Para malaikat di surga tak bisa hancur. Itu karena mereka tak punya tubuh dari darah dan daging yang ditinggalkan ruh saat ajal tiba. Berbeda dengan segala sesuatu di alam semesta. Di sini, semua hal bisa rusak dengan gampangnya. Bahkan, gunung pun perlahan terbang dan berakhir sebagai tanah dan pasir. Ada keburukan di alam semesta. Ada cacat di alam duniawi.
Kau tak selalu sepenuhnya memahami apa yang kau ciptakan. Misalnya, aku bisa saja menggambar atau melukis sesuatu di selembar kertas. Tapi, itu bukan berarti aku bisa memahami bagaimana rasanya menjadi gambarku itu. Lagi pula, kan gambarku tidak hidup. Dan itulah yang benar-benar aneh: Aku hidup!
Pada masa muda (percayalah, lihat umurku di profil), aku sering ikut acara-acara pemuda, misalnya LDK, retreat, atau outing. Dan biasanya, dalam acara ini seorang peserta secara rahasia ditugaskan menjadi guardian angel bagi peserta lainnya. Tugasnya untuk memperhatikan dan mencatat segala tingkah laku peserta yang “dimata-matai”nya, lalu memberikan pesan misterius kepada peserta tersebut. Pesan itu bisa berupa pujian kalau targetnya melakukan hal yang baik, dan peringatan kalau sang target melakukan kesalahan. Dan setiap peserta tidak akan pernah tahu siapa “malaikat pendamping”nya itu. Kecuali, kalau dia menyewa detektif, atau “malaikat pendamping”nya itu bermulut ember.
Tapi berbeda dengan Cecilia, dia dan malaikat pendampingnya akhirnya bisa bertemu muka dengan muka. Malaikat Ariel, begitu panggilannya, menjadi guardian angel bagi Cecilia semenjak dia lahir. Tapi, Cecilia baru mengetahui hal itu pada saat penyakit semakin mengerogoti tubuhnya. Botak, kecil, tidak bersayap pula, demikianlah wujud Malaikat Ariel. Tentu, sangat berbeda dengan bayangan kita akan wujud malaikat selama ini. Sepertinya Malaikat Ariel lebih mirip tuyul yang ada di film-film. Dalam syair lagunya, Dewi Lestari pun menuliskan “…terkadang malaikat, tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.”
Cecilia dan Malaikat Ariel terlibat dalam percakapan yang luar biasa, tentang Bumi dan Surga. Pengetahuan Malaikat Ariel sebenarnya sangatlah luas, tapi dia jadi terkesan bodoh hanya karena dia tidak bisa merasakan apa-apa. Ya, Malaikat Ariel tindak punya indra. Dia tidak tahu bagaimana rasanya kedinginan, seperti apa rasa stroberi, atau seperti apa rasanya dicubit. Namun, Dia tahu segala hal yang terjadi di Bumi karena dia adalah salah satu pancaran mata Tuhan. Bukankah Tuhan cukup kreatif menciptakan malaikat sebagai “mata-mata”-Nya? Karena menurut aku, akan terlalu ribet kalau Tuhan harus memasang sejumlah CCTV di seluruh penjuru Bumi agar bisa mengontrol apa yang terjadi di planet yang dihuni manusia ini.
Aku bisa mengerti perasaan Cecilia saat itu, bagaimana dia harus berpikir keras untuk bisa menjelaskan seperti apa rasa sakit itu kepada orang yang tidak bisa merasakan sama sekali. Tapi, hal-hal seperti itulah yang membuat percakapan mereka semakin menarik. Buat aku, malah terasa lucu daripada menyedihkan. Tentu, hanya Tuhan yang tahu seperti apa perasaanku saat menyelesaikan buku.
Apakah kalian tahu? Ternyata, Tuhan itu lebih menyukai anak-anak dari pada orang dewasa. Kenapa? Karena, anak-anak lebih senang menanyakan hal-hal yang mereka tidak ketahui, sedangkan para orang dewasa cenderung sok tahu. Aku percaya adanya Tuhan, tapi aku masih tetap banyak bertanya tentang banyak hal yang tidak kupahami tentang karya-karya Nya. (Thanks God, sisi anak-anak masih hidup dalam diriku). Misalnya, masalah penciptaan manusia. Banyak orang yang lebih percaya sama Om Darwin kalau mereka adalah keturunan kera. Memang sangat susah dicerna pikiran bagaimana “keajaiban” penciptaan itu terjadi. Seperti sihir memang. Tapi aku percaya, kalau Tuhan memang bekerja dengan cara yang ajaib dan misterius. Aku juga percaya, setiap orang punya hak untuk percaya ataupun tidak percaya. Toh, Tuhan saja tidak suka memaksa.
Lalu,bagaimana dengan sistem kerja tubuh manusia? Pernahkah terpikirkan oleh kita suatu saat lupa bernafas karena terlalu asyik baca buku? Bagaimana otak mengatur sistem saraf dalam tubuh? Kenapa kita bisa sering mengingat sesuatu, mungkin sesering kita melupakan sesuatu? Pernahkah ahli bedah otak menemukan pikiran dalam otak yang dibedahnya? Bagaimana caranya kok kita bisa tiba-tiba bangun dari tidur? (Mungkin hal ini terjadi karena ada jam beker yang ditanam di otak kita). Terus, bagaimana prosesnya makanan dan minuman bisa berubah menjadi darah dan daging. Kenapa mata mengeluarkan air mata saat menangis sedih atau bahagia. Bukankah semua hal di atas merupakan keajaiban juga? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mengantri di pikiranku yang menjadi bahan percakapan antara Cecilia dan Malaikat Ariel.
Ya begitulah, banyak hal yang tidak aku pahami, dan aku akan terus bertanya. Namun, ketika aku tidak bisa menerima penjelasan secara logika, maka aku pun menerimanya secara iman.
Jangan lupa perhatikan sekelilingmu, siapa tahu salah satu dari teman yang kamu ajak ngobrol hari ini ternyata malaikat pendampingmu.
Sebait lirik dari sebuah lagu yang tiba-tiba muncul saat mengetik ripiu ini (maaf kalau tidak lengkap, tapi setidaknya beginilah isinya):
…lebih tinggi dari langit, begitulah kasih Tuhan.
…lebih dalam dari lautan, Engkau mengasihiku.
…lebih luas dari bumi, tak terjangkau pikiranku.
Namun, semua telah Kau sediakan bagiku…
*tumben..jadi sedikit relijius. Kesambet Malaikat Ariel nih*