“Saya sendiri suka ‘ngeri’ kalau ketauan saya Trinity. Bukannya apa-apa, saya dianggap dewa yang tahu segala hal sehingga sering diminta nemenin jalan. Seringnya saya menolak, karena maunya ke tempat belanja. Kalau saya masih kuat, saya memang memilih pergi sendiri, tetapi itu pun tergantung tempatnya. Kalau sudah pernah ke sana dan tidak ada teman di kota tersebut, saya memilih tidur di kamar hotel yang pasti bagus. Kalau ada teman, saya janjian sama dia untuk kabur.” TRINITY—The Truth Behind Free Traveling
*****
The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita berisi 12 tulisan perjalanan dari 12 orang penulis yang memiliki latar belakang berbeda. Mulai dari penulis komedi, penulis skenario, novelis, hingga yang memang berprofesi sebagai travel writer.
Latar belakang berbeda ini membuat kisah-kisah yang dihadirkan pun memiliki sudut pandang beragam; yang terasa manis, menyentuh, hingga membuat terbahak. Dari birunya laut Karimunjawa, gemerlap New York City, keriaan sebuah pasar pagi di Lucerne, sudut rumah sakit jiwa di Singapura, damainya Shuili, cantiknya Andalusia, warna-warni Senegal, cerita kepercayaan setempat di Soe, mencari parfum impian di Mekah, kisah sebotol sambel yang harus dibawa sampai Utrecht, upaya melipir ke Tel Aviv, hingga fakta tak disangka di balik free traveling.
Perjalanan adalah sebuah proses menemukan. ‘It’s better to travel well than to arrive,’ kata Buddha. Dan The Journeys mengajak siapa pun menemukan kisahnya sendiri. Sesederhana apa pun itu.
Adhitya Mulya (Adit) aspires to be a story-teller.
At early age, Adit learned and enjoyed story telling thru visual mediums like movies and drawings. This, inspired little Adit to take up drawing as a child, and later photography in his teen years.
As a young adult, Adit tries to expand his storytelling medium thru novels. Jomblo (2003) is his first novel (romantic comedies) and was national best-seller - and later made into a movie by the same title (2006). He went on to write another rom-com novel Gege Mengejar Cinta (2004).
Adit uses novels as a medium to try new genres. Travelers Tale (2007) was the amongst the first Indonesian fiction novels with traveling theme before becoming mainstream in Indonesia. Mencoba Sukses (2012) was his effort to try on horror-comedy which later found, not working very well.
He released Sabtu Bersama Bapak (2014), a family themed novel which again became national best seller, well received, and also made its' way into motion picture (2016).
His latest novel, Bajak Laut & Purnama Terakhir (2016) - is his effort in learning how to make a thriller-history novel.
Adit's passion towards storytelling branches out from drawing, photography to novel and move scripts, which amongst other are, Jomblo (2006) Testpack (2012) Sabtu Bersama Bapak (2016) Shy-Shy cat (2016).
Travel: –verb (used without object) 1. to go from one place to another, as by car, train, plane, or ship; take a trip; journey: to travel for pleasure. 2. to move or go from one place or point to another. 3. to proceed or advance in any way.
Origin: 1325–75; Middle English (north and Scots), orig. the same word as travail (by shift “to toil, labor” > “to make a laborious journey”)
But however, by reading this book -a collection of 12 travelling notes with remarkable approaches-, travelling will never ever again merely as an action to go from one place to another with whatever means. It is what you'd get, you'd experience, and lessons that you'd might learn. A journey or journeys which will enrich the soul.
****
Bagiku perjalanan selalu dimulai dari langkah pertama.
Saat masih SMA, aku memutuskan untuk kuliah di Malang atau Yogyakarta yang secara geografis lumayan jauh dari kampung halamanku. Alasannya sederhana, aku ingin bisa melakukan apa saja tanpa harus laporan dulu ke rumah. Jika Raditya Dika selalu mendapat telepon tanpa henti dari sang mama, maka kasusku adalah bapak yang rutin menelepon. Seperti Raditya Dika juga, akhirnya sekarang aku yang rajin menelepon bapak untuk sekedar ngobrol atau bergosip soal saudara di kampung hehe
Dulu di buku tahunan SMA aku menuliskan cita-citaku menjadi Duta Besar Indonesia untuk negara Afrika. Do I know anything about Africa? The answer is: I know Nothing! Lalu kenapa Afrika? Karena saat itu bagiku benua itu begitu asing, seperti sebuah dunia berbeda, oh well tau apa sih anak SMA? Dan di buku ini Adhitya Mulya mengingatkanku kembali pada cita-cita konyolku itu. Baiklah mungkin bukan sebagai Duta Besar tapi aku menambahkan Maroko dan Senegal ke daftar tempat yang akan aku kunjungi :D
Saat traveling ke luar negeri untuk pertama kalinya, aku bener-bener seperti orang bego. Check in di mana, laporan untuk mendapat stempel bebas fiskal di mana, melewati meja imigrasi harus bagaimana. Intinya norak. Lucky me though my best friend is there with me. Jadi keberadaannya saja udah cukup menenangkanku yang kalau panik suka norak dan malu-maluin hehe. Ini yang membuatku sedikit terharu saat membaca Amerika Amertua-nya Ferdiriva, karena terkadang kita tidak sadar bahwa kitalah yang menjadikan perjalanan itu tidak asik bukan teman seperjalanan kita. Jadi Windy, Echa dan Ari, di trip berikutnya aku gak akan pelit deh mengeluarkan 5ribu Dong untuk beli pepaya atau menolak es cincau hitam nan lezat dari ibu penjual di kota Hoi An itu hahaha
Dan buku ini juga membantuku untuk mempersiapkan liburan seorang teman dari luar negeri yang ingin sekali ke Indonesia. Bukan soal lokasi tapi apa sebenarnya yang ingin dia dapat dari Indonesia.
Masalahnya hanya satu, anak ini kesulitan untuk menentukan pilihannya saat ditanya: M : Yo mate I've checked several places but it would be easier if you narrowed down your choices E : Right, that makes sense. What are they? M : What you do want? Oceanic and beaches, higher ground and landscapes, or cultural? E : Oh damn, I want all of them!! M : Boo hoo you only have three months, you can't have all of them! E : What do I have to do to get them all? M : You have to stay in Indonesia at least a year to get them all, well almost all of those E : Ya know it actually sounds good. Living there for a year you know *grin* M : Eh?????
Layaknya sebuah perjalanan, saya pun memilih rute saya sendiri dalam membaca "The Journeys".
Dimulai dengan menginjakan kaki di Karimun Jawa, kepulauan yang menyajikan keeksotisan alam, terbang ke Lucerne menikmati pagi yang menyenangkan dan secuil bahagia. Saya pun berbalik arah ke Afrika yang penuh warna. Melipir ke Tel Aviv yang penuh dengan keterbukaan, kebersamaan, kemanusiaan dan kedamaian. Bergerak sedikit menuju kota suci umat Islam, bersama Valliant mencoba mencari makna "keyakinan".
Saya memutuskan untuk kembali ke tanah air dan merasakan ke mistis-an di Nusa Tenggara Timur. Hal-hal mistis memang tidak bisa diterima oleh akal sehat tetapi bagi penduduk lokal, hal itu merupakan sesuatu yang benar adanya. Lalu mencoba mengubah persepsi di Singapura.
Ah, perjalanan ini pun ternyata membuat saya kelaparan. Saya pun tidak salah pilih untuk berhenti di Shuili, Taiwan. Dan saya menikmati beragam cita rasa kuliner. Slurrp, nyam nyam. Tenaga saya pulih kembali dan saya bisa melanjutkan perjalanan, untuk mengejar mimpi dan mencari keberuntungan di Tanah Andalusia.
Perjalanan nggak selamanya mulus, ada saja kerikil-kerikilnya. Dengan selalu berpikir positif akan memberikan arti lebih dari sebuah perjalanan, seperti saat di Amerika.
Tak terasa perjalanan saya pun mencapai akhir. Perasaan terharu dan tersentuh saat berada di Belanda membuat saya ingin berlari ke rumah dan memeluk Ibu. Mengakhiri perjalanan dengan bersenda gurau manja bersama Ibu.
A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving. - Lao Zi
"Petualang, apa yang kamu cari?" tanya seorang teman saya ketika mengetahui saya sedang berada di Yogyakarta. Itu seminggu setelah ia tahu kalau saya sedang berada di Bandung dan tiga hari sesudah berada di Semarang. Saya sendiri tak tahu sebenarnya apa yang saya cari. Saya pun tak tahu apa sebenarnya yang saya temukan di dalam perjalanan saya. Kalau bertemu dengan teman baru, itu sudah biasa. Saya sering mendapat teman baru kalau pulang dengan TransJakarta. Kalau pengalaman, itu lebih biasa lagi.
Bukankah setiap hari adalah pengalaman? Menemukan bahagia? Bahagia diciptakan, bukan dicari. Menemukan cerita? Bukankah setiap hari adalah cerita? Bahkan gugur daun musim semi bisa menjadi cerita asal kita mau menceritakannya?
Demikianlah alasan saya mengapa saya kurang setuju dengan kata pembuka yang ditulis oleh Windy Ariestanty: "Hal paling menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan."
Menurut saya, perjalanan adalah sebuah proses menghargai di antara kesulitan, keterbatasan, dan kebahagiaan. Sila percaya atau tidak, tapi setiap kali saya melakukan perjalanan, saya selalu mensyukuri hidup. Perjalanan mengajarkan kepada saya kalau masih banyak orang yang kurang dan lebih dari pada kita yang tak pernah kita temukan di dalam kehidupan kita. Untuk itulah, perjalanan adalah sebuah proses yang sakral. Proses yang sulit digantikan untuk belajar banyak hal tentang hidup.
Perjalanan bermula dari petualangan Gama Harjono dari Roma menuju Andalusia. Perjalanan yang terbatas karena uang tersebut tetap bisa membuat Gama melakukan perjalanan dari Italia menuju ke Spanyol untuk bertemu dengan Alberto, seorang karib lamanya. Saya suka cara penceritaan Gama yang berbeda dari dua bukunya yang sudah terbit dahulu, Ciao, Italia dan Lupakan Palermo. Gama terlihat lebih santai dan bebas bercerita tentang keindahan kota Andalusia, keunikan aksen masyarakat, santapan pagi, kunjungan ke Benteng Alhambra, sampai ke Mezguita di mana Gama merasa dirinya adalah orang yang beruntung karena pernah melihat orang-orang membuka pintu Katedral. Gama menceritakannya secara detail dan pas.
Perjalanan dilanjutkan oleh Winna Effendi yang berkirim e-mail kepada 'you'. Cara bercerita Winna yang beda sendiri dari yang lain. Shuili menjadi tempat Winna bertualang dan memulai ceritanya. Awalnya Winna membawa pembaca dengan renyah dalam bercerita tentang kedatangannya ke Taiwan, menuju ke Shuili, dan saat menuju ke Sitou. Tapi semakin membalik halaman demi halaman dari Winna, saya semakin bosan. Winna seperti hanya bercerita pada dirinya sendiri. Tulisan yang awalnya renyah menjadi tak lagi menarik. Winna hanya terkesan seperti reporter yang memberikan laporan keadaan yang di mana pembaca pun bisa mencarinya lewat Google. Sebenarnya banyak harapan yang saya dambakan dari tulisan Winna karena ia pun bercerita dari sebuah desa yang jarang didengar yang mungkin bisa menjadi tujuan yang menarik untuk dikunjungi.
Windy Ariestanty yang sedang sibuk mencari WiFi di kedai kopi dekat hotel di Lucerne malah mendapatkan morning kiss bye dari seseorang yang puas berdugem di pagi itu. Dari sanalah, cerita petualangan Windy di Lucerne dimulai. Dari ceita-cerita Windy, kita dapat mengenal lebih jauh kota kecil yang berada di Swiss. Windy bercerita tentang kehidupan Lucerne yang begitu sederhana, disiplin, dan benar-benar tertata rapi. Ya, Windy bercerita, bukan memberikan laporan perjalanan. Dia membuka cerita dengan manis. Dan dia pun menutup cerita dengan manis. Ciri khas tulisan seorang Windy Ariestanty: tepat sasaran.
Ini dia, Farida Susanty. Dia bercerita sisi lain dari Singapura. Singapura memang tidak jauh dari Indonesia, bila dilihat di peta. Namun, setelah membaca cerita Farida, kita benar-benar merasakan kalau Singapura dan Indonesia seperti langit dan bumi. Tugas Farida di Singapura adalah berkunjung ke rumah sakit jiwa. Pikir saya, ini akan menjadi cerita horor di dalam The Journeys. Nyatanya tidak. Malah Farida bercerita rumah sakit jiwa di Singapura bukanlah rumah sakit yang menyeramkan seperti di Indonesia yang pasiennya dipasung dan kadang dibiarkan bebas. Di Singapura, berdasarkan cerita Farida yang saya tangkap, rumah sakit jiwa adalah rumah sakit yang terbuka, yang benar-benar bisa memperbaiki mental seseorang yang terganggu. Tak ada salahnya kalau bertandang ke Singapura, kunjungilah rumah sakit jiwa, jangan hanya Orchard Road.
Setelah dari Asia Tenggara, penerbangan dilanjutkan ke Timut Tengah. Tepatnya Saudi Arabia. Ciri khas seorang Valiant adalah pandai bermajas. Sejak awal pun, ia sudah menarik saya untuk membacanya. Meski cerita yang ditulisnya sudah tidak begitu asing, tetapi membacanya bukanlah sebuah kesalahan. Valiant memang mengajak pembacanya untuk ikut 'menderita' di Saudi Arabia yang harus diam-diam untuk mengambil foto gedung, ditawari parfum yang digunakan oleh Tom Cruise, sampai dengan pertemuannya dengan Bapak Berjenggot Lebat. Valiant mengajak kita tertawa sekaligus berbagi 'derita' pelarangan di Saudi Arabia.
Kembali lagi ke Asia Tenggara. Di Timor Timur sudah menunggu Okke 'sepatumerah' yang akan memulai perjalanannya. Seperti biasa, Okke memang asyik dalam bercerita tentang keberadaannya di Timor Timur. Kenikmatan di Pantai Kolbano menjadi nilai tersendiri meski harus dag-dig-dug setelah mitos yang sering terjadi. Tulisannya yang 'cablak' dan masih terkesan 'judes' membuat sebuah perjalanan yang berbeda dari yang lain.
Setelah itu, kembalilah ke Indonesia. Di Karimun Jawa, sudah ada Alexander Thian, seorang penulis skenario yang suntuk dikejar deadline yang akhirnya bisa berjalan-jalan. Sebenarnya, Alex lebih ingin bercerita tentang Jepara atau Karimun Jawa? Itu pertanyaan saya setelah ia bercerita cukup panjang tentang Jepara di pagi-pagi buta. Terlepas dari semua itu, setidaknya Alex memberikan gambaran yang pas tentang Karimun Jawa seperti yang sering saya dengar dari teman-teman yang pernah hinggap ke sana. Alex membuat kita berujar, "kalau lo gak mampu keluar negeri seperti 11 penulis lain, Karimun Jawa bisa dong jadi cerita?!"
Lepas dari kampung halaman, mari berangkat ke Amerika untuk menemui seorang dokter mata yang bersama sang mertua sedang bersiap menghadiri konferensi dokter mata sedunia di Boston. Bersama Ferdiriva Hamzah, kita diajak tertawa dan menikmati perjalanan yang 'tidak menyenangkan' bersama sang mertua. Setelah konferensi di Boston selesai, mereka menuju New York untuk menunaikan cerita ini. Menonton The Lion King yang membuat sang mertua tertidur sampai dengan mengusir perampok dengan hentakan yang membuat Riva tidak enak hati dengan sang mertua. Riva mengajarkan satu hal: 'travelling yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri.' (hlm. 157)
Dan perjalanan dihentikan oleh Trinity. Ia ta bercerita tentang kota apa pun dari mana pun. Bukan berarti ia hanya menyajikan halaman kosong di dalam The Journeys. Tetap ada cerita yang ia sajikan. Kali ini tentang profesinya yang seorang tukang jalan-jalan sembari menulis. Saya menjadi paham dengan 'penderitaan' travel writer yang dialami oleh Trinity. Seperti yang ia kisahkan di dalam buku pertamanya, perjalanan tak harus selamanya menyenangkan.
Ve Handojo yang lebih dikenal sebagai penulis skenario akhirnya bisa ke Israel setelah dibiayai oleh 'kuntilanak'. Bukan soal ziarah yang ia inginkan selama di Israel, tetapi bebas berjalan-jalan di Tel Aviv. Lucunya, banyak ciri yang asing ia dapatkan selama di Israel seperti soal ketepatan waktu untuk tiba di suatu lokasi. Tulisannya bebas, membiarkan kita berkelana sendiri dengan keberadaannya di Tel Aviv.
Berkelanalah kita ke tempat Adhitya Mulya: Afrika. Di sini, seperti biasa, liarnya tulisan Adhit dalam menceritakan sesuatu seperti juga di dalam novel-novelnya masih tersisip dan menjadi karakter yang tak dapat lepas. Nilai plus yang diberikan untuk Adhit adalah dia menyisipkan lampiran tips perjalanan bila ke Afrika dan negara-negara yang bisa dikunjungi atau tidak. Tapi, mengapa peta Afrika diletakkan di belakang setelah tips?
Dan, kita pun diakhiri ke bangsa penjajah Indonesia bersama Raditya Dika. Di Belanda, Radith yang berkesempatan mendapat beasiswa untuk belajar selama dua minggu. Mamanya yang sering bersikap berlebihan membuatnya merasa tidak berada pada zona nyaman. Tapi di dalam perjalanannya tersebutlah, ia paham arti keberadaan seseorang meski dalam taraf penilaiannya selalu bersikap berlebihan. Ya, tulisan Radith memang sudah berubah banyak sejak Marmut Merah Jambu terbit. Taste-nya dalam bercerita juga lebih tepat sasaran di awal dan di akhir. Perubahan tulisan Radith memang menjadi warna tersendiri meski leluconnya masih bernilai sarkas.
Ya, seperti itulah petualangan bersama The Journeys. Mungkin Windy boleh berkata, "perjalanan mempertemukan dua belas orang penulis yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan pada akhirnya menemukan sesuatu yang baru: sebuah cerita." Kita boleh memiliki persepsi sendiri tentang sebuah perjalanan; tetapi perjalanan adalah perjalanan, tempat di mana kita akan menghargai hidup agar lebih bermakna di setiap langkahnya.
Jakarta, 12 Mei 2011 | 6.15 A.A. - dalam sebuah inisial
fiuh,selesai juga proses ngidam buku ini. Udah lama pengen (ampe ngeributin beberapa org) karna tertarik dengan banyak penulis di dalamnya, yang sebagian saya suka karna karya2 sebelumnya. Seperti Trinity dengan TNT nya, Adhitya Mulya dengan Traveler's Tale nya juga Raditya Dika dengan diary2 ngocolnya. Bukan cuma itu,saya juga penasaran dengan penulis2 yang tulisannya belum pernah saya baca sebelumnya (dan saya hanya tahu update2 mereka lewat twitter), seperti Ve Handojo,Alexander Thian,Okke 'Sepatu Merah' dan Windy Ariestianty.
Dan mulailah saya pada halaman pertama.Tulisan Gama Harjono.*mikir sejenak*.Loh??ini bukannya Gama Harjono yang bikin Ciao Italia! itu??bener ni???-batin saya. Kok saya ngerasa (entahlah apa hanya perasaan saya saja) ada yang berbeda dengan tulisan Gama Harjono (Karna Ciao Italia! juga bergenre sama dengan The journeys,sehingga saya lebih mudah membandingkan). Kalau menurut saya tulisannya sedikit terasa 'terlalu rumit' untuk opening. Meskipun tak dipungkiri destinasi penulis bagus. Tidak memungkiri tulisan dari penulis2 yang sebelumnya saya hanya baca update2nya lewat twitter,menyuguhkan tulisan yang cukup bagus. Ditambah tulisan Ferdiriva Hamzah yang surprising,karena sangat menarik pembawaan gaya bahasanya,juga memberi makna dalam dibalik sebuah kegiatan traveling bersama partner perjalanan. Untuk penulis2 favorit saya disini berhasil memuaskan saya (sesuai ekspektasi),dan tidak perlu diragukan.
Anggapan saya bahwa semua penulis di buku ini rajin ber-traveling langsung terpatahkan. Karna beberapa dari mereka bercerita bagaimana baru memulai membangkitkan passion traveling dengan 'langkah pertama'. Selain dengan cover yang menarik dan kesan vintage nya,The journeys berhasil memberi ending yang indah. Ditunjukkan dengan perenungan dari Raditya Dika yang selalu penuh humor namun menemukan arti orang tua bagi kita,yang disadarinya saat traveling.
Cukup menarik untuk saya yang suka dengan genre traveling, :)
The road of life twists and turns and no two directions are never the same. Yet, our lessons come from the journey not the destination. – Don Williams Jr.
Sedari awal The Journeys terbitan Gagas Media menarik perhatian saya, tidak hanya dari segi cover yang vintage-modern tapi juga dari rangkaian nama penulis yang terpampang di bagian bawah cover. Beberapa nama sudah saya kenal sebelumnya dari buku-buku terbitan Gagas, tapi yang lebih membuat penasaran adalah tulisan pekicau twitter yang karyanya belum pernah saya baca,di antaranya Alexander Thian, Ferdiriva Hamzah, Ve Handojo dan Valiant Budi. The Journeys mengisahkan perjalanan para penulis keroyokan di dalam maupun luar negeri. Menariknya tidak hanya spot-spot travel yang ditonjolkan, melainkan kisah di balik perjalanannya.
Beberapa kisah yang saya suka : Alexander Thian menceritakan indahnya Karimunjawa yang menjadi tempat pelarian di kala putus cinta dan hasilnya? Sunset dan sunrise yang membuatnya berkaca-kaca. Winna Efendi, menceritakan perjalanannya ke Shuili – Taiwan dalam format email. Menarik! Ve Handojo yang berhasil menginjakkan kaki di Israel dengan honornya sebagai penulis script Kuntilanak! Percakapannya dengan pendeta sempat membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Ferdiriva Hamzah yang tulisannya sama menariknya dengan celotehannya di twitter menceritakan perjalanan ke Amerika bersama mertuanya yang bergaya ‘aristokrat’ dan favorit saya perjalanan Valiant Budi ke Timur Tengah.
“Keyakinan bagi saya seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya, mencium aromanya, tapi susah untuk mendefinisikannya terutama kepada orang yang belum pernah, belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut” - hal.104.
Gaya penulisannya yang cerdas dan segar membuat saya tak sabar membaca Kedai 1001 Mimpi.
IMO, Gagas Media pintar mengambil peluang dengan tampilan cover yang menarik dan kumpulan perjalanan penulis Indonesia yang sedang naik daun di saat buku mengenai wisata murah dan travel blog menjamur. Good job
3 bintang. The Journeys, Gagas Media, cetakan kedua 2011, 243 halaman.
Bicara soal travelling beberapa tempat yang ingin saya kunjungi Gili Trawangan untuk dalam negeri dan pulau Santorini yang pemandangannya luar biasa. Jadi, siapa yang ingin mejelajah Lombok dan Yunani bareng saya? :p
Buku yang tidak sengaja saya beli, karena letak buku ini bersebelahan dengan buku karya saya, Memburu Fatamorgana.
The Journeys, buku yang ditulis oleh beberapa penulis yang cukup punya nama di Indonesia, ringan, segar, kocak dan ada pesan yang tertinggal di dalamnya, seperti apa yang ditulis Ferdiriva Hamzah. Dan sayang..., sampai saat ini, saya belum bisa menikmati tulisan Trinity, dan di buku ini, tulisan dialah yang saya skip.
----0000----
"By thinking positively in every situation, you can enjoy the travelling it self, not fussing over whom you're travelling with," yang ditulis oleh Ferdiriva Hamzah, seakan mementahkan prinsip saya bahwa teman travelling adalah teman yang menyenangkan di perjalanan, cocok dengan saya.
Dan yang membuat saya terharu, di saat kejadian kecil, "hanya" dengan meminjamkan jaket, dia sadar akan indahnya sebuah saling pengertian itu.
Atau tulisan Ve Handojo, yang melakukan perjalanan ke Israel, yang terkenal untuk ziarah, malah ke sana atas biaya skenario "Kuntilanak" yang ditulisnya.
Tulisan Raditya Dika sempat membuat saya ketawa terpingkal-pingkal saat perkenalannya dengan Perek...
Sungguh menarik membaca tulisan Alexander Thian di buku ini tentang Surga Indonsia yang lain, dan Karimun Jawa....telah menjadi daftar tempat yang harus dikunjungi.
The world is a book , those who do not travel read only one page—Saint Augustine
Seperti biasa, buku yang bertemakan traveling selalu membuat saya tidak bisa berhenti membaca sampai habis. The Journeys merupakan buku yang berisi pengalaman perjalanan dari 12 penulis dengan latar belakang berbeda. Sudut pandang beserta kisah yang diangkat pun berbeda-beda.
Ada tulisan yang membuat saya serasa membaca novel. Ada yang benar-benar mirip dengan buku travel guide. Ada juga yang membuat saya tidak bisa berhenti tertawa dari awal cerita sampai akhir. Dari 12 macam kisah perjalanan, intisari yang saya dapatkan adalah, bagaimana pun juga setiap orang perlu melakukan suatu perjalanan. Karena dari setiap perjalanan pasti ada satu pesan atau renungan kehidupan yang didapat.
Dan yang sebetulnya penting tapi seringkali diabaikan adalah, acara jalan-jalan itu DIBUTUHKAN karena ia bagaikan sarana untuk cuci otak. Apalagi bagi mereka yang hidup di kota besar seperti.. Jakarta. Hehe
Anyway, dari dua belas tempat wisata di berbagai belahan dunia dalam buku ini yang berhasil membuat saya mupeng abis-abisan cuma Indonesia. :D
Koleksi cerita daripada beberapa orang pengembara. Membaca cerita yang awal, agak mendatar dan biasa-biasa. Sesudah suku yang pertama, baru seronok itu timbul.
Pelbagai tempat, pengalaman dan ragam penulisan. Tidak banyak maklumat dapat dikongsi berkaitan sesuatu tempat, difaktorkan limitasi ruang untuk menulis. Sekadar untuk tahu-tahu, memadailah.
Dari daftar pustakanya saja sudah sangat menarik, dimana ada peta dunia kemudian ada titik-titik dimana para pencerita menuliskan ceritannya, yang pertama kita akan dibawa ke Spanyol oleh Gama Harjono (Mengejar Mimpi, Kereta Pagi, dan Tapas Andalasia) mendapatkan pesan dari temannya kalau dia mempunyai tiket menuju ke tempat impiannya, dimulaialah pada pukul 5 pagi dia udah nongkrong di Stasiun Tiburtina menuju ke kota granada, yang selanjutkan kita akan menikmati kawasan Albaicin zona arab yang dibangun bangsa Moor dari Afrika Utara, disini terdapat ratusan took souvenir, kain sutra, karpet, lampu mozaik, pipa sheesha, dll. Ada juga la Plaza de Toros, arena matador, dan Benteng Alhambra. Setelah Granada kita akan dibawa ke Cordoba, menikmati churros (sejenis cakwe yang dimasukkan ke coklat panas terlebih dahulu), menuju Mezquita dimana terdapat masjid-gereja kebanggaan kota Kordoba. Dan diakhir perjalanannya, dia menyaksikan gebang katedral dibuka dimana ada 6 laki-laki berjas yang memandu Patung Bunda Maria. Cerita kedua kita akan menikmati Dari Desa Kecil Bernama Air oleh Winna Effendi. Cara beceritannya kayak kita ngirim email ke temen dan menjelaskan apa saja kegiatan waktu liburan ke Shuili, Taiwan. Kita diajak menikmati Sup daging jahe, tradisi munum teh, ke Sitou yang terkenal dengan bambunya, menikmati danau terbesar di Taiwan, Sun Moon Lake. Ada juga Guanshanlo, menara observatory yang dibangun 900 meter dari laut dan kuil tertua dan paling populer, kuil Wenwu. Selanjutnya kita menuju ke Lucerne (The City of Light), Swiss yang diajak oleh Windy Ariestanty, paginya mendapatkan ciuman jauh dari bule cakep ;p gak salah judulnya A Morning Kiss Bye from Stranger. Yang saya suka dia menuliskan Top 6 Thing to see in Lucerne, jadi gak bingung memilih tempat yang wajib di kujungi kalau kita ke Lucerne. 6 hal tersebut adalah Chapel Bridge dan Wassertum yaitu jembatan kayu tertua di Eropa, Museggs Wall dan Sembilan Menara: bentemg kota terpanjang di Swiss (800 meter), The Dying Lion Monument: ada pahatan singa sekarat sepanjang 10 m di batu alam yang di pahat oleh Bertel Thorvalden asal Denmark. Berikutnya adalah gereja abad 17, Jesuit Church. Gunung Titlis untuk para pecinta ski, yang terakhir adalah Rathausquai dan Mr. pickwick Pub, katanya birnya enak. Di ceritannya Farida Susanty (Menyingkap Peta Gelap)kita akan belajar sedikit, karena tenpat yang dikunjunginya adalah Institute of Mental Health, di tempat ini gak kayak rumah sakit jiwa, fasilitasnya lengkap, menemukan galeri seni, menyicipi naik MRT, bahasa Singlish yang susah dipahami, kehilangan temannya dimana kalau mau membuat pengumuman orang hilang harus membayar 5 dolar alias 35 ribu perak. Kemudian kita terbang ke Arab untuk menemukan Parfum Impiannya Valiant Budi. Motret secara sembunyi-sembunyi yang hasilnya jadi kayak menara Piza, ditawari pedagang arab di sekitaran Masjidil Haram yang tidak pernah menyerah dan sering kena tipu. Lebih menceritakan pengalaman lucu dan konyol kalau menurutku dan cerita yang paling favorit itu waktu dia ditanya seorang bapak “apa sih keyakinan bagimu?” lalu dia menjawab, “keyakinan bagi saya…seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya; mencium aromanya, tapi susah untuk mendefinisikan terutama kepada orang yang belum pernah, belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut.” Menjadi cerita paling favorit :D Sompral, pernah dengar? Mari kita Tanya kepada Okke’Sepatumerah’ yang mengajak kita ke Nusa Tenggara Timur. Ditemani oleh Oris dan Dody, kita dibawa ke Desa Bena, menikmati indahnya pantai Kolbano yang katanya sering ngambek dan dilarang sompral (kayak larangan” kalau kita mengunjungi tempat magis),dan menikmati sunset di Pantai Oetune. Masih kurang puas akan pantainya? yuk kita menuju ke Jepara, tepatnya di Karimunjawa-Surga Indonesia ditemani oleh Alexander Thian, gara-gara putus cinta dia memutuskan untuk move-on ke tempat ini ;p. menginap di Wisma Apung, ketemu ikan hiu, snorkeling. Perjalanan selanjutnya kita menuju ke Amerika Serikat dengan Ferdiriva Hamzah yang ditemani oleh mertuanya, jadilah Amerika Amertua ;p. lucu juga gaya berceritanya, ngakak waktu dia nahan kentuk di pesawat yang kelepasan eh mertuanya malah bilang kalu kentut orang bule bau banget, padahal….. dia mengajak mertuannya keliling Boston, foto dengan pose megang sepatunya John Harvard (katanya bikin mujur), ke New York menonton teater Brodway-nya A Musical Tribute to Frank Sinatra, dan menuju ke Staten Island untuk foto sama patung Liberty. Kalau di The Truth Behind Free Traveling yang disuguhkan oleh Trinity lebih menjelaskan perbedaan wartawan, pengalaman bekerja sama dengan wartawan yang mengupas tentang Travelling, kayak travel blogger, wartawan dari berbagai majalah baik travel maupun non-travel. Selanjutnya kita Melipir ke Tel Aviv (Israel) ditemani oleh Ve Handojo, dimana dia harus berterima kasih sama Kuntilanak, karena dialah yang membiayai perjalanan mahal yang mencapai lebih dari 20 juta rupiah. Awalnya dia hanya mengunjungi gereja-gereja di tanah suci tersebut, seperti di Betlehem, Kapernaum, Tiberias, Yerusalem, Via Dolorosa, hingga Bukit Golgota. Atas bantuan temannya dan mengelabui sang tour leader yang sangar, dia berhasil melipir ke Tel Aviv, kota yang damai, tenang, tidak peduli masalah politik, agama dan jauh dari konflik. Jalan-jalan ke Old Jaffa melihat menara Jam Jaffa, pasar seni di jalan Nahaiat Bunyamin, di sebelahnya kita bisa ke pasar tradisional Hakarmel Market. Siapa bilang kalau Afrika itu Benua Hitam? Adhitya Mulya menceritakan bagaimana Afrika Berwarna. Seperti biasanya, kisah lucu mewarnai perjalanannya, ngakak waktu dia godain patung tentara, konyol XD. Perjalanannya ke Senegal guna memperpanjang paspor, trus ke Dakar, pulau Goree. Dia juga menuliskan kayak panduan Negara dan tempat yang layak kunjung di Afrika Putih atau Afrika Utara, semua layak kunjung kecuali Libya dan yang sangat layak kunjung adalah Mesir dan Maroko. Kalau Negara yang layak kunjung di Afrika Barat adalah Senegal dan Conte d’Ivoire. Dan perjalanan terakhir kita berhenti di Amsterdam dalam Kasih Ibu Sepanjang Belanda, ceritanya Raditya Dika yang mendapat beasiswa selama 2 minggu untuk menghadiri summer course disana. Khasnya dia kalau berceruta, kelebayaian keluarnganya, terutama Ibunya hehehe. Gak banyak tempat yang dikunjungi sih, lebih banyak cerita tentang teman barunya di kampus. Tapi ada kalimat favoritku di paragraph terakhir, bunyinya gini, “sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.” Perjalanan selesai. Yang paling aku suka adalah ceritanya Valian Budi dan Adhitya Mulya. Suka caranya Valian menggambarkan perilaku orang arab, para penjualnya. Kalau Adhitya Mulya selain gaya kocaknya bercerita juga tips atau info Negara yang layak kunjung itu. Karena keroyokan, penulisannya pun juga beda-beda, ada yang lebih menceritakan tempat-tempat wisatanya, kisah perjalanan menuju ke tempat tersebut dan orang yang ada di sekitar mereka. Cukup menghibur dan bisa menjadi acuan kita kalau ingin pergi ke tempat tersebut. Oh ya di bagian ceritanya Windy Ariestanty ada halaman yang dobel-dobel, awalnya sempet binggung pas baca, perasaan ini tadi udah dibaca kok jadi aneh gini lanjutannya, eh waktu di cek halamannya ternyata ngulang yaitu halaman 46-48 dan di halaman 228-229 kayak kehabisan tinta, apa itu memang sidengaja??? 3 sayap untuk kisah perjalanan mereka.
Note: kata Adhitya Mulya negara yang cocok untuk bulan madu adalah Maroko ;p
Hidup adalah sebuah perjalanan, perjalanan di dunia dimulai dari lahir hingga mati. Ada banyak tempat indah di dunia ini yang tak mungkin semua bisa dikunjungi. Toh jika menyadari bahwa seluruh waktu hidup kita tidak akan mampu menjalani seluruh dunia ini, mengapa kita harus berjalan? Sebab itu adalah langkah kecil untuk mengenal bahwa kita tidak ada apa-apanya di dunia fana ini. Selain itu, sebagai alat permenungan bahwa Sang Mahapencipta adalah pelukis ulung yang tidak terbandingkan.
Buku ini berkisah tentang sebuah kisah perjalanan yang ditulis oleh 12 penulis. Mereka beragam profesi. Ada yang sebagai dokter spesialis mata, sebagai pemimpin redaksi, sebagai mahasiswa, sebagai penulis script skenario. Sebuah tren baru, sejak adanya media seperti blog atau notes di FB, dan semakin terjangkaunya camera digital, membuat orang-orang bebas menulis kisahnya layaknya seorang presenter acara jalan-jalan. Masing-masing menuliskan pengalaman perjalanannya dengan gaya sendiri serta didukung oleh dokumentasi foto-foto.
Ada kisah Valiant Budi yang melakukan "curi-curi" gambar ketika berada di Madinah, ia berpura-pura menelpon temannya dengan menggunakan handphone, namun sebenarnya hal itu adalah palsu dikarenakan sebenarnya yang ia lakukan adalah mengambil gambar dengan handphonenya, alhasil gambar-gambar tersebut miring seperti Menara Pisa. Ada juga kisah Raditya yang mau tidak mau harus menggunakan bahasa tarzan ketika ke Belanda dan bertemu sahabat-sahabat baru. Kisah free traveling Trinity yang mengamati apa dan bagaimana perilaku orang-orang yang diundang oleh sponsor untuk melakukan traveling. Ve Handojo yang harus mengorbankan satu hari turnya di Yerusalem, demi rasa penasaran. Windy yang merasakan salah satu kebahagiaan ketika di Swiss adalah jadwal perjalanan kereta yang tepat waktu, dan kisah-kisah perjalanan menarik lainnya.
Dari dua belas penulis ini, dua orang diantaranya mengambil tempat di Indonesia yaitu di Karimun Jawa dan NTT, selebihnya antara lain di Vietnam, Singapura, Arab Saudi, Yerusalem, Senegal, Spanyol, Swiss, Belanda, Amerika. Sementara hanya Trinity yang menceritakan secara umum tanpa menyebutkan lokasi. Para Penulis juga melengkapi kisah mereka dengan foto-foto. Namun sayang, ukuran fotonya kurang besar sehingga pemandangan di dalamnya kurang dapat tersampaikan dengan baik. Selain itu, beberapa foto ditampilkan dalam warna putih, ada baiknya foto-foto yang disisipkan ditampilkan dalam ukuran yang besar sehingga nyaman dilihat.
Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa dunia itu tidak sempit. Banyak bagian-bagian di bumi ini yang belum kita jalani. Namun, bukan berarti akan kehilangan sukacita bila belum menjalani tempat-tempat tersebut. Kita dapat memulai kisah kita. Tempat yang dijalani tidak mesti ke luar negeri atau tempat-tempat yang dianggap berkelas. Tidak ada salahnya mulai menceritakan tempat-tempat unik seperti air terjun, kebun binatang, pasar, terminal, stasiun busway, tempat perhentian bis dan sebagainya. Untuk apa? untuk berbagi kisah. Bukan merupakan suatu jaminan jika berjalan/melancong ke luar negeri akan lebih baik bila dibandingkan dengan Indonesia. Kita hanya kekurangan informasi!
Seperti apa yang dikatakan oleh Dr. Seuss: “The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you'll go.” Buku ini merupakan langkah awal mengenal berbagai tempat di dunia. Namun yang menarik bukanlah tempatnya namun seringkali justru kisah perjalanan itu sendiri. Karena itu banyaklah membaca, banyaklah mendengar, banyaklah berjalan, dan tuliskan kisahmu.
The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita. Dari judulnya kita bisa tahu apa isi buku ini. 12 orang penulis terlibat di sini. Jujur, hanya 2 orang penulis yang saya pernah baca bukunya, yaitu Trinity dan Raditya Dika. Hehe. Terlalu banyak jika saya review satu per satu. Keseluruhan isi bukunya saja ya :p
Setiap penulis tentu punya gaya yang berbeda. Saya suka tulisannya Okke 'Sepatumerah' dengan kisahnya ke Soe, NTT. Tulisannya menggelitik, terutama kelakuan Oris si Tengil =) Selain itu saya suka selipan hal-hal magisnya, menarik. Lalu Valiant Budi dengan kisahnya yang berjudul "Parfum Impian" di Arab Saudi. Selain itu tulisannya Alexander Thian juga saya suka. Bukan berarti yang lainnya saya tidak suka ya. Tapi ini mungkin masalah selera. Hehe. Yang paling saya sukai adalah tulisannya.. Raditya Dika! Haha mungkin karena emang saya yang udah ngefans tapi emang saya paling dapet 'feel' di tulisannya Bang Dika. Tulisan bang Dika jadi pamungkas buku ini, dengan renungan khas beliau (kok ga enak ya) mengahiri buku ini dengan indah. Haha. Tapi nggak ada deh yang paling bikin saya pengen datengin tempat yang diceritain, karena semuanya juga bikin mupeng! Hehe.
Saya membaca buku ini di tengah-tengan liburan panjang akhir tahun ajaran. Saya termasuk ke dalam mereka-mereka yang malang, yang menghabiskan waktu liburannya di rumah saja -_- Cocok sekali membaca buku ini di saat begini. Saya dibawa mengkhayal ke tempat tempat yang hampir semuanya saya baru tahu, apalagi disisipi dengan foto-foto arsip si penulis. Pengalaman membaca yang asyik =)
Bagaimana jika orang-orang yang memiliki beragam latar belakang profesi dan usia tapi punya satu kesamaan: gemar berjalan-jalan (dengan alasan apapun), menyumbangkan pengalaman mereka dalam cerita / testimoni tentang daerah-daerah yang mereka kunjungi tersebut, menjadi semacam suatu antologi?
Maka hadirlah The Journeys, kumpulan kisah perjalanan dari 12 orang traveler yang juga memiliki kemampuan lebih dalam bertutur.
Sebenarnya, tidak seluruh 12 cerita yang terkandung di dalam buku ini mengisahkan tentang destinasi tertentu, karena Trinity - notabene travel writer paling ngetop dari antara kelompok satu lusin pengelana ini - dalam tulisannya lebih cenderung berkisah tentang suka-duka menjadi travel writer ketimbang mengisahkan keunikan dan daya tarik tempat tujuan wisata tertentu.
Dengan gaya bertutur yang khas dari setiap penulis-pengelana, bagi saya pribadi, petualangan Alexander Thian di Karimun Jawa adalah yang mungkin paling banyak "bunga"-nya - dalam artian, tulisan Alex akan menjadi lebih singkat apabila 1/3 bagiannya dihilangkan sebab tidak terlalu relevan - sehingga terasa kepanjangan, meski tetap terasa daya tarik Karimun Jawa; petualangan Ve Handojo di Tel Aviv membuat makin penasaran ingin berkunjung ke Israel; dan penuturan Valiant Budi membuat saya jadi ingin membaca bukunya yang bertutur secara lebih komplet tentang kehidupannya selama di Arab Saudi, Kisah 1001 Mimpi, yang juga diterbitkan oleh GagasMedia.
Meski semua kisah perjalanan dalam buku ini menarik, namun sejujurnya saya sempat bertanya-tanya apa sebenarnya benang merah dari 12 kisah ini. Bahwa perjalanan adalah proses menemukan sesuatu, bahkan saat tidak menemukan apa-apa? Bahwa pandangan kita tentang suatu hal dapat berubah karena perjalanan yang kita lakukan?
Jika demikian, maka tidak semua kisah di sini menyentuh benang merah tersebut. Ada yang akhirnya hanya sekadar catatan perjalanan biasa, melihat ini, bertemu itu, mencicipi ini, merasakan itu. Sayang sebenarnya, mengingat nama-nama tersohor yang terlibat dalam buku ini sungguh mengusik rasa penasaran saya. Ekspektasi saya yang begitu tinggi awalnya sempat menurun drastis, namun kisah demi kisah yang kemudian saya temukan mengembalikan minat saya pada buku ini. Untuk itu, saya menghaturkan bintang-bintang untuk:
- Kisah Ferdiriva dengan ayah mertuanya di Amerika - Ve Handojo yang menemukan perdamaian Yahudi-Arab di Tel Aviv, hanya 45 menit dari Yerusalem yang "sok suci". - Alexander Thian yang nekat ke Karimunjawa dan ternyata malah bisa berdamai dengan hatinya - Winna Effendi yang awalnya malas ke sebuah desa kecil di Taiwan, tapi akhirnya malah jatuh cinta. Format ceritanya juga manis dan kreatif.
belinya tanggal 23 April, karena penasaran kepengen mengetahui isi-nya... dan ternyata isi-nya sangat baguss... hingga aku kepingin berlibur ke salah satu kota didalam buku ini, aku sangat menyukai buku ini bisa dibilang buku ini menampilkan foto dan deskripsi yang cukup akurat, karena saya merupakan pemimpi yang ingin keliling dunia, jadi buku ini banyak mengambarkan kota dan negaranya... terutama Indonesia, bohong kalau aku bilang aku tidak suka dengan wisata indonesia, aku sangat menyukain kebudayaan dan wisata indonesia, makanya saat satu bab tentang pulau karimunjawa, aku langsung menabung, kepingin melihat indahnya negeri tercinta-ku (tapi tidak cinta terhadap korupsi)
kalau orang yang ingin menulis bisa mengambil cara penulisan didalam buku ini karena, buku ini memuat semua karakter tentang gaya kepenulisan... salah satu bab yang saya suka selain Pulau Karimunjawa, yaitu cerita tentang teman raditya dika dibelanda yang namanya, maaf...perek.. sumpah, aku terkikik geli membacanya..
dan masih banyak lain kisah dari 12 penulisnya yang terdapat pada buku ini, yang membawa kita menjelajahi pesona dunia... eh, benerkan pesona dunia ??
Saya menyukai tulisan Windy Ariestanty di buku ini soal perjalanannya di Lucerne. Kalau gagasannya adalah cerita pengalaman berpelancong tapi bukan mengupas lokasi wisatanya, maka punya Windy yang paling kuat di sini.
Disusul kisah perjalanan berdua bersama ayah mertua (OMG!) yang ditulis Ferdiriva Hamzah. Ada juga cerita soal travelling di Afrika yang menarik karena ada kebaruan yang ditawarkan.
Selebihnya, saya tak terlalu suka. Resiko dari buku antologi atau kompilasi tulisan adalah you like some of it and you hate the rest of 'em.
Buat saya buku ini seolah dirancang buat para penggemar penulis keroyokannya yang masing-masing punya fans. Mereka yang sreg dengan gaya salah satu penulis akan cenderung suka tulisan penulis itu di buku ini. Seperti saya yang doyan tulisan Ferdiriva langsung melahap bagiannya di The Journeys.
Tapi, kalau boleh memilih, saya kepingin Windy menulis satu buku terpisah, semacam memoar berpelancong ke berbagai tempat. Ditunggu ya W! (Sok kenal hehehe)
Err.. Cerita pertama sampah banget. Tata bahasanya kacau. Alur cerita juga gak oke. Seolah cerita ini dibuat buru-buru H-1 jam sebelum pengumpulan deadline. Membaca cerita-cerita selanjutnya agak bosen hingga hampir separoh buku (tapi tetep aja aku baca semata-mata karena buku ini buku travelling dan aku suka bgt sama sesuatu yang berbau travelling, haha.. --").
Semakin ke belakang, menurutku semakin lumayan menarik. Pemilihan cerita akhir pada buku ini jatuh pada cerita Raditya Dika pun menurutku pilihan yang cukup cermat mengingat gaya ceritanya yang konyol. Lumayan membuat otak fresh setelah sekian lama cukup bored dengan cerita-cerita sebelumnya.
Ekspektasiku terhadap buku ini jauh di atas apa realitanya yang ada. Buku ini lumayan lah buat nambah-nambah info tentang lokasi travelling (just it). Namun jika fungsi membaca buku adalah untuk me-refresh otak yang lagi busuk, saya sarankan membaca buku lain saja. No offense! :)
Mendengar kata "The Journeys" sudah sangat menarik, apalagi dengan cover yg cukup rapih dan sedap dipandang membuat gw sejenak membayangkan apa yg ada dibalik cover tersebut. Pasti penuh dengan kejutan dan hal-hal menarik dalam perjalanan mereka.
Benar saja, ditulis 'keroyokan' membuat buku ini memiliki banyak warna, perbedaan gaya bercerita semakin membuat asik saat membacanya. Banyak perjalanan unik dan menarik dapat tersampaikan dengan sangat baik. Sukses membuat gw ingin pergi kesana kesini suatu saat nanti. Buku yg bagus untuk membuka wawasan dan menumbuhkan ketertarikan kita untuk menjelajah belahan bumi yg lain. Hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja tanpa melihat sisi bumi yg lain.
Dari cerita pertama aja, gue udah ditarik oleh buku ini dan ga bisa lepas. Buku ini menjadi 'tersangka' yg telah membuat gue menambahkan negara ke dafftar must-visit gue. Contohnya: Andalusia dan afrika selatan. Sebelumnya enggak ada tuh, dua tempat itu di daftar yg udah bertahun-tahun gue pegang di binder buluk tersayang. tapi dengan mudahnya para penulis mengobarkan api hasrat travelling gue lebih besar lagi dengan cerita-cerita mereka yang menarik, deskriptif, engaging, dan kocak parah. Suatu hari nanti gue mungkin akan menjadi salah satu penulis kontributor buku seperti ini? who knows.
Dan percakapan para penulis ttg keputusan mengambil desain cover yg mana adalah sebuah bonus yg unik. ngakak gue bacanya. All and all, a pretty damn good job.
Buku ini membuat saya mahu mengemas 'backpack' saya. Jika bukan kekangan kerja saya pasti telah sampai ke mana-mana demi sebuah perjalanan. Bermula dengan prakatanya sahaja sudah seru, inikan setelah dibaca keseluruhan isinya.
Kesemua penulis punya cerita menarik. Semuanya humoris belaka. Saya tidak pernah berhenti ketawa tatkala membaca. Dalam pada itu mereka turut membawa sisi manusiawi yang buat saya berpikir. Paling tidak kisah yang terakhir adalah paling menarik apabila mengaitkan kisah Nyokap dengan perjalanan beliau di Belanda. Ya memang sangat humor tapi akhirnya saya sendiri ingin menelefon ibu saya hasil bacaannya tulisan Raditya Dika.
OK, buku ini sukses bikin saya tambah ingin menjelajah dunia sekaligus menyelami laut-laut di perairan Indonesia. Maroko dan Mesir tampak menarik. Italia dan Swiss, juga bikin penasaran. Karimunjawa is a must-go-there place. Hopefully suatu saat nanti saya bisa cerita seperti para pencerita di buku ini. Namun, dari sekian tempat yang dipamerkan, saya kurang tertarik dengan Taiwan (ya iya lah, secara udah berkarat gini di Taiwan), dan Israel (well, it's looked so scary).
Berbicara tentang cerita-cerita yang ada di buku ini, sebagian menarik, dan sebagian lainnya so-so. Yang menurut saya cukup berhasil membuat cerita yang menarik, adalah memang pembuat cerita komedi dan si tavel writer.
Paling suka emang cerita soal traveling orang2 apalagi ykalo yg cerita adalah para pencerita. Meski mungkin ngga ada yg terlalu spesial tapi karena cara mereka menceritakannya itu menarik jadinya enak unutk di ikutin. Pengennya sih mereka cerita lebih banyak lagi. Buku nya terlalu tipis bagiku :D
Tapi nih gagas rasanya makin mirip GPU nih, mentang2 yg nulis terkenal harganya di naikin. Untuk buku yg seperti itu mahal juga. padahal biasanya juga nggak semahal itu. TApi layout, cover dan isinya emang OK banget
Nggak nyangka, ternyata kebanyakan isinya penuh dengan humor. Mulai dari masalah keyakinan yang dihubungin ama minyak wangi Arab, Kisah putus cinta yang dihabiskan di sekitar kolam hiu, Perjalanan sama Mertua ke negeri Paman Sam dan berbagai kisah perjalanan lain yang inspiratif dan amazing. Meski sebagian gambarnya ada yang nggak berwarna, tapi udah cukup buat nambah niat saya travelling lagi kayak masih single dulu.
Ini cuma masalah waktu, uang dan... ups.. ijin suami :D Nggak perlu jauh jauh deh, ke luar zona nyaman aja, juga udah travelling. :D
Senang membaca kisah perjalanan para pencerita ini, banyak sudut pandang yang unik. Yang menyentuh hati dari segi hubungan dengan orang tua. Yang cara ceritanya yang lebih mirip laporan tetapi dengan cara menarik dan tidak membosankan.Bahkan ada yang menambah pengetahuan kita sedikit akan sejarah dan geografi tanpa perlu membuka textbook.
Crazy entertaining! Gue menyelesaikan buku ini dalam seminggu, terpotong sakit dan nonton DVD. Buku ini ngga kaya buku traveling pada umumnya. Isinya cerita unik, lucu, mengesalkan dan menyenangkan para penulisnya. Favorit gue: semua cerita dari penulis cowok karena berhasil bikin gue ngakak sampe suami gue nganggap gue sakit jiwa, bukan tipes -.- Recommended for holiday reading!
gilak ni buku!! bener2 sukses memprovokatori nyisihin duit dipake buat jalan-jalan,plesir keliling dunia >> indonesia >>karimunjawa terutama ve handojo pinter banget nyeritain detail per detail keindahan plus pengalaman yang bakalan didapet dari acara "ngabur" ke Karimunjawa-nya
ceritanya radhitya dika juga ngenaaaaaaaa banget!! jadi pengen meluk ibu waktu itu T_______T
Buku keren ditulis oleh beberapa penulis yang sering melakukan perjalanan, tapi masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda. Karena ditulis oleh penulis yang berbeda latar belakang itulah buku ini menjadi kaya akan 'rasa' dan 'aroma'. Sudut pandang yang berbeda membawa pada penyampaian cerita yang berbeda pula, tapi tetap intinya perjalanan ya jalan-jalan... Jadi seru isinya pokoknya.. ^^
bukunya keren :) kalo baca nih buku pasti deh pikirannya pengen jalaaaan, paling gak ke mall gitu, hehe... dan senangnya aku dapat buku ini dari menang kuisnya gagas trus dalamnya ada ttd para pengarangnya :D hehe, makasih gagas... btw, selamat udah menang sebagai Sampul Buku Nonfiksi Terfavorit di API 2011.
perfect.... mengajak kita untuk bertualang tanpa harus beranjak dari kamar:) cukup dengan cemilan..alunan lagu jason mraz..dan satu buku itu...kita dibuai dengan fakta bahwa bumi ini indah :)liburan itu surga...