What do you think?
Rate this book


296 pages, Paperback
First published April 22, 2016
"Ia tidak bisa. Walaupun nama dan segala hal tentang gadis itu tidak bisa dilupakannya, ia harus bisa melupakannya.Aku selalu menantikan karya terbaru Orizuka karena ia adalah salah satu penulis lokal favoritku yang bukunya sudah aku baca sejak bertahun-tahun yang lalu. Tidak diragukan lagi, aku tetap menikmati gaya penulisan Orizuka yang manis dan mengalir dengan baik. Kisahnya terpusat pada karakter Wira, yang harus melanjutkan hidup dengan trauma yang terus menghantuinya. Seiring dengan berjalannya cerita, pembaca akan mengikuti perjalanan Wira dalam usahanya untuk berdamai dengan masa lalu dan kembali meraih mimpinya. Aku cukup puas dengan ending-nya yang berhasil membawa Wira ke akar permasalahan yang harus ia selesaikan untuk menyembuhkan hatinya. Dan aku rasa perjalanan hidup Wira bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang yang mengalami keterpurukan atas rasa bersalah yang serupa. Di samping konflik utama tersebut, ada pula unsur persahabatan—yang terasa menyenangkan sekaligus menghibur di tengah segala perasaan pahit dan kelam yang dirasakan oleh Wira.
Atau, paling tidak, hidup dengan berpura-pura melupakannya."
"Sudah beberapa bulan ini, Wira hidup layaknya buronan, yang lari dari segala masalah yang ia buat. Ia meninggalkan dan melupakan semua yang pernah ia miliki. Ia tak berani menoleh ke belakang, juga tak berani diam di tempat.Ada cukup banyak karakter dalam cerita ini, tetapi yang berhasil menjadi favoritku adalah Kayla. Ia adalah seorang perempuan yang kuat, penyayang, dan juga berhasil membuatku tertawa karena ucapannya yang selalu blak-blakan. Aku sangat menyukai ketulusan hatinya yang berhasil mencairkan hati Wira yang selama berbulan-bulan seolah beku. Walaupun tidak menjadi favoritku, aku juga menikmati perkembangan karakter Wira dalam buku ini. Rasanya aku turut bahagia saat Wira berhasil bangkit dari keterpurukannya dan bisa memaafkan dirinya sendiri. Karena menurutku rasa penyesalan dan rasa bersalah adalah perasaan yang paling tidak menyenangkan dan akan sangat membebani hati jika tidak diselesaikan dengan baik. Ada saat-saat ketika aku merasa geregetan dengan karakter Wira yang keras kepala dengan segala pemikirannya; tapi aku rasa itu hal yang wajar jika aku membayangkan diriku berada di posisinya. Karakter Nadine juga berperan sangat besar dalam cerita ini, tetapi aku tidak akan menceritakan terlalu banyak agar tidak spoiler. Karena saat membaca, aku berhasil dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi saat Wira dan Nadine kembali bertemu setelah berbulan-bulan terpisah. Bagi kalian yang juga penasaran, jangan lupa untuk baca sendiri bukunya ;)
Karena jika ia diam, ia tak akan punya pilihan lain selain mengingat."
"Gadis itu tahu Wira tidak hanya sekadar takut hujan. Gadis itu tahu hujan adalah kelemahan terbesarnya. Gadis itu tahu, maka dari itu ia menantangnya."Buku ini berhasil memuaskan rasa rinduku terhadap tulisan Orizuka, walaupun sebenarnya aku berharap alur ceritanya bisa membuatku lebih terlibat secara emosional. Kisah yang mengambil setting di Malang ini membuat beberapa karakternya menggunakan bahasa Jawa yang sangat familiar bagiku. Lucu juga rasanya membayangkan Wira yang tidak mengerti sama sekali apa yang sedang dibicarakan oleh teman-teman sekelasnya dalam bahasa Jawa XD. Selain itu aku juga jadi sedikit mengenal dunia taekwondo yang tidak begitu aku ketahui sebelumnya. Akhir kata, aku menikmati buku ini dengan segala manis dan pahitnya. Dan tentunya aku tidak sabar untuk bisa segera membaca karya Orizuka yang selanjutnya :))
“Kamu masih hidup, Wira,” tekan Kayla lagi. “Kamu masih hidup, tapi kamu nggak berusaha untuk hidup. Apa itu bukan penghinaan buat Faiz namanya?”
Setelah saya perhatikan, saya sepertinya layak menyandang gelar "Ratu Bintang Tiga" deh, saking banyaknya novel yang saya kasih bintang tiga. Ya abis gimana ya, namanya juga penilaian... Tapi itu ga berarti novel ini jelek. I mean, kapan novelnya Orizuka pernah jelek si... Cuma ya gitu, si pembaca songong ini emang banyak maunya, dan kl ekspektasinya ga terwujud, hal tersebut akan berpengaruh terhadap rating yang diberikan. Sangat subyektif ya, maafkan saya... Tapi sebenernya novel ini nilainya 3,5/5 kooo.
Satu hal yang paling saya inget dari novel ini adalah latar tempatnya: Malang. To be more specific: Universitas Brawijaya. Hal ini mempermudah saya dalam memvisualisasikan cerita, kenapa? Krn ku adalah adek tingkat si tokoh utama, tapi beda fakultas, WKWK. Penggambarannya cukup detail. Dan karna kisahnya sebagian besar terjadi di kampus, makin enak ngevisualisasiinnya:")))
Untuk ceritanya sendiri, seperti biasa, Orizuka selalu berusaha menyentuh sisi sensitif(?) pembaca. Namun kali ini ga mempan di saya. Tapi saya seneng ko, soalnya pembangunan karakternya kerasa. Anyway, Orizuka bisa mendeskripsikan UB dan BNS (apa JTP ya, lupa) sedetail itu, jangan-jangan kuliah di UB juga ya?