Jump to ratings and reviews
Rate this book

Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa

Rate this book
Sampai sekarang saya hanya bisa menerka, mungkin Mama juga punya isu mental, mungkin diam-diam Mama sangat tertekan, mungkin ia jenuh, letih, sakit, dan mengekspresikannya dengan kemarahan yang melukai saya begitu dalam. Mungkin ia rindu kedekatan dengan anaknya tetapi gagal menemukan cara mewujudkannya.

Kalau kami bisa bertemu lagi di semesta yang lain, saya akan memilih untuk menemaninya, secanggung apa pun awalnya karena kami tak pernah benar-benar dekat. Saya berharap dia membagikan sebagian bebannya walau hanya lewat cerita, membagikan sedikit rasa sakit atau kecewanya karena mungkin dulu diperlakukan Mbah sebagaimana ia memperlakukan saya, sama-sama berjalan memulihkan diri sebagai anak-anak yang pernah terluka.

228 pages, Paperback

Published January 1, 2021

31 people are currently reading
374 people want to read

About the author

Patresia Kirnandita

3 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
54 (35%)
4 stars
77 (50%)
3 stars
21 (13%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 39 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,971 followers
December 28, 2021
Berusaha beres-beres dari sisaan (di)putus(in) 2019 kemarin membawaku pada banyak titik jeda. Dari resign, kembali ke ibukota dg drama pindah kerja beberapa kali, sampai nggak sengaja naksir mas-mas IT yg kini jadi partnerku. Ada satu hal yg aku sadari. I did something on myself: to understand the value of my worth & the courage to resolve my inner child issues.

Disclaimer: perjalanan u/ menyembuhkan luka batin & trauma bukan sekali jadi. Melainkan melewati banyak tahapan.

Buku ini bukan suatu bacaan yg mudah u/ diikuti. Kisah @patreskirnandita (penulis) serta beberapa orang yg ada di dalamnya membuatku ngilu. Tentang bagaimana anak-anak "dirampas" hak bersuaranya, mendapat perlakuan yg tdk seharusnya (termasuk, kekerasan seksual), dan verbal/physical abuse.

Kebanyakan, orang tua berkilah bahwa itulah cara mengasuh yg benar. Dg menerapkan disiplin bak latihan tentara. Mengabaikan bahwa anak jg manusia dg hak asasinya. Dan kalau dirunut ke belakang, alasan orang tua melakukan itu ya karena mereka pernah punya pengalaman serupa hingga menganggapnya sbg sesuatu yg biasa.

Apa yg aku baca dari buku itu membuatku bergidik. Aku takut kalau nanti memperlakukan partnerku secara abusif alih-alih dg suportif. Aku tahu nggak enaknya kena "silent treatment" atau diteriaki "bodoh!", maka aku nggak mau hal tsb terulang dlm siklus selanjutnya. Darimana memulai? Ya tentu dari aku pribadi.

Memilih childfree bukan berarti aku sabodo amat dg ilmu parenting. Ini bukan sebatas perkara menjadi orang tua yg baik. Ini tentang menjadi manusia yg nggak melanjutkan lingkaran setan.

We can always be the chain-breaker.

TW // physical-verbal-sexual abuse, suicide attempt.
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
November 19, 2022
Buku ini b*j*ngan sekali. Begitu dekat, begitu menyayat.

Kata-kata di atas saya tulis sebagai respons cepat setelah merampungkan buku ini Juli 2022 lalu. Sekarang, sekitar pertengahan November 2022, saya teringat buku ini lagi dan memutuskan untuk membuat ulasan. Untungnya, saya memberi anotasi (mencorat-coret) berbagai halaman isi sekaligus mencatat kata kunci penting di dua carik kertas yang kemudian saya selipkan di halaman depan buku. Itu lumayan membantu saya menuliskan ulasannya.

Saya mulai dari trauma masa kecil karena buku ini berkaitan erat dengannya. Saya merasa "begitu dekat" dengan pembahasan utama tentang trauma masa kecil yang disajikan dalam buku ini. Namun, berbeda dengan penulis, saya tidak sampai butuh bantuan ahli profesional untuk mengurai trauma tersebut. Bahkan sampai sekarang saya belum pernah konsultasi psikolog/psikiater walaupun memang ingin. Saya jadi mempertanyakan ulang apakah benar saya "dekat" dengan buku ini; apakah yang membuat dekat saya dengan buku ini adalah bagian trauma masa kecilnya atau ada hal iain lagi.

Lalu, saya berselancar di mesin pencarian karena penasaran benarkah setiap orang punya trauma masa kecil. Dan tentu saja Google punya jawabannya. Pertanyaan yang saya ajukan ini sudah ada di Quora dan ada jawaban dari seorang psikoterapis yang bikin saya paham. Ia memberi penekanan bahwa kita perlu membedakan antara Trauma dengan T besar dan trauma dengan t kecil.

Trauma dengan T besar betulan serius karena orang yang mengalaminya mendapatkan kekerasan yang mengancam jiwa atau kematian, cedera tubuh yang parah, atau kekerasan seksual. Sementara trauma dengan t kecil lebih mencakup hal-hal seperti kritik keras dan berulang dari orang tua, pulang ke rumah dan menemukan Anda telah dirampok, jatuh dari sepeda dan kaki Anda patah, dll.

Dengan perbedaan tersebut, saya jadi tahu kalau saya mungkin mengalami trauma dengan t kecil yang berbeda dengan penulis. Perbedaan itu jugalah yang memantik penulis untuk membagikan pengalaman yang dialaminya bersama dengan penjelasan ilmiah seputar trauma masa kecil, inner child, dan toxic parenting secara ringkas dalam 200-an halaman buku ini.

Buku ini cukup personal. Pembaca seperti diajak menilik dunia kelam penulis dan melihat "borok" yang orangtuanya lakukan kepadanya. Keterbukaan tersebut dirasa perlu agar pembaca dapat mengerti kondisi yang dialami penulis. Setelah mengawali buku ini dengan sejarah singkat masa kecilnya yang kelabu, penulis berlanjut ke gejala psikologis yang dialaminya ketika beranjak dewasa sehingga mengganggu kehidupannya. "Luka" dan penyebabnya juga dijabarkan oleh penulis di buku ini. Buku diakhiri dengan pemaafan atas luka-lukanya yang cukup sulit dilakukan, bersamaan dengan proses ia menjadi ibu "yang baik" dan "tidak toxic"untuk anaknya. Setiap bab dan paragraf yang diuraikan terasa jujur dan apa adanya.

Kebencian dan amarah, terutama kepada orangtua yang "membuat" penulis terluka, juga muncul di sana-sini. Namun, penulis juga memberi kesan bahwa orangtua mungkin tidak tahu bahwa mereka membuat anaknya terluka dengan gaya parenting yang mereka bawa. Dan ini berhubungan dengan akses yang orangtua zaman dulu tidak miliki sehingga melakukan gaya parenting secara turun-temurun, terlepas dari baik atau buruk untuk sang anak.

Dari buku ini saya jadi semakin yakin bahwa hubungan orangtua dan anak sungguhlah rumit. Saya jadi teringat ibu saya di rumah. Saya memiliki hubungan yang harmonis-tidak harmonis dengannya. Terkadang saya benci dan tidak mau berkomunikasi dengannya sama sekali, apalagi mengingat masa lalu yang dilakukannya kepada saya dan adik-adik saya. Kabar baiknya, rasa benci itu tertutupi dengan rasa rindu dengan porsi lebih besar.

Konsep inner child yang disoroti dalam buku ini cukup membantu mengurai kerumitan hubungan orangtua-anak. Kita perlu mengurai masalah apa saja yang terjadi di masa kecil, yang terpupuk, lalu menumpuk hingga dewasa. Dengan penguraian itu, kita bisa memulai proses pemulihannya.

Terlepas dari itu, kita mungkin perlu memahami ujaran seorang dokter yang jadi "teman" penulis dalam buku ini berikut.

"Kita mau membingkai ulang rasanya. Yang mau diedit rasanya, bukan memorinya. Ini dalam proses pengalaman kita, ya. Enggak mungkin kita bisa mengubah sesuatu kalau enggak kita terima. Kalau bukan milik kita, apa yang mau diubah?" (hlm. 151 - 152)


Akhir kata, buku ini memberi perspektif yang lebih jelas antara hubungan orangtua-anak. Patut untuk dibaca oleh mereka yang punya hubungan tidak baik dengan orangtuanya.
Profile Image for summerreads ✨.
110 reviews
March 19, 2022
Di Indonesia kayaknya belum common untuk mengakui bahwa diri seorang anak bisa terluka karena hasil perlakuan orangtua, atau hal-hal semacam inner child dan hal-hal lain yang kita bawa dari masa kecil lalu berdampak pada kehidupan sebagai orang dewasa.

Di tengah kultur yang menuntut kita untuk selalu manut sama orangtua --tak peduli apapun bentuk perlakuannya, alih-alih diberi simpati saat mencoba speak up, rata-rata ucapan yang keluar dari mulut kerabat atau orang lain biasanya nggak jauh-jauh dari, "sudah minta maaf belum sama ortu?" atau, "udahlah jangan durhaka." atau, "jangan nggak tahu terima kasih/balas budi."

Ketika kita merasa sakit hati, kita dipaksa memendamnya, menutupnya rapat-rapat dan membenarkan apapun perlakuan orangtua --meski yang terburuk sekalipun.

Buatku, buku ini seperti sebuah 'gebrakan' yang berusaha membunuh stigma lama itu. Si Kecil yang Terluka Dalam Tubuh Orang Dewasa mengisahkan tentang perjalanan sang penulis dalam memulihkan dirinya sendiri karena bertahun-tahun diperlakukan dengan toksik oleh orangtua, terutama sang ibu. Kerap disalahkan, tidak pernah diapresiasi, selalu dimarahi bahkan atas sesuatu yang mungkin bukan kesalahan besar atau sesuatu yang tak sengaja dilakukan, pada akhirnya membawa ia ke perjalanan panjang konseling bertahun-tahun. Bahkan luka-luka itu tak berhenti ketika ia memutuskan menikah dan punya anak.

Mungkin juga nggak banyak yang tahu, bahwa perlakuan toksik yang kita terima semenjak kita kecil bisa terekam dan menumpuk menjadi luka yang menggunung, lalu kita bawa sampai kita dewasa. Dampaknya? Mulai dari gangguan cemas, masalah relasi dengan pasangan/anak di masa depan, sampai Borderline Personality Disorder (BPD) yang dialami penulis buku ini. Luka yang tidak selesai dan tidak sembuh itu bisa menyulitkan kita ketika menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa, dan buku ini memaparkan banyak fakta dan kutipan jurnal yang mendukung. Rasanya seperti membaca diary seseorang, sekaligus mempelajari hal-hal seperti inner child dan luka trauma masa lalu dengan cakupan lebih dalam.

Bisa dibilang porsi kisah pengalaman pribadi dengan kutipan jurnal atau pendapat ahli di buku ini imbang sebesar 50:50. Meski aku lebih suka buku non fiksi yang porsi pengalaman pribadi penulisnya lebih besar, tapi nggak masalah. Meski agak lebih lama, aku tetap bisa menyelesaikan buku ini dengan baik. Hampir tidak ada bagian yang njelimet dan bikin bingung. Beberapa bagian pun menurutku sangat related dan di opening memang ada warning bahwa beberapa bagian bisa memunculkan trigger bagi sebagian orang --jadi dihimbau untuk berhati-hati ketika membaca, atau bisa dilewatkan saja.

Well, semoga dengan adanya buku ini, orangtua muda banyak yang lebih aware mengenai perlakuan dan parenting terhadap anak, agar tidak menimbulkan luka dan memberikan trauma berkepanjangan kepada anak cucu di hari depan :")
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
June 5, 2022
sedih dan sesekali mewek juga baca buku ini. membaca kisah orang lain dalam menghadapi kekerasan anak baik secara verbal maupun non-verbal membuatku ngilu dan membayangkan seandainya aku ada di posisi mereka.

di Indonesia, mungkin juga negara lain, lumrah jika orang tua mendisiplinkan anak dengan kekerasan fisik, seperti dipukul, dicubit, dan kawan-kawannya. dan menurut mereka ya itu adalah hal benar, wajar karena mereka peduli dan sayang dengan kita. tanpa mereka tau sebenernya kita merasa tersakiti. dan ujung-ujungnya akan ada kata-kata mutiara, "kami orang tua, kamu anak. kamu harus patuh dengan kami" tanpa ada kesempatan kita untuk membela diri dan terlibat dalam argumentasi dengan mereka. saklek is the key.

buku ini menambah wawasan baru bagaimana seorang Patresia akhirnya bisa menerima kondisi dirinya dengan berusaha melihat perspektif orang tuanya. pada akhirnya kita juga harus menerima karena hal itu sudah terjadi. saatnya kita bangkit selangkah demi selangkah menuju kehidupan yang lebih baik agar dapat menularkan energi positif bagi lingkungan kita, keluarga kita, dan anak-anak penerus generasi kita nantinya.
Profile Image for Gita Rafitasari.
2 reviews3 followers
November 4, 2023
Sebagian besar orangtua menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Orangtua ingin menjadikan anaknya mandiri, kuat cerdas dengan jalan memperlakukannya secara keras , sedangkan seorang anak ingin diperlakukan oleh orang tua yang lembut, halus dan dengan kondisi yang orangtua sebenranya tidak mengerti kondisi seorang anak. Secara psikologis, pengalaman kecewa atau tersakiti otomatis membuat orang membuat pertahanan diri supaya tdk terjadi lagi dikemudian hari.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Wahyu Firmansyah.
35 reviews1 follower
July 23, 2022
Buku yang akan sangat mudah untuk direkomendasikan ke semua orang. Banyak anak generasi sekarang yang mulai sadar akan kesehatan mental dan keluarga sudah seharusnya menjadi pengalaman hubungan sehat pertama mereka.

Penulis sangat berhasil memberi saya pemahaman yg lebih akan toxic relationship anak-ortu dengan runtutan kejadian pribadi dari berbagai sumber. Cerita-cerita seperti itu tidak banyak keluar dilingkungan sehari-hari, jadi cukup sulit untuk mengetahui jika banyak yang punya pengalaman serupa dan bagaimana kita harus menaganinnya.

Pada satu titik, Ibu saya membaca quote diperlintasan Bab 5 ke 6 yg membuat ia membacanya berkali-kali. Dengan pemahaman yg tidak kunjung tercerahkan, saya tertawa dan mulai menjelaskan maksud dari quote tersebut.

Knowing she still want to understand and not judge it right away it's enough to make me happy.
Profile Image for Heni Mujaa.
168 reviews22 followers
June 3, 2022
di bagian-bagian awal buku ini, saya sempat menangis dan sulit berhenti karena begitu hidup rasanya deskripsi di buku di dalam ingatan saya. sisanya saya memaksakan diri untuk terus membaca dan mendistraksi diri banyaaaak sekali agar rasa tak nyaman yang saya rasakan tak terlalu menyiksa.
Profile Image for Kartini NRG.
77 reviews
July 17, 2022
Satu lagi buku yang masuk ke daftar “awalnya-cuma-coba-coba-eh-ternyata-suka”-ku xD

Ngambil buku ini dari rak pustaka merah hitam pas lagi tur literasi MIWF 2022 kemarin. Iseng baca blurbnya, langsung ngerasa “loh kok ini aku banget ya? Apa aku penulisnya?” dan ternyata bukan (ya iyalah!)

Pada saat itu juga, aku menetapkan hati untuk membeli buku ini. Tanpa perlu baca review sana-sini, aku langsung beli. Senyantol itu aku sama blurb buku ini.

And as expected, buku ini benar-benar bacaan yang sedang kubutuhkan. Isinya berat (setidaknya buatku) tapi cara si penulis nyampeinnya tuh ringan dan ngalir banget. Meski begitu, aku tetap butuh waktu lebih dari seminggu untuk menyelesaikannya. Soalnya emang melibatkan batin banget, jadi sering berhenti baca untuk merenung dulu, flashback, dan kemudian menata hati dan pikiran lagi buat lanjut baca.

Nemu banyak istilah baru yang sangat menambah wawasan, mulai dari impostor syndrome, bystander effect dan fenomenanya, juga tentang beberapa parenting styles beserta latar belakang dan dampaknya ke si anak. Buku ini juga ngebahas soal attachment style yang bisa ngebantu kita untuk sadar bahwa sikap orangtua kepada anak sejak si anak masih kecil itu secara tidak langsung berpengaruh ke pola pikir dan cara bersosialisasinya di masyarakat hingga ia dewasa (which is ini bertolak belakang banget dengan teori adler yang baru aja aku baca di buku sebelumnya wkwk).

Hal ini bikin aku sadar, menjadi orangtua itu seharusnya bukan hanya karena udah “bisa” aja, tapi juga emang harus siap secara pengetahuan dan mental. Tapi balik lagi ke sejatinya manusia sebagai tempatnya salah sih ya. Kadang, meski udah tahu soal “do and don’t”-nya saat menjadi orangtua, sebagai manusia tentu bisa saja lengah. Si orangtua yang berjanji pada diri sendiri bahwa dia akan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang dan mengamalkan apa yang pernah dipelajarinya soal parenting, pas anaknya rewel dan nggak bisa diatur, hal itu bisa memancing orangtua juga buat marah. Bahkan sekadar berhenti bilang “jangan” ke anak kecil aja tuh susah banget, karena udah naluri kali ya dengan niat melindungi, padahal hal itu bisa saja berefek lain ke anak tersebut.

Nah, dalam buku ini juga ditegaskan, orangtua tentu akan berbuat salah. Sesuci dan sebijak apapun mereka. Namun yang terpenting di sini adalah kemauan orangtua untuk mengakui kesalahannya dan nggak gengsi buat minta maaf ke anaknya. Lupakan hierarki orangtua-anak, karena kalau ngomongin soal kesalahan, standar sebagai manusia-lah yang dipakai. Inget, anak itu juga manusia, titipan Allah, yang meski orangtua yang melahirkannya ke bumi, tapi dia tetap punya kehidupannya sendiri. Layak didengarkan dan dihargai pendapatnya. Mereka juga dianugerahi otak yang bisa bekerja dan hati yang bisa merasakan, jadi orangtua nggak perlu mendikte anak sedemikian rupa hanya karena orangtua “lebih senior” kebetulan lahir duluan dan punya pengalaman lebih. Well, orangtua tentu harus membimbing dan melindungi anaknya, tapi tetap pada batasan tertentu saja. Oke, ini aspirasi murni dari seorang anak ya. Yang udah jadi orangtua pasti pandangannya bisa lebih luas lagi. Hehe

Banyak hal-hal nyelekit yang disampaikan secara blak-blakan dalam buku ini. Beberapa menurutku terlalu ekstrim (sekali lagi, ini menurutku ya, bukan bermaksud menghakimi perasaan si penulis), tapi hal itu justru membantu untuk membuka mata lebar-lebar, bahwa ada loh orang yang ngerasa kayak gini. Ada loh tingkah dan ucapan yang terkesan biasa, sederhana, dan remeh bagi orang lain tapi buat sebagian orang hal itu bisa menimbulkan luka dan trauma yang mendalam. Dan sekecil apapun itu, tiap perasaan tetap valid. Butuh diakui dan kemudian dicarikan solusi untuk meluruhkannya. Bukan malah bersikap denial dan menumpuknya hingga jadi bom waktu yang entah kapan akan meledak.

Aku bersyukur bisa bertemu dengan buku ini. Jadi ngerasa kayak punya banyak teman senasib. Membuatku jadi sadar juga, luka dalam keluarga itu bukan semata-mata dari perceraian orangtua saja. Ada banyak sekali masalah yang berpotensi untuk hadir di tengah keluarga dan menjadikan keluarga itu mengalami disfungsional, perceraian hanya salah satunya. Dari pemikiran itu juga aku jadi sadar, selama ini aku terlalu asyik bergumul dengan rasa sakitku. Seolah aku anak paling tidak beruntung di dunia. Padahal nggak. Bukan karena ada banyak yang jauh lebih tidak beruntung, tapi karena ternyata tiap orang punya lukanya masing-masing. Bukan soal siapa yang “paling”, tapi memang perlu disadari bahwa tiap orang, saat ini, tengah memikul bebannya masing-masing (yang sesuai firman Allah, beban itu tidak akan melebihi kemampuan hamba-Nya).

Balik lagi soal konsep dalam buku ini yang sepintas terasa bertolak belakang dengan teori adler yang tidak mengakui adanya trauma. Justru, aku menemukan satu titik tengah dari kedunya. Trauma tetap ada, karena faktanya hal itu memang terjadi dan mau tidak mau pasti punya efek. Tapi, teori adler hadir sebagai SALAH SATU TIPS yang bisa digunakan kalau mau sembuh dan move on dari trauma. Yaitu dengan mengubah mindset kita soal trauma tersebut, membingkai ulang perasaan kita tentang trauma itu dan ketika kita mengingatnya lagi, perasaan yang hadir akan berubah. Bukan lagi sakit hati atau kecewa tapi cukup menjadi pelajaran berharga dari masa lalu saja. Hal ini juga dijelaskan di bagian akhir buku ini, kok. Teori adler mengajak kita untuk fokus pada tujuan, sehingga masalah yang ada di masa lalu seharusnya tidak menjadi kompas yang menentukan ke arah mana kita akan melangkah apalagi melabeli diri kita yang sekarang dan akan datang berdasarkan masa lalu.

Kalau kalian tertarik baca soal inner child wound, pola asuh orangtua, dan hal-hal yang terkait dengan hubungan orangtua-anak, buku ini cocok banget buat kalian baca. Bahasanya ringan, mudah dicerna, dan yang pastinya bisa memberikan insight baru soal kehidupan yang meski fana ini, tetap harus dinikmati dan diperjuangkan dengan baik.

Rating: 5.0/5.0
Profile Image for Anes.
145 reviews2 followers
July 20, 2023
Kesannya baca buku ini tuh kayak baca buku chicken soup tapi dibarengi dengan pendekatan psikologi..
Banyak banget dapat insight istilah² mental illness, istilah² parenting..
3 reviews
November 19, 2022
Buku ini mengemas dengan baik segala konflik dan pola asuh yang toksik, konsekuensi dan luka yang dapat timbul akibat relasi toksik tersebut, dan penjelasan ilmiah tentangnya. Selain itu, pembaca diajak untuk ikut menyaksikan proses penyembuhan sekaligus melihat kembali luka-lukanya di masa lalu. Sayatan emosi yang dihadirkan begitu mengakar rumput dan relatable dengan kondisi pembaca yang memiliki luka-luka masa kecil karena pola asuh orang tua.

Penulis mengisahkan pengalamannya dan pengalaman orang-orang di sekitarnya mengenai sikap dan/ atau pola asuh orangtua yang bersifat toksik. Cerita-cerita tersebut membuat pikiran saya berkelana ke memori masa lalu, membuka lembaran-lembaran yang entah sengaja saya kubur atau "tidak sengaja" terlupakan, terepresi ke alam bawah sadar. Bagi beberapa orang mungkin hal tersebut bisa memicu emosi yang tidak diinginkan. Namun hal tersebut adalah hal yang lumrah dan merupakan proses dari suatu penyembuhan luka. Di awal buku, kak Patresia Kirnandita memperingatkan bahwa beberapa tulisannya dapat bersifat triggering dan pembaca dapat melewatinya.

Tidak hanya membahas mengenai luka masa kecil, buku ini juga menekankan bahwa dunia termasuk manusia di dalamnya merupakan sebuah spektrum warna. Tidak semuanya adalah hitam-putih, yang berarti (sebagaian) orang tua tidak bisa dianggap sebagai sosok yang jahat mutlak namun merupakan manusia yang memiliki kekurangan dan kelebihan⸺ yang membawa dampak positif sekaligus negatif terhadap diri kita. Orang tua juga mungkin adalah sebuah korban, yang masih membawa si kecil yang terluka di dalam dirinya. Meskipun demikian, menyadari hal tersebut tidak serta-merta mengabaikan apa yang kita rasakan. Perasaan dan emosi kita yang tersakiti tetaplah valid.

Kita diajak untuk memiliki mental seorang penyintas, bukan korban⸺ tanpa mengabaikan luka-luka yang kita miliki tentunya⸺ untuk dapat sembuh dari luka-luka tersebut. Dengan membingkai ulang emosi kita mengenai ingatan-ingatan kelam, kita dapat mengubah persepsi kita tentangnya. "Kita tidak bisa mengubah ingatan akan kejadian yang kita alami, tetapi kita bisa mengubah apa yang kita rasakan terhadapnya" (halaman 210-211). Salah satu kata-kata yang saya sukai, yang dikutip dari J. K Rowling oleh kak Patresia Kirnandita berbunyi sebagai berikut, “There is an expiry date on blaming your parents for steering you in the wrong direction; the moment you are old enough to take the wheel, responsibility lies with you.”.

Oiya, hal unik dari buku ini adalah kak Patresia Kirnandita juga menyertakan referensi dari berbagai sumber, baik sumber ilmiah maupun populer untuk mendukung gagasan yang disampaikan. Kutipan tersebut sangat membantu pembaca untuk memahami dan menyelam lebih jauh ke dalam pokok pembahasan. Sebagai seorang tenaga kesehatan sekaligus sebagai "pasien" yang memiliki trauma, saya merasa terbantu dengan adanya kutipan-kutipan tersebut.

Sebenarnya masih banyak isi buku dan pesan yang disampaikan oleh penulis, tetapi tidaklah pantas jika saya tulis semuanya di sini. Untuk itu, selamat membaca!
Profile Image for Ega.
12 reviews
June 20, 2022
"Sebab bagaimanapun, gender atau posisi seseorang tidak dapat membuatnya imun dari kesalahan yang bisa merusak relasi. Hanya sikap rendah hati untuk mengakui dan meminta maaflah yang bisa membuat relasi lebih baik. Tidak hanya dalam konteks orang tua-anak saja, ini juga akan menjalar ke konteks relasi-relasi lainnya." - Patresia Kirnandita.

---

Munculnya kembali ingatan atas luka masa kecil di benak seraya membaca buku ini membuatku berkali-kali merasa sesak akibat rasa panik yang mendera hingga akhirnya juga aku berkali-kali harus terus mengingat bahwa keadaanku sekarang adalah aman. Tiada lagi sosok ibu kejam karena yang bersangkutan sudah berpulang di tahun 1998.

Banyak terjadi kemiripan atas kisahku, penulis, dan bahkan aku yakin kisah-kisah orang lain yang bernada sama sebagai individu yang dibesarkan oleh lingkungan toxic parenting dimana anak tidak diperlakukan sebagai manusia. Dimana hak anak bersuara dikunci oleh perkataan otoriter orang tua yang berbunyi, "kamu tahu apa?"

Dengan tulisan perpaduan antara jurnal pribadi dan referensi ilmu psikologi, penulis mengajak kita para pembaca untuk menyelami ingatan buruk tersebut agar kelak kita memiliki kemampuan untuk membingkai ulang pengalaman kita agar mampu mengingatnya dengan cara yang lebih baik. Tentunya aku sebagai pembaca sangat menyarankan kalian untuk minta pertolongan tenaga professional bila dirasa-rasa luka masa kecil kalian mengganggu kehidupan dewasa kalian dan tidak semata-mata hanya bergantung pada buku-buku sejenis.

(Follow me on IG: katamisega for more books to read.)
66 reviews19 followers
December 22, 2022
Buku ini lebih seperti memoir penulisnya yang juga merupakan penyintas dari abusive household, sehingga buku ini adalah salah satu buku dgn tema psikologi yg SANGAT relatable utk saya karena pengalaman para penyintas yang ditulis di dalam buku ini benar-benar saya rasakan juga dalam kehidupan saya. Buku ini terasa dekat bagi saya. Saat membaca buku ini, I frequently had to stop reading it for a while just to sob and wail because I find it too triggering and it kinda reminds me of my unfinished business. Tema besar yg dibahas di dalam buku ini lebih ke arah bagaimana kita sebagai individu menyikapi trauma setelah bertumbuh dalam keluarga yang abusive. Di dalam buku ini juga terdapat beberapa tema kecil yang bersinggungan dengan tema utama, seperti mengenai generational trauma, sexual abuse, grooming. Jadi, make sure utk ngecek TW-nya terlebih dahulu sebelum membaca buku ini.
.
Bagi saya pribadi, buku ini benar-benar merepresentasikan luka yg pernah saya alami. Buku ini juga memiliki vibes yg mirip dgn “The Book You Wish Your Parents Had Read”, salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun ini. Saya cukup menghargai usaha penulisnya untuk meletakkan precaution Trigger Warning pada awal bab yg memuat topik sensitif. Saya benar-benar bersyukur krn telah membaca buku ini. Buku ini menjadi salah satu buku yg paling berpengaruh dalam hidup saya. Hal ini karena setelah membaca buku ini, pada akhirnya saya jadi terdorong untuk mencari bantuan professional dalam menangani masalah mental saya (setelah 5 tahun belakangan bergumul dengan hal ini). Definitely worth every penny.
Profile Image for Rafika.
1 review
February 13, 2024
"Memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini artinya memberanikan diri untuk mengorek memori-memori masa lalu yang menyakitkan".

Ketika membacanya aku banyak menangis karena merasakan kembali memori-memori masa kecil. Membuatku benar-benar merasakan emosi tersebut selama berhari-hari. Selain karena terbawa ingatan tersebut, tangisku juga disebabkan oleh cerita-cerita teman-teman kak Patresia yang mengalamai pengasuhan tidak baik dari orang tuanya. Sesekali aku harus berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang, menghembuskannya, menenangkan diri.

Buku ini benar-benar membantuku untuk mempelajari diriku, orang tuaku, dan hubungan kami. Hingga bagaimana aku harus menyikapi perbedaan-perbedaan yang seringkali menimbulkan perdebatan di anatara kami. Buku ini juga berhasil membukakan mataku bahwa masih banyak konflik keluarga yang disebabkan oleh ketidakpedulian kita terhadap ilmu parenting. Ternyata ilmu parenting bukan hanya untuk orang tua saja, tapi kita sebagai anak juga harus mempelajarinya. Sebab hubungan orang tua dan anak adalah hubungan dua arah, bukan satu arah.

Melalui buku ini ada satu hal yang selama ini tidak aku sadari yaitu bahwa ketika kita memiliki inner child terluka yang berpengaruh pada saat kita dewasa. Seringkali kita merasa sebagai korban bukan sebagai penyintas yang optimis bahwa suatu saat kita bisa sembuh dan berhak bahagia. Big thanks untuk Kak Patresia yang sudah menuliskan pengalamannya sehingga aku mau dan optimis untuk memulihkan diri sendiri.

4,5 untuk buku ini !
Profile Image for ran..
28 reviews3 followers
May 5, 2023
Sebenernya baca buku ini termasuk cepet banget karena setiap halamannya punya banyak pengetahuan baru yang selalu ingin terus-terusan dibaca tanpa henti. Tapi ternyata yang bikin aku lama untuk menyelesaikan buku ini adalah jeda waktu yang harus aku ambil buat “bernafas” sejenak sebelum melanjutkan halaman berikutnya. Sebelum baca ini, baiknya perhatikan trigger warning yang ada. Lalu juga jangan ngebut bacanya supaya kena di hati. Perjalanan menyembuhkan luka masa kecil dan membangun relasi yang baik dengan orang tua memang ngga selalu mudah. Banyak tantangan dan kejadian tidak terduga, atau bahkan hal-hal yang harus bisa ikhlas diterima karena keadaan.

Mengungkap “sejarah diri” melalui kesadaran bagaimana kita diasuh sejak kecil mungkin belum banyak disadari oleh banyak orang. Melalui buku ini, kita diajak untuk memanggil kembali memori masa kecil kita dan merenungi apa-apa saja yang telah terjadi yang membuat kita menjadi seperti hari ini. Sikap kita terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, bahkan terhadap orang lain dalam berbagai relasi bisa jadi dibentuk oleh cara orang tua kita mendidik sejak kecil. Tulisan Patresia sangat tajam menusuk dan memaksaku untuk mengingat kembali tentang memori masa lalu.
Profile Image for Lutfiah Zainur Rokhmi.
1 review
January 10, 2024
Ga sepenuhnya orang tua itu tau apa yang dibutuhkan anaknya, dengan dalih dulu orang tuanya juga melakukan hal yang sama maka secara tidak langsung melanggenggkan sebuah "relasi toksik antara orang tua dan anak".

Melepaskan diri dari belenggu relasi toksik membutuhkan mental, kesadaran, pengetahuan dan waktu. Bukan berarti seiring berjalannya waktu luka tersebut akan sembuh, bukannya membaik justru terus dipupuk dan nantinya akan menjadi bom waktu.

Terkadang kita harus menggunakan kacamata penyintas, bukan hanya kacamata korban saja. Supaya tau sebetulnya alasan apa yang melatarbelakangi orang tua bersikap kepada anaknya. Dulu, informasi tidak semasif sekarang, jadi wajar kalau orang tua kita belum tau bagaimana sebaiknya bersikap kepada anak kandungnya. Mungkin orang tua kita dulunya juga terluka, mereka bingung bagaimana menyikapi dan memvalidasi perasaannya, mari peluk erat diri kita masing-masing dan peluk erat orang tua kita, perlahan maafkan apa yang sudah terjadi dahulu, kita tidak bisa merubah apa yang sudah lewat, tapi kita bisa menyikapi bagaimana kondisi itu, kita bisa berdamai dengan hal tersebut, memaafkan adalah jalan terbaik untuk terlepas dari belenggu innerchild yang terluka dan tidak mewariskan hal yang sama pada anak kita kelak.
Profile Image for Sophia Mega.
Author 4 books136 followers
August 21, 2023
Bukan sebuah buku yang mudah diselesaikan karena banyak kisah relasi orang tua dan anak yang bikin hati sesak. Teori-teori di dalam buku ini juga banyak, jadi butuh kesabaran untuk membacanya pelan-pelan.

Tapi semakin akhir, aku semakin suka dengan cara menulisnya. Aku merasa mudah mengikuti ceritanya karena penulis mengisahkan hubungan toksik itu dengan detail dan runut. Aku jadi merasa dekat dengan perasaan-perasaan penulis ketika menghadapi ayah dan ibunya.

Trigger yang bikin hati sesak itu sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Cuma bikin nggak nyaman aja kalau tiba-tiba ada ingatan buruk di masa kecil yang kembali muncul. Tapi karena itu juga, aku jadi bisa menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan psikolog dan konselorku soal apa yang terjadi di masa kecil karena biasanya kesulitan mengingat. 🥹

Buku yang perlu dibaca untuk kalian yang baru mempelajari bagaimana pengasuhan yang toksik memengaruhi anak hingga ia dewasa nanti. Kalau soal pemulihannya, dibahas kok, tapi nggak utuh. Mungkin bisa baca buku kedua dari penulis karena lebih fokus ke pemulihan dari inner child yang terluka.
Profile Image for Naufal Shidqi Laras.
40 reviews1 follower
January 21, 2023
Tentang seorang yang sedang kesal dengan hidupnya akibat pola asuh orang tua yang salah dan protektif. Disini kita melihat bagaimana perjalanan hidup penulis untuk survive sejak lahir hingga ia dewasa. Bagaimana dia bertahan dengan pola asuh yang toksik dari orang tua dan keluarganya. Dari ia benar-benar membencinya sampai dia mendapat pelajaran penting dalam hidupnya. Semua terangkum dalam satu buku dalam yang kusebut lebih seperti sejarah personal.

Jika selama ini sejarah banyak ditulis untuk orang-orang besar, tidak ada salahnya kita menyebutnya sebagai sejarah personal yang mana penulis ini bukan siapa-siapa namun menginspirasi semua orang. Meski lebih kepada self improvement dan kesehatan mental sharing-sharing penulis tentang pengalamannya dalam menjalani lingkungan yang tertekan dan ketat membuat kita belajar bagaimana dapat bersikap dan merasakannya seperti dia. I really appreciate, tentang tulisan yang runtut dan kronologis. Serta bagaimana ia memainkan sebuah emosi tentang, "Ya, kita sama."
Sebuah cerminan kenyataan yang harus diakui bahwa gap generation benar-benar ada.

Ini bukan spoiler, tapi aku pribadi banyak belajar pada beberapa bagian bab akhir buku ini daripada awal-awal bab buku ini yang membuat si penulis ini terlihat egois dan "durhaka" tapi aku harus kuakui pernah merasakan di posisi yang sama. Disini aku merasakan bagaimana seseorang yang memiliki Inner Child yang terluka dan Toxic Parenting dapat survive dan tetap hidup bahkan hingga memiliki anak.

Disini kesehatan mental menjadi isu utama bagaimana digambarkan dengan baik itu sebagai sebab maupun akibat sejak narasi awal, klimaks, dan antiklimaks. Di bagian akhir aku melihat lebih banyak penyesalan, penerimaan, dan pelajaran hidup sebagai manusia yang kadangkala juga sering bermasalah dengan orang lain.

Saya pribadi akan lebih menitikberatkan pada bagaimana buku mengikuti alur yang memang juga telah dijelaskan pada bab 7 Hal. 145 -147 di buku ini juga tentang Teori Kubler-Ross tentang penyangkalan, kemarahan, duka, depresi, dan penerimaan. Menurutku menjadi titik balik sang penulis dalam hidupnya, bagaimana musuh besarnya, ibunya sendiri meninggal dunia dan tiba-tiba semua menjadi berbeda, meski hingga akhir kubaca buku ini. Aku berharap adanya rekonsiliasi dan perdamaian nyatanya hal itu tak bisa terwujud, semua hanyalah penyesalan dan pada akhirnya (silahkan baca sendiri). Memang inilah realitas sebenarnya di dunia nyata, bukan fiksi seperti ada happy-ending atau sad-ending. Kita dipaksa untuk melihat realita kehidupan dan masalah dewasa yang pada umumnya. Itu adalah hal yang biasa terjadi pada masyarakat di seluruh dunia. "Yah, begitulah kenyataannya."

Dalam dunia nyata, kenyataannya memang Kita tidak bisa mengontrol orang lain atau siapapun itu diluar diri kita. Jika ia benci, ya dia memang benci apapun itu, sebabnya ya itu urusan belakangan. Jika ia suka, ya dia memang suka apapun itu, sebabnya ya itu urusan belakangan. Itu kenyataan yang terjadi di dunia nyata apalagi bagi orang-orang yang mulai dewasa. Bukan anak-anak lagi yang masih berfikir alam fantasi bak superhero adalah kenyataan.

Hal yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana sang penulis sering memberikan informasi tentang dasar-dasar pengetahuan kesehatan mental seperti halnya pola-pola asuh orang tua, tahap trauma, beragam relasi orang tua - anak dan berbagai isu yang terjadi tentang pola asuh sebagai ibu dan kesehatan mental yang menyertainya. Plus sharing-sharing dari teman-teman penulis bagaimana orang tuanya memperlakukan anak-anaknya. Terutama mereka yang memiliki Toxic Parenting.

Namun, tentu kesempurnaan bukan hanya terdiri positifnya saja, tapi juga negatif. Buku ini ditulis oleh seorang penulis yang telah berpengalaman dengan tulisan-tulisan nya tersebar di berbagai media digital di negara ini. Jejak digitalnya jelas. Karenanya penulis memadukan berbagai referensi dan catatan pribadi tetang masalah hidupnya. Ini bagus, tapi ini juga membuat pembaca harus membaca seperti membaca jurnal dan artikel media alih-alih membaca sebuah pengetahuan tentang kesehatan mental yang dikemas seperti obrolan kepada teman dekat. Terkesan kaku dan terbatas, apalagi ini cukup subjektif. Setidaknya kita harus paham apa yang mendasari kisah itu ada, akan ada resiko terkait pandangan dari generasi-generasi sebelumnya seperti Gen Baby boomer dan Gen X yang lebih mengaggap itu sebagai hal yang lemah dan rapuh. Sebagai orang yang dari generasi Z aku memahami itu. Apa yang terjadi pada generasi milenial.

Terakhir, buku ini cocok bagi mereka yang memiliki Inner Child yang Terluka atau bahasa kerennya " Masa Kecil Tidak Bahagia" dan mereka yang memiliki Orangtua yang mungkin bukan Toxic karena kupikir itu terlalu kasar, lebih kepada orangtua yang masih kaku dan subjektif dalam mengasuh anaknya. Setidaknya saya membutuhkan waktu kurang lebih 3 Minggu untuk membaca ini, bacaan bagus untuk mereka yang juga ingin belajar sebagai orangtua yang baik ataupun mereka yang berusaha untuk pulih karena masalah mental.
Profile Image for Gilang Oktaviana.
2 reviews
June 1, 2022
Buku yang memberi tahu bahwa orang dewasa nggak melulu baik-baik saja. Apalagi kalau tumbuh di lingkungan yang kurang baik. Sayangnya, masih banyak orang menganggap masa kecil nggak punya hubungan dengan kondisi mental saat dewasa.

Patresia mencoba memberi tahu tentang kemungkinan kita masih menyimpan luka dari masa kecil yang bisa jadi belum disembuhkan.

Buku ini nggak banyak berisi teori-teori yang bikin pusing. Sebaliknya, pembahasan soal inner child yg terluka ditulis dengan gaya yang santai. Mirip diary.

Makasih udah nulis buku ini 😊
Profile Image for Rinta Anjani.
3 reviews
March 4, 2023
Salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Saya katakan terbaik karena ini adalah buku yang seperti sangat memahami perasaan saya, mungkin karena saya relate dengan materi yang diangkat dari buku ini. Buku ini menceritakan tentang luka batin anak yang terluka oleh orang tuanya yang masih terbawa hingga ia dewasa. Luka batin tersebut mempengaruhi kehidupan si anak hingga dewasa, di buku ini diceritakan beberapa anak yang tumbuh memiliki gangguan mental akibat pola pengasuhan orang tua mereka. Buku ini sangat recommend untuk di baca!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for theresia cleopatra.
167 reviews2 followers
February 12, 2025
Jujur, buku ini ku kira awalnya bakalan ringan gitu. ternyata ga seringan itu 😢 cukup berat dan menyayat hati. buku ini dapat dikatakan sebagai buku yang berisi cerita hidup + refleksi + insight dari teori/artikel psikologi serta pendapat dari psikolog dan psikiater. ceritanya ga hanya tentang kehidupan kak Patres tapi juga pengalaman beberapa teman atau orang terdekatnya Kak Patres. Selain itu, penulisan dari kak Patres enak dibaca dan flownya mengalir banget 👍🏼 tapi ya itu, pengalamannya banyak yg bikin nyes dan menyayat hati. aku yakin banyak dari kita pasti merasa relate 🥲🙏🏼
6 reviews
October 23, 2023
Buku ini mengajarkan kita untuk menilai sesuatu (dalam hal ini, luka masa kecil) yang kita miliki tidak sepenuhnya merupakan kesalahan kedua orangtua kita, kita juga memiliki peran dalam mengendalikan luka masa kecil tersebut. Lewat buku ini, kita diajak untuk melihat perilaku pengasuhan yang menyebabkan luka batin tersebut dari kacamata orangtua kita dan alasan mengapa mereka melakukannya serta memahami bahwa orangtua kita pun juga sama halnya dengan kita semua, yaitu manusia biasa.
Profile Image for Fitri Wahyuningsih.
68 reviews3 followers
December 28, 2023
Khasanah bacaan saya masih cukup terbatas, tapi saya kira topik dalam buku ini cukup jarang dibahas di Indonesia. Saya kira topiknya agak sensitif untuk beberapa orang.

Buku paling emosional yang saya baca tahun ini. Di beberapa bagian bikin saya nangis. Saya kira karena ceritanya cukup dekat dengan pengalaman masa kecil saya, relasi saya dengan orangtua yang naik turun.

Saya kira ini laik dibaca.
4 reviews
May 7, 2022
A story about person's experience behavior in her adult phase that actually could be influenced by her childhood's experiences. Firstly, it could sounded like blaming her environment for making her like this, but at the end, it is telling us how we should behave if we are one of them, the one that affected by not so good environment.
Profile Image for Aditya Sattvika.
57 reviews
February 19, 2024
Buku ini terasa begitu dekat, pengalaman penulis sama dengan yang aku rasakan (apa kebanyakan anak-anak yang dibesarkan di era kami memiliki pengalaman yang sama?), setengah awal buku benar2 menguras emosi, sementara sepertiga akhir agak turun pace nya, cenderung lamban
Ini adalah salah satu buku terbaik yang saya baca
Profile Image for M Imansyah.
10 reviews1 follower
January 7, 2022
Inner child adalah tema besar yang dibahas dalam buku ini. Pengalaman sang penulis yang mendapat didikan keras dari sang ibu memengaruhi perkembangan psikologisnya. Dia jadi mengalami trust-issue dengan orang lain, bahkan sampai saat dia sendiri menjadi ibu.
Profile Image for Dyan Eka.
290 reviews12 followers
May 29, 2022
Ternyata memang ya, kondisi psikis inner child yang terbawa saat dewasa tuh, efeknya bisa struktural.
Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, karena cukup menguras energi membaca cerita penulis. Rasanya saya seperti dicurhatin temen.
Profile Image for Hera Diani.
Author 3 books17 followers
December 19, 2021
3.5 out of 5

Baik dibaca sebagai pengingat bahwa akar dari banyak masalah adalah karena pengasuhan orang tua yang tidak baik.
1 review
May 25, 2022
Mau baca buku ini gara-gara baca d twitter garis besarnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 39 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.