Muhammad was born in 570 CE, and over the following sixty years built a thriving spiritual community, laying the foundations of a religion that changed the course of world history. There is more historical data on his life than on that of the founder of any other major faith, and yet his story is little known. Karen Armstrong's immaculately researched new biography of Muhammad will enable readers to understand the true origins and spirituality of a faith that is all too often misrepresented as cruel, intolerant, and inherently violent. An acclaimed authority on religious and spiritual issues, Armstrong offers a balanced, in-depth portrait, revealing the man at the heart of Islam by dismantling centuries of misconceptions. Armstrong demonstrates that Muhammad's life--a pivot point in history--has genuine relevance to the global crises we face today.
Karen Armstrong is a British author and commentator of Irish Catholic descent known for her books on comparative religion. A former Roman Catholic religious sister, she went from a conservative to a more liberal and mystical Christian faith. She attended St Anne's College, Oxford, while in the convent and graduated in English. She left the convent in 1969. Her work focuses on commonalities of the major religions, such as the importance of compassion and the Golden Rule. Armstrong received the US$100,000 TED Prize in February 2008. She used that occasion to call for the creation of a Charter for Compassion, which was unveiled the following year.
Melihat bagaimana cara "Orang Barat" memahami sosok Nabi Muhammad SAW. Sangat objektif karena melalui riset pustaka yang cukup mendalam. Walaupun masih ada beberapa hal pendapat Karen Armstrong yang perlu di koreksi (membaca tulisan Pengantar-nya).
Seharusnya ada banyak "Karen Armstrong" di Indonesia. Yang mengkaji dan menelaah pemikiran para tokoh besar Islam. Agar umat muslim Indonesia makin cerdas dan cergas. Agar meminimalisir orang islam yang memiliki "fanatisme buta" terhadap ajaran Nabi Muhammad yang ternyata masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Gaya bahasa khas Karen Armstrong mampu membuat saya menyelesaikan buku ini dalam waktu dua hari saja.
Saya memiliki versi terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Pengantar versi terjemahan ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat. Buku ini kembali menjadi buku serius yang saya baca. Sebelumnya saya lebih banyak membaca buku fiksi.
Standard saja ya, ndak mind blowing. Kenapa ya..mungkin Karena gw ngebandingin sama mubarakfury dkk, jadi kualitas ya jauh lah ya. Tapi kalo dibandinginnya sama penulis barat laen sih, Karen Armstrong udah Mayan keren tulisannya..
Lumayan, untuk ukuran tertentu. Tapi memang membacanya harus kritis. Bagi muslim khususnya, beberapa poin tentang penafsiran kisah hidup Nabi perlu di-cross check tuh dengan sumber-sumber lain.
"Jika kita ingin mengindari kehancuran, dunia Muslim dan Barat mesti belajar bukan hanya untuk bertoleransi, melainkan juga saling mengapresiasi. Titik berangkat yang baik adalah dari sosok Muhammad: seorang yang didorong oleh ideologi, yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil untuk kita terima, tetapi memiliki kegeniusan yang luar biasa dan mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang didasarjan bukan pada pedang, melainkan pada 'Islam', berarti perdamaian dan kerukunan."
Buku ini adalah buku kedua Armstrong tentang Nabi Muhammad. Terbagi menjadi lima bab; Makkah, Jahiliah, Hijrah, Jihad, dan Salam. Belum membaca buku pertama Armstrong, namun buku ini lebih menekankan secara singkat kehidupan nabi dalam menyebarkan Islam dan perannya sebagai pemimpin. Meluruskan stereotip Barat, yang pasca tragedi 11 September dan kontroversi Satanic Verses, menggambarkan Islam sebagai agama pedang dengan melihat strategi-strategi politiknya yang berhasil mengajak berbagai suku di Mekah dan Madinah untuk menjadi penganut Islam yang menjunjung keadilan sosial, kesetaraan, dan hak-hak perempuan.
.......
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia Melindungimu Mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk Mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberimu kecukupan
Demi waktu matahari sepenggalahan naik Demi malam apabila telah sunyi Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu Dan sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik daripada apa yang datang terdahulu Tuhan pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu Lalu hatimu menjadi puas
Sebagai seorang muslim yang terbiasa mendengar atau membaca biografi Nabi Muhammad dari kisah-kisah populer, ketika membaca tulisan Karen Armstrong ini aku mulanya merasa tidak nyaman. Perasaan itu muncul karena adanya cara penyampaian yang berbeda. Jika pada kisah-kisah populer, penuh pengagungan dan hampir tidak ada kritik yang diajukan, sedangkan di buku ini Karen Armstrong dengan berani menyampaikan pandangan kritisnya tentang Nabi Muhammad.
Namun, setelah selesai membaca buku ini, aku mahfum dengan Karen yang menempatkan Nabi Muhammad tidak dalam posisi terlalu memuji dan tidak juga mencelanya. Sebagai orang yang menerima pendidikan Katolik dan tumbuh dalam lingkungan dengan kebudayaan Barat, ia konsisten mengajak dunia Barat untuk memahami Muhammad tanpa prasangka dan kebencian. Hal ini yang membuat aku kagum dengan Karen Armstrong.
Karen menceritakan kisah Nabi Muhammad dalam buku yang tidak sampai 300 halaman ini dengan gaya naratif yang tidak membosankan. Peristiwa-peristiwa penting mulai dari kelahiran sampai wafatnya Nabi Muhammad disampaikan dengan beberapa sudut pandang. Jadi, kita tidak hanya membaca sosok Muhammad dari sisi kenabiannya, tetapi juga dari sudut pandang kemanusiaan, sosiokultural dan sosioantropologinya.
Penggambaran Rasulullah dari perspektif Freelance Monotheis, walau ada hal hal yang tidak sesuai dan itu wajar mengingat Karen bukan muslim, namun overall ini bacaan yang menarik dan mampu membuat kita melihat perspektif lain dari kisah Rasulullah
Bukti sejarah bahwa manusia yang mulia memberikan suri tauladan mengenai kehidupan. Dijelaskan oleh Karen dengan lugas. Tanpa ada yang dilebih-lebihkan.
Ngga ada yang mengejutkan selain pembaruan beberapa fakta dari buku edisi lamanya "A Biography of a Prophet". Menggiring ke pemahaman rasional tentang sosok Muhammad SAW. However, memang sangat balans dan berimbang jika mengingat tujuan awal penulisan buku ini adalah untuk konsumsi masyarakat non-muslim.
Sebagai penyampai naratif besar, Karen tidak lepas dari latar belakang sebagai biarawati dan doktor dalam kesusastraan Inggris, penyampaiannya dalam buku ini dirancang untuk menarik para pembaca sasarannya, orang-orang Barat. Tentu penyampaiannya sangat berbeda dibandingkan penuturan yang disampaikan oleh para penulis tarikh yang Muslim.
Yes, bacaan yg cocok untuk non muslim yang coba mengenal tokoh yang satu ini. Kenapa? Salah satu yg saya perhatikan bahwa tidak ada satu kata pun dalam buku ini yang menyebut Muhammad sebagai 'nabi', tetapi dengan menyebut 'beliau'. Tentu banyak non muslim, termasuk saya, yang tidak keberatan untuk menyimaknya
buat nambah wawasan, dan sebenarnya karen masih cenderung tetap berfikir seperti orang barat, ada beberapa detil yang menurut anggapan dia benar tapi tidak sesuai dengan referensi lain dari kalangan muslim.