Siapa yang menggerakkan skenario perjalanan hidup? Sebuah kota? Profesi? Alam pikiran? Atau cinta? Empat orang sahabat mencari-cari keriaan hari ini dengan mengejar cinta dan mempertanyakan masa lalu. Mereka berprofesi sebagai wartawan, berkesempatan mendirikan sebuah majalah, satu kesibukan urban yang membawa mereka ke ujian persahabatan, penemuan jati diri, dan dilema tepi-tepi hidup,
Alif: Mata saya tajam terbuka, merasakan dengan nyata kosmik energi, merasakan kuatnya medan magnetik yang terjadi. Pelan-pelan ada cairan lain yang naik ke saraf-saraf otak, rasa gusar, kesal, marah. Apakah kosmik energi penyebab rusaknya kehidupan cinta saya? Setiap pekan purnama tiba orang-orang akan bergairah, serbaimpulsif. Mudah marah, mudah sedih, mudah jatuh cinta, mudah berbelanja, mudah dramatis, mudah cemburu. Orang-orang kehilangan keseimbangan, orang-orang cenderung lunatic, kebulan-bulanan. Saya mengerti keadaan ini.
Raisa: Ia tak pernah tahu bahwa seharusnya, jika berada dalam rapat apa pun di dunia ini, sangat berlaku hukum ”You are what you said.” Nah, kalau tak pandai berkelit, pakailah aliran ”Silence is golden”. Sehingga jati diri tidak perlu terasa seperti akan lumer ke lantai, merosot ke kaki-kaki meja, dan secara politis habis diinjak-injak forum. Ia ingat ekspresi semua peserta rapat waktu itu, mereka tersenyum bahagia penuh kepuasan. Pelajaran yang ia dapat dari kejadian memalukan itu adalah: when everybody is happy, you know you have done something wrong.
Didi: Kota Jakarta ini apa masih layak huni? Ngeri banget Jakarta sekarang. Kalau nanti gue terkenal karena jadi creative director sukses, apakah gue aman? Gue harus berjuang dari kemungkinan penembakan seperti ini. Kemungkinan pembunuhan, penggarongan, kemacetan, kebanjiran, penipuan, penggusuran, rombongan kampanye, massa sepakbola, fashion criminals, Chanel limited edition, Louis Vuitton New Arrival, Gucci Piracy, dress code betrayal…
Nisa: Itu suara Alif. Azan. Komat. Ah, anakku, Mama belum sempat lihat kamu. Bagaimana rupamu? Bagaimana hidungmu? Bagaimana senyummu? Kamu pasti aman di situ, ada Oom Alif, teman Mama yang paling peduli dengan Mama. Kamu pasti senang dengar suara azan Oom Alif. Mama jadi rindu, tapi Mama belum bisa lihat kamu. Mama seperti terbang. Mama hanya bisa merasakan getaran jiwamu yang bening dan bersih. Oh, inikah mati? Tubuh terasa ringan sekali. Tanpa beban fisik. Merdeka dari keterbatasan. Fisik adalah penjara seumur hidup, penjara yang lemah, yang tak mampu menghadapi cuaca, yang tak bisa pergi tinggi-tinggi karena akan ditarik kencang oleh gravitasi bumi.
“Dasar orang miskin, mentang-mentang miskin boleh melakukan apa saja, mengamuk sesuka hati, merusak apa saja yang mereka mau!!!”
Di lain tempat:
“Haduh, Mas! Saya hampir nabrak mobil mahal, saya lemes…ngebayangin harus ngeganti mobil itu. Waduh, bener-bener cobaan hari ini. Kayaknya saya ngelamun tadi. […:] Dasar orang kaya, mentang-mentang kaya boleh melakukan apa saja, seenaknya sesuka hati, menguasai apa saja yang mereka mau.”
…dan penyakit paling berbahaya di muka bumi ini adalah prasangka (Dan Damai di Bumi – Karl May). Dan dua kalimat di atas adalah prasangka antara si kaya dan si miskin (ada di halaman 138-139) yang disentil dalam buku terakhir dari tetralogi fashion karangan Syahmedi Dean ini.
Meski bertajuk tetralogi fashion, kisah yang ditulis dalam A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air Teh) tidak melulu berisi cerita-cerita sampah yang menyajikan gaya hidup warga kelas atas menghambur-hamburkan uang mereka. Hampir bisa dibilang tidak ada, bahkan. Yang ada justru cerita pergulatan orang-orang yang ada di balik penerbitan majalah fashion, yang terkadang harus menghadapi realita yang sama sekali bertolak belakang dengan kemewahan yang harus mereka tangani untuk diulas dan dipaparkan dalam majalah fashion yang harus dikelola oleh Alif, Raisa, Didi, dan Nisa.
Ada beragam konflik yang disuguhkan dalam buku ini. Mulai dari korupsi, pembunuhan, hamil di luar nikah, hingga konflik batin seperti yang dialami Raisa. Raisa, pemimpin redaksi yang begitu cepat mengikuti perkembangan fashion, mengalami pergulatan batin saat berhadapan dengan pilihan yang begitu krusial dalam gaya berpakaian: Di depan cermin gue merasa berhadapan dengan diri gue yang sebenarnya. Gue nggak bisa lagi bersembunyi dalam high fashion brand, dalam siluet badan seksi. Gue merasa minor, karena ternyata seumur-umur gue lebih sibuk membangun karakter tampak luar. Gue menomorduakan pembentukan karakter di bagian dalam. Buktinya, pas gue pake baju muslim itu, gue merasa ciut, kepedean gua kandas. Kenapa bisa begitu? Aneh banget. Hanya karena selembar baju muslim.
Terlepas dari latar belakang Syahmedi Dean yang mantan wartawan fashion, konflik-konflik yang ada dalam buku ini menunjukkan kepekaan penulis terhadap situasi yang tengah berkembang, dan masih terjadi hingga saat ini. Juga kisi-kisi untuk menerbitkan majalah yang dibeberkan cukup detail, bisa jadi pegangan buat pembaca yang punya keinginan untuk menerbitkan majalah. Terakhir, buat mereka yang kecewa dengan buku ini, tetralogi yang ditulis Syahmedi Dean bisa jadi penawar yang menyejukkan :D (lits)
Fantastis. Extra ordinary. So unpredictable. GOD, I just love this novel.
Yeah, sejak Cewek Matre-nya Alberthiene Endah saya belum pernah lagi merasakan sebegitu bersemangatnya membahas dan berusaha keras menyimpan tiap detail isi dari sebuah buku, sampai terbitnya novel keempat (terakhirkah????) dari seri Fashion Journalistic-nya Syahmedi Dean ini. Rasanya sejumlah rupiah yang saya tukarkan dengan novel ini benar-benar terbayar impas. Wew…
Hahahaha. Nonobjective banget ya??? Belum apa-apa sudah memuji setinggi langit begitu. Don’t know why. My hands up! kalo kata Nelly Furtado,”manos al aire.” Novel ini memang keren. Sumpah! Sangat di luar perkiraan saya. Bagaimana tidak, tiga novel pendahulunya telah menjejakkan citra bagaimana saya harus menyimpulkan sebuah novel karya Syahmedi Dean. Yaitu, novel metro-urban-modern yang kebanyakan ngomongin barang fashion dengan segala detailnya berbau fashion. Dengan kata lain, novelnya cukup buat having fun. Just an entertainment book!
Secara packaging, novel ini tidak meninggalkan cetakan dari tiga novel sebelumnya. Masih tetap sama banyaknya dalam hal menampilkan barang-barang fashion. Sebutan merk tas-baju-sepatu-lipstick and so on yang terkadang agak lebay. Tapi itulah istimewanya novel-novelnya Syahmedi Dean. Bagi sebagian pembaca perempuan, cukup dengan merampungkan serinya Syahmedi Dean, dijamin tidak bakal lagi dongo kalau mendengar orang menyebut Bally (bukan Bali), Birkin, atau Louis Vuitton. Minimal, tidak akan lagi shock dan berseru, “ih lucu, makanan apa itu?”
Gaya bahasa yang lebay (berlebihan) yang digunakan Syahmedi memang bagai pisau bermata dua, bagi saya. Di satu sisi agak-agak annoying, tapi di sisi lain juga memberikan efek yang menyegarkan. Sama halnya ketika saya membaca She’ll Take It-nya Mary Carter. Penjelesannya mbleber kemana-mana, tapi sayang kalau dilewatkan.
Biasanya pula, saya paling tidak suka dengan tokoh yang “mendadak” mendapat jatah aktualisasi diri padahal garis besar novel bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Janggal saja, tiba-tiba si A diberikan line, sedangkan tokoh utama sama sekali tidak ada dalam adegan tersebut. Namun, dalam novel Syahmedi, cara pemberian porsinya cukup ‘mulus’. Tidak mengesankan narsisme dari tokoh tersebut, sehingga jauh dari kesan janggal.
Dari keseluruhan empat novelnya, novel keempat ini memberikan kesan paling mendalam bagi saya. The best lah dari tiga lainnya. Terutama dari plot dan isinya.
Dari novel pertama, L.S.D.L.F. (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion), Syahmedi mengenalkan jungkir baliknya dunia balik layar dari produksi sebuah majalah lifestyle. Novel kedua, J.P.V.F.K. (Jakarta Paris via French Kiss), para tokohnya mulai dikenalkan pada konflik yang lebih beragam dengan tetap tak meninggalkan gemerlapnya dunia mode. Pada novel ketiga, P.G.D.P.C. (Pengantin Gipsy dan Penipu Cinta), para tokohnya dihujani dengan masalah-masalah pelik yang menguji sejauh mana persabahatan mereka. Dan, akhirnya, di novel pamungkasnya ini, A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh), para tokohnya bermetamorfosis mencapai kejatidirian mereka masing-masing. Menemukan jawab atas salah satu pertanyaan penting dalam hidup, “siapa aku yang sebenarnya?”
Meskipun agak terlambat, novel ini cukup up to date dengan sentilan soal hiruk-pikuk panggung politik (pemilu dan caleg), sepak terjang KPK, kasus-kasus korupsi bertaraf nasional semacam kasus alih fungsi hutan lindung di Sumatera, dan demo pengrusakan kantor penerbitan yang menurunkan berita berbau pornografi (jadi ingat kasus majalah Playboy). Maka, lumrah saja ketika saya menyematkan pujian bahwa novel ini cukup padat berisi. Fashion-politik-relijius.
Yup, yang membuat saya cukup terkagum adalah kepiawaian Syahmedi menyelipkan isu keagamaan dalam kilau dunia mode yang diciptakannya. Pun, cara penyampaiannya juga tidak terkesan menggurui dan terlihat sekali Syahmedi mencoba membahas masalah agama itu dari dua sisi, pro dan kontra. Kalau sudah begitu, tinggal pembaca sendiri yang menentukan, mau ikut yang pro atau yang kontra.
Yang perlu dicatat lagi dari novel ini adalah banyaknya flashback dari masing-masing tokohnya. Saya sempat bosan (sedikit) ketika pada lembar-lembar awal, kebanyakan isi halamannya adalah renungan-renungan masa lalu dari masing-masing tokoh. Memang perlu sih untuk menjembatani dengan masa depan mereka, hanya saja, saya memang agak kurang sabaran kalau orang sudah cerita (melulu) tentang masa lalu. Apalagi, kebiasaan Syahmedi yang mendetailkan segala sesuatu, makin membuat saya ingin buru-buru skip dan lanjut ke halaman berikutnya.
Anyway, terima kasih Syahmedi, terima kasih editor, terima kasih tim penerbitan Gramedia, saya luput mendapati adanya salah cetak pada novel ini. Thank GOD! Entah saya yang kurang awas karena terlalu excited terhadap novelnya atau memang benar-benar tidak ada masalah teknis begituan. Dunno.
Hmm… dari novel ini saya punya dua part (quote) yang paling saya suka. Yang pertama, telah saya pampang di sidebar blog saya ini dalam kolom My Favorite Quote. Yang kedua, adalah ini:
Bertolak belakang antara siang dan malam. Siang preman, malam ayah yang baik. Siang selingkuh, malam istri yang budiman. Siang karyawan yang rajin, malam menggampari istri. Halaman 183
Menohok sekali. Tepat menggambarkan orang-orang yang secara sadar atau tidak seringkali menampilkan dua muka yang berbeda untuk dua waktu yang berbeda pula. Siang dan malam. Baik dan buruk. Salah dan benar. Termasuk saya juga, mungkin, hehehehe....
Dua hal yang menjadi topik penting novel keempat Syahmedi ini adalah ‘bulan’ dan ‘teh’. Secara judulnya juga ada menyangkut teh-teh-nya, maka tak heran kalau teh menjadi primadona di novel ini, bahkan hampir seluruh tokohnya (utama atau figuran), disengaja atau tidak, setiap beradegan minum, pasti pesannya teh. Hmm… kenapa selera orang bisa digeneralisir begitu, ya? Dan, ngomong-ngomong sampai selesai membaca novel ini saya masih nggak tahu juga, apa maksud setuang air teh? Ahhh…mungkin saya harus membaca ulang sekali lagi sembari menuang secangkir teh aroma melati, baru saya tahu apa maksudnya. Hmm… sedap, kedengarannya.
Selamat membaca. Dan, hey, jangan jantungan ya… novel ini benar-benar memberikan full of surprises!!!
people can never be clean, clean from his/her wishes about the world, about what he/she wants with the world and about regretting what has been done to the world... we can never be clean -- it's somewhat confusing!
AMSAT mengakhiri perjalanan LSDLF, JPVFK, PGDPC kendati tidak seperti kebanyakan novel metropop -- buat yang ngaku pecinta novel bergenre ini siap2 tertohok -- tapi cukup apik... mengulas kembali jalinan kusut benang sejarah, seperti dokter yang menanyakan riwayat si sakit demi dapat memberikan diagnosa tepat penyakit si sakit dan akhirnya memberikan pengobatan yang tepat untuk kesembuhan.
dalam cerita ini, dalam edisi ini, u guys will then wonder, siapa yang disembuhkan? siapa yg terabaikan dan siapa yang malah (jadi) tambah sakit? aq blg mereka semua sembuh.. dari himpitan keraguan, pertanyaan, dan siksaan mencari jawaban. Bukankah itu yg paling mengasikkan ditemukan pd sebuah akhir kisah yaaa, hehehe..
diakui memang, plot yang dibuat kali ini terlalu sederhana, pengarang seperti mencoba mengakhiri-nya dengan simple, as simple as life and death -- tho in reality they dont, com'on it's a metropop book.. scene-nya berjalan jauh ke belakang kemudian terlempar lg ke depan, unlike 2 buku pertamanya, AMSAT justru makin minim gejolak, jujur aq lbh suka PGDPC.. klimaks-nya banyak, bikin bingung yg mana yang akan 'dimanfaatkan' berikutnya.. but it has to come to an end, doesnt it?
value-nya agak kontras, kerudung, KPK, politik -- all the politics in life, xixixi..
to ALIF, welcome back to life.. to NISA, welcome to the real home to DIDI, welcome aboard, mate.. to RISA, welcome to where life is
Hari Selasa, sedang memulihkan jiwa raga, bulan Ramadan tapi sedang kedatangan tamu bulanan sehingga tidak bisa tilawah, maka apalagi yg bisa saya lakukan selain cari bacaan selow?
A.M.S.A.T ini karya pertama Syahmedi Dean yg saya baca. Rasanya aneh, karena cara penulisan dialog yg kerap hanya menulis nama penutur menyusul ujung kalimat.
"Ini gaya nulis apaan, sih? Pengin menciptakan orisinalitas?" Saya.
Begitu contohnya.
Kalau ceritanya sendiri memang cukup... Mmm apa, ya? Berlapis? Karena di balik pendanaan seorang nyonya jet set atas sebuah majalah fashion ada aneka kepentingan? Saya sedikit paham dunia ini karena pernah terlibat juga sekitar satu tahun di sebuah tabloid anak muda . Yah, namanya duit, kalau dikasih tanpa kuitansi ya minta ditulis pakai tinta lain lah.
Selain cara bercerita yg kerap bikin bingung, penyuntingan juga agak longgar. Beberapa kali saya seperti menemukan hal yg mau diceritakan, tapi kayak gak jadi. Tapi ya sudahlah.
Tapi yaaa... Ujung ceritanya itu! Hah! Huh! Kok tegaaa...
Sorry to say but I don't like the ending. I mean the ending such ironic. But it was a great story especially when it comes to friendship. How they support Nisa when she decide to keep her baby. How they support Raisa when she decide to wear hijab. And how Didi is finally can grow up (no more being childish), litteraly like an adult when he solve his own problem or Alif who's trying to be consistent with his idealism even it's threat for his professional life. It wasn't cliche at all, every character has their new prespective of life purpose. I just hate the ending. Titik !
Well, aku tipe pembaca yang hampir ga suka sad ending sih. Cuman pikiranku, sebagai penutup tetralogi fashion, harusnya novel ini bakal manis, tapi ternyata ga ada manis-manisnya. Aku merasa ikatan kuat Alif-Raisa-Nisa-Didi yang dibangun di tiga novel sebelumnya jadi kocar-kacir di sini. Kemudian novel berakhir gitu aja, tanpa kejelasan kelanjutan majalah Maga dan alasan kenapa Saidah berubah gitu. You can't leave me like this Alif 😭 Semuanya sad ending. Kecuali Raisa. Uhuh. Kecewa pokoknya.
Alif kembali bergairah menulis, ketika Raisa, sahabat ya, menemukan investor dan membuat majalah fashion. Sayangnya that business doesn't run well. Di tengah kekalutan, ia masih berharap bisa kembali pada Saidah, mantan istrinya.
And I don't like the ending....
Namun ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari novel ini.
Disarankan untuk membaca buku-bukunya Dean sebelumnya (LSDF, PGDPC, dan JPVFK).
Bagian time skipnya kejauhan sih, entahlah, mungkin itu emang rancangan atau sudah keputusan si penulis. Hanya saja bagaimana bisa bagian epilog larinya 20 tahun lamanya tanpa ngasih detil lika-liku seusai kejadian dibagian akhir chapter sebelum yg terakhir.
Tapi yah, mungkin memang sudah sepantasnya begitu atau bagaimana, masih menarik sih mengikuti seri ini sampai akhir, biarpun gak baca buku satunya.
Atas nama jodoh dan takdir akhirnya saya bisa ketemu lagi dengan AMSAT ini. Sudah sejak lama sebenarnya saya lihat buku ini di suatu bazaar buku. karena melihat judulnya yang aneh, saya sama sekali ga terpikir untuk membeli buku ini. Barulah di kemudian hari saya tahu ternyata buku ini merupakan tetralogi fashion yang sekarang punya edisi cetak ulang dengan cover yang jauh lebik ciamik dibandingkan seri lamanya ini. Coba lihat deh, alih-alih buku metropop, siapapun yang melihat cover ini pasti bakal mikir kalau ini novel misteri pembunuhan. Lha wong dark dan muram gitu warna dan desainnya. Judulnya juga unik. Apa maksud setuang air teh. Hem, kira-kira apa maksudnya ya? Kenapa harus air teh dan bukan air susu? Sudah itu, penulisannya disingkat pula seperti judul-judul dalam seri sebelumnya. Sungguh unik.
Membaca isi ceritanya, ternyata lebih unik lagi. Mungkin bisa saya bilang beginilah seharusnya metropop. Syahmedi Dean menulis dengan sangat baik. Meskipun untuk ukuran metropop, novel ini kebanyakan narasi ketimbang dialog, eits tapi saya malah suka lho. Karena narasi dan deskripsi yang ditulis Syahmedi ini kalimatnya asyik banget buat dicerna pelan-pelan. Nikmat gitu. konfliknya beragam mulai dari yang bikin jidat saya mengerut saking herannya sampai yang bikin saya melongo karena kaget dan tidak menyangka arah konflik tersebut.
Tetralogi fashion ini adalah salah satu metropop yang gak menye-menye. Orang bilang buku ini membosankan karena terlalu banyak menyebut merek kosmetik dan produk fashion branded lainnya. Tapi buat saya justru di situlah kerennya. Pembaca jadi tahu dunia fashion yang notabene sulit terjamah oleh orang-orang awam. Berbahagialah yang membaca tetralogi ini karena jadi tahu seluk beluk dunia fashion tanpa harus nyemplung langsung ke dalamnya.
Suatu kali saya berkesempatan bertemu dengan penulisnya dan ada teman saya yang bertanya kenapa judul novelnya kok singkatan semua. Kemudian Syahmedi Dean menjelaskan bahwa di kalangan fashion sangat identik dengan singkatan-singkatan seperti LV, BCBG, D&G, dsb. Maka jadilah tetralogi fashion ini dinamai sesuai cirri khas dunia fashion tersebut. Kreatif sekali!
Kebetulan juga saya seorang follower Syahmedi Dean @deanmedi saya sering kagum dengan cara beliau ngetwit. Semua twitnya menghibur sekaligus menyindir dengan gaya yang nyentil. Terlihat dari situ bagaimana kreatifnya seorang Syahmedi Dean yang pandai bermain dengan kata-kata sehingga menjadi kalimat yang nikmat untuk dibaca. Semuanya tertuang dalam buku ini.
Saya sendiri sih baru baca buku kesatu, kedua, lalu lompat yang keempat ini. Selama membaca saya merasa ada scene yang saya lewatkan di buku ketiga tapi itu tidak terlalu memusingkan saya dalam membaca buku keempatnya ini. Semua ceritanya tetap dapat diikuti bahkan kerapkali penulis membimbing kita mengetahui cerita sebelumnya dengan menjelaskan ulang kepada pembaca di buku ini. Sungguh penulis yang budiman. Sesuai dengan tokoh utama dalam novel ini yang bernama Alif.
Overall, saya ga ada masalah dengan cerita yang missed, konflik yang ‘apaan sih ni’, dan hal menye-menye sebagainya karena bisa dikatakan saya sudah cukup terpuaskan dengan cara penulis bercerita. Melalui buku ini saya jadi tahu bagaimana kehidupan para sosialita yang ternyata ada lho jasa menyewakan tas branded demi tampil di sebuah acara kemudian difoto dan dijadikan bahan tulisan media (saya pernah baca di buku Kocok! Uncut by Nadia Mulya). Saya juga sempat tercengang dengan keputusan gila Alif yang tetiba menjadi liar lantaran masalah demi masalah terus menderanya. Wait, bukannya Alif tipikal orang yang relijius ya? Kenapa malah melampiaskan dengan cara yang negative bukannya dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Untuk hal ini, penulis boleh dibilang agak memaksakan konflik, menurut saya. Juga penampilan Raisa dan Saidah yang mencengangkan di akhir cerita. Kisah kelanjutan karier Didi. Kehamilan Nisa. Semuanya campur aduk dan buku ini memberi contoh pandangan-pandangan umum masyarakat Indonesia perihal kehidupan yang tidak lazim semisal kehidupan dunia fashion yang identik dengan gaya glamour.
Akhir kata, 4 dari 5 bintang untuk buku ini. Asal tahu saja, saya sudah mulai ketagihan membaca buku-bukunya Syahmedi Dean. Penulis yang satu ini sangat pandai meramu kata-kata. Keep up the good work, Bang Dean!
Pandangan saya tertumbuk pada A.M.S.A.T. ketika saya mengobrak-abrik tumpukan buku obral di Mal Ambasador. Nama pengarangnya yang familiar membuat saya menimang-nimangnya sebentar, lalu memasukkannya dalam keranjang belanja. Sudah lama sekali sejak saya baca bukunya yang pertama: J.P.V.F.K., dan saya teringat bahwa buku pertama itu menyenangkan sekali untuk dibaca: saya jadi berkenalan dengan merk-merk fashion terkenal, dinamika jurnalisme mode, dan benturan-benturan norma antara dunia fashion dan adat ketimuran yang dipegang Alif, salah satu tokoh utamanya.
Dari mana lagi saya yang hampir tipikal mahasiswa gembel ITB waktu itu bisa mengerti kata haute couture? Atau tahu bahwa huruf H merk Hermes tidak dilafalkan? Saya jadi tahu bahwa aksesoris-aksesoris dari merk-merk yang berseliweran itu harganya bisa mencapai puluhan dan ratusan juta.
Saya curiga dulu saya melihat diri saya seperti Alif, yang digambarkan tetap teguh sembahyang, menampik minuman keras meski di lingkungan yang bertolak belakang.
Dan ini membuat saya bingung ketika tahu-tahu Alif jadi "pejojing seronok". Iya, dia gundah tidak lagi bisa memenangkan hati Saidah mantan istrinya. Bolehlah saya percaya dia kalut mengurus majalah yang dia dirikan bersama tiga teman terdekatnya (Raisa, Didi dan Nisa). Tapi mencari pengalih perhatian, dengan menerima tantangan untuk menari striptease dari tokoh yang bahkan tidak pernah disebutkan hingga di halaman 173? Terlalu dipaksakan, sepertinya. Anehnya lagi, untuk sesuatu yang akhirnya begitu menekan reputasi, konflik tentang hal ini seperti terlupakan selama berpuluh-puluh halaman, hingga ketika rahasianya terbuka, hidup Alif berubah semua.
Mungkin memang terlalu banyak konflik yang ingin dijalin Dean untuk Alif dan ketiga tokoh utama lainnya. Raisa harus membuktikan diri keluar dari citra anak manja, memenangkan cinta Alif, dan pergulatan dengan busana identitas agama. Nisa yang hamil di luar nikah harus bersitegang dengan orang tuanya. Didi tahu-tahu terseret kasus konspirasi politik orang tuanya. Dan banyaknya konflik ini tahu-tahu selesai di akhir ketika Nisa meninggal setelah melahirkan, Didi dipecat dari posisinya, dan Alif tewas ketika kantor majalah mereka diamuk massa yang memprotes gambar sampul edisi terakhir mereka yang seronok.
Terlepas dari plot, saya temui juga beberapa kesalahan tipografis, Raisa yang tiba-tiba berubah menjadi Nisa di dialog halaman 209, dan tanda-tanda hubung yang terselip di tengah-tengah baris kalimat. Yang paling mengganjal adalah penggunaan kata loose yang harusnya lose ("I have nothing to loose", p.189), dan proove alih-alih prove ("Let's proove it", p.154). Tolong jangan ingatkan saya dengan kata miscalled di halaman 140.
Ini bukan berarti penulisan Dean buruk. Jauh dari itu, malah. Pilihan kata-kata bahasa Indonesianya renyah, dan saya juga menemui kata bersirobok di sini.
Selain itu, ada beberapa bagian yang menyentuh. Salah satunya adalah ketika Alif dan Saidah bercengkerama di KBRI Perancis dengan waria korban perdagangan manusia yang melarikan diri dari Eropa Timur lalu mencari suaka. Bagian lain adalah ketika Raisa mengeluarkan sumpah serapah karena Audi yang ditumpanginya hampir ditabrak oleh motor--sejurus kemudian Alif bertemu dengan kurir yang mengendarai sepeda motor tersebut, gemetaran hampir menabrak mobil mahal sembari merutuki si kaya, tanpa tahu bahwa itu adalah mobil Raisa. Terakhir, sesuai dengan label genre metropop yang disandangnya, tanpa menggurui A.M.S.A.T. mengemas tentang masalah-masalah aktualisasi diri lewat profesi.
Jadi, apakah ini buku yang buruk? Tidak juga. Coba saja baca dulu, siapa tahu suka juga.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ending yang.... Nyesek banget Bang Dean. Oke, saya hanya merasa kehilangan. Tambah nyesek lagi, Saidah kenapa harus berubah? Kalau Raisa, aku emang sudah cinta dia sejak di buku pertama, setelah EDNA tentunya. Jadi, perubahan positifnya seratus persen saya dukung. Kan jadi inget ending CLOSER, si Jude Law yang akhirnya nggak dapet siapa-siapa, nggak Julia Robert atau si Natalie Portman. Sedih. Saya banget... #eh
Back to review. Hmm... Dari keempat seri tetralogi fashion karya Bang Dean, mungkin buku keempat ini yang menduduki posisi teratas, chart fav book saya. Alasan? 1) Konflik lebih terasa dan gegret. 2) Gambaran membangun sebuah bisnis media baru, dan kepelikannya terlihat seru. 3) Baru ini sepertinya saya membaca metropop yang mengusung isu norma agama, namun juga menyuguhkan kehedonan hiruk pikuk kalangan fashionista Jekardah. Istilahnya, elektron dan proton yang saling menyeimbangkan, yin dan yang. 4) Dialog ngebanyol ala Bang Dean yang tetap eksis, dan rahasia-rahasia yang sengaja disimpan di akhir-akhir membuat saya penasaran. Tapi, ada beberapa yang saya tidak begitu suka adalah pengangkatan isu politik dan partai di buku ini. Hmm... Kayaknya enggak aja gitu, Bang di buku tetralogi fashion. Terus, ending yang (sudah ah, nggak mau diamuk masa karena spoiler)
Betapa buruknya kita memandang diri kita, pasti ada kebaikan walau setitik saja. Dan betapa baik dan sempurnanya kita menganggap diri kita, juga pasti ada keburukan walau sebesar zarrah. Nilai itulah yg aku temukan di novel ini.
Hm. Ada banyak sekali hal yang ingin saya sampaikan terkait seri ini, khususnya, novel terakhir ini. Tapi, sekadar kata-kata sepertinya tidak akan mampu menggambarkan seluruh perasaan saya. Novel ini terlalu komplikasi untuk diberi review. Though with millions words, never enough. Yang jelas, perlu pertahanan dan persiapan diri yang kuat jika kalian ingin menyelesaikannya. Jangan subjektif, always objective. Jangan naif, realistislah. Dengan atau tanpa ekspektasi, saya yakin, ending yang kalian rasakan tetap amazingly amazing.
Jadi, apa maksud setuang air teh?
Sila temukan jawabannya dalam novel ini :)
Ps: dan pada akhirnya, Raisa Atmojo memang menjadi karakter yang dari awal saya kagumi di novel ini. I love her perspective, until this last series!
Pss: I really looove the "thanks to"'s style. Iya, ucapan terima kasih yang Bang Dean buat dalam serial ini. That's so unique dan membuat karakter cerita ini semakin real. Nyata.
Psss: I can't help it. Sampai akhir, saya benar-benar semakin berekspektasi tinggi dengan hubungan Alif-Raisa. Now, what can I say? Suck my friendzone's mind><
Pssss: niatnya memberi 5 bintang, tapi, setelah dipertimbangkan, 4 stars maybe enough hehehe. Saya akan rindu serial ini x')
Penutup yang sempurna. Baca seri terakhir dari tetraloginya bang Dean ini seperti menjawab semua pertanyaan yang timbul saat saya baca ketiga buku sebelumnya. Misalnya kenapa Alif sebagai fashion editor yang sukses tapi tinggal di kontrakan, bukan apartemen sesuai dengan latar kota metropolitan serta gaya hidup seorang fashion editor. Atau bagaimana kisah pertemuan Alif dan Saidah, serta kehidupan pernikahan mereka.
Di buku ini juga konflik setiap tokohnya kuat-kuat. Setiap konflik seperti lapisan bawang. Dikupas oleh penulis satu per satu dengan baik.
Dan yang tak terduga adalah ending-nya! Benar-benar tak terduga!
Berhubung sudah sulit dicari, kalau misalnya dapat buku ini beli deh! Nggak usah khawatir karena belum baca buku-buku sebelumnya. Karena di buku ini, penulis mengajak kita untuk flashback ke kehidupan masing-masing tokoh serta konflik di tiga buku terdahulu. Sebenarnya setiap buku dari tetralogu bang Dean bisa dibaca secara terpisah. Tapi menurut saya, A.MSAT merupakan buku terbaik. Jadi, wajib punya deh. Eh punya nggak punya, yang penting wajib baca! :)
Novel milik Melita Disi Triavera yang gue caplok dari dalam tasnya demi membunuh waktu (dan rasa nervous) menunggu "judgement day" alias ujian praktek MTV bersama si bapak. Actually I'm not really into this kind of genre. Tapi apa yang gue punyaaaa?? Praktek hari pertama gue ngabisin 5 komik romance jepang yang ada adegan vulgarnya -______- Waiting is so damn boring!
Tapi, novel ini lumayan :))) Lumayan pas buat anak komunikasi salah jurusan yang pengen kerja di perusahaan media cetak tapi ngga punya bayangan sama sekali kaya apa kerjaannya entar :))) Dan mas Dean ini pengetahuan fashionnya bikin gue jongkok di pojokan terus garuk lantai. Entahlah apa pendapat mereka yang udah expert gini-ginian, tapi buat gue, this man is awesome! Hahahaha goks, itu brand-brand fashion beleleran dimana-mana dari awal ampe akhir, and as a girl i know almost nothing!:))) Gue juga suka sama Didi dan rubrik Mme. Style-nya. Menunjukkan dia cerdas tapi otaknya jarang diandalkan secara normal. Ngakak lah. Jalan ceritanya juga asik, dan ngga ketebak endingnya.
Komen terakhir: bagian ucapan terima kasihnya adalah salah satu yang terbaik yang pernah gue baca! :)
Monsoon, novel Syahmedi Dean kedua yang aku baca setelah Pangeran Kertas. Novel ini mengusung dunia fashion dan majalah yang begitu kental dengan para tokohnya. Sebenarnya, novel ini novel seri. Ada empat seri – lebih tepatnya. Namun, aku baru dan mungkin hanya akan membaca novel seri terakhirnya, ya novel ini. Pada dasarnya, aku suka dengan karakter para tokohnya. Alif, si wartawan alim yang berjalan lurus pada prosedur agama. Sampai-sampai, meskipun dia berada di antara para manusia dengan gelas bir, dia tetap tak akan menyentuh minuman itu. Punya idialisme yang tinggi di bidangnya. Meskipun tak pernah menggunakan merk-merk top dunia – walaupun dia adalah wartawan fashion – Alif tak perlu diragukan dalam membuat sebuah karya. Raisa, bisa dibilang, dia kebalikan dari Alif. Semua yang melekat padanya benar-benar menunjukkan siapa dirinya, si cewek yang begitu mengerti fashion dan bekerja di dunia fashion. Kenyataannya, Raisa tak terlalu bisa menunjukkan kepahamannya tentang fashion dalam bentuk tulisan di majalah. Dia paham fashion untuk diri sendiri.Baca Selengkapnya http://dianputu26.blogspot.com/2015/0...
Buku ini memberikan banyak gambaran yang kadang sangat mengerikan sekali ya... kenapa? karena seperti gak mungkin ada orang kaya yang dengan gampangnya mengeluarkan uang ampe ratusan juta dalam hal membeli barang2 model terbaru yang pastinya bermerk gitu deh. Buku ini memberikan kita banyak sekali gambaran, bagaimana kehidupan orang-orang yang hidup dikota Jakarta ini terkhusus orang-orang kalangan atas. Kadang buku ini terlalu sulit untuk aq bisa mengerti dikarenakan dicampur dengan dunia politik, jadi rada bingung sendiri deh.
Tetapi kesimpulanQ mengenai buku ini, buku ini secara keseluruhan buku ini bagus banget, apalagi inti dan klimaks buku ini ada diakhir cerita sehingga membuat kita para pembaca yang mungkin sempat bosan menjadi tidak rela untuk berhenti membacanya. Tapi sorry kalau nantinya teman-teman yang membacanya akan mengalami kecewa dikarenakan ending ceritanya tidak seperti yang kita harapkan, ada kejutan yang gak akan disangka2....sayang bangeeeetttt nih cerita,,,bisa diganti gak sih endingnya....hehehe...
Reviewnya agak spoiler. So, kalo lo belum baca AMSAT dan nggak berniat untuk mempengaruhi pikiran lo dengan review-review gue, then stop it.
AMSAT is the best among others tetralogy of this series. Keren sekali. Konfliknya banyak dan semuanya seru. Konfliknya tidak mainstream plus unique. All is good.
Di setiap novel yang gue baca, gue selalu punya tokoh favorit dan mostly itu pasti karakter cowo/pria. Hehehe.
But it's not happening here.
Gue suka sekali tokoh Raisa di sini. Waw. She's mesmerizingly beautiful either innerly or outerly. Keren sekali sih tokoh Raisa. I adore her. Raisa bahkan influence nya lebih terasa daripada Didik atau Nisa. Alif? Imbang.
Ya mungkin karena ini memang serinya Raisa. AMSAT kan seri yang dibuat Mas Dean untuk Raisa. Dan di antara keempat: Ednastoria, Bohemia, sama apa judul satunya? Monsoon alias AMSAT ini yang paling 'yahud'.
Sayangnya gue berharap Raisa bakalan jadi sama Alif. Unluckily,....
Judulnya juga gue paling suka. Apa Maksud Setuang Air Teh. Keren ya, terkesan elegan gitu.
Buku keempat dari seri wartawan lifestyle. Kalau di buku pertama dan kedua bahas fashion, buku ketiga dan keempat banyak membahas persahabatan dan konflik batin keempat tokoh utama. Di buku ini banyak twist & turn yang nggak bisa saya tebak, terutama menjelang akhir buku. Masing-masing tokoh seperti mempertanyakan jati diri mereka dan tujuan hidup. Ada yang dapat jawabannya, tapi ada juga yang belum sempat dapat. Gara-gara waktu baca udah serius banget, jadi refleks ngumpat waktu baca ending. Ngeselin banget. Saya kadung kepincut sama Alif. Menurut saya karakter Alif itu kompleks dan menarik. Saya merasa belum kenal Alif secara utuh tapi sudah keburu ending. Saya juga kaget sama perubahan-perubahan beberapa karakter. Ada dua karakter yang bertukar formasi karena ingin menarik perhatian karakter lainnya. Ironis, kalau tahu cerita di balik transformasi karakter-karakter tersebut. Dari empat buku, buku keempat adalah favorit saya bersandingan dengan buku kedua. Buku kedua saya suka karena fashion, buku keempat saya suka karena plot.
Permukaan teh yang bergetar di sebuah gelas pertanda adanya kehidupan. Bukan sekedar hidup, tapi ada interaksi. Seperti ketika Alif, Didi, Nisa dan Raisa sedang berkumpul di sebuah cafe, mencoba merumuskan kembali kelangsungan pertemanan mereka serta mimpi2 mereka lewat sebuah majalah. MAGA adalah proyek ambisi, sekaligus menjadi sumber mata pencaharian baru buat keempatnya, khususnya Alif yang kehilangan pekerjaan.
Secangkir teh juga menjadi sarana yang mengakrabkan Alif dan Saidah di KBRI Perancis, sambil mendengarkan kisah dua waria yang sedang mengadu nasib.
Teh juga jadi sarana investigasi Alif pada anggota redaksi ketika hapenya tiba-tiba lenyap.
Dua cangkir teh menjadi penghangat untuk Nisa ketika kabur dari rumah dan menjadikan rumah Alif sebagai tempat penampungan sementara.
Teh menjadi saksi perjalanan empat sahabat, saat ada yang tetap tinggal, ada yang terpaksa pergi, ada yang berubah, dan ada yang berkorban.
W.O.W banget novel ini. Nagis deh. Di novel ini bener2 nguji persahabatan banget. Satu per satu masalah muncul, tapi salut banget sama persahabatan mereka. Nggak tau kenapa aku sukna Didi di cerita ini. Of course nggak suka juga sama balas dendamnya. Soalnya Didi di sini udah nggak homo2 banget. Ya walaupun masih suka ngelirik cowok2 ganteng tapi nggak ada adegan sampe ke yang aneh2 kayak di J.P.V.F.K. Aku penasaran gimana sih sampul depan majalah MAGA yang edisi terbaru siapa yang jadi kover? Alif? Bu Yvone? whatever lah. Pas terakhir2 masih agak sedikit nggak percaya atas kematian dua tokohnya. Emang udah nggak ada solusinya se buat mereka berdua. Yang satu kena masalah berat yang satu udah nggak ada konflik, mau ending pula. Endignya paling suka, banyangin muka Alif kecil. Well mereka bahagia pastinya. :) Semua bisa ketahuan dengan cara menuang air teh. Mulai dari sifat i=orang sampai apa yang mereka sembunyikan. Itu kah maksud judulnya A.M.S.A.T? Good.
WOW... sumpah aku jatuh cinta sama buku satu ini... banyak banget pelajaran yang di dapet, tentang gimana seorang teladan macam Alif bisa juga ngerasa jenuh, dan akhirnya melakukan hal gila yang benar-benar bikin gebrakan seluruh kantor...
konfliknya komplek, dan ini bikin menarik. metropop dengan konflik paling rumit yang pernah aku baca. dan asli Indonesia banget...
"Dasar orang miskin, mentang-mentang miskin boleh melakukan apa saja, mengamuk sesuka hati, merusak apa saja yang mereka mau!!!"
"Dasar orang kaya, mentang-mentang kaya boleh melakukan apa saja, seenaknya sesuka hati, menguasai apa saja yang mereka mau!!!"
baru tahu kalau buku ini sudah ada akhir tahun 2011 kemaren, dan akhirnya memutuskan beli dengan kondisi gak bersampul dan cuman tinggal satu di toko buku. ngebet banget baca, karena ngefans sejak baca cerita yang pertama.
alurnya gak gampang ketebak, dan as usual ada beberapa hal yang berlebihan. karakter didi kuat banget. tapi kadang memang membingungkan membaca ini yang ngomong siapa, pilihan katanya adang masih kurang personal.
habis baca J.P.V.F.K terus lanjut A.M.S.A.T, rasanya saya ngga perlu baca L.S.D.L.F sama P.G.D.P.C ya, secara di akhir JPVFK udah tergambar apa yang bakalan terjadi di PGDPC dan di AMSAT Dean berbaik hati memberikan kilas balik mengenai kisah yang ada di tiga buku sebelumnya. Easy dan quick reading. Ceritanya mengalir, santai ngga terburu-buru meski konfliknya makin pelik, dan bum! akhir ceritanya epic. empat bintang itu terlintas gitu aja waktu baca epilognya.
Ngeburu buku ini karena Saya suka teh dan judulnya nyeret2 kata Teh. Haha. Tipikal novel Metropop, kesan urban dan glamour melekat banget tapi stlh dibaca, bagus juga walaupun blm baca karya Dean sebelumnya. Buku ini nunjukkin proses pencarian jati diri, khusunya Alif dan Raisa, jungkir baliknya kehidupan mereka dan dua org sahabat lainnya (Didi dan Nisa) dlm proses tsb serta ujian untuk sebuah kata persahabatan.
Baca seri terakhir ini ngebut cuma dua hari doang. Padahal yang buku pertama ada semingguan. Seri terakhir ini bener-bener yang paling bagus di tetralogi ini. Jujur di buku kedua dan ketiga agak gak suka sama Raisa. Ya gimana dia kayak ngerusak hidup Alif gitu. Dari buat Alif dipecat sampai gimana dia mau ngerebut Alif dari Saidah. Tapi di buku keempat ini benar-benar lah dibuat kagum sama transformasi Raisa. Thumbs up for Syahmedi Dean, he ended the story nicely.
3 1/2 bintang tepatnya. Buat saya buku terakhir dari tetralogi LSDLF ini (LSDLF, JPVFK, PGDPC, & AMSAT) cukup banyak meramu isu, selain fashion tentunya (yang menurut Alberthiene dalam launch buku ini beberapa waktu lalu adalah dunia jahanam), AMSAT menyenggol isu dari jilbab hingga KPK! Gaya penceritaan dan teknik penulisan Syahmedi makin matang.
cuma sempet beli novel ini aja.. belinya online lagi. :p
rasanya awesome.... kerenlah. tapi merknya agak emmm gimana gitu.tapi aku suka dan nggak menyesal membacanya. cuman, pas di halaman akhir agak agak bingung. walaupun yang hidup tinggal dua orang. salut buat Raisa yang cintanya nggak luntur dan akhirnya ia berjilbab.:) love it
Wah wah ternyata memang klimaks di buku terakhir ya... walo endingnya sedih dan ga sesuai harapan tapi saya suka. Buku ini paling bagus diantara 3 buku sebelumnya.
diakui atau tidak alur cerita sangat riil terjadi, benar terjadi di ibukota. buku ini tetralogi tetapi tanpa membaca buku-buku sebelumnya masih paham karena alur cerita tampaknya diputus di tiap bukunya. hanya ada, flash back di beberapa kisah, namun terjawab dengan cerita-cerita selanjutnya.
... Satu lagi, yang membuat buku ini special adalah kejutan di akhir cerita yang datang bertubi-tubi. Surprise! Benar-benar tidak menyangka akan berakhir seperti itu!