Maman Suherman lahir di Makassar, 10 November 1965. Menempuh beragam pendidikan, namun hanya lulus dari Jurusan Kriminologi, FISIP - UI. Bertumbuh sebagai penulis selama 15 tahun (1998-2003), dari reporter hingga menjadi pemimpin redaksi di Kelompok Kompas Gramedia. Ia pernah juga menjadi Direktur Produksi hingga Managing Director (2003-2011) di Biro Iklan & Rumah Produksi Avicom.
Penggagas Panasonic Gobel Awards ini memutuskan untuk tidak berkantor lagi, dan kini menjadi "pemulung kata-kata". Sempat menjadi presenter untuk acara di KompasTV, kini ia menjadi konsultan kreatif dan No Tulen acara 'Indonesia Lawak Club' di Trans7.
Re adalah buku keempatnya bersama penerbit KPG. Sebelumnya telah terbit Matahati (2012), Bokis 1: Kisah Gelap Dunia Seleb (2012), dan Bokis 2: Potret Para Pesohor (2013).
“Yang mengaku sanggup hadapi segalanya sendiri. Diam-diam juga mengharapkan didampingi. Yang merasa sangat teguh kukuh, berlapis baja sekalian butuh penguatan, butuh dikokohkan. Yang terlihat tak pernah mengeluh. Tetap butuh dipeluk hingga luruh dan luluh. Setegar karang di lautan, pasti pernah alami kesepian. Butuh teman, meski mampu memperjuangkan hidupnya sendirian.”
“Dan, sesekali merendah: Bahagia itu sederhana. Bukan menjadi luar biasa. Tapi menemukan hal biasa dan mensyukurinya. Cinta demikianlah adanya.”
“Sekali lagi, saya termasuk percaya, uang memang segalanya. Tetapi, orang kaya bukanlah orang yang memiliki segalanya, melainkan orang yang kebutuhannya paling sedikit, dan hidupnya bertabur cinta. Cinta itu cahaya.”
“Kemenangan adalah milik orang yang berjuang. Kekalahan adalah cara Tuhan menguji kita untuk tetap berdoa dan tak berhenti berjuang.”
Selesai dalam sekali duduk. Buku Kang Maman alias Maman Suherman ini berisi kutipan-kutipan yang di beberapa bagian ada yang serupa puisi. Yang jika di baca seperti kita sedang membaca kisah diri kita sendiri, atau kisah orang-orang di sekitar kita.
Buku ini mengisahkan tentang jatuh cinta-patah hati, kesendirian-kebersamaan, kekuatan-kelemahan. jatuh-bangun. Bukan hanya itu, di buku ini juga menunjukkan betapa hebatnya kekuatan doa, dan betapa besar kasih sayang Tuhan terhadap hambanya.
Jujur saja, setelah baca, ada rasa sedih. Tapi rasa sedih itu pun seketika menguap. Kemudian timbul rasa lega. Bahwa kita tak sendirian menghadapai ujian hidup. Bahwa di luar sana mereka semua—orang-orang—sedang berjuang dalam ujiannya masing-masing.
Buku sederhana yang syarat makna. Bukan hanya tentang cinta-cintaan dan kegalauan. Lebih dari itu. Buku ini bisa dikatakan seperti buku panduan untuk menjalani hidup. Iya.. Aku menyimpulkannya seperti itu.
Rekomen banget untuk kalian baca, bagi siapa pun yang sedang jatuh cinta, patah hati, butuh teman, sedang sedih atau pun bahagia. Yang single atau pun sudah memiliki pasangan. Untuk siapa pun kalian... Buku ini bagus untuk dikonsumsi. Selamat membaca....!!
Perkara cinta emang bener, gak ada yang baru. Barangkali semuanya malah pengulangan belaka. Nah siapa yang menuliskannya tentu datang dengan sudut pandang yang berbeda. Dari situ kita bisa menilai apa yang baru. Buku semacam ini sebenarnya lagi marak belakangan. Kumpulan kutipan, puisi yang singkat dan dalam banyak hal malah cukup ringan untuk dibaca semua kalangan. Tidak ada yang jelimet dengan kata-kata mutiara atau metafora yang miskin makna. Semuanya tepat sasaran dan jujur apa adanya. Dari Kang Maman kita bisa diajak menyelusuri makna cinta, rindu, patah hati, jatuh cinta, perpisahan, pertemuan, mantan, pernikahan dan cinta sejati dalam berbagai cara. Semuanya indah rasanya. Buku yang cocok dikoleksi sekadar untuk merasa baik pada diri sendiri dan semoga malah bisa menjadi bahan contekan kamu untuk gebetan. Hehe.
Bersujudlah ke bumi Karena curhat terbaik Adalah menatap bumi Dan akan didengar oleh penghuni langit
Jangan pernah simpan seseorang di dalam hati Karena kodrat hati selalu terbolak-balik
Simpanlah ia di dalam doa Karena doa tercatat di langit
Selamanya
***
Semua puisi bertema cinta laki2 dan perempuan. Spt judulnya, puisi2 cintanya lebih banyak ttg kesepian, perpisahan, kesedihan akibat cinta. Baru enjoy baca di bagian 4 Lampiran Cinta, walopun ga ada ilustrasi, background putih polos tp ga masalah, ttep menikmati isinya soalnya semacam dikasih petuah cinta ☺️
Suka sama pilihan jenis fontnya, kayak tulisan pake kapur gitu.
Di sini Kang Maman lebih banyak ngomongin cinta antara dua orang, tentang perasaan luka, sedih, senang, hingga kelanjutan sebuah hubungan. Ditambah dengan sedikit ilustrasi, lembar berwarna, memang tren buku-buku yang banyak diterbitkan beberapa tahun belakangan.
yang mengaku sanggup hadapi segalanya sendiri diam-diam juga mengharapkan didampingi
yang merasa sangat teguh kukuh, berlapis baja sekalian butuh penguatan, butuh dikokohkan
yang terlihat tak pernah mengeluh tetap butuh dipeluk hingga luruh dan luluh
setegar karang di lautan, pasti pernah alami kesepian butuh teman, meski mampu memperjuangkan hidupnya sendirian
Untuk sesiapapun yang pernah patah hati dan sudah lupa cara tertawa lagi, bacalah buku ini. Mudah-mudahan engkau dikuatkan dengan sudut pandang yang mengagumkan tentang cinta dan perpisahan.
Setegar karang di lautan, pasti pernah alami kesepian. Butuh teman, meski mampu memperjuangkan hidupnya sendirian (pg. 18)
Adakah pernyataan tentang cinta yang baru di muka bumi ini? Rasanya tidak ada lagi. Semata pengulangan, ditambah kurangi dari itu ke itu saja, dipuitis-puitiskan, diliris-liriskan, dilirih-lirihkan (pg. 122)
Notes: Baca via Ipusnas. Halaman disesuaikan ebook.
Dibuat tersenyum dan tertawa geli saat membaca bab satu, kemudian disadarkan dan kembali diajari tentang cinta dari bab dua sampai lampiran cinta..
Satu bagian yang mungkin akan selalu diingat: "Cinta pun mengajarkan: Jangan sesekali ucapkan selamat tinggal jika masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika masih merasa sanggup dan bisa. Jangan sesekali mengatakan tidak mencintainya lagi bila masih belum dapat melupakan."
04.03.22 Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi • Maman Suherman • Regedaily (Ilustrasi) • Grasindo • 2021 •
"Cinta adalah alasan sekaligus tujuan mencinta"
Aku jatuh cinta pada tulisan Kang Maman saat membaca Re:. Kecintaanku pada tulisannya membawaku pada buku-buku karyanya yang lain. Buku ini adalah salah satunya.
"Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi". Menggelitik sekali judul buku ini, bukan? Bukan kali ini saja aku terpikat oleh judul dan desain sampul buku penulis yang satu ini. Apa yang kaupikirkan saat membaca judul buku ini? Tentang mantan kekasih? Itulah yang terjadi padaku. Kukira buku ini merupakan kumpus perihal si mantan kekasih yang jejaknya begitu tertanam dalam hati. Hm, tidak sepenuhnya salah, sih. Namun, ternyata isinya lebih dari itu.
"Hubungan cinta" yang dibahas tidak melulu soal sepasang manusia yang sedang merajut kasih dalam status "pacaran", tetapi juga dalam pernikahan. Melalui kata-kata berima yang sarat makna, penulis mengingatkan pembaca soal bagaimana menjalin hubungan dengan kekasih hati. Bagaimana cinta saling melengkapi tanpa menghilangkan identitas diri masing-masing. Bagaimana perpisahan tetap dinilai lebih baik daripada kebersamaan, demi upaya untuk tidak saling menyakiti.
Tidak hanya puisi, di bagian Lampiran Cinta, penulis menuangkan pemikirannya di balik lahirnya puisi-puisinya (yang terangkum dalam buku ini). Tidak jauh berbeda dengan buku karya Kang Maman lainnya yang sudah kubaca, kita akan menemukan pesan baik di setiap tulisannya.
Selain halaman Lampiran Cinta, pembaca akan dimanjakan oleh puisi yang ditorehkan pada lembaran berwarna dan berilustrasi. Sungguh mampu mengusir kejenuhanku! Buku ini cocok untuk kamu pencinta puisi atau buku berilustrasi. Selain itu, buku ini juga korekomendasikan untuk kamu yang baru ingin belajar atau menikmati puisi. Hati-hati jatuh hati, ya!
"Kala hati tercabik Teruslah menjadi orang baik Jika tak kau temukan orang baik Kau akan ditemukan orang baik"
"Suatu saat hubungan berakhir dan usai. Bukan berarti dua orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti."
Buku ini cocok untuk siapa pun yang ingin memahami cinta. Isinya puisi-puisi yang sangat sederhana, tapi justru di situlah kekuatannya. Puisi-puisinya seperti membantu kita mengartikan cinta dengan bahasa yang mudah diterima. Aku membacanya sambil mengangguk-angguk, seperti sedang mengiyakan, “iya, ini cinta… cinta tuh memang kayak gini.”
Ada beberapa penggal yang aku setujui seratus persen, misalnya:
Dan, di mana ada cinta, di situ ada kehidupan.
Kebalikannya, di mana ada kebencian, di situ ada kemusnahan. (lupa halaman berapa)
Sesekali aku juga senyum-senyum sendiri membaca pilihan kata si penulis. Rasanya kayak lagi digombalin. Kadang sampai bergumam, “hmm… bisa aja nih,” terus ketawa sendiri, “wkwk lebay banget ah.”
Misalnya yang ini:
Kamu, adalah semua kesimpulanku. (hal. 31)
Kan meleleh ya. Kan… apaa yaa 😌
Lalu aku mengangguk lagi di halaman lain:
Kita tidak bisa memberi cinta yang sama pada semua hati. (hal. 36)
Beberapa puisi di buku ini juga terasa seperti pengobat luka, contohnya:
Kala hati tercabik, teruslah menjadi orang baik. Jika tak kau temukan orang baik, kau akan ditemukan orang baik. (hal. 76)
Bagian yang paling aku suka adalah lampiran cinta. Di sana, penulis membahas beberapa isu seputar percintaan yang dikemas dengan sangat sederhana, tapi tanpa mengurangi esensinya. Justru terasa jujur dan membumi.
Bagus banget, deh. Rasanya nanti kalau aku sudah punya calon suami, buku ini pengin aku kasih ke dia. Biar sama-sama belajar. Biar sama-sama mengiyakan arti cinta ala penulis—yang, entah kenapa, hampir semuanya aku setujui.
Buku ini bukan novel dengan satu alur cerita, melainkan kumpulan renungan, catatan pendek, dan kisah nyata yang mengupas cinta dalam bentuk yang paling manusiawi — cinta yang tulus tapi tak berujung kepemilikan.
Melalui tulisan-tulisannya, Maman Suherman — atau akrab dikenal sebagai Kang Maman — berbicara tentang cinta yang hadir namun tak bisa bersama, tentang kenangan yang menetap meski waktu berlalu, dan tentang bagaimana seseorang bisa hidup berdampingan dengan kehilangan tanpa kehilangan jati diri.
Kang Maman menulis dengan kelembutan, menggabungkan puisi, refleksi pribadi, dan filosofi kehidupan. Setiap tulisan terasa seperti percakapan pelan antara hati dengan masa lalu — ada luka, tapi juga penerimaan.
Kelebihan Buku : -Gaya penulisan sederhana namun memiliki banyak makna yang mampu membuat pembaca merasa menenangkan dan merenungkan makna cinta, kehilangan, dan ikhlas. -Banyak kalimat yang bisa dijadikan pengingat atau refleksi pribadi -Setiap tulisan berdiri sendiri dan dilengkapi dengan ilustrasi yang mendukung.
Pesan yang Dapat Dipelajari : -Tidak semua cinta harus berakhir dengan kebersamaan. -Keikhlasan adalah bentuk cinta paling murni. -Kehilangan tak selalu berarti berakhir. -Kita boleh mencintai, tapi juga harus tahu kapan melepaskan.
Aku beri 🌟 4/5. Buku ini tidak mengajarkan cara melupakan, melainkan cara menerima bahwa beberapa hal memang hanya bisa dikenang. Ia mengajak pembaca untuk tidak menghapus, tapi menyimpan dengan tenang.
"Teman sejiwa persis sepasang sepatu. Tidak sama satu sama lain, tetapi saling melengkapi menuju satu tujuan yang sama. Jika satu hilang, yang satu tak berfungsi sempurna."
Awalnya dipenuhi puisi-puisi puitis, tapi di akhir diberikan banyak penjelasan dan contoh nyata. Menurutku masih sangat sesuai dengan keadaan kita sekarang dan sebagai pengingat tentang cinta dan patah hati. Tentang bahagia dan ketidakbahagiaan. Cocok dibaca dalam sekali duduk karena bisa langsung selesai dalam sekejap. Aku baca ini sebelum tidur ditengah malam pula. Ah, rasanya banyak motivasi juga yang meresap ke dalam jiwaku. Terima kasih bacaan ringan ini yang sudah mengajarkan aku tentang hal-hal baru dalam cinta.
Beberapa kutipan-kutipan menarik (sebenarnya ada banyak banget karena hampir semua isinya menampar diri ini, tapi aku rinciin sebagiannya aja hehe):
- Jika bad boy atau good boy yang pernah bersamamu itu tak membawamu ke pelaminan, jadikan ia sebagai sahabat, karena sahabat itu seperti bintang. Walau jauh ia bercahaya. Meski kadang menghilang, ia tetap ada. Tak mungkin dimiliki, tetapi tak bisa dilupakan. - Cinta itu setara dalam kebersamaan. Cinta itu senada dalam kesatuan. Saling seiring, bukan saling menggiring. - Kemenangan adalah milik orang yang berjuang. Kekalahan adalah cara Tuhan menguji kita untuk tetap berdoa dan tak berhenti berjuang.
🌱Buku ini, dipenuhi dengan sajak yg ber-tema-kan cinta dan segala hal yang berkaitan dengan cinta. Cocok banget untuk siapapun yang baru atau sedang belajar memahami tentang cinta2an. Termasuk tentang bagaimana perspektif dan penjabaran kemungkinan2 yang mungkin terjadi 'saat akan dan sedang berumah tangga/menikah'.
🌱Bahasanya ringan dan santai. Apalagi dilengkapi ilustrasi yang mewakili kalimat2nya membuat pembaca jadi mengikuti lembaran demi lembarannya. Dan benar saja, habis dibaca sekali duduk.
🌱Buku ini, terdiri atas 4 bab. Yang mana, bagian bab 1 sampai 3 benar-benar disajikan sesingkat dan sewarna-warni itu. Kereeeen. Kalimat-kalimatnya juga sangat relate. Sesekali belajar. Sesekali tertampar. Xixixiixixi. Lalu, saat masuk ke bab 4, barulah kita akan disajikan dengan uraian yang cukup panjang. Daaaaan, di bab ini juga menurutku banyak point-point penting yang akhirnya berhasil memenuhi catatanku. Banyak sekali perspektif yg baru aku tahu. Banyak sekali pengingat yang membuat belajar.
"Prinsip dasar. Jatuh cinta seutuhnya. Putus cinta secukupnya."
Buku ini dibagi menjadi 4 bagian: perkenalan, permasalahan, perpisahan fan nasihat.
Perkenalan berisikan puisi-puisi bucin sama pasangan. Puisinya mengelitik layaknya orang kasmaran. "Cinta menyatukan 'aku' dan 'kamu' menjadi kita, tanpa mematikan 'aku' juga 'kamu'."
Permasalahan berisikan puisi-puisi tentang galau percintaan, putus asa, sedih. "Jika menangis sangat melelahkan, untuk apa jatuh cinta?"
Perpisahan berisikan puisi-puisi putus cinta, kandasnya hubungan. "Sebelum putuskan pergi, ingatkan aku cara cepat melupakan."
Diakhiri dengan nasihat percintaan yang didasari oleh prinsip psikologi. Puisinya memiliki rima yang bagus. Pemilihan diksinya juga terlihat indah. Bacaan sekali duduk di coffee shop.
"Kebahagiaan itu sudah tergariskan. Jika memang milik kita, sesulit apa pun jalannya, seberat apa pun rintangannya, pasti akan jadi milik kita karena memang dia akan datang ke kita dan untuk kita."
Buku ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu: Prolog Bab 1: Cinta Adalah Jawabannya Bab 2: Problema Cinta Bab 3: Kandas dan Terhempas Epilog Lampiran Cinta
Tersusun dari beberapa kata penuh makna dengan topik utama tentang "cinta". Buku ini disajikan untuk siapapun yang sedang tumbuh cinta, patah hati, atau galau masalah hati, dari anak muda sampai yang sudah berumah tangga.
Membaca buku ini, pembaca akan diajak menjelajahi perihal cinta, dari suka maupun duka. Penggunaan diksi yang seringkali berima, halaman berwarna, dan ilustrasi yang sederhana, membuat buku ini menyenangkan untuk dibaca. Menurutku, buku ini bisa jadi salah satu pilihan untuk dijadikan hadiah pada orang-orang terkasih, dan tentunya diri sendiri.
.... di dalam c(i)nt(a), di dalam set(ia), cuma ada kata satu: ia. Dan jika lebih dari satu, maka cinta itu akan s(ia)-s(ia). (Hal. 156)
This poetry collection feels… overly sweet. From start to finish, it’s filled with lines that seem carefully arranged to sound beautiful, but for me, they end up too light and a little over the top. It’s like reading a series of long Instagram captions — charming and comforting, but not something that lingers deeply after you close the book.
There’s nothing wrong with this style, especially for readers who enjoy poetry that’s easy to digest without demanding much reflection. But personally, I prefer poems that carry layers of meaning or emotional weight that stays with me. Here, most verses feel like they stop at the surface: pleasant to read, but quickly forgotten.
If you’re looking for a poetry book to keep you company over coffee, or one you can pull a line or two from for your social media captions, this works. For me, though, it’s a one-time read.
Kumpulan puisi Kang Maman ini terdiri dari dua babak. Tiga bab pertama adalah puisi-puisi cinta dengan latar belakang dan ilustrasi warna-warni. Babak kedua dinamai Lampiran Cinta. Beberapa puisi terasa buat ABG yang baru jatuh cinta, namun tak kalah banyak juga puisi bernafaskan cinta yang sudah melewati proses pendewasaan. Nah, anehnya saya lebih menikmati Lampiran Cinta yang berupa tulisan-tulisan pendek. Lampiran Cinta ini seolah ingin menjelaskan Babak Pertama. Satu hal yang saya kurang sreg adalah ilustrasinya. Terasa nanggung goresan gambar yang diusung. Mungkin malah lebih baik polos sederhana dengan permainan font saja.
“Dan sesekalilah merendah :
Bahagia itu sederhana Bukan menjadi luar biasa Tapi menemukan hal biasa dan mensyukurinya
Surprise!!!!! Awalnya gak pengen baca karena takut bucin level dewa dan ngebahas masa lalu yg tak selesai kecuali dg perpisahan. Rupanyaaaaa, ini buku apik tenan! Tulisan yang menjiwa tapi sederhana. Dan jangan cuma lihat judul ya!!! Ini gak tentang dia yang sudah berubah nama jadi mantan, atau kecengan yang gak kesampaian. Ini justru tentang hidup. Pelajaran dalam membina hubungan, melibatkan Tuhan dalam setiap pilihan.
Di akhir sajak-sajak yang manis, kadang getir, kadang emosional, diakhiri dengan lembaran-lembaran catatan yang menyempurna. Aku justru lebih tertarik dengan catatannya. Dan buku ini, boleh sekali dibaca oleh mereka yang sudah menikah. Karena di dalamnya juga banyak pesan untuk mengarungi biduk rumah tangga.
Di bagian pertama buku, terasa relatable untuk semua orang, apa pun background nya (suku, ras, jenis kelamin, pandangan politik, pandangan agama/tidak beragama dst). Jadi punya ekspektasi tinggi sampai ke belakang buku.
I really really enjoyed the first part.
Tapi, masuk ke bagian Lampiran, ada beberapa hal yang ga relatable; cenderung berlawanan dengan values. :) Jadinya banyak yang ku skip. Kaya baca buku self help murni, berasa dinasihatin konselor prnikahan di KUA (belom pernah, tapi itu yang ada di bayanganku wkwk).
Overall, buku ini sedikit banyak membantu menenangkan pikiran sendiri yang carut marut (yaelah). Membantu proses berduka. Tapi, ya itu, bagian konseling pernikahan krg relatable. 😌
Jujur, memutuskan membeli buku ini karena merasa "relate" dengan judulnya. Maklum, beberapa kali ngerasain cinta yang nggak kesampean 😁.
Kupikir, buku ini bakal bikin nangis-nangis bombay. Atau bikin overthinking saking merasa "wah iya ini kisah sedihku banget." Ternyata buku ini berisi kutipan, puisi-puisi pendek, dan semacam refleksi yang ditulis agak panjang di beberapa halaman terakhir.
Kalau bicara cinta, patah hati, lika-liku pernikahan, nggak akan ada habisnya untuk jadi bahan tulisan. Tapi, bagaimana mengemasnya menjadi sesuatu yang ringan, cukup jadi hiburan, dan nggak melulu menggunakan bahasa "njelimet" apalagi sampai bisa memberikan sudut pandang yang lebih luas, itu yang sulit.
Buku ini cocok sekali untuk dibaca selagi santai. Apalagi kalau pikiran sedang mumet. Mungkin bisa sedikit mengurai benang kusut di kepala. Plusnya lagi, walaupun lebih banyak tulisan yang pendek, rasanya enggan diselesaikan dengan cepat-cepat. Mesti dinikmati setiap lembarnya :)
Baguuss. Isinya bagus bangeet. Saya suka sama bahasa yang Kang Maman pakai. Iya, dan ternyata, beliau juga menjadikan Almarhum Pak SDD sebagai inspirasinya. Bukan, bukan meniru, kok.
Isi bukunya lebih banyak bikin saya senyum-senyum sendiri. Tapi, sudah masuk ke akhir, isinya mulai menyadarkan tentang realita dari asmara yang kadang tidak selalu berakhir indah. Tapi, juga kadang ada luka.
Namun, buku ini justru mengajarkan kira untuk "let it flow" saat terjadi apa pun dalam hubungan asmara. Jangan lupa berdoa dan serahkan pada Tuhan bagaimana nasib dari asmara itu.
Ilustrasinya juga indah sekalii. Tidak begitu banyak kata, tapi ilustrasinya menambah kesan indah dan mendalam.
Pokoknya, top, deh!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Secara tampilan desain buku yang simple dan elegan, kekinian. Suka sama font yang dipakai seperti kapur tulis. Enak buat dipandang mata. It's so beautiful... Secara isi, ini adalah Sebuah buku yang sangat indah lagi menyentuh hati. Menjelaskan dengan puitis setiap peristiwa soal cinta dan pergi, soal menikah dan berpisah, soal emansipasi, Setara seiring, bukan didera dan digiring!. Bahwa setiap kejadian jumpa dan pisah itu semua tak mutlak benar atau salah. Didalam hidup ini, mari saling mengerti. Saling memahami. Semoga apa yang dibumikan terdengar di langit. Aamiin. Terimakasih kang Maman, mengajarkanku melalui puisi-puisi indahnya. Terimakasih kang Maman, karyamu tentang cinta ini akan abadi. Terimakasih kang Maman.
Buku yang nyaris kukira tentang kegalauan karena kasih tak sampai untuk dimiliki, ternyata buku ini lebih dari itu. Buku ini pengajaran untuk pembaca yang patah hati, akan patah hati, dan persiapan menikah yang akan dilalui. Buku ini berisi puisi-puisi getir, kritik dan petuah. Ada banyak yang bisa di-highlight dari buku ini, karena "berisi" dan bisa menjadi pedoman hidup, hehehe.
Salah satu kalimat di dalamnya berbicara, "...jangan sesekali mengatakan tidak mencintainya lagi bila masih belum dapat melupakannya," Hah, nyatanya pikiran kita hanya mengakali hati, tapi hati tahu satu jawaban yang benar.
Sebenarnya masih banyak lagi, apalagi menuju lembar terakhir, tapi sudahlah, nanti spoiler.
Rekomen untuk dibaca sama pecinta puisi, pujangga cinta. Bait-bait puisi Kang Maman serius sengena itu. Puisinya relate, jatuh cinta menjadi topik yang nggak pernah habis buat diulik, dari sudut pandang mana pun itu. Termasuk perasaan yang meliputinya, ditinggalkan, mengikhlaskan, berdamai dengan diri sendiri.
Kupikir sudut pandang jatuh cinta yang ditulis ini menurut sudut pandang Kang Maman sebagai laki-laki, Meskipun demikian, puisi ini tetep bisa masuk dan bisa dinikmati para kaum hawa. Tetap menyejukkan, menentramkan, ada yang bikin aku berkaca-kaca. Bait-bait panjangnya berhasil menarik aku ke wisata masa lalu, menyelami kembali perasaan yang pernah lewat itu.
Jadi banyak pelajaran yang diambil. Banyak nasihat-nasihat yang bisa dipetik. Aku jatuh cinta.
Dengan diksi yang indah, sederhana, namun sarat makna, buku ini sungguh menghadirkan ketenangan tersendiri buatku. Ada rasa hangat yang mengalir tiap membaca larik bait pada buku ini. Layout, pilihan font, ilustrasi dan warna cantik yang ditambahkan, juga membuatku betah membuka tiap lembarnya dan mendalami apa yang penulis sampaikan.
Buku ini terdiri dari Prolog, Epilog, 3 Bab utama, dan 1 Bab bonus yang masing-masing berkisah tentang jatuh cinta, kehilangan, mengikhlaskan, dan lampiran cinta. Jadi masing-masing kita—sang pecinta dapat relate dengan apa yang penulis sampaikan. Bagi yang sedang patah hati, buku ini bisa menghiburmu. Bagi yang sedang berusaha menata hati kembali untuk membangun hubungan yang baru, buku ini dapat bantu menenangkan dirimu. Bagi yang sedang bingung soal memahami cinta dan perasaan sendiri, buku ini bisa jadi salah satu sahabat terbaikmu.
Bagian yang paling aku sukai adalah Lampiran Cinta, meski tidak ada ilustrasi dan hanya dituliskan di halaman putih, bagian ini bisa membuatku mendapat insight baru tentang cinta.
Untuk teman-teman yang baru memulai membaca buku puisi, diksi indah dan sederhana dari buku ini cocok untukmu. Atau yang sedang terkena reading slump, buku ini juga cocok untuk membawa angin segar yang menenangkan hati.
'Cinta yang diridaiNya Tumbuh menjadi ibadah Cinta yang tak diridaiNya Bertunas menjadi musibah"