Jump to ratings and reviews

Notes from Underground

In 1864, just prior to the years in which he wrote his greatest novels — Crime and Punishment, The Idiot, The Possessed and The Brothers Karamazov — Fyodor Dostoyevsky (1821–1881) penned the darkly fascinating Notes from the Underground. Its nameless hero is a profoundly alienated individual in whose brooding self-analysis there is a search for the true and the good in a world of relative values and few absolutes. Moreover, the novel introduces themes — moral, religious, political and social — that dominated Dostoyevsky's later works. Notes from the Underground, then, aside from its own compelling qualities, offers readers an ideal introduction to the creative imagination, profundity and uncanny psychological penetration of one of the most influential novelists of the nineteenth century. Constance Garnett's authoritative translation is reprinted here, with a new introduction.

136 pages, Paperback

First published January 1, 1864

Loading...
Loading...

About the author

Fyodor Dostoevsky

3,518 books79.6k followers
Фёдор Михайлович Достоевский (Russian)

Works, such as the novels Crime and Punishment (1866), The Idiot (1869), and The Brothers Karamazov (1880), of Russian writer Feodor Mikhailovich Dostoyevsky or Dostoevski combine religious mysticism with profound psychological insight.

Very influential writings of Mikhail Mikhailovich Bakhtin included Problems of Dostoyevsky's Works (1929),

Fyodor Mikhailovich Dostoevsky composed short stories, essays, and journals. His literature explores humans in the troubled political, social, and spiritual atmospheres of 19th-century and engages with a variety of philosophies and themes. People most acclaimed his Demons(1872) .

Many literary critics rate him among the greatest authors of world literature and consider multiple books written by him to be highly influential masterpieces. They consider his Notes from Underground of the first existentialist literature. He is also well regarded as a philosopher and theologian.

See also:
Russian → Фёдор Михайлович Достоевский
French → Fédor Dostoïevski
French → Fiodor Dostoïevski
Spanish → Fiódor Dostoyevski
Portuguese → Fiódor Dostoiévski

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
110,248 (42%)
4 stars
99,107 (37%)
3 stars
41,243 (15%)
2 stars
8,914 (3%)
1 star
2,884 (1%)
Displaying 1 - 30 of 84 reviews
Profile Image for Evan Kanigara.
66 reviews19 followers
February 18, 2019
(3). Buku terjemahan bahasa Indonesianya, yang diterjemahkan oleh Asrul Sani, sangat sulit dibaca (atau mungkin memang sengaja dibuat sulit dibaca ya?). Struktur kalimat dan paragrafnya sulit dipahami, bahkan terkesan acak-acakan, yang jelas saya butuh usaha ekstra untuk memahami maksud penulis. Akibatnya buku ini ternyata lebih memakan waktu lebih banyak untuk dibaca, diluar dugaan saya.

Terlepas dari masalah terjemahan, saya memiliki kesan tersendiri selepas membaca buku ini. Saya seolah bisa merasakan apa yang tokoh utama lalui. Saya merasa, pernah menjadi si tokoh utama ini. Menarik diri. Menggerutu tak ada habisnya dalam hati. Terjebak dalam kungkungan pikiran sendiri dan tidak bertindak sama sekali. Juga di saat si tokoh utama, terjebak dalam situasi di mana ia merindukan pertemanan, sekaligus mengalami kontradiksi saat terlibat di dalamnya. "Ya Tuhan, aku tidak cocok dengan orang-orang ini!" ucapnya. Si tokoh utama ini juga terlalu banyak berpikir, dan akhirnya terpasung olehnya. Ia seharusnya tidak memikirkan hal sebanyak dan seribet itu untuk hal-hal yang terlampau sederhana. Si tokoh utama ini terlalu berbelit-belit dengan pikirannya sendiri, sampai akhirnya saya sadar bahwa saya juga terkadang demikian. Semoga saja saya tidak berakhir di bawah tanah.
Profile Image for  Δx Δp ≥ ½ ħ .
389 reviews160 followers
June 3, 2009
dapet dg harga 2000 emas... seperti nemu harta karun ;)

Sekilas ceritanya mengingatkan saya pada The Catcher In The Rye yang sama-sama menceritakan individu yang menarik diri lingkungan sosial setelah ditolak oleh sistem sosial yang dia anggap penuh dengan kemunafikan, kepura-puraan, imitasi, dan tidak memiliki empati. Tapi ada perbedaan mendasar sih.

Dalam The Catcher In The Rye diceritakan tokohnya berupa pemuda canggung yang sedang 'menemukan jati' diri namun kemudian kecewa melihat 'kenyataan dunia', dan bentuk kekecewaannya diungkapkan dalam bentuk makian, umpatan, dan sikap sinis. Makanya tak heran sepanjang novel penuh dengan kata vulgar, kasar, dan makian barbar.

Nah, di "Catatan Bawah Tanah" ini, yang diceritakan si tokohnya juga menarik diri setelah 'dilecehkan' lingkungan pergaulan. Ada juga kata makian, tapi bukan itu bagian yang menariknya. Secara mendalam, diceritakan pergulatan batin sang tokoh. Intinya sih, yang Dosoyevsky lebih ke arah filosofis. dan jelas, suasana penceritaannya lebih suram. :)
Profile Image for Anisa.
86 reviews8 followers
August 6, 2016
Aturan saya dalam memberi rating :

1 : nggak suka, artinya bagi saya buku itu jelek.
2 : biasa aja.
3 : bukunya bagus
4 : bukunya sangat bagus, maka saya pun sangat menyukainya.
5 : GILA! Buku ini luar biasa! mengagumkan! keren! fantastis! kece badai! *oke cukup*

Buku ini bagi saya biasa aja, gak ada yang istimewa atau pun menarik. Mungkin karena saya gagal paham sama maksud ceritanya. Iya, emang bener kok saya nggak ngerti sama jalan ceritanya.

Dari awal saya emang udah khawatir nggak bakal ngerti karena karya-karya Destoyevski memang sering kali membingungkan. Hanya beberapa pembacanya yang akan mengerti dan nyambung sama jalan ceritanya (ini hasil ngubek-ngubek komentar orang tentang karya penulis satu ini) dan ternyata memang benar. Sayangnya, saya termasuk pembaca yang gagal paham.

Buku ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama, seorang lelaki yang sampai bukunya selesai tidak pernah disebutkan siapa namanya. Bagi saya, lelaki itu tidak waras dan aneh. Seorang lelaki yang terkucilkan dari lingkungannya dan seorang lelaki yang hidup dalam kemiskinan.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisi "ocehan" si lelaki itu. Ocehannya? Tentu saja tidak jelas, seperti ocehan seseorang yang kejiwaannya tidak stabil bahkan bisa dikatakan gila. Di bagian ini disebutkan bahwa ia berumur 40 tahun dan tinggal di bawah tanah.

Bagian kedua menceritakan hidupnya saat ia berumur 24 tahun dan disini bagi saya dia masih pantas dibilang waras namun tetap saja aneh. Saya tidak suka sama dia. Kalau ada orang seperti dia di sekitar saya, saya juga nggak mau akrab sama dia, bukan karena dia miskin tapi karena moralnya yang tidak bagus.

Lelaki ini menyebalkan dan tidak tahu berterima kasih. Ia merupakan orang yang terkucilkan di lingkungannya. Bukankah harusnya ia berusaha mengubah itu? Atau setidaknya jangan memperburuk keadaan. Disini, yang ada ia malah memperburuk keadaan membuat orang di sekitarnya semakin tidak bisa memberi simpati. Ditambah lagi ia orang yang suka berangan-angan dan bicara omong kosong. Lelaki ini menganggap semua orang bodoh padahal menurut saya dialah yang lebih bodoh bahkan pada pelayannya sendiri.

Maka dari itu saya nggak bisa menyukai buku ini. Ditambah lagi ada suatu ketika ia bicara begitu panjang lebar sampai hampir dua halaman buku. Jujur saja, baru kali ini saya menemukan ada dialog yang sebegitu panjangnya. Ini saat percakapannya dengan Liza. Bahkan si Liza itu pun mengejeknya bahwa ia bicara seperti buku. Nggak tahu juga, mungkin memang maksud si penulis untuk menggambarkan bahwa lelaki ini bicaranya memang seperti buku.

Saya merasa sedih karena gagal menyukai dan memahami buku ini. Dostoyevski adalah penulis terkenal. Kalau nggak terkenal, nggak mungkin buku yang ditulis tahun 18-an ini masih booming hingga sekarang, bahkan katanya penulis sekaliber Mark Twain aja terinspirasi dari Dostoyevski ini.

Tapi saya masih mau mencoba untuk menyukai karya Dostoyevski, novelnya yang berjudul The Brothers of Karamazov mau saya baca, tapi nggak tahu kapan. Banyak banget daftar bacaan -_-

Tapi ada satu hal yang saya sukai pada buku ini. Ketika si lelaki itu bertingkah sok pahlawan di depan Liza dengan mengatakan bahwa rumah adalah tempat yang bisa membuat kita bahagia, di dalamnya ada orang tua kita, orang yang begitu baik pada anaknya, bukan orang asing. Serta tentang ayah yang sangat menyayangi anak perempuannya sama satu lagi tentang bayi, bahwa bayi adalah anugrah dan mereka lucu. Meski semua yang dikatakannya itu bohong. Maksudnya dia tidak percaya semua itu.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews367 followers
December 12, 2016
Thanks a lot Gramedia.com for the 70% discount from IDR 50.000 into IDR 15.000! Happy Harbolnas!

** Books 91 - 2021 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2021 dan Baca Keliling Dunia

3 dari 5 bintang!


Buku yang lebih menceritakan tentang kritik sosial kehidupan yang dipaparkan oleh seorang lelaki yang terkucikan dalam kehidupan kemiskinan. Bagian pertama lebih menceritakan ocehannya saat pria tersebut berusia 40 tahun dan di bagian kedua saat beliau berusia 20 tahun.

Buku yang menarik dan kayaknya jadi penasaran dengan karya Fyodor Dostoevsky lainnya XD

Terimakasih Gramedia.com!
Profile Image for Arif Syahertian.
76 reviews4 followers
July 6, 2021
Notes from Underground is okay! Good! "HA, ha, ha! Nanti kau bahkan akan menemui kenikmatan dalam sakit gigi," demikian Anda berteriak sambil tertawa.
"Mengapa tidak? Bahkan dalam sakit gigi juga ada kenikmatan," jawabku.
Kenikmatan penderita memperoleh bentuknya dalam erangan ini.

Novella tahun 1864 ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan pengenalan, oleh Pria Bawah Tanah yakni "si tokoh aku", yakni sebuah pengenalan yang sangat panjang dan bertele-tele seperti penjelasan filsasat; menceritakan penderitaannya, lalu membahas kesenangan irasional, lalu penderitaan lagi, dan fluktuasi moral, intelektual, teori nalar, dan logika.

Bagian kedua merupakan cerita bagaimana dia, "si tokoh aku" itu saat berusia 24 tahun, yang menjadi karyawan yang bekerja di kantor, mengalami banyak penghinaan di mana-mana. Seperti pada segmen pertama; diceritakan di sebuah pub bagaimana geramnya 'si tokoh aku' yang didorong minggir ke samping oleh seorang perwira yang hendak lewat.
Segmen ke-2 adalah pesta makan malam dengan beberapa teman sekolah lama untuk melepas kepergian Zverkov, seorang perwira tentara yang akan berangkat ke sebuah provinsi yang jauh. Pria bawah tanah rela untuk meminjam (memakai dulu) gaji Apollon, pelayannya, untuk iuran pesta makan itu!

Pria Bawah Tanah tiba di tempat pesta tepat waktunya dan dia tak melihat mereka. Simonov tidak memberitahu dia bahwa waktu pesta telah diubah menjadi jam enam dan bukannya jam lima, tapi Simonov bahkan tak menunjukkan penyesalannya. Pria Bawah Tanah bertengkar dengan mereka berempat, menyatakan semua kebenciannya.
Mereka berempat adalah Zverkov, Simonov, Ferfitchkin, dan Trudolyubov.

Selama pesta makan berlangsung Pria Bawah Tanah sangat tidak dihargai keberadaannya, tidak dianggap ada oleh mereka; dia diabaikan. Ferfitchkin adalah lelaki berbadan kecil yang suka melawak vulgar, musuh bebuyutan si Pria Bawah Tanah semenjak mereka duduk di kelas rendahan.

Pada akhirnya, mereka pergi tanpa dia ke rumah bordil rahasia, dan, dalam kemarahannya, Pria Bawah Tanah mengikuti mereka ke sana untuk menghadapi Zverkov. Dia tiba di rumah bordil tapi mereka sudah pergi.
Seorang pelacur muda asal Riga bernama Liza berbaring diam-diam dalam kegelapan bersama si Pria Bawah Tanah itu alias The Underground Man.

Dia kaget dan menanyai gadis itu namanya dan tempat kelahirannya. Ia lalu menghadapkan Liza dengan gambaran masa depan gadis itu yang suram, lalu mulai menasihatinya macam-macam. Intinya supaya gadis itu berhenti menjadi pelacur dan kembali ke jalan yang benar.

Ia menasihati gadis itu bahwa menikah dan mencintai suami lebih baik ketimbang menjadi pelacur yang tak pernah merasakan cinta.

Saya sisipkan sini sedikit nasihat Pria Bawah Tanah itu. "Dalam keluarga seperti itu ada kebahagiaan bahkan di tengah-tengah dukacita ada kebahagiaan...
...Cinta ialah suatu misteri suci yang harus disembunyikan dari mata orang lain, apapun yang terjadi. Hal itu akan membuat cinta jadi lebih suci dan lebih baik."

-A.S.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books128 followers
July 19, 2025
“Ada suatu keadaan lain yang merisaukan aku di kala itu, yaitu tidak ada orang lain yang seperti aku dan aku tidak menyerupai siapa pun jua. 'Aku sendiri, sedangkan mereka adalah semua orang,' kataku dalam hati, lalu merenung.”

Hampir sama halnya dengan White Nights, narator tanpa nama dalam Notes from Underground juga cenderung terobsesi dengan dirinya sendiri sampai-sampai mengalami isolasi sosial. Atau bisa dibilang, perasaan yang dialami oleh tokoh Aku dalam novela ini adalah dampak tak langsung dari apa yang dialami tokoh Aku dalam White Nights, meskipun kedua buku tersebut tidaklah linier.

Dostoevsky mereka tokoh-tokohnya—mungkin juga manifestasi dari perasaannya—dalam wujud "main character syndrome" yang selalu merasa berbeda dan/atau lebih baik daripada orang lain, tetapi pada saat bersamaan justru merasa kesepian dan sukar untuk dipahami.

Novel tipis ini dipenuhi oleh narasi sinisme tingkat tinggi, bahkan kadar depresifnya jauh melebihi memoar yang ditinggalkan Ōba Yozo dalam No Longer Human. Tokohnya sering kali mempertanyakan eksistensi diri. Meski sang narator merasa dirinya punya potensi, tapi ia merasa keadaan sekitarnya tak memberi dukungan. Ia tak punya koneksi sosial dan terisolasi oleh rutinitasnya. Ia menceramahi seorang pramuria, padahal ia sendiri bingung dengan jalan hidupnya. Ia mengorbankan cinta dan bakatnya, lalu menarik diri dari lingkungan. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya meracau dari "bawah tanah."

“Aku tahu, cara aku bicara kaku, dibuat-buat, bahkan mirip buku, malahan aku tidak bisa bicara kecuali 'mirip buku.' Hal itu tidak merisaukan aku, aku tahu, aku merasa bahwa aku harus dapat dipahami dan bahwa ke-buku-an ini mungkin merupakan bantuan bagiku. Tapi kini, setelah aku berhasil menimbulkan akibat yang kukehendaki, aku tiba-tiba jadi takut.”

Si tokoh Aku dalam catatannya mengakui bahwa dirinya marah, iri, dengki terhadap semua orang. Mungkin itulah yang menjadikannya muak pada kehidupan. Sifat pongah membuatnya kehilangan semua orang terdekat, mulai dari kawan, kenalan perempuan, hingga pekerja di rumahnya. Rasa kesepian yg diciptakannya sendiri membuat Aku menjadi orang yg benar-benar miris dan amat menyedihkan—bahkan sampai di titik menyebalkan ketika kita membacanya.
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews23 followers
May 16, 2018
Kok saya jadi ikut manggut-manggut ya baca buku ini. Meski ada terselip rasa ZBL banget karena enggak bisa ngapa-ngapain, rasanya kaya dipaksa pasrah aja, bro! Kan rese :(
Yang pasti, ini adalah isi dari kepala seorang lelaki yang terkubur selama 40 tahun kehidupannya.
62 reviews2 followers
February 7, 2022
Terus terang 60 halaman pertama lumayan menyiksa. Aku berulang kali nyaris berhenti, tapi pada akhirnya tetap kupaksakan terus membaca. Isi pikiran si tokoh utama sangat mengganggu. Terlalu banyak perasaan benci. Dan emosinya luar biasa meledak-ledak. Aku sempat membaca Kejahatan dan Hukuman, dan menurutku karakter tokoh utamanya kurang lebih mirip. Keduanya sama-sama terkungkung kebencian akan status miskin mereka, dipenuhi perasaan rendah diri, rasa sakit hati berlebihan atas harga diri yang tergores, dan sama-sama mudah tersulut kemarahan. Secara garis besar hampir sama, hanya saja di buku ini si tokoh utama tidak sampai menghabisi nyawa seseorang.
Ceritanya kemudian menjadi sedikit lebih menarik ketika tokoh Liza dimunculkan. Buah-buah pikiran si tokoh utama mengenai profesi Liza, tentang bagaimana nantinya gadis itu mungkin akan berakhir, kebejatan sikap si tokoh utama terhadap gadis itu yang sangat bertolak belakang dengan ucapan dan isi pikirannya, semuanya terasa miris. Sayang, kehadiran cinta tidak cukup memberi dampak signifikan terhadap si tokoh utama. Itu pun kalau benar dia bisa menumbuhkan perasaan cinta di dalam dirinya. Tidak ada yang berubah dan tidak ada yang menjadi lebih baik. Sayang sekali.
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,497 reviews305 followers
June 21, 2024
Buku klasik ini terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama berisikan filosofi keluh kesah dan kemarahannya pd sesamanya yg dianggapnya bodoh. Aku gak mengerti duduk persoalannya, ini sama saja ky mendengarkan orang gila dan depresi sedang curhat.

Bagian kedua masih lumayan mending tapi tetap dgn gaya kemarahan yg filosofis dan menggurui. Tapi masih ada percakapan dgn koleganya dan juga dgn seorang wanita pelacur bernama Liza. Menurut saya sih kebanyakan omongannya author ini omongan yg gak bernas, menghakimi perempuan. Kelihatan sekali hubungannya dgn koleganya juga tidak baik krn saat dia menunggu satu jam dan tidak diberitahu langsung saja murkanya melonjak ke tingkat kulminasi.

Buku ini adalah pertama kalinya saya baca dari author dan apesnya saya gak cocok. Entahlah nanti kalau saya baca bukunya yg terkenal spt Crime and Punishment dan The Karamazov Brothers. Nanti ajalah dipikirkan.
Profile Image for Akaigita.
Author 7 books246 followers
July 6, 2024
Buku kedua Dostoyevsky yang kuselesaikan.

LOL lumayan banget selagi baca ini bisa nulis 6000 kata cerita romansa dewasa. Gak nyambung? Memang nggak. Tapi asyik aja bacanya, apalagi bagian pertamanya, isinya cuma orang tanpa nama yang ngedumel. Hal-hal yang didumelin tokoh utamanya ini di masa sekarang sudah ada namanya dan dipelajari dengan serius, tapi di masa beliau masih misterius tampaknya.
Profile Image for Septyawan Akbar.
125 reviews14 followers
December 8, 2020
Membaca buku ini untuk kali kedua, dan akhirnya memahami secara utuh. Menyedihkan, membuat saya putus asa, namun simpatik sekali dengan karakter utama, berharap dia mendapatkan sedikit kebahagiaan yang bisa dia genggam, namun sayangnya tidak terjadi.

Dostoyevsky memulai sebuah sejarah panjang karakter anti-hero yang begitu kita gandrungi dari fiksi abad 21 melalui novellete ini. Nilai 4 diberikan untuk kedalaman cerita, dan simpatik terluas kepada karakter utama, namun gumaman dan kebingungan yang saya dapatkan di awal cerita mengurangi apresiasi penuh akan novellete ini.
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
935 reviews30 followers
May 20, 2019
lumayan menyenangkan ternyata, ada banyak hal tentang kehidupan yg diajarkan dari sebuah catatan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,709 reviews115 followers
November 23, 2021
91 - 2021

Satu-satunya hal yang bikin saya rasanya lamaaaa banget membaca buku ini adalah ceritanya panjang dan setelah berpuluh halaman baru berjeda. Tipe yang rasanya capek banget bacanya :D

Profile Image for Noel .
4 reviews
September 9, 2026
Ini pertama kali aku baca buku yang seruwet itu, se oversharing itu, seyapping itu. Bener-bener pertama kali aku bingung sama isi buku di halaman-halaman pertama. Aku sampe tanya ke diriku sendiri, ini emang aku yang goblok atau emang isinya susah dipahami?
Profile Image for Fikri.
11 reviews1 follower
February 22, 2019
Saya baru membaca dua buku karya Dostoevsky, yaitu Crime and Punishment (CAP) dan Notes from Underground (NFU). Dari situ saya memutuskan untuk menjadi penggemarnya. Dostoevsky selalu berhasil memukau saya dengan karya-karya nya (padahal baru dua yang dibaca :p).

Hal yang menjadi ciri khas Dostoevsky (dari 2 karya yg sudah saya baca) mungkin adalah kegemarannya bermain di dunia personal. Ketika CAP mengedepankan pikiran Raskolnikov, NFU mengedepankan si tokoh tak bernama dengan curahan hatinya. NFU dibagi ke dalam dua bagian utama. Bagian I – Underground, adalah bagian tanpa plot, lebih mirip esai pemikiran. Dimulai dengan pengakuan “I am a sick man... I am a spiteful man”, si tokoh tak-bernama (yang mungkin adalah cerminan Dostoevsky sendiri, mungkin juga tidak), memulai pemaparan serta pemikiran kesana kemari mengenai eksistensi dirinya, mengenai kesadaran dirinya, hingga pandangannya terhadap manusia umumnya. Bagian II – On the Occasion of Wet Snow, adalah bagian berplot. Sama seperti pada bagian I, bagian II ini dibuka dengan pengakuan kelam mengenai diri si tak bernama, “I was twenty four at the time. My life was already then gloomy, disorderly, and wildly solitary.”

NFU tidak mengedepankan kejadian atau hubungan antar tokoh. NFU adalah tulisan yang sangat “anti-sosial” menurut Saya. Si tak-bernama begitu memandang rendah, begitu bencinya pada manusia lain dan pada sistem kehidupan. Karya ini mengekstraksi pemikiran manusia jauh ke dalam hingga ke batas ekstrem. Bisa dibilang Dostoevsky merupakan sastrawan yang karya-karyanya sangat dekat dengan pemikiran eksistensialisme (walaupun para eksistensialis sendiri masih banyak berdebat soal ini). Bahkan Nietzsche menyatakan bahwa Dostoevsky adalah “the only psychologist from whom I have anything to learn”. Begitu pula Albert Einstein yang juga sangat mengapresiasinya dengan pernyataannya, “Dostoevsky gives me more than any scientist, more than Gauss”.
Profile Image for Solaceluby .
29 reviews
June 6, 2026
Jujur, ada sesuatu yang menarik sekaligus bikin kasihan waktu melihat karakter protagonis di buku ini. Dia adalah manusia yang tersiksa dan penuh kontradiksi, tapi uniknya bisa menertawakan ketidakberdayaan dirinya sendiri tanpa merasa sok penting. Sangat mudah untuk berempati dengan kutukan yang dia bawa: memiliki kecerdasan tanpa kekuatan, keinginan tanpa sarana, dan sialnya, dia sadar penuh akan hal itu. Kesadaran yang berlebihan inilah yang menurut Dostoevsky malah membawa orang cerdas ke jalan buntu. Hidup jadi terasa absurd, kehilangan pijakan, dan ujung-ujungnya terjebak dalam ketidakaktifan serta kebosanan eksistensial yang akut.

Melihat dia "menelanjangi" boroknya di depan kita rasanya bikin tersenyum kecut. Demi mempertahankan kehendak bebas dan kemerdekaan mutlak, dia menolak tunduk pada akal sehat—bahkan siap ngotot kalau 2 + 2 = 5. Ini adalah pemberontakan total melawan kodrat, di mana dia sengaja menyiksa diri sendiri, bersikap kejam, sekaligus mempermalukan diri. Hebatnya, dia justru menemukan kenikmatan di dalam penderitaan dan kubangan rasa kasihan pada diri sendiri itu, meskipun setelahnya dia bakal membenci dirinya lagi dalam siklus yang nggak ada habisnya.

Namun, begitu masuk ke bagian kedua, semua argumen filosofis tadi langsung terasa seperti parodi yang getir. Kita akhirnya sadar bahwa ego besarnya itu cuma kedok dan delusi untuk menutupi kenyataan bahwa dia nggak bisa mencapai apa pun di dunia nyata. Dia hanyalah seorang pengecut yang membenci dirinya sendiri, lalu melampiaskannya dengan cara membenci seluruh dunia. Pada akhirnya, rasa penasaran kita berubah jadi rasa iba yang mendalam. Kita dibuat kasihan melihat penderitaannya akibat egoisme akut, ketidakmampuannya untuk mencintai, dan kebutuhan anehnya akan penghinaan orang lain demi menebus rasa bersalah. Tragisnya, semua sabotase diri ini lahir cuma karena satu hal: dia nggak tahu bagaimana caranya untuk benar-benar hidup.
8 reviews
March 5, 2019
Buku ini merupakan salah satu buku terberat yang pernah ku baca. Bentuk fisiknya sendiri hanya 173 Halaman, tapi isinya bisa sangat dalam (bukan luas). Tema utama dari buku ini kupikir adalah pertentangan dan keraguan, sebuah konsep psikologi yang timbul dari seorang tokoh pesakitan introvert tulen yang terbentuk karena kehilangan sosok keluarga dan aku sangat mengerti hal ini. Hal ini juga pernah kubaca dalam buku lainnya yaitu tentang "Teori keterikatan menghindar." Berbekal dari Teori tersebut lalu membaca buku ini seperti melihat praktik langsungnya, tidak semua terjadi padaku pastinya, tapi ada beberapa yang tidak terelakkan sama.
Buku ini terbagi menjadi 2 Bagian yang saling isi.

Bagian 1
Di bagian ini kita akan dibawa pada paradigma/"mindset" dari tokoh utama tanpa nama disini. Sejujurnya perkataannya tentang kejengahannya terhadap orang disekitarnya kadang pula kurasakan terutama tentang manusia-manusia penjilat dan kearoganan seorang berpangkat dan berseragam. Lalu bagaimana pikiran terkejinya untuk terus mendominasi orang lain tetapi setelahnya malah menimbulkan penyesalan juga kadang sangat mirip dengan kehidupan sehari-hariku jika tak boleh ku anggap 'kita', ya, pada suatu ketika tentu kita sangat ingin untuk memenangkan sesuatu dengan cara apa, tapi bisa jadi setelahnya kita menyesal sejadinya karena menjadikan yang kalah sebagai pecundang di mata publik. Begitu pun ada beberapa kutipan yang sangat menarik dalam pemikiran fyodor dalam buku ini seperti:
1. Bukan saja jadi orang yang kesal, aku bahkan tidak tahu caranya untuk menjadi apa pun jua, baik jadi orang yang kesal maupun yang ramah, jadi bajingan atau orang jujur, jadi pahlawan atau seekor serangga. (Sebuah pernyataan yang sangat paradigmatis menurutku, karena dalam pernyataan itu tersirat bahwasanya beberapa diantara kita benar-benar yakin telah menjadi apa, dan menutup segala kemungkinan bahwa dia bukan seperti yang selama inj dipikirkan).
2. Aku sudah berkali-kalo mencoba untuk menjadi serangga, tetapi bahkan untuk jadi itu aku tidak sanggup. (Sebuah sarkasme untuk para manusia yang rela menjual kemanusiaannya demi memenuhi kepentingan pribadi bahkan untuk menjadi 'serangga' sekalipun).
3. Kenapa pada saat aku, ya, persis pada saat aku paling sanggup merasakan setiap kehalusan semua yang baik dan indah, seperti dulu pernah dikatakan orang, kenapa justru pada saat itu, seperti direncanakan, aku tidak saja merasakan tapi juga sanggup melakukan hal-hal yang buruk
(Comfort zone trap, bisa dibilang demikian, kecenderungan untuk menghancurkan diri sendiri ketika kita berada di puncak kesuksesan)
4. Tapi dalam keputusasaan terkandung kenikmatan-kenikmatan yang paling dalam, terutama kalau kita sadar sekali bahwa keadaan kita tidak bisa lagi tertolong. (Banyak hal terasa demikian, penderita kanker yang sudah tahu vonis sisa hidupnya barangkalai lebih bahagia dari kita[semacam kenikmatan dalam kepasrahan]).
5. Manusia wajar mestinya bodoh. (Sebuah judgement yang jenaka)
6. Akibat langsung dari kesadaran adalah kelembaman (Denial tendency)
7. Aku setidaknya bisa menghormati diriku sendiri karena setidaknya aku bisa jadi orang yang malas, setidaknya dalam diriku ada suatu sifat yang positif, yang bisa kuyakini. (Sarkasme tentang hilangnya identitas masyarakat)
8. Ada keuntungan yang paling menguntungkan yang lebih penting dan lebih menguntungkan dari semua keuntungan, untuk kepentingan apa, kalau perlu ia bersedia bertindak bertentangan dengan semua hukum, artinya bertentangan dengan akal, kehormatan, kedamaian, kesejahteraan, pendeknya, bertentangan dengan semua hal yang paling menguntungkan dan yang sifatnya fundamental, yang baginya lebih menarik dari segala-galanya.
9. Manusia begitu senang pada sistem dan deduksi yang bersifat abstrak sehingga ia siap setiap saat untuk merusak kesaksian inderanya hanya untuk membenarkan logikanya(individualistis).
10. Yang diinginkan manusia hanyalah pilihan bebas, dan hanya iblis yang tahu pilihan apa itu.
11. Kemauan bebas yang macam mana lagi yang tersisa kalau kita sudah sampai menabelkannya dan menyesuaikannya dengan ilmu hitung, jika ia sudah menjadi sesuatu yang sama dengan 2x2=4, 2+2=4 tanpa kemauanku, seolah kemauan bebas berarti itu.
12. Apa bukan mustahil ia begitu mencintai perusakan dan kekacauan karena secara naluri ia takut mencapai sasarannya dan menyelesaikan bangunan yang sedang ia kerjakan? Siapa tahu bangunan itu hanya ia cintai dari jauh, dan tidak ia cintai dari jarak dekat, siapa tahu di hanya ingin membangunnya, tetapi tidak ingin tinggal di dalamnya, dan membiarkannya begitu selesai.
13. Manusia makhluk banyak tingkah dan berubah-ubah, dan barangkali, seperti seorang pemain catur, mencintai proses permainan dan bukannya tujuannya sendiri.
14. Sebuah otobiografi yang sejati adalah tidak mungkin dan bahwa manusia bagaimanapun juga akan berdusta tentang dirinya sendiri.
Dengan segala keraguannya akan hubungan manusia, ia membagi manusia menjadi 2 jenis yaitu si gesit, dan 'Tikus'(yang ia analogikan sebagai dirinya sendiri). Tidak ada yang terbaik dari keduanya dalam pikiran Fyodor. Tikus adalah orang-orang yang memiliki kesadaran/kepekaan sosial yang amat tinggi, disatu sisi ini bisa membuat peradaban yang lebih baik tapi naasnya hal ini hanya dimiliki oleh minoritas, dan oleh karenanya malah mereka sendiri yang tersiksa akan kepekaan ini dan melarikan diri ke lubang mereka masing-masing seperti seekor tikus hina dina. Lalu si gesit sepertinya yang paling buruk pikirku, karena dalam buku mereka diibaratkan banteng yang tetap akan menabrakkan diri pada dinding yang kemudian kusimpulkan bahwa manusia-manusia ini memang cepat bertindak tapi tak pernah berpikir. Lalu terkait matematika kebahagiaan dan keputusan sangat menohok dan relevan hingga sekarang, 2+2 tidak selalu 4 dan hal ini dalam sehari-hari selalu diingkari dan manusia terlalu menuhankan matematika dan hukum manusia. Pemerintah pun menasbihkan dan menasibkan semua warga negara harus melakukan hal-hal yang menguntungkan padahal mereka sendiri suka berbuat sewenang-wenang seperti perang dan pembentukan berbagai kebijakan untuk kepentingan pribadi, sebuah kritik publik yang sangat brilian.
Bagian 2
Di bagian ini kita akan diceritakan latar belakang tokoh utama, bagaimana dia bisa menjadi 'Tikus' karena tempaan lingkungan dari lahir hingga lingkungan kantor yang tak kunjung membaik. Diasuh bukan oleh keluarga kandung lalu dilempar ke sebuah sekolah yang berisi pembully tak pelak menjadikan tokoh utama memiliki kecenderungan psikologi menghindar yang sangat akut bila boleh ku bilang. Tidak memiliki sosok untuk bergantung sejak usia dini, dan tak kunjung menemui cinta baik dari sahabat maupun kekasih hati membuat amarah, kebencian, dan rasa sedihnya membuncah namun terendap. Hal baiknya ia salurkan amarah tersebut kearah yang benar saat sekolah yaitu dengan belajar giat. Lain soal ketika ia dihadapkan pada dunia kerja yang tak semudah sekolah dimana yang pintar yang juara, tidak, tidak, yang berkuasalah yang juara. Kenalan satu-satunya yakni atasannya, Antoni, yang tidak bisa ia temui pada suatu hari ketika jiwa tokoh utama kesepian dan membutuhkan kehangatan bermasyarakat membuatnya berpaling ke teman dekat waktu sekolah yang sekarang tak lagi dekat (Simonov) karena perkara utang. Ia ke rumah Simonov suatu hari tanpa pemberitahuan dan di dalamnya ternyata ada 2 teman sekolah lainnya yaitu F dan R yang sedang membicarakan acara perpisahan Z, tanpa memandang kehadiran Tikus, membuatnya meradang dan memaksakkan diri untuk ikut dalam acara perpisahan itu untuk menunjukkan eksistensinya di ruangan itu walaupun Z adalah mantan musuhnya. Seperti yang diduga, semua berjalan dengan berantakan, Tikus merasa tertipu karena jam pertemuan diundur tanpa sepengetahuannya dan memaksanya untuk menunggu teman-temannya 1 jam lebih awal, dan hal ini diperparah dengan jawaban Simonov bahwa ia lupa dan tak mau minta maaf. Lalu minumlah Tikus ini dengan bergelas-gelas anggur dan mabuklah ia lalu melantur dan sempat mengajak berkelahi F tapi ditinggalkan oleh gerombolan temannya pada akhirnya, bagian yang agak menyedihkan ketika Tikus meminjam uang kepada Simonov dengan setengah mengancam lalu diberikan uang itu seperti memberi pada pengemis lalu pergi bersama gerombolannya.
Tikus yang mengamuk karena diperlakukan demikian ditambah efek mabuk berusaha mengejar gerombolan tadi menggunakan kereta luncur, menyumpah serapah sepanjang jalan dan sempat memukul sais dengan tinjunya.
Lalu sampailah Tikus ke 'Rumah penjahit' yang direncanakan gerombolan tadi, tapi ia tak menemukannya di sisi manapun, yang ada hanyalah lilin setengah padam dan sesosok wanita bernama Liza (Pramuria). Tikus yang pusing berat akhirnya terlelap dalam ruangan itu sekitar 2 jam lamanya, lalu ketika membuka mata ia dapati Liza menatapnya heran dalam kegelapan ruang karena lilin telah benar-benar padam, lalu dimulailah percakapan mereka tentang pedihnya hidup sebagai PSK, Tikus menceramahi habis-habisan kehidupan PSK, menganjurkan liza keluar secepat mungkin dari 'Rumah Penjahit' itu dan mengejar kehidupan yang lebih layak, Liza hanya bisa mendebat sebisanya lalu menangis adalah jawaban akhirnya. Berhenti menangis Liza memeluk Tikus sembari berujar terima kasih sebelum Tikus pergi. Lalu Tikus meninggalkan alamatnya ke Liza agar suatu hari ia mau mengunjunginya.
Lalu hari yang ditunggu pun datang, dengan keadaan sedang perang dengan Apollon si pembantu Tikus yang keras kepala dan menyebalkan, Liza masuk pada hari yang tidak tepat, setelah berujar bahwa ia akan keluar dari dunia PSK, Tikus benar-benar berang waktu itu, ia benar-benar jijik mendapati Liza benar-benar datang, bukan jijik pada Liza, tapi jijik pada dirinya sendiri yang kemarin hari menjadi pahlawan tapi sekarang berdiri bergidik mendapati orang yang ia selamatkan masuk kedalam lubangnya yang kotor dan miskin. Ia benar-benar membenci kemiskinannya sampai-sampai melampiaskannya pada Liza dengan menghinanya habis-habisan, berbeda dengan sebelumnya kini ia yang menangis. Lalu dipeluklah ia oleh Liza tapi Tikus tetap mengusirnya, mungkin ini bisa diterima menurutku oleh Liza, tapi membekali Liza dengan uang 5 rubel lah yang membuat Liza benar-benar tersinggung, tak ubahnya memperlakukan Liza seperti PSK seperti yang dulu-dulu. Lalu menghilanglah ia ditelan malam, dan Tikus mencarinya kesana kesini hanya untuk kembali ke rumahnya dengan tangan hampa, lalu terjerembablah ia pada keputusasaan seperti kemarin.
This entire review has been hidden because of spoilers.
3 reviews
June 16, 2026
100000/10 NOVEL TERBAIK YANG PERNAH GUA BACAAAA FR FR #LiteraturFilosofi, novel ini merupakan studi karakter tentang pria (Underground Man) yang memilih menjauh dari masyarakat karena dia terlalu pintar dan peka, sekaligus si Manusia Bawah Tanah ini takut mengahadapi realitas. Novel mahakarya satu ini kaya akan emosi dan diksi yang membuat novel ini terasa begitu personal. Melalui novel ini menurut gua Fyodor mencoba menyampaikan "Terlalu mengejar kesempurnaan moral justru akan menjadi kejatuhan kita", meskipun kalo di bedah novel ini memiliki banyak makna meskipun novel ini hanya memiliki 180halaman.

(Berdasarkan Opini Pribadi)
21 reviews
April 5, 2024
nggak tahu ini bisa disebut normal atau nggak, tapi aku merasa THIS BOOK IS SO FUNNY WKWKW aku betulan tertawa in literal way karena… keserampangan & kekonyolan tokoh aku (underground man). boleh nggak, sih, aku mengomentari (konon katanya) novel eksistensialis pertama ini macam gini? LOLZ

notes from underground (selanjutnya kusebut NFU) cukup tipis, terbagi jadi dua bagian. bagian pertama berisi narasi dari tokoh aku, kelihatan semacam esai pendek. ia bercerita dengan penuh self-hatred & menyamakan dirinya dengan cacing, kecoak, dan tikus. bicara kalau ia adalah mantan pegawai negeri berumur 40 tahun & kini hidup berbekal warisan.

ia hidup mendekam di bawah tanah, semacam metafor untuk perilaku menarik diri dari masyarakat sbg individu yang terasing & terisolasi scr ekstrem. underground ini adalah antitesis dari crystal palace, suatu utopia gambaran ruang hidup ideal masyarakat yang diuraikan nikolai chernyshevsky. NFU menjadi novel tandingan merespons gagasan utilitarianisme & utopianisme di novel chernyshevsky tsb yang berjudul what is to be done?

oh, pembuka novel ini sangatlah cakep dgn awalan yang sgt frustating WKWKWK (sejauh ini kunobatkan sbg opening menarik & kuat setelah the stranger milik camus): Aku orang yang sakit... Aku orang jahat... Aku orang yang tidak menarik.

hyper consciousness, will, & destructive advantages

setelah kesana-kemari mencari analisis NFU buat memahami layar-layer makna baru di novel ini, aku menemukan kalau NFU lewat tokoh aku menyoal sejumlah gagasan. utamanya soal kesadaran (tokoh aku punya self-aware tinggi atau istilahnya hyperconsciousness), kehendak (will), dan keuntungan merugikan (destructive advantages).

apakah manusia yang diberikan keinginan untuk bebas (free will) bakal mutlak membikin pilihan yang nggak mencelakakan & nggak menentang nalar? underground man bilang kalau kadang kala hasrat manusia lebih memilih untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri, seperti melukai atau merusak hubungan sosial, hanya untuk memuaskan ego atau membuktikan kuasa atas keadaan.

mungkinkah dia juga menyukai penderitaan? mungkinkah penderitaan sama menguntungkannya dengan kesejahteraan? kadang manusia bisa sangat menyukai, bahkan sampai keranjingan, pada penderitaan, dan itu adalah fakta. -hlm 50


will yang terberi ini alih-alih membuat tokoh aku mengalami hyperconsciousness. ini membawanya pada siklus pemikiran yang obsesif dan menjadi terlalu sensitif akan banyak hal (jadi stoicism-ish dah).

tokoh aku terus-menerus merenungkan tindakan-tindakannya & mempertanyakan motif di balik setiap langkah yang ia ambil. kesadaran ini membuatnya terjebak dlm keputusasaan & kebingungan. he even complained about the most unnecessary things!!!

ia pernah tersinggung gara-gara seorang perwira nggak sengaja menyenggol bahunya di jalan & bermula dari itu ia pengin melayangkan balas dendam LOLZ ia merasa itu adalah bentuk penghinaan terhadap martabat dan harga dirinya.

tokoh aku melulu merenungkan secara berlebihan tindakan-tindakan kecil yang dilakukan orang lain jg merasa terganggu oleh norma-norma sosial yang dianggapnya mengikat & membatasi kebebasannya. keluhannya ini menunjukkan kegagalannya untuk dipahami masyarakat.

meskipun tokoh aku secara teoritis mengklaim bebas untuk bertindak sesuai keinginannya sendiri, ia sebenarnya terjebak dlm paradoks. ia ingin membebaskan dirinya dari norma-norma sosial dan aturan-aturan yang mengikat, tetapi pada saat yang sama, ia merasa terikat oleh dorongan yang nggak dapat dia kendalikan. ia terjebak dalam konflik internal antara keinginan untuk kebebasan dan keinginan untuk diterima masyarakat.

di NFU, tokoh aku membagi orang dengan kesadaran tinggi dengan orang normal. jikalau dihadapkan dengan perandaian tembok sebagai tatanan alam & moral, tokoh aku nggak meyakininya & menyangkalnya. tetapi lain dengan orang normal yang akan dgn mudah berlutut di hadapannya.

inferiority complex & self hatred

bagian paling lucu adalah saat si tokoh aku tantrum segala macam & bicara bak pidato dengan cacian panjang lebar ke liza, seorang pelacur yang ia temui. manapula cuma direspons liza: KAMU KAYAK LAGI BACA BUKU LOLZ

si underground man menciptakan citra idealis dari dirinya sendiri saat berinteraksi dengan liza. ia menggunakan hubungannya dengan liza untuk memproyeksikan idealisme dan harapan tentang bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain, yaitu sbg sosok yang bermartabat & cerdas.

ia juga merasa nggak mampu untuk dicintai atau dihargai oleh siapapun & ini membikin sikap defensif dan berjarak dari orang lain, termasuk ke liza. meskipun ia tertarik dgn liza, kebencian terhadap dirinya mendorongnya untuk menolak hubungan yang mungkin membawa kebahagiaan atau pemenuhan emosional.

NFU sangatlah gelap, tapi ending-nya sepadan & sangat sangat sangat cukup.

BTW susah bgt nge-review novel ini HELP WKWKW
Profile Image for Mellita.
3 reviews
August 21, 2020
Catatan dari Bawah Tanah membisikkan suara manusia yang telah menarik diri dari lingkungan masyarakat masyarakat setelah mengorbankan cinta dan bakatnya. Karya sastra yang menyoroti relung-relung kejiwaan secara falsafi ini menampilkan tokoh seorang pemuda yang peka, yang merasakan penolakan dari lingkungan kehidupannya, padahal ia merasa lebih unggul dalam intelegensi. Karena kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai, ia pun mengobarkan cita-citanya dengan tujuan despotisme.

Buku ini adalah sebuah novela yang diterbitkan pada tahun 1864. Karya ini dianggap sebagai salah satu novel eksistensialis pertama (Kauffman, Walter 1956). Eksistensialisme menurut KBBI adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar. Dalam pemahaman seorang eksistensialis, seorang individu bermula pada apa yang disebut sebagai sikap eksistensial, yaitu semacam perasaan disorientasi, bingung, atau ketakutan di hadapan sebuah sebuah dunia yang tampaknya tidak berarti atau absurd (Solomon, Robert C. 1974).

Sesuai dengan pernyataan di atas novel ini berkisah tentang seorang narator pria tanpa nama berusia sekitar 40 tahun. Pada bagian pertama ia menceritakan hidupnya yang serba terkungkung dan kebingungan. Ia tidak bisa menjadi orang yang kesal, pun menjadi orang yang ramah. Ia tidak bisa menjadi pahlawan, pun menjadi seekor serangga. Ia pun diliputi kegalauan karenanya. Sehingga ia tidak dapat melakukan sesuatu apa pun tanpa memikirkannya secara berlebihan. Ia menginginkan kebebasan namun tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupannya yang serba teraturlah yang menjanjikan keamanan.

Dua kali dua ada empat bagiku tak lebih dari suatu keangkuhan. Dua kali dua ada empat adalah pesolek tidak sopan yang menghalangi jalan kita dengan berpangku tangan sambal meludah. Kuakui bahwa dua kali dua ada empat adalah hal yang bagus sekali, tapi sekiranya kita ingin memberikan kesempatan pada semuanya, maka dua kali dua ada lima kadang-kadang juga bisa sangat menarik (halaman 39).

Di bagian dua narator berkisah tentang masa mudanya yang terasing. Ia merasa tak memiliki kawan. Ada mungkin hanya satu, dan tidak lagi berhubungan dengannya. Untuk melakukan pembuktian diri, ia berniat untuk melakukan suatu balas dendam dengan mempermalukan kawan lamanya yang saat itu menjadi seorang perwira. Namun semuanya gagal. Dia hanya melakukan kekonyolan demi kekonyolan yang malah mempermalukan dirinya sendiri, dan membuatnya lebih diacuhkan.

Saat ia berusaha untuk mengembalikan harga dirinya, ia bertemu seorang pelacur bernama Liza. Dia berceramah tentang kehidupan dan menasehati Liza betapa rendah dan salah cara hidupnya. Ia ingin Liza memandangnya sebagai seorang penyelamat. Meski di dalam hati ia sendiri tidak yakin atas apa yang diucapkannya tersebut, selalu berkebalikan dengan apa yang dilakukannya.

Banyak terdapat kontradiksi pada kisah ini. Di satu sisi narator memang memiliki pemikiran-pemikiran bijaksana yang membuat saya terkesan. Seakan dia memiliki dua sudut pandang atas hal-hal yang ia pikirkan secara mendalam. Namun saat ia harus berhadapan dengan orang lain, hilang sudah kebijaksanaan tersebut, digantikan oleh kelakuannya yang konyol dan memuakkan.

Termasuk salah satu novela berat bagi saya karena tidak mudah untuk mendalami dan mengerti karakter aku dengan segala pemikirannya.

NB :
Novela : kisahan prosa yang lebih panjang dan lebih kompleks daripada cerita pendek, tetapi tidak sepanjang novel, jangkauannya biasanya terbatas pada suatu peristiwa, satu keadaan, satu titik tikaian; novelet (KBBI)

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fathiyah Azizah.
110 reviews35 followers
March 8, 2020
Catatan dari bawah tanah berisi penjabaran kerumitan gejolak jiwa selama hidup dari seorang lelaki berumur 40 tahun. Di bagian pertama, lelaki ini mendeskripsikan segala yang ia rasa dari orang-orang di lingkungan pekerjaan dan juga masyarakat pada umumnya. Lelaki ini muak dengan segala tindakan manusia yang menabrak naluri fitrah. Ia bersedia untuk mengingkari kesaksian inderanya hanya untuk membenarkan logikanya. "Lihat saja sekitar Anda, darah ditumpahkan bagai pancuran. Apa anda tidak lihat bahwa tukang bantai yang paling cakap adalah justru orang yang paling beradab." (27)


Lelaki ini merasa putus asa. "Manusia senang mengingat-ingat kesusahannya tapi tidak mau mengingat kesenangannya." (113). Mengacu pada inilah, lelaki ini menguak secara detail apa yang ia pikirkan. Pikirannya pun sangat rumit, tak seperti manusia pada umumnya. Lelaki ini sangat kritis menanggapi segala sikap orang di lingkungannya. 


“Aku orang sakit. Aku seorang yang terkutuk. Lelaki yang tak menarik. Hatiku sakit. Sebenarnya, aku tak tahu apa-apa mengenai sakitku, dan tak yakin apa yang menyebabkan sakit.” (1)

Kalau menurutku, dia ini tidak bisa berseni "masa bodoh", apa-apa ia pikirkan, over thinking bisa dibilang, apa-apa yang tidak menyenangkan menurut dia harus dibalas setimpal. Jadi jujur baca buku ini agak geregetan, segala tindakannya selalu berdasar pada sikap orang. Ya capek lah, dan wajar saja sampai dia melepas semua pekerjaannya dan juga cintanya, bahkan seluruh hidupnya menuju bawah tanah. Yahh mungkin maksud penulis ini mengkritik jurang kelas sosial di zamannya yang. Lelaki ini berada di kelas bawah, ia muak dengan orang-orang angkuh di kelas atas. Ia muak dengan menjilat demi kehormatan orang bawah. Dia pun benci terhadap orang-orang yang tak mengakui adanya hal romantisme atau kepekaaan rasa, kebanyakan orang terpaku pada hal-hal realistis dan hukum yang kaku. Dia merasa tak ada seorangpun yang bisa menerima keganjilan dia.


Dan pada akhirnya kusimpulkan, kita ini terikat kuat pada masyarakat sosial. Sering kali kita jumpai hal-hal tak mengenakkan dari standart kebanyakan masyarakat. Dari sinilah, untuk menjaga kewarasan, boleh sih kita merasa, tapi jangan sampai kita terhisap kuat ke dalam lubang hitam perasaan. Jabarkan saja lewat tulisan, setelah itu letakkan, lupakan. Dibikin enjoy saja, hidup ini sekali.
Profile Image for Astala.
104 reviews
February 12, 2023
Catatan dari Bawah Tanah
by Fyodor Dostoevsky

⭐4,8
Buku yang didalamnya terdiri dari 2 cerita. Dimana membahas mengenai eksistensialisme (?) dari 2 tokohnya yang juga menjadi pencerita dalam buku ini.
*sudut pandang yg menarik (untukku)!

Cerita pertama yg terdiri dari 11 bagian.
Membahas mengenai makna 'kebebasan' yg mana sekarang banyak manusia yg tidak memilikinya. Selain itu juga mengenai perubahan² manusia dimana perubahan baiklah yang hanya dianggap membawa keberuntungan bagi manusia.

*Dibagian 9 pada cerita pertama ini ada 2 kalimat yg aku suka, yaitu
"Penderitaan ialah sumber kesadaran satu-satunya". 
"Biarpun reaksioner sekali, hukum bunuh lebih baik dari pada tidak dihukum sama sekali"

Cerita pertama ini, (menurutku) fokus permasalahan terletak pada sosok 'aku' yang melepaskan segala kegemilangan yg ada dan/ ditawarkan kepadanya karena dia merasa itu bukan 100% usahanya sendiri.

Disini sosok 'aku' menjelaskan ke'pesimisan'nya. Dia yg memilih hidup dibawah tanah dengan segala suara yg dipendamnya, perasaan iri (?) akan sesuatu yg sebenarnya dapat digapainya dan kemampuan yg dimilikinya. Dia yang lebih memilih melepaskan segalanya dan menjadi 'biasa-biasa' saja dengan setitik perasaan yang ingin juga diperhatikan/didengar/dibaca ceritanya

...

Cerita kedua, bukan lagi mengenai orang yg memilih untuk tidak jadi siapa² asalkan tidak berpangku/atas bantuan orang lain. Melainkan mengenai seseorang yang memilih merusak cintanya (?). 

Menceritakan mengenai rasa kesepiannya si sosok aku. Hidup tokoh 'aku' yg sendiri, terkucilkan, dan kesepian nyatanya itu berasal dari dirinya sendiri. Bagaimana ia bersikap dan bersifat kepada sekelilingnya, bagaimana ia menilai orang lain.

*menurutku dia terlalu berfikir negatif terhadap orang, dan itu mengesalkan😬

Sifat iri, dengki, dendam dan congak serta pongahnya sosok 'aku' ini membuatnya kehilangan semua orang terdekatnya. Mulai dari kawan, wanita dan bahkan pekerja dirumahnya. Rasa kesepian yg diciptakannya sendiri dan menyalurkan segala rasa iri dengan memusuhi orang lain membuat sosok 'aku' menjadi orang yg benar² miris dan sungguh (aku) mengkasihaninya.

*Cerita kedua ini cukup plottwist buatku sendiri
...

Buku yang sangat bagus (sekalipun aku cukup dibuat mikir bacanya) ♡.
Profile Image for Tamira Bella.
190 reviews
October 5, 2025
Catatan dari Bawah Tanah merupakan karya Fyodor Dostoevsky pertama yang saya baca, sebagai pembaca yang biasanya membaca karya Marcus Aurelius dan Socrates, meski pada awalnya sedikit di luar zona nyaman, ternyata saya bisa pula menikmati karya buku yang disebut sebagai fondasi awal sastra eksistensialis ini.

Buku ini menampilkan suara seorang tokoh yang tidak disebutkan namanya, pria tersebut merupakan seorang pria pensiunan pegawai negeri yang penuh kegelisahan, marah, sekaligus getir terhadap hidup dan dirinya sendiri. Ia hidup terisolasi, memilih bersembunyi di “bawah tanah” baik secara fisik maupun batin, sembari melontarkan pemikiran tajam yang terasa menyakitkan, bahkan untuk dirinya sendiri.

Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama penuh dengan renungan filosofis yang mematahkan optimisme rasionalisme abad ke-19. Dimana si tokoh utama menolak gagasan bahwa manusia bisa sepenuhnya diatur oleh logika, baginya, justru kebebasan manusia tampak dalam pilihan-pilihan irasional, bahkan ketika pilihan itu merugikan diri sendiri.

Bagian kedua lebih naratif, menampilkan interaksi tokoh dengan orang lain, yang memperlihatkan sisi rapuh, kesepian, sekaligus keras kepala dari “manusia bawah tanah” ini.

Gaya kepenulisan yang menusuk, penuh ironi, seolah menjadi letak kekuatan buku ini. Tokoh yang sinis ini seakan memaksa kita bercermin, mempertanyakan motif terdalam manusia: apakah kita sungguh rasional, atau hanya makhluk yang mencari-cari alasan untuk membenarkan kehendak bebas yang kita miliki.

Buku yang "berdaging" dimana awalnya mungkin terasa berat, namun ketika saya mulai menyelami tiap lembar yang ada, seolah Dostoevsky sedang membukakan ruang refleksi yang dalam tentang kebebasan, kesepian, dan absurditas hidup.

Rate: 3,7/5
14 reviews1 follower
February 4, 2020
satu bintang untuk part 1, 4 bintang untuk part 2

pertama baca pake bahasa inggris, saya pikir mungkin karna kendala bahasa nih saya nggak dapet alurnya. lalu saya baca yang terjemahan. ternyata tetap sama, saya nggak bisa ngikutin alur pada part 1 yang begitu mudah menclok ke sana dan sini. lalu setelah lelah baca separuh part 1 dan tidak mendapat apa-apa, saya mulai putus asa melewatkan beberapa paragraf, lalu sampailah saya ke part 2 yang mempesona.

seperti saat membaca karya Fyodor sebelumnya, Crime and Punishment, emosi saya pun ikut menjadi gelap sejadi-jadinya seakan saya yang have a bad day. gaya Fyodor menguak perasaan tokohnya selalu works on me.

pada bahasan pertama tentang "Siapa yang Menghindar" saya terpukau dengan ide ceritanya. bagaimana ia ingin dilempar keluar jendela hanya untuk merasa bahwa orang lain tau bahwa dia ada. I can feel it some how

bahasan kedua tentang "Pesta Miras", saya merasa tertekan dan naik darah. saya tidak habis pikir, sekeras itu usaha dia agar disadari kehadirannya. saya merasa sakit seakan ada disana. lalu terbayanglah hal-hal nggak masuk akal yang pernah saya lakukan untuk mempertahankan harga diri saya, saya pikir semua orang pernah melakukannya.

saat membaca, saya sering tertawa ringan karna kelakuan dia yang nggak masuk akal namun bisa diterima akal itu. saat saya siap merasa gelap, saya pikir saya akan membaca karya Fyodor yang lain

*bagian lainnya sengaja nggak dibahas
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,145 reviews18 followers
June 16, 2022
Novela yang cukup membuat saya harus membacanya secara pelan karena banyak kalimat yang dijelaskan sangat kompleks. Selain itu, ceritanya dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah ketika narator bercerita sendiri dengan cara menulisnya di dalam catatan. Ia berumur empat puluh tahun dan merasa asing kepada dunia luar karena kondisi di sana yang tidak sesuai dengan pemikirannya, sehingga ia lebih suka berada di dalam ruang bawah tanah tempat tinggalnya. Bagian kedua, bercerita tentang narator yang masih berumur awal dua puluhan dan bekerja di kantor pemerintahan. Di sini, ia berinteraksi dengan beberapa teman sekantornya dan dirasa ia memiliki sikap yang egois dan ingin menang sendiri. Setelah itu, ia bertemu dengan seorang gadis secara tidak sengaja. Pertemuan dengan gadis tersebut ternyata membuatnya jadi banyak berbicara dan seperti memberi petuah tentang arti hidup. Lantas, si gadis pun jadi tertarik kepadanya; dan beberapa hari kemudian, si gadis mendatangi tempat tinggalnya.

Dari cerita ini, saya jadi bisa merasakan kondisi psikologis dari si narator yang merasa terasing dari dunia luar dan orang-orang di sekitaranya. Namun, ternyata ia juga memiliki sikap bijak ketika berbicara dengan orang lain.
Profile Image for Rizky Fajar Adipratama.
55 reviews
January 17, 2023
Bukannya apa, tapi bukunya benar-benar tentang orang yang kesakitan dan menulis, seperti kebanyakan penulis. Penulis memang lebih sering merasa kesakitan secara mental daripada pekerjaan lain. Namun, tetap saja bukunya sungguh mengganggu, walapun sangat nyata karena semuanya adalah realita. Bukunya tidak indah, tidak juga tenang, tapi begitulah hiudp yang sesungguhnya, menyengsarakan dan tidak menyenangkan, apalagi penulis, tikus-tikus kecil di bawah tanah yang mencoba mati-matian untuk bertahan hidup dari remah-remah dunia atas. Ketakutan banyak orang akan masa depan Indonesia bahkan bisa kulihat, jika semua hanya bekerja di bidang yang menghasilkan banyak uang, siapa yang akan menjadi petani, penjahit, penulis? Sungguh mengganggu sebenarnya semua anak muda hanya bisa berfokus pada satu hal hanya kurang dari 1 menit sekarang, lama kelamaan mereka semua akan muntah darah untuk menonton film. Menonton Drive My Car muntah darah, menonton drakor yang slow-pace muntah darah, baca buku, ya sudah pasti muntah darah. Semoga saja tidak, tapi mau bagaimana lagi. Seperti kalimat pembuka buku ini, mungkin aku hanya sekadar "Orang sakit, orang pendendam, tidak menarik, dan yakin hatiku mengidap penyakit."
2 reviews
November 4, 2025
Baru selesai setelah didorong 4 cangkir espresso, pengar, dan campuran rasa malu serta lega. Karakter "aku" di umur 25 sangat menggambarkan seorang linglung dengan kondisi dirinya yang kemudian menjadi matang dengan cara yang tidak biasa, namun matang dalam arti kelinglungan itu sudah menjadi bagian yang jelas dalam dirinya; tidak lagi abu maupun terasa janggal kecuali dalam konteks norma sosial pada saat itu maupun saat ini di Indonesia, saya rasa.

Yapping adalah sebagian besar dari buku ini, yang kemudian baru bisa saya lewati dengan pengar dan jantung berdebar sebab kopi yang diminum secara turut menurut. Setelahnya adalah cerita yang menyebabkan ketidaknyamanan karena menggambarkan sisi terbodoh sesesorang lugu atas ketulusannya sampai-sampai konyol dan tidak patut. Juga perasaan bahwa apa-apa yang mungkin mirip dilakukan dengan tokoh utama, yang aku pula lakukan, kemudian memunculkan banyak keinginan untuk berhenti membaca.

Tentu saja, saya beri bintang banyak karena meninggalkan kesan -apapun bentuk dan rasanya- walaupun masih meninggalkan pertanyaan apakah tulisan semacam ini adalah tulisan yang baik dan bagus dalam penilaian menurut kesusastraan yang tidak pula saya benar mengetahui.
Displaying 1 - 30 of 84 reviews