Hari Jumat yang dingin di bulan Desember, tepatnya 10 Desember 2004. Beberapa orang menghadiri sebuah pemakaman di sebuh Kapel Salib Suci di Forest Cementery di sebelah selatan Stockholm. Di antara yang hadir di acara itu adalah Kurdo Baksi. Sedangkan yang dimakamkan pada hari itu adalah Karl Stig-Erland Larsson atau lebih di kenal dengan nama Stieg Larsson.
Ini adalah buku yang di tulis oleh Kurdo mengenai Stieg dan tentang persahabatan mereka selama kurang lebih 10 tahun. Tidak banyak yang bisa diketahui mengenai Stieg walaupun melalui teman dekatnya ini, hal itu dikarenakan Stieg yang tidak terlalu suka membicarakan masa lalunya, walaupun ada beberapa kejadian yang pernah diceritakan kepada Kurdo namun itu cuma sebagian kecil saja dari masa lalu Stieg yang tak pernah ada yang tahu seperti apa sebenarnya kehidupan Stieg masalalu sebelum bertemu dengan Kurdo. Setelah kematian Steig dan perasaan sedih yang mendalam butuh 4 tahun bagi Kurdo untuk akhirnya bisa memulai menulis buku ini.
Stieg adalah seorang pekerja keras yang jarang tidur, menurut Kurdo mungkin Stieg bekerja dari puku 09.00 sampai 05.00 (jam lima pagi keesokan harinya), perokok dan peminum kopi yang akut, penentang rasisme, patriarki dan neo-nazi yang handal (dia mendirikan majalah Expo yang bertujuan untuk menentang segala bentuk diskriminasi terutama rasisme dan neo-nazi sehingga sering mendapat ancaman pembunuhan bahkan dua karyawan Expo terkena serangan bom mobil), penyimpan rahasia yang lihai (tidak ada yang tahu kalau Steig telah menyelesaikan 3 novel trilogy-nya sebelum dikirimkan ke penerbit), dan seseorang yang selalu menghindari publikasi (selalu menolak untuk foto bersama dan seringkali meminta orang lain yang mencantumkan nama mereka untuk tulisan dan artikel yang dia tulis, dia selalu menganggap orang lainlah yang lebih penting bukan dirinya).
Saat masih kecil Stieg sangat menyukai film, dia sering melihat film di bioskop tempat ayahnya pernah bekerja, dan dia juga menyukai langit malam sehingga ayahnya memberikan hadiah sebuah teleskop saat ulang tahunnya yang ke 12, selain teleskop ayahnya memberikan hadiah berupa mesik tik, dan Stieg sejak kecil mempunyai cita-cita untuk menjadi wartawan. Stieg waktu kecil juga menyukai fotografi tetapi bukanya untuk mengabadikan momen-momen indah melainkan untuk "mengabadikan ketidakadilan di dunia".
Kota Umeå terlalu kecil bagi rasa ingin tahu Steig yang besar, pada umur 17 tahun dia menumpang kereta dan pergi ke Stockholm, dari sana dia berencana pergi ke Aljazair, dia melakukan kerja serabutan sebagai pengantar koran dan pencuci piring untuk bisa mewujudkan rencananya itu, tetapi nasib malang menimpanya, semua uang untuk perjalanannya dirampok hingga akhirnya dia harus kembali lagi ke Umeå .
Dia bekerja keras hingga akhirnya bisa melakukan petualangannya ke Aljazair, di sana dia harus menjual jaket kulitnya untuk bisa bertahan hidup.
Setelah jeda dua tahun menjalani wajib tentara di Swedia dia melanjutkan petualangannya ke afrika, saat itu dia berumur 21 tahun saat tiba di Khartoum, kemudian ke Eritrea dan Ethiopia, Kenya, dan Uganda. Kemudian setelah petualangan itu dia mengubah nama depannya menjadi Stieg. Semua petualangannya hanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya akan segala hal dan mengumpulkan segenap pengetahuan untuk menjadi apa yang diimpikannya, menjadi wartawan.
Melalui buku ini kita bisa melihat sosok Stieg dari sudut pandang teman dekatnya Kurdo, beberapa percakapan mereka bisa mengungkap sikap Stieg yang selama hidupnya selalu berjuang melawan segala bentuk diskriminasi, rasisme, neo-nazi dan patriarki.
Dalam buku ini Kurdo juga menjelaskan beberapa pendapatnya mengenai tiga novel Stieg, tentang karakter-karakter dalam novel itu dan tentang kemungkinan latar belakang terbentuknya karakter-karakter itu, tentang sebuah cerita masa kecil yang membuat Stieg akhirnya menuliskan novel-novel itu, tentang kapan kira-kira Stieg menulis ketiga novel itu, dan apa sebenarnya yang ingin disampaikan Stieg melalui tiga novel itu. Melalui buku ini juga kita bisa mengetahui kenapa Stieg bersikukuh tidak ingin mengubah judul novel pertamanya yaitu Män som hatar kvinnor (Men Who Hate Women), terjemahan bahasa inggrisnya lah yang membuat judulnya berubah menjadi The Girl with the Dragon Tattoo, dan selain itu juga mengenai siapakan perempuan yang menghiasi novel ketiganya.
Mungkin kalau Stieg masih hidup dia akan menulis lebih dari tiga novel, karena menurut Kurdo Stieg pernah berkata bahwa ada 10 buku dalam kepalanya, dan Kurdo juga pernah mendengar Stieg pernah berkata ada 5 buku (termasuk 3 novel trilogy milenium) dalam kepalanya yang menurut Kurdo sangat yakin bahwa semuanya telah selesai. Tapi saat ini kita hanya bisa menikmati tiga novel Stieg yang semuanya telah dia selesaikan sebelum dikirim ke penerbit, bahkan Stieg sendiri tidak menikmati kesuksesan ketiga novelnya.