'Yang dimulai secara tidak sengaja di WC sekarang telah menjadi inspirasi untuk buku anak-anak baru.' Malini Nathan, The Straits Times' Little Red Dot
***
Diary ini dimulai karena resolusi Tahun Baru Ibuku untuk membuatku menulis.
Ibu mendapat ide aneh. Menurutnya, kami harus memanfaatkan waktu di kamar mandi sebaik-baiknya. Di tembok di atas WC. Ibu memasang rak gantung tempat menyimpan buku tulis, beberapa bolpoin, dan pensil warna. Ibu bilang waktu aku melakukan 'urusan penting' di toilet, aku bisa menulis. 'Maksimal lima sampai delapan menit!' kata Ibu. 'Ibu tidak mau kamu kena wasir!'
Adeline, a Singaporean, is a graduate of New York University Tisch School of the Arts, Asia. She is also a mother of three.
Adeline’s The Diary of Amos Lee, published in 2009, ranks as her best-selling series. All seven titles in the series have made the Straits Times’ National Best Sellers’ List for more than 84 weeks. The first book, I Sit, I Write, I Flush! has also won the inaugural Red Dot award given by the International Schools Libraries Network, a children’s choice award.
Adeline first ventured into writing in 2006 when she received the inaugural First Time Writers & Illustrators Publishing Initiative Award given by the Media Development Authority of Singapore and the National Book Development Council of Singapore. Identified by the media authorities as one of Singapore’s forerunners in children’s book writing, she has received support to publish 13 picture books for early readers. Since then, Adeline has not stopped writing. Three of her books have been adapted into animation shorts, with a fourth new series turned into a TV show on the MediaCorp kids' channel, okto.
Hmm, lucu banget yak kalo punya anak kayak Amos Lee ini. Jahil iya, tapi begitu dinasihatin dia nurut kok, jadi kayaknya gampang nih ngaturnya, nggak kayak si tengil Greg Heffley, hehehe *ngebandingin
Yang pasti sih, curhat-curhat Amos di buku diary kamar mandinya seru, yet konyol, hihihi...dia juga sewot pas liat Ayah dan Ibunya selalu mengomentari tulisan di diary-nya. Tapi yang gak habis kupikir, kenapa Amos nggak ngambek aja trus protes biar Ayah Ibunya nggak liat2 diary-nya lagi ya, kan? Jadi, intinya, si Amos ini meskipun kadang-kadang jahil tapi tetep bisa diatur.... Anak Impian...yuukkk, nyari ibunya, #eh? *curcol*
Amos Lee. Bocah 10 tahun yg hidup di Singapura ini kebetulan punya ibu dengan ide ajaib. Di atas toilet wc rumah mereka disediakan buku tulis untuk menulis apa saja, lengkap dengan pensil, bolpen dan spidol warna-warni. Hasilnya, inilah tulisan-tulisan Amos selama setahun, plus koreksi typo dari sang ibu dan fakta2 gak penting sisipan sang ayah.
Cerita si Amos ini ringan dan polos, namun jg penting untuk mengetahui kesehariannya. Mulai dari keisengannya terhadap si adik (yg dijulukinya PRJ), protesnya pada ajakan si ibu untuk ikut meliput artikel majalah, pertemanannya dengan Alvin dan Anthony (genk 3A), usahanya untuk mencari uang sendiri untuk membeli gadget, sampai semi-bullying yg terjadi padanya di sekolah. Mnrtku sih, ide si ibu ini jenius untuk lebih dekat dengan putranya tanpa harus sering ikut campur dan bertanya-tanya njengkelin.
Aku suka edisi Indonesianya ini. Terjemahannya lancar dan pas untuk istilah-istilah singlishnya. Tp rada kurang sreg sama pentranslasian sub judulnya. Pelesetan sub judul aslinya I sit, I write, I flush jd kurang ter-capture dengan sub judul terjemahan ini. *I came, I saw, I conquer*
Nb, buku ini (dan sequelnya) kudapatkan dr acara tukar-tukaran timbunan di kopdar bbi joglosemar kmrn. Sukaaaaak bukunya. Langsung dibaca, gak pake ditimbun ;)
Please do not compare The Diary of Amos Lee to The Diary of a Wimpy Kid. It’s akin to comparing a fluffy albeit adorable sparrow to the magnificence of a golden-tailed, fire-breathing phoenix. The only aspect that the two books have in common is that they both chronicle the diary entries of two tweens who were forced to brush up on their epistolary skills, courtesy their mothers.
And no, I am NOT doffing my snotty-reviewer-hat over the travails of the sweetly rounded Amos Lee. He is quite an endearing protagonist. The premise is that Amos has been made to maintain a diary (in the toilet, when he does his big job) by his writer mom. As his mother goes about on her writing assignments, she drags Amos and his little sister along. The book is set in colourful Singapore and the lively ambience of the island-state and it’s innumerable events, activities, festivities and facets of it's multi-ethnic population provide enough fodder for Amos to pace through many a long-winded poop. Also included are Amos’ musings on his school, his two best friends (Alvin and Anthony) and the school bully.
The book is a soft, almost school-composition like read. What ups it’s likeability quotient are the glorious food references. Oh the food.....the glorious, spicy, tantalizing street-food. Char Siew Bao, Fried Carrot Cake, Kaya, Mee Goreng, Nasi Lemak, Prata, Ramly Burgers and what have you. All I did was hop back and forth between the tale and the glossary. The book does a splendid promotional job of enticing you into discovering the gastronomic delights of Singapore.
So while I didn’t have any evil smirks and iconic LOL moments that garnish Greg Heffley’s diaries....I did come away from Amos’ world with a ravenous hunger and a burning need to have a hot, flaky, buttery roti prata topped with a blob of ice-cream.
Cute, not-so-funny but high on earnestness and simplicity. An uncomplicated kiddie book. Enjoy.
I think it's quite a linear and straightforward story. Obviously inspired by Diary of a Wimpy Kid but with a touch of Singaporean culture which is relatable for local readers. I think this book is great and has some moral lessons in it. The protagonist Amos did some good deeds in the book and was quite forgiving towards his bully. Though I thought it would be great if the bully had properly apologized for all the cruel things he had done.
It seems following the success of "Diary of a wimpy kid" everyone sprung on the bandwagon with their own variation. This is the Singapore version. It's ok, and quite useful as a guide to Singapore life culturally with many explanations and references to various cultures, foods, celebrations etc. The references to bullying and the way it is dealt with in the schools is rather sad and I hope dated (the book is from 2009).
Akhirnya aku selesai membaca buku Amos Lee. Buku ini aku beli lewat teman dengan diskon 30%. Menyenangkan sekali! Aku suka diskon dan aku suka buku. Yang aku suka dari buku ini adalah kata-katanya sederhana dan ilustrasinya sangat lucu. Cover-nya juga menarik, sangat anak-anak.
Buku ini berisi tentang pengalaman sehari-hari Amos Lee, seorang anak yang tinggal di Singapura. Melalui kisah yang ditulis Amos di wc setiap dia melakukan 'urusan penting' ini, kita mengenal tentang dirinya, keluarganya, teman-temannya, dan juga macam-macam hal di Singapura.
Dari kisah Amos, kita bisa mengenal beragam makanan yang ada di Singapura. Karena banyaknya ras yang ada di Singapura, ada banyak pula jenis makanan yang dikisahkan Amos. Ada makanan melayu, misalnya nasi lemak, ada prata dari India, dan juga makanan cina. Selain makanan, Amos juga bercerita tentang banyak sekali tempat wisata di Singapura, mulai dari Sentosa sampai Singapore Flyer. Pokoknya kita jadi benar-benar ingin ke sana dan mengunjungi semuanya deh! Amos juga menceritakan tentang pekan F1.
Selain kehidupannya di rumah dan keluarganya, Amos juga bercerita tentang kegiatannya di sekolah. Tentang teman-temannya, Alvin dan Anthony. Ada juga Michael, si senior pengganggu. Dalam buku ini, Amos mengumpulkan uang untuk membeli PSP dengan cara berjualan segala macam. Pokoknya, hebat sekali si Amos ini.
---------------------
pokerface review:
- di awal2 buku, Mei Mei, adik Amos, disebutkan sebagai RPJ, kependekan dari Pengeluh, Risih. Jengkelin. - harusnya PRJ. Di pertengahan dan akhir buku, sudah benar sih dipakai istilah PRJ. but wait, 'Risih' (menurut KBBI yang bener penulisannya 'Risi') itu kan maksudnya rasa jijik kita ya. Apa yang dimaksudkan di sini adalah 'Resek' alias suka ikut campur? (bukan reseh, udah dicek ke KBBI edisi ke-4)
- saya masi bertanya2 apakah Amos menuliskan 'renungannya' ini di saat BAB aja ato gimana. Karena ada dalam satu hari dia menulis hingga 3x - jadi apakah dia buang air 3x sehari? apakah dia sedang sakit perut? XD malah ada yang dia buang air jam 21.00 dan 22.00. apakah normal untuk anak Singapura untuk buang air pada jam sekian dan dengan santainya menulis buku harian, haha... (over-analyzed, but it really bugs me, sorry, moving on)
- ibu dan ayah amos berkali2 mengomentari tulisan Amos (baik itu mengoreksi istilah yang salah maupun menegur perbuatan Amos yang dituliskannya), jadi amos sadar sepenuhnya kalau menulis rahasia di buku harian itu bukan ide yang bagus, tp dia tetap melakukannya juga, hehe.
- berhubungan dengan yg atas, Amos berkali2 mengatakan dalam bukunya dia sedang mengumpulkan uang untuk membeli the gadget alias PSP, tp di suatu halaman, ibu Amos bertanya apakah Amos sedang menabung untuk membeli ponsel. WHAAAAATT??? Atau mungkin ibunya tidak tahu PSP itu apa mungkin ya.. entahlah. it's really bugging me, ugh.
- pada glosarium Kopi: bahasa Hokkien untuk kopi Teh: bahasa Hokkien untuk teh ............................ kupikir kopi itu bhs Indonesia untuk kopi, dan teh adalah bahasa indonesia untuk teh.
- yang saya inginkan setelah membaca buku ini: ke singapura XD, milo dinosaurus, prata, naik singapore flyer, nonton night race (memperburuk pemanasan global menurut amos! XD)
----------------------
tl;dr whatever. I still love the book! :) lanjut baca buku keduanya yg merupakan kado ultah dari my friend, Andien! :)
Nama saya Amos dan marga keluarga saya adalah Lee. Hobi saya menulis diary. Well, sebenarnya bukan hobi yang sesungguhnya. Saya tidak pernah berpikir akan menulis sebuah diary. Ini bermula dari resolusi ibu di Tahun Baru kemarin yang ingin waktu yang ada untuk duduk di atas kloset tiap melakukan kegiatan pembuangan biologis tidak tersia-siakan oleh saya. Dan juga untuk kesehatan saya sendiri. Kutulis saja setiap kegiatan yang bersinggungan denganku dan juga pemikiran-pemikiranku terhadap berbagai hal yang kutemui sepanjang hari. Sayangnya, karena diary ini diletakkan di atas rak dalam toilet, maka ayah dan ibu juga ikut membacanya. Buktinya terlihat ada tulisan tangan mereka yang mengomentari hal-hal yang menurut mereka perlu dikomentari tentang saya. Saya curiga apakah Ah Kong dan Po-Po juga ikut membaca. RPJ tidak mungkin. Tapi, tulisannya yang besar di akhir halaman sempat membuatku merasa … hmm … saya sulit mendeskripsikannya.
Saya masih SD dan saya punya dua orang sahabat. Mereka adalah Anthony dan Alvin. Karena nama kami bertiga diawali dengan huruf ‘A’ maka kami pun dijuluki 3A. Kami punya musuh di sekolah. Ia kakak senior kami. Michael namanya. Hingga suatu hari ada kejadian tak terduga membuat kami pun berdamai dengannya. Apakah kami merasa bersalah atas hal itu? Saya kurang tahu.
Saya tidak punya prestasi akademik yang bisa dibanggakan. Tapi ada pepatah yang mengatakan setiap manusia bisa sukses asal punya usaha untuk kerja keras dan niat mewujudkannya. Saya tidak sadar punya bakat yang lain selain menulis diary hingga impian memiliki ‘gadget’ membuat saya memiliki kemampuan untuk itu.
Tak terasa sudah setahun saya menuliskan diary dan tidak terasa begitu banyak hal-hal yang menyenangkan yang kualami sepanjang tahun ini. Ternyata menuliskan diary itu mengasyikkan. Saya akan melanjutkan menulis lagi. Tapi tidak lagi dalam toilet.
PS: Kutempelkan resep kue tar nanas ala Po-Po yang lezat dalam diary ini. >,^
buku diary ini diceritakan dengan cara yang cukup seru untuk diikuti petualangannya. cocok untuk anak-anak usia 10 tahun keatas karena storyline yg digunakan dalam cerita ini tidak terlalu berat seperti novel remaja. isinya pun cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari karena bisa memberikan perspektif kehidupan dari belahan negara lain, yakni Negara Singapura.
ps: cara ibunya Amos mendidik juga termasuk cukup simple n warga Indonesia akan susah relate di beberapa part parenting ini :') benar-benar memperlihatkan Singapura yang sangat "educated" ✨
This is the first book of a series entitled The Diary of Amos Lee. Amos is encouraged to write a diary and he chooses to do it while he is in the bathroom. Apparently everyone in his house reads it and comments on it. I love when his mom gives her corrections and thoughts. I’m definitely hoping to find the second book in this series.
The Diary of Adrian Mole for the modern age, but set in Singapore. Charming if you've never been to Singapore and would like a snapshot of life through the eyes of a genuine Singaporean pretending to be a nine-year-old boy. I don't get the sense many nine-year-old boys will relate, but if you're a suburban housewife, there are lots of elements that will seem relatable.
It's always awesome to read some one's personal diary. If that person is a school going kid then it becomes a great enjoyment. and really I liked the book...
Nama saya Amos dan marga keluarga saya adalah Lee. Hobi saya menulis diary. Well, sebenarnya bukan hobi yang sesungguhnya. Saya tidak pernah berpikir akan menulis sebuah diary. Ini bermula dari resolusi ibu di Tahun Baru kemarin yang ingin waktu yang ada untuk duduk di atas kloset tiap melakukan kegiatan pembuangan biologis tidak tersia-siakan oleh saya. Dan juga untuk kesehatan saya sendiri. Kutulis saja setiap kegiatan yang bersinggungan denganku dan juga pemikiran-pemikiranku terhadap berbagai hal yang kutemui sepanjang hari. Sayangnya, karena diary ini diletakkan di atas rak dalam toilet, maka ayah dan ibu juga ikut membacanya. Buktinya terlihat ada tulisan tangan mereka yang mengomentari hal-hal yang menurut mereka perlu dikomentari tentang saya. Saya curiga apakah Ah Kong dan Po-Po juga ikut membaca. RPJ tidak mungkin. Tapi, tulisannya yang besar di akhir halaman sempat membuatku merasa … hmm … saya sulit mendeskripsikannya.
Saya masih SD dan saya punya dua orang sahabat. Mereka adalah Anthony dan Alvin. Karena nama kami bertiga diawali dengan huruf ‘A’ maka kami pun dijuluki 3A. Kami punya musuh di sekolah. Ia kakak senior kami. Michael namanya. Hingga suatu hari ada kejadian tak terduga membuat kami pun berdamai dengannya. Apakah kami merasa bersalah atas hal itu? Saya kurang tahu.
Saya tidak punya prestasi akademik yang bisa dibanggakan. Tapi ada pepatah yang mengatakan setiap manusia bisa sukses asal punya usaha untuk kerja keras dan niat mewujudkannya. Saya tidak sadar punya bakat yang lain selain menulis diary hingga impian memiliki ‘gadget’ membuat saya memiliki kemampuan untuk itu.
Tak terasa sudah setahun saya menuliskan diary dan tidak terasa begitu banyak hal-hal yang menyenangkan yang kualami sepanjang tahun ini. Ternyata menuliskan diary itu mengasyikkan. Saya akan melanjutkan menulis lagi. Tapi tidak lagi dalam toilet.
PS: Kutempelkan resep kue tar nanas ala Po-Po yang lezat dalam diary ini. >,^
“I Sit, I Write, I Flush” – This byline of “The Diary of Amos Lee” made us buy the book when we went book-shopping for The Book Leaf. Our library got it’s name simply because we first got sold on the byline that Aletha came up with – “turn a leaf, read a book…”! So now that you know of our predilection for snappy, meaningful and fun bylines, you know why we bought this book :) The popularity of The Diary of a Wimpy Kid series also was a point in favour of acquiring it… We have had to literally remember who had issued each of the Wimpy kid books and when each one was due back as kids would come and ask from the gate if the red one or the blue was back!
Coming back to The Diary of Amos Lee, it is really a “toilet diary” – written solely while sitting on the pot for the big job:) Quite an argument for parallel processing and no waste of time! Frankly, I am quite taken up with the idea! However, this diary of a school boy living in Singapore is really written by Adeline Foo, a mother, a wife and a children’s book author. It is quite amazing how she’s put herself in Amos’s shoes. Not once does the reader doubt that the diary has been written by any one else other than a real school boy called Amos :)
I would say that this is a must read for every child who read Wimpy Kid. It will give them something different from an American kid’s perspective to life which is what almost every other kid’s book does these days. This book presents Singapore and it’s culture in a very simple and entertaining way. Some of the vocabulary, especially the names of cultural items like food, relations etc. sounds very foreign and will need a certain effort on the part of the reader. However, the writer has given a very simple glossary at the end of the book that makes the task extremely simple.
We could do with more such books coming out of India and the South East Asian part of the world. Come get a taste of it at The Book Leaf…
I stumbled upon this book while reading author Preeti Shenoy’s blog (Much love! Preeti Shenoy). Impressed by the title of the book, I did a little research on the internet. Starting from the concept to illustration to book cover, everything seemed cute. And the next thing was I ordered it on Amazon.in.
The book is written as a diary from a 9 year-old child’s point of view. The child jots down the various incidents of his life while doing his big business (potty). Well, it was not the kid who conceived the idea, it was his mum. According to her, this will prevent him from developing piles!
I thoroughly enjoyed this funny book. The curious wimpy kid’s journey was hilarious to read. True friendship, betrayal, comical revenge, embarrassing situations, it has everything to make you smile and laugh.
Ya ya ya... Ada banyak buku diary anak-anak kayak gini. Belum bisa bandingin karena baru diary si Amos Lee ini yang aku baca :D
Heemmm... Nulis di toilet? Kalo aku kayaknya kebanyakan nutup idung deh. Memang sih (konon) katanya ide-ide banyak muncul ketika kita lagi jongkok di toilet. Hahahaha!
Seneng banget punya anak kayak Amos Lee. Dia ini gak pinter tapi banyak akal, punya inisiatif, penurut, toleran, setia kawan dan sayang sama adeknya, trus punya bakat nulis pula. Lucu ya kalo anak nulis diary trus orangtuanya ikutan baca dan ngasih komentar juga.
Baiklah, karena saya suka Amos so I will read the 2nd book.
this book tells us about an ordinary life of elementary boy who lives in Singapore and write his diary in closet! the funny thing is his mom and dad also give some note on his diary!!! konyol banget deh diarinya. apalagi pas emaknye mengkoreksi kata2 yg salah di diarynya amos..
tapi dari buku ini semakin terlihat tutur kata dan pemilihan bahasa yg semakin teratur. well..kayaknya ide yg briliant nyuruh anak nulis diary :)
I Sit, I Write, I Flush by Adeline Foo is part of a series called The Dairy of Amos Lee. This story talk about the protagonist, Amos Lee forced to write a dairy almost everyday while going to exotic places to help her mom write article reports. You would like this book if you like fiction books and short stories.
simply i bought it because of the catchy cover illustration. so here I am writing this review without regret by went through weekend finished this book. such a simple children book and full of illustration, too. type I like the most!
This book tells us not only how silly way of the stories, but also, tells us about culture in singapore, like festival and event that always happens every year overthere. Everything else, we also knew, like how to teach children for writing and face some problem. I love this book!
I like how the book gives a perspective if Singapore through a child's eyes. It also shows how they value education and family, where children love taking trips to libraries and bookstores, to museums and all things nerdy.
This book is about a boy call Amos Lee,he write dairy in the toilet because his mum need him to do some writings.He write about his friends,the school life,his family and traveling. He write some funny things sometimes and he hate his sister because his sister is so annoying.