What do you think?
Rate this book


277 pages, Hardcover
First published January 1, 2009
Ini buku yang ditujukan untuk audience anak-anak dan remaja dan memang sangat cocok untuk bacaan seumuran mereka, saya sudah bukan remaja lagi tapi bukunya masih lumayan enak untuk dibaca, ada momen momen relatable dan pelajaran yang bisa diambil, ini sebenarnya buku ketiga dari series empat volume tapi masih bisa dibaca stand alone.
Plotnya bercerita tentang sepasang dua sahabat yang pergi liburan ke sebuah hotel tua di tengah lingkungan asri hutan dan pegunungan untuk mengikuti konvensi musik, sebenarnya yang ikut konvensi cuma satu orang aja tapi dia ngajak sahabatnya yang bernama Kat (MC), karna adanya perselisihan Kat dan Jac sementara berpisah alhasil Kat jadi sendirian untuk mengurusi urusan supernatural di hotel itu. Sebenarnya ada lebih banyak aspek sosialnya daripada horornya ya, mungkin karna emang untuk anak-anak, mulai dari dinamika hubungan Kat dan Jak, Kat dan ibunya, Kat dan ibu Jak, pertemanan remaja, etc. Tapi saya lumayan enjoy karna bumbu supernaturalnya cukup kerasa, cukup immerse juga karna deskripsi settingnya jelas, banter antar tokoh menghibur dan gak bertele tele, novel ini bisa dibilang supernatural teenlit yang family friendly, soalnya klimaksnya pas Kat ngusir hantunya cuma barely 2 halaman aja 😅, dan ternyata ada aspek historisnya juga karna salah satu tokoh medium yang udah wafat itu ternyata orang beneran, gerakan spiritualis juga ternyata emang beneran ada, ku kira cuma dibuat author.
Overall novel ini cukup menghibur dan termasuk light reading, ada beberapa aspek yang relate juga ke hidup aku tapi itu subjektif sih, favorit quote:
"Suatu hari aku bertanya pada Tessa mengapa dia menerima perlakuan ini tanpa balas melawan. Dia mengatakan kepadaku apa yang dikatakan ibunya kepadanya-bahwa sebagian orang di dunia merasa berhak untuk menghina orang gemuk, bahwa tak peduli sekacau apa pun seseorang, mereka selalu bisa menghibur diri dengan merasa lebih unggul dari orang yang kegemukan. Dan bahwa dia sudah belajar untuk menerimanya, daripada menunggu dunia untuk berubah. Karena di lubuk hati, dia tahu nilai dirinya sendiri."