Fifteen-year-old Reason Cansino has learned the painful truth that she - like her mother, grandmother, and new friends Tom and Jay-Tee - must face a choice between using the magic that lives in her blood and dying young, or refusing to use the magic and losing her mind. Now a new threat leaves Reason stranded alone in New York City, struggling to control a power she barely understands. But could the danger she faces also hold the key to saving her life? "Magic Lessons" is a stunning follow-up to Larbalestier's debut novel, "Magic or Madness, " which earned multiple starred reviews and a spot on the Locus 2005 Recommended Reading List, along with being named a Best Book of the Year by "School Library Journal" and the Young Adult Round Table of the TLA.
Justine Larbalestier is an Australian young-adult fiction author. She is best known for the Magic or Madness trilogy: Magic or Madness, Magic Lessons and the newly released Magic's Child. She also wrote one adult non-fiction book, the Hugo-nominated The Battle of the Sexes in Science Fiction (Best Related Book, 2003), and edited another, Daughters of Earth: Feminist Science Fiction in the Twentieth Century.
Her surname has been pronounced in several different ways, but the FAQ on her website says that Lar-bal-est-ee-air is correct:
Q: How do you pronounce your surname? A: Lar-bal-est-ee-air. It can also be pronounced Lar-bal-est-ee-ay or Lar-bal-est-ee-er. Those are all fine by me. Friends at school used to pronounce it: Lavaworm. I have to really like you to let you get away with that one, but.
Larbalestier was born and raised in Sydney, Australia. She now alternates living between Sydney and New York City.
In 2001, Justine married fellow author Scott Westerfeld.
Yah, trilogy ini bukanlah seri penting ataupun prioritas. Dan mengingat buku pertamanya yang gitu aja, tapi tetep rasanya pengin koleksi dan ngerampungin seri ini. Yap, buku kedua jauh lebih lumayan.. dan enak aja dibaca. Better story than the first one! masih bikin penasaran untuk lanjutannya, jadi mari lanjut ke buku ketiga. Betewe kover buku ketiga cantik!
pada awalnya semua pasti menduga s pendobrak pintu new york-sydney itu Jason Black atau kaki tangannya-lah. ternyata setelah Reason d tarik k new york dy bertemu kakek2 tua-sangat tua, yang tersenyum dan sihirnya jauh lebih kuat dibandingkan kakek-neneknya (yg masih d curigai jahat). waktu Reason mencoba melawan dengan mudah s kakek2 melambaikan tangannya pada Reason alias menepis sihirnya. lalu si kakek nyuruh Reason pergi, beruntung ada ibu2 yang mencemaskan keadaan Reason di tengah musim salju karena dy cuma make piyama. reason berhasil menghubungi Danny yg secara otomatis datang menyelamatkan Reason. di Sydney jay-tee, Tom, dan Mere mencari dan berusaha menyelamatkan Reason. Jay-tee mulai sekarat karena 3/4 sihirnya sudah di minum Jason Black dengan meminta izin pada Tom, Reason berhasil bertahan hidup sedangkan Tom kembali ke rumah dengan keadaan sepoyongan. perasaan setelah diminum ini menyadarkan Tom klo Mere jg telah meminumnya *di buku magic and madness. Mere g jujur waktu dy sudah meminum Tom inilah yang membuat Tom kesal dan muali membenci Mere. seandainya Mere izin dengannya, izin meminta sihirnya tentu Tom akan mengizinkannya. New York.. Reason di temani Dany kembali k tempat Reason di tarik si kakek2, dari pelajaran sihirnya dengan Mere diketahui bahwa Reason tidak hanya memiliki sihir yang matematis seperti keluarga Cansino-nya tetapi juga sintesa semacam penciuman, merasakan, mendengar, dan melihat. respon penciumannya atas keberadaan si kakek2 adalah bau munntahan, buah busuk dan segala bau yang tidak sedap sehingga Reason mudah sekali muntah ketika menciumnya. bukan Reason yang menemukan si kakek tapi kakek itu yang menemukan Reason, Danny berusaha menolong Reason dengan beradu tinju malang bukannya berhasil menonjok kakek2, Dany malah terjaut dari tangga pintu. si kakek2 tidak meminum reason hanya memasukkan potongan dirinya ke tubuh Reason. setelah itu semua menjadi tidak sama bagi Reason. semua terasa lebih menyegarkan dan tidak lelah. Reason merasa lebih segar. dari tubuh si kakek Reason tau kalau dy juga Cansino sama seperti Mere dan Jason Black. tapi mengapa kakek itu tidak mati karena memnggunakan sihir yang terlalu banyak? dari sini Reason tahu kalau ada jlan yg bs menghentikan mati di usia muda atau gila hingga tua.
Saking lamanya baru dilanjutin, wajar dong kalo keburu lupa ceritanya mana di buku ini jarang flashback kejadian di buku satu, makin gelagapanlah bacanya tapi lama-lama mulai inget lagi kok :)) dan endingnya bikin penasaran, jadi mari lanjutt
ceritanya kok bukannya makin teratur, malah makin kacau. ditambah lagi, ending-nya mempromosikan hal-hal yang tidak begitu bagus buat pembaca young adults.
*harus lanjut buku #3 hanya biar tuntas n gak ngegantung*