Jump to ratings and reviews
Rate this book

It's Not an All Night Fair

Rate this book
Now available for the first time in English, a classic from "a novelist who should get in line for the Nobel Prize" ( Los Angeles Times )

Pramoedya Ananta Toer is Indonesia's most celebrated writer, with over thirty works of fiction translated into over thirty languages, and the recipient of many major international awards, including the grand prize in the Fukuoka Asian Culture Prize competition, Japan's highest literary honor. Narrated in the first person in Pramoedya's signature style, It's Not an All Night Fair tells the deeply affecting story of a son returning home to central Java to confront the fact of his father's death. Struggling to understand his reticent father, the son embarks on a personal quest to find value and meaning not only in his father's life but also in his own.

112 pages, Paperback

First published December 1, 1950

72 people are currently reading
1822 people want to read

About the author

Pramoedya Ananta Toer

62 books3,108 followers
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.

Bibliography:
* Kranji-Bekasi Jatuh (1947)
* Perburuan (The Fugitive) (1950)
* Keluarga Gerilya (1950)
* Bukan Pasarmalam (1951)
* Cerita dari Blora (1952)
* Gulat di Jakarta (1953)
* Korupsi (Corruption) (1954)
* Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954)
* Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957)
* Hoakiau di Indonesia (1960)
* Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962)
* The Buru Quartet
o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980)
o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980)
o Jejak Langkah (Footsteps) (1985)
o Rumah Kaca (House of Glass) (1988)
* Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)
* Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995)
* Arus Balik (1995)
* Arok Dedes (1999)
* Mangir (1999)
* Larasati (2000)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
925 (35%)
4 stars
1,049 (40%)
3 stars
533 (20%)
2 stars
74 (2%)
1 star
29 (1%)
Displaying 1 - 30 of 365 reviews
Profile Image for A.J. Susmana.
Author 3 books13 followers
December 1, 2009
Bukan Hanya Dokter
Batam Pos, MINGGU, 24 MEI 2009

AJ Susmana

Bukan Pasar Malam, novel pendek Pramoedya Ananta Toer ini, barangkali adalah novel yang paling banyak dipuji dan diapresiasi para pembaca karya-karya Pram setelah Bumi Manusia. Setidaknya, YB Mangunwidjaja seorang penulis novel dan juga rohaniwan mengatakan bahwa Bukan Pasar Malam adalah karya Pramoedya yang paling disukainya. Oleh sebagian pembaca, Bukan Pasar Malam, sering disimpulkan sebagai novel yang bernuansa religius, beraura mistik dan mengandung pergulatan eksistensial diri manusia ketika berhadapan dengan maut di samping ironi seorang pejuang kemerdekaan yang kecewa dan tak mendapatkan tempat yang layak justru ketika kemerdekaan yang diperjuangkan dengan penuh pengorbanan itu sudah terwujud.

Hanya saja, menurut penulis, apresiasi terhadap Bukan Pasar Malam, sampai detik ini tidak cukup mengena dan mendalam. Barangkali ketidakdalaman ini karena ketidaksanggupan melihat fakta gerak revolusi Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia . Dengan begitu, bisa jadi, Bukan Pasar Malam, adalah novel yang paling banyak disalahpahami. Inilah alinea penutup Bukan Pasar Malam yang paling banyak dikutip dan tersebar luas untuk menggambarkan daya tarik Bukan Pasar Malam:

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pada kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.”

Deretan kata-kata itu pulalah yang dicantumkan penerbit Lentera Dipantara dicover belakang ketika menerbitkan Bukan Pasar Malam.

Judul novel pendek Pram ini Bukan Pasar Malam, memang menarik dan kuat dari segi diksi tapi barangkali tidak mewakili isi keseluruhan. Judul yang menggunakan kata kontradiksi “Bukan” terhadap keberadaan “Pasar Malam” tentu sangat menarik di tengah kehidupan rakyat yang (dalam tahun novel ini terbit) menganggap pasar malam adalah peristiwa yang sangat menarik, luar biasa dan tak bisa dilewatkan begitu saja baik sendiri maupun bersama (keluarga, pacar…). Dengan demikian judul novel ini bisa “menyesatkan” pembaca yang terpaku pada alinea penutup Bukan Pasar Malam sementara justru kedalaman kisah yang lain tak terungkap.

Lagi, masih bisa dipahami bila Pram menutup novel pendeknya dengan nada filsafat eksistensialisme yang begitu kuat. Bukankah Pasca Perang Dunia II, eksistensialisme justru semakin menemukan tempat? Dengan dua pendekar eksistensialisme: Camus dan Sartre, eksistensialisme juga semakin berkibar-kibar di lapangan sastra. Pengaruhnya pun sampai ke Indonesia terlebih melalui karya-karya Chairil Anwar dan Iwan Simatupang. Pram pun tampak tak bisa menghindar dari irama eksistensialisme: kemuraman dan kegelisahan akibat kemanusiaan yang runtuh akibat Perang Dunia II. Hanya saja Pram tidak larut dalam kegelisahan eksistensial terus-menerus. Ia tetap bergulat dengan masa depan Revolusi Indonesia.

Pram ketika menuliskan novel ini masih muda: kurang lebih 25 tahun mengingat Bukan Pasar Malam diterbitkan pertama kali pada tahun 1951 oleh Balai Pustaka. Sementara Iwan Simatupang menuliskan sajak-sajak eksistensialisnya juga di sekitar tahun itu, 1952: Ada Dukacarita di Gurun – buat mereka yang disepikan, lalu Ada Dewa Kematian Tuhan – sajak peringatan 100 tahun kematian Nietzsche. Keduanya muncul di majalah mingguan terkenal saat itu: Siasat. (Baca: Pengantar Dami N. Toda dalam Tegak Lurus Dengan Langit, Lima belas cerita pendek Iwan Simatupang, Sinar Harapan, Jakarta, 1985;7)

Jadi, Bukan Pasar Malam terbit enam tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Atau tak lama setelah pertanyaan terakhir ayahnya menjelang ketaksanggupan melawan ajal: “Siapa yang bisa mengatakan padaku hari kelahiran sesuatu yang kita perjuangkan selama ini?” (jawab tokoh aku—Pramoedya Ananta Toer -sendiri-?) “Tujuhbelas Agustus tahun seribu sembilanratus empatpuluh lima , Bapak”. (h. 87). Dengan begitu, jelas, semangat revolusi untuk kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa pun menjadi bagian yang utama dan arus yang kuat di seluruh kisah Bukan Pasar Malam. Bukan kebetulan bila Pram mengajukan tokoh novel ini berprofesi sebagai guru (bukan dokter), walaupun Ayahnya sendiri pun berprofesi sebagai guru dan mengajar di sekolah pergerakan Budi Utomo: organisasi yang dianggap sebagai tonggak kebangkitan nasional sejak 1908.

“Aku tak mau jadi ulama…Aku mau jadi nasionalis…Karena itu aku jadi guru…Membukakan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman…Patriotisme.” (h. 88)

Dua kata terakhir mengingatkan kita pada sekolah pergerakan kemerdekaan (juga) yang didirikan pada 3 Juli tahun 1922 oleh Tokoh Besar pendidikan bangsa ini Ki Hajar Dewantara yakni Taman Siswa. Sampai sekarang sekolah ini pun masih eksis.

Kita pun tahu sebagian guru-guru yang terlibat pada pergerakan kemerdekaan kemudian mengorganisasikan diri di samping pada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), juga pada Persatuan Guru Republik Indonesia-Non Vak Sentral (PGRI-NVS) yang dianggap berafiliasi politik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasca G 30 S 1965, ribuan guru yang bergabung dalam PGRI-NVS, dikejar-dikejar, diburu oleh rezim baru bernama Orde Baru, untuk dibunuh atau dikirim ke penjara-penjara dan kamp pembuangan Pulau Buru.


Tentu saja, sebagian guru yang dikejar-kejar itu pun lalu menghilang dari panggung politik Orde Baru dan mencari jalan lain untuk melanjutkan kehidupan atau justru tenggelam dalam kekecewaan yang tak menemukan obatnya.

Dengan demikian Bukan Pasar Malam adalah karya Pram yang luar biasa yang dipersembahkan Pram kepada para pahlawan tanpa tanda jasa, para guru yang tak dapat disangkal turut berperan besar pada proses kemerdekaan bangsa ini tapi juga tak mendapat perhatian dan tempat yang sepantasnya pasca kemerdekaan. Inilah novel yang tak sekadar kisah duka, kematian atau kekecewaan seorang pejuang kemerdekaan, tapi lebih dari itu adalah kisah seorang guru pejuang yang bangga dengan predikat guru sebagai salah satu unsur penting dalam membebaskan bangsa dan tanah air dari ketidakmerdekaan akibat penjajahan kolonialisme. Dan pesan yang lain jelas, sang guru gugur bukan karena semata-mata kecewa tapi dalam pengertian nilai perjuangan yang baru yaitu gugur di lapangan politik.

“…Hanya yang bisa kukatakan dengan pasti, dan barangkali inilah yang tak Tuan ketahui, ialah: ayah Tuan gugur di lapangan politik.” (h. 102) Pernyataan gugur di lapangan politik itu pun diulangi kembali: “Benar, ayah Tuan gugur di lapangan politik. Ayah Tuan mengundurkan diri dari partai dan segala tetek bengek agar bisa menghindari manusia-manusia badut pencuri untung itu…” (h. 103).

Dengan demikian politik sebagai kesadaran ditekankan dan betapa pentingnya untuk dipelajari dan dipahami agar guru dan pejuang umumnya tak lagi gugur di lapangan politik dalam kesia-siaan.

Sebagai catatan, Novel inipun mengalami cetakan kedua oleh Balai Pustaka pada tahun 1959. Kemudian dicetak ulang ketiga kalinya pada tahun 1964 oleh Yayasan Kebudayaan Sadar. Satu bulan kemudian pasca peristiwa G 30 S 1965 yang membawa kerusakan parah gerakan kiri di Indonesia, Bukan Pasar Malam pun dilarang peredarannya. Novel ini kemudian diterjemahkan dalam beberapa bahasa asing. Dalam bahasa Inggris, It’s Not An All Night Fair terbit pada tahun 1973. Baru kemudian pasca tersingkirnya Jendral Soeharto dari tampuk kekuasaan Orde Baru, pada tahun 1999, novel ini, edisi Indonesia, kembali diterbitkan oleh Bara Budaya, Yogyakarta.


http://batampos.co.id/Mingguan/Buku/B...

Profile Image for David.
Author 1 book73 followers
May 7, 2024
It’s Not an All Night Fair by Pramoedya Ananta Toer Translated by CW Watson

It is my opinion that from time to time, serious readers need to sample writers who are recognized as leading authors in countries and cultures not typically known for their works in the readers’ experience. I found out about the Indonesian Pramoedya Ananta Toer from a large tome of literary criticism, “Guide To Modern World Literature” by Martin Seymour-Smith published in 1973.

Pramoedya Ananta Toer was a political dissident in real life and the protagonist of the novel had been as well. The time period is purportedly in the era of Suharto who became president after Sukarno, who led the country after the Japanese were defeated by the Allies.

The main character’s father had been a revolutionary as well and the whole story is about how the son and his family are trying to care for the old man dying in a TB hospital or sanatorium.

Thinly written and thickly sad, but the story could have been poignantly sadder in Russian hands or Southern European or Latin American hands or by an idle North American who like-like-like has nothing really to say. In fact, this pitifulness doesn’t quite ring true—much like an American’s suspicion that the pain is faked when he/she observes European soccer players rolling around on the ground holding an “injured” ankle or knee with a pathetic grimace of pain for all the world to see.

“It’s Not an All Night Fair” was unsatisfying in all aspects. I did not like it, and since Toer is considered one of the top writers of Indonesia, I will probably not read another Indonesian writer. That does not mean I wouldn’t go to Indonesia, however. I would rely on historical documents to prepare myself instead.

While the translation seemed to be very good, you can’t really tell until you learn enough of the language yourself; but if I’m going to learn an East Asian language I’d rather learn Japanese, since that country probably has the best literature west of Monterey, California. (With the exception of Australia and New Zealand, who have given the world writers such as Patrick White, Christina Stead, Shirley Hazzard and Peter Carey. Let's not forget the remarkable Indian authors of the last 75 years or so either.)
Profile Image for Missy J.
629 reviews107 followers
April 24, 2022
2.5*

One of Pramoedya Ananta Toer's earlier works, "Bukan Pasar Malam," roughly translated as "Not a Night Market,” is a short novella published in 1951, a few years after Indonesia gained independence. It's a confusing time, the memory of colonialism is still close, freedom hasn't really seeped in yet, revolution is everywhere and no one knows what to expect. The protagonist is a young man living in Jakarta, who receives a letter that his father is dying in his home village of Blora. Together with his wife, they borrow money for the train ride back to visit his father. Blora is completely devastated by the war. The houses are crumbling ("Apabila rumah itu rusak jang menempatinja pun rusak.") and the protagonist feels an overwhelming sadness for the entire situation. He regrets the bitter letter he sent to his father accusing him of his sister's depression. He realizes that his father, who was a teacher, was also a nationalist who fought for the country. The protagonist fights with his wife, who is nagging him to go back to Jakarta because they are running out of money.

This is a very slow-paced novel. I guess it reflects some of the slowness of Javanese people. It reminded me a little bit of Perburuan, an earlier work by the same author. I imagine that the translation probably sounds very redundant to English readers. In Indonesian, the sentences were actually beautiful. He delves very deep into the protagonist's sadness and how fleeting life is. This book still utilized the old spelling of Indonesian (dj -> c, j -> y), which was a bit confusing for me at the beginning. It was such a sad book, but I am glad that I practiced reading in Indonesian again. I wish the parts about the sister and wife were a bit longer, because I wanted to learn more about them. It was an okay read, but there are other books I would recommend by this author.
Profile Image for Nona Ana.
122 reviews12 followers
February 13, 2023
Demi memenuhi ambisi #1Hari1Buku, saya menyortir beberapa buku tipis dari rak. Dan pilihan pertama yang saya baca adalah Bukan Pasar Malam. Karena menyortir secara random bahkan tak membaca blurb buku ini. Jadi saya tak banyak berekspektasi.

Bercerita tentang ‘aku’ yang mendapatkan kabar bahwa sang Ayah sedang sakit di kampung halaman. Maka pulanglah Pram bersama dengan istrinya. Diceritakan bahwa dia harus meminjam uang demi bertemu sang ayah.

Dalam bab 1-3 diceritakan perjalanan Jakarta-Blora melalui kereta api yang melewati banyak tempat ‘memorable’ bagi Pram. Dalam perjalanan tersebut tentu Pram selalu kepikiran sosok Ayahnya.

Dalam bab selanjutnya diceritakan bagaimana Pram menemani sosok Ayahnya hingga dijemput maut. Diceritakan pula masa lalu Ayah yang ternyata mantan pejuang kemerdekaan, dan berakhir menjadi guru di Blora.

Awalnya bingung, kenapa judulnya Bukan Pasar Malam ya? Tapi ternyata pertanyaan tersebut terjawab di halaman 95 saat seorang Tionghoa berkata “Lalu mengapa kita harus berpisah dalam kematian. Satu. Satu. Satu. Dan yang lain lahir. Satu lagi. Mengapa orang ini tidak banyak lahir dan mati? Saya ingin dunia ini seperti Pasar Malam."

Secara keseluruhan buku ini konsisten sedihnya. Kondisi ekonomi, pergolakan batin anak dengan hubungan istri, saudara, tetangga dan tentu Ayah. Saya kalo jadi Pram pasti ngedumel “hash, mbulet ae”
Profile Image for aldo zirsov.
494 reviews34 followers
October 13, 2009
diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, berikut introduction, postscript and notes oleh C.W. Watson....
menarik membaca kata pengantar dari penterjemah yang menceritakan saat dia mulai menterjemahkan buku ini di suatu rumah kawasan lereng tangkuban perahu jawa barat, dan usaha-usaha dia untuk memperoleh buku Pramoedya Ananta Toer di tahun 70-an di kawasan perbukuan seputaran bandung seperti cikapundung dan alun-alun kota. betapa dia mengeluhkan sulitnya mendapatkan buku2 pramoedya jaman tsb.... serta lamanya waktu dia untuk menterjemahkan buku ini karena juga melibatkan Ben Anderson di Cornell University untuk menyesuaikan 'tone' bahasa pramoedya. setelah terjemahan ini selesai, dia bersama putrinya sempat mengunjungi Pramoedya di jakarta dan menyerahkan langsung buku terjemahan ini dan menurut pengamatannya, dia bisa melihat betapa senangnya hati pramoedya saat itu....
sungguh menyentuh hati membayangkan pertemuan seorang pengarang dengan penterjemah karyanya, seseorang yang membantu pengarang supaya bukunya bisa dikenal khalayak pembaca yang lebih luas, melintasi batas-batas negara, kendala perbedaan budaya dan bahasa itu sendiri khususnya.
terima kasih dan salute buat semua penterjemah yang baik...!!!
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
July 16, 2020
Membaca buku Pram selalu membuatku terpesona. Pilihan ide cerita, diksi dan tokohnya semuanya buatku menarik. Termasuk buku ini tentunya, buku yang tipis dan kuhabiskan dalam waktu yang tidak terlalu lama namun tetap saja beberapa kali setelah membaca satu paragraf,mengagumi kemudian kembali lagi membaca paragraf tersebut.

Ini "hanya" kisah pulang kampung seorang anak yang telah lama meninggalkan kampung halaman untuk menjenguk ayahnya yang terbaring sakit keras. Ayah yang baru saja disurati dengan ucapan kasar karena mendapat kabar tentang adiknya yang sakit TB dan terbaring tanpa perawatan yang layak. Penyesalan akibat perkataannya dan keterkejutan melihat kondisi ayahnya yang lebih sakit tak terkatakan.

Kisah keluarga, namun yang diceritakan bukanlah hanya tentang keluarga, Pram juga menggambarkan kondisi politik pasca kemerdekaan dengan orang-orang yang dulunya dikenal sebagai pejuang rontok oleh ambisi kekuasaan.

Dunia bukan pasar malam dimana kita dapat datang bersama-sama dan pulang bersama-sama, lahir bersama-sama dan meninggal bersama-sama. Setiap orang lahir sendiri,pada akhirnya mati sendiri dan yang hidup tinggal menunggu kapan gilirannya.
Sungguh saya tak mengira judul buku ini bermaksud demikian.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
January 3, 2026
“Hidup ini, Anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan manusia di dunia ini.”

Tokoh Aku dalam novel ini mungkin hanyalah penyambung lidah daripada tokoh utama yang lain, ialah sang Bapak. Seorang tokoh yang berperan penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, tetapi berakhir menyedihkan sebagai seorang pesakitan.

Hampir sepanjang narasi novel tipis ini mempertanyakan eksistensialisme diri setiap tokohnya. Semua karakter yang terpinggirkan dari peran-peran strategis dalam pembangunan negara; seorang guru yang dedikasinya tak pernah dihargai, juga seorang revolusioner yang bertahan hidup dari kurungan penjara. Pada akhirnya, keduanya menjadi gamang saat menghadapi kematian.

Pram menulis novel ini dengan deskripsi yang lebih lugas dibandingkan novel-novelnya yang lain. Sasaran kritiknya sangat jelas: semua petinggi negara pascakemerdekaan yang hanya sibuk memperkaya diri sendiri.

“Dan di antara kuburan mereka yang dianggap pahlawan itu ada juga terdapat bajingan yang karena salah penyelidikan termasuk juga dalam golongan pahlawan.”
Profile Image for Dhania.
15 reviews
August 7, 2025
Bisa baca novel ini karena tersedia dua buah salinan di We Love Youth -- aku dan Aldyth (ya, the bigger Pram fangirl between the two of us) pun tanpa mikir dua kali langsung membacanya. Alur ceritanya cukup sederhana (aku sendiri dapat menyelesaikan bacaannya dalam sekali duduk), namun memuat topik yang cukup berat: keluarga, kondisi ekonomi, idealisme, kematian. Aku berikan rating 4/5 karena it was a nice afternoon read, tapi aku masih penasaran dengan karakter-karakter perempuan di bukunya -- mulai dari sang istri dari Bumi Pasundan, sang ibu yang meninggalkan keluarganya terlebih dahulu, dan sang adik perempuan yang sama-sama sakit dan kehilangan anaknya.
Profile Image for solana.
109 reviews
January 25, 2022
"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang ... dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana,"

Cerita yang singkat tapi ngena. Bukan Pasarmalam (engga pake spasi soalnya based-on Pram preferred ejaan, frasa terikat biasanya digabung) is the one that taught you how meaningless this life actually is. Bercerita soal seorang anak yang pulang kampung karena ayahnya sakit TBC. Ayahnya ini istilahnya 'orang yang berjuang untuk kemerdekaan tapi engga dapet apa-apa' .

Buku ini, menurut saya, buku paling bukan-Pram yang mengantarkan Pram menjadi 'Pram'. Yah artikan saja sendiri maksudnya bagaimana. Tapi, begitu, sebenernya yang buat saya kepengen baca ini karena ini juga salah satu buku Pram yang paling diejek Idrus.

Mengenai isinya, walaupun singkat sekali, benar bahwa banyak yang sengaja ingin diungkapkan. Pertama, bagaimana hidup ini lebih mudah apabila ia adalah Pasarmalam : "ramai-ramai datang, ramai-ramai pergi; ramai-ramai lahir, dan ramai-ramai mati," . Kedua, bagaimana pahlawan-pahlawan revolusi (berlaku secara global) banyak yang berjuang di awal namun pada akhirnya terlena pada jabatan. Di Prancis mungkin bisa dilihat dalam pribadi Bonaparte, eh?
Di Indonesia, tentunya ada banyak.

Singkatnya, buku ini highly appreciated sih, soalnya dalam karangan sebatas 100an halaman, bisa muat banyak pesan. Yah dari sinilah kira-kira kelihatan bagaimana kualitas Pram dalam menulis. Toh, kalau enggak salah, ini memang buku pertamanya, kan?
Profile Image for Demo.
61 reviews37 followers
March 16, 2018
“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana....”
Profile Image for Farhain Ismail.
13 reviews
February 9, 2018

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang...seperti dunia dalam pasar malam. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana".
Profile Image for Nor.
Author 9 books106 followers
April 2, 2020
Menjadi pejuang untuk kemerdekaan negara sememangnya banyak ujian. Bukan sekadar ujian pada diri sendiri, tetapi juga ujian untuk seluruh ahli keluarga.

Hanya yang berjiwa besar akan tabah mengharungi ujian demi ujian yang datang. Berjuang memandaikan anak bangsa juga bakal didatangi ujian yang bukan sedikit.

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang...seperti dunia dalam pasar malam. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana".
Profile Image for Alpha Hambally.
Author 4 books7 followers
January 31, 2017
Novel ini menarik jika dipertemukan dengan novel Pedro Páramo. Kedua tokoh sama-sama pulang kampung, lalu menemukan realitas dalam arti penulisnya sendiri-sendiri. Yang satu realitas sungguh-sungguh. Yang satu realitas yang tidak tampak--tapi ada. Heuheu.
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
June 5, 2020
Buku ini saya baca dalam Bahasa Indonesia.

Bukan Pasar Malam merupakan salah satu buku terlawas Pram, terbit pada tahun 1951. Buku ini bercerita tentang perjuangan ayahanda Pram dalam membantu kemerdekaan Indonesia sebagai tentara gerilya. Setelah Indonesia merdeka, beliau menjadi seorang guru di Blora.

Pram bercerita bahwa kekecewaan sang ayahanda membuat beliau sakit keras, TBC akut, yang dialami hanya 2.5 bulan sebelum meninggal. Ayah Pram kecewa melihat rekan seperjuangannya berakhir pada perebutan kursi politik. Padahal, mereka puluhan tahun berjuang dari rapat ke rapat partai.

Judul "Bukan Pasar Malam" diambil dari deskripsi tentang hidup yang disampaikan oleh teman ayah Pram. Dia mempertanyakan, kenapa orang lahir dan mati harus sendiri? Tapi, ketika hidup dikelilingi banyak orang. Kematian tidak seramai pasar malam.

Bagian favorit dari buku ini adalah
1. Penggambaran jelas mengenai privilege kesehatan dari orang berpangkat dibandingkan dengan orang biasa
2. Andil partai dalam memerdekakan Indonesia

Bagian yang menurut saya kurang jelas adalah
1. Siapa sesungguhnya sosok ayahanda Pram? Bagian ini terlalu fokus pada penyakit beliau
2. Apa yang terjadi setelah kemerdekaan Indonesia hanya digambarkan sebagai penghianatan bertubi-tubi

Kesimpulan: Untuk kamu yang penasaran Pram itu siapa, kenapa ia bisa bertekad kuat, kamu bisa membaca buku ini sebelum masuk ke Tetralogi Pulau Buru. Buku ini hanya setebal 104 halaman.
Profile Image for Seno Guntur Pambudi.
75 reviews30 followers
April 28, 2022
Para ayah cenderung lebih banyak melakukan aktivitas fisik terhadap putranya. Para ayah juga menggunakan aktivitas fisik untuk memberikan kebijaksanaan maupun nasihat2nya. Maka hubungan ayah-anak laki2 cenderung sedikit bercakap-cakap.

Dalam novel tipis ini Pramoedya mengisahkan seorang anak revolusi dihadapkan pada ayahandanya yg jatuh sakit di kampung halaman. Kisah yg berlangsung dalam satu putaran kejadian ini mengungkap potongan puing gejolak hubungan ayah-anak laki2.

Perjalanan yg dilakukan tokoh 'Aku' dari Jakarta-Blora menggambarkan reka adegan masa di mana revolusi meletus, peperangan2 ditiap daerah yg dilewatinya, terlintas dalam kenanganannya saat di mana ia bertugas.

Pergulatan batin tokoh 'Aku' melihat ayahnya tergolek lemah tak berdaya hingga ajal menjadi topik utama novel ini. Hubungan antara ayah dan anak yg dipotret Pram dgn baik melalui kesaling pengertian ayah dan anak laki2 tanpa mesti berbicara banyak.

Kemiskinan yg menerpa keluarganya, rumah tua yg sudah mulai miring, seorang guru yg dgn dedikasinya namun dikhianati oleh bangsanya sendiri juga menjadi topik dalam buku ini

Pramoedya selalu punya cata utk mengkritik kekuasaan. Dalam Bukan Pasar Malam (diambil dari kisah nyata orang tua Pram), Pram mengkritik penguasa yg berebut kekuasaan setelah kemerdekaan tercapai. Revolusi hanya menjadi monster bagi rakyat kecil. Memakan mereka hidup2 dalam kesengsaraan.
Profile Image for rei ♫.
30 reviews
January 31, 2023
Akhirnya aku bisa membaca karya Pak Pram juga! Senang sekali bisa menemukan buku ini di antara ratusan-bahkan ribuan-buku lain di perpustakaan sekolahku. Sedikit cerita, pada awalnya, aku takut sekali kalau-kalau diminta membaca tulisan Pak Pram, tak tahu kenapa. Mungkin karena banyak pembaca yang bilang bahwa tulisan-tulisannya terlalu berat. Tapi, semenjak idolaku merekomendasikanku untuk membaca karya Pak Pram, aku pun mulai mencoba menjelajahinya.

Bukan Pasar Malam adalah sebuah novel yang cukup singkat, begitupula alumnya. Buku ini menceritakan seorang tokoh, yaitu "aku yang mendadak harus pulang ke kampung halaman karena ayahnya tengah kritis. Saat-saat menemaninya di rumah sakit hingga akhirnya sang ayah harus meninggalkan dunia membuat tokoh Aku-mau tak mau-harus merelakan banyak hal. Banyak sekali permenungan tentang kehidupan yang fana dalam buku ini. Pak Pram merangkai setiap katanya dengan telaten hingga aku pun turut merefleksikannya.

Bagian yang paling berkesan dalam buku Bukan Pasar Malam ialah percakapan antara teman-teman sang Ayah, yang membicarakan soal "mengapa ia (bisa bermakna sang Ayah atau juga manusia) harus mati sendirian?"

Begitu banyak nada pesimistis yang dapat ditemukan dalam buku ini. Karenanya, aku pun menyimpulkan bahwa seluruh percakapan yang terkandung dalam buku menyiratkan makna "waktu berputar sangat cepat dan hidup kita di dunia adalah sementara".

Setelah menyelesaikan buku ini seutuhnya, aku sangat optimis untuk menyatakan bahwa Bukan Pasar Malam bukanlah buku yang bahasannya sangat berat-seperti Bumi Manusia, contohnya. Malah, kurasa buku ini dapat dibaca sekali duduk.
117 reviews10 followers
February 13, 2023
One of my favorite aspects of Pramoedya's work is his history as a story teller of the oral tradition. Stories came first and he would relay these verbally to those who would listen. Some he wrote down, some he did not. Luckily, we have the ones he chose to write down. And the world is a better place for it.

"It's Not an All Night Fair" is a short read packed with symbolism and enough relatable content to give anyone pause. The premise is a son returning to his hometown in Java to be with his ailing father who is quite literally on his deathbed. You can likely infer how the story progresses, but the true allegory is not revealed until the last chapter. And it is really a great ending, in my opinion. Being such a short read, it is difficult to get into it without spoiling any plot points, so I will keep it brief. Suffice it to say, this 85 page novella will really make you reflect various aspects of your life.

I would recommend this book to someone who is familiar with Pramoedya's work and are looking for more. Ideally, The Buru Quartet is the starting point for his collection. I'm always happy to revisit him and gain new insights.
Profile Image for tianiita.
118 reviews32 followers
January 21, 2019
Bikin rindu Bapak

Berkisah tentang si Sulung yang pulang ke kampungnya di Blora setelah mendapatkan surat balasan bahwa ayahnya sakit keras. Dengan membawa sang istri, si Sulung merasa menyesal melihat keadaan ayahnya yang terjangkit penyakit TBC yang sebelumnya sempat ia maki dalam suratnya. Bukan Pasar Malam merupakan roman tipis karya Pram yang berbeda dari kebanyakan buku yang beliau tulis. Novel ini menggambarkan bagaimana ayah si Sulung yang sakit dan tak lama meninggal, si Sulung dan adik-adiknya yang bergantian merawat sang ayah, dan orang-orang yang mengenang jasa si marhum yang baru saja berpulang. Realistis, sederhana, dan membuat saya sedikit menitikkan air mata karena mengingatkan saya pada ayah yang ada di kampung. Rate: 4,5/5

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang... dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana." - Pramoedya Ananta Toer
Profile Image for Askell.
81 reviews68 followers
February 6, 2017
Orang baik itu yang selalu jadi korban yah?

Pertanyaan itu yang terlintas dipikiran setelah menutup lembar terakhir buku ini.

Sejak lembar pertama saya sudah langsung tertarik ke dalam cerita. Konflik kemanusiaan diceritakan dengan begitu dalam, dilihat dari pertentangan batin tokoh-tokohnya, terkadang realita dan prinsip harus berseberangan, dan ketika itu terjadi mana yang akan kita pilih?
Profile Image for Reiza.
187 reviews7 followers
August 20, 2024
Buku Pram yang pendek, tapi memberikan kesan yang mendalam. Sangat membumi dan aku suka bagaimana Pram menggambarkan (dengan sangat lihai dan jitu) pikiran-pikiran manusia yang kerap muncul dan hilang dengan cepat. Maestro.
Profile Image for Ms.TDA.
235 reviews5 followers
November 13, 2024
Entah kenapa buku ini memilihku untuk dibaca di Hari Ayah nasional😶
Buku yg cukup tipis, hanya sekitar 100an halaman tapi pergolakan emosi yang dirasakan setebal buku2 Pram yang lainnya😵‍💫

“Berat, Anakku”
“Sungguh berat jadi seorang nasionalis.” ucap si Bapak :(
Profile Image for ffinn4.
12 reviews
July 29, 2025
it took me forever to find 😭😭 but its totally worth the read!!!!!!!
Profile Image for Yozzoi.
13 reviews1 follower
August 17, 2017
Banyak percakapan menarik dan indah yang terpadu jadi seperti prosa yang kelabu.
1 review
December 22, 2025
Uzun zamandır okuduğum en etkileyici kitap. Bireysel duygulara; aile ilişkileri ile sosyo-ekonomik durumun etkisini savaş ve iktidar/sömürge yapısı eleştirisi üzerinden yapmayı başarmış.
Profile Image for Sulin.
331 reviews56 followers
July 30, 2015
Bukunya tipis, tapi isinya kayak intisari hidup. Maksleb.

Seperti biasa buku ini disampaikan, dengan gaya sastrawan lekra.
Sastrawan lekra adalah jenis sastrawan yg digolongkan pada masa Orde Lama-Baru yang menulis berdasar realis-sosialis. Condong ke arah gerakan protes pena, adakalanya melakukan penolakan ideologi ataupun tata pemerintahan lewat tulisan.

Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu sastrawan lekra di Indonesia, berlawanan dengan sastrawan beraliran manikebu(manifestasi kebudayaan) yg lebih menampilkan idealisme bangsa.
Buah karya Pram, sastrawan lekra lain sering dihubungkan dgn ideologi Kubu Timur alias komunis. Nah di buku ini juga ada kata-kata yang leh-uga intinya kalau di dunia demokrasi orang bisa bebas-dibatasi hukum, orang bisa mngeluarkan pendapat, tapi demokrasi juga jahat bikin yang kere cuma bisa ngiler lihat orang kaya. Yah, walaupun gitu tapi saya suka pak Pram sh, kekomunisannya belom terbukti dia toh cuma menyampaikan realita menurut sudut pandang dia. NO HASUT PLEASE!

Cerita buku ini, ada anak laki-laki yang memustuskan jadi bagian dari pejabat waktu masih jaman-jaman Indonesia baru merdeka dulu. Si aak ini tinggalnya di Jakarta. Di kampungnya di Blora, dia punya bapak yang sudah hampir mewajahi maut, sakit TBC akut sama muntah darah. Nah, si anak ini benci banget, bukan, lebih tepatnya benci bingits sama orangtuanya karena si Bapak dulunya jadi salah satu kepercayaan koloni. Padahal bapaknya ngelakuin itu buat mempermudah jalan orang-orang pribumi. Contohnya aja, kayak perizinan buat bangun sekolah kambing buat orang-orang di desa situ, dsb.

Nah, pada suatu hari si anak dapet telegram kalo bapaknya udah sekarat dan rumahnya mau ambruk. Akhirnya dia pulang walaupun istrinya yang orang Sunda bawel banget, perhitungan, selain itu rewel kayak anti desa. Adeknya si tokoh banyak banget saking banyaknya saya gak tahu berapa, tipikal orang jaman dulu lah gak ada KB. Kecuali ada 2 yang sring diceritakan, yang paling kecil pendiam dan hobi nangis sama adek ceweknya yang juga sakit parah(<- dia juga nyalahin bapaknya adeknya sakit).

Intinya dia sadar, gimanapun orangtuanya itu tetep orangtuanya. Selama ini dia terlalu picik mikir orantuanya bantu koloni, padahal orangtuanya juga ikut memerdekakan Indonesia lewat jalur kotor gitu. Dia selama ini sebel karena selama perang itu, dia-ibu-adeknya ditinggal gitu aja miskin, lapar...sape ibunya meninggal.

Sebernya dia sebel karena bapaknya selalu menomorsatukan kebahagiaan orang-orang lain daripada keluarganya sendiri.

Dia sadar karena orang sekitar banyak banget yang melawat bapaknya waktu mati, selama sakit memang gak ada yang jenguk karena sebetulnya bapaknya yg melarang. Bapaknya sangat disegani dan baru terasa ketika meninggal.

Ingat, ingat, ingat, yang dituai yang ditabur.

#fyi penerbit buku Pram adalah Lentera Dipantara, yg bila kita perhatikan ada 3 huruf yg berwarna merah yaitu P, A dan T jejak yg merupakan inisial namanya sendiri :)
Profile Image for Nurul Suhadah.
180 reviews33 followers
February 3, 2017
Karya Pram seterusnya yang dibaca. Saya memang berhati-hati setiap kali nak mula memegang buku-buku Pram. Ada dua sebab. Pertama, kalau sudah mula membaca sukar hendak berhenti. Apatah lagi kalau novel-novelnya yang panjang dalam trilogi. Boleh mengganggu kerja-kerja lain yang telah dijadualkan. Yang kedua, perlukan kepada penaakulan yang lebih terhadap apa yang ingin disampaikan. Bukan novel ringan yang saja-saja.

Bukan Pasar Malam ini adalah novel nipis yang ditulis Pram ketika beliau sendiri masih muda, berumur 25 tahun pada tahun 1951. Novel yang berkisar tentang gelojak hati dan pemikiran seorang mantan tentera muda revolusi yang pulang ke kampungnya di Blora, menjenguk ayahnya yang sedang sakit kuat.

Pram sangat deskriptif dalam menyampaikan setiap ketika dalam novel ini hingga kita yang membaca boleh bergenang air mata mengenangkan seorang ayah yang sedang bertarung dengan kesakitan. Perasaan itu sampai dan terasa. Apatah lagi diselit dengan elemen patriotisme, sindiran keras dan pedas kepada gejala pembesar-pembesar pasca kemerdekaan Indonesia, realiti kehidupan yang bergelut dengan kemiskinan, rumah yang sudah rosak.

Seorang ayah dalam novel ini digambarkan sebagai seorang pejuang yang mengorbankan diri, tidak mahu menjadi pak turut semata-mata tetapi punya idealisme dan perjuangan yang tersendiri. Yang diungkapkan,

"Aku tak mau jadi ulama, aku mau jadi nasionalis. Kerana itu aku menjadi guru. Membukakan pintu hati anak-anak untuk ke taman. Sungguh berat jadi seorang nasionalis".

Ada yang mengaitkan novel ini dengan falsafah exsistensialisme, kebebasan manusia sebagai individu dalam mencari kebenaran. Dan itu yang nampaknya cuba disampaikan Pram tetapi masih disalut dengan semangat revolusi yang selalu menjadi identiti Pram.

Saya juga tertarik dengan tajuk novel ini yang kalau difikir sepintas lalu pada zaman sekarang sangatlah tidak kena. Tetapi rupanya punya falsafah yang sangat dalam.

Hidup ini bukan pasar malam yang manusia berduyun-duyun datang dan berduyun-duyun pergi. Tetapi seorang-seorang mereka datang, dan seorang-seorang mereka pergi. Itulah hakikat kehidupan.
Profile Image for Marina.
2,041 reviews359 followers
June 28, 2014
** Books 165-2014 **

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang.. seperti dunia dalam pasar malam. seorang-seorang mereka datang.. dan pergi. dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"

Itulah yang tertulis di belakang cover buku ini yang mengisahkan tentang seorang anak revolusi yang harus pulang ke Blora menengok ayahnya yang jatuh sakit karena TBC. Ia merasa menderita dan tertampar melihat kenyataan bahwa rumahnya dan penghuninya telah berubah.. ya Ayahnya dulu pernah menjadi guru tapi kalah dan gagal dalam lapangan politik.. dan adik terkecilnya yang meninggal.. adiknya yang sedang menderita sakit.. kemiskinan yang melanda mereka dan rumah tua yang seakan hendak roboh tergerus oleh zaman..

"Tapi sesungguhnya begitu Ayah Tuan jatuh sakit oleh kekecewaan -kecewa oleh keadaan yg terjadi sesudah kemerdekaan tercapai. rasa2 nya tak sanggup lagi ia melihat dunia kelilingnya yg jadi bobrok itu -bobrok dengan segala akibatnya. Mereka yang dulu jadi jenderal di daerah gerilya, mereka yang tadinya menduduki kedudukan-kedudukan penting sebelum Belanda menyerbu, jadi pemimpin pula di daerah Gerilya dan jadi bapak rakyat sungguh2. Dan bukan tanggung2 lagi ayah tuan membela kepentingan merdeka itu. Tapi kala kemerdekaan telah tercapai, mereka itu sama berebutan gedung dan kursi.."halaman 102

Buku ini SANGAT BAGUS! Sederhana, padat tapi mengena entah kenapa saat saya menyelesaikan buku ini ada rasa sesak yang menyelumuti hati saya.. sesak, sedih dan pedih yang rasakan. Buku ini sukses membuat saya menjadi "gloomy" malam ini... ada yang mengatakan bahwa buku ini adalah salah satu luapan hati dari Pramoedya Ananta Toer yang sempat ditahan dan ini adalah salah satu buku kisah beliau dan ayahnya.. buku ini layak saya berikan 4,3 dari 5 bintang!

*gloomynya makin menjadi-jadi mendengar lagu2 Yoshiki Classical - Live in London Royal Festival Hall 2014*
Profile Image for Book Surgeon.
19 reviews2 followers
January 5, 2024
l Pembedahan Buku Bertulis : Bukan Pasar Malam, karangan Pramoedya Ananta Toer l

Salah satu karya Pramoedya Ananta Toer terbitan Lentera Dipantara ini berkisah dan bersurah sekitar perjalanan hidup seorang lelaki yang baru sahaja dua minggu bebas dari penjara. Kebebasan yang dia kecapi tidak begitu lama kerana diuji dengan jajahan perasaan sedih yang bertalu-talu yang menghentam jiwanya. Bermula dengan satu kiriman surat yang ‘pedas’ kepada bapanya, kemudian diikuti dengan tulis balas dari ayahnya, lelaki ini dirundung pilu. Manakan tidak, ayahnya dikhabarkan sakit selepas 6 bulan membalas surat ‘pedas’ kirimannya itu. Walaupun bukanlah surat ‘pedas’ itu yang menjadi punca gering ayahandanya yang tercinta, tetapi kiriman surat selepas 6 bulan itu membuat dirinya kaget kerana yang mengirimnya bukanlah ayah, akan tetapi bapa saudaranya atau disebut paman dalam kisah ini.

Tanpa berlengah, langkah diatur untuk segera pulang ke Blora, tanah tumpah darahnya, meninggalkan Jakarta, tempat dia mencari rezeki bersama isterinya. Perjalanan suami isteri itu menaiki beberapa kenderaan, diikuti pula ketibaan mereka di rumah ‘Aku’ di Blora serta pertemuan dengan adiknya yang juga sakit menambah darah pada lukanya yang sudah menanah. Perbincangan demi perbincangan yang dilalui oleh ‘Aku’ dengan pamannya, tukang potong kambing, adiknya dan yang paling penting, ayahnya yang tercinta, meninggalkan beberapa potongan nasihat yang kelihatan ditujukan bukan pada orang lain melainkan diri ‘Aku’ yang bertutur. Cerita ini diakhiri dengan babak kematian ayahnya sebelum beberapa perbualan berlaku lagi demi menjelaskan tajuk yang tertera di kulit buku iaitu, “Bukan Pasar Malam”.

Tajuk ini dipilih untuk menggambarkan kekesalan yang dirasakan oleh salah seorang rakan al-marhum ayah ‘Aku’ akan kematian sahabat seperjudiannya itu. Ngobrolan demi ngobrolan yang mereka cipta seusai kematian seorang guru nasionalis itu akhirnya tiba pada kemuncak penyesalan apabila rakan Tionghoa ayahnya itu berkata,

“..mengapa kemudian kita harus bercerai-berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.” (halaman 95)

Maka aku kira tajuk buku ini menyanggah harapan rakan Tionghoa ayah ‘Aku’. Betapa hakikatnya manusia itu datangnya berasingan dan pulangnya juga tidak bersama-sama taulan.

Meneruskan perjalanan pembacaan karya Indonesia bukanlah sesuatu yang mudah untuk aku, kerana aku terpaksa mencari makna perkataan-perkataan Indonesia melalui carian di Google. Contohnya, jika dalam bahasa pertuturan di Malaysia ini, misai disebut misai tetapi dalam bahasa Indonesia yang digunakan dalam karya ini, misai disebut kumis. Maka, keperluan untuk mencari makna itu perlu untuk aku memahami jalan cerita yang cuba disingkap. Itu belum lagi dibicarakan maksud perkataan liburan, melabrak, surat onslah dan sebagainya. Sudah tentu khidmat pencarian makna perkataan-perkataan ini diperlukan untuk orang yang lidah dan otaknya tidak fasih berbahasa Indonesia.

Melalui pengamatan aku yang cetek, aku mengesan tema ‘Guru berkualiti’ dan ‘Nasionalis Sejati’ cuba digarap dalam buku ini melalui watak seorang dukun dan juga watak ayah ‘Aku’.

Tergambar melalui pena penulis bahawa dukun yang ditemui oleh paman dan ‘Aku’ ini ialah seorang guru yang cuba menginspirasikan anak-anak muridnya untuk turut menjadi guru. Semangatnya itu terlihat lebih jelas apabila kita melihat kata-kata yang dilontarkannya kepada murid-muridnya selepas bertanya kepada mereka, siapa yang berminat untuk menjadi guru.

“Dan berkata aku pada mereka. Kalau di antara limapuluh orang cuma tiga orang yang ingin jadi guru, siapakah yang akan mengajar anak-anakmu nanti?” (halaman 54)

Kesungguhan penulis untuk memantapkan mesej yang dibawa oleh seorang guru kepada anak bangsa diperkasakan lagi dengan ungkapan daripada dukun yang sama iaitu,

“Kalau engkau tidak yakin betul, lepaskan cita-citamu untuk jadi guru itu, kataku. Seorang guru adalah kurban-kurban untuk selama-lamanya. Dan kewajibannya terlampau berat – membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa.” (halaman 55)

Jika perhatian kita mahu diubah ke arah idea nasionalisme dalam kisah ini, penampakannya teramat jelas ketika ayah kepada ‘Aku’ mengungkapkan kata-kata,

“Aku tak mau jadi ulama….., Aku mau jadi nasionalis,…. Karena itu aku jadi guru. Membukakan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman patriotisme.” (halaman 88)

Enak dan sedap menghabiskan karya yang bermutu ini tidak berhenti di situ. Pembawaan unsur mistik melalui penggunaan dupa juga terselit dalam kisah sedih ini. Tidak ketinggalan, soal penindasan pegawai atasan kepada pekerja bawahan dan juga politik berkepentingan, turut disentuh.

Aku memilih untuk berbeza dengan nukilan penulis di halaman 48 melalui omongan ayah ‘Aku’ yang kurang lebih mengatakan bahawa satu hari nanti ‘Aku’ akan menyedari bahawa sia-sia sahaja Tuhan menciptakan manusia di dunia ini. Kerana pada pandangan aku, meskipun kekecewaan yang cuba digambarkan oleh penulis, tidak wajar ayat sebegini digunakan. Seolah-olah ingin mengatakan segalanya sia-sia apabila seorang manusia itu diuji dalam kehidupan. Padahal, mungkin sahaja ujian itu adalah satu kiriman dari Tuhan untuk menguatkan hakikat bahawa kita ini manusia yang diberi kelebihan oleh Tuhan menerusi akal, maka apa yang ingin dikesalkan jika kita diuji dengan sesuatu yang merobek kerangka akal kita? Kekesalan apa lagi yang akan timbul jika kita menerima bahawa kata dasar musibah itu membawa kembali kepada makna satu panahan anak panah yang tepat mengenai sasaran? Kita sebagai hamba Tuhan, sudah dijanjikan ujian olehnya dan usaha kita untuk mengatasi ujian itu, akan dikira dengan teliti oleh Tuhan, dengan itu, penciptaan manusia beserta ujian kepada manusia itu tidak sia-sia.

Mungkin sahaja analogi yang ditulis itu hanya sekadar analogi. Tinggal lagi, aku yang gagal memahami.

Maka ketahuilah wahai sahabat-sahabat penggemar buku sekalian, di dalam dunia ini, penulis dan pengarang Indonesia itu bukannya hanya Buya Hamka doang, kita punya banyak lagi pengarang selainnya!

#BookSurgeon
#Analyze
#Scrutinize
#Criticize
Profile Image for Arliawan A.
15 reviews1 follower
November 12, 2025
Ceritanya sederhana tapi menyentuh dan diceritakan dengan gaya bahasa khas Pak Pram. Buku ini mengisahkan seorang pemuda yang pulang kampung karena sepucuk surat yang mengabarkan jika ayahnya sakit.

Berlatar suasana revolusi Indonesia, buku ini sepeti hendak menyampaikan bahwa revolusi terkadang harus dibayar mahal. Hal ini digambarkan dari sosok “aku”, seorang pemuda revolusi idealis, yang kembali ke kampung halaman dan menyadari kondisi ayahnya yang lemah dan sekarat karena TBC dan keluarga yang hidup miskin, berdesakan di rumah tua yang hampir roboh. Cerita yang sederhana, agak lambat, tapi sangat mengharukan.

Menarik membaca perspektif Pak Pram terhadap perpisahan akibat kematian orang terkasih. Mengutip satu kutipan dari buku ini: “Mengapa kita harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? ... mengapa kemudian kita harus bercerai-cerai dalam maut. Mengapa orang tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasar malam.”

Sayangnya dunia bukan pasar malam.
Displaying 1 - 30 of 365 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.