Jump to ratings and reviews
Rate this book

Karung Nyawa

Rate this book
Johan Oman, Pemilik Konter Pulsa
Ah, kejadian lagi, padahal belum juga hilang ingatanku akan kejadian mengerikan itu! Udahlah, tutup konter saja!

Janet Masayu, Pemandu Karaoke
Pacarku memang benar-benar trauma akan kejadian itu. Sekarang dia nggak mau keluar sama sekali dari konter pulsa kecilnya. Harus bagaimana ya kalau sudah begini...

Zan Zabil Tom Tomi, Penjaga Warnet
Menarik! Polisi saja tidak sanggup memecahkan misteri ini.
Sepertinya sudah perlu detektif partikelir yang lama nganggur ini turun tangan.

Tarom Gawat, Cucu Dukun
Gawat... gawat... GAWAT!

Empat pemuda bekerja sama menyelidiki kasus ganjil yang menggegerkan desa. MEreka tidak pernah menyangka akan berada di ranah klenik nan mistik yang membuka rahasia masa lalu kelam Purwosari.
Bukan hanya soal pesugihan dengan tumbal, tapi jauh lebih mengerikan lagi, perihal legenda Toklu--Pemulung pemburu kepala manusia yang mungkin benar adanya.

Kini mereka harus menghadapi tantangan terbesar ketika mendapati bahwa pemburu dan mangsa terakhir dari semua ini lebih dekat dari yang mereka kira.

220 pages, Paperback

First published April 1, 2018

14 people are currently reading
140 people want to read

About the author

Haditha

13 books21 followers
Haditha M. adalah penulis novel, skenario, yang kini juga tengah belajar membuat ilustrasi. Kegemarannya terhadap genre fantasi dengan napas klenik selalu tertuang di setiap karyanya. Dia pun tak ragu memasukkan unsur-unsur binal bilamana dirasa pas menguatkan nuansa cerita. Karya-karyanya yang pernah terbit sebelumnya adalah Karung Nyawa (Bukune), Dalam Kurung (Bukune), dan Tapak Setan (Elexmedia). Dia bisa disapa di media sosial dengan handle @hahahaditha

Karya-karyanya yang lain bisa ditilik di bit.ly/m/hahahaditha

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (8%)
4 stars
52 (56%)
3 stars
28 (30%)
2 stars
3 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 30 of 46 reviews
Profile Image for Sulhan Habibi.
806 reviews62 followers
May 3, 2019
3,5/5 bintang

Boleh memuji blurb buku ini terlebih dahulu?

Ya! Jujur aku sangat suka pemilihan blurb di sampul belakang. Cukup unik dan membuat penasaran (setidaknya buatku).

Penasaran?

Ini blurb-nya.


*BLURB*


Johan Oman, Pemilik Konter Pulsa

Ah, kejadian lagi, padahal belum juga hilang ingatanku akan kejadian mengerikan itu! Udahlah, tutup konter saja!


Janet Masayu, Pemandu Karaoke

Pacarku memang benar-benar trauma akan kejadian itu. Sekarang dia nggak mau keluar sama sekali dari konter pulsa kecilnya. Harus bagaimana ya kalau sudah begini...


Zan Zabil Tom Tomi, Penjaga Warnet

Menarik! Polisi saja tidak sanggup memecahkan misteri ini.

Sepertinya sudah perlu detektif partikelir yang lama nganggur ini turun tangan.


Tarom Gawat, Cucu Dukun

Gawat... gawat... GAWAT!


Empat pemuda bekerja sama menyelidiki kasus ganjil yang menggegerkan desa. Mereka tidak pernah menyangka akan berada di ranah klenik nan mistik yang membuka rahasia masa lalu kelam Purwosari.

Bukan hanya soal pesugihan dengan tumbal, tapi jauh lebih mengerikan lagi, perihal legenda Toklu--Pemulung pemburu kepala manusia yang mungkin benar adanya.


Kini mereka harus menghadapi tantangan terbesar ketika mendapati bahwa pemburu dan mangsa terakhir dari semua ini lebih dekat dari yang mereka kira.

.

.

.

Dulu, semasa aku kecil (sekitar tahun 90-an) aku pun mendengar desas-desus mengenai orang yang membunuh anak kecil, mengambil kepalanya, dan digunakan buat membangun jembatan. Katanya agar jembatannya kuat dan tidak roboh. Pemburu kepala anak kecil ini sering berkeliaran siang hari.

Aku tentu saja takut mendengar hal tersebut, walaupun dalam hati ada keyakinan bahwa cerita ini buat menakuti anak kecil biar tidak kelayapan siang-siang (dan memilih tidur siang).

Nah! Buku Karung Nyawa karya Hadhita ini mengingatkanku akan hal ini.

Bukan mengingatkan lagi sih lebih tepatnya, tapi memang buku ini menyinggung tentang hal ini. Aku cukup terkejut bahwa cerita ini menyebar di banyak tempat, tidak hanya di Pulau Jawa.


GAWAT!

Ada mayat tanpa kepala ditemukan oleh Johan Oman sewaktu dia berenang di sungai di bawah Jembatan Tobo. Hal ini membuatnya shock.

Tujuh tahun kemudian, mayat tanpa kepala kembali ditemukan dan membuat gempar warga desa. Legenda Toklu – pemulung pemburu kepala manusia kembali terdengar. Duh! GAWAT! GAWAT! Semaikn GAWAT SAJA kondisi kali ini.


Zan Zabil Tom Tomi, alias Jabil, tidak bisa tinggal diam saja melihat fenomena ini. Dia bertekad untuk menyelidiki pelaku dan motif di balik semua misteri yang meneror desa-nya.

Jabil pun meminta bantuan Tarom, si anak dukun, dan juga sahabatnya, Oman Hanoman yang pertama kali menemukan mayat sewaktu dia kecil. Janet, pacar Oman pun turut membantu karena dia secara tidak langsung juga memiliki hubungan dengan kasus ini.


Empat pemuda ini masing-masing memiliki ketakutan sendiri-sendiri. Sembari mengungkapkan kasus mayat tanpa kepala ini, mereka pun berusaha menghadapi ketakutan mereka sendiri. Tidak mudah memang, namun tekad yang kuat membuat mereka mampu menghadapinya.


Banyak hal-hal klenik, mulai dari makhluk halus, pesugihan dengan berbagai macam bentuk dan tumbal, dan kisah rentenir di pedesaan pun dibahas dalam buku ini yang mebuatnya begitu kaya akan nuansa local. Terasa dekat dengan sehari-hari suasana desa apalagi diceritakan pula kebiasaan nongkrong di bawah pohon, ngerumpi penduduk desa, dan keadaan sekitar yang sepi kalau malam.


Suka. Aku suka.


Apa yang sebenarnya terjadi? Hal-hal yang mereka hadapi dalam mengungkapkan misteri ini sungguh menarik. Namun aku tidak akan menceritakan lebih lanjut lagi karena lebih asyik jika kalian membaca dan mencari tahu sendiri misteri di dalam buku ini.


Nah, aku akan menyebutkan hal-hal yang aku sukai dari buku ini. Beberapa di antaranya adalah:


1. Gaya bercerita Haditha yang lebih terasa seperti percakapan sehari-hari. Jika aku menulis sebuah cerita, maka aku merasa akan menulis dengan gaya yang mirip (walaupun akau malas menulis cerita).

2. Tema dan karakter yang sangat kental dengan nuansa lokalnya (yaiyalah! Buku ini kan memang settinganya di Pulau Jawa). Hal-hal klenik, pesugihan, dan reaksi warga dalam menyikapi hal-hal berbau mistis dan sudut pandang dari agama dan kepercayaan terasa dekat karena memang hal seperti inilah yang terjadi di sekitar kita.

3. Aku suka pemilihan nama-nama para tokoh di buku ini. Lucu, unik, dan tentu saja ada maknanya. Apalagi memanggil nama disertai dengan julukan yang melekat dalam diri pribadi orang tersebut. Bukankah hal ini banyak terjadi di sekitar kita?

4. Aku suka dengan penyelesaian konflik di buku ini. Saking terlalu focus kepada hal-hal yang mereka curigai, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya sang pelaku sangat dekat dengan mereka. Ah, cukup tidak terduga dan membuat geregetan. Aku sangat berharap lho kisah para tokoh di buku ini dilanjutkan. Penasaran.

Kalau masalah kekurangan buku ini sih masih ada beberapa typo di beberapa kata. Selain itu pula, karena gaya penulisannya agak mirip percakapan, kadang kita harus membaca ulang beberapa kalimat akibat pemenggalan yang mungkin tidak tepat waktu membac pertama kali. Kalau ngomong kan kita tidak memperdulikan EBI makanya susunan kalimatnya sering semau kita sendiri.

Hal lainnya adalah ukuran huruf yang cukup kecil sehingga kurang nyaman di mata ketika membacanya.


Cukup hal ini saja sih.


Oh iya, aku lupa bilang kalau aku suka sekali dengan desain sampulnya. Sederhana tapi keren banget. Warnanya juga pas.


Dampak buku ini buatku adalah aku tidak lagi memandang para pemulung sampah yang membawa arit dan karung dengan cara yang sama lagi seperti dulu. Mau tidak mau aku selalu teringat cerita karung Nyawa dan dongen semasa aku kecil. Apalagi jumlah pemulung yang sering terlihat di komplek perumahan tempat aku tinggal lumayan banyak.
Profile Image for Nurina Widiani.
Author 2 books15 followers
May 19, 2018
Saya paling suka dengan cerita yang berbau misteri-misterian, bagaimana satu kasus bisa membawa kita ke berbagai macam fakta yang mengejutkan. Namun, kalau misteri itu ada aroma kleniknya saya nggak yakin, karena kalau dalam istilah jawa, saya ini mudah tom-tomen. Saya gampang ketonto, tiap kali mengalami satu kejadian, atau baca buku yang terlalu dihayati, atau bahkan hanya mendengar percakapan orang lain yang merasuk ke pikiran saya, pasti malamnya bakal saya mimpikan. Itu sebabnya baca Karung Nyawa karya Haditha ini beneran ngeri-ngeri sedap.

Dari awal bab saja, Karung Nyawa sudah bikin geger. Saya diajak melihat Johan Oman, yang saat itu baru berusia dua belas tahun, bertaruh nyawa melawan arus sungai dengan berpegangan pada sesosok mayat tanpa kepala. ASTAGA GAWAT!!!
Bisa dibayangkan kengerian yang dialaminya dan bagaimana hal itu kemudian membuatnya trauma. Kasihan, ganteng-ganteng tapi yang ngedatengin tiap malam adalah sesosok mayat tanpa kepala. Tentunya tak mudah menghilangkan rasa traumanya.

Rupanya kegegeran itu masih belum usai. Tujuh tahun kemudian, kejadian munculnya mayat wanita tanpa kepala kembali terulang. Kali ini Zan Zabil Tom Tomi alias Jabil, merasa terpanggil untuk menyelidiki dan mengungkap kejadian misterius itu. Ia membujuk Johan Oman, yang kembali mengurung diri karena dilanda trauma, untuk bergabung. Atas bujukan kekasihnya, Janet Masayu, Oman pun akhirnya mau bergabung. Ketika penyelidikan awal Jabil membawanya ke ranah klenik, Jabil pun meminta bantuan Tarom Gawat, seorang pemuda yang mendapat anugerah ganjil yang berhubungan dengan makhluk halus. Berempat mereka berusaha mengusut isu-isu mistis yang berkelindan di desa mereka.

Review lengkap bisa dibaca di https://kendengpanali.blogspot.co.id/...
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
August 19, 2018
Kalau bukan karena cover dan judulnya yang menarik, mungkin gak bakal berani membaca buku ini. Genrenya saja fantasi klenik. Betulan seram. Bahkan membaca di siang hari di tengah keramaian pun bisa bikin merinding. Ceritanya sangat lokal. Mulai dari cerita mistis dan mahluk halusnya, gosip tetangga tentang pesugihan, hubungan antar warga dan kelakuan terhadap masalah, semuanya terasa sangat dekat. Dan mudah saja percaya mungkin terjadi di masyarakat sini. Makanya seramnya terasa sekali.

Sayangnya seramnya tidak sebanyak itu. Bagian yang seram memang seram sekali. Tapi seringnya tertutup oleh cerita-cerita selingan atau detail-detail lucu yang membuat suasana jadi terasa sangat santai. Mungkin itu disengaja dan bikin jadi lebih menarik.

“Ya, katanya orang. Lucu ya, semua hal-hal seram kebanyakan kita dapat dari katanya-katanya. Nggak pernah kita mengalami langsung.”

Sebetulnya ceritanya tidak semua tentang klenik dan hal-hal mistis atau angker yang bikin merinding. Persahabatan, keluarga, detektif-detektifan, dan hubungan Johan Oman dan Janet yang manis sekali. Oh, karya-karya lokal sekarang banyak yang nama karakternya lucu-lucu. Karena ini Indonesia, jadi bisa saja nama-nama itu nyata juga.

Bagian klimaksnya dan penutupnya kurang begitu suka sih. Terlalu seperti film laga?
Profile Image for Edotz Herjunot.
Author 5 books14 followers
November 6, 2020
Saya tertarik buku ini karena membaca blurb-nya. Tentang Toklu, atau orang yang membawa karung dan mengincar kepala orang dengan penampilan seperti pemulung.

Saya yakin, karakter Toklu ini pasti pernah kita dengar waktu kecil dulu, yang entah beneran apa nggak. Kalau di tempat saya dulu namanya BEDOGAN. Katanya nyari kepala anak2 buat dikubur di jembatan biar jembatannya kuat dan kokoh.

Awalnya saya berpikir kalau novel ini benar2 full misteri. Tapi setelah membaca beberapa halaman awal, saya jadi ragu untuk meneruskan karena diksinya yang nggak 'suram' dan cenderung ke komedi.

Tapi hebatnya, saya jadi mulai tertarik untuk membaca halaman demi halaman selanjutnya. Dan yeah, novel ini cukup menghibur, bahasanya ringan, nggak kaku, dan karakter2nya juga unik.

Entah buku ini bakalan ada lanjutannya lagi atau tidak. Tapi saya rasa Haditha terlalu terburu-buru buat mengakhiri konflik di buku ini. Para pemeran utamanya terlihat tidak berdaya sama sekali di 'babak final' dan begitu mudahnya dihabisi.

Saya yang tadinya berpikir, mungkin bakalan ada karakter lain yang datang sebagai penyelamat buat memenangkan konflik ini, nyatanya tidak. Kalah begitu saja, lalu tamat.

Dan tentu saja, dari ending yang demikian, buat saya rasanya masih banyak menimbulkan pertanyaan. Tapi ya, sudahlah... Novel ini sudah sampai pada halaman terakhirnya dengan begitu saja.

Secara keseluruhan, novel ini masih menghibur dan tentu saja nostalgia banget sama masa kecil kita yang kebanyakan pernah dengar juga mitos tentang Toklu.
Profile Image for Wahyu.
94 reviews5 followers
July 16, 2018
Beberapa bab terakhir mulai banyak typo. Selebihnya saya suka sekali walau eksekusi di akhir berasa cepat selesainya. Ihhiy tebakan siapa dalang dibalik kasus-kasus ini berhasil kujawab dengan benar.
Profile Image for Jein Oktaviany.
17 reviews1 follower
December 8, 2021
SEBUAH CERITA DETEKTIF HORROR NUSANTARA
(Review Novel Karung Nyawa – Haditha)

“Gawat... gawat... GAWAT!” – Tarom Gawat.
Mengawali review ini dengan kutipan dari tokoh dalam novelnya sendiri. Karena begitulah novel ini, penuh kegawatan. Empat orang pemuda, yang ingin menyediliki kasus membunuhan ganjil, yang sedang geger di desa mereka. Pembunuhan sadis itu, yang korbannya selalu perempuan dengan mayatnya ditemukan tanpa kepala. Penyelidikan yang mereka lakukan bukan penyeledikan biasa, tapi menyelidikan di ranah ‘dunia lain’, yang membawa mereka berempat pada situasi yang, seperti kata Tarom, “Gawat!”
Aku jarang membaca sebuah cerita horror. Mungkin hanya beberapa saja, yang kuingat saja hanya Egdar Allan Poe. Tapi berbeda dengan cerita misteri dan detektif, aku sering membaca jenis cerita detektif. Dan membaca “Karung Nyawa” yang 213 halaman ini, lebih merasa membaca sebuah cerita detektif yang tidak logis (karena penyeledikannya di ranah ‘hantu’, jadi bukan beradasarkan logika). Aku jadi ingat novel series Trio Detektif, yang dulu kubaca waktu kecil, ada satu seriesnya yang memang menyelidiki hantu. Bedanya, buku “Karung Nyawa” terasa lebih Indonesia, dan tentu saja lebih fresh.
Haditha, penulis Karung Nyawa, adalah seorang penulis yang kukenal dari storial. Dan kuakui, tulisannya menonjol sekali, apalagi dalam “hantu-hantu”an. Di Karung Nyawa, ia membuktikan hal tersebut. Novel ini tak jarang membuat bulu kudukku berdiri sendiri membaca, dan yang parahnya adalah setelah tamat membaca terkadang hantu-hantunya tetap terbayang dalam kepalaku. Itu menyebalkan, karena aku adalah seorang penakut. Membayangkan bagaimana Toklu, Hantu Blankon, Hantu Kapak, atau hantu-hantu lainnya ... gawat.
Cita rasa novel ini begitu Jawa sekali, namun tidak menganggu pembacaanku. Selain karena adanya catatan kaki jika ada Bahasa Jawa, tapi juga karena keJawaan di sana memang rasanya diperlukan dalam cerita ini. Sebuah mitos hantu Jawa, diulik dan dicarik dengan apik oleh penulisnya, dibumbui dengan penokohan yang kuat dan saling berkelindan, sebuah plot twist yang bangsat, serta tentu saja sebuah theathe of mind yang membuat terbayang-bayang si hantunya, sampai bulu kuduk berdiri.
Dalam novel ini, alurnya begitu tenang dan mengalir, tidak terburu-buru. Banyak sekali alur mundur dalam cerita ini, namun tidak terasa lompat. Semua disusun rapi, dan begitu mengalir. Ditambah plot twist yang cukup membuatku mengumpat. Bagaimana seluruh bagian-bagian cerita dan penyeledikan menjadi begitu penting, tentang hantu-hantu, pesugihan, Toklu, dan segalanya.
Sedangkan favoritku, tentu saja ada di bagaimana penulis meracik tokoh-tokohnya. Empat tokoh yang sangat kuat dan saling bantu, yang memang empat tokoh itu bahkan dibicarakan dalam belakang cover sendiri. Oman, Janet, Jabil, Tarom. Semuanya punya warna sendiri, pola pikir yang berbeda, dan sifat yang dilatarbelakangi oleh kejadian masa lalu yang kuat. Membentuk sebuah kisah yang realis untuk menyelidiki yang tidak real. Dan, di antara tokoh tersebut, favoritku tentu saja Tarom Gawat, seorang cucu dukun, yang juga punya indra keenam dan menjadi ujung tombak penyeledikan mereka, meski memang sifat dan kelakukannya benar-benar gawat, salah satu paling gawat tentu saja memakai baju pramuka saat ingin mengusir setan blangkon yang mengikuti Janet.
Meski, begitu, buku ini bukan tanpa kekurangan. Sebagai pembaca, aku menyayangkan alur yang terkesan agak terburu-buru di ending, meski memang tertutup karena kebangsatan yang hakiki dari plot twist. Tapi, cukup membuatku terganggu. Selain itu, aku rasa, lebih asoy jika di buku ini ada ilustrasi-ilustrasi si hantu, tentu saja itu semakin menakutkan karena dengan bahasa kata saja aku sudah terbayang dan membuat setelah baca hantu itu kadang muncul dalam kepalaku, namun dengan bahasa gambar akan lebih menakutkan (toh aku tahu, penulisnya sendiri jago gambar, ayolah, dududu).
Ya, hanya dua itu saja mungkin kekurangan dari novel ini. Karena dari segi lainnya, aku merasa begitu terhibur dan begitu ketakutan. Sungguh, meski awalnya aku heran kenapa covernya berwarna cerah begini untuk cerita hantu, namun memang nuasanya pun tidak gelap-gelap. Aneh sekali, bagaimana seorang Haditha bisa membuat cerita yang tetap menakutkan dengan nuansa yang memang cerah.
Di akhir review sederhana ini, aku ingin menyebutkan bahwa novel terbitan Bukune tahun 2018 ini, seperti kata Tarom, “Gawat... gawat... GAWAT!”

Jein, Mei 2018
Profile Image for Stefanny Natalia.
286 reviews33 followers
August 30, 2019
3,5 / 5 ⭐
Aku jujur baru kali ini baca novel horor klenik dengan latar budaya masyarakat jawa.
Tema inti ceritanya menarik banget sebenernya, dan juga karna hal2 mistis yg diangkat itu memang nyata ada di masyarakat khususnya daerah Jawa, apalagi Jawa Timur. Penampakan2nya juga sukses bikin aku merinding, tapi sayangnya aku merasakan banyak yg bikin gak nyaman selama membaca.
Seperti penyebutan nama2 karakternya yg diulang-ulang, lalu banyaknya karakter yg dihadirkan disini yang terlalu detail penjelasan latar blakang tiap karakternya (yang menurutku agak kurang perlu 😅) tapi berujung tidak dijelaskan lebih lanjut maksud penting kehadiran karakter itu.

Dan juga untuk gaya berceritanya,ini mungkin aku yg belum terbiasa gaya penceritaan gini, jadinya bikin aku gak bisa konsen 😅😅
Pelaku utamanya cukup bikin kaget, tapi sayang di ending hanya di selesaikan seperti ituyang menurutku amat disayangkan 😢😢
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
May 24, 2018
Membaca novel ini, saya menemukan keseraman film Munafik (film Malaysia) dan Pengabdi Setan dijadikan satu. Dengan memadukan kisah klenik, misteri, dan horor, penulis berhasil menghasilkan novel yang unik, segar, dan mencekam. Eh, tapi ada adegan-adegan kocaknya juga.

Selengkapnya, silakan baca di:
https://butir2hujan.wordpress.com/201...
Profile Image for Alvin Zirtaf.
Author 4 books31 followers
May 24, 2018
GAWAT!!!

Tidak pernah menyangka akan memberikan lima bintang untuk buku terbitan Bukune.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
February 10, 2023
Suka dari awal liat judulnya yang bikin penasaran, trus baca paragraf pertamanya yang luar biasa menegangkan. Sampai kemudian baca keseluruhan ceritanya, selalu ada yang tertinggal. Cerita tentang empat orang anak yang kemudian menjadi detektif kecil-kecilan dengan mencari siapa pembunuh berdarah dingin yang gemar menebas kepala para korbannya. Dari yang awalnya menegangkan dan cukup bumbu humornya, berjalan menjadi bikin bergidik karena penuh dengan hantu dan pesugihan yang bikin orang bertanya-tanya siapa yang menjadi biang kerok dari ini semua. elemen perhantuannya juga gak kaleng-kaleng. Satu hal yang bikin terus tertarik baca adalah gaya bercerita penulis yang ajaib banget. Bikin pembaca tetap tahan dengan semua lokalitas jawa timuran yang dibawa ke cerita. seru bgt deh!
Profile Image for Op.
375 reviews125 followers
May 20, 2021
Ga nyangka bakal suka banget 🤣
Profile Image for R.D. Villam.
Author 644 books82 followers
June 4, 2018
Ini cerita gawat. Horor jawa yang unik dan gawat. :D
Awalnya terus terang saya bingung dan lambat bacanya, karena tokohnya bejibun dan masing-masing punya latar belakang yang rasanya agak kurang nyambung dan detilnya sekadar ditambah-tambahin aja. Namun memasuki pertengahan cerita, begitu ceritanya mulai terasa fokus, benang merahnya keliatan dan saya juga mulai kenal tokoh-tokohnya, saya pun bisa melaju bacanya sampai akhir. Kesan yang saya dapat, aroma jawanya kental, tetapi tetap mudah dipahami. Latar belakang tokohnya yang banyak positifnya membuat mereka tampak riil dan terasa dekat dengan kita. Sementara endingnya menggantung, belum selesai. Karena setannya masih gentayangan, dan masih mengancam kita. Gawat kan? Jadi ya Haditha masih ngutang ke kita, buat beresin setannya. :D
Profile Image for Ratna Sari.
308 reviews12 followers
June 2, 2018
Pertama kali aku baca buku tentang klenik.
Pertama kali aku tahu tentang toklu.
Pertama kali aku baca karya kak Haditha.
Dan aku langsung sukaaaaaa 😍😍😍
Misterinya dapet, seremnya juga, dan gokilnya juga ada.
Tokoh favorit, Tarom Gawat 😚
Gawat..gawat...gawat...

Review lengkapnya akan ada di blogku 😊 👇
http://romanitamore.blogspot.com/2018...

Jangan lupa ikutan giveawaynya juga ya. Dl. 7 Juni 2018
Profile Image for Ariyani.
93 reviews5 followers
March 18, 2021
Seru ngikutin ceritanya, aku saja jadi jatuh cinta sama tokoh Jabil. Kota tempat aku tinggal juga disebut di sini dan baru tau kalo 'itu' tempat buat pesugihan. Plot twistnya bikin gak nyangka banget sih, tebakanku salah. Pelaku pemenggalan kepala di Purwosari ini ternyata gak diduga banget, gak terbesit buat nebak dia. Tapi endingnya masih ngegantung, masih belum tuntas.
Profile Image for Vanda Deosar.
68 reviews4 followers
August 24, 2018
Apa kisah horror yang terngiang di benakmu saat kamu kecil? Hantu ngesot di kamar mandi? Mister gepeng? Kolor ijo? Atau babi ngepet? Banyak sekali urban legend yang kita dengar saat kecil dan menjadi “senjata” untuk orang tua menakut-nakuti anaknya. Begitupun buku yang sedang saya baca ini, Karung Nyawa. Berasal dari obrolan-obrolan di Purwosari dan tepatnya di desa Bojonegoro, terdapat cerita tentang toklu atau ketok gulu (potong leher), dimana biasanya orang tua berkata : jangan main sore-sore, nanti ada toklu. Konon katanya toklu yang berpenampilan seperti pemulung datang memotong leher korbannya dan memasukan kepala tersebut ke karung.

Kisah bermula dari Johan Oman yang biasa disebut Hanoman ganteng, karena emang ganteng rupanya, saat berumur 12 tahun tercebur di sungai dan tersangkut bersama mayat wanita yang sudah tidak ada kepalanya. Semenjak itu, Johan Oman trauma bahkan sampai tinggal kelas karena tidak mau keluar kamar, setiap malam dalam tidurnya, dia dihantui oleh penampakan-penampakan hantu wanita dan juga tidak sanggup menghadapi warga yang terus bertanya-tanya.
7 tahun berlalu sudah semenjak kejadian itu, Johan Oman sudah kembali menjadi manusia normal dan membuka konter pulsa dari tabungan yang dia kumpulkan pemberian ibunya yang TKW merantau di negeri orang. Namun, kejadian kedua terjadi, ditemukan kembali wanita tanpa kepala dan seperti dahulu, Johan Oman kembali mengurung diri. Jabil, sahabatnya yang membuka warnet dekat dengan kejadian TKP dan mempunyai insting bak detektif bermaksud untuk mengungkap siapa dibalik dalang pembunuhan keji ini. Jabil mengajak Johan, namun Johan tidak mau. Akhirnya Jabil menemui Tarom Gawat, yang dapat memasuki dunia spiritual untuk bergabung dalam pencarian.

Janet masayu, penyanyi cantik sekaligus pacar Johan Oman ikut dalam pencarian ini karena dulu pernah mengalami kejadian serupa yang dialami Johan, dan dikarenakan pacarnya ikut, Johan pun ikut serta dalam kelompok “detekfit” ini. Orang bijak bilang, tak ada obat untuk suatu ketakutan kecuali menghadapi ketakutan itu sendiri. Johan Oman, Tarom Gawat, Janet Masayu, maupun Jabil ternyata memiliki ketakutan-ketakutannya sendiri yang mau tak mau harus mereka hadapi. Kelompok ini bertekad untuk terus menyelidiki dan tanpa sadar justru pembunuhnya lebih dekat dari yang mereka sangka.

Membaca novel ini, membuat saya takjub. Tak banyak penulis lokal yang mau menulis horror klenik. Sepertinya penulispun dan Eka Kurniawan mempunyai guru yang sama dalam menciptakan tokoh dengan nama depan yang biasa namun diakhiri oleh nama kedua yang unik dan punya kisahnya sendiri, contoh Tarom gawat, dipanggil gawat karena sering berbicara : gawat-gawat-gawat.

Jujur saya tidak berani di kala sendiri apalagi malam jumat untuk membaca buku ini, karena terkadang, penulis suka seenaknya menyelipkan kemunculan hantu-hantu dan menggambarkannya seolah-olah dekat dengan kita atau bahkan sudah di depan mata kita. Membaca buku ini membuat para pembaca mengingat-ngingat urban legend yang ada di daerahnya. Overall, saya memberi bintang 3.5 dari 5, selamat membaca.
Profile Image for Rizki Utami.
212 reviews21 followers
October 13, 2020
Awal aku tertarik dengan buku ini karena mengangkat urban legend tentang pemulung yang suka bunuh orang. Keinget dulu waktu masih SD, ortuku suka nakut-nakutin kalau main terlalu jauh dan lama nanti dijahatin sama pemulung. Dimasukin karungnya dan dibawa ntah kemana. Jadilah aku penasaran sama cerita buku ini, serasa nostalgia lah ya.

Kesanku di bagian awal adalah bingung dan slow. Cara penulis mengenalkan karakter-karakternya kebanyakan lewat flashback. Biasanya sih saat setelah nama karakter muncul. Loncat langsung dari masa sekarang ke masa lalu. Untuk bagian slow nya itu karena proses pengenalan karakter yang lumayan banyak dan nggak cuman karakter utamanya aja. Tapi, ketika sudah masuk ke cerita utama aku susah buat berhenti baca. Seru sekali.

Narasinya nggak serius dan menakut nakuti, justru cenderung santai dan humoris. Jadi kayak menetralisir suasana gitu, nggak terlalu tegang kitanya. Awalnya ya nggak terlalu tegang. Tapi saat sampai dibagian pertengahan sampai akhir, dedemitnya muncul semua. Makin akhir, level demitnya kayak makin naik gitu. Seru lah.. Ditambah ada unsur detektif dan petualangannya jadi nilai plus, menambah keseruan ceritanya walaupun detektif amatiran lah ya.

Bagian akhirnya bikin sedih dan kesel. Apa yang membuat sedih nggak akan aku ceritakan di sini tapi yang membuat aku kesel adalah karena ceritanya belum tuntas... Mesti nunggu lanjutannya yang katanya masih digarap dan belum terbit. Euh.. padahal lagi seru-serunya loh, ya ampun.. Plot twistnya ituloh, bikin geleng-geleng kepala. Mantap.

Buatku ya, buku ini nggak terlalu seram sampai merinding ketakutan. Malah kesannya kayak super hero vs monster gitu. Hahahaha. Jadi aman buat dibaca kapan aja. Biasanya kan aku kalau baca buku horror yang nakutin banget itu siang hari. Rekomendasi banget untuk kalian baca. Ini akan masuk list buku horror penulis Indonesia favorit aku bersanding dengan Journal of Terror.

Author 3 books29 followers
July 21, 2017
Ternyata ini ada link ke Anak Pohon dan Sumur Hitam yang udah saya baca. Anak Pohon bagi saya tetep yang terbaik dari 'universe' ini, Karung Nyawa menyusul di urutan kedua. Ibaratnya kalo Anak Pohon nilainya 7, Karung Nyawa nilainya 6.8, dan Sumur Hitam nilainya 6. I'm amazed once again by the growth this writer have had. He didn't give up when everyone criticized his very first book, Remy the Chosen. Kritik memang meninjunya dengan keras tapi dia tetap menulis dan dia belajar dari kritik itu. Not all of us born genius. Not all of us suddenly have amazing writing skill like Stephen King or H.G. Wells with their infamous debut novels. Some of us learn by our mistakes and failures. And even the geniuses were facing failures and mistakes. Sekarang, this learning by doing, di setiap buku baru Haditha, ada perubahan kualitas yang signifikan. Semoga dia bisa meningkatkannya lagi.

oh btw tentang buku ini, nama yang unik-unik tapi tetapi membumi itu keren. Kisah horor di dalamnya saling berkait dan dipenuhi misteri-misteri. Masih agak terasa kasar di beberapa pergantian adegan. Dan terasa familiar dengan Sumur Hitam, semoga saja selanjutnya nggak jatuh dalam trope yang sama. I would prefer they all reach the same goal accidentally or because they have no other options rather than willingly go to a mission-adventure like in most fantasy novel. That would make the whole story too simplistic. But I like the ending, that was great ending. *applause*
Profile Image for Eva.
Author 24 books121 followers
June 7, 2018
Konfliknya Karung Nyawa disampaikan langsung dari bab pertama dengan lugas. Sejak awal novel ini beritme cepat, sehingga saya tidak diberi waktu merasa bosan. Berbeda dengn saat membaca Anak Pohon yang konfliknya tak begitu rapat, Karung Nyawa menyajikan misteri yang padat. Meski begitu, saya cukup terkejut ketika membaca bab-bab awal novel ini karena di antara berbagai konflik ketegangan saya masih bisa tenang dan senyum-senyum sendiri. Pemilihan kata Haditha yang mengandung humor samar inilah penyebabnya. Semakin lama, tensi konflik makin tinggi dan kemunculan serta deskripsi hantu dan sebangsanya dalam novel ini makin detail sehingga saya jadi panas dingin. Horor klenik, pesugihan, dan topik Toklu (pemulung pemburu kepala manusia) yang diusung Haditha ini begitu mudah related dengan kehidupan sehari-hari. Sewaktu kecil saya juga mendengar desas-desus mengenai Toklu ini, padahal saya dan Haditha secara geografis berbeda, karena itu isu Toklu ini menjangkau luas sekali. Terus terang saja, saya ini penakut sekali, sehingga membaca Karung Nyawa dibutuhkan ketabahan level tinggi saking mencekam dan meneror. Satu kata untuk buku ini: GAWAT!

Ulasan lengkap bisa dibaca di https://tamanbermaindropdeadfred.word...
Profile Image for Reyhan Ismail.
Author 3 books10 followers
July 19, 2018
Karung Nyawa karya Haditha, menurut saya menawarkan warna baru bagi berbagai macam pilihan novel bergenre horror di Indonesia. Gaya bertutur dia yang unik dan lucu ala dialog-dialog khas orang jawa membuat saya membayangkan dialog ini diucapkan oleh kelompok komedian srimulat. Semua karakternya memiliki latar belakang cerita yang kokoh. Supported character juga diberi ruang dalam cerita dengan takaran yang pas, sehingga tidak terkesan sia-sia berada dalam cerita.

Dari segi konflik. Mohon bersabar. Karena keseruan dan perjalanan sesungguhnya dari Tarom, Jabil, Hanoman dan Janet, tensinya baru akan terasa naik ketika sampai di bagian pertengahan menuju akhir. Saya bahkan tidak pernah menduga bahwa Handitha akan memilih antiklimaks berani seperti ini.

Overall, saya membaca Karung Nyawa seperti mengikuti kisah pengungkapan misteri Harry Potter, Hermione dan Ron versi kearifan lokal :D
Profile Image for ade.
274 reviews16 followers
April 21, 2018
wow.. keliatan makin kece novel karya haditha ini.. saya dibawa untuk mengikuti serentetan kisah dengan rasa penasaran karena misteri nya..

saya berusaha menebak nebak, siapakah yang harus bertanggung jawab akan pembunuhan itu... tapi ketika sampai akhir.. dan ternyata... plot twist nya luar biasa! ga ketebak..!

oh ya novel ini masih 1 universe sama anak pohon, sumur hitam dan astral travel agent.. jadi ketika membaca pasti jadi terkenang sama novel sebelumnya..

penulis memberikan kita berbagai sudut pandang dari beberapa tokoh..menarik... dan alurnya mampu dikisahkan dengan baik juga

good luck untuk buku selanjutnya!

karena endingnya gantung banget!
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
September 11, 2018
Saya sengaja membaca novel ini dalam perjalanan dengan kereta api dari Surabaya ke Semarang. Ketika melewati stasiun-stasiun seperti Bojonegoro, Cepu, Kalitidu, dan Tobo, saya membayangkan Hanoman, Janet, Jabil, dan Tarom berpetualang di hutan-hutan yang saya lewati. Disitulah cerita buku ini mengambil tempat.

Buku petualangan dengan tema klenik yang akrab di telinga orang Jawa Timur. Saya sangat suka dengan dialog khas Jawa Timurannya, dan setting pedesaan di Bojonegoro yang kuat. Buku yang ssyik dibaca saat liburan. Ringan tapi tetap menyenangkan.
Profile Image for Gustyani Putri.
31 reviews
July 19, 2018
Comedy Horror, dg ending yg buat sedih juga.
Ditunggu ya buku-buku Horror selanjutnya hadir di Gramedia
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books461 followers
June 20, 2020
Actual rating: 3,7


APAKAH INI AKAN ADA SEKUELNYAA???

Entahlah, aku masih shock dengan ending cerita ini untuk bikin review. Ngeri, horor, bikin mual, tapi nggak bisa berhenti baca.


Oh mau komentarin satu aja deh. Covernya sungguh sangat awesome.
Profile Image for Dinda Astrida.
62 reviews5 followers
June 15, 2020
aku pikir ini tentang crime detektif tnyata crime horor
Profile Image for Annisa Dina.
1 review
July 19, 2024
Seperti bio saya yang menyatakan saya non-avid rider, buku Haditha ini membekas bertahun-tahun buat saya. Saya gak begitu giat dan ulet menyelesaikan pembacaan buku, tapi membaca buku ini rasanya painless dan tahu-tahu sudah selesai saja.

Nama-nama yang digunakan untuk tokoh unik sehingga mudah dikenali, gaya obrolannya ringan campur dengan bahasa daerah sehari-hari, kental budaya dan tradisi (apalagi superstition negara kita). Indonesia banget. Sayang, akhir buku rasanya menggantung dan sebenernya hati saya menjerit perlu untuk membaca lanjutannya.
Profile Image for Ila..
71 reviews8 followers
July 29, 2021
DNF.

Awalnya sangat tertarik dengan blurb yang ada di buku ini. Semangat membaca masih bertahan sampai aku ada di halaman 100an. Empat karakter yang kukira bakal banyak porsinya malah di'kerdil'kan saat penulis tiba tiba melempar banyak karakter sampingan yang porsinya justru diperbanyak.

Belum selesai aku memahami hubungan Janet, Hanoman, Tarom dan Jabil, eh tiba tiba udah disuruh menghafal karakter lain lagi. Cerita yang awalnya berfokus untuk mengungkap kasus mayat tanpa kepala malah makin diperlebar dengan pesugihan, toklu, hantu belangkon, dll.

I appreciate the writer's effort buat explore jalan cerita supaya main plot makin kuat. Tapi aku ngerasa penulis juga masih kerepotan menghandle banyak karakter dan cabang plot yang ia buat. Overall, aku salut sama usaha penulisnya untuk menulis horor yang Indonesia banget, despite bukunya yg masih terlalu jawasentris.

Ps: aku suka desain covernya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 46 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.