Buku setebal ini berhasil saya selesaikan hanya dalam hitungan dua hari! Itu sudah suatu kemajuan untuk saya yang bacanya memang lambat. Dan ini berhasil saya lakukan berkat gaya penceritaan penulis yang mengalir, dengan alur runut, dan diksi yang sederhana mudah dicerna.
Bercerita tentang Alana, gadis 18 tahun yang punya cita-cita menjadi pramugari dan terpaksa harus mengubur impiannya dalam-dalam akibat peristiwa yang traumatis, saya dibuat terhanyut sekaligus ngilu membayangkan apa yang terjadi pada diri Alana. Ide ceritanya menurut saya bagus. Gadis penuh impian, tetapi terpaksa mengalah gara-gara kehidupannya berubah drastis, dari yang sebelumnya mulus, lancar, sukses, menjadi rusak tak terkira. Poin yang saya suka di sini adalah tentang bagaimana hidup itu terus berubah. Persahabatan pun ada masanya. Orang-orang yang menurut kita dekat, mungkin di masa depan belum tentu bisa sedekat itu dan bisa jadi malah menyakiti kita dengan luka paling dalam. Kira-kira pesan itulah yang saya tangkap dari buku ini.
Namun, ada beberapa catatan yang saya sematkan untuk buku setebal 348 halaman ini. Marilah tidak saya sensor oke...
Jadi, peristiwa traumatis yang dialami Alana adalah pemerkosaan. Di sini, saya agak menyayangkan penggunaan kata pelecehan, meski pemerkosaan termasuk pelecehan berat juga, tetapi ada baiknya gunakan kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kebiadaban ini. Memang, sih, saya lihat banyak media massa yang memperhalus penggunaan kata begini, cuma mengutip salah satu pegiat perempuan: gunakanlah kata yang tepat untuk menggambarkan kebiadaban ini. Jangan diperhalus karena memang biadab.
Untuk ukuran orang yang harga dirinya dirusak, tubuhnya dijamah dan diduduki paksa alias diperkosa, entah kenapa Alana terkesan santai untuk saya. Bukan cuma Alana saja, tetapi keluarga di sekelilingnya. Menggunakan POV 1, penulis berusaha mengajak kita untuk berempati dengan kondisi Alana dengan bantuan kata 'aku'. Namun, entah mengapa pada awal-awal saja terasa kepanikan Alana. Selanjutnya saat hamil, entah kenapa ia malah memikirkan kandungannya, malah berubah-ubah pikiran saat anaknya ingin diadopsi. Maaf, saya pernah punya kenalan korban rudapaksa begini, dan sungguh, dia benci sekali tubuhnya setelah itu, depresi berat. Jangankan mikirin kandungan dan sempat nari-nari, bisa menjalani hidup selama seharian itu saja sudah untung karena pikiran selalu menjurus ke arah mengakhiri hidup sendiri. Entah bagaimana, sikap Alana yang ditunjukkan di buku ini agak mengecilkan dan meremehkan perasaan yang bakal dirasakan oleh korban pemerkosaan...
Belum lagi, reaksi orang-orang di sekelilingnya. Reaksi bapaknya mungkin wajar untuk tokoh di sini karena bapaknya memang tipe menjaga kehormatan keluarga, super patriarkis yang saya yakin bahkan menyalahkan perempuan, meski itu anak kandung sendiri, jika ada kejadian menyakitkan begini. Namun, yang paling bikin saya sebal adalah entah kenapa ibu Alana yang dalam salah satu kesempatan malah memberi motivasi atau penyemangat dengan cara membandingkan saat ia hamil Alana dalam keadaan belum siap, tetapi tetap bertahan. Bu... itu kamu hamil belum siap, tetapi sama suami sendiri, didasari cinta. Nah, ini anak kamu, Bu... diperkosa. Jangankan ngomongin cinta, siapa pula yang siap diperkosa, hah?
Benji? Lumayan baik, cuma nasihatnya sok baik. Jangan digugurkan. Lu gila... kayak apa rasanya hamil? Hamil dari laki-laki yang bikin kita trauma seumur hidup? Entahlah, menurut saya kurang masuk akal dan bukannya kagum sama tokoh Benji, saya malah pengin cubit ginjal dia. Saat hamil anak sendiri pun saat sakit saya bisa pengin nangis guling-guling, apalagi ini hamil, dari laki-laki yang bikin kita sakit, saya ga kebayang sebenci apa bakalan saya sama diri saya dan anak yang ada di dalam perut (maafkan kebrutalan saya). Meski begitu, ada kalimat yang bikin saya setuju dengan Benji: kita tidak bisa mengendalikan ucapan orang lain, tetapi kita bisa menutup kuping kita dan mengendalikan reaksi kita. Cocok banget buat saya nih.
Buat saya, mungkin lebih cocok jika sikap Alana ini dipakai untuk kisah yang bukan korban rudapaksa, mungkin hamil di luar nikah dengan pacarnya. Itu masih bisa saya tolerir, karena mungkin sebenci apa pun sama bapaknya, mungkin masih ada rasa cinta tersisa dan mungkin masih ada rasa senang saat hamil.. Kira-kira begitu tanggapan saya.
Untuk ukuran remaja berusia 18 tahun, sikap Alana ini dewasa. Saya suka, cuma ya itu, kurang masuk ke cerita. Dan saya menyayangkan karena entah kenapa sikapnya terkesan santai untuk luka sedalam ini... plus ada banyak hal-hal manis yang menurut saya seharusnya tidak ada setelah trauma dirudapaksa. Maafkan kesoktahuan saya.... Plus masalah adopsi-mengadopsi ini entah kenapa juga dianggap enteng, terutama oleh para pelakunya. Mendadak nggak jadi adopsi karena hamil, mendadak batal adopsi karena asal-usul anak. Hei... ini adopsi manusia, bukan beli kacang.
Meski begitu, ada beberapa hal yang saya suka juga pastinya dari buku ini: ibunya Alana (meski perbandingannya dia agak ngawur di beberapa bagian) karena sifatnya yang lembut dan masih tetap menerima si anak apa adanya, ditemani ke mana-mana pula. Jadi ingat mama saya sendiri.... Tokoh lain yang saya suka: Nel. Walau pertemuan mereka cuma sejenak, buat saya Nel ini lebih 'teman' daripada teman Alana yang lain seperti Glo misalnya.
Saya juga setuju sama pesan yang dibawakan penulis. Berbeda dari buku-buku remaja pada umumnya yang Friends Forever dan menurut saya sudah terlalu umum, di sini malah sebaliknya, Friends are not forever... kenyataan hidup memang pahit, tetapi itulah yang terjadi. Beberapa 'teman' malah terlihat seperti apa aslinya saat kita mengalami kesusahan.