Pernahkah Anda mendengar soal istilah “pria berasal dari planet Mars dan wanita dari planet Venus?” Istilah itu muncul karena pria dan wanita dianggap sangat berbeda, khususnya dalam cara berpikir. Kadang-kadang perbedaan itu pula yang memicu pertengkaran di antara mereka. Kurangnya pemahaman tentang perbedaan juga menyebabkan timbulnya kesalahpahaman hingg akhirnya mereka bertengkar.
Salah satu topik yang menarik tentang pria adalah cara memahaminya. Dari sisi sudut pandang wanita, memang memahami pria memang bukan hal yang mudah. Bahkan, hal itu selalu menjadi masalah utama dalam berhubungan di antara pria dan wanita. Pun dari sudut pandang pria. Terkadang, pria juga harus memahami dirinya sendiri agar tahu bahwa sebelum memahami orang lain, dia harus paham akan dirinya terlebih dahulu.
Di dalam buku ini, Anda akan menemukan pembahasan tentang segala hal yang berkaitan dengan pria. Terdapat pula tips menarik untuk memahami pria. Dengan demikian, Anda akan sadar bahwa pria, sebagaimana wanita, adalah makhuk yang juga memiliki perasaan dan melankolis.
Bahkan baca sampe halaman ke 50 masih ada typo. Kayak tugas akhir yang dibikin buru, jadi gak nyaman baca. Kirain isi bukunya ini fakta2 tentang pria yang didukung sama banyak penelitian. Nyatanya cuma sebagian kecil fakta yang disertai bukti pendukung. Sisanya, kayaknya dari pemikiran pribadi penulis, itu pun juga subjektif banget. Terus untuk fakta2nya, umum bangeeet. Harusnya judulnya diganti "Seni Memahami Manusia". Tiap baca "pria tidak suka a, b, c, d" selanjutnya selalu mikir "lah, perempuan juga gitu kali. Semua manusia juga gitu sifat dasarnya"
Overall, nyesel banget beli ini. Bukannya sok lebih pinter nulis, tapi buku ini tuh mirip banget kayak tugas esai jaman kuliah yang bikinnya keburu-buru dan biar keliatan banyak kalimatnya dipanjang-panjangin. Kalimat2nya berbelit-belit dan mendayu-dayu tapi sebenernya cuma basa basi aja.
Buku ini bakal bagus banget isinya kalo penulis mau ngeluangin waktu lebih untuk baca-baca jurnal nasional/internasional.
Kukasih bintang 2 karena salut banget ada penerbit yang mau nerbitin buku sementah ini.
TBH pas awal baca ini aku excited banget dan kata yg keluar dari mulutku sepanjang baca ini ialah "oalah gini toh ternyata cowo2". Bukunya menarik sih, tapi bukan yang wow banget gitu. Juga banyak typo disana sini. Terus mengulang-ulang kalimat yang sama, dan setelah baca daftar pustakanya, kok hmmmmmm. Berasa baca rangkuman dari berbagai web yg ngebahas ttg pria wkwkw
PENTING: PASTIKAN MEMBACA SAMPAI TUNTAS REVIEW INI AGAR TIDAK MENIMBULKAN KESALAHPAHAMAN
Sebenarnya ini buku yang menyenangkan. Hanya saja masih banyak sekali salah ketik yang lama-kelamaan terasa menganggu. Seperti di halaman 104 , ada dua kalimat yang salah ketik: - "...jangan langsung menganggap ia sedang berpindah ke lain hati atau sudah menyayangi Anda lagi" (maksudnya "sudah TIDAK menyayangi Anda lagi"?) - "...atau mungkin karena Anda tidak memerhatikan Anda lagi" (maksudnya "atau mungkin Anda sudah tidak memerhatikan dia lagi?)
Beberapa narasi dalam buku ini juga alih-alih membuat perempuan paham sisi berpikir pria, justru lebih memungkinkan utk membuat si perempuan merasa insekur, nge-down dan terhakimi. Seperti di hal. 51, ada sub-jdul berbunyi "Pria tidak tertarik dg wanita cerdas". Judul yang terasa merendahkan wanita dan menguntungkan sisi pria. Bahkan setelah membaca keseluruhan artikelnya pun, kesimpulan yang didapat cuma perempuan harus tampak bodoh dulu supaya mau dilirik pria.
Membaca buku ini adalah tantangan tersendiri karena pembaca sebaiknya membuka pikiran seluas2nya untuk memahami kesalahan pengetikan + narasi2 yg agak 'misleading' dan berpotensi men-trigger pemikiran buruk. Kita juga tetap tidak bisa menggeneralisasi semua pria seperti yang dinarasikan di buku (aku berdiskusi dg pacarku terkait beberapa hal dalam buku ini, dan ada part yg ia setujui dan tidak. Jadi buku ini hanya semacam pedoman umum dasar saja, bukan utk memahami seorang pria secara spesifik). Ketika berbicara tentang dunia pria, mungkin ada baiknya untuk tidak mencampuradukkannya dengan dunia patriarki. Mungkin ada baiknya juga untuk menyusun buku seperti ini dari informasi saintifik dari pakar, psikolog, atau buku2 referensi yg valid (aku mengecek daftar pustaka, dan menemukan cukup banyak referensi berupa artikel blog internet. Pertanyaannya adalah: seberapa tingkat validitas referensi dari artikel blog secar umum?)
Kalau kamu ingin membaca buku ini, silahkan saja. Karena terlepas dari poin2 di atas, buku ini juga bisa memberikan insight dan wawasan baru yg cukup memuaskan rasa penasaran. Bahkan sejumlah informasi di buku ini memang benar adanya, cocok dengan kondisiku dan lingkunganku, sekaligus buku ini sukses mengasah caraku berpikir secara "alternatif". Jika ada bagian yang dirasa "tidak nyaman dibaca" seperti pada hal. 51, aku jadi terbiasa utk mencari sudut pandang lain supaya bisa menanggapi tulisan secara positif, jernih dan terbuka. Kupikir, mungkin memang begini adanya—mungkin inilah pahitnya sebuah fakta dari dunia laki2. Aku juga jadi cenderung mencari apa kira2 yg bisa kupetik dan menguntungkan diri sendiri. Sisi bagusnya ya itu, aku merasa bisa untuk lebih open-minded dan mencoba belajar memahami pria dan dunianya. Aku juga suka pada beberapa narasi yg menekankan pada kesetaraan serta sikap saling menghormati antar pria dan wanita. Semoga saja kaum pria bisa memahami wanita dan bersama2 kita bisa menciptakan hubungan yang lebih sehat, adil, setara dan tentunya membahagiakan.
"Pelita laki-laki adalah nurani. Sedang bagi perempuan harapan adalah bintang gemintang. Pelita memberi arah terang bagi jalan, sedangkan harapan memberi jalan keselamatan." (Hal 153)
Pria dari Mars dan wanita dari Venus, pepatah yang tidak asing kita dengar dalam mengungkapkan perbedaan besar antara makhluk dengan kromosom XY dan XX. Sehingga memahaminya juga diperlukan sedikit pengetahuan.
Judul buku yang menarik ini memiliki 14 bab yang sangat terperinci. Dari penjelasan bagaimana dan mengapa cara berpikir ala pria, hingga penjelasan tentang hal-hal yang tidak mereka sukai. Bahkan cara menaklukkan pria mempunyai bab pembahasan sendiri, loh. Cocok buat kamu yang pengen deketin gebetan 😆
Bahasanya mudah dipahami, berbentuk esai-esai pendek yang langsung menyasar kepada poin-poin kesimpulan. Di akhir bab terdapat quote menarik tentang pria dari sudut pandang tokoh-tokoh terkenal.
Jangan coba-coba menerka isi hati dan pikiran pria, karena begitu banyak penjelasan ilmiah dipaparkan berdasarkan kromosom hingga struktur otak. Pria dan wanita jelaslah berbeda.
Buku ini cocok dibaca oleh seorang istri agar lebih mudah memahami suaminya. Bagaimanapun di dalam diri seorang pria terdapat sosok anak kecil laki-laki yang butuh dipahami lebih dari diri sendiri.
"Jika Anda ingin hidup bahagia dengan laki-laki, Anda harus banyak memahaminya dan sedikit mencintainya. Jika Anda ingin berbahagia dengan perempuan, Anda harus lebih banyak mencintainya dan jangan coba-coba memahaminya." (Hal 148)
Buku dengan judul yang menarik, apalagi aku yang memang sangat ingin tau apa yang ada didalam pikiran dan perasaan seorang pria. Dihalaman awal aku masih semangat membaca buku ini, tapi dihalaman² selanjutnya serasa ada yang kurang, yaitu kurangnya penulis memasukan data atau jurnal penelitian untuk menunjang apa yang disampaikannya. Walaupun disetiap akhirnya pembahasan ada sejenis kolom penelitian dimana penulis memasukan penelitian tentang pembahasan yang sesuai tapi akan lebih bagus menurutku jika hal itu ditambahkan lebih banyak lagi. Tapi overall buku ini cukup memberiku pemahaman tentang dunia pria yang tentunya ada persamaan dan perbedaan dengan dunia wanita. Apalagi menuju halaman akhir penulis menuliskan fakta-fakta mengenai pria yang ketika membacanya cukup menyenangkan dan buku ini diakhiri dengan quotes mengenai pria.
Dari buku ini menyadarkan saya memang pada dasarnya laki-laki lebih tertarik dengan paras wanita ketimbang kecerdasan dan kepribadiannya. Sama seperti buku, apabila covernya saja tidak menarik, laki-laki cenderung tidak ingin mengenal lebih jauh tentang perempuan tersebut. Satu quote yang saya suka dalam buku ini "Jangan pernah memercayai seorang laki-laki". Pada dasarnya laki-laki tetaplah laki-laki, hanya memikirkan hal seksual semata. Menurut saya di zaman sekarang ini sulit untuk menemukan laki-laki yang tulus.
Untuk tulisan buku ini sendiri, menurut saya sepertinya penulis terlalu terburu-buru dalam menyusun kalimat. Masih terdapat beberapa kalimat yang mungkin sulit untuk dimengerti pembaca.
Memberanikan diri menyelami buku dengan genre yang berbeda dari biasanya, hal ini tentu menciptakan pengalaman yang berbeda juga. Ada banyak sekali insight baru yang saya dapatkan dari buku ini terutama dalam memahami karakteristik manusia yang lain secara keseluruhan. Terlebih untuk memahami pria (a.k.a suami nantinya😭) supaya meminimalisir kesalahpahaman karena belum mengenal karakteristik fitrahnya.
*Aduh maaf tapi bahasanya ko kaya sok tua banget gitu ya??? 😭
“Pria dan wanita memiliki cara berpikir yang berbeda. Secara umum pria cenderung berpikir dan bertindak dengan rasio, sedangkan wanita lebih banyak menggunakan perasaan”
Extremely surface level & not comprehensive enough to answer the book's title itself. The 'book' is more like a resume gather altogether from various (not so compatible) sources, slapped into one copy. Lots of typo & layout errors, in addition. Well if you crave a more depth & analytical POVs from various topics, Timothy Beneke's Proving Manhood might be a good fit as supporting book after this shallow one as a not-ideal intro to men's world.
Thank you, Y, for lending me this book as I'm intentionally want to compare it with psychoanalysis POV. Found nothing fruitful lol.
maaf review jujur bukunya dangkal & mentah banget referensi nya juga banyak yg dari internet blog-blog gitu:( banyak typo dan kalimat yang menggantung. setiap baca point-point yg disampaikan dibuku suka mikir inimah semua manusia juga gitu gak pria doang gaksi:( jadi kaya gakberdasar:( sedih karna udah berekspektasi dgn judulnya yg menarik:((
Overall aku ok ok aja sih bacanya, cuman ini menurutku terlalu opini banget.. dan aku merasa baca blog yang disatukan jadi buku gitu.. boleh baca tapi jangan jadiin ini referensi, karena kurang cocok aja untuk jadi referensi ehehe.. thanks
Terlalu berekspektasi sama ni buku kayaknya. Bosen dan hampir pengen berenti ditengah jalan:(( baca review ni buku sebelum aku review juga dan ternyata sama. Bukunya terlalu banyak kata2 yg diulamh dan terkesan dipanjang2in.