What do you think?
Rate this book


242 pages, Paperback
First published January 1, 1977
Untuk mati, orang tidak memerlukan kepandaian maupun bakat istimewa. Siapa pun dapat mati sewaktu-waktu, dengan cara yang dikehendaki atau dipilihnya. Sebaliknnya, untuk hidup orang membutuhkan keberanian, kecakapan yang kadang-kadang luar biasa.(hal.183)
Perkawinan yang semula ku pandang sebagai jalan keluar dari lingkungan kepalsuan kekeluargaan, kini kuanggap sebagai titik tujuan yang menyelamatkan diriku dari ketidakpastian menjadi bangsa apa dan bertanah air mana.
Seperti kata Lansih, kalau kami terkena pikat oleh lelaki yang baik, kami beruntung. Tetapi jika mendapatkan laki-laki yang iseng, tak berwatak dan tak bertanggung jawab, yang menderita adalah kami sendiri.
“Perkawinan bukan satu-satunya tujuan dalam hidup. Masing-masing kita wajib mencari pengisian yang sesuai dan sepadan guna mengimbangi kebutuhan jiwa. Oleh karenanya cerita manusia tidak berakhir hanya pada perkawinan. Jangan kaukira orang-orang yang telah kawin tidak mempunyai persoalan lagi dalam hidupnya.”
“Untuk mati, orang tidak memerlukan kepandaian maupun bakat yang istimewa. Siapa pun dapat mati sewaktu-waktu, dengan cara yang dikehendaki atau dipilihnya. Sebaliknya, untuk hidup, orang membutuhkan keberanian, kecakapan yang kadang-kadang luar biasa. Setiap hari banyak orang yang mati, dengan mudah tanpa usaha atau daya upaya. Tetapi setiap hari berjuta-juta orang berjuang dengan susah payah untuk hidup.”