• Judul : Mirai
• Penulis : Mamoru Hosoda
• Penerjemah : Ninuk Sulistyawati
• Penyunting : Pandam Kuntaswari
• Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
• Terbit : 20 Oktober 2021
• Harga : Rp 85.000,-
• Tebal : 272 halaman
• Ukuran : 13.5 × 20 cm
• Cover : Soft cover
• ISBN : 9786020652788
"𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘳𝘢𝘣. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘮𝘶? 𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪𝘬𝘶?" (hal. 119)
Diceritakan sebuah keluarga kecil yang tinggal di kota Isogo, Jepang, yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki-laki mereka, Kun. Kun mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orangtuanya. Obsesi Kun terhadap kereta api pun terpenuhi dengan berbagai jenis koleksi mainan yang ia miliki. Hingga saat Kun memasuki usia 4 tahun, Mirai hadir dalam kehidupannya. Mirai merupakan adik perempuan Kun yang baru saja lahir.
Semenjak Mirai hadir di dalam kehidupannya, secara otomatis perhatian kedua orangtuanya pun mulai berkurang terhadap Kun. Mirai seakan menjadi pusat perhatian baru bagi kedua orangtua Kun. Sehingga, secara tidak sadar, Kun mulai merasa terganggu dengan kehadiran Mirai. Padahal, sejak awal, ibunya sudah meminta Kun untuk bisa melindungi Mirai apa pun yang terjadi. Namun, karena Kun masih kecil dan belum bisa memahami perasaannya terhadap Mirai, ia malah membenci adik perempuannya itu.
Kun mulai banyak berulah dan bertingkah untuk mendapatkan perhatian kedua orangtuanya. Apalagi, saat ibunya kembali bekerja di kantor dan ayahnya yang mengurus Kun dan Mirai di rumah, Kun mulai banyak bertingkah terhadap Mirai. Bahkan, Kun sempat tega untuk menyakiti Mirai saking merasa perhatian kedua orangtuanya dicuri oleh Mirai. Hingga suatu hari, secara tiba-tiba, muncul seorang gadis remaja yang mengaku sebagai Mirai dari masa depan. Mirai dari masa depan datang untuk memberitahu Kun bahwa sikapnya yang nakal dan sering merajuk merupakan tindakan yang salah.
Mirai dari masa depan ingin menunjukkan jika penilaian Kun terhadap Mirai, ayah, dan ibunya selama ini adalah salah besar. Ayah dan ibu nyatanya mempunyai masa lalu yang sulit, sehingga tindakan dan penilaian Kun terhadap mereka tidak bisa dibenarkan. Faktanya, ayah, ibu, dan Mirai sangat menyayangi Kun dengan sepenuh hati. Kun pun melakukan perjalanan lintas waktu yang terasa absurd dan ajaib untuk menemukan jawaban dari keberadaan keluarganya selama ini. Bisakah Kun pada akhirnya menerima kehadiran Mirai? Petualangan apa saja yang Kun lalui?
"𝘚𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘭." (hal. 180)
Mirai merupakan sebuah buku yang diadaptasi dari sebuah film dengan judul yang sama yang dirilis pada 16 Mei 2018. Kesuksesan dari film animasi Mirai ini memembuat Mamoru Hosoda untuk merilisnya ke dalam format buku. Mirai mempunyai kekuatan cerita yang berkisar pada hubungan keluarga serta petualangan fantasi yang dilakukan oleh seorang bocah berumur 4 tahun. Tidak hanya menarik dari segi cerita, Mirai juga mempunyai desain kover buku yang terbilang memikat mata, khususnya untuk versi terjemahan Bahasa Indonesianya.
Sepertinya salah satu adegan dalam filmnya dipilih sebagai desain ilustrasi kover buku Mirai ini. Tampak seorang gadis yang merupakan tokoh Mirai dari masa depan sedang berusaha untuk merangkul kakaknya, Kun, yang tengah terjatuh dari atas langit, jika dilihat dari latarnya yang berwarna biru dengan aksen awan. Kover bukunya bisa tampak mengesankan dengan warna yang dominan cerah, sehingga akan mudah mengambil atensi pembaca untuk melirik buku ini. Komposisi antara judul buku dan nama penulis juga diletakkan di posisi yang strategis sehingga menambah kesan sederhana dan dinamis.
Mirai mempunyai kisah keluarga yang bisa dibilang sederhana dan penuh makna yang dibumbui dengan unsur fantasi di dalamnya. Bagaimana kisah seorang balita bernama Kun yang kesal, marah dan cemburu akibat kehadiran adik perempuannya, Mirai, yang baru saja lahir. Kun kerap kali merajuk dan berbuat ulah saat perhatian kedua orangtuanya hanya terfokus pada Mirai. Di saat Kun mulai berulah itulah, muncul sosok Mirai dari masa depan yang mengajak Kun untuk melihat bagaimana rasa cinta keluarga dan perjuangan mereka terhadap Kun selama ini.
Cerita yang bisa dikategorikan mampu menenangkan dan menghangatkan hati saat melihat tingkah laku Kun yang menggemaskan. Cara pandang Kun yang polos dan naif juga mampu membuat saya terenyuh saat membacanya. Emosi yang dihadirkan dalam novel Mirai mampu menjadi bacaan yang bisa mendamaikan di kala perasaan sedang resah. Meskipun kesederhanaan yang ditampilkan tidak terasa spesial, tapi untungnya Mirai masih mampu memainkan tempo untuk menaikturunkan emosi pembacanya.
Walaupun memiliki judul Mirai, tapi tokoh utama dalam novel ini sendiri ialah kakak laki-laki Mirai, yaitu Kun. Kun adalah seorang balita berusia 4 tahun yang boleh dibilang sangat menggemaskan terlepas dari kenakalan yang ia buat. Kun digambarkan sebagai balita pada umumnya dengan kepolosan serta kenaifan mereka, seperti menangis saat tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan, merajuk saat orangtuanya lebih memberikan perhatian pada Mirai, hingga bergembira saat bermain mainan. Semua tingkah laku yang ada pada seorang balita bisa ditampilkan melalui tokoh Kun dengan cukup baik.
Tokoh-tokoh lainnya, seperti ayah, ibu dan Mirai sendiri juga tampil dengan porsi yang seimbang. Diperlihatkan bagaiamana usaha ayah dan ibu untuk menjadi orangtua yang baik bagi Kun dan Mirai. Tidak lupa juga, kehadiran tokoh Mirai dari masa depan pun ditampilkan dengan cukup terasa. Di mana Mirai yang sudah remaja terlihat berusaha untuk membantu kakaknya, Kun, agar bisa lebih memahami keluarga kecil mereka.
Meskipun tidak banyak tokoh yang terlibat, tapi 𝘤𝘪𝘳𝘤𝘭𝘦 orang-orang yang ada di sekitar Kun sudah mampu membantu menghidupkan jalan cerita. Saya selalu dibuat gemas dengan tingkah laku Kun yang bisa dibilang 𝘮𝘰𝘰𝘥 𝘴𝘸𝘪𝘯𝘨 seperti anak kecil pada umumnya.
Sudut pandang orang ketiga digunakan untuk menjalankan narasi ceritanya. Di mana tokoh Kun mendapatkan peran yang cukup banyak untuk mengajak pembaca melihat kehidupan keluarga kecilnya. Narasi yang disampaikan lewat 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵 𝘰𝘧 𝘷𝘪𝘦𝘸 seorang balita mampu memberikan sensasi membaca yang terbilang menarik. Di mana biasanya anak kecil selalu merasa jika mereka merupakan pusat perhatian, sehingga gangguan sedikit saja dapat mengganggu 𝘮𝘰𝘰𝘥 mereka.
Alur ceritanya mengalir dengan apa adanya sehingga secara tidak sadar pembaca akan dibawa berpetualang sekaligus mengaduk-aduk emosi melihat tingkah laku Kun yang menggemaskan. Gaya bahasa dan hasil terjemahannya cukup baik dan enak untuk dibaca yang membuat siapa saja akan mampu menyelesaikannya. Lokasi-lokasi yang digunakan dalam jalan ceritanya juga tergolong semarak, mulai dari rumah Kun yang bisa dibilang unik, dunia fantasi yang kerap dikunjunginya, hingga taman bermain tempat untuk berlatih naik sepeda.
Tidak ada konflik yang berarti selama jalan cerita berlangsung. Namun, kecemburuan Kun terhadap Mirai membawanya ke dalam sebuah petualangan ke berbagai tempat yang sulit untuk dijelaskan secara logika, tapi mampu memberikan makna yang mendalam bagi Kun agar bisa memahami arti sebuah keluarga. Buku ini akan cocok dibaca oleh siapa saja karena tidak ada sebuah permasalahan yang kompleks apalagi serius, sehingga bisa dinikmati tanpa harus memeras otak secara berlebihan.
Setiap kali Kun merasa cemburu ataupun iri ketika orangtuanya memberikan perhatian lebih kepada Mirai, di saat itulah Kun mulai berulah dan masuk ke "dunia fantasi" yang memperlihatkan arti keluarga kecilnya. Pola yang sama digunakan dalam setiap bagian ceritanya dan terkadang malah membuat jenuh di beberapa bagian. Akan tetapi, sekali lagi, untungnya penulis tidak menyajikannya sesuatu yang rumit sehingga pengulangan pola cerita di hampir sebagian besar bukunya masih bisa diterima dan dinikmati.
Membaca Mirai seperti sebuah kegiatan yang mampu mendamaikan hati dan pikiran dengan melihat betapa manis dan menggemaskannya perilaku Kun beserta keluarga kecilnya. Sederhana adalah kata yang paling sesuai untuk mendeskripsikan novel ini. Perpaduan antara tema keluarga dengan sedikit fantasi di dalamnya seakan mampu membawa pembaca dalam perjalanan yang menyenangkan sekaligus menghangatkan. Mungkin, bagi beberapa orang, novel ini bisa dibaca dalam sekali duduk karena memang dikemas dengan tampilan yang mudah untuk dinikmati. Kepolosan tokoh Kun juga seakan mampu menjadi magnet yang menarik minat pembaca untuk terus mengikuti alur ceritanya.
Di balik kesederhanaan dan kehangatan yang diberikan oleh novel ini, sayangnya pengulangan tentang cara Kun dibawa ke dunia fantasi untuk melihat arti keluarga terlalu sering diperlihatkan, sehingga membuat bosan di beberapa bagian cerita. Selain itu, pendalaman karakter dari tokoh ayah dan ibu juga sebetulnya terbilang cukup menarik, tapi sayangnya tidak digali secara lebih mendalam lagi. Padahal jika fokus cerita bisa terbagi antara Kun dan Mirai dengan ayah dan ibu, pastinya jalan ceritanya akan terasa jauh lebih menarik lagi. Secara keseluruhan, Mirai merupakan sebuah bacaan yang dibutuhkan di saat hati dan pikiran sedang gundah karena kepolosan yang ada pada diri Kun akan mampu mendamaikan dengan mudahnya.