Jump to ratings and reviews
Rate this book

Parasit Lajang #1

Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita

Rate this book
Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.

180 pages, Paperback

First published August 1, 2003

83 people are currently reading
1241 people want to read

About the author

Ayu Utami

37 books777 followers
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
386 (18%)
4 stars
642 (30%)
3 stars
725 (34%)
2 stars
234 (11%)
1 star
92 (4%)
Displaying 1 - 30 of 231 reviews
Profile Image for gieb.
222 reviews77 followers
February 4, 2009
sekali lagi, ayu utami terjebak dengan kekuatan sekaligus kelemahannya: ketrampilannya berbahasa -atau kengototannya?-

hal ini membuat ayu kebablasan, lupa mengolah pikiran-pikiran besar yang ada di buku ini. hanya terasa sensasional-nya. anomali-nya. cuma greget di tidak gentarnya ayu menulis sesuatu yang beda.

pernikahan itu pikiran besar. dunia yang puitis. penuh ambigusitas. penyatuan tubuh dalam dunia rekaan peristiwa. tubuh yang bahagia dan tubuh yang tak bahagia. melebihi dari sekedar teks dan keputusan-keputusan.

memilih menikah adalah mengabdikan diri ke lubang masalah. memilih tidak menikah adalah pengecut karena tidak mau berhadapan dengan masalah.

jadi, sama-sama keputusan yang tidak menyenangkan. saran saya: hanya ada satu kata: nekat! tuhan bersama orang-orang yang nekat. duh, apa sih yang saya omongkan. semoga kau baik-baik saja di sana.

gieb.
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
January 11, 2009
Kawan,
pernahkah kamu tiba-tiba tertarik secara seksual dengan orang yang telah lama menjadi teman? Lalu, berpikir untuk ciuman bahkan tidur dengannya suatu hari untuk bertemu lagi esoknya seolah tak pernah terjadi apa-apa? (hal.102)

Membaca kumpulan esai Ayu Utami ini, saya serasa ngobrol dengan seorang kenalan baru yang mendukung pendapat dan sikap saya tentang perkawinan, seks, agama, gender, kehidupan sosial, sastra...Dan saya ingin segera menjadikan kenalan baru itu sebagai sahabat sehati.

Saat saya pertama kali memproklamirkan tentang pilihan saya untuk tidak menikah di depan tiga orang sahabat saya yang jomblo-jomblo, reaksi mereka berbeda-beda. Yang satu tampak tenang-tenang saja. Yang satu lagi berseru kaget, "Gila lu! Emang elu udah gak doyan cowok?" (Padahal, saya sama sekali tidak mengatakan bahwa saya sudah emoh sama cowok . Saya cuma bilang bahwa saya tidak ingin menikah. Kedua hal tersebut sangat berbeda bukan?) Dan sahabat yang terakhir berkata, "Weeeh...kamu mau ikutan Ayu (Utami) ya?"

Rupanya, bagi sahabat saya itu, Ayu Utami bukan saja terkenal sebagai penulis novel Saman dan Larung, tetapi juga sebagai seorang (perempuan) yang tidak menikah. Sebuah pilihan sikap yang mungkin masih dianggap aneh di negeri ini sehingga lalu jadi mengundang perhatian. Apalagi buat Ayu yang terkenal itu. Sampai-sampai dalam sebuah wawancara televisi perihal novel terbarunya, ia lebih banyak ditanya soal tidak menikahnya itu daripada tentang novelnya.

Pengalaman Ayu yang seringkali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan soal mengapa tidak menikah itu juga menimpa saya. Setiap kali saya bilang bahwa saya tidak menikah, pastilah orang tersebut (bisa teman lama atau kenalan baru) akan merespons dengan senyum dan ucapan, "Ah..jangan bilang tidak. Mungkin cuma belum waktunya saja"

Itu cuma salah satu kisah yang ditulis Ayu dalam buku yang diberi judul "Si Parasit Lajang" ini. Melalui penuturan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya, Ayu melemparkan opini-opininya ke tengah publik pembacanya dengan gaya yang cuek dan ringan namun tetap kritis.

Sebagai anak muda yang juga turut merasakan era MTV, ia dengan santainya menulis mulai dari soal kondom, agama, politik, seks sampai Pramoedya (Ananta Toer, tentu saja). Bahasanya lugas dengan pilihan kalimat-kalimat cerdas yang enak dibaca (dan perlu. Emangnya TEMPO?). Seluruh tulisan dalam Si Parasit Lajang ini adalah esai-esainya yang pernah dimuat di majalah djakarta! (yang kemudian berganti nama menjadi JAKARTA-JAKARTA) tahun 1998-2003. Ayu juga membuat sendiri ilustrasi untuk bukunya ini. Cewek lajang ini memang memiliki multi talenta.

Dan teman-teman, walaupun saya juga memilih tidak menikah, sumpah, itu bukan karena ikut-ikutan Ayu lo!


Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
March 1, 2013
Aku suka tulisan Ayu Utami. Banyak juga temanku yang tidak suka. Kebanyakan malah laki-laki. Aku curiga, jangan-jangan mereka menjadi merasa bodoh karena Ayu banyak menuliskan dominasi perempuan sebagai tokohnya. Eh, yang sangat mendominasi di Saman, sih. Beberapa orang yang banyak membaca itu tidak suka tulisan Ayu di sini karena dianggap terlalu vulgar. Menurut aku tingkat vulgarnya biasa-biasa aja, sih. Yang dituliskan kejujuran, namun tidak genit. Ia mengutarakan apa yang ada di kepalanya, dari sudut pandang perempuan biasa. Perempuan yang biasa menerima pertanyaan, “Kenapa tidak menikah?”

Haha, kalau dipikir sebenarnya banyak perempuan yang ingin teriak seperti ini. Kalau belum menikah kenapa? Masalah? Lalu harus mendengarkan pendapat-pendapat mestinya begini, mestinya begitu dari orang-orang yang merasa hidupnya sudah sempurna. Seolah tidak punya pasangan adalah hal yang harus dijeritkan oleh perempuan di atas 30 tahun. Nggak menikah saja. Simpel kan. Dan kehidupan orang yang tidak menikah juga bukan tidak serumit orang menikah juga. Bedanya kan ia menghadapinya sendirian. Tapi selama masih punya teman-teman yang menyayangi, contohnya seperti Sahal, apa yang ditakutkan?

Aku pernah punya buku ini dengan sampul biru yang lama, kemudian tidak pernah kembali ketika dipinjam teman yang menjadi single sesudah menikah (tahu artinya?) kemudian menghilang entah ke mana. Baru akhir tahun lalu seorang teman dari luar pulaumenghibahkan buku bersampul biru ini padaku, dan ternyata Ayu menerbitkan lagi buku berisi kumpulan pendapatnya dia ini. Ada beberapa lebih dan kurangnya sepertinya.

Aku mencari satu bagian orang tidak menikah namun tidak punya teman juga. Misalnya bagaimana Ayu tanpa Sahal, tanpa teman-teman ngebirnya, tanpa pacarnya. Bagaimana ia menyelesaikan persoalan yang harus bersama namun ketika sendiri. Punya lelaki enak juga, misalnya bisa diminta tolong ke bengkel, naik memeriksa genteng bocor, ngangkat barang-barang berat, dengan imbalan senyuman. Namun bisa bayar orang juga untuk melakukan semua itu. Atau minta teman-teman lelaki yang melakukannya. Jadi bisa-bisa pasangan lelaki tak penting lagi. Ternyata tak ada di buku ini. Mungkin di buku selanjutnya?

Memang suka aneh. Dalam masyarakat umum kita, yang lajang akan iri pada yang berpasangan, karena ada tempat berbagi sehari-hari. Yang berpasangan iri pada yang lajang karena bisa bebas ke mana pun disuka. Padahal hidup itu pilihan, loh. Mau berpasangan, berarti siap diikat, kalau mau bebas, bebas berdua saja. Mau melajang, berarti siap menolong diri sendiri, bisa pergi ke mana pun disuka. Nah, kenapa juga di masyarakat kita perbedaan urusan melajang dan menikah berkisar antara ‘bebas melakukan apa saja yang disuka?’

Tapi, lama-lama juga sepertinya masyarakat kita semakin tidak peduli urusan ini. Pertanyaan soal status yang akan dibahas berkepanjangan lama-lama hanya beredar di kalangan ibu rumah tangga yang kekurangan urusan. Dunia sudah semakin sibuk. Perempuan semakin berani menentukan jalan hidupnya. Dan laki-laki harus mulai keras mengejar untuk lebih dari perempuan karena agama masih menghendaki lelaki sebagai pemimpin.
Profile Image for Sulin.
331 reviews56 followers
February 28, 2017
Saya teringat seorang teman. Dia pria, sudah menikah, dan sudah punya pacar lagi. Si pacar mau bersetubuh dengan dia tetapi dia hanya mau jika mereka menikah. Pacar itu jadi istri keduanya. Saya bilang, "Kenapa tidak berzinah saja?" Ia jawab, "Nanti Tuhan menangis." Saya katakan lagi, "Kenapa kamu memilih menyakiti istrimu, pihak yang lemah, ketimbang menyakiti Tuhan, yang sudah begitu kuat?"
-Hlm. 177-


Semua tulisan disini membuat saya jadi pendengar, saya sulit diam di dunia nyata namun saya bisa jadi pendengar ketika membaca. Saya melihat sebuah sudut pandang yang sangat unik. Baik dari segi feminisme, agama, perkawinan, pemberontakan, ideologi, pemerintahan semua hal dalam satu buku. Saya memang bukan feminisme atau penuntut hak-hak wanita, bukan penggugat kodrat. Tapi saya takmau membelenggu diri, apalagi takut untuk mengetahui dari sudut pandang seseorang penganutnya. Menyenangkan membaca kisah Ayu Utami. Betapa kompleks pikirannya bahkan pada hal-hal kecil yang sering kita lewatkan.

Sekali lagi banyak sisi bagus dalam buku ini, nilai sempurna bukan berarti saya setuju dengan isinya. Akan tetapi, saya jadi lebih tahu apa yang ada di pikiran feminisme, liberalis, pendapat kaum kaukaso tentang kaum mongol. Semuanya fantastis. Dengan tamatnya buku ini, maka berubahlah juga sebagian kecil pola pikir saya. Ajaib.

Sudut pandang yang kaya membuat saya memahami banyak hal, saya berhak untuk menoleransi semua hal karena tidak ada sesuatupun di bumi ini yang 100% baik atau 100% buruk. Kita semua terlahir berbeda. Oleh sebab itu, jangan pernah takut untuk menjadi berbeda hanya karena standar yang dibuat kumpulan manusia...
Profile Image for Jason Abdul.
Author 1 book19 followers
March 15, 2021
Buku ini masih relevan dengan masa sekarang (Maret 2021). Jika kita melihat di media sosial, pembahasan dan perdebatan soal menikah vs tidak menikah masih terus ada. Mungkin, jika Mbak Ayu Utami menulis buku lanjutan soal pernikahan, fenomena yang perlu dia tulis adalah pasangan yang "menjual" kisah perkawinan mereka ke publik. Pernikahan jadi komoditas yang bisa dijadikan medium promosi perusahaan (endorse alias iklan terselubung). Orang-orang memperlihatkan isi pernikahan mereka sampai ke hal paling privat: posting foto suami/istri sedang tidur hanya dengan pakaian dalam, misalnya. Setelah punya anak, mereka menjual eksistensi si anak demi popularitas dan uang.

Jangan lupakan juga munculnya ke permukaan para perempuan pembela pelakor dengan alasan mendukung poligami, kaum rahim hangat (yang mungkin belum pernah melihat film porno, apalagi kenal siapa itu Rocco Siffredi... eh, ada kok film dokumenternya di Netflix), dan objektifikasi terhadap laki-laki sudah nyaris sama banyaknya dengan terhadap perempuan, tetapi patriarki masih kuat di masyarakat.

Dari trilogi kisah nyata Ayu Utami, aku hanya belum membaca Pengakuan Eks Parasit Lajang.
Profile Image for Ilma Dityaningrum.
22 reviews8 followers
May 4, 2011
Ini buku ketiga milik Ayu utami yang saya baca..
entah kenapa, saya tidak pernah suka dan menyetujui dengan apa yang dia tulis. Meski ini bku ketiga, bukan berarti saya menyukai tulisannya... monoton. Selalu bercerita tentang Sex, perempuan, kebebasan badaniah dll.. Menurut saya, Ayu Utami seperti 'salah mengerti' dengan definisi "Feminisme". Tapi, memang nyatanya, sebagian besar perempuan di Indonesia memang "salah mengartikan" arti dari feminisme.
Dan ayu utami menunjukkan kesalah mengertiannya itu dengan cerita2nya...
Profile Image for Nike Andaru.
1,638 reviews111 followers
September 3, 2025
70 - 2025

Kukira ini novel atau kumpulan cerita, tapi ternyata ini kumpulan esai dan aku suka.
Walopun tulisan demi tulisan ini ditulis sudah lama (saya juga udah punya lama ternyata buku ini), tapi rasanya masih relate aja gitu sih. Masih enak banget dibaca.
Perempuan gak tabu bahas soal seks, soal perkawinan, dll.
Profile Image for Imam Hidayah.
Author 2 books1 follower
June 27, 2007
Si Parasit Mashokis

“Sebagai korban kapitalisme, saya bukan orang yang serta merta membenci kapitalisme dengan mengidentikkannya dengan hegemoni Barat dan patriarkal. Kapitalisme minus monopoli sejajar dengan demokrasi dalam banyak segi: sebuah sistem yang di sana publik diperhitungkan…”

(Ayu Utami, ‘Barbie, Barbie, Barbie’)

Saya mendapati buku itu di malam pertama tarawih. Seperti kebanyakan mahasiswa rantau yang berumah tak terlalu jauh, saya pulang untuk munggahan di rumah orang tua. Begitu saya memasuki kamar seorang kakak, saya mendapati buku itu tergeletak di atas meja, beberapa senti saja dari tape, berhimpitan dengan album kaset penyanyi wanita. Buku itu berwarna biru terang, dengan cover yang bagi saya agak terasa tak biasa. Judul buku itu Si Parasit Lajang – Seks, Sketsa, dan Cerita, penulisnya Ayu Utami, penulis yang telah mengeluarkan dua buah novel yang saya kagumi. Sambul buku itu bukan bergambar hasil rekayasa komputer saya kira, dan benar saja, itu gambar tangan Ayu Utami sendiri, si penulis buku. Ternyata selain pandai menulis, ia juga pandai membuat gambar, ia tidak hanya membuat gambar untuk sampul buku itu, tapi juga untuk isi dalam buku. Saya hitung ada sekira lima puluh delapan gambar di buku itu, termasuk gambar sampul.

Sementara itu, ramadhan tahun lalu (atau dua tahun lalu, saya agak lupa) adalah saat pertama kali saya bertatap muka dengan Ayu Utami. (Ia begitu pandai menggambar dirinya sendiri, begitu mirip, padahal setengah mati saya pernah mencoba untuk menggambar diri saya sendiri. Dan selalu gagal). Waktu itu digelar acara Ngabuburit Bareng Ayu Utami di aula Pusat Studi Bahasa Jepang di fakultas saya, Sastra, mendiskusikan novel fragmen akhirnya yang baru terbit, Larung. Yang menarik saya untuk mengikuti diskusi itu sebenarnya adalah pertama, Ayu Utami akan datang ke fakultas saya (dan saya ingin benar melihat wajahnya secara langsung - kegenitan seorang pembaca saya pikir). Dan kedua, publikasi yang lumayan membuat saya terhenyak. Di baligho tertulis: “90% wanita mashokis”. Belakangan saya tahu, itu adalah kalimat kutipan dari novel Larung.

Mashokis sendiri sebenarnya adalah istilah penyimpangan seksual dalam ranah psikologi. Kira-kira artinya begini: orang yang menemukan kenikmatan lewat penyiksaan=penyiksaan yang didapatkannya. Berkebalikan dengan sadistis, yaitu orang yang menemukan kenikmatan dengan menyiksa. Ayu Utami waktu itu menjelaskan kira-kira seperti ini: hal itu (mashokis maksudnya) terjadi lewat sekian panjang proses internalisasi yang menerus terhadap siksaan hingga siksaan-siksaan itu perlahan menjadi bagian dari diri, maka diri tanpa siksaan, akan menjadi tidak lengkap (tidak terpuaskan). Di alam yang sangat tidak menguntungkan wanita seperti saat ini, “90% wanita adalah mashokis”. Apa benar? Lalu masuk jenis apakah yang sepuluh persen sisanya?, tanya seorang peserta diskusi. “Yang sepuluh persennya… frigid!” kata Ayu Utami seraya tertawa.

Saya juga tertawa waktu itu. Di dalam benak, saya sedikit membenarkan apa kata Ayu.

Tapi, masuk golongan manakah seorang Ayu Utami? Seorang mashok atau seorang frigid? Jawaban itu, secara serampangan, saya temui di buku yang saya temui di kamar kakak saya barusan. Membaca beberapa essainya (itu buku kumpulan essai pertamanya, sebenarnya dikumpulkan dari tulisan-tulisannya di Majalah djakarta! dan JAKARTA-JAKARTA).

baca lengkap di http://hitam-merah.blogspot.com/2003/...
Profile Image for Diana Nissa.
8 reviews6 followers
August 18, 2017
Terlepas dari sependapat atau tidak saya dengan pikiran-pikiran Ayu Utami, tapi saya akui buku ini memang bagus. Buku ini berisi kritik budaya yang dikemas sederhana, dominan dalam bentuk pragmatis dan melahirkan humor yang unik (karena tidak semua bisa menikmatinya).

Saya tidak kaget ketika begitu banyak kosakata vulgar muncul. Salah satu dosen favorit saya bilang bahwa Ayu Utami adalah golongan Sastrawan Madzab Selangkangan (SMS). Jadi, memang tiap kata yang dipilihnya pasti sesuai dengan yang ingin diutarakannya. Apalagi sejak awal telah diulas bahwa buku ini menggiring pembaca pada perbincangan (tidak) hangat yang dominan seputar seks dan pernikahan. Bahkan, judulnya telah merefleksikan isi dengan sangat jelas.

Bagi saya aneh ketika masih ada pembaca yang mengeluhkan tentang seks dan pernikahan diungkit secara terus-menerus. Apalagi sampai dibilang ngotot. Padahal perlu disadari bahwa eksistensi buku ini sejalan dengan eksistensi dari pikiran-pikiran penulis. Secara sederhana, Ayu Utami menghidupi pikiran-pikirannya melalui buku ini.

Jadi, sependapat atau tidak dengan pikiran penulis, buku ini tidak perlu disalahkan akibat konten dan kevulgarannya. Karena buku ini memang sengaja dicetak seperti "itu", seperti Ayu Utami.
Profile Image for Dita.
359 reviews17 followers
August 4, 2015
Menyenangkan menyelami otak Ayu Utami selain membaca karya spektakulernya, Larung dan Saman. Menyenangkan mengetahui bahwa ada juga orang yg seperti ini. Menyenangkan melihat goresan tangannya.
Profile Image for Christan Reksa.
184 reviews11 followers
April 13, 2019
Buku berisi kompilasi tulisan-tulisan pendek Ayu Utami ini, saya yakin, pada saat pertama kali diterbitkan (2003) cukup mengagetkan sekaligus nakal, karena keberaniannya berceloteh dan mengutarakan opini maupun argumennya yang melawan pakem masyarakat. Mulai soal menikah, seks, beragama, bekerja, bergaul, maupun hidup dalam masyarakat, bangsa, dan lingkungan kapitalistis maupun normatif. Buku yang saya baca ini sudah cetakan tahun 2013, dengan beberapa penambahan. Ketika membacanya pun saya tidak terlalu kaget atau "terganggu" lagi, karena ide-ide feminisme maupun kebebasan yang dibicarakannya sudah mulai mainstream di masa ini, walaupun memang tetap saja tidak selalu disetujui masyarakat kita.

Yang saya suka adalah kemampuannya menulis poin-poin pemikirannya secara singkat, blak-blakan, dan catchy. Tidak perlu waktu lama untuk mengenal isi kepala Si Parasit Lajang. Walaupun, mungkin karena bentuknya tulisan-tulisan pendek, ada yang dikorbankan, yaitu kedalaman argumennya.

Buku ini cukup bisa dibaca cepat, ataupun dibaca sedikit-sedikit sambil menghabiskan waktu tunggu. Bukan buku mendalam yang bisa "menghajar" pembacanya, namun cukuplah untuk menggelitik.
Profile Image for Sella   (claudieslibrary).
125 reviews10 followers
March 8, 2021
Well.. well.. baca buku ini jangan merasa di doktrin. Tapi anggaplah kamu dan penulis lagi ngopi-ngopi cantik, si penulis cerita pengalaman hidupnya, dan kamu sebagai teman berceritanya hanya bertugas mendengarkan. Bukan menjudge.

ada beberapa hal2 yang nggak sesuai dengan prinsipku, namun dalam beberapa hal aku juga sepakat dengan penulis.

Intinya bacalah buku ini dengan open minded. Bintang 4 aku berikan bukan karena aku sepemahaman 100%, tapi aku salut kepada penulis yang bisa menyuarakan pikiran2nya ditengah standarisasi umum masyarakat kala itu.

buku ini kubaca dalam rangka International Woman's day :)
Profile Image for Firdhauzi Kusuma Rachmani.
5 reviews19 followers
January 12, 2018
Saya benar-benar terhibur dengan buku ini. Tak gampang bagi saya untuk memberi rating 5 pada sebuah buku, tapi buku ini sungguh bagus sampai saya selalu bawa kemanapun agar bisa curi-curi membacanya.

Buku ini bercerita tentang pikiran-pikiran seorang Ayu Utami, yang berpusat pada banyak hal: ketidak-inginan untuk menikah. Satu inti cerita yang bercabang pada banyak cerita, banyak teori, banyak opini.

Saya merasa enjoy membaca buku ini. Maknanya dalam sekali, tapi membacanya seringan baca cerpen di majalah anak-anak, sunggu menyenangkan, sungguh mengalir. Dan saat ini saya tidak sabar ingin membeli dan membaca buku Ayu Utami yang lain.
Profile Image for Adek.
195 reviews4 followers
November 18, 2013
Pada usia dua puluhan Ayu Utami memutuskan bahwa menikah itu bukanlah pilihannya. Saya pada usia dua puluhan (tepatnya pada tanggal 13 Maret tempo lalu) juga memutuskan sesuatu yang penting (bukan tidak menikah ya, kalau itu ya jelas saya mau-banget) yakni saya memilih untuk tetap menjadi staf yang gak penting seperti ini sampai tua, maksud saya sampai pensiun. Sekilas info, saya satu korps dengan alm. ayahnya Ayu Utami. Saya tidak akan membahas kenapa Ayu Utami memilih tidak menikah sampai undang-undang perkawinan berubah di negara ini (tentu masih dalam kacamata Ayu) karena itu adalah haknya, hak asasinya, memvonis hak asasi seseorang yang tidak menikah dalam koridor pendapat pribadi kita tentu begitu subjektif dan naif. Mari kita mulai hanya memikirkan sesuatu yang bernilai, simply dengan tidak memasuki ranah pribadi orang lain. Tapi herannya saya, Ayu masih aja sensi dan gerah jika ditanyai perihal tersebut setelah hampir dua puluh tahun dia dalam putusannya-setidaknya itu yang saya tangkap, entah kalau saya yang salah tangkap.

Buku ini berisikan pemikiran-pemikiran Ayu yang dia jalani dengan kehidupannya sehari-hari, terkait teman-teman, keluarga, pekerjaan, kesukaan, ketidaksukaan, sentimentalitas, dan tentu saja cinta. Salah satu pernyataan Ayu yang jadi bookmarked favorit saya adalah: "memiliki teman-teman yang tidak mempunyai kepentingan selain berteman itu sendiri. Memiliki teman-teman yang lucu, tulus, dan menyenangkan. Itulah kekayaan yang paling asyik di dunia." Seketika saya sedih karena dua hari yang lalu saya dihubungi teman yang seharusnya lebih dari teman biasa menelepon untuk pinjam uang yang tidak sedikit (hebat sekali dompet saya sampai sebegitu dipercayai). Tapi tak apa, setidaknya saya sudah punya teman yang begitu tulus ke saya.

Sebenarnya saya tidak begitu menganut tarekat feminis di mana kesetaraan gender dituhankan. Karena bagaimana pun di agama saya, pemimpin tetaplah laki-laki. Bagi saya, saya tidak cukup tergantung kepada perlindungan lelaki, karena saya belum menikah porsi itu jatuh kepada ayah. Bahkan sejak SMP, saya telah mempunyai banyak ajian untuk bisa memplintir anak-anak cowok yang suka iseng, hei tentu saya tidak pernah lapor kepada ayah atau abang saya. Secara materi saya yang telah memiliki penghasilan sendiri, tentu tidak menggantungkan hidup kepada laki-laki (incase saya belum nikah, setelah nikah juga kayaknya ndak, cieh!) Memang, kerumitan ini terjadi bagi ibu rumah tangga tulen. Bicara tentang ibu, saya sangat salut pada ibu Ayu Utami, pasti beliau adalah ibu yang paling demokratis di muka bumi. Bahkan mengalahkan ibunya Sasana dalam novel Pasung Jiwa.

Awalnya saya ingin membubuhkan bintang empat di buku yang lucu dan asyik ini, namun satu bintang gugur tepat di halaman terakhir. Panjang sekali ya review kali ini, maaf atas kecerewetan saya.
Profile Image for ☆.
75 reviews
Read
May 17, 2025
[not proofread, probably gonna add some abis bengong bentar]

setelah enam tahun bersekolah di sd islam, rasanya seperti telanjang saat saya masuk ke smp negeri yang membebaskan siswinya untuk memakai kerudung atau tidak. padahal waktu itu, saya tidak memakai kerudung selain ke sekolah dan kebanyakan teman-teman sayapun begitu.

suatu hari, perut saya sakit sekali. pergilah saya ke kamar mandi, lalu bertemu dengan bercak coklat di celana dalam dan air toilet yang sudah berubah jadi merah. sorenya, saya pergi ke tempat les gitarㅡyang saya sudah tidak pernah pegang lagiㅡdengan identitas baru saya: pengguna kerudung di dalam dan luar sekolah.

ibu saya selalu memuji betapa mudanya saya saat memutuskan untuk menggunakan kerudung. ada tiga puluh lima tahun di antara kami dan pastinya banyak momen-momen besar yang membedakan dan membentuk kami menjadi pribadi yang berbeda.

"ibu pake kerudung karena titiek," katanya sore itu. lalu dilanjutkan, "dia berjasa banget." tentunya, saya terkejut mendengar ini semua, menyadari bahwa pengetahuan saya tentang keluarga itu lebih sedikit daripada ibu saya, yang mengalami dari tahun pertama sampai keluarga itu tumbang.

jelas sekali, keluarga itu "berperan penting" untuk banyak aspek di negara ini, tapi saya tidak terpikir bahwa pemainstreaman pemakaian kerudung diawali olehnya juga.

"waktu sma, temen ibu ada yang berangkat pake kerudung. sampe gerbang, dia buka. pas pulang, kerudungnya dipake lagi," lanjutnya saat membandingkan pemakaian kerudung sebelum diawali oleh keluarga itu.

self discovery memang perjalanan tiada akhir, karena saya juga baru menyadari umur ibu saya tidak jauh dari ayu utami. mereka kemungkinan besar mengalami momen-momen besar di waktu yang berdekatan atau bahkan berbarengan.

mengetahui dasar feminisme dan gender di diri saya kebanyakan dari ayu, saya wonder apakah ibu saya familiar dengannya. karena semenjak dua tahun lalu, ibu saya baru memutuskan untuk dipanggil dengan namanya sendiri, instead of ibu (insert nama bapak saya) dan saya merasakan dampaknya karena ia juga mulai memanggil ibu-ibu komplek lain dengan namanya masing-masing dan saya harus kembali menghapal tetangga yang tidak pernah saya temui juga itu.

titiek, ayu, dan ibu saya melakukan sesuatu, untuk seseorang, tanpa atau dengan maksud tersebut. and it scares me karena banyak esai di buku ini yang masih relevan dengan permasalahan tahun ini...yang dengan atau tanpa sengaja ada ya, karena keluarga itu.

apa kata ayu tentang barbie (2024)? apa kata ayu tentang titiek yang memulai sesuatu (can i say suatu "gerakan feminisme") tanpa atau dengan sengaja? apa kata ayu, yang sudah melewati berbagai presiden, tentang keadaan yang (tampaknya) begini-begini saja?
Profile Image for Zulfy Rahendra.
284 reviews76 followers
May 21, 2014
Kenapa 2 bintang?



Apa bagusnya?

Pemikiran-pemikiran Ayu Utami, saya mengakui, emang kritis, masuk akal, kadang mind blowing. Dan beliau percaya dan memegang teguh pemikirannya. Buat saya yang lemah, ga punya ketegasan, gampang kepengaruh, dan plin plan begini, sosok wanita kayak Ayu Utami terlihat sangat berani dan kuat.


Apa jeleknya?

Hmm... Selera sih ya. Mungkin buat beberapa orang, alesan keenggasukaan saya sama buku ini justru dibilang alasan kenapa buku ini bagus. Apalagi saya sadar diri kalo saya ini tunasastra. (apalah pun tunasastra.. -___-) Saya ga ada masalah sama kalimat-kalimatnya yang vulgar sebenernya.. (boong. Risih tau kalo kebanyakan)
Tapi....sebuku isinya bahas hal yang itu-itu aja bikin bosen. Ayu Utami kesannya kayak keukeuh maksain pendapatnya yang beliau tau tabu dan tidak bisa diterima itu didenger. Semacam perasaan kalo dengerin temen curhat masalah cowonya, tapi masalahnya itu-itu aja. Jadi pengen rolling eyes sambil komen, "iya, mb. Iya. Tau kok situ anti-nikah. Udah tau dari prolog juga. Ga usah diulang terus.."
Terus apa lagi ya? Entahlah, banyakan karena ga sepenuhnya sependapat sama pemikirannya beliau, atau emang ga ngerti aja sama pemikiran-pemikirannya.


Ya gitu deh. Sekali lagi, saya hanyalah orang awam yang lemah ilmu dan tak berharga. Maka..... apa da aku mah. Hanya butiran sangu. Nempel di tangan kamu gé kalahka digebahkeun lalu dialungkeun ka balong lele.. :(
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
June 6, 2020
Buku ini saya baca dalam Bahasa Indonesia. Selaim dalam buku fisik, buku ini juga tersedia di Gramedia Digital.

Si Parasit Lajang adalah buku pertama Ayu Utami yang saya baca. Kesan pertama saya adalah, seseorang bisa sangat membenci beliau atau menyukai karya beliau. Topik yang diangkat banyak menyangkut perkawinan dan memiliki anak.

Menurut saya, cerpen yang ditulis memang sengaja bukan untuk diberi kesimpulan. Kalaupun ada, kesimpulan ini akan bersifat sangat subjektif.

Kalau teman-teman belum menikah, atau sudah menikah tapi belum punya anak, buku ini cocok untuk bahan refleksi. Ayu menuliskan tren "tante-tante rempong" di setiap keluarga yang bertanya "kapan nikah" atau "kapan punya anak" dengan baik. Saya jadi mendapat ide stok jawaban tahun depan kalo ditanya-tanya 😆

Yang saya sukai dari buku ini adalah
1. Cerpennya pendek, bisa menjadi buku sela-sela jika bosan membaca yang lain
2. Me"waras"kan pilihan tidak menikah/punya anak, karena bentuk hubungan keluarga seperti itu tidak cocok untuk semua orang

Yang saya tidak sukai dari buku ini adalah
1. Gaya penulisan yang menggunakan sudut pandang "aku"

Kesimpulan: Jangan baca buku ini kalo kamu tidak siap merasa "dikritik" sama pilihan hidup kamu. Tapi, baca buku ini kalo kamu sudah siap ketawa sama betapa benarnya buku ini 😂
Profile Image for Wella Madjid.
23 reviews6 followers
March 26, 2013
kumpulan esai ringan yang enak dibaca, tapi dijamin sekarang ayu utami pastilah punya pandangan yang berbeda karena sudah tak lagi lajang :-) yang menarik adalah petikan kalimat di salah satu esai dalam buku ini, "kalau nanti saya jadi perawan tua, saya tidak mau jadi perempuan yang judes, yang iri melihat perempuan muda yang cantik." :-D Ayu ter-stigmatisasi
Profile Image for Aisha Baisa.
52 reviews16 followers
March 1, 2019
an absolute must read book! especially if youre a woman and still single in mid or late 20s when most of your friends are already settling down. this book made me rethinking again the philosophy and the reasoning behind the word 'marriage' in Indonesia. because, ya'll! its not necessarily of love and belongings! it might be just about the urgency of your social clock!
Profile Image for Lani M.
347 reviews42 followers
April 13, 2013
Buku ini sangat ringan untuk dibaca, dan banyak topik yang hanya menyuarakan protes dari seorang AA terhadap konstruksi sosial bernama pernikahan. Sebuah tema yang semestinya bisa lebih digali dan tidak dipersempit dengan pembagian bab ke bab yang terdiri dari 5-6 halaman.
Profile Image for Reza Putra.
91 reviews12 followers
July 5, 2010
Definisi perempuan lajang yang sebenarnya: tajam sekaligus naif.
Profile Image for Mutiara Magdalena.
36 reviews1 follower
September 29, 2021
Saya pertama kali tahu buku ini ketika duduk di bangku kuliah, mungkin sekitar semester tengah. Saya adalah pengagum sekaligus pemuja Ayu Utami dan karya-karyanya. Tapi untuk buku ini, sepertinya adalah buku Ayu pertama yang tidak begitu saya agungkan.

Satu yang agak mengganggu buat saya, seharusnya penerbit bisa lebih detail lagi dengan menuliskan warning bahwa buku ini termasuk dalam buku dewasa (atau setidaknya dibaca oleh pembaca 18 tahun ke atas). Bukan hanya beberapa topik cerita dan pemilihan kata-kata yang eksplisit dan berani, tapi juga karena tujuan utama dari penulisannya adalah bicara mengenai pernikahan. Jujur, kalau saya tahu dan 'ngeuh' mungkin saya akan memilih untuk menunda membeli buku ini. Sebagai anak kuliahan waktu itu, rasanya saya akan belum siap jika harus membaca buku ini jauh lebih dalam. Selain belum mikirin soal kawin, saya juga pasti terpancing buat nonton seperti apa itu film biru Tarzan.

Satu lagi note untuk penerbit; yaitu agar buku ini bisa disebut Kumpulan Buku Cerita saja ketimbang Novel. Saya yang waktu itu (saat beli buku ini) berharap akan menikmati pemikiran Ayu yang dituangkan ke dalam dimensi magis sejenis Bilangan Fu dan Larung, ujung-ujungnya harus sedikit kecewa karena ternyata buku ini adalah buku kumpulan cerita-cerita Ayu yang beberapa sudah pernah saya baca di media lain.

Seperti kebanyakan buku Ayu, Si Parasit Lajang kembali mengangkat tema feminisme dan meng-nol-kan patriarki. Sebagai perempuan urban di usia pertengahan 20an seperti Ayu saat merangkum karyanya ini, saya tidak ada keberatan apa pun dengan idealisme Ayu yang ogah kawin. Saya suka bagaimana Ayu menyeruakan pemikiran-pemikirannya dengan lugas dan percaya diri. Sebagai perempuan urban di usia pertengahan 20an yang bercita-cita menikah dan punya keluarga sendiri, saya juga tidak ada masalah dengan apa yang menjadi pilihan Ayu tersebut.

Secara garis besar saya suka buku ini. Nggak ada masalah. Tidak sulit untuk dipahami, merileksasi, bahkan memberikan pemahaman, pengertian, dan informasi-informasi baru. Dengan adanya paradoks yang tersirat di hampir setiap cerita, sebagai pembaca kita diajak untuk menarik kesimpulan dan memberikan keputusan sendiri, yaitu: masih yakin mau kawin? atau sudah yakin nggak mau kawin?

Tapi buat saya, buku ini nggak terlalu kuat menyampaikan pesan yang dimaksud penulisnya. Masih ada beberapa cerita yang saya rasa kurang relevan dengan tema utama, juga penilaian-penilaian yang berasal dari subjek yang memang sama-sama punya ideologi yang sama. Jadi saya merasa kurang mendapatkan lebih banyak perspektif baru mengenai hal ini: mau/siap kawin atau nggak mau/nggak siap kawin.

Profile Image for Editanainggolan.
435 reviews12 followers
July 1, 2021
"Pernikahan itu bukan harus, melainkan perlu. Jadi, kalau merasa perlu, menikahlah. Tapi pastikan dulu apa perlunya." -hal 192.⁣

Yup, Ayu Utami cukup vokal menyuarakan tentang perlu tidaknya menikah. Tak heran banyak pro dan kontra akan buku ini, karena dianggap berisi doktrin-doktrin yang menyesatkan manusia terutama anak gadis untuk tidak menikah. 😅⁣

Well, bacalah... Tidak begitu koq. ⁣
Ayu hanya memberi sudut pandang baru bagi perempuan untuk melihat dan semoga jadi paham. Menikah, atau belum, atau bahkan untuk tidak menikah, itu terserah kita koq. Ayu tidak melarang pernikahan, atau memberi credit jelek bagi perempuan yang menikah. Ayu memberi sebuah jendela yang terbuka lebih lebar, alih-alih jendela dengan kaca buram yang setengah terbuka, yang selama ini dipakai perempuan untuk melihat.⁣

Jadi ketika pada akhirnya kita memutuskan, kita sudah bulat.⁣

Oh ya, buku ini bukan tentang pernikahan dan hidup lajang semata loh.⁣
Tulisan Ayu ini adalah obrolan-obrolan di rumah, di kedai dengan kawan, atau di perjalanan yang mencakup seks, jender, kapitalisme bahkan politik dan negara. Sebagai seorang yang praktis dan gak mau ribet, sedikit banyak aku setuju dengan Ayu. Anak Judul pada versi Gagasmedia -terbitan pertama- memberi kejelasan akan isi buku ini. Jadi, bacalah... 👍🏻⁣

Si Parasit Lajang; Seks, Sketsa & Cerita - Ayu Utami (2003)⁣
Diterbitkan oleh: @gagasmedia , cetakan ketiga: Oktober 2003, 180 halaman ⁣⁣
Genre: Non-fiksi; kumpulan esai⁣
Rate dariku: 4⭐⁣⁣

Versi Penerbit KPG diterbitkan dengan beberapa penambahan dan pengurangan serta penyesuaian artikel dengan susunan baru. ⁣
Salah satu bagian yang dikurangi adalah bagian Politik dan Negara, ah..padahal aku suka tulisan Ayu disitu.⁣

Setuju tidak setuju itu wajar, tapi dari buku ini aku yakin semua perempuan said YES for Rocco Sifreddi 🤣🤣👍🏻👍🏻⁣
Profile Image for Editanainggolan.
435 reviews12 followers
Read
July 1, 2021
"Pernikahan itu bukan harus, melainkan perlu. Jadi, kalau merasa perlu, menikahlah. Tapi pastikan dulu apa perlunya." -hal 192.⁣

Yup, Ayu Utami cukup vokal menyuarakan tentang perlu tidaknya menikah. Tak heran banyak pro dan kontra akan buku ini, karena dianggap berisi doktrin-doktrin yang menyesatkan manusia terutama anak gadis untuk tidak menikah. 😅⁣

Well, bacalah... Tidak begitu koq. ⁣
Ayu hanya memberi sudut pandang baru bagi perempuan untuk melihat dan semoga jadi paham. Menikah, atau belum, atau bahkan untuk tidak menikah, itu terserah kita koq. Ayu tidak melarang pernikahan, atau memberi credit jelek bagi perempuan yang menikah. Ayu memberi sebuah jendela yang terbuka lebih lebar, alih-alih jendela dengan kaca buram yang setengah terbuka, yang selama ini dipakai perempuan untuk melihat.⁣

Jadi ketika pada akhirnya kita memutuskan, kita sudah bulat.⁣

Oh ya, buku ini bukan tentang pernikahan dan hidup lajang semata loh.⁣
Tulisan Ayu ini adalah obrolan-obrolan di rumah, di kedai dengan kawan, atau di perjalanan yang mencakup seks, jender, kapitalisme bahkan politik dan negara. Sebagai seorang yang praktis dan gak mau ribet, sedikit banyak aku setuju dengan Ayu. Anak Judul pada versi Gagasmedia -terbitan pertama- memberi kejelasan akan isi buku ini. Jadi, bacalah... 👍🏻⁣

Si Parasit Lajang - Ayu Utami (2013)⁣
Diterbitkan oleh: @penerbitkpg , cetakan kelima: Februari 2017, 201 halaman ⁣⁣
Genre: Non-fiksi; kumpulan esai⁣
Rate dariku: 4⭐⁣⁣

Versi Penerbit KPG diterbitkan dengan beberapa penambahan dan pengurangan serta penyesuaian artikel dengan susunan baru. ⁣
Salah satu bagian yang dikurangi adalah bagian Politik dan Negara, ah..padahal aku suka tulisan Ayu disitu.⁣

Setuju tidak setuju itu wajar, tapi dari buku ini aku yakin semua perempuan said YES for Rocco Sifreddi 🤣🤣👍🏻👍🏻⁣
Profile Image for Mira.
47 reviews1 follower
April 15, 2025
Si Parasit Lajang adalah semacam kumpulan esai dan opini personal yang dibalut dengan gaya bertutur khas Ayu Utami yang bebas, berani, dan kadang vulgar tapi jujur. Buku ini rasanya seperti curhat panjang dari seseorang yang sudah cukup kenyang makan asam garamnya hidup, terutama tentang pilihan hidup sebagai seorang lajang, membalut bagaimana masyarakat seringkali terlalu sempit memaknai konsep perempuan ideal, pernikahan, bahkan seksualitas.

Sejujurnya, aku cukup menikmati dan suka dengan cara Bu Ayu meramu pemikirannya. Banyak poin yang bikin aku mikir ulang, bahkan mengangguk-angguk sambil bilang, “Iya juga, ya.” Tapi yang perlu digarisbawahi, ini bukan buku yang bisa dicerna semua orang dengan mudah. Isinya cukup frontal dan bisa dibilang “menggugah” secara emosional dan intelektual. Jadi ya, kalo kamu tipe yang nggak nyaman dengan opini-opini yang “di luar pakem,” mungkin bisa berakhir kesel sendiri pas bacanya… wkwkwk.

Minusnya buat aku pribadi sih spark-nya agak hilang di tengah jalan. Beberapa pertanyaan besar yang bikin aku penasaran sebelum mulai baca, kayak misal “Apa sih parasit lajang itu?” dan “Kenapa si tokoh milih untuk nggak nikah?” justru udah langsung dijawab di prolog. Jadi waktu masuk ke bab-bab selanjutnya, aku ngerasa semacam ngambang gitu, kayak “Oke… terus mau dibawa ke mana nih?” Tapi untungnya, isi dari setiap bab masih cukup engaging dan penuh opini segar, jadi aku tetap bisa nikmatin tiap chapternya sampai akhir.

“Aku ingin jadi perempuan bebas, bukan perempuan baik-baik.”

Kalimat ini nempel banget di kepala. Karena memang seringkali, perempuan “baik-baik” itu hanya soal bagaimana kamu bisa masuk ke dalam kotak yang sudah disiapkan.. bukan soal siapa kamu sebenarnya.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,430 reviews72 followers
November 24, 2025
Sinis dan kritis. Aku sempat mengira ini bakal sevulgar Pengakuan Eks-Parasit Lajang. Ternyata enggak. Beberapa nilainya tentu saja bertentangan. Namun, ada sisi kritisnya yang bisa sedikit diterima seperti ketika dia mempertanyakan konstruksi masyarakat yang seolah mengharuskan perempuan harus menikah, menjadikannya makhluk di bawah lelaki, dan orang-orang yang rela mengorbankan prinsip dan rela mengambil pekerjaan yang membuat mereka harus menyogok ketika sudah berkeluarga, demi keluarga.


Banyak teman yang nikah berubah jadi tidak asyik. Sahal sih tidak, tapi mereka tidak lagi bisa nongkrong di kedai, ngobrol ngalor-ngidul sampai larut. Istri atau suami mereka akan menelepon, atau bahkan muncul dengan senyum masam untuk merebut mereka kembali. Mereka tak lagi berkarya karena cinta, tetapi sekadar bekerja sebab harus memberi makan dan menyekolahkan anak. Beberapa jadi ngomong duit melulu. Di antaranya mulai terima proyek yang mengharuskan mereka menyogok. Bahkan ada yang mau jadi binatu bagi industri atau politisi yang perlu membersihkan nama. Begitu banyak orang menyerah pada benih korupsi demi anak dan keluarga.

Jadi, apa sebenarnya "berkeluarga" itu? Kenapa orang-orang begitu kepingin melakukannya, padahal setelahnya mereka berubah jadi budak "tanggung jawab"?

(hal. 184-185)


*

Kenapa kita harus percaya pada sejenis Tuhan?

Tidak harus. Saya kira, Tuhan ada bagi orang yang lemah, yang cemas pada ketidakpastian dan gentar pada kematian. Jika orang tak khawatir pada bencana dan takut pada maut, niscaya dia tidak membutuhkan Tuhan. Jadi biarlah. Yang tidak perlu bertuhan jangan dipaksa, dan yang memerlukan tuhan pun jangan dilarang.

(hal. 194-195)


Hmm... Semi-ateis gini.
Profile Image for Aksa.
41 reviews2 followers
March 7, 2018
Si Parasit Lajang karangan @bilangan.fu diterbitkan oleh @penerbitkpg

Ketika banyak orang menilai tulisan-tulisan Ayu Utami tak lebih dari sekadar sastra wangi, bagi saya membaca buku ini mematahkan stereotip tersebut - alasan lainnya karena selain Saman baru buku ini yang saya baca. Buku ini pun bisa juga menjadi jawaban bagi orang-orang yang menilai bahwa suatu bahasan yang dipandang "menye" tak bisa memenuhi ekspektasinya dalam sastra. Ceritanya tak akan lebih dari itu-itu saja. "Menurut" di sini, yah sebut saja percintaan/stensilan sederhananya.

Buku ini, semakin menyadarkan saya bahwa membaca adalah sebuah proses menyelami kata-kata. Di dalamnya, kita mencari sebuah harta karun dengan memaknai suatu dialektika berpikir penulis.

Andai seorang penulis menggoreskan kata-katanya dalam sebuah kisah cinta, bukan berarti tak ada sebuah kritik darinya untuk dunia sekitarnya. Hal itu telah dibuktikan oleh penulis buku ini.

Agenda politik, permasalahan jender, dan hal lainnya yang kurang lebih menjadi dilematis dalam pikiran. Ayu Utami menyampaikan pendapatnya sebagai manusia merdeka. Sebagai pembaca, saya berusaha memahami makna-makna yang hendak disampaikannya.

Buku ini tidak sekadar untuk dan tentang perempuan saja. Bagi laki-laki, ini juga bisa menjadi bahan berpikir sejak dini. Kepada mbak @bilangan.fu saya ucapkan terima kasih telah melahirkan tulisan ini ke bumi.

#pengenceritaaja #siparasitlajang #ayuutami #gramedia #goodreads #perempuan
Profile Image for Rei.
366 reviews40 followers
May 31, 2021
“Berdasarkan riset, kebanyakan perempuan Jepang yang karirnya maju tidak menikah. Dan Wanita demikian umumnya tetap numpang di rumah orang tua mereka, rumah yang tak perlu mereka openi (urus) sebab ada ibu yang mengerjakan itu, dan ayah yang tak rela membiarkan gadisnya sendirian. Ia menyebut makhluk begini, single parasite. Tepat! Itulah saya, si Parasit Lajang!” -hal. 27

Ayu Utami berkeras untuk tidak menikah. Tapi bukan berarti ia menentang Lembaga pernikahan. Hanya saja, baginya menikah itu untuk orang lain, bukan untuknya. namun tentunya melajang di usia akhir 20-an bukan sesuatu yang bisa diterima begitu saja oleh lingkungannya. Hal ini mendorong Ayu untuk menuliskan pengalaman sekaligus pengamatannya terhadap konstruksi sosial yang cenderung tidak ramah terhadap perempuan urban lajang seperti dirinya. Kritiknya pedas, menyentil, jujur, dan berani. Sarkasmenya mengena sekaligus lucu. Dan terus terang, banyak opini-opininya yang kusetujui.

“Hm. Aneh. Begini. Semua orang religius setuju bahwa perkawinan itu sakral. Nah! Tidak semua orang harus menjadi imam atau pendeta, kan. Tugas itu sakral. Jadi kenapa pula semua orang harus jadi ayah atau ibu, suami atau istri? Kalau kita melihat perkawinan sungguh sebagai Lembaga yang sakral, justru seharusnya kita tidak membiarkan sembarang orang memasukinya. Apalagi mengharuskan orang-orang yang tidak pantas menjalankannya.” -hal. 37.
Displaying 1 - 30 of 231 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.