Membaca Nh. Dini berarti membaca perempuan. Novel ketiga Nh. Dini yang saya baca setelah puas mengikuti novel semi-biografis di "Jalan Bandungan" dan kumpulan curhat emak-emak di "La Barka", saya rasa "Keberangkatan" terasa sangat singkat, padat, dan bergizi. Dalam novel ini, kita mengenal sepotong kisah hidup Elisabeth Frissart, seorang Indo (campuran pribumi-Belanda) di masa pemerintahan Soekarno, saat perusahaan Belanda dinasionalisasi dan warga keturunan Belanda dipulangkan. Di zaman yang sama yang menginspirasi lagu-lagu salah satu penyanyi favorit saya, Wieteke van Dort (alias Tante Lien). Di masa ini, muncul pertanyaan mengenai identitas blasteran Belanda, mengenai nasionalisme Indonesia, mengenai Indonesia sendiri yang sedang mencari bentuknya. Di potongan sejarah ini, tak saya sangka, kuat sekali menghidupkan Elisabeth Frissart yang didefinisikan oleh identitas dan zamannya. Novel Nh. Dini yang saya baca sebelumnya hanya menjadikan sejarah dan latar sosial sebagai latar yang samar.
Dengan gaya bahasa yang mudah dan lembut, yang merasuk ke sanubari saya, dan mendengung sayup-sayup ketika saya membacanya sambil mengantuk, membuat saya greget terus untuk menyelesaikan isi buku ini. Memang konflik yang dibawa tidak begitu bombastis, mengagetkan, twist, layaknya hidup sendiri yang tak mulu mengagetkan. Namun aliran narasinya rapi, seperti curhatan sahabat lama. Mengalun, memantik telinga kita supaya mendengar. Dan seperti di novel Nh. Dini lainnya, ada "tokoh penyeimbang" yang biasanya adalah sahabat protagonis (Lansih dalam novel ini). Di sini agaknya saya merasa bahwa dialog Elisa dan Lansih adalah dialog batin Nh. Dini sendiri dalam mempertanyakan identitas, keperempuanan, cinta, keluarga, dan pekerjaan. Si protagonis yang lebih emosional, diimbangi oleh sikap rasional-pragmatis Lansih, dan dialog mereka layaknya refleksi atas peristiwa yang terjadi, selain tentu paragraf-paragraf refleksi Elisa sendiri.
Nh. Dini tidak mengakui dirinya feminis, tapi pejuang keadlilan bagi perempuan (yang mana sebenarnya titik tolak studi gender). Di sini, Nh. Dini menarasikan apa yang dinyatakan Simone de Beauvoir, "One is not born, but rather becomes, a woman." Keresahan perempuan untuk menilai dan menolak lelaki (padahal perempuan dengan semena selalu dijudge oleh budaya patriarki), ketakutan perempuan akan tidak mendapat jodoh, dan yang paling paripurna, karena seringnya perempuan disalahkan, sikap perempuan yang justru merasa bersalah padahal cowoknya yang kurang ajar dan tak bertanggung jawab. Sambil bertanya apa yang salah, sang tokoh perempuan, justru masih sedikit membela kesalahan laki-laki. Lebih berpikir, "Aku mungkin yang kurang, aku salah apa ya?", bukan "Dasar cowok laknat."
Di sini Nh. Dini menguliti dua hal sekaligus dalam penokohannya, hasil dari budaya patriarkis yang menyebabkan inferiority complex pada perempuan, sekaligus menyatakan bahwa perempuan tidak harus mengikuti struktur sosial yang menjadikannya penjara, tetapi memilih jalannya sendiri untuk bebas. Dalam novel ini, terlihat perkembangan karakter tokoh, dan proses move on nya untuk menjadi mandiri, meski sekali lagi, dengan narasi yang tak heboh.
Oleh karena membaca Nh. Dini adalah membaca perempuan, saya menemukan beberapa adegan yang relate dengan hubungan saya dan pacar saya. Konteksnya saat Elisa ngambek karena Sukoharjito, pacarnya, membatalkan janji karena alasan pekerjaan saat weekend. Sukoharjito bekerja sebagai staff ajudan, di mana budaya "keraton" khas birokrat Indonesia juga saya rasakan.
"Sejak dulu kau memang tidak ingin datang saja, lalu membuat janji pura-pura kepadaku."
........
"Aku tidak dapat menolak kepala bagianku."
"Bisa saja kalau mau. Seolah-olah kau harus bekerja dua puluh empat jam terus-menerus untuk dia, untuk keluarganya. Sampai-sampai hari Minggu juga."
Ambekan ini mirip banget dengan yang pacar saya ungkapkan ketika saya perlu "bekerja" weekend. Memang menemukan anekdot-anekdot yang mirip dengan hidup ini asyik, namun mungkin terlalu banyak dan tersebar di berbagai karya sastra. Yang paling penting justru alur berpikir dan berperasaan yang dimiliki protagonis Nh. Dini, sebagai produk sekaligus penentang patriarki, yang menjadi bekal saya untuk hidup berpasangan dan berkeluarga kelak. Terima kasih Eyang Dini udah didongengin, besok-besok bakal mampir lagi untuk dapet dongeng lainnya.