Jump to ratings and reviews
Rate this book

Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga

Rate this book
Haniyah mencintai pohon-pohon cengkih, karena tanaman ini bisa berbagi kehidupan dengan tanaman-tanaman lainnya.

...

"Tubuhmu harum cengkih," kata Ala.
"Saya dilahirkan dan mati di dalam hutan cengkih."

...

Di luar Rumah Teteruga, angin utara berembus dingin, kering, dan kencang, menggoyangkan ranting-ranting pohon gandaria dan matoa, menimbulkan suara gesekan di dinding rumah. Ala teringat kata-kata Ido, "Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas."

***

Dengan pelukisan suasana dan tradisi lokal yang kuat, pemberian karakter yang wajar dan hidup, naskah ini mengedepankan warga desa yang sederhana dalam hidupnya, di tengah pelbagai masalah yang merundung mereka. Novel etnografis ini tidak terjebak untuk sok eksotis, tetapi tampil wajar, termasuk tuturan bahasa Indonesia rasa lokal khas masyarakat setempat.

-Catatan juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019

146 pages, Paperback

First published January 1, 2021

25 people are currently reading
244 people want to read

About the author

Erni Aladjai

11 books11 followers
Erni Aladjai earned her degree in French literature from the Hasannudin University in Sulawesi. She has worked as a journalist and news editor, and managed a learning institution. Her novel, Kei, took first place in the 2011 Jakarta Arts Council novel competition. Erni is also the author of Pesan Cinta dari Hujan (Messages of Love from the Rain, Insist Press, 2010) and Ning di Bawah Gerhana (Ning Under Eclipse, Bumen Pustaka Emas, 2013).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
117 (34%)
4 stars
172 (50%)
3 stars
47 (13%)
2 stars
4 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 109 reviews
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews40 followers
March 2, 2021
Lunas sudah membaca semua juara Sayembara Novel DKJ 2019. Novel pemenang ketiga ini saya tunggu-tunggu karena waktu terbitnya yang terpaut jauh dari juara satu dan dua yang sudah saya baca tahun lalu. Uniknya, judul novel ini tidak memberikan hint sama sekali tentang isinya. Sebagai acuan, saya akan menjelaskan sedikit apa itu Haniyah, Ala, dan Teteruga. Semoga tidak menjadi spoiler. Saya selalu takut memberi sinopsis dalam review jika novelnya terlalu tipis. Hehe.

Haniyah dan Ala adalah ibu dan anak yang tinggal di rumah warisan keluarga mereka yang dijuluki Teteruga oleh warga sekitar. Rumah tua yang berusia 109 tahun itu menyimpan misteri.

Haniyah dan Ala tinggal di desa Kon yang mayoritas penduduknya adalah petani cengkih. Rempah yang diperebutkan sejak zaman kolonial itu memiliki arti yang penting bagi penduduk Kon. Cengkih juga mempunyai sejarah tersendiri di desa Kon. Cerita sejarah cengkih desa Kon mulai perlahan terungkap saat Ala bertemu dengan Ido.

Saya agak bingung di dua bab pertama. Banyak nama anggota keluarga muncul dan perkenalan tokohnya relatif singkat-singkat. Agar stay on track saya menggambar pohon silsilah keluarga. Baru saya tersadar bahwa prolog itu bagian yang terpisah dengan bab satu. Setelah paham ada dua kisah berbeda, saya lebih nyaman mengikuti cerita.

Tak ada yang spesial hingga saya membaca bab terakhir. Ada fakta sejarah yang tak banyak diungkap selama ini. Sayangnya, bab itu terlalu singkat untuk menggambarkan tragedi yang menimpa para petani cengkih. Jika bab tersebut dituliskan lebih mendalam, saya yakin akan semakin menarik.

Misteri Ido dan Teteruga juga diungkap terlalu cepat sehingga saya berpikir cerita sudah selesai sampai di situ. Ternyata masih ada beberapa bab lagi. Sekali lagi, jika fakta sejarah di bab terakhir itu digabung dengan pengungkapan misterinya, ini akan menjadi tendangan yang dahsyat bagi pembaca.

Hal lain yang saya sayangkan adalah beberapa detail yang tidak punya banyak andil dalam cerita tapi dibahas cukup panjang sehingga mendistraksi cerita utama. Dapat dipahami pembahasan mendetail itu untuk menguatkan karakter tokoh. Tapi cerita di dalam cerita itu bagi saya hanya menghabiskan tempat saja.

Terlepas dari hal-hal di atas, kekuatan novel ini ada pada deskripsi tahun 90 an dan suasana desa petani yang mendetail. Sebagai anak tahun 90 an dan dilahirkan dari keluarga petani (meski bukan petani cengkih), gambaran novel ini sangat relate sekali - suka cita masa panen, berladang di siang hari, siaran radio. Saya tidak tahu kenapa penulis tidak memasukkan barang mewah yang menginvasi era 90 an, televisi. Bisa jadi televisi belum menjangkau desa Kon yang terletak di gugusan kepulauan.
Profile Image for M Adi.
174 reviews17 followers
February 23, 2022
Ala brengsek. Agar Ala tidak lagi diganggu hantu gentayangan, Ala menjadi pragmatis dengan memanfaatkan Naf Tikore untuk menyelesaikan urusan Ala sendiri. Kenapa memanfaatkan? Ketika Naf Tikore ditimpa musibah kebakaran, Ala tidak memberi pertolongan bahkan sekadar ucapan belasungkawa. Ala malah lega karena ada orang lain yang menolong Naf Tikore. Selesai urusan yang besar tenaga Naf Tikore keluarkan untuk mengatasi masalah Ala, Ibunya Ala masih memberi stigma kepada Naf Tikore dan Ala masih mengurungkan niat untuk menjernihkan keadaan.

Meskipun sepanjang cerita Ala digambarkan menjadi korban perundungan, tapi Ala tidak kalah kejamnya dengan para perundung.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for nana.
71 reviews6 followers
July 8, 2023
Sejujurnya saya membaca buku ini karena melihat beberapa review bagus mengenai buku ini, ditambah buku ini juga memenangkan penghargaan DKJ pada tahun 2019. Tentu saja, saya memiliki ekspektasi lebih terhadap novel ini.

Novel ini berkisah mengenai Haniyah dan Ala yang tinggal di rumah Teteruga (kura-kura). Mereka berdua berasal dari Desa Kon−desa kecil di Timur Indonesia yang terkenal akan produksi hasil cengkih. Kehidupan masyarakat Desa Kon sendiri diisi oleh para petani cengkih dan juga para nelayan. Desa Kon juga digambarkan sebagai desa yang bersahaja dengan toleransi antara umat Islam dan Kristen yang kuat.

Ala sendiri−sebagai tokoh utama−digambarkan memiliki kemampuan khusus lantaran matanya yang juling dapat menangkap hal-hal mistis yang akhirnya mempertemukan ia dengan Ido, seorang arwah yang tinggal di rumah Teteruga. Pertemuan Ala dan Ido sendiri akhirnya akan membawa Ala kepada kisah kelam di perkebunan cengkih milik Naf Tikore−seorang lelaki yang digambarkan tertutup, misterius, sekaligus dijauhi warga oleh desa.

Hanya saja, dibanding novel pemenang DKJ lainnya, agaknya buku ini kurang berkesan untuk saya. Selama 156 halaman saya membaca, rasanya saya tidak tahu harus menggambarkan perasaan saya bagaimana terhadap buku ini−seperti setelah selesai membaca menguap saja, tidak ada kesan kuat untuk saya.

Dengan 156 halaman, buku ini terasa padat. Banyak hal yang hanya diceritakan 'numpang lewat' saja dan tidak dieksplore lebih dalam. Seperti di bagian akhir mengenai BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) yang diangkat di buku ini, rasanya seperti sekelibatan saja. Padahal kalau tema ini diangkat lebih dalam dan serius, saya yakin buku ini akan lebih berkesan dan memiliki sisi historis. BPPC sendiri ialah lembaga monopoli pengumpul dan pemasaran cengkih Indonesia yang didirikan oleh Tommy Soeharto. Sistem yang diterapkan, mewajibkan petani cengkih hanya boleh menjual cengkihnya pada KUD dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Dan KUD, hanya menjual cengkih pada Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkih (BPPC). Ditetapkan cengkih adalah barang dalam pengawasan. (hlm. 133)

Secara keseluruhan buku ini cukup bagus meskipun bagi saya pribadi buku ini lebih seperti kumpulan cerpen yang disatukan dan memiliki benang merah. Selain itu, buku ini juga agak membosankan karena karakter tokoh utamanya terkesan tidak kuat.
Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
July 18, 2021
"Pembuat aturan ini bukanlah petani cengkih, bagaimana bisa dia paham kondisi kita," kata Bibi Leslie.
"Kami hanya menjalankan tugas, Nyonya," kata petugas koperasi laki-laki.
"Kami rela cengkih-cengkih kami membusuk ketimbang menjualnya dengan harga tak masuk akal begitu," Haniyah berkata lagi.


Novel ini dirilis bersamaan ketika pemerintah sedang menguatkan identitas jalur rempah melalui "Muhibah Budaya dan Festival Jalur Rempah". Acara ini digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan. Sebagaimana yang kita tahu, cengkih adalah komoditas yang sangat politis dalam sejarah Indonesia.

Kisah ini dituturkan oleh Haniyah dan Ala, sesuai judul bukunya, seorang ibu dan anak. Perempuan dua generasi.
Mari berbicara tentang novel-novel yang berbicara lokalitas. Ada sederet penulis yang menggunakan dialek maupun istilah lokal yang membuatnya hidup. Sebut saja, Ramayda Akmal (Jatisaba), Oka Rusmini (Tarian Bumi, Sagra, dsb), Faisal Oddang (Sawerigading Datang dari Laut), dan Felix K. Nesi (Orang-Orang Oetimu). Strategi Erni berbeda. Berlatar desa fiktif, desa Kon. Dialeknya pun tidak menggunakan aksen Indonesia bagian timur. Atas kedua poin ini, Erni memiliki sebuah kehati-hatian. Entah apa tujuannya. Namun, dibalik keputusannya menggunakan desa yang fiktif, saya menyukai Erni yang mengajak pembacanya mengenal sisi Indonesia lain. Cengkih tidak hanya menjadi obyek komoditas. Cengkih menjadi bagian dari kisah manusia-manusia yang ada di dalam novel ini. Tidak ada upaya eksotisme. Persis dengan apa yang Felix K. Nesi tulis dalam Orang=Orang Oetimu. Seperti yang kita tahu, novel jawasentris dan non jawasentris bisa dibandingkan jumlahnya. Ini yang menjadi salah satu motivasi saya untuk memperkaya bacaan dari penulis-penulis di Indonesia bagian timur.

Buku ini menjadi unik karena latar kehidupan di Indonesia bagian timur yang didominasi oleh laki-laki, tetapi justru kisahnya dituturkan oleh sudut pandang perempuan. Menampilkan empat generasi pula. Detil-detil di dalamnya, di mana alam seakan-akan punya cara berkomunikasi sendiri, menambah kekaguman saya terhadap Erni.

Ada kosakata baru yang saya temui di sini, di antaranya adalah kenop, gumbang, tindis, perigi, sayur mostor, gedi, popoki, gambas, dan seleret.

"Jangan heran kalau dulu banyak orang yang tidak lanjut sekolah, orang-orang mungkin berpikir guru-guru di sekolah lanjutan akan lebih ganas melebihi guru SD mereka. Saya orang yang berpikiran begitu, maka saya putuskan lebih baik mengurus kebun daripada dipukul-pukul di sekolah," ujar Haniyah.

Profile Image for Yuniar Ardhist.
147 reviews18 followers
April 17, 2021
Duh.....

Sebagai novel yang memenangkan penghargaan, saya merasa ini tidak memberikan ekspektasi lebih dari yang seharusnya.

Mengangkat kisah kehidupan orang-orang di Kampung Kon, tempat di mana para petani cengkih menyandarkan kehidupannya dari hasil memanen cengkih yang tidak pernah memberikan kelayakan penghidupan (minimal setara dengan usaha untuk menanam dan merawat cengkih-cengkih itu). Hal ini karena kebijakan pemerintah melalui BBPC.

BPPC adalah lembaga monopoli pengumpul dan pemasaran cengkih Indonesia, didirikan oleh Tommy Soeharto. Sistem yang diterapkan, mewajibkan petani cengkih hanya boleh menjual cengkihnya pada KUD dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Dan KUD, hanya menjual cengkih pada Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkih (BPPC). Ditetapkan cengkih adalah barang dalam pengawasan. (Hlm. 133)

Gagasan ini sebenarnya bagus untuk diangkat, dan dieksplore lebih banyak. Sayangnya, malah hanya muncul sebentar di belakang, ketika hampir selesai (hanya 11 halaman terakhir). Lalu, sebelumnya?

Sebelumnya, adalah paparan kisah Ala, anak dari Haniyah, yang keduanya menghuni sebuah rumah warisan leluhur mereka, bernama Rumah Teteruga. Kisah juga diisi ketika Ala bertemu dengan arwah seorang anak kecil, Madika Ido, yang terpisah antara kepala dan tubuhnya. Ia meminta tolong pada Ala untuk disatukan dan dikuburkan bersama. Kisah lain adalah tentang Ala yang memiliki fisik berbeda, di mana matanya sebelah tidak berada di posisi yang sama dengan yang lain, serta berwarna merah api. Perbedaan ini membuat Ala mengalami "bullying" oleh kawan-kawan (dan juga gurunya!). Selebihnya adalah kisah orang-orang sekitar, yang berinteraksi dengan keluarga Ala dan ibunya, Haniyah.

Dianggap sebagai etnografi, mungkin saja, tapi masih di kulit saja, belum sampai merasuk ke daging, apalagi menyentuh tulang, dalam konteks pemaknaan etnografi yang utuh. Meski demikian, cara berceritanya relatif mengalir, meski ada beberapa bagian plot yang melompat. Sub-sub bab, seperti membaca cerpen yang kadang berisi kisah berbeda. Jadi merasakan keseluruhan buku seperti membaca kumpulan cerpen yang disatukan, padahal ini konsepnya novel. Semakin ke belakang, tampak semakin ingin cepat mengakhiri kisah, sehingga terasa lompatan plotnya. Padahal, saat membaca 1/4 bagian di awal, saya merasa buku ini menarik. Terakhir, judul. Sebagai yang paling pertama dilihat. Bagi saya, tidak menarik untuk membangkitkan penasaran, kurang persuasif. Hanya saja, mungkin terbantu dari desain sampulnya yang tampil cukup apik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
February 23, 2022
Atas rekomendasi @mekitron untuk mengulik tulisan Erni, aku menemukan cerita anak yang ganjil. Menurutku ini masuk ke cerita anak ya karena tokoh utamanya masih berusia 11 tahun dan ibunya. Namun buku ini seperti ingin bilang bahwa anak-anak adalah pencerita yang jujur jadi mari ceritakan soal pembunuhan di sini. Alhasil buku ini hadir dengan rate usia 15. Barangkali Erni mau membongkar nilai kearifan warga kampung yang ternyata sangat judgemental dan gemar main hakim sendiri khususnya pada Naf Tikore. Oleh karena itu buku ini semestinya disandingkan dengan bukunya Sabda Armandio Alif (Dio) yang menceritakan konflik agraria juga dalam konteks cerita anak, judul bukunya Dekat dan Nyaring. Jika aku harus memilih buku Erni jauh lebih baik daripada punya Dio. Jadi yang merasa suka bukunya Dio harus baca buku ini.

Soal klaim bahwa novel ini tidak terjebak untuk sok eksotis, menurutku benar. Walaupun tidak semua istilah dari Erni bisa aku pahami. Novel ini 100% berlatar Desa Kon yang sampai sekarang aku tetap tidak tahu itu dimana, tebakanku sih Konawe ya cuma apakah konawe dekat pulau? Jika melihat ini tanaman cengkeh yang dibahas maka akan lebih cocok ditulis dengan latar Ternate atau Tidore atau pulau-pulau di Maluku Utara lain. Aku menikmatinya, riset novel ini bagus jadi orang seperti aku yang baru pertama ke Ternate bisa membayangkan latarnya.

Berikutnya aku mau sedikit komentar soal realisme Magis di novel ini. Menurutku ini jadi sebuah bagian penting yang menjadikan novel ini soft fantasi dengan data riset realita yang cukup. Ini mengingatkanku dengan kumpulan cerpen dari Jepang yang sedang naik daun Before Coffee Gets Cold, ternyata rumus tersebut bekerja baik dimanapun settingnya baik tengah kota atau dalam kebun cengkeh. Mungkin satu-satunya yang mengganjal dariku adalah relasi anak-anak 11 tahun dengan temannya, apakah mungkin Ala benar-benar tidak punya teman sampai harus setiap minggu ke Rumah Kakek-Kakek untuk main?

Setelah membaca novel ini jadi ingin baca buku di kebun cengkeh lagi sih. Sambil minum kopi dibawah sinar matahari.

#WhatSekarReads2022 #WhatSekarReads #ErniAladjai
Profile Image for Wanderbook.
126 reviews40 followers
February 14, 2021
Buku Erni Aladjai pertama yang saya baca, dan tidak bisa berhenti sampai benar-benar selesai!
Membutuhkan dua malam membaca ini, berhenti di malam pertama karena harus baca sendirian dan takut plotnya adalah cerita hantu Ido yang menyeramkan (yang ternyata bukan!).

Jadi malam kedua membaca ini saya selesaikan sampai tamat.

Kenapa amat menikmati membaca buku ini? Saya pernah setahun tinggal di Timur Indonesia, desa tempat saya tinggal juga tempat menanam cengkih, tanaman spesial yang jadi hal menarik di buku ini, yang jadi pusaka bagi Haniyah dan keluarganya. Setelah membaca buku ini saya menyesal tak pernah ikut panen cengkih di desa.
Profile Image for Rafli.
102 reviews42 followers
March 30, 2024
Tidak kusangka kalau Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga yang kudapat dengan harga obralan bisa menjadi cerita paling berkesan bagiku tahun ini, sejauh ini. Sebetulnya buku karangan Erni Aladjai ini tidak punya plot atau storyline dan bisa dikatakan slice of life. Sederhananya, buku pemenang ketiga sayembara novel DKJ 2019 ini berkisah tentang keseharian ibu beranak di rumah penginapan mereka di desa. Namun, di antara keseharian itu, ada begitu banyak isu atau persoalan yang menarik. Terlebih lagi yang membuatku suka, kesemua isunya diselesaikan dengan cara yang unik dan cantik pula. Isu yang dibicarakan Erni antara lain: perundungan, peliyanan, eksploitasi anak, pubertas, bahkan setitik semangat feminisme.

Tidak hanya resolusi setiap isunya yang bagus, karakterisasi para tokohnya pun membuatku menyayangi bacaan ini, terutama Ala. Aku teramat kagum dengan baktinya kepada orang tua juga keberanian dan kebijakannya yang melampaui orang-orang dewasa di kampungnya. Aku pun salut dengan Haniyah, yang meski interaksinya dengan Ala di awal buku belum begitu spesial, ia pada akhirnya menunjukkan kasih yang begitu dalam untuk buah hatinya yang dirundung lewat aksi heroiknya. Tidak ketinggalan Naf Tikore, sosok yang menjadi sasaran prasangka liar, ternyata mempunyai laku hidup yang mencerahkan. Banyak kutipan powerful yang dilontarkan tokoh-tokoh tersebut, seperti:

“Saya tidak merasa terhina dengan apa yang dia katakan. Jika saya turun ke desa dan mencarinya, berarti saya menyepakati hinaan itu, membutuhkan dua jiwa untuk menciptakan hinaan dan kemarahan. Jiwa saya tidak ikut dalam bagian itu. …”


“Jika ada orang yang memandang orang lain rendah, dia tidak pernah melihat keburukan di dalam dirinya sendiri”.


“Manusia itu makhluk kebiasaan, yang terbiasa berprasangka akan sulit berpikir jernih, yang terbiasa seraka akan sukar merasa cukup, dan yang terbiasa kesunyian, akan sulit berada dalam kegaduhan”.


“Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tidak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas”.


Selain karakternya, kisah ini terasa hidup berkat tuturan Erni yang rinci mengenai dinamika latarnya, Desa Kon. Yang tidak bisa kulupakan adalah bagaimana ia mendeskripsikan Panen Raya Cengkeh dengan begitu menggempita semeriah hari raya keagamaan di tengah suasana pedesaan yang penuh kehangatan. Ia berhasil menunjukkan bahwa cengkeh bukan sekadar komoditas, tetapi separuh napas mereka, terlebih Haniyah, sebagaimana ujarnya kepada Ala, “Kebun itu bagian dari hidup kita, Ala, kalau kita menebangnya sama saja kita mematikan diri kita yang lain”. Kesederhanaan bahasa Erni dalam bercerita yang lebih seperti dongeng pun membuat buku ini nikmat saja dibaca. Ditambah lagi, upayanya menyisipkan kejenakaan lewat pantun pun patut diapresiasi.

Sayangnya, buku ini terbilang underrated, padahal atas poin-poin yang tadi telah kusebutkan, buku ini pantas untuk dibaca dan diperbincangkan oleh lebih banyak orang. Jadi, cobalah menghidu aroma cengkeh dan berkenalan dengan Ala yang menggemaskan dengan membaca Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga.

Rating: 4.5/5
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
June 19, 2024
“Mengolok-olok tubuh orang itu kejam. Luka benda tajam bisa sembuh, tetapi trauma, luka batin akan selalu kita bawa hingga dewasa, hingga kita tua.”


Nggak nyangka akan suka banget sama buku ini, buku tentang hidup dari pandangan anak bernama Ala. Dari buku ini aku belajar arti bersyukur, kebaikan, memperlakukan baik semua ciptaan Tuhan dan hidup tanpa membalas kejahatan dengan kejahatan.

Settingnya di desa, dengan budaya dan adat yang kental. Masih ada praktek-praktek ilmu sakti. Yang kalo dipikir sangat dekat dengan kehidupan masyarakat dan cukup relateable dan gampang dibayangkan.

Penulisannya yang cantik dan bikin pembaca seperti menjadi bagian dari bukunya. Suka banget sama cerita ini, nggak membosankan dan memberikan banyak pelajaran hidup
Profile Image for Ririn.
736 reviews4 followers
December 10, 2022
Cerita slice of life yang diselipi kearifan lokal. Hangat dan bermakna. Sayang, banyak typo seperti tidak diproofread lagi saat mau terbit.
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
March 21, 2021
23 - 2021

Wah, memang cerita Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga ini bagus, wajar jika memenangkan Sayembara Novel DKJ 2019, ya walaupun juara ketiga.

Saya suka bagaimana Erni membangun karakter Ala dan Haniyah juga pelan-pelan menceritakan kampungnya, orang-orangnya, tentang perkebunan cengkih, dan tentang kisah-kisah zaman dulu yang biasanya dari kecil diterima, semacam legenda yang kadang-kadang memang terlalu dilebih-lebihkan.

Ala adalah anak perempuan, 11 tahun yang sebenarnya seperti anak-anak ABG lainnya, penuh rasa ingin tahu, sedih dengan perundungan di sekolahnya, hingga menyayangi lingkungan juga keluarganya. Saya suka Erni mengemas cerita ini tidak hanya menjadi cerita Ala tapi juga cerita Haniyah sebagai bagian dari sisi orang dewasanya. Belum lagi ada tambahan kritik sosial dengan cerita BPPC yang dibentuk pemerintah (orde baru sekali).


"Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas."
Profile Image for Diadiah.
2 reviews
February 8, 2021
bagian yang gue suka di novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga by Erni Aladjai :

Pada bulan Mei setelah tahun tahun berlalu dengan lambat, radio memberitakan Penguasa Negara mengundurkan diri. Ala dan Haniyah mendengar radio berhari hari menunggu kabar BPPC dihapuskan. Namun belum ada kabar apa pun yang bertautan dengan cengkih, melainkan berita susunan kabinet dan paket reformasi.

"Ala...," panggil Haniyah pelan.
Ala menoleh kepada Haniyah. Gadis itu menunggu apa yang ibunya bicarakan.
"Kau tahu benda benda mati, sesungguhnya tidak benar benar mati. Bubungan, kayu, kasau, atap, lantai papan semuanya 'bernyawa', mereka bertahan, sementara kita yang hidup biasanya rapuh dan berakhir..."

ini narasi spritual buat gue, dalam dan penuh kerendahhatian sebagai manusia.

and btw, di novel ini juga ada isu bahwa kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh perempuan itu sendiri di bagian lima wanita menyerang seorang perempuan hamil di Pulau Kampasa.
Profile Image for (≧∇≦).
128 reviews7 followers
September 12, 2021
Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas.


Haniyah adalah sosok ibu yang membesarkan Ala sedari kecil. Keduanya tumbuh besar di rumah teteruga, yakni rumah tersebut memiliki energi yang kuat dan selalu membawa nasib baik. Terlepas dari desas desus tersebut Ala yang terlahir dengan mata Juling selalu menerima cemoohan dari teman-temannya. Kalimat-kalimat negatif yang ia terima membuatnya ingin berhenti sekolah, Ah, alangkah senangnya jika setiap hari aku hanya perlu membantu ibu di kebun tanpa harus pergi ke sekolah, begitulah kira-kira pikirnya.

Tapi Ala bukan anak yang pendendam, ya hanya sesekali membayangkan skenario 'lucu' yang akan terjadi pada teman-teman merundungnya. Aku suka penggambaran terkait hal pembullyan ini, seorang anak yang mungkin tadinya senang bersekolah akan kehilangan semangat saat dikucilkan. Mungkin orang lain yang tidak mengalaminya akan berpikir itu bukan sesuatu hal yang perlu dipermasalahkan. Nyatanya energi negatif tersebut akan sangat memengaruhi sikap dan mental juga.

Mari berganti topik ke desa Haniyah dan Ala tinggal. Mereka menetap di Desa Kon yang terbagi ke dalam empat kampung; kampung Kristen, kampung Muslim, kampung Cina, dan kampung orang-orang yang bekerja di laut. Haniyah dan Ala sendiri tinggal di kampung Kristen dan mereka satu-satunya muslim di sana. Apakah hal tersebut menjadi masalah baru? Tentu saja tidak, nyatanya Haniyah tidak pernah merasa bermasalah dengan tetangganya. Aku juga isu ini, perihal agama sepertinya sedari dulu topik yang sensitif di Indonesia, bahkan pernah terjadi 'perang' antar dua agama. Namun di buku ini perihal agama tersebut bukanlah sesuatu hal yang perlu dibesar-besarkan. Toh, semuanya masih bisa beribadah dengan tenang tanpa harus mencampuri satu sama lain.

Selain itu, diangkat juga perihal perselingkuhan yang mana biasanya pihak yang disalahkan hanya si perempuan. Padahal mungkin si perempuan pun dikelabui si lelaki. Dan perihal pembelajaran di sekolah yang terkadang hanya berpaku pada buku teks. Padahal terkadang isi dalam buku tersebut sudah tidak sesuai lagi.

Ahya, jangan lupakan juga tokoh penting di buku ini, Naf Tikore. Mungkin pembaca akan dibuat bingung dengan sosok Naf Tikore yang seringkali disebut dalam cerita. Meskipun sering menjadi bahan pergunjingan tetangga, sosok Naf Tikore masih menjadi misterius sampai menuju akhir cerita. Menyambung dengan Naf Tikore, hal mistis yang masih melekat di desa juga nampak jelas di cerita ini.

Hampir seluruh penduduk Desa Kon berpenghasilan dengan menjadi petani cengkeh. Cengkeh inilah juga yang menjadi salah satu fokus dan detail dalam cerita. Cengkeh dan Rumah Teteruga begitu melekat sampai pembaca dapat merasakan hal tertentu ketika membaca Ala maupun Haniyah yang menganggap cengkeh bagaikan makhluk hidup layaknya manusia. Sebetulnya, Haniyah selalu memperlakukan semua tumbuhannya dengan baik layaknya mereka adalah bayi yang perlu dijaga sehati-hati mungkin. Tidak hanya itu, permasalahan yang dihadapi petani cengkeh di Indonesia pun diangkat dalam buku ini. Betapa rakusnya para pemerintah memeras petani kecil untuk keuntungan pribadi mereka.

Semua hal yang kusebutkan diatas kemudian menjalin sebuah cerita yang bermuara pada kejadian masa lampau yang dirahasiakan.

Aku suka banget banget sama buku ini mulai dari segi cerita, tokoh, maupun diksi. Sayangnya karena hanya novela aku merasa ada hal-hal yang bisa digambarkan lebih detail lagi. Dan karena singkat, setiap aku merasa sudah akan mencapai pucak, eh babnya sudah berhenti sampai disitu saja... Tapi aku tetap menyukainya.
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
December 27, 2023
Cengkih. Jujur saja, buku ini telah berhasil membuat saya jatuh hati pada cengkih.

Cengkih adalah benang merah yang menghubungkan cerita-cerita dalam buku Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga. Buku Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga berkisah tentang para petani cengkih di perdesaan Maluku di masa tahun 1990-an.

Buku ini juga bercerita tentang hal-hal magis, bermuatan kepercayaan lokal. Rumah Teteruga dan mantra penjaganya yang dirangkai indah. Gurita raksasa penjaga di tengah badai. Makam bernisan parang di bawah tempat tidur nenek.

Kisah-kisah tokohnya tak bisa dibilang selalu bahagia, banyak kisah yang justru tragis - tetapi Erni Aladjai merangkainya dengan caranya sendiri. Bagi saya, di tengah realita hidup yang kadangkala pahit itu, Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga tetap menghadirkan cerita yang hangat. Yang membuat saya ketagihan untuk meneruskan baca. Seperti menghadirkan daya bertahan di tengah segala.

Selepas itu, buku ini tak lupa berkisah tentang bahagia-bahagia yang sederhana. Salah satunya, bahagia panen cengkih yang dirayakan bersama-sama orang di desa. Tanaman rempah asli Indonesia ini ternyata lebih dari sekedar tanaman bagi masyarakat lokal: cengkih juga adalah kawan, warisan, sumber penghidupan, potret kenangan.

Tokoh Haniyah, dan Ala, bersama cerita-cerita mereka hidup merangkul cengkih, betul-betul membuat saya merasa hangat. Membaca kisah mereka, kisah ibu dan anak ini, mengingatkan saya akan buku yang saya baca di masa kanak-kanak saya, serial Rumah Kecil di Lereng Bukit.


Haniyah mencintai pohon-pohon cengkih, karena tanaman ini bisa berbagi kehidupan dengan tanaman-tanaman lainnya.
(Halaman 3-4)

Ketika Ala selesai mandi pagi, Haniyah datang membawakan segelas rendaman cengkih dan daun sirih. Dia selalu meminta Ala berkumur dengan ramuan itu untuk pengharum mulut.
(Halaman 18)

Di pintu pagar Rumah Teteruga, Ala menghidu sejenak wangi pedas yang datang dari pegunungan. Wangi dari hutan cengkih. Panen raya tinggal dua bulan lagi.
(Halaman 18)

Di kebun mereka hanya ada dua jenis cengkih, sikotok dan zanzibar. Paman Rudolf pernah bilang cengkih zanzibar ini punya riwayat rumit, bibit cengkihnya dari Maluku, diselundupkan ke Zanzibar, Afrika, lalu pada akhirnya orang-orang menamakannya dengan cengkih zanzibar--seolah-olah Afrika menjadi tanah asalnya.
(Halaman 77)

Haniyah memeluk salah satu pohon, lalu dia kembali berbicara kepada pohon itu, "Kami tidak memetik, bukan karena menyia-nyiakan kalian namun karena kami tidak rela pohon-pohon cengkih kami jadi permainan keserakahan. Terima kasih sudah berbuah."
(Halaman 138-139)


Sampai akhir cerita, saya jadi belajar lebih banyak tentang cengkih. Jadi menelusuri Google untuk mencaritahu seperti apa pohon dan buah cengkih yang bergerombol itu. Jadi terkesan akan cengkih kering yang sudah berwarna cokelat seperti pallate warna bumi (earth tone). Jadi tergugah untuk belajar lebih banyak tentang rempah-rempah yang menyimpan sejarah panjang Indonesia, sejak zaman penjajahan Belanda.

Buku ini sangat amat saya rekomendasikan untuk dinikmati baca, dan selamat jatuh hati pada tanaman cengkih.
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
February 8, 2021
Dibanding juara kedua novel DKJ 2019 (Sang Keris, Panji Sukma), aku lebih menyukai novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga karya Erni Aladjai ini. Selain karena ceritanya yang linier saling terkait satu sama lain, mungkin karena apa yg ingin disampaikannya lebih sederhana dan ngena.

Membaca novel ini seperti diajak lebih dekat dengan kehidupan di desa Kon (sepertinya di Maluku), terutama selangkah lebih maju dengan Ala sang protagonis di novel ini yang menurutku lumayan hidup. Tokoh-tokoh lainnya tampil dengan porsi masing-masing yang cukup dan lumayan menghibur.

Membaca novel ini seperti menikmati bacaan slice of life. Cuma kearifan lokal yang jadi jiwa cerita, makanya terasa seru. Aku lupa apa aku pernah membaca novel etnografis, cuma ini jelas membuatku ingin membaca novel-novel sejenis. Sebutlah Orang-Orang Oetimu yang sampai sekarang belum kesampaian.

Kisahnya tentang Haniyah petani cengkeh dan anaknya bernama Ala (11 tahun), bermata juling. Namun, mata juling Ala berwarna merah sehingga bisa melihat hal hal gaib. Untungnya novel ini tidak fokus ke horornya saja, tetapi seperti yg aku katakan karena agak-agak slice of life, jadi menceritakan banyak hal diantaranya kehidupan Ala di sekolah yang sering dirisak, cerita tentang Naf Tikore lelaki tua misterius di desa Ala yg disinyalir berilmu hitam dan dia diasingkan, misteri di rumah Haniyah (rumah Teteruga), dan banyak hal, tapi ceritanya tetap terjaga.

Terjaga hingga akhir alias fokus ke Ala yg tokoh utama di novel ini. Benar-benar cerita kehidupan sehari-hari seorang gadis cilik sebelas tahun di Desa Kon taun 1990. Yang membuatnya menarik deskripsi kehidupan di Desa Kon yang tak pernah aku tahu sebelumnya tentu saja.

Tentang bagaimana kehidupan petani cengkeh di sana, waktu panen, dan banyak hal di desa yang sepertinya jauh dari sentuhan perkotaan itu. Warga lokal masih berjalan kaki, bahkan naik kuda. Hiburan masih radio. Bahkan ada satu bab bercerita tentang pertunjukan akrobat.

Ya hal sedih juga diceritakan. Seperti kisah latar belakang bayi yang ditemukan di perahu. Ibunya selingkuhan polisi yang sama sekali tidak tahu polisi tersebut beristri.

Novel-novel DKJ selalu membuatku takjub. Salah satunya novel ini. Siapa sangka mungkin ini kali pertama pengalaman membaca novel DKJ yg damai. Maksudnya karena ceritanya menurutku sama sekali tidak terkesan ambisius apalagi menggebu-gebu.
Profile Image for pat.
65 reviews2 followers
February 6, 2023
🌟4.75/5

So, let's talk about how stunning the cover is! I just realize it's Ala illustration with that red eye.

Anw, sebenarnya aku nggak berencana bakal baca buku ini, tapi ternyata di ipunas nggak antri dan halaman buku ini nggak terlalu banyak soo let's just read it.

Haniya dan Ala di Rumah Teteruga bercerita tentang dua Ibu dan anak (Haniya dan Ala) yang tinggal di desa kon, di rumah turun-temurun yang bermantra, dan kebun cengkih. It's sound magical tho walaupun aku bayangin rumahnya kayak rumah upin-ipin but has second floor lmao. As we can see on the cover, Ala punya mata juling dan merah api makanya di sekolah ga ada yang mau berteman sama dia dan dia dijuluki Aljul, bahkan sama walikelasnya juga. Tapi, mata Ala yang beda ini membuat dia bisa melihat hal yang tidak biasa. She can see everything that everybody can not see. Termasuk Ido, tokoh penghuni rumah teteruga, yang bakal jadi salah satu cerita di dalam buku ini.

Selain itu, ada Naf Tikore yang diceritakan sebagai sosok misterius yang punya ilmu hitam. Orang desa yakin kalau orang tua itu terkutuk, makanya nggak ada satupun orang di desa kon yang mau dekat atau bahkan menyapa dan bekerja sama dia.

Sebenarnya buku ini dari awal tuh kayak trying to introduce the problem that will solved for the next chapters. Introduce-build-solved, like another book too tapi lebih gamblang dan nggak rumit. Seperti cerita anak-anak, atau mungkin karena tokohnya juga anak 11 tahun ya? Wkwkwk

Tapi aku sendiri jujur suka banget sama bukunya, karena pake tokoh anak kecil, which i really really love karena i feel like i am that 11 yo girl yang memandang dunia begitu mudah. Alasan lain aku suka buku ini tuh, penggambaran desa dan musim panen ala petaninya dapettt walaupun aku bukan orang yang terbiasa dan tahu tentang itu, tapi rasanya kayak penulis pengen kita ikut merasakan gimana senangnya petani pas musim panen. Vibes desa dan kebunya suka bangettt make me wanted to ngebau-bau aroma cengkih pas bacanya😆

Tapi sayangnya aku ngerasa endingnya seolah dibuat, "udahin aja kali ya" jadi kayak lumayan ngong(?). Setelah BPPC dan tragedi di rumah Naf Tikore, lalu tiba-tiba presiden sudah ganti. I feel like, it would be better if she also make story about how they pass through those hard times sih.

Anw, this book is enjoyable in one sitting jangan lupa tehnya atau siapin cengkih biar lebih khidmat bacanya hihihi. Happy reading!
Profile Image for P.P. Rahayu.
Author 1 book37 followers
March 29, 2024
Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga
oleh Erni Aladjai
3 dari 5 bintang

Alasanku membaca buku ini sederhana, karena tebalnya yang tipis dan bisa masuk ke kategori #growatthetime Challenge. Ketika membaca blurb-nya, aku baru menyadari kalau buku ini termasuk pemenang untuk sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Yang menarik, ketika aku mencoba mencari keterangan genre buku ini, ternyata tidak tersedia di Goodreads. Aku malah menemukannya di Storygraph. Ternyata buku ini masuk ke dalam genre historical, magical realism, dan horror. Menarik, bukan?

Aku memang tidak berekspektasi apa-apa sih dengan buku ini. Hanya saja, aku juga tertarik dengan salah satu testimoni yang menyebutkan kalau buku ini merupakan novel etnografis. Hmm, kenapa ya disebut begitu? Karena itulah, akhirnya aku putuskan untuk membacanya.

Mulanya, aku penasaran dengan judulnya sendiri. Teteruga? Rasa-rasanya aku tidak familiar dengan kata-kata ini. Jadilah aku mencoba mencari maknanya dan ternyata Teteruga dalam bahasa Papua berarti penyu atau kura-kura. Teteruga juga merupakan makhluk kuno yang telah berabad-abad menetap di lautan dan memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Berbeda dengan pendefinisian tersebut, Teteruga di sini menjadi julukan bagi rumah kayu milik Haniyah dan keluarganya yang dikelilingi oleh perkebunan cengkih. Di sinilah, Haniyah tinggal bersama putrinya, Ala. Selain menceritakan kehidupan Ala, yang terkadang menemui masalah di sekolah, buku ini juga menceritakan bagaimana kehidupan petani cengkih di Desa Kon tersebut. Bagaimana musim puncak panen cengkih menjadi masa bagi para warga untuk saling berkumpul dan membantu sama lain.

Selama membaca, setidaknya ada dua hal yang menurutku cukup plot twist. Mulai dari penceritaan sejarah penguasaan cengkih oleh arwah Ido yang gentayangan, dan kemunculan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC). Nah, ini adalah salah satu pengetahuan baru buatku. Aku tidak begitu tahu kalau dulu monopoli terjadi lagi di ujung pemerintahan orde baru. Maksudku, bahkan aku hampir melupakan ada istilah Pelayaran Hongi pada zaman pendudukan Belanda di negeri ini. Jadi, ketika dalam novel ini ada kemunculan aturan yang mirip, aku cukup surprised.

Tbh, buku ini memang menawarkan sesuatu hal yang baru dengan jalan cerita dan kelindan historisnya. Tidak heran juga kalau menjadi salah satu pemenang dalam sayembara DKJ.
Profile Image for Archmur.
15 reviews3 followers
February 20, 2025
“Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tidak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas.”

Penggalan kalimat dalam novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga ini sukses membuat saya merinding. Bagaimana tidak, kita sebagai manusia diingatkan kembali bahwa ada orang yang lebih berbahaya dari hantu dan hewan buas. Mereka adalah manusia yang berhati gelap dan hidup di sekitar kita.

Haniyah dan Ala merupakan sepasang ibu tunggal dan anak perempuannya yang tinggal di sebuah rumah warisan keluarga. Pertemuan Ala dengan bocah laki-laki bernama Ido menuntun dirinya menyingkap rahasia rumah berusia 109 tahun itu. Bukan hanya soal rumah Teteruga, novel ini juga berkisah tentang orang-orang lain yang lahir, hidup, dan mati bersama cengkeh.

Ada empat hal yang membuat saya jatuh cinta pada novel ini. Pertama, nuansa lokal yang dibangun dengan sangat baik, dimulai dari diksi hingga dinamika Desa Kon yang sungguh hidup dalam kesederhanaan. Kedua, pandangan Haniyah terhadap hubungan manusia dengan lingkungan, bukan hanya manusia namun juga terhadap hewan, tanaman, dan bahkan benda mati. Walaupun hanya sampai di bangku SD, pemikiran Haniyah tentang hubungan manusia dengan sekitarnya sangat mendalam. Selanjutnya tentu saja Ala dengan misinya mengungkap rahasia dari rumah Teteruga bersama Ido. Terakhir adalah penggambaran wanita-wanita berdaya diluar tokoh utama. Tentang Bibi Gebe, ibu tunggal dengan tiga anak yang ditinggal menikah suaminya yang berjualan agama, tentang Bibi Ati, belum menikah karena “sudah waktunya menikah” dan tentang perempuan di Pulau Kampasa yang menentukan nasibnya sendiri.

Meskipun demikian, saya rasa ada beberapa kepingan puzzle yang bisa lebih jauh untuk dikembangkan. Misalnya saja hubungan antara Naf Tikore dan anak angkatnya ataupun BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) yang diceritakan pada epilog. FYI, BBPC adalah lembaga yang bertugas memonopoli bisnis cengkeh di Indonesia yang diketuai oleh salah seorang putra penguasa. Cara kerjanya sederhana, beli dengan harga murah dan jual dengan harga mahal.

Buku ini cocok bagi orang yang suka sejarah, buku dengan unsur lokal dan cerita magical realism.
Profile Image for Nisa F.
52 reviews9 followers
December 30, 2022
"Kebaikan bisa datang dari hantu dan kejahatan bisa datang dari guru."

Suasana tahun 90-an begitu hidup di novel ini, dipaparkan secara sederhana. Seperti bagian-bagian di Rumah Teteruga yang ditempati oleh Ala dan ibunya, Haniyah. Rumah peninggalan nenek dan nenek buyutnya. Rumah yang menjadi tempat Ala menghitung berapa banyak olokan yang dia dapatkan di sekolah, dengan menuliskan angkanya di bawah kolong tempat tidur. Begitulah cara Ala menumpahkan rasa marahnya, sampai akhirnya dia bertemu dengan Ido dan menantikan kehadirannya yang membawakan cerita setiap malam.

Lucu waktu Ala memberikan respons terhadap cerita Ido. Tentang kenapa orang baik yang selalu mati duluan. Pertanyaan sederhana yang sepertinya pernah diajukan setiap anak di dunia ini, termasuk aku. Jadi ingat bagaimana jawaban guru SMP-ku kala itu. Katanya, orang baik memang sengaja diambil dulu oleh Tuhan, karena Tuhan menyayanginya.

Oh iya, cerita ini bukan hanya tentang Ala dan Haniyah, tetapi juga orang-orang di sekitar yang masih terhubung dengan Rumah Teteruga dan rahasia di dalamnya, salah satunya adalah Naf Tikore. Laki-laki tua yang dijauhi hampir seluruh warga Desa Kon. Benar adanya kalau kita tidak bisa menilai seseorang dari 'katanya'. Ala membuktikannya sendiri. Lewat cerita yang Ido dongengkan setiap malam, Ala memberanikan diri mendatangi Naf Tikore. Awal di mana rahasia mulai terkuak.

Meski aku menemukan beberapa ulasan yang menyatakan kalau ada beberapa bagian di novel ini yang seperti terlalu ke mana-mana dan ada bagian yang seolah belum selesai, tapi aku sendiri merasa cerita Ala dan Ibunya tetaplah membekas. Suka dengan karakter Haniyah yang begitu bijak sebagai ibu dan seorang manusia yang mengasihi makhluk dan benda lain. Juga siapa sebenarnya sosok Naf Tikore. Yang paling melekat ya Ido dan ceritanya.

Menurtku, bagian-bagian lain yang dibilang berlebih karena menceritakan tokoh-tokoh di luar tokoh utama, justru sebagai penguat cerita ini. Juga, tidak semua hal dalam cerita ini harus tuntas. Ada bagian-bagian yang lebih baik begitu saja tanpa dijelaskan lebih dalam.
Profile Image for Widia.
65 reviews1 follower
August 4, 2022
Judul : Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga
Penulis : Erni Aladjai
Penerbit : KPG
Halaman : 146
Via : Gramdig
.
.
.
Buku ini berlatar tempat di sebuah desa bernama Desa Kon sekitar tahun 1992. Buku ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat Desa Kon yang kebanyakan berprofesi sebagai petani cengkih. Di desa itu juga terdapat rumah kayu yang terkenal kekokohannya, karena sudah berumur hampir 109 tahun dan sering dipanggil sebagai rumah Teteruga. Dan di rumah inilah Haniyah dan Ala yang merupakan ibu dan anak itu tinggal.

Ala terlahir dengan sebelah matanya yang juling sehingga dia menerima banyak ejekan dari teman2 sekolahnya. Akan tetapi, dibalik kekurangan itu, Ala bisa melihat hal2 gaib yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Karena kemampuannya ini pulalah, dia bertemu dengan Ido. Dari cerita Ido, Ala bisa mengetahui sejarah yang menghubungkan antara pohon cengkih Naf Tikore dengan rumah Teteruga.

Di buku ini juga disinggung mengenai Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkih (BPPC) yang didirikan oleh Tommy Soeharto yang sudah membuat petani cengkih menderita.
"Petani cengkih hanya boleh menjual cengkihnya pada KUD dengan harga yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Dan KUD hanya menjual cengkih kepada BPPC. Mereka membeli dengan harga serendah-rendahnya dan menjual kembali dengan harga semahal-mahalnya kepada pabrik kretek. Mereka tidak peduli cucuran keringat orang-orang kecil."

Awalnya kupikir buku ini kumpulan cerita gitu, ternyata satu alur cerita. Ada beberapa bagian yang menurutku ngga perlu diceritain lebih panjang. Dan bagian yang bahas BPPC, menurutku itu bisa dibahas lebih jauh lagi, soalnya di buku ini, topik itu baru muncul di halaman2 terakhir, padahal itu menarik banget. Bagian yang kusuka pas bagian suka cita saat panen cengkih tiba, soalnya itu relate banget sama aku. Klo panen tiba, biasanya beberapa orang diminta buat bantu2.

⭐ 4,5/5
Profile Image for Marsha28.
146 reviews9 followers
August 4, 2022
5 STARS

Ga Ada ekspektasi apa-apa waktu menemukan buku ini di iPusnas. Niatnya cuma mau baca dari penulis Indonesia karena khusus Augustus ini aku mendedikasikan untuk hanya Baca buku karya penulis Indonesia. 🇮🇩

Jadi bener-bener blind date dengan buku ini. Ternyata, di luar ekspektasi (karena ga paham dengan judulnya dan covernya yang kurang menarik), buku ini BAGUS BANGET!

Penulis sangat ahli membangun atmosfir di dalam cerita. Cerita yang berlatar di kepulauan yang asri dimana sebagian Besar penduduknya adalah petani dan nelayan. Jadi bikin kesan fresh, cocok untuk yang pengen coba baca kisah yang nggak "Jawa sentris". Cerita di dalam buku sarat dengan Budaya lokal yang membumi.

Kisahnya dituturkan dengan lugas dan bergaya polos karena main character adalah anak kelas 6 SD bernama Ala memiliki kekurangan fisik.

Cerita berkisah mengenai Hal-hal yang sederhana pada awalnya, mengenai Kehidupan Ala dan ibu nya yang berada di kampung kecil dimana tetangga dan warga kampung saling mengenal Satu sama lain di tahun 80-an.

Tapi ternyata di Hal-hal sehari-hari itu, penulis dengan cerdiknya menyisipkan pesan sosial yang menggelitik.

Seperti Contohnya kutipan Satu ini:

Ala sebenarnya sudah pernah menyampaikan kepada ibu, bahwa ia hanya ingin menjadi petani cengkih, tak perlu sekolah. "Petani harus sekolah untuk masa depan kebunnya, untuk lahannya, untuk berbicara dengan pemerintah daerah, supaya tidak ditipu-tipu." kata Haniyah.

😂 Lol

Ini pertama kalinya aku pengen menganotasi di buku Fiksi. Karena emang banyak terselip pesan-pesan Kehidupan yang lewat di dalam cerita sebagai selingan.

Walaupun hanya 170 lembar, buku ini membuat tiap lembarnya dapat dinikmati dengan asyik karena menceritakan Kisah-kisah unik penduduk desa (Terlepas dari cerita utama dan si tokoh utama).

Salah satu best novel tahun ini sih, menurutku. Cocok untuk yg lagi reading slump dan pengen Baca bacaan yang cepet selesai tapi "Mengena" di Hati.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
January 1, 2023
Aroma cengkih menguar di setiap lembar kisahnya dan membawa saya ke tempat yang akrab sekaligus asing. Juga, jadi teringat semakin jarang nastar dengan butir cengkih di atasnya (Apa sih malah kepikiran nastar! 😅)

Ini adalah cerita Haniyah dan Ala, ibu dan anak yang tinggal di rumah lawas bernama Rumah Teteruga, rumah turun temurun dengan kayu-kayu kuat yang dulu sekali tinggal seekor teteruga (kura-kura) di kolamnya lalu namanya tetap melekat. Juga cerita-cerita masa lalu, yang merembes ke masa kini.

Ala bermata juling dan memiliki bola mata berbeda warna, bisa melihat hantu, dan dirundung di sekolahnya. Melalui karakternya, kamu akan dibawa berkeliling desa dan terjerat cerita di Desa Kon yang komoditas utamanya cengkih (sampai sekarang masih menebak-nebak lokasi tepatnya), lengkap dengan suasana pedesaan, riuh panen dan bahu membahu di kebun rakyat, bertautan dengan misteri rumah, mitos dan gosip-gosip yang berakar di masyarakat. Gaya bercerita dan pembawaan Ala yang biasa dan wajar-wajar saja menghilangkan nuansa seram yang terbawa bersamaan dengan munculnya arwah orang mati. Yang ini hantunya beraroma cengkih dan dibawakan secara biasa saja macam anak kecil yang mengobrol dengan teman.

Uh, sempat juga menyinggung betapa jahatnya politik Orde Baru mempermainkan harga. Sedikit saja, menuju akhir tapi kesalnya sampai lama dan banyak.

Kalau kamu membaca ulasan orang-orang, kata wajar sering kali muncul untuk mendeskripsikan buku ini. Sangat terasa jelas memang. Mungkin kewajaran di buku ini membuat hal yang istimewa terasa teredam atau malah kurang terjamah dengan lebih menegangkan. Menurut saya, itu salah satu pesona buku ini. Selain kisah perkebunan cengkih dan tradisi lokal yang lekat. Toh begitu lah kehidupan. Hehehe.

Buku ini pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa tahun 2021 lalu. Bagus!
Profile Image for Aulia.
31 reviews
March 19, 2023
Sebelumnya aku ga pernah baca blurb buku ini dan ga masuk dalam list TBR. Tapi ternyata ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca 👍🏻

Dari halaman awal udah ada prolog yang mengisahkan tragedi keluarga di sebuah kebun cengkih yang kemudian menjadi misteri. Buku ini lebih seperti potongan-potongan cerita dan saling terkait. Secara singkat, buku ini membahas kehidupan para petani cengkih di Desa Kon termasuk Haniyah, ibu dari Ala. Ala terlahir dengan mata kiri yang juling jadi ia bisa melihat hal-hal ghaib. Karena mata itu, ia sering diejek oleh teman sekolahnya dngan julukan Aljul (Ala Juling). Cerita-cerita tentang pembullyan dan perilaku guru Ala pun berlanjut.

Ala lalu bertemu dengan Ido, arwah anak laki-laki. Ido menceritakan ttg kisahnya yang dijadikan budak oleh orang Belanda dan juga dibunuh oleh mereka. Siapa sangka kisah kematian Ido ini punya keterkaitan dngan Naf Tikore, sosok misterius yg udah disebutin dari awal. Pas baca bagian ini sebenarnya aku nebak buku ini keknya genre horror ya, eh ternyata enggak 😅

Cerita berlanjut ttg keseruan penduduk desa yang melakukan panen cengkih. Setelah panen cengkih, muncul masalah yg dihadapi penduduk trkait kebijakan pemerintah ttg cengkih dengan pembentukan BPPC yang didirikan oleh Putra Kelima Presiden pada tahun 1992 yg merugikan petani cengkih.

Yg aku suka adalah unsur historisnya tentang gimana pentingnya cengkih di era kolonial dan bagaimana para petani cengkih terdampak, dari Ido hingga Naf Tikore semuanya memiliki kisah kelam sejak zaman penjajahan berkaitan dengan cengkih. Penggambaran suasana pedesaan yg sederhana dngan cerita mistis serta kearifan lokal berkaitan dengan cengkih juga bagus. Tak lupa dengan sentilan masalah seperti bullying dan kritikan terhadap kebijakan pemerintah tahun 90-an. Yang kurang adalah cerita tentang masalah BPPC itu yg singkat banget dan ga terlalu diperdalam lagi padahal menarik.

Buku ini tipis, bisa dibaca sekali duduk. Ceritanya juga ringan. Latar budaya yg kental digabung dengan unsur historis jadi ciri khas buku ini, bener-bener klop gitu apalagi penggambaran suasananya detail.
Profile Image for mushtabara.
153 reviews
October 23, 2023
(5,0⭐) "...mengolok-olok tubuh orang lain itu kejam. Luka benda tajam bisa sembuh, tetapi trauma, luka batin akan selalu kita bawa hingga dewasa, hingga kita tua."

Baru kali ini aku baca karya pemenang DKJ tahun 2019! Thank you Gramedia untuk event Cuci Gudang-nya sehingga aku bisa membeli buku ini seharga 20 ribu saja.

Baiklah, mengapa bintang 5? Karena ini menurutku buku yang indah. Plot yang disajikan tidak hanya tentang Haniyah dan Ala, seorang ibu dan anak, tetapi juga karakter-karakter sampingan yang menurutku semuanya memberikan kehidupan dalam novel ini. Semuanya memiliki part-nya masing-masing dan bagaikan nasi goreng, menurutku buku ini punya ampela ati, telur goreng, sayur-mayur, timun--aduh semuanya ada. Jujur saja, ini merupakan buku bergenre historical fiction yang pertama kali kubaca dan aku sangaaat sesuka itu. Diksinya indah sekali dan bacaan ini seperti membaca lukisan dan mencium aroma yang dideskripsikan pada buku ini. Banyak sekali pesan moral yang bisa didapat dari buku ini, mostly tentang hubungan antarmanusia, dengan alam yang kita huni, dan bahkan dengan Sang Pencipta.

Dan yang terakhir, komentar mengenai cover buku. Ternyata mata yang ada cover buku ini adalah mata Ala, sungguh unik sekali! Kemudian, pohon cengkih yang mendominasi design cover, dan dua ikan di bawah yang seringkali disebut dalam buku ini sebagai makanan penduduk. Entahlah itu ikan apa.

Bagus sekali. Teman-teman harus baca jika menyukai buku yang berdiksi cantik dan lugas!

"Kau tahu benda-benda mati, sesungguhnya tidak benar-benar mati. Bubungan, kayu, kasau, atap, lantai papan, semuanya 'bernyawa', mereka bertahan, sementara kita yang hidup biasanya rapuh dan berakhir. Kayu-kayu di rumah ini menanggapi bahasa dari yang hidup."
Profile Image for Liana.
14 reviews
December 24, 2023
Pembuka cerita yang cukup mengejutkan, I guess? Aku kaget. Keinget Silsilah Duka, tapi rasa-rasanya ini bakal beda.

Sedikit warning ini cerita ada unsur horornya (untung aku baca pas lagi rame-rame) tapi kayaknya enggak serem. Suasana cerita ini benar-benar menggambarkan suasana bagaimana pedesaan kecil yang dikelilingi perairan dan gunung atau pohon-pohon.

Beberapa narasi juga menggambarkan kekerasan, kekejaman, dan bullying. Hati-hati ya yang mudah ketrigger— agak sadis kataku.

Terlepas dari kisahnya, aku suka dengan penulis yang menggambarkan suasananya begitu apik. Padahal aku cuma baca tapi aku kaya bisa merasakan bagaimana suasana aslinya, bagaimana aroma cengkih yang dominan di setiap sudut, kemudian aroma-aroma mistis yang dipercaya masyarakat setempat (biasanya kalau di desa kecil hal seperti ini banyak dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi).

Ada kutipan yang menyentil aku. Entah rasanya miris tapi memang itu yang biasanya terjadi di antara realita dunia yang sementara ini.

"Kenapa orang baik selalu cepat meninggal? Di kehidupan nyata seringkali begitu, Tuhan mencabut lebih dulu nyawa orang baik, sementara orang jahat dibiarkan hidup lama dan lenggang kangkung."

Tapi sebenarnya cerita ini bukan cerita yang seberat itu. Cerita ini cerita yang bisa dibaca dalam sekali duduk. Keseluruhan menggambarkan bagaimana kondisi di desa yang penuh kepercayaan di atas kebenaran. Mungkin seperti dongeng anak kecil, tapi ini dibuat untuk orang dewasa karena beberapa adegan terlampau kejam yang cukup ... bikin takut? I guess. Dari itu semua, yang jelas aku cukup termotivasi dengan kalimat:

"Jika ada orang yang memandang orang lain rendah, dia tak pernah melihat keburukan di dalam dirinya sendiri."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Syakirina utami.
26 reviews1 follower
February 6, 2022
Buku pertama karya Erni Aladjai yang habis dalam dua malam membaca. Membaca karya ini mengingatkan saya pada karya Faisal Odang "Tiba Sebelum Berangkat". Akan tetapi, dalam buku ini Erni banyak merangkum banyak persoalan, lingkungan, adat, lokalitas, perlawanan, perempuan, pendidikan, sosial, budaya, dan lain-lain. Selain poin-poin yang saya sebutkan, ada beberapa hal yang menarik dalam buku ini yaitu, tokoh-tokohnya didominasi oleh tokoh perempuan dengan ragam karakter, Erni juga banyak menggunakan istilah bahasa Indonesia yang tidak lazim digunakan (baca: perigi, mengangunkan, pendir, dll) bagi saya ini hal menarik yang ditawarkan Erni dalam tulisannya. Pemilihan gaya penceritaan dengan metode cerita berbingkai juga asyik, dimulai dari kemunculan arwah anak kecil bernama Madika Ido yang ternyata punya berhubungan juga dengan masa lalu Rumah Teteruga.
Hal lain yang juga menarik adalah banyaknya unsur-unsur bahan pangan lokal yang dimunculkan Erni dalam bukunya, misalnya tumis bunga pepaya, papeda, talas rebus, dan lain-lain. Juga kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan Arumba dan Mariba semua terasa sangat tradisional dan ramah alam.
Keunikan lainnya yang juga muncul adalah bagaimana tokoh Haniyah memperlakukan benda-benda mati, hewan, tumbuhan seolah-olah mereka semua hidup. Haniyah tidak pernah menyakiti hewan, dia juga selalu mengucapkan terima kasih kepada pohon-pohon cengkihnya yang sudah berbuah, bahkan ketika Haniyah tidak lagi bisa panen dia juga memohon maaf kepada pohon cengkihnya.
Menurut saya, Novel ini cukup padat dengan epilog munculnya BPPC yang mencekik para petani cengkih, tragis sekaligus kejam.
Profile Image for R..
56 reviews12 followers
October 14, 2022
Tidak berekspektasi apapun sewaktu pinjam buku ini di ipusnas, kendati judulnya unik dan clueless; sebagaimana kesan yang saya dapat selagi di bab-bab awal.

Buku ini ditulis dengan cukup mengalir dan deskripsi yang mendetail terkait latar dan berbagai unsur penamaan yang tidak luput dari kebudayaan dan daerah sekitar, sehingga bertambah pula wawasan saya. Penciptaan karakter dalam cerita pun tidak neko-neko tetapi sudah cukup menggambarkan peran mereka masing-masing. Semisal, Haniyah sebagai seorang ibu, yang sangat menyayangi anaknya, Ala, terutama sebagai orang tua yang membesarkan anaknya seorang diri, sedangkan tuturnya bijaksana walau tengah terbakar emosi saat menanggapi isu perundungan di sekolah anaknya. Sementara itu, Ala, betul tampak seperti anak sekolah yang masih polos dan lugu, serta ingin tahu banyak hal.

Kemunculan sosok Ido dan Naf Tikore juga turut membalut cerita menjadi cukup menarik. Dongeng Ido sebelum tidur adalah yang paling berkesan, membuat merinding sekaligus sedih di saat bersamaan. Pun, kisah-kisah miring perihal Naf Tikore yang belum divalidasi kebenarannya juga sangat disayangkan, tetapi hal seperti ini tidak luput terjadi di sekitar.

Hanya sedikit hal yang masih mengganjal usai menamatkan 'Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga' ini, yaitu perihal BPPC yang tiba-tiba muncul menjelang akhir bab dan tidak banyak diceritakan detailnya, melainkan sebatas penderitaan petani cengkih sekitar atas pematokan harga dan penjualan di KUD. Serta, kelanjutan hidup milik Naf Tikore pada akhirnya, juga menimbulkan tanda tanya sebab saya berharap beliau tidak berakhir dengan kesunyian seperti mulanya.
Profile Image for Rei.
366 reviews42 followers
July 18, 2021

Rumah tua dari papan itu dinamai Teteruga karena dulunya, ia memiliki sebuah kolam buatan kecil, dan ada teteruga hidup di sana. Walau kini sang teteruga telah lama tiada, nama itu melekat.
Rumah Teteruga yang dulunya sebuah penginapan kini dihuni hanya oleh Haniyah dan Ala, ibu dan anak. Tadinya oleh Mariba, nenek Ala, ibu Haniyah, sebelumnya oleh Arumba, buyut Ala. Letaknya di Desa Kon, yang berada di pegunungan dan dikelilingi oleh perkebunan cengkih. Ala, gadis cilik berusia sebelas tahun, bercita-cita ingin menjadi petani cengkih saja ketimbang bersekolah, karena ia selalu jadi bahan perundungan teman-teman dan bahkan wali kelasnya sendiri.

Buku tipis ini isinya cukup padat; bercerita seputar kehidupan Haniyah dan Ala sebagai bagian dari sebuah komunitas petani cengkih. Kisah gelap tentang keluarga Tikore yang mengambil alih perkebunan cengkih gelap milik orang Belanda, pertemuan Ala dengan Ido, arwah seorang anak lelaki yang kepalanya tertanam di kolong ranjang nenek buyut Ala, perihal guru-guru sekolah yang kejam, keseruan panen cengkih di mana warga berkumpul dan berpesta syukuran, dan tentang Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkih (BPPC) yang didirikan oleh Tommy Soeharto pada tahun 1992 dan mengakibatkan penderitaan petani cengkih. Sayang sekali semua itu hanya diceritakan dengan singkat, ciri adat dan budaya pun paling tampak hanya dari nama-nama karakter yang terasa unik dan aneh di telinga (ku, sebagai orang Jawa). Judulnya pun seperti kurang ‘menantang’, malah terkesan seperti cerita anak-anak. Kendati demikian aku sangat menikmati membaca buku ini, terutama karena gaya berceritanya yang ringan dan wajar.

Profile Image for Aburizal Khatami.
25 reviews
June 11, 2024
Salah satu novel terfavorit yang saya baca tahun ini. Novel sederhana yang mengedepankan tradisi lokal, etnografis, dan perkembangan karakternya. Semua tokoh diberi nyawa sewajarnya dan apa adanya. Kisah dalam novel ini pun tak jauh dari kehidupan sosial yang para tokoh alami, mulai dari misteri Rumah Teteruga, bocah bernama Madika, pertunjukan akrobat di desa dan perundungann atas Ala di sekolahnya. Semuanya digambarkan begitu sederhana, lugas dan memakai bahasa Indonesia yang baik. Rumah Teteruga yang ditempati ibu dan anak, Haniyah dan Ala menyimpan misteri, menyebabkan pada malam tertentu Ala sering didatangi oleh arwah bernama Ido dan mengisahkan satu cerita yang membuat Ala berani untuk mengunjungi Nef Tikore, salah satu tetua kampung yang hidup nan jauh di kampung, memasuki hutan yang jarang dijamah oleh manusia.

Novel seitipis ini mampu mengindahkan banyak kisah di dalamnya, penulisan yang apik membuat novel ini padat dan gemuk akan plot yang lembut dan enak dibaca. Saya sendiri tidak cukup banyak hari saat mulai membaca, walau ini novel etnografis tapi tidak semerta-meta hanyak mengekspos bagiamana keindahan Desa Kon, tapi memberi makna dalam ketika sudah membacanya.

Di akhir novel kita akan ditemukan bagaimana kesusastraan kental sebagai epilog, kita akan menemui kekalahan seorang petani cengkeh dan misteri yang menyelimuti sepanjang cerita, dan kegusaran petani akan sistem pemerintahan yang culas pada masa itu. Sangat rekomendasi bagi kamu yang mencintai bahasa Indonesia dan novel tipis.
Profile Image for Siska Filawati.
18 reviews
June 13, 2021
Kebun cengkih itu bagian dari hidup kita, Ala. Kalau kita menebangnya sama saja kita mematikan sebagian dari diri kita.

Novel bergenre fantasi dan misteri ini sarat makna hubungan istimewa manusia dan tumbuhan, hubungan baik manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya, manusia dengan perbedaannya, dan kebengisan sistem monopoli yang sedang berlangsung kala itu.

Berlatar tahun 1990, novel ini masih sesuai dengan kondisi saat ini. Ceritanya ringan, tidak membosankan, dan terlebih lagi penulis menggambarkan plot tempat dan situasi dengan jelas, saya bisa dengan mudah masuk dengan membayangkan kondisinya.

Tentang sebuah panen cengkih, yang menggambarkan gotong royong dan cinta terhadap Bumi. Makna sesungguhnya tentang eksplorasi bukan eksploitasi.

Akhir novel, disebutkan sebuah monopoli cengkih saat itu, mencekik petani yang menurunkan harga sekilo cengkih dari 85 ribu ke 1500 rupiah. Banyak petani menebang dan membakar kebun cengkih dan diganti dengan kakao, namun, Haniyah tidak melakukannya.

Tokoh utama cerita ini adalah seorang ibu dan putrinya, dan saya rasa sangat cocok dibaca bersama oleh ibu dan anak, banyak part yang hanya bisa dirasakan emosinya oleh mereka saja. 🤗

Kesehajaan,
Percaya,
Kesetiaan,
Gotong royong,
Digambarkan dalam cerita ini.

Terima kasih
Haniyah, Ala, Ido, Naf Tikore,
dan seluruh penduduk desa kon tahun 1990.

#siskafila27review
#haniyahdanaladirumahteteruga
#kepustakaanpopulergramedia
Displaying 1 - 30 of 109 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.