Sebuah rahasia kelam memaksa Freya, gadis manja dan “high maintenance”, meminta bantuan ayahnya, lalu dengan terpaksa menerima nasib menyingkir ke pulau terpencil. Di sana ia harus bekerja, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Freya seumur hidupnya. Dan siapa lagi yang mengawasi Freya kalau bukan Lian, pria tampan yang sepertinya membenci Freya sejak awal? Namun Lian juga menyimpan rahasia. Dan diam-diam, ia menyadari sesuatu telah tumbuh. Cintakah? Tidak. Tidak. Jangan cinta! Dan benarkah Freya telah berhasil meninggalkan masa lalunya? Ataukah… hantu masa lalu yang kelam namun teramat memikat itu akhirnya mengejar Freya hingga ke ujung dunia, dan ia selamanya takkan pernah lepas darinya? Takluk kembali pada satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu hidup, dan sekaligus mati? Kisah ini bercerita tentang cinta. Dan nafsu. Tentang jatuh. Dan bangkit. Tentang luka dan rasa takut. Dan bagaimana menaklukkannya.
a writer, editor and translator. Joined PT Gramedia Pustaka Utama from 1993 to 2012 as a fiction editor and translator. Now work as a freelancer.
My books:
1. Superduper Cari Kata 1 2. Superduper Cari Kata 2 3.101+ Fakta Aneh tentang Hewan-Hewan 4.360 Fakta Paling Aneh, Paling Seru, Paling Keren, Paling Ajaib 5. Satu, Dua, Tiga Yuk Belajar Angka! 6. Segala Sesuatu di Sekitarku 7. Di Mana-Mana Ada Binatang 8. Hewan Jenaka 9. Ensiklopedia Ilmuwan Cilik 10. Aku Tahu Nama Hewan-Hewan Laut 11. Aku Tahu Nama Kendaraan-Kendaraan Besar 12. Good Habit: Ayo Bilang Maaf 13. Good Habit: Ayo Bilang Tolong 14. Good Habit: Ayo Bilang Permisi 15. Good Habit: Ayo Bilang Tidak 16. Good Habit: Ayo Bilang Pinjam 17. Kisah-Kisah Perjanjian Lama: Kamus Bergambar 18. Lift the Flaps Book: Aku Tahu! Kisah Alkitab #1 19. Lift the Flaps Book: Aku Tahu! Kisah Alkitab #2 20. Lift the Flaps Book: Aku Tahu! Cerita Tuhan Yesus #1 21. Lift the Flaps Book: Aku Tahu! Cerita Tuhan Yesus #2 22. Buku Mewarnaiku (3 judul) 23. Apakah Kamu Bangau 24. Apakah Kamu Platipus 25. Apakah Kamu Kanguru 26. Apakah Kamu Biawak 27. Ceritakan tentang Kota 28. Ceritakan tentang Taman 29. Ceritakan tentang Peternakan 30. Ceritakan tentang Hutan 31. Peek a Boo In The Field 32. Peek a Boo In The Jungle 33. Peek a Boo By The River 34. Peek a Boo In The Ocean 35. Peek a Boo Dinosaurs! 36. Peek a Boo At the Pole 37. Peek a Boo In the Garden 38. Peek a Boo At the Farm 39. MCA: Nabi Elia dan Elisa 40. MCA: Nuh dan Bahteranya 41. MCA: Musa Membelah Lautan 42. MCA: Adam dan Hawa 43. MCA: Kisah Kelahiran Yesus 44. MCA: Simson yang Perkasa 45. MCA: Daniel dan Ketiga Sahabatnya 46. Apakah Itu Ekormu? Di Dasar Samudera 47. Apakah Itu Ekormu? Di Kolam 48. Apakah Itu Ekormu? Di Hutan 49. Apakah Itu Ekormu? Di Taman 50. BLK: Ada 2 Dinosaurus 51. BLK: Ada 2 Bebek 52. BLK: Ada 2 Kucing 53. BLK: Ada 2 Beruang 54. Nano & Nori: Mandi Yuk! 55. Nano & Nori: Main Ular Naga Yuk! 56. Nano & Nori: Main Hujan Yuk! 57. Nano & Nori: Sekolah Yuk! 58. Fun With Colors 59. Fun With Numbers 60. Fun With A-B-C 1 61. Fun With A-B-C 2 62. Gitarku, Kekasihku with Dewa Budjana 63. Out of The Box with Kevil Aprillio 64. Crush (Cherrybelle) 65. Warung Tinggi Coffee with Rudy Widjaja 66. Secret Love 67. A Beautiful Mess
Sejujurnya aku bingung pengin kasih 2 atau 3 bintang, tapi ternyata cenderung ke 2 bintang.
Ada beberapa hal yang aku suka dari novel ini: - Permainan kata yang kaya, dan metaforanya juga bagus--diselipkan tanpa terasa berlebihan. Benar-benar natural. - Konsistensi tokoh Freya yang kekanakan dan manja (meski ada hal yang aku nggak suka, dan akan aku jelasin di bawah). - Plotnya rapi banget. Nggak ada yang "kosong". - Tulisannya juga rapi.
Yang aku kurang suka dari novel ini: - Monolog Freya. Nggak masalah sih dia mesum atau gimana, tapi sering kali nggak pas menurutku. Liat bokong Lian dikit, libido naik. Ngebayangin enaknya make out, bisa bazzzah. Dan bukan masalah mesumnya sih, tapi sering banget dia ngomong, seolah PoV 3 nggak cukup untuk ngejabarin apa yang terjadi. Kenapa nggak sekalian ke PoV 1? - Semestinya aku suka MP yang cukup dewasa begini. Tapi yang bikin aku mengernyit adalah... ini kan dari awal mau ceritain Freya-Lian yaaa... tapi kok adegan ranjang malah Freya dengan laki-laki lain, flash back pula. Berasa Lian nggak punya porsi. - Lack of chemistry di antara 2 karakter utama. - Kausalitas kebencian Lian bisa benci Freya, meski sebenarnya masuk akal.
Rasa takut selalu sanggup mengubah seseorang. Apalagi rasa takut kehilangan.
Freya benci sekali kepada papanya, meski ini adalah syarat agar papa mau membantunya, tapi Freya tak menyangka akan dibuang ke pulau antah berantah yang bahkan mungkin tak pernah ia lihat di peta. Semua ini karena lelaki dari masa lalu yang terus mengejarnya. Kalau saja ia tak berkenalan dan mencintai lelaki itu. Atau kalau saja ia mendapatkan balasan cinta dari lelaki itu. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.
Di sini Freya akan dibantu Lian -saudara jauhnya- untuk mengembangkan bisnis patung milik sang papa yang tak lagi berkembang. Meski Freya tadinya sih berharap ia akan dipercaya mengurus resor yang indah, bertemu dengan turis, alih alih mengurus patung yang sama sekali bukan bidang yang ia pahami.
Tapi ternyata mengurus segala hal tersebut tak mudah, terlebih Freya masih dibayang bayangi masa lalunya. Ia masih ragu, haruskah melangkah meninggalkan masa lalunya dengan pasti atau kembali lagi dan menjadi budak dari cintanya sendiri. Sementara itu, Freya tak sadar bahwa sebenarnya ia juga dicintai oleh lelaki lain, meski lelaki ini masih sakit hati akan perlakuan Freya di masa lalu.
Jalan mana yang akan Freya pilih? Bisakah ia menemukan kebahagiaannya?
Membaca karya ini tak urung membuat saya jadi membanding bandingkan dengan negeri para roh yang dulu pernah saya baca. Tapi um.. Ya beda jauh sih menurut saya. Yang beautiful mess ini lebih seperti... 50 shades versi lokal. Mungkin karena banyak libido dan kata hati Freya yang bertebaran di buku ini. Padahal sih kalau dari segi cerita, saya lumayan suka. Tentang wanita yang mencoba membebaskan dirinya sendiri dari anggapan orang lain, termasuk ayahnya sendiri.
Mulanya review ini mau saya awali dengan “Ini adalah karya pertama Rosi L. Simamora yang saya baca …”, tapi saya lantas teringat kalau sudah membaca Autumn Once More. Seingat saya banyak editor GPU yang menjadi kontributor buku itu, jadi kemungkinan besar saya pernah baca karya Mbak Rosi sebelumnya dong. Setelah googling sebentar, benar ternyata ada satu cerpen karya Mbak Rosi di sana. Judulnya “Senja yang Sempurna”. Sayangnya saya nggak ingat bagaimana ceritanya. Rupanya karya tersebut belum bisa meninggalkan kesan tertentu bagi saya, hehehe.
Lantas bagaimana kesan saya terhadap A Beautiful Mess ini? Coba deh dari kesan positif dulu ….
1. Saya nggak follow twitter-nya Mbak Rosi, tapi ada satu twitnya yang pernah nongol di TL dan membekas di ingatan saya (di-retweet Mbak Dinoy kalau nggak salah):
@rosimamora67: Krn kata2 adlh senjata utama penulis, bukalah kamus sesering mungkin. Pelajari kata2 baru, mk tulisanmu lebih kaya n berwarna. #WritingTips
Dan Mbak Rosi ini orangnya walk-the-talk banget. Diksi di novelnya itu … beuh … juara! Saya ini orang yang nggak malas-malas amat buka kamus (tuntutan kerjaan), tapi buanyakkk banget diksi di novel ini yang lumayan asing buat saya. Misalnya nih … merancap, bertemperasan, berkeredap, tubir, lindap, degil. Kata-kata dewa banget deh itu semua!
2. Meski setting-nya di Indonesia Timur, novel ini Batak banget dan membuka mata saya perihal budayanya. Dari yang semula nggak tahu apa-apa soal pariban, ya sekarang jadi tahu sedikit lah. Terus jadi mengerti juga bagaimana situasi keluarga Batak yang tidak punya keturunan laki-laki.
Nah, sekarang giliran kesan negatif …
1. Saya kurang suka gaya bercerita Mbak Rosi ketika hendak menekankan sesuatu. Biasanya kata yang ditekankan akan diulang tiga kali! Kali! Kali! Ya seperti ini! Ini! Ini! Dan itu berulang! Ulang! Ulang! Jadinya saya bosen! Bosen! Bosen!
2. Setiap Freya mengobrol dengan Patar itu … ya Tuhaaannn! Pengen saya skip! Benar-benar uji kesabaran! Gaya merayunya si Patar ini benar-benar nggak berkelas dan jadinya saya ikut sebel sama Freya yang meladeninya (kebanyakan sengaja supaya Lian cemburu). Mana dibilang cewek-cewek pada klepek-klepek kalau sudah kena rayuan Patar +_+
3. Saya nggak terlalu peduli sama tokoh-tokohnya. Habisnya nggak ada yang lovable. Patar-nya jelas ngeselin. Freya juga ikutan ngeselin. Alasan Lian ngambek sama Freya pun menurut saya kurang kuat dan agak kekanak-kanakan. Jadi ya memang susah untuk bisa sepenuhnya menikmati novel ini.
***
Catatan Kebahasaan 1. Hlm. 254
030259 made by Waraopea Desa Syuru US$ 2412
031267 Perahu Roh made by Wilmora US$ 2308
Yang di atas ini adalah keterangan produk patung yang dibikin Freya. Saya kurang sreg aja sama konsistensi urutannya. Mending disamain aja urutannya, misal: kode-judul patung-nama pemahat-harga.
2. Hlm. 262–263
Soal fakta-fakta tentang kepemilikan Lian akan resor itu kok agak aneh ya. Nggak ada penjelasan dari siapa pun, tetapi tiba-tiba Freya tahu akan fakta-fakta tersebut. Mungkin maksudnya pada saat itu ayah Freya menjelaskannya, tetapi hal itu nggak disebutkan sama sekali tuh. Jadi langsung masuk narasi pembeberan fakta-fakta dan kesannya Freya tahu begitu saja.
Saya juga nemu Ferya, mencap, dan mem baca (harusnya Freya, mengecap, dan membaca), tapi lupa nggak saya catat di halaman berapa. Untuk masalah kebahasaan ini nggak bisa saya bahas maksimal nih. Soalnya saya nulis review ini dalam keadaan udah nggak pegang bukunya, hehehe … v(^^)
1. Nyaris bosan dengan pertengkaran antara Freya, suara egonya dan suara libidonya. Untung si Freya nggak pake acara "gigit bibir bawah" 2. Kenapa pulau terpencilnya tak bernama ya? Padahal dari deksripsinya sudah jelas di Papua. 3. Saya suka dengan analogi bangsa Israel dan Mesir-nya. 4. Novel ini kental dengan nuansa batak, baik adat dan budayanya.
"And in the end, we were all just humans,drunk on the idea that love, only love, could heal our brokenness."
Ini tentang kisah Freyanka Alyra, gadis manja dan kaya yang harus tinggal di sebuah pulau terpencil karena ada rahasia kelam di masa lalunya. Freya berusaha untuk kabur sejauh-jauhnya dari "hantu masa lalu"nya dan menerima tantangan ayahnya untuk bekerja.
Freya kemudian bertemu dengan sosok Lian, sepupunya yang bertugas mengurus resort di pulau itu, juga bisnis patung ayahnya. Tetapi kedatangan Freya ke pulau itu bukan untuk bersenang-senang layaknya turis, tetapi dia harus bekerja itu membayar utang yang sudah dilunasi ayahnya. Utang yang membuat dia harus meminta bantuan ayahnya untuk pergi sejauh-jauhnya yang dia biasa.
Awalnya Freya datang dengan kondisi hati dan pikiran yang tidak baik, terutama kebencian kepada ayahnya. Ayah yang entah kenapa selalu berdiri berseberangan dengannya. Apalagi ayahnya benar-benar keras menyuruh Lian untuk mengawasinya di pulau itu.
Entah kenapa sejak awal Lian seakan tidak suka padanya. Lian begitu dingin, ternyata Lian pun memendam rahasia di masa lalu, yang ternyata berhubungan dengan Freya. Ya, Lian tidak pernah lupa dengan sosok Freya. Lian mengenal Freya sejak kecil, dulunya bagi Lian Freya adalah sosok penyelamatnya tetapi hal itu berubah ketika mereka dewasa.
Perlahan-lahan hubungan mereka pun mulai mencair. Freya pun mulai berubah dan bermetamorfosis menjadi wanita yang jauh lebih baik. Apalagi melihat begitu banyaknya orang yang sangat bergantung dengan bisnis patung ayahnya. Melihat sisi kemiskinan langsung didepan matanya, hal yang mungkin tidak pernah Freya bayangkan sebelumnya.
Kedekatannya dengan Bapa Andros, chef di resort Lian, membuka dirinya. Frey pun mulai belajar untuk mengalahkan rasa takut, terutama "hantu masa lalu"nya yang sering menghampiri.
Namun, ketika hantu masa lalu itu datang kembali, bagaimana hidup Freya bergulir?
Diceritakan dari sudut pandang Freya, kita diajak menyelami hati dan pikiran Freya. Bagaimana dia belajar banyak hal, mulai cinta, keluarga, nafsu hingga mengalahkan rasa takut dan berdamai dengan dirinya sendiri.
"Tidak ada pengkhianatan yang lebih buruk daripada pengkhianatan terhadap diri sendiri."
Sebagai pembaca, aku cukup menikmati kisah ini. Walau emang awalnya aku agak bosan, tapi perlahan-lahan novel ini membuatku terus membaca lagi dan lagi. Bagian yang paling kusuka adalah dongeng tentang BIS.
Sayangnya, penulis tidak terlalu mengeksplor jauh mengenai setting dari pulau terpencil ini. Tetapi lebih mengeksplor ke kondisi masyarakatnya yang masih "serba kekurangan". Disinilah, aku benar-benar bersyukur bisa hidup cukup.
Jangan kaget kalau dalam novel ini, kamu bisa menemukan ada yang namanya "suara ego" dan "suara libido" yang bermunculan disepanjang cerita yang mendukung peperangan batin dari Freya menyikapi permasalahan hidup yang menderanya. Dan ada kata-kata yang seiring berulang mungkin digunakan untuk mempertegas mengenai hal itu.
Got the book from the writer herself, that happens to be my editor at GPU. Though it started Harlequin-ish, it got better halfway to the end. People say, each book brings story differently to different person, which I must admit, pretty true. The Batak family scenes pretty much close to home. So instead of the love messages, things that touched me the most were ones about family values, failures and acceptances and of course about hope. of something better. Thank you Mbak Rosi for the beautiful story, beautiful lines--especially the ones that reminded me of my own family--and the fond memories of being around them. Can't wait to read more of your books.
❝Dan kekecewaan, seperti hal-hal kelam dan gelap lainnya, selalu dapat menemukan celah dari mana ia bisa menyelinap keluar dan menunjukkan jati dirinya. Untuk kemudian menggerogoti. Merusak. Menghancurkan.❞ —Page 127
❝Rasa takut selalu sanggup mengubah seseorang. Apalagi rasa takut kehilangan. Ditinggalkan. Dilupakan.❞ —Page 197
❝Namun, seperti luka, rasa takut adalah iblis yang tidak mengenal belas kasihan. Yang merusak. Menumbuhkan ketidakpuasan. Mematikan apa pun di luar dirinya sendiri.❞ —Page 198
❝Meninggalkanmu pun adalah cinta. Sesederhana itu.❞ —Page 209
❝The human heart is thr only thing in the world that weighs more when it's broken.❞ —Page 210
❝A beautiful mess with a horrible little secret.❞ —Page 303
❝Kita sama-sama tahu, setiap manusia harus menaklukkan rasa takutnya, dan tidak ada yang bisa melakukannya selain dirinya sendiri. Kalau kau tidak ingin dia terperangkap selamanya di masa lalunya itu, kau akan membiarkan dia menghadapi iblisnya. Sebab hanya itu satu-satunya jalan dia bisa membebaskan diri. Satu-satunya jalan dia bisa menyahuti cintamu tanpa keraguan.❞ —Page 313
❝Tidak ada pengkhianatan yang lebih buruk daripada pengkhianatan terhadap diri sendiri...❞ —Page 319-320
•••
Demi melarikan diri dari hantu masa lalunya, Freyanka Alyra terpaksa mengasingkan diri di pulau terpencil dengan bantuan ayahnya. Di sana, Freya yang super manja ditantang sang ayah untuk bekerja membangkitkan bisnis kerajinan patung yang mati suri. Di bawah pengawasan Pablo Parulian—sang sepupu jauh yang tampan namun sangat dingin—Freya pun harus melakukan sesuatu yang tidak ia suka. Apalagi dengan sikap Lian yang kelihatan membenci Freya.
Tema yang diambil sebenarnya cukup klasik, namun dikemas dengan cukup baik oleh sang penulis. Apalagi dengan tata bahasa dan pembendaharaan kata yang begitu kaya. Buku ini pun kental dengan unsur budaya Batak yang lumayan menambah wawasan pembaca.
Awalnya, aku kira buku ini akan berfokus pada cerita romansa antara Freya dan Lian. Ternyata tebakanku meleset. Interaksi dan chemistry keduanya terasa kurang. Buku ini lebih condong menceritakan upaya Freya membebaskan diri dari kelamnya masa lalu. Tentang Freya yang mendewakan nafsu dan cinta. Tapi, ini lah yang menjadi poin plus dimana kita bisa melihat sosok Freya yang perlahan mulai menaklukkan rasa takutnya dan berjalan maju. Tak hanya itu, buku ini pun menceritakan tentang konflik orang tua dan anak yang sangat relate dengan kehidupan.
Overall, aku cukup menikmati membaca buku ini. Meski dua tokoh utamanya tidak terlalu berkesan, aku suka dengan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Oh iya, monolog dalam diri Freya antara libido dan ego, mengingatkanku pada Minar dari Catatan Harian Menantu Sinting.
Freya, meminta pertolongan ayahnya untuk menyembunyikan dirinya dari seseorang. Ayahnya yang sekaligus ingin memberi pelajaran bagi putrinya, mengirimkan putrinya yang super manja, dan taunya hura-hura ke pulau terpencil, diperuntukan bekerja dan mencari uang sendiri.
Sesampainya di tempat tersebut, Freya tahu dirinya sudah dikerjai habis-habisan oleh ayahnya. Belum lagi, Lian sepupu sekaligus anak buah ayahnya, sangat sangat membenci Freya. Review
Ini novel romance yang isinya nggak sebatas romance doang. Aku suka tema bad girl yang dipasangkan dengan good boy seperti Lian. Temanya mungkin biasa, tapi cara penyajiannya sedikit berbeda. Freya benar-benar liar sekaligus jalang. Dia bisa memikat laki-laki mana pun lalu mencampakannya begitu saja. Dan Lian, dengan kesederhanaan dan rendah hatinya, bikin dua pasangan ini cocok satu sama lain.
Suka sama tulisannya yang lugas tapi indah sekali buat dibaca. Bahkan bagian-bagian dewasanya ditulis dengan indah tapi tidak sensual. Kecuali bagian-bagian dialog mesum antara ego dan libido Freya. Dialognya cukup lucu dan bikin ketawa.
Nggak hanya itu, aku suka alur Freya yang sedikit-sedikit berubah. Menjadi sosok bertanggung jawab dan mandiri serta mulai peduli dan tahu arti mencari uang untuk sesuap nasi. Disini juga berbeda. Entah lah apa yang membedakan dengan novel romance yg pernah aku baca, tapi proses yang dibutuhkan Freya untuk berubah itu nggak seperti dugaan aku. Jadi ketika baca ini, aku menantang diri sendiri buat tahu kelanjutannya.
Ending. Nggak bisa di bilang WOW sih. Tapi sukaaa .. cara Freya menyelesaikan masalah dengan Mahar, cowok pertama yang ia cintai, menjelaskan sekali bahwa beberapa bulan Freya di pulau terpencil, dia berubah. Lian cukup berani mengakui bahwa dia membenci sekaligus mencintai Freya.
Meski ini dibilang novel dewasa, aku rasa cukup aman di baca oleh remaja usia berapa pun. Karena dewasa itu hanya berupa konflik dan perangai si tokoh. Tapi pesan yang diajarkan bahwa nafsu dan cinta adalah sesuatu yang berbeda itu yang harus diperhatikan.
"Kalau begitu, bagaimana rencanamu untuk menyelamatkanku?" - Pg. 330
Novel ini adalah awal aku berkenalan dengan tulisan Kak Rosi. Warna cover dan blurbnya menarikku untuk membacanya via Gramedia Digital.
Kisah Freya & Lian barangkali sering ditemui. Freya, si gadis manja yang suka berfoya-foya ternyata menyimpan sebuah rahasia kelam. Ia meminta pertolongan bapaknya untuk melunasi hutang-hutangnya. Bapaknya yang terkesan galak namun diam-diam sangat menyayangi putrinya itu tega mengirim Freya ke sebuah pulau yang jauh. Freya harus bekerja di sana dengan seorang saudara jauhnya yang mengelola resort & kerajinan patung.
Lian, sang saudara jauh diminta pamannya untuk mengawasi putrinya yang dibilang keterlaluan manjanya. Lian yang sangat segan dan menghormati pamannya mau tidak mau menerima tugas tersebut. Ada sesuatu yang membuat Lian rindu namun benci di saat yang bersamaan ketika sang paman menyebutkan nama gadis itu. Ketika gadis itu muncul di tempatnya, Ia menjelma menjadi Lian yang dingin dan sangat menyebalkan. Setidaknya pada gadis itu.
Interaksi Lian & Freya di sini mampu membuatku senyam senyum. Lucu tapi gemes juga disaat yang bersamaan. Lebih banyak diceritakan dari sudut pandang Freya, kita bisa mengetahui secara jelas apa yang Freya pikirkan serta kebimbangan apa yang Ia alami. Sementara pada POV Lian, aku bisa merasakan bahwa Ia sebetulnya adalah laki-laki yang baik, perhatian dan penyayang, sikap dinginnya hanyalah bentuk pertahanan dirinya dari sesuatu yang berusaha dia redam. Latar belakang budaya Batak yang kental dapat menambah wawasan seputar adat Batak juga menjadi nilai plus buatku.
Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang pertama dari dua tokoh utama yakni Freya dan Lian. Alur bergerak maju mundur, setting waktu dijelaskan dengan baik, jadi gak pusing bacanya. Setting tempat di Timika, namun tidak terlalu dieksplor.
Dari segi ide cerita sih fresh menurutku, ada kultur suku Batak dimasukkan ke dalamnya, ada juga kultur budaya masyarakat di Timika dan kondisi masyarakat di sana digambarkan dengan baik oleh penulis.
Aku suka dengan tata bahasa dan cara penulisannya Tampilan Lay out cantik ada catatan kecil yang menjelaskan istilah dalam bahasa Batak yang digunakan. Ada sedikit selipan kisah dalam alkitab yang dimasukkan
Ada pesan moral yang ingin disampaikan penulis untuk menilai diri kita sendiri itu beharga, jangan takut dan memikirkan segala penilaian orang lain tentang diri kita. 'Tak kenal maka tak sayang.' Istilah ini rasanya tepat sekali untuk menggambarkan novel yang satu ini. *Awalnya aku merasa berat membaca di beberapa halaman awal. Rasanya berat saja membacanya. TAPI... Ada tapinya nih. Seiring aku bacanya, aku malah suka sekali dengan novel yang satu ini. Dan kak Rosi otomatis jadi salah satu penulis favoritku. *Kita tidak bisa menilai orang lain hanya dari apa yang kita lihat.
Konflik bisa dibilang berat, bukan hanya kisah cinta tapi penilaian atas diri sendiri, konflik dengan orang tua.
A Beautiful Mess ini novel Metropop peramaku. Ditulis oleh Rosi Simamora dan seperti labelnya, kisah-kisah dalam Metropo memang berangkat dari sudut pandang masyarakat urban kelas menengah.
Freya, si tokoh utama, adalah anak dari pengusaha Batak milyuner yang dikirim bapaknya sendiri ke Timika buat ngurusin bisnis patung si bapak. Intinya itu. Jadi, novel ini berlatar budaya campuran antara Batak dan Papua. Meski tipis-tipis, tapi menurutku cukup untuk memberikan konteks interaksi tiap tokohnya sehari-hari.
Buatku yang sejauh ini lebih banyak baca novel berlatar pedesaan, amat menarik ternyata membaca bagaimana desa dinarasikan melalui sudut pandang tokoh urban menengah ke atas. Meski awalnya aku jengah banget dengan si tokoh utama dan berbagai kepongahan pandangannya soal desa dan remote area, tapi lama-lama nggak jadi masalah karena penulisnya, Rosi Simamora, di akhir memberikan penyeimbang bahwa ujung-ujungnya si tokoh utama ini adalah mb² metropolitan tobat.
Pada akhirnya aku terhibur dan menikmati novel roman renyah ini. Awalnya kupikir bakalan bosan, eh malah berakhir reflektif jebul karena aku merasa punya banyak kesamaan pengalaman dalam babagan cinta dengan si tokoh utama. Meski ya nggak plek-ngetiplek. Hyungalah jebul aku ya cah cinta.
I read this a while ago when I was much younger and I remember liking it back then. Now when I re-read it, I'm 26 years old, the same age with the main character, Freyanka Alyra. When I read it again, I have learned about childhood trauma and understand what makes Freya, Freya. I understand better why she chose things the way she did. I understand better of her dealing with her demons. I understand better because I can relate to her better too.
The only downside is the lack of emphasis on the importance of Freya saving herself instead of letting Lian doing so (through the statue business that needs to be taken care of and also towards the end within their conversation). Men saving women narrative should have no more place in this world to support women empowerment and gender equality.
Demi melepaskan diri dari jeratan masa lalu kelamnya, Freya si gadis manja bergelimang harta, meminta bantuan sang papa untuk bersembunyi di suatu tempat. Ia kemudian dikirim ke pulau terpencil di bawah pengawasan Lian, lelaki dingin yang sepertinya membenci Freya sejak awal.
***
Cover dan layout-nya cute. Rangkaian ceritanya menyihir sejak paragraf pertama. Suara kepala dan tingkah Freya tak jarang menimbulkan tawa. Rahasia demi rahasia yang walaupun mudah ditebak, dikupas perlahan dan terkuak di waktu yang tepat. Sisi kelam dan rapuh dalam jiwa Freya dibalik sikap masa bodoh, ceria, dan seenaknya, diramu dengan pas pula. Pesan yang hendak disampaikan penulis juga kuat dan mengena. Empat bintang.
membaca ini bikin nambah kosa kata. cukup banyak kosa kata baru yang aku dapetin, misalnya meracap, pongah, bertemperasaan, pias, kenes, impoten.
tidak ada karakter yang membekas di hati aku. di beberapa bagian freya terkesan annoying banget (eh tapi [spoiler] ), liam juga bagiku kurang ada aksi dan agak kaku ya, tapi kekakuannya(?) ini bukan kaku yang bikin aku suka, ehehe.
Entahlah. Saya hanya nggak dapat sense of complex emotional nya Freya dan Lian. Di pikiran saya, chemistry dua tokoh utama itu masih ngawang dan serba abu abu. Singkat kata, Freya dan Lian nggak cukup berkesan untuk seorang tokoh fiksi. Bukan cuma penokohannya, jalan ceritanya pun terasa kayak film film FTV. Jadi buat saya, semuanya terasa ngawang dan (meminjam istilah anak jaman sekarang) kentang alias nanggung.
Masih enak dibaca dan tulisannya nggak terlalu vulgar kok, bahkan cenderung puitis Tapi ya gitu, ga ngasih kesan apa2 ke gue hehe Klimaksnya juga ga berasa Meski begitu, cukup nambah wawasan ttg budaya Batak nih Tapi masih nggak paham sama upacara sidi itu gimana Itu si ceweknya beneran dikelilingi cowok2 gitu trus digoda-godain gtu? Kok ya serem ya 😂😂😂
hadeeeeehhhh. cuma itu ekspresi yang bisa saya ungkapkan begitu selesai membaca buku ini. satu petuah untuk tokoh utama kita Nona Freya tersayang. Non, iPhone itu bisa pake password, loh. biar ga sembarang orang bisa buka. sekian dan terima kasih.
Diksinya indah, tapi substansinya kosong. Plotnya tidak bergerak tapi di 3-5 bab terakhir terasa seperti tergesa-gesa dan banyak sekali hal yang tiba-tiba. Amat sangat disayangkan mengingat ini naskah yang cukup rapi.
Well-written, super witty, thought-provoking, dan berbeda. Cerita yang cantik, sekaligus rapuh. Nggak suka ceritanya, tapi tetap mengagumi gaya menulis Rosi.
Tema gadis high maintenance yang seumur hidupnya cuma kenal foya-foya harus bekerja keras di bawah pengawasan pria ganteng yang super dingin.
Yang unik dan lucunya di novel ini adalah si tokoh perempuannya, Freya memiliki suara-suara di kepalanya, yaitu suara libido dan suara ego. Namun, karena keseringan juga jadinya agak sedikit membosankan dan sedikit terganggu dengan kemunculan suara-suara di kepala Freya (coba saja di kurangi sedikit itensitas dialognya yang nggak penting).
Untuk karakter Lian, pria dingin-judes-sinis tapi cakep selangit yang berpotensi bikin para perempuan isap jempol. Hanya saja yang sangat aku sayangkan chemistry-nya dengan Freya kurang nendang. Percikan-percikan romance di antara mereka jadinya terasa kaku.
Novel metropop layaknya novel Harlequin bagi saya yang memang penggemar novel bergenre romantis seperti ini. Pada awalnya saya mengharapkan lebih dengan alur kisah Freya dan Lian ini. Kisah yang tersisip sedikit banyak tentang budaya Batak ini tentu menarik minat saya dengan cepat. Freya seorang perempuan cantik anak seorang milyuner terkenal di kalangannya, hidup serba berkecukupan, namun pada akhirnya harus menghentikan kesombongannya sendiri. Freya yang sangat mengharapkan kasih sayang ayahnya, malah tumbuh menjadi seorang anak yang pembelot, suka memberontak dan hidup sesukanya. Di usianya yang masih dua puluhan, akhirnya Freya merasakan bahwa dirinya makin terpuruk dan berakhir dengan meminta bantuan ayahnya sendiri, setelah terjerumus dengan kisah percintaan dewasanya yang membingungkan.
Richard, ayah Freya, tentu saja tetap membantu putrinya, namun dengan syarat Freya harus bekerja! Dengan terpaksa Freya memenuhi persyaratan ayahnya dan membawa dirinya ke ujung Indonesia untuk bekerja dan juga melarikan diri dari kisah cintanya.
Di dunia barunya, Freya harus berhadapan dengan Lian, seorang sepupu sanak jauhnya, yang tergambar sangat tampan dan keren. Lian memiliki dendam khusus kepada Freya yang membuatnya bersikap dingin terhadap wanita itu. Namun, dari waktu ke waktu perasaan Lian yang sesungguhnya dapat diketahui pembaca, dan apa yang mendasari sikap dinginnya tersebut.
Di sela kebersamaan mereka, Freya yang masih tetap murung membuat Lian merasa heran dan juga penasaran, namun kedatangan sepupu Lian, Patar, sang don juan yang dapat merayu setiap wanita, membuat Lian semakin kelimpungan terhadap perasaannya sendiri. Dan Freya menjadi lebih bahagia dengan adanya Patar! Freya juga tidak begitu menyadari bagaimana perasaan Lian terhadapnya, perasaannya kepada Lian memang terasa sejak pertama cerita ini di mulai, namun pada akhirnya siapa yang akan Freya pilih, Lian atau Patar? Atau bayangan masa lalunya yang akhirnya dapat mencari keberadaannya hingga keujung dunia sekalipun?
Sebagaimanapun menariknya, seperti yang saya katakan di atas, saya mengharapkan lebih. Perasaan yang digambarkan lebih ke arah hubungan Freya dengan bayangan masa lalunya yang begitu mendalam sehingga saya sulit merasakan perasaan Freya yang sesungguhnya terhadap pilihannya. Saya mengerti mengenai cinta sejati yang dimaksudkan Freya, namun hanya eksplisit, tidak langsung ditunjukkan dan disebutkan dengan nyata dan jelas, sehingga saya harus meyakinkan diri saya sendiri bahwa Freya akhirnya "benar-benar" menemukan cinta sejatinya.
Kalau masalah penulisan, saya sangat menyukainya, membacanya dalam dua hari dengan buku yang lumayan tebal itu menurut saya, dan dapat saya buktikan bahwa saya menikmati setiap kata yang ditulis oleh pengarang, dan adanya ilustrasi di setiap bab menambahkan keistimewaan buku ini. Saya juga sangat menyukai penggalan-penggalan kata mutiara/kutipan yang muncul di setiap babnya. Salah satunya dari Michael Xavier (halaman 210), "The human heart is the only thing in this world that weighs more when it's broken."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Banyak rahasia dalam A Beautiful Mess. Sabar-sabarlah membacanya, karena penulis akan membuka rahasia-rahasia dalam kisah ini secara perlahan. Satu persatu. Beberapa berkata bahwa A Beautiful Mess memiliki alur yang lambat. Saya sih fine-fine saja. Karena apa? Karena ahaha menurut saya, Rindu-nya Tere Liye masih memegang juara dalam alur paliiiing lambat dari buku yang pernah saya baca :p
Lian dan Freya memiliki rahasia masing-masing. Pertama, Lian. Awalnya Lian sangat terpesona dengan Freya. Ketika itu, Lian kecil sedang berduka karena ibunya meninggal. Di pemakaman, Freya kecil datang bersama Ayahnya. Freya kecil menggenggam tangan Lian kecil, mungkin Freya kecil melakukannya secara tidak sengaja. Bagi Lian, genggaman tangan itu sangat berarti. Sejak itu Lian terpesona dengan Freya. Namun, bertahun-tahun kemudian rasa pesona Lian berubah menjadi rasa benci terhadap Freya. Kedua, Freya. Freya merasa tidak mengenal Lian sama sekali. Yang ia tahu, Lian merupakan seseorang yang ditugaskan Ayahnya untuk mengawasinya di pulau terpencil. Freya merasa sebal terhadap Lian yang sangat kaku. Tapi, di satu sisi dia juga harus menahan nafsunya untuk mengakui bahwa Lian sangat memikat. Dari luar, Freya merupakan gadis yang sangat high-maintenance, manja dan menyebalkan. Tapi, sesungguhnya Freya sangat rapuh.
Karakter Freya ini nyebelinnya memang juara ya. Apalagi saat Lian menjatuhkan "bom pertama" dan "bom kedua" buat Freya. Buset, langsung pundung dia xD. Monolog Freya dengan dirinya sendiri itu gengges banget sih haha. Monolognya tentang nafsu melulu masaaa. Tapi ya itu, ketika penulis menceritakan sampai sisi rapuhnya Freya, langsung deh bawaannya simpati. *hug Freya* Lian dengan sifat pekerja kerasnya itu lumayan bikin hati luluh lantah. Apalagi saat Lian membantu Freya ketika ada inspeksi mendadak dari Ayah Freya. Uwohhh... Lian berkorban banget pokoknya. Bikin melting :p Lalu ada si Patar. Patar nih perusak banget sih demi apapun. Sok iyeee.. -_-
Kalau menurut saya, bagian menarik dari A Beautiful Mess adalah ketika Freya mengalami konflik batin dengan dirinya sendiri. Saat dia berani melangkah maju ke masa depan meninggalkan masa lalu yang salah. Dimana masa lalunya pun tidak begitu saja rela melepas Freya pergi, berkali-kali Freya gagal dan kembali ke masa lalunya. Hingga di suatu titik, akhirnya dia sadar bahwa dia lelah dengan semua itu. Dan ya akhirnya dia benar-benar berani melangkah, walaupun benar-benar tidak mudah.
Sudah lama gue nggak baca novel bergenre metropop. Ya, selain karena penulis favorit gue belum ngeluarin tulisan baru. Gue juga lagi suka ngikutin fiksi sejarah. Gue yang saat itu lagi pulang kampung pun nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk meminjam komik di tempat langganan. Sebagai selingan, gue meminjam novel ini dan mumpung lagi ingat sama reading challenge yang ternyata banyak gue ikutin. Ha!
Novel ini sebenernya tipikal metropop kebanyakan. Dengan cerita si nona kaya cantik tapi sengak yang dihukum orang tuanya karena bandelnya nggak ketulungan. Yah, ceritanya dimulai dari situ.
Freya, seorang gadis keturunan Batak yang bisa bikin para pria mabuk kepayang dihukum oleh ayahnya untuk pergi ke pulau terpencil dan melakukan “kerja rodi”. Ya, begitulah menurut Freya. Hingga akhirnya, di sana dia bertemu dengan Lian. Pria super seksi dengan badan yang sudah pasti akan lolos uji model L-Men. Begitulah kurang lebih gambaran yang gue dapet saat baca novel ini.
Suka sih sama setting pulau kecil yang pastinya wah banget ya kalau dijadiin FTV. Gaya bahasanya pun udah lumayan enak untuk ukuran pengarang baru. Not too bad. Ada juga beberapa bayangan adegan ehm ehm yang cukup bikin panas dingin. Walaupun, banyak poin yang menurut gue agak dipaksakan. Seperti misalnya, Freya dan Lian yang bahkan tidak terlibat suatu “skandal” apapun entah kenapa tiba-tiba saling tertarik satu sama lain. Lalu, alasan Lian membeci Freya selama ini menurut gue itu sangat childish jika dibandingkan dengan sifat dan pribadi Lian.
Freya, gadis yang memiliki masa lalu kelam, yang terlibat cinta terlarang dengan seorang pria bernama Mahar. Freya hidup manja, dengan paras cantiknya, Ia merasa dipuja oleh setiap laki-laki yang melihatnya. Sampai pada suatu titik, Ia sudah capek harus menjadi perempuan bayang-bayang Mahar, sementara Mahar memanfaatkan dirinya untuk memuaskan nafsunya. Pergi Ke suatu pulau terpencil dan bertemu dengan sepupunya Lian, Feeya diperhadapkan untuk harus bekerja mengurus hal yang menurutnya tidak penting, gudang penjualan patung. Bagaimana akhirnya Lian bisa membawa Freya kembali bersinar? Kalian harus cari tau sendiri jawabannya. Novel ini di awal bab sangat membosankan. Banyak plot yang menggambarkan peperangan batin Freya akan suatu hal- saya sebagai pembaca- tidak tau itu karena apa. Bahasa nya juga sangat bertele-tele. Terdapat Typo beberapa, seperti lavendel (bukannya seharusnya lavender ya?) Untunglah di pertengahan bab, penulis mulai menceritakan apa masalah yang dihadapi oleh Freya. Dan penggambaran kemiskinan di pulau terkecil itu membuat saya-sebagai pembaca- merasa sangat beruntung dengan hidup yang saya punya. Novel ini juga mengajarkan bagaimana seorang perempuan yang terjebak di masa lalu nya yang kelam bisa kembali menemukan tujuan hidup nya. Sayang, ending yang kurang greget ngebuat saya cukup kecewa. untuk hal tersebut, 3 bintang dari 5 saya berikan untuk novel ini. selamat membaca!