Ulasan Jejak Langkah
Buku Jejak Langkah merupakan buku ketiga dari tetralogi Pulau Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Tiga buku pertama pada dasarnya membahas tentang perjalanan hidup seorang Minke. Pada buku keempat, tokoh Minke menjadi Tirto. Minke dan Tirto merupakan orang yang sama tetapi Tirto adalah sosok Minke dalam kehidupan asli.
Jejak Langkah melanjutkan perjalanan hidup Minke yang sudah diceritakan pada buku-buku sebelumnya, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Pada bagian awal buku, Minke berada di dalam sebuah trem yang sedang menuju ke Betawi, disebutkan juga bahwa tujuan ia datang ke Betawi adalah untuk menuntut ilmu kedokteran di STOVIA. Sesampainya Minke di STOVIA, Minke dikucilkan dan direndahkan oleh pelajar lainnya. Kopor dan lukisan yang ia bawa ditendang dan diolok-olok. “Lihat ini! Hanya anak dusun busuk berkopor lebih busuk semacam ini.” (Halaman 15). Hal yang sama juga terjadi saat ia berada di asrama STOVIA, ia direndahkan karena ia adalah seorang pribumi. Minke tidak diam saja, ia membalas olokan mereka dengan melayangkan tendangannya ke salah satu dari mereka dan mematahkan dua gigi dari orang tersebut. Kejadian ini menemukan Minke dengan Partotenojo. Partotenojo atau yang biasa dikenal dengan Partokleoooo juga seroang pribumi yang sedang menuntut ilmu kedokteran di STOVIA. Mereka berteman sejak saat itu.
Keesokan harinya, Ter Haar datang menemui Minke di asramanya dan meminta Minke untuk mengikuti sebuah konferensi di De Harmonie. Minke menyetujui dan mereka datang ke konferensi tersebut bersama-sama. Konferensi tersebut dihadiri oleh para petinggi, termasuk Gubernur Jenderal yang pernah berperang di Perang Aceh. Minke tidak banyak bicara saat konferensi tersebut berlangsung, ia hanya memperhatikan apa yang dibahas oleh para petinggi dan berkomentar dalam hatinya. Ia menyimpulkan bahwa Van Heutsz adalah seorang pembunuh dan memiliki niat jahat. Saat konferensi hendak berakhir, ia diminta untuk angkat bicara dan ia mengajukan sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan pabrik gula. Masalah tersebut juga pernah dibahas dalam dua seri tetralogi Pulau Buru sebelum Jejak Langkah . Pertanyaan yang diajukan oleh Minke diremehkan dan dianggap tidak berbobot, ia merasa hal ini terjadi hanya karena ia seorang pribumi. Setelah konferensi tersebut berakhir, Ter Haar mengantar Minke kembali ke asramanya dan Minke diberi peringatan bahwa banyak orang yang memiliki niat jahat meskipun dari depan ia terlihat seperti orang baik.
Beberapa hari telah berlalu, Minke pergi mengunjungi sebuah daerah yang berisi orang-orang Tionghoa untuk mengantarkan surat kepada seseorang. Surat tersebut berasal dari sahabat Minke yang sudah meninggal dan ditujukan untuk tunangannya, Ang San Mei. Pertama kali Minke melihat Ang San Mei, diceritakan bahwa ia jatuh hati. Minke pulang ke asramanya dan ia merencanakan untuk pindah ke rumah Ibu Badrun setiap akhir pekan. Ibu Badrun adalah sosok yang sangat baik hati dan selalu membantu Minke. Minke mulai sering mengunjungi Mei dan setelah mengenal Mei lebih baik, Ibu Badrun meminta mereka untuk menikah agar orang-orang tidak punya anggapan buruk terhadap hubungan mereka. Minke dan Mei menikah di kampung dimana Minke dulu dibesarkan. Setelah mereka kembali ke Betawi, Minke kembali tinggal di asrama dan Mei tinggal di rumah Ibu Badrun. Suatu hari, ada sebuah konferensi yang sedang berlangsung dan Minke mengikuti konferensi tersebut, ia juga mengajak Mei bersamanya. Dalam konferensi tersebut, seorang dokter memberikan sebuah pidato dimana ia menyarankan para pribumi yang bersekolah kedokteran untuk membuat sebuah organisasi, “ia berseru agar dimulai mendirikan organisasi sosial, memajukan anak-anak bangsa, mempersiapkan mereka memasuki jaman modern, jaman kemajuan, jamannya sendiri.” (Halaman 186). Ide yang dikemukakan oleh dokter tersebut memiliki niat yang baik. Jika dihubungkan dengan era globalisasi saat ini, pribumi memang harus berusaha untuk memajukan kebudayaan Indonesia karena persaingan yang semakin tinggi. Dalam dunia pekerjaan, banyak pribumi yang kurang unggul dan kalah dalam persaingan karena tingkat pendidikan mereka yang lebih rendah dari pesaing lainnya.
Dukungan yang diberikan dari Mei membuat Minke bersemangat untuk membentuk sebuah organisasi yang berisikan orang-orang pribumi. Dukungan yang diberikan dari Mei tidak berlangsung lama. Silang dua tahun pernikahan mereka, Mei tidak pernah berada di rumah lagi, ia selalu pergi bekerja untuk membela bangsa dan negaranya. “Dulu dia memang baik, penurut, selalu tinggal di rumah pada waktunya. Sekarang jarang kelihatan dan nampaknya lebih suka di jalanan.” (Halaman 218). Kesibukan Mei menyebabkan kondisi tubuhnya lemah dan rentan terhadap penyakit, ia mulai menunjukkan gejala-gejala hepatitis dan matanya mulai menguning. Parahnya penyakit Mei mengharuskan ia untuk dirawat di rumah sakit dan Minke selalu menemaninya semasa itu. Dua bulan ia dirawat, tubuh Mei sudah terlalu lemah dan akhirnya ia meninggal. Minke dikeluarkan dari STOVIA dan dipecat dari pekerjaannya karena kelalaiannya. Meskipun tawaran pekerjaan-pekerjaan baru selalu datang, ia menolak setiap tawaran tersebut sampai suatu hari ada seseorang yang datang menawarkan Minke untuk menjadi pemegang kekuasaan kedua dari sebuah perusahaan. Ia menerima tawaran tersebut. Setelahnya, ia berusaha untuk membentuk sebuah organisasi. Organisasi tersebut diminati oleh banyak pribumi, tetapi mereka semua memiliki pendidikan rendah. Oleh karena itu, konflik sering terjadi diantara mereka, tetapi Minke selalu berhasil menyelesaikan masalah tersebut dengan bermusyawarah. Sampai akhirnya, masalah yang terjadi sudah terlalu banyak dan tidak dapat diselesaikan lagi, Minke mengakhiri organisasi tersebut.
Dengan berakhirnya organisasi tersebut, Minke pergi ke Yogyakarta untuk mengikuti sebuah konferensi yang diadakan oleh Boedi Oetomo. Dalam perjalanannya ke Yogyakarta, ia bertemu dengan teman lamanya, Mas Sadikoen. Mereka membicarakan tentang artikel boikot yang pernah Minke tulis. Dalam konferensi itu, Minke tidak menikmati waktunya, ia memiliki pendapat negatif terhadap Boedi Oetomo karena organisasi tersebut berisi para petinggi yang tidak ia sukai. Selama ia berada di Yogyakarta, ia dikenalkan kepada Hans, salah satu teman Sadikoen. Hans biasa dikenal dengan panggilan Haji Moeloek. Awalnya Hans ingin meminta bantuan kepada Minke tetapi ia memulainya dengan menyarankan Minke untuk menulis surat kabar menggunakan bahasa Jawa, dan akhirnya ia meminta Minke untuk menerbitkan tulisan Hans. Minke berkata bahwa ia akan mempertimbangkan hal tersebut. Minke kembali ke kampung dimana ia dibesarkan. Disana, ia bertemu dengan Ayah dan Bundanya. Ia bercerita bahwa ia ingin membentuk sebuah organisasi. Di kampungnya, ia juga bertemu dengan Prinses yang berasal dari Kasiruta. Minke meminta bantuan Prinses untuk membuat sebuah majalah wanita dan Prinses juga tertarik dengan ide yang diajukan oleh Minke.
Di rumah Minke yang terletak di Bogor, ia bertemu dengan temannya yang berasal dari Eropa, Mir Frischboten. Mir bercerita bahwa suaminya sedang sakit dan tidak bisa disembuhkan. Mir berusaha merayu Minke untuk memiliki anak bersama dengannya, karena Mir tidak kunjung dianugerahi seorang anak. Pertemuan Minke dengan Pengki menjadi solusi dari sakit yang dialami oleh Hans, ia dibawa ke sinse dan didiagnosa bahwa ia bisa disembuhkan dalam waktu satu bulan. Setelah Hendrik sembuh, Tuan Raja, Ayah dari Prinses, meminta Minke dan Prinses untuk menikah dan mereka menyutujui ide tersebut. Minke melihat perdagangan yang dilakukan oleh para pribumi dan ia tertarik dengan hal tersebut. Ia pun memiliki sebuah ide untuk membentuk sebuah organisasi yang memiliki persyaratan sebagai berikut: “Jadi Tuan setuju kalau organisasi itu didirikan, berawatak bangsa-ganda, bahasa Melayu, bukan prijaji, golongan dagang, golongan bebas, dan beragama Islam?” (Halaman 522). Berdasarkan persyaratan tersebut, Syarikat Dagang Islam (SDI) pun terbentuk. Bagian keuangan dari organisasi tersebut dipegang sendiri oleh Minke karena ia merasa divisi tersebut adalah unsur terpenting dari sebuah organisasi.
Besarnya nama SDI menyebabkan SDI mengalami banyak konflik dan permasalahan. Salah satu konflik yang dialami adalah penolakan kaum Arab terhadap pedagang kulit di Jawa Barat. Minke beranggapan “SDI bermaksud untuk mengembangkan perdagangan. Yang datang justru sebaliknya.” (Halaman 545). Anggapan tersebut memiliki arti, tujuan utama dari SDI sendiri adalah untuk membantu orang-orang agar mereka bisa berdagang, tetapi banyak konflik yang datang justru menentang ide tersebut.
Akhirnya Minke berhasil menerbitkan majalah wanita yang dibentuk bersama-sama dengan Prinses. Setelahnya, ia mendapat surat yang berisi sebuah teror, tetapi ia menghiraukan hal tersebut dan merayu Prinses untuk memiliki seorang anak bersamanya, “peduli apa dengan De Knijpers.” (Halaman 564). Surat teror tersebut berasal dari musuh lamanya, Robert Suurhof, yang pernah berusaha untuk membunuh Minke di buku kedua. Diketahui bahwa Minke ternyata memiliki sebuah masalah, ia mandul, dan masalah ini tidak bisa disembuhkan meskipun ia telah mendatangi sinse.
Banyaknya konflik yang dialami oleh SDI menyebabkan SDI terpecah menjadi dua bagian: Sjarikat Dagang Islmijah dan Sjarikat Dagang Islam yang dipimpin oleh Minke. Robert Suurhof mengganti nama organisasinya dengan De Zweep dan ia menyerang Minke. Minke didatangi oleh Teukoe Djamiloen, seorang polisi yang menyamar sebagai seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Minke ditangkap oleh Teukoe Djamiloen atas tuduhan tidak pernah melunaskan hutang. Penangkapan Minke menyebabkan ia harus bercerai dengan Prinses. Dikatakan bahwa Minke akan ditangkap dan kemungkinan akan diasingkan dari pulau Jawa. Buku ini berakhir dengan Minke yang ditangkap di rumahnya sendiri.
Buku ini mengajarkan pembacanya untuk memperjuangkan hak mereka dan memajukan budaya Indonesia yang baik. Jika dihubungkan dengan kehidupan saat ini, sikap Minke memang patut untuk dicontoh. Minke yang pantang menyerah dan selalu memperjuangkan apa yang ia percayai bisa kita dijadikan contoh dan diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam era globalisasi ini, kita juga harus memperjuangkan hak kita sebagai pribumi. Banyak pribumi yang kurang unggul dalam memenangkan persaingan di dunia pekerjaan karena tingkat pendidikan mereka yang rendah.