Kobie Roberts wants to be able to do things her way, but finds difficulties when her mother goes to the hospital and is replaced by a housekeeper, and her teacher is replaced by a substitute who does everything by the book
Ransom has published more than 150 books for children, and she is amazed every day that she's able to do this as her life's work. It's no small thing to discover at an early age (ten!) what one is meant to do, and then pursue that dream. For her, the best part of writing for children is that she can move between writing board books, picture books, easy readers, chapter books, middle grade novels, nonfiction, and biography. She is excited to move into picture book nonfiction with BONES IN THE WHITE HOUSE: THOMAS JEFFERSON'S MAMMOTH (Doubleday, 2020).
AMANDA PANDA QUITS KINDERGARTEN and the sequel AMANDA PANDA AND THE BIGGER, BETTER BIRTHDAY (Doubleday) are her first picture books with animal characters! She is proud of her easy readers featuring a brother and sister having fun throughout the year: PUMPKIN DAY, APPLE PICKING DAY, SNOW DAY, and GARDEN DAY. Look for more titles in this Level 1 series written in bouncy rhyme, plus the popular TOOTH FAIRY'S NIGHT (all Random House).
Selain Kisah Anak Kelas Empat-nya Judy Blume, serial Kobie dari Candice F. Ransom adalah novel terjemahan yang bagus dinikmati anak-anak pre-remaja... dan semakin bisa diapresiasi pas sudah bangkot!
Terdiri dari 5 judul, tiap volumenya memotret keseharian Kobie Roberts di tahapan umur yang berbeda (umur 10, 12, 13, 14, dan akhirnya 15). Di judul perdana ini, konflik utamanya seputar perubahan besar pada hidup Kobie: ibunya harus dirawat di rumah sakit karena sakit punggung, sedangkan wali kelas favoritnya digantikan oleh guru baru. Dari berbagai drama dengan si guru baru, rival sekelas, dan pengasuh yang menggantikan ibunya sementara, Kobie jadi belajar banyak hal. Bahwa menilai orang dari prasangkanya sendiri itu tidak baik, bahwa ego pribadi itu seringkali jadi rintangan dalam memahami orang lain, dan bahwa apa yang sering dia inginkan ternyata tidak seenak bayangannya.
Yang paling saya suka di sini adalah gaya narasinya Kobie. Ia anak yang cerdas dan kreatif, tetapi juga doyan memberontak dan ceplas ceplos menjurus kurang ajar ke orang-orang di sekitarnya (ibunya sendiri saja diumpamakan sipir penjara :v). Bikin geleng-geleng kepala, tapi juga menumbuhkan rasa sayang. Kendati terkesan dewasa untuk anak seusianya, dia juga masih amat naif dan kekanak-kanakan (msl. percaya bahwa ibunya masuk rumah sakit gara-gara dia sengaja melanggar takhayul menginjak garis-garis ubin lantai). Rasanya hati jadi adem ketika Kobie pada akhirnya menyadari, 'antagonis-antagonis' bikinan dia sendiri itu sebenarnya orang-orang baik hati yang siap mendukung dirinya dengan gaya mereka masing-masing.
(.....paling ada satu momen saja yang masih terasa aneh, sewaktu si wali kelas baru merobek hasil ujian Kobie yang dituduh mencontek DAN anak yang dicontek. Kalau anak yang mencontek, ya okelah, tapi kenapa anak yang tidak tahu kalau dia dicontek juga ikut-ikutan dihukum? Ya baiklah, mungkin ini momen Guru Juga Manusia dari pengarangnya).
Buat pembaca dewasa (terutama yang pernah punya imajinasi liar macam Kobie), pasti ada rasa nostalgia; khususnya di momen saat Kobie sibuk dengan proyek ambisius seperti membuat jet koster pada parit, atau mencoba bergadang semalaman untuk pertama kalinya. Ini disertai momen refleksi yang yang efektif, berapa pun umur kita sekarang. Ini saat Kobie tidak jadi membawa pulang kelinci yang kebetulan berhasil ditangkapnya:
Membebaskan kelinci itu adalah perbuatan yang benar, kataku kepada diri sendiri. Meskipun begitu, rasanya aneh sekali memperoleh sesuatu yang sudah kuidam-idamkan seumur hidup, dan membiarkannya pergi lagi.
Wow is Kobie a brat!! I'm reading the Kobie series for the first time in years and as a kid I enjoyed them. But as an adult I'm shocked that her parents don't discipline her more. The way she talks back to the grown ups! And she's a bully too. Not only that she thinks she's grown up but she still needs to be tucked in at night, have her food served a certain way, sleep with her stuffed animals? She is the total opposite of a grown up! Plus the way she treats Mrs Blevins. She's a housekeeper not her personal maid!
Also I hated the way she made fun of her principal after he had the heart attack. If her father had a heart attack I can guarantee she won't be making fun of him .
She doesn't get any better in the other books either I'm afraid!
dasar kobie, pengen jadi kayak pippi longstocking, bisa hidup sendiri, ga usah sekolah, ga usah ngerjain PR, ga usah ngebersihin kamar, ga usah ngerapihin meja makan, bisa makan eskrim kapan dia mau, bisa gadoin adonan kue coklat 4resep tp ga diomelin siapa2, pokoknya bebas deh :p
gw juga suka gadoin adonan kue sih apa lagi adonan puding coklatnya si mamah mmmmm sluuuuurp, tp dikiiiit, ga boleh banyak2 ntar ga jadi kuenya :p
I remember reading "Thirteen" as a kid and LOVING IT (though I forgot the name of the book until recently). I had no idea there were other books in the series, so I decided to read them this year as I revisit favorites from my childhood.
Oooh boy, Kobie is a brat. And not the fun kind like Ramona or Fudge. But she did grow as the book went on.
Kobie itu benar2 merepotkan hehehe.. tapi salut banget sama mamanya. bener2 yah... orang yang paling bisa diandalkan selama kita belum bisa mandiri adalah mama kita.