Jump to ratings and reviews
Rate this book

Salah Asuhan

Rate this book
Secara tematik, novel Salah Asuhan telah mengalami pergeseran dari novel-novel pendahulunya. Abdoel Moeis, penulisnya, tak lagi mempermasahkan persoalan adat, tetapi ia menyuguhkan masalah yang lebih besar dari itu: kawin campur antarbangsa.
--Helvy Tiana Rosa, anggota Majelis Sastra Asia Tenggara

262 pages, Paperback

First published January 1, 1928

174 people are currently reading
2441 people want to read

About the author

Abdoel Moeis

14 books16 followers
Abdoel Moeis adalah seorang sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia. Dia merupakan pengurus besar Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Volksraad mewakili organisasi tersebut. Abdoel Moeis dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
525 (25%)
4 stars
701 (33%)
3 stars
655 (31%)
2 stars
148 (7%)
1 star
46 (2%)
Displaying 1 - 30 of 166 reviews
Profile Image for Adisti.
87 reviews9 followers
October 11, 2007
Ini buku adalah pencetus jawaban standar cewek jaman sekarang klo ditembak
"Tolong beri aku kesempatan untuk berpikir..."
Profile Image for Sandra dewi.
97 reviews7 followers
March 11, 2010
tentang hanafi yang...whuaaaahhhhh... AJAIB. cerita dengan background masa penjajahan belanda ini, masih tetap pas untuk masa sekarang. tentang anak muda yang merasa pintar secara ilmu tapi ga punya jati diri, jadinya ... tersesat deh....

Seperti banyaknya orang-orang disekeliling kita yang kehilangan jati diri, menganggap bahwa dunia barat itu pasti sudah lebih baik dari pada dunia timur kita yang kolot ini. dari hal yang paling sepele sampai dengan yang besar. dari masalah pakaian, sampai jalan hidup.....

baiklah... begini ringkasnya :
Hanafi, seorang anak yatim yang disekolahkan oleh ibu dan mamaknya (pamanya) ke Jakarta, dan dididik ala Belanda, dengan harapan bahwa si anak akan menjadi kebanggaan bagi keluarga besarnya. Tapi ada daya si ibu dan keluarga lupa untuk memberikan ilmu agama dan moral, sehingga si anak tumbuh menjadi pribadi sombong (karena merasa berilmu tinggi).

dari segala aspek kehidupannya Hanafi hanya melihatnya dari sisi "Belanda", dari cara berpakaian, berfikir bahkan sampai mencari istri.... Istri yang ideal menurut hanafi adalah istri yang Belanda dengan alasan bahwa wanita belanda lebih berilmu (tidak kampungan tepatnya), padahal dari beberapa teman wanita belandanya ada juga yang secara pendidikan itu jauh dari wanita bumiputra, tapi tetap aja cover memang selalu bisa membutakan...

Ceritanya sebenarnya bisa dibilang happy ending, karena inti dari buku ini adalah "Salah Asuhan". Dengan bertobat dan sadar akan kesalahannya paling nggak "Pak Abdoel Moeis" mau ngasih tau bahwa si anak yang salah asuhan ini, telah kembali ke asuhan yang benar. Tapi dari segi cerita cinta, ga bisa dibilang bahagia, karena hanafi akhirnya harus berpisah dengan wanita-wanita yang mengisi hidupnya, ibunya, istri bumiputranya yang seperti emas yang belum digosok, maupun istri belandanya yang seperti berlian itu..... hmmmm

Duuuh ... ya Allah Jauhkanlah aku dari cobaan yang seberat itu, dan lindungilah aku dalam setiap langkahku.... Amiin
Profile Image for winda.
357 reviews14 followers
May 7, 2009
Sekarang mungkin banyak orang yang seperti tokoh di novel ini, hanya saja orang tidak menganggapnya sebagai salah asuhan..
Profile Image for Robert.
71 reviews16 followers
July 2, 2009
Ingatan saya seperti kembali melayang-layang ke zaman kelas 3 SMP, saat menemukan buku ini di rak bawah perpustakaan sekolah. Saya ingat betul, warna sampulnya hijau dengan kertas yang sudah kuning kecoklatan serta tulisan-tulisan ejaan lama tercatat di atasnya.

Menurut saya ini adalah salah satu novel yang melampaui zamannya. Bercerita mengenai Hanafi, seorang putera Minangkabau yang bersekolah di Belanda, bergaul dengan orang-orang Belanda, berbahasa Belanda, dan jatuh cinta terhadap Corrie de Busse, seorang gadis cantik blasteran Perancis.

Terlalu terobsesinya ia untuk menjadi seorang Belanda, ia bahkan mengganti namanya menjadi Hans. Petaka datang saat keluarganya berniat menjodohkan Hanafi dengan seorang gadis desa yang lugu, bernama Rapiah. Hanafi merasa jijik dengan statusnya dan juga sanak saudara serta orang-orang di kampungnya. Untuk menunjukkan kemuakannya, ia bersikukuh memakai pakaian Barat di tengah perkawinan tersebut.

Seperti pepatah, "katak hendak jadi lembu", sekuat apa pun Hanafi ingin menjadi seorang Belanda, teman-teman bulenya tetap menganggap ia hanyalah inlander yang tak tahu diri. Bahkan akhirnya kehidupan cintanya dengan Corrie harus kandas akibat perbedaan budaya yang jelas. Corrie akhirnya mati terkena kolera, sedangkan Hanafi juga mati dengan penuh penyesalan akibat sikap penolakannya terhadap jati dirinya sendiri.

Mudah-mudahan, inspirasi Jacko mengoperasi plastik kulitnya bukan karena alasan yang sama seperti Hanafi...

Sekilas seperti: melihat seekor keledai di dalam kawanan sapi yang berperilaku seperti sapi dan mengaku sebagai sapi. But it's still a donkey, not a cow.
Profile Image for Biruhati Syaheed.
93 reviews11 followers
October 29, 2008
Salah satu novel karya sastrawan pelopor angkatan Balai Pustaka. Menggambarkan kisah seorang anak yang sempat durhaka kepada ibunya demi mengejar cinta dan materi. Cinta kepada gadis belanda dan ambisi menjadi orang kaya membuatnya lupa kepada adatnya. Sifat yang hadir karena sejak kecil ia sudah 'diasuh' oleh Belanda.

Bahkan masyarakatnya pun sudah menganggapnya 'menjadi Eropa' karena tindakannya sehingga tidak boleh dikuburkan di desanya.

Salah satu novel lama yang dicetak belasan kali hingga kii selain Salah Pilih dan Siti Nurbaya.
Profile Image for Faiz • فائز.
360 reviews3 followers
October 6, 2024
Buku ini dibeli dari sebuah kedai buku kecil di Pekanbaru, Indonesia. Semoga direzekikan lagi kembali ke sana.

---

Perlu diakui, sastera Indonesia jauh lebih agung berbanding sastera Malaysia. Kayu ukurnya boleh kita perhatikan, andai diperakui akan laungan “sastera untuk masyarakat”, bahawa sastera Indonesia lebih menepati akan matlamat ini. Karya-karya yang menempelak kolonial dihasilkan dengan begitu banyak; membangkitkan gelora kebencian kepada penjajah sebagai usaha ke arah pemerintahan mandiri.

---

Melalui novel ini… ah bukan, ini roman cinta! Benar, roman ini -dengan begitu terperinci- memperlihatkan pergeseran dua budaya: Timur dan Barat. Namun, saya mengira bukanlah perbezaan ini yang menyemarakkan cerita, sebaliknya kelemahan watak utamanya dalam membuat pertimbangan yang waras kerana dikaburi dengan cinta. Nah, bukan perbezaan budaya yang mempengaruhi cinta, sebaliknya, cintalah yang mencalarkan budaya!

Kekuatan pada roman cinta ini ialah laras bahasanya yang begitu murni. Terbuai dan asyik sekali, dalam saya menikmati helaian demi helaian. Disisipkan juga peribahasa Melayu yang semakin jarang didengar kini.

Ditampilkan juga cinta-cinta manusia yang tulus ikhlas, seperti seorang ibu kepada anaknya dan satu kaum kepada bangsanya. Walau saya bersetuju dengan watak utama, yang mempersoalkan mengapa harus kita terhutang budi dengan manusia lainnya, yang langsung tiada kena-mengena dengan kita, sedang tidak juga kita berharap makan-minum kepada mereka. Apabila semakin larut dalam cerita, saya menyedari dan memahami akan alasannya.

Setiap nasihat yang dituturkan oleh orang tua dalam roman cinta ini, seharusnya diambil iktibar oleh orang muda. Tidak boleh tidak, kita semua harus mengakui bahawa mereka terlebih dahulu makan garam berbanding kita.

Hakikatnya, terlalu banyak sekali manafaat melalui nasihat yang diperoleh dalam roman cinta ini. Saya sangat menyarankan agar para lelaki yang masih belum bergelar suami untuk membaca roman cinta ini.

Ia bukan sekadar roman cinta biasa, dan bukan juga karya pergeseran budaya semata-mata. Ia sebuah pengisahan kehidupan yang benar-benar mencelikkan mata, mengajar kita takrifan yang benar perihal cinta!
Profile Image for Honeypie.
788 reviews61 followers
April 7, 2015
To be moved by a work of art, one needs life experience, so the problem of human existence that is evoked in the work can resonate in one's own heart. - Robin Susanto

---

I've been travelling quite a few times to other countries these past months for work; and I've recently had this want to acquire books, written by these countries' local artists, and preferably published locally, as well. And since I'm mostly bounded by work schedules, a kind of flexible/inflexible itinerary and highly-suggested social gatherings, the only time that I can buy these books are at the airports. It's good enough, anyway; and I always (so far) find books that I need want.

Hmm... now this makes me want to check out our local airports if they can provide me with the same... needs wants.

Never The Twain is the English translation of Abdoel Moeis's Salah Asuhan, which means A Wrong Upbringing. It tells the story of Hanafi, a pure Malay, who falls in love with Corrie, half-Dutch and half-Malay (but treated as Dutch all the same). Hanafi was sent to respectable schools, with the hope that he will give back to his people, the local Minangkabau. But as he acquires knowledge, he also becomes arrogant and refuses to recognize his Malay roots, showing compassion and love (if there are any) only to his mother.

Abdoel Moeis was an Indonesian writer, journalist and nationalist. He's a bit like our Rizal, though. He was imprisoned, and became a national hero. At first, I thought it was a joke. Sobrang sakto naman kay Rizal, haha! Then I tried researching about it more, and learned that Indonesia has several National heroes. Bakit ganun? And when I further searched, even Philippines has several, and no official recognition of The National Hero / Ang Pambansang Bayani!

A national hero of the Philippines is a Filipino who has been recognized as a hero for his or her role in the history of the country. Loosely, the term may refer to all Filipino historical figures recognized as heroes, but the term more strictly refers to those officially designated as such. In 1995 the Philippine National Heroes Committee officially recommended several people for the designation, but this was not acted upon. Currently, no one has ever been officially recognized as a Philippine national hero.

The original novel was written in 1928, during the colonial period of Indonesia by the Dutch. In order to be published, the book has to avoid themes of rebellion, and has to show the Europeans in a positive light.



---

I like the story. The English translation was written in a simple way, and the chapters are short, easy to read, not dragging.

I think this was effectively written, so as to cater the locals. With no intention to degrade, education wasn't really readily available to the locals, especially with colonized sites.

One of my favorite aspects of the book are the characters. They're all quite unique in their own ways, and each evoke a different passion. I didn't like them all. Some are so hateful that it made me wonder what the heck is wrong with these people; while some are so zealous, especially with their faith.

It makes you admire them, in a way. Their faith, trust and love in their god. Being a Christian [on fire], I really can't help comparing their god to my God (The God! Haha!). I don't want to "poke", pero medyo ang "galing" lang. Dami kong notes/comments sa book ko. Ang dami kong comparisons. Hehe!

Indonesia has many tribes/local groups, etc. And I find that this book was successful, in introducing us to the customs and culture of the Minangkabau tribe, who are very much real, by the way. (Abdoel Moeis was from this tribe.)

Now, I feel guilty that I don't know much about the other local groups/provinces here in the Philippines. This should be remedied!

---

So how does one define a Classic? I read a thread where they said that it's considered a Classic when it still means something to people and they can learn from it, no matter now long ago it was written.

Good point.

This is a Classic, indeed.

It is worth reading, when you want to learn a bit (or more) about Indonesian culture.
2 reviews3 followers
October 2, 2011
Title: One Care
Author Name: Abdoel Moeis
Year of Publication: January 4, 1999
The Matter: 26 (twenty-six)
Publisher: Balai Pustaka
Thick book: 271 pages
Place of Publication: JAKARTA

"As high as high as we go to school, lest we forget the land where our starting point."
If, that is slah one message is written in the roman Moeis Abdoel this essay. Romance set in Solok, West Sumatra, and it tells about the life of the Betawi people a bit of Indonesia at the time of Dutch occupation.
After so many years the Dutch colonized Indonesia and squeeze the natural and human resources of Indonesia, the Dutch finally repay the people of Indonesia, one of which was to establish schools for Native people. One impact of the education provided is at the Netherlands one of the themes in this Orphanage Roman Wrong.
This novel tells the story of the Hanafi, an original native educated from childhood in a Dutch-style schools. Longer periods of time can turn even eliminate the oriental nature of a Hanafi. Being a person who behaved westernized and tend to underestimate their own people.
Here, too, Hanafi fell in love with a girl of Dutch descent, Indonesia, Corrie de Busse. Togetherness that has been running since they were small has instilled a love so deep in their hearts.
However, the love they have run aground without being bound by marriage. At the beginning of the stance away Corrie de Busse disappointed that make Hanafi, Hanafi accepted until finally giving his wife's mother, Rapiah, just to pay the debt of gratitude to his uncle. From this marriage, born Syafei, who really did not get the full attention of his father.
Karma real unwanted marriage that, coupled Hanafi such great love in Corrie, making Hanafi finally pick Corrie to Batavia - the reasons for treatment - and married to Corrie. He left just like that Rapiah and Syafei and mother in Solok.
Corrie and Hanafi marriage that begins with this love was finally ended pathetic. At the beginning of a marriage that began with bland, plus the Hanafi accused Corrie something bad that Corrie had gone off somewhere. Over the years, can not be established communication between them.
Is wrapped with elements of Roman literature, culture, and criticism of the "Attitude Going Western" thick. Abdoel Moeis mix all this with so beautiful, plus additional Dutch language and rhyme-rhyme that interesting. The storyline in this novel is also very interesting to the reader will not get bored reading the novel.
Counsel the parents, the desire is so great without heeding what they say become a stumbling block tentanfg why all these events occurred in the Hanafi and Corrie. Here's one quote my father's advice to Corrie Corrie when Corrie spoke about the possibility of Dutch women married to native men,
"Married actually means a lot right mixture obstacles, caused by human beings also Corrie! Because each human being afflicted by a disease the nation's pride. Sekalian people, each with his own feelings, would violate the nation, which connects life to another nation, though the two people become husband and wife were very berkasih-pity. "
In the novel was also taught that religion should not be abandoned despite already highly educated. Because that is what will bring us safe world and the hereafter.
This novel has almost no flaws. Mixture of Malay and Dutch that there is quite confusing, especially for adolescents, and adult-contemporary. Where the Malay language is very rarely used. However, there is no real error in this novel.
Abdoel Moeis was an imaginative writer. Beginning of a beautiful romance, an interesting storyline, closed with a tragic end but with a beautiful language, so as if the reader does not feel that the Hanafi committing sin.
Late in this novel begins with remorse Hanafi, as written in this quote,
"Knew then Hanafi now; Rapiah, diamonds are not polished. Unfortunately, he was good at rubbing them the precious stuff to waste, she thought worthless.
Corrie polished diamonds, the price is not priceless-value, but the husband who hurt them on and off with no good treasure of abortion. Hanafi regretted he was not finite-up. "
Until finally, the forced termination of life becomes a beautiful cover for this novel.
Profile Image for Wina S. Albert.
164 reviews2 followers
September 20, 2024
Disclaimer

Dalam ulasan ini, saya akan membahas karya sastra klasik yang telah memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan sastra modern. Pembaca diharapkan untuk memahami bahwa interpretasi dan analisis yang disajikan bersifat subjektif, dan saya mendorong pembaca untuk mengeksplorasi karya-karya ini secara mandiri. Ulasan ini bertujuan untuk menghargai warisan sastra yang kaya, serta mengeksplorasi relevansinya dalam konteks sastra kontemporer. Saya berharap pembaca dapat menemukan inspirasi dan pemahaman yang lebih dalam mengenai perjalanan sastra dari masa ke masa.
------------------------------------------------------------
Novel Salah Asuhan menggambarkan peran perempuan dalam masyarakat pada masa itu dengan cara yang kompleks dan reflektif. Perempuan, seperti Corrie, terikat oleh norma kesopanan yang ketat. Dialog antara Corrie dan Hanafi menunjukkan bahwa interaksi antara laki-laki dan perempuan sangat dibatasi oleh adat dan tradisi. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa perempuan harus menjaga kehormatan dan reputasi mereka dalam masyarakat.

Corrie sering kali menjadi subjek pengawasan dan penilaian dari orang-orang di sekitarnya. Ketika dia bergaul dengan Hanafi, ada kekhawatiran dari masyarakat tentang bagaimana hubungan mereka akan dipersepsikan, yang menunjukkan bahwa reputasi perempuan sangat dipengaruhi oleh tindakan mereka dan hubungan dengan laki-laki.

Corrie, yang mendapatkan pendidikan yang baik, menjadi simbol perempuan yang berusaha untuk mendapatkan ilmu dan memperluas wawasan. Namun, meskipun ada kemajuan, masih ada batasan yang dihadapi perempuan dalam mengejar kebebasan dan hak mereka.

Perjuangan Corrie antara identitas sebagai perempuan Eropa dan hubungannya dengan Hanafi menciptakan ketegangan. Dia ingin mengeksplorasi cintanya, tetapi juga terjebak dalam ekspektasi masyarakat yang mengharapkan dia untuk tetap pada peran tradisionalnya.

Melalui karakter Corrie dan interaksinya dengan Hanafi, novel ini mencerminkan tantangan yang dihadapi perempuan di masyarakat pada masa itu, antara harapan untuk meraih kebebasan dan tekanan untuk mematuhi norma-norma sosial yang ada. Salah Asuhan berhasil menggambarkan bahwa peran perempuan tidak hanya terbatas pada batasan sosial, tetapi juga sebagai individu yang memiliki keinginan dan ambisi untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Nilai-nilai budaya yang saling bertentangan ini menciptakan ketegangan dalam hubungan Hanafi dan Corrie, menggambarkan kompleksitas interaksi antarbudaya. Novel ini mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana nilai-nilai ini dapat mempengaruhi hubungan antar individu dan dampaknya terhadap masyarakat secara keseluruhan. Penulis tidak secara eksplisit menentang perkawinan antar bangsa, tetapi lebih kepada mengangkat isu ini untuk mengeksplorasi kompleksitas sosial dan budaya yang melingkupinya. Dengan demikian, Salah Asuhan berfungsi sebagai kritik terhadap norma-norma yang ada dan mendorong pembaca untuk mempertimbangkan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan lintas budaya.

Dampak sosial dari hubungan lintas budaya dalam Salah Asuhan menggambarkan kompleksitas interaksi antara norma, nilai, dan individu. Novel ini memberikan wawasan tentang tantangan dan perubahan yang muncul akibat hubungan yang melampaui batasan budaya, serta pentingnya pemahaman dan dialog dalam menciptakan harmoni sosial.

Meskipun Salah Asuhan memiliki banyak kelebihan dan nilai-nilai penting yang diangkat, keterbatasan prespektif dapat mempengaruhi pengalaman membaca. Namun, hal ini juga bisa dilihat sebagai bagian dari kekayaan dan kompleksitas sastra, yang sering kali mencerminkan realitas kehidupan dan tantangan yang dihadapi oleh karakter-karakter dalam cerita.
Profile Image for Iza B. Aziz.
227 reviews31 followers
April 27, 2023
Tak teragak-agak untuk memberi lima bintang untuk Salah Asuhan! Novel sastera Indonesia yang telah diulang cetak sejak 1928. Ia bukan sekadar cerita cinta anak remaja tapi melewati pertembungan bangsa, adat dan era kolonial.

Penulis menekan terus tentang konflik perkauman yang menjadi kekangan bagi mereka yang berkahwin berbeza bangsa. Hanafi dan Corrie berterusan menjadi mangsa penyisihan masyarakat. Pun begitu, masalah utama ialah pada Hanafi.

"𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗵𝘂 𝗸𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗽𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗮𝗵𝗮𝗷𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗶𝗸𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮, 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗮𝘆𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗿𝘂𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮."

Hanafi yang bongkak merasa cukup ideal dengan didikan Belanda. Sehingga jiwanya mati untuk mengasihi ibu dan anaknya sebagai orang Bumiputera. Susuk Hanafi cukup kejam bagi saya kerana tidak berlaku adil pada darah dagingnya sendiri.
_____________________
Penulis menyedarkan saya, ilmu dan jati diri adalah dua perkara yang berbeza. Jika digunakan ilmu sebaiknya, ia boleh mengangkat darjat bangsa. Tanpa keduanya kita boleh jadi sesat seperti Hanafi.

Novel ini juga teguran buat ibu bapa dan masyarakat dalam membentuk pendidikan untuk anak-anak. Biarlah ia seimbang, berteraskan dunia, akhirat, budaya dan perpaduan.

Abdul Moeis juga seolah berkata perkahwinan dua bangsa itu tidak mungkin bahagia ketika itu. Ia suatu pengkhianatan kepada undang-undang manusia.
_____________________
Kelemahan pada buku ini ialah cetakan dari DBP yang tidak cukup nota kaki. Terdapat beberapa perkataan Belanda atau istilah yang tidak saya jumpa ketika membuat carian di internet. Gaya sampul buku pula sungguh tidak bermaya.

Karya legenda Abdul Moeis dapat memberi muhasabah kepada diri pembaca. Alhamdullilah, saya bersyukur kerana memiliki novel ini 🫶🏼
Profile Image for Ms.TDA.
238 reviews3 followers
April 10, 2025
“Salah Asuhan”…
Ternyata walau karya ini udah hampir 100tahun, masih relevan hingga saat ini. Dari segi budaya nya, ego-ego dari sisi orang tua, mertua, anak, pasangan, masyarakat, lika liku pergolakan sosial yang tidak mau kita lebih baik dari dirinya. Sangat kompleks, dan jujur aku sangat menikmati gaya khas melayu ini.

“Kalau seseorang nyonya Barat sampai bersuami, bahkan beranak dengan orang sini. Terlebih dahulu nyonya itu dipandang seolah-olah sudah menghinakan dirinya sebagai bangsa Barat; dan dikatakan sudah 'membuang diri' kepada orang sini. Di dalam undang-undang negeri ia pun segera dikeluarkan dari hak orang Eropa.”

Ah kilse skali paragraf diatas yg disampaikan oleh org Barat itu sendiri 🙂🔪

4,3/5🌟
Profile Image for Innike Sumarni.
17 reviews
March 11, 2025
Hanafi, seorang bumiputera yang dikirimkan ibunya ke Betawi untuk menempuh pendidikan dan diasuh dalam budaya Barat, berharap kelak ia pulang sebagai orang terpelajar dan menjadi panji bagi masyarakat kampungnya.

Nyatanya, harapan itu harus pupus sebab Hanafi telah tertaut hatinya kepada seorang Nona Belanda dan lebih memilih untuk keluar dari kaumnya.

Banyak pelajaran kehidupan yang bisa dipetik dari kisah Hanafi disini. Terutama, menyoal sopan santun dan tak tinggi hati saat bermuamalah dengan orang lain.


4.5/5 ⭐️
Profile Image for Mohammad Sadam Husaen.
23 reviews
July 29, 2012
“Kawin campur itu sesunguhnya banyak benar rintangannya Corrie!”
Di zaman Balai Pustaka siapa yang tidak tahu dengan novel Abdoel Moeis yang berjudul Salah Asuhan, novel yang secara tematik agak mendobrak genre angkatan Balai Pustaka ketika pertama terbit karena Abdoel Moeis dengan berani mengambil tema yang luar biasa, yaitu perkawinan beda bangsa, yaitu antara Hanafi seorang bumipoetra dengan Corrie yang berbangsa Belanda. Tema yang sangat dahsyat karena ketika itu, novel atau roman yang muncul kebanyakan mengambil tema perbedaan adat.
Hanafi seorang pemuda bumipoetra yang bersekolah di Betawi. Disekolahannya dia, dididik bersama dengan orang Belanda sehingga dia terbawa dalam kehidupan teman-temannya yang berkebangsaan Belanda. Sifat Hanafi tidak mencerminkan seorang bumipoetra walaupun dia sudah kembali ke kampung halamannya di Solok, Sumatra Barat. Seolah Hanafi tidak mau lagi dianggap sebagai bumipoetra.
Sifat Hanafi semakin menjadi ketika dia mulai mencintai Corrie sahabatya dari kecil yang berkebangsaan Belanda, tapi sayangnya Corrie tidak membalas cinta Hanafi ketika itu, karena Corrie sudah mengganggap Hanafi sebagai kakaknya sendiri. Hanafi tak berkecil hati walau cintanya ditolak, malahan dia semakin mengejar-ngejar Corrie, sampai akhirnya Corrie pun larut dalam cinta Hanafi. Ayah Corrie yang mendengar dari anaknya sendiri bahwa dia ingin menikah dengan seorang bumipoetra mencoba menyadarkan Corrie, bahwa perkawinan campur beda bangsa akan membawa bencana, karena tuan De Busse ayah Corrie sudah mengalami itu, dia diasingkan dari keluarganya karena menikahi seorang gadis bumipoetra. Akhirnya Corrie pun sadar dan memutuskan untuk meninggalkan Hanafi.
Setelah itu Corrie kembali ke Betawi untuk meneruskan sekolahnya dengan melupakan percintaan Hanafi dengan dirinya. Setelah mendengar bahwa Corrie berangkat ke Betawi, setiap hari Hanafi terihat lesu karena cintanya tega pergi meningalkan dia. Ibu Hanafi yang tak rela melihat anaknya sakit karena cinta mencoba untuk menenangkan Hanafi dan juga menerangkan bahwa seorang mamaknya sudah menjodohkan dia dengan anaknya yaitu Rapiah.
Hanafi mula-mula tidak mau menerima lamaran dari mamaknya itu karena dia tidak mencintai Rapiah, tapi setelah mendengar penjelasan Ibunya bahwa dia mempunyai hutang budi yang sangat besar kepada mamaknya yang telah menyekolahkan dia di Betawi akhirnya Hanafi mau menikah dengan Rapiah, wlaupun dalam hati Hanafi tidak mencintai Rapiah.
Setelah perkawinanya dengan Rapiah, Hanafi tetap saja bersifat layaknya bukan seorang bumipoetra, dai tetap bergaul dengan orang-orang Belanda dan tak memperhatikan istrinya Rapiah. Akhirnya lahirlah Syafei, anak Rapiah dan Hanafi, tapi seperti tak megenal lagi orang bumipoetra, Hanafi memperlakukan Ibunya dan Rapiah layaknya pembantu.
Ibu Hanafi yang mulai bosan dengan perlakuan Hanafi terhadap Rapiah memutuskan untuk berbicara perihal hubungan keluarganya, Ketika terjadi perdebatan antara Hanafi dan Ibunya tiba- tiba seekor anjing gila menggigit Hanafi di bagian tangannya, Hanafi pun dibawa ke rumah sakit tapi, rumah sakit di Solok tak bisa menanggani sakit Hanafi, akhirnya Hanafi dibawa ke betawi untuk berobat lebih lanjut.
Di Betawi Hanafi yang sudah sembuh bertemu dengan Corrie yang sudah ditinggal wafat oleh Ayahnya dan akan mendapatkan warisan jika dia sudah berumur 21 tahun dan sudah menikah. Hanafi yang masih menyimpan cinta kepada Corrie pun mencoba untuk mendekati Corrie lagi. Corrie yang sudah tak punya saudara lagi menerima kehadiran Hanafi dengan hati yang berbunga-bunga. Sementara di Solok Ibu Hanafi bersama Rapiah menunggu kabar dari Hanafi yang tak kunjung pulang, mereka berdua mulai mengkhawatirkan Hanafi, apakah yang terjadi pada Hanafi di Betawi.
Pertemuan Hanafi dan Corrie di Betawi lama kelamaan menimbulkan perasaan cinta dalam diri keduanya. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah tanpa diketahui oleh keluarga Hanafi di Kolok, karena Hanafi sudah diangkat sebagai pegawai yang setara dengan orang Belanda di Betawi dan boleh menikah tanpa ada perwakilan dari keluarganya. Pernikahan Hanafi dan Corrie pun dilakasnakan dengan pesta kecil kecilan. Hanafi yang dari pertama tidak mencintai Rapiah mengirimkan sebuah surat ke Solok yang diterima oleh Ibunya dan Rapiah, surat itu berisi bahwa Hanafi telah menikah dengan Corrie dan mengembalikan gadis pilihan Ibunya –Rapiah- yang tidak dicintainya. Ibu Hanafi dan Rapiah yang menerima surat itu langsung menjatuhkan airmata mereka, tidak disangka anak satu-satunya yang dia miliki mengkhianati istri dan Ibunya sendiri.
Pernikahan Hanafi dan Corrie yang dari pertama dilandasi oleh rasa cinta ternyata tidak berjalan harmonis, sifat Hanafi yang selalu ingin menang sendiri menjadi pemicu pertengakaran dalam rumahtanga mereka berdua. Tuduhan-tuduhan Hanafi kepada Corrie dan pertengkaran dalam rumahtangga mereka pun menjadi pedang yang akhirnya menyebabkan perpisahan yang tragis akhirnya terjadi antara Corrie dan Hanafi . Corrie pergi meninggalkan Hanafi sendiri, selama tiga tahun tak ada kabar dari Corrie dan akhirnya Hanafi memutuskan untuk pulang dan meminta maaf kepada Ibunya.
Dalam novelnya Abdoel Moeis mencoba untuk menekankan benturan budaya timur dan budaya barat, perbedaan kepercayaan, dan perbedaan tradisi yang kuat. Tapi sayang di jaman sekarang perbedaan itu seakan dilebur. Novel-novel Balai Pustaka masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad 19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme.
Tak lepas dari tendensi karyanya, Abdoel Moeis tetap menjadi seorang sastrawan yang membuat gebrakan pada angkatan Balai Pustaka, karena selain dia belum ada yang berani mengambil tema untuk roman atau novel seperti Abdoel Moeis. Tapi yang paling khas dari angkatan Balai Pustaka adalah akhir cerita yang selalu diakhiri dengan kematian, entah itu tragis atau tidak. Karena kebanyakan tokoh utama dalam roman Balai Pustaka pasti meninggal, contohnya saja Siti Nurbaya Cinta tak Sampai karya Marah Rusli. Tokoh utama dalam roman Siti Nurbaya Cinta tak Sampai yaitu Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri meninggal di akhir cerita.
Tapi kita tidak boleh melupakan roman-roman Balai Pustaka karena itulah tonggak sastra di indonesia walaupun masih dipengaruhi oleh sastra dari luar negri.
Profile Image for Hafid.
2 reviews2 followers
November 10, 2011
buku ini menceritakan tentang kisah seorang pemuda pada tahun 20-an yang bernama hanafi. hanafi menyukai seorang gadis yang berbeda bangsa yang bernama corie namun tidak berani mengungkapkannya. hanafi yang merupakan bangsa pribumi yang sejak kecil hidup di kelilingi oleh orang-orang belanda tidak suka dengan keadaan dirinya sebagai bangsa pribumi. selain itu hanafi terpaksa menikah dengan wanita pilihan ibunya. namun karena tidak betah dia menceraikan istrinya dan meninggalkan ibu,istri dan anaknya ke kota betawi untuk mengejar corie yang di sukainya. hanafi lalu berganti kewarganegaraan menjadi warga negara belanda dan berganti nama menjadi christian han dan menikah dengan corie. namun karena kehidupan di betawi yang begitu bebas rumah tangga merekapun akhirnya rusak, corie di tuduh selingkuh dan kabur dari rumah. hanafi pun mencarinya sampai ke semarang. ternyata corie sakit keras sampai di rawat di rumah sakit paderi. corie yang mengidap penyakit kolera pun akhirnya meninggal. karena sangat sedih hanafi pun jatuh sakit. dia menjual semua hartanya di betawi dan pulang ke padang untuk menemui ibunya. namun sanak saudaranya tidak sudi menerimanya lagi. hanafi pun mengakhiri hidupnya dengan menelan banyak sekali sublimat.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
March 26, 2016
Ini adalah salah satu karya terpeting zaman Balai Pustaka yang terbit pertama kali tahun 1920an selain Siti Nurbaya dan Layar Terkembang. Ditulis dengan tata bahasa Indonesia-Melayu klasik dengan indah dan megah oleh Abdul Moeis dengan alur cerita (plot) yang sederhana namun sangat padat dan kaya akan perlawanan nilai-nilai pada zaman itu. Cerita berpusat pada Hanafi, seorang pemuda minangkabau dan Corrie Du Bussee, seorang pemudi peranakan Eropa. Mereka telah menjadi sahabat dekat sejak remaja di Solok hingga akhirnya sama-sama suka namun perbedaan etnis dan budaya menjadi penghalang hubungan mereka. Ditampah lagi Hanafi yang sudah terikat oleh peraturan adat yang mengharuskannya mengawini anak mamaknya (paman) Rapiah. Dari sinilah cerita berlanjut bagaimana Hanafi meninggalkan kampung halamannya ke Betawi dan menyetarakan statusnya yang orang pribumi menjadi Belanda.
Profile Image for Rifqi Salafi.
20 reviews
February 23, 2024
Salah Asuhan (1928) Abdoel Moeis

Kendati sudah berumur hampir seratus tahun, tetapi kisah mengenai Hanafi yang terjebak di antara dua kebudayaan akan terus relevan (sebagaimana kisah kedurhakaannya yang menurut saya 'nanggung'). Hanafi yang seorang pribumi Minang mendapat previlege berupa pendidikan Eropa hingga kelas yang tinggi, apalagi mengingat bahwa Hanafi bukanlah pribumi yang berasal dari keluarga ningrat.

la yang secara lahiriah adalah orang Minang diasuh oleh kebudayaan Barat dan jatuh cinta pada orang tua asuhnya, bahkan hingga ke level membenci "Orang tua lahiriahnya." Hanafi seakan terjebak oleh apa yang Homy Bhaba sebut sebagai hibriditas. Celakanya, dia yang sudah jatuh ke pelukan Barat, terobsesi menjadi orang Barat tanpa sadar bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.

Kebudayaan penjajah Barat yang memang rasis ogah menerima Hanafi yang memang secara fisik adalah pribumi totok, kendati secara hukum dia telah mendapat persamaan hak sebagai orang Barat. Persamaan yang dipaksakan ini juga berdampak pada hubungan perkawinannya dengan Corrie, gadis Indo-Prancis yang sejak duduk di Sekolah Rendah berteman dengan Hanafi dan pada akhirnya menerima, walaupun setengah hati, ajakan pernikahan yang diajukan oleh Hanafi. Keluarga kecil ini diasingkan oleh orang-orang Eropa yang Hanafi anggap sudah ia setarai.

Nasib hanafi semakin runyam karena secara terang-terangan melepas statusnya sebagai orang Minang yang digambarkan sangat kuat memelihara adat dan kebiasaan. Simbol perceraiannyapun tidak tanggung-tanggung: Hanafi meninggalkan istrinya Rapiah, anaknya Syafei, dan orang paling mencintainta, ibunya. Hanafi dijodohkan dengan Rapiah dalam rangka balas budi karena bapak Rapiah Yang juga paman Hanafi sudah banyak membantu dalam kelangsungan pendidikan "eksklusif" Hanafi. Pernikahan ini juga banyak diwarnai tradisi dan adat Minang yang begitu kentara.

Pengubahan namanya dari Hanafi ke Christian Hans juga lambang perceraiannya dari adat Minang yang begitu kental nilai Islamnya mengingat nama Christian begitu identik dengan nama orang yang beragama Kristen (Arti nama Christian sendiri adalah seseorang yang beragama Kristen). Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa agama Kristen identik dengan agama orang-orang Eropa atau Barat.

Kendati "telah bercerai" dan membangun hubungan baru dengan budaya Barat yang diagungkannya, namun Hanafi tetaplah menyisakan jati diri ke-Minangkabauan dalam dirinya tanpa bisa ia membuangnya. Faktor ini yang membuat Hanafi terjebak pada hibriditas. Di satu sisi dia adalah Minang totok, namun di sisi lain dia berusaha keras menjadi setara dengan orang Eropa.
Profile Image for Hening Utami.
12 reviews
July 2, 2021
Salah Asuhan adalah karya pertama Abdoel Moeis yang saya baca. Mulanya saya menganggap kisah ini sederhana saja, yaitu berkisar percintaan antara seorang gadis keturunan Belanda dengan laki-laki pribumi. Tetapi sejak lembar pertama, sudah terasa pula kompleksitas konflik dan latar belakang yang menaungi kisah persahabatan Corrie dan Hanafi. Seterusnya, kisah ini mengundang saya berangan-angan juga tentang ragam perspektif yang muncul darinya, yakni kesatu, perihal pertentangan antara kehendak diri dengan perindahan atas pendapat orang lain (yang mana masih sangat relevan di jaman sekarang). Pertentangan ini nyata sekali dirasakan oleh karakter Corrie du Bussee, yang semula saya anggap menyebalkan dan licik. Padahal dengan kisah ini, saya mendapati sulit untuk menilai-nilai siapakah yang benar dan siapa yang salah. Jika pada mulanya saya menilai Corrie hanya sebagai gadis yang tahunya memain-mainkan hati lelaki saja, menjelang akhir cerita saya justru dapat memahami pilihan-pilihannya sebagai individu yang kompleks, dan karenanya sangat manusiawi.

Kedua, saya melihat kisah ini--tentu sesuai judulnya--hendak menampilkan bagaimana asuhan yang diterima seseorang dari sejak dininya dapat membentuk perangai dan cita-cita orang yang bersangkutan itu di masa depan. Karakter Hanafi yang terkesan lebih banyak buruk ketimbang baiknya itu digambarkan sebagai hasil dari kekeliruan pola asuh yang didapatnya sejak kecil. Hanafi, yang laki-laki Minang aseli, sejak duduk di bangku sekolah sudah diasuh secara Belanda! Maka tak heran, jika hasrat hidup dan cita-citanya terbentuk secara keeropa-eropaan pula. Namun, kendati bertabiat orang Eropah, masihlah ada selera ketimuran yang tersirat daripada sifatnya, bahkan Hanafi sendiri pun tak sadar akan hal ini. Oleh karenanya pada ujungnya ia merasa telah gagal mengasuh dua orang istri yang sifat-sifatnya saling bertolak belakang itu; yakni Rapiah, gadis Minang penyabar, dan Corrie du Bussee, seorang Belanda yang keras hati.

"Kedua istrinya itu sungguh tak ada seorang jua kekurangannya. Hanya si suami jualah yang salah mengasuhnya, karena suami itu telah menjadi orang tanggung, sebab salah asuhannya sendiri."

Membaca kisah ini sampai tuntas, tidak dapat saya utarakan sisi manakah yang dimenangkan oleh Abdoel Moeis di dalamnya, adat atau kemajuan? Sebab pada akhirnya Hanafi memang menyerah pada hidup, namun tak menyerah atas keinginan.
Profile Image for Zacky Putra.
11 reviews
Want to read
December 5, 2019
menceritakan kisah cinta seorang pemuda pribumi dari Melayu dengan seorang gadis Eropa. Hanafi seorang pemuda pribumi dari solok Melayu. Ibu hanafi sendiri adalah seorang janda, ayahnya sudah meninggal pada saat hanafi masih kecil, sehingga ibunya membesarkan Hanafi seorang diri. Meskipun membesarkan putranya seorang diri, ibunya ingin memandaikan hanafi dan selalu berusaha keras untuk membiayai sekolah hanafi. Pada saat bersekolah di HBS Hanafi dititipkan pada keluarga Belanda, sehingga segala tingkah lakunya seperti seorang Eropa. Bahkan setelah lulus dari HBS pun pergaulan dan tingkah lakunya tak lepas dari pergaulan orang-orang Eropa. Ia bekerja di kantor BB sebagai asisten residen di Solok. Meskipun hanafi adalah seorang pemuda asli pribumi. Namun, segala tingkahnya sudah terpengaruhi kebarat-baratan.
Saat bersekolah di HBS, Hanafi sangat dekat dengan gadis eropa bernama Corie, kedekatan mereka berdua sudah seperti kakak beradik. Kemana-mana mereka selalu berdua, dalam kesehariannya pun mereka pun sangat dekat. Jalan-jalan berdua, main tenis berdua, dan duduk sambil menikmati teh pun bedua. Karena kedekatan mereka itulah Hanafi mempunyai rasa sayang yang berlebih terhadap corie, perasaan Hanafi tidak sekedar rasa sayang terhadap kakak dan adik, melainkan rasa sayang terhadap seorang kekasih. Namun sikap Corie dalam pertemanan tersebut masih biasa saja. Hingga suatu hari Hanafi memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Corie. Tetapi Corie tidak langsung memberikan jawaban kepada Hanafi, dia hanya berpamitan pulang dengan alasan yang tidak jelas. Keesokan harinya Corie pergi meninggalkan Solok menuju Betawi, ia meninggalkan sepucuk surat untuk Hanafi yang berisikan penolakan halus mengenai pernyataan perasaan Hanafi kemarin. Karena bagi Corie ia tidak mungkin menikah dengan seorang pribumi, alasannya karena perbedaan budaya antara bangsa melayu dengan bangsa eropa itulah yang tidak memungkinkan Corie untuk menerima Hanafi. Lagipula Corie juga ditentang oleh ayahnya jika menikah dengan orang melayu.
Mengetahui kenyataan tersebut Hanafi merasa terpukul, ia sangat terluka dan rapuh. Dan sejak saat itu Hanafi mulai mengurung diri dikamar dan berubah menjadi orang yang acuh terhadap lingkungan. Bahkan ia juga tidak berminat pada aktifitas manusia, makan dan minum pun tidak. Badannya kurus kering, Hanafi bagaikan seseorang yang sedang terkena penyakit.
Dalam masa berkabung itu ibunya selalu menasehati Hanafi agar tidak bersedih lagi. Ibunya ingin Hanafi melupakan Corie dan menikah dengan Rapiah anak dari mamaknya. Dimana mamaknya ini adalah Sultan Batuah yang membiayai selama Hanafi bersekolah. Awalnya Hanafi merasa marah, karena ia hanya cinta terhadap Corie saja, bahkan ia tidak mengenal siapa itu Rapiah. Ibu Hanafi selalu dengan sabar menjelaskan dan menasehati Hanafi, dan menyampaikan bahwa perjodohan itu adalah perjodohan hutang budi karena ibu Hanafi mempunyai hutang terhadap Sultan Batuah. Lagipula Rapiah juga si gadis Minang dengan budi pekerti dan tutur kata yang baik. Setelah mendapat bujukan terus menerus dari ibunya, akhirnya Hanafi menerima perjodohan itu walaupun dengan sangat terpaksa, karena ia hanya sayang terhadap corie.
Pernikahan yang dilandasi dengan keterpaksaan tanpa adanya rasa cinta itupun tidak terasa tentram. Setiap hari Hanafi selalu memaki-maki Rapiah karena alasan yang sepele, Rapiah pun tidak melawan, dia hanya diam terhadap perlakuan suaminya. Dua tahun usia pernikahan mereka dikarunia seorang putera bernama Syafii. Namun, itu juga tidak menimbulkan rasa cinta di hati Hanafi. Perlakuannya pada Rapiah masih saja kasar. Ia juga masih sering membentak dan memukul Rapiah.
Suatu hari Hanafi mendapatkan musibah terkena gigit anjing gila di pergelangannya, dan mengharuskan di uuntuk berobat ke Betawi. Ia sangat senang karena di Betawi kemungkinan ia dapat bertemu dengan Corie. Ia meningalkan anak istri dan ibunya di Solok. Singkatnya sesampainya Hanafi di Betawi ia bertemu dengan gadis Eropa yang tak lain adalah Corie. Dengan amat senang karena bisa bertemu kembali mereka selalu menghabiskan waktu berdua seperti yang mereka lakukan dulu, jalan-jalan dan bersepeda berdua. Satu minggu sudah Hanafi berada di Betawi, dan sejak saat itu Hanafi mencari kerja di Kantor BB sebagai commies. Meskipun gaji awal cukup kecil, namun hanafi sangat senang. Karena bisa bertemu dengan Corie kembali, Hanafi berusa keras untuk mendapatkan hati Corie. Bahkan Hanafi bersedia menjadi wargakenegaraan Eropa jikalau memang Corie mau menerimanya.
Karena rasa ibanya, akhirnya Corie mau menerima Hanafi walaupun dengan segala resiko yang harus Corie terima. Mereka berdua menikah di rumah teman Belandanya. Sejak pernikahan mereka berdua itupun Corie mulai dijahui oleh teman temannya. Di solok Melayu sana Rapiah dan ibu Hanafi sudah mengetahui bahwa Hanafi telah menikah dengan Corie, tetapi Rapiah dengan setia masih setia menungggu kedatangan Hanafi kembali di Solok.Seiring berjalannya waktu, bukannya ketentraman dan kebahagian yang didapat dalam rumah tangga Hanafi dan Corie, justru kepelikan yang hadir dalam rumah tangga mereka. Sikap Hanafi yang keterlaluan selalu menuduh Corie yang macam-macam. Hingga pada suatu hari Corie sudah tidak mau bersama dengan Hanafi, ia pergi meninggalkannya menuju Semarang. Karena kesombongan dan keangkuhan Hanafi itu ia tidak diterima dalam bangsa Melayu ataupun Eropa.
Setelah beberapa hari ditinggalkan Corie, akhirnya Hanafi mengetahui bahwa Corie berada di Semarang. Kemudia Hanafi pergi ke Semarang untuk menemui Corie. Namun, sesampainya di Semarang berita buruklah yang diterima oleh Hanafi. Ia menerima kabar bahwa Corie masuk rumah sakit karena sakit keras yaitu Kolera. Hingga akhirnya nyawa Corie tidak bisa diselamatkan lagi. Lalu Hanafi pulang ke Solok untuk menemui Ibunya. Setelah beberapa hari Hanafi sampai di Solok, ia jatuh sakit karena menelan 6 butir sublimat, yang menyebabkan Hanafi terus muntah darah dan akhrinya merenggut nyawanya.

hubungan anatara judul dengan isi pada novel salah asuhan ini berkesinambungan karena pada isi novel tersebut menceritakan tokoh hanafi yang dititipkan pada sekolah Belanda.

Ada berbagai hal yang membuat saya terpanggil untuk membaca dan memahami isi novel Salah Asuhan karya almarhum Abdoel Moeis ini. Pertama, karena dari segi usia saya cukup memadai untuk mencerna dan mengerti substansi novel ini (mengingat banyaknya kandungan unsur sastra berbau Melayu sekaligus juga diselingi istilah-istilah Belanda). Kedua, tema yang diusung yaitu tentang pernikahan antarbangsa dirasakan dapat memprovokasi nilai-nilai yang pada masa itu dirasakan bernuansa nilai-nilai adat yang kolot. Ketiga, adanya konflik persepsi individu yang bermuatan aspek psikologis dari figur yang diperankan para tokohnya. Apabila saya berkesempatan membaca buku ini semasih SMP atau SMA, mungkin saya nggak mudeng atau bahkan repotnya lagi malah bisa langsung mengantuk ketika berusaha membacanya. Haha.
Profile Image for Gilang Permana.
103 reviews22 followers
April 15, 2013
Balai Pustaka merupakan salah satu penerbitan yang menjadi saksi perjalanan bangsa Indonesia sejak tahun 1908. Mewarnai dokumentasi bangsa melalui buku dalam berbagai jenis seperti sastra, pendidikan hingga bacaan umum. Tujuan awal berdirinya sendiri cukup mulia yakni mengembangkan bahasa bahasa daerah utama di Hindia Belanda seperti bahasa Jawa, Sunda. Namun seiring perjalanan waktu pada masa penjajahan justru menjadi media propaganda dengan membatasi ruang gerak penulis pribumi seperti Marah Roesli, Abdul Moeis maupun Merari Siregar yang disebut juga dengan Angkatan Balai Pustaka. Tulisan mereka pun harus melalui proses editorial Balai Pustaka terutama yang mendiskreditkan penjajah bahkan tak jarang mereka memaksa para penulis untuk memasukkan karakter baru versi penjajah demi keseimbangan sebuah cerita. Termasuk disengaja atau tidak sosok Corrie pada buku Salah Asuhan yang murni dari penulis atau kehendak Belanda melalui Balai Pustaka. Sosok Corrie diceritakan sebagai seorang gadis Belanda yang ceria, cerdas dan beradab yang benar benar melukiskan tipe gadis barat. Tidak hanya sampai disitu karena seorang Hanafi yang menjadi tokoh utama pada buku yang sama menjadi semacam karakter olok olok Belanda yang digambarkan karena cinta dia rela untuk menanggalkan kepribumiannya untuk menjadi Belanda tulen dengan berbagai cara.

http://soepolenk.com/2013/04/15/salah...
Profile Image for Randhy Nugroho.
16 reviews3 followers
Read
May 18, 2013
Buku yang ditulis pada tahun 1928 ini menceritakan tentang tragedi Hanafi, seorang Minangkabau yang jatuh cinta kepada Corrie du Busee, peranakan Prancis-Minangkabau pada zaman kolonial. Hanafi yang menilai bahwa adat Timur yang dipegang oleh kaum pribumi sangat ketinggalan zaman dan tidak berpendidikan, menjalani hidupnya dengan pola pikir dan perilaku ke-Baratan. Sampai Hanafi sendiri sudah dianggap orang 'Ulando' (bahasa Minang untuk Belanda) oleh orang kampungnya.

Plot yang disajikan sangatlah sederhana, namun berisi. Abdoel Moeis mampu menunjukan kelemahan baik adat Timur yang dipegang oleh kaum Minang dengan adat Barat yang menjadi pedoman hidup bangsa Eropa di zaman kolonial. Seolah-olah penulis ingin mengatakan tidak ada adat tanpa cacat.

Hanafi yang sejak bersekolah sudah di-'gadaikan' oleh ibunya untuk dinikahkan dengan Rapiah, anak dari mamaknya, menolak dengan keras permintaan tersebut karena Rapiah yang merupakan orang 'kampung totok' tidak sederajat dengannya yang berpendidikan ala Eropa. Di satu sisi, Corrie yang menjadi dambaan hati Hanafi, merasa banyak halangan bagi mereka untuk bersatu karena bagi orang Eropa, Hanafi hanyalah anak Bumiputra (Pribumi) yang kurang bermartabat. Dari sinilah novel mengalir.

Novel ini sangat maju dan kritis untuk zamannya, dan dinilai oleh Teeuw sebagai salah satu novel pre-war terpenting di Indonesia selain Sitti Nurbaya dan Layar Terkembang.
Profile Image for Farissa.
238 reviews28 followers
September 14, 2015
Saat sedang melihat-lihat bagian recomended di Goodreads ini, di situ saya melihat buku Salah Asuhan dan langsung berpikir hei sepertinya saya sudah pernah baca buku itu. Lalu saya melihat sinopsisnya dan memang saya sudah membacanya. Saat SMP sepertinya dan pinjam dari perpustakaan sekolah.

Detail ceritanya sudah agak lupa tapi saya ingat gambaran besar ceritanya.

Hanafi adalah seorang pemuda asal Solok. Dia mendapatkan pendidikan di sekolah Belanda di Betawi. Dia lebih banyak bergaul dengan orang-orang Eropa. Tapi hal itu malah membuat dia jadi besar kepala, merasa dirinya lebih tinggi dan memandang rendah orang-orang di kampung halamannya. Dia juga jadi berperilaku kebarat-baratan.

Hanafi jatuh cinta dengan gadis Belanda bernama Corrie. Namun Hanafi sudah dijodohkan dengan anak mamaknya, Rapiah. Akhirnya Hanafi terpaksa menikah dengan Rapiah tapi Hanafi masih memendam perasaan pada Corrie.

Endingnya sudah agak lupa. Tapi saya ingat kalau saya sempat merasa sebal pada Hanafi karena sifat besar kepalanya itu. Dia juga jadi durhaka pada ibunya dan tidak memperlakukan Rapiah dengan baik. Padahal Rapiah gadis yang sangat baik.

Meskipun ini buku klasik tapi maknanya sebenarnya masih relevan sampai saat ini.
Profile Image for Izzat Isa.
415 reviews50 followers
March 5, 2018
Karya yang kaya dengan pembezaan antara dua bentuk budaya dan pemikiran, antara Barat dan Timur, antara Hanafi dan masyarakat sekelilingnya yang utuh dan kental dengan budaya Minang. Hanafi - seorang pemuda yang menongkah arus selepas mendapat pendidikan barat melalui sekolah Belanda telah 'merosakkan' hati isteri yang dikahwinkan secara paksa, selain ibu kandung yang difikirkan mempunyai pemikiran kekampungan. Demi cinta, dia sanggup berpatah arang dengan asal-usulnya. Liku yang dihadapi sebagai orang yang keluar dari Timur dan tidak diterima oleh barat, telah meletakkan dia dan pasangannya dalam kancah dan konflik budaya. Lantas, perkahwinan kedua juga menuju ke lembah kegagalan.
Di akhir persimpangan, Hanafi gagal memiliki apa yang dihajati. Berpisah dengan Corrie dan juga dipisahkan dengan anak sendiri. Jalan terakhir yang diambil sungguh mendukacitakan. Sebuah karya yang mendidik masyarakat selain menyatakan antara barat dan timur, ada suka dan ada juga dukanya.
23 reviews
November 14, 2019
Novel Salah Asuhan menceritakan tentang kehidupan Hanafi, ia adalah pemuda dari Minangkabau, ia tinggal hanya bersama ibunya, ayahnya sudah lama meninggal saat ia masih kecil, Hanafi mendapat kesempatan meneruskan sekolah nya ke HBS sekolah Belanda, disana ia dititipkan pada keluarga Belanda, sejak saat itu Hanafi di tanami sifat dan kebiasaan orang barat. Tak punya sopan santun, tidak menghargai sesama, hanya mau berteman dengan orang eropa, sombong dan menganggap dirinya terhormat adalah sifat nya.
Setelah Hanafi lulus, ia bekerja di kantor BB sebagai asisten residen di Solok. Saat ia masih sekolah, ia dekat dengan Corrie, kedekatannya seperti kakak adik, mereka sering main tenis bersama, jalan berdua. Hingga akhirnya Hanafi menyatakan cinta pada Corrie, dan mengajak nya menikah namun Corrie tidak mencintai Hanafi, ia hanya menganggap sebagai seorang kakak.
Mendengar pernyataan cinta dari Hanafi, Corrie bercerita pada ayahnya, ayahnya menentang keras perihal itu, karena dapat menimbulkan kekacauan, baik dari Hanafi dan anaknya. Perbedaan antara seorang pribumi dan orang Eropa tidak seimbang, dan menurutnya sulit bersatu, orang Eropa tak bisa menerima pribumi, dan sebaliknya. Akhirnya Corrie memutuskan untuk menjauh dari Hanafi. Beberapa bulan kemudian ayah Corrie meninggal dunia.
Disisi lain, ibu Hanafi meminta ia menikah dengan Rapiah saudara sepupu nya, karena menurut ibunya Hanafi telah banyak berhutang materi dan hutang budi pada ayah Rapiah, biaya sekolah nya sebagian dapat dari pamannya itu. Hanafi menolak dan mencemooh saudara nya itu.
Akhirnya Hanafi menikah dengan Rapiah karena pinta ibunya dan atas dasar agar hutangnya terbayar, juga kasihan pada Rapiah. Mereka berdua dikarunia anak, Syafei namanya. Selama Hanafi berumah tangga dengan Rapiah ia tak pernah peduli dengan istri dan anaknya itu.
Suatu hari Hanafi digigit anjing gila yang mengharuskan ia dibawa kerumah sakit di Betawi, di sana ia bertemu dengan Corrie, setelah melepas rindu, bercengkrama, mereka kembali akur seperti sedia kala. Hanafi yang masih tergila-gila dengan Corrie masih ingin menikahinya, ia merubah kewarganegaraannya menjadi Eropa. Ia juga tega menceraikan istrinya, dan meninggalkan ibu serta anaknya.
Kemudian menikahlah Corrie dengan Hanafi, walaupun Corrie sebenarnya tidak cinta, kasihan pada Hanafi. Setelah 2 tahun pernikahannya mereka tidak mendapat kebahagiaan, mereka sering bertengkar karena hal sepele, selain itu Corrie berteman dengan tante Lyn seorang germo, yang mengakibatkan Corrie difitnah banyak orang, parahnya lagi suaminya menuduhnya berzina, padahal Corrie tidak pernah seperti itu. Akhirnya bercerailah Corrie dan Hanafi.
1 tahun berlalu, Hanafi menyesal atas apa yang ia perbuat pada istrinya, ia mencari istrinya dan mendapat kabar kalau istrinya pergi ke panti. Lalu ia menjemputnya di panti asuhan Semarang, dan di dapati Corrie terkapar di rumah sakit karena penyakit kolera. Corrie meninggalkan Hanafi untuk selama-lamanya. Runtuhlah hati Hanafi, ia tidak punya harapan hidup, ia memutuskan untuk kembali ke kampung menemui anak dan ibunya, sesampainya disana ia di balas oleh orang kampung, Hanafi diacuhkan. Maka sadarlah Hanafi atas perbuatannya yang dulu-dulu. Ia meminta maaf pada ibunya, ibunya meminta agar Hanafi mau kembali dengan Rapiah, tapi Hanafi tidak bisa, ia berpesan pada ibunya untuk menjaga dan mendidik anaknya agar tidak seperti Hanafi, Hanafi telah berputus asa, ia meminum 6 sublimat yang akhirnya menjemput nyawanya.
Pengarang ingin menyampaikan kritik beberapa hal dan yang paling menonjol adalah adat dan budaya Barat-Timur. Abdoel Moeis menyajikan kritik ini dalam diri seorang Hanafi yang merasa rendah diri akan statusnya yang seorang Bumiputera. Sesungguhnya, kritik ini masih relevan hingga sekarang, terutama di masa sekarang ketika globalisasi membuat adat dan budaya asli semakin luntur. Dengan adanya pendidikan modern dan globalisasi, banyak generasi muda Indonesia yang merasa rendah diri dengan adat dan budaya aslinya karena gengsi dicap kolot dan kuno.

Secara tidak langsung juga, Abdoel Moeis memberikan saran lebih lanjut lewat sosok Corrie dan ayahnya. Bolehlah kita menuntut ilmu setinggi-tingginya, tetapi bijaknya tetaplah ingat dari mana kita berasal. Corrie banyak menegur Hanafi ketika dia merasa rendah diri sebagai seorang Minang dan berkata bahwa sesungguhnya Hanafi sendirilah yang melecehkan bangsanya dengan membanding-bandingkan adat budaya Minang dengan Eropa. Lebih lanjut, Corrie mengatakan bahwa seharusnya Hanafi meletakkan Barat dan Timur pada kutubnya masing-masing sebagaimana dirinya. Status kedua orangtua Corrie banyak memberikan pengaruh kepada caranya menghormati masing-masing budaya, karena meski ayah Corrie seorang Perancis, ibunya adalah seorang Minang dan dia sangat menghormati adat budaya asal ibunya.

Satu hal yang dapat kita lihat dari novel ini adalah bagaimana dahulu pergaulan Barat-Timur sering bergesekan dalam banyak hal, terutama ketika hal itu berujung kepada pernikahan. Hal ini terlihat ketika ayah Corrie menentang rencana Hanafi dan anaknya untuk menikah. Bukan sebab pribadi Hanafi yang membuat ayah Corrie menentangnya, tetapi karena pada masa itu seorang wanita Eropa dipandang rendah ketika menikah dengan seorang lelaki Bumiputera. Ayah Corrie mengkhawatirkan putrinya yang kelak diasingkan dari pergaulan karenanya. Kritik Abdoel Moeis ini sangat tajam dan oleh karenanya dahulu Salah Asuhan sempat ditolak Balai Pustaka. Pada intinya, penulis mengkritik orang-orang Eropa yang merasa "seharusnya dituankan" dan memandang rendah adat budaya negara tempat tinggal mereka, padahal mereka adalah pendatang.

Meskipun alur cerita dari novel ini dirasakan cukup berliku dan terkesan lambat, hal ini dikarenakan dalam situasi yang kritis seringkali dimunculkan hal-hal di luar dugaan sehingga menjadikan kondisi semakin pelik namun itu menjadi dinamika dan kekuatan karakter setiap tokoh. Berdasarkan hal tersebut saya pribadi cukup dapat menikmati Salah Asuhan sebagai karya yang layak untuk dibaca karena mengandung unsur-unsur emosional para tokohnya yang tentu hal tersebut dapat memberikan bobot begitu kuat atas kualitas suatu karya sastra.
Cerita ini secara keseluruhan banyak diwarnai dengan rangkaian dialog yang nampaknya cukup dapat memberikan warna tersendiri bagi alur cerita. Karena dengan demikian bisa dimunculkan perjalanan konflik psikologis para tokoh sehingga dominasi dialog dengan kejelian sang penulis bisa menjadi andalan untuk menggiring persepsi para pembaca. Dengan demikian saya pribadi tidak mempermasalahkan kuantitas dialog yang dimunculkan, karena dari kuantitas dialog yang cukup banyak sudah cukup untuk memberi kualitas tersendiri untuk karakter para tokoh.
9 reviews
October 1, 2007
One of the best book in the Indonesian literacy, for all time.
Very famous, and always being recommended for students who wants to learn about Indonesian literacy.

This is the first novel that i read.

When i was in highschool, my teacher in Indonesian Language class pick this one for me.
It took him about 10 seconds to think which book suits me and he pick this one.

It's hard for me to understand the "real" meaning of this book, but after awhile i understand.

So, this one is classic for me.


This book is about:
An Indonesian man whom fall in love with a young Dutch woman.
By that time it's not a common thing in the society.
So they went thru alot of "up and down" in their relationship, .....
(if you want to know what happen at the end,.... you must read it yourself). ^_^

-----
Febry
-----



Profile Image for Agnes.
27 reviews2 followers
October 30, 2007
I read this book in my junior high school library, 11 years ago. But I still remember the story :)
The story is about Hanafi, a minangnese man who's grow with west culture. He become a smart person but stubborn and thinking that all member of his family and culture is so stupid, he fell in love with his schoolmate, Corrie, a beautifull & smart dutchwoman.
But his culture require him to marry a minangnese woman named Rapiah, they matched since a child.
Well, I think this is not a happy ending story, but I enjoy the book because Bp. Abdoel Moeis use a beautifull language.
It's so classic and so Indonesian.
I don't like Hanafi at all, he's arrogant and have no gratefull to his family. Just because he smart so he can treat roughly to other people. Blahhh.... >:p
Profile Image for Sirot Fajar.
Author 3 books3 followers
July 4, 2014
Waktu SD mau baca ini dilarang bapak, "jangan baca buku itu dulu. Baca aja yang lainnya. Itu buku untuk orang dewasa..." Tapi tetap aja nyuri-nyuri baca. Namun butuh waktu yang lama, 1 bulan lebih untuk menamatkannnya, karena tidak terlalu tertarik dengan ceritanya (mungkin karena masih kecil). Tapi biarpun demikian banyak pelajaran yg bisa didapat dari roman ini.. Sepertinya zaman kini banyak orang yang 'salah asuhan', hehe..
Profile Image for Topaz.
21 reviews
November 13, 2023
I got the book but I didn't read it fully.. mainly cause the characters is very irritating that I want to kill myself reading it just like what Hanafi did at the end.
But then again it might just how the author want to portray its lesson which is to love our own country but damn this pissed me off and it's stressing me out, especially when I got a spoiler about the ending like??? I read books to relieve my stress not add on it???
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ismadi.
21 reviews2 followers
September 15, 2007
shock culture...tema yang diangkat dalam kisah ini.berlatar budaya lokal dan keadaan sosial dimasa kolonial cerita asmara, pertentangan gaya hidup generasi tua dan muda, kisah adat ditampilkan dalam komposisi kisah yang menarik...sarat makna dan filosofi hidup...

gaya-gaya pujangga masa lampau kental dalam penceritaannya...
25 reviews1 follower
December 4, 2019
SALAH ASUHAN
Hiduplah seorang pemuda bersama ibunya karena ayahnya telah lama meninggal. Hanafi nama pemuda itu. Mereka orang pribumi asli Melayu yang berasal dari Solok, Sumatera Barat. Ibunya sangat menyayangi anak satu-satunya itu. Sampai ibunya menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya agar Hanafi menjadi orang yang pandai. Hanafi sering bermain di lingkungan Belanda sehingga menjadikan sifat dan gaya hidupnya kebarat-baratan. Ia merasa dirinya tidak membutuhkan orang pribumi lagi kecuali ibunya itu.
Pergaulan dengan orang-orang Eropa membuat Hanafi jatuh hati pada salah satu gadis Eropa bernama Corrie. Corrie adalah seorang gadis keturunan Indo Perancis-Belanda. Hubungan keduanya akrab dan mereka sering bersenda gurau, bahkan mereka sering mengobrol berdua. Seiring berjalannya waktu Hanafi sudah menyadari perasaannya pada Corrie bukanlah perasaan sebagai sahabat atau saudara melainkan rasa lain dan ia pun merasa bahwa Corrie juga merasakan apa yang ia rasakan. Corrie adalah peranakan Eropa, sedangkan Hanafi adalah orang pribumi asli. Corrie bimbang setelah ayahnya menasehati tentang perkawinan campuran. Akhirnya Corrie memilih ke Betawi untuk menghindar dari Hanafi.
Ibunya berusaha membujuk Hanafi untuk menikahi Rapiah. Sutan Batuah pulalah yang membantu ibunya membiayai sekolah dan hidup Hanafi selama di Betawi. Akhirnya Hanafi terpaksa menerima bujukan ibunya yaitu membalas utang budi dengan menikahi Rapiah. Bagaimanapun perasaan cintanya Hanafi tidaklah bisa dibagi lagi dan hanya untuk Corrie seorang saja. Karena itu, pernikahan mereka yang tidak dilandasi dengan cinta semakin hari semakin tidak tenteram. Selama dua tahun itu mereka dikaruniai seorang anak bernama Syafei.
Pada suatu hari Hanafi sedang duduk di kebun setelah habis memarahi Rapiah. Ibunya lalu menemuinya ke kebun dan menasehatinya. Tetapi hanafi menjawabnya dengan cemohan. Lalu tidak lama kemudian anjing gila berlari dan menggigit tangan Hanafi. Ibunya segera mencarikan dokter untuk menyembuhkan tangan Hanafi. Dokter itu menyarankan agar Hanafi diobati di Betawi. Saran dari dokter itu membuat Hanafi senang sebab kepergiannya ke Betawi bisa untuk bertemu Corrie kembali. Setelah di Betawi akhirnya mereka bertemu lagi dan Hanafi berusaha mendapatkan hati dan cinta Corrie.
Pernikahan mereka dilangsungkan secara diam-diam. Sementara itu, surat perceraian dengan Rapiah sudah dikirimnya ke Solok. Karena ibunya Hanafi sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan merasa seorang diri, ibunya meminta kepada Rapiah untuk tetap tinggal bersama syafei di Solok. Sementara itu, Rumah tangga Hanafi dan Corrie tidak seperti yang mereka impikan. Keluarga mereka dijauhi oleh teman-teman mereka sendiri. Keduanya hidup dalam kondisi yang membingungkan. Bangsa Eropa tidak bersedia mengakui mereka. Demikian pula, bangsa Pribumi tidak mengakuinya karena keangkuhan dan kesombongan Hanafi.
             Di akhir cerita, Corrie meninggal dan Hanafi yang sudah putus asa dengan hidupnya sengaja membunuh dirinya sendiri dengan meminum obat empat butir sublimat yang bersifat racun sehingga nyawanya tak bisa ditolong lagi. Sebelum Hanafi menghembuskan napas terakhir, ia sempat meminta maaf pada ibunya karena sepanjang hidupnya ia selalu membuat sedih ibunya.
Tanggapan
Judul dalam novel ini sungguh menarik yaitu “Salah Asuhan”, dari sekilas tentu pembaca langsung mengetahui bahwa isis dari cerita paling tidak membahas tentang ibu yang salah mengasuh anaknya. Namun jika kita aca secara keseluruhan, bukan salah bunda mengandung yang menyebabkan Hanafi memandang rendah adat budaya asalnya. "Asuhan" yang salah adalah penyebab Hanafi demikian, entah dari pergaulannya dengan teman-teman Eropa atau pendidikan modern yang pernah dijalaninya.
Abdul Muis, sebagai pengarang tidak hanya memberikan kisah pola asuh yang salah namun juga tentang cinta beda bangsa dan perjodohan, yang terbit pada 1928. Hal itu juga berkaitan dengan realita pada saat itu yang masih banyak kawin paksa dan Indonesia masih dikuasai oleh bangsa asing, yaiu Belanda.
Novel ini, selain memberikan kritik tajam pada perkawinan campuran antar bangsa Barat-Timur juga pada adat, khususnya adat Minangkabau. Abdoel Moeis menyajikan kritik ini dalam diri seorang Hanafi yang merasa rendah diri akan statusnya yang seorang Bumiputera. Sesungguhnya, kritik ini masih relevan hingga sekarang, terutama di masa sekarang ketika globalisasi membuat adat dan budaya asli semakin luntur. Dengan adanya pendidikan modern dan globalisasi, banyak generasi muda Indonesia yang merasa rendah diri dengan adat dan budaya aslinya karena gengsi dicap kolot dan kuno.
Satu hal yang dapat kita lihat dari novel ini adalah bagaimana dahulu pergaulan Barat-Timur sering bergesekan dalam banyak hal, terutama ketika hal itu berujung kepada pernikahan. Hal ini terlihat ketika ayah Corrie menentang rencana Hanafi dan anaknya untuk menikah. Bukan sebab pribadi Hanafi yang membuat ayah Corrie menentangnya, tetapi karena pada masa itu seorang wanita Eropa dipandang rendah ketika menikah dengan seorang lelaki Bumiputera. Kritik Abdoel Moeis melalui novel ini sangat tajam dan oleh karenanya dahulu Salah Asuhan sempat ditolak Balai Pustaka oleh sebab penulis mengkritik orang-orang Eropa yang merasa "seharusnya dituankan".
Displaying 1 - 30 of 166 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.