• Judul : Second Sister - Putri Kedua
• Penulis : Chan Ho-Kei
• Penerjemah : Reita Ariyanti
• Penyunting : Ratih Susanty & Anastasia Aemilia
• Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
• Terbit : 21 Februari 2021
• Harga : Rp 185.000,-
• Tebal : 632 halaman
• Ukuran : 13.5 × 20 cm
• Cover : Softcover
• ISBN : 9786020646572
"𝘔𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘵𝘪." (hal. 6)
Nga-Yee tidak pernah menyangka jika akan menemukan adiknya dalam kondisi tidak bernyawa selepas pulang bekerja. Saat berjalan pulang menuju apartemennya Nga-Yee melihat orang-orang tengah berkerumun. Ketika mendekati kerumunan tersebut Nga-Yee ditarik oleh tetangganya yang memberitahu Nga-Yee jika adiknya, Siu-Man, tewas karena melompat dari lantai dua puluh apartemen tempat mereka tinggal. Nga-Yee tak percaya jika adiknya bunuh diri. Selama ini Nga-Yee pikir jika kondisi adiknya telah baik-baik saja. Setelah kasus pelecehan seksual yang terjadi pada Siu-Man, Nga-Yee memang sempat khawatir dengan kondisi adiknya itu. Apalagi sebelum kejadian tersebut ibu mereka juga pergi meninggalkan mereka akibat penyakit kanker. Tapi, seiring berjalannya waktu Nga-Yee yakin jika Siu-Man telah pulih dari segala cobaan yang menerpanya. Nga-Yee menyaksikan sendiri jika adiknya bertingkah biasa saja saat ditanyai soal perasaannya. Namun, nyatanya Siu-Man memendam derita dan perih selama ini. Apalagi saat Nga-Yee tahu ada seseorang yang menyudutkan Siu-Man atas kasus pelecehan seksual yang dialaminya.
Setelah menemukan fakta jika Siu-Man bunuh diri akibat dorongan dari seseorang yang mengunggah tulisan di 𝘱𝘰𝘱𝘤𝘰𝘳𝘯, Nga-Yee bertekad untuk mencari orang tersebut. 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727 menjadi nama pengguna yang menyudutkan Siu-Man di situs daring 𝘱𝘰𝘱𝘤𝘰𝘳𝘯. 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727 menuduh Siu-Man telah berbohong atas peristiwa pelecehan seksual yang dialaminya. Siu-Man juga dituduh sebagai gadis remaja yang nakal, liar, dan perebut kekasih orang lain. Nga-Yee yang membaca postingan tersebut merasakan dendam dan amarah terhadap 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727. Berawal dari informasi rekan kerjanya di perpustakaan, Nga-Yee pada akhirnya menemukan sosok N. N merupakan seorang "detektif" dunia maya yang bisa membantu Nga-Yee menemukan identitas dari 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727. Namun, nyatanya N sendiri merupakan pribadi yang congkak dan sulit dimintai pertolongan. Nga-Yee sampai harus menguras habis tabungannya agar N mau membantu menemukan 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727. Setelah sepakat N mencoba untuk menelusuri setiap fakta yang ada di dunia maya agar dapat membawanya ke pelaku yang mendorong Siu-Man agar melakukan tindakan bunuh diri. Dapatkah N menemukan 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727? Siapa sebenarnya sosok 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727 ini?
"𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘴𝘶𝘬𝘢." (hal. 77)
Ini menjadi kali pertama bagi saya membaca novel dari penulis Hong Kong. Bagaimana biasanya literatur Asia yang terbit di Indonesia lebih banyak didominasi dari Jepang dan Korea Selatan. Namun, kali ini Gramedia Pustaka Utama mencoba memperkenalkan penulis Hong Kong kepada para pembaca di Indonesia. Memang sebelum Second Sister, Gramedia Pustaka Utama juga telah menerbitkan The Borrowed dari penulis yang sama, Chan Ho-Kei. Bagi saya tulisan Chan Ho-Kei tidak kalah apik dengan penulis-penulis dari Jepang dan Korea Selatan. Tidak hanya ceritanya yang apik novel ini pun mempunyai 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku yang tidak kalah ciamik. 𝘊𝘰𝘷𝘦𝘳 buku versi terjemahannya sendiri merupakan karya dari Martin Dima yang memang sudah tidak usah diragukan lagi. Warna hitam dan merah yang mendominasi 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya seakan menambah kesan misterius dan brutal tentang dunia maya. Ditambah potongan gambar berupa sosok bertudung yang menghadap komputer mewakili N, lalu sosok wanita berkacamata di sebelahnya merupakan Nga-Yee, dan ilustrasi gadis yang sedang memeluk lututnya digambarkan sebagai Siu-Man. Penggambaran tiga tokoh sentralnya ini semakin diperkuat dengan latar kota Hong Kong yang dipenuhi gedung pencakar langit. Sebuah 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku yang tidak hanya menarik, tapi juga bisa mewakili isi bukunya.
Second Sister memiliki tema cerita perihal dunia maya atau internet. Bagaimana di dalam dunia maya biasanya sering kali kita temukan orang-orang aneh dan gila yang bisa bersembunyi di balik akun anonim. Seperti Siu-Man yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah ditekan dan diteror oleh seseorang dengan nama 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727 yang mengunggah postingan di 𝘱𝘰𝘱𝘤𝘰𝘳𝘯 yang menyudutkan Siu-Man. Nga-Yee yang mengetahui fakta di balik kematian Siu-Man bertekad untuk mencari siapa sebenarnya sosok 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727. Di bantu seorang peretas bernama N, Nga-Yee berharap bisa mencari keadilan bagi adiknya. Cerita yang tersaji dalam novel ini terasa 𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦 dengan kehidupan di zaman sekarang. Bagaimana dunia maya seakan menjadi realitas baru bagi kehidupan kita. Nyatanya dunia maya sendiri dapat menjadi tempat yang menakutkan. Ho-Kei sukses menarasikan cerita Nga-Yee dan Siu-Man dengan amat baik. Selain sebagai penulis profesi Ho-Kei sebagai insinyur perangkat lunak pun membuat informasi tentang dunia maya terasa meyakinkan dan menguatkan jalan ceritanya.
Ada dua tokoh utama yang hadir dalam Second Sister, yaitu Nga-Yee dan N. Nga-Yee sendiri adalah kakak dari Siu-Man yang harus banting tulang untuk menghidupi kebutuhan mereka. Setelah ditinggal pergi kedua orangtuanya, Nga-Yee langsung mengambil peran sebagai kepala keluarga. Nga-Yee rela melepas mimpinya asalkan Siu-Man bisa mendapatkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Nga-Yee sendiri berprofesi sebagai pustakawan. Nga-Yee merupakan sosok pekerja keras dan mandiri, tapi sayangnya akibat tuntutan hidup yang mencekik di Hong Kong, Nga-Yee seakan lupa perannya sebagai seorang kakak yang sebenarnya. Selanjutnya ada tokoh N yang mungkin dari namanya saja sudah terdengar misterius. N merupakan seorang peretas yang menggunakan keahliannya membantu orang-orang untuk membalaskan dendam mereka. Namun, saat Nga-Yee datang meminta bantuannya untuk mencari sosok 𝘒𝘪𝘥𝘬𝘪𝘵727, N tidak bisa menolak. N sendiri merupakan pribadi yang congkak, sombong, dan seenaknya. Akan tetapi di balik sifatnya yang menyebalkan itu N tetap memiliki sisi baik di dalam dirinya. Selain dua tokoh ini ada pula tokoh Siu-Man, adik Nga-Yee, yang menjadi benang merah dalam jalan ceritanya. Siu-Man sendiri hanya hadir sepotong-sepotong dari berbagai percakapan dan ingatan yang Nga-Yee miliki. Bagi saya Ho-Kei sukses menghidupkan tokoh-tokohnya. Apalagi di awal cerita pembaca langsung disuguhi latar belakang keluarga Nga-Yee yang memang sudah harus bekerja keras sejak awal. Latar belakang ini penting dan amat berpengaruh pada jalan ceritanya. Menciptakan sesuatu yang terasa dalam dan menyentuh saat pembaca tahu apa yang dialami Nga-Yee selama ini.
Second Sister menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk narasi ceritanya. Penggunaan sudut pandang ini terasa tepat karena Ho-Kei bisa memperlihatkan sakit hati dan kehilangan Nga-Yee setelah Siu-Man tewas. Narasi yang ditulis oleh Ho-Kei terasa nyaman untuk dibaca dan diikuti. Apalagi dengan deskripsi dan detail yang luar biasa rinci. Berbagai hal yang dimasukkan dibahas dengan presisi. Mulai dari internet, perlengkapan yang digunakan N untuk meretas, hingga situasi politik yang terjadi di Hong Kong. Semuanya dibahas dengan porsi yang mengenyangkan dan penuh gizi bagi para pembacanya. Ho-Kei tidak hanya asal memasukkan sesuatu dalam jalan ceritanya, tapi ada penjelasan yang mendetail yang turut menyertainya. Hasil terjemahannya pun sangat enak untuk dibaca dengan diksi yang mumpuni. Alur ceritanya mungkin tergolong lambat dan perlahan-lahan, tapi ini bisa dibilang wajar. Ho-Kei seperti tidak ingin instan dalam meramu cerita. Meskipun lambat, namun entah kenapa saya justru malah terbuai karenanya. Mungkin karena semua unsur yang dimasukkan Ho-Kei tidak hanya sekadar jadi pelengkap, tapi malah menjadi pondasi yang menguatkan jalan ceritanya. Latar tempat kota Hong Kong pun terasa hidup dan nyata karena Ho-Kei selalu menyertakan nama tempat dan jalan yang didatangi oleh setiap tokohnya.
Permasalahan yang timbul dalam Second Sister berawal dari kasus pelecehan seksual yang dialami oleh Siu-Man. Kasus tersebut pada akhirnya berbuntut panjang hingga mendorong Siu-Man untuk mengakhiri hidupnya. Nga-Yee yang masih belum rela dengan kepergian adiknya mencoba mencari tahu dalang di balik kematian Siu-Man. Melalui kemampuan N dalam meretas Nga-Yee mencoba untuk mencari identitas orang yang telah membuat Siu-Man melakukan tindakan bunuh diri. Awalnya saya kira konfliknya cuma begitu saja, tapi ternyata konfliknya jauh lebih kompleks dari yang terlihat. Di sini Ho-Kei seakan membelitkan benang kusut dalam konfliknya. Rumit, tapi masih bisa diurai jika kita mau sabar untuk mengikutinya. Ho-Kei sukses menipu pembaca dengan konflik yang luar biasa tidak terduga. Nyatanya ini bukan hanya kasus bunuh diri, pelecehan seksual, dan perundungan, tapi lebih dari itu. Saya teramat menikmati konfliknya yang menuju akhir cerita mulai berbelok arah menuju sesuatu yang tidak terduga. Semuanya terasa masuk akal dan tidak terkesan dipaksakan. Justru Ho-Kei malah menambah intensitas keseruan dalam sebuah konflik yang rumit, tapi di situlah daya tariknya.
Menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan dan mencerahkan saat membaca Second Sister. Di sini saya tidak hanya disuguhi sebuah fiksi yang menarik, tapi ada pengetahuan baru yang saya dapatkan. Mulai dari dunia maya, perangkat komputer, hingga kehidupan masyarakat Hong Kong. Di mana ternyata Hong Kong menjadi tempat yang menyesakkan bagi penduduknya. Biaya hidup yang serba mahal dan harga properti yang selangit seakan menjadi momok yang menakutkan. Saya bisa merasakan alasan Nga-Yee yang harus banting tulang jika ingin tetap bertahan hidup di belantara kota Hong Kong. Selain itu detail-detail yang ada menjadi kelebihan dari novel ini. Detailnya tidak membuat jenuh, tapin sebaliknya menambah rasa penasaran. Banyak sekali pesan yang saya tangkap dari Second Sister. Seperti pelecehan seksual, kejamnya komentar netizen, hingga apa sebenarnya yang kita cari sebagai manusia. Second Sister seakan mengingatkan saya kembali akan dunia maya yang ternyata bisa jauh lebih berbahaya dibandingkan dunia nyata. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca, khusunya bagi penikmat literatur Asia.
"𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘢𝘯𝘦𝘩, 𝘔𝘪𝘴𝘴 𝘈𝘶. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪." (hal. 103)
"𝘚𝘦𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘯𝘨𝘦𝘵𝘳𝘦𝘯 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨---𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘬𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯. 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘦𝘬, 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘰𝘴𝘪𝘱, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘱𝘶𝘯, 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘭𝘪𝘵. 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘸𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣. 𝘗𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪." (hal. 513)
"𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘬𝘦𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘪𝘧𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘵𝘢𝘮." (hal. 607)