Dari sisa ingatan dan catatan minim, mantan enam rekan (Freddy Lasut sudah almarhum) perjalanan Soe Hok-gie (27 tahun) dan Idhan Dhanvantari Lubis (20), berusaha menulis ulang kesaksian sebenarnya tragedi perjalanan pendakian ke Gunung Semeru, nun 40 tahun lalu.
Aristides Katoppo (71): “Hok-gie terlalu cepat pergi, tapi kalau dia hidup dan sekarang sudah umur 67 tahun, apa dia tahan tidak bikin ribut-ribut?” Komentar Tides yang 40 tahun lalu, meminta bantuan helikopter TNI-AL untuk turun di alun-alun kota Malang, lalu ikut heli itu mengapung dan terkurung kabut tebal di kaki Semeru.
Maman Abdurachman (65): “Saya mungkin shock dan dehidrasi, hingga menganggu kondisi dan stres. Tapi saya tidak kesurupan, saya sadar kok, cuma merasa badan panas sekali,” ujar Maman yang tidak trauma dan tidak melarang putrinya menjadi pendaki gunung Mapala UI juga.
Herman Onesimus Lantang (69): “Saya yang memimpin evakuasi jenasah Hok-Gie dan Idhan, tentu dengan dukungan tim besar dari Malang dan Jakarta, bukan sendirian,” ujar Herman yang ketimpa sial juga. “Masih lelah dan baru masuk ke kota Malang, gua diinterogasi polisi, diperiksa dan diminta kesaksian tentang Hok-Gie dan Idhan itu bukan korban pembunuhan di Semeru.”
Anton Wijana alias Wiwiek (63): “Aku satu-satunya anggota tim yang fasih berbahasa Jawa, makanya aku diajak turun duluan bareng Tides, untuk minta bantuan ke Malang dan Jakarta. Yang terjadi kemudian, ya kerja sama kemanusiaan sejati,” kata Wiwiek yang mengenang solidaritas zaman dirinya aktif di pergerakan anak-anak jaket kuning UI.
Rudy Badil (64): “Saya datang, saya lihat, saya rasakan, saya pulang, saya bertanggung jawab dan saya menulis kembali kesaksian peristiwa 40 tahun lalu itu,” ujarnya, seraya menjelaskan sulitnya merekonstruksi ingatan masa 40 tahun lalu. “Salah-salah dikit, harap maklum.”
---oOo---
Soe Hok-Gie … sekali lagi, diharapkan menjadi buku baru sekali lagi tentang Soe Hok-gie, berisikan kisah saksi hidup pendakian di zaman awal Orde Baru. Juga saksi-saksi teman dan konco dekat Hok-gie dalam soal “buku pesta dan cinta di kampus UI Rawamangun-Salemba”, tentu juga perihal alam bangsanya yang baru menapak di zaman pembangunan – sebelum menapak ke zaman reformasi.
Buku baru tentang Soe Hok-gie ini, khususnya akan memuat komentar dan telaah penulis dan pengamat “cuaca” sosial budaya politik budaya Indonesia. Rupanya ada kemiripan yang tidak sama tapi nyaris serupa, antara situasi sekarang dan 40-an tahun lalu.
Ini buku tentang perilaku dan pemikiran terhadap keadaan bangsa dan negara. Sebab dari kumpulan tulisan pilihan Hok-gie, rasanya masih cocok sebagai “bumbu bandingan”, perihal politik pemerintahan, di zamannya Hok-gie sebagai penulis muda di usia di tahun 1963-1969, sampai di zaman reformasi 2009n ini.
Rekan seprofesi, mantan anak-anak gerakan Orde Baru pun, masih sempat menulis tentang Hok-gie. Bukan pengamat senior saja, malah beberapa pengamat dan pemerhati yang tidak sempat berkenalan dengan Soe, ikutan menyumbangkan buah pikirannya dalam buku kecil 400-an halaman yang akan terbit khusus, di hari peringatan meninggalnya Soe dan Idhan, 16 Desember 2009 nanti.
Hok-gie bukan hanya tajam menulis kritik terbuka, dia juga mampu menulis puisi alam sehalus kabut Mandalawangi. Juga pilihan puisi dan lirik-lirik lagu, menunjukkan selera kepedulian Hok-gie terhadap seni budaya manusia universal tanpa batasan.
Kesetaraan, kepedulian dan kemajemukan merupakan garis besar dan haluan utama segala tulisan di media massa dengan nama: Soe Hok-gie.
Bilang saya katro, tapi saya baru mengenal Gie pertama kali waktu kelas 3 SMA, tentu saja lewat film Gie yang muncul di bioskop saat itu. Nice movie, nice songs, i think.
Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba saya udah ada di UI dan berada di organisasi yang sama dimana Gie dulu berada. Pecinta Alam.
Lalu, apakah kemudian saya jadi mengenal Gie lebih baik? rasanya tidak. Sampai peringatan 40 tahun Gie kemarin. Buku berbobot dengan harga murah ini saya baca dengan asyik dari mulai kata pengantar Jacob Oetama sampai ke buntut-buntutnya. Meski beberapa tulisan ada yang saya skip atau sekadar skimming (mengertilah, buku ini muncul di tengah UAS dan tugas akhir semester yang menumpuk!). Favorit saya dalam buku ini, sudah bisa ditebak, adalah Rudi Badil. Dan, ehm, penulis lain yang saya pikir tidak kalah bagusnya adalah Kartini Pandjaitan. I love her, haha <3
Dua penulis itu saya suka karena tulisannya yang sangat personal, jujur, dari hati, dan "muda". Kalau belum bertemu orangnya, saya berani nantang kamu untuk menebak umur mereka saat ini. hahaha..
Daripada tulisan ini menjadi panjang dan semakin bertele-tele, lebih baik kamu baca sendiri bukunya, banyak rahasia yang akan terungkap di buku ini, misalnya: 1. Apakah Soe Hok Gie dibunuh? Apakah ini konspirasi? 2. Siapakah "teman" wanita Soe yang sering disamarkan dalam cerita-cerita? 3. Apakah situs Arca Kembar benar ada? 4. Bagaimana cerita kuno tentang terbentuknya Gunung Semeru?
Berbagai misteri tersebut akan terungkap di buku tebal dengan kertas berkualitas ringan ini. Paling penting, hanya di buku ini kita bisa melihat Soe Hok Gie sebagai sosok yang bukan sekedar politikus, bukan juga hero, bukan hanya filsuf, atau sekedar pecinta alam.
Soe Hok Gie adalah juga seorang sahabat. Sisi lain itu yang berhasil diungkap dengan cara yang manis. Karya bintang lima yang selesai dalam hitungan bulan ini benar2 very worth to read. Bravo!
Saat baru membaca separuh, saya mengkreditkan empat setengah bintang untuk buku ini. Empat setengah bintang itu untuk dua tulisan ini:
Tulisan pertama, Antar Gie dan Idhan Ke Atas (AGKA) oleh Rudy Badil.
Dalam bagian ini Rudy Badil menuliskan pengalaman ‘seru’ selama menjadi Tim Semeru 69 yang menjadi ‘teman-teman’ terakhir yang melihat Gie hidup.
Rudy Badil sendiri adalah anggota tim yang ‘kerjaannya disuruh masak melulu’ oleh Gie. Setiap pagi ia mendengarkan aba-aba Gie untuk memasak.
Namun pagi pertama setelah Gie meninggal ia merindukan ‘aba-aba memasak’ yang selalu di lontarkan Gie. Walupun di lain sisi ia juga ‘lega’ karena akhirnya bisa merokok tanpa khawatir teguran Gie.
Membaca tulisan ini seperti menonton ‘Black Comedy’. Segar dan tragis. Juga kaya karena bersandarkan pada sebuah kisah nyata yang ‘penting’. Yang mengakhiri ‘kehidupan’ seorang pemuda kritis seperti Gie.
Tulisan kedua adalah: Surat Terbuka Ker untuk Hok-Gie Oleh Kartini Sjahrir.
Sebagaimana formatnya surat, tulisannya sangat impresif. Berisi kisah ‘drama percintaan ala pemuda intelektual’… ^_^
Ker ini dulu adalah salah satu cewek yang dekat dengan Gie. Anak baru masuk yang gemar pakai rok mini ini naksir berat sama Gie. Ia rela ‘hanya’ menjadi ‘permen karet’, tempat Gie curhat tentang Inge, cewek yang ditaksir Gie habis-habisan tapi menolak cintanya.
Pada bagian ini kita juga bisa melihat Gie dari sisi yang lebih manusiawi, misalnya keheranan Ker pada Gie yang suka ngomong nyerempet-nyerempet bawah puser.
Sebelum Gie pergi semeru dan menutup usianya di gunung itu (16 desember '69, satu hari sebelum ulang tahunnya ke 27) ia bilang sayang pada Ker. Sayangnya musibah semeru itu mengandaskan harapan Ker untuk menjadi gadisnya Gie.
Saat ini ibu Ker ini menjadi ketua sebuah partai politik, yang menurutnya juga berkat 'pengaruh Gie' di masa mudanya.
Ada seabrek tulisan lagi diantaranya dari Nicholas Saputra tentang pengalamannya ‘mengenal gie’ lewat perannya di filem. Juga tulisan-tulisan dari orang-orang penting lainnya Semacam Mira Lesmana, tentang awal ketertarikannya mengangkat Soe Hok Gie ke dalam filem, juga Ben Anderson kawan dekat Gie (tulisannya dalam bahasa Inggris) dan seabrek manusia lain yang terkait baik langsung ataupun tidak langsung dengan Soe Hok Gie.
Bagian tengah buku ini memang ‘terlalu banyak’ berkisah tentang pendapat orang lain tentang Gie, sehingga saya merasa ‘agak jenuh’ karena keterangan-keterangan yang mereka sampaikan menjadi tumpang tindih.
Padahal saya adalah tipe pembaca yang lebih senang dengan tulisan yang menuruti kaidah “Sampaikan sekali! Dengan Tepat!” Sehingga tumpang tindih informasi dari orang berbeda terasa membosankan.
Untungnya bagian akhir buku ini di tutup oleh kumpulan tulisan Soe Hok-Gie, yang pernah dimuat di koran-koran di tahun 1969, yang anehnya masih sangat relevan sekali dengan kehidupan sosial masyarakat, serta carut-marut hukum dan perpolitikan di indonesia saat ini.
Buku ini memang berbeda dengan buku-buku "karya" Soe Hok Gie yang telah beredar sebelumnya di pasaran. Saya menyebut "karya" (dengan tanda kutip), karena Soe Hok Gie Sendiri tidak pernah menulis satu buku pun, dan buku-buku yang beredar menggunakan namanya adalah hasil inisiatif dari beberapa pihak agar tulisannya tetap terdokumentasi dengan baik (bukan inisiatif dari Soe Hok Gie).
Jika buku-buku Soe Hok Gie sebelumnya berisi tentang catatan hariannya (Catatan Seorang Demonstran); artikel-artikelnya di berbagai media (Zaman Peralihan); skripsi sarjana muda (Di Bawah Lentera Merah); dan skripsi sarajana (Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan), maka buku ini berisi tulisan-tulisan dari para individu yang menjadi teman Soe Hok Gie semasa hidupnya, atau mereka yang merasa terpengaruh oleh tulisan-tulisan Soe Hok Gie. Meski demikian, masih ada beberapa tulisan Soe Hok Gie yang turut dicantumkan dalam buku ini (yang saya rasa beberapa diantaranya telah ada di Zaman Peralihan).
Membaca tulisan-tulisan dalam buku ini memberikan perspektif baru dalam melihat Soe Hok Gie sebagai tokoh yang belakangan sudah dikultuskan. Karena bukunya yang sangat legendaris di kalangan mahasiswa dan aktivis, sekaligus suksesnya film GIE yang dibintangi oleh Nicholas Saputra, menegaskan pengultusan Soe Hok Gie. Dari buku ini, khususnya tulisan teman-teman dekatnya semasa di Mapala FSUI, saya bisa mendapatkan kesan bahwa Soe Hok Gie bukanlah seorang aktivis mahasiwa yang jauh dari jangkauan, karena dirinya tak beda dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang berkelakuan layaknya mahasiswa (jarang pulang, candaan-candaan tak jelas, ngerumpi/ngegosip), termasuk sikap saya semasa menjadi mahasiswa.
Tulisan ini pun akan memberikan cakrawala baru bagi mereka yang terlanjur mengenal Soe Hok Gie lewat buku-buku sebelumnya dan film GIE. Karena dari buku ini, kita dapat merasakan bagaimana orang lain memandang Soe Hok Gie, baik itu sebagai kawan, teman dekat, rekan aktivis, ataupun mahasiswa FSUI. Hal ini sangat berbeda ketika membaca buku-buku sebelumnya yang akan membawa kita pada dunia dimana Soe Hok Gie memandang realitas kontemporer pada saat itu menurut perspektinya sendiri.
Yang lebih menyenangkan lagi, buku ini menyediakan lebih banyak dokumentasi visual ketimbang buku-buku sebelumnya. Catatan Seorang demonstran hanya menyelipkan beberapa foto saja, sementara tiga buku lain sama sekali tidak memuat foto dari Soe Hok Gie. Dengan banyaknya foto dalam buku ini, kita akan bisa merevisi imaji atas Soe Hok Gie yang sudah terlanjur terbentuk dengan wajah Nicholas Saputra dari film GIE (apalagi buku Catatan Seorang Demonstran pernah dicetak ulang dengan sampul menggunakan poster film GIE).
Bagi anda yang belum "mengenal" Soe Hok Gie, saya tidak menyarankan buku ini dibaca sebagai inisiasi, karena saya menganggap bahwa buku ini lebih berperan sebagai pelengkap dari Catatan Seorang Demonstran. Kalau enggan membaca, film GIE pun sudah bisa memberikan deskripsi yang cukup umum mengenai Soe Hok Gie. Setelah itu, barulah buku ini bisa dinikmati dengan lebih komprehensif. Tetapi, ini hanya saran saya saja. Semoga kedepannya akan semakin banya buku-buku yang berkaitan dengan Soe Hok Gie.
"Nobody knows the trouble I See. Nobody knows my sorrow"
NB : Saya baru sadar, kalau ternyata penulisan nama Soe Hok Gie yang benar adalah SOE HOK-GIE (dengan huruf kapital semua) atau Soe Hok-gie.
Kehidupan lain sosok Hok Gie yang menjadi panutan anak muda. Diceritakan dari berbagai sumber (kenalan ataupun orang - orang yang kenal dari catatannya) dengan berbagai gaya bahasa pula. Berhasil membawa pembaca naik turun kehidupan Hok Gie yang kritis.
Yang ditonjolkan dalam buku ini ialah kegiatan alam kesukaan Hok Gie, yaitu mendaki. Sebagai salah satu anggota Mapala, Gie menceritakan pendakiannya dan berkali - kali mengatakan fisik yang sehat adalah kunci. Sia - sia saja jika ada kader hebat namun fisiknya tidak sehat. Maka dia aktif mengajak anggota melatih fisik dengan mendaki.
Bab awal diisi oleh sebagian besar teman terdekat Soe Hok Gie. Formal, namun terasa dekat dan hangat. Pada pertengahan diperlihatkan orang - orang yang mengenal Gie hanya dari catatannya yang diterbitkan tahun 80-an. Mereka, walau tidak kenal secara langsung, mampu mengungkapkan pendapat tentang sosoknya dengan antusias. Dan bab terakhir adalah kesukaan saya, dimana beberapa artikel Gie dimuat. Disitulah Soe Hok Gie mengungkapkan pendapat kritis dan tajam miliknya, keluar dari pemikiran seorang mahasiswa, dosen, dan pecinta alam yang selalu resah memikirkan keadaan bangsanya setiap waktu.
Empat puluh tahun silam, tepatnya tanggal 16 Desember 1969, bangsa Indonesia kehilangan seorang aktivis mahasiswa yang idealis, brillian dan berani mengambil sikap baik dalam pemikiran maupun dalam pergerakan. So Hok-gie, atau akarab dipanggil Gie ditemukan tewas di atas puncak Gunung Semeru, Jawa Timur tepat sehari sebelum ia merayakan hari ulang tahunnya ke 27 yang ia rencanakan akan dirayakan di puncak Mahameru bersama kawan-kawannya.
Walau telah 40 tahun berselang namun nama dan kiprahnya masih terus dikenang hingga kini. Beberapa tahun setelah kematiannya, namanya sempat terlupakan hingga akhirnya LP3ES yang saat itu masih merupakan LSM kecil menerbitkan catatan harian Gie yang diberinya judul “Catatan Seorang Demonstran” pada tahun 1983.
Terbitnya buku tersebut kembali mengingatkan orang pada tokoh Gie. Tak sekedar itu, buku tersebut bahkan menginspirasi dan mengangkat moril gerakan mahasiswa di tahun 80-an yang sedang terpuruk. Itulah Gie, ia tak hanya memberi inspirasi ketika ia masih hidup, dua puluh tahun setelah kematiannyapun Gie masih mampu memberi inpirasi baru pada gerakan mahasiswa saat itu. Setelah itu seiring berjalannya waktu, namanya Gie kembali terlupakan hingga akhirnya di tahun 90an tulisan-tulisan Gie yang pernah dipublikasikan di harian-harian nasional dibukukan oleh penerbit Bentang Budaya dengan judul “Zaman Peralihan” (1995), lalu menyusul skripsi S1 nya yang berjudul “Orang-orang di persimpangan kiri Jalan” (1997).
Di tahun 2001 muncul terjemahan biografi politik SHG yang berjudul " SOE HOK-GIE : Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani" karya sejarahwan Australia, John Maxwell. Setelah beberapa buku ttg Soe Hok Gie diterbitkan, di tahun 2005 sutradara kondang Riri Reza pun membuat film berjudul Gie yang diambil dari catatan hariannya.
Kiini dalam rangka memperingati 40 tahun kematiannya bulan Desember yang lalu, kawan2 dekat so Hok-Gie berinisiatif menerbitkan buku tentang Gie yang isinya merupakan kumpulan tulisan dari teman, sahabat, hingga tokoh2--tokoh terkenal di negeri ini. Itulah sebabnya buku ini diberi judul “Soe Hok-Gie Sekali Lagi”, seolah ingin menegaskan bahwa inilah buku kesekian mengenai Soe Hok-Gie yang pernah diterbitkan.
Dibanding dengan buku-buku lainnya tentang Gie, buku ini tak kalah menariknya malah memiliki keunikan sendiri, kalau selama ini kita mengenal Gie dari catatan harian, tulisan-tulisannya, dan pandangan John Maxwell, maka di buku ini kita bisa melihat sosok Gie dari pandangan sahabat-sahabat terdekatnya dan dari orang-orang yang mengaku terpengaruh oleh spirit dan semangat perjuangan Gie baik semasa hidupnya maupun setelah membaca tulisan-tulisan Gie. Buku gemuk ini dibagi menjadi lima bagian besar, bagian pertama berisi satu tulisan panjang Rudy Badil, salah satu rombongan Gie ke puncak Semeru yang secara rinci menceritakan perjalanannya bersama Gie mulai dari Stasiun Gambir, Jakarta hingga proses evakuasi jenazah Gie dan Idham dari puncak Mahameru ke Gubuk Klakah, sebuah desa di kaki gunung Semeru.
Bagian ini merupakan bagian yang paling menarik karena selama ini belum pernah terungkap secara bergitu mendetail bagaimana saat-saat terakhir hidup Gie, bagaimana kondisi jenasah Gie dan Idham setelah berhari-hari terlantar di puncak Mahameru, dan bagaimana kondisi fisik dan mental teman-teman seperjalanannya dalam mencari bantuan dan mengevakuasi jenasah Gie dan Idham.
Di bagian kedua, dikisahkan bagaimana reaksi masyarakat dan pers dalam dan luar negeri yang begitu responsif begitu mendengar kematian Hok Gie hingga Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang saat itu telah menjadi menteri menyempatkan diri untuk melayat jenasah Gie dan memberikan kata sambutannya di FS-UI. Selain itu bagian ini juga menyajikan berbagai hal menarik seperti bagaimana puluhan tahun setelah kematian Gie namanya disangkut pautkan dengan peta harta karun peninggalan Jepang yang konon saat itu sedang diterjemahkan oleh Gie dan secara tidak sengaja ditemukan oleh oleh tim SAR saat sedang mengavakuasi jenazah Gie.
Selain itu di bagian ini terungkap pula hal-hal yang menyangkut gunung Semeru seperti temuan Arca Kembar yang selama ini dianggap hilang, lalu ada juga tulisan tentang serba serbi Semeru yang tentunya bermanfaat bagi para pendaki gunung.
Bagian ketiga buku ini yang berisi tulisan-tulisan dari teman-teman Gie di FS-UI tak kalah menariknya. Di bagian ini kita akan melihat sosok manusiawi Gie secara apa adanya. Sisi lain Gie dalam kesehariannya sebagai seorang mahasiswa terungkap di tulisan Kartini Sjahrir dan Luki Sutirsno Bekti yang secara jujur menceritakan pengalamannya berteman dekat dengan Gie.
Menurut pernagakuan Kartini, seperti anak muda pada umumnya dalam pergaulannya tak jarang Gie mengeluarkan celetukannya yang suka ‘menyerempet-nyerempet bawah puser’. Dalam tulisannya ini Kartini juga secara terbuka menceritakan perasaan hatinya dan kedekatannya dengan Gie sebelum akhirnya menikah dengan Syahrir. Bahkan di setiap surat terbukanya,, Kartini selalu memulainya dengan “Hok Gie-ku yang manis..”
Luki Sutirsno-Bekti sebagai salah satu teman wanita Gie yang juga pernah dekat dengannya mengungkapkan Gie sebagai sosok yang moralis dan humanis, selain itu Gie juga merupakan teman curhat yang baik bagi teman-teman pria maupun wanitanya. Ia juga dikenal suka membantu teman-temannya dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. Luki juga mengulas hubungan kakak beradik Hok-gie dan Arief Budiman yang unik.
Selain itu di bab ketiga ini ada juga tulisan teman-teman lainnya yang melihat Gie dari berbagai sudut pandang , semuanya menggambarkan bagaimana hangatnya, lekatnya, dan akrabnya pertemanan mereka dengan Hok Gie secara jujur dan apa adanya.
Di Bagian ke empat, buku ini menyuguhkan berbagai tulisan dari para penulis yang tidak mengenal Hok-Gie secara fisik namun mereka mengenalnya lewat pemikiran-pemikiran Gie melalui tulisan-tulisannya seperti Riri Reza, Nicholas Saputra, Hilmad Farid, N. Riantiarno, Stanley Adi Prasetyo, Mona Lohanda, Ben Anderson, dll.
Di bagian ini juga Arif Santoso, aktivis mahasiswa 80-an mengetengahkan catatan mengenai gerakan aktivis 1980-an yang tersulut oleh terbitnya Catatan Harian Seorang Demonstran di tahun 1978. Arif juga menceritakan secara kronologis gerakan 1980-an sehingga pembaca akan mengetahui bagaimana para aktivis 1980-an berjuang melawan rezim orde baru yang saat itu begitu intens meredam setiap gerakan mahasiswa.
Stanley Adi Prasetro dalam tulisan panjangnya di buku ini mencoba membaca pikiran HAM Soe Hok-gie. Dari tulisannya ini Stanley mengatakan bahwa Gie merupakan pejuang sejati HAM yang berpikir melebihi zamannya. Di tulisan ini akan terungkap walaupun Gie begitu membenci komunisme, namun ketika pemerintah membabat habis orang-orang PKI secara membabi buta, Gie mengutuk keras peristiwa ini.
Lalu ada juga tulisan Lona Mohanda, sejarahwan, yang mencoba menguliti skripsi Hok-gie yang pada akhirnya mengaminkan apa yang dikatakan oleh almarhum Prof Harsya W. Bachtiar yang berpendapat bahwa soe Hok-gie itu seorang kolumnis yang baik, tapi tidak sebagai sejarahwan. Di bagian kelima yang merupakan bagian terakhir dari buku ini diketengahkan tujuh belas tulisan Gie yang tersebar di berbagai media baik tulisan mengenai pendakian gunung, hingga persoalan-persoalan politik yang terjadi pada masa itu.
Menarik memang membaca keselurahan tulisan-tulisan yang terdapat dalam buku ini. Buku yang ditulis oleh 30 orang ini memberikan gambaran yang iutuh akan sosok Gie yang sebelumnya hanya kita kenal lewat catatan hariannya atau tulisan-tulisannya saja. Karena buku ini merupakan kumpulan tulisan dari berbagai orang maka masing-masing memiliki keunikan sendiri, semuanya menarik, hanya saja di bagian ke empat dimana semuanya ditulis oleh orang-orang yang hanya mengenal Gie melalui tulisan-tulisannya maka terdapat beberapa kesamaan pandangan sehingga agak membosankan.
Selain berbagai tulisan tentang Gie, yang tak kalah menariknya adalah dimuatnya puluhan foto2 yang selama ini jarang atau mungkin belum pernah terpublikasikan. Kemasan buku ini juga tak kalah menariknya, walau bukunya besar dan gemuk namun sangat nyaman digenggam saat dibaca. Pilihan font yang besar dan lay out antara teks dan foto yang dinamis membuat buku ini sangat ramah mata dan membuat betah membacanya berlama-lama.
Dan yang pasti munculnya kembali buku tentang Gie ini setidaknya mengangkat kembali sosok pribadi yang berintegritas dan memiliki komitmen yang teguh terhadap perjuangannya, hal yang langka ditemukan di masa kini.
Di tengah bangsa kita yang tengah mengalami krisis kemanusiaan, keadilan, dan kepemimpinan, sosok Soe Hok Gie ini sangat tepat untuk diangkat kembali sehiingga generasi muda masa kini dapat belajar dari pribadi dan pemikiran Gie yang masih sangat relevan hingga kini.
Mungkinkah melalui buku ini Soe Hok-Gie sekali lagi memberi inspirasi bagi para pejuang demokrasi dan penegak keadilan bangsa ini? Ataukah buku ini hanya sekedar menjadi buku pengingat romantika perjuangan di era 60-an bagi kawan-kawan dekatnya? Jawabannya ada di tangan para pembaca buku ini.
Jujur, saya bukan penggemar terbesar Soe Hok Gie. Ini posisi yang agak berlainan dengan kekaguman massal terhadapnya dewasa ini, yang dibantu secara tidak langsung oleh budaya populer sejak munculnya film Gie karya Riri Riza dan Mira Lesmana.
Tidak ada yang mengatakan bahwa Gie bukan seorang yang idealis, jujur, pemberani dan semacamnya. Bahkan sepertinya dewasa ini, hal-hal tersebut sudah-lah overstated. Ya, Gie adalah seluruh hal tersebut. Tapi saya pribadi juga melihatnya sebagai seorang kolumnis yang cenderung reaksioner. Ia juga gak jelas inginnya apa, jika kita berbicara dalam ruang lingkup politik partisipatif praktis yang realistis. (Ini-kan sepaket dengan demokrasi, yakni sesuatu yang Gie sendiri selalu ocehkan tanpa henti. Rasanya tidak dapat dilepaskan keterkaitannya, tapi Gie justru kekeh anti politik kepartaian sampai akhir. Walaupun ketahuan juga akhirnya bahwa ia pernah menjadi kader PSI dibawah mentorship Soemitro. Walau hanya sebentar).
Dalam buku ini, saya menemukan pandangan saya sedikit terwakilkan melalui kutipan Harsja Bachtiar yang dimuat dalam tulisan Mona Lohanda di hal. 394-395; "Soe Hok Gie tidak dapat dikatakan sebagai seorang sarjana dalam arti sempit, karena ia kurang sabar mempelajari persoalan-persoalan sejarah secarara teratur dan teliti. Ia tidak dapat dianggap seorang ahli sejarah yang baik." Selayaknya, saya menemukan bahwa tulisan Gie seringkali nihil upaya untuk melepaskan diri dari subjektivitas moral, dan sering tak memperdulikan konsekuensi dari ketiadaannya referensi teori maupun analisis yang baik. Padahal menulis artikel populer gak seharusnya sinonim dengan sikap grasa-grusu maupun pengungkapan pendapat yang belepotan.
Oke, cukup disini tentang Gie. Bagaimana dengan bukunya? Saya sendiri sangat menikmati antologi dari berbagai karya tulisan orang-orang terdekat Gie ini. Buku ini berhasil menyediakan sebuah cerita hidup seseorang yang jatuhnya jauh lebih komprehensif dan menyeluruh daripada format biografi yang lebih umum. Namun layaknya buku antologi multi-penulis pada umumnya, jatuhnya agak susah untuk memberi penilaian bintang yang representatif. Tidak lain karena, ya some writings are better than others.
Secara keseluruhan, buku ini memuat banyak sekali informasi yang niche dan spesifik tentang berbagai macam topik sekitar pergerakan, sejarah aktivisme mahasiswa, situasi sosial-politik Indonesia dalam kurun tahun 60an sampai 70an, dan maka dari itu begitu informatif dan menarik. Bagian yang saya sendiri paling suka merupakan jawaban dari apa yang selalu saya cari dan akhirnya dapat saya temukan melalui tulisan Luki Bekti, yakni mengenai bagaimana sebetulnya hubungan antara Soe Hok Gie dan Arief Budiman. Ini yang saya selalu paling penasaran tentang Gie, karena saya sendiri kebetulan penggemar Arief Budiman. Tulisan lain yang juga sangat saya nikmati mencakup tulisan-tulisan dari Aris Santoso, Stanley Adi Prasetyo, Iwan Bungsu, Hilmar Farid dan tentunya Ben Anderson. Bagian 1 dan 2 yang menceritakan ulang hari-hari terakhir Gie sebelum kematiannya di Semeru juga sangat menggugah dan memberikan sebuah visualisasi di otak saya yang begitu pekat bagaikan rekaan ulang sebuah film yang hadir langsung depan mata saya.
Agak disayangkan bahwa sisa tulisan-tulisan yang lain sering terasa sedikit semacam pengkultusan figur merepet-repet hero worship dari "the idea of" sosok seorang Soe Hok Gie. Penuh romantisasi, beberapa hal-pun repetitif diulang-ulang terus. Bahwa Gie idealis, gak berkompromi, lebih prefer diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan, dan sebagainya yang berkisar tentang hal itu-itu.
Thank god saya masih menemukan beberapa tulisan lain yang menguggah tentang karakter Gie, seperti kritik (atau lebih tepatnya pemaparan kritis) terhadap kontradiksi sikap Gie, yang dikontribusikan dengan sangat menarik oleh Hilmar Farid. Gie itu tidak luput dari banyak kekurangan. Sebagai contoh, Gie ikut percaya dengan propaganda militer bahwa PKI mendalangi G30S. Ini memang dapat dimaklumi mengingat nihilnya transparansi dan lambatnya laju informasi saat itu. Namun yang paling menarik bagi saya adalah keputusan Gie untuk turut menyebut PKI dengan Gestapu sebagaimana populer saat itu, Sebuah keputusan yang memperlihatkan dengan terang sekali ketidakjujuran intelektual Gie yang dibumbui rasa sensasionalis-populis, serta ketidakmampuannya dalam menyingkirkan biasnya yang jelas anti-komunis. Hilmar Farid menulis bahwa Gie; "memliih untuk menggunakan kata tersebut, walau ia pasti tahu bahwa asosiasi PKI dengan Gestapo tersebut telah mengingkari kenyataan dan kelaziman berbahasa".
Begitulah sekira-nya resensi saya untuk buku ini. Semoga membantu.
(Oiya, dari buku ini saya juga tau kalo Soe Hok Gie pernah pacaran sama adeknya Luhut. Wtf?)
Lewat buku ini, pembaca dapat merasakan hari-hari terakhir Gie. Ketika ia bersama 7 orang lainnya melakukan pendakian di gunung tertinggi di pulau Jawa, Gunung Semeru. Hanya minus satu hari dari ulang tahunnya yang ke-27, Gie pergi untuk selama-lamanya.
ada dua orang yang menjadi 'korban pertama' Gunung Semeru yaitu Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis. Rudy Badil menceritakan detail peristiwa yang telah 41 tahun berlalu. Dalam suasana duka, tim yang tersisa masih harus bertahan lagi dengan bekal yang tipis. Selama 5 hari, mereka menunggu bantuan evakuasi dari penduduk. Jenazah Gie dan Idhan ditinggalkan berdua di tempat kecelakaan.
Kepergiannya mengundang simpati dari berbagai kalangan. Gie,intelektual muda yang tak pernah goyah idealismenya. Ia menjadi penggerak dalam peristiwa 1966. Orde lama tumbang diiringi kemunculan orde baru. ketika ia sadar perubahan yang terjadi tak lebih baik dari pemerintahan lama, ia pun tak segan-segan mengkritik. Ia menuntut keras pembubaran PKI, namun ia mengecam keras ketika terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang PKI (ataupun yang dianggap PKI).Di saat, rekan-rekannya sesama aktivis mendapatkan 'kursi' di Senayan,ia menolak dan kembali ke kampus.
Herman Lantang, ketua pendakian, sempat dicurigai dan ditanya Polisi. Apakah kematian Soe Hok-Gie adalah upaya konspirasi? tulisan-tulisannya di surat kabar memang membuat gerah orang-orang tertentu. Apalagi sebelum pergi naik gunung, Gie mengirimkan kaca,gincu,peralatan make-up kepada rekan-rekan mahasiswa yang duduk di DPR.
Beberapa tulisan ditulis oleh teman-teman dekat Gie. Gie suka berdiskusi, menonton teater,dan menonton film-apa saja. Minatnya ini juga ditularkan ke teman-teman dekatnya tak terkecuali Ker. Ker (Kartini Sjahrir) menuliskan kedekatannya antara dia dengan Gie.Disini, pembaca sedikit mengetahui kisah cinta Gie. Sepertinya kedekatan antara Ker dan Gie lebih dalam dari teman biasa. tapi dua-duanya sama-sama memendam. Gie baru menyatakan sayang ketika akan berangkat ke Semeru *aku mengerti kok-curcol*
Walaupun kepergiannya telah lebih dari 40 tahun lalu,ia meninggalkan catatan harian dan tulisan-tulisannya untuk pemuda Indonesia. Buku ini wajib baca terutama untuk aktivis mahasiswa.
Nobody knows the trouble i see, nobody knows my sorrows -----quote favorit Gie
Nice memoir by his closest friends. But I still prefer his own words. Although, the best part of this book is the inclusion of the poem by Constantine Cafafy, Ithaca.
Ithaca
When you set out on your journey to Ithaca, pray that the road is long, full of adventure, full of knowledge. The Lestrygonians and the Cyclops, the angry Poseidon -- do not fear them: You will never find such as these on your path, if your thoughts remain lofty, if a fine emotion touches your spirit and your body. The Lestrygonians and the Cyclops, the fierce Poseidon you will never encounter, if you do not carry them within your soul, if your soul does not set them up before you.
Pray that the road is long. That the summer mornings are many, when, with such pleasure, with such joy you will enter ports seen for the first time; stop at Phoenician markets, and purchase fine merchandise, mother-of-pearl and coral, amber and ebony, and sensual perfumes of all kinds, as many sensual perfumes as you can; visit many Egyptian cities, to learn and learn from scholars.
Always keep Ithaca in your mind. To arrive there is your ultimate goal. But do not hurry the voyage at all. It is better to let it last for many years; and to anchor at the island when you are old, rich with all you have gained on the way, not expecting that Ithaca will offer you riches.
Ithaca has given you the beautiful voyage. Without her you would have never set out on the road. She has nothing more to give you.
And if you find her poor, Ithaca has not deceived you. Wise as you have become, with so much experience, you must already have understood what Ithacas mean.
Soe Hok-gie ini jenis manusia yang unik banget. Biasanya saya sulit untuk bersimpati dengan pribadi yang super idealis, tapi kali ini saya mengaku kalah di hadapan beliau. Bertekuk lutut saya dibuatnya, menangis kagum sejadi-jadinya terhadap pendirian beliau untuk tetap idealis sampai batas sejauh-jauhnya.
Juga, saya ingin mengapresiasi torehan manis Ibu Kartini Pandjaitan, sang tokoh Suniarti, si gadis “permen karet” yang pemberani. Tulisannya terasa tulus dari hati. Membuat saya mudah mengerti mengapa beliau sangat mengaguminya.
This book touches me in a certain way of life, shocked me for what it has made me feel. I cried, laughed, and loved. Makes me wanna be a better person and makes myself a more fulfilling life. Makes me believe that those things are possible.
dari buku ini saya dapat mengenal pribadi soe hok gie lebih dekat, sosok yang humanis, seandainya soe hok gie masih hidup dan mendengar langsung bagaimana pandangan orang terdekat tentang dirinya.
Buku mengenai perjalanan Soe Hok Gie dari kacamata kawan kawannya, terbukti langkah langkahnya yang penuh intuitif ini digambarkan secara jelas oleh teman teman yang termasuk juga sebagai mahasiswanya.
Jika melihat buku buku yang dikarang Soe Hok gie salah satunya adalah Di Persimpangan Kiri Jalan, saya menemukan sosok yang penuh dengan kecerdasan intelektual, dimana Soe Hok Gie mampu mengukir kalimat kalimat yang setelah tau bahwa itu adalah Skripsinya, Skripsinya saja dibuat seperti bentuk buku cerita.
Buku ini sebuah karya yang berisi memori memori orang baik, dimulai dengan cerita oleh Rudi Badil dan kawan kawan yang saat itu sama sama melangkah menuju puncak semeru, detik demi detik terjadinya peristiwa naas yang juga di berikan foto foto kejadian di masa itu.
Dilanjut dengan cerita cerita perjuangan dan juga kenangan bersama entah saat minum es, atau saat sedang berkumpul. Menarik sebuah catatan dari Kartini Sjahrir yang kala itu tengah menjadi kawan dekat Soe Hok Gie, ucapannya manis sekali berharap tulisan itu untukku karna kala membacanya aku bisa terbang sendiri, Namun Kartini Sjahrir menuliskan sebuah kalimat yang cukup membekas yaitu "...Kalian berdua (Gie dan Ciil) akan menerjemahkan jalan sepi (Lonely Road) itu sebagai 'the eagle flies alone'- yang terjemahannya 'Seorang pemimpin memang selalu sendiri, karena dia berada di puncak" kalimat ini yang menyadarkan saya untuk bisa menenangkan diri saat berada di posisi puncak.
Ada juga 'saksi-saksi' tentang Kampus UI yang banyak ditulis oleh Luki Sutrisno Bekti, Bukan hanya teman teman dekat namun banyak juga yang menyumbangkan tulisannya untuk penyusunan buku ini, seperti Riri Riza, Nicholas Saputra dan banyak lainnya, mereka yang tak mengenal Gie secara dekat namun bisa memahami bagaimana kobaran api si The Angry Young Man.
Buku ini apik sekali menggabungkan tulisan tulisan Gie yang beberapa kali disematkan didalam buku ini, bahkan ada tulisan tulisan pilihan yang khusus disimpan dibagian akhir buku ini.
Hal lain yang membekas saat membaca ini adalah : "Indonesia tetap membutuhkan kaum intelektual yang bukan saja kaya akan konsep konsep ilmiah, namun juga mau terjun langsung ke lapangan. Kaum intelektual Indonesia bukanlah 'orang yang berumah diatas angin' Mereka juga bukan cerdik cendikia yang tinggal di 'Menara Gading'.
This entire review has been hidden because of spoilers.
'Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah....' (Gie , 20 Agustus 1968)
Gie adalah sosok pemuda yang cerdas , brilian , jujur dan terbuka. Seorang idealis yang murni , dengan perasaan yang tajam. Suatu manusia yang berjiwa bebas dimana selain pemikir juga aktivis , man in the action yang dihias dengan keberanian yang luar biasa. Hanya kepada langit di puncak gunung yang sepi ia lepaskan rasa penatnya atas muak kehidupan. Rendra pun lalu menjulukinya 'berumah di awan'. Hati yang bening dan tulus-terbuka membuatnya punya nurani bersih dan punya integritas.
Menghidupkan kembali sosok Soe Hok - Gie adalah upaya mengangkat kembali sosok teladan ke permukaan. Dia menginspirasi keringnya keteladanan dan kerontangnya telaga inspiratif. Ditengah krisis rasa keadilan dan hilangnya rasa malu , masih adakah integritas dan kepantasan di negeri ini ?!
Mas Res ~ [05.04.2010 , page : 140 out of 512]
Soe Hok - gie : Independensi Seorang Cendekia Muda by : Prof Dr Der Soz Gumilar Rusliwa Soemantri
Kecendekiaan dan Kebangsaan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Adalah seorang cendekia muda bernama Soe Hok-gie yang meneruskan karakter independensi para cendekia lama. Pikirannya bak air bah yang tak terbendung. Semuanya mengalir bebas tanpa pernah menengok berbagai batasan , baik politik , sosial , ekonomi maupun budaya.
Saat Gie masih remaja tanggung , ia sudah menunjukkan independensi pikirannya melalui tulisan yang cukup berani untuk pemuda usianya. Ia mengkritik kesenjangan ekonomi yang semakin melebar , ia kesal dengan tingkah laku para pemimpin. Ia pun menyengat :
'Kita , generasi kita , ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau lagi meracau , kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia' (Maxwell 2001 :9)
xvii
Seorang anak muda yang luar biasa.....luar biasa dalam banyak hal. Intelektual , brilian , jujur dan terbuka. Idealis murni dengan rasa keadilan yang tajam.
Mungkin jalan lurus yang ditempuh Soe Hok Gie tidaklah mudah untuk dipraktekkan.Tetapi ia dapat dijadikan sebagai model kemurnian perjuangan. Tidak setiap orang dapat atau harus menjadi Soe Hok-gie. Namun dalam kehidupan ini kita membutuhkan orang-orang seperti dia.
'Aku rasa semua yang ada dalam artikel-artikelku adalah petasan-petasan kecil. Dan aku ingin mengisinya dengan bom'
-gie- (hal : 94)
Hok-gie ke Pangrango untuk Hilang ~ Jimmy S Harianto
Mandalawangi , tempat yang dikagumi Soe adalah sebuah lembah yang landai. Alasnya berumput lembut ditumbuhi beribu-ribu bunga Edelweis. Di kaki lembah , ada sumber air jernih yang mengalir. Simaklah sajaknya :
Senja ini , ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu aku datang kembali ke dalam ribaanmu , dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan dan aku terima kau dalam keberadaanmu seperti kau terima daku
aku cinta padamu , Pangrango yang dingin dan sepi sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada hutanmu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua
'hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya tanpa kita bisa mengerti , tanpa kita bisa menawar terimalah , dan hadapilah'
dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara aku terima itu semua melampaui batas-batas hutanmu melampaui batas-batas jurangmu aku cinta padamu Pangrango Karena aku cinta pada keberanian hidup
jakarta , 19-7-1966 Soe Hok-gie
Bacaan dan pelajaran yang diterimanya membentuk Soe menjadi pemuda yang percaya bahwa hakikat hidup adalah dapat mencintai , dapat iba hati dan dapat merasai kedukaan itu.
Sebelum ia meninggal pada 16 Desember 1969 , ada satu hal yang ia bicarakan : 'Akhir-akhir ini saya selalu berpikir , apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis , melakukan kritik kepada banyak orang.....makin lama semakin banyak musuh saya dan semakin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan.....Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.' Ibunya yang sering gelisah pun berkata : 'Gie , untuk apa semuanya ini?'. Ia hanya membalas dengan senyum sembari berkata : 'Ah , mama tidak mengerti.'
(hal : 101)
Sebuah Tanya -----------------
akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kamu masih berbicara selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap ? sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih , lembah mandalawangi kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra , lebih dekat
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi kota kita berdua , yang tua dan terlena dalam mimpinya kau dan aku berbicara tanpa kata , tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata kudengar derap jantungmu kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta
(hari pun menjadi malam Kulihat semuanya menjadi muram Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara Dalam bahasa yang kita tidak mengerti Seperti kabut pagi itu)
manisku , aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru
Mohon maaf kepada seluruh penulis, penyusun, dan penerbit buku ini karena saya pernah memandang rendah buku ini. Kala itu saya sedang asyik dengan sosok Gie yang saya kenal via film Miles Production, kala itu saya sedang dibakar gelora tulisan-tulisan Gie dalam buku-bukunya, kala itu saya sedang penasaran dengan buku "memoir" Soe Hok Gie yang ditulis John Maxwell. Butuh waktu 10 tahun kemudian (saya memiliki buku cetakan I) bagi saya mendapat 'pencerahan' untuk membaca buku ini. Ternyata buku ini melengkapi sosok Hok-Gie sebagai "teman yang belum pernah bertemu", sosok Hok-Gie yang sangat Manusia dengan segala kompleksitas multi dimensinya. Buku ini meneguhkan sosok Hok-Gie yang membumi sekaligus melangit.
Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).
Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.
Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).
Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.
Hok Gie meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis, di puncak Gunung Semeru akibat menghirup asap beracun gunung tersebut.
John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).
Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film Gie.
Dari sisa ingatan dan catatan minim, mantan enam rekan (Freddy Lasut sudah almarhum) perjalanan Soe Hok-gie (27 tahun) dan Idhan Dhanvantari Lubis (20), berusaha menulis ulang kesaksian sebenarnya tragedi perjalanan pendakian ke Gunung Semeru, nun 40 tahun lalu.
Aristides Katoppo (71): “Hok-gie terlalu cepat pergi, tapi kalau dia hidup dan sekarang sudah umur 67 tahun, apa dia tahan tidak bikin ribut-ribut?” Komentar Tides yang 40 tahun lalu, meminta bantuan helikopter TNI-AL untuk turun di alun-alun kota Malang, lalu ikut heli itu mengapung dan terkurung kabut tebal di kaki Semeru.
Maman Abdurachman (65): “Saya mungkin shock dan dehidrasi, hingga menganggu kondisi dan stres. Tapi saya tidak kesurupan, saya sadar kok, cuma merasa badan panas sekali,” ujar Maman yang tidak trauma dan tidak melarang putrinya menjadi pendaki gunung Mapala UI juga.
Herman Onesimus Lantang (69): “Saya yang memimpin evakuasi jenasah Hok-Gie dan Idhan, tentu dengan dukungan tim besar dari Malang dan Jakarta, bukan sendirian,” ujar Herman yang ketimpa sial juga. “Masih lelah dan baru masuk ke kota Malang, gua diinterogasi polisi, diperiksa dan diminta kesaksian tentang Hok-Gie dan Idhan itu bukan korban pembunuhan di Semeru.”
Anton Wijana alias Wiwiek (63): “Aku satu-satunya anggota tim yang fasih berbahasa Jawa, makanya aku diajak turun duluan bareng Tides, untuk minta bantuan ke Malang dan Jakarta. Yang terjadi kemudian, ya kerja sama kemanusiaan sejati,” kata Wiwiek yang mengenang solidaritas zaman dirinya aktif di pergerakan anak-anak jaket kuning UI.
Rudy Badil (64): “Saya datang, saya lihat, saya rasakan, saya pulang, saya bertanggung jawab dan saya menulis kembali kesaksian peristiwa 40 tahun lalu itu,” ujarnya, seraya menjelaskan sulitnya merekonstruksi ingatan masa 40 tahun lalu. “Salah-salah dikit, harap maklum.”
---oOo---
Soe Hok-Gie … sekali lagi, diharapkan menjadi buku baru sekali lagi tentang Soe Hok-gie, berisikan kisah saksi hidup pendakian di zaman awal Orde Baru. Juga saksi-saksi teman dan konco dekat Hok-gie dalam soal “buku pesta dan cinta di kampus UI Rawamangun-Salemba”, tentu juga perihal alam bangsanya yang baru menapak di zaman pembangunan – sebelum menapak ke zaman reformasi.
Buku baru tentang Soe Hok-gie ini, khususnya akan memuat komentar dan telaah penulis dan pengamat “cuaca” sosial budaya politik budaya Indonesia. Rupanya ada kemiripan yang tidak sama tapi nyaris serupa, antara situasi sekarang dan 40-an tahun lalu.
Ini buku tentang perilaku dan pemikiran terhadap keadaan bangsa dan negara. Sebab dari kumpulan tulisan pilihan Hok-gie, rasanya masih cocok sebagai “bumbu bandingan”, perihal politik pemerintahan, di zamannya Hok-gie sebagai penulis muda di usia di tahun 1963-1969, sampai di zaman reformasi 2009n ini.
Rekan seprofesi, mantan anak-anak gerakan Orde Baru pun, masih sempat menulis tentang Hok-gie. Bukan pengamat senior saja, malah beberapa pengamat dan pemerhati yang tidak sempat berkenalan dengan Soe, ikutan menyumbangkan buah pikirannya dalam buku kecil 400-an halaman yang akan terbit khusus, di hari peringatan meninggalnya Soe dan Idhan, 16 Desember 2009 nanti.
Hok-gie bukan hanya tajam menulis kritik terbuka, dia juga mampu menulis puisi alam sehalus kabut Mandalawangi. Juga pilihan puisi dan lirik-lirik lagu, menunjukkan selera kepedulian Hok-gie terhadap seni budaya manusia universal tanpa batasan.
Kesetaraan, kepedulian dan kemajemukan merupakan garis besar dan haluan utama segala tulisan di media massa dengan nama: Soe Hok-gie.
Great perspective of "young" Indonesia; however, the repetition of the facts surrounding Gie's death were arduous: What time the helicopter arrived, what kind of train they took, what the weather was like when they evacuated the bodies from Semeru - is that really important? I found much of the better writing was in the last few chapters. The facts around the incident at Lubang Buaya were among the most intriguing, while the portrayal of Gie himself left me feeling like - I miss that guy! Thank you Gie for Mapala & poetry & levelheaded libertarianism around Indo.
Hok-gie's favorite poem verses "almost" reflected the whole book: . "Camerado, I give you my hand! I give you my love more precious than money, I give you myself before preaching or law;" . "Will you give me yourself, will you come travel with me? Shall we stick by each other as long as we live?" . "Now I see the secret of the making of the best persons. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth." - Walt Whitman, Song of the Open Road . More than five times re-reading this book and there were always different experiences in every occassions.
Apabila Catatan Seorang Demonstran adalah gerbangnya, maka buku Sekali Lagi adalah rumahnya. Penjelasan dari sahabat-sahabat karib Gie tentang masa mudanya, kehidupannya, perjalanan mendaki gunung, hingga kisah asmara yang selalu naas.
Sekali Lagi cocok bagi pembaca yang ingin mendalami Gie, hingga bagaimana kematian Gie di Gunung Semeru, sampai tahap penyebaran abu Gie di Mandalawangi.
Buku ini adalah tulisan dari sahabat-sahabatnya dengan tulisan yang tergambarkan dengan sangat baik.
SOE! kehidupannya sangat luar biasa. kutipan dalam buku ini yang dikutip dari sumber lain, "orang yang paing beruntung adalah orang yang tidak pernah dilahirkan, kemudian yang dilahirkan namun mati muda. dan yang paling sial adalah orang yang dilahirkan dan mati tua" yah kurang lebih seperti itu saya sedikit lupa persisnya. namun jangan di telan mentah-mentah, kalian harus memahami maknanya!
Bagi saya berkenalan dengan Gie lewat buku seperti ajaib. Gie seperti Ghandi versi lebih muda. Melalui Gie, saya leebih memanusiakan manusia. Buku ini membantu saya untuk tumbuh, membantu saya untuk mengenal Gie dan dunia nya puluhan tahun silam. Di generasi saya, saya belum mengenal orang seperti Gie.
Buku ini cocok sekali untuk dibaca sambil minum kopi.