“Ia pencerita yang dingin, mengajak kita mengintip dalam sunyi. Keheningan yang mencekam, yang disampaikan oleh cerita yang nyaris tanpa dialog, tapi kemudian sejenis dentum bisa datang menghantam kapan saja. Bahkan di cerita seperti Dua Perempuan di Satu Rumah, dentum itu menjadi teror dan horor.” - Eka Kurniawan
“Jika bahasa bermula dari kata, maka susastra bermula dari bahasa. Tetapi bahasa tidak akan menjadi susastra jika tak mampu menyeruak dari keberbahasaan mapan nan mati, tetapi masih dipakai juga sebagai mayat hidup yang disebut zombie - itulah yang membuat bahasa susastra menghidupkan kembali kata demi kata dengan pembermaknaan baru. Itulah yang dilakukan Cyntha Hariadi dengan Manifesto Flora.” - Seno Gumira Ajidarma
CYNTHA HARIADI adalah penulis lepas di Jakarta. Buku pertamanya Ibu Mendulang Anak Berlari merupakan pemenang III Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 dan salah satu dari 5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Kumpulan cerita pendek ini adalah bukunya yang kedua.
Saya pernah baca satu pendapat bahwa menulis cerita pendek lebih sulit daripada cerita panjang macam novel. Mungkin bisa jadi iya. Saya beruntung sebagai penikmat cerpen lokal Indonesia, banyak sekali karya kumcer yang bagus sekali yang sudah saya baca. Tapi pertanyaannya adalah mengapa baru sekarang membaca buku dengan karya sebagus ini. Terlambat beberapa tahun. Tiap ceritanya adalah contoh sempurna bagaimana kisah seharusnya dituturkan. Juga bisa dibilang sangat layak merepresentasikan cerita keluarga di negara ini untuk selanjutnya diterjemahkan ke bahasa lain untuk dibaca pembaca dunia yang lebih luas. Tokoh-tokohnya seakan meneror lekat bawah sadar dan membuat gelisah tiap membaca satu kisahnya. Sudah jelas ini jadi satu dari yang terbaik sepanjang tahun-tahun saya membaca. @Cyntahariadi jelas penulis puisi yang merangkai cerita. Berikut saya bagikan beberapa kalimat yang saya suka dari buku ini :
(1) “Dan mata ibunya, paling ia takuti. Sepasang jendela yang dipagari besi dan ditutupi tirai yang makin lama semakin menguning”
(2) “Pintalan kabut yang menyelubungi matanya berubah menjadi hujan dan ia menangis tersedu-sedu di ruang tamu.”
(3) “Ia cabuti gumpalan ilalang yang bersarang di dalam kepalanya”
(4) “Kalian adalah buah-buah pohon Ibu, serupa tapi tak sama, sejiwa hanya beda warna. Aku adalah akar yang tak pernah muncul ke permukaan tanah tapi terus mengakar sedalam-dalamnya agar kalian tidak karam dan aku tak terjaga sepanjang malam.”
(5) “Ketika kita bisa dihubungi di mana saja, pulang menjadi tujuan terakhir, bukan utama. Kapan terakhir kali aku gembira mendengar telepon rumah berdering?”
*** Beberapa waktu lalu saya mengirim pesan ucapan terima kasih karena menuliskan buku yang bagus ini.
Balasan Bu Cyntha singkat seperti ini : “Goes both ways, so glad the book find its readers”
Semoga buku ini juga menemui kalian, pembacanya yang lain.
Bisa jadi buku ini akan menjadi kumcer terbaik yang pernah kubaca sepanjang tahun ini, walau sekarang baru bulan April menjelang Mei, dan itu artinya masih ada waktu tujuh bulan bagiku untuk membaca kumcer2 lainnya yang mungkin lebih bagus. Tapi aku ragu. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada cerita2 karangan Cyntha Hariadi ini. Gaya berbahasa, alur cerita, pilihan kata2, semua sesuai selera. Bedalah pokoknya dengan beberapa kumcer yang pernah kubaca, yang kadar sastranya berlebihanlah, atau yang dibuka dengan kalimat2 rada misterius tapi ternyata klimaksnya biasa ajalah, terlalu mellowlah, pokoknya kalau nggak kurang, biasanya akan berlebihan. Jarang yang pas.
Pertama kali saya tahu ada penulis ini adalah di acara bincang buku Kineruku, 7 April. Saya iseng aja ikutan acara diskusi bukunya, tanpa pernah baca buku itu sebelumnya.
Trus, selama sesi diskusi kok kayaknya bukunya seru gini ya? Pada akhirnya saya jadi ikutan beli. Sebenarnya pengarangnya sudah membuat 2 buku. Tapi yang saya beli yang Manifesto Flora dulu aja.
Soalnya yang satu lagi kumpulan puisi, kalau Manifesto Flora isinya kumpulan cerpen. Biasanya kalau puisi susah saya mengerti.
Dari peserta diskusi, ada komentar tentang buku ini yang juga saya rasakan: tokoh-tokoh yang ada dalam cerita pendek ini seolah seperti orang-orang yang beneran ada. Tapi orang-orangnya, kalau kita tidak kenal dan hanya lihat dari luar saja, akan seperti orang yang biasa kita lihat di sekitaran kompleks rumah kita. Jadi membaca kumpulan cerpen ini seperti mengenal orang tersebut dari dalam, memahami pergolakan emosinya.
Apalagi ceritanya ini minim dialog. Jadinya kita seperti sedang mendengarkan orang tersebut sedang menuturkan kisah hidupnya, hanya untuk kita, di sebuah ruang yang sepi.
Ngomong-ngomong, kebanyakan ceritanya ini nuansanya muram. Ada yang ditinggal suami, ada yang merebut suami, ada yang disiksa anggota keluarga, macam-macam lah variasi tema keluarganya. Ada cerita tentang mereka yang ditinggalkan, ada juga cerita tentang perjumpaan kembali.
Saya membayangkan mungkin inspirasi cerpen ini berasal dari pengamatan terhadap orang-orang yang sekedar lalu lalang di hadapan kita. Sambil mengamati, kita menduga-duga. Apa yang sedang dia pikirkan ya? Apa yang akan dia temui ketika dia pulang ke rumah? Masalah apa yang sedang dia hadapi?
Dari semua cerpen yang ada, saya suka cerpen "Dua Perempuan Di Satu Rumah", "Tante Tati dan Putrinya, Temanku", "Bekas Teman Baikku", "Tuan dan Nyonya di Jalan Abadi", dan "Apa Yang Kau Tunggu, Ny. Liem?"
Selama membaca buku ini, jadi paham alasan orang-orang menyukai kumpulan cerita pendek. Kumpulan cerpen bisa sebagai alat untuk menunjukkan keahlian penulis dalam bercerita. Dan Cyntha Hariadi ini pintar sekali bercerita. Alih-alih menginginkan ceritanya berlanjut (biasanya saya berpikir begitu kalau baca kumcer dan kesal sendiri karena ceritanya berakhir tiba-tiba dan harus lanjut ke cerita yang baru), saya malah semakin semangat untuk membaca cerita selanjutnya. Penasaran, cerita apa lagi yang akan disampaikan. Semua ceritanya mengena sekali di hati.
Cerita favorit saya berjudul “Dari Terang Tiba-Tiba Hujan”. Manis sekali. Bikin berkaca-kaca. Juga “Dokter Agnes”. Entah kenapa kedua cerita itu sangat membekas.
Seperti dikatakan dibelakang buku, gaya penceritaan mbak Cyntha cenderung dingin untuk setiap ceritanya dan ini juga aku rasakan membaca cerita-cerita pendeknya mbak Cyntha. 23 cerita pendek yang berputar tentang keluarga ntah keluarga inti atau keluarga jauh. Ada beberapa cerita terkesan biasa saja dan sedikit membosankan,dan beberapa bagus dan menggelitik di hati, membaca nya dengan tangis. Cerita favorite ku : Manifesto Flora, Mohon tinggalkan aku sendiri, Melankolia, Dari terang tiba-tiba hujan, Dokter Agnes, Telepon dari Luar Negeri.
"Ingatan manusia memang selektif. Tanpa sadar kita memilih menyimpan tempat, kejadian dan wajah yang memungkinkan kita memilih kehidupan. Ada banyak alasan untuk hidup tak semuanya hitam atau putih."
Aku kenal gaya bercerita yang seperti ini. Gaya yang "benar-benar berkata-kata" (aku setuju dengan Seno Gumira Ajidarma) di mana tingkat kedalaman dari "benar-benar" itu adalah 3/5. Tambah 1 bintang, karena setelah baca terngiang-ngiang. Cerita-ceritanya sarat makna. Menurutku, setiap orang akan punya kisah favorit yang berbeda-beda.
Cerita I: "Bapa, Ini Aku Grata" Bintang: 7/10 Dialognya unik dan ternyata mudah dipahami--mudah dimengerti bahwa itu flashback. Aku ragu untuk bilang paham dengan keseluruhan jalan cerita. Ada beberapa detail yang sepertinya simbolis, tetapi aku tidak menangkap maksudnya. Lalu, aku juga tidak tahu kenapa cerita ini ditaruh di awal. Kalimat favoritku: 1. "Pandangan ibunya yang sedih berubah menjadi seringai di jiwa Grata yang kini goyah." 2. "Rumah dan pohon hanyut dalam air mata Grata sampai ia tak bisa melihatnya lagi." 3. "Dari kejauhan, Sapi mengikuti Grata dengan mata cemas, ember hijau menggantung di moncongnya." Pertanyaanku: 1. Apa peran anjing yang dinamai Sapi itu? 2. Apakah memang ada seorang suster yang dengan gamblang menyebut orang lain dengan kata "ban**at"?
Cerita II: "Apa yang Kau Tunggu, Ny. Liem?" Bintang: 9,1/10 Yang ini bagus! Sederhana, tetapi mengena. Kalimat favoritku: "“ANAK GOBLOK! APA KALAU AKU JAHAT PADAMU, AKU BUKAN MAMAMU LAGI?!?”"
Cerita III: "Tuan dan Nyonya di Jl. Abadi" Bintang: 9/10 Rasanya speechless setelah baca. Plot twist-nya menohok, seakan-akan aku merasakan jadi Nyonya sekaligus menjadi Titin. Penceritaannya kuat, dibangun perlahan-lahan. Waktu selesai baca, aku seolah-olah ditarik paksa dari dunia yang sedang kuselami dalam-dalam. Rasanya mengagetkan. Kalimat favoritku: (Tidak ada karena semua kalimat saling menyambung menjadi satu kesatuan.)
Cerita IV: "Mohon Tinggalkan Aku Sendiri" Bintang: 9,2/10 Cerita tentang seorang Bapak yang pendiam, tetapi ternyata menyimpan banyak permata kata-kata. Kalimat favoritku: 1. "To: Yolanda Handoyo, Miranda Beaumont, Guntur Asa" (Nama-namanya pun sudah bercerita sendiri.) 2. "Kau, yang segagah Freddie Mercury, ... Guntur kedengaran kekar dan merkurial." 3. "Aku lebih memilih mengalir, mengarungi sedangkan kau mengejutkan dan kadang menegangkan seperti namamu." 4. "Namun sekarang aku sendiri, menjauh dari kalian namun mendekati apa yang ditakdirkan sebagai titik akhir hidupku sejak aku lahir puluhan musim kemarau silam."
Cerita V & VI: "Amerika I" & "Amerika II" Bintang: 8,1/10 Aku suka konsepnya. Semacam ironi. Pertanyaanku: 1. Ceritanya berhubungan, kan, ya? (Semoga iya ....)
Cerita VII: "Bayang" Bintang: 8,9/10 Sebenarnya aku suka, tetapi kurang menangkap maksudnya. Kalimat favoritku: (Semua, kecuali 3 paragraf terakhir) Pertanyaanku: 1. Kenapa berakhir seperti itu? 2. Gimana maksud ending-nya?
Cerita VIII: "Melankolia" Bintang: 9/10 Mungkin ini sudut pandang hewan paling "manusiawi" yang pernah kubaca. Mungkin sangat akurat, bisa saja sebaliknya. Namun, itu tidak penting--yang penting adalah bahwa cerita ini mampu membuat gemas tanpa harus menyentuh hewan yang sedang bercerita. Kalimat favoritku: 1. "Tapi, tapi, tapi kau tak mengerti!" 2. "9. Rumput, terang, kau." Pertanyaanku: 1. Apakah ada twist yang tidak kutangkap?
Cerita IX: "Manifesto Flora" Bintang: 9,5/10 Di cerita ini, penggambaran dan deskripsinya sangat akurat. Tidak heran kalau dijadikan judul buku. Ini favoritku. Kalimat favorit dari favoritku: 1. "Aku cuma mau kalau ia setuju keluarga kami kelak cuma punya satu telpon, yaitu telpon rumah." 2. "... lampu belajar yang redup adalah Flora yang malas hidup; ..." 3. "Aku sedang melaporkan situasi ulat bulu yang menyerang pohon kecapi dan rambutan di belakang rumah ketika Mahesa ..." 4. "... alangkah lucunya ...; alangkah lucunya ..." 5. "Sampai sekarang aku masih terkenang rambutan-rambutan berbulu merah beterbangan memecah udara, slo-mo, dan menggantung di atas meja makan, tidak jatuh, bagai sebuah instalasi seni karya besar peninggalan Mahesa, yang kemudian minggat dari rumah. Kami pun tidak pernah lagi berkumpul di meja makan." 6. "Setiap tik, ujung jarumnya menusuk dadaku, kemudian tok, jarumnya mengeluarkan air dari mataku." 7. "Aku injak-injak kakiku sendiri dan merasa kalau aku tidak berbicara dengan seseorang sekarang ini juga, aku bisa mati, ..." 8. "“Flo, Scrabble yuk.”" 9. "Flora memeluk Flora." (Lo, aku merangkum ceritanya ....)
Cerita X: "Dari Terang Tiba-tiba Hujan" Bintang: 9,2/10 Ini mirip "Mohon Tinggalkan Aku Sendiri", tetapi dengan bentuk penceritaan, sudut pandang, tokoh, dan kesimpulan yang sedikit berbeda. Bikin "Oh-- ... uh!" ketika menyadari maksud cerita ini. Kalimat favoritku: 1. "Aku tahu kau akan datang, Jan, pakai pura-pura enggan segala." 2. "Kenapa aku tak membiarkan mata kami beradu lebih lama, apa yang kutakuti?" 3. "Sebagian diri Bapak Wiranata berharap hujan akan melunturkan warna kulit Satya. Sebagian lagi berharap hujan akan mencuci hati tuanya yang kotor. Sisanya berharap hujan menyembunyikan air matanya yang turun tak terduga."
Cerita XI: "Rumah Batu Kali" Bintang: 9,1/10 Singkat. Tidak ada dialog. Ada jarak antarparagrafnya. Bertema ketakutan akan kehilangan. Kalimat favoritku: "Ia tak menduga, bukan kemarau, bukan badai, bukan rayap atau kelalaian yang menghancurkan rumahnya."
Cerita XII: "Dokter Agnes" Bintang: 8,9/10 Lebih film-is dari yang lain. Di awal sedikit kurang pas, tetapi terbayar oleh akhirannya. Kalimat favoritku: 1. "Ditatap monyet dengan mata bagai manusia dan tahu bahwa monyet sedang tidak mengagumi kecantikannya, membuat Dokter Agnes mencintainya." 2. "Sedikit babi, sedikit badak, sedikit kuda. Kalau tapir adalah manusia, apakah ia ingin diubah menjadi babi, badak, atau kuda?"
Cerita XIII: "Dokter Arif" Bintang: 6,7/10 Pertanyaanku: 1. Apa peran cerita ini?
Cerita XIV: "Bekas Teman Baikku" Bintang: 8,5/10 Karakter kedua tokohnya bisa membekas. Mungkin yang ini butuh kata-kata seperti dalam "Dokter Agnes". Kalimat favoritku: 1. "... dan Juliana mengulang-ulang cerita tentang membuat aneka kue bolu setiap pulang sekolah untuk menambah pesanan langganan ibunya, yang terus terang makin lama sangat membosankan dibaca." 2. "Di luar itu, ia setia pada hidup. Aku kagum padanya dan telat menyadari bahwa sesungguhnya aku tak terlalu peduli padanya." 3. "... berkata bahwa kalau saja aku tak kebanyakan berkhayal menjadi orang lain, aku bisa lebih konsentrasi pada pelajaran." 4. "Kepala asramaku, seorang biarawati muda dari Flores yang mudah sekali dikelabui ..." 5. "Kutunggu di Kedai Pak Sardi depan sekolah (sudah direnovasi, keren!!!) besok jam 11 siang. Kangen! Jul." 6. "Begitu banyaknya lelaki dan perempuan yang meludahiku, namun tak ada orang yang menamparku sekeras Juliana." Pertanyaanku: (yang tidak butuh dijawab) 1. Siapa nama "aku"? (Maria-kah?)
Cerita XV: "Tante Tati dan Putrinya, Temanku" Bintang: 8,5/10 Cerita yang hangat dan mengalir dengan mudah, terutama di tengah. Kalimat favoritku: 1. "Ia cuma satu dari ratusan jambu merah kancing pentil yang berjatuhan dan berserakan di tanah." 2. "Ia juga tidak pernah mempertanyakan cinta karena cinta selalu diserukan kepadanya dari atap rumah yang kokoh itu. Tak ada tanda tanya, cuma tanda seru." (Wow.) 3. "Aku tak mengerti mengapa ia menganggap itu lucu." 4, dst. (semua kalimat setelah kalimat ketiga, termasuk: ?. "Ia celaka karena memiliki ayah yang sempurna, tak pernah marah, menangis, atau menentangnya.")
Cerita XVI: "Setengah Perempuan I" Bintang: 9,1/10 Tidak menyangka kalau salah satu cerita akan seperti ini. Bukan favorit, tetapi aku sangat menyukainya. Kalimat favoritku: 1. "Bagus untuk anak laki, yang satu individual sport untuk belajar kepercayaan diri, satunya team sport untuk belajar bekerja sama, begitu alasannya." 2. "Sambil bekerja, beliau bertanya apakah mereka suka di kelas 3 (no!), siapakah guru favorit mereka, siapakah guru favorit mereka (you!), mata pelajaran favorit (this!), ..."
Cerita XVII: "Setengah Perempuan II" Bintang: 8,9/10 Di dalam cerita ini, terletak sebuah jawaban--atau kenyataan--yang dicari banyak orang. Untuk menyampaikan jawaban itu, aku tidak terpikir cara yang lebih baik dari yang dipakai dalam cerita ini. Kalimat favoritku: 1. "Lydia memutuskan untuk tidak mengkonfrontasi ibu mertuanya karena bila si ibu menyangkal, Kliwon tidak bisa diandalkan sebagai saksi." 2. "Beberapa anak berteriak, melengking, menangis sambil berdiri berpegangan di pagar ranjang, sebagian melonjak-lonjak gembira melambai-lambaikan tangan, beberapa anak yang dekat dengan di mana Lydia berdiri berusaha menarik baju, lengan, atau tasnya." 3. "Bedanya, perempuan tua itu walaupun bangga menjadi perempuan utuh, sangat kesepian."
Cerita XVIII: "Kau Tak Berhak Akan Dia" Bintang: 8,5/10 Aku agak kurang tenang saat membaca karena bertanya-tanya, "Siapa orang-orang tak bernama itu?" Ketika akhirnya tahu, semuanya jadi jelas dan kisah ini jadi lebih dalam dari yang kukira. Kalimat favoritku: 1. "Di atas air, pekik dan tawa kanak-kanak serta dewasa menggelinding dan mengambang sementara tangisan dan bujukan berpantulan di atas gelombang-gelombang kecilnya. Di bawah air, kudengar hentakan nafas yang berkejar-kejaran dengan detak jantung, semuanya milikku sendiri." 2. "Masa depanku kutinggalkan di belakang seperti membuang sampah ke luar jendela dari dalam bis dan aku melaju di dalamnya tanpa tujuan." 3. "Kupu-kupu, hati, awan, layang-layang tergambar dengan garis-garis gerigi dan gelombang, tak ada yang lurus. Ibuku bilang, tandanya mereka hidup, bergerak."
Cerita XIX: "Dinda Bukan Puisi" Bintang: 8,9/10 Apa tujuan pernikahan? Kalimat favoritku: "Apa yang aku rasakan, kau bisa tahu, tapi tak mau."
Cerita XX: "Telpon dari Luar Negeri" Bintang: 9,4/10 Menyedihkan sekali, rasanya pengen nangis. Semoga nantinya anak ini benar-benar bisa lupa .... Kalimat favoritku dari favorit kedua: 1. "Silau kami dibuatnya, tergopoh Mama menggotong jemuran ke taman seperti seserahan kepada matahari." 2. "Darah mengalir deras di sekujur tubuhnya sampai jantungnya berdebur, wajahnya merona, kedua matanya membesar dan mulutnya terbuka seakan begitu banyak yang ia ingin katakan." 3. "Betapa besar ego orang ini! ... Kurangkah segala keberuntungan dan berkat yang telah ia terima dalam hidupnya sampai ia masih mau mempersoalkan kegagalan romansa jaman kuliah? ... Sebelum lelaki itu menutup telpon, ia mengumumkan bahwa gajinya 20.000 poundsterling per bulan. Mama langsung banting telpon." 4. "Tak akan ada yang tahu tentang telpon-telpon itu selain aku yang tersembunyi dalam perut Mama."
Cerita XXI: "Rose" Bintang: 9,1/10 Cerita yang harus ditulis dengan sangat hati-hati. Kalimat favoritku: 1. "Senang ketika menang, sedih kala kalah." 2. "... Rosminah, kenapa kau memilih nama selai untuk anakmu? ..."
Cerita XXII: "Kolokan" Bintang: 9,3/10 Mengalir dan mengena sekali. Aku masih pengen baca cerita-cerita seperti ini lagi, tetapi sayang, bukunya sudah hampir selesai. Kalimat favoritku: 1. "Tak pernah seumur hidup, Cahyo menyetir seakan hidupnya sekaligus berharga dan murah pada saat yang bersamaan." 2. "Anaknya yang pertama dan utama sudah selayaknya minta perhatian dan pengertian tapi bertahun-tahun ia abaikan karena tuntutan hidup yang berbagai rupa dengan alasan tanggung jawab dan cinta."
Cerita XXIII: "Dua Perempuan di Satu Rumah" Bintang: 9,6/10 Penutup yang apik. Aku jadi merasa puas karena akhirannya tidak mengganjal. Buku ditutup di atas gambaran seorang wanita bertekuk lutut sambil meraung. Kalimat favoritku: 1. "Enam bulan kemudian, Norman dimakamkan di samping kedua orangtuanya dan Siska merasa dipisahkan dari Kehidupan." 2. "Kakinya dingin menapak keramik yang sudah ada sejak rumah ini berdiri." 3. "Siska ingin makan kerupuk itu namun tak sanggup mendengar kriuk kriuk yang akan terdengar senyaring dan serenyah ingatannya yang segar pada Norman." 4. "... dan Norman yang remuk di jalan tol tanpa ada sisanya buat Siska." 5. "Siapa yang lebih rindu kepada Norman sekarang ia tiada? Dan yang lebih mendesak, siapa yang lebih memiliki Norman? Apakah pertanyaan-pertanyaan ini penting dan perlukah ..." 6. "Siska tak bisa menerima kenyataan bahwa perempuan ini bahkan menyimpan sisa terakhir kemanusiaan Norman yang tak sanggup ia lihat di rumah sakit karena keburu semaput." 7. "Baru kali ini saja, ia merasakan kecemburuan tak tepermanai, justru setelah Norman pergi. Tak lagi mampu menyerang, Siska bertekuk lutut dan tersedu."
Menurutku, buku ini cocok buat kalian yang ingin mengerti lebih dalam tentang keluarga, parenting, dkk. Cerita-ceritanya harus dibaca setidaknya dua kali untuk bisa dipahami dan dimaknai serta diambil amanatnya, lalu dipahami sindirannya ....
Akhir kata, Cyntha Hariadi sepertinya penggemar berat Tennesse Williams!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku kumpulan cerpen yang menarik karena banyak berputar mengenai hubungan antara anggota keluarga namun ada beberapa cerita yang buat saya kurang dapat 'feel'nya jadi hanya numpang lewat saja
I read Ibu Mendulang Anak Berlari sometime between 2016-2017. I loved it for various reasons, but one thing that is truly special is that it made me think a lot about motherhood. Cyntha Hariadi strikes me as a deeply emotional poet who has the range to explore the most mundane matter and turn it beautiful, yet so painful. Anyways, after and while I was reading Ibu Mendulang Anak Berlari, I started thinking about my mom in a more positive way. It made me feel like I have been misunderstanding my mom, just like the way she misunderstands me. Manifesto Flora, while a different form, continues to do just about the same thing to me. Sometimes the story or the character is too familiar and I had to stop reading for awhile. Other times it’s just straight up tearing up a little bit. I love every story in this book. I love that she doesn’t try to lecture her readers, that instead she explores how a situation is encountered by a character. I love that plenty of her characters are women.
Banyak yang mengatakan prosa Cyntha dingin, tapi saya tidak setuju. Bagi saya prosanya terasa hangat, menyelimuti seperti selimut mentega. Membacanya terasa seperti mendengarkan orang kesayangan bercerita tentang cerita-cerita yang ditulis Cyntha, lembut dan tidak terburu-buru, berdua saja di tempat tenang. Namun di akhir buku, hati saya tetap hancur. Orang kesayangan itu juga menutup buku dan mengakhiri kisah-kisah kesayangan.
Saya setuju dengan endorsement-nya Eka Kurniawan yang menyebut cerita dalam kumcer ini terkesan dingin, dan dalam berbagai bentuk terasa mencekam dengan gayanya sendiri. Gaya narasi dan lanskap plot bikinan Cyntha Hariadi patut diapresiasi. Ia keluar dari kebiasaan cara penceritaan cerpen koran. Ia punya cara bernarasi yang unik. Beberapa cerita minim dialog. Salah satu cerita yang paling berkesan; Tuan dan Nyonya di Jalan Abadi.
Pelan pelan membius. Teks repetisi jadi penguat cerita. Orang-orang sering merasa kesal dengan kalimat repetisi. Tapi di dalam repetisi selalu memberi kekuatan cerita. Duh, ini buku... cantiknya repetisi juga.... uwuwuw.
Beberapa kali lihat buku ini lewat di timeline X dan direkomendasikan orang-orang, sehingga tergugah untuk mencari buku ini—sangat disayangkan buku ini cukup langka, sehingga baru kesampaian baca ketika ada stok di Ipusnas. Tentu saja ekspektasi saya cukup tinggi, mengingat susahnya mendapatkan buku ini.
Buku ini berisi kumpulan cerita pendek; ada 23 cerpen di dalamnya, dan menurut saya tema dari kesemua cerpen cukup gelap. Manifesto Flora—judul dari buku ini—merupakan judul salah satu cerpen di dalam buku, yang bagi saya mampu mewakili mengapa buku ini diberi judul begitu.
Pertama kali saat membaca, kita akan disuguhkan cerpen berjudul 'Bapa, Ini Aku Grata' yang mengisahkan seorang anak yang kabur dari rumah. Rumah yang seharusnya bisa membuatnya merasa bahagia, menaunginya untuk tumbuh dalam kasih sayang dan kemurahan hati, justru jadi sarang duri yang menyakitkan. Di cerpen lain berjudul 'Tuan dan Nyonya di Jl Abadi' juga tak kalah gelap. Seorang perempuan yang dibantu untuk hidup lebih baik, ternyata jadi malapetaka bagi rumah yang menaunginya. Perempuan tersebut ternyata seorang perebut suami orang.
Kemudian di cerpen yang berjudul 'Manifesto Flora', rumah yang seharusnya bisa menjadi tempat berpulang, justru malah menjadi penjara yang menyisakan kesepian. Flora yang baru berusia 14 tahun terkurung dalam kenangan di rumah yang tak lagi membahagiakan dan membuatnya bisa pulang. Dan satu lagi, di cerpen berjudul 'Bekas Teman Baikku' mengisahkan kedua teman baik yang telah lama terpisah selama 30 tahu, tapi reuni yang terjadi ternyata tidak berjalan dengan baik.
Dari semua yang sebutkan merupakan cerpen-cerpen yang paling saya suka dan membekas. Kesemuanya punya benang merah dan interpretasi mengenai perpisahan. Kesemua cerpennya mempunyai nuansa yang dingin sekaligus gelap. Selain itu, narasi dan diksi yang digunakan juga cantik—meskipun ada di beberapa bagian saya harus mengulang membaca karena agak tak paham apa yang dimaksud. Lebih daripada itu, saya suka meskipun saya tidak bisa mengatakan saya suka sekali. Bagi saya, buku ini bagus tapi ada sentuhan yang terasa kurang. Saya merasa buku ini kurang memberikan sesuatu yang membekas.
Sebenarnya saya agak berat memberikan ⭐4, berhubung katanya menulis cerpen lebih sulit daripada novel, jadi saya berikan ⭐4. Bagi saya buku ini tetap worth it tetapi bukan sebuah buku yang sangat harus diperjuangkan untuk dibaca.
Saya kaget ketika pertama membuka buku ini dan mendapati bahwa ada banyak sekali cerita yang ditampung di dalamnya. Sebagai sebuah kumpulan cerita pendek yang hanya memiliki 160 halaman, Manifesto Flora terdiri dari lebih dari 20 cerita pendek.
Salah satu penulis cerita pendek favorit saya, Alice Munro, pernah bilang bahwa cerita itu layaknya seperti rumah. Ia tidak mengantarkan kita dari satu titik ke titik lainnya seperti sebuah jalan, tapi menawarkan kita untuk singgah dan melihat-lihat sejenak. Saya rasa, cerita-cerita Cyntha adalah kombinasi dari keduanya: mereka memperlihatkan ruangan-ruangan dalam pikiran karakter-karakter utama, sebelum akhirnya tiba-tiba menyuruh kita berlari ke suatu tempat.
Meskipun ditulis dengan baik, cerpen dalam kumpulan ini terasa tergesa-gesa di akhir. Memang ada sensasi sendiri ketika membaca cerita-cerita ini satu per satu, ketika kita dibawa untuk mengenal karakter-karakternya, siapa mereka, permasalahan mereka, lengkap dengan hubungan-hubungan, penyesalan, dan kesendirian maupun perasaan-perasaan lainnya. Resolusi-resolusi yang ditawarkan Cyntha terasa pas, dan di saat-saat terbaiknya, menohok pembaca.
Tapi, apa yang bisa jadi menyegarkan ketika dilihat satu per satu bisa terasa jadi menjenuhkan ketika kita membaca Manifesto Flora sekaligus. Karena setiap cerita bisa dilahap hanya dalam waktu singkat, saya merasa perlu mengambil beberapa jeda dalam proses membaca agar cerpen-cerpen ini tidak membaur di otak saya, atau malah, jadi membosankan karena sedikit formulaik. Saat membaca, saya seakan tahu bahwa akan ada suatu kejutan yang menanti di akhir, yang membuatnya tidak lagi mengejutkan.
Tentu saja, buku ini layak dibaca dan direkomendasikan. Saya pun membaca ini karena rekomendasi seorang teman. Kumcer ini pun membuat saya penasaran dengan novel penulis (Kokokan Mencari Arumbawangi, 2020), dengan harapan saya bisa tinggal dalam biliknya lebih lama dan menikmati ceritanya lebih dalam.
Manifesto Flora secara garis besar berbicara tentang keluarga dalam berbagai perspektif, cerita-ceritanya ditenun dengan hati, dengan tempo yang terasa lambat namun suatu dentum bisa datang begitu saja. Cerita-ceritanya ditulis dengan jarak sehingga terasa dingin tetapi selalu ada kelembutan yang menyembul, muncul dari luka dan trauma dimana cahaya masuk dan memberi hangat.
Menurutku, Cyntha Hariadi adalah penulis kontemporer terbaik Indonesia!
Cerita Favoritku: ‘Bapa, Ini Aku Grata’, ‘Mohon Tinggalkan Aku Sendiri’, ‘Melankolia’, ‘Dari Terang Tiba-Tiba Hujan’, ‘Dokter Agnes’, ‘Bekas Teman Baikku’, ‘Tante Tati dan Putrinya, Temanku’, ‘Setengah Perempuan I’, Dinda Bukan Puisi’, ‘Rose’, & ‘Dua Perempuan Satu Rumah’
Caranya menyampaikan cerita begitu tersembunyi. Kita tidak akan mengetahui pesannya sampai akhir halaman. Seperti merajut. Sedikit demi sedikit benang cerita saling menyilang terajut. Barulah setelah selesai, polanya itu akan tampak.
Di buku ini Cyntha Hariadi mengajak kita menyaksikan sisi lain kehidupan manusia lewat cerpen-cerpennya yang terkesan dingin dan sunyi, namun indah.
Saya menikmati cerpen-cerpennya. Tapi bagian yang paling saya suka adalah judulnya. Mohon Tinggalkan Aku Sendiri; Apa yang Kau Tunggu, Ny. Liem?; Telpon dari Luar Negeri, dst. Judul-judul cerpen ini menawarkan hal-hal biasa yang sangat mungkin terjadi di kehidupan kita. Kita sangat mungkin ingin berteriak, "Tinggalkan aku sendiri!" atau "Ada telpon dari luar negeri."
Entah bagaimana, banyak sekali potongan cerita yang berkaitan secara personal denganku. Seperti Dokter Agnes, yang secara kebetulan?, juga dokter kulit yang merawatku ketika aku terkena Steven Johnson Syndrome setahun lalu. Membuatku bertanya-tanya, apakah di balik kulit Dokter Agnesku, ada Amanda yang disimpannya?
Cyntha Hariadi pandai membangun tembok pembatas untuk pembacanya, di saat yang sama, ia seperti mengajak pembaca duduk di atas tembok dan membicarakan hari-harinya. Sangat biasa, tidak spesial, tetapi membekas. Suka!
Membaca Manifesto Flora seperti membaca cerpen terjemah—atau fanfiksi yang kerap saya baca di AO3. Gaya bahasanya, penuturannya, hingga eksekusi setiap ceritanya nggak asing. Kalau kata Eka Kurniawan, Cyntha menulis dengan dingin. Tapi menurut saya nggak semua ceritanya dingin, Mohon Tinggalkan Aku Sendiri, misalnya. Juga Dokter Agnes, yang membuat saya malah terkenang lagu Malaikat Juga Tahu-nya Dee Lestari. Adapun Manifesto Flora sendiri malah justru gelap dan mencekam. Duh, tiap baca kalimat di kumcer ini entah kenapa rasanya deja vu.
Manifesto Flora merupakan kumpulan cerpen tak berkesinambungan, tapi konsisten membicarakan hal yang sama; kesepian, kegetiran, dan keterasingan. Kalau dibandingkan dengan kumcer Cyntha Hariadi yang berjudul Mimi Lemon, kumcer kali ini jauh lebih gloomy. Tokoh-tokohnya tertimpa kemalangan dengan cara yang beragam, sukses mencubit hati.
Satu hal yang aku highlight di buku ini adalah gaya bahasanya agak berbeda dari karya-karya Cyntha yang sudah pernah kubaca. Di sini, narasinya sarat oleh hal-hal hiperbolis. Aku suka sekali dengan cara Cyntha yang membuat komparasi akan satu hal dan hal lainnya, terasa cukup unik. Apalagi nyaris semua cerpennya minim dialog—tampak seperti full narasi—membuatnya indah sekaligus misterius. Peletakan atau penulisan dialognya mungkin agak kurang lazim, tapi tetap bisa turut menguatkan cerita.
Dari 23 cerpen dalam Manifesto Flora, aku memfavoritkan 7 di antaranya. Ada seorang bapak yang menulis email untuk ketiga anaknya karena ingin ditinggal sendiri saja, ada dokter kecantikan yang mempunyai anak buruk rupa, ada seseorang yang disebut "setengah perempuan" oleh ibu mertuanya karena tak kunjung dikaruniai anak, dll. Cerita-ceritanya bernuansa kelam, tapi punya sudut pandang yang menggelitik.
Setelah aku dibuat jatuh hati di Cerita-Cerita Jakarta (Matahari Tenggelam di Utara) dan Mimi Lemon, Cyntha Hariadi did it again with Manifesto Flora! 💜
Manifesto Flora memang sebagian besar diakhiri dengan ending yang tidak jelas, tetapi aku justru malah jadi mencari tahu dan berpikir lebih dalam, "Jangan-jangan ada banyak pesan tersirat dibalik semua ini?"
Dan ya! Dengan membaca buku ini, aku seperti diajak mengitari dunia dan belajar kalau luka terbesar yang hadir sebagian banyak berasal dari keluarga.
Kumpulan cerpen ini ditulis dengan begitu sederhana, dengan diksi yang tetap indah dan terkadang aku terkagum sendiri dengan tiap paragrafnya.
Terdapat 23 cerita pendek di dalam buku ini, dan semua memiliki khasnya tersendiri.
Favoritku ada sekitar 5 cerita pendek: 1. Tuan dan Nyonya di Jl. Abadi 2. Mohon Tinggalkan Aku Sendiri 3. Melankolia 4. Manifesto Flora 5. Dinda Bukan Puisi Tidak termasuk buku paling berkesan yang aku baca tahun ini, tetapi tidak termasuk yang terburuk.
Deskripsi Eka Kurniawan soal buku ini benar. Setiap cerpen seperti perasaan yang perlahan merayap dari ujung kaki dan tiba-tiba meledak di waktu yang tepat. Cerita-cerita di setiap judul juga memberikan kesan eerie padahal ceritanya begitu dekat dengan keseharian.
Aku suka gimana Cyntha memainkan diksi dan kata-kata. Lugas tapi tidak kehilangan keindahan. Pada beberapa kalimat aku sempat terkecoh apakah yang Cyntha bilang itu harfiah atau hanya majas belaka.
Membaca buku ini seperti memilih macaron pada sebuah kotak. Tidak tau warna apa yang akan kita dapat, rasa apa yang akan kita cecap, tapi semua begitu nikmat dan pas.
Saya tak usah berpanjang-panjang kata sebab apa yang dikatakan Eka Kurniawan benar adanya. Cyntha adalah penulis yang dingin. Kita diajak untuk menyibak sunyi sekaligus diajak ikut merasakan luka para tokoh-tokohnya dari dekat. Subjek yang dihadirkan tak hanya manusia, namun juga anjing dan janin dalam kandungan. Sehingga pembaca pun diajak untuk menyelami perasaan anjing dan janin dalam kandungan.
Gaya penulisannya apik. Majas-majas indah bertaburan meski pesannya menyakitkan. Cerita favorit saya adalah Bayang,
Aku bukan pembaca cerpen, karena suka merasa tanggung. Tapi buku ini asyik banget. Dari cerita pertama sudah dibuat tenggelam. Gaya bahasanya juga enak banget, malah dapat kosakata baru...
Haruskah kukasih lima bintang? :))
Baca ini, karena pengin baca buku barunya yang judulnya Kokokan Mencari Arumbawangi.
Baca lewat Ipusnas, seru ternyata ini kumcer, baca ini karena dapet stok 1 pas jam 3 pagi, dibaca sehari, karena emang setiap ceritanya menarik dan membekas, paling menarik yang Tuan dan Nyonya di Jl.Abadi, Melankolia, Doketer Agnes, Dokter Arif, Setengah Perempuan I dan II, Telepon dari Luar Negeri dan Rose
Bagus. Suka banget hampir semua cerita di dalam buku ini. Walo sepertinya ga ada benang merah tema tertentu, tapi semuanya enak banget dibaca. Menyenangkan. Udah lama mau baca ini tapi malah keskip terus mau pinjem di Ipusnas, akhirnya sampe jumpa untuk membaca buku ini hingga selesai.
Ini intens. Banget. Saya ga menyangka sebuah kumcer bisa memberikan sensasi sampai buat saya bengong sehabis membaca. Cyntha Hariadi sukses memainkan kecamuk perasaan, dari tertawa senang hingga getir, dari biasa saja sampai oh damn atau what the hell. Tidak ada yang terkesan datar di sini, sama sekali. Semua cerpen yang terangkum dalam Manifesto Flora mengalun bagai lagu, yang awalnya kita dengarkan santai tiba-tiba terbawa pikiran karena mendengar liriknya. Semua gelap dan sendu. Dia memandang hidup dari semua sisi makhluk hidup dan kasta. Cyntha Hariadi mengundang pembaca untuk mengintip ke dalam imajinasinya yang dingin dan kelam. Selamat menjelajah Manifesto Flora!
Kumpulan 23 cerpen yang benar-benar dingin. Cerpen favoritku adalah "Dari Terang Tiba-Tiba Hujan" dan "Apa Yang Kau Tunggu, Ny. Liem?"
"Sebagian diri Bapak Wiranata berharap hujan akan melunturkan warna kulit Satya. Sebagian lagi berharap hujan akan mencuci hati tuanya yang kotor. Sisanya berharap hujan menyembunyikan air matanya yang turun tak terduga."