Jump to ratings and reviews
Rate this book

Creepy Case Club #3

Creepy Case Club: Kasus Kutukan Congklak

Rate this book
Memainkannya tidak boleh main-main.

Jani terjebak dalam kutukan permainan congklak misterius. Kutukan itu membawa Creepy Case Club ke petualangan baru. Mereka berhadapan dengan sebuah legenda tentang kerajaan purba dan cerita mengerikan yang bersumber dari permainan anak-anak.

Di saat yang sama, Jani juga berkutat dengan ketakutannya sendiri ketika harus menghadapi ibunya yang ambisius.

214 pages, Paperback

First published July 8, 2019

8 people are currently reading
50 people want to read

About the author

Rizal Iwan

13 books29 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (35%)
4 stars
46 (47%)
3 stars
16 (16%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 28 of 28 reviews
Profile Image for Aravena.
680 reviews37 followers
March 12, 2022
Buat saya, nama ‘Rizal Iwan’ sudah jadi jaminan mutu untuk buku petualangan/misteri anak-anak lokal. Di saat masa sekarang makin susah menemukan seri demikian dengan tokoh anak-anak yang realistis dan plot yang betul-betul menarik, kisah petualangan trio ‘detektif supernatural’ ciptaan beliau kian terasa bak es teh manis di tengah gersangnya musim kemarau.

Untuk judul ketiga dari ini, fokusnya bertumpu pada konsep ‘kutukan’, permainan congklak, dan pengembangan karakter Jani. Dari aspek-aspek tersebut, rasanya saya paling suka yang terakhir, soal bagaimana Jani berkutat dengan ekspektasi berlebihan dari ibunya dan belajar jujur ke berbagai orang (*Namira dan Vedi tentunya tetap hadir dengan tingkah polah dan celetukan khas masing-masing). Penyelesaian konflik tersebut juga bagus, mengena tetapi dengan pesan halus bahwa semua itu bertahap dan tidak serta-merta ‘simsalabim sekarang semuanya beres’. Saya juga senang dengan kemunculan lagi tokoh Parva dari buku kedua, yang tidak serta-merta dilupakan walau sudah pindah ke Jogja.

Untuk misteri/kasusnya sendiri, saya pribadi agak lebih suka misteri Soleram di buku pertama dan anak indigo di buku kedua. Yang ini pun sebenarnya menarik (terutama dari segi pembingkaian asal-muasal misteri melalui hikayat kerajaan fiktif), tapi ada hal-hal yang mungkin masih bisa disempurnakan lagi. Misalnya, gambaran permainan congklaknya. Saya pribadi sudah lupa aturan mainnya walau pernah diajari, sehingga deskripsi di buku ini masih terasa membingungkan. Mungkin harusnya bisa dibantu dengan selipan bagan atau visualisasi di sela-sela teks, terutama di bagian-bagian krusial saat para karakternya memainkan congklak.

Selain itu, penyelesaiannya agak terkesan antiklimaks,

Kalau untuk gaya penulisannya, seperti biasa selalu memuaskan ekspektasi. Saya rasa banyak penulis misteri atau thriller lokal dengan tokoh remaja/orang dewasa yang bisa belajar banyak dari seri Creepy Case Club ini. Walau tokoh-tokohnya anak-anak, logika berpikir dan bertindak tidak pernah dilupakan, dan penulisnya juga terlihat sangat memikirkan batasan kondisi tokoh-tokohnya dalam menuturkan alur cerita. Ini penting, karena banyak orang yang terlalu bernafsu ingin lompat dari poin plot A ke B tanpa repot-repot memikirkan bagaimana proses dari A ke B itu sendiri.

Terakhir, unsur pelengkap seperti nostalgia mainan lawas tentunya juga menyenangkan. Menarik melihat anak-anak ‘generasi gawai’ seperti Namira dkk. pertama kali berinteraksi dengan mainan-mainan dari generasi saya. Di sisi lain, adegan saat Vedi dan Namira meributkan soal pentingnya password ke markas rahasia (alias tempat nongkrong) benar-benar mengingatkan pada kenangan serupa di masa kanak-kanak. Jenis mainan akan selalu berubah, tapi gaya berpikir dan perasaan ‘menikmati dunia milik kita sendiri’ sepertinya akan selalu ada pada anak-anak generasi manapun, ya…
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 25 books198 followers
March 21, 2021
Tradisi membaca Trio Detektif sepertinya menjadi pendorong munculnya banyak penulis dan juga pembaca buku di negeri ini. Memadukan kisah detektif, petualangan, dan yang seram-seram menjadi kunci yang selalu ampuh menarik perhatian. Bahkan di buku ini pun ada markas rahasia dengan sandi rahasianya pula, khas Trio Detektif (dan peserta eh penyelidiknya di buku ini juga ada 3, minus Parva yg ada di Jogja). Tapi buku ini menarik karena dia tidak saja mengekor tradisi Trio Detektif, namun membuatnya sebagai versi lokal dengan sentuhan budaya kita.

Satu lagi, jika novel detektif anak-remaja biasanya hanya menggunakan elemen supranatural alias yang seram seram semata penarik rasa penasaran, novel ini tidak. Trio detektif kita kenal dengan judul-judulnya yang seram seperti Misteri Kuda tanpa Kepala, Misteri Danau Siluman, Misteri Bisikan Mumi; tetapi pada kebanyakan kasus, misteri-misteri itu ternyata hanya trik dan bukan sepenuhnya supranatural. Dalam Creepy Case Club ini, penulis 'melanggar tradisi' tetap memberikan porsi supranatural, bahkan sebagai pemecahan kasus.

Jika di buku yang lain kita diajak logis dengan menyimpulkan bahwa yg seram-seram itu hanya di pikiran, maka buku ini bergerak agak berbeda dengan berusaha memberikan porsi yang sama-sama besar pada elemen logis penyelidikan dan juga elemen supranatural. Seri misteri lokal yg lengkap: Misteri, sejarah, pendidikan, petualangan, detektif, dan seram semua ada.

"...penting untuk selalu menjaga keseimbangan antara yang mistis dan yang logis. Pikiran yang terbuka itu perlu, tapi jangan sampai kita jadi berpikir tanpa dasar." (hlm. 60).


Profile Image for Guguk.
1,343 reviews83 followers
December 9, 2019
Jadi inget dulu suka banget main dakon alias congklak, bahkan aku lumayan berambisi jadi juara RT kalau saja ditandingkan pas Tujuhbelasan bareng lomba makan kerupuk, balap karung, dan nangkep belut.

Ngebayangin papan di cerita kali ini, jadi lumayan kerasa serem juga o(≧▽≦)o Serem karena ada hiasan kepalanya. Dulu papan dakon di rumah terbuat dari kayu yang ringan, yang enak dipakai buat getok-getokan bersama si Beruk, adikku tercinta. (Waktu itu si Beruk kegetok dan nangis, lalu aku diaduin ke Ibu. Jadi sebaiknya memang menggunakan papan congklak untuk main congklak saja ya~ hehe.)

Yang penting juga, kali ini mereka punya

Penyelidikannya tetap seru! Juga persoalan Jani, baik di rumah maupun di sekolah...

Puas nostalgianyaa~~ (≧◡≦)
Profile Image for Dyah.
1,110 reviews63 followers
January 10, 2021
Hore! Naik kelas!
Di buku ketiga CCC ini, Namira, Jani, dan Vedi sudah jadi anak kelas 6 SD. Tadinya aku sempat khawatir mereka akan berada di kelas 5 selamanya ... 😱
.
Dilihat sekilas, buku ketiga ini lebih tebal dibandingkan buku satu dan dua. Dan IMHO, ceritanya juga lebih seru. Ceritanya, kali ini yang kena sial adalah Jani. Dia memainkan congklak kuno di sebuah museum, dan setelahnya dia kena terus menerus tertimpa kesialan.
Tokoh Jani lebih banyak dibahas di sini, termasuk tentang keluarganya dan permasalahan dalam keluarganya. Aku sangat suka dengan perkembangan karakter Jani. Penutup ceritanya sangat realistis 👍🏻
.
Omong-omong, congklak nih salah satu permainan tradisional favoritku, selain bola bekel yang juga sama-sama pakai biji keong.
.
Cerita CCC kali ini sarat muatan sejarahnya. Buat yang suka sejarah, pasti bakal senang deh.
Dulu waktu SD, pelajaran favoritmu apa nih? Kalau aku udah jelas Bahasa Inggris 😂 dan suka biologi juga, karena ada gambar-gambarnya.
.
Oh iya, ada yang tanya, apakah baca serial Creepy Case Club akan membuat anak-anak takut? Menurutku tidak, malah mungkin akan membuat anak-anak jadi pemberani.
Meskipun ada hantu-hantunya, gaya bercerita di CCC tidak menakut-nakuti. Penampakan hantunya juga ngga digambarkan menyeramkan, mengagetkan, atau bertujuan mencelakai manusia. CCC lebih menekankan ke arah misteri, petualangan, persahabatan, dan keluarga, bukan horor.
Profile Image for Visil.
21 reviews
July 12, 2019
Aku mengikuti kedua seri sebelum ini dan suka. Rasanya masih sangat jarang di Indonesia, ada buku cerita anak bergenre misteri yang menampilkan hantu sungguhan. Rizal menjajalnya dan menurut saya cukup berhasil. Karena keponakan saya benar-benar takut ketika membaca bagian awal. Sampai lari dan menutup buku, bahkan terbangun sekira jam 2 pagi dan bilang ke saya kalau dia masih terngiang sama penampakan di kamar Namira dalam Creepy Case Club #1: Kasus Nyanyian Berhantu. Tapi selayaknya anak-anak, dia penasaran juga dengan akhir cerita. Walaupun akhirnya harus dibacakan. Ya, secara keseluruhan saya suka ada buku seperti ini yang tak menabukan pembahasan soal hantu. Saya melihat yang dikedepankan justru keinginan untuk mendamaikan kengerian terhadap hantu dengan pengetahuan. Bahwa anak-anak sejak dini harusnya dibekali cara berpikir kritis dan logis. Bahwa hantu ada bukan untuk menakut-nakuti, barangkali ada pesan yang hendak disampaikan. Bahwa hal yang ga masuk logika itu mungkin ada, tetapi bukan berarti kita harus menghadapinya dengan cara di luar nalar. Pergi ke dukun apalagi mengikuti syarat2 yang enggak jelas. Dan yang pasti, buku ini mengedepankan kemandirian anak untuk menyelesaikan masalahnya.

Sedikit tentang petualangan ketiga Creepy Case Club:
Jika pada buku perdananya, Namira yang dihantui. Kemudian di buku kedua, ada Parva yang memang bisa melihat hantu. Buku ketiga, giliran Jani "Si Princess" yang kena batunya. Gara-gara melanggar aturan museum dan memainkan congklak berukir kepala manusia yang sudah sangat tua umurnya sampai-sampai petugas museum saja tidak tahu apa-apa soalnya, Jani kena kutukan.

Tapi kan permainan congklak tidak bisa dimainkan sendiri. Ya, memang Jani enggak sendirian. Dia main dengan Zahra, sahabat lamanya sebelum terlibat Creepy Case Club bersama Namira dan Vedi. Anehnya, yang kena kutukan ketiban sial beruntun hanya Jani. Sementara Zahra yang mencuri dua biji congklak malah baik-baik saja. Di sinilah, sisi lain kehidupan sang princess wanna be terungkap. Demikian juga dengan masa lalu yang tertinggal dan terlupakan dari sejarah congklak misterius itu. Dan dari sejarah congklak tersebut (yang perlu dicari tahu dan memang memancing pencarian lebih lanjut kebenarannya oleh pembaca) ternyata relevan dengan masalah Jani.

Komentar tentang buku ini:
Ada beberapa percakapan yang kalau dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari terasa terlalu dibuat-buat, enggak nyata gitu. Terlalu ideal malah. Misalnya, percakapan mesra kakak beradik Afel-Jani, dan permintaan maaf Zahra ke Jani. Tapi mungkin bagi anak2 yang membaca ini, bisa jadi pelajaran bagaimana bersikap yang baik sebagai saudara, dan cara menyampaikan minta maaf yang baik kepada teman.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for M. Fadli.
Author 8 books24 followers
October 21, 2019
#review "Kasus Kutukan Congklak"

Untuk ketiga kalinya, trio Creepy Case Club hadir dan mendapatkan tantangan baru. Bermula dengan wisata SD Baruna Vidya ke Museum Nusantara, sebuah museum yang baru dibuka untuk umum. Zahra, sahabatnya Jani menantang Jani untuk bermain dengan sebuah congklak kuno berbentuk aneh dan membawanya ke sebuah ruangan kosong. Sialnya, mereka ketahuan dan keduanya kena hukuman oleh sekolah. Ternyata kesialan tidak hanya sampai di situ. Berbagai kesialan lain menimpa hidup Jani. Apalagi ia melihat sosok anak tak kasat mata dalam mimpinya. Kedua angota Creepy Case Vlub lainnya, Namira dan Vedi merasa bahwa Jani kena kutukan dari permainan congklak antik tersebut. Misi kali ini mereka harus menghentikan kutukan itu yang ternyata membawa mereka ke aksara kuno misterius dan sebuah rahasia kerajaan yang terhapus dari sejarah.

Sepertinya sang penulis mengulang format seperti seri pertama. Ada kasus yang berasal dari benda mati, ada karakter yang terkena masalah karenanya, dan penyelidikan untuk mengembalikan semua hal kembali normal. Beda sekali dengan novel keduanya yang terfokus kepada subyek manusia. Mungkin kalau disuruh milih dari tiga novel seri Creepy Case Club, mungkin yang ini paling berkesan setelah seri yang pertama. Ada banyak lika-likunya. Mulai dari kasus dengan membawa latar permainan tradisional congklak yang akhirnya membawa mereka ke sebuah sejarah yang terlupakan. Untuk kesekian kalinya, sang penulis kembali menunjukkan kepiawaiannya membenturkan fakta dan fiksi secara asyik dan bisa dipahami pembaca anak-anak. Apalagi bermain dengan aksara Jawa Kuno.

Di novel ini jelas sekali, penulis ingin memperkenalkan karakter Jani dan keluarganya secara lebih detail. Membacanya, membuat siapa pun menaruh hati dengan kondisi Jani, apalagi setelah mengetahui bahwa mamanya sangat perfeksionis. Kalau seandainya, keluarga Jani dan konflik dengan ibunya dikaitkan dengan ratu dan dua kembar kerajaan Astapura (kalau itu fiktif yah), mungkin bisa lebih bermakna dan ada nilai tersendiri buat anak-anak.
Thumbs Up! 4/5
Profile Image for P.P. Rahayu.
Author 1 book38 followers
November 30, 2024
Creepy Case Club: Kasus Kutukan Congklak
oleh Rizal Iwan
4 dari 5 bintang

Nah, kalau untuk buku ketiga ini, catatan reaksiku di Twitter lumayan panjang. Akhirnya, di buku ketiga ini Namira dan kawan-kawan naik ke kelas 6. Enggak seperti Conan yang stuck di kelas satu SD, Rizal Iwan memastikan tokoh-tokoh dalam ceritanya ikut tumbuh. Mungkin akan menarik kalau anak-anak yang membaca buku ini punya usia yang sama dengan Namira dan kawan-kawan. mereka pasti akan relate.

Kali ini, tokoh utamanya adalah Jani. Di balik sikap queen bee-nya, Jani menyimpan rapat sikap mamanya yang selalu punya ekspektasi lebih ke Jani. Mulai dari di bidang akademik, ekstrakurikuler, hingga kepemimpinan. Jani selalu dituntut untuk menjadi yang paling sempurna.

Hari itu, Namira, Jani, Vedi, dan teman-teman mereka seangkatan pergi ke Museum Nusantara untuk melakukan study tour. Dari deskripsinya, aku pikir Museum Nusantara ini jelamaan dari Museum Nasional di kehidupan nyata. Hehe.

Nah, di sinilah kutukan congklak yang menghampiri Jani dimulai. Akibat dari kutukan yang menempel itu, Jani harus mengalami berbagai kesialan yang sungguh membebani hidupnya. Masalah pun semakin bertumpuk karena jani harus menjalani hukuman dari mamanya karena nilainya yang enggak mencapai target. Duh, gimana, dong cara nolongin Jani tanpa harus membuat mama Jani marah?

“Dalam riset, penting untuk selalu menjaga keseimbangan, antara yang mistis dan yang logis. Pikiran yang terbuka itu perlu, tapi jangan sampai kita jadi berpikir tanpa dasar.”

— Vedi, hlm. 60.


Dengan keadaan yang demikian, mau enggak mau Namira dan Vedi jadi harus bekerja esktra untuk bisa menolong Jani lepas dari kutukan congklak. Aku lupa akhirnya kisah kutukan ini berujung ke sejarah kerajaan mana. Tapi menurutku, awal mula kutukan congklak ini menarik dan seru banget buat dibaca. Jadi banyak berandai-andai soal legenda yang mungkin aja belum terungkap secara turun-temurun.

Yang aku apresiasi dari Rizal Iwan di buku ini adalah bagaimana ia juga mencoba untuk mengulas sisi lain dari masing-masing tokoh. Dari buku ini, kita jadi tahu kenapa Jani selalu mencoba jadi yang paling menonjol di manapun ia berada.

Nah, karena seseru ini, jadi mari kita lanjut ke buku berikutnya.



Profile Image for Filli.
154 reviews41 followers
April 10, 2022
SERUU!!!!

aku suka sekali membaca buku petualangan bahasa Indonesia. Membaca buku ini mengingatkanku lagi dengan seri kesukaanku waktu kecil, yaitu Lima Sekawan.

kelebihan buku ini, kita sebagai anak Indonesia relate sekali dengan budaya dan kebiasaan yang muncul. semoga besok saat anakku lebih besar, dia tertarik membaca seri ini.

kali ini, kita berkenalan dengan mainan khas Indonesia, yaitu Congklak.
sisi mistis yang muncul pun seru. ngga terlalu menyeramkan, tapi tetep jadi salah satu unsur yang aku suka hihi
Profile Image for Maria.
223 reviews1 follower
February 18, 2021
4.5 ⭐
Lebih menarik dari beberapa buku fantasteen.

Awalnya dapat rekomendasi dari seorang kalau bukunya underrated. Karena penasaran, bisa kesampaian buat baca juga salah satu bukunya.

Dan, "Wah, benar-benar sebagus ini"
Kagum banget sama tokoh-tokoh creepy case club yang pintar dan kreatif buat nyelesain masalah. Buat ukuran anak kelas 6, berani banget untuk mecahin masalah dan ngelawan kutukan misterius.

Akhirnya bisa selesai dalam waktu sehari karena rasa penasaran sama alurnya.
Puas banget setelah nyelesain.

Disisi lain, mungkin di dunia realita buat anak sebayanya enggak mungkin bisa secerdas mereka dan kemudian segampang itu menutup masalah mistis kepada orang dewasa. Rasanya benar-benar akan menambah malapetaka bila diurusi sendiri..
Profile Image for Sulhan Habibi.
809 reviews63 followers
December 23, 2023
Lebih tebal dari 2 buku sebelumnya. Perpaduan dengan kisah kerjaan masa lalu dan permainan tradisional menambah nilai CCC ini.

Semakin nggak sabar baca buku ke-4.
Profile Image for Annnnnnn .
40 reviews8 followers
February 13, 2021
Sukaaaaa! Walaupun dihadapkan dengan hal-hal mistis, namun logika mereka tetap dipakai sebagai acuan penyelesaian kasusnya. Karakternya juga menarik plus loveable 🥰
Profile Image for Truly.
2,797 reviews13 followers
February 7, 2021
Pinjam Dion.
Lumayan untuk selingan. Bagian yang memgisahkan mereka memiliki markas rahasia membuat saya teringat pada Sapta Siaga. Untuk masuk ke maskas, harus menyebutkan semacam kata rahasia terlebih dahulu.

Sebaiknya memang kita tak bermain-main dengan benda yang ada di museum. Mengingat usianya yang mungkin bisa membuat benda tersebut mudah rusak.
Profile Image for Sinatria Pringgondani.
3 reviews1 follower
January 2, 2020
Dulu tidak terekspos dengan novel anak-anak - salah satunya males karena gak ada gambar.

Jujur “Creepy Case Club” adalah novel berseri kedua yanh saya pernah baca (saya mulai baca yang berseri pada saat HP dan itu pun setelah filmnya muncul). Hahaha... ibaratnya om-om yang baru mulai baca.

Jilid ketiga ini adalah peneman saya di pesawat Yogya ke Jakarta dan saya habiskan satu buku creepy case club yang ketiga ini langsung. Karena pas baca bab kedua langsung gak bisa berhenti.

Novel ini membuat saya seolah olah turut serta dalam petualangan tersebut karena begitu real dan seru. Jarang saya pernah dibuat seperti ini jika sedang membaca sebuah novel.

Keseruan dan kenikmatan membaca buku ketiga ini membuat saya lupa akan perjalanan, dan saya bukan pembaca cepat kalo boleh jujur.

Tapi alurnya membuat saya terus menerus membuka lembaran demi lembaran karena penasaran atas cerita di dalamnya.

Kalo ditanya tentang soal hantu atau kutukan, di Indonesia sudah terlalu banyak dan silakan membaca lainnya. Beda dengan Creepy Case Club memberikan petualangan tidak hanya bagi orang dewasa namun juga untuk yang masih kecil.

Tidak memberikan rasa takut justru meningkatkan unsur petualangan dan kekompakan grup pertemanan.


Sukses selalu dan selalu ditunggu seri seri lainnya...

Profile Image for Angelina Enny.
Author 12 books8 followers
January 2, 2020


My second read in 2020: Creepy Case Club-Rahasia Kutukan Congklak

Congklak has become my favourite game since I was a kid and this story successfully led me to my childhood memories, around R.L. Stine and Alfred Hitchcock, ignited my curiousity about Astapura, one of kingdom in Majapahit era.
Profile Image for Araaaa ➹.
133 reviews11 followers
December 21, 2021
Oke jadi di buku ini kita diberi tau tentang kehidupan Jani yg cukup gk disangka. Masih SD lho 😢

Tema kali ini tentang mainan tradisional dakon atau congklak. Bentuknya antik banget, ada hiasan kepala di ujung-ujungnya. Dan mengingat si Jani dan Zahra main ini di tempat yang sepi kok ya ngeri.

Seperti biasa, bahasa yang digunakan mudah dipahami dan ringan. Ini yang kusuka dari buku2 middle grade. Untuk ending memang tidak se-'wah' itu dan tidak dijelaskan lebih lanjut tapi kupikir mungkin sudah terwakili dari hilangnya tulisan itu. Koneksi dengan hantu tidak sesering di buku ke-1 dan ke-2, tapi masih cukup enak diikuti.

Penyelesaian masalah2 yang ada di buku ini juga cukup baik dan bijak.
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
July 22, 2019
Dibandingkan dengan dua buku pendahulunya, volume ketiga Creepy Case Club ini terasa lebih serius dan berbobot, bisa jadi karena kental nuansa budaya tradisional: dolanan anak-anak, yang dalam buku ini diceritakan sudah begitu asing bagi anak-anak usia SD jaman sekarang. Selain itu, ceritanya terasa lebih mengalir meskipun pada beberapa dialognya memang terkesan cukup dewasa, agak ganjil jika diucapkan oleh anak-anak usia 11 tahun. Namun karena pergaulanku dengan anak-anak usia SD praktis 0, jadi mungkin saja memang begitu cara anak-anak SD berbicara sekarang? OK, mari tunggu cerita apalagi di buku keempat.
Profile Image for Meta Morfillah.
691 reviews24 followers
May 4, 2024
Judul: Creepy Case Club - Kasus kutukan congklak
Penulis: Rizal Iwan
Penerbit: Kiddo
Dimensi: viii+206 hlm, 13x19.5 cm, cetakan kedua Januari 2024 (edisi gramedia digital)
ISBN: 9786024811846

Semenjak memainkan congklak di Museum Nusantara, Jani tertimpa sial tak habis-habis. Hingga ia mencatat ragam kejadian aneh yang dialaminya. Ia pun meminta bantuan pada Namira dan Vedi untuk mencaritahu apakah ini ulah hantu atau sejenisnya. Vedi yang logis pun mencaritahu info detail congklak yang tak biasa itu. Hingga ia menemukan data dan menelusurinya bersama yang lain.

Ternyata itu bukan congklak biasa. Ada legenda kutukan congklak Astapura yang membawa mereka berbincang dengan Pak Mamat asal Belgia. Terkuaklah kisah kerajaan Astapura yang hilang tak bersisa dan kisah menyedihkan tentang kedua pangeran kembar. Ditambah penglihatan Parva saat video call, semakin menguatkan kisah kutukan. Namun, satu hal yang mereka yakini tentang hantu: bahwa jika hantu muncul, tandanya ada hal yang ingin dikomunikasikan dan itulah yang mereka cari tahu.

Seri ketiga CCC ini saya apresiasi sempurna sebab amat menarik penelusurannya. Membuat saya jadi tertarik dengan sejarah kerajaan yang hilang di dunia, hingga tak sempat diabadikan di negaranya sendiri. Lalu mengajak belajar membaca aksara Jawa hanacaraka, dan tentunya isu permainan tradisional yang makin tergeser dunia digital. Hingga diibaratkan di bab pertama, anak² yang asyik memegang gawai ibarat zombie.

Alurnya terasa smooth dan paling saya sukai legenda kedua pangeran. Menyedihkan tapi membuat merinding juga. Analisis 3 sahabat juga keren dalam mempelajari psikologi pangeran dan tukang tenung yang dasarnya baik. Hiburan banget sih, baca series CCC ini.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #creepycaseclub #kasuskutukancongklak #rizaliwan #fiksi #metamorfillah
Profile Image for Ayu Ratna Angela.
215 reviews10 followers
September 4, 2024
Creepy Case Club beraksi lagi!
Kali ini Namira, Vedi, dan Jani menyelidiki kasus kutukan congklak yang sepertinya menempel pada papan congklak kuno yang dimainkan Jani di Museum Anak Nusantara. Kesialan beruntun datang menimpa Jani setelah memainkan papan congklak itu, mulai dari kesialan kecil sampai yang sangat berbahaya. Hantu seorang anak laki-laki berpakaian kerajaan kuno datang menghampiri Jani di malam hari. Sebenarnya kutukan apa yang dibawa papan congklak ini? Dan bagaimana cara menghentikannya? Misteri kali ini akan membawa Creepy Case Club pada sejarah Kerajaan Astapura, kerajaan kuno yang hilang dari sejarah Nusantara.

Saya suka sekali petualangan Creepy Case Club kali ini karena walau tidak seseram buku pertama, tapi cerita kali ini dibalut dengan mitos dan fiksi sejarah yang sangat menarik. Apalagi permainan congklak juga adalah permainan favorit saya sewaktu kecil. Membaca cerita ini membuat saya jadi ingin lagi bermain congklak. Fiksi sejarah yang dibangun penulis pun sangat menarik, mencekam, dan mengerikan. Keren sekali!
Profile Image for Mare Mare.
Author 11 books1 follower
June 12, 2025
Untuk kasus di novel ini sebenarnya unik karena mengulik permainan tradisional anak-anak, hanya saja lebih menekankan sisi kehidupan Jani. Memang kasusnya lebih seru buku pertama, tapi insight tentang museum, sejarah yang terlupakan ini seru juga. Apalagi zaman sekarang anak-anak banyak yang asing dengan museum. Di akhir penyelesaian kasus aku sepakat sama Vedi yang kesel sama Namira gara-gara ga mau bocorin apa teorinya. Biasanya yang nyebelin kan si Vedi, hahaha.
Profile Image for theresia cleopatra.
167 reviews2 followers
March 13, 2025
Ini keren alurnya. mereka anak” yang pemikirannya kritis tapi masih diimbangi juga dengan fantasi. persahabatan mereka juga sangat erat 🥹 jujur, kasian sama Jani :(( emang nyata adanya orang tua yang seperti mamanya Jani 😢 we all know she just wants the best for Jani, but it’s exhausting.

btw, aku bacanya di Ipusnas yaa ^^
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,532 reviews76 followers
April 11, 2025
Makin lama cerita Creepy Case makin bagus, ya. Kali ini Trio Creepy Case berhadapan dengan kasus kutukan kesialan yang menimpa Jani setelah ia memainkan congklak kuno bernama Congklak Astapura di Museum Nusantara.

Proses penyelidikannya terasa lebih kental dari kedua buku yang sebelumnya. Kutukan imi berhubungan dengan sejarah kerajaan fiksi bernama Astapura. Keren banget gubahan dongengnya.
Profile Image for Yourloube.
8 reviews
March 22, 2026
Baca buku ini berasa ikut nostalgia ke masa kecil, yang mainnya bener - beneran mainan tradisional, contohnya; karet, galasin, bola bekel, kelereng, dan congklak.
Disini highlightnya tentang congklak yang ada dimuseum yang umurnya sudah sangat tua, yang diyakini ada "kutukan" didalamnya dan bumbu - bumbu sejarahnya yanh menjadi cerita ini makin menarik!
Profile Image for Maurina Pratiwi.
152 reviews1 follower
April 28, 2024
Meskipun agak lambat, tp detail alurnya aku suka, lebih mendewasa dan ceritanya pun lebih berisi, misterinya jg tdk mudah ditebak. Perfect 5⭐⭐⭐⭐⭐
11 reviews
February 3, 2025
Di buku ketiganya, Creepy Case Club semakin matang dalam membagikan fakta-fakta sejarah tersembunyi yang mencengangkan. Masih seru untuk dibaca semua umur
Profile Image for Devina Gunawan.
23 reviews
May 24, 2022

Once upon a time, there was a small kingdom that disappeared in Java. It was forgotten, and never written in history.
Only a few remembered it, and one proof of its existence was a cursed Congklak board.

Jani and an old friend Zahra decided to play an old Congklak board during a school trip at a museum. Nobody was supposed to touch the Congklak board, and yet the two girls decided to just go for it and play a game of Congklak.

Afterwards, weird things started happening. The always prepared and perfect Jani suddenly faced a lot of problems. And it was a series of unfortunate events every single day for some time, before Jani decided to claim that she must have been haunted. Or worse, cursed.

Meanwhile, all the little misfortunes brought up issues in Jani’s relationship with her mother. All the expectations and demands from her mother pushed Jani to the edge, while a mysterious ghost started visiting Jani at night.

So what would Jani do? What would Creepy Case Club do? Where did this curse come from?

Oh my gosh. I love this book. The relationships explored in this book, the themes, and the character development were thoroughly well written and wonderful. I adore how the background story of the curse and Jani’s life were aligned. There were hints all over.

Jani’s family was described as “Looking like royals” - or the way Jani’s mother and the queen of the old kingdom chose to do the very same thing to their children. Decide their fate. HOW CLEVER.

But most importantly, Jani’s growth as a character and a young girl made this book wholesome. It’s not just another case for Jani. It’s a catalyst to her growth and transformation.

I highly recommend this book! A precious gem. Thank you, Mas Rizal. This is a great gift.
Displaying 1 - 28 of 28 reviews