
Ketika hari bangun fajar

Dalam kontek sosial Pengakuan Pariyem juga memberikan gambaran bagaimana kondisi sosial politik masyarakat Jawa pada saat itu tahun 1970 dan awal 1980-an. Pariyem jelas mewakili apa yang disebutkan oleh Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java sebagai orang jawa yang abangan.

Kepercayaan saya katolik mistik alias katolik kejawen.
Maria Magdalena Nama pemandian saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
‘Iyem’Pangilan sehari-harinya
Dari wonosari gunung kidul
Tapi nama baptis Maria Magdalena dipakai
Kalau ada keperluan – keperluan resmi saja
Buat mencari surat keterangan bebas G-30-S/PKI
Mencari surat berkelakuan baik dari polisi…..

Maka dengarlah saat Iyem memberikan ‘visi kenabiannya’

‘Sampeyan dhewe wong jawa
Tapi kok bertanya tentang dosa
Ah ya, apa sampeyan sudah lupa
Wong jawa wis ora njawani
‘- Kata simbah
Karna lupa sama adat yang baik
Tapi bukan adat yang diadatkan
Hanya satu saya minta pengertian
Tak usah ditawar, tak usah dianyang
Bila dia itu orang jawa tulen
Tak usah merasa bertanya
perkara dosa

Dalam konsep kepercayaan asli Jawa , soal dosa adalah hubungan pribadi dengan ‘Yang Di Atas’ dan tidak perlu ‘menghakimi’ orang lain untuk perkara yang satu ini. Pada bagian lain Iyem berkata : Rasa dosa saya tak kenal,tapi rasa malu saya tebal”.

Pengakuan Pariyem adalah Anti tesis keadaan sosial saat ini. Melihat kondisi Jawa saat ini betapa kita melihat bahwa kultur ini sudah mulai bergeser. Orang bisa dengan mudah menentukan orang lain ‘berdosa’. Orang merasa mengenal apa itu dosa, tapi rasa malunya sangat tipis. Maka jangan heran jika ‘Pengadaan Kitab Suci pun dikorupsi, kekerasan dilakukan dengan mengatasnamakan ‘dosa’, rasa malu yang menipis di kalangan elit dan masih banyak berita yang biasa kita terima pada masa sekarang.

“PARIYEM, nama saya.
Lahir di Wonosasi Gunung Kidul Pulau Jawa.
Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta.
Umur saya 25 tahun sekarang

Akan menarik kalau saat ini “PARIYEM” kembali memberikan pengakuannya dan memberikan tafsirnya terhadap kondisi saat ini. Sayang Linus sang pengarang prosa ini sendiri sudah berpulang duluan.
Profile Image for Dhia Citrahayi.
Author 3 books21 followers
January 24, 2013
Setahun yang lalu, saya meminjam buku ini dari salah satu seraper yaitu Mbak Dew :D

Awal-awal baca buku ini, membosankan karena memang cerita di buku ini berupa sajak-sajak yang terkadang melelahkan untuk dibaca (menurut saya). Namun, selang setengah tahun berlalu, saya mencoba kembali membaca buku ini dan hasilnya, dalam kurun waktu dua jam, saya bisa menyelesaikannya. *sekarang saya mikir, kenapa dulu saya gak bisa menyelesaikannya dengan cepat ya :/*

Yah..., abaikan setahun yang lalu.

Dunia Batin seorang wanita jawa... *mendesah pelan ketika membaca buku ini*

Mengingat, saya juga orang jawa tapi tidak tinggal di pesisir selatan, saya lahir dan besar di pesisir utara *trus, apa hubungannya coba?*. Rasanya..., sedikit aneh ketika membaca buku ini. Karena penggambaran wanita jawa dalam buku ini berbeda sekali dengan karakter saya. (mencocok-cocokkan dengan beberapa karakter pribadi). Walau begitu, buku ini juga membantu saya untuk mendalami seperti apa karakter wanita jawa pada umumnya yang... yah, seperti dikatakan orang-orang, nrimonan, lembut, patuh sama suami, dan sebagainya, dan sebagainya.

Membaca buku ini, saya sedikit banyak membaca mengenai pemikiran si tokoh mengenai posisinya yang sebagai pembantu juga sebagai selir anak pertama dalam keluarga priyayi. Ehm, seperti menelan pil pahit kalau membaca kenyataan di buku ini.

Pariyem... sepertinya menerima dengan lapang, nasibnya menjadi -maaf- simpanan sekaligus pembantu di sebuah keluarga priyayi. Miris. Itu yang bisa saya katakan dalam hati. Walau keluarga itu baik, kenapa dia masih tetap mau menjalankan tugas-tugasnya sebagai pembantu padahal, dirinya sudah dihamili seperti itu?

Yah... *mendesah pelan*

Menerima apa adanya, mengambil sesuatu secukupnya saja, itu juga ajaran yang saya dapatkan dari kedua Orangtua saya. Walau begitu, menerima apa adanya nasib yang (bagi saya) terinjak seperti itu, mungkin akan sangat sulit, mengingat karakter saya yang terkadang membantah.

Tidak ada yang salah dalam buku ini tetapi, ada yang kurang di dalam buku ini. Dan, perlu digarisbawahi, buku ini hanya menggambarkan salah satu sisi wanita jawa atau mungkin wanita-wanita lain pada umumnya yang ada dalam posisi pariyem. Namun, buku ini tidak menggambarkan keseluruhan wanita jawa.

Well, suku jawa tersebar dari jawa tengah sampai jawa timur, bahkan mungkin luar daerah juga. Berbagai dialek khas, kebudayaan, dan kearifan suku jawa juga bermacam-macam, tergantung tempat tinggalnya. Jadi, tidak bisa sak-klek, menyamaratakan semua perempuan jawa seperti ini.

Terlepas dari pemikiran pariyem yang ingin saya debat, saya suka dengan tembang-tembang yang ada di dalam buku ini. Membaca tembang-tembang di sini mengingatkan saya pada masa kecil saya, di mana mbah saya dulu juga sering menyanyikan lagu-lagu jawa ketika saya kecil.
Profile Image for Ambar.
105 reviews
May 11, 2011
This book was controversial in its era. Because sublime message about gender, patriarch, and abuse of power in Javanese system. Wrote in poem rather traditional novel, Pengakuan Pariyem brought unconventional way of writing. Rich in culture, self dialogue that piece the story together. It's subtle yet meaningful, just like an ordinary Javanese woman.
Profile Image for Anda Wardhana.
1 review
September 24, 2014
pertama kali baca buku ini tahun 2003 an lah, awal kuliah. dan sampai saat ini merupakan buku terbaik yang pernah saya baca.... bijak dan satire disaat bersamaan, berat dan ringan saling memangku.... bagi yang sempit ya sempit, bagi yang luas, sangat luas....

"saya rasa rasa, saya pikir pikir..... hidup tak perlu dirasa dan tak perlu dipikir"

barong wardhana
Profile Image for Ruth Rahadiyan.
25 reviews
August 26, 2008
hihihi..confessions no1 kalo kata afgan judulnya.heheh.pengakuan lucu dan jenaka seorang gadis desa yang jadi PRT di rumah seorang priyayi..menggelitik..sekali baca maunya teruss aja males brenti
Profile Image for Rika.
51 reviews
January 12, 2009
satu lagi buku tak selesai padahal aku menikmatinya. Sepertinya karena ini buku pinjaman dan si empunya sudah memintanya..
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
May 23, 2015
Pengakuan Pariyem adalah prosa lirik yang ditulis oleh Linus Suryadi AG, seorang Jawa yang bangga terhadap Jawa-nya. Pada bagian akhir prosa lirik ini, dituliskan bahwa Linus Suryadi sering bicara “lha bagaimana lagi?” kala menghadapi situasi menyedihkan atau menyusahkan. Kalimat tanya ini khas miliknya yang menggambarkan sikap tangguh yang tersimpan dalam kepasrahan ala Jawa. Seperti juga Pariyem yang seringkali berucap, “Saya lega lila”.

Membaca prosa lirik ini membuat saya teringat pada satu tayangan di televisi yang berkisah mengenai kehidupan seorang abdi dalem di keraton. Kala itu, saya tidak paham bagaimana mungkin abdi dalem itu ‘tidak bosan’ dengan pekerjaannya sebagai abdi dalem, malah ia merasa bangga. Padahal, saya kira pekerjaannya ‘itu-itu saja’, di tempat yang juga ‘itu-itu saja’, dan ia berhubungan dengan orang yang barangkali juga ‘itu-itu saja’ setiap harinya. Lalu saya pun teringat Ibu saya, juga saudara-saudara dari Ayah dan Ibu saya yang banyak tinggal di desa. Ibu saya adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang dulu, ketika saya kecil, saya seringkali bertanya padanya, “Memangnya Mama nggak kepingin melakukan pekerjaan lain yang ‘lebih menyenangkan’ ya?” saya lupa waktu itu Ibu saya menjawab apa, atau malah tidak menjawab, tapi berhubung beliau adalah salah satu perempuan yang selalu kepingin taat agama, beliau beranggapan bahwa pekerjaan paling mulia bagi perempuan adalah di rumah—menjadi Ibu Rumah Tangga. Ibu saya ini, setiap kali pergi jalan-jalan, entah itu jauh dari rumah atau dekat dari rumah, yang menyibukkan isi kepalanya adalah perihal gosokan, cucian, dan pekerjaan-pekerjaan Ibu Rumah Tangga lainnya. Tetapi mungkin begitulah caranya menikmati perjalannannya. Ibu saya bukannya tidak pernah mengeluh melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Apalagi saya sebagai anak perempuan satu-satunya sangat jarang membantunya. Ibu saya bukannya tidak pernah marah pada saya, tapi ia pun pernah membela saya dan memenangkan kemalasan saya, dan lanjut mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Ibu Rumah Tangganya. Saya kira Ibu saya tidak hanya mencintai perannya sebagai Ibu Rumah Tangga dengan seabrek pekerjaan yang itu-itu saja dan disitu-disitu saja, tapi bahkan menghayatinya. Sehingga mungkin, ia akan merasa tidak lengkap atau tidak sempurna apabila satu saja dari pekerjaan-pekerjaan itu tidak dikerjakannya. Mungkin juga pekerjaan-pekerjaan itulah yang membuatnya merasa hidup—merasa eksis—merasakan suatu perasaan yang memang dibutuhkan manusia. Barangkali karena itulah Ibu saya lebih sering enggan apabila diajak berpergian yang membuatnya harus meninggalkan pekerjaan. Sedangkan mengenai saudara-saudara saya yang banyak tinggal di desa, saya juga berpikiran yang sama terhadap mereka. Saya pernah bertanya-tanya, tidakkah mereka pernah merasa iri pada orang-orang yang sudah lebih jauh melangkah daripada mereka? Dan Pengakuan Pariyem menjawab pertanyaan-pertanyaan saya mengenai mereka—abdi dalem di keraton, Ibu saya sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, dan saudara-saudara saya yang banyak tinggal di desa—dengan kalimat; “Saya lega lila”.

“Saya lega lila” seringkali diucapkan Pariyem—Maria Magdalena Pariyem—seorang perempuan Jawa asal Wonosari Gunung Kidul Yogyakarta berumur 25 tahun yang menjadi abdi dalem di keraton. Sebenarnya Maria Magdalena adalah nama yang diberikan oleh gereja. Pariyem berkali-kali menekankan bahwa namanya adalah Pariyem, dan panggillah ia dengan “Iyem”. Pada bagian pengantar, Hotman M. Siahaan mengatakan, “Sesungguhnya memahami sebuah kehidupan masyarakat secara lebih dalam lewat karya sastra, jauh lebih memberi kedalaman daripada setumpuk kepustakaan ilmiah dengan segala konsep dan bahasa yang amat ruwet dan kaku itu” dan lanjutnya, “Tapi apakah tidak mungkin dunia yang untuk dinikmati dan dirasakan itu dijadikan alat untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman tentang suatu gejala sosial?” dunia yang untuk dinikmati dan dirasakan maksudnya adalah dunia sastra. Pengakuan Pariyem, sebagai salah satu karya sastra yang seringkali dibicarakan, dianggap mampu membuat kita memahami lebih dalam budaya Jawa, yang dipegang oleh masyarakat Jawa. Juga memahami bagaimana cara sebagian besar masyarakat Jawa memandang kehidupan, yang diisi oleh manusia-manusia dengan berbagai macam sifat dan kelakuan.

Selanjutnya, saya akan mengulas beberapa bagian dari prosa lirik ini yang menurut saya menarik.
Pertama adalah ketika Pariyem berucap,
“Lha di Sorga, Gusti Allah tak bertanya:
‘agamamu apa di dunia?’ Tapi Ia bertanya:
‘Di dunia kamu berbuat apa?’
Woadhuh, kayak saya pernah dolan
dan menjenguk Sorga saja”
saya juga pernah berpikir demikian. Bahwa biarkanlah yang akan terjadi setelah kita mati menjadi rahasia Illahi. Entah itu di kuburan kita akan ditanya beberapa pertanyaan, atau malah saat itu kita sudah benar-benar terlepas dari ruang dan waktu, lalu diajak oleh malaikat untuk berjalan-jalan melihat keseluruhan hidup kita sendiri, atau malah saat itu kita menyatu dengan alam, dan membuat orang-orang yang kita cintai merasakan kehadiran kita yang tanpa badan.
Hal menarik kedua adalah ketika Pariyem berbicara mengenai dosa. Mungkin masih ada hubungannya dengan yang sebelumnya, karena sama-sama berbicara mengenai hubungan manusia dengan Sang Hyang Tunggal. Pariyem berkisah mengenai seorang tetangga yang gila karena memikirkan dosa. Rasa-rasanya seperti Pariyem menyindir saya yang dulu pun pernah memikirkan dosa secara berlebihan. Mungkin memang sebaiknya perkara dosa tidak terlalu dipikirkan oleh manusia. Lebih baik kita melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan, atau melakukan hal yang kita anggap menyenangkan, perihal dosa, biar Tuhan saja nanti yang menghitung-hitungnya. Menurut saya, perlu batin yang ikhlas untuk bisa berlaku ‘tidak hitung-hitungan dengan Tuhan’. Mungkin seperti ikhlasnya Pariyem. Lalu, Pariyem juga tidak habis pikir dengan kelakuan kakak tetangganya itu yang mati bunuh diri karena hamil tanpa ada yang mau mengakui sudah menghamili. Pariyem berucap,
“O, Allah, Gusti nyuwun ngapura
saya krasan di dalam kehidupan
saya krasan walaupun kesunyian
Biar makan gaplek, makan tela
tak akan saya tinggalkan”
Menurut saya apa yang diucapkan Pariyem itu sangat ‘mengena’. saya kira memang seharusnya demikianlah cara kita menjalani hidup, tak usah banyak pikir, jalani saja lalu berbahagia di dalamnya. Dengan atau tanpa kita sendiri mengerti apa itu bahagia, atau bahkan, apa itu hidup. Karena memang dalam kehidupan banyak sekali hal yang kita tidak paham. Tapi, contohlah Pariyem, yang lega lila dalam menjalani kehidupan, dan menghayati perannya dengan cara bekerja sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, menjalani hidup seperti Pariyem itu harus dipelajari seumur hidup, saya kira.
Hal menarik ketiga adalah ketika Pariyem berbicara mengenai perempuan yang memiliki kodrat untuk melahirkan. Begini,
“Waktu wanita melahirkan anak
Kenapa dia nandhang rasa sakit?
Barang gede lewat lobang sempit
sudah jamaknya bila menyakitkan
Tapi kenapa mesti nandhang rasa sakit?
Karena, demikianlah nDoro Ayu bilang:
Ketika kita memuja kehidupan
puncak nikmat kita rasakan
Dalam sesambat yang melayang-layang
penuh pendarahan penuh pergulatan
O, bukankah ini hokum keseimbangan
yang berlaku di dalam kehidupan!?
Rasa sakit adalah buah rasa nikmat
rasa nikmat adalah buah rasa sakit
Hanya kita pribadi yang mengenyam
kelak bila kita menghadap Tuhan”
Saya kira Linus Suryadi sangat lihai dalam menggambarkan perempuan. Tidak hanya itu, melalui nDoro Ayu, Linus Suryadi juga menyinggung gerakan wanita di Nusantara yang dirintis oleh seorang putri, yaitu Raden Ajeng Kartini, yang memiliki jiwa kerakyatan dengan semangat besar dan gelora hidup berkobar. Semakin lengkaplah pengetahuan Linus Suryadi mengenai perempuan lewat Pariyem yang berucap,
“O, Allah, demikianlah kodrat wanita
Apabila dia pergi berbelanja
semua barang memikat hatinya
Semua barang dipegang dan dicobanya
dipegang dan dicobanya semua barang
Tapia mat sulit menjatuhkan pilihannya
O, kayak orang memilih bakal jodoh saja
Dan asal di kantong masih ada uang
kebutuhan merembet di luar rencana”
Menyedihkan, tapi begitulah memang yang saya seringkali alami sebagai seorang perempuan. Hehehehehe. Saya kira Pariyem adalah sesosok perempuan Jawa yang menghayati setiap peran yang ia miliki dalam kehidupan. Meskipun saya agak resah dengan bagian lain dari prosa lirik ini, yaitu pada bagian ketika Pariyem bersetubuh dengan Den Bagus Ario dan Kang Kliwon. Pariyem lega lila menerima perlakuan kedua laki-laki tersebut, karena toh ia juga kebagian nikmatnya. Tapi yang perlu diingat adalah tidak semua perempuan seperti Pariyem. Atau malah, memang seharusnya seperti Pariyem?
20 reviews
May 26, 2025
Pengakuan Pariyem presents a vivid and complex portrayal of Javanese feudal society through the eyes of Pariyem, a babu (servant) in a priyayi noble household. The book captures the tension between rigid social hierarchy and human intimacy, blending lyrical prose with sharp cultural commentary.

Pariyem’s “let it be” attitude toward her position is both tragic and fascinating. The harsh reality of feudalism is clear: despite her intelligence and insight, Pariyem is trapped in a lower social class with no hope of upward mobility. She will forever be “babu Ndoro Kanjeng Cokro Sentono.” Yet, this subservience forms the core of her identity and, paradoxically, her contentment.

What’s striking—and unusual from a modern viewpoint—is how the priyayi family genuinely cares for her. Unlike many depictions of servants in oppressive settings, Pariyem is not treated cruelly or discarded when her pregnancy is discovered. Raden Bagus Ario Atmojo admits responsibility, and the family supports Pariyem through her pregnancy, even accompanying her back to her village. This “nice feudalism” reveals a nuanced social contract: there is inequality, but also mutual obligations and respect within clearly defined roles.

Pariyem’s relationship with men, including Mas Kliwon and Raden Bagus, is openly sexual. She embraces her sexuality without shame and enjoys the power it gives her. This challenges simplistic ideas of victimhood; Pariyem is far from oppressed in the emotional sense—she revels in her desires and the attention she commands.

However, from the perspective of a reader living outside this traditional society, Pariyem’s dependence on Ndoro Kanjeng and the priyayi family feels limiting and alien. It resembles a modern employer-employee dynamic, but with deeper cultural embedding. Pariyem has no path to independence or equality, and yet she chooses to accept and even find happiness in this status. Whether this is conscious acceptance, cultural conditioning, or a form of contentment is ambiguous but profoundly human.

The novel also reflects on Javanese philosophy, blending Pariyem’s simple voice with sharp, sometimes ironic observations about culture and modernity. At times, it feels like Pariyem’s persona is interwoven with the author Linus Suryadi’s own reflections—mixing innocence with sophistication.

In the end, Pengakuan Pariyem closes on a bittersweet but hopeful note: Pariyem remains a loyal babu, connected to her baby and her family, embracing her role without bitterness. It���s a story of resilience within constraint, illuminating a world where identity and social order are deeply intertwined—and where contentment can exist even within inequality.
Profile Image for Silvia Iskandar.
Author 7 books29 followers
July 31, 2017
Baca buku ini rasanya seperti masuk ke cafe kecil yang agak oldies tapi charming.

Saya pas lagi jalan2 di toko buku dan tertarik lihat sampul wanita berkemben. Karena memang seneng baca buku yang kental dengan sejarah dan budaya, saya iseng buka-buka, dan ih..kok lucu, kata-katanya pendek2 seperti puisi tapi gak ada aturan ketat seperti puisi, jadi seperti semi-prosa gitu..

Yang membuat saya memutuskan beli adalah halaman 14
..
Tapi dalam kartu penduduk
oleh Pak Lurah dituliskan
saya beragama Katolik
Memang saya pernah sinau di Sekolah Dasar
Kanisius di Wonosari Gunung Kidul
Tapi sebagaimana Sinau saya tak tamat
saya pun tak punya akar kokoh beragama
Memang saya dibaptis rama pastor Landa
berambut pirang dan tubuhnya jangkung
-van de Moutten namanya
Jadi jelasnya, terang-terangan saja :
-kepercayaan saya Katolik mistik
alias Katolik Kejawen
Maria Magdalena nama permandian saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
"Iyem" panggilan sehari-harinya
dari Wonosari Gunung Kidul
Tapi nama baptis Maria Magdalena dipakai
kalau ada keperluan-keperluan resmi saja
Buat mencari surat berkelakuan baik dari Polisi
Mencari surat keterangan pindah penduduk
kartu Pemilihan Lurah dan Kartu Pemilihan Umum
...

Saya rasa, inilah potret bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Yang Cina, yang Jawa, yang Minang, yang dll dll, nggak pernah ada yang murni plek, kaku dengan suku, agama dan lain-lain.
Indonesia itu negera yang sangat aktif berdagang dengan berbagai bangsa dari jaman duluuuu banget, menyerap semua pengaruh sana-sini, Arab, Portugis, Belanda, Inggris, Cina, India, Spanyol sedikit bahkan, masuk dari Filipina.

Jadi miris rasanya sekarang, kalau justru di abad ke-21 ini isu segregasi malah diusung untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Indonesia bukan seperti itu. Tidak pernah seperti itu. Siapapun kamu, kalau kamu orang Indonesia, kamu adalah produk campuran gado-gado berbagai budaya seperti si Maria Magdalena Pariyem ini.

Buku ini sebenarnya gak ada konflik yang terlalu tajam, atau plot yang terlalu bikin deg-deg-an. Tapi bacanya ya terus aja, karena tertarik, karena imut. Untuk keunikannya ya saya kasih bintang ke-empat. Cuma saya sih mikir aja..kalau nulis pakai strategi begini biar novel cepat selesai...hmm..kalau org sekaliber Linus Suryadi sih malah jadi unik...lah kalau saya? Minta dikemplang editor ini mah...hahahah
20 reviews
September 20, 2020

~"Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
'Iyem' panggilan sehari-harinya
dari Wonosari Gunung Kidul
Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta
Saya mau mengalir saja
saya krasan ada di dalamnya
Tiap yang hidup punya irama
ialah irama dalam hidupnya
Tiap orang punya cuaca
ialah cuaca dalam batinnya
Apabila irama hidup kacau
kacau jugalah hatinya.~

**********

Membaca Pengakuan Pariyem, mengembara ke dalam jagad budaya Jawa dengan seabreg piwulangnya.

Karya berbentuk prosa lirik ini rasa-rasanya tidak untuk diulas berjela-jela. Sebaiknya dibaca saja sembari diresap ke dalam hati segala makna yang terkandung, yang tersirat maupun tersurat.

Nikmati saja selentingan kocak sambil mesem-mesem sendiri atas buah tutur Pariyem tentang dirinya dan anggota nDalem serta laku dan lakon yang mereka mainkan.

Ya, novel ini memang komplit-plit memotret seputar kultur dan tradisi priyayi Jawa Materaman mencakup dari persoalan-persoalan sepele seperti kesukaan memelihara burung, lagu-lagu pop yang diputar radio amatir di Yogya, upaca sekatenan hingga menyangkut hal-hal filosofis: Bibit, Bebet, dan Bobot - Madeg, Mantep dan Madhep - Asih, Asah, dan Asuh - Karsa, Kerja, dan Karya - Lirih, Laras, dan Lurus - Titis, Tatas, dan Tetes.

Dan tentu saja pandangan terkait agama juga Ketuhanan yang cenderung esoteris.

Pembaca yang bukan wong Jawa, tak perlu khawatir dengan taburan kosa kata Jawa yang tampil pada setiap kesempatan karena disamping bisa 'meraba-raba' maksud berdasar konteks kalimat dan alinea, toh juga tersedia glosari rinci kosa kata Jawa - Indonesia pada lampiran.

Sebuah karya yang sangat patut dibaca bagi yang sudah membaca novel-novel dengan tema sejenis semacam Para Priyayi, Burung-Burung Manyar, Canting dan lain-lain.

**********

~"Sampeyan dhewe wong Jawa
Tapi kok bertanya-tanya dosa
Ah ya, apa sampeyan sudah lupa
Wong Jawa wis ora njawani
---kata simbah
karna lupa sama adat yang baik
tapi bukan adat yang diadatkan
Hanya satu saya minta pengertian
tak usah ditawar, tak usah dianyang
Bila dia itu orang Jawa tulen
tak usah merasa perlu ditanya
---perkara dosa
Saya tak tahu apa jawabannya
Tapi coba, dia kowe permalukan
di tengah-tengah banyak orang
sampeyan punya nyawa terancam"~
Profile Image for Ikra Amesta.
149 reviews29 followers
March 6, 2019
Maria Magdalena Pariyem berasal dari Wonosari Gunung Kidul dan bekerja sebagai babu di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta. Panggilan sehari-harinya “Iyem”, di KTP tertulis beragama Katolik tapi kepercayaan yang dianutnya adalah Mistik Jawa. Mungkin sempalan nama Maria Magdalena berpengaruh terhadap karakternya yang di satu sisi bisa begitu dalam merenungi falsafah jagad manusia namun di sisi lain begitu polos menikmati gelora syahwatnya, sampai-sampai ia dihamili anak majikannya sendiri. Ia menceritakan semuanya, dari yang penting sampai yang sepele, dan ia menyampaikannya dengan gaya, yaitu dalam bentuk sajak, yang dalam bayangan saya ia nyanyikan sendiri bak sinden. Maka buku prosa lirik ini memang tak cukup hanya dibaca saja tetapi juga didengar, dirasakan setiap bait dan iramanya, kalau bisa semalam suntuk, ditingkahi gerak gemulai dan cekikikan Pariyem di dalam kepala. Dunia Pariyem adalah dunia kultur Jawa yang lekat dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti di mana manusia senantiasa berada dalam keselarasan dengan zat kehidupan yang tunggal. Suasana yang tercipta begitu adem. Saya mendarat ke dunia baru yang tenteram dan sarat akan nilai-nilai luhur tentang laku manusia. Akarnya adalah kepasrahan, sementara puncaknya adalah kehormatan diri. Mungkin itu sebabnya ketika saya mendengar istilah “nilai-nilai ketimuran” saya selalu merujuk kepada nilai-nilai budaya Jawa yang memang terbukti telah bertahan sekian lama. Hidup sepertinya tidak akan sesusah yang kita bayangkan kalau kita bersedia nrimo dan lega lila. Seperti kata Pariyem:

Saya rasa-rasa
Saya pikir-pikir
Hidup tak perlu dirasa
hidup tak perlu dipikir
Dari awal sampai akhir
hidup itu pun mengalir


Rasanya perlu hati yang sejernih telaga untuk bisa menghayati dunia batin Pariyem yang menjalani profesi babu sebagai bentuk pengabdiannya yang tulus kepada sesama manusia dan Sang Hyang Wisesa Jagad.
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews9 followers
October 23, 2017
Lirikmu seolah sederhana saja
tapi siapa duga nyentil geli
Lubuk paling dalam merasa sendiri
bagian luarnya bergemetaran
Anda memang sudah tiga dalam hal-hal sehari-hari
dari jagad hidup,lelaki wanodya,perwayangan

Pariyem,memang kamu bukan Magdalena
kamu lebih suka tetap menjadi Iyem
Pembantu di dalem Cokrosentono
merangsuk batin,mereguk ilmu seorang priyayi
Sampai-sampai keblasuk dalam lubang asmara rela
bermain senggama dengan anak lelaki sulungnya
siang,malam,sampai tak terhitung
Dan tanpa sadar melebur menjadi bakal buah Sri Endang

Suwunku dari saru menjadi ilmu
bahkan jabang bayi hasil main gila pun
diterima kehadirannya tanpa merasa aib
Betapa langkanya masa ini

Profile Image for Cep Subhan KM.
343 reviews26 followers
May 31, 2020
I have read "Pengakuan Pariyem" several years ago, this one is its translation which is included in Lontar's "Modern Library of Indonesia". The translation is great (well, the translator is Jennifer Lindsay who translated Goenawan Mohamad's Caping), its introduction is also "something" (i think it is better than the introduction found in its new Indonesian version published by kpg, even if this "think" is only my plain opinion).
Profile Image for Bunga Sadikin.
32 reviews
September 3, 2024
pengalaman pertama kali baca buku puisi, dan sangat terkesan dengan karya yang sangat melodis dan artistik. (tapi suka gangerti karena engga bisa bahasa jowo hehehe.) ini adalah eksplorasi yang sangat dalam tentang budaya jawa, yang membuatku terkaget-kaget setiap kali membalik halaman!
Displaying 1 - 30 of 84 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.