What do you think?


Influence: The Psychology of Persuasion
Influence, the classic book on persuasion, explains the psychology of why people say "yes"—and how to apply these understandings. Dr. Robert Cialdini is the seminal expert in the rapidly expanding field of influence and persuasion. His thirty-five years of rigorous, evidence-based research along with a three-year program of study on what moves people to change behavior has resulted in this highly acclaimed book.
You'll learn the six universal principles, how to use them to become a skilled persuader—and how to defend yourself against them. Perfect for people in all walks of life, the principles of Influence will move you toward profound personal change and act as a driving force for your success.
You'll learn the six universal principles, how to use them to become a skilled persuader—and how to defend yourself against them. Perfect for people in all walks of life, the principles of Influence will move you toward profound personal change and act as a driving force for your success.
320 pages, Paperback
First published January 1, 1984
About the author
Robert B. Cialdini
75 books2,861 followersDr. Robert Cialdini has spent his entire career researching the science of influence earning him an international reputation as an expert in the fields of persuasion, compliance, and negotiation.
His books including, Influence: Science & Practice, are the results of years of study into the reasons why people comply with requests in business settings. Worldwide, Influence has sold over 2 million copies. Influence has been published in twenty-five languages. His most recent co-authored book, Yes! 50 Scientifically Proven Ways to be Persuasive, has been on the New York Times, USA Today & Wall Street Journal Best Seller Lists.
In the field of influence and persuasion, Dr. Cialdini is the most cited living social psychologist in the world today.
Dr. Cialdini received his Ph.D from the University of North Carolina and post doctoral training from Columbia University. He has held Visiting Scholar Appointments at Ohio State University, the University of California, the Annenberg School of
Communications, and the Graduate School of Business of Stanford University. Currently, Dr Cialdini is Regents’ Professor Emeritus of Psychology and Marketing at Arizona State University.
Dr. Cialdini is President of INFLUENCE AT WORK, an international consulting, strategic planning and training organization based on the Six Principles of Influence.
His books including, Influence: Science & Practice, are the results of years of study into the reasons why people comply with requests in business settings. Worldwide, Influence has sold over 2 million copies. Influence has been published in twenty-five languages. His most recent co-authored book, Yes! 50 Scientifically Proven Ways to be Persuasive, has been on the New York Times, USA Today & Wall Street Journal Best Seller Lists.
In the field of influence and persuasion, Dr. Cialdini is the most cited living social psychologist in the world today.
Dr. Cialdini received his Ph.D from the University of North Carolina and post doctoral training from Columbia University. He has held Visiting Scholar Appointments at Ohio State University, the University of California, the Annenberg School of
Communications, and the Graduate School of Business of Stanford University. Currently, Dr Cialdini is Regents’ Professor Emeritus of Psychology and Marketing at Arizona State University.
Dr. Cialdini is President of INFLUENCE AT WORK, an international consulting, strategic planning and training organization based on the Six Principles of Influence.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
July 26, 2022
Perlu memahami watak manusia untuk bisa mempengaruhi manusia.
Poin pertama adalah dengan memahami konsep resiprok. Nyatanya kita lebih mudah membalas "kebaikan" seseorang sehingga proses timbal balik itu terjadi. Maka jika ingin berhasil menggaet sesuatu dari orang lain, berikan terlebih dahulu sesuatu kepada orang lain. Namun ingat, hanya ketulusan yang sifatnya abadi.
Selanjutnya manusia itu cenderung "membeli" ketika sesuatu menjadi langka. FOMO itu benar adanya. Kekhawatiran kita kehilangan kesempatan dan peluang dapat mengalahkan rasionalitas. Soal perlu atau tidak perlu bisa dicari belakangan.
Sesuatu juga jadi lebih menarik, ketika sifatnya terbatas. Tidak semua orang punya. Atau tidak semua orang tahu. Ah, kita terlalu mudah direkayasa sebetulnya.
Pernah dengar suara tawa penonton saat kita menyaksikan sitkom? Itu tentu saja ada maksudnya. Sifat manusia yang butuh social proof adalah alasannya. Kita cenderung lebih meyakini sesuatu ketika orang lain melakukan hal yang sama. Sederhananya, kalau ingin rumah makan kita laris manis, pastikan banyak pengunjung yang datang setiap harinya.
Poin pertama adalah dengan memahami konsep resiprok. Nyatanya kita lebih mudah membalas "kebaikan" seseorang sehingga proses timbal balik itu terjadi. Maka jika ingin berhasil menggaet sesuatu dari orang lain, berikan terlebih dahulu sesuatu kepada orang lain. Namun ingat, hanya ketulusan yang sifatnya abadi.
Selanjutnya manusia itu cenderung "membeli" ketika sesuatu menjadi langka. FOMO itu benar adanya. Kekhawatiran kita kehilangan kesempatan dan peluang dapat mengalahkan rasionalitas. Soal perlu atau tidak perlu bisa dicari belakangan.
Sesuatu juga jadi lebih menarik, ketika sifatnya terbatas. Tidak semua orang punya. Atau tidak semua orang tahu. Ah, kita terlalu mudah direkayasa sebetulnya.
Pernah dengar suara tawa penonton saat kita menyaksikan sitkom? Itu tentu saja ada maksudnya. Sifat manusia yang butuh social proof adalah alasannya. Kita cenderung lebih meyakini sesuatu ketika orang lain melakukan hal yang sama. Sederhananya, kalau ingin rumah makan kita laris manis, pastikan banyak pengunjung yang datang setiap harinya.
March 12, 2023
Pondok Pesantren Nihadlul Qulub - https://pesantrenweb.com/ - memberikan review buku karya Cialdini.
Influence: The Psychology of Persuasion" karya Robert Cialdini adalah:
1. Kepatuhan dan Konsistensi
2. Pengaruh Otoritas
3. Keserbagunaan
4. Kecenderungan Menyukai (Liking)
5. Bukti Sosial
6. Kelangkaan
Kepatuhan dan Konsistensi
Kepatuhan dan konsistensi merupakan salah satu prinsip persuasi yang dijelaskan dalam buku "Influence: The Psychology of Persuasion" karya Robert Cialdini. Prinsip ini menyatakan bahwa orang cenderung lebih mudah dipengaruhi jika permintaan yang diajukan konsisten dengan apa yang sebelumnya telah diminta atau dilakukan.
Ada beberapa cara untuk menerapkan prinsip kepatuhan dan konsistensi ini. Salah satunya adalah dengan meminta komitmen kecil terlebih dahulu. Sebagai contoh, seorang sales bisa meminta calon pelanggan untuk mencoba produk gratis selama satu minggu, dan kemudian meminta mereka untuk membeli produk setelah periode waktu tersebut berakhir. Dengan meminta komitmen kecil terlebih dahulu, pelanggan cenderung akan lebih mudah dipengaruhi untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Selain itu, prinsip kepatuhan dan konsistensi juga dapat diterapkan dengan menggunakan strategi "foot-in-the-door" dan "door-in-the-face". Strategi "foot-in-the-door" mengharuskan seseorang untuk membuat permintaan kecil terlebih dahulu, dan kemudian meminta permintaan yang lebih besar setelahnya. Misalnya, seorang sales bisa meminta calon pelanggan untuk mengisi survei singkat, dan kemudian meminta mereka untuk mengikuti presentasi produk yang lebih panjang. Sementara itu, strategi "door-in-the-face" melibatkan membuat permintaan yang besar terlebih dahulu, dan kemudian menurunkan permintaan menjadi yang lebih kecil. Misalnya, seorang sales bisa meminta calon pelanggan untuk membeli paket lengkap produk, dan kemudian menawarkan produk yang lebih murah sebagai alternatif.
Penerapan prinsip kepatuhan dan konsistensi ini dapat ditemukan dalam berbagai situasi, seperti pemasaran, penjualan, politik, dan bahkan kehidupan sehari-hari. Dengan memahami prinsip ini, seseorang dapat mempengaruhi perilaku orang lain dengan lebih efektif, terutama jika mereka telah memberikan komitmen kecil terlebih dahulu.
Pengaruh Otoritas
Prinsip pengaruh otoritas mengacu pada pengaruh yang dimiliki oleh seseorang karena kedudukannya atau keahliannya di suatu bidang. Orang cenderung lebih mudah dipengaruhi oleh orang yang dianggap memiliki otoritas atau keahlian di bidang tertentu karena mereka percaya bahwa orang tersebut memiliki pengetahuan atau pengalaman yang lebih baik dalam hal itu.
Beberapa contoh dari penerapan prinsip pengaruh otoritas adalah:
1. Endorsement Selebriti Pemasar sering kali menggunakan selebriti untuk mempromosikan produk mereka karena mereka memiliki pengaruh otoritas di bidang tertentu. Seorang atlet, misalnya, bisa dipilih untuk mempromosikan produk olahraga atau seorang aktris bisa dipilih untuk mempromosikan produk kecantikan. Keberadaan selebriti ini bisa membantu membangun kepercayaan dan keyakinan konsumen dalam produk atau merek tersebut.
2. Sertifikasi Profesional Sebuah sertifikasi profesional bisa membantu membangun otoritas seseorang di bidang tertentu. Seorang dokter atau insinyur, misalnya, mungkin lebih dipercaya dalam hal kesehatan atau teknologi karena mereka memiliki sertifikasi dan lisensi profesional. Hal ini bisa membantu mereka menjadi otoritas di bidang mereka, sehingga lebih mudah mempengaruhi orang lain.
3. Penggunaan Logo Logo dari lembaga-lembaga terkenal atau universitas ternama bisa digunakan untuk membangun otoritas perusahaan atau merek. Hal ini bisa membantu memperkuat citra merek dan memberikan kesan bahwa perusahaan tersebut memiliki dukungan dari lembaga atau universitas terkemuka.
Keserbagunaan
Prinsip persuasi keserbagunaan menyiratkan bahwa manusia cenderung merasa tergoda oleh kesempatan atau penawaran yang terbatas, langka, atau hanya tersedia dalam jangka waktu yang singkat. Ini terkait dengan konsep FOMO (fear of missing out), yang membuat orang khawatir kehilangan peluang yang langka atau unik.
Contoh penerapan prinsip keserbagunaan dalam pemasaran dan bisnis meliputi:
1. Penawaran Terbatas Penawaran terbatas bisa membuat konsumen merasa tergoda untuk membeli produk atau layanan yang ditawarkan. Contohnya, sebuah toko online dapat menawarkan potongan harga yang hanya berlaku dalam waktu yang terbatas atau hanya untuk jumlah barang tertentu.
2. Produk Limited Edition Produk limited edition atau koleksi terbatas bisa membuat konsumen merasa tertarik untuk membeli produk tersebut sebelum kehabisan. Misalnya, sebuah merek fashion meluncurkan koleksi terbatas yang hanya tersedia dalam jumlah terbatas atau untuk periode waktu tertentu.
3. Ketersediaan Produk yang Terbatas Mempromosikan ketersediaan produk yang terbatas juga bisa membuat konsumen merasa tergoda untuk segera membelinya. Contohnya, seorang pemasar real estat dapat menekankan bahwa hanya beberapa unit apartemen yang tersisa, atau sebuah toko pakaian dapat mengatakan bahwa produk yang dijual hanya tersedia di toko tertentu.
4. Penawaran Spesial Penawaran spesial bisa membuat konsumen merasa tergoda untuk membeli produk atau layanan yang ditawarkan karena mereka merasa mendapatkan kesempatan unik atau langka. Contohnya, sebuah perusahaan penerbangan dapat menawarkan tiket murah dalam rangka ulang tahun mereka atau sebuah restoran dapat menawarkan menu khusus untuk periode waktu tertentu.
Dalam penerapan prinsip keserbagunaan, penting untuk memastikan bahwa penawaran atau kesempatan yang diberikan memang benar-benar terbatas atau unik. Jika konsumen merasa tertipu atau merasa bahwa kesempatan yang ditawarkan tidaklah terbatas, maka prinsip keserbagunaan bisa berbalik menjadi bumerang dan merugikan merek atau perusahaan.
Prinsip keserbagunaan juga bisa diterapkan pada konten digital atau media sosial, misalnya dengan mengatakan bahwa konten yang dibagikan hanya tersedia untuk jangka waktu tertentu atau hanya tersedia untuk anggota tertentu.
Contoh lain dari penerapan prinsip keserbagunaan adalah pada penjualan online seperti pada event Black Friday atau Cyber Monday, dimana penjual menawarkan penawaran spesial dalam jangka waktu terbatas. Penerapan prinsip ini juga sangat umum digunakan dalam industri fashion dan kosmetik, di mana sering kali koleksi terbaru yang terbatas atau edisi terbatas diperkenalkan dan dijual dengan harga yang cukup tinggi.
Namun, harus diperhatikan bahwa penggunaan prinsip keserbagunaan juga bisa menimbulkan efek negatif pada konsumen seperti merasa tertekan atau terpaksa untuk membeli sesuatu. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengambil keuntungan dari konsumen dengan membuat penawaran palsu atau memaksa mereka untuk membeli sesuatu yang tidak diperlukan. Prinsip keserbagunaan harus diimbangi dengan etika dan integritas untuk menjaga kepercayaan konsumen dan membangun hubungan jangka panjang dengan mereka.
Kecenderungan Menyukai (Liking)
Prinsip kecenderungan menyukai (liking) mengacu pada fakta bahwa orang lebih cenderung dipengaruhi oleh seseorang yang mereka sukai atau rasa memiliki kesamaan dengannya. Ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sifat kepribadian, kesamaan latar belakang, pandangan politik, hobi, atau minat yang sama.
Beberapa cara untuk memanfaatkan prinsip kecenderungan menyukai ini dalam pemasaran antara lain:
1. Menampilkan sifat positif pada merek atau produk - dengan memperlihatkan sifat positif dan karakteristik yang menarik, maka konsumen akan lebih cenderung menyukai merek atau produk tersebut.
2. Menggunakan influencer atau public figure yang disukai - penggunaan public figure atau influencer yang memiliki kesamaan atau karakteristik yang diidamkan oleh konsumen dapat meningkatkan daya tarik sebuah produk atau merek.
3. Membuat hubungan emosional - konsumen akan lebih cenderung menyukai produk atau merek jika ada hubungan emosional atau koneksi yang terjalin dengan merek tersebut. Salah satu contohnya adalah kampanye iklan Coca Cola yang berfokus pada nilai-nilai keluarga dan persahabatan.
Namun, perlu diingat bahwa prinsip kecenderungan menyukai juga bisa menimbulkan risiko manipulasi atau kebohongan dari pihak pemasar. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan prinsip ini dengan etika dan integritas, serta memastikan bahwa produk atau merek yang dipromosikan memang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan atau keinginan konsumen.
Dalam psikologi, prinsip kecenderungan menyukai juga disebut dengan istilah "halo effect", yaitu kecenderungan orang untuk menilai seseorang secara positif hanya berdasarkan satu sifat yang mereka sukai. Sebagai contoh, seorang karyawan yang berpenampilan menarik cenderung mendapatkan penilaian yang lebih baik dibandingkan dengan karyawan lain meskipun kedua karyawan tersebut memiliki kinerja yang sama.
Prinsip kecenderungan menyukai juga dapat diterapkan dalam strategi pemasaran dengan menciptakan hubungan yang lebih personal antara merek atau produk dengan konsumen. Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan menyediakan layanan pelanggan yang baik dan responsif, serta menjalin interaksi yang lebih dekat dengan konsumen melalui media sosial atau program loyalty.
Selain itu, memperlihatkan kesamaan dengan konsumen juga dapat meningkatkan daya tarik merek atau produk. Sebagai contoh, merek pakaian atau aksesori yang menampilkan penggunaan material ramah lingkungan atau mendukung gerakan sosial tertentu, cenderung lebih disukai oleh konsumen yang memiliki nilai yang sama.
Prinsip kecenderungan menyukai juga dapat diterapkan pada strategi penjualan dengan memperhatikan faktor visual dan penampilan. Dalam sebuah toko, barang-barang yang ditata rapi dengan pencahayaan yang baik dan presentasi yang menarik, cenderung lebih mudah dilihat dan disukai oleh konsumen dibandingkan dengan barang yang ditata secara acak dan kurang menarik.
Dalam rangka memanfaatkan prinsip kecenderungan menyukai dengan baik, pemasar perlu memahami audiens mereka dan mencari tahu nilai-nilai atau karakteristik yang dianggap penting oleh audiens. Selanjutnya, mereka dapat mengembangkan pesan dan strategi pemasaran yang relevan dengan nilai-nilai tersebut, serta menciptakan hubungan emosional yang lebih dekat antara merek atau produk dengan konsumen.
Bukti Sosial
Prinsip bukti sosial, dalam bahasa Inggris disebut sebagai "social proof", mengacu pada kecenderungan manusia untuk meniru tindakan orang lain dalam situasi yang tidak jelas atau ambigu. Orang cenderung mengikuti perilaku yang dianggap benar atau populer di kalangan banyak orang, sebagai cara untuk meminimalkan risiko dan meningkatkan rasa percaya diri mereka.
Contoh yang sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari adalah adanya antrian di depan sebuah restoran yang ramai, atau toko yang selalu penuh dengan pelanggan. Kedua hal tersebut memberikan bukti sosial bahwa tempat tersebut memiliki makanan atau produk yang enak, sehingga banyak orang tertarik untuk datang dan mencoba.
Prinsip bukti sosial juga sering digunakan dalam pemasaran, seperti testimonial atau review dari pelanggan, penggunaan logo atau sertifikasi keamanan dari lembaga terpercaya, dan penghitungan jumlah orang yang sudah membeli produk. Semua hal tersebut memberikan bukti sosial bahwa produk atau merek tersebut telah digunakan dan disukai oleh banyak orang, sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri konsumen dalam membeli produk tersebut.
Selain itu, media sosial juga dapat memainkan peran penting dalam prinsip bukti sosial. Ketika seseorang melihat banyak orang dalam lingkaran sosial mereka memposting tentang produk atau merek tertentu, mereka cenderung lebih tertarik untuk mencoba produk tersebut.
Namun, pemasar harus berhati-hati dalam menggunakan prinsip bukti sosial, karena hal tersebut juga dapat menyebabkan efek negatif seperti terjadinya "herd mentality" atau perilaku berkelompok yang tidak rasional. Selain itu, bukti sosial yang dipaparkan oleh pemasar dapat dengan mudah dipalsukan, sehingga dapat menurunkan kepercayaan konsumen. Oleh karena itu, pemasar perlu memastikan bahwa bukti sosial yang digunakan adalah benar dan dapat dipercaya, serta tetap mengedepankan kejujuran dalam mengikuti prinsip ini.
Selain itu, prinsip bukti sosial juga dapat digunakan dalam situasi-situasi darurat atau krisis, seperti kebakaran atau bencana alam. Ketika orang melihat banyak orang lain berlari atau bergerak ke arah yang sama, mereka cenderung akan mengikuti arus tersebut sebagai cara untuk keluar dari bahaya.
Kelangkaan
Prinsip kelangkaan merupakan prinsip yang menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih tertarik dan bernilai lebih pada barang atau layanan yang terbatas atau sulit diperoleh. Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa semakin langka atau sulit didapatkan suatu barang atau layanan, semakin tinggi pula nilai yang melekat pada barang atau layanan tersebut.
Contoh dari prinsip kelangkaan adalah sebagai berikut:
1. Promo diskon dalam waktu terbatas: Diskon yang ditawarkan hanya dalam waktu tertentu atau terbatas jumlahnya dapat membuat konsumen merasa tertarik dan tergesa-gesa untuk membeli produk tersebut.
2. Barang terbatas: Produk-produk yang hanya tersedia dalam jumlah terbatas atau hanya dijual pada waktu-waktu tertentu, dapat membuat konsumen merasa tertarik dan bernilai lebih pada produk tersebut.
3. Barang koleksi: Produk-produk yang dirilis dalam edisi terbatas atau hanya dijual pada waktu-waktu tertentu, seperti koleksi fashion, cenderung bernilai lebih tinggi dan menarik bagi konsumen.
4. Layanan eksklusif: Layanan yang hanya tersedia untuk sebagian kecil orang atau hanya pada waktu tertentu, dapat meningkatkan minat dan nilai yang melekat pada layanan tersebut.
Dalam bisnis, prinsip kelangkaan dapat digunakan sebagai strategi pemasaran untuk meningkatkan minat dan nilai pada produk atau layanan yang ditawarkan. Namun, pemasar harus tetap berhati-hati agar tidak menipu konsumen dengan memberikan informasi palsu atau membuat produk atau layanan sulit diperoleh secara sengaja.
Selain itu, prinsip kelangkaan juga dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam taktik negosiasi, penjualan, dan strategi pengambilan keputusan. Misalnya, dalam taktik negosiasi, prinsip kelangkaan dapat digunakan untuk membuat penawaran yang lebih menarik dengan memberikan batasan waktu tertentu atau mengingatkan tentang ketersediaan terbatas.
Namun, perlu diingat bahwa prinsip kelangkaan juga dapat memicu perilaku impulsif atau menyesatkan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjadi konsumen yang cerdas dengan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan atau melakukan pembelian, serta melakukan riset dan membandingkan harga dan kualitas produk atau layanan yang ditawarkan sebelum memutuskan untuk membeli.
Dalam kesimpulannya, prinsip kelangkaan memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku konsumen dan strategi pemasaran. Pemahaman tentang prinsip ini dapat membantu pemasar dan bisnis dalam membangun strategi pemasaran yang efektif dan membuat produk atau layanan mereka menjadi lebih menarik dan bernilai bagi konsumen.*
September 21, 2025
“Bagaimana ketika keputusan yang kita ambil ternyata dipengaruhi oleh orang lain dan beberapa faktor krusial lainnya?”
Pernahkah kamu tiba-tiba mengganti pilihan setelah membaca review maupun rating di sebuah laman penjualan produk? Kalau pernah mengapa kamu melakukannya? Ternyata keputusan yang berubah ini ada penjelasannya dan beberapa faktor menarik yang menjadi kunci penting seseorang bisa berpindah pilihan pilihan secara naluriah. Buku ini membahas tentang Prinsip Universal Pengaruh dari Cialdini mulai dari timbal balik, komitmen sampai dengan pengaruh instan. Pembahasannya dibagi menjadi 9 bab utama dibuka dengan pengantar pendahuluan, bahasan inti bab 1 sampai 9 dan ditutup dengan catatan akhir serta daftar pustaka. Jangan khawatir di setiap bab sudah dilengkapi contoh atau masalah asli di lapangan kemudian dibahas dengan catatan penulis dan juga catatan pembaca yang sudah membaca sebelumnya. Ditutup dengan ringkasan yang bisa menjadi bahan refleksi sekaligus recall memory agar kita tidak cepat lupa dengan setiap bab dari bukunya.
Dari buku ini kita bisa mengetahui alasan mengapa banyak orang cenderung berkata “Ya” pada orang-orang yang dikenalinya termasuk kepercayaan yang mudah dibangun pada orang-orang yang dianggap memang sudah ahli dalam bidang tersebut. Kamu pasti juga akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin selama ini hanya ada di angan-angan saja seperti perpindahan pilihan secara instan, cara mengetahui pattern ulasan palsu di internet sampai dengan alasan barang atau jasa lebih mudah dijual bukan hanya pengaruh minat serta kebutuhan konsumen yang tinggi.
Buku Influence tidak hanya penting dibaca bagi pelaku bisnis meskipun memang banyak ilmu bisnis di dalamnya namun bahasan dan cakupan yang diberikan cukup meluas. Ada ilmu marketing, pemahaman terhadap tipuan yang berpola khusus serta memahami pola kebiasan tertentu yang sifatnya memang monoton. Anda bisa menemukan jawaban dari setiap kesukaran yang mungkin dihadapi dalam mengembangkan branding, meningkatkan kepercayaan orang lain dan tidak mudah terjerumus dalam bisnis atau penjualan yang menyesatkan. Kita akan belajar banyak mengenai faktor yang mempengaruhi dan hal-hal yang menyebabkan seseorang sangat mudah terpengaruh.
Dari buku ini aku juga teringat bagaimana pengalamanku dalam mengambil keputusan juga tak sepenuhnya murni dari pemikiran pribadi melainkan atas pengaruh orang lain. Contohnya saat aku mengambil jurusan kuliah tentu saja waktu itu banyak melihat prospek kerja lulusan terkait dan juga bagaimana orang terdekatku merekmendasikannya untukku. Begitu juga ketika sebenarnya tak membutuhkan sebuah barang namun karena temanku yang menjual dan menawarkan kemudian aku tanpa pikir panjang membelinya. Ternyata semua tindakan itu dijelaskan alasannya dalam buku ini tentang kepercayaan dan pengaruh orang-orang terdekat dalam setiap keputusan yang diambil.
Hal Menarik:
• Buku ini membagi pemikiran prinsip menjadi beberapa bab dan membahas satu persatu secara runtut dan tuntas sehingga tidak membingungkan.
• Ada berita atau kejadian asli yang bisa dijadikan acuan contoh untuk bantuan analisa yang konkrit.
• Ada laporan pembaca yang bisa kita bandingkan dengan pemikiran yang timbul dari kepala kita setelah memahami bab bukunya.
• Ada ringkasan yang membahas kesimpulan mengenai setiap bab bahasan dari bukunya sekaligus sebagai bahan recall memory agar lebih paham dan tidak mudah tertukar dari satu prinsip ke prinsip lainnya.
• Buku ini memuat catatan akhir sebagai pembanding dari edisi sebelum revisi dan juga sumber lengkap yang digunakan dalam mengolah konten.
• Ada daftar pustaka lengkap sebagai rujukan dan referensi mengenai penyusunan bukunya. Jadi tidak hanya murni mengenai pendapat dan pemikiran namun juga dibuktikan dengan ungkapan para ahli yang bisa dipertanggungjawabkan.
• Penulis mampu membuat gaya bahasa komunikatif dan lebih santai sehingga maksudnya lebih mudah dipahami.
• Bahasan yang disajikan mengalir tidak diulang-ulang dan sangat runtut.
Apa yang Menjadi Pelajaran Bukunya:
Buku ini memberikan gambaran lebih lengkap bagaimana kita sebenarnya membuat keputusan dalam hidup dan juga pengaruh apa saja yang membuat keputusan kita bisa berubah lebih cepat. Ada penjelasan secara alamiah mengapa kita cenderung mudah untuk dipengaruhi dan siapa saja yang bisa mudah menggoyahkan pilihan kita. Bukan hanya fokus mengenai bisnis dan cara marketing yang menguntungkan namun juga tentang bagaimana kita membangun branding diri yang mudah dipercaya oleh orang lain. Buku ini mampu membuka pemikiran kita lebih luas serta memahami teknik penipuan berkaitan dengan pengaruh-pengaruh atas tindakan pembelian yang mungkin terjadi.
Untuk Siapa?
Buku Influence penting dibaca oleh semua orang terlebih bagi yang berkecimpung dalam dunia bisnis maupun penjualan. Anda yang mungkin selama yang selama ini masih sulit menentukan sikap dan mudah goyah atas pengaruh maupun pemikiran orang lain sehingga bisa lebih tegas dalam memutuskan. Buku ini cocok dibaca untuk semua orang yang penasaran tentang faktor yang menyebabkan sebuah keputusan bisa berubah cepat tanpa kita sadari.
Pernahkah kamu tiba-tiba mengganti pilihan setelah membaca review maupun rating di sebuah laman penjualan produk? Kalau pernah mengapa kamu melakukannya? Ternyata keputusan yang berubah ini ada penjelasannya dan beberapa faktor menarik yang menjadi kunci penting seseorang bisa berpindah pilihan pilihan secara naluriah. Buku ini membahas tentang Prinsip Universal Pengaruh dari Cialdini mulai dari timbal balik, komitmen sampai dengan pengaruh instan. Pembahasannya dibagi menjadi 9 bab utama dibuka dengan pengantar pendahuluan, bahasan inti bab 1 sampai 9 dan ditutup dengan catatan akhir serta daftar pustaka. Jangan khawatir di setiap bab sudah dilengkapi contoh atau masalah asli di lapangan kemudian dibahas dengan catatan penulis dan juga catatan pembaca yang sudah membaca sebelumnya. Ditutup dengan ringkasan yang bisa menjadi bahan refleksi sekaligus recall memory agar kita tidak cepat lupa dengan setiap bab dari bukunya.
Dari buku ini kita bisa mengetahui alasan mengapa banyak orang cenderung berkata “Ya” pada orang-orang yang dikenalinya termasuk kepercayaan yang mudah dibangun pada orang-orang yang dianggap memang sudah ahli dalam bidang tersebut. Kamu pasti juga akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin selama ini hanya ada di angan-angan saja seperti perpindahan pilihan secara instan, cara mengetahui pattern ulasan palsu di internet sampai dengan alasan barang atau jasa lebih mudah dijual bukan hanya pengaruh minat serta kebutuhan konsumen yang tinggi.
Buku Influence tidak hanya penting dibaca bagi pelaku bisnis meskipun memang banyak ilmu bisnis di dalamnya namun bahasan dan cakupan yang diberikan cukup meluas. Ada ilmu marketing, pemahaman terhadap tipuan yang berpola khusus serta memahami pola kebiasan tertentu yang sifatnya memang monoton. Anda bisa menemukan jawaban dari setiap kesukaran yang mungkin dihadapi dalam mengembangkan branding, meningkatkan kepercayaan orang lain dan tidak mudah terjerumus dalam bisnis atau penjualan yang menyesatkan. Kita akan belajar banyak mengenai faktor yang mempengaruhi dan hal-hal yang menyebabkan seseorang sangat mudah terpengaruh.
Dari buku ini aku juga teringat bagaimana pengalamanku dalam mengambil keputusan juga tak sepenuhnya murni dari pemikiran pribadi melainkan atas pengaruh orang lain. Contohnya saat aku mengambil jurusan kuliah tentu saja waktu itu banyak melihat prospek kerja lulusan terkait dan juga bagaimana orang terdekatku merekmendasikannya untukku. Begitu juga ketika sebenarnya tak membutuhkan sebuah barang namun karena temanku yang menjual dan menawarkan kemudian aku tanpa pikir panjang membelinya. Ternyata semua tindakan itu dijelaskan alasannya dalam buku ini tentang kepercayaan dan pengaruh orang-orang terdekat dalam setiap keputusan yang diambil.
Hal Menarik:
• Buku ini membagi pemikiran prinsip menjadi beberapa bab dan membahas satu persatu secara runtut dan tuntas sehingga tidak membingungkan.
• Ada berita atau kejadian asli yang bisa dijadikan acuan contoh untuk bantuan analisa yang konkrit.
• Ada laporan pembaca yang bisa kita bandingkan dengan pemikiran yang timbul dari kepala kita setelah memahami bab bukunya.
• Ada ringkasan yang membahas kesimpulan mengenai setiap bab bahasan dari bukunya sekaligus sebagai bahan recall memory agar lebih paham dan tidak mudah tertukar dari satu prinsip ke prinsip lainnya.
• Buku ini memuat catatan akhir sebagai pembanding dari edisi sebelum revisi dan juga sumber lengkap yang digunakan dalam mengolah konten.
• Ada daftar pustaka lengkap sebagai rujukan dan referensi mengenai penyusunan bukunya. Jadi tidak hanya murni mengenai pendapat dan pemikiran namun juga dibuktikan dengan ungkapan para ahli yang bisa dipertanggungjawabkan.
• Penulis mampu membuat gaya bahasa komunikatif dan lebih santai sehingga maksudnya lebih mudah dipahami.
• Bahasan yang disajikan mengalir tidak diulang-ulang dan sangat runtut.
Apa yang Menjadi Pelajaran Bukunya:
Buku ini memberikan gambaran lebih lengkap bagaimana kita sebenarnya membuat keputusan dalam hidup dan juga pengaruh apa saja yang membuat keputusan kita bisa berubah lebih cepat. Ada penjelasan secara alamiah mengapa kita cenderung mudah untuk dipengaruhi dan siapa saja yang bisa mudah menggoyahkan pilihan kita. Bukan hanya fokus mengenai bisnis dan cara marketing yang menguntungkan namun juga tentang bagaimana kita membangun branding diri yang mudah dipercaya oleh orang lain. Buku ini mampu membuka pemikiran kita lebih luas serta memahami teknik penipuan berkaitan dengan pengaruh-pengaruh atas tindakan pembelian yang mungkin terjadi.
Untuk Siapa?
Buku Influence penting dibaca oleh semua orang terlebih bagi yang berkecimpung dalam dunia bisnis maupun penjualan. Anda yang mungkin selama yang selama ini masih sulit menentukan sikap dan mudah goyah atas pengaruh maupun pemikiran orang lain sehingga bisa lebih tegas dalam memutuskan. Buku ini cocok dibaca untuk semua orang yang penasaran tentang faktor yang menyebabkan sebuah keputusan bisa berubah cepat tanpa kita sadari.
July 2, 2020
Persuasi itu ternyata punya akar yang saintifik
Displaying 1 - 4 of 4 reviews




