What do you think?
Rate this book


146 pages, Paperback
First published January 1, 2021
"Pembuat aturan ini bukanlah petani cengkih, bagaimana bisa dia paham kondisi kita," kata Bibi Leslie.
"Kami hanya menjalankan tugas, Nyonya," kata petugas koperasi laki-laki.
"Kami rela cengkih-cengkih kami membusuk ketimbang menjualnya dengan harga tak masuk akal begitu," Haniyah berkata lagi.
"Jangan heran kalau dulu banyak orang yang tidak lanjut sekolah, orang-orang mungkin berpikir guru-guru di sekolah lanjutan akan lebih ganas melebihi guru SD mereka. Saya orang yang berpikiran begitu, maka saya putuskan lebih baik mengurus kebun daripada dipukul-pukul di sekolah," ujar Haniyah.
“Saya tidak merasa terhina dengan apa yang dia katakan. Jika saya turun ke desa dan mencarinya, berarti saya menyepakati hinaan itu, membutuhkan dua jiwa untuk menciptakan hinaan dan kemarahan. Jiwa saya tidak ikut dalam bagian itu. …”
“Jika ada orang yang memandang orang lain rendah, dia tidak pernah melihat keburukan di dalam dirinya sendiri”.
“Manusia itu makhluk kebiasaan, yang terbiasa berprasangka akan sulit berpikir jernih, yang terbiasa seraka akan sukar merasa cukup, dan yang terbiasa kesunyian, akan sulit berada dalam kegaduhan”.
“Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tidak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas”.
“Mengolok-olok tubuh orang itu kejam. Luka benda tajam bisa sembuh, tetapi trauma, luka batin akan selalu kita bawa hingga dewasa, hingga kita tua.”
Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas.
Haniyah mencintai pohon-pohon cengkih, karena tanaman ini bisa berbagi kehidupan dengan tanaman-tanaman lainnya.
(Halaman 3-4)
Ketika Ala selesai mandi pagi, Haniyah datang membawakan segelas rendaman cengkih dan daun sirih. Dia selalu meminta Ala berkumur dengan ramuan itu untuk pengharum mulut.
(Halaman 18)
Di pintu pagar Rumah Teteruga, Ala menghidu sejenak wangi pedas yang datang dari pegunungan. Wangi dari hutan cengkih. Panen raya tinggal dua bulan lagi.
(Halaman 18)
Di kebun mereka hanya ada dua jenis cengkih, sikotok dan zanzibar. Paman Rudolf pernah bilang cengkih zanzibar ini punya riwayat rumit, bibit cengkihnya dari Maluku, diselundupkan ke Zanzibar, Afrika, lalu pada akhirnya orang-orang menamakannya dengan cengkih zanzibar--seolah-olah Afrika menjadi tanah asalnya.
(Halaman 77)
Haniyah memeluk salah satu pohon, lalu dia kembali berbicara kepada pohon itu, "Kami tidak memetik, bukan karena menyia-nyiakan kalian namun karena kami tidak rela pohon-pohon cengkih kami jadi permainan keserakahan. Terima kasih sudah berbuah."
(Halaman 138-139)